Tips Agar Wisata di Museum Lebih Menyenangkan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Museum masih menjadi salah satu objek wisata yang populer bagi sebagian besar turis. Wisata di museum tak melulu berkesan tua atau membosankan, karena semakin banyak pameran interaktif yang digelar di sana.

Pameran Van Gogh di L’Atelier des Lumières, Paris, Prancis, salah satunya. Di dalam pameran ini, pengunjung bisa merasakan suasana saat berada di dalam lukisan sang maestro.

Agar wisata di museum semakin menyenangkan, berikut sejumlah tips seperti dilansir laman CNN Travel, Selasa (07/01/2020) antara lain:

Jauh hari

Sama seperti memesan tiket pesawat atau hotel, wisata di museum juga perlu direncanakan sejak jauh hari, apalagi jika museum memberlakukan tiket masuk. Lebih baik membeli tiket secara online daripada membelinya saat datang demi menghindari antrean. Pembelian tiket secara online juga memiliki kemungkinan besar untuk mendapatkan diskon atau penawaran menarik lainnya.

Hari diskon

Berbicara mengenai diskon, museum-museum di Eropa atau Amerika biasanya memiliki hari dengan potongan harga tiket masuk. Namun di hari-hari ini biasanya pengunjung bakal ramai atau hanya bisa masuk menjelang tutup. Kalau dana terbatas, membeli tiket di hari diskon bisa menjadi pertimbangan.

Waktu sibuk

Akhir pekan dan hari libur nasional merupakan waktu tersibuk di museum. Demikian juga saat musim panas. Agar lebih nyaman berkunjung ke museum, sebaiknya datang saat museum baru buka atau setelah jam 15.00.

Isi perut

Walau berada di dalam ruangan, wisata di museum juga terbilang melelahkan, apalagi jika datang dengan perut kosong. Sebaiknya isi perut terlebih dahulu sebelum datang, sehingga pikiran bakal lebih fokus saat keliling museum.

Durasi

Museum-museum seperti Louve atau MoMA berukuran sangat besar. Jangan terlalu ngoyo untuk keliling ke seluruh sudut museum dalam satu hari, karena badan dan pikiran bakal sangat lelah. Buatlah batasan berkunjung ke museum, misalnya satu museum per hari dengan durasi maksimal dua jam.

Riset

Sebaiknya mencari informasi mengenai benda seni yang dipajang di museum yang bakal didatangi, sehingga kedatangan tidak sia-sia. Perlu diketahui kalau buku panduan museum biasanya dijual, sementara tur audio biasanya membingungkan. Unduh informasi mengenai museum dari internet dan simpan secara offline di telepon genggam.

Lupakan media sosial

Banyak yang merasa bahwa berkunjung ke museum dapat menenangkan pikiran. Bisa jadi demikian, jika di dalam museum kita tak sibuk selfie atau mengecek medsos. Ada banyak kegiatan seru selain membuka Instagram di museum, seperti latihan membuat sketsa benda seni yang dipajang atau menyibukkan diri dengan ikut tur berpemandu.

Beli suvenir

Jika selfie di dalam museum bukan pilihan Anda, bisa juga membeli suvenir yang dijual di dalam museum sebagai kenang-kenangan. Pastikan suvenir yang dibeli memang khas museum dan tidak dijual di tempat lain sehingga nilai kenangannya semakin berharga. (*)

Gempa Dahsyat Hancurkan Situs Wisata Puerto Riko

this formate

GUAYANILLA, bisniswisata.co.id: DESTINASI wisata populer berupa formasi batuan di Puerto Riko hancur atau runtuh setelah gempa dahsyat mengguncang pulau itu, merusak rumah-rumah dan menyebabkan pemadaman listrik. Lengkungan batu, yang dikenal sebagai Punta Ventana, hancur, Senin (6/1) waktu setempat, ketika gempa kuat melanda.

Gempa bermaknitudo 5,8 melanda pada kedalaman 6 km (3,7 mil), di lepas pantai selatan pulau Karibia. Tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan dan tidak ada korban yang dilaporkan.

Namun, ada laporan kerusakan parah pada bangunan, tanah longsor, dan pemadaman listrik yang meluas setelah gempa bumi, yang melanda pada pukul 06:32 waktu setempat.

Gambar-gambar yang beredar di media sosial setelah lindu memperlihatkan rumah-rumah yang terangkat dari fondasinya dan mobil-mobil yang hancur di bawah bangunan. Di antara pemandangan tragis terdapat gambar Punta Ventana setelah ambruk ke laut, dekat kota selatan Guayanilla.

Seorang penduduk setempat mengatakan kepada Miami Herald, yang dilansir BBC, Selasa (7/1/2020) bahwa Punta Ventana adalah salah satu daya tarik wisata terbesar Guayanilla. “Punta Ventana telah runtuh. Hari ini ikon kita berada dalam ingatan semua orang,” ujar Glidden Lopez, seorang pejabat pers untuk dewan Guayanilla, dalam sebuah unggahan di Facebook.

Dalam unggahan sebelumnya, Lopez mengatakan formasi batuan itu telah rusak oleh getaran sebelumnya dalam beberapa hari terakhir.

Wali Kota Guayanilla, Nelson Torres Yordan, membenarkan Punta Ventana hancur. Puerto Riko, wilayah Amerika Serikat yang berpenduduk sekitar 3,2 juta jiwa, telah diguncang serangkaian gempa sejak 28 Desember. Gempa pada Senin (6/1) adalah yang terkuat, kata US Geological Survey.

Beberapa gempa susulan, termasuk gempa bermaknitudo 5.1 lebih dari empat jam kemudian, mengguncang bagian-bagian pulau itu. Puerto Riko, yang terletak di antara lempeng tektonik Amerika Utara dan Karibia, rentan terhadap gempa, yang telah menyebabkan kerusakan signifikan di masa lalu.

Pulau ini masih belum pulih dari Badai Maria, badai Kategori 5 yang menghancurkan sebagian Karibia pada September 2017. Di Puerto Riko saja, badai diperkirakan telah menewaskan 2.975 orang dan menyebabkan kerusakan senilai US$100 miliar atau Rp1.390 triliun. (*)

Gelombang Ekstrem, Wisatawan Dilarang Nyeberang ke Karimunjawa

this formate

JEPARA, bisniswisata.co.id: GELOMBANG tinggi menyerang Laut Utara Jawa Tengah. Gelombang ekstrem setinggi 2 meter mengekibatkan seluruh penyeberangan ke Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, dihentikan termasuk wisatawan yang ingin berwisata di Karimunjawa. Dan pariwisata Karimunjawa ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Selasa (7/1), seluruh pelayaran menuju Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, baik dari Pelabuhan Kartini (Jepara), Tanjung Emas (Semarang) maupun Kendal masih terhenti. Warga Karimunjawa pun terisolasi, selain tak bisa keluar masuk, suplai sembako dan bahan bakar minyak ke wilayah tersebut pun terhenti.

Ribuan warga Karimunjawa pasrah dengan kondisi ini. Untuk kelangsungan hidup, mereka mengandalkan simpanan bahan makanan yang tersisa di rumah dan beberapa kios serta pembagian bahan pokok dari gudang di kecamatan. Keberlangsungan gelombang tinggi ini belum bisa diprediksi.

Warga Karimunjawa yang mengandalkan nafkah sebagai nelayan dan usaha kepariwisataan juga tidak dapat bekerja, karena tidak berani melaut dalam situasi gelombang yang sedang mengamuk seperti sekarang ini. Sebanyak 600 wisatawan juga telah dievakuasi menggunakan Kapal Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni).

“Pelayaran dihentikan sampai waktu yang belum ditentukan karena gelombang tinggi terutama di Selat Karimunjawa masih mencapai 2,25 meter dan membahayakan kapal serta penumpangnya,” kata Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Jepara Tri Jotho Sukristiyono seperti diunduh laman MediaIndonesia, Selasa (7/1).

Akhir pekan lalu, lanjut Tri Jotho, 600 wisatawan terpaksa dievakuasi dari Kepulauan Karimunjawa karena dikhawatirkan akan terjebak lebih lama lagi. “Hanya kapal besar milik Pelni yang mampu menembus gelombang itu untuk dapat mengevakuasi wisatawan,” imbuhnya.

Camat Karimunjawa Saptwagus Karnan Ejeng mengatakan akibat gelombang tinggi, kegiatan warga di wilayahnya lumpuh, karena mata pencaharian warga pada umumnya sebagai nelayan dan mengandalkan kepariwisataan seperti penyewaan kamar, rumah makan, transpotasi dan membuat/menjual kerajinan terhenti.

Pengiriman sembako dan BBM ke Karimunjawa, lanjut Saptwagus Karnan, juga terhenti, meskipun untuk memenuhi kebutuhan hidup itu warga hanya mengandalkan dari Pulau Jawa.

“Di sini tidak ada pertanian, sehingga sembako dan sayuran dikirim dari daerah di Pulau Jawa,” ungkapnya melalui sambungan telepon.

Stok bahan makanan masih tersedia hingga sebulan ke depan, tetapi stok BBM di SPBU sudah kosong dan hanya mengandalkan dari pedagang eceran serta tetap berharap gelombang tinggi segera mereda dan kehidupan di kepulauan ini dapat kembali normal. “BBM terakhir dikirimin pekan ketiga Desember lalu,” imbuhnya.

Unit Manager Communication Relation CSR MOR IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta Anna Yudhiastuti mengatakan segera mengirim bahan bakar ke Karimunjawa, setelah gelombang laut tidak lagi tinggi sebanyak 150 kiloliter (Kl) terdiri dari 100 kiloliter solar dan 50 kiloliter pertalite.

“Laporan terakhir masih tersedia stok di SPBU Karimunjawa, namun begitu gelombang mereda maka segera dilakukan pengiriman,” tutur Anna.(*)

PWI Peduli Berikan Perhatian dan  Donasi Bagi Keluarga Seketariat Organisasinya.

this formate

Ketum PWI, Atal Depari ( kedua kiri) di dampingi Ketua PWI Peduli M Nasir memberikan bantuan pada staf Sekretariat yang berdampak banjir

JAKARTA, bisniswisata.co.id: PWI Peduli Pusat memberikan donasi kepada rekan-rekan Sekretariat PWI yang terdampak banjir di sekitar Jabodetabek awal Januari 2020.

Donasi diberikan secara simbolis oleh Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Atal S Depari didampingi Ketua PWI Peduli M Nasir, kemarin.

Hadir pula Ketua Bidang Distribusi  PWI Peduli Karim Paputungan di Kantor PWI Pusat, Jalan Kebon Sirih, Jakarta. Atal S Depari mengatakan, donasi ini berasal dari sesama keluarga, apalagi PWI Peduli memang keberadaannya untuk saling membantu.

“Walaupun bantuan sekedarnya semoga dapat memberikan semangat baru setelah mengalami kebanjiran.Semoga tahun depan kita bebas dari banjir,” katanya. Teman-teman sekretariat PWI  walaupun masih bebenah pasca banjir, namun tetap masuk kantor sebagaimana biasa.

Mereka berterima kasih atas donasi yang  merupakan wujud kepedulian dan perhatian. Rekan-rekan yang terdampak banjir mengaku kerepotan dalam beraktivitas, namun lebih repot lagi berbenah rumah pasca kebanjiran. Donasi yang diberikan itu berupa uang yang  dihimpun dari pengurus dan keluarga wartawan.

Ketua PWI Peduli M Nasir menjelaskan, PWI Peduli merupakan jaringan pers berbagi, bukan hanya membantu wartawan yang terkena dampak bencana, namun juga masyarakat luas yang membutuhkan. PWI Peduli mengemban misi kemanusiaan dan sosial, tegasnya.

Komunitas Bikers Bandung Diajak Ikut Tangani Sampah

this formate

BANDUNG, bisniswisata.co.id: Aktifitas Komunitas bikers atau pengendara motor Bandung bukan hanya hura-hura, kebut-kebutan di jalanan, bahkan menganggu ketertiban umum. Namun kini dilibatkan ikut menjaga kebersihan lingkungan Kota Paris Van Java melalui program Kurangi Pisahkan dan Manfaatkan sampah (Kang Pisman), yang kini digencarkan Wali Kota Bandung Oded M Danial.

Program bersih ini diharapkan kunjungan wisatawan ke Bandung semakin meningkat dan wisatawan asing mengajak wisatawan lainnya ke Bandung yang kini semakin bersih, asri dan banyak destinasi yang menghibur.

Salah seorang bikers, Wawan Setiawan menyatakan siap mendukung Bandung bebas sampah sekaligus akan merangkul komunitas bikers lainnya untuk mendukung program Kang Pisman. “Insyaallah kita akan terapkan Kang Pisman di lingkungan kami. Kita juga akan laksanakan di berbagai kegiatan sosial lainnya,” tutur Wawan.

Wawan menilai program ini sangat bagus bahkan banyak manfaatnya karena menjadi Bandung semakin bersih dan semakin enak dipandang. Hal ini juga akan membuat wisatawan semakin betah di Kota Bandung. “Saya berharap komunitas lainnya, juga masyarakat Bandung ikut mendukung Program Bandung Bersih,” harapnya.

Kordinator Komunitas Bikers Subuhan, Ustaz Evie Efendie saat memberikan kajian Subuh mengajak kepada para bikers untuk mendukung dan berpartisipasi melaksanakan program Pemkot Bandung.

“Kang Pisman ‘ngarana ge alus’ (namanya juga bagus). Kurangi, pisahkan dan manfaat, kalau saya kurangi dosa, pisahkan sikap maupun perbuatan yang positif dan negatif dan terakhir manfaat hidup sebaik mungkin,” jelasnya.

Sebagai makhluk Allah, sambung dia, manusia harus memiliki sifat sosial yang bisa saling membantu satu sama lain. Seperti halnya kali ini, bikers membantu program pemerintah dalam memasifkan Kang Pisman.

Wali Kota Bandung Oded M. Danial mengenalkan program Kurangi Pisahkan dan Manfaatkan sampah (Kang Pisman) kepada para bikers saat Salat Subuh berjemaah. Di hadapan lebih dari 300 bikers, Oded berharap, Kang Pisman diterapkan di kehidupan sehari-hari.

“Kang Pisman ini bertujuan untuk mengelola sampah dari sumbernya untuk dimanfaatkan. Sampah organik agar bisa menjadi pupuk. Sedangkan anorganik bisa bernilai ekonomi,” tutur Mang Oded, panggilan akrabnya melalui siaran persnya, Selasa (7/1/2020).

Dijelaskan, Program Kang Pisman kepada bikers saat salat Subuh berjamaah. Di hadapan lebih dari 300 bikers, Oded berharap, Kang Pisman diterapkan di kehidupan sehari-hari. “Kang Pisman ini bertujuan untuk mengelola sampah dari sumbernya untuk dimanfaatkan. Sampah organik agar bisa menjadi pupuk. Sedangkan anorganik bisa bernilai ekonomi,” kata Oded.

Menurut dia, plastik merupakan salah satu sampah terbanyak. Oleh karenanya, Oded mengimbau para biker meminimalisir penggunaan plastik. Salah satunya dengan selalu membawa dan menggunakan tumbler (tempat minum). “Dibiasakan membawa tumbler. Ini sebagai gerakan mengurangi sampah. Kalau bisa para bikers buat tumbler biar seragam, kan keren,” ajak Wali Kota.

Sebelum salat Subuh berjamaah dan menyimak tausyiah Mang Oded, para bikers mengawali dengan salat qiamulail berjamaah dengan imam Syeikh Thyazen Alhakimi. Selepas salat Subuh berjamaah dan kajian, para bikers sarapan bersama dengan Mang Oded dan ustaz Evie Efendie.

Selepas sarapan, Mang Oded bersama para bikers bertauhid melakukan rolling atau keliling Kota Bandung. Mang Oded bersama bikers lainnya berkeliling Alun-alun, Jalan Asia-Afrika, dan Jalan Otista. Saat rolling, Mang Oded mengendarai Vespa. Tak hanya sendiri, Mang Oded ditemani oleh anak-anak dan menantunya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Indonesia Tak Serius Hadapi Pergeseran Paradigma Pariwisata Dunia

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pariwisata Dunia sejak tahun 2010 terus mengalami pergeseran hingga sekarang ini. Dari Mass atau Quantity Tourism seperti Sun-Sand-See ke Responsible Tourism yakni Serenity-Spirituality-Sustainability yang berfokus pada Quality Tourism atau sering disebut Intangible Tourism.

Titik pergeseran antara Quantity Tourism – Quality Tourism adalah Creative Tourism berupa Shopping- Safety-Security. Dan Pariwisata Dunia telah melaluinya dengan baik, malah sudah berada pada Responsible Tourism. Mereka menyebutnya Sustainable Tourism.

“Sayangnya, Indonesia belum serius dan masih setengah hati menghadapi pergeseran itu, ya dikarenakan ketidak pahaman tentang pergeseran Paradigma Pariwisata Dunia,” papar Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Prof. Azril Azahari kepada Bisniswisata.co,id di Jakarta, Selasa (07/01/2020).

Apalagi, lanjut Azril, kalau berada pada Quality Tourism atau sering disebut Responsible Tourism, Indonesia juga masih belum serius menerapkannya. “Hal ini terlihat dengan wisata Shopping, Safety, Security, Healthy, Hygiene ternyata belum menjadi fokus untuk diperbaiki,” lontarnya serius.

Diakui, Indonesia masih disibukkan dengan 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata Danau Toba (Sumatera Utara), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu, Kota Tua (DKI Jakarta), Borobudur (Jawa Tengah), Bromo-Tengger–Semeru (Jawa Timur), Mandalika (NTB), Labuan Bajo (NTT), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan Morotai (Maluku).

Juga 5 DSP (Destinasi Super Prioritas) yakni Danau Toba, Joglosemar (Jogyakarta, Borobudur, Semarang), Mandalika NTB dan Labuan Bajo yakni wisata Komodo NTT serta Likupang, Sulawesi Utara. “Menurut pendant saya sudah saatnya harus mengevaluasi kembali keberadaan 10 KEK dan 5 DSP yang sekonyong-konyong bahkan tanpa ada kajian yang mendalam menjadi sesuatu yang luar biasa,” ungkapnya.

Prof. Azril Azahari melanjutkan tahun 2020, pariwisata Indonesia menghadapi tantangan juga peluang. Dan peluang yang sangat besar untuk mengembangkan Small-Size Entreprises in Tourism yakni UMKM Pariwisata diangkat ke permukaan, karena selama ini mereka telah bahkan dengan sengaja dimarginalkan.

“Jadi tahun 2020, Dampak Pariwisata harus mampu meningkatkan kualitas hidup, termasuk pendapatan masyarakat sekitar destinasi yang diprioritaskan. Ya angkat dong UMKM Pariwisata agar bisa meraup pendapatan,” ucapnya.

Kedua, lanjut dia, program peningkatan Wisnus (antar provinsi/antar kabupaten/kota/desa) harus menjadi program utama tahun 2020, karena melalui mereka inilah akan tersebar secara positif destinasi kita.

“Artinya kita lebih mngutamakan peningkatan kualitas hidup masyarakat kita melalui pariwisata. Bukan meningkatkan kualitas hidup masyarakat mancanegara, guna mengejar ‘DEVISA”. Ya lebih baik DARI KITA-UNTUK KITA-OLEH KITA, baru dampaknya terhadap peningkatan Wisatawan mancanegara (wisman),” katanya.

Ketiga, sambung dia, pada 2020 tuntutan terhadap peningkatan Daya Tarik yakni Visitors’ Attraction yang bukan diterjemahkan menjadi “ATRAKSI” sudah menjadi dasar setiap pengembangan destinasi dan event.

Keempat, tambah dia, demikian pula “HEALTH, HYGIENE, SAFETY, SECURITY” harusnya bukan menjadi masalah dan kendala lagi, karena sudah menjadi tuntutan mutlak yang harus dipenuhi. “Artinya kalau kita tidak jeli menghadapi tahun 2020 ini, kita terpaksa balik ke tahun 2010 bahkan 2000 yang berkutat dan masih menghadapai berbagai permasalahan dasar pariwisata. Ini kan menyedihkan,” sambungnya. (end)

Libur dan Akhir Pekan, Harga Tiket Naik 150 Persen

this formate

MATARAM, bisniswisata.co.id; SETELAH penutupan pendakian selama tiga bulan, per 1 April 2020 tiket mendaki akhir pekan dan hari libur naik 150 persen. Mengikuti Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 12 Tahun 2014 tentang jenis dan tarif atas penerimaan negara bukan pajak di Kementerian Kehutanan. Kebijakan tarif akhir pekan tersebut telah diberlakukan di taman nasional lain di Indonesia, taman nasional Rinjani baru diberlakukan April 2020.

Menurut Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Dedy Asriady, tiket masuk kawasan Rinjani setiap akhir pekan dan hari libur untuk pengunjung lokal sebesar Rp 7.500 per orang per hari, wisatawan asing Rp250 ribu per orang per hari. Selama ini harga tiket masuk ke dalam kawasan Rinjani untuk pengunjung lokal sebesar Rp5 ribu per orang per hari untuk hari biasa, dan Rp 7.500 per orang per hari untuk hari libur. Sedangkan untuk wisatawan asing pada hari biasa dikenakan tarif sebesar Rp150 ribu per orang per hari, dan Rp250 ribu per orang per hari untuk hari libur.

Manajemen BTNGR melakukan pertemuan untuk mensosialisasikan kebijakan tersebut sebelum pendakian Rinjani kembali dibuka, terutama bagi para pelaku industri pariwisata, mengingat pendakian Rinjani berhubungan erat dengan aktivitas wisata minat khusus yang menjadi salah satu andalan sektor pariwisata di NTB.

Selain mensosialisasikan tariff akhir pekan dan libur baru, ungkap Dedy, manajemen BTNGR tengah melakukan pembenahan dari segi fasilitas mau pun pengawasan pendaki. Dicontohkannya perbaikan sarana-prasarana yang telah rampung di Jebak Gawah, pintu masuk Rinjani melalui Desa Senaru, Lombok Utara. ‘Fasilitasnya sudah enak, kalau antre sudah ada tempat yang lapang. Ada bangunannya cukup luas,’’ jelas Dedy. Untuk tahun 2020, pembangunan sarana-prasaran serupa akan dilakukan di pintu-pintu lainnya, dimulai dari pintu Sembalun.

Kepala BTNGR juga mereview SOP pendakian secara menyeluruh, serta penerapan Route Tracking berbasis Radio-frequency identification (RFID). Dengan harapan, seluruh aktivitas pendakian di Rinjani dapat lebih terjamin dari segi keamanan dan kenyamanan.

‘’Dengan system RFID aktivitas pendaki termonitor dengan baik. Berapa pendaki yang masih ada di atas bisa kita tahu. Kalau ada pendaki yang harusnya sudah turun tapi masih di atas bisa terpantau, lokasi-lokasinya juga,’’ ujar Dedy. *

Sate Kere, Kuliner Wong Cilik Digandrungi Orang Berduit

this formate

SOLO, bisniswisata.co.id: Siang belum lama beranjak, tetapi lapak Mbak Tug di pinggir Jalan Arifin, Kepatihan Kulon, Jebres, Kota Solo sudah terlihat sesak. Pengunjung hilir mudik berdatangan demi mencicipi kuliner khas Solo, sate kere. Uniknya, kendati istilah kere jelas bermakna miskin, pembeli sate di lapak ini sama sekali tak menunjukkan orang tak berpunya.

Tak tampak orang miskin di lapak ini. Para pembeli yang terlihat pada pertengahan Desember 2019 lalu justru banyak mengendarai mobil pribadi. Dilihat dari pelat mobilnya, sebagian juga berasal dari luar Kota Solo. Begitu ramainya, untuk jajan di lapak sederhana Mak Tug terkadang harus rela antre.

“Tiap hari dagangan selalu habis. Ya, kalau dirata-rata omzet Rp2,5 juta per hari,” ujar Marimin, 60, sang penjual. Omzet jutaan rupiah tidak didapatkan Marimin hingga berjam-jam. Dia mulai membuka lapak pukul 13.00 WIB. Tiga jam berikutnya atau sekitar pukul 16.00 WIB, dia biasanya sudah menutup seluruh dagangan lantaran habis terjual.

Sate kere perlahan menjadi ikon kuliner khas Kota Solo. Bagi para pendatang, berkunjung ke kota asal Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini tak lengkap jika belum mencicipi sate ini. Sesuai namanya, sate ini sangatlah sederhana. Tak seperti sate kebanyakan yang berisi daging, sate kere berisi gembus, tempe kedelai, dan jeroan sapi.

Dilihat bahannya, sate ini wajar diidentikkan sebagai milik orang kere. Harganya pun sangat murah. Untuk satu tusuk sate gembus dan lontong harganya hanya Rp3.000. Namun kelezatan sate kere tak lagi milik rakyat jelata. Kini sate ini telah berubah dan naik kelas menjadi makanan kelas atas.

Pamor sate kere kian meroket mulai 2001. Di balik merebaknya warisan kuliner khas Solo ini juga ada cerita menarik di belakangnya. Sate kere lahir memang sebagai konsumsi orang-orang miskin Solo kala masa kolonial. Tak sekadar makanan, sate ini hakikatnya juga bentuk perlawanan rakyat Solo terhadap kuliner kolonial saat itu.

Peneliti sejarah kuliner Solo Heri Priyatmoko mengatakan, dalam atlas kuliner Nusantara, kuliner sate kere memiliki riwayat yang pekat dengan nasib getir dan perjuangan rakyat kelas bawah. Bahan-bahan sate kere seperti gembus, tempe kedelai, dan jeroan sapi di masa kolonial dijauhi pembesar Eropa dan bangsawan. Bahkan gembus dan jeroan merupakan pantangan untuk disajikan di meja makan.

Pada 1849 ada kebijakan tentang pemotongan sapi dan kerbau. Jeroan dan gajih yang disingkirkan selanjutnya dimanfaatkan masyarakat bawah yang tak sanggup membeli daging atau membeli sate. Bahan buangan itu kemudian diolah bersama gembus yang selanjutnya dikenal dengan sate kere.

Sate kere Solo kini juga sudah go international. Lapak Mbak Tug misalnya kerap kali menerima pesanan orang-orang Indonesia yang tengah kuliah atau bekerja di luar negeri. Yang dipesan sambalnya untuk oleh-oleh di sana. Ada yang dari Inggris, Hong Kong, dan Australia,” beber Marimin seperti dilansir laman Sindonews, Senin (06/01/2020).

Orang tua Marimin dulu mulai berjualan pada 1977. Saat itu dagangan masih disunggi (diletakkan di atas kepala) dan dijual berkeliling. Seiring makin terkenalnya sate kere, Marimin juga mengaku beberapa kali diundang pemerintah kota untuk mengikuti pameran di luar daerah.

Kini lapaknya diberi nama Sate Presiden. Perubahan nama ini dilatarbelakangi lantaran lapaknya jadi langganan Presiden Jokowi, termasuk saat mendapat pesanan untuk sajian tamu Jokowi kala mantu anak perempuannya, Kahiyang Ayu.

Sisa Daging Diolah Jadi Tengkleng

Selain sate kere, ada kuliner tengkleng yang juga bentuk perlawanan moral kala itu. Tengkleng diperkirakan muncul sekitar satu abad lalu dari aksi para buruh yang memunguti sisa-sisa daging kambing juragan batik Solo. Sekelompok buruh yang tidak mampu menjangkau makanan berkelas lantas mengolah tulang dan jeroan kambing untuk disantap.

Namun, menurut Heri Priyatmoko, argumentasi itu dinilai terlalu dangkal dan analisis minim data. “Yang pasti tengkleng lahir dari kreativitas orang Solo dalam menghadapi situasi yang mencekik, tepatnya di masa penjajahan Jepang,” katanya.

Di Solo, kuliner tengkleng antara lain bisa ditemui di Warung Yu Tentrem di Jalan Letjend Sutoyo, Gang Kelud Selatan, Ngadisono RT 4 RW 14, Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari. Tengkleng Yu Tentrem sudah lama dikenal karena rasanya lezat, mantap, enak, serta khas dari Solo. Resep masakan turun-temurun tetap dipertahankan kualitasnya sampai sekarang. Bahkan tengkleng Yu Tentrem telah menjadi langganan keluarga mantan Presiden Soeharto hingga Jokowi.

Medio 1980 silam, Tentrem mulai berjualan tengkleng berkeliling Kota Solo dengan berjalan kaki. Satu panci tengkleng dan kuah digendong dari rumah ke rumah menyambangi pembeli. Untuk wadah makanannya kala itu masih menggunakan daun pisang yang dalam bahasa Jawa disebut pincuk. Untuk dapat menikmati tengkleng Yu Tentrem harus antre karena peminatnya banyak.

Warung yang dibuka mulai pukul 10.00 WIB ini biasanya sudah habis jualannya sekitar pukul 13.00 WIB. Pandangan tengkleng sebagai makanan rakyat jelata pun kini sudah tidak ada. Bahkan penikmatnya merupakan orang-orang kaya dari berbagai latar belakang dan suku.

Tengkleng mulai berkibar sekitar tahun 2013. “Saat itu banyak festival kuliner yang diselenggarakan dan tengkleng yang diangkat,” kata Winarno, salah satu anak Yu Tentrem.Selain sate kere dan tengkleng, ada kuliner lain Solo yang khas, yakni selat.

Warung Selat Mbak Lies di Serengan Nomor 42 RT 03 RW 02, Solo, adalah salah satu yang masyhur. Rahasia selat Mbak Lies tetap lezat sampai sekarang adalah cara memasaknya. “Aktivitas memasak sampai sekarang tetap pakai anglo untuk yang besar-besar karena berpengaruh pada rasa,” ungkap Wulandari Kusmadyaningrum selaku pemilik usaha.

Dirinya belajar autodidak membuat selat dan mulai membuka warung 1987 lalu. Namun meski tenar, menurut Heri Priyatmoko, cerita panjang selat sebagai mahakarya dapur Solo belum terkuak. “Yang kita dapat juga menyesatkan. Keliru kalau mengatakan selat diadaptasi dari salad atau slatjee dalam bahasa Belanda. Kata slatjee sudah tidak tepat untuk salad yang betul ialah slaatje, “ kata Heri.

Dengan petunjuk kamus bahasa Belanda, terlacak bahwa slachtje kurang lebih artinya hasil pemotongan daging yang dijadikan kecil-kecil. Kala itu lidah orang Jawa sulit melafalkan slachtje meniru lidah orang Eropa. Selain slachtje bahan selat adalah aardappel (kentang), wortelen (wortel), boon (buncis), komkommer (ketimun), sla (slada), ei (telur), dan sojasous (kuah kecap), serta saus mayones. (*)

Museum Louvre Batasi Jumlah Kunjungan Wisatawan

this formate

PARIS, bisniswisata.co.id: Lonjakan jumlah kunjungan wisatawan yang berwisata ke museum selalu diharapkan. Lucunya, justru Museum Louvre di Paris, Prancis tak mengharapkan jumlah kunjungan yang banyak, malah terus menekan. Bahkan kini memberlakukan penjualan tiket melalui online.

“Sepanjang tahun 2019, jumlah turis yang datang ke Museum Louvre turun menjadi 9,6 juta seiring dengan rencana pembatasan jumlah pengunjung. Tahun sebelumnya, Museum Louvre tercatat dikunjungi 10,2 juta orang,” papar sang direktur seperti yang dikutip dari AFP pada Senin (6/1).

Pengelola museum paling populer di dunia ini secara aktif menekan jumlah kedatangan kunjungan turis selama musim panas.”Perubahan nyata adalah pada bulan Juni, Juli dan Agustus,” kata Direktur Louvre, Jean-Luc Martinez.

Pihaknya juga memotong jumlah pengunjung sebanyak 600 ribu pada saat itu. “Kami mencoba membatasi jumlahnya sehingga tidak akan ada lebih dari 1 juta pengunjung per bulan yang terjadi pada 2018.” sambungnya.

Untuk melakukan itu, museum ditutup selama beberapa hari selama pekan ramai turis di musim panas, kata Martinez, ketika ibu kota Prancis juga sedang dilanda gelombang panas. “Kami adalah satu-satunya lembaga budaya di dunia yang melakukan ini dan kami sangat tegas. Kami melakukan ini karena kami ingin menyambut pengunjung lebih baik, tidak hanya meminta mereka datang.” lontarnya serius.

Louvre sejauh ini adalah museum yang paling banyak dikunjungi di dunia, diikuti Museum Nasional China di Beijing dengan 8,6 juta pengunjung, dan Museum Seni Metropolitan New York, yang didatangi 7,3 juta orang pada tahun 2018.

Reservasi Internet, yang mendatangkan setengah dari total kunjungan Louvre, telah membantu mengatur jumlah kedatangan, kata Martinez. Tiket pameran Leonardo da Vinci di Louvre dijual di awal, namun Martinez mengatakan tidak ingin memaksa semua pengunjung “berlomba-lomba” memesan tiket di awal.

Sekitar 180 ribu orang telah memesan tiket untuk pameran sebelum dibuka secara resmi pada akhir Oktober. Pameran yang laris itu mendorong angka pengunjung naik 14 persen pada bulan November, dan pengelola Louvre menambah jam pameran hingga tengah malam untuk mengatasi permintaan sebelum ditutup pada akhir Februari 2020.

“Pesan yang ingin kami sampaikan adalah bahwa hanya dengan membuat reservasi di awal, Anda dijamin masuk ke museum dalam waktu 30 menit,” ujar Martinez.

Dia mengatakan protes jalanan anti-pemerintah “rompi kuning” hampir setiap minggu di ibu kota Prancis selama 2019 tidak banyak berpengaruh pada jumlah kunjungan di Louvre. “Sebanyak 75 persen dari pengunjung kami berasal dari luar negeri”, dengan turis Amerika dan China paling banyak.

Begitu juga dengan aksi mogok mengenai reformasi pensiun, yang telah melumpuhkan transportasi umum di Perancis pada bulan lalu. Museum Louvre hampir buka setiap hari, hanya tutup saat kekurangan karyawan saat aksi demo berlangsung.

Direktur juga memuji keberhasilan Museum Louvre di Abu Dhabi, yang telah menarik lebih dari 2 juta pengunjung dalam dua tahun, “terutama dari India”.

Museum satelitnya di Lens, utara Prancis juga telah melewati target setengah juta pengunjung untuk pertama kalinya tahun ini, tambahnya sambil menambahkan untuk pemesanan tiket masuk ke Museum Louvre di Paris, Prancis, turis bisa mengunjungi situs resminya di sini. (*)

Bisnis Startup Hotel OYO Disorot

this formate

NEW DELHI, bisniswisata.co.id: OYO, Perusahaan startup yang menawarkan layanan penyewaan kamar hotel asal India menjadi sorotan bagi industri perhotelan di penjuru dunia. Karena dikabarkan telah membangun bisnis domestik dengan menggunakan taktik yang dipertanyakan sekaligus diragukan bagi kesehatan perusahaan bisnis hotel.

Dilansir dari New York Times, Senin (6/1/2020), dikatakan kalau OYO dapat meningkatkan jumlah daftar kamar di situs webnya untuk wilayah India, dengan memasukkan kamar-kamar dari hotel yang sebenarnya tidak tersedia. Banyak dari kamar-kamar yang terdaftar di OYO berasal dari hotel dan wisma yang tidak berlisensi di India.

Untuk menghindari masalah yang disebabkan oleh pihak berwenang atas praktik ini, perusahaan terkadang memberikan penginapan gratis kepada polisi dan pejabat lainnya. Hal ini berdasarkan wawancara dengan pemilik dan karyawan hotel, email, keluhan hukum, dan dokumen lainnya.

Dijelaskan, OYO juga membebankan biaya tambahan serta menolak untuk membayar hotel secara penuh yang mereka klaim sebagai utang. “Ini adalah gelembung (bubble) yang akan meledak,” kata Saurabh Mukhopadhyay, mantan manajer operasi OYO di India Utara yang meninggalkan perusahaan pada bulan September lalu.

Pendiri OYO, Ritesh Agarwal mendirikan perusahaan OYO pada 2013 saat usianya menginjak 19 tahun. Sejak itu, OYO dengan cepat tumbuh di lebih dari 80 pasar dan meningkatkan bisnisnya di AS dengan properti yang dikonversi di Dallas dan Las Vegas.

SoftBank sendiri merupakan investor utama OYO. Selain itu, ada pula pendukung lainnya termasuk Sequoia Capital India dan Lightspeed India Partners. Baik OYO dan SoftBank belum memberikan komentar terkait laporan dari New York Times tersebut.

“Ini adalah satu-satunya perusahaan dari India yang mengglobal dalam skala besar,” Satish Meena, analisis senior untuk firma riset Forrester di New Delhi. Satish pun juga berkomentar bagaimana cara bisnis OYO bekerja “tapi sampai sekarang, ada keraguan serius tentang model bisnis (OYO).”

Saat ini, OYO diklaim sebagai salah satu perusahaan baru yang paling menjanjikan di India, dengan nilai $ 10 miliar. Untuk bagiannya, Agarwal memiliki 30% dari perusahaan.

Di bawah arahan dari pimpinan SoftBank Masayoshi Son, ia memiliki strategi pertumbuhan yang agresif kepada OYO yang ia sebut sebagai pertama. Bahkan dikabarkan ia baru-baru ini menghapus miliaran dolar dari investasi lain seperti WeWork.

OYO melaporkan kerugian bersih sebesar 23,85 miliar rupee atau setara US$332 juta (Rp 4,65 triliun) pada tahun yang berakhir Maret 2019, dihitung dari periode ekspansi cepat ke pasar internasional seperti Cina, AS, dan Inggris. (*)