UNWTO-Sommet Education Membuat Hospitality Challenge Untuk Pelaku Perhotelan   

this formate

SPANYOL, bisniswisata.co.id: Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) dan Sommet Education membuat Hospitality Challenge bagi para pelaku perhotelan dari para profesional pariwisata yang sudah mapan dan mereka yang baru di sektor ini.

Penutupan kompetisi pada 30 Agustus 2020 dan akan memberikan 30 beasiswa untuk program pendidikan kelas dunia yang akan memungkinkan para pemenang untuk mengembangkan diri dan proyek mereka sehingga membantu mendorong pemulihan pariwisata.

Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili mengatakan sektor pariwisata adalah sumber lapangan kerja bagi jutaan orang.  Pekerjaan di bidang pariwisata memberikan kesempatan, pemberdayaan, dan kesetaraan, termasuk bagi perempuan, pemuda dan masyarakat yang tinggal di komunitas pedesaan.  

“Saat kami memulai kembali pariwisata, waktunya tepat untuk memikirkan kembali perhotelan, dan untuk mengidentifikasi serta menerapkan ide-ide baru untuk membuat sektor ini lebih inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Benoit-Etienne Domenget, Chief Executive Officer di Sommet Education menambahkan bahwa pendidikan adalah dasar dari dunia yang lebih ramah. 

Pihaknya menawarkan beasiswa sebagai  kontribusi untuk pemulihan ekonomi perhotelan, dengan mempercepat pengembangan pribadi orang-orang bertalenta dengan pandangan kreatif dan untuk mendukung visi mereka untuk mengubah perhotelan.

Komite Seleksi  terdiri dari jaringan investor internasional, pengusaha dan pakar dari Anggota UNWTO, Anggota Afiliasi dan mitra strategis, serta dari perwakilan Sommet Education, kemudian akan memilih 30 finalis.

“Para finalis yang memenuhi syarat  mendapatkan beasiswa penuh dalam 15 program berbeda dalam Manajemen Seni Perhotelan, Kuliner dan Kue, (Sarjana, Magister, MBA) yang ditawarkan di lembaga akademik kelas dunia pendidikan Sommet,”

Benoit-Etienne Domenget, Chief Executive Officer Sommet. ( Foto: UNWTO)

Yaitu Institut Pendidikan Tinggi Glion di Swiss dan London,  Les Roches Crans-Montana di Swiss, Les Roches Marbella di Spanyol dan École Ducasse di Prancis. 

Di antara 30 pemenang, tiga proyek wirausaha paling inovatif teratas akan diberikan dana untuk mendukung pengembangan awal mereka dari Eurazeo yang mendanai proyek-proyek tersebut, dari mana Sommet Education menjadi Perusahaan portofolio. 

“Ini berarti bagi 3 pemenang, lebih banyak peluang sukses untuk proyek mereka dan untuk perhotelan lebih banyak jaminan untuk memiliki proyek yang dapat diskalakan seputar layanan dan produk baru yang berdampak pada industri,” kata Benoit-Etienne Domenget, Chief Executive Officer Sommet.

Pandemi global COVID-19 yang belum pernah terjadi juga memerlukan peluang bagi industri perhotelan tidak hanya untuk kembali, tetapi untuk tumbuh lebih baik dan lebih kuat.

Ini adalah kesempatan unik untuk memulai kembali pariwisata dengan cara yang lebih seimbang, inovatif, dan berkelanjutan, dengan Perhotelan sebagai salah satu kekuatan pendorongnya, tambahnya.

Saat yang tepat untuk kembangkan ide-ide baru, menawarkan paradigma industri baru, dan mengubah kebiasaan konsumsi. Perdagangan dunia, perjalanan, dan rekreasi dapat tumbuh kembali sambil menghormati sumber daya alam yang terbatas dan terlibat lebih dalam dengan komunitas dan bisnis lokal.

“Kami  mengumpulkan ide-ide segar, untuk mendorong pendekatan baru di sektor ini dan pergeseran ke arah keberlanjutan dan inovasi. Tantangan ini bertujuan untuk menjangkau startup, wirausahawan, dan inovator  untuk mengambil langkah maju untuk pembangunan berkelanjutan dalam upaya pemulihan.

 

RI Kini Miliki Konsul Kehormatan Pertama di Liechtenstein  

this formate

Pemandangan kota Vaduz, ibukota Liechtenstein ( Foto: South China Morning Post)

BERN, bisniswisata.co.id: Di tengah cuaca musim panas yang mulai melanda Swiss dan negara Eropa lainnya, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bern menggelar acara pelantikan Konsul Kehormatan RI pertama di Triesen the Principality of Liechtenstein.

Surat dari Presiden RI Joko Widodo kepada Konsul Kehormatan RI di Liechtenstein, Roland A. Jansen telah diserahkan oleh Dubes Muliaman di KBRI, pada 22 Juli 2020 dan Jansen resmi sebagai Konsul Kehormatan Republik Indonesia di kota Triesen, Kerajaan Liechtenstein.

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Liechtenstein dimulai pada tahun 1998. Negara berpenduduk 38.557 ini memiliki luas sekitar 160 kilometer persegi, menjadikannya negara terkecil keempat di Eropa, setelah Vatikan, Monako, dan San Marino. 

Meskipun populasinya kecil, Liechtenstein adalah salah satu negara terkaya di dunia.  Negara yang berbatasan dengan Swiss dan Austria ini memiliki PDB per kapita $ 165.028.  Diperkirakan bahwa sepertiga dari populasi Liechtenstein adalah seorang jutawan.

“Penunjukan Konsul Kehormatan RI di Liechtenstein merupakan momentum positif bagi hubungan bilateral kedua negara, ” kata Prof Muliaman Dharmansyah Hadad  PhD seperti dilansir dari situs websitenya, hari ini

Apalagi mengingat kerjasama ekonomi antara Indonesia dan Liechtenstein telah berjalan dengan baik dan diperkuat dengan penandatanganan Indonesia – EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE – CEPA) pada tahun 2018, tambahnya.

“Untuk negara dengan pasar domestik yang terbatas dan ekonomi ekspor yang kuat, Liechtenstein membutuhkan tempat untuk menyalurkan uangnya, dan Indonesia tentunya merupakan pasar yang menarik,” tambahnya.

Dia berharap juga dapat meningkatkan perdagangan dan investasi antara  dua negara, terutama setelah penandatanganan perjanjian Indonesia – EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA).

Liechtenstein memiliki ekonomi terintegrasi dengan ekonomi Swiss, dan keduanya menggunakan Franc Swiss. Negara ini memiliki sektor jasa keuangan yang makmur, dengan industri besar lainnya termasuk elektronik, manufaktur logam, produk gigi, instrumen optik, dan obat-obatan.

Nilai tambah yang tinggi dihasilkan terutama oleh sektor industri dan sektor jasa keuangan yang kuat.  Sekitar 40% lapangan kerja dan 37% PDB dihasilkan oleh industri dan manufaktur. 

Angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya.  Sedangkan pusat keuangan Liechtenstein menghasilkan 27% dari PDB negara.

Selain itu, Liechtenstein juga merupakan tempat yang menarik sebagai pusat keuangan dan bisnis, karena kondisi politik negara yang stabil, dan memiliki akses langsung ke pasar Uni Eropa dan Swiss.  Kondisi ini juga harus dimanfaatkan oleh pengusaha Indonesia, kata Dubes Muliaman.

Roland A. Jansen sebagai Konsul Kehormatan Indonesia juga mendapat pengesahan dari Herediter Liechtenstein sebagai Kepala Negara Liechtenstein. Pebisnis aktif yang mempromosikan bahan bakar nabati.  

Jansen bercita-cita membantu Indonesia mengembangkan bisnis bio-refinery yang menghasilkan solar bersih dari limbah kelapa sawit.  Atas kecintaannya pada Indonesia, Roland A. Jansen telah melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan memajukan perekonomian Indonesia .

Dia memiliki berbagai rencana konkrit untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan sosial budaya kedua negara, sehingga dapat diangkat sebagai Konsul RI yang sangat bermanfaat bagi Indonesia.

Pemerintah Liechtenstein saat ini memiliki perhatian khusus pada isu pembangunan berkelanjutan.  Ini tercermin dalam upaya negara untuk mengembangkan sumber daya energi berkelanjutan, serta dalam pendidikannya tentang pentingnya keberlanjutan di sekolah.  

Liechtenstein juga merupakan negara pelopor dalam hal pembiayaan berkelanjutan.  Dengan adanya perhatian dari Pemerintah Liechtenstein terhadap permasalahan tersebut, diharapkan Konsul Kehormatan dapat selaras dengan kepentingan Indonesia.

“Roland memiliki jaringan hubungan yang baik dengan Pemerintah Liechtenstein dan keluarga kerajaan, serta hubungan dan kerja sama yang baik dengan investor dan industri perbankan di Liechtenstein,” 

Hubungan yang baik ini, serta pengalamannya sebagai pengusaha, diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai kalangan terutama potensi ekonomi kedua negara, termasuk menjajaki berbagai kerjasama di bidang pembangunan berkelanjutan, kata Dubes Muliaman.

Wisata di Liechtenstein

Di balik ukurannya yang kecil, negeri ini menyimpan kebudayaan yang istimewa dan keindahan alam yang memesona termasuk sejumlah karya terindah seniman besar Eropa, seperti  kastil-kastil kuno yang berdiri di kaki barisan pegunungan dan nikmati kawasan ski Alpen. 

Didirikan sebagai sebuah negeri yang berdaulat di tahun 1806, Liechtenstein berukuran hanya 25 x 12 km. Kunjungi ibukotanya, Vaduz yang memiliki hanya 5000 penduduk, namun penuh dengan atraksi wisata.

Liechtenstein berbatasan dengan Austria di timur dan Swiss di barat. Negara ini tidak memiliki bandara, jadi pilihan Anda adalah terbang ke Zurich dan melanjutkan perjalanan ke Vaduz dengan transportasi umum. 

Anda bisa menginap di hotel pusat kota atau pondok pegunungan alias villa-villa peristirahatan. Pastikan juga untuk mencicipi hidangan khas nasional, Ribel, yaitu masakan dari jagung yang mirip dengan polenta.

Kegiatan wisatanya bisa dimulai dari  Museum Nasional Liechtenstein untuk mempelajari dengan cepat kekataan alam dan budayanya lewat benda-benda di museum alam dan budaya yang menjadi kebanggaan bangsanya. 

Nikmati lukisan karya seniman negeri, seperti Depero dan Pistoletto di Museum Seni Liechtenstein berdinding hitam yang mengesankan., 

Telusuri juga sejarah Suku Walser yang misterius di Museum Walser dan perhatikan rumah tradisional berusia 400 tahun.

Lanjutkan perjalanan dengan naik bukit di pinggiran kota untuk mencapai Kastil Vaduz. Kastil ini Kediaman pangeran dengan sebuah pemandangan yang luar biasa indah dengan puncak gunung bersalju di latar belakangnya. Kunjungi juga Kastil Gutenberg, yang memesona, 20 menit di selatan Vaduz. 

Atap-atap runcing menjulang tinggi dari bangunan yang berdiri sejak abad ke-13 ini. Nikmati juga jalan setapak di antara lahan hutannya. Lanjutkan perjalanan ke utara menuju kota Triesenberg yang damai, berdiri di ketinggian 1000 meter dari permukaan laut. 

Luangkan waktu untuk mengunjungi Malbun, sebuah resor ski Eropa. Kawasan ini menawarkan lereng-lereng yang tenang, yang tersebar di areanya yang seluas 20 km, cocok bagi pemain ski dengan semua tingkat kemampuan. Untuk musim panas, hiking dan bersepeda gunung adalah pilihan aktivitas yang cocok.

Banyuwangi Siap Terima Kembali Kunjungan Wisatawan

this formate

Bupati Banyuwangi, Azwar Anas terapkan sertifikasi  bagi pelaku usaha pariwisata. ( Foto: Kemenparekraf) 

BANYUWANGI, bisniswisata.co.id: Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menyatakan diri siap menerima kembali kunjungan wisatawan yang ingin menikmati berbagai kekayaan alam dan budaya yang ada di wilayah itu.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, dalam keterangannya mengatakan, pihaknya berupaya semaksimal mungkin untuk menerapkan protokol kesehatan di sektor pariwisata.

Dia juga memberikan sertifikasi terhadap pelaku wisata yang telah memenuhi dan mengikuti standar protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability ) dan menerapkan sanksi tegas bagi pelaku wisata yang tidak mematuhi protokol kesehatan.

“Banyuwangi telah memberikan sertifikasi bagi pemandu wisata serta pelaku usaha restoran dan warung makan. Tidak hanya sertifikasi, Banyuwangi juga melakukan penegakan aturan misalnya penutupan tempat usaha bagi mereka yang tidak memenuhi protokol kesehatan,” kata Anas.

Sebelumnya, Anas hadir dalam diskusi daring “Bincang Santai: Ada Apa di Banyuwangi?” yang digelar beberapa waktu lalu. Anas juga mengungkapkan Dinas Pariwisata dan Dinas Komunikasi dan Informasi, telah merangkum dan mendata hotel, restoran, warung makan, dan home stay yang telah mendapat sertifikasi.

Pelaku yang patuh protokol kesehatan daftarnya dimasukkan  ke dalam situs www.banyuwangitourism.com. Rangkuman informasi ini, lanjut Anas, merupakan suatu hal yang penting untuk meyakinkan wisatawan agar datang berkunjung ke Banyuwangi.

“Di era multimedia ini, informasi sangat terbuka. Setiap orang bisa memberikan review dan di era multimedia ini kualitas menjadi penting, keramahan tetap diutamakan tapi begitu terjadi pandemi COVID-19, kesehatan jadi yang paling utama,” ungkap Anas.

Tak hanya itu, Anas juga menuturkan hampir seluruh destinasi wisata yang ada di Banyuwangi telah menerapkan protokol kesehatan. Azwar Anas bahkan menyebutkan destinasi Kawah Ijen, misalnya, juga telah kembali dibuka dan siap menerima wisatawan.

Salah satu obyek wisata di Banyuwangi yang siap menerima kunjungan wisarawan domestik. ( Foto-foto : Kemenparekraf)

“Kawah ijen sudah kami buka setelah ada sekitar 90 pelaku pariwisata tersertifikasi, karena referensi wisatawan ke depannya tidak hanya karena tempat yang bagus tapi juga ada pemahaman tentang kesehatannya. Jadi kami berupaya membekali dan melatih supaya mereka bisa menjelaskan soal protokol kesehatan kepada wisatawan,” katanya.

Tak hanya wisata alam seperti Kawah Ijen, Jawatan Benculuk Banyuwangi, Pantai G-Land, Agrowisata Taman Suro, dan Taman Nasional Meru Betiri, Anas menuturkan Banyuwangi juga dikenal karena kekayaan kulinernya yang beraneka ragam.

Maka tak heran jika pihaknya juga gencar mengembangkan potensi-potensi kuliner lokal yang ada di daerah tersebut dengan mengadakan culinary night bertema keanekaragaman pangan lokal dengan mengajak para pedagang kaki lima.

“Pariwisata harus memberikan ruang bagi rakyat untuk berpartisipasi mendapat kesejahteraan,” ujar Azwar Anas.

Dalam kesempatan itu turut hadir Miss Tourism and Culture Universe 2019, Olivia Gunawan, yang mempromosikan potensi wisata Banyuwangi sekaligus sebagai tanah kelahirannya. Di antaranya adalah destinasi-destinasi wisata yang bisa jadi pilihan lokasi berfoto yang unik dan menarik.

Spot instagrammable di Banyuwangi itu banyak, biasanya saya berkunjung ke Jawatan, karena pohon-pohonnya seperti di negeri dongeng, kemudian ke Agrowisata Taman Suro karena udaranya yang sejuk dan bunganya indah, dan ke pantai-pantai yang ada di Banyuwangi,” kata Olive.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menyambut baik kesiapan Kabupaten Banyuwangi dalam membuka kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Dia mengatakan penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environmental, Sustainability) merupakan salah satu strategi pariwisata yang penting dalam menciptakan daya tarik.

“Bisnis pariwisata adalah bisnis kepercayaan. Pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif Banyuwangi harus menjalankan protokol kesehatan dengan tanggung jawab sehingga mampu membangun kepercayaan dan rasa aman bagi wisatawan,” kata Wishnutama.

Apa yang Harus Dipelajari Rapat Virtual dari Video Game ?

this formate

COVID-19 telah memberi penyelenggara pertemuan dengan satu pilihan ubah ke virtual seperti Video Game. ( Foto: gameinformer)

NEW JERSEY, bisniswisata.co.id: Di tengah pandemi COVID-19, perencana pertemuan membatalkan atau menjadwalkan ulang pertemuan dan acara mereka, tetapi dari 23 hingga 25 April, artis hip-hop Travis Scott melakukan lima konser dengan total lebih dari 27 juta orang di seluruh dunia.  

Dilansir dari Business Travel News ( BTN) diungkapkan bahwa acara ini diselenggarakan secara virtual di platform game online Fortnite.  Scott tampil dari rumahnya sementara peserta menari di konser sebagai avatar.

Meskipun sebagian besar kesuksesan konser dapat dikaitkan dengan ketenaran pemainnya, faktor lainnya mungkin adalah pengalaman video game itu sendiri.  

Jika rapat virtual ingin melibatkan generasi pekerja berikutnya — mereka yang lahir setelah 1996 yang juga disebut Gen Z atau Zoomers — maka penyedia teknologi harus meningkatkan permainan mereka dan rapat pemilik serta perencana perlu mengambil lebih banyak risiko teknologi.

Menurut VP DigiTravel Consulting Shimon Avish, perusahaan lambat dalam mengadopsi rapat virtual.  Salah satu alasannya, kata kepala strategi Bizly, Kevin Iwamoto, adalah karena teknologi baru dapat menyebabkan kesalahan eksekusi.  

“Anda diharapkan tampil 100 persen setiap kali Anda mengatur rapat.  Bos Anda ingin semuanya berjalan sesempurna mungkin, jadi tingkat ekspektasinya seperti menjadi pilot, Semua kekacauan besar akan berdampak buruk bagi perusahaan.” kata Iwamoto.  “

COVID-19 telah memberi penyelenggara pertemuan dengan satu pilihan: ubah ke virtual atau batal.  Namun, ketika mereka melakukannya, banyak yang terkejut melihat acara mereka menarik lebih banyak peserta. Tantangannya adalah bagaimana melibatkan mereka.

 “Bagaimana Anda mendapatkan partisipasi dan interaksi massa dalam lingkungan di mana orang tidak bersama-sama dalam satu ruangan dan tidak ada energi kerumunan?”  Kata Iwamoto. 

Banyak perusahaan telah membuat kesalahan dengan mereplikasi apa yang mereka lakukan secara langsung ke konferensi virtual mereka.

 “Anda pergi ke webinar atau rapat tim internal dan Anda terganggu oleh teknologi,” kata Avish.  Jika rapat virtual akan berkembang — dan memberikan keuntungan nyata bagi tuan rumah dan peserta — mereka harus menciptakan keajaiban, komunitas, dan kegembiraan online.

 Anak-anak baik-baik saja

Center for Generational Kinetics menerbitkan laporan tahun lalu berjudul “State of Gen Z.”  Itu menganalisis survei terhadap 2.000 responden AS, dimana 50% di antaranya lahir setelah 1996. 

Menurut laporan itu, 61% Gen Z melaporkan game setidaknya sekali seminggu dan untuk anggota Gen Z yang lebih muda (usia 13-17), bahwa  jumlahnya lebih tinggi pada 70 persen.  Sekitar 79 persen gamer Gen Z mengatakan hal favorit mereka tentang game adalah “itu menyenangkan”.

Ditelusuri lebih jauh, hampir setengah dari kelompok itu mengatakan bahwa aspek favorit mereka adalah waktu yang mereka habiskan bersama teman-teman mereka. 

Itu juga yang dimaksudkan untuk dilakukan rapat — mempertemukan sekelompok orang yang berpikiran sama atau yang ingin bertukar ide tentang minat bersama.

 Gen Z — digital native yang lahir setelah internet — telah menggunakan platform virtual untuk menjaga hubungan dan melakukan hal itu.  “Milenial dan Gen Z menemukan cara untuk mengembangkan komunitas dan hidup di dunia virtual,” kata Iwamoto.

Platform game online telah memecahkan kode untuk mempertahankan partisipasi dan keterlibatan skala besar.  Beberapa orang akan mengatakan mereka sangat pandai membuat orang kecanduan. Seharusnya sulit bagi pembeli dan pemasok pertemuan virtual untuk tidak belajar darinya.

Menurut konsultan teknologi pertemuan Corbin Ball.  “Video game besar telah mengungguli film blockbuster utama dengan lusinan atau bahkan ribuan kali lebih banyak.  Mereka hanya penghasil uang besar, ”katanya, menambahkan e-sports ke kategori itu juga.

Namun, platform pertemuan virtual terkadang menimbulkan gesekan, kata Ball.  “Bagaimana seorang peserta pameran bertemu dengan seorang peserta dan benar-benar menjalankan bisnis?”  Ball bertanya.

Dia menambahkan bahwa pengguna akan memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda dengan partisipasi digital.  Platform virtual, katanya, perlu memudahkan rata-rata orang untuk menggunakan dan menavigasi.  

Dia menunjuk Second Life, yang dia gunakan lebih dari satu dekade lalu untuk percakapan virtual, hanya sebagai satu contoh yang tidak pernah menyampaikan pengalaman intuitif itu.

Sudah ada beberapa strategi keterlibatan yang digabungkan dari game online.  “Teknologi acara telah meminjam dari game untuk mencapai (keterlibatan) selama lebih dari satu dekade.

Dimulai dengan gamifikasi yang dibangun ke dalam aplikasi seluler acara untuk menghadirkan perangkat seluler ke dalam pengalaman alih-alih bersaing dengan mereka,” kata salah satu pendiri Cvent dan CTO Dave Quattrone, yang mengatakan  acara masa depan akan beralih ke platform hybrid langsung dan virtual.

Di dunia game, video game mengaitkan pengguna dengan alat perilaku seperti alur cerita mendebarkan yang mengharuskan pemain untuk maju dengan menyelesaikan tugas, sistem poin, kompetisi multipemain, atau pengalaman imersif.

VR  Dicadangkan pada Pertemuan Mendatang

Penyedia acara virtual, Remo, telah memasukkan strategi permainan komunikasi “buat petualangan Anda sendiri” dan multipemain untuk melampaui konferensi video dan berbagi layar dan untuk mengaktifkan interaktivitas dan navigasi yang lebih mirip permainan, kata kepala kesuksesan pelanggan Remo, George Huang.

 Di Remo, misalnya, peserta dapat bernavigasi di sekitar dan di dalam gedung virtual serta duduk dan mengobrol dengan peserta lain di meja virtual.

Di dunia game, pengguna juga terpikat dengan menggunakan pengontrol, headset, dan ponsel yang digunakan pemain untuk berinteraksi dengan game yang mereka mainkan dan dengan pemain lain.  

Desainer game mengintegrasikan headset realitas virtual untuk membawa pengguna ke dunia dan aksi game. Dari semua alat keterlibatan yang digunakan di dunia game, teknologi Virtual Reality ( VR) adalah yang paling mungkin memasuki ruang pertemuan virtual dalam dekade mendatang.

Penyedia rapat virtual, Intrado dan Remo, berbeda dalam hal nilai pengalaman imersif untuk menambahkan keterlibatan dalam rapat, tetapi mereka berdua mengharapkan VR untuk mengetahui cara orang terhubung dalam rapat dan industri acara.

Presiden Intrado Digital Media Ben Chodor melihat fitur permainan yang imersif menjadi masa depan teknologi platform pertemuan virtual.  Peserta akan dapat terlibat dengan konten, pameran, dan peserta lainnya dalam lingkungan yang imajinatif dengan teknologi augmented reality dan virtual. 

Dia memprediksi Intrado menginvestasikan uang dan mempekerjakan pengembang game untuk membantu perusahaan naik level dalam hal pengalaman yang imersif.  

Perusahaan ini ingin meluncurkan versi generasi berikutnya dari produk rapat virtual yang menggabungkan lebih banyak kualitas seperti VR dan memberikan alat canggih yang dapat didekati kepada penyelenggara rapat untuk menangkap imajinasi audiens mereka.

 “Saat kami melewati kuartal ketiga dan keempat tahun 2021, beberapa teknologi yang akan kami lihat akan membuat semua orang terpesona dan untuk pertama kalinya acara virtual akan menyaingi acara fisik,” kata Chodor.

Huang mengantisipasi kacamata VR pada akhirnya akan masuk ke ruang pertemuan virtual, tetapi menyebut penggunaan pengalaman imersif dalam pertemuan virtual sebagai “menarik perhatian” dan “mencolok” dan tidak penting untuk tujuan pertemuan, yaitu untuk memfasilitasi hubungan manusia yang otentik dan kuat.  

Remo tidak melihat pengalaman mendalam di masa depan, setidaknya saat ini, katanya. Sebaliknya, Remo lebih fokus untuk menyempurnakan pengalaman platformnya agar lebih intuitif, tanpa gesekan, dan mudah diakses.

Huang meramalkan revolusi yang akan datang dalam kolaborasi dan jaringan, di mana siapa pun di seluruh dunia akan dapat berpartisipasi dan mengembangkan koneksi di sebuah acara. 

Dia juga mengharapkan semua teknologi pertemuan virtual membuat acara dapat diakses oleh mereka yang memiliki gangguan pendengaran dan penglihatan.

Demikian pula, Chodor mengharapkan partisipasi didemokratisasi dengan teknologi rapat virtual yang disesuaikan dengan preferensi interaksi peserta. 

Setiap peserta akan dapat berpartisipasi kapan pun mereka mau, dengan siapa pun yang mereka inginkan dan melalui berbagai media teknologi, baik itu AR, VR, ponsel, komputer, atau menghadiri acara secara langsung.  

Misalnya, peserta akan dapat menggunakan VR untuk berinteraksi dengan stan dan produk di pameran sementara yang lain dapat melihat dan berinteraksi dengan sesi panel di iPhone mereka.

Baik Chodor dan Huang juga setuju bahwa penyelenggara harus meningkatkan keterampilan tidak peduli seberapa intuitif alatnya.  Setahun dari sekarang, keduanya setuju, perusahaan yang menyewa penyelenggara rapat akan menanyakan tentang pengalaman perencanaan virtual mereka.

 Chodor juga mengatakan bahwa mereka perlu membuktikan kreativitas mereka dalam melibatkan peserta dalam lingkungan online.

“Momen ‘ooh-aah’ tidak berlangsung selama tiga hari,” katanya, seraya menambahkan bahwa sangat penting bagi penyelenggara untuk menjaga momen tersebut tetap datang.  “Jika saya pergi ke sesi yang tidak menarik dan tidak dapat berinteraksi dengan siapa pun karena itu 2D atau 1D… maka saya tinggal satu klik untuk tidak pernah kembali.”

 

Normalisasi Arab-Israel Pengaruhi Industri Pariwisata

this formate

Hotel mewah Rixos the Palm Dubai (foto: the booking)

JERUSALEM, bisniswisata.co.id: Beberapa hari lalu hubungan diplomatik antara Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) kembali dinormalkan. Delegasi kedua negara akan segera bertemu.

Dalam beberapa minggu mendatang  delegasi akan  menandatangani serangkaian perjanjian bilateral di sejumlah bidang termasuk investasi, pariwisata, penerbangan langsung, keamanan, telekomunikasi, dsb.

UEA menjadi negara Teluk Arab pertama yang melakukan kesepakatan normalisasi diplomatik dengan Israel.

Perkembangan ini segera direspons para pelaku bisnis. Hanya beberapa saat saja setelah kedua negara mengumumkan kesepakatan tersebut, Aviation Links – salah satu perusahaan pariwisata terbesar di Israel – menyatakan akan mulai menjual paket liburan ke Rixos Hotels, hotel mewah yang ikonik di Dubai.

Rixos The Palm Dubai, misalnya, merupakan sebuah resor pantai mewah dengan multi konsep. Lokasinya yang strategis menawarkan pemandangan spektakular perairan biru Teluk Arab, cakrawala Dubai Marina, serta landmark terkenal lain di Dubai.

Perjanjian antara Rixos Hotels di Dubai dengan Aviation Links di Israel merupakan yang pertama dalam industri pariwisata setelah kedua negara mengumumkan segera menormalisasi hubungan diplomatik dan menjalin hubungan baru yang luas, seperti dilansir Reuters.

Hingga saat ini, turis Israel belum diizinkan memasuki negara teluk tersebut meski sebenarnya beberapa eksekutif bisnis dengan dua kewarganegaraan telah mondar-mandir masuk tapi dengan menggunakan paspor non-Israel.

Aviation, yang mengelola agen perjalanan Kishrey Teufa di Israel, mengatakan paket menginap ke empat Hotel Rixos di Dubai akan tersedia saat liburan orang-orang Yahudi, Sukkot, yang jatuh pada pertengahan Oktober. Mereka akan diterbangkan dengan Turkish Airlines.

Nir Mazor, vice president Aviation, mengatakan paket ini awalnya hanya akan tersedia bagi orang Israel yang memiliki izin masuk ke Emirates. Tapi nanti setelah kesepakatan normalisasi selesai, setiap warga negara Israel bisa masuk.

Sementara itu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel juga tengah mempersiapkan penerbangan langsung ke Arab Saudi.

 

Zona Merah, Tidak Kondusif, Indonesia Belum Ijinkan Wisman Berkunjung

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Pemerintah Indonesia masih memberlakukan kebijakan melarang warga negaranya berwisata ke luar negeri, paling tidak sampai akhir tahun 2020. Sejalan dengan itu Pemerintah Indonesia juga belum dapat membuka pintu masuk untuk wisatawan manca negara ke Indonesia sampai akhir tahun 2020.

“Indonesia masih termasuk kategori zona merah. Situasi di Indonesia belum kondusif untuk mengizinkan wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia, termasuk berkunjung ke Bali,” demikian diungkapkan Gubernur Bali W Koster dalam pers rilis yang diterima bisniswisata.co.id, Sabtu 22 Agustus 2020.

Lebih jauh dituliskan, belum ada satu pun negara di dunia yang memberlakukan kebijakan untuk mengijinkan warganya berwisata ke luar dari negaranya. Bahkan negara-negara di dunia memberlakukan kebijakan pembatasan aktivitas yang sangat ketat terhadap warganya karena pandemi COVID-19 masih mengalami peningkatan sehingga mengancam kesehatan dan keselamatan warganya.

Sebagai contoh, Australia yang warganya paling banyak berwisata ke Bali baru berencana mengizinkan warganya untuk berwisata pada tahun 2021. Demikian pula halnya Tiongkok, Korea, Jepang, dan negara-negara di Eropa.

Secara prinsip, lanjutnya, Pemerintah Pusat sangat mendukung rencana Pemerintah Provinsi Bali untuk memulihkan kepariwisataan, dengan membuka pintu untuk wisatawan manca negara berkunjung ke Bali. Namun hal itu memerlukan ke hati-hatian, tidak boleh terburu-buru,dan memerlukan persiapan yang sangat matang.

Hal ini disebabkan posisi Bali sebagai destinasi utama wisata dunia, yang sangat tergantung dan berdampak pada kepercayaan masyarakat dunia terhadap Indonesia, termasuk Bali. Dalam upaya pemulihan pariwisata, Bali tidak boleh mengalami kegagalan karena akan berdampak buruk terhadap citra Indonesia termasuk Bali di mata dunia, yang bisa berakibat kontra produktif terhadap upaya pemulihan pariwisata.

Menurut Gubernur, Pemerintah Pusat memberi arahan agar Pemerintah Provinsi Bali mematangkan tata cara, sistem, dan infrastruktur agar pemulihan pariwisata Bali dapat dilaksanakan dengan lancar dan sukses, dengan tetap mampu menangani pandemi COVID-19 secara baik.

Mengenai kapan akan dimulainya wisatawan manca negara diizinkan berkunjung ke Bali, sangat ditentukan berdasarkan penilaian terhadap perkembangan situasi di dalam dan di luar negeri.

Oleh karena itu, sampai akhir tahun 2020 ini, Pemerintah Provinsi Bali akan mengoptimalkan upaya mendatangkan wisatawan nusantara berkunjung ke Bali dalam rangka memulihkan pariwisata dan perekonomian Bali.

Tahap Tiga Dibatalkan

Seperti diketahui bersama munculnya pandemi COVID-19 yang menimpa 215 negara di dunia, termasuk di Indonesia dan di Bali, telah menimbulkan dampak luas dan serius dalam berbagai bidang kehidupan kesehatan, sosial, dan ekonomi termasuk pariwisata, yang telah dirasakan oleh masyarakat Bali secara umum.

Dalam menangani pandemi COVID-19, sesuai arahan dan kebijakan Pemerintah Pusat, TNI/Polri, Kejaksaan, Pemerintah Provinsi Bali bersama Pemerintah Kabupaten/Kota se-Bali, Majelis Desa Adat, Majelis Keagamaan, Desa Adat, Desa/Kelurahan, dan seluruh komponen masyarakat telah solid bergerak dengan bergotong-royong, secara niskala dan skala, sehingga Bali mencapai hasil yang baik dalam mengendalikan penyebaran pandemi COVID-19.

Hasil yang baik tersebut ditandai dengan terkendalinya kasus positif baru (total kumulatif sebanyak 4.024 kasus COVID-19), tingkat kesembuhan yang tinggi (mencapai 3.532 orang, 87, 77 %), dan jumlah yang meninggal akibat COVID-19 di Bali relatif kecil (49 orang, 1, 2 %).

Dampak pandemi COVID-19 terhadap perekonomian Bali telah mulai dirasakan yaitu; lumpuhnya pariwisata, penurunan omset penjualan UMKM dan Koperasi, penurunan penjualan produk pertanian dan industri kerajinan rakyat, yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Bali mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif), pada Triwulan I sebesar -1,14% dan pada Triwulan II sebesar -10,98%.

Para pekerjadi sektor formal usaha jasa pariwisata telah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak 2.667 orang dan yang sudah dirumahkan sebanyak 73.631 orang.

Oleh karena itu menurut Gubernur Bali, sudah harus dilakukan 2(dua) hal secara bersamaan yaitu: pertama, penanganan COVID-19 dilaksanakan dengan semakin baik, mengingat sampai saat ini belum ditemukan vaksin dan obat untuk menyembuhkan orang yang terjangkit COVID-19; kedua, melakukan aktivitas dan berbagai upaya dalam rangka pemulihan perekonomian demi keberlangsungan kehidupan masyarakat.

Gubernur Bali bersama Bupati/Walikota se-Bali telah bersepakat untuk melaksanakan aktivitas masyarakat yang produktif dan aman COVID-19 secara bertahap, selektif, dan terbatas dengan melaksanakan Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru. Adapun tahapannya meliputi

Tahap pertama, melaksanakan aktivitas secara terbatas dan selektif hanya untuk lingkup lokal masyarakat Bali, mulai tanggal 9 Juli 2020 yang bertepatan dengan hari baik, pada hari Kamis Umanis Sinta. Diijinkan terbatas hanya pada sektor:

a) kesehatan;

 b) kantor Pemerintahan;

c) adat dan agama;

d) keuangan, perindustrian, perdagangan, logistik, transportasi, koperasi, UMKM, pasar tradisional, pasar modern, restoran, dan warung;

e) pertanian, perkebunan, kelautan/perikanan, dan peternakan; dan

f) jasa dan konstruksi.

Tahap kedua, melaksanakan aktivitas secara lebih luas, termasuk sektor pariwisata, namun hanya terbatas untuk wisatawan nusantara, mulai tanggal 31 Juli 2020 yang bertepatan dengan hari Jumat, Pon, Kulantir.

Aktivitas tahap pertama dan tahap kedua, telah berlangsung relatif baik dan sukses. Dari hasil evaluasi menunjukkan bahwa aktivitas tahap pertama dan tahap kedua tidak menimbulkan dampak terhadap kasus COVID-19.

Tidak terjadi peningkatan kasus baru COVID-19, tidak memunculkan clusterbaru kasus COVID-19. Munculnya kasus baru COVID-19 dapat dikendalikan, tingkat kesembuhan makin tinggi,dan tingkat kematian dapat dikendalikan.

Sejak dibuka tanggal 31 Juli 2020, jumlah wisatawan nusantara (domestik) yang berkunjung ke Bali melalui pintu Bandara I Gusti Ngurah Rai telah meningkat mencapai lebih dari 100%. Sampai tanggal 14 Agustus 2020, jumlah wisatawan nusantara yang melalui pintu Bandara I Gusti Ngurah Rai mencapai sekitar 2300-2500 orang per hari.

Tahap ketiga, direncanakan melaksanakan aktivitas secara lebih luas sektor pariwisata termasuk untuk wisatawan mancanegara, mulai tanggal 11 September 2020 yang bertepatan hari Jumat, Kliwon, Sungsang, Sugihan Bali.

Berkenaan dengan rencana tahap ketiga, dimulainya aktivitas pariwisata untuk wisatawan manca negara, perlu mempertimbangkan secara matanghal-hal sebagai berikut: Masih berlaku Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor 11 Tahun 2020 tentang Pelarangan Sementara Orang Asing Masuk ke Wilayah Negara Republik Indonesia.

Pemerintah Indonesia masih memberlakukan kebijakan yang melarang warga negaranya berwisata ke luar negeri, paling tidak sampai akhir tahun 2020. Belum ada satu pun negara di dunia yang memberlakukan kebijakan untuk mengijinkan warganya berwisata ke luar dari negaranya.

Karena Indonesia masih termasuk kategori zona merah. Situasi di Indonesia belum kondusif untuk mengizinkan wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia, termasuk berkunjung ke Bali. Pemerintah Pusat memberi arahan agar Pemerintah Provinsi Bali mematangkan tata cara, sistem, dan infrastruktur agar pemulihan pariwisata Bali dapat dilaksanakan dengan lancar dan sukses, dengan tetap mampu menangani pandemi COVID-19 secara baik.

Mengenai kapan akan dimulainya wisatawan manca negara diizinkan berkunjung ke Bali, sangat ditentukan berdasarkan penilaian terhadap perkembangan situasi di dalam dan di luar negeri. Oleh karena itu, sampai akhir tahun 2020 ini, Pemerintah Provinsi Bali akan mengoptimalkan upaya mendatangkan wisatawan nusantara berkunjung ke Bali dalam rangka memulihkan pariwisata dan perekonomian Bali.

Dapatkah sektor MICE Berbuat Lebih Banyak Saat Ini?  

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id : Setelah perbatasan terbuka lebar dan kepercayaan konsumen pada perjalanan yang aman telah kembali, ekonomi akan memengaruhi permintaan hotel.

Akan adakah perubahan signifikan dalam industri Meeting, Incentive, Conference & Exhibition ( MICE) di era pasca COVID-19 ?. Beberapa akan bersifat struktural dan permanen. Beberapa bersifat sementara. Beberapa sudah eksis.

Dilansir dari Trevel daily news, dalam laporannya, Rod Kamleshwaran mengatakan Interaksi secara langsung tetap kuat dan tidak mungkin digantikan oleh peristiwa virtual dengan cara yang dominan. 

Acara tatap muka menarik untuk tujuan komersial dan jaringan. Sebagian besar acara akan kembali sebagai acara tatap muka, tetapi sebagian besar adalah acara campuran.

COVID-19 akan mempercepat tren digital. Pameran konsumen akan lebih mudah merangkul format acara virtual daripada pameran perdagangan.

Korporasi di masa depan akan membedakan antara perjalanan esensial dan non-esensial. Beberapa pertemuan, terutama pertemuan internal, tidak akan sepenuhnya kembali ke level sebelum pandemi global ini.

Penawaran tempat event mencakup opsi tatap muka, hibrida, atau virtual dengan infrastruktur teknologi yang ditingkatkan dan kamar yang fleksibel. 

Tour virtual untuk tempat akan menjadi hal yang biasa. Perangkat lunak pertemuan dan acara virtual akan meningkat dengan cepat. Operasi nirsentuh setelah check-in akan tetap ada.

Sertifikasi, akreditasi, dan standar kualitas baru tentang kebersihan akan menjadi normal.

Solusi untuk pemantauan keramaian, penyemprot elektrostatis untuk mendisinfeksi permukaan di ruang serbaguna dan ruang publik, mesin pembersih otomatis untuk eskalator, dan sistem penyaringan udara yang ditingkatkan untuk ventilasi akan dipromosikan sebagai fitur keselamatan di banyak tempat.

Tempat perlu menilai kesiapan “perangkat keras” dan “perangkat lunak” untuk Normal Baru ini.

Kapan New Normal tanpa COVID-19 dimulai tidak jelas. Bahkan setelah vaksin ditemukan, mungkin diperlukan satu tahun atau lebih sebelum vaksinasi di seluruh dunia.

Kepercayaan untuk perjalanan massal akan kembali. Sebuah konsensus muncul bahwa virus akan bertahan untuk sementara dan dunia harus mencari cara untuk menghadapinya.

Apakah kita membiarkan harapan besar kita akan vaksin menghalangi kita untuk menemukan solusi untuk kembali lebih awal ke keadaan normal, bahkan di dunia yang sangat terganggu dengan COVID-19? 

Dapatkah sektor MICE berbuat lebih banyak saat ini, dengan mengetahui risiko infeksi gelombang kedua dan kemungkinan ada lockdown lagi ? 

 

Sektor MICE Dunia di Era COVID-19, Dari Periode Lockdown Hingga New Normal

this formate
Fasilitas MICE, Gardens by the Bay, Singapura bisa menampung 30.000 tamu di atas tamam seluas 22.000 m2. ( Foto: visitsingapore.com)

 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Seiring dengan ‘keluar’nya banyak negara dari era lockdown, perilaku kita disesuaikan dengan mempersiapkan diri di era New Normal. Kita bahkan tidak tahu pasti kaoan sebenarnya era New Normal tanpa  ada ancaman COVID-19 akan dimulai.

Apakah kita perlu membiarkan harapan tinggi pada vaksin hingga menghalangi kita untuk menemukan solusi  hidup yang sedekat mungkin dengan kehidupan normal atau bisa dibilang siap hidup berdampingan dengan COVID-19?.

Dilansir dari Traveldailynews.com, laporan ini intinya mempertanyakan apakah sektor Meeting Incentive Conference & Exhibition ( MICE)  lebih siap mengenali resiko dari infeksi penularan dan penerapan kembali lockdown jika harus terjadi.

Pada 30 Juli, UNWTO melaporkan bahwa 40% tujuan telah mengurangi pembatasan perjalanan. Di waktu yang sama, WHO mengeluarkan tata cara untuk melanjutkan perjalanan serta pernyataan agaknya larangan perjalanan tidak dapat identifikasi bisa dilakukan selamanya.

Saat ini kita berada dalam masa transisi dimana kegiatan ekonomi harus kembali berjalan ditengah-tengah COVID-19. Fase ini akan berlangsung hingga tersedianya vaksinasi secara  meluas, mungkin setelah tahun 2022 dimana kehidupan New Normal tanpa virus dimulai.

Organisasi Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional atau disebut International Air Transport Association ( IATA) pada Juli 2020 melaporkan bahwa jumlah penumpang pada 2020 turun 55%, ke level 2006, dan bisa jadi tidak pulih ke level tahun 2019 hingga empat tahun ke depan atau baru pada 2024.

STR, pada Juni 2020 memprediksi bahwa pendapatan hotel di Amerika Serikat per jumlah kamar yang tersedia (RevPAR) kemungkinan tidak akan kembali ke level 2019 sebelum 2023.

Lalu lintas udara dan permintaan hotel adalah indikator luas untuk sektor pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran (MICE). Pemulihan penuh sektor MICE tampaknya tidak mungkin terjadi sebelum 2024. 

Laju dan tingkat pemulihan akan bervariasi menurut wilayah dan segmen bisnis. Pasar negara berkembang dengan tren pertumbuhan yang kuat diharapkan pulih lebih awal.

Pasar MICE domestik akan kembali sebelum internasional, dan segmen rekreasi juga akan mendahului segmen bisnis mengingat krisis saat ini belum pernah terjadi sebelumnya dan masih terus berkembang, bahkan periode pemulihan total juga  tetap belum pasti

Periode Lockdown

Saat sejumlah negara di dunia menerapkan lockdown untuk menyetop penyebaran virus terutama pada  Maret hingga Mei setelah pandemi COVID-19 diumumkan dan memicu penguncian gglobal.Maka terjadilah penutupan perbatasan dan sebagian besar aktivitas ekonomi.

Di banyak negara, aktivitas non-esensial berhenti hingga 4 bulan. Banyak jam malam yang diberlakukan. Krisis masa lalu terbatas pada segmen dunia yang lebih kecil. Tapi kali ini tidak ketika 6 April 2020, organisasi keseharan dunia WHO melaporkan bahwa 96% dari semua tujuan di seluruh dunia telah memberlakukan pembatasan perjalanan.

IATA melaporkan penurunan 94% lalu lintas udara untuk April 2020. Banyak negara maju dan negara berkembang tetap terkunci karena COVID-19 meningkat. Tempat- tempat di seluruh dunia ditutup dan banyak yang diubah menjadi pusat karantina, pusat pengujian, atau rumah sakit sementara.

“Tahap Transisi”

Banyak negara saat ini sudah berada pada tahap kedua dan melakukan pembukaan kembali daerah perbarasannya. Tidak hanya di negara-negara yang telah menekan penyebaran COVID-19 tetapi juga negara-negara dengan kasus aktif masih tinggi bahkan dengan risiko infeksi gelombang kedua dan kemungkinan lockdown ulang juga telah membuka diri.

Bulan Juni menandai pelonggaran skala luas dalam pembatasan yang memungkinkan aktivitas pasar domestik di banyak negara. Di bulan yang sama, beberapa destinasi mulai membuka pasar regional.

Di bulan Juli, UNWTO melaporkan bahwa 40% destinasi mengurangi pembatasan perjalanan, naik dari 22% di bulan Juni. Dari 87 negara yang melonggarkan pembatasan perjalanan, empat sepenuhnya mencabut semua pembatasan perjalanan yaitu  Albania, Maladewa, Serbia dan Tanzania.

Meski demikian, sedikitnya 115 negara tujuan termasuk Australia, Kanada dan India terus menutup perbatasan mereka sepenuhnya.

Pembukaan bertahap sebagian besar dikaitkan dengan musim panas di belahan bumi utara yang dipimpin oleh pembukaan perbatasan di Uni Eropa pada 1 Juli 2020. 

Eropa memimpin pembukaan dengan 41 negara, di susul 20 negara di benua Amerika, 13 negara di Afrika, 10 negara di Asia-Pasifik, dan 3 negara di Timur Tengah.

China dan AS adalah  negara-negara dengan basis domestik yang kuat memimpin paket pemulihan dengan tingkat hunian hotel per mingguan masing-masing hingga 55% dan 48% pada akhir Juli. STR melaporkan daerah lain hampir 20%. 

Hotel-hotel AS cenderung lebih mengandalkan bisnis MICE daripada di Asia Pasifik di mana pasar rekreasi lebih dominan. Tanpa bisnis grup ini, pemulihan hotel AS akan sulit stabil.

Jika 87 negara mengelola perjalanan skala besar tanpa peningkatan kasus COVID-19 yang signifikan, hal itu akan sangat membantu dalam menciptakan kepercayaan konsumen yang diperlukan untuk pemulihan sejati. Sebaliknya, jika terjadi lonjakan kasus berisiko maka akan mengalami kemunduran besar.

Pemulihan hotel dipimpin oleh kategori non-mewah dengan puncak rekreasi domestik pada akhir pekan. Pemulihan perjalanan perusahaan telah dimulai di beberapa pasar, tetapi banyak rapat kecil tidak akan kembali dari platform virtual yang diadopsi selama masa lockdown

Pemulihan sektor MICE dipimpin oleh aktivitas domestik. Protokolnya mencakup peserta melakukan registrasi (pendaftaran) tanpa kontak, pemindaian termal, pemakaian masker wajah, peningkatan kebersihan, dan penerapan jaga jarak sosial secara ketat.

Soal jarak sosial lebih mudah ditangani dengan aktivitas pameran daripada konferensi. Dengan virus yang terkendali, China, Korea, Taiwan, Hong Kong dan Jerman memimpin kembalinya acara skala besar dengan pameran dan acara pemerintahan

Banyak acara telah beralih ke format virtual atau hibrid dalam jangka pendek. Pentingnya digitalisasi dan fleksibilitas tempat telah meningkat. Acara multi-lokasi di mana acara tatap muka di lokasi regional berbeda terhubung secara online untuk membentuk acara global yang lebih besar sedang berkembang. Ini menarik dalam fase saat ini karena peserta kurang percaya diri untuk perjalanan dan pertemuan besar.

New Normal telah digambarkan sebagai pandemi sekali dalam satu abad. Kondisi ini telah menantang kita untuk mengevaluasi ulang sepenuhnya bagaimana kita berpikir, hidup dan bekerja.

Masih ingat Serangan teror 9/11 di AS yang menyebabkan perubahan dramatis dalam sikap terhadap keselamatan, keamanan dan privasi. Sedangkan COVID-19 memiliki dampak dramatis pada geopolitik, teknologi, dan sikap sosial. 

Teknologi telah terbukti fundamental untuk mengatasi gangguan ini. Didorong untuk lebih mempersiapkan diri menghadapi pandemi atau ancaman biosekuriti, maka banyak organisasi akan berusaha untuk memperkuat kesigapan dan ketahanan keamanan.

Ada hubungan yang kuat antara tingkat pengangguran dan permintaan hotel. Itulah sebabnya semua akan menghadapi kenyataan dan pada titik tertentu, perilaku konsumen akan bergantung pada faktor ekonomi, bukan kesehatan. Kalau banyak warga dunia menganggur maka permintaan hotel akan turun dengan sendirinya.

 

 

 

 

Pesona New Normal Museum Lawang Sewu

this formate

Layanan Foto Booth pakaian Jawa, Belanda dan Jepang warnai program Long Week-end di Nuseum Lawang Sewu. ( Foto: PT KAI Pariwisata) 

SEMARANG, bisniswisata.co.id: Sejak di buka kembali tempat wisata Museum Lawang Sewu rangkaian kegiatan terus ditingkatkan untuk memberikan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan para pengunjung setia Museum Lawang Sewu di saat masa Adaptasi Kebiasaan Baru.

Selain menampilkan layanan Foto Booth berkostum Belanda,Jawa Kuno dan Jepang serta menyelenggarakan promo dalam rangka memeriahkan HUT ke-75 RI.Kali ini Museum Wisata Lawang Sewu menghadirkan “Pesona New Normal LawangSewu”

Totok Suryono,Direktur Utama PT KA Pariwisata menyampaikan kegiatan ini diselenggarakan di masa Long weekend yang berlangsung dari tanggal 22-24 Agustus 2020. Kegiatan acara ini di diikuti secara gratis.

Di area acara para pengunjung bisa menikmati music jazz yang akan menampilkan Harry Toledo Faeturing Keys Project, dapat mencicipi makanan khas Semarang, melihat-lihat cenderamata, sekaligus ikutan lomba foto kostum bergaya Belanda, Jawa Kuno dan Jepang.

Kegiatan acara tersebut tetap menerapkan protokol kesehatan dan Para pengunjung wajib mematuhi 3M yaitu Mencuci tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak

Di lokasi Museum Wisata Lawang Sewu  juga disediakan fasilitas untuk para pengunjung seperti tempat cuci tangan, hand sanitizer, thermo gun,  jaga jarak,serta penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sesuai protokol kesehatan yang dianjurkan oleh Pemerintah.

“Fasilitas higenitas Kami siapkan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengunjung saat  berwisata dan mengikuti acara ,” Jelas Totok Suryono tanpa menjelaskan berapa target pengunjung yang diharapkannya pada long week-end ini.

 

IHLC: Pertumbuhan Sektor Makanan Halal di Tengah Pandemi Global Terus Naik

this formate

Produk-produk  Halal Food skala industri dari  Alwatania. Poultry, Saudi Arabia . ( Foto: alwatania.sa)

JAKARTA, bisniswisata.co.id; Himbauan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) agar masyarakat dunia lebih banyak mengonsumsi makanan sehat, menghindari konsumsi alkohol karena melemahkan sistem kekebalan tubuh telah berdampak pada permintaan halal food, kata Sapta Nirwandar, ketua Indonesia Halal Lifestyle Center ( IHLC), hari ini.

Pedoman WHO, menunjukkan optimisme tentang pertumbuhan sektor makanan halal di tengah pandemi global COVID karena berdampak positif pada permintaan makanan  halal.

Dimulai dari akhir Desember 2019 hingga Februari 2020, Kota Wuhan, Tiongkok dihantui oleh wabah pandemi virus corona yang menyerang warganya dan diyakini sebagai asal mula virus yang telah menyebar ke seluruh dunia.

Disebut jadi asal mula virus Corona, pemerintah China kini melarang atas perdagangan dan konsumsi hewan liar. Dampaknya langsung maupun tak langsung makanan halal semakin populer saat orang beralih untuk kenyamanan selama masa ketidakpastian.

Apalagi data dunia, kemarin (20/8) jumlah yang terpapar penyakit ini mencapai  22,5 juta kasus COVID-19 dengan 15,2 Juta pasien sembuh. Kekhawatiran atas risiko COVID-19 telah berkontribusi pada peningkatan kesadaran masyarakat dunia tentang pentingnya mengonsumsi makanan halal dan higienis. 

Demand halal food yang meningkat  mencerminkan halalan thoyyiban mengikuti prinsip-prinsip Islam.  Ini secara tidak langsung mempromosikan makanan halal, ”kata Sapta Nirwandar.

Menurut dia, konsumen semakin sadar bahwa makanan non-halal dan makanan yang tidak diolah secara higienis berpotensi besar menyebabkan penyakit seperti yang kita lihat saat ini.

Dia mengutip temuan McKinsey & Company yang menunjukkan adanya pergeseran perilaku konsumen yang lebih memilih makanan yang sehat dan bersumber secara lokal lebih banyak sekarang daripada sebelum pandemi. Perusahaan konsultan tersebut menyatakan dalam laporan April 2020 berjudul Reimagining food retail in Asia after COVID-19.

“Hal ini akan sangat bagus prospeknya bagi industri halal di tanah air maupun di seluruh dunia. Karena kita tidak bicara ‘hanya’ halal food tapi industri halal secara keseluruhan dimana bagi Muslim mulai dia bangun tidur dan sikat gigi, semua kebutuhannya sehari-hari harus mengandung bahan-bahan halal,” tambahnya.

Laporan ekonomi halal global dan domestik menunjukkan bahwa industri tersebut telah berkembang selama bertahun-tahun. Sedikitnya 1,8 miliar konsumen Muslim dunia menghabiskan sekitar US $ 2,2 triliun pada 2018 di berbagai sektor ekonomi halal, yang menunjukkan pertumbuhan 5,2 persen tahun-ke-tahun. 

” Ekonomi halal secara keseluruhan diproyeksikan bernilai $ 3,2 triliun pada tahun 2024, berdasarkan laporan Status Ekonomi Islam Global 2019 yang diproduksi oleh DinarStandard, sebuah firma konsultan dan penelitian.

“Konsumen Muslim Indonesia menghabiskan sekitar $ 218,8 miliar di seluruh sektor inti ekonomi halal pada tahun 2017 dan bahwa angkanya diperkirakan mencapai $ 330,5 miliar pada tahun 2025,” 

Untuk sektor makanan dan minuman akan  melihat pertumbuhan nilai terbesar karena pengeluaran di sektor ini diperkirakan mencapai $ 247,8 miliar pada tahun 2025, naik dari rekor US $ 170,2 miliar pada tahun 2017, ujarnya sambil menambahkan bahwa semua itu adalah proyeksi pra-COVID-19.

Sapta juga menceritakan tren melonjaknya permintaan halal food  tidak hanya terlihat di Indonesia karena Komite Pemantau Halal Inggris (HMC), sebuah badan sertifikasi halal, melaporkan peningkatan yang signifikan dalam permintaan daging halal karena wabah tersebut.

” Orang yang tadinya beli daging 1 kg setiap minggu, mereka sekarang meminta hingga 10 kali lebih banyak dalam kunjungan yang sama di awal-awal pandemi di akhir Maret. Kini pastinya data akan berubah naik lagi karena sudah 5,5 bulan wabah ini berjangkit merata dan tidak ada negara di dunia yang tidak terpapar virus,”

Seperti dilansir DinarStandard, Indonesia menempati urutan pertama dengan pengeluaran terbesar untuk makanan halal, sebesar US$ 173 miliar pada tahun 2018, jauh lebih banyak daripada Turki yang berada di urutan kedua dengan US $ 135 miliar.

Sapta mengatakan laporan tersebut juga menunjukkan bahwa bahan-bahan halal, pakan halal, teknologi makanan halal dan makanan dan makanan ringan berbahan dasar daging termasuk di antara “sektor panas untuk pertumbuhan” pada tahun 2020, menekankan bahwa ada peluang bisnis prospektif untuk dimanfaatkan di seluruh ruang makanan halal. 

Dengan wabah baru-baru ini, orang ingin meningkatkan kekebalan mereka melalui pola makan yang sehat. “Ini mencerminkan halalan thoyyiban yang mengikuti prinsip-prinsip Islam dan secara tidak langsung mempromosikan makanan halal, ”kata Sapta Nirwandar.