Home DESA WISATA Liburan mengesankan, bergaya Ala Suku Abui di Desa Takpala, Kab. Alor, NTT

Liburan mengesankan, bergaya Ala Suku Abui di Desa Takpala, Kab. Alor, NTT

0
61

JAKARTA, bisniswisata. co.id: Banyak cara untuk menikmati liburan yang masih bisa dinikmati di awal tahun dengan cara yang paling mengesankan dengan bergaya Ala Suku Abui dan mengenakan baju adat setempat di desa wisata Takpala Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor, NTT.

Perjalanan menuju desa wisata yang merupakan desa adat ini cukup ditempuh sekitar  30 menit lamanya dari pusat kota Kalabahi, ibukota Kabupaten Alor hingga ke Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara.

Selama perjalanan, pemandangan pesisir pantai yang lautnya sangat biru menyapa dari luar jendela kendaraan. Nuansa petualangan makin terasa selama perjalanan karena setelah melewati pantai, kendaraan akan perlu sedikit menanjak kaki gunung menuju Desa Lembur Barat.

 Desa Takpala merupakan sebuah kampung tradisional di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Lokasi kampung yang berada di atas bukit ini dihuni sekitar 13 kepala keluarga Suku Abui. 

Wisatawan juga bisa menggunakan atau menyewa pakaian adat lengkap dengan aksesoris kepala dan gelang kaki. Hal itu menjadi daya tarik sendiri, yang menarik wisatawan untuk berfoto dengan latar yang sangat natural termasuk rumah-rumah Lopo yang terbuat dari bambu dan alang-alang yang berbentuk piramida.

Walaupun rumah berlantai empat tersebut hanya dibuat dari jalinan bambu, tapi bisa menampung hingga 13 kepala keluarga yang didalamnya juga sudah termasuk dapur, tempat tidur dan tempat bertamu.

Tamu diberi kesempatan untuk mengenakan pakaian adat Suku Abui, merasakan kehidupan suku pegunungan yang sesungguhnya. Kostum pria atributnya dilengkapi oleh panah yang fungsinya biasa dipakai untuk berperang ataupun berburu. 

Sementara wanita mengenakan atribut berupa balutan tenun Alor yang terlihat premium dan gelang kaki yang menyuarakan gemerincing di tiap hentakkan. Serunya proses pemotreran karena interaksi yang menyenangjan dari pihak tuan rumah dengan tamu-tamunya.

Pemandu dan tokoh adat bahkan  menjelaskan bagaimana caranya memperagakan seorang pria Suku Abui menggunakan panah dalam kesehariannya. Singkat cerita, para laki-laki diajarkan cara berpose dengan gaya memanah dan wanita memakai tenun dan aksesorisnya termasuk topi unik yang terbuat dari bulu ayam.

Masyarakat Suku Abui sangat ramah dan bersahaja terhadap wisatawan, tak heran jika banyak wisatawan yang selalu ingin kembali ke kampung tradisional tertua ini. Itu sebabnya saat ini Takpala telah menjadi aset wisata yang dianggap sebagai cagar budaya serta dilindungi dalam peraturan daerah Kabupaten Alor.

Jika ingin kedatangan disambut dengan tarian khas suku ini bisa memesan tarian Lego-lego dimana para penari mengenakan pakaian tradisional yang ditenun dengan tangan. Sedangkan pada bagian kepala penari pria menggunakan penutup kepala yang dibentuk dari kain, dan rambut penari wanita dibiarkan terurai.

Untuk sewa pakaian, masyarakat di sana belum memberlakukan tarif yang baku. “Seikhlasnya saja. Tapi biasanya ada yang ngasih sebesar Rp50 ribu bahkan lebih,” kata Sonny yang bekerja di Dinas Pariwisata Kabupaten Alor.

Dugong

Selain mendapatkan foto-foto unik bergaya Ala Suku Abui, kunjungan ke Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini tidak semata kaya dengan wisata budaya dan wisata bahari saja. Namun, di Kabupaten ini wisatawan juga bisa menikmati keindahan lautnya dan syukur-syukur bisa jumpa dengan Dugong.

Dugong bukan nama orang atau wilayah, tapi mamalia dugong ini sejenis duyung yang dilindungi oleh pemerintah dan merupakan salah satu spesies dari 20 spesies prioritas yang menjadi target penting Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

Perlindungan dugong karena secara sengaja atau tidak sengaja bisa terjerat alat tangkap perikanan (bycatch), perburuan masif untuk pemanfaatan daging, taring, serta air mata dugong yang disinyalir memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi

Mamalia ini dilindungi oleh Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya. Selain itu, ada juga Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

Selain Dugong memiliki ancaman kehidupan yang tinggi. Secara alami dugong memiliki reproduksi yang lambat. Dibutuhkan waktu 10 tahun untuk menjadi dewasa dan 14 bulan untuk melahirkan satu individu baru pada interval 2,5-5 tahun.

Nah tak rugikan datang ke Kabupaten Alor dengan semua keunikan di bawah lautnya, pantai maupun keunikan budayanya. Tak punya peluang berlibur sekarang, rencanakanlah perjalanan pada liburan berikutnya dan bersiap menari Lego-lego, imbau Sonny.

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.