Libur dan Akhir Pekan, Harga Tiket Naik 150 Persen

this formate

MATARAM, bisniswisata.co.id; SETELAH penutupan pendakian selama tiga bulan, per 1 April 2020 tiket mendaki akhir pekan dan hari libur naik 150 persen. Mengikuti Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 12 Tahun 2014 tentang jenis dan tarif atas penerimaan negara bukan pajak di Kementerian Kehutanan. Kebijakan tarif akhir pekan tersebut telah diberlakukan di taman nasional lain di Indonesia, taman nasional Rinjani baru diberlakukan April 2020.

Menurut Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Dedy Asriady, tiket masuk kawasan Rinjani setiap akhir pekan dan hari libur untuk pengunjung lokal sebesar Rp 7.500 per orang per hari, wisatawan asing Rp250 ribu per orang per hari. Selama ini harga tiket masuk ke dalam kawasan Rinjani untuk pengunjung lokal sebesar Rp5 ribu per orang per hari untuk hari biasa, dan Rp 7.500 per orang per hari untuk hari libur. Sedangkan untuk wisatawan asing pada hari biasa dikenakan tarif sebesar Rp150 ribu per orang per hari, dan Rp250 ribu per orang per hari untuk hari libur.

Manajemen BTNGR melakukan pertemuan untuk mensosialisasikan kebijakan tersebut sebelum pendakian Rinjani kembali dibuka, terutama bagi para pelaku industri pariwisata, mengingat pendakian Rinjani berhubungan erat dengan aktivitas wisata minat khusus yang menjadi salah satu andalan sektor pariwisata di NTB.

Selain mensosialisasikan tariff akhir pekan dan libur baru, ungkap Dedy, manajemen BTNGR tengah melakukan pembenahan dari segi fasilitas mau pun pengawasan pendaki. Dicontohkannya perbaikan sarana-prasarana yang telah rampung di Jebak Gawah, pintu masuk Rinjani melalui Desa Senaru, Lombok Utara. ‘Fasilitasnya sudah enak, kalau antre sudah ada tempat yang lapang. Ada bangunannya cukup luas,’’ jelas Dedy. Untuk tahun 2020, pembangunan sarana-prasaran serupa akan dilakukan di pintu-pintu lainnya, dimulai dari pintu Sembalun.

Kepala BTNGR juga mereview SOP pendakian secara menyeluruh, serta penerapan Route Tracking berbasis Radio-frequency identification (RFID). Dengan harapan, seluruh aktivitas pendakian di Rinjani dapat lebih terjamin dari segi keamanan dan kenyamanan.

‘’Dengan system RFID aktivitas pendaki termonitor dengan baik. Berapa pendaki yang masih ada di atas bisa kita tahu. Kalau ada pendaki yang harusnya sudah turun tapi masih di atas bisa terpantau, lokasi-lokasinya juga,’’ ujar Dedy. *

Sate Kere, Kuliner Wong Cilik Digandrungi Orang Berduit

this formate

SOLO, bisniswisata.co.id: Siang belum lama beranjak, tetapi lapak Mbak Tug di pinggir Jalan Arifin, Kepatihan Kulon, Jebres, Kota Solo sudah terlihat sesak. Pengunjung hilir mudik berdatangan demi mencicipi kuliner khas Solo, sate kere. Uniknya, kendati istilah kere jelas bermakna miskin, pembeli sate di lapak ini sama sekali tak menunjukkan orang tak berpunya.

Tak tampak orang miskin di lapak ini. Para pembeli yang terlihat pada pertengahan Desember 2019 lalu justru banyak mengendarai mobil pribadi. Dilihat dari pelat mobilnya, sebagian juga berasal dari luar Kota Solo. Begitu ramainya, untuk jajan di lapak sederhana Mak Tug terkadang harus rela antre.

“Tiap hari dagangan selalu habis. Ya, kalau dirata-rata omzet Rp2,5 juta per hari,” ujar Marimin, 60, sang penjual. Omzet jutaan rupiah tidak didapatkan Marimin hingga berjam-jam. Dia mulai membuka lapak pukul 13.00 WIB. Tiga jam berikutnya atau sekitar pukul 16.00 WIB, dia biasanya sudah menutup seluruh dagangan lantaran habis terjual.

Sate kere perlahan menjadi ikon kuliner khas Kota Solo. Bagi para pendatang, berkunjung ke kota asal Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini tak lengkap jika belum mencicipi sate ini. Sesuai namanya, sate ini sangatlah sederhana. Tak seperti sate kebanyakan yang berisi daging, sate kere berisi gembus, tempe kedelai, dan jeroan sapi.

Dilihat bahannya, sate ini wajar diidentikkan sebagai milik orang kere. Harganya pun sangat murah. Untuk satu tusuk sate gembus dan lontong harganya hanya Rp3.000. Namun kelezatan sate kere tak lagi milik rakyat jelata. Kini sate ini telah berubah dan naik kelas menjadi makanan kelas atas.

Pamor sate kere kian meroket mulai 2001. Di balik merebaknya warisan kuliner khas Solo ini juga ada cerita menarik di belakangnya. Sate kere lahir memang sebagai konsumsi orang-orang miskin Solo kala masa kolonial. Tak sekadar makanan, sate ini hakikatnya juga bentuk perlawanan rakyat Solo terhadap kuliner kolonial saat itu.

Peneliti sejarah kuliner Solo Heri Priyatmoko mengatakan, dalam atlas kuliner Nusantara, kuliner sate kere memiliki riwayat yang pekat dengan nasib getir dan perjuangan rakyat kelas bawah. Bahan-bahan sate kere seperti gembus, tempe kedelai, dan jeroan sapi di masa kolonial dijauhi pembesar Eropa dan bangsawan. Bahkan gembus dan jeroan merupakan pantangan untuk disajikan di meja makan.

Pada 1849 ada kebijakan tentang pemotongan sapi dan kerbau. Jeroan dan gajih yang disingkirkan selanjutnya dimanfaatkan masyarakat bawah yang tak sanggup membeli daging atau membeli sate. Bahan buangan itu kemudian diolah bersama gembus yang selanjutnya dikenal dengan sate kere.

Sate kere Solo kini juga sudah go international. Lapak Mbak Tug misalnya kerap kali menerima pesanan orang-orang Indonesia yang tengah kuliah atau bekerja di luar negeri. Yang dipesan sambalnya untuk oleh-oleh di sana. Ada yang dari Inggris, Hong Kong, dan Australia,” beber Marimin seperti dilansir laman Sindonews, Senin (06/01/2020).

Orang tua Marimin dulu mulai berjualan pada 1977. Saat itu dagangan masih disunggi (diletakkan di atas kepala) dan dijual berkeliling. Seiring makin terkenalnya sate kere, Marimin juga mengaku beberapa kali diundang pemerintah kota untuk mengikuti pameran di luar daerah.

Kini lapaknya diberi nama Sate Presiden. Perubahan nama ini dilatarbelakangi lantaran lapaknya jadi langganan Presiden Jokowi, termasuk saat mendapat pesanan untuk sajian tamu Jokowi kala mantu anak perempuannya, Kahiyang Ayu.

Sisa Daging Diolah Jadi Tengkleng

Selain sate kere, ada kuliner tengkleng yang juga bentuk perlawanan moral kala itu. Tengkleng diperkirakan muncul sekitar satu abad lalu dari aksi para buruh yang memunguti sisa-sisa daging kambing juragan batik Solo. Sekelompok buruh yang tidak mampu menjangkau makanan berkelas lantas mengolah tulang dan jeroan kambing untuk disantap.

Namun, menurut Heri Priyatmoko, argumentasi itu dinilai terlalu dangkal dan analisis minim data. “Yang pasti tengkleng lahir dari kreativitas orang Solo dalam menghadapi situasi yang mencekik, tepatnya di masa penjajahan Jepang,” katanya.

Di Solo, kuliner tengkleng antara lain bisa ditemui di Warung Yu Tentrem di Jalan Letjend Sutoyo, Gang Kelud Selatan, Ngadisono RT 4 RW 14, Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari. Tengkleng Yu Tentrem sudah lama dikenal karena rasanya lezat, mantap, enak, serta khas dari Solo. Resep masakan turun-temurun tetap dipertahankan kualitasnya sampai sekarang. Bahkan tengkleng Yu Tentrem telah menjadi langganan keluarga mantan Presiden Soeharto hingga Jokowi.

Medio 1980 silam, Tentrem mulai berjualan tengkleng berkeliling Kota Solo dengan berjalan kaki. Satu panci tengkleng dan kuah digendong dari rumah ke rumah menyambangi pembeli. Untuk wadah makanannya kala itu masih menggunakan daun pisang yang dalam bahasa Jawa disebut pincuk. Untuk dapat menikmati tengkleng Yu Tentrem harus antre karena peminatnya banyak.

Warung yang dibuka mulai pukul 10.00 WIB ini biasanya sudah habis jualannya sekitar pukul 13.00 WIB. Pandangan tengkleng sebagai makanan rakyat jelata pun kini sudah tidak ada. Bahkan penikmatnya merupakan orang-orang kaya dari berbagai latar belakang dan suku.

Tengkleng mulai berkibar sekitar tahun 2013. “Saat itu banyak festival kuliner yang diselenggarakan dan tengkleng yang diangkat,” kata Winarno, salah satu anak Yu Tentrem.Selain sate kere dan tengkleng, ada kuliner lain Solo yang khas, yakni selat.

Warung Selat Mbak Lies di Serengan Nomor 42 RT 03 RW 02, Solo, adalah salah satu yang masyhur. Rahasia selat Mbak Lies tetap lezat sampai sekarang adalah cara memasaknya. “Aktivitas memasak sampai sekarang tetap pakai anglo untuk yang besar-besar karena berpengaruh pada rasa,” ungkap Wulandari Kusmadyaningrum selaku pemilik usaha.

Dirinya belajar autodidak membuat selat dan mulai membuka warung 1987 lalu. Namun meski tenar, menurut Heri Priyatmoko, cerita panjang selat sebagai mahakarya dapur Solo belum terkuak. “Yang kita dapat juga menyesatkan. Keliru kalau mengatakan selat diadaptasi dari salad atau slatjee dalam bahasa Belanda. Kata slatjee sudah tidak tepat untuk salad yang betul ialah slaatje, “ kata Heri.

Dengan petunjuk kamus bahasa Belanda, terlacak bahwa slachtje kurang lebih artinya hasil pemotongan daging yang dijadikan kecil-kecil. Kala itu lidah orang Jawa sulit melafalkan slachtje meniru lidah orang Eropa. Selain slachtje bahan selat adalah aardappel (kentang), wortelen (wortel), boon (buncis), komkommer (ketimun), sla (slada), ei (telur), dan sojasous (kuah kecap), serta saus mayones. (*)

Museum Louvre Batasi Jumlah Kunjungan Wisatawan

this formate

PARIS, bisniswisata.co.id: Lonjakan jumlah kunjungan wisatawan yang berwisata ke museum selalu diharapkan. Lucunya, justru Museum Louvre di Paris, Prancis tak mengharapkan jumlah kunjungan yang banyak, malah terus menekan. Bahkan kini memberlakukan penjualan tiket melalui online.

“Sepanjang tahun 2019, jumlah turis yang datang ke Museum Louvre turun menjadi 9,6 juta seiring dengan rencana pembatasan jumlah pengunjung. Tahun sebelumnya, Museum Louvre tercatat dikunjungi 10,2 juta orang,” papar sang direktur seperti yang dikutip dari AFP pada Senin (6/1).

Pengelola museum paling populer di dunia ini secara aktif menekan jumlah kedatangan kunjungan turis selama musim panas.”Perubahan nyata adalah pada bulan Juni, Juli dan Agustus,” kata Direktur Louvre, Jean-Luc Martinez.

Pihaknya juga memotong jumlah pengunjung sebanyak 600 ribu pada saat itu. “Kami mencoba membatasi jumlahnya sehingga tidak akan ada lebih dari 1 juta pengunjung per bulan yang terjadi pada 2018.” sambungnya.

Untuk melakukan itu, museum ditutup selama beberapa hari selama pekan ramai turis di musim panas, kata Martinez, ketika ibu kota Prancis juga sedang dilanda gelombang panas. “Kami adalah satu-satunya lembaga budaya di dunia yang melakukan ini dan kami sangat tegas. Kami melakukan ini karena kami ingin menyambut pengunjung lebih baik, tidak hanya meminta mereka datang.” lontarnya serius.

Louvre sejauh ini adalah museum yang paling banyak dikunjungi di dunia, diikuti Museum Nasional China di Beijing dengan 8,6 juta pengunjung, dan Museum Seni Metropolitan New York, yang didatangi 7,3 juta orang pada tahun 2018.

Reservasi Internet, yang mendatangkan setengah dari total kunjungan Louvre, telah membantu mengatur jumlah kedatangan, kata Martinez. Tiket pameran Leonardo da Vinci di Louvre dijual di awal, namun Martinez mengatakan tidak ingin memaksa semua pengunjung “berlomba-lomba” memesan tiket di awal.

Sekitar 180 ribu orang telah memesan tiket untuk pameran sebelum dibuka secara resmi pada akhir Oktober. Pameran yang laris itu mendorong angka pengunjung naik 14 persen pada bulan November, dan pengelola Louvre menambah jam pameran hingga tengah malam untuk mengatasi permintaan sebelum ditutup pada akhir Februari 2020.

“Pesan yang ingin kami sampaikan adalah bahwa hanya dengan membuat reservasi di awal, Anda dijamin masuk ke museum dalam waktu 30 menit,” ujar Martinez.

Dia mengatakan protes jalanan anti-pemerintah “rompi kuning” hampir setiap minggu di ibu kota Prancis selama 2019 tidak banyak berpengaruh pada jumlah kunjungan di Louvre. “Sebanyak 75 persen dari pengunjung kami berasal dari luar negeri”, dengan turis Amerika dan China paling banyak.

Begitu juga dengan aksi mogok mengenai reformasi pensiun, yang telah melumpuhkan transportasi umum di Perancis pada bulan lalu. Museum Louvre hampir buka setiap hari, hanya tutup saat kekurangan karyawan saat aksi demo berlangsung.

Direktur juga memuji keberhasilan Museum Louvre di Abu Dhabi, yang telah menarik lebih dari 2 juta pengunjung dalam dua tahun, “terutama dari India”.

Museum satelitnya di Lens, utara Prancis juga telah melewati target setengah juta pengunjung untuk pertama kalinya tahun ini, tambahnya sambil menambahkan untuk pemesanan tiket masuk ke Museum Louvre di Paris, Prancis, turis bisa mengunjungi situs resminya di sini. (*)

Bisnis Startup Hotel OYO Disorot

this formate

NEW DELHI, bisniswisata.co.id: OYO, Perusahaan startup yang menawarkan layanan penyewaan kamar hotel asal India menjadi sorotan bagi industri perhotelan di penjuru dunia. Karena dikabarkan telah membangun bisnis domestik dengan menggunakan taktik yang dipertanyakan sekaligus diragukan bagi kesehatan perusahaan bisnis hotel.

Dilansir dari New York Times, Senin (6/1/2020), dikatakan kalau OYO dapat meningkatkan jumlah daftar kamar di situs webnya untuk wilayah India, dengan memasukkan kamar-kamar dari hotel yang sebenarnya tidak tersedia. Banyak dari kamar-kamar yang terdaftar di OYO berasal dari hotel dan wisma yang tidak berlisensi di India.

Untuk menghindari masalah yang disebabkan oleh pihak berwenang atas praktik ini, perusahaan terkadang memberikan penginapan gratis kepada polisi dan pejabat lainnya. Hal ini berdasarkan wawancara dengan pemilik dan karyawan hotel, email, keluhan hukum, dan dokumen lainnya.

Dijelaskan, OYO juga membebankan biaya tambahan serta menolak untuk membayar hotel secara penuh yang mereka klaim sebagai utang. “Ini adalah gelembung (bubble) yang akan meledak,” kata Saurabh Mukhopadhyay, mantan manajer operasi OYO di India Utara yang meninggalkan perusahaan pada bulan September lalu.

Pendiri OYO, Ritesh Agarwal mendirikan perusahaan OYO pada 2013 saat usianya menginjak 19 tahun. Sejak itu, OYO dengan cepat tumbuh di lebih dari 80 pasar dan meningkatkan bisnisnya di AS dengan properti yang dikonversi di Dallas dan Las Vegas.

SoftBank sendiri merupakan investor utama OYO. Selain itu, ada pula pendukung lainnya termasuk Sequoia Capital India dan Lightspeed India Partners. Baik OYO dan SoftBank belum memberikan komentar terkait laporan dari New York Times tersebut.

“Ini adalah satu-satunya perusahaan dari India yang mengglobal dalam skala besar,” Satish Meena, analisis senior untuk firma riset Forrester di New Delhi. Satish pun juga berkomentar bagaimana cara bisnis OYO bekerja “tapi sampai sekarang, ada keraguan serius tentang model bisnis (OYO).”

Saat ini, OYO diklaim sebagai salah satu perusahaan baru yang paling menjanjikan di India, dengan nilai $ 10 miliar. Untuk bagiannya, Agarwal memiliki 30% dari perusahaan.

Di bawah arahan dari pimpinan SoftBank Masayoshi Son, ia memiliki strategi pertumbuhan yang agresif kepada OYO yang ia sebut sebagai pertama. Bahkan dikabarkan ia baru-baru ini menghapus miliaran dolar dari investasi lain seperti WeWork.

OYO melaporkan kerugian bersih sebesar 23,85 miliar rupee atau setara US$332 juta (Rp 4,65 triliun) pada tahun yang berakhir Maret 2019, dihitung dari periode ekspansi cepat ke pasar internasional seperti Cina, AS, dan Inggris. (*)

Ketegangan Iran-AS Tak Pengaruhi Kunjungan wisatawan

this formate

TEHERAN, bisniswisata.co.id: Ketegangan Iran dengan Amerika Serikat (AS) ternyata tak mempengaruhi kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) ke negara Persia. Destinasi wisata pemandangan alam pegunungan hingga wisata musim dingin menjadi daya tarik Iran. Dan selalu dipadati wisatawan untuk berwisata.

Wisata Pegunungan Alborz juga dieja sebagai Alburz atau Elburz, merupakan pegunungan di Iran utara. Barisan pegunungan ini membentang dari perbatasan Armenia di barat laut sampai ujung selatan Laut Kaspia, dan berakhir di sebelah timur perbatasan Turkmenistan dan Afganistan.

Puncak tertinggi pegunung Alborz terdapat di wilayah Iran. Sementara gunung tertinggi di Timur Tengah, Gunung Damavand, merupakan bagian dari pegunungan yang perkasa ini. Gunung Damavand menjadi berkah bagi pariwisata Iran: inilah Alpina ala Iran, yang jadi destinasi wisata musim dingin utama di negeri para mullah itu.

Dilansir CNN Travel, Senin (06/01/2020) menuju Gunung Damavand, wisatawan harus melalui rute panoramik, dengan jalan yang berangin dan terkadang sangat sempit, melewati lembah-lembah hijau dan melewati dinding-dinding batu yang curam. Mengingatkan latar film Lord of The Rings.

Berikut destinasi wisata musim dingin di Iran, sebagaimana dinukil dari CNN Travel, antara lain:

Resor Ski Darbandsar

Resor ski Darbandsar berada di ketinggian 3.400 mdpl (sekitar 11.000 kaki), Darbandsar adalah salah satu kota tertinggi di seluruh Iran. Namun, untuk menikmati bermain ski di Darbandsar, wisatawan haru naik lagi di ketinggian 3.600 mdpl ke sebuah resor ski yang dikelola swasta. Bukan hanya warga Iran, yang bermain ski di resor tersebut. Juga turis asing.

“Saya berlibur ke Iran, saya pikir tak ada yang berubah. Namun saya terkejut dengan peningkatan pariwisata Iran,” ujar seorang turis dari Kanada. Ia juga terkejut, mengapa Iran tak mempromosikan destinasi wisata musim dinginnya kepada dunia.

Untuk menjangkau resor itu, wisatawan menaiki kereta gantung setinggi 4.000 dpl – atau berjarak sekitar 400 meter di atas kepala para wisatawan yang sedang bermain ski di bawahnya.

Fasilitas Bergaya Barat

Selain medan bermain ski yang epik, Darbandsar juga mencoba menawarkan fasilitas yang mirip dengan yang ditemukan di Amerika atau Eropa. Jadi, jangan kaget di republik Islam ini, wisatawan mendengarkan DJ memainkan lagu-lagu terbaru di restoran resor, sementara bartender mencampur koktail – non-alkohol, tentu saja – yang didinginkan dengan salju.

Makanan yang ditawarkan adalah pizza, ayam goreng, burger, dan kentang goreng – membuat pengunjung bertanya-tanya apakah mereka ada di Alpina dan tidak dekat dengan Teheran. Satu pengingat bahwa wisatawan masih di Iran adalah para wanita warga lokal masih mengenakan hijab, meskipun mengenakan pakaian musim dingin atau baju olahraga ski. Jadi, meskipun penegakan hukum hijab di Iran jauh lebih santai di pegunungan daripada di banyak tempat lain di negara ini, kebanyakan mereka tetap mengenakan hijab.

Pariwisata ke depan bakal jadi sektor unggulan Iran. Setelah perjanjian nuklir dan pencabutan banyak sanksi terhadap Teheran, negeri itu mulai mencari pemasukan besar-besaran dari kunjungan wisatawan.

Wisata Ski
Dalam sebuah wawancara Kepala Pariwisata Iran, Masoud Soltanifar, mengatakan olahraga musim dingin adalah area yang mereka harapkan untuk berkembang, “Kami punya beberapa jenis wisatawan yang datang ke sini,” katanya. “Turis religius, turis kesehatan dan medis, turis budaya yang mengunjungi banyak situs kuno, dan wisatawan alam.”

Dari sekian daftar wisatawan, peminat wisata musim dingin berada pada posisi terakhir. Mereka berada dalam satu segmen wisata tracking di gunung, hutan, danau dan lautan di negeri yang luas dan beragam ini. Sejauh ini, jumlah pemain ski yang mengunjungi Iran dari luar negeri tidak terlalu besar – sebagaimana peminat wisata alam.

Sementara manajemen di Resor Darbandsar tidak memiliki angka statistik, tingkat kunjungan wisatawan. Hanya saja mereka mengatakan wisatawan mancanegara jarang datang di Darbandsar.

Panjat Es

Selain bermain ski, panjat dinding es memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Sekolah panjat es tertua sangat dekat dengan resor ski Darbandsar, di sebuah desa bernama Meygoon.

“Orang-orang sangat terkejut bahwa kami melakukan olahraga ini,” kata Mehdi Panahi Pour, Kepala Sekolah Panjat Es Meygoon menggambarkan reaksi yang ia dapatkan dari orang asing, yang berhasil mencapai puncak dinding es yang mereka gunakan untuk pelatihan. “Ketika mereka datang ke sini [mereka] tertarik untuk melihat bagaimana kami melakukannya.”

Pada akhir pekan, puluhan orang didapati memanjat dinding gunung yang beku, dengan kapak dan sepatu runcing. Ini adalah olahraga yang sulit dan menantang, tak mengenal gender, setidaknya di sekolah Meygoon, yang dipraktikkan oleh pria dan wanita. Bahkan, Iran memiliki pendaki gunung dan pemanjat es wanita yang tangguh.

Sepideh Javan, salah satu pendaki es wanita terbaik Iran, dengan cepat naik ke dinding yang beku, “Panjat es jauh lebih berisiko daripada panjat tebing,” katanya. “Es bisa turun kapan saja dan menimpamu, batu jauh lebih stabil. Tetapi jika kamu menyukai olahraga maka itu sangat bagus.”

Panjat es biasanya disediakan untuk generasi muda kalangan atas, karena perlengkapannya mahal, “Kami mulai 14 tahun yang lalu dan sekarang menjadi sangat populer,” kata Mehdi Panahi Pour, salah seorang penggemar pemanjat tebing es. “Setiap hari kami memiliki antara 60 dan 70 orang yang datang ke sini untuk pelatihan dan kompetisi.” katanya sambil menambahkan bahwa mimpinya adalah untuk mengikuti kompetisi internasional yang akan diadakan di Meygoon.

Resor ski Darbandsar

Jalan Iran menjadi destinasi wisata musim dingin kelas dunia masih panjang. Iran memang belum mampu bersaing dengan resor dki di Eropa dan Amerika Utara. Namun itu hanya persoalan waktu dan perbaikan fasilitas.

Tantangan Resor ski Darbandsar berupa kurangnya tempat parkir bagi pemain ski. Mereka kadang-kadang harus berjalan lebih dari satu mil dari mobil mereka ke gerbang masuk fasilitas. Dan jalan kecil dan sempit menuju resor, kerap menyebabkan kemacetan lalu lintas, terutama pada akhir pekan.

Namun, seperti di sebagian besar Iran, ada juga banyak optimisme di antara mereka yang menjalankan destinasi olahraga musim dingin di Pegunungan Alborz. Mereka berharap bahwa para wisatawan dunia berkunjung, untuk meningkatkan ekonomi di kota-kota utara Iran.(*)

Ria Irawan Berpulang Saat Berjuang Melawan Kanker

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co,id: Innalillahi Wa Innailahi rojiun… AKTRIS film dan seniman Chandra Ariati Dewi Irawan atau lebih dikenal Ria Irawan menghembuskan nafas terakhir pada Senin (6/1/2020) sekitar pukul 04.40 WIB. Saat Adzan Subuh berkumandang, Ria menutup mata selama-lamanya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat.

Kabar duka disampaikan Kakak kandung Ria, Dewi Irawan melalui akun Instagram-nya mengunggah foto keranda milik Ria yang tampak sudah berada di dalam mobil ambulans. “Pulang, adikku sayang,” tulis Dewi Irawan disertai emoji hati di Instagram Story-nya, Senin (6/1/2020).

Juga kabar duka disampaikan komika yang juga sutradara dan aktor, Ernest Prakasa, lewat akun Twitter-nya, Senin (6/1) pagi. “Baru dapat kabar dari Mbak @dewiirawan13, Mbak @RiaIrawan tersayang sudah berpulang. Selamat jalan Mbak Ria yang baik, sampai jumpa lagi,” tulis Ernest di akun Twitter miliknya, Senin (6/1) pukul 5.08 WIB.

Sebelum meninggal dunia, Ria Irawan sempat menjalani beberapa kegiatan, di antaranya menonton film bersama sang suami, Mayky Wongkar. Hal itu diungkap Mayky lewat akun Instagram @mayk_wongkar.

Foto yang diunggah pada 29 Desember 2019 itu memperlihatkan Mayky dan Ria tengah duduk bersebelahan dan berada di gedung bioskop. Keduanya menonton film Imperfect yang dibintangi Reza Rahadian dan Jessica Milla. “Movie time Imperfect,” tulis keterangan foto di Instagram Mayky. Pada foto itu, Ria dan Mayki terlihat bahagia.

Ria juga sempat merayakan hari anniversary dengan Mayky. Di akun Instagram pribadinya, @riairawan. Pemain film Berbagi Suami ini mengunggah foto kebersamaannya dengan sang suami pada 23 Desember 2019.

Di foto itu, Ria yang mengenakan pakaian serba hitam terlihat tertawa sambil menunjuk ke arah Mayky yang tengah diboceng sepeda bersama patung Presiden Indonesia Joko Widodo.”Happy Anniversary 2019,” tulis keterangan foto yang diunggah Ria.

Ternyata foto unggahan itu merupakan foto terakhir. Sejumlah rekan dan sesama selebritas mengucapkan selamat jalan kepada Ria Irawan yang meninggal dunia Senin (6/1) usai berjuang melawan kanker sejak 2004.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.. Selamat Jalan Mbak Ria Irawan,” kata Maudy Koesnaedi melalui akun Twitter miliknya.

“Innallillahi wainna ilaihi rojiun. RIP mba Ria,” kata aktor Tora Sudiro.

Innallillahi wainna ilaihi rojiun ? RIP mba Ria
— tor_ASU_diro (@t_ORASUDI_ro) January 5, 2020

Innalillahi wa inna ilahi raji’un….
Mbak Ria Irawan ? RIP
— Anggun Official (@Anggun_Cipta) January 6, 2020

Produser Ichwan Persada juga mengungkapkan hal serupa. Ia juga menyebut sempat bekerja sama dengan mendiang berupa dua film pendek yang belum dirilis.

Berdukacita sedalam-dalamnya di subuh ini untuk Mbak Ria Irawan yang telah meninggalkan kita semua hari ini.

Seorang guru, rekan kerja dan teman yang sangat baik.

Saya mengerjakan karya terakhir bersama beliau tahun lalu berupa 2 film pendek yang belum dirilis.

Al Fatihah. pic.twitter.com/O3bAcpVLnM
— Ichwan Persada (@ichwanpersada) January 5, 2020

Musisi Ananda Sukarlan juga mengucapkan selamat jalan kepada nomine Piala Citra tersebut dan menyebut sosok Ria Irawan adalah pejuang yang tangguh.

Selamat jalan kak Ria Irawan. Anda adalah pejuang yg tangguh dan inspiratif. #ripRiaIrawan
— Ananda Sukarlan (@anandasukarlan) January 5, 2020

Ria Irawan adalah putri dari aktor Bambang Irawan yang membintangi film Tiga Dara (1956). Ria Irawan diketahui mengidap penyakit kanker sejak 2004. Ia sempat menjalani pengobatan dan dinyatakan sembuh. Namun, ternyata sel kanker kembali muncul dan disebut menjalar ke paru-paru hingga otak.

NovemberS 2019, mendiang Ria sempat dilarikan ke IGD RSCM karena kondisi fisik yang menurun. Ia kemudian menjalani rawat inap di sana. Selama menjalani pengobatan kanker, mendiang yang lahir di Jakarta pada 24 Juli 1969 kerap membagikan perjuangannya ke media sosial. Selamat Jalan Ria Irawan. (*)

Bunga Bangkai Mekar di Kebun Raya Bogor Jadi Daya Tarik Wisata

this formate

BOGOR, bisniswisata.co.id: Bunga bangkai raksasa setinggi 1,94 meter mekar sempurna di kebun raya Bogor. Bunga langka Jenis Amorphophallus titanum termonitor mekar sampai hari Ahad, dan kemungkinan pada Senin (06/01/2020) sudah gugur kembali. Bunga bangkai ini, membutuhkan waktu hingga empat tahun untuk berbunga kembali.

Wakapolresta Bogor Kota AKBP DR. Muhammad Arsal Sahban, ikut menyaksikan mekarnya bunga bangkai di Kebun Raya Bogor mengatakan kalau momen ini sangat penting, dan mengharapkan bisa menjadi daya tarik wisatawan. Dan wisatawan banyak yag menyerbu menyaksikan bunga bangkai yang jarang ditemui.

“Mekarnya bunga bangkai merupakan momen penting karena akan terjadi lagi sekitar 4 tahun kedepan. Momen ini saya harapkan dapat menarik banyak wisatawan yang datang ke Bogor apalagi saat ini bersamaan dengan hari libur anak sekolah. saya berharap anak-anak bisa berwisata sekaligus mendapatkan edukasi tentang bunga langka yang hanya ada di Indonesia tersebut” Ujar Arsal kepada Bisniswisata.co.id, Ahad (5/1).

Peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) DR Dian Latifah menilai Bunga bangkai yang mekar hari ini adalah jenis Tumbuhan amorphophallus titanum, berbeda dengan rafflesia yang juga dikenal sebagai bunga bangkai.

Rafflesia merupakan tumbuhan parasit dengan pohon inang tetrastigma spp atau anggur hutan, Sedangkan amorphophallus titanum memiliki fase daun dan fase bunga yang tidak bersamaan. Fase daun bisa mencapai satu sampai dua tahun.

Setelah itu umbi akan memasuki masa istirahat atau dorman. Bisa lebih dari satu setengah tahun, kemudian berbunga. tinggi spadiks bisa mencapai tiga meter. Amorphophallus titanum dijuluki juga bunga raksasa” ucap Dian peneliti bunga bangkai di Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya.

Masyarakat banyak mengenal bunga bangkai dengan sebutan Bunga Rafflesia, padahal selain bunga Rafflesia ada jenis lain yaitu salah satunya yang mekar hari ini dari jenis amorphophallus titanum.
Perbedaan Kedua jenis bunga bangkai tersebut yaitu Bunga Rafflesia Patma merupakan tanaman parasit yang butuh pohon inang agar bisa hidup.

Rafflesia patma tanaman parasit dan bukan jenis Amorphophallus. Sementara Amorphophallus atau bunga bangkai adalah tanaman utuh yang bisa mencari makan sendiri tanpa tanaman inang. Ia pun memiliki umbi, batang, dan akar sendiri. Perbedaan lain terletak pada bentuk kedua bunga bangkai itu sendiri.

Rafflesia berupa bunga raksasa yang pendek dan melebar ke samping, sementara Amorphophallus tumbuh menjulang. Rafflesia memiliki tonggol, lubang besar di tengah dan kelopaknya yang indah berwarna merah bata, Sedangkan Amorphophallus mengeluarkan bau busuk yang muncul pada saat bunga mekar.

Bau busuk ini untuk menarik perhatian bagi serangga. Kehadiran serangga ini dapat membantu penyerbukan tumbuhan langka tersebut. Bau bunga bangkai akan tercium mengikuti arah mata angin.

Pihaknya saat ini telah meneliti kandungan umbi bunga bangkai. Pasalnya, umbi dari bunga bangkai tersebut bermanfaat karena kandungan glukomanan yang memiliki kegunaan sebagai zat pengental. “Bahkan jelly kaya serat (dietary fibers) dan suplemen untuk diet kolesterol, gula darah, dan agen kontrol berat badan,” jelasnya.

Dia menyebutkan Amorphophallus Titanum sendiri masuk dalam kategori tumbuhan langka berdasarkan klasifikasi dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan keberadaannya dilindungi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999.

“Berdasarkan penelitian yang dilakukan Poerba dan Yuzammi (2008), kelestariannya memerlukan bantuan manusia dalam bentuk pembibitan massal dan cepat, misalnya kultur jaringan, dan diikuti reintroduksi di alam,” katanya.

Sementara Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan LIPI Kebun Raya Bogor Hendrian menjelaskan kegiatan konservasi dan penelitian yang dilakukan pihaknya berperan penting dalam mengupayakan pembudidayaan bunga bangkai untuk pemanfaatan berkelanjutan dan lestari.

“Konservasi jenis-jenis tumbuhan terancam di Indonesia akan menjadi salah satu fokus utama kegiatan penelitian LIPI di tahun ini. Beberapa kegiatan eksplorasi juga akan dilakukan untuk meningkatkan secara signifikan jumlah jenis tumbuhan terancam yang terkonservasi secara ex-situ di Kebun Raya Indonesia,” terangnya.

Pihaknya mengapresiasi Pemkot Bogor, khususnya Wali Kota Bogor Bima Arya atas dukungan dan kolaborasinya selama ini. “Ini adalah menegaskan sinergi di antara KRB dan Pemkot Bogor, kami sangat senang bisa berkontribusi lebih besar kepada Pemkot misalnya dalam hal jasa lingkungan,” jelasnya.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto berkesempatan melihat momen langka mekarnya Amorphophallus titanum atau Bunga Bangkai di Kebun Raya Bogor, (KRB). Di bawah rintik gerimis, Bima Arya bahkan sempat mendekat ke bunga raksasa yang memiliki tinggi 194 centimeter itu. Ia penasaran dengan aromanya. “Baunya bikin ketagihan,” ucap Bima, berkelakar.

Menurut Bima, tumbuhnya Bunga Bangkai ini merupakan salah satu ‘harta karun’ dari sekian banyak keunikan yang ada di Kebun Raya Bogor. “Momen langka salah satu harta karun di Kebun Raya kita ekspos bersama-sama dengan LIPI dan pengelola Kebun Raya. Ini juga menyimbolkan semangat dari Kebun Raya sebagai pusat konservasi, bukan hanya rekreasi saja,” ujar Bima.

“Ke depan, kita ingin terus di eksplore harta karun’ yang banyak sekali di sini, sesuai arahan Pak Presiden Jokowi agar Kebun Raya Bogor ini bisa dikelola seperti di Singapura. Bahkan, menurut saya Kebun Raya Bogor memiliki nilai histori yang sangat luar biasa dibandingkan dengan kebun raya lain yang ada di dunia. Jadi, saya titip agar KRB dikelola lebih profesional dan seimbangkan antara riset dan wisata,” tambahnya.(end)

Cuaca Tak Mendukung, Wisatawan Dilarang Mendaki 5 Gunung

this formate

MAGETAN, bisniswisata.co.id: Cuaca tak bersahabat mengakibatkan lima gunung ditutup sementara wisatawan pendaki. Penutupan ini memang mengecewakan juga tak mengenakan bagi para pendaki yang ingin naik gunung saat liburan panjang. Namun demi keselamatan para wisatawan pendaki, aturan itu tetap ditegakkan.

Penutupan sejak akhir tahun dan awal tahun 2020 ini, antara lain Gunung Semeru di Malang Jawa Timur, Gunung Prau di Wonosobo Jawa Tengah, dan Gunung Rinjani di Mataram NTB, Gunung Gede Pangrango Bogor Jawa Barat dan Gunung Lawu di Magetan Jawa Timur menambah daftar panjang penutupan pendakian gunung.

Di Magetan, Jalur pendakian Gunung Lawu dari pintu pos pemberangkatan Cemoro Sewu di Kecamatan Plaosan, ditutup sementara karena kondisi cuaca buruk dan badai angin di puncak gunung. Penutupan jalur pendakian dari Pos Cemoro Sewu tersebut dilakukan sejak Jumat, 3 Januari 2020.

“Penutupan jalur tersebut disebabkan karena cuaca buruk yang terjadi di wilayah Gunung Lawu dan puncaknya,” papar Petugas Pos Pendakian Cemoro Sewu,Ilham Budi di Magetan.

Menurut dia, penutupan bertujuan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Penutupan tersebut berlaku hingga batas waktu yang belum ditentukan, menunggu hingga cuaca normal, dilansir dari Antara, Ahad (05/01/2020).

Pihak petugas tidak menampik jika penutupan tersebut membuat para pendaki kecewa. Namun, hal itu dilakukan untuk menghindari dampak bencana yang dapat merugikan dan membahayakan keselamatan para pendaki.

Sementara, beberapa pendaki yang ingin melakukan pendakian di Gunung Lawu terpaksa membatalkan rencananya. Mereka mengaku ada yang menunggu hingga jalur dibuka kembali dalam beberapa hari lagi, tapi ada juga sebagian yang memilih pulang.

Salah satu pendaki asal Jakarta, Misbahul mengaku ia dan teman-temannya sudah sejak Jumat (2/1) hendak mendaki ke puncak Gunung Lawu. Namun, karena masih ditutup petugas, rombongannya batal mendaki dan memutuskan pulang. “Terpaksa batal naik Gunung Lawu karena ditutup akibat cuaca buruk. Ya mau bagaimana lagi, dari pada bahaya,” kata dia.

Pihaknya mengaku tidak tahu jika pendakian Gunung Lawu ditutup sementara. Tahunya setelah ia dan teman-temannya tiba di Pos Cemoro Sewu guna melapor untuk melakukan pendakian.

Memang informasi para sesama pendaki yang telah turun dari Gunung Lawu membenarkan jika terjadi badai angin kencang di puncak Lawu. Karenanya ia dan temannya membatalkan pendakian.

Pihak Perhutani KPH Lawu Ds belum dapat memastikan sampai kapan jalur pendakian Gunung Lawu akan ditutupi. Hal itu sangat tergantung dari kondisi cuaca di gunung setempat. Cuaca buruk juga terjadi di sepanjang jalur Sarangan-Tawangmangu. Angin kencang melanda kawasan setempat di Kecamatan Plaosan hingga membuat sejumlah pohon tumbang.

Beruntung pohon yang tumbang tidak sampai mengganggu arus lalu lintas di jalur yang merupakan penghubung alternatif Provinsi Jatim dengan Jateng tersebut. Pihak petugas meminta pengguna jalan yang melintasi jalur tersebut untuk berhati-hati.

Gunung Gede Pangrango

Penutupan juga dilakukan bagi wisata pendakian di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) ditutup selama tiga bulan sejak 31 Desember 2019 hingga 31 Maret 2020. Penutupan ini dalam rangka pemulihan ekosistem, kegiatan operasi bersih, dan mengantisipasi cuaca ekstrem.

Para wisatawan pendaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango diharapkan dapat mematuhi peraturan ini. “Ditutup semua untuk jalur pendakian, tidak boleh ada yang mendaki sampai akhir Maret 2020,” kata Operator Halo Gede Pangrango, Ade ketika dilansir laman Kompas, Ahad (05/01/2020).

Ditutupnya Gunung Gede dan Pangrango, ia menyarankan alternatif kunjungan wisata lainnya di sekitaran area TNGGP. “Alternatifnya hanya kunjungan rekreasi air terjun saja. Hanya satu atau dua jam kunjungan, dan itu tergantung cuaca juga,” lanjutnya.

Dalam rilis, juga dikatakan, bagi calon pendaki yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut dapat menghubungi bagian pelayanan pendakian Balai Besar TNGGP di antaranya telepon kantor khusus pendakian (0263) 519415, Fanspage Facebook @bookingtnggp, Instagram @tn_pendakiangedepangrango, email booking@gedepangrango.org, dan WhatsApp di nomor 0263 519415 (hanya pesan teks saja).


Gunung Rinjani

Banjir sempat terjadi di Pos 3 jalur Sembalun pendakian Gunung Rinjani, NTB, Rabu (1/1/2020). Intensitas hujan yang tinggi menjadi penyebab banjir. Hal ini yang juga jadi salah satu alasan kegiatan wisata pendakian gunung ditutup sejak 1 Januari 2020 hingga 31 Maret 2020.

Menurut Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, Dedy Asriady, banjir sudah tidak terjadi lagi. Namun, penutupan untuk kegiatan wisata tetap berjalan. “Kemarin curah hujan sangat tinggi, jadinya banjir di Pos 3. Sekarang sudah aman dari banjir, namun tetap ditutup sampai akhir Maret 2020,” kata Dedy dikutip laman Kompas, Ahad (5/1).

Dedy juga mengatakan penutupan Gunung Rinjani dikarenakan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) tengah melakukan pemulihan ekosistem dan informasi prakiraan cuaca ekstim dari BMKG Stasiun Klimatologi Klas 1 Lombok Barat.

TNGR akan membuka kembali jika situasi dan kondisi tertentu di jalur pendakian berubah. “Jika terdapat perubahan situasi dan kondisi tertentu di jalur pendakian sampai dengan waktu penutupan berakhir, maka pembukaan jalur akan diinformasikan setelah dilakukan peninjauan atau survei kondisi jalur pendakian dengan mitra terkait,” lanjutnya.

Penutupan kegiatan wisata pendakian Gunung Rinjani, juga dilakukan demi keselamatan pengunjung. Hal ini tak lepas dari kondisi musim hujan saat ini di Indonesia. Tak menutup kemungkinan potensi curah hujan tinggi dan ekstrim, seehingga membahayakan pengunjung atau pendaki. “Maka dibuat rapat evaluasi pada 26 Desember 2019 dan diputuskan untuk ditutup, diberitahukan kepada seluruh pelaku wisata dan masyarakat,” tambah Dedy.

Gunung Prau
Gunung Prau yang berlokasi di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Wonosobo akan ditutup mulai 6 Januari 2020 sampai 3 April 2020. “Pendakian masih diperbolehkan terakhir Sabtu (4/1/2020). Pada jam 00.00 WIB ta nggal 6 Januari, sudah steril tidak ada pendaki di Gunung Prau,” kata Ahmad.

Penutupan jalur pendakian berlaku untuk semua jalur yang ada di Gunung Prau. Penutupan dilakukan dengan mempertimbangkan lima alasan, di antaranya faktor cuaca, pemulihan ekosistem, perbaikan jalur, reboisasi atau penghijauan perawatan, dan pembersihan dari sampah.

“Faktor cuaca itu pada bulan-bulan penutupan kondisi cuaca tidak terlalu ideal untuk kegiatan pendakian. Kedua, pemulihan ekosistem baik flora dan fauna. Ketiga, perbaikan jalur itu setiap tahunnya rutin dilaksanakan, perbaikan jalur guna keselamatan dan keamanan pendaki,” lanjutnya.

Pertimbangan keempat adalah perihal reboisasi atau penghijauan serta perawatan bibit pohon endemik Gunung Prau yang ditanam rutin setiap tahun. Kelima, pembersihan dari sisa-sisa sampah yang ditinggalkan pendaki. “Masih banyak pendaki yang meninggalkan sisa sampah di Gunung Prau. Hal ini yang nantinya akan dilakukan pembersihan oleh seluruh tim basecamp di masing-masing jalur,” ucapnya.

Gunung Semeru
Pasca kebakaran hutan pada September 2019 sampai saat ini, Pengelola Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) mengungkap akses pendakian Gunung Semeru masih belum memungkinkan dilalui oleh pendaki.

Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas TNBTS, Sarif Hidayat memastikan, akses menuju puncak tertinggi Jawa itu belum bisa dibuka meski menjadi jujukan pendakian saat libur akhir tahun.

“Pasca kemarau, kemudian kebakaran kita masih belum bisa pastikan jalur atau permukaan tanah stabil dari longsoran pohon tumbang, batu jatuh dari tebing dan lain-lain. Ikatan tanah setelah kemarau terus kebakaran rawan longsor dan batu runtuh dari tebingan yang berpotensi mengancam keselamatan pengunjung pendakian,” katanya melalui pesan Whatsapp.

Tiga tahun terakhir, baru kini Semeru tutup saat libur akhir tahun dan tahun baru. “Seingat saya, tiga tahun saya di BTS (Bromo Tengger Semeru) baru kali ini tahun baru closed,” katanya sambil menambhakan kini hujan masih sering mengguyur gunung setinggi 3.676 meter dari permukaan laut itu.“Hujan masih berlangsung. Cuma secara klasifikasi jenis intensitasnya saya kurang begitu paham,” katanya. (*)

Dewa Budjana Kepincut Sejarah Dharmasraya

this formate

PULAU PUNJUNG, bisniswisata.co.id: Gitaris grup band Gigi, Dewa Budjana, terpincut dengan sejarah Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat (Sumbar). Karena selain namanya yang unik dan menarik, Dharmasraya juga memiliki kekayaan dan sejarah panjang sebagai pusat pemerintahan kerajaan Melayu.

“Saya sering ke Sumatera Barat, khususnya Padang dan beberapa daerah lainnya, cuma ke Dharmasraya baru kali ini, pas pertama mendengar nama Dharmasraya aja sudah unik, eh ternyata pernah menjadi pusat kerajaan, inikan sesuatu yang sangat istimewa,” papar pria kelahiran Kota Waikabubak Sumba Barat, 30 Agustus 1963 di Pulau Punjung ibukota Dharmasraya, Ahad (5/1).

Menurut penulis buku “Gitarku,hidupku,Kekasihku”, Dharmasraya memiliki perbedaan tersendiri dari daerah yang ada di Sumbar, seperti halnya keberadaan situs-situs sejarah yang ada di daerah itu. Ada dua candi di Dharmasraya yaitu candi Padang Roco yang merupakan bangunan peninggalan kerajaan melayu, yang dulunya berfungsi sebagai tempat ibadah para raja. Kini bangunan ini pun menjadi saksi bisu atas kejayaan kerajaan melayu di masa lampau.

Juga ada Candi Pulau Sawah yang merupakan peninggalan dari kerajaan Swarnabhumi. Berada selama tiga hari di Dharmasraya, selain menghibur juga penasaran untuk melihat situs-situs sejarah di Dharmasraya secara langsung, lalu berdiskusi bersama penggiat budaya, lontar bapak tiga anak I Dewa Gede Mahavishnu, Devananda dan I Dewa Shakti Dawai Nanda.

Seperti dilansir Antara, Ahad (5/1/2020), Dewa Budjana bersama Komposer Purwacaraka, dan Vokalis Tri Utami, dijadwalkan akan menampilkan suguhan Sound Of Borobudur saat malam puncak HUT Kabupaten Dharmasraya ke-16 atau Festival Pamalayu, di Komplek Candi Pandang Roco pada Senin (6/1) malam.

Dipilihnya Sound Of Borobudur sebagai pengisi acara puncak Festival Pamalayu dalam rangka memperingati HUT Kabupaten Dharmasraya kerena ada kesamaan semangat dalam menggali sejarah kebudayaan. Semangat Sound Of Borobudur dalam menggali sejarah juga sejalan dengan rangkaian Festival Pamalayu yang sudah digelar sejak Agustus 2019. (*)

Liburan mengesankan, bergaya Ala Suku Abui di Desa Takpala, Kab. Alor, NTT

this formate

JAKARTA, bisniswisata. co.id: Banyak cara untuk menikmati liburan yang masih bisa dinikmati di awal tahun dengan cara yang paling mengesankan dengan bergaya Ala Suku Abui dan mengenakan baju adat setempat di desa wisata Takpala Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor, NTT.

Perjalanan menuju desa wisata yang merupakan desa adat ini cukup ditempuh sekitar  30 menit lamanya dari pusat kota Kalabahi, ibukota Kabupaten Alor hingga ke Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara.

Selama perjalanan, pemandangan pesisir pantai yang lautnya sangat biru menyapa dari luar jendela kendaraan. Nuansa petualangan makin terasa selama perjalanan karena setelah melewati pantai, kendaraan akan perlu sedikit menanjak kaki gunung menuju Desa Lembur Barat.

 Desa Takpala merupakan sebuah kampung tradisional di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Lokasi kampung yang berada di atas bukit ini dihuni sekitar 13 kepala keluarga Suku Abui. 

Wisatawan juga bisa menggunakan atau menyewa pakaian adat lengkap dengan aksesoris kepala dan gelang kaki. Hal itu menjadi daya tarik sendiri, yang menarik wisatawan untuk berfoto dengan latar yang sangat natural termasuk rumah-rumah Lopo yang terbuat dari bambu dan alang-alang yang berbentuk piramida.

Walaupun rumah berlantai empat tersebut hanya dibuat dari jalinan bambu, tapi bisa menampung hingga 13 kepala keluarga yang didalamnya juga sudah termasuk dapur, tempat tidur dan tempat bertamu.

Tamu diberi kesempatan untuk mengenakan pakaian adat Suku Abui, merasakan kehidupan suku pegunungan yang sesungguhnya. Kostum pria atributnya dilengkapi oleh panah yang fungsinya biasa dipakai untuk berperang ataupun berburu. 

Sementara wanita mengenakan atribut berupa balutan tenun Alor yang terlihat premium dan gelang kaki yang menyuarakan gemerincing di tiap hentakkan. Serunya proses pemotreran karena interaksi yang menyenangjan dari pihak tuan rumah dengan tamu-tamunya.

Pemandu dan tokoh adat bahkan  menjelaskan bagaimana caranya memperagakan seorang pria Suku Abui menggunakan panah dalam kesehariannya. Singkat cerita, para laki-laki diajarkan cara berpose dengan gaya memanah dan wanita memakai tenun dan aksesorisnya termasuk topi unik yang terbuat dari bulu ayam.

Masyarakat Suku Abui sangat ramah dan bersahaja terhadap wisatawan, tak heran jika banyak wisatawan yang selalu ingin kembali ke kampung tradisional tertua ini. Itu sebabnya saat ini Takpala telah menjadi aset wisata yang dianggap sebagai cagar budaya serta dilindungi dalam peraturan daerah Kabupaten Alor.

Jika ingin kedatangan disambut dengan tarian khas suku ini bisa memesan tarian Lego-lego dimana para penari mengenakan pakaian tradisional yang ditenun dengan tangan. Sedangkan pada bagian kepala penari pria menggunakan penutup kepala yang dibentuk dari kain, dan rambut penari wanita dibiarkan terurai.

Untuk sewa pakaian, masyarakat di sana belum memberlakukan tarif yang baku. “Seikhlasnya saja. Tapi biasanya ada yang ngasih sebesar Rp50 ribu bahkan lebih,” kata Sonny yang bekerja di Dinas Pariwisata Kabupaten Alor.

Dugong

Selain mendapatkan foto-foto unik bergaya Ala Suku Abui, kunjungan ke Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini tidak semata kaya dengan wisata budaya dan wisata bahari saja. Namun, di Kabupaten ini wisatawan juga bisa menikmati keindahan lautnya dan syukur-syukur bisa jumpa dengan Dugong.

Dugong bukan nama orang atau wilayah, tapi mamalia dugong ini sejenis duyung yang dilindungi oleh pemerintah dan merupakan salah satu spesies dari 20 spesies prioritas yang menjadi target penting Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

Perlindungan dugong karena secara sengaja atau tidak sengaja bisa terjerat alat tangkap perikanan (bycatch), perburuan masif untuk pemanfaatan daging, taring, serta air mata dugong yang disinyalir memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi

Mamalia ini dilindungi oleh Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya. Selain itu, ada juga Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

Selain Dugong memiliki ancaman kehidupan yang tinggi. Secara alami dugong memiliki reproduksi yang lambat. Dibutuhkan waktu 10 tahun untuk menjadi dewasa dan 14 bulan untuk melahirkan satu individu baru pada interval 2,5-5 tahun.

Nah tak rugikan datang ke Kabupaten Alor dengan semua keunikan di bawah lautnya, pantai maupun keunikan budayanya. Tak punya peluang berlibur sekarang, rencanakanlah perjalanan pada liburan berikutnya dan bersiap menari Lego-lego, imbau Sonny.