KUALA LUMPUR, bisniswisata.co.id: Malaysia membuka kembali sektor Meeting, Incentive, Convention dan Exhibition (MICE) yang ditandai dengan penyelenggaraan seminar pariwisata yang diselenggarakan oleh Persatuan Agen Pelancongan Malaysia (MATA) di Kuala Lumpur, kemarin.
Acara itu diselenggarakan bersamaan dengan peluncuran portal booking wisata Malaysia www.ditofa.com bertempat di gedung PWTC yang dihadiri sebanyak 250 peserta yang merupakan syarat maksimal yang ditentukan Majelis Keamanan Nasional (MKN) Malaysia.
Mengutip kantor berita Antara, acara ini dihadiri Direktur Pariwisata Domestik dan Acara Pariwisata Malaysia, Dr Ammar Abd Ghapar mewakili Menteri Hajah Nancy Shukri, Presiden MATA Haji Mohd Khalid Bin Harun dan CEO Ditofa Haffiz Halim dan sejumlah praktisi industri pariwisata.
Penyelenggaraan acara tetap dilaksanakan dengan protokol kesehatan yakni peserta menjalani pengukuran suhu dan tempat duduk diatur dengan pola jaga jarak sosial.
Ammar Abd Ghapar dalam sambutannya mengatakan penyelenggaraan acara seminar pelancongan tidak berarti penyelenggaraan webinar saat pandemik tidak baik namun dalam rangka menstimulasi perekonomian sehingga tidak bisa hanya duduk dalam rumah.
“Kita harus keluar rumah sehingga industri bisa tumbuh. Kalau tidak industri tidak akan bergerak karena itu kami ucapkan terima kasih kepada PWTC yang sudah berani membuat acara ini. Kegiatan Ini merupakan pertama kali diselenggarakan di Malaysia,” katanya.
Dia mengatakan penyelenggaraan acara ini akan menjadi pembanding bahwa kalau sebuah acara diselenggarakan dengan protokol kesehatan maka akan selamat dari COVID-19.
“Industri pariwisata ini terkait antara yang satu dengan yang lain. Penyelenggaraan acara ini mengikutsertakan food and beverage sehingga membantu industri ini dan kalau ini dibantu transportasi berjalan untuk menggerakkan penjual sayuran,” katanya.
Pada kesempatan yang sama dia mengajak warga Malaysia untuk melakukan wisata keluarga dengan mengunjungi destinasi-destinasi pariwisata yang ada di negara ini.
Kemenparekraf Whisnutama Kusubandio saat mengikuti webinar dengan topik Artificial Intelligence . ( Foto: Kemenparekraf)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Artificial Intelligence ( AI) menjadi topik bahasan yang diharapkan dapat dikembangkan ke depan dalam bentuk regulasi dan kebijakan di Indonesia dalam mengantisipasi perkembangan ekonomi digital ke depan,” kata Wishnutama, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kemarin.
Perkembangan ekonomi digital ke depan harus dapat diimbangi dengan kemampuan peningkatan keamanan data. Hal Ini menjadi salah satu poin penting yang harus dapat diantisipasi seluruh pemangku kepentingan terkait, termasuk di sektor ekonomi kreatif, dalam transformasi dunia digital, ” tambahnya dalam webinar Bagaimana Artificial Intelligence (AI) Mempengaruhi Sistem Hak Cipta?”, Selasa (30/6/2020).
“Kedaulatan data juga hal krusial karena menyangkut ekosistem ekonomi digital, kedaulatan data sangat penting untuk membangun ekonomi digital ke depan,” ujar Wishnutama.
Indonesia harus benar-benar bisa mewujudkan kedaulatan data agar potensi lokal kita bisa lebih kompetitif dan dapat bersaing dengan berbagai platform digital atau produk buatan luar.
“Melalui diskusi ini diharapkan ada masukan mengenai hal-hal yang perlu dikembangkan ke depan dalam bentuk regulasi dan kebijakan di Indonesia dalam mengantisipasi perkembangan ekonomi digital ke depan,” kata Wishnutama.
Artificial Intelligence dinilai sebagai salah satu teknologi yang patut diantisipasi perkembangannya oleh para pelaku ekonomi kreatif karena dapat memberi banyak kemudahan, terutama dalam mengkonstruksi data untuk diterjemahkan ke dalam karya yang disukai banyak orang, kata Ari Juliano Gema, Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi dan Regulasi Kemenparekraf dalam diskusi Regulasi Ekonomi Digital.
“Pada umumnya AI merupakan disiplin ilmu komputer yang ditujukan untuk mengembangkan mesin dan sistem yang dapat melakukan tugas yang dianggap membutuhkan kecerdasan manusia,” kata Ari Juliano Gema.
Freddy Harris , Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM dan Ari Juliano Gema, Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi dan Regulasi Kemenparekraf.
Dia memberi contoh beberapa karya dari AI yang begitu menakjubkan. Diantaranya “The Next Rembrandt”, yakni sebuah proyek iklan yang dipesan oleh ING Bank kepada J. Walter Thompson, sebuah biro periklanan pada 2016. Proyek AI ini menganalisis 346 lukisan karya Rembrandt van Rijn, pelukis Belanda yang juga dikenal sebagai pelukis terbesar dalam sejarah seni Eropa.
Hingga sampai pada sebuah kesimpulan bahwa jika Rembrandt masih hidup saat ini, kemungkinan besar ia akan melukis seorang pria berusia 30-40 tahun, memakai baju hitam dan topi, serta posisi wajah dari sisi kanan. “Iklan tersebut kemudian memenangkan lebih dari 60 penghargaan periklanan,” kata Ari Juliano.
Selain itu, program AI juga telah memungkinkan untuk membuat sebuah novel. Contohnya novel yang diciptakan melalui sebuah perangkat lunak yang dikembangkan oleh Hitoshi Matsubara dan timnya di Future University Hakodate, Jepang. Novel dari hasil AI tersebut kemudian diikutkan dalam lomba, bersaing dengan novel-novel terbaik di Jepang dan hampir memenangkan lomba tersebut.
Atau program dari BOTNIK, dimana program AI ini menganalisis tujuh novel Harry Potter mulai dari gaya penulisan dan lainnya, hingga akhirnya program AI ini bisa menghadirkan buku lanjutan novel Harry Potter.
“Novel Harry Potter sudah tamat, namun menggunakan AI dapat menganalisis 7 novel Harry Potter dan muncullah novel buatan BOTNIK yang orang-orang mengapresiasi dan tidak menyangka bahwa novel tersebut dibuat melalui sebuah program AI,” kata Ari.
Ibarat dua sisi mata uang, kemajuan teknologi ini selain menawarkan banyak kemudahan sekaligus dapat memberi ancaman bagi para pelaku ekonomi kreatif dari sisi orisinalitas dan hak cipta.
Di sinilah diperlukan antisipasi bersama dari seluruh pemangku kepentingan ekonomi kreatif untuk dapat mendorong hadirnya produk hukum yang dapat melindungi para pelaku ekonomi kreatif ke depannya.
“Masalahnya ketika AI itu yang mengandung ““DNA”” dari karya orang lain digunakan oleh orang yang tidak berhak, dalam hal ini bukan pencipta dan bukan pemegang hak cipta, tentu akan bermasalah ketika dia menghasilkan sebuah karya,” kata Ari.
Untuk itu perlu diatur dengan jelas seberapa besar keterlibatan seseorang yang memakai aplikasi AI untuk menghasilkan sebuah karya dalam merancang, membuat, memimpin dan mengawasi, pembuatan karya tersebut sehingga dapat dikategorikan sebagai pencipta karya tersebut menurut UU Hak Cipta.
Asosiasi atau organisasi pelaku ekraf pun didorong untuk membuat panduan mengenai batasan kemiripan substansial atas suatu karya di bidangnya masing-masing. Sehingga dapat mengantisipasi karya yang dibuat aplikasi AI dari ““DNA”” karya-karya yang sudah ada.
“Sehingga hasil apapun yang ada di pasar baik dari pribadi ataupun AI sudah dapat diklasifikasi apakah melanggar hak cipta atau tidak,” kata dia.
“Kita harus dapat merespons perkembangan teknologi khususnya yang mendorong inovasi ekonomi digital, sehingga nantinya kita tidak ketinggalan jauh dari perkembangan teknologi dalam membuat kebijakan hukum dan regulasi. Segala hal soal dampak positif dan negatif dapat diantisipasi dengan adanya produk hukum yang melindungi dari dekat,” ujar Ari.
Hal senada dikatakan Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM, Freddy Harris yang menyebutkan hukum akan selalu berkembang dan mengikuti perkembangan yang ada.
Ia pun menilai Artificial Intelligence ke depan dapat menjadi subyek hukum yang sama dengan perorangan maupun badan hukum-korporasi karena memiliki fungsi-fungsi yang sama seperti pembawa hak, pemilik hak ekonomi, pemilik hak moral, pemilik hak terkait, dan lainnya.
“Seseorang bisa didenda, dikenakan ganti rugi, dan lainnya. Hanya saja saat ini ‘rumah’ atau aturannya belum dibuat. Tapi kita akan ke sana, mari kita pikirkan kemungkinan bahwa AI bisa menjadi subjek hukum masa depan,” kata Freddy.
Kunjungan Turis Asing ke Thailand anjlok akibat corona (foto: mopays)
BANGKOK, bisniswisata.co.id: Pandemi Covid-19 menyebabkan banyak orang menahan diri, bahkan membatalkan rencana perjalanan, baik dalam maupun luar negeri. Industri paling terdampak oleh keadaan ini adalah pariwisata. Thailand, salah satu negara tujuan wisata paling populer di dunia, mulai mengkalkulasi penurunan drastis jumlah wisatawan asing yang datang.
Sektor yang menyumbang 12 persen dari pergerakan ekonomi di negeri gajah putih itu, diperkirakan baru akan pulih pada 2021. Demikian seperti disampaikan Chairat Triratanajaraspon, presiden Dewan Pariwisata Thailand, kepada reporter, seperti dilansir Reuters.
Jumlah turis asing yang datang tahun ini diproyeksi tergerus menjadi maksimal hanya 8 juta atau turun 80 persen dari tahun lalu. Tercatat sebanyak 39,8 juta wisatawan asing datang ke Thailand pada 2019.
Awal pekan ini, Bangkok mencabut larangan penerbangan internasional, tetapi itu pun dibatasi hanya berlaku bagi penumpang yang memenuhi syarat tertentu.
Dewan pariwisata telah mendesak pemerintah untuk menandatangani perjanjian perjalanan dengan negara-negara yang dianggap mampu mengendalikan wabah virus Corona, seperti: Cina, Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan.
Hingga kemarin, Selasa (30/6), Thailand tak mencatat kasus baru. Itu berarti sudah 36 hari tak ada kasus baru ditemukan di sana. Akibat Corona, negara berpotensi kehilangan pendapatan hingga 1,6 triliun bath atau sekitar 51,78 miliar dollar.
Untuk itu pemerintah terus mendorong peningkatan pariwisata domestik. Targetnya, 80 hingga 100 juta perjalanan, kata gubernur Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) Yuthasak Supasorn dalam briefing terpisah. Target itu tak terlalu ambisius. Bandingkan dengan jumlah perjalanan tahun lalu yang mencapai 166,84 juta perjalanan domestik.
Pemerintah telah setuju untuk meluncurkan paket stimulus sebesar US$ 722 juta guna mendorong sektor pariwisata. Dukungan untuk perjalanan domestik akan diluncurkan mulai pertengahan Juli.
Sedangkan rombongan pertama wisatawan asing yang telah diatur keberangkatannya akan tiba dalam satu atau dua bulan mendatang, kata wakil gubernur Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) Kunchorn Na Ayutthaya.
Sayang, dia tak menyebut dari mana saja asal turis tersebut. TAT sendiri menargetkan 10 hingga 12 juta turis asing akan datang tahun ini.Thailand termasuk negara non Uni Eropa yang mulai hari ini warga negaranya boleh berkunjung ke negara-negara anggota Uni Eropa.
BRUSSEL, bisniswiaata.co.id: Uni Eropa (UE) beranggotakan 27 negara telah memutuskan bahwa mulai hari ini, 1 Juli 2020 perbatasan akan dibuka kembali untuk warga negara dari 15 negara non-UE, termasuk Kanada, Maroko dan Australia, tetapi tidak untuk AS, Brasil, dan Rusia.
Cina ada dalam daftar, tetapi tunduk pada perjanjian timbal balik, masih tertunda. Keputusan bulat oleh Dewan Eropa tidak mengikat secara hukum, sehingga negara dapat memilih untuk tidak membuka diri terhadap semua negara tersebut. Para diplomat menghabiskan waktu lima hari untuk memperdebatkan daftar 15 negara itu, di tengah berbagai kekhawatiran pandemi.
Hasilnya yang disebut “tujuan perjalanan aman” adalah, selain China: Aljazair, Australia, Kanada, Georgia, Jepang, Montenegro, Maroko, Selandia Baru, Rwanda, Serbia, Korea Selatan, Thailand, Tunisia, dan Uruguay.
Inggris dan empat negara non-UE lainnya – Swiss, Islandia, Liechtenstein dan Norwegia – secara otomatis dimasukkan sebagai “aman”. Dikutip dari laporan wartawan BBC Gavin Lee di Brussels mengatakan ada lobi ketat oleh perwakilan AS, Rusia dan Turki untuk dimasukkan dalam daftar.
Para pejabat UE mengatakan keputusan itu didasarkan pada sejumlah faktor ilmiah a.l memastikan bahwa tingkat infeksi Covid-19 di negara itu cukup rendah (di mana negara memiliki kurang dari 16 dalam setiap 100.000 yang terinfeksi). Bahwa ada kecenderungan kasus menurun dan kebijakan social distancing berada pada “tingkat yang memadai”
Seorang diplomat dari negara anggota Eropa utara mengatakan kepada BBC bahwa sejumlah pertimbangan geopolitik juga mempengaruhi keputusan itu, Negara-negara Balkan dan Eropa Timur telah merekomendasikan agar Georgia, bekas negara Soviet, dimasukkan.
Pemerintah Hongaria dipahami telah melobi untuk dimasukkannya Serbia. Pejabat Spanyol mengatakan mereka meminta Maroko dimasukkan dalam daftar, asalkan ada perjanjian timbal balik.
Denmark dan Austria berada di antara beberapa negara anggota dengan alasan jumlah negara kurang dari 15 negara. Tetapi pada akhirnya, itu keputusan diadopsi dengan suara bulat oleh negara-negara anggota. Setiap negara anggota harus mengumumkan kapan mereka akan mulai menerima kembali warga dari beberapa atau semua negara tersebut.
Para pejabat Perancis mengatakan mereka berharap untuk mengimplementasikan keputusan itu dalam hari-hari mendatang. Republik Ceko telah menerbitkan daftar delapan negara yang dianggapnya aman untuk bepergian. Daftar UE ini akan diperbarui setiap dua minggu dan Inggris dicakup oleh fase transisi Brexit
Banyak kontrol perbatasan telah dicabut untuk warga Uni Eropa yang bepergian di dalam blok tersebut. Aturan masa depan untuk pelancong Inggris adalah bagian dari negosiasi Brexit saat ini.
Tetapi warga negara Inggris masih diperlakukan dengan cara yang sama seperti warga negara Uni Eropa sampai akhir masa transisi Brexit pada tanggal 31 Desember, kata Komisi Uni Eropa. Jadi selama periode ini warga negara Inggris dan anggota keluarga mereka dibebaskan dari pembatasan perjalanan sementara UE.
Negara-negara UE di zona Schengen yang beranggotakan 26 negara biasanya mengizinkan penyeberangan perbatasan bebas paspor untuk warga negara UE, tetapi otoritas nasional telah menerapkan kembali pembatasan dalam krisis ini.
Negara ke 27, Malta adalah sebuah negara kepulauan di Eropa Selatan. Malta terletak sekitar 80 km (50 mi) di selatan dari Italia,
Inggris saat ini sedang negosiasikan “jembatan udara” sementara dengan beberapa negara anggota UE, sehingga pandemi coronavirus tidak sepenuhnya memblokir liburan musim panas – musim tersibuk di Eropa untuk pariwisata, yang mempekerjakan jutaan orang.
Dalam diskusi Uni Eropa ada perpecahan antara Spanyol yang menginginkan peningkatan pariwisata, tetapi lebih memilih untuk bermain aman karena mereka telah terpukul sangat keras oleh CIVID-19 – dan yang lain seperti Yunani dan Portugal, yang bergantung pada pariwisata tetapi terlalu parah akibat virus.
Mungkin orang akan berpikir sangat mudah memutuskan negara non-UE mana yang dianggap “aman”. Tapi trrnyata prosesnya berliku-liku dan terpecah belah, memadukan politik dan ekonomi, serta kesehatan masyarakat.
Negara-negara seperti Jerman dan Spanyol, ngeri dengan kehancuran COVID-19, ingin bermain aman. Mereka mendorong untuk memiliki daftar pendek negara-negara dengan tingkat infeksi rendah, layanan kesehatan yang baik dan data kesehatan yang dapat diandalkan.
Tetapi Yunani dan Portugal punya ide lain. Karena ingin meningkatkan post-lockdown mereka, ekonomi lesu dengan pariwisata, dan tidak terlalu takut dengan infeksi yang meluas pada puncak pandemi, mereka malah menginginkan daftar sepanjang mungkin.
Kemudian datang Prancis, bersikeras pada timbal balik. Jika negara non-UE melarang penerbangan dari blok tersebut, kata Paris, mereka tidak akan muncul dalam daftar. Akhirnya: pertimbangan diplomatik muncul.
Betapa canggung bagi Uni Eropa ( UE) untuk memasukkan beberapa negara tetapi tidak yang lain. Setelah berhari-hari tawar-menawar, daftar terakhir adalah upaya yang dicoba. Banyak keringat metaforis, darah dan air mata untuk membuat 15 daftar yang hanya bersifat nasehat, terbuka untuk pengecualian dan akan secara teratur diubah dan diperbarui.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kemenparekraf mendorong para pelaku ekonomi kreatif agar mengoptimalkan potensi industri gaming Indonesia di tengah masa pandemi. Industri gaming mengalami perkembangan yang cukup signifikan di tengah pandemi COVID-19,” kata Syaifullah, Direktur Industri Kreatif, Film, Televisi dan Animassi Kemenparekraf/ Baparekraf saat Webinar Seri Ngobrol Parekraf dengan tema “Potensi Besar Industri Gaming di Indonesia” kemarin.
Dari data yang dikeluarkan oleh Asosiasi Game Indonesia (AGI), pertumbuhan pengembang game di Indonesia naik 10-20 % di tengah pandemi lantaran lonjakan penggunaan platform digital di kalangan masyarakat, khususnya para penggemar game, katanya.
Syaifullah juga menjelaskan, industri gaming di Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang dan bersaing dalam pasar internasional. Pada 2017, pengembang aplikasi dan game berkontribusi 1,93% terhadap produk domestik bruto sektor ekonomi kreatif Indonesia atau sebesar Rp 19.115,1 miliar.
“Sektor ini juga dapat menyerap 44.733 tenaga kerja pada subsektor aplikasi dan game developer pada tahun yang sama,” tambahnya.
Namun, Syaifullah menjelaskan industri gaming tidak semata tanpa masalah. Pembajakan, keamanan siber, serta pemerataan akses telekomunikasi masih menjadi kendala yang dihadapi industri ini.
Pada saat yang bersamaan, Asosiasi Game Indonesia (AGI) bersama LIPI dan Kominfo sedang melakukan riset nasional untuk mengetahui kondisi terbaru dari Ekosistem Industri Game Indonesia.
Ketersediaan data yang akurat menjadi point penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan yang tepat untuk pengembangan ekosistem gaming nasional.
Saat ini, pemerintah sedang mengupayakan berbagai inisiatif strategis untuk menunjang industri gaming agar semakin meroket dari tahun ke tahun dan menjadikan game lokal sebagai tuan rumah di industri game nasional.
Salah satunya adalah dengan menghadirkan skema insentif. Selain itu, berbagai gelaran acara game juga dilakukan, contohnya adalah gelaran Piala Presiden Esports pada Februari 2020 serta inisiatif ‘GELORA 2020’ (Game Lokal Kreasi Indonesia) yang sedang dilaksanakan dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat.
“Kita banyak menyaksikan talenta dan konsep orisinil game developer lokal yang datang dari berbagai daerah di Indonesia,” katanya
Selain mendapatkan dukungan pemerintah, Syaifullah sudah melihat beberapa perusahaan besar mulai serius menggarap sektor game dengan menjadi sponsor beberapa tim eSports di Indonesia. Hal tersebut merupakan sinergi yang baik agar ekosistem industri game semakin matang.
Statistik Industri Game developper di Indonesia
Presiden Indonesia Esports Premier League (IESPL), Giring Ganesha, menambahkan eSports juga bisa menjadi profesi yang menjanjikan bagi generasi muda yang sangat akrab dengan perkembangan teknologi.
“Industri Gaming di Indonesia semakin diakui eksistensinya. Data dari IESPL di 2019 menunjukkan Indonesia menempati peringkat 12 di pasar gaming dunia dengan total pemain game aktif sebanyak 62,1 juta orang. Secara keseluruhan di tahun 2019 industri ini menghasilkan pendapatan sebesar 1,04 miliar dolar AS,” jelasnya.
Tiga alasan yang membuat eSports kian populer di kalangan masyarakat. adalah shifting from PC to mobile yang menunjukkan pergeseran tren penggunaan game ke perangkat yang lebih praktis dan simple, yaitu melalui telepon genggam, kata Giring.
Kedua shifting from single to multiplayer, yang berarti peminat game sekarang lebih memilih untuk memainkan game yang bermode multipemain karena dapat membangun semangat kebersamaan.
Ketiga, shifting from playing to watching, yang dilakukan oleh peminat game untuk menonton pemain lain berstrategi dalam menyelesaikan sebuah game melalu berbagai platform digital.
“Tidak dapat dipungkiri lagi, industri gaming memiliki potensi yang besar bagi Indonesia. Pengembang game seperti Agate, yang berasal dari Bandung, berhasil merilis game berjudul Valthirian Arc: Hero School Story dan mampu meraih pemasukan sebesar 1 juta dolar AS.,”
Jenjang karir eSports pun tak kalah hebatnya, banyak sekali pemain eSports bertalenta yang sudah mengharumkan nama bangsa, seperti Rizki Faidan yang berhasil meraih juara pertama dalam ajang PES LEAGUE ASIA FINALS 2019, dan terkenal sebagai salah satu atlet eSports ternama di Asia Tenggara,” ungkapnya
Giring juga menilai dukungan pemerintah terhadap industri gaming selama ini sudah cukup baik, terlihat dari penyelenggaraan kompetisi eSports yang secara rutin dilakukan oleh pemerintah seperti kompetisi Piala Presiden Esports 2019 dan 2020.
“Saat ini atlet gaming tanah air memiliki potensi besar untuk membawa nama baik Indonesia ke tingkat internasional, sama halnya dengan atlet olahraga lainnya. Impian kami semua di IESPL adalah untuk melihat semakin banyak atlet eSports menjadi juara mewakili Indonesia di atas panggung kompetisi eSports internasional dan melihat bendera merah putih berkibar dengan iringan lagu Indonesia Raya,” kata Giring.
NEW YORK, bisniswisata.co.id: Kota Ashgabat di Turkmenistan, negara di Asia Tengah yang merdeka pada Oktober 1991, muncul sebagai kota termahal kedua di dunia bagi para ekspatriat. Kota berjulukan ‘Kota Marmer Putih’ itu berada satu tingkat saja di bawah Hong Kong, demikian menurut survei yang dilakukan Mercer bertajuk Cost of Living Survey.
Kota Ashgabat menggeser Tokyo (no.3) dan New York (no.6). Negara yang terkenal memiliki banyak kota unik ini dianggap mampu mengatasi krisis ekonomi dan kekurangan pangan, serta mengendalikan hiperinflasi.
Hong Kong tetap bertengger di posisi puncak meski tengah menghadapi kerusuhan politik. Itu karena sebagian besar pasar properti termahal di dunia ada di sana.
Data Marcer ini dikumpulkan pada Maret saat pandemi Covid-19 baru mulai merebak. Oleh sebab itu data ini tidak mencerminkan dampak pandemi terhadap harga-harga dan biaya hidup. Meski demikian, fakta bahwa harga bahan makanan mulai melonjak di Amerika Serikat serta tempat lain,maka dapat dipastikan kota-kota termahal di dunia akan semakin mahal.
Sejumlah faktor seperti: fluktuasi mata uang, biaya inflasi untuk barang dan jasa, serta tarif akomodasi, berkontribusi pada biaya hidup para ekspatriat yang bekerja untuk perusahaan multinasional.
Survei ini bertujuan untuk membantu pemerintah dan perusahaan multinasional menetapkan gaji bagi karyawan yang pindah dan bekerja ke luar negeri.
Saat ini tatanan ekonomi global tengah berubah akibat pandemi Covid-19. Banyak perusahaan mulai menerapkan pendekatan baru termasuk menata ulang kebijakan bekerja di kantor dan mulai mengenalkan kebijakan bekerja dari rumah. Inlah saatnya untuk mempertimbangkan kembali wawasan dan mindset.
Berikut ini adalah 10 kota paling mahal di dunia bagi ekspatriat menurut survei Mercer.
Sungai Maron, Kab Pacitan, Jawa Timur yang menawan (foto: lensanasrul)
PACITAN, bisniswisata.co.id: Lewat akun instagramnya, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, meng-upload foto keindahan Sungai Maron di Kabupaten Pacitan. Tentu ini sebelum ada pandemi COVID-19.
“Amazon? Bukan. Ini adalah Sungai Maron di Kapubatan Pacitan, Jawa Timur. Sungai kecil yang bermuara di Pantai Ngiroboyo ini menawarkan sensasi seperti Sungai Amazon. Saat menyusurinya, saya yakin kalian akan terbius dengan panorama alamnya yang eksotik. Penasaran? Masukkan Sungai Maron dalam daftar destinasi wisata yang harus kamu kunjungi dalam waktu dekat,” tulisnya.
Gubernur Khofifah benar. Sudah banyak video dan artikel mengulas keindangan alam Sungai Maron yang membentang sepanjang 4,5 km. Mereka yang pernah menyusuri Sungai Maron mengaku ada sensasi seolah mereka tengah mamasuki hutan hujan Amazon di Brasil yang terkenal itu.
Ulasan di sebuah media nasional bahkan menyebut menyusuri Sungai Maron bukan hanya serasa berada di pedalaman Amazon, tetapi juga di sekitar Phuket, Thailand. Bukit-bukit karang yang ada saat perahu hendak sampai di pantai, membangun suasana seolah-olah pengunjung tengah berada di sekitar Phuket.
Mencapai objek wisata Sungai Maron tidaklah sulit. Lokasi sungai berada di Desa Dersono, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Jarak dari alun-alun Kota Pacitan sekitar 40 kilometer atau kurang lebih sejam melalui jalur darat.
Pacitan adalah kota kecil di Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Apabila anda datang dari kota Solo jaraknya sekitar 100 kilometer dan memerlukan waktu tempuh sekitar tiga jam.
Pengunjung dapat menyewa perahu untuk menyusuri sungai yang kiri-kanan-nya tumbuh pohon kelapa dan beragam pepohonan besar lainnya. Air sungai yang berwarna hijau akibat refleksi tumbuhan di sepanjang sungai menciptakan suasana teduh dan menakjubkan. Silakan Anda bukitkan sendiri dengan berkunjung ke Pacitan, Jawa Timur.
JAKARTA,bisniswisata.co.id: Perkembangan teknologi informasi dan internet dari tahun ke tahun telah membuat pergeseran gaya hidup masyarakat Indonesia dalam menjalankan roda perekonomian.
Dampak yang paling terasa adalah pengguna media sosial dan platform e-commerce berkembang pesat. Perusahan-perusahaan e-commerce baik dari dalam maupun luar negeri turut meramaikan persaingan di pasar Indonesia, baik dengan sistem Business-to-Business (B2B), Business-to-Consumer (B2C) dan Consumer to Consumer (C2C).
Perkembangan bisnis e-commerce sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Menurut perusahaan konsultasi McKinsey, dalam tiga tahun mendatang Indonesia akan memiliki 44 juta pembeli online atau melalui e-commerce dengan nilai sekitar US$55-65 miliar. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu penopang perekonomian Indonesia.
Dengan adanya perusahaan-perusahaan e-Commerce atau marketplaceonline tersebut sangat membawa perubahan besar bagi pelaku UMKM dalam menjual produk dan menembus pasar internasional.
Pandemi COVID-19 yang datang melanda sejak awal tahun 2020 turut mempengaruhi kondisi UMKM di Indonesia. Turunnya pendapatan, PHK bahkan gulung tikar, menjadi resiko yang dihadapi oleh para pelaku UMKM.
Saat ini para pelaku UMKM dituntut melakukan suatu terobosan dalam sistem kerja atau model bisnis agar bertahan dan memperoleh kesempatan untuk bangkit.
Muhammad Neil El Himam ( kiri), Direktur Aplikasi dan Tata Kelola Ekonomi Digital Baparekraf bersama nara sumber lainnya ( Foto: Baparekraf)
Berkaca pada kondisi perekonomian yang terdampak COVID-19 serta meningkatkan kesadaran pelaku UMKM lokal terhadap pentingnya informasi dan komunikasi maka, Pemerintah melalui Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif, Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Baparekraf) memberikan perhatian khusus dengan mengadakan Baparekraf Digital Entrepreneurship (BDE 2.0) pada Juli hingga September 2020, melalui program Inkubasi online.
Lewat program tersebut, diharapkan para pelaku UMKM dapat bangkit dan bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar yang telah melakukan penjualan melalui platform digital lebih dulu sehingga transformasi ekonomi digital di Indonesia bisa maksimal dan pendapatan pelaku UMKM meningkat.
Baparekraf Digital Entrepreneurship (BDE 2.0) diadakan untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi para pelaku UMKM di sektor ekonomi kreatif serta menciptakan ekosistem yang berkualitas bagi para pelaku UMKM khususnya di subsektor fesyen, kuliner dan kriya.
Kegiatan meliputi online mentoring, online coaching, serta penyediaan platform e-commerce khusus untuk para pelaku UMKM Indonesia dimana para penyedia barang / jasa dari ketiga subsektor tersebut dapat langsung memasarkan nya kepada para online reseller.
Saat ini online reseller sudah menjadi model bisnis yang sangat umum untuk dilakukan. Pengembangan reseller akan membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang berjiwa entrepreneur, kreatif dan mandiri.
“Diadakannya inkubasi online ini utamanya bisa meningkatkan kemampuan para pelaku UMKM dalam melakukan penjualan sehingga penjualan tidak hanya di Indonesia namun bisa di ekspor ke luar negeri,” jelas Muhammad Neil El Himam, Direktur Aplikasi dan Tata Kelola Ekonomi Digital Baparekraf
Sebelumnya Kegiatan BDE, tahap 1 atau BDE 1.0 membuat 2300 pelaku UMKM telah ber ”migrasi” dari berjualan secara konvensional ke jualan secara online di marketplace nasional telah dilakukan sejak 2017 di beberapa kota di Indonesia. Baparekraf perlu untuk meningkatkan kelas para pelaku UMKM serta memperkuat fundamental bisnis melalui BDE 2.0
Sasaran dalam Baparekraf Digital Entrepreneurship adalah 300 peserta yang terbagi atas 100 peserta per bulan dari periode Juli hingga September 2020 dan akan dipilih 10 peserta terbaik setiap bulan.
Mereka akan melakukan presentasi final guna menunjukkan kemajuan usaha mereka dan memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam program-program pengembangan lain yang diadakan oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Tetap senyum menyambut tamu hotel lewat foto dan nametag.
FLORIDA, AS, bisniswisata.co.id: Sebagai bagian dari upaya industri hotel dan penginapan untuk membantu para tamu merasa aman tentang bepergian selama masa pandemi COVID-19 saat ini, hampir semua membutuhkan staf hotel untuk mengenakan masker.
Namun, satu sisi negatifnya tentu saja adalah fakta bahwa para kartawan hotel tidak lagi dapat berbagi senyum hangat dan ramah ketika mereka menyambut tamu di pintu depan, melewati mereka di lorong dan koridor atau ketika melayani mereka di gerai makan dan tempat rekreasi dilingkungan hotel.
Solusi yang ditawarkan Doug Kennedy adalah Presiden Kennedy Training Network Inc yang berbasis di Florida cukup simple bagaimana tetap memakai masker, tapi mereka juga tidak perlu merasa tidak enak karena tidak ada yang melihat senyum lagi.
“Akhir-akhir ini, para trainer Kennedy Training Network ( KTN ) banyak mengadakan sesi pelatihan webcam Sertifikasi “Jantung Keramahtamahan” kami,” ujarnya seperti dikutip Hospitality Net.
Banyak peserta yang berpartisipasi menyatakan bahwa sementara mereka menyadari pentingnya memakai masker tapi mereka juga merasa tidak enak karena tidak ada yang melihat senyum mereka lagi saat tamu datang check-in/out di hotel atau di area outdoor hotel saat mereka melakukan staycation.
Tentu saja, senyum yang hangat dan ramah diungkapkan dengan wajah penuh dan bukan hanya mulut dan area dagu, dan ucapan sambutan yang diucapkan dengan otentik juga membantu mengomunikasikan semangat keramahan.
Namun, di KTN pihaknya ingin berbagi satu tips pelatihan yang sangat sederhana yang tampaknya berjalan baik untuk pelatihan perhotelan dan klien sertifikasi perusahaannya , kata Doug Kennedy dengan semangat berbagi.
“Pertama, ambil foto anggota staf Anda berseragam sambil melepas masker mereka sebentar dan memancarkan senyum tulus dan ramah. Tidak harus menjadi pemotretan profesional, karena gambar “organik” mungkin tampak lebih otentik daripada gambar pemotretan profesional. Pilih saja latar belakang warna solid seperti dinding atau gorden,” ungkapnya.
Selanjutnya, pangkas foto untuk memperbesar sebagian besar di wajah seperti yang akan dilakukan untuk foto headshot atau paspor. Kemudian cetak gambar-gambar ini pada printer berwarna untuk penggunaan segera dan tinggal cetak Saya merekomendasikan ukuran 4 x 6 yang dapat dipangkas dengan gunting, atau selembar gambar ukuran dompet, tambahnya.
Dari sana, Anda cukup menempelkan gambar untuk menggantung dari bagian bawah sebagian besar tag nama atau melampirkan seragam staf Anda dengan pita atau peniti. Untuk penampilan yang tampak lebih canggih, pesan tempat lencana nama yang dapat digantung dari klip lanyard atau bulldog.
Doug Kennedy adalah Presiden Kennedy Training Network, Inc adalah penyedia jasa terkemuka untuk penjualan hotel, layanan tamu, pemesanan, dan program pelatihan meja depan dan layanan belanja per telepon untuk industri penginapan dan perhotelan.
Berpengalaman melayani perhotelan, asosiasi dan industri launnya selama dua dekade, Doug sejak 1996 juga mengeluarkan artikel pelatihan bulanan Doug telah diterbitkan di seluruh dunia, menjadikannya salah satu otoritas industri perhotelan yang paling banyak dibaca.
Busana karya designer Tyas Santhi Fatmasari ( Arie) terispirasi dari APD.
YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id:Berangkat dari keprihatinan akan kondisi pandemi global yang serba tidak menentu hingga membuat aktivitas manusia seolah sempat terhenti akibat angka kematian korban yang melonjak tinggi, designer Tyas Santhi Fatmasari terinspirasi dengan pakaian yang dikenakan para tenaga medis di garis depan.
Lewat koleksi rancang busananya, Tyas mengeluarkan koleksi berjudul “ITS SIMPLY, ITS STYLE, ITS NEW NORMAL”. Garis design koleksi kali ini pun mengambil inspirasi dari busana APD (Alat Pelindung Diri) yang digunakan oleh tenaga medis, khususnya busana berbentuk coat atau jubah panjang.
Lewat sentuhan yang lebih fashionable, berwarna dominan putih transparan beraksen patchwork batik dengan garis cutting yang tegas Tyas seolah ekspresikan simbol keinginan pemberlakuan aturan yang jelas & tegas pada kondisi New Normal.
” Kita harus mengikuti protokol kesehatan dalam berbagai aspeknya baik secara individual maupun kolektif dengan harapan kondisi pandemic ini dapat segera teratasi dan semua kembali pulih,” ungkap pemilik brand ARIESANTHI ini.
Terlahir dengan nama lengkap Tyas Santhi Fatmasari, M.B.A., designer muda kelahiran Yogyakarta, 02 November 1984, ini akrab dipanggil Arie/Santhi ini benar-benar prihatin dengan dampak ekonomi dari COVID-19.
Perekonomian secara global merosot tajam, teknologi nirkabel & virtual mengambil porsi terbesar dari semua aktivitas komunikasi manusia, serta keinginan untuk memproteksi diri dari bahaya yang timbul akibat virus hingga pembatasan-pembatasan yang diberlakukan oleh banyak sektor kehidupan hingga berimbas pula pada industri fashion.
“Manusia akhirnya dipaksa untuk mengubah pola pikir & cara hidupnya untuk menyesuaikan dengan keadaan tersebut. Koleksi yang aku keluarkan ini lebih memilih sesuatu yang simple, realistis, reliable daripada yang impulsive dan tidak logis,” katanya tergelak.
Intinya dunia fashion juga mengikuti kenormalan baru dan dia berharap karyanya juga bisa diterima masyarakat untuk tetap modis disaat pandemi terus berlangsung secara serentak di 216 negara di dunia.
Akrab disapa Arie atau Santhi, sejak kecil, ia memiliki ketertarikan kuat pada berbagai busana, khususnya busana adat nusantara berikut elemen-elemen yang terkait di dalamnya.
Hal itu memperkuat keinginannya menjadi seorang fashion designer, meskipun harus melewati lika-liku pendidikan yang cukup panjang. Setelah memperoleh gelar kesarjanaan S1 Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada,
Jogjakarta tahun 2007 dan dilanjutkan dengan menamatkan pendidikan S2 Magister Manajemen bidang Human Resources & Organization, thn.2009 di perguruan tinggi yang sama.
Bekal pendidikan tinggi ternyata tak membuatnya patah semangat untuk terus menambah wawasannya tentang fashion dari berbagai hal. Ketertarikan itu pulalah yang membuatnya semakin jauh menggeluti dunia fashion yang juga membawanya terlibat secara langsung maupun tidak langsung pada berbagai kegiatan.
Dari salah satu kegiatannya sebagai freelancedesigner akhirnya sebagai bentuk keseriusannya, pada Desember 2008, ia resmi menjadi designer & owner brand miliknya sendiri yaitu “ARIESANTHI_design”.Arie lalu meraih juara harapan I Fashion Design Competition Jogja Fashion Week 2010 dan masuk Top 15 Designer Nominatee for International Fashion Crowd Challenge October 2015 at 1stDay.
Dia memiliki pengalaman mengikuti berbagai event fashion baik didalam maupun luar Jogja, antara lain Jogja Fashion Week 2011 – 2015, Jogja Fashion Festival 2013-2015, & Jogja Fashion Rendezvous 2017 dan jadi desainer tamu acara Melina “Clamber Step of Fashion 2018” di Solo, Jateng.
Arie juga suka mendukung kostum untuk perwakilan Indonesia di ajang Internasional, antara lain : Miss Eco Tourism International 2016, Miss Intercontinental 2016 for Indonesia, & Puteri Indonesia 2017 perwakilan Kep.Bangka-Belitung.
Aktif sebagai nara sumber di berbagai acara, menjadi salah satu staf pengajar di LPK PAPMI DIY jurusan Fashion Design sejak 2014 -2016 dan belum lama ini meraih predikat kategori“The Best Networking” untuk event Inspiring Women Competition 2019 di Yogjakarta.
Sambil tetap mengusung style exotic alluring, gaya individual yang terangkum dari berbagai elemen bahan etnik, Arie berharap koleksi terbarunya menyambut era New Normal bisa diminati penggemar fashion.