EXPLORE! eps.12: Berkelana Menuju Serambi Mekkah, Aceh

this formate

EXPLORE! by bisniswisata.co.id
eps. 12: Berkelana Menuju Serambi Mekkah, Aceh

Sebagai salah satu provinsi terluar di Indonesia, Nangroe Aceh Darussalam merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang diberi status sebagai daerah istimewa dan juga diberi kewenangan otonomi khusus yang juga merupakan pintu masuknya penyebaran Agama Islam di Indonesia.

Sembari mengunjungi sebuah acara di Kota Bireuen, saya bersama Ivana Maida dan Jufry Ijup menyempatkan diri untuk mencicipi nikmatnya Kopi Aceh di pusat Kota Bireuen yang tak lain pernah ditetapkan sebagai ibukota Republik Indonesia kedua pada tanggal 18 Juni 1948.

“Semakin ditarik, semakin enak” kutip Jufry Ijup yang merupakan warga asli Aceh. dengan membayar sekitar Rp 4000 untuk satu gelas , kami sudah bise menikmati kenikmatan Kopi Tarik Aceh yang mendunia. Biji kopi yang digunakan tidak boleh sembarangan. Karena Aceh merupakan salah satu produsen kopi terbesar di Indonesia, jadi biji kopi yang digunakan tidak perlu mengambil dari daerah atau kota lain.

Khusus untuk Kopi Tarik, biji kopi yang banyak dipakai adalah hasil produksi Ulee Kareng. Bahkan untuk varian kopi lain dari Aceh hampir semua menggunakan biji kopi ini. Alasan utama penggunaan biji kopi Ulee Kareng adalah cita rasa unik yang berbeda dari biji kopi lain. Biji yang sudah menjadi bubuk tidak hanya diseduh dengan air panas melainkan dimasak bersama air sehingga aroma dan rasa yang dihasilkan lebih kuat.

Di penghujung malam, kami kembali sampai di Banda Aceh setelah menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 6 jam lamanya. Tak lama kemudian, kami kedatangan seorang vlogger asal jakarta; @inimasabi dan mengajak kami untuk menikmati Mie Racing di Kedai Mie Aceh dan Nasi Goreng Bardi yang terkenal karena kelezatanya, aromanya dan juga kelengkapan bumbu rempah-rempahnya dan sering menjadi buruan wisatawan saat ke kota Banda Aceh.

Untuk harga seporsi mie Aceh akan dikenakan biaya Rp 40.000 . Bisa kalian pilih jenis mie acehnya akan disajikan tanpa kuah, sedikit kuah atau berkuah.

Keesokan harinya, kami menyempatkan diri untuk berkunjung ke Museum Tsunami Aceh, sebuah museum dengan bangunan yang modern dan arsitektual yang dirancang oleh Ridwan Kamil ini merupakan monumen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 sekaligus pusat pendidikan bencana dan tempat perlindungan darurat andai tsunami terjadi lagi.

Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 3000, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami. Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh. Dari atas, atapnya membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.

Beranjak dari Museum Tsunami Aceh, kami menghampiri landmark kota Banda Aceh lainnya yaitu Masjid Raya Baiturrahman. Masjid yang konon katanya dibangun pada tahun 1612 di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda ini terletak di pusat kota Banda Aceh dan sempat menjadi bahan pembicaraan publik dunia karena selamat dari peristiwa Gempa dan Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang hanya mendapatkan sedikit kerusakan seperti beberapa dinding yang retak.

Sebelum beranjak ke Bandara Sultan Iskandar Muda untuk kembali ke Jakarta, kami menyempatkan diri untuk belanja oleh-oleh Khas Aceh di Pusaka Souvenir yang direkomendasi oleh tour guide kami. Tempat ini menawarkan berbagai cinderamata, makanan ringan, dan kopi Khas Aceh yang siap kami bawa pulang sebagai buah tangan untuk teman dan keluarga di Jakarta.

Ubud Village Jazz Festival 2020, Dibatalkan

this formate

BALI, bisniswisata.co.id; GELAR musik berskala internasional Ubud Village Jazz Festival (UVJF) ke-7 tahun 2020, tertunda penyelenggaraannya. Sebagai salah satu event tahunan di Bali, penyelenggara UVJF mengambil sikap untuk membatalkan perhelatan tahun ini yang semula akan diadakan pada tanggal 14,  15 Agustus 2020. Penundaan acara merupakan upaya mendukung kebijakan pemerintah dalam penanggulangan pandemic COVID-19. Pasalnya pagelaran musik, bisa dipastikan mendapat kunjungan penikmat music dalam jumlah besar.

 “Semoga segala sesuatunya menjadi lebih baik dan kita bisa memulai lagi tahun depan 2021,” jelas Anom Darsana, festival director dan juga co-founder UVJF.    

“Sebenarnya banyak pihak yang menyarankan agar penundaan tidak melewati tahun 2020,  dengan harapan COVID-19 sudah mereda dalam beberapa bulan ke depan” kata Yuri Mahatma, musisi dan juga co-founder UVJF.

Namun, lanjutnya lebih jauh, penyelenggara masih harus mempertimbangkan beberapa aspek. Pertama, jika kondisi membaik dalam beberapa bulan kedepan, tetap memerlukan waktu untuk masa recovery Dalam periode ini, semua orang akan berhati-hati, berhemat dan perlahan bangkit dari keterpurukan ekonomi. Kedua, lebih ke alasan moral. “Kami merasa alangkah bijaksana apabila kita semua, ikut prihatin dan empati kepada saudara-saudara kita yang jauh lebih membutuhkan bantuan” tambahnya.

Pandemik COVID-19, mengakibatkan darurat kesehatan di185 negara,  sampai Senin 13 April jam 10.05 waktu Bali sebanyak 1.850.220 jiwa terpapar virus tersebut, 430.455 jiwa dapat disembuhkan setelah menjalani perawat dan 114.215 jiwa tak terselamatkan.

Darurat kesehatan ini memukul telak industri pariwisata Indonesia yang memposisikan dunia piknik ini sebagai penghasil devisa ke dua terbesar setelah migas. Terlebih untuk di Bali. Perekonomian masyarakat Bali bersandar pada kinerja kepariwisataan baik didimensi primer mau pun pendukung. *

Di Amerika, Sumbang Satu Juta “Room Night”

this formate

NEW ORLEANS, bisniswisata.co.id; “KAMI menyumbangkan kualitas layanan Hilton untuk profesional medis yang bekerja dalam keadaan paling menantang, mengorbankan kebutuhan mereka sendiri untuk kebaikan yang lebih besar. Dan juga bagi pekerja EMT selama masa sulit ini,” kata Presiden dan CEO Hilton, Christopher J. Nassetta seperti dikutip cntraveler.com.

Keputusan menutup perbatasan, menutup fasilitas publik dan membatasi gerak masyarakat akibat pandemic COVID-19, menyebabkan jutaan kamar hotel kosong di seluruh Amerika Serikat. Kondisi tersebut mendorong manajemen jejaring hotel besar menyerahkan inventarisnya kepada mereka yang paling membutuhkannya: seperti mereka yang bertugas berjam-jam di rumah sakit untuk memerangi virus. Dari petugas cleaning service sampai dengan tenaga medis ahli, serta unit layanan EMT (Teknisi Medis Darurat/Emergency Medical Team).
Hilton Hotels and Resorts, yang portofolionya mencakup 18 merek hotel seperti Waldorf Astoria dan Double Tree by Hilton dengan 971.000 kamar di seluruh dunia, mengumumkan kemitraan dengan American Express minggu ini untuk menyumbangkan satu juta room night jejaring hotel mereka di seluruh negeri untuk menjamu perawat, dokter, dan pekerja EMT sampai akhir Mei.

Marriott, kelompok hotel terbesar di dunia, melalui program Bonvoy menyumbangkan 100.000 malam — nilai hingga $ 10 juta — kepada petugas kesehatan garis depan di kota-kota di seluruh Amerika Serikat, termasuk Kota New York dan New Orleans.  Manajemen juga mendorong pemegang kartu keanggotaan Bonvoy melalui fasilitas Marriott Bonvoy Giving Platform untuk menyumbangkan poin mereka guna mendukung pekerja COVID-19 di seluruh dunia, termasuk World Central Kitchen dan UNICEF.

Tercatat anggota American Hotel and Lodging Association, yang mengelola 15.000 properti di seluruh Amerika Serikat, berkapasitas lebih dari dua juta kamar, telah diidentifikasi untuk menampung pekerja kesehatan dan mengisolasi pasien coronavirus.

“Terlibat aktif dalam situasi darurat kesehatan adalah bagian dari layanan hospitality itu sendiri,” kata Chip Rogers, Presiden dan CEO AHLA.

Di Amerika dan hampir di seluruh destinasi wisata, pengelola industri pariwisata harus merumahkan dan atau mengurangi jumlah staf, akibat pandemi COVID-19. Beberapa telah menyiapkan halaman GoFundMe untuk membantu karyawan mereka tetap bertahan.*

IATA Desak Pemerintah di Kawasan Asia Pasifik Bantu Maskapai Penerbangan Mereka.

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id:  Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mendesak negara-negara Asia-Pasifik untuk mengambil tindakan segera dan berikan dukungan keuangan kepada industri penerbangan mereka yang terkena dampak krisis COVID-19.

Negara-negara besar Asia-Pasifik dapat melihat permintaan penumpang pada tahun 2020 berkurang antara 34% hingga 44%.  Ini didasarkan pada skenario di mana pembatasan perjalanan dicabut setelah 3 bulan, diikuti oleh pemulihan bertahap.  

Penurunan penumpang di Kamboja (-34%), Vietnam (-34%) dan Filipina akan berada di ujung bawah kisaran (-36%), sementara Thailand (-40%), Pakistan (-40%), Republik Korea (  -40%) dan Sri Lanka yang paling tinggi terdampak hingga (-44%).

“Berdasarkan skenario di mana pembatasan perjalanan yang parah berlangsung selama tiga bulan, wilayah Asia-Pasifik secara keseluruhan akan melihat permintaan penumpang berkurang 37% tahun ini, dengan hilangnya pendapatan US $ 88 miliar,” kata  Conrad Clifford, Wakil Presiden Regional IATA, Asia-Pasifik.

Sementara masing-masing negara akan melihat dampak yang berbeda pada permintaan penumpang,  tapi hasilnya adalah sama ujung-ujungnya maskapai penerbangan harus berjuang untuk bertahan hidup.

Perusahaan penerbangan  menghadapi krisis likuiditas dan membutuhkan bantuan keuangan segera untuk mempertahankan bisnis mereka melalui situasi yang tidak stabil ini, tambah   Conrad Clifford.

Dalam analisis terbarunya, IATA melihat maskapai akan membukukan kerugian bersih US $ 39 miliar selama kuartal kedua yang berakhir 30 Juni 2020. Hal itu masih diberatkan lagi oleh kewajiban US $ 35 miliar untuk potensi pengembalian uang tiket.  Tanpa bantuan dari pemerintah masing-masing, posisi keuangan industri penerbangan dapat memburuk hingga US $ 61 miliar pada kuartal kedua

Australia, Selandia Baru, dan Singapura telah mengumumkan paket tindakan besar untuk mendukung industri penerbangan mereka.  “Tetapi yang lain di wilayah ini, termasuk India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Republik Korea, Sri Lanka dan Thailand, belum mengambil tindakan tegas dan efektif.  

Pemerintah perlu memastikan bahwa maskapai penerbangan memiliki arus kas yang cukup untuk mengatasinya selama periode sukit dampak dari wabah global Covid-19 ini dengan memberikan dukungan keuangan langsung, memfasilitasi pinjaman, jaminan pinjaman, dan dukungan untuk pasar obligasi korporasi. 

Pajak, retribusi, dan biaya bandara dan aeronautika untuk industri juga harus dibebaskan sepenuhnya atau sebagian.  Sangat penting bahwa negara-negara ini masih memiliki sektor penerbangan yang layak untuk mendukung pemulihan ekonomi, menghubungkan pusat-pusat manufaktur dan mendukung pariwisata ketika krisis berakhir.  

” Jadi pemerintah di kawasan Asia Pasifik ini harus segera bertindak , sekarang juga sebelum terlambat, ”kata Clifford.

 

 

STR: Industri hotel di China Daratan Tunjukkan Tanda Awal Pemulihan Kinerja

this formate

Hotel Ritz Carlton di Chengdu, China ( Foto:  Google/ booking.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Hunian harian hotel di China daratan mencapai tingkat absolut 31,8% pada 28 Maret, naik dari okupansi 7,4% selama minggu pertama Februari, menurut data awal dari lembaga riset STR.  

Negara yang pertama menjadi episentrum wabah pandemi global Covid-19 ini kegiatan ekonominya mulai bangkit. Selain itu, tingkat hunian  pembukaan diantaranya naik signifikan di pasar-pasar utama di seluruh wilayah negri itu.

 “Kami melihat tunas hijau dalam angka hunian hotel, tetapi ini hanyalah tanda awal pemulihan yang kemungkinan akan berkembang secara lambat,” kata Christine Liu, manajer regional STR untuk Asia Utara. 

Beberapa permintaan kamar hotel berasal dari perusahaan, terutama di provinsi yang sama untuk pertemuan skala kecil.  Selain itu, menggeliatnya bisnis hotel datangnya dari para pelancong yang dikarantina setelah kembali ke tanah airnya dari negara lain untuk bekerja.

” Secara keseluruhan, kami melihat bisnis hiburan yang terbatas di pusat kota tetapi sedikit lebih banyak pemulihan di segmen itu di pinggiran kota sekitarnya. ” ungkapnya.

Di Beijing, tingkat hunian hotel sekitar 10%  pada minggu pertama Maret, tetapi naik hingga 21,6% pada 28 Maret. Hotel di Shanghai yang okupansinya 11,0% pada awal  Maret juga naik jadi 28,6%.

Berdasarkan data pada 28 Maret itu,  di antara kota-kota  yang ditentukan oleh STR untuk Tiongkok Daratan, tingkat hunian absolut tertinggi telah terlihat di Xi’an  mencapai 35,9% dan Chengdu okupansi hotelnya capai 35,6%.

 “Xi menangkap bisnis dari Korea Selatan karena pabrik manufaktur Samsung di zona teknologi dimana ekspatriat memindahkan keluarga mereka ke Xi’an ketika wabah melanda Korea Selatan. Selain itu, Xi’an adalah salah satu tujuan alternatif untuk penerbangan masuk yang dijadwalkan mendarat di Beijing.” kata Liu.

Tapi Garis tren hunian di Wuhan masih naik-turun ketimbang dengan kota-kota lain.   Tingkat hunian di kota ini turun hingga 7,5% pada 23 Januari, melonjak ke level tertinggi 72,7% pada 7 Maret, tapi sejak itu cenderung turun ke 62,4% pada 28 Maret.

 “Wuhan melihat masuknya permintaan hotel ketika pekerja medis berdatangan, tetapi permintaan kamar telah berkurang karena situasi di Wuhan menjadi lebih stabil,” kata Liu.

STR mendapati sebanyak 87%  hotel yang dijadikan sampelnya di  China Daratan sekarang sudah buka beroperasi lagi setelah ditutup selama dua bulan terakhir.

STR menyediakan pembandingan data premium, analitik, dan wawasan pasar untuk sektor perhotelan global.  Didirikan pada tahun 1985, STR mempertahankan keberadaannya di 15 negara dengan kantor pusat di Hendersonville, Tennessee, AS. Kantor pusat internasional di London, dan kantor pusat Asia Pasifik di Singapura.  

 

 

Wisata di Bibir  Kawah Anak Krakatau 

this formate

Resti berpose dekat semburan pasir panas yang bisa membuat payung jadi bolong ( Foto- foto: Heryus Saputro Samhudi)

JAKARTA,bisniswisata.co.id: Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda erupsi lagi pada Jumat sore dan Sabtu dinihari tanggal 11 April 2020, mengejutkan masyarakat yang tengah menerapkan social dan physical distancing terkait pandemi virus Covid-19 yang melanda dunia. 

Kontan saya jadi ingat kunjungan ke bibir kawah Gunung Anak Krakatau beberapa waktu lalu. Udara cerah saat saya menggandeng Resti – istri saya, mendaki ke pucuk pulau vulkanik dan menikmati bibir kawah Gunung Anak Krakatau yang populer seantero dunia itu.

Dengan ketinggian tak lebih dari 200 m-dpl (meter di atas permukaan laut), pulau gunung api itu lebih mirip sebuah bukit. Namun begitu, butuh ketrampilan dan ketabahan tersendiri untuk bisa mencapai bibir kawah yang menggelegak di pucuknya. 

Susah payah kami melangkah mendaki kemiringan tebing pasir, yang tiap ditapaki maka tapak kaki kami akan balik melorot ke bawah, karena gembur dan tebalnya pasir. 

Tak ada kehijauan sama sekali yang bisa dijadikan pegangan untuk merambat ke atas. Sementara, sesekali tanah pasir yang kami pijak terasa bergetar, pertanda kawah di pucuk pulau tengah memuntahkan isi perutnya ke langit, menghasilkan debu pasir, kerikil bahkan batu-batu seukuran kepalan tangan yang berjatuhan ke sekitar kami.

Beberapa payung nylon yang digunakan teman sebagai alat tadah teduh, tampak bolong-bolong oleh jatuhan pasir panas yang cukup melepuhkan bila terkena kulit. 

Jadi ingat saat tadi kami baru mendarat di pesisir pulau vulkanik Anak Krakatau yang kehadirannya baru diketahui para ahli di tahun 1927. Ada bagian pesisir pulau ini yang sudah dihiasi oleh kehijauan hutan pionir, berjenis pohon jenis baringtonia dan pohon kayu lainnya bertumbuhan menjadi hutan. 

Uniknya, banyak pohon besar yang bagian cabangnya semplak dan sempal. Daun di bagian cabang tersebut kering terbakar, akibat kejatuhan bongkah lahar panas yang muncrat dari kepundan Gunung Anak Krakatau yang erupsi dari waktu ke waktu. 

Trip to the top of montain yang sungguh mendebarkan sekaligus menjadi catatan prestasi tersendiri bagi kami. Banyak orang berduit dan berpengalaman berwisata ke berbagai tempat indah. Tapi (maaf) belum tentu punya kesempatan seperti ini: menjejakkan kaki di bibir kawah gunung berapi terpopuler dunia Subhanallah…!

Batuwara, Sang Purba

Apa dan siapa Gunung Anak Krakatau yang gerak-geriknya tak lepas dari teropong ilmiah para ahli? Melihat struktur dan tipe lingkungan sekitar, para ahli memperkirakan bahwa di masa purba di kawasan Selat Sunda terdapat gunung amat besar, yang akhirnya meletus dahsyat.

Letusan itu bukan cuma menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) bernama Gunung Krakatau, tapi juga membelah pulau dimana gunung purba itu berada, menjadi dua pulau Jawa dan Andalas atau Sumatera.  

Seberkas catatan menyebut, gunung purba tersebut meletus pada tahun 416 Masehi. Para ahli juga mengaitkan letusan gunung purba dan akibat yang ditimbulkannya ini dengan sebentuk pupuh sebagaimana tertuang dalam Kitab Pedalangan Pustaka Raja Purwa:   

“… ada suara guntur menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Lalu bumi menggoncang menakutkan. Petir dan kilat menyambar-nyambar. Lalu datang badai angin dan hujan. Mengerikan. Dunia gelap total. Banjir besar datang dari Gunung Batuwara, mengalir ke timur ke arah Gunung Kamula dan menenggelamkannya. Ketika air surut, pulau Jawa terpisah jadi dua, menciptakan pulau Sumatra…”

Pakar geologi Berend George Escher, berpendapat bahwa Gunung Batuwara sebagaimana disebut dalam teks Pustaka Raja Purwa, itu tak lain adalah Gunung Krakatau Purba dengan tinggi 2.000 m-dpl dan lingkar pantai mencapai 11 Kilometer. 

Ledakan Gunung Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.  

Letusan Gunung Krakatau Purba disinyalir bertanggung jawab atas terjadinya tahun kegelapan di muka bumi. Wabah sampar terjadi karena suhu bumi menurun. Penyakit ini secara signifikan mengurangi jumlah penduduk di muka bumi. 

Letusan ini juga dianggap turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban Arab Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki.

Berperahu motor menuju Anak Krakatau di kejauhan

Berita dunia

Ledakan dahsyat di abad ke-4 Masehi itu menyebabkan tiga per empat tubuh Gunung Krakatau Purba hancur, menyisakan sebuah kaldera besar di Selat Sunda, yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera. 

Kaldera besar tersebut lantas dikenal masyarakat sekitar sebagai Pulau Rakata atau Pulau Krakatau. Toponimi “rakata” atau “Krakatau” diambil dari keberadaan sejenis kepiting batu, yang hingga kini banyak hidup di kawasan tersebut.

Pulau Rakata atau Krakatau tumbuh sesuai dorongan vulkanik dari perut bumi, menghadirkan kawah api dan membentuk kerucut Gunung Krakatau. Belakangan pada papar kaldera tersebut juga muncul dua gunung api lain, yakni Gunung Danan dan Gunung Perbuatan.

Keduanya menyatu bareng kerucut Gunung Krakatau yang muncul lebih dulu, menghasilkan sebuah pulau gunung api yang awam menyebutnya sebagai Pulau Gunung Krakatau.

Gunung yang pernah meletus di tahun 1680 menghasilkan lava andesitik asam. Lalu di tahun 1880, Gunung Perbuwatan juga aktif mengeluarkan lava, tapi tidak sampai meletus. 

Setelah itu, Gunung Krakatau seperti tidur panjang selama 200 tahun, tanpa aktivitas vulkanis yang berarti, sampai kemudian tanggal 20 Mei 1883, para ahli mencatat terjadinya ledakan kecil yang ditengarai sebagai pertanda bakal terjadinya letusan dahsyat di Selat Sunda. 

Benar saja, ledakan-ledakan kecil terjadi susul-menyusul, dan puncaknya pada 26-27 Agustus 1883. Gunung Krakatau meledak mengguncang dunia. Saat itu peradaban modern sedang tumbuh mengisi kehidupan masyarakat dunia. 

Dimulai dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt dan lahirnya Revolusi Perancis, berbagai perangkat baru juga ditemukan. Jaringan telegraf bawah laut misalnya, sudah ditemukan dan dibentang dari daratan Eropa ataupun Amerika ke di seberang samudera, termasuk kawasan Nusantara yang sedang dikuasai Belanda.

Komunikasi antar manusia jadi lebih cepat tinimbang jasa pos burung merpati. Juga saat Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus. Sebentar saja beritanya mendunia. 

Dari Hawaii hingga Arab

Modernitas dan kemajuan ilmu pengetahuan saat itu menghasilkan gambaran cukup jelas, berkait ledakan Krakatau. Simon Winchester, ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris yang juga penulis di majalah National Geographic misalnya, mencatat bahwa pada hari Senin, 27 Agustus 1883, pukul 10:20, terjadi ledakan paling besar, dengan suara paling keras. 

Peristiwa vulkanik itu disebutnya sebagai yang paling meluluhlantakkan dalam sejarah manusia modern. Suaranya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan, bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.

Berkas lain juga mengungkap, letusan Gunung Krakatau terdengar sampai di Alice Springs, Australia, dan Pulau Rodrigues dekat Afrika yang berjarak 4.653 kilometer dari Selat Sunda. Daya ledaknya (tulis peneliti modern) diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan paling hebat yang tercatat dalam sejarah. Para peneliti di University of North Dakota menambahkan bahwa ledakan Krakatau bersama ledakan Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. 

Dibandingkan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung berapi Taupo di Selandia Baru dan Gunung Katmai di Alaska, sebenarnya ledakan Krakatau masih kalah hebat, Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh pada masa ketika populasi manusia masih sedikit. 

Sementara saat Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Bisa dibilang, teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat, menjadikan letusan Krakatau dicatat sebagai berdampak paling besar terhadap kehidupan manusia.

Gegara letusan Krakatau, ikllim global saat itu mengalami perobahan. Dunia gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencapai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatra bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.

Letusan itu juga menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta sebagian Gunung Rakata (Krakatau) di mana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter. 

Tsunami (gelombang laut) naik setinggi 40 meter menghancurkan desa-desa dan apa saja yang ada di pesisir pantai. Tsunami ini timbul bukan hanya karena letusan tetapi juga longsoran bawah laut.

Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, dimana terjadi gempa tektonik dan tsunami Aceh, tsunami tahun 1883 merupakan yang terdahsyar di kawasan Samudera Hindia. Tercatat 36.417 jiwa melayang akibat awan panas dan tsunami yang ditimbulkan ledakan tersebut. 

Korban tewas itu terutama berasal dari 295 kampung kawasan pantai, mulai dari Merak di Kota Cilegon hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Ujung Kulon dan Pulau Panaitan, serta Sumatra Bagian selatan. 

Di Ujungkulon, gelombang tsunami masuk sampai 15 km ke arah barat. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer. ( bersambung).

 

Pekerja Sektor Parekraf di 34 Provinsi Diusulkan Sebagai Penerima Kartu Pra Kerja

this formate

Guide tengah memandu turis, pekerja di sektor Parekraf ini diusulkan sebagai penerma Kartu Pra Kerja dampak wabah Covid-19 ( foto: Kemenparekraf).

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendata sebanyak 189.586 tenaga kerja sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) dari 34 provinsi telah diusulkan sebagai penerima Kartu Pra Kerja.

“Mereka yang terdampak wabah pandemi COVID-19 akan  menerima bantuan melalui program kartu pra kerja yang dibuka pendaftarannya pada Sabtu (11/4/2020). Data yang masuk ke Kemenparekraf tersebut  diperoleh dari asosiasi industri dan profesi pariwisata dan ekonomi kreatif serta dinas-dinas pariwisata,” kata Menparekraf Whisnutama Kusubandio, hari ini.

Nenurut dia, data sudah melalui proses data cleansing dan sudah dilaporkan ke Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk dijadikan basis data penerima kartu pra kerja.

“Data tersebut merupakan data yang berasal dari pekerja formal, tenaga kerja informal, PHK, dan pekerja yang dirumahkan. Selain itu juga pelaku seni, federasi musisi Indonesia, persatuan karyawan film dan televisi, serta pelaku ekonomi kreatif lainnya,” katanya.

Wishnutama juga mengimbau agar dinas pariwisata di daerah bisa membantu tenaga kerja yang kesulitan mendaftar di daerahnya masing-masing agar para pelaku parekraf bisa menerima insentif sehingga dapat meringankan beban dan biaya operasional, katanya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto secara resmi membuka membuka Pendaftaran Program Kartu Prakerja melalui situs resmi www.prakerja.go.id. Program Kartu Prakerja merupakan program bantuan biaya pelatihan dan insentif bagi para pekerja, pencari kerja, serta pelaku usaha mikro dan kecil yang kehilangan pekerjaan dan/atau mengalami penurunan daya beli akibat pandemi COVID-19.

“Kartu Prakerja diharapkan mampu meningkatkan kompetensi, produktivitas, dan daya saing angkatan kerja, serta dapat meringankan biaya hidup akibat pandemi COVID-19” katanya.

Syarat peserta program Kartu Prakerja adalah Warga Negara Indonesia (WNI) berusia di atas 18 tahun dan tidak sedang mengikuti pendidikan formal. Pendaftarannya terdiri dari 3 (tiga) tahap. Pertama, calon peserta atau pendaftar membuat akun Prakerja di situs www.prakerja.go.id. 

Kemudian pendaftar memasukkan biodata, seperti nama, tempat/tanggal lahir, Nomor Induk Kependudukan (NIK), dan sebagainya. Data akan diverifikasi ke Kementerian/Lembaga (K/L) terkait. 

Kedua, pendaftar mengikuti tes motivasi dan kemampuan dasar selama ±15 menit. Ketiga, pendaftar bergabung di gelombang pendaftaran yang sedang dibuka. Setiap minggunya, mulai kemarin (11 April 2020) sampai minggu ke-4 November 2020, akan dibuka kuota untuk sekitar 164.000 peserta. 

Pendaftaran dapat dilakukan setiap saat, 24 jam 7 hari dalam seminggu. Untuk gelombang pertama, pendaftaran dibuka sampai Kamis (16 April 2020), pukul 16.00 WIB. Pengumuman peserta yang lolos untuk gelombang pertama akan diumumkan pada Jumat, 17 April 2020. Jika belum berhasil diterima sebagai peserta pada gelombang pertama, pendaftar dapat bergabung di gelombang selanjutnya. 

”Bagi masyarakat yang mengalami kesulitan untuk mendaftar maka manajemen pelaksana kartu prakerja menyediakan layanan masyarakat atau call center di 02125541246. Tiap Senin sampai Jumat 08.00-19.00 WIB. Bisa juga di email di info@prakerja.go.id,” katanya.

Sampai akhir 2020, direncanakan akan ada lebih dari 30 gelombang pendaftaran. Dan, total anggaran yang disediakan oleh pemerintah untuk tahun ini adalah sebesar Rp20 triliun.

Setiap penerima Kartu Prakerja akan mendapatkan paket manfaat total senilai Rp3.550.000, yang terdiri dari bantuan biaya pelatihan sebesar Rp1.000.000 yang dapat digunakan untuk membeli aneka pelatihan di platform digital mitra. Lalu untuk insentif akan ditransfer ke rekening bank atau e-wallet LinkAja, OVO, atau GoPay milik peserta. 

Insentif ini terdiri dari dua bagian. Pertama, insentif pasca penuntasan pelatihan pertama sebesar Rp600.000 perbulan selama 4 bulan (Rp2.400.000). Kedua, Insentif pasca pengisian survei evaluasi sebesar Rp50.000 persurvei untuk 3 kali survei (Rp150.000).

Sebanyak 189.000 pekerja tersebut diusulkan oleh Kemenparekraf untuk mendapatkan manfaat Kartu Pra Kerja. Di samping itu, masyarakat dan para pelaku parekraf diimbau untuk mendaftar secara mandiri melalui platform www.prakerja.go.id.

Pembatasan Operasional di 12 Bandara

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id; MENDUKUNG upaya pencegahan penyebaran COVID-19,  PT Angkasa Pura II (Persero) melakukan penyesuaian jam operasional di 12 bandara. Bandara-bandara itu adalah Kertajati (Majalengka), Sultan Thaha (Jambi), Depati Amir (Pangkalpinang), Fatmawati Soekarno (Bengkulu), Sultan Iskandar Muda (Aceh), Tjilik Riwut (Palangkaraya) dan Raja Haji Fisabilillah (Tanjung Pinang), Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang), Radin Inten II (Lampung), Supadio (Pontianak), Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru) dan Banyuwangi,

“Jam operasional di 12 bandara dipersingkat, bandara juga tetap dibuka jika ada pesawat yang terpaksa mendarat di luar jam operasional bandara. Juga siaga jika ada penerbangan terkait medis dan penerbangan logistik khususnya yang mengangkut sampel infection substance COVID-19,”  jelas President Director PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin

Kebijakan ini telah mendapat persetujuan dari regulator dengan diterbitkannya Notice to Airmen terkait jam operasional bagi masing-masing bandara. Lebih lanjut, Muhammad Awaluddin mengatakan dipersingkatnya jam operasional dapat menjaga aspek kesehatan traveler dan personel bandara.

“Pada masa penuh tantangan akibat mewabahnya COVID-19 ini yang paling utama adalah kesehatan dan keselamatan traveler serta personel bandara. Kami sudah melakukan penyesuaian pola operasional dan penyesuian jam operasional sehingga memungkinkan diterapkannya konsep work from home dan physical distancing bagi personel operasional di bandara,” jelas Muhammad Awaluddin.

Berikut jam operasional terbaru di 12 bandara yang diterapkan pada periode tertentu:

1. Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang)

Sesuai Notice to Airmen (NOTAM) B0859/20, jam operasional menjadi 06.00-18.00 WIB pada 11-30 April 2020, dari sebelumnya 05.00-24.00 WIB

2. Radin Inten II (Lampung)

Sesuai NOTAM CO413/20, jam operasional menjadi 10.00-20.00 WIB pada 10-30 April 2020, dari sebelumnya 06.00-21.00 WIB

3. Supadio (Pontianak)

Sesuai NOTAM B0861/20, jam operasional menjadi 06.00-18.30 WIB pada 10 April – 29 Mei 2020, dari sebelumnya 06.00-24.00 WIB

4. Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru)

Sesuai NOTAM B0885/20, jam operasional menjadi 06.00-16.00 WIB pada 10-30 April 2020, dari sebelumnya 06.00-24.00 WIB

5. Banyuwangi

Sesuai Notam B0865/20, jam operasional menjadi 06.00-16.00 WIB pada 10-30 April 2020, dari sebelumnya 06.00-18.00 WIB

6. Kertajati (Majalengka)

Sesuai Notice to Airmen (NOTAM) A0913/20, jam operasional menjadi 06.00-17.00 WIB pada 2 April-30 April 2020, dari sebelumnya 06.00-19.00 WIB

7. Sultan Thaha (Jambi)

Sesuai NOTAM C0409/20, jam operasional menjadi 06.00-19.00 WIB pada 8-30 April 2020 dari sebelumnya 06.00-21.00 WIB.

8. Depati Amir (Pangkalpinang)

Sesuai NOTAM B0846/20, jam operasional menjadi 08.00-17.00 WIB pada 8-21 April 2020 dari sebelumnya 06.00-21.00 WIB

9. Fatmawati Soekarno (Bengkulu)

Sesuai NOTAM C0408/20, jam operasional menjadi 07.00-17.00 WIB pada 7-30 April 2020 dari sebelumnya 06.00-21.00 WIB

10. Sultan Iskandar Muda (Aceh)

Sesuai NOTAM A0937, jam operasional menjadi 08.00-18.00 WIB pada 5-15 April 2020, dari sebelumnya 06.00-22.00 WIB

11. Tjilik Riwut (Palangkaraya)

Sesuai NOTAM C0410/20, jam operasional menjadi 05.00-18.00 WIB pada 10 April – 11 Mei 2020 dari sebelumnya 05.00-20.30 WIB

12. Raja Haji Fisabilillah (Tanjung Pinang)

Sesuai Notam B0854/20, jam operasional menjadi 07.00-18.00 WIB pada 9-30 April 2020 dari sebelumnya 07.00-19.00 WIB

Sementara tujuh (7 ) bandara PT Angkasa Pura II lainnya masih beroperasi dengan jam operasional normal dengan melihat perkembangan terbaru.  “Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma dan Kualanamu masih beroperasi 24 jam,” lanjut Muhammad Awaluddin.

PT Angkasa Pura II juga melakukan penyesuaian pola operasional di bandara-bandara yang dikelola dari normal operation, slow down 0peration, minimum operation dan terminate operation. Penetapan pola operasional, dilakukan dengan mempertimbangkan tren pergerakan penumpang pesawat dan frekuensi penerbangan di masing-masing bandara. Maka setiap bandara dapat melakukan optimalisasi terhadap fasilitas dan personel di tengah pandemi global COVID-19.

Tuntunan Syariah Menghadapi Wabah

this formate

Berawal dari kota Wuhan China, kini wabah Covid-19 telah mengglobal, merata di seluruh wilayah benua, tak terkecuali di negri kita dengan korban yang terus bertambah di semua provinsi.

Berbagai macam spekulasi tentang penyebab dan dampaknya juga turut mewarnai media. Berbagai tanggapan pakar hingga kebijakan penguasa dengan segala pro kontranya terus mengemuka. 

Masyarakat bingung, cemas, dan bertanya bagaimana kehidupan kami dengan musibah ini ? Sebagai seorang muslim dan muslimah tentu memiliki sikap yang khas terkait musibah ini, pada tataran keimanan, sikap masyarakat maupun bagaimana seharusnya kebijakan penguasa.

Saya beruntung diundang  bergabung dalam Forum Tokoh Muslimah Peduli Bangsa yang dimotori Umi Irena Handono ini  melalui Zoom cloud meeting, berdiskusi dengan para ibu dengan tema Tuntunan Syariah Menghadapi Wabah.

Peserta yang sebagian besar ibu rumahtangga dari berbagai profesi menyimak uraian nara sumber  Dr. Enny Sri Hartati, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), pengamat ekonomi, Iffah Ainur Rahmah dan Dedeh Wahidah Ahmad, pengamat kebijakan publik.

Dari peserta, Fatimah misalnya tak bisa menyembunyikan kegelisahannya menghadapi pandemi global ini. Apalagi jika dirunut pertama kali pemerintah mengumumkan kasus pada 2 Maret 2020 baru ada dua kasus di Depok.

Kini tiba-tiba per10 April 2020 secara nasional sudah menyebar ke 34 provinsi di tanah air dengan jumlah 3.512 kasus, naik sebanyak 219 kasus baru dari hari sebelumnya. Sementara, jumlah pasien meninggal menjadi 306 orang atau bertambah 26 orang. Mereka yang telah dinyatakan sembuh kini berjumlah 282 orang, naik 30 orang dari pengumuman di hari sebelumnya.

” Apa langkah konkrit kita sebagai ibu untuk keluarga dan masyarakat agar bisa ikut mencegah penyebaran wabah ini yang kenaikannya demikian cepat,” tanya Fatimah.

Menariknya dari diskusi ini adalah para pembicara melakukan pendekatan keibuan pula. Apa yang akan dilakukan seorang ibu jika tiba-tiba anaknya sakit dan memerlukan pertolongan rumah sakit dan diagnosa para medis untuk mendapatkan solusi kesembuhan ?.

“Seorang Ibu tidak akan mikir biaya lagi.Kalau dia memiliki cadangan uang yang semula untuk tabungan, maka uangnya itu akan dikeluarkan untuk biaya pengobatan sang anak hingga sembuh,”  kata Dedeh, begitu pula jika ibu itu adalah sebuah negara.

Jika ditarik ke unit terkecil yaitu keluarga, Fatimah lebih mudah menerapkan pada anggota keluarganya untuk social & physical distancing ( jaga jarak). Tapi giliran mengedukasi kepada masyarakat memang tidak mudah.

Apalagi dengan data yang kurvanya terus naik, kebijakan yang berubah-ubah dan istilah karantina diri, lockdown hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSPB) yang belum tentu dipahami dan dipatuhi semua orang.

Memang memprihatinkan juga sebagai negara dengan mayoritas penduduknya adalah umat muslim terbesar di dunia, negara justru tidak membuat kebijakan yang mengacu pada syariat Islam yang sudah memiliki solusi dari semua musibah yang pernah terjadi di muka bumi.

Peserta lainnya Sawitri mempertanyakan hal ini pula karena wabah sudah terjadi sejak dulu di jaman para Nabi dan Rasululah masih hidup. Wabah terulang dan terpola dan sekarang melanda seluruh dunia.

” Ada makna dan pelajaran apa yang bisa kita petik dari pandami global ini ?,” tanya Sawitri dengan kalimat sedih dan keprihatinan yang dalam.

Umi Irene Handono membenarkan di jaman Rasululah wabah penyakit yang cepat menular seperti kusta juga sudah terjadi dan memakan banyak korban dan tuntunannya ada pada Hadist riwayat Imam Bukhari. Isinya ” Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.”.

Makna hadist itu terbukti bahwa jaga  jarak dan karantina diri dianjurkan sejak jaman Rasululah. Tujuan terbesar hukum Islam sebenarnya adalah melindungi manusia dari segala bahaya. “Memprioritaskan keselamatan dan kemaslahatan serta menolak mara bahaya, terlebih terkait dengan keselamatan jiwa raga,” pungkasnya

Di jaman Rasululah juga ada waba’ suatu penyakit yang menimpa banyak orang di suatu daerah tertentu atau sekarang disebut wabah atau epidemi. Jenis penyakitnya dapat berbeda dari jenis penyakit kebanyakan bahkan jenis penyakit yang belum pernah terjadi sebelumnya atau sesudahnya.

Menghadapi pandemi saat ini, Iffah Ainur Rachmah mengingatkan bahwa dalam Islam ada 3 pilar yaitu pilar pertama ketakwaan individu. kedua adalah masyarakat yang peduli dan ketiga adalah Negara yang menerapkan syariat. 

Ketiga pilar harus kompak karena jika pemerintah terus menerus membuat kebijakan yang salah dan masyarakat dan individu hanya diam tidak peduli kepada kebijakan salah maka kasus Covid-19 akan terus melambung.

Sebagai individu tidak peduli pada kondisi sesama umat seperti tetangganya yang terpaksa puasa karena tidak bisa membeli makanan maka di kehidupan akhirat akan dimintai pertanggungan jawab pula.

Dalam Islam, musibah adalah takdir dari Allah SWT. Pihak yang bertanggung jawab dalam musibah adalah negara sebagai penguasa/ pemimpin. Oleh karena itu negara bertanggung jawab terhadap urusan rakyatnya

Setiap hari, setiap nyawa melayang akibat Covid-19 ini akan dimintai pertanggungan jawabnya oleh Allah SWT dari para pemimpin pembuat kebijakan. Karena itu kepedulian umat sangat dibutuhkan. Miliki sikap amar ma’ruf nahi munkar yang ditekankan dalam mengantisipasi maupun menghilangkan kemunkaran dimana tujuan utamanya menjauhkan setiap hal negatif di tengah masyarakat tanpa menimbulkan dampak negatif yang lebih besar.

Ajaran Islam merupakan jalan hidup (way of life) yang senantiasa memberikan ketentraman jiwa bagi seluruh umat manusia dan sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin). Oleh karena itu Islam bukan hanya untuk Muslim tapi untuk seluruh umat manusia.

” Makanan halal bukan hanya untuk Muslim tapi untuk semua penduduk dunia. Sayangnya di negara kita hukum syariah belum diterapkan kecuali urusan ibadah yang diterapkan oleh individu dan muamalah yang baru diterapkan sebagian masyarakat. Muamalah merupakan aturan Allah untuk manusia dalam bergaul dengan manusia lainnya ( berinteraksi).” kata Iffah.

Sementara yang harusnya diterapkan negara yaitu uqubat ( sanksi), sistem ekonomi, pemerintahan, sospol dan jihad belum diterapkan sepenuhnya dengan tuntunan syariat. “Jihad dalam Islam artinya berjuang dan berusaha untuk menata masyarakat yang lebih baik dan bermartabat, seperti damai dan saling menghormati, bukan seperti yang digambarkan saat ini,” 

Dedeh Wahidah Ahmad mengatakan wabah dan bencana hadir atas izin Allah SWT dan datang berulang-ulang, berpola tapi manusia biasanya tomat alias tobat sesaat. Manusia mencari rezeki dari Allah dan karunia dari-Nya dengan berdagang dan aktivitas lainnya.

Semua itu agar manusia bersyukur kepada Allah SWT atas kenikmatan dan mentauhidkan-Nya dalam ibadah, mentaati-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.

Namun sifat manusia yang terus melanggar, pemimpin yang tidak amanah, rakyat yang tidak peduli dan tidak disiplin adalah bukti bahwa penghuni bumi ini sudah melakukan hal-hal yang melampaui batas.

“Melalui wabah Covid-19, maka orang-orang yang beriman bisa mengambil hikmahnya bahwa Allah akan menyelamatkan umat Muhammad SAW, untuk restart dab kembali ke ajaran inti,”

Coba renungkan, ujar Dedeh, setiap kali Ramadhan, sebagian dari kita malah berbuka puasa di mall-mall bahkan kehilangan sholat karena berbuka puasa bersama komunitasnya. Dulu kita lebih mementibgkan acara seremonial dan besok diingatkan Allah untuk fokus ke inti puasa, fokus di rumah dan beribadah.

Kita semua menjadi saksi bahwa negara Adi Daya, Adi Kuasa semua takluk pada virus tidak terlihat mata. Sistem kapitalisme, ideologi sekularisme, sifat individu maupun negara yang mengambil keuntungan diatas musibah serta nyawa para korban yang terabaikan akibat salah kebijakan maka pertanggungan jawabnya adalah langsung pada sang Khalik. 

Jangan lupa ada sistem Islam untuk menyelesaikannya. Tobat individu, tobat negara bukan hanya mengakui, menyesali kesalahan tapi hijrah ke sistem kepemimpinan yang Islami, tutup Dedeh.

 

ABK Bellissima, MSC Lirica dan Carnival Cruise Line, Mendarat di Bali

this formate

DUBAI, bisniswisata.co.id: PENERBANGAN pesawat Airbus 330-300 AirAsia X Malaysia dengan registrasi 9M-XXJ, menjejak landasan pacu bandara Ngurah Rai, Bali pada Kamis 9 April 2020, pukul 00.15 WITA. Terdapat 1 (satu) orang PMI-ABK yang batal untuk terbang dan saat berita ini diterbitkan, KJRI Dubai sedang mengkonfirmasi alasan pembatalan tersebut dengan pihak terkait.

“Kami tetap memonitor perkembangan PMI-ABK dimaksud untuk memastikan proses pemulangannya, jelas Konsul Jenderal Republik Indonesia di Dubai, Ridwan Hassan dalam surel yang diterima bisniswisata.

KJRI Dubai berkoordinasi dengan KBRI Abu Dhabi dan Pemerintah setempat telah memfasilitasi proses pemulangan (repatriasi) sebanyak 334 orang warga negara Indonesia anak buah kapal (PMI ABK) MSC Bellissima dan MSC Lirica. Proses repatriasi ini berhasil dilaksanakan atas koordinasi erat KJRI Dubai dengan pihak perusahaan, MSC Cruise S.A. di Jenewa, Swiss, serta pihak agensi Sharaf Shipping dan PT. Marinaio Prima Success.

MSC Lirica berlayar dari Khasab (Oman) dan berlabuh di Dubai pada tanggal 11 Maret 2020, sedangkan MSC Bellissima berlayar dari Sir Bani Yas (Abu Dhabi) dan berlabuh pada tanggal 12 Maret 2020 di Pelabuhan Dubai. Kedua kapal pesiar tersebut tidak dapat melanjutkan pelayaran ke destinasi selanjutnya dan harus berhenti di Dubai dikarenakan adanya pandemi COVID-19 yang berimbas pada pemberhentian sementara operasional pelayaran.

Para PMI-ABK tersebut kembali ke tanah air dengan menggunakan pesawat charter Air Asia, yang disediakan oleh pihak perusahaan, MSC Cuise S.A., dengan rute penerbangan Kuala Lumpur–Dubai–Kuala Lumpur–Denpasar. Penerbangan tersebut berangkat dari Bandara Internasional Dubai pada tanggal 8 April 2020 pukul 10.50 waktu setempat, transit di Kuala Lumpur untuk pengisian bahan bakar.

Seluruh PMI-ABK telah menjalani rapid test COVID-19 pada tanggal 2 April 2020 dengan hasil tes negatif COVID-19 dan dinyatakan sehat untuk terbang. Meski demikian, seluruh PMI-ABK tersebut tetap melakukan langkah-langkah pencegahan seperti penggunaan masker, pemeliharaan kesehatan dan kebersihan diri serta menerapkan social distancing.

“Setibanya di Indonesia, kami harap mereka juga menjalani rangkaian screening COVID-19, yang telah ditetapkan secara internasional,” tegas Ridwan Hasan.

Menurut pihak AirAsia Indonesia, setiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, seluruh WNI juga melalui serangkaian prosedur pengecekan kesehatan, termasuk rapid test yang dikoordinir oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Denpasar.

AirAsia menerapkan standar ketat dalam pengangkutan penumpang dan barang sesuai dengan rekomendasi otoritas kesehatan dunia serta kebijakan otoritas penerbangan di negara-negara yang akan diterbangi. AirAsia melakukan desinfeksi secara menyeluruh terhadap pesawat yang digunakan untuk menjamin keamanan, kenyamanan, dan keselamatan penumpang serta awak pesawat pada penerbangan berikutnya.

Di Rumah

Sementara Sekretaris Daerah Provinsi Bali yang juga selaku Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Bali Dewa Made Indra, menerangkan bahwa pada Jumat 10 April 2020, di terminal kedatangan Internasional bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai juga menerima kedatangan PMI dari luar negeri dimulai dari pukul 14.00 wita.

Kedatangan PMI berjumlah 537 terdiri dari 97 orang ABK Carnival Cruise Line, Miami – Amerika dan 440 orang ABK Carnival Cruise Line, New Orleans – Amerika. Tercatat — menurut Gubernur Bali W Koster, dalam virtual prescon beberapa hari lalu—diperkirakan ada 20. 000 PMI asal Bali di luar negeri.

Mereka disambut oleh petugas kesehatan dan petugas pendamping, petugas kesehatan  dari  KKP / Kantor Kesehatan Pelabuhan – Kesdam, Dokkes Polda Bali, Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Badung dan Kota Denpasar. Petugas pendamping (mengawasi kedatangan) – Disnaker ESDM – PolPP – BPBD – Dishub dan unsur TNI & Polri.

PMI kata Dewa Indra harus melewati protokol kesehatan dengan 3 tahap : tahap 1, PMI melakukan registrasi dan di cek suhu tubuh menggunakan thermo gun. Tahap 2, petugas kesehatan melakukan cek saturasi O² dan melakukan wawancara gejala batuk (batuk, sakit tenggorokan dan demam/riwayat demam) serta wawancara riwayat perjalanan. Tahap 3, petugas melakukan rapid test terhadap PMI.

Dewa Indra menekankan, penerimaan PMI telah disesuaikan dengan SOP yang berlaku. Untuk itu Dewa Indra meminta kepada para PMI yang berpotensi negatif untuk menjalankan karantina mandiri di rumah secara disiplin. Selain itu Satgas Gotong Royong yang ada di desa dengan dibantu Dinas Kesehatan Kab/Kota atau Puskesmas mau pun Puskesmas Pembantu agar secara disiplin memantau para PMI yang karantina secara mandiri.

Terkait dengan pekerja migran Indonesia (PMI) atau anak buah kapal (ABK) yang baru tiba, Dewa Indra menekankan agar masyarakat tidak melakukan penolakan, menjauhi apalagi melakukan pengucilan. Pemerintah Provinsi Bali telah menerapkan rapid test di Bandara Ngurah Rai,  rapid test yang menunjukkan potensi postitif maka akan dikarantina.

Sedangkan yang menunjukkan potensi negative dipersilahkan pulang dengan catatan karantina minimal 14 hari, dan pada hari ke 8 (delapan) mereka wajib kembali melakukan rapid test pada petugas kesehatan di masing-masing Kabupaten/Kota. Jika pada hari kedelapan hasilnya positif, maka akan dikarantina oleh pemerintah dan dilakukan tes PCR.