Carnival Cruise Line’s Carnival Valor tengah bersandar. (Foto: via Charles Pluta / Flickr)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi global membuat perusahaan kapal pesiar terpaksa memarkir kapalnya karena berhenti beroperasi senentara waktu untuk mencegah penyebaran virus Corona. Namun kreativitas juga selalu ada, yuk simak.
Ini adalah bagian yang sama keren, aneh, meski menyedihkan pada saat bersamaan sehingga tercipta sebuah tawaran yang unik, melihat kapal-kapal pesiar parkir.
Saat Ini adalah masa yang sulit bagi perusahaan kapal pesiar dan penggemar kapal pesiar. Sebagian besar, kapal telah berlabuh selama berbulan-bulan karena pandemi virus corona, meskipun beberapa jalur seperti MSC Cruises telah meluncurkan rencana perjalanan ke luar negeri.
Namun kini para pecinta kapal pesiar yang sangat ingin kembali naik kapal setidaknya bisa mendekati salah satunya, tulis Travel Pulse
Dalam tulisan yang menyenangkan ditulis oleh blog The Points Guy, sebuah perusahaan feri yang berbasis di Southampton, Inggris telah memulai “tour kapal hantu”.
Dengan biaya tambahan, Mudeford Ferry akan membawa Anda dalam perjalanan dua setengah jam yang akan membawa Anda dalam jarak sekitar 160 kaki dari semua kapal pesiar kosong yang berlabuh di lepas pantai selama penutupan kapal pesiar.
Di antara kapal yang telah berlabuh di dekat Christchurch adalah Queen Mary 2 Cunard Line, Queen Elizabeth dan Queen Victoria; dan P&O Cruises ‘Britannia, Aurora, Arcadia dan Ventura. Pada minggu ini, ada juga tiga kapal Marella Cruises dan bahkan kapal Carnival Cruise Line, Carnival Valor.
The Valor biasanya berlayar keluar dari New Orleans, tetapi itu adalah salah satu kapal yang telah dikirim Karnaval dalam perjalanan panjang ke seluruh dunia untuk memulangkan kru ke negara asal mereka.
Tak jauh dari Christchurch, di Bournemouth, Inggris, kapal Royal Caribbean Anthem of the Seas dan Allure of the Seas juga berlabuh.
Wisata kapal hantu memang cuma istilah karena hanya sedikit orang yang bekerja di atas kapal untuk memelihara kebersihan kapal dengan benar.Namun kegiatan selama 2,5 jam membuat peserta tour akan paham tak mudah mengurys armada kapal tanpa income.
Anggota tim armada American Airlines memuat bagasi ke dalam pesawat. (Foto: American Airlines)
NEW JERSEY, AS, bisniswisata.co.id: Para pekerja sejumlah maskapai penerbangan di Amerika Serikat bisa jadi mengakani kegelisahan menghadapi awal Oktober mendatang. Apa yang terjadi di AS bisa terjadi di negara lain termasuk Indonesia.
Sayangnya, tanggal tersebut telah dilingkari di kalender seperti acara bahagia – ulang tahun, hari jadi, liburan, pernikahan. Tapi 1 Oktober bukan sebagai momen yang membahagiakan. Tidak sedikit pun karena saat itu menentukan apakah pekerja kehilangan pekerjaannya.
Pada hari itulah maskapai penerbangan AS – setuju arau tidak setuju harus memecat atau merumahkan karyawan sebagai bagian dari ketentuan penerimaan hibah dan pinjaman dari CARES Act pada bulan Maret.
Dilansir dari Travel Pulse, ketentuannya dapat mulai memberhentikan pekerja dan mungkin saja 70.000 pekerjaan berisiko pada tanggal tersebut. Volume penumpang masih turun 71 persen dibandingkan tahun lalu, dan para ahli memperkirakan tidak mungkin mereka akan kembali ke tingkat pra-pandemi hingga 2024, menurut Yahoo News.
Itulah mengapa hampir setiap aspek industri maskapai penerbangan sangat berupaya melobi Kongres untuk mengeluarkan stimulus kedua yang akan mencakup hibah perlindungan gaji bagi operator dan belum ada kesepakatan yang dicapai.
“Kami berharap permintaan akan terus berubah-ubah dan pemulihan tidak akan linier sempurna karena keinginan pelanggan untuk bepergian berkembang tergantung wilayah dibuka kembali untuk bisnis. Karena tingkat infeks virus Coronai juga terus berubah seiring waktu,” kata Joanna Geraghty, Presiden dan COO JetBlue
Selama beberapa bulan terakhir, maskapai penerbangan telah berusaha menghindari PHK dengan menerapkan berbagai langkah pemotongan biaya, termasuk pemisahan sukarela.
Hampir 20 persen karyawan Delta Air Lines – lebih dari 17.000 pekerja – telah menerima tawaran pensiun dini dan “ribuan lainnya” telah setuju untuk mengambil cuti sukarela yang tidak dibayar.
“Sebuah langkah yang sulit tetapi perlu menuju transformasi Delta menjadi maskapai yang lebih kecil, lebih gesit yang akan berada pada posisi yang lebih baik untuk menanggung krisis dan pulih dengan cepat,” kata CEO Delta Ed Bastian.
Hal itu adalah penggunaan terbaik dari uang publik karena membuat maskapai tetap utuh dalam layanan penting selama pandemi ini,” kata Sara Nelson, pramugari dan presiden Asosiasi Pramugari-CWA, AFL-CIO,
Tahun 1967 Gedung Kejaksaan Agung sempat jadi landmark Kebayoran Baru. ( Foto: Tempo.co)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sabtu selepas Magrib, 22 Agustus 2020, sebuah stasiun televisi swasta nasional memberitakan, Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) terbakar.
Kobaran api dengan cepat menghanguskan isi gedung tu berbentuk kotak segi empat panjang di Jalan Sultan Hasanuddin No.1, RT.11/RW.7, Kelurahan Kramat Pela, Kecamatan. Kebayoran Baru, Jakarta.
Peristiwa yang mengejutkan publik itu segera melontarkan ingatan saya ke tahun 1967, ketika saya bersama teman-teman sebaya kerap memanjat naik ke batang bagian teratas sebuah pokok pohon karet (Havea braziliensis) hanya untuk bisa melihat komplek yang terletak persis di sebelah Gedung Kejagung.
Main di kebon memang favorit, saya dan teman -teman yang suka ngebolang saat itu. Kebun karet itu terletak di Pondok Pinang, sekitar 7 KM di sebelah barat laut Gedung Kejagung.
Kebun karet tempat kami biasa bermain, juga banyak ditumbuhi pohon liar, antara lain jenis pohon bunga bangkai (Amarpophalus sp.) yang umum dikenal sebagai pohon suweg ataupun iles-iles.
Kami biasa mencari pohon ini untuk diambil umbinya. Ada abang-abang yang biasa datang dan membeli umbi suweg dan iles-iles. Konon umbi itu akan diekspor ke Jepang, untuk diolah jadi tepung konyaku.
Dalam surat-surat resmi dan pembicaraan sehari-hari, kawasan yang kini ditulis dan disebut KebayOran Lama, masih ditulis dan disebut orang sebagai KebayUran Lama. Demikian pula KebayOran Baru, masih biasa ditulis dan disebut KebayUran Baru. Asal katanya memang dari toponimi pohon batur bukan pohon bayor
Pondok Pinang di zaman itu masih merupakan kampung pung…! Warganya masih kerap dilecehkan sebagai orangudik (wong ndeso, dalam istilah Jawa) oleh warga Jakarta lainnya di bagian utara dan beken disebut orang kota.
Bagian Pondok Pinang yang kini jadi kawasan super modern bernama Pondok Indah belum lahir. Bahkan kawasan Bintaro Jaya masih merupakan wilayah resmi Tangerang, Jawa Barat.
Bicara soal uang, suatu kali kami terlibat obrolan bahwa Indonesia sudah sejak lama punya percetakan uang sendiri. Uang itu dicetak di Perkeba (Percetakan Kebayoran), yang resminya bernama Peruri alias Percetakan Uang Republik Indonesia.
“Perkeba atau Peruri terletak perempatan lampu merah CSW, Kebayoran Baru, persis di seberang Gedung Kejagung,” ungkap saya.
Mendengar saya menyebut Gedung Kejagung, mendadak seorang teman yang belum pernah lihat gedung Peruri langsung nyeletuk, “Kalo begitu, sekarang kita panjat pohon karet, nyoook…! Kita lihat pabrik duit di samping Gedong Kejagung Yus…!” katanya.
Kami pilih pohon karet besar dan paling tinggi di jajaran paling luar batas lor (utara) kebon. Dari bebatang di pucuk pohon karet itu, terbuka pandangan ke arah timur laut.
Pemandangannya , amparan sawah di wetan Pondok Pinang, ujung Jalan Haji Nawi (rumah pemusik Koes Bersaudara), pancang antene tinggi di komplek RRI Jalan Radio Dalam, rumah-rumah bagus di kawasan Kramat Pela, dan… gedung bangunan segiempat panjang…
“Itu Gedung Kejagung. Berarti komplek perumahan dan banguan agak gede di seberangnya itu Perkeba atau Peruri, ya…?” kata teman saya, gembira.
Saya cuma mengangguk, bengong dan takjub, bahwa dari pucuk pohon karet di kampung saya, Pondok Pinang bisa melihat Gedung Kejagung terlihat jelas, dan saat itu layak disebut landmark Kota Kebayoran Baru.
Bukan yang tertinggi
Gedung Kejagung bukan gedung tertinggi di Kebayoran Baru. Saat itu ada gedung (flat pertama di Indonesia) yang lebih tinggi, yakni asrama atau mess mahasiswa kepolisian PTIK di Jl. Tirtayasa No 6 RT 009 / 04 Kelurahan. Melawai.
Tapi posisinya yang menonjol di kawasan yang relatif masih kosong, serupa ‘kotak besar’ berlantai 6, pantas menjadikannya untuk disebut sebagai landmark Kota Kebayoran Baru.
Dari ketinggian cabang pohon karet tempat saya berdiri memantau saat itu, kawasan sekitar Gedung Kejakgung memang masih melompong. Komplek Gedung ASEAN Secretariat masih berupa lahan kosong.
Disini dulu tempat parkir traktor dan alat-alat berat milik CSW (Centrale Stichting Wederopbouw) perusahaan Belanda yang jadi pelaksana pembangunan kota satelit Kebayoran Baru.
Gedung Bundar yang jadi ciri khas Gedung Kejagung belum ada. Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (GRJS) dibangun pada 25 Juni 1969 dan diresmikan tanggal 16 April 1970.
SMA Negeri 70 Jakarta (gabungan SMAN IX Jakarta dan SMAN XI Jakarta) juga masih merupakan sekolah filial dari SMA Negeri 6 Jakarta yang masih menempati ujung Jl Bulungan yang kini jadi lokasi GRJS. SMAN 6 Jakarta belum di Jl Mahakam.
Kantor Listrik Kebayoran di Perempatan CSW juga masih berupa deret rumah tinggal isntansi PLN, dan Kolam Renang Bulungan/GRJS serta bangunan lain di seberang utara Gedung Kejagung masih berupa lapangan sepakbola. Alhasil, dengan areal sekitar yang relatif masih kosong, Gedung Kejagung Memang jadi tampak menonjol.
Nasib gedung Kejaksaan Agung kini ketika dilalap api. ( Foto: Republika)
Cagar budaya
Gedung Kejagung pantas disebut sebagai cagar budaya, karena ia merupakan bagian dari ikon-ikon kota satelit Kebayoran Baru, wilayah pemukiman baru yang dirancang setelah kemerdekaan Indonesia, seperti juga daerah Pejompongan.
Kebutuhan pemukiman cukup mendesak karena Jakarta memerlukan banyak fasilitas publik sebagai pusat pemerintahan Indonesia.
Kebayoran Baru dirancang oleh H Moh. Soesilo pada tahun 1948. Soesilo adalah murid Thomas Karsten, arsitek Hindia Belanda yang ikut merancang Bandung, Malang, dan Bogor di masa kolonial.
Konsep yang digunakan adalah “kota taman”, yang banyak dipakai para pengembangan properti modern. Dalam konsep ini, ruang terbuka hijau sebagai ruang milik publik mendapat perhatian khusus.
Berlokasi di daerah dekat Setasiun Kebayoran di sisi timur Kali Grogol, peletakan batu pertama pada 8 Maret 1949 dan selesai pada tahun 1955, pembangunan Kebayoran Baru dilaksanakan perusahaan Belanda bernama Centrale Stichting Wederopbouw ( CSW).
Perusahaan ini berdiri pada Agustus 1948 yang berkantor di areal yang kini dengan megah tegak berdiri komplek Gedung ASEAN Secretariat.
Sebagai sarana pendukung untuk menghubungkan Kota Jakarta (lama) dengan Kebayoran Baru, dibangun Jl Sudirman dari daerah Dukuh Atas melintasi kawasan Setiabudi, Semanggi dan Senayan.
Sebagai kota satelit, Kebayoran Baru juga dilenggapi berbagai sarana pendukung sebuah kota, antara lain dengan membangun gedung baru untuk Kejaksaan Agung Republik Indonesia di seberang Kantor CSW.
Peletakan batu pertama pembangunan Gedung Kejagung dilakukan oleh Jaksa Agung R Goenawan, 10 November 1961 dan diresmikan oleh Jaksa Agung Mayjen Soegih Arto pada 22 Juli 1968.
Sebagai penghormatan, patung R, Soeprapto diletakkan di depan halaman gedung utama Kejaksaan Agung. Patung ini diresmikan Soegih Arto setahun kemudian, yakni pada 22 Juli 1969.
R Soeprapto adalah priyayi keturunan Jawa yang dikenal sebagai Bapak Kejaksaan RI karena jasa-jasanya bagi Korps Adhyaksa. Jika kita menelusuri jalan setapak di depan gedung utama Kejaksaan Agung, maka kita akan menemukan patung R Soeprapto tegak kokoh dikelilingi taman.
Sebelum di Jl Hasanuddin, Kejaksaan Agung berkantor di bangunan tua peninggalan Belanda di Jalan Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat, dan masih satu atap dengan Mahkamah Agung (MA).
Kejagung memisahkan diri sejak disahkannya UU No.15 Tahun 1961 tentang Ketentuan Pokok Kejaksaan, di masa Jaksa Agung R Goenawan, Menteri Jaksa Agung keenam periode 1959 – 1962.
Pada tahun 1968, gedung di Lapangan Banteng Timur sudah tidak lagi difungsikan sebagai kantor Kejaksaan Agung. Departemen Kejaksaan di bawah pimpinan Menteri Jaksa Agung Soegih Arto telah berpindah kantor ke Jalan Sultan Hasanuddin No.1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan yang dibangun di atas tanah pemerintah.
Nanun gedung itu kini kondisinya menyedihkan. Gedung Kejagung yang pernah saya ‘intai’ ketika kecil di tahun 1967, dari ketinggian ujung batang pohon karet di Pondok Pinang, sekitar 7 atau 8 Km di barat laut, nyatanya kini hangus dibakar api. Ah….!
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menjaga keberlanjutan industri pariwisata, pemerintah dihimbau agar fokus, membuka satu destinasi pariwisata nasional, yaitu Bali. Dengan memperketat pelaksanaan protokol kesehatan dan standar kelayakan kunjung yang disepakati.
Demikian ditegaskan Anggota Komisi X DPR RI, Rano Karno dalam rapat dengar pendapat umum dengan pelaku wisata secara virtual, Senin (24/8/2020).
“Ujung tombak pariwisata Indonesia tersentral di Bali. Mungkin saat ini kita beri saran kepada Pemerintah terutama Kementerian Pariwisata agar fokus saja membuka sekaligus menjaga Bali menjadi destinasi prioritas untuk masa pandemi ini,” tutur Rano.
Rapat yang dipimpin Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta menghadirkan Indonesia Wellness Master Association (IWMA) dan Indonesia Inbound Tour Operators Association (IINTOA).
Pada kesempatan tersebut IINTOA yang diwakili Nicolaus Lumanauw, Ricky Setiawanto, GIA Bramantyo dan Adelina Hutagalung memamaparkan kondisi industri pariwisata Indonesia. Menurut IINTOA, industri memerlukan kepastian pemerintah untuk membuka salah satu pintu masuk wisatawan mancanegara ke Indonesia. Sangat berharap rencana 11 September membuka gerbang Bali dapat dilakukan. Diakui atau tidak Bali masih menjadi andalan utama pencitraan kepariwisataan Indonesia di pasar dunia.
Bagi anggota IINTOA yang lebih dari 440 perusahaan, mengubah pasar dari importir wisman ke pasar wisatawan domestic, tidak semudah membalik tangan. Karakter dan prilaku pasar berbeda dan memerlukan waktu serta modal untuk memulai usaha baru tersebut.
Perwakilan Indonesia Wellness Master Association (IWMA) dan Indonesia Inbound Tour Operators Association (IINTOA), dalam dengar pendengan dengan Komisi X DPR RI.
IINTOA, saat ini sedang menggalang petisi mengugah Presiden untuk mengkaji ulang pembatasan kunjungan ke Indonesia, kebijakan visa bagi pasar- pasar potensial. Pasalnya, kinerja “importir tanpa container” (yang mendatangkan wisatawan mancanegara ke Indonesia), memiliki multi flyer efek pada sektor ikutan kepariwisataan.
IINTOA memahami stimulan yang telah digelontorkan pemerintah, namun anggota IINTOA memerlukan “pinjaman” modal untuk menjaga eksistensi perusahaan dan SDM di dalamnya.
“Kami hanya perlu pinjaman dengan bunga ringan, dan angsuran diberikan tenggang waktu pembayaran setahun kemudian baru dimulai. Bukan hibah,” tegas Ricky Setiawanto dengan nada tersendat.
Tak kurang IINTOA memberikan data pendukung yang diperlukan pihak DPR RI dari analisis ekonomi sampai dengan contoh- contoh kebijakan dari negara- negara terdampak pandemic COVID-19.
Beberapa negara terdampak COVID-19 yang sudah menerima wisatawan asing
Memulai Dari Bali
Setelah mendapat paparan kondisi bisnis dan ancaman sosial akibat dampak ikutan runtuhnya perekonomian jika industri kepariwisataan tidak segera dapat dibuka bagi wisatawan asing. Anggota Komisi X mengakui, kesulitan mengambil keputusan di masa pandemi. Tetapi, dengan membuka satu destinasi saja, lebih mudah mengantisipasi pelanggaran atau ketidakdisiplinan pelaksanaan protokol kesehatan baik oleh pelaku industri mau pun wisatawan.
Untuk merencanakan pembukaan Bali sebagai satu-satunya destinasi sementara yang dibuka bagi wisatawan asing, dipandang perlu menghadirkan Gubernur Bali dan Menteri Dalam Negeri. Pendapat dan pandangan penguasa wilayah menjadi acuan jalan keluar terbaik, terutama kepastian untuk membuka pintu masuk wisatawan mancanegara ke Indonesia.
“Dalam waktu dekat kita fokus saja untuk Bali, agar bisa dimulai destinasi ini dan mudah-mudahan tanggal 11 September bisa dimulai,” harapnya.
Suasana Changi Airport, Singapura tahun lalu dimana wisatawan transit dapat menikmati berbagai fasilitas yang ada. Singapura sejak pekan lalu longgarkan perbatasan. ( Foto: HAS)
SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyambut baik pengumuman Singapura tentang pelonggaran langkah-langkah perbatasan untuk masuk ke negara itu.
“COVID-19 telah memberikan pukulan besar bagi industri penerbangan dan jalan menuju pemulihan akan lama dan lambat. Perkiraan terbaru kami menunjukkan bahwa permintaan perjalanan tidak akan kembali ke level 2019 hingga 2024, setahun lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya,” kata Conrad Clifford, Wakil Presiden Regional IATA untuk Asia-Pasifik.
Kunci pemulihannya adalah pembukaan perbatasan dan pencabutan pembatasan perjalanan serta tindakan seperti karantina. Pengumuman dari Pemerintah Singapura ini positif dan merupakan langkah ke arah yang benar.
Pihaknya berharap dapat bekerja sama dengan pemerintah agar industri penerbangan Singapura dapat memulai kembali dengan aman sambil memitigasi kemungkinan penularan COVID-19.
“Kami mendesak negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara jni juga mencari cara untuk melanjutkan perjalanan internasional dengan aman, termasuk melalui penerapan travel bubble (gelembung perjalanan, ” kata Conrad Clifford.
Menurut dia, dampak COVID-19 yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia dan industri penerbangan berada pada posisi memberikan dukungan kehidupan.
Langkah-langkah keuangan tambahan diumumkan oleh Wakil Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Singaoura, Heng Swee Keat awal pekan lalu dan merupakan bantuan besar dan sangat dihargai oleh industri penerbangan.
Pernyataan Menteri Transportasi Ong Ye Kung baru-baru ini meyakinkan dan memberikan udara segar karena pemerintah dengan jelas mengakui kontribusi strategis penerbangan terhadap ekonomi Singapura.
Memiliki industri penerbangan yang layak akan sangat penting untuk pemulihan ekonomi dengan memastikan konektivitas yang efektif dengan seluruh dunia untuk pergerakan orang dan barang, ” kata Clifford.
Industri penerbangan global saat ini diperkirakan mengalami kerugian US $ 84,3 miliar pada tahun 2020. Maskapai Asia-Pasifik akan mencatat kerugian absolut terbesar sebesar US $ 29,0 miliar. Jumlah penumpang global diperkirakan turun 55% dibandingkan tahun 2019.
Penumpang pesawat penerbangan wajib mengenakan masker wajah. ( Foto: IATA)
MONTREAL, Kanada, bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengimbau semua pelancong untuk mengenakan masker wajah selama perjalanan demi keselamatan semua penumpang dan awak selama COVID-19.
Mengenakan masker adalah rekomendasi utama dari panduan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) untuk operasi yang aman selama pandemi, sebagaimana yang dikembangkan bersama dengan Organisasi Kesehatan Dunia dan pemerintah.
IATA menekankan perlunya penumpang untuk mematuhi rekomendasi tersebut menyusul laporan terbaru tentang para pelancong yang menolak untuk mengenakan penutup wajah selama penerbangan.
Meskipun hal ini terbatas pada sejumlah kecil individu, beberapa insiden di dalam pesawat telah menjadi kekerasan, yang mengakibatkan pengalihan yang mahal dan sangat tidak nyaman untuk menurunkan penumpang.
“Ini adalah seruan untuk menggunakan akal sehat dan mengambil tanggung jawab. Sebagian besar pelancong memahami pentingnya masker untuk diri mereka sendiri maupun untuk sesama penumpang, ” kata Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA.
Maskapai penerbangan menghargai upaya kolektif ini. Tetapi minoritas kecil menciptakan masalah. Keselamatan adalah inti dari penerbangan, dan kepatuhan terhadap instruksi keselamatan awak adalah hukum.
Kegagalan mematuhi dapat membahayakan keselamatan penerbangan, mengganggu pengalaman perjalanan penumpang lain, dan memengaruhi lingkungan kerja kru, ” tambah Alexandre de Juniac.
Kewajiban di bawah Kondisi Penerbangan
Tiket pesawat adalah kontrak di mana penumpang menyetujui syarat dan Ketentuan Pengangkutan maskapai. Kondisi tersebut dapat mencakup hak maskapai untuk menolak penumpang yang perilakunya mengganggu penerbangan, melanggar peraturan pemerintah, atau menyebabkan penumpang lain merasa tidak aman.
Maskapai juga menekankan perlunya mengenakan penutup wajah selama proses pemesanan, saat check-in, di gerbang, dan di saat sudah mendengarkan pengumuman di pesawat.
Kegagalan untuk mematuhi berarti bahwa penumpang menghadapi risiko diturunkan dari penerbangan mereka, terkena pembatasan pengangkutan di masa mendatang, atau hukuman berdasarkan undang-undang nasional.
Pentingnya masker
Penutup Wajah adalah bagian dari tindakan pelapisan. Menurut tes di University of Edinburgh, penutup wajah, jika dikenakan dengan benar, dapat mengurangi penyebaran potensi tetesan COVID-19 dari mulut hingga 90%.
“Penelitian yang telah kami lihat hingga saat ini, dan penyelidikan kami sendiri dengan maskapai penerbangan dunia, memberi tahu kami bahwa risiko tertular COVID-19 dalam penerbangan tetap sangat rendah, ” kata Dr David Powell, Penasihat Medis IATA.
Tampaknya ada sejumlah faktor yang mendukungnya. Laju aliran udara kabin yang tinggi dari atas ke bawah, penyaringan udara yang konstan melalui filter HEPA yang canggih, fakta bahwa semua kursi menghadap ke arah yang sama dan tentu pakai masker dan sanitasi pesawat semuanya berperan, tegasnya.
“Ini bukan hanya tentang melindungi diri sendiri. Ini tentang melindungi semua orang dalam penerbangan, “katanya.
IATA (Asosiasi Transportasi Udara Internasional) mewakili sekitar 290 maskapai yang terdiri dari 82% lalu lintas udara global. Seluruh maskapai akan mengikuti aturan ini sehingga memakai masker adalah kewajiban.
Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo dengan Kepala BPPT Hammam Riza usai MOU. ( Foto: Kemenparekraf)
JAKARTA, bisniswisara.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dalam pengkajian dan penerapan teknologi untuk mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Penandatanganan nota kesepahaman bersama (MoU) antara dua pihak dilakukan bersamaan dengan acara puncak perayaan HUT ke-42 BPPT yang mengambil tema “Membangun Ekosistem Inovasi Teknologi untuk Indonesia Maju” di Auditorium Gedung BJ Habibie, Jakarta, Senin (24/8/2020).
Penandatanganan dilakukan secara simbolis oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Angela Tanoesoedibjo dengan Kepala BPPT Hammam Riza.
Pada kesempatan itu, hadir pula Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang P.S Brodjonegoro, Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat Jenderal TNI Andika Perkasa, Presiden Komisaris PT Tempo Scan Pacific Tbk Handojo S. Muljadi, serta Kepala BNPB/Ketua Satgas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo yang hadir secara virtual.
Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo menjelaskan, nota kesepahaman ini sangat penting untuk memajukan sektor parekraf dalam menghadapi tantangan ke depan.
Terlebih dimasa pandemi ini, ketika teknologi sangat diperlukan untuk mempermudah komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Sementara itu, dalam sambutannya Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan pihaknya akan terus menggaungkan transformasi teknologi dan transformasi digital.
“BPPT siap mewujudkan lompatan besar inovasi, mendukung cita-cita Indonesia Maju menuju negara berbasis inovasi,” ujar Hammam.
Hammam Riza juga mengatakan, untuk menghadirkan inovasi dan layanan teknologi terbaik demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, memang membutuhkan kolaborasi semua pemangku kepentingan dalam sebuah ekosistem inovasi.
Ekosistem inovasi pentahelix mengusung pola kerja sama antarpemerintah, industri/bisnis, akademisi, hingga dukungan komunitas maupun media massa.
“Semua unsur tersebut merupakan pemangku kepentingan penyelenggara Iptek dalam menghasilkan produk inovatif buatan Indonesia,” katanya.
WTTC melayani anggota dan anggota dengan Toko data satu atap ( Foto: Travel Daily)
LONDON, Inggris, bisniswisata.co.id: :World Travel & Tourism Council (WTTC) meluncurkan dasbor data yang mendalam, menyoroti pemulihan permintaan perjalanan di seluruh penerbangan dan hotel, serta mengungkapkan niat pelancong yang berubah melalui pencarian perjalanan online.
Toko data satu atap atau Interactive COVID-19 Travel Demand Recovery Dashboard dikembangkan oleh WTTC, yang mewakili sektor swasta Perjalanan & Pariwisata global, dengan dukungan dari McKinsey & Company.
Alat unik ini memberi pengguna akses mudah ke data perjalanan kualitatif dan kuantitatif di tingkat global dan regional untuk 33 negara besar di seluruh dunia, dengan mengungkapkan permintaan perjalanan sejak awal tahun dan diperbarui setiap dua minggu.
Data perjalanan kualitatif dan kuantitatif di tingkat global dan regional untuk 33 negara besar di seluruh dunia. ( Foto: WTTC)
Dasbor menawarkan cara yang berguna untuk menavigasi melalui beragam data saat permintaan perjalanan di seluruh dunia berubah, sebagai tanggapan atas pembukaan kembali perbatasan negara secara bertahap seiring dengan diberlakukannya pembatasan perjalanan di seluruh dunia.
Layanan ini gratis untuk semua Anggota WTTC dan non-anggota, Dasbor menyajikan dua tampilan berbeda berdasarkan tren dan penelusuran Google, dan pemesanan melalui mitra penelitian WTTC dalam proyek tersebut.
Ahli global dalam intelijen bisnis, tren pariwisata dan perjalanan, ForwardKeys, menyediakan data penerbangan, sementara benchmarking data premium, analitik, dan penyedia wawasan pasar untuk sektor perhotelan global, STR, membagikan tingkat hunian hotel.
“Kami telah membuat dasbor unik yang menampilkan data kualitatif dan kuantitatif untuk memberikan wawasan yang sangat penting untuk membantu sektor travel & tourism restart, memulai dan memetakan kembali jalan menuju pemulihannya, kata Gloria Guevara, Presiden & CEO WTTC dalam rilisnya.
“Dasbor kami akan memungkinkan pembuat keputusan untuk melacak dampak kebijakan publik dengan memantau fluktuasi positif dan negatif dari pemesanan penerbangan dan hotel serta pencarian perjalanan online, serta kepercayaan konsumen.
Data sangat penting bagi bisnis, pemerintah, dan organisasi lain untuk membuat pilihan berdasarkan informasi dan mendorong kebijakan yang akan menghidupkan kembali sektor yang telah menderita secara tidak proporsional akibat pandemi global, tambahnya.
“Dengan satu dari empat pekerjaan baru yang dihasilkan oleh sektor travel & tourism dalam lima tahun terakhir, semakin penting dari sebelumnya bahwa akses mudah ke data di tingkat regional dan global membantu menginformasikan pilihan yang tepat pada waktu yang tepat.”
Dasbor data baru yang diluncurkan pekan lalu menawarkan wawasan melalui dua cara dan yang pertama adalah melalui Google Trends, di mana semua data yang bersumber telah diatur ke dalam segmen liburan atau perjalanan yang mudah dipahami, petualangan, budaya, perkotaan, keluarga, matahari & pantai, dan layanan perjalanan.
Setiap segmentasi telah dirancang menggunakan sekumpulan 20 kata kunci, yang mencakup aktivitas, situs, dan tujuan populer. Segmen tersebut memberikan wawasan di tingkat kawasan dan untuk negara-negara utama, seperti Inggris, AS, Prancis, dan Brasil.
Yang kedua datang melalui wawasan regional melalui pembaruan dua bulanan tentang pergerakan dan pemesanan, dengan informasi penerbangan dari mitra penelitian WTTC ForwardKeys, menunjukkan hunian hotel dan tarif kamar harian rata-rata dari STR dan IndeksMobilitas Google, yang menunjukkan aktivitas rekreasi lokal.
Selain itu, Global Rescue yang jadi pelopor dalam medis, keamanan, risiko perjalanan, dan manajemen krisis, memberikan data yang menunjukkan seberapa ‘terbuka’ setiap negara atau pasar utama, dalam konteks pembatasan perjalanan yang diberlakukan untuk memerangi virus corona.
WTTC telah dan terus memainkan peran utama dalam mendorong travel & tourism menghasilkan kebijakan yang memungkinkan sektor ini pulih lebih cepat dari ketrrpurukan akibat pandemi.
Menurut Laporan Dampak Ekonomi 2020 WTTC, selama 2019, travel & tourism (Perjalanan & Pariwisata) bertanggung jawab atas satu dari 10 pekerjaan (total 330 juta), memberikan kontribusi 10,3% terhadap PDB global dan menghasilkan satu dari empat dari semua pekerjaan baru.
Hotel Kastil Kayu yang super mahal (foto: bioreport)
JEPANG, bisniswisata.co.id: Sebuah hotel baru di Jepang menawarkan pengalaman unik. Pengunjung yang menginap dapat menikmati sensasi hidup layaknya bangsawan di abad pertengahan.
Hotel bernama Nipponia Hotel Ozu Castle Town sebenarnya merupakan kastil kayu yang jumlahnya mulai langka. Ia menjadi satu dari sedikit saja yang masih tersisa di Negara Matahari Terbit itu.
Terletak di Kota Ozu Prefektur Ehime, bangunan yang berdiri sejak 1617 ini menjadi satu-satunya kastil di Jepang yang dapat digunakan para pelancong untuk menginap.
Sebagian orang menganggap upaya menyulap Kastil Ozu menjadi hotel adalah prestasi luar biasa. Tetapi sebenarnya penggagasnya memiliki misi yang lebih besar, yakni menghidupkan kembali suasana pedesaan yang sudah semakin menyusut.
Dijuluki “Kyoto kecil” dari Iyo (nama kuno prefektur Ehime), Ozu terkenal dengan Sungai Hiji-nya yang menawan, juga banyaknya arsitektur bersejarah, dan Kastil Ozu empat lantai yang elegan.
Kota Ozu sendiri pernah menjadi pusat politik di era Edo (1603-1868). Kota ini kemudian terus berkembang selama periode Meiji (1868-1912) dan Taisho (1912-1926) terutama berkat produksi dan perdagangan lilin dan sutera.
Namun kejayaan kota ini mulai surut dalam beberapa dekade terakhir seturut menurunnya jumlah penduduk. Sejak 1950-an, kota ini mengalami penurunan populasi yang substansial dari 79.000 pada 1955 menjadi sekitar 42.000 pada 2020.
“Dengan (kondisi. Red) ini, penutupan bisnis pun terjadi. Rumah-rumah juga mulai ditinggalkan. Ini meningkatkan potensi orang-orang muda untuk pergi meninggalkan kota mencari penghidupan yang lebih baik,” kata Diego Cosa Fernandez, Direktur Departemen Riset Arsitektur dan Budaya di Kita Management, cabang Ozu, seperti dilansir CNN Travel.
Dalam keadaan sulit ini, banyak tuan tanah kemudian memutuskan untuk menghancurkan rumah-rumah lama mereka karena dianggap kurang bernilai ekonomis.
Merasa prihatin dengan kondisi ini, sebuah Kpta Management pun tergerak untuk melestarikan rumah-rumah lama di Jepang. Menurut Fernandez kastil ini sempat dibongkar pada 1888. Kemudian pada 1990-an, masyarakat membangun kembali bangunan ini dari kayu.
Fernandez lalu mencoba memanfaatkan peninggalan ini dengan melobi pemerintah setempat untuk melakukan rekonstruksi. Pada tahun 2004, dia pun berhasil mendapatkan izin rekonstruksi.
“Konstruksi kayu beberapa kali lebih mahal dan undang-undang konstruksi pasca perang tidak mengizinkan struktur kayu dibangun di atas ketinggian 13 meter,” kata Fernandez.
Ozu Castle pertama kali dibuka untuk umum pada Juli. Kala itu para tamu hanya diberi kesempatan untuk menikmati bangunan kastil yang segera tutup pada pukul 17.00 sore.
Tetapi kini, pengunjung sudah dapat menginap di sana. Untuk tahun pertama, pengelola hanya mengizinkan 30 kali masa inap. Itupun dengan jumlah tamu maksimal enam orang selama masa inap.
Jika tertarik, Anda perlu menyiapkan dana satu juta yen atau sekitar Rp 140 juta atau tepatnya Rp 139,67 juta per malam untuk dua tamu. Anda juga harus menyiapkan dana tambahan sebesar 100.000 yen atau sekitar Rp 13,96 juta untuk dua orang tamu tambahan. Kastil ini tidak memiliki toilet, AC, maupun toko.
Mengharapkan kembali wisatawan domestik dan mancanegara ke obyek wisata butuh komunikasi dua arah dan kepercayaan yang tinggi. ( Foto Kemenpar).
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kehadiran pelayanan semacam Tourism Call Center tetap diperlukan untuk meraih kepercayaan wisatawan dari dalam dan luar negri dalam upaya dibukanya kembali destinasi wisata di Indonesia, kata pengamat pariwisata Wuryastuti Sunario.
“Bali sudah siap dengan protokol kesehatan dan sudah rencana buka pada 11 September 2020 tapi akhirnya mundur lagi karena berbagai pertimbangan dan kebijakan Kemenkumham yang belum dicabut serta pertimbangan lainnya,” ujarnya.
Mantan Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia ( BPPI) yang akrab di sapa Tuti Sunario ini mengingatkan sesiap apapun kita merencanakan pembukaan kembali maka kuncinya adalah di konsumen yaitu turisnya sendiri yang mau datang berkunjung.
“Hal terpenting yang perlu dilakukan oleh kepariwisataan Indonesia agar mampu menarik wisatawan adalah pertama-tama meraih kembali Kepercayaan (Trust and Confidence) para wisatawan, baik domestik maupun internasional dan itu membutuhkan komunikasi dua arah,”
Menurut Tuti pemerintah tidak bisa menulis slogan :“Anda akan nyaman, aman dan sehat bila berwisata ke destinasi Indonesia” karena tidak ada jaminan untuk itu dan warga dunia juga mempertimbangkan bagaimana negara yang ingin dikunjunginya itu dalam menangani COVID-19.
” Di Indonesia selama COVID-19 tidak ada kementrian yang menangani khusus semacam Tourisn Call Center yang berfungsi sebagai media komunikasi seperti International Tourism Communication di era New Normal,”
Dia mengaku di awal pandemi global berharap pada Kementrian pariwisata & Ekonomi Kreatif untuk mengaktikan Crisis Center sebagai media komunikasi industri pariwisata di dalam negri dengan mitra-mitranya di luar negri seperti whole seller, touroperator, badan-badan pariwisata mancanegara dan organisasi lainnya baik dari unsur pemerintah maupun swasta.
Tuti kemudian berharap Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia, Binsar Luhut Panjaitan punya kapasitas untuk menjembatani komunikasi dua arah itu supaya masyarakat internasional paham mengapa Presiden Jokowi tidak mau lockdown, misalnya.
Lalu harapannya bersandar di Kementrian Luar Negri karena selain diplomasi seharusnya juga mampu menjembani komunikasi dua arah dengan berbagai bahasa asing karena konsumen ( turis) di era digital perlu berkomunikasi dua arah dan butuh penjelasan dari negara yang akan dikunjunginya nanti.
” Terakhir saya berharap pada Presiden Jokowi yang punya banyak akun media sosial bisa menjadi ” juru Bicara” pariwisata Indonesia dan terakhir pada Menteri BUMN Erick Thohir yang ditunjuk jadi Ketua Pelaksana Komite Pengendalian Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),” kata Tuti Sunario.
Erick Thohir mengakui bahwa mensinergikan sektor kesehatan dan ekonomi dalam menangani pandemi Covid-19 bukan hal mudah. Sementara Pariwisata terbukti menjadi andalan devisa di banyak negara karena dampak ekonominya yang luas, tambah Tuti.
Jangan lupa, ujarnya. hal yang perlu dipahami juga saat ini adalah antara bagian Pemasaran ( Marketing) dan Public Relations ( PR) di era digital ini sudah tidak bisa bekerja terkotak-kotak. Tapi seperti halnya dua orang yang berjodoh maka mereka harus bisa terikat, melakukan engagement untuk merajut cinta.
” Engagement itu harus merajut kerjasama yang baik, tidak ada lagi tembok antara divisi marketing dan PR karena konsumen di era digital butuh komunikasi dua arah untuk percaya bahwa Indonesia aman untuk dikunjungi,”
Engagement itu sama dengan jumlah interaksi audiens dengan konten media sosial, brand, seperti jumlah klik, kunjungan, likes, share(retweet), pengikut (followers), komentar, balasan, tanbahTuti.
Pakar komunikasi dan pemasaran bisa mengedukasi masyarakat bahwa di era digital ini maka cara konvensional sudah tidak sesuai di tambah lagi dunia tiba-tiba terpukul oleh pandemi global yang menyebar merata di seluruh dunia yang belum pernah terjadi.
Dahulu sebelum internet berkembang pesat, praktisi public relations (PR) sangat bergantung pada media koran, radio, dan televisi dalam kampanyenya. Namun sejak kehadiran teknologi internet, maka pekerjaan PR pun bertransformasi menjadi PR digital.
Masyarakat global akrab menggunakan media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, Google Maps, website, blog (WordPress, Blogspot, Kompasiana, Indonesiana, YouTube karena ingin berinteraksi, berkomunikasi dan memenuhi kebutuhannya.
Tetap saja PR digital harus membangun proses komunikasi strategis yang bertujuan untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan organisasi dan publiknya. Kalau ada Tourism CallCenter maka membangun komunikasi dengan turis sebagai konsumennya.
Apa keinginan dan kekhawatiran Wisatawan di New Normal? sekarang Pemasaran dan PR digital harus bersinergi agar mampu menjawab kebutuhan wisatawan jaman Now dimana justru mereka mencari pengalaman baru lewat pendekatan dengan masyarakat dan budaya setempat.
Destinasi Now juga harus dibangun berdasarkan prinsip-prinsip sustainable tourism dalam bidang ekonomi, lingkungan alam, sosial, budaya untuk memenuhi Kepuasan Konsumen yaitu target wisatawannya sendiri.
” Jangan abaikan kebutuhan komunikasi dua arah yang akan mengantarkan wisatawan domestik maupun internasional trust and confidence,” tegasnya