Terminator, Puncaki Box Office Awal November 2019

this formate

HOLLYWOOD, bisniswisata.co.id: Posisi teratas box office film pada pekan perdana November di pasar domestik Amerika Utara ditempati oleh Terminator: Dark Fate (2019), Joker (2019), dan Maleficent: Mistress of Evil (2019).

Berdasarkan data Box Office Mojo hingga akhir pekan kemarin (3/11) film Terminator dari Paramount Pictures berhasil mengumpulkan pendapatan tertinggi sebesar US$29 juta dari 4.086 titik pemutaran film.

Kendati menempati posisi puncak, film yang baru memulai debut pekan perdananya itu dinilai berkinerja lambat. Sebelumnya, para analis memperkirakan film bisa mengumpulkan pendapatan pekan pertama sekitar US$40 juta.

Posisi runner-up ditempati oleh film Joker dari Warner Bros dengan pendapatan sebesar US$13,9 juta. Pada awal November ini, film tersebut memasuki pekan pemutaran kelima dan masih menunjukkan kinerja yang positif. Bahkan, di tingkat global Joker telah berhasil mencatatkan tonggak capaian baru dengan menghasilkan lebih dari US$900 juta di pasar domestik dan internasional, lebih spesifik pendapatannya hingga akhir pekan lalu mencapai US$934 juta.

Di posisi ketiga diisi oleh sekuel Malecifent dari Disney dengan pendapatan sebesar US$12,1 juta. Film ini akhirnya harus turun tahta setelah 2 minggu beruntun menempati posisi teratas box office akhir pekan. Setelah melewati tiga pekan penayangannya, film dari sutradara Joachim Ronning tersebut telah mencatatkan pendapatan sebesar US$383,2 juta di keseluruhan pasar.

Posisi keempat diisi oleh film rilisan anyar berjudul Harriet (2019) dari Focus Features. Film ini mencatatkan pendapatan sebesar US$12 juta dari 2.059 titik penayangan.

Posisi kelima diisi oleh The Addams Family dari United Artists Releasing dengan pendapatan akhir pekan sebesar US$8,4 juta.

Sementara itu, film terbaru yang dirilis pada Jumat (1/11) atau akhir pekan lalu lainnya adalah Motherless Brooklyn (2019) yang mendapatkan penghasilan sebesar US$3,6 juta dari 1.342 titik dan Arctic Dogs (2019) dengan US$3,1 juta dari 2.844 titik. (end)

Komunitas Coffee Painter Indonesia Peringati Hari Pahlawan dengan Lukisan Kopi Bernarasi

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sebanyak 32 pelukis dari komunitas Coffee Painter Indonesia akan memajang 40 lukisan dengan media kopi di Museum Basoeki Abdullah 5– 12 November 2019, kata Jan Praba, salah satu penggagas Komunitas Coffee Painter Indonesia.

Komunitas Pelukis Kopi Indonesia (Coffee Painter Indonesia) adalah sebuah komunitas yang mewadahi para penggemar kopi diantaranya termasuk para pelukis kopi. Untuk ketiga kalinya akan menggelar pameran lukisan dengan media kopi, yang akan berlangsung pada 5 – 12 November 2019. 

Pameran bertajuk “Coffee in Hero” akan berlangsung di Museum Bassoeki Abdullah yang terletak di Jalan Keuangan Raya No. 19, Jakarta Selatan dan dijadwalkan dibuka secara resmi oleh Kombes Pol Drs.Goenawan – Kabag Proddok Biro PID Divhumas Polri pada tanggal 5 November 2019 mulai jam 15.00 WIB.

Lukisan wajah para pahkawan RI dengan media kopi

Pameran ini terselenggara berkat kerjasama antara Coffee Painter Indonesia dan Museum Basoeki Abdullah yang senantiasa selalu memberikan dukungan kepada beragam aktivitas komunitas.

“Kegiatan ini merupakan pameran ketiga yang dilakukan oleh komunitas perupa dengan media kopi yang tergabung dalam Komunitas Coffee Painter Indonesia,” ungkap Jan Praba.

Dia mengatakan bahwa pameran ini merupakan bentuk ekspresi kebanggaan dari para pelukis terhadap para pahlawan Indonesia berupa semangat juang yang tinggi menghapuskan penjajahan di Tanah Air. 

Semangat juang tersebut menjadi inspirasi bagi para pelukis untuk menghasilkan karya heroiknya perjuangan para pahlawan dengan media kopi di atas kanvas.  

“Kebanggaan ini akan kami sajikan dalam bentuk karya seni rupa dua dimensi, berupa lukisan dengan cita rasa yang berbeda dalam menghargai jasa-jasa para pahlwan nasional. Kami harapkan para pengunjung pameran dapat menikmati kopi di atas kanvas dengan balutan semangat juang tinggi para pahlawan,” tegas Jan Praba. 

Sementara itu, Maeva Salmah kepala Museum Baasoeki Abdullah menyatakan bahwa Sosok Basoeki Abdulah juga banyak melukis para pahlawan Indonesia menjadi inspirasi dan referensi bagi dunia pendidikan dan seniman Indonesia dalam berkarya. 

Museum Basoeki Abdullah senantiasa memberikan dukungan kepada setiap aktivitas atau kegiatan berkesenian termasuk kegiatan melukis dengan media kopi.  

Sejak tahun 2018 dengan adanya Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 tahun 2017, Museum Basoeki Abdullah lebih intensif dalam menjalin kerjasama dengan masyarakat/seniman/ komunitas dan satuan pendidikan baik pelajar/mahasiswa/guru/dosen untuk menggelar pameran karya seni. 

Kehadiran negara ingin dirasakan oleh segenap lapisan masyarakatnya. Seperti saat ini  Museum Basoeki Abdullah sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan pameran dari Komunitas Coffee Painter Indonesia dan semoga pameran ini bisa menjadi catatan sendiri atas perkembangan seni rupa Indonesia.

Melukis wajah pahlawan dengan kisah heroiknya  menggunakan media kopi di atas kanvas merupakan bentuk kepedulian dan kecintaan rasa berbangsa dalam menghargai jasa para pahlawannya sesuai dengan semboyan Bung Karno “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. 

“Ini adalah sesuatu yang unik dan perlu kita dukung bersama. Kopi adalah salah satu komoditas penting negara ini dan ini adalah salah satu bentuk apresiasi dari seninan dengan menggunakan kopi sebagai media ekspresinya.”  kata Jan Praba.

 

      

Ditata, Bunaken Jadi Kawasan Wisata Dunia

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada 2020 akan menata kawasan Pulau Bunaken dan Pantai Paal di Sulawesi Utara yang termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Prioritas Manado-Likupang. Penataan tersebut akan membuat Bunaken menjadi kawasan wisata dunia.

“Pembangunan infrastruktur pada setiap KSPN direncanakan secara terpadu baik penataan kawasan, jalan, penyediaan air baku dan air bersih, pengelolaan sampah, sanitasi, dan perbaikan hunian penduduk melalui sebuah rencana induk pembangunan infrastruktur yang disusun oleh Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW),” ujar Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (4/11/2019).

Penataan kawasan Pulau Bunaken dilakukan dengan merenovasi tourism trail yang meliputi mangrove trail, beach walk, dan boulder. Fasilitas permukiman meliputi gerbang permukiman, jalur pedestrian dan kendaraan, jalur kendaraan depan lapangan olah raga, penerangan jalan, dan street furniture.

Kementerian PUPR juga membangun kawasan dermaga wisata yang meliputi ruang penerima tamu, terminal building, ruang budaya dan landmark, galeri wisata serta parkir untuk ojek dan becak motor dan homestay untuk percontohan. Penataan Pulau Bunaken saat ini dalam tahap penyusunan detail engineeringdesign (DED) dan dianggarkan sebesar Rp 52,7 miliar dari APBN 2020.

Dengan penataan dan penambahan beberapa fasilitas baru di Pulau Bunaken akan meningkatkan kapasitas tampung pengunjung. Kapasitas di area dermaga nantinya bisa menampung sebanyak 2.000 pengunjung, jalur pendestrian sebanyak 15.000 orang/hari, dan fasilitas tourism trail menampung 1.000 pengunjung.

Untuk penataan Pantai Paal yang berada di Desa Likupang, Minahasa Utara, Kementerian PUPR pada 2020 menganggarkan Rp 88,2 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk beberapa pekerjaan seperti kawasan area masuk dan landmark, area parkir (kapasitas 96 kendaraan), penataan PKL dan pembangunan toko oleh-oleh (205 kios), area olahraga dan tempat bermain anak-anak.

Selanjutnya, anggaran tersebut juga digunakan untuk water theme park dan dermaga, beach walk dan jogging track, fasilitas umum dan tempat ibadah, jalan akses, sanitasi dan air bersih serta menara pengawas. Dukungan infrastruktur ini selain memperindah Pantai Paal sebagai salah satu destinasi wisata bahari di Sulawesi Utara, juga akan meningkatkan kenyamanan dan kapasitas pengunjung hingga 5.000 orang/hari. (ndy)

Dubes RI di Kerajaan Swedia Marathon Promosikan  Sustainable Tourism

this formate

Bagas Hapsoro, Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Swedia dan Republik Latvia  mempresentasikan pariwisata Indonesia di Gothenburg, kota kedua terbesar di Swedia

GOTHENBURG, Swedia, bisniswisata.co.id: Kota terbesar kedua di Swedia menjadi tuan rumah B to B pengusaha travel agent Swedia dan Indonesia. Kegiatan yang diselenggaraksn Kedubes RI di Stockholm ini berlangsung sehari setelah acara yang sama digelar di Latvia.

” Kami menyelenggarakan Business to Business Meeting dan Workshop dengan para Travel Agent dan Tour Operators Swedia untuk mempromosikan obyek-obyek wisadandi tanah air yang menarik dan berpotensial dipasarkan bagi para turis Swedia,” kata Bagas Hapsoro melalui rilisnya, hari ini.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Swedia dan Republik Latvia ini mengatakan bahwa masyarakat Swedia memiliki hobi untuk melakukan perjalanan wisata jarak jauh rata-rata dua kali dalam setahun. Terutama ke daerah-daerah tujuan wisata yang menawarkan obyek wisata panorama pantai, pegunungan, serta budaya yang menarik. 

“Kegemaran tersebut menjadi salah satu peluang dan potensi yang harus dimanfaatkan oleh Indonesia, untuk meningkatkan arus masuk wisatawan Swedia ke Indonesia,” tambahnya

Memanfaatkan peluang tersebut, pada tanggal 31 Oktober 2019 bertempat di Gothenburg, Swedia, KBRI Stockholm bekerja sama dengan Caraka Travelindo, Asien Paradisresor, Nusa Tenggara Timur Destination Management Centre (NTT DMC) dan didukung oleh Turkish Airlines. 

Kali ini Duta Besar Bagas Hapsoro menggarisbawahi bahwa Indonesia memiliki fokus untuk mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism), dimana para wisatawan tidak sekedar hanya bepergian dan menikmati suatu destinasi wisata.

Berwisata ke Indonesia berarti masyarskat Swedia juga ikut terlibat dalam aktivitas bermanfaat yang memiliki arti lebih dalam untuk memberikan kontribusi besar dan dampak positif bagi pelestarian alam, lingkungan hidup dan masyarakat lokal. 

“Kami mengajak pemangku kepentingan wisata Swedia bekerjasama dan turut mempromosikan Indonesia yang berkelanjutan. Selain menawarkan keindahan alam dan kekayaan budaya serta keramahannya, juga kemudahan bebas visa salama 30 hari bagi turis Swedia serta udara yang selalu nyaman sepanjang tahun,” kara Bagas Hapsoro.

Sigi Neuhaus, seorang berkebangsaan Jerman yang memiliki kecintaan besar terhadap Indonesia, melalui perusahaan travel agent yang dikelolanya, Caraka Travelindo, secara intensif turut mempromosikan Indonesia dalam presentasinya. 

Saat ini terdapat 10 destinasi baru di Indonesia yang dikenal sebagai 10 new Bali, dan masing-masing memiliki keunikan dan keindahan tersendiri. Indonesia juga memiliki infrastruktur pariwisata yang maju saat ini dan fasilitas akomodasi serta transportasi yang memadai dan memudahkan turis yang ingin berlibur di Indonesia. 

Beberapa destinasi primadona baru pariwisata Indonesia, yakni Flores, Sumbawa, Pulau Komodo, Labuan Bajo, juga dipromosikan oleh Oyan Kristian dari NTT DMC.

Saat ini perkembangan infrastruktur pariwisata di kawasan tersebut berkembang pesat, yang ditandai dengan maraknya investor yang membangun fasilitas hotel, transportasi kapal, untuk memudahkan para wisatawan berlibur dan menikmati keindahan area wisata.

Masyarakat Swedia memiliki keinginan yang cukup besar untuk mengikuti paket-paket wisata dengan tema melakukan wisata secara berkelanjutan (sustainable tourism).

Hanna Anfelter, seorang travel jurnalis yang memiliki perhatian besar terhadap isu sustainable tourism menyampaikan pengalamannya selama berwisata di area Sidemen, Bali.

Turis dapat tinggal di penginapan yang dikelola oleh orang lokal dan rumah makan setempat menyediakan makanan dari kebun yang dikelola sendiri. Tidak ada penggunaan plastik di area penginapan kawasan Sidemen serta mengutamakan konsep back to nature, ungkap Hanna Anfelter. 

Kegiatan B to B meeting berlangsung intensif dan berlangsung diskusi yang menarik antara Travel Agent Swedia dan Indonesia, yang membahas peluang pengembangan paket wisata destinasi baru dan Bali yang masih menjadi tujuan utama kunjungan wisatawan Swedia. 

Kunjungan wisatawan Swedia ke Indonesia menunjukan tren yang relatif meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata di tahun 2018 terdapat kunjungan 50.380 wisatawan Swedia ke Indonesia, dengan rata-rata pengeluaran sebesar US$ 1.500,- per turis. 

Nilai tersebut masih memiliki potensi yang cukup besar dimasa mendatang untuk meningkat dan perlu dimanfaatkan secara optimal oleh para pelaku usaha pariwisata di Indonesia, kata Dubes Bagas Hapsoro.

 

Jelang Sekaten, Gamelan Pusaka Ditabuh Non Stop Sepekan

this formate

SOLO, bisniswisata.co.id: Menjelang acara tahunan Sekaten atau Grebeg Mulud, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mulai menabuh sepasang gamelan bernama Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. Gamelan pusaka ini ditabuh selama 24 jam setiap harinya di pelataran Masjid Agung non stop hingga sepekan ke depan, yang dimulai Sabtu 2 November 2019.

Gamelan yang diletakkan di Bangsal Pradangga di sisi selatan Masjid Agung dan Bangsal Pragangga di utara masjid itu ditabuh para abdi dalem niaya Keraton Kasunanan hingga sepekan ke depan.

“Gamelan Kyai Guntur Madu akan melantunkan Gending Rambu, sedangkan Kyai Guntur Sari akan melantukan Gending Rangkun. Keduanya akan ditabuh secara bergantian selama pelaksanaan Sekaten,” kata Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Dipokusumo, Pengageng Parentah Keraton Surakarta Hadiningrat seperti dilansir laman Tempo, Senin (04/11/2019).

Dijelaskan, Sekaten berasal dari kata Sahadat dan merupakan tata cara dan upacara dalam memperingati Maulud Nabi. Dua pasang gamelan tersebut sejak dulu menjadi alat syiar agama Islam di Jawa. Keduanya ditabuh untuk menarik minat masyarakat agar datang ke masjid dan mendengarkan syiar yang disampaikan ulama. “Gamelan pusaka akan berhenti ditabuh menjelang waktu salat dan tiap malam Jumat,” kata dia.

Pengulu Tafsir Anom Masjid Agung Keraton Surakarta KR Tumenggung Muhtarom mengatakan Gamelan itu akan terus ditabuh hingga hari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiulawal Hijriyah, yang tahun ini jatuh pada Sabtu, 9 November 2019.

Tradisi menabuh gamelan sekaten merupakan bentuk pelestarian budaya yang dipopulerkan oleh Wali Songo. “Gamelan sekaten ini menjadi salah satu bentuk syiar Islam. Tradisi tersebut wujud akulturasi budaya yang dilakukan oleh para wali, khususnya Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa pada zaman dahulu dan seiring perjalanan waktu berubah menjadi tradisi yang dilaksanakan keraton trah Mataram Islam dari waktu ke waktu hingga saat ini. Dan membuat Islam lebih mudah diterima masyarakat pada masa itu,” ungkapnya.

“Bukan hanya gamelan sekaten, sejumlah simbol yang penuh filosofi Islam juga masih dipertahankan sampai saat ini setiap kali Sekaten digelar. Seperti kinang, telur asin atau kalau orang Jawa menyebutnya Ndog Amal, pecut, mainan gangsing. Semuanya bisa ditemukan di pelataran Masjid Agung selama Sekaten berlangsung. Dan masing-masing memiliki makna di dalamnya,” kata dia.

Sebelum ditabuh, kedua gamelan dikirab dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju Masjid Agung. Iring-iringan kirab berjalan dari Kori Kamandungan menuju Masjid Agung, melewati kompleks Siti Hinggil dan berakhir di Masjid Agung. Dua perangkat gamelan tidak ditabuh secara bersamaan. “Cara menabuhnya bergantian,” kata Muhtarom.

Puncak acara Sekaten diwarnai dengan diaraknya gunungan kembar jaler estri yang diarak dari dalam keraton menuju depan Masjid Agung untuk dibagikan ke pengunjung. Tradisi Sekaten diawali pada jaman kerajaan Islam Demak dengan rajanya yang dikenal sebagai Raden Patah, putra Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Dulunya digunakan sebagai syiar agama Islam oleh Wali Songo.

Salah satu abdi dalem bernama Parmo (66) menjelaskan sebelum diletakkan di Masjid Agung, gamelan harus diambil dari kraton terlebih dahulu. Sebab gamelan itu merupakan salah satu pusaka milik Kraton Solo. Dan bukan hal mudah untuk mengangakat perangkat gemelan tersebut karena harus memiliki hati bersih lahir dan batinnya.

Rombongan yang mengangkat gamelan menggunakan pakaian khas abdi dalem kraton. “Tidak ada tidak ada ritual khusus bagi abdi dalem yang membawanya, misalkan harus poso (puasa) dulu. Yang pasti hanya mandi wajib agar bersih ketika membawa perangkat gamelan ke Masjid Agung,” jelasnya.

Hal utama yang dilakukan para abdi dalem, agar tidak terasa berat dan terbebani saat mengangkat perangkat gamelan serta harus melakukannya dengan ikhlas.
“Kudu ikhlas, ning yen ‘ngresula’ (mengeluh) justru saat membawa perangkat gamelan akan terasa berat. Sebab segala sesuatu yang dilakukan dengan hati ikhlas, niat ngawula lahir batin, Insya Allah lancar,” ucapnya.

Parmo mengaku sudah puluhan tahun mengabdi sebagai abdi dalem Kraton Solo. Sejak jaman PB XII masih sugeng (belum wafat). Bahkan sudah sejak jaman kakeknya, keluarganya mengabdi pada kraton. Bersama sekitar 150 abdi dalem Parmo mengangkat perangkat gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari menuju Masjid Agung yang tidak jauh dari Kraton Solo. (ndy)

Temu Pengusaha Wisata Latvia – RI, Promosikan Pariwisaa Berkelanjutan.

this formate

Dubes Bagas Hapsoro ( berdiri, kiri depan)  presentasi pada travel Agent  Latvia di kota Riga.

RIGA, Latvia, bisniswisata.co.id: Kunjungan Wisatawan Latvia ke Indonesia yang meningkat 122% dalam empat tahun terakhir ditindaklanjuti dengan kegiatan intensif pelaku pariwisata ke dua negara.

Sedikitnya 20 Travel Agent dan  wakil dari Asosiasi Travel Agent Latvia menghadiri kegiatan road show dan business meeting (B to B) yang diselenggarakan oleh KBRI Stockholm, demikian rilisnya hari ini.

Bekerjasama dengan Asien Paradisresor dan DMC NTT Indonesia serta Turkish Airlines, KBRI Stockholm menyelenggarakan road show dan business meeting (B to B) dengan tour operator dan travel agent dari Latvia pada tanggal 30 Oktober 2019 di Riga, Latvia. 

“Kunjungan wisatawan Latvia ke Indonesia menunjukan tren yang meningkat dari tahun ke tahun oleh karena itu mempertemukan para pelaku industri wisata membuka peluang meningkatnya kunjungan pada tahun-tahun kedepan,” kata Bagas Hapsoro, Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Swedia dan Republik Latvia.

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata selama 4 tahun terakhir dari tahun 2015  ke tahun 2018 tercatat meningkat sebesar 122%, dengan potensi yang cukup besar dimasa mendatang, tambahnya.

Kegiatan tersebut disambut baik para pemangku kepentingan wisata Latvia dengan hadirnya 28 orang yang berasal dari 20 travel agent Latvia termasuk asosiasi travel agent setempat.

“Kegiatan B to B meeting berlangsung intensif, antara travel agent Latvia dan Indonesia, yang membahas paket untuk destinasi baru selain Bali yang masih menjadi magnet kunjungan wisatawan Latvia ke Indonesia,” tambah Bagas Hapsoro.

Dalam sambutannya, Bagas  menyampaikan potensi pariwisata yang berkelanjutan di Indonesia. Sustainable tourism, tidak sekedar hanya berpergian dan menikmati suatu destinasi wisata namun memiliki arti yang lebih dalam bagaimana pariwisata juga memberikan kontribusi besar dan dampak positif bagi pelestarian alam, lingkungan hidup dan masyarakat lokal. 

Dubes mengajak pemangku kepentingan wisata Latvia bekerjasama dan turut mempromosikan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan. Ditekankan kembali Indonesia selain menawarkan keindahan alam dan kekayaan budaya serta keramahannya, juga kemudahan bebas visa selama 30 hari bagi turis Latvia juga udara yang selalu nyaman sepanjang tahun.

Pada kesempatan yang baik tersebut, juga dimanfaatkan untuk menampilkan sharing experience and story telling dari influencer Latvia, Ms. Alina Lisina, yang menyampaikan pengalaman pribadinya berlibur ke Bali terutama untuk liburan keluarga, honeymoon, dan bermeditasi serta Yoga. 

Asien Paradisresor mempresentasikan destinasi Indonesia beyond Bali, antara lain Lombok, Papua dan Raja Ampat, Sumatera, Jawa dan Borobudur, Sulawesi dan Toraja, Sedangkan DMC Nusa Tenggara Timur menyampaikan presentasi tentang Flores, dan Labuan Bajo serta pulau Komodo.

 CEO Turkish Airlines menyampaikan presentasi tentang berbagai fasilitas yang ditawarkan oleh Turkish Airlines khususnya jadwal penerbangan dari Riga, Latvia sebanyak 3 kali seminggu untuk penerbangan ke Jakarta dan Bali. 

” Semoga dengan adanya penerbangan Turkish Airlines langsung dari Riga ke Jakarta dan Bali membuat minat kunjungan wisman Latvia meningkat. Industri wisata di Jakarta dan Bali agar pro-aktif dengan paket-paket sesuai karakteristik wisatawannya , ”  ungkap Bagas Hapsoro.

Menyinggung kegiatan yang dilakukannya ini, Dubes Bagas Hapsoro mengatakan  pariwisata merupakan penghasil devisa yang semakin penting dan kontribusi bagi ekonomi Indonesia pada tahun 2019 diproyeksikan mencapai US$ 24 milyar melampaui sektor migas. 

Disamping itu, pariwisata juga menciptakan lapangan kerja bagi penduduk lokal serta mendukung pembangunan dan pengembangan wilayah. Pariwisata menyangkut industri yang luas dari sektor transportasi, penerbangan, kereta api, bis, perhotelan dan restauran, jasa pemandu wisata, spa dan pijat, serta kerajinan tangan Indonesia, oleh karena itu kunjungan turis mancanegara dinantikan dan terus diupayakan peningkatannya.

 

Tren Mode Ala Perempuan Prancis Tahun 1940an Lahir Kembali

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Tren mode selalu berulang, lahir kembali menjadi model masa kini. Begitu juga koleksi terbaru Soe, yang terinspirasi busana ala perempuan Prancis di tahun 1940an. Label pakaian berbasis di Jakarta itu. memamerkan 23 looks bagi para wanita urban yang ingin tampil lebih romantis.

Dora Maar adalah inspirasi utama dari penciptaan rangkaian busana yang mengaplikasikan teknik manipulasi kain tersebut. Perempuan Prancis yang bernama asli Henriette Theodora Markovitch dikenal sebagai fotografer, muse, sekaligus kekasih pelukis ternama, Pablo Picasso.

Menurut Monique Soeriaatmadja, Creative Director SOE Jakarta, Dora termasuk perempuan dengan hasil karya avant garde. Ia terbilang progresif pada zamannya lantaran menggunakan teknik menumpuk film untuk menghasilkan karya berbeda. “She was quite advance, pakai film ditumpuk, saya terinspirasi dari itu. Dia termasuk progresif pada zaman seperti itu,” tutur Monique seperti diunduh laman Liputan6, Senin (04/11/2019).

Monique lalu menerapkan teknik serupa pada kain organza, disebut pula teknik overlay. Manipulasi kain dilakukan untuk menghasilkan detail yang cukup rumit. Seluruhnya dibuat menggunakan tangan. “Kami juga menggunakan kontradiksi yang transparan,” ujarnya.

Siluet loose sekaligus pas badan tercipta dari beragam busana yang dihadirkan di runway JFW 2020. Salah satunya kemeja potongan dengan detail ruffle pada lengan yang dipadukan dengan celana palazzo dengan bahan melayang. Perpaduan itu cocok untuk dikenakan wanita urban ke kantor atau saat menghadiri meeting penting.

Ada pula atasan dengan lengan kelelawar dan belahan rendah yang dipadukan dengan rok lipit A-line dengan pinggang pas badan, cukup menarik perhatian. Simpel tetapi aura romantis dan elegannya tetap terpancar.

Soe memilih warna-warna putih gading, cokelat tembaga, dan keemasan sebagai warna dominan untuk kebanyakan looks yang ditampilkan. Namun, ia juga bermain dengan warna cerah seperti oranye yang hadir lewat penggunaan kain tenun tangan dengan benang katun. Monique menyebut pewarna kain yang digunakan berbahan alami, yakni daun mangga. “Memang lebih lama prosesnya dan hasilnya enggak selalu sesuai harapan,” ujarnya.

Natural menjadi caranya untuk menyisipkan alam ke dalam karya terbarunya. Apalagi, show kali ini merupakan karya kolaborasi dengan produsen minuman fermentasi berbahan apel. (ndy/Liputan6)

Jaring Wisman Berkualitas Ibarat Semut & Gula

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pakar Pariwisata Prof. Dr. Azril Azahari PhD mengharapkan duet Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama dan Wakil Menparekaf Angela Tanoesoedibjo harus fokus menjaring kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang berkualitas, dan tidak memburu secara kuantitas.

Apalagi saat ini, banyak negara di dunia mulai mengurangi jumlah kunjungan pelancong asing demi melindungi keberlanjutan dari destinasi. Pemerintah semestinya sudah beranjak untuk tidak lagi sekadar mengincar kuantitas yang bisa berdampak negatif pada destinasi wisata. Pasalnya, destinasi ramai dikunjungi tapi tidak memberikan dampak signifikan juga tidak baik.

“Sebenarnya, sudah sejak awal saya usulkan agar Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kemenparekraf tidak membuat kebijakan pada quantity tourism atau mass tourism, namun harus bergeser pada quality tourism atau responsible tourism. Karena dengan quantity tourism akan mengarah dan mengejar jumlah turis asing yang bisa berdampak buruk pada pariwisata kita,” lontar Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) kepada Bisniswisata.co.id di Jakarta, Ahad (03/11/2019).

Dilanjutkan, beberapa dampak buruk kuantitas dalam menggaet turis asing. Dampak ekonomi mislanya pengeluaran Wisman yang berkurang atau spend of moneynya sangat rendah karena banyaknya “backpacker”, bahkan juga program “hot deals” yang terlalu mengobral kunjungan wisatawan asing dengan memberi fasilitas harga menginap hotel yang dapat diskon khusus sehingga berkurangnya lama tinggal di hotel atau length of time menjadi rendah.

“Menurut saya program “hot deals” dengan prinsip “asset utilization” harus segera dikaji ulang, bila mungkin segera dihapus, agar tidak meluas ke daerah lain dampak negatifnya. Seharusnya sudah bergeser pada pengeluaran Wisman yang semakin meningkat (spend of money) dan meningkatnya pada lama menginap di hotel (length of time),” ungkapnya.

Juga berdampak sosial budaya, seperti: meningkatnya tingkat kerawanan sosial dan keamanan. “Contoh kasus di Bali dimana turis asing tidak menghargai budaya setempat. wisman seenaknya foto di atas Pura, dan tidakan tak manusiawi lainnya. Jadi segera eliminasi dampak sosial dan budaya yang sangat meresahkan di Bali terhadap aktivitas pariwisata di Bali, karena dampak tersebut akan cepat meluas,” sarannya.

Selain itu, jika memburu kuantitas akan berdampak pada Lingkungan atau enviromental sustainability seperti: meningkatnya kerusakan lingkungan dan lingkungan hidup kita.

Menurutnya, maraknya kunjungan wisman yang hanya mengejar kuantitas ternyata mendapat sorotan hasil “Travel & Tourism Competitiveness Index (TTCI) 2015, 2017 dan 2019 bahwa sub-indeks yang terendah selama 3 tahun adalah dari sisi healthy & hygiene, environmental sustainability, safety & security, tourist service infrastructure, dan ICT readiness berada di posisi paling bawah.

Azril mengingatkan pemerintah harus sadar bahwa pendekatan pada jumlah secara kuantitas semata adalah keliru. Dan harus cepat kembali pada pendekatan pariwisata berkualitas. Pemerintah juga harus sadar bahwa paradigma pariwisata dunia sudah bergeser dari “mass tourism/quantity tourism” yang berorientasi ”sun-sand-sea” menjadi “responsible tourism/quality tourism” yang mengacu pada ”serenity-spirituality-sustainability”. “Pemerintah juga harus memahami “tourist behaviour,” tambahnya.

Dikatakan, prinsip ingin mengembangkan “sharing economy” guna memanfaatkan periode wisman yang low season adalah kurang tepat. Sebenarnya dengan memahami karakteristik wisman dari seluruh negara untuk berwisata outbound, akan dapat mengisi dan menghindari “low season” tersebut, karena dapat mengisi periode secara penuh dalam satu tahun.

“Apakah pemerintah dalam hal ini memahami dan menyadari hal tersebut….?!? Artinya pemahaman dan kesadaran terhadap low season, sharing economy dan asset utilization yang salah,” sambungnya.

Dan untuk mendatangkan Wisman dari luar negeri dapat diibaratkan antara “gula dan semut”. Selama ini prinsip yang dilakukan adalah memindahkan semutnya (wisman) ke Indonesia, seharusnya buatlah gula yang lebih manis. “Beri daya tarik bukan atraksi wisata yang jumlahnya sangat banyak. Jadi bukan atraksi namun attraction di Indonesia sehingga otomatis semut akan berebut mengejar gula tersebut,” sarannya.

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) hingga September 2019 baru mencapai 12,27 juta dari target tahun ini sebesar 18 juta kunjungan. Secara bulanan, kunjungan wisman pada bulan September hanya 1,4 juta atau turun 10,10 persen dari bulan Agustus sebesar 1,55 juta kunjungan.

Dari 1,4 juta kunjungan wisman pada bulan September 2019, paling banyak berasal dari Malaysia sebesar 233,8 ribu kunjungan atau 17 persen. Sisanya, sebanyak 12 persen dari Cina, 11 persen dari Singapura, 10 persen dari Australia, 7 persen dari Timor leste, dan 43 persen dari negara-negara lainnya.

Sepanjang Januari-September 2019 ini, 12,27 juta kunjungan wisman didominasi oleh turis dari kawasan Asean sebanyak 4,7 juta kunjungan. Adapun berikutnya diikuti Asia selain Asean 4,03 juta kunjungan, Timur Tengah sebesar 211 ribu, Eropa 1,56 juta, Amerika 482 ribu, Oceania 1,18 juta, serta Afrika 69 ribu kunjungan.

Sepanjang tahun 2018, BPS mencatat total jumlah kunjungan wisman mencapai 15,8 juta dengan average spending per arrival (ASPA) atau rata-rata belanja per kunjungan sebesar 1.220 dolar AS. Jika diakumulasikan, maka devisa yang didapat Indonesia dari sektor pariwisata tahun 2018 sebesar 19,29 miliar dolar AS. (end)

Music Tourism, Formula Baru Pariwisata Indonesia

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pariwisata Indonesia menambah formula baru untuk mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Formula itu Music Tourism, yang selama ini belum terpirkirkan. Padahal potensi music tourism di Indonesia sangat besar. Berbagai konser musik skala lokal, nasional hingga internasional digelar di penjuru tanah air. Sayangnya belum ditangani serius sebagai salah satu data kunjungan juga pemasukan devisa negara.

Kini, Duet Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama dan Wakil Menparekaf Angela Tanoesoedibjo mengangkat music tourim. Dan Indonesia dipastikan bisa menjadi destinasi showbiz, dengan memadukan kekayaan budaya, keanekaragaman seni, dan kearifan lokal. Bahkan sederet artis penyanyi sudah menerobos dunia musik global, sehingga nama Indonesia semakin diperhitungkan.

Apalagi lokasi showbiz di Indonesia tak kalah menariknya. Show musik bisa pentas di indoors juga outdoors seperti di kawasan pegunungan ada Jazz Gunung, juga dipantai bahkan di pelataran candi yang kini sudah ngetren. Dengan kata lain menikmati musik sambil berwisata. Jadi tak ada kata terlambat untuk mengangkat formula baru pariwisata ini.

Dan formula seperti ini sudah berkembang di negara lain. Hasilnya memang sangat luar biasa, penonton pun membludak. Malah penonton rela menunggu setiap tahunnya, seperti festival musik bernama Coachella.

Selain jajaran musisi yang tampil, festival musik itu makin menarik karena diselenggarakan di Coachella Valey, California. Kawasan ini merupakan sebuah gurun dengan pemandangan pegunungan Santa Rosa dan San Jacinto serta jajaran pohon palem yang eksotis.

Tak hanya Coachella, ada beberapa festival musik yang juga diselenggarakan di lokasi-lokasi dengan pemandangan menakjubkan. Dilansir laman Kompas, Ahad (03/11/2019) mencatat beberapa di antaranya:

Love International, Kroasia
Perpaduan sinar matahari, laut biru, pantai pasir putih, dan penampilan musisi elektronik dari berbagai negara, semuanya bisa ditemukan di festival musik Love International di Kota Tisno, Kroasia. Ajang musik yang diselenggarakan di tepi Pantai Dalmatia itu akan membawa penonton berpesta selama satu minggu penuh sambil menikmati garis pantai Kota Tisno yang menakjubkan.

Mengutip dari loveinternationalfestival.com, festival yang sudah digelar sejak 3 tahun lalu ini, biasa dilaksanakan setiap bulan Juli. Pada tahun 2019, Love International menyuguhkan deretan musisi bergenre disko, house, dan techno beats.

Fuji Rock Festival, Jepang
Nama Fuji Rock Festival mungkin sudah tidak asing lagi bagi para pencinta musik di seluruh dunia. Ya, Fuji Rock Festival merupakan salah satu festival musik paling ditunggu di dunia. Pertama kali diselenggarakan pada 1997, festival itu sudah digelar untuk yang ke-22 kalinya. Tak hanya deretan musisi-musisi keren, festival tersebut juga dikenal karena lokasi acaranya.

Di festival itu penonton diajak menikmati musik sambil menghirup udara segar dan pemandangan hijau di kaki gunung. Saat pertama digelar tahun 1997, festival ini memang diselenggarakan di kaki Gunung Fuji, Jepang. Namun, sejak 1999 lokasinya dipindahkan ke Naeba Ski Resort, di Prefektur Nigata.

Di Naeba Ski Resort itu, penyelenggara menyulap lapangan besar menjadi lokasi festival dengan 7 panggung utama, beberapa panggung kecil, dan berbagai spot menarik. Salah satunya, Dragondola yang menjadi gondola terpanjang di Jepang. Melansir laman japan.travel, pengunjung bisa menaikinya untuk melihat pemandangan festival dari puncak Gunung Naeba setinggi 2,145 meter.

Dan Indonesia memiliki music tourism yang tak kalah menariknya dan diselenggarakan di lokasi wisata yang sangat untuk yakni Soundrenaline 2019. Ajang yang telah dilaksanakan pada 7-8 Oktober 2019 itu terbilang sukses menghibur para penikmat musik. Asal tahu saja, festival musik tahunan ini digelar di salah satu ikon wisata Bali, yaitu Garuda Wisnu Kencana (GWK). Jadi, penonton yang datang akan disuguhkan penampilan musisi lokal dan internasional dengan patung GWK setinggi 121 meter sebagai latarnya.

Tak hanya itu, lokasi acara semakin apik dengan kemunculan instalasi-instalasi seni. Salah satunya, ada instalasi berbentuk sepasang sneakers berukuran raksasa, yang masing-masing berukuran 1×4 meter. Sepatu raksasa itu merupakan karya seniman visual Muchlis Fachri dengan judul A Pair of Timeless Time Travel. Karya ini merupakan representasi dari tema Soundrenaline 2019, yakni “The Spirit of All Time”.

Selain itu, tema yang diusung juga tercermin lewat suguhan line-up yang tak lekang oleh waktu, seperti Primal Scream, Suede, Burgerkill, Kahitna, RAN, Maliq & D’Essentials, Fourtwnty, Pee Wee Gaskins, dan masih banyak lagi.

Selain itu, ada pertunjukan konser jazz bertaraf internasional dengan suasana yang berbeda yakni Jazz Gunung Bromo 2019 yang biasanya digelar setiap bulan Juli. Menariknya menikmati musik jazz diketinggian 2000 mdpl. Jadi selain menikmati alunan musik jazz pengunjung pun akan merasakan udara dingin berlatarkan pegunungan dan berdinding cemara serasa seperti berada di Eropa.

Juga bisa melihat sunrise sekaligusbonus bisa menyaksikan keindahan Bromo di pagi hari, Bukan hanya itu, para penonton akan ditemani gemerlap bintang ketika malam tiba. Ini tentu akan menjadi pengalaman yang tidak akan di temui di manapun.

Tak kalah menariknya menyaksikan konser musik di pelataran candi Prambanan Yogyakarta. Konser bertajuk Prambanan Jazz Festival ini digelar secara rutin setiap tahunnya. Dan festival musik Melodi Alam digelar di alam bebas yang menjadi obat penawar dari kejenuhan aktivitas sehari-hari. Konser unik di Indonesia ini diadakan di Gunung Pancar. Para pengunjung akan terbius oleh teduhnya alam bebas.

Di sampaing tu, ada Jazz Pinggir Kali atau Festival JazzGiLi diselenggarakan do Purbalingga. Ada Ruang Rupa Record (RRREC) Fest in the Valley, Festival musik ini dikemas dalam format paket liburan akhir-pekan yang berisikan program seperti pertunjukan musik, pemutaran film layar tancap, residensi seniman, workshop, bincang-bincang, program anak, dan teater.

Selain itu konser musik jazz juga ada yang diadakan di pinggir pantai, tepatnya di Banyuwangi. Sebenarnya, Beach Jazz Festival merupakan salah satu rangkaian peringatan ulang tahun Kabupaten Banyuwangi. Tak hanya konser musik, Beach Jazz Festival juga dijadikan ajang untuk mempromosikan pariwisata kota paling timur Jawa Timur.

Jadi bukan hanya di kawasan pegunungan, pantai dan pinggir kali, namun music tourism juga digelar di kawasan kepulauan yakni Pulau Maratua yang dijuluki sebagai surga di utara Indonesia. Pulau yang terletak di Laut Sulawesi dan perbatasan dengan Malaysia ini kini tidak hanya menjadi destinasi para wisatawan, namun juga para pecinta musik jazz. Selain dapat menikmati keindahan alam yang ada di pulau yang kaya dengan kehidupan fauna dan flora langka, para turis bisa menikmati pagelaran Maratua Jazz dengan menghadirkan musisi kenamaan. (ndy/Kompas)

Penataan Destinasi Wisata Likupang Dianggarkan Rp499 Miliar

this formate

LIKUPANG, bisniswisata.co.id: Destinasi wisata Likupang, Minahasa Utara, Sulawesi Utara (Sulut), mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Perhatian itu, setelah Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Pulisan, Likupang, pada awal Juli 2019. Bahkan kawasan Likupang akan dikembangkan sebagai Bali baru.

Karenanya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan membangun infrastruktur pendukung di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) ini, dengan menyiapkan anggaran pengerjaan proyek akses serta pendukunganya. Secara keseluruhan, anggaran penataan Likupang sebesar Rp 499,8 miliar atau meningkat dua kali lipat dari anggaran tahun 2019 sebesar Rp 250,35 miliar.

“Beberapa pekerjaan ini, merupakan lanjutan pada 2019. Ini seperti pelebaran jalan menuju standar pada ruas Jalan Girian (Bitung)-Likupang (tahap 2) sepanjang lima kilometer dari total 38.4 kilometer keseluruhan,” ungkap Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam pernyataan tertulisnya, Ahad (3/11/2019).

Dilanjutkan, sebelumnya ruas Jalan Girian (Bitung)-Likupang tahap satu telah dikerjakan sepanjang 7,9 kilometer. Sebelumnya preservasi Jalan Girian (Bitung)-Likupang juga sudah dikerjakan sepanjang 37 kilometer serta penggantian Jembatan Marinsow dengan panjang 13 meter dan lebar tujuh meter.

Juga dukungan Sumber Daya Air (SDA) meliputi pembangunan embung sebagai tampungan air dengan kapasitas 400 meter kubik dan sumur bor dengan kedalaman 120 meter. “Ini untuk mendukung penyediaan air baku di Desa Kinunang, Desa Pulisan, dan Desa Marinsow. Saat ini pekerjaannya berada pada tahap survei lokasi,” ujar Basuki.

Selain itu, pembangunan infrastruktur pengendali banjir di Sungai Likupang sepanjang satu kilometer dan peningkatan kapasitas Instalasi Pengolahan Air (IPA) juga dilakukan. Dengan begitu dapat menjangkau di Desa Winuri, Desa Wineru, dan Desa Maen, sambungnya.

Kepala Badan Pengembangan Infrastuktur Wilayah Kementerian PUPR Hadi Sucahyono menambahkan Likupang merupakan satu dari lima destinasi prioritas dalam agenda pembangunan pariwisata. Empat destinasi lain yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo. Objek wisata yang siap ditata di Likupang adalah Pantai Paal yang terletak di Desa Marinsow, 44 kilometer dari Bandara Sam Ratulangi.

“Pantai Paal ini sudah ada desainnya dan kami upayakan untuk mengusung kearifan lokal. Keindahan panorama Pantai Paal perlu didukung fasilitas penunjang, seperti lahan parkir dan prasarana air bersih. Juga jalan akses akan diperbaiki untuk memudahkan wisatawan ke objek wisata yang sarat pasir putih,” ucapnya.

Likupang memiliki obyek wisata bahari seperti Pantai Pulisan, Pantai Paal dan Ekowisata Bahoi. Pengunjung lainnya, Noor menyebut obyek-obyek wisata di Likupang bagus dan keren, tetapi masih jarang didengar tentang keindahannya. Bahkan panorama bawah laut dan pantai di Likupang sangat menjanjikan untuk dinikmati.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara di Sulawesi Utara tahun 2018 berjumlah 122.101 wisatawan atau tumbuh 53 persen dibandingkan tahun 2017. Tusris asing dari China mendominasi kunjungan wisata selain wisatawan dari Jerman, Amerika Serikat, Singapura, dan Australia.

Di sisi lain, sektor pariwisata di Minahasa Utara menyumbangkan 1,72 persen dari total Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Minahasa Utara. Di Minahasa Utara pada tahun 2018 berdasarkan data Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Utara terdapat empat hotel berbintang, 17 hotel non bintang, dan 65 restoran. (ndy)