Pekerja Pariwisata Didorong Ciptakan Ide dan Peluang Baru di Era Normal Baru

this formate

Karyawan hotel terdampak COVID-19 kini bisa mengikuti pelatihan dengan  pendaftaran melalui ajar.id/registration ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id:Pekerja pariwisata didorong ciptakan ide dan peluang baru di era Normal Baru dan belajar langsung secara online dari para pakar dan profesional, kata Wisnu Bawa Tarunajaya, hari ini.

Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Pariwisata Kemenparekraf/Baparekraf, Wisnu Bawa Tarunajaya dalam suaran pers mengatakan pihaknya  mengajak pelaku pariwisata untuk menghasilkan ide-ide dalam menyongsong peluang dan tantangan baru di era normal baru pariwisata dan ekonomi kreatif. 

“Kami menggelar kegiatan Masterclass: The Inspiring Series, kelas inspirasi online yang menghadirkan topik berisi kisah inspiratif para pakar profesional bidang pariwisata yang telah berhasil di bidangnya,” ungkapnya 

Wisnu berharap kegiatan ini dapat memotivasi dan menginspirasi tenaga kerja pariwisata yang terkena dampak COVID-19 untuk bangkit sekaligus menciptakan ide-ide baru tenaga kerja atau SDM pariwisata Indonesia. 

“Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang besar terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Tenaga kerja pariwisata pun dituntut untuk dapat bangkit sekaligus beradaptasi dengan baik dalam masa normal baru,” tsmbahnya 

Lewat kegiatan ini diharapkan mereka dapat mendapatkan motivasi dan inspirasi baru untuk karier dan masa depan di era normal baru, kata Wisnu Bawa Tarunajaya. 

Rangkaian kegiatan “Master Class The Inspiring Series” online program akan berlangsung pada 6 Juli hingga 7 Agustus 2020. Dalam kegiatan ini akan menghadirkan tiga kisah inspirasi.

Kisah tersebut yakni “GPS your career dari Housekeeper menjadi Managing Director” dan “Dari Security menjadi bos roti ala bintang lima”. Selain itu juga kisah inspirasi tentang “Dari pegawai menjadi pengusaha kuliner online Ayam Laos”. 

Master Class The Inspiring Series” online program dotong pekerja pariwisata menjadi pengusaha

Program ini sendiri ditujukan bagi pelaku pariwisata khususnya tenaga kerja bidang pariwisata (level karyawan) terdampak COVID-19 yang saat ini tengah dirumahkan/PHK. Diutamakan berdomisili di lima destinasi pariwisata super prioritas dan destinasi pariwisata lainnya di Indonesia. 

Untuk mengikuti kegiatan ini, para pekerja pariwisata dapat melakukan pendaftaran melalui ajar.id/registration. Nantinya akan dilakukan seleksi bagi para calon peserta untuk dapat mengikuti kegiatan yang digelar secara gratis.

“Tentunya para pekerja pariwisata adalah yang memiliki komitmen dan motivasi tinggi untuk mengikuti pelatihan,” kata Wisnu. 

Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, Frans Teguh, mengatakan era normal baru memberikan tantangan yang tidak mudah dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. 

“Pandemi COVID-19 memberikan perubahan perilaku yang besar wisatawan dalam beraktivitas. Hal ini tentu harus diimbangi dengan pengetahuan dan keterampilan pekerja pariwisata yang meningkat,” kata Frans Teguh.. 

Dia ingin agar program ini mampu memberikan dukungan bagi tenaga kerja pariwisata dalam meningkatkan pengetahuan dan wawasan para pekerja pariwisata. 

“Selain juga menjadi motivasi dan inspirasi untuk menciptakan ide baru di masa pandemi atau era normal baru,” tambah  Frans Teguh. 

 

Masyarakat Memang Merindukan Traveling Kembali 

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Masyarakat memang merindukan traveling kembali. Kesimpulan itu dilaporkan situs Pegipegi.com untuk mengetahui apa saja perbedaan perilaku traveling saat New Normal. Pegipegi melakukan riset kepada lebih dari 900 responden yang tersebar di seluruh Indonesia pada 8 – 12 Juni 2020.

Sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan di Jakarta dan kota besar lainnya di Indonesia, sebagian besar dari masyarakat menunda banyak agenda demi memutus rantai virus Corona. 

Belakangan masyarakat sering mendengar gagasan New Normal atau situasi normal baru yang akan dilakukan oleh pemerintah. Bagi pecinta traveling, tentu keadaan seperti ini menjadikannya sangat rindu untuk bertualang kembali.

Pada era normal baru ini, tentunya akan ada perbedaan bagaimana kita memilih, mempersiapkan, hingga melakukan traveling. 

Hasil riset

Berdasarkan riset yang dilakukan, sebanyak 67% orang Indonesia tertarik untuk bepergian di era new normal, sementara 33% sisanya belum merencanakan bepergian. Setelah situasi new normal diberlakukan, sebanyak 73% orang berencana untuk bepergian dalam kurun waktu 2 bulan ke depan. 

Kebanyakan dari responden memilih keperluan keluarga (33%), disusul dengan traveling sebagai sarana refreshing (26%). Alasan lain yang disebutkan sebagai tujuan traveling adalah untuk urusan bisnis dan pendidikan. 

Bagi mereka yang berencana traveling, sebanyak masing-masing 31% ingin bepergian bersama pasangan dan solo traveling, bersama keluarga besar (28%), dan bersama teman (9%). Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar masyarakat memang merindukan traveling kembali.

Dalam riset tersebut, diketahui juga bahwa sebanyak 47% orang Indonesia menjadikan harga atau biaya sebagai faktor terpenting untuk mendukung rencana bepergian di era  New Normal. 

Disusul dengan faktor kebersihan (29%) dan kemudahan untuk reschedule dan refund (18%). Beberapa responden juga menyebutkan bahwa keamanan dan protokol terkait COVID-19 di area publik juga menjadi faktor penting bagi mereka. 

Artinya, masyarakat saat ini sangat peduli dengan protokol kesehatan yang harus diperhatikan pada saat bepergian pada situasi New Normal, karena situasi ini bukan berarti mengendurkan proteksi diri terhadap kemungkinan terpapar atau memaparkan virus COVID-19.

Bagi mereka yang berencana untuk traveling, 91% responden menjadikan destinasi domestik menjadi pilihan utama. Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta menjadi 3 kota besar yang paling diminati, meski banyak dari responden yang memilih kota lainnya sebagai tujuan seperti Surabaya, Bali, Semarang, Padang, Palembang, hingga Sabang. 

Sedangkan sedikitnya 9% lainnya memilih untuk traveling ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan beberapa negara lainnya seperti Arab Saudi, Australia, Korea, dan Belanda. Angka ini menunjukan bahwa masyarakat memilih destinasi yang relatif lebih dekat dan mudah dijangkau pada situasi New Normal. 

Hasil riset juga menunjukan bahwa wisata alam dan kuliner menjadi tujuan yang paling banyak diminati. Sedangkan moda transportasi yang paling banyak dipilih adalah pesawat (53%), disusul kendaraan pribadi (27%), kereta api (16%), dan bus (4%). Sedangkan untuk pilihan akomodasi, 49% memilih akomodasi dengan rentang budget sekitar Rp250.000 – Rp500.000/malam.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki keinginan yang tinggi untuk bepergian kembali terutama menikmati destinasi domestik Indonesia.  

Serlina Wijaya, selaku Chief Marketing Officer Pegipegi mengatakan, “Kami memahami masyarakat sejauh ini telah berusaha semaksimal mungkin untuk tetap di rumah dan menunda bepergian demi keamanan dan kesehatan bersama”. 

Pada masa transisi ini Pegipegi melihat keinginan untuk bepergian mulai meningkat. Maka dari itu, pihaknya memberikan penawaran berupa diskon untuk menikmati destinasi domestik dengan diskon staycation hingga 20%.

” Kami juga menghimbau kepada seluruh pelanggan untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan yang telah dianjurkan oleh pemerintah ketika bepergian.”

 

 

 

UNWTO: Negara-negara Kepulauan Butuh Dukungan Cepat  

this formate

Pantai Mount Irvine Beach, Tobaco, Trinidad yang sepi turis ( Foto: Alina Doodnath/ unsplash.com)

MADRID, bisniswisata.co.id: Organisasi Badan Pariwisata Dunia ( UNWTO) menyerukan perlunya dukungan yang kuat pada Negara-Negara Berkembang Kepulauan Kecil akibat terpuruknya sektor pariwisata secara tiba-tiba akibat pandemi global COVID-19.

Negara-negara berkembang  kepulauan kecil  atau Small Island Developing States ( SIDS) yang bergantung perekonomiannya dari sektor pariwisata itu telah menghancurkan ekonomi mereka.

Karena pariwisata adalah pilar sosio-ekonomi yang kuat dari banyak SIDS, tak heran dampak COVID-19 menempatkan jutaan pekerjaan dan bisnis berisiko sehingga kaum perempuan dan pekerja informal yang paling rentan terkena dampaknya.

Dalam seri Catatan Pengantar tentang Pariwisata dan COVID-19 yang kedua, UNWTO menyoroti dampak parah pandemi terhadap mata pencaharian di destinasi-destinasi ini. 

Menurut data terbaru dari badan khusus PBB, pariwisata menyumbang lebih dari 30% dari total ekspor di sebagian besar dari 38 SIDS.  Di beberapa negara, proporsi ini setinggi 90%, membuat mereka rentan terhadap penurunan jumlah wisatawan.

Guncangan besar semacam itu menyebabkan hilangnya pekerjaan secara besar-besaran dan penurunan tajam dalam devisa dan pendapatan pajak, yang membatasi kapasitas belanja publik dan kemampuan untuk menerapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk mendukung mata pencaharian melalui krisis.

Turis Internasional turun 47% dalam empat bulan pertama ke negara kepulauan kecil itu. Kedatangan wisatawan internasional telah turun secara dramatis, dan destinasi yang bergantung pada pariwisata untuk pekerjaan dan kesejahteraan ekonomi  paling terpukul.

Pada 2019, SIDS menyambut sekitar 44 juta kedatangan wisatawan internasional dan sektor ini memperoleh US$ 55 miliar dalam pendapatan ekspor.

Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili mengatakan: “Pandemi COVID-19 telah menyebabkan gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perlu langkah-langkah untuk mengurangi dampak dan merangsang pemulihan pariwisata sekarang lebih penting daripada sebelumnya. “

PBB memperkirakan bahwa ekonomi SIDS dapat menyusut sebesar 4,7% pada tahun 2020 dibandingkan dengan 3% untuk ekonomi dunia.

UNWTO Briefing Note juga menyoroti risiko yang ditimbulkan bagi mereka yang bekerja informal dengan penurunan kedatangan wisatawan yang tiba-tiba anjlok drastis di SIDS.  

Sebagai sebuah sektor, pariwisata adalah perusahaan global terkemuka dan, menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), lebih dari separuh dari semua pekerja di sektor akomodasi dan layanan makanan di sebagian besar data pelaporan SIDS adalah perempuan.

Dalam banyak hal, proporsi ini bahkan lebih tinggi, termasuk di Haiti dan Trinidad dan Tobago (70% +). Pada saat yang sama, pekerja dalam perekonomian informal berisiko jatuh ke dalam kemiskinan karena dampak COVID-19 dirasakan di SIDS dan negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah lainnya di seluruh dunia.

Saat ini United Nations Department of Economic and Social Affairs mendaftarkan 52 negara-negara berkembang kepulauan kecil. Mereka dibagi menjadi tiga wilayah geografis: Karibia; Pasifik; dan Afrika, Samudra Hindia, Mediterania, dan Laut China Selatan (AIMS).

Masing-masing wilayah ini memiliki badan kerjasama regional: Caribbean Community, Pacific Islands Forum, dan Indian Ocean Commission. Selain itu, mayoritas negara-negara SIDS adalah anggota Aliansi Negara Kepulauan Kecil (Alliance of Small Island States), yang melakukan tugas lobi dan negosiasi bagi SIDS di dalam sistem PBB.

 

BAGBNB Ganti Nama &  Beradaptasi dengan Prosedur Keselamatan Perjalanan yang Baru

this formate

NEW YORK, bisniswisata.co.id: BAGBNB, jaringan penyimpanan bagasi terkemuka yang melayani tujuan populer di seluruh dunia, mengumumkan perubahan nama menjadi Radical Storage yang semuanya baru.

Mengutip Travel Daily News mengungkapkan bahwa  jaringan penyimpanan bagasi  ini menjadikan pelancong sumber daya yang aman, terjamin, dan nyaman saat mereka menjelajahi kota-kota di seluruh dunia dalam era kenormalan baru. 

Aplikasi RadicalStorage.com dan Radical yang baru memungkinkan wisatawan untuk menemukan lokasi penyimpanan bagasi berbasis bisnis di ribuan kota, memesan di muka pengiriman barang bawaan mereka, dan check in dan out tanpa hambatan saat mengantar atau mengambil barang bawaan mereka.  

Semua melalui prosedur tanpa kontak yang baru, para pelancong dapat dengan aman turun dan mengambil barang-barang mereka dengan memindai kode QR khusus pengguna mereka dari perangkat mobile sehingga memberi mereka lebih banyak waktu luang untuk menjelajahi kota yang mereka kunjungi.

“Karena COVID-19, lanskap perjalanan telah berubah dan kami ingin memastikan bahwa para pelancong memiliki cara yang aman dan nyaman untuk menikmati perjalanan mereka sepenuhnya,” kata Alessandro Seina, CEO dan Co-Founder of Radical.

“Platform inovatif kami yang baru memungkinkan wisatawan untuk menyimpan tas mereka selama yang mereka inginkan sambil menikmati waktu mereka di kota, tanpa tekanan karena harus melakukan kontak fisik apa pun dengan tuan rumah penyimpanan Radikal mereka.  Ini adalah sesuatu yang penting secara eksponensial karena kita semua beradaptasi dengan prosedur keselamatan perjalanan baru di seluruh dunia. “

Platform Radical memiliki lebih dari 3.500 “Angels,” yang merupakan “host” perusahaan, di seluruh dunia untuk penyimpanan bagasi yang nyaman.  Tuan rumah ini adalah mitra pra-penyaringan termasuk hotel, restoran dan bistro, toko ritel, toko penyewaan sepeda, dan banyak lagi.  

Tersedia di lebih dari 70 negara dan 350 kota besar di seluruh dunia, Radical Storage menawarkan pengalaman perjalanan yang disederhanakan bagi pelancong untuk memaksimalkan waktu yang dihabiskan di kota, tanpa harus khawatir dengan barang bawaan mereka. 

Biaya penyimpanan adalah standar terlepas dari ukuran atau berat tas, dengan masing-masing tas berharga setara dengan $ 6 di kota-kota AS, atau 5 euro di kota-kota Eropa.

Setelah mengumpulkan $ 2,7 Juta dalam pendanaan Seri A pada awal 2020 untuk mendukung rebrand-nya, perusahaan ingin menjadi titik rujukan untuk check-in dan memeriksa pengalaman di kota-kota di seluruh dunia, mengembangkan produk baru untuk mendukung pelancong ketika mereka  tiba maupun  meninggalkan tempat tujuan mereka.

 

Ada Ceruk Pasar Digital Nomad & Bali jadi Rumah ke Dua

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Ceruk pasar digital nomad  (pekerja daring) masuk Bali seirama dengan berkembangnya jasa digitalisasi perekonomian dunia. Namun belum mendapat perhatian khusus dari pihak- pihak terkait.

Yang dipahami adalah meningkatnya pangsa pasar wisatawan belia dengan lama tinggal panjang, meningkatnya angka repeater guest yang dalam setahun bolak- balik Bali dua, tiga kali, meningkatnya permintaan kos- kosan, penyewaan villa- villa milik warga negara asing dengan fasilitas tertentu.

Berkembangnya coffee shop ber fasilitas wifi berkecepatan tinggi, penyewaan kendaraan baik roda dua mau pun roda empat jangka panjang dan outlet kurir kebutuhan mamin, jasa cuci pakaian, mau pun jasa cleaning service kamar kos merebak.

Berkembangnya bisnis co-working space baik yang dimiliki warga negara asing mau pun warga Indonesia serta merebaknya tawaran live-in dalam kawasan pemukiman dengan fasilitas lengkap dari pusat belanja, pusat kebugaran sampai tempat kerja santai.

“Trend digital nomad masuk Bali sudah lebih dari sepuluh tahun lalu ya, masyarakat Bali dan pejabat terkait yang kurang jeli melihat hal ini. Prilaku pasar khusus, mulai diperhatikan setelah cyber crime meningkat”, ungkap salah seorang pekerja digital asal Perancis yang telah bertahun- tahun bekerja dari Bali.

Berbekal visa kunjungan wisata, perancang busana asal Perancis tersebut menyewa kamar tahunan di wilayah Umalas dan bekerja dari kamarnya. Jika bosan, dia memilih menyewa meja di co working space, atau duduk di café, di restorant di wilayah Kuta, Seminyak, sembari tetap bekerja.

“Bali itu sudah rumah ke dua kami, kalangan digital nomad. Tidak hanya dari kalangan belia, yang sudah berkeluarga pun, tidak sedikit memindahkan kantornya ke rumah sewa di Bali. Atau sudah memiliki rumah, villa sendiri di Bali. Lihat saja, pada saat darurat COVID- 19, berapa ribu warga asing yang memilih tetap tinggal di Bali dan memanfaatkan fasilitas kelonggaran keimigrasian pemerintah Indonesia,” paparnya lebih lanjut.

Diprediksi ada 200.000  pekerja digital nomads, yang menetap dan bekerja di Bali pada Juni 2019. Belum terlambat, jika pelaku usaha wisata dan pemerintah menggarap peluang bisnis ceruk pasar digital nomad. Dengan menyiapkan ekosistem yang aman baik bagi pasar mau pun Bali sebagai destinasi.  Pasalnya, pasar potensial tersebut tidak hanya membawa peluang juga membawa dampak yang wajib diantiasipasi.

Dari riset IDC dalam dua tahun kedepan setidaknya terjadi peningkatan 50 % pekerja digital masuk pasar kerja dunia. Peluang terbuka bagi Bali sebagai destinasi wisata sekaligus destinasi bekerja produktif. Ungkap  Christina Halang, BA, JD Law ( Founder & CEO  Panorama Growth ) dalam Webinar Road Map to Bali Next Normal : Imagine Working from Bali, Why Not?

Webinar diselenggarakan Bali Tourism Board, bekerjasama dengan BaliCEB, Bank Indonesia menghadirkan pembicara Paulus Herry MA ( MD AVB ASIA ), Allen Jordan (CEO Goshen Group), Christina Halang, BA, JD Law ( Founder & CEO  Panorama Growth ), Kelvin Tan, PHD MBA  ( Co Founder  Eyemail Technology ).

Pengantar diberikan Wakil Gubernur Bali yang juga Ketua BPD PHRI Bali, Ketua GIPI dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Prov. Bali. Gambaran pasar digital nomad dari beberapa negara diberikan oleh Dubes RI untuk PRC dan Mongolia, Djauhari Oratmangun dan  Pratito Soeharyo dutabesar Indonesia untuk Laos. Menghadirkan pekerja seni film Jeremy Thomas dari London.

Para digital nomad menurut Christina mengutamakan mental wellness mengutamakan keseimbangan bekerja dengan kehidupan sosialnya. “Estonia, negara yang bisa dijadikan contoh mengelola pasar digital nomad,”jelasnya.

Pilihan Pertama

Di negeri orang, sewa rumah dikawasan yang disenangi, status tetap bekerja. Teknologi mempermudah semua urusan pekerjaan sepanjang ada jaringan internet yang handal. @RI

Dalam kekinian dunia, bekerja secara daring sangat memungkinkan, tegas  Jeremy Thomas dari London, Inggris dan pada saat yang sama mengerjakan satu proyek film di Indonesia. Tim kerja tersebar di beberapa wilayah untuk pengambilan gambar dan kelengkapan produksi lainnya.

“Pandemi ini memang sebuah isu global, namun ide Work from Bali merupakan ide yang brilian,” ungkapnya.

Untuk dapat memanfaatkan kecepatan teknologi, peluang pasar dan posisi strategis Bali, perlu dibentuk ekosistem digital dan leader yang mampu mendrive peluang tersebut menjadi nyata, ungkap Kelvin Tan menambahkan.

Sementara pegiat dunia digital Paulus Herry Ariyanto memaparkan data dan pemikiran untuk mengelaborasi potensi ide Work from Bali. Mengutip hasil survey Future of Works  bahwa 78 %  orang memilih jadwal waktu bekerja yang fleksibel serta telecommuting (komunikasi jarak jauh) ; 82 % orang mengharapkan keseimbangan dalam hal bekerja dan kehidupan.

Sedangkan hasil dari riset Gallup menyatakan 54 % orang berani meninggalkan pekerjaannya jika mereka mendapat pekerjaan baru yang dapat memberikan fleksibilitas dalam ruang dan waktu.

“ Perkembangan digital membawa perubahan peradaban dunia, termasuk sikap seseorang atas sebuah pekerjaan,” ungkapnya.

Lebih lanjut dipaparkan bahwa survey Nomad List untuk Travel Destination, Bali merupakan tujuan nomor satu bagi kalangan digital nomad . Alasan utama cuaca yang bagus, biaya hidup lebih murah dari kota-kota lainnya, pantai-pantai yang indah,  kaya akan sejarah dan jati diri budaya, serta aman untuk tinggal.

Para pekerja daring (digital nomad) memiliki kekuatan belanja tidak kecil yaitu USD 1300 / orang. Dan ini , menjadi kontribusi untuk ekonomi Bali. “Lebih baik jika setiap kabupaten memiliki area khusus ekosistem digital nomad.  Jangan tinggalkan banjar, karena desa / banjar harus mendapatkan efek sebesar- besarnya dengan kehadiran digital nomad di wilayahnya.  Dan level berikutnya tidak hanya menjadi tempat digital nomad namun juga mampu menumbuhkan digital worker,” jelas Paulus Herry mengingatkan.

Hal tersebut sangat sejalan dengan visi besar pemerintah provinsi Bali melalui RAPERDA RPIP (Rencana Pembangunan Industri bali 2020-2040) dalam tiga pilar utamanya yaitu pilar pariwisata, pilar agrikultur berbasis teknologi dan Industri 4.0. Semoga.***

Kursi Pesawat di Masa Mendatang, Bisa Jadi Akan Seperti Ini

this formate

Kursi double-decker di pesawat (Foto: Zephyr Aerospace )

SAN FRANCISCO, bisniswisata.co.id: Pandemi Covid-19 terbukti telah mendorong banyak kreativitas. Yang terkini adalah kursi model double-decker dalam pesawat. Zephyr Aerospace, sebuah perusahaan yang berbasis di San Francisco, menawarkan solusi agar penumpang dalam pesawat tetap dapat menjaga jarak sosial. 

Menurut mereka, kursi bertingkat bisa menjadi bahan pertimbanan untuk perjalanan ekonomi di masa pandemi Covid-19. Apalagi, maskapai penerbangan kini terikat dengan persyaratan jarak sosial jika ingin kembali beroperasi.

Sebuah design yang menata ulang kabin pesawat dengan kursi double-decker sedang ramai dipercakapkan sebagai solusi menciptakan rasa aman dan nyaman bagi penumpang yang hendak bepergian tanpa khawatir terinfeksi Covid-19. 

Perancangnya, Jeffrey O’Neill, yakin kreasinya mampu menciptakan ruang-ruang isolasi yang aman dan nyaman bagi penumpang. Kelak, cara ini menjadi hal baru yang harus diadaptasi.

“Kami percaya, pelancong tipe baru akan membutuhkan privasi. Mereka juga mau membayar lebih untuk sebuah kenyamanan dan bisa tidur selama dalam perjalanan,” kata O’Neill, pendiri dan CEO Zephyr Aerospace, kepada CNN Travel .

Zephyr Aerospace menyebutnya ‘Kursi Zephyr’ yang dirancang untuk semua orang. Kursi ini memungkinkan penumpang memilih bagaimana mereka terbang, apakah berbaring benar-benar datar, duduk, atau duduk tegak dengan kaki terentang penuh.

Bukan hanya itu, ‘Kursi Zephyr’ juga bisa ditumpuk alias bertingkat dua dengan memanfaatkan ruang penyimpanan bagasi. Jadi, konsep double-decker Zephyr itu memakai ruang yang ada antara kursi standar dan bagasi kabin. Mereka menyadari space dalam pesawat itu mahal. Maskapai biasanya tidak mau mengorbankan ruang.

Gagasannya memang masih sangat awal, meski O’Neill mengaku telah mempresentasikan idenya ke empat maskapai besar, termasuk Delta. Langkah selanjutnya adalah memastikan produknya dapat lulus uji keamanan yang membutuhkan waktu setidaknya tiga tahun.

 

 

Akhiri Masa Tugas di Swedia dan Latvia, Dubes Bagas Hapsoro Berpamitan

this formate

Dubes Bagas Hapsoro mahir bermain organ sekaligus melakukan diplomasi musik merekatkan hubungan antar warga WNI dan antar negara. ( Foto: Kedubes RI Swedia.) 

STOCKHOLM. Swedia, bisniswisata.co.id: Duta Besar RI di Swedia dan Latvia, Bagas Hapsoro, dan istri, Ning Hapsoro berpamitan dengan WNI di kedua negara itu setelah bertugas selama 4 tahun 4 bulan.

Kegiatan perpisahan  dilakukan secara online dikarenakan mengikuti aturan Pemerintah Swedia yang masih melakukan pembatasan perkumpulan maksimal 50 orang.

Pada kesempatan tersebut, Dubes Bagas menyatakan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh WNI di Swedia dan Latvia atas kerja sama dan saling koordinasi yang baik dengan KBRI Stockholm. 

“Khususnya juga untuk kerja sama dan kepedulian masyarakat satu sama lain dalam masa pandemi COVID-19. Ini merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk bersatu sebagai sebuah keluarga besar menghadapi pandemi ini,” ujar Bagas Hapsoro.

Kegiatan diisi dengan pemutaran video kesan pesan dan penampilan dari berbagai pihak. Diantaranya adalah dari Honorary Consul of the Republic of Indonesia in Latvia, Mr. Valdis Tilgalis; SIS (Swedish Indonesian Society); PRII (Persekutuan Reform Injili Indonesia).

Berpartisipasi pula BBVS (Banjar Buana Vasa Swedia); Pengajian Al-Ikhlas; Indonesiska Föreningen i Göteborg; KKIS (Komunitas Katolik Indonesia Swedia); Indonesiska Kulturföreningen i Göteborg; dan sejumlah masyarakat Indonesia lainnya di Swedia dan Latvia.

Terdapat juga penampilan dari Saung Angklung Udjo yang memainkan lagu Dancing Queen dan Kopi Dangdut; penampilan gamelan oleh Tim Gamelan Gongbron dan Tim Gamelan Parakanca Duta.

Selain itu terdapat banyak lagi penampilan nyanyi dan tari. Masyarakat Indonesia di Swedia dan Latvia sangat antusias dengan begitu banyaknya video penampilan yang dikirimkan.

Duta Besar Bagas Hapsoro telah mengakhiri masa dinas pengabdiannya di Kementerian Luar Negeri selama 36 tahun dan sebagai Duta Besar RI di Swedia dan Latvia yang bertempat di Stockholm, Swedia selama 4 tahun 4 bulan.

Jumlah wisatawan asal Swedia ke Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Yang awalnya pada tahun 2015 hanya sebanyak 37.555 orang, pada periode Januari-Desember 2019 telah meningkat menjadi 56.380 orang.

Selain itu, pada tahun 2017, Raja Swedia, King Carl XVI Gustaf, melakukan Kunjungan Kenegaraan ke Indonesia. King Carl bahkan juga menyempatkan diri ke Bandung dan bertemu dengan Gubernur Ridwan Kamil beserta jajarannya.

Begitu banyak pencapaian beliau, terkhusus dalam masa kedinasannya di Swedia, khususnya dalam memperkuat hubungan bilateral dalam sektor politik, ekonomi, dan people to people contact

Selama 3 tahun berturut-turut, yaitu pada tahun 2017-2019, Kegiatan “Kampung Indonesia” dilaksanakan di Stockholm, Swedia. “Kampung Indonesia” menjadi ajang promosi seni, budaya, pariwisata, bahkan perekonomian Indonesia ke Swedia. 

Pada perhelatan terakhir “Kampung Indonesia” di Bulan Juli 2019, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, berkenan membuka secara langsung, dan untuk menjajaki lebih jauh berbagai peluang kerja sama dengan Swedia. 

 

Sosok Bripka Suranto, Sukses Wujudkan Ketahanan Pangan dan Produk Penunjang Pariwisata  

this formate

Bripka Suranto saat mendampingi warga untuk ketahanan pangan dan dorong  produksi dodol salak

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: kata fastabiqul khairat yang artinya berlomba-lombalah untuk berbuat kebajikan yang sesuai dengan tuntunan agama, sesuai dengan perintah allah tampak dalam aktivitasnya sehari-harinya.

Itulah Sosok Bripka Suranto, Bhabinkamtibmas Polres Kulon Progo yang sukses mendampingi warga wujudkan ketahanan pangan sejak wabah pandemi CKVID-19 menerpa Indonesia bahkan  seluruh dunia.

Banyak warga yang gelisah karena khawatir kebutuhan primer terutama makan tak dapat terpenuhi. Nah, untuk mengurangi kegelisahan tersebut, Bripka Suranto seorang anggota Bhabinkamtibmas Polsek Girimulyo Polres Kulon Progo, Yogyakarta ini berinisiatif mendampingi warga untuk mewujudkan ketahanan pangan.

Sebagai anggota Polri, sosok yang bersahaja ini merasa terpanggil dan bertanggung jawab atas penghidupan warga ditengah pandemi. Apalagi, masyarakat yang tinggal di wilayah perbukitan Menoreh tersebut tentu semakin kesulitan mendapatkan pemasukan lantaran hanya mengandalkan dari kebun dan ternak..

“Agar warga punya aktivitas produktif dan bernilai ekonomi. Saya mengajak warga untuk mengolah salak menjadi dodol salak. Sehingga, dodol tersebut dapat dipasarkan ke kota-kota dan dapat disimpan bertahan lama sampai nanti obyek wisata dibuka, memasuki  New Normal,” kata Bripka Suranto.

Produk dodol salak dan minuman instan untuk oleh-oleh wisatawan

Dodol salak buatan warga bukit Menoreh pun mendapat sambutan positif masyarakat. “Dodol salak dikemas dengan baik dan dipasarkan ke Kota Jogja,” terang Suranto.

Selain dodol salak, Suranto juga mendampingi warga membuat makanan ringan berupa keripik pegagan. Biasanya, rumput pegagan ini hanya digunakan sebagai pakan ternak. Ditangan Suranto dan warga bukit menoreh, olahan keripik pegangan terasa lezat dan renyah.

“Ada juga warga yang membuat obat herbal dari bahan jahe, kunyit dan rempah-rempah. Minuman herbal ini sangat cocok untuk menjaga stamina tubuh agar tidak mudah sakit dan capek. Tentunya bisa meningkatkan imunitas dan Insya Allah bisa menangkal dari paparan virus Corona itu” ungkap Suranto.

Menurut dia, dalam kondisi apapun masyarakat harus tetep semangat dalam menjalankan aktivitas dan kreatif sehingga dalam masa sulitpun tetap mampu berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Sesuai arahan dari atasannya, Kapolres Kulonprogo, AKBP Tartono agar masa tatanan kehidupan baru harus disiapkan dengan baik, maka dia banyak mendampingi warga untuk melakukan pendisiplinan terhadap protokol kesehatan, mencegah penyebaran Virus Corona di wilayah Kulonprogo

“Kami minta anggota masyarakat untuk selalu menaati protokol kesehatan seperti pakai masker, cuci tangan pakai sabun di air mengalir, jaga jarak dan lainnya,” jelasnya.

Tak heran buah dari kepedulian Bripka Suranto, dalam apel gelar pasukan untuk mempersiapkan personel dalam menghadapi masa tatanan kehidupan baru sekaligus kesiapan Hari Bhayangkara ke-74 tahun 2020, dia termasuk yang mendapat penghargaan dari Kapolres Kulonprogo.

Bripka Suranto Bhabinkamtibmas Desa Girimulyo dan rekan-rekannya seperti Bripda Arif Mutohar Bamin Subbaghumas Bagops dan Bripda Yusuf Kurniawan Bamin Subbaghumas Bagops yang telah membuat video Kulonprogo Peduli Polres Kulonprogo Berbagi dalam aksi solidaritas di tengah pandemi Covid-19.

Sosok Bripka Suranto, selain sukses meampingi warga wujudkan ketahanan pangan juga kegiatan usaha kecil pembuatan dodol salak yang mendukung pariwisata Kulonprogo sebagai oleh’oleh yang khas.

 

 

 

UMKM Perlu Pahami Cara Business Hack Secara Cepat  

this formate

JAKARTA,bisniswisata.co.id: Usaha Mikro Kecil Menengah ( UMKM) yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, sedang diuji di masa pandemi COVID-19 ini. Bagaimana tidak, Kontribusi UKM/UMKM terhadap PDB mencapai 60 persen dan menyerap 97 persen tenaga kerja. Namun UKM/UMKM menjadi sektor yang paling terpuruk selama pandemi Covid19.

” Untuk itu kami terpanggil untuk memberikan solusi bisnis bagi para UMKM/IKM Indonesia melalui Webinar Series dengan tema ‘Business Hack’, yang bekerjasama dengan STP IPB dan IPB,” kata Frans Budi Pranata, CFO & CIO PT. UCOACH Djivasrana Grahasada, hati ini.

Menurut dia dengan melakukan transformasi kedalam digitalisasi bisnis maka para pelaku uMKM dapat beradaptasi dan menjadi entrepreneur yang berhasil di era New Society 5.0 ini. 

Webinar seri ini juga di disain untuk mendukung program pemerintah untuk meningkatkan entrepreneurship terutama dikalangan para pengusaha pemula (Startup). Menteri Koperasi dan UKM RI, Drs. Teten Masduki  memberikan Keynote pada webinar sebelumnya mengatakan lebih dari 60 juta UMKM di Indonesia, namun Jiwa Kewirausahaannya masih lemah.

Teten Masduki menyambut baik upaya PT. UCOACH Djivasrana Grahasada pada pelaku UMKM dan sepakat untuk bekerjasama dan berkoordinasi melalui, Deputi SDM Kementerian Koperasi dan UKM RI, Bapak Arif Rahman Hakim.

” Intinya masih banyak yang  belum mau naik kelas. Ini yang menjadi perhatian bagi pemerintah maupun pihaknya dalam menyediakan wadah Business HACK ini,” kata Frans.

Para nara sumber serial webinar PT. UCOACH Djivasrana Grahasada hingga Desember 2020

Mengapa Business Hack

Dari hasil pengamatannya setelah beberapa kali mengadakan webinar dan berdiskusi dengan para pelaku bisnis, mayoritas pengusaha mengingini solusi praktis dan cepat. Oleh karena itu, tema ‘Business Hack’ dapat memberikan solusi dan tips bisnis dari para praktisi terbaik di bidangnya.

Diharapkan para pelaku usaha ini dapat keluar dari permasalahan danbahkan berhasil menjadi entrepreneur di era New Normal ini. Program Business Hack memfasilitasi para pengusaha SME, UKM/UMKM agar dapat meretas (hacking) bisnisnya untuk maju secara cepat.

“Program ini bukan sekedar webinar, melainkan punya aksi plus  yang akan membantu pengusaha bisa maju. Setelah mengikuti serial webinar, ternyata para peserta memerlukan hacking bisnis secara cepat bisa  mendapatkan pendampingan melalui aplikasi Ucoach.

Pendampingan dalam melaksanakan hacking bisnisnya, melalui fitur reminder, agar seluruh tugas hacking bisnis yang telah dibuat terlaksana sesuai waktunya.

Pada webinar sebelumnya Menteri Riset dan Teknologi Indonesia / Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Indonesia, Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D. mengungkapkan tentang pembiayaan yang belum dapat tersalurkan dengan baik, ditambah lagi masih banyaknya perantara, membuat pentingnya, UMKM dapat menggunakan teknologi dan digitalisasi untuk solusinya.

Hal yang  juga tidak kalah pentingnya adalah menumbuhkan jiwa kewirausahaan yang masih kurang di negeri ini. Dan penguatan ekosistem ekononi digital, salah satunya Aplikasi. Pendekatan mikro tapi dengan bahasan perusahaan besar, juga inovasi berbasis klasterisasi.

Dengan Moderator Pak Andy F. Noya, pihaknya juga menghadirkan nara sumber seperti Sir Harry Darsono Ph.D,  Andrew Tani dan Yongky Susilo, untuk memberikan wawasan, motivasi dan perkembangan data dipasar.

Tiap Jumat berikutnya sampai 11 Desember 2020, pihaknya akan terus mendatangkan berbagai narasumber yang ahli di bidangnya masing-masing, baik dari dalam negeri serta mancanegara, seperti  Andrew Matthew, pengarang buku BEING HAPPY yang telah laris 8 juta eksemplar, Arthur Carmazzi, TOP 10 Leadership and Culture Professional, dengan “HOW to Earn USD 1 Million Thru Online”.

Masih banyak lagi pembicara hebat lainnya seperti : Eloy Zalukhu, Yuswohady Siwo, Susan Hartawan, Wempy Dyocta Koto, Fetty Kwartati, Arto Subiantoro, Mia Fawzia, Prof Roy Sembel, Donni Hadiwaluyo, Edo Lavika, Teguh Harapan, Elvi Angelina, Suherman Widjaja, Juanda Rovelim, Margetty Herwin, Mario Agustian Lasut, Zamar Rimba, Ayu Purwarianti, Anthony Gunawan, Antonio Dio Martin, Hendra Suwardi, Ruby Herman, Michael Yo, Vicktor Aritonang, Sudimin Mina.

“Tentunya semua ini akan menjadikan UMKM Indonesia cepat bangkit dan menyerap semua informasi untuk menjadikan mereka cepat naik kelas,” kata Frans Budi Pranata.

Mengembalikan Kepercayaan Wisatawan Jadi Kunci Sukses Pemulihan Sektor Pariwisata

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Seluruh pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif tanah air harus dapat berkolaborasi dan saling mendukung dalam upaya meningkatkan kembali kepercayaan wisatawan terhadap pariwisata di tanah air pascapandemi COVID-19.

Sebab, mengembalikan kepercayaan wisatawan dianggap sebagai kunci sukses dalam upaya pemulihan sektor pariwisata di tanah air.

“Indonesia mengalami lack of trust of destination dari wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik, sehingga kita harus berupaya bersama meningkatkan kepercayaan terhadap wisatawan,” kata Nia Niscaya, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf, Sabtu.

Nia Niscaya saat berbicara dalam bincang bisnis daring ASITA bertajuk “Sinergi ASITA dan Pemerintah Menyikapi Kebijakan New Normal Pariwisata Indonesia” mengatakan, penurunan kepercayaan wisatawan terhadap destinasi akibat COVID-19 sebenarnya terjadi di seluruh negara di dunia.

Di Indonesia, seiring dengan penanganan COVID-19 oleh pemerintah, sentimen dari sejumlah negara terhadap pasar Indonesia sudah mengalami pertumbuhan positif dari yang sebelumnya berada di zona merah atau di bawah 0 persen.

“Meski pada periode 9 hingga 16 Juni 2020 berdasarkan Sprinklr Analytic (social listening tools) sentimen sejumlah negara mulai terjadi peningkatan, tapi ini jangan lantas membuat kita cukup puas. Secara umum persepsi mereka masih sekitar 50 %” kata Nia Niscaya.

Dalam diskusi tersebut turut menghadirkan Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Kosmas Harefa, Duta Besar LBPP RI untuk Singapura Ngurah Swajaya, serta Duta Besar LBPP Indonesia untuk Laos Pratito Soeharyo.

Untuk dapat meningkatkan kembali kepercayaan wisatawan dan pariwisata nasional pada umumnya, Kemenparekraf/Baparekraf kata Nia telah menyusun protokol Cleanliness, Health and Safety (CHS) antara lain dalam bentuk video edukasi dan handbook yang ditujukan kepada para pelaku usaha parekraf.

Selain itu juga  melakukan simulasi dan uji coba penerapan protokol sekaligus mendokumentasikan sebagai bahan untuk soft campaign dan tutorial. Juga sosialiasi/pelatihan serta publikasi kepada para pelaku dan masyarakat domestik serta internasional melalui berbagai channel.

“Inilah pokok persoalan kalau bicara wisatawan. Kesuksesan Indonesia dalam penanganan COVID-19 ini bisa menjadi salah satu penilaian dalam pembentukan nation branding. Karena itu perlu sinergi dari ASITA juga perwakilan di negara-negara pasar untuk bagaimana meningkatkan kepercayaan wisatawan,” kata Nia.

Berkaca dari negara-negara lain yang telah mampu pulih dari COVID-19, pasar dalam negeri akan berjalan lebih dahulu. Strategi ini juga akan dijalankan Kemenparekraf/Baparekraf dengan kampanye #DiIndonesiaAja dengan segmentasi pasar keluarga, pasangan, wisatawan perorangan (FIT), dan pemerintah.

Begitu juga untuk pasar wisatawan mancanegara, dengan menyiapkan strategi kampanye #DreamNowTravelTomorrow sebagai branding protokol CHS. Yakni menyampaikan pesan kepada wisman terkait protokol kesehatan dan inspiring content dan tetap menjaga komunikasi dengan partner di originasi dan destinasi untuk tetap hadir dan memberikan inspirasi di pasar.

“Intinya kita harus bisa hadir di pasar dengan menampilkan konten-konten yang memberi inspirasi pada wisatawan,” kata Nia Niscaya.

Duta Besar LBPP RI untuk Singapura Ngurah Swajaya sepakat dan siap mendukung strategi yang disiapkan Kemenparekraf/Baparekraf karena pariwisata erat kaitannya dengan kepercayaan.

Ngurah mengatakan pihaknya akan mendukung dengan turut membuat konten-konten terkait penanganan COVID-19 di Indonesia dan disiarkan melalui seluruh media yang dimiliki.

“Pasar domestik di Indonesia berpotensi luar biasa namun hal itu tentu tidak cukup dan perlu ditopang dengan wisatawan mancanegara. Sehingga citra akan pariwisata di Indonesia terus berada di benak wisatawan,” kata Ngurah.

Sementara Duta Besar LBPP Indonesia untuk Laos, Pratito Soeharyo mengatakan pihaknya juga akan mendorong para diaspora Indonesia, terutama yang berada di Laos untuk mempromosikan kebijakan pariwisata Indonesia.

Pratito mengatakan pihaknya juga telah memiliki berbagai program untuk mempromosikan pariwisata Indonesia di Laos. Salah satunya mendorong pembukaan penerbangan langsung dari Luang Prabang ke Bali.

“Kita juga telah memiliki rencana program untuk famtrip Key Opinion Leaders dan jurnalis dari Laos,” kata Pratito.

Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kosmas Harefa mengatakan pihaknya memiliki 13 program dalam mendukung sektor pariwisata di masa normal baru atau pascapandemi COVID-19.

Diantaranya melakukan sinkronisasi anggaran belanja terkait pariwisata yang tersebar di berbagai kementerian/lembaga juga mendorong anggaran belanja perjalanan dinas dalam negeri (termasuk kegiatan MICE) seluruh K/L agar dialokasikan ke daerah yang bergantung pada sektor pariwisata. “Jumlah ini tidak sedikit, ini bisa jadi kekuatan perekonomian di destinasi kita,” kata Kosmas.