Kunjungan Resmi Delegasi UNWTO ke Mesir Bahas Proyek Skala Besar

this formate

MADRID, Spanyol, bisniswisata.co.id: Delegasi tingkat tinggi dari Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) menyelesaikan kunjungan resminya  ke Mesir, kemarin untuk menawarkan dukungan kuat bagi pemerintah setempat untuk memulai kembali pariwisata dan mengarahkan manfaatnya yang mendukung mata pencaharian dan melestarikan warisan budaya.

Saat Perserikatan Bangsa-Bangsa merilis Ringkasan Kebijakan penting tentang COVID-19 dan Transformasi Pariwisata, Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menguraikan Lima Prioritasnya untuk membangun kembali sektor ini.

UNWTO mengunjungi Mesir untuk membantu memandu penerapan rekomendasi utama ini.  Dipimpin oleh Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili, delegasi bertemu dengan Presiden Abdel Fattah El Sisi dan Menteri Pariwisata dan Purbakala Dr. Khaled Al-Anani.

Kunjungan ini untuk mempelajari langkah-langkah yang diambil untuk mendukung pariwisata, termasuk melalui penggabungan kementerian Purbakala dan Pariwisatadserta penyediaan hibah dan insentif untuk sektor tersebut. 

Pololikashvili juga bertemu dengan Perdana Menteri Moustafa Madbouly untuk mempelajari lebih lanjut tentang langkah-langkah yang sedang dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan konsumen dan menjamin keselamatan pekerja pariwisata maupun wisatawan.

Adaptasi dengan realitas baru

Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memperjelas pentingnya pariwisata untuk segala hal mulai dari lapangan kerja hingga kesetaraan dan menjadikannya bagian integral dari pembangunan berkelanjutan

Pembicaraan tingkat tinggi juga membahas  pembaruan tentang proyek-proyek pariwisata berskala besar  kini sedang berlangsung, termasuk membahas Museum Agung Mesir yang baru dan Museum Nasional Peradaban Mesir.

Kunjungan  dilengkapi dengan melihat langsung ke beberapa lokasi wisata paling populer di Mesir.  Hal Ini memungkinkan delegasi UNWTO untuk melihat secara langsung protokol keselamatan dan kebersihan yang ditingkatkan, menyesuaikan kenyataan baru dalam konteks pandemi COVID-19.

“Memulai kembali pariwisata dengan aman tidak hanya mungkin, tetapi juga penting.  Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menjelaskan pentingnya pariwisata untuk segala hal mulai dari lapangan kerja hingga kesetaraan, menjadikannya bagian integral dari pembangunan berkelanjutan,”  kata Zurab Pololikashvili, Sekretaris Jenderal UNWTO.

Mesir, ujarnya, adalah salah satu tujuan wisata terkemuka dunia yang telah mendukung sektor ini dengan tindakan tegas, termasuk kebijakan fiskal dan ekonomi yang efektif.  Sekarang siap untuk menyambut wisatawan kembali ke banyak situs yang menarik, sambil mengutamakan keamanan pengunjung dan kesejahteraan pekerja mereka. ”

Kemitraan sektor swasta dan kelembagaan

Bersamaan dengan pertemuan dengan pemerintah Mesir, Sekretaris Jenderal UNWTO juga bertemu dengan Federasi Pariwisata Mesir dan Federation of Tourist Chambers.  

Keduanya menguraikan langkah-langkah yang diambil untuk menyesuaikan protokol keselamatan di akomodasi turis dan layanan utama lainnya dengan kenyataan baru.  

Kunjungan ke Piramida yang terkenal di dunia, Museum Nasional untuk Peradaban Mesir dan ke salah satu tujuan wisata bahari utama negara itu juga memberikan gambaran yang luas tentang pendekatan gabungan guna memulai kembali pariwisata yang aman dan bertanggung jawab.

Kunjungan ke Mesir dilakukan saat UNWTO dan Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (EBRD) bekerja sama memberikan panduan bantuan dan mempercepat pemulihan pariwisata di negara tersebut.

Mesir adalah salah satu dari kelompok pertama dari 13 negara yang akan mendapat manfaat dari dukungan teknis para ahli karena kedua organisasi membangun kemitraan yang ada untuk mendukung pariwisata saat pulih dari dampak pandemi COVID-19 yang menghancurkan.

Inisiatif bersama ini akan melihat sektor pariwisata dari 38 sektor ekonomi di mana bank berinvestasi untuk mendapatkan keuntungan dari dukungan teknis ahli ini.

Dimana hal ini memungkinkan mereka untuk memperkenalkan protokol keselamatan dan kebersihan yang baru sehingga meningkatkan kepercayaan dan menghidupkan kembali permintaan.

 

Mengintip Hasil Survei Asosiasi Operator Tour AS soal Pemulihan Pariwisata

this formate

Survei: kebanyakan perjalanan wisata dimulai tahun depan (foto: getimage)

NEW YORK, bisniswisata.co.id: Asosiasi Operator Tour Amerika Serikat (USTOA) baru-baru ini merilis hasil survei tentang pemulihan pariwisata pasca COVID-19 serta ancer-ancer dimulainya kembali bisnis wisata. Survei dilakukan terhadap anggota asosiasi yang aktif. 

Hasil survei menunjukkan lebih dari sepertiga (38%) anggota aktif melaporkan adanya peningkatan pemesanan dalam 60 hari terakhir; sedangkan 38% lainnya mengatakan jumlah pemesanan stagnan dan 24% sisanya menyebut terjadi penurunan pemesanan.

Presiden dan CEO USTOA, Terry Dale mengatakan hasil survei menunjukkan prospek yang menggembirakan. Faktanya, konsumen AS masih membuat rencana perjalanan di masa depan.

Meski demikian dia mengingatkan bahwa keadaan belum betul-betul membaik karena masih banyak ketidakpastian di pasar dan dunia, demikian seperti dilansir traveldailynews.

Sejumlah pertanyaan diajukan USTOA kepada partisipan, termasuk jadwal rencana perjalanan para pelancong saat memesan tiket. Berikut ini jawaban para anggota asosiasi:

  • 10% anggota aktif mengatakan ada pemesanan untuk perjalanan pada kuartal ketiga tahun 2020; sementara 19% lainnya memiliki pemesanan untuk perjalanan pada kuartal keempat 2020.
  • Sepertiga atau 33% anggota operator tur mengatakan mereka telah menerima pemesanan untuk perjalanan pada kuartal pertama 2021.
  • Tiga perempat (76%) anggota melaporkan pemesanan tiket untuk perjalanan pada kuartal kedua 2021.
  • Delapan dari sepuluh (79%) Anggota Aktif melaporkan ada juga pemesanan perjalanan untuk kuartal ketiga tahun 2021.
  • Separuh (52%) mengatakan ada pemesanan untuk perjalanan kuartal keempat 2021.
  • Sekitar 31% anggota melaporkan pemesanan perjalanan baru untuk 2022.

Kemana saja mereka hendak pergi?

Survei menunjukkan hampir tiga perempat (73%) pemesanan adalah untuk perjalanan luar negeri, sementara sisanya 27% untuk wilayah Amerika Utara (AS, Kanada, dan Meksiko)

 “Tidak mengherankan, saat ini perjalanan internasional lebih banyak akan terjadi pada paruh pertama 2021; Sedangkan dua pertiga dari anggota operator tour untuk paket perjalanan di AS telah beroperasi dan sebagian lagi berencana untuk memulainya antara sekarang dan akhir tahun 2020.”

Ketika anggota USTOA ditanya soal rencana pelaksanaan perjalanan ke seluruh dunia, jawaban mereka adalah sbb:

  • Afrika: Hampir separuh operator tur (43%) memperkirakan kegiatan wisata ke kawasan itu akan kembali dimulai pada kuartal pertama 2021; seperempat (27%) lainnya mengantisipasi wisata ke kawasan tersebut pada kuartal kedua 2021. Ini sekaligus mencerminkan naiknya optimisme bahwa bisnis akan kembali pada paruh pertama tahun depan di kawasan Afrika.
  • Antartika: seperempat (24%) responden mengatakan perjalanan ke Antartika akan dibuka kembali pada kuartal kedua 2021. Angka ini naik dari survei bulan Juni dimana tak satupun responden mengatakan demikian. Sekitar 18% anggota aktif bahkan mengantisipasi ada kegiatan pada kuartal pertama 2021. 
  • Asia: hampir dua pertiga (60%) responden meramalkan potensi kembali ke Asia terjadi antara kuartal pertama dan kedua 2021.
  • Australia, Selandia Baru, dan Kepulauan Pasifik: 33% responden mengatakan akan ada kegiatan wisata di wilayah tersebut pada kuartal ketiga 2021. Optimisme ini menurun dibandingkan survei Juni lalu yakni 55% anggota aktif mengantisipasi operasi kembali ke wilayan tersebut pada kuartal pertama 2021.
  • Kanada: lebih dari sepertiga (38%) anggota aktif melihat akan ada aktivitas wisata pada kuartal kedua 2021. Sedangkan 28% responden lainnya mengatakan akan kembali ke wilayah tersebut pada kuartal pertama 2021. Pada survei sebelumnya yang dilakukan Juni, hampir separuh (48%) responden optimis untuk kembali ke Kanada antara September dan Oktober 2020. Survei kali ini menunjukkan hanya 10% saja yang mengatakan demikian.
  • Eropa: Ada 37% responden yang mengatakan wisata ke Eropa dibuka kembali pada kuartal pertama 2021. Padahal pada survei bulan Juni lalu, ada 33% anggota optimis perjalanan wisata ke Eropa akan dimulai pada September 2020. Kini tak ada satupun responden meyakini hal itu. Kebanyakan anggota USTOA memproyeksikan kegiatan wisata ke Eropa baru terjadi tahun depan.
  • Sementara untuk wisata domestik di AS, kebanyakan responden memperkirakan akan terjadi bulan depan. Setidaknya 34% mengatakan demikian. Optimisme ini naik dibandingkan dengan hasil survei Juni dimana hanya 11% responden memproyeksikan wisata domestik akan mulai kembali.

Pembukaan Kembali Bioskop Geliatkan Dunia Perfilman

this formate

Menparekraf Whisnutama saat simulasi protokol kesehatan di bioskop 21 beberapa waktu lalu. Industri perfilman akan bergairah lagi. ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: pembukaan kembali bioskop di sejumlah wilayah yang telah dinyatakan aman dari COVID-19 akan menggeliatkan dunia perfilman dan insan kreatif di Indonesia.

Menparekraf Wishnutama dalam keterangannya, Rabu, mendukung rencana dari Tim Satuan Tugas Penanganan COVID-19 dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membuka kembali bioskop yang ada di wilayah DKI Jakarta dalam waktu dekat.

”Dengan bioskop kembali beroperasi, ini akan berdampak besar terhadap perkembangan ekonomi kreatif, khususnya subsektor perfilman,” kata Wishnutama.

Sebelumnya dia mengusulkan kepada Tim Satuan Tugas Penanganan COVID-19 untuk mendorong pembukaan kembali bioskop khususnya di wilayah DKI Jakarta. Pihaknya telah menyiapkan berbagai hal untuk mendukung operasional bioskop di era adaptasi kebiasaan baru. 

Kemenparekraf/baparekraf telah menyusun handbook atau buku panduan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability) bagi pengelola bioskop dan pengunjung untuk diterapkan ketika bioskop telah siap dibuka kembali.

Pihaknya juga sudah membuat video layanan masyarakat mengenai pentingnya menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, mengenakan masker, tidak makan saat di dalam bioskop, serta selalu mencuci tangan di bioskop dan tempat-tempat keramaian lainnya. 

“Dalam operasional bioskop kembali nanti, pengelola dan pengunjung harus mengedepankan penerapan protokol kesehatan yang ketat untuk mencegah penyebaran COVID-19 dan agar keamanan pengunjung bioskop pun terjamin,” katanya.

Selain telah mempersiapkan panduan pelaksanaan protokol kesehatan di bioskop, Wishnutama menuturkan pihaknya juga telah melaksanakan simulasi pembukaan dan penerapan protokol kesehatan di bioskop sejak Juli 2020. 

Simulasi ini bertujuan agar semua pihak, baik pelaku usaha maupun masyarakat paham akan prosedur-prosedur yang harus dijalankan.

Adanya panduan protokol kesehatan salah satunya di sektor perfilman ini, dia harap industri ini bisa produktif kembali, dari produksinya, bioskopnya dan berbagai macam aktivitas lainnya yang beberapa bulan terhenti, kata Wishnutama.

Sebelumnya, dalam konferensi pers virtual di BNPB, Rabu pagi, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyampaikan rencana pembukaan bioskop di Jakarta akan dilakukan dalam waktu dekat dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Dalam waktu dekat ini kegiatan bioskop di Jakarta akan kembali dibuka. Semuanya harus disiplin, semuanya mengikuti protokol, bila tidak diikuti maka langsung kita akan lakukan penutupan,” ujar Anies.

Selama ini sektor perfilman menjadi salah satu subsektor ekonomi kreatif yang cukup menjanjikan dalam menyumbang pendapatan negara. 

Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif jumlah penonton bioskop meningkat hampir lima kali lipat pada 2018 menjadi 52,5 juta orang. Peningkatan ini dipengaruhi oleh bertambahnya jumlah bioskop yang ada di Tanah Air.

Menurut data dari Katalog Film Indonesia (KFI), dalam kurun waktu antara 2012-2016, jumlah bioskop di Indonesia hanya terdapat 145 bioskop dengan total 609 layar. 

Kemudian pada 2017 jumlah ini meningkat menjadi 1.518 layar. Hingga di tahun 2018, jumlah bioskop di Indonesia mencapai 312 dengan jumlah layar mencapai 1.681.

Hal ini berdampak langsung pada meningkatnya sumbangan industri film pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nasional. 

Data Kementerian Keuangan pada 2015 menyebut industri film hanya menyumbang 0,16 persen dari total PDB. Di tahun 2018, jumlah itu melonjak signifikan menjadi 6,09 persen dari total PDB.

 

Mengenang Ajip Rosidi (31 Januari 1938-29 Juli 2020). Bagian : 7 Tamat

this formate

Almarhum Ajip Rosidi  wafat pada usia 82 tahun dan terakhir menjadi suami dari artis Nani Wijaya.             ( Foto : tirto. id) 

Oleh P. Hasudungan Sirait

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sastrawan sekaligus budayawan Ajip Rosidi meninggal dunia di usia 83 tahun. Ia meninggal setelah menjalani operasi di RSUD Tidar Kota Magelang. Ajip Rosidi sempat dirawat tiga hari setelah terjatuh di rumah. Berikut serial tulisan untuk mengenang sosok teladan ini;

Karya Yang  Menderas

Sejak buku pertamanya, ‘Tahun-tahun Kematian’, terbit tahun 1955 karir Ajip Rosidi sebagai penulis terus melesat. Dia, seperti kata Prof. Andries Teeuw (1989), hampir tidak pernah absen dalam percaturan sastra di negeri kita. 

Di sepanjang waktu ia menjadi orang penting di segala bidang sastra. Sehingga, lanjut guru besar Universitas Leiden itu, “orang cenderung tidak mau tahu betapa muda ia sebenarnya—baru lewat 40.”

Teeuw mengingatkan pembaca bahwa Ajip yang namanya sudah sangat lama berkibar (sejak awal 1950-an) di kancah sastra Indonesia sesungguhnya lebih belia dari Subagio Sastrowardojo dan Iwan Simatupang. 

Sedikit lebih muda dari Umar Kayam, NH Dini, WS Rendra, Budi Darma, dan Taufik Ismail. Hanya 2 tahun lebih muda dari Sapardi Djoko Damono dan Danarto serta 3 tahun lebih belia dari Sutardji Calzoum Bachri dan Darmanto Jatman.

Tak berlebihan apa yang dikatakan pengamat terkemuka sastra Indonesia, Teeuw, yang kelak (1993) menjadi penulis kata pengantar ‘Terkenang Topeng Cirebon’ (karya terpilih dari 8 kumpulan sajak Ajip Rosidi).

Karya Ajip masih akan terus berlahiran, termasuk novel. Kebernasan suami Fatimah Wirjadibrata ini sebagai penulis, baru berkurang sejak ia berkegiatan di sejumlah lembaga. 

Pada 1968 ia terpilih menjadi anggota Dewan Kesenian Djakarta. Di tahun yang sama ia menjadi redaktur majalah ‘Budaja Djaja’ (hingga 1981). Pada 1971 dia juga menjadi redaktur ruang kebudayaan ‘Matahari’ di majalah ‘Mimbar’.

Sedari 1973 ia malah memimpin 2 lembaga sekaligus yakni Dewan Kesenian Jakarta (hingga 1981) dan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI, sampai 1979).

Kegiatannya menjadi seabreg karena harus mengurusi sepenuh waktu sejumlah institusi sekaligus. Jelas, kesempatannya untuk menulis menjadi sangat tipis. Apalagi pada 1978-1980 ia pun menjadi staf ahli Menteri Kebudayaan Fuad Hassan.

Kelelahan akibat beban pekerjaan, terkadang ayah 6 anak ini sampai sakit (bronhitis, biasanya). Kalau sudah begitu, dokter akan bersaran agar ia rehat.

Tatkala bersitirahat akibat sakit, seleranya untuk menulis bakal terbit. Dia akan pulih dengan sendirinya seiring lahirnya puisi dan yang lain. Jadi, menulis adalah obat mujarab baginya.

Setelah sedekade lebih bersibuk ria mengurusi lembaga, akhirnya tiba juga masanya bagi dia untuk bisa kembali bertekun menulis. Sangat panjang malah waktu tersebut.

Kendati sekolahnya hanya sampai kelas 2 Taman Madya, Ajip ternyata dipercaya juga sebagai pegajar di perguruan tinggi. Pada 1967-1970 ia menjadi dosen luar biasa untuk mata kuliah Sejarah Sastra Indonesia dan Sunda di Universitas Padjajaran, Bandung.

Lebih hebat lagi, sejak 1981 ia menjadi guru besar tamu di Osaka Gaidai (Universitas Osaka untuk Kajian Asing). Ia kemudian mengajar juga di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa-Bahasa Asing Osaka), Kyoto Sangyo Daigaku (Universitas Industri Kyoto), dan Tenri Daigaku (Universitas Tenri).

Tak kurang dari 20 tahun ia bermukim di negeri sakura. Kesempatan emas ini tidak ia lewatkan begitu saja. Di sana ia leluasa menulis karena seusai mengajar waktunya masih banyak tersisa. 

Hasilnya berlimpah. Buku ‘Orang dan Bambu Jepang’ dan ‘Yang datang Telanjang—Surat-Surat Ajip Rosidi dari Jepang 1980-2002’, termasuk yang ia tulis di negeri matahari terbit.

Alhasil, dalam karir kepengarangannya yang sangat panjang—sejak usia 13 tahun hingga umur 82 tahun—ia menghasilkan ratusan—kalau bukan ribuan—tulisan ihwal sastra, bahasa, budaya, perkisahan tentang hidup orang (biografi dan obituari), dan yang lain. Sebagian darinya termaktub dalam pelbagai kitab.

‘Roro Mendut’ (novel), ‘Anak Tanahair, ‘Puisi Indonesia Modern’, ‘Ikhtisar Sejarah Sastera Indonesia’, ‘Sastra dan Budaya’, ‘Kamus Istilah Sastera Indonesia’, ‘Kapankah Kesusasteraan Indonesai Lahir’, ‘Bahasa Indonesia Bahasa Kita’, ‘Bus Bis Bas—Berbagai Masalah Bahasa Indonesia’.

Kemudian ada ‘Ibu Haji Belum ke Mekah—Bahasa dan Perilaku Bahasa’, ‘Badak Sunda & Harimau Sunda—Kegagalan Pelajaran Bahasa’, Judul ‘Korupsi dan Kebudayaan’, ‘Lekra Bagian dari PKI’, ‘Tanya Jawab Diri Sendiri’, dan ‘Hidup Tanpa IjazahYang Terekam dalam Kenangan’ merupakan sebagian dari buku yang ia tulis.

Pula, biografi: S. Sudjodjono, Affandi, Salim, M. Natsir, Sjarifuddin Prawiranegara, Haji Hasan Mustapa (dalam bahasa Sunda). Beberapa karyanya sudah diterjemahkan ke pelbagai asing, termasuk Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, dan Jepang.

Dalam hal stamina menulis, kebernasan, dan keluasan bidang cakupan, kukira hingga sejauh ini sang penerima gelar doktor kehormatan bidang ilmu budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjajaran (pada 31 Januari 2011) belum ada tandingan di Indonesia.

Untuk beberapa tahun ke depan pun rekornya akan sulit dilampaui orang sebab pencapaiannya begitu fenomal. Lantas, apa gerangan yang membuat dirinya tak jemu-jemu menulis dalam rentang waktu yang begitu panjang? Untuk cari makan belakakah? Jelas tidak. Ia pernah menjelaskan musebabnya.

Menulis, bagi Ajip Rosidi, adalah menyatakan kebenaran. Adapun karya sastra, menurut dia, adalah bentuk kesaksian penulisnya yang jujur, yang ditulis karena dorongan yang bersifat rohani.

“Menulis buat saya bukanlah semata-mata dorongan ingin memperoleh kepuasan batin, lantaran telah melahirkan sesuatu yang indah atau atau ganjil. Ia lebih merupakan dorongan untuk membuat kesaksian,” tulis dia pada 1985.

Dengan prinsip seperti ini, ia tegaskan, dirinya lebih mementingkan isi daripada bentuk pengungkapan. Alhasil bahasanya pun serba lugu dan langsung.

Memang, kalau kita cermati,karya-karyanya, baik yang prosa maupun yang puisi, jauh dari canggih. Sebaliknya, sederhana dan gamblang karena memang tidak dimaksudkan untuk menghasilkan efek yang lain yang lain.

Dalam hal ini sejak dulu ia berbeda dari sejumlah sastrawan di Tanah Air yang melakukan aneka eksperimen termasuk mengabsurdkan cerita atau membebaskan puisi dari beban makna.

Tentang yang terakhir ini memang bisa muncul pertanyaan. Larik-larik tanpa arti yang jelas pada sebuah struktur berbentuk sajak masih puisikah namanya? Bukankah puisi itu cetusan suasana hati penulisnya sehingga merupakan pelukisan penuh makna?

Prinsip menyatakan kebenaran itu pula yang membuat dirinya konsisten untuk tidak menghasilkan apa yang ia sebut sebagai ‘fiksi hiburan’ yakni karya yang lahir atas pesanan pasar. Pun karangan ‘picisan’.

Selalu berusaha memberi karya yang terbaik. Demikianlah prinsip Direktur Penerbit Duta Rakyat periode 1965-1968 ini, sedari dulu. Pada sisi lain ia juga selalu meminta imbalan yang paling maksimal. Bahwa para penerbit menganggap dirinya rewel, ia tak ambil pusing.

Penggeliat  Sastra Daerah

Sejak masih belia, senantiasa terombang-ambing di antara 2 kota: Jatiwangi dan Jakarta. Sebab itulah Ajip Rosidi selalu memberi perhatian khusus pada sastra daerahnya, Sunda.

Jagat Parahyangan banyak ditulisnya baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda. Dalam hal menggeluti 2 jenis sastra sekaligus (Indonesia dan daerah) ia juga pengarang yang tak tertandingi di negeri kita.

Buku yang dihasilkannya terkait dunia Sunda antara lain adalah ‘Jante Arkidam jeung salikur sajak lianna’ (1967), ‘Sajak Sunda’, ‘Ensiklopedi Kebudayaan Sunda’, ‘Manusia Sunda’, ‘Mencari Sosok Manusia Sunda’, ‘Gerakan Kesundaan’, ‘Mengenal Kesusasteraan Sunda’.

Karya lainnya,  ‘Apa & Siapa Orang Sunda’, ‘Masa Depan Budaya Daerah’, dan ‘Candra Kirana—Sebuah Saduran atas Cerita Panji’. Kalau puisi dan buku anak berbahasa Sunda dimasukkan, daftarnya akan panjang betul.

Kecintaan pada budaya leluhurnyalah yang membuat dia mendirekturi Penerbit Kiwari (ia dirikan di Bandung tahun 1962) dan Penerbit Tjupumanik yang berbasis di Jatiwangi (1964-1970)

Dia memimpin ‘Mingguan Sunda’ (kemudian menjadi ‘Madjalah Sunda ‘) pada 1965-1968, mengetuai Paguyuban Sastra Sunda (1966-1975), mengepalai proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (sejak 1970), dan mengajar di Universitas Padjajaran.

Sepulang dari Jepang, dia banyak mencurahkan waktu dan pikiran untuk budaya daerahnya. Untuk melestarikan sastra-budaya Sunda, pada 1993 dia, bersama Erry Ryana Hardjapamekas, Edi Suhardi Ekadjati, dan yang lain, mendirikan Yayasan Kebudayaan Rancage.

Saban tahun sejak 1989, yayasan ini memberi Hadiah Rancage kepada mereka yang bersumbangsih dalam memajukan sastra Sunda. Mulai tahun 1994 penerima penghargaan ini diperluas sehingga bukan hanya orang Sunda lagi tapi juga Jawa, Bali, Lampung, dan yang lain.

Begitulah, pegiat sastra Batak pun ikut menjadi pemenangnya yakni Saut Poltak Tambunan dan pastor penerjemah kamus Batak: Leonardus Egidius Joosten (2015), Rose Lumbantoruan (2016), Tansiswo Siagian dan Soekiman Ompu Abimanyu (2017), serta Panusunan Simanjuntak (2018).

Sastra daerah, termasuk Batak, tentulah menjadi lebih menggeliat setelah tertular virus positif Hadiah Rancage. Inilah salah satu jasa penting Ajip, pendiri perusahaan penerbit Girimukti Pustaka dan Kiblat Buku Utama.

Setelah Ajip menghembuskan nafas terakhir di Magelang pada 29 Juli 2020, banyak orang—termasuk aku—yang serta-merta tersadar betapa raksasanya sebenarnya dia. Sajak ‘Penyair’ yang ditulisnya di tahun 1954 laksana menubuatkan ketersadaran itu.

‘PENYAIR’
i
adapun penyair lahir
membangkitkan kematian para penyihir
lalu dengan mantra kata-kata
menjelmakan kehidupan manusia

menyanyikan kelahiran cinta
atau menangisi kematian bunda
melagukan kesia-siaan rindu, kau pun tahu
segala yang beralamat duka
ii
siapa menjelajahi pagi
mendapat pertama sinar mentari
lagu kunyanyikan kini
akan dimengerti nanti

lagu kusajakkan kini
suara lubuk hati yang selalu sunyi

AJAIB AJIP

Anak Jatiwangi, Majalengka, bernama Ajip Rosidi sudah berstatus sastrawan nasional saat masih berumur 13 tahun. Ia telah menjadi suami dan pimpinan masalah Prosa yang dijual untuk umum, di umur 17 tahun. 

Sekolahnya hanya sampai kelas 2 Taman Madya (SMA). Begitupun sejak 1981 ia menjadi profesor terhormat di sejumlah perguruan tinggi di Jepang. 

Di sana ia bermukim tak kurang dari 20 tahun. Karya tulisnya (dalam 2 bahasa: Sunda dan Indonesia) ratusan, kalau bukan ribuan. Pernah pula ia memimpin beberapa lembaga terkemuka.

Lantas, di usia 78 tahun ia menikahi bintang film Nani Wijaya yang sudah berumur 72 tahun. Itu terjadi pada April 2017. Istri Ajip, Fatimah Wirjadibrata, berpulang pada 2014; sedangkan suami Nani Wijaya, Misbach Yusa Biran, tahun 2012. 

Misbach adalah kawan Ajip, Sobron Aidit, dan SM Ardan saat mereka menjadi siswa pegiat sastra, yang berkarib dengan kaum Seniman Senen. Jadi, di usia yang sama-sama sudah sangat lanjut Ajip menikahi jandanya sahabat. Memang ajaib kan, Ajip? (Tamat)

Penulis adalah : Senior Journalist, Mentor Writer Camp, Pemateri dalam workshop Bahasa dan Tulisan Jurnalistik, penulis biografi dan aktif di Aliansi Jurnalis Indonesia.

Kesehatan dan keselamatan kunci fleksibilitas pemesanan untuk wisata warga senior

this formate

Warga senior tetap ingin berwisata, nanun jarak dekat dengan mengendarai mobil sendiri menjadi priorutasnya. ( Foto: Travel Weekly) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kesehatan dan keselamatan serta fleksibilitas terkait pemesanan dan pembatalan paket wisata adalah prioritas utama bagi wisatawan lanjut usia ( warga senior) menurut jajak pendapat baru dari Silver Travel Advisor.

Dilansir dari Travel Weekly, menurut jajak pendapat dari 850 pelancong yang dilakukan pada bulan Juli 2020, hanya sepertiga responden yang percaya bahwa perjalanan akan kembali ke “normal” pada awal tahun 2021 dibandingkan dengan 55% yang optimis akan pemulihan cepat ketika ditanya pertanyaan yang sama di bulan Mei.

Namun, banyak yang positif tentang melanjutkan perjalanan di masa depan, dan 63% mengatakan mereka secara finansial jug lebih baik daripada sebelum era lockdown (penguncian) yang mengharuskan warga harus di rumah saja cegah penyebaran  virus Corona.

Hampir dua pertiga responden jajak pendapat – 68% di antaranya berusia antara 50 dan 70 – mengatakan bahwa mereka bermaksud untuk istirahat sejenak hingga empat hari pada tahun 2020, dengan mayoritas memilih untuk mengemudi sendiri dan melayani sendiri.  Inggris jadi pilihan  perjalanan pertama mereka.

Namun, 40% mengatakan mereka akan melakukan perjalanan ke Eropa untuk liburan pasca-lockdown pertama mereka, dengan sepertiga berharap bisa pergi ke luar negeri pada akhir 2020 dan jumlah yang sama diperkirakan akan melakukan perjalanan ke luar negeri pada paruh pertama 2021.

Hanya di bawah satu dari tiga responden mengatakan mereka akan melakukan penerbangan jarak pendek tahun ini, tetapi hanya 12% yang berharap untuk mengambil penerbangan jarak jauh.  Satu dari 11 responden mengatakan mereka tidak akan terbang jarak pendek lagi, sementara 25% mengatakan mereka tidak akan pernah terbang jarak jauh lagi.

Mayoritas penumpang kapal pesiar sebelumnya mengatakan mereka akan melakukannya lagi – dengan 83% penjelajah samudra dan 86% penjelajah sungai dengan senang hati kembali.

Dari jumlah tersebut, 34% penjelajah samudra dan 41% penjelajah sungai berniat untuk melakukannya lagi dalam 12 bulan ke depan, sementara 25% dan 23% masing-masing mengatakan kepulangan mereka bergantung pada vaksin Covid-19 yang ditemukan.

Dari mereka yang belum mencoba berlayar di laut, 57% mengatakan mereka tidak akan pernah berlayar, tetapi hanya 33% dari kapal penjelajah non-sungai yang mengatakan mereka akan sepenuhnya mengesampingkan opsi tersebut di masa depan.

Tiga perempat responden jajak pendapat mengatakan mereka merasa bahwa karantina setelah kembali ke Inggris “sangat diperlukan”.

Debbie Marshall, direktur pelaksana Silver Travel Advisor, mengatakan: “Survei baru ini, dibandingkan dengan yang kami lakukan pada Mei 2020, melacak bagaimana sikap wisatawan yang lebih tua telah berubah selama lockdown 

 “Mereka jauh lebih sedikit terpengaruh oleh konsekuensi ekonomi daripada yang lain dan sangat ingin kembali ke perjalanan yang paling dinanti-nantikan saat pensiun “

 Tetapi mereka waspada – rencana perjalanan yang akan datang dan pilih lebih dekat dengan rumah dan liburan Inggris di mana orang merasa paling memegang kendali, dengan katering mandiri dan mengemudi sendiri, adalah yang paling populer.

 “Melihat jangka panjang, cakrawala pelancong yang lebih tua tampaknya telah menyusut – setidaknya untuk saat ini – 25% dari semua responden dan lebih dari sepertiga berumur lebih dari 70-an tahun mengatakan mereka tidak pernah ingin terbang jarak jauh lagi.”

Marshall menambahkan prioritas wisatawan warga senior telah bergeser secara signifikan dari pengalaman baik sebelumnya dan mempertimbangkan reputasi perusahaan ke masalah kesehatan dan keselamatan serta fleksibilitas pemesanan dan pembatalan.  Menariknya, fitur harga nyaris tidak ada.

 “Namun asuransi sangat penting.  Wisatawan usia lanjut ( senior)  tidak akan mengambil risiko kecuali mereka memiliki asuransi pembatalan COVID-19 secara khusus, mereka tidak akan meninggalkan negara itu.

 “Ini memperkuat kebutuhan semua pemain di industri asuransi perjalanan untuk melangkah maju dengan solusi untuk situasi catch-22 ini.  Pelancong yang lebih tua memiliki sumber daya dan nafsu berkelana untuk terus bepergian, tetapi tanpa asuransi yang sesuai meski memiliki uang maka mereka tidak akan pergi ke mana pun di luar Inggris,” jelas Debbie Marshall

 

Wisatawan yang Berkunjung ke Lawang Sewu dan Museum KA Ambarawa terus meningkat

this formate

Berbagai acara dilakukan di area halaman Gedung Kawang Sewu seperti kesenian daerah, musik Jazz hingga mengenakan pakaian noni Belanda, Jepang dan putri Jawa. ( Foto: PT KAI).

SEMARANG, bisniswisata.co.id Sejak di buka kembali Destinasi Wisata Museum Lawang Sewu dan Museum Kereta Api Ambarawa di masa Adaptasi Kebiasaan Baru kunjungan Wisatawan yang datang terus meningkat.

Direktur Utama PT KA Pariwisata, Totok Suryono menyampaikan, hingga saat ini jumlah pengunjung yang datang ke museum Lawang Sewu rata-rata per hari mencapai kurang lebih 500 hingga 2.300 pengunjung, baik saat hari kerja  maupun weekend.

Data di Museum Lawang Sewu di bulan Juli 2020 pengunjung yang datang sebanyak 9.237 Pengunjung dan di bulan Agustus hingga tanggal (24/08) Pengunjung mencapai 27.231 Pengunjung ada peningkatan dalam satu bulan kurang lebih 295%

Sementara untuk kunjungan wisata di Museum KA Ambarawa di bulan Juli 2020 mencapai 314 orang Pengunjung dan di bulan Agustus 2020 mencapai 6.191 pengunjung sehingga adanya peningkatan kurang lebih 1.900%.

“Beberapa protokol kesehatan tetap kami terapkan di Museum Lawang Sewu dan Museum KA Ambarawa. Setiap pengunjung yang datang tetap kami terapkan aturan – aturan mengenai protokol kesehatan,” ujarTotok Suryono.

Protab sesuai yang dianjurkan oleh Pemerintah serta wajib melakukan 3M (Mencuci Tangan,Memakai Masker dan Menjaga Jarak) , diperiksa suhu tubuhnya dengan menggunakan Thermogun, serta menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), jelasnya.

Humas Kawisata M.ilud Siregar menambahkan saat ini, pengunjung yang datang berjalan dengan tertib dan lancar. Mereka antusias dengan dibukanya kembali objek wisata Museum Lawang Sewu dan Museum KA Ambarawa serta mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah dan 3M.

Untuk memudahkan pengunjung mengikuti arahan protokol kesehatan dan meminimalisir kontak, kini setiap masuk area museum telah menggunakan sistem Electronic Gate (E-Gate) sehingga proses alur masuk para pengunjung ke area Museum menjadi lebih praktis.

Pengunjung juga merasa nyaman serta aman dalam menerapkan phsical distancing. Sedangkan pembayaran tiket dapat dilakukan melalui aplikasi cashless yaitu Blibli,Gopay,Ovo dan Link Aja.Tutup Ilud Siregar.

PT KAI membuka kembali obyek wisata Museum Lawang Sewu Semarang, Jawa Tengah, yang sempat ditutup selama beberapa waktu akibat pandemi COVID-19 pada Kamis (9/7/2020). Lawang Sewu, dulu disebut dengan Het Hoofdkantoor van de Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatscappij, dibangun pada 27 Februari 1904.

Gedung yang terletak di kawasan Tugu Muda, Semarang bernama Lawang Sewu ini pintu gedungnya tidak mencapai 1.000. Total hanya 928 pintu dengan 425 frame, dan 114 ruang kerja tidak termasuk ruang meeting

Sementara Museum Kereta Api Ambarawa yang terletak di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang resmi dibuka kembali sejak Selasa (28/7/2020). Sebelum dibuka kembali, beberapa persiapan pun telah dilakukan di museum tersebut sehubungan dengan masih berjangkitnya virus Corona di seluruh dunia.

 

 

Cara Unik Orang Jepang Hilangkan Stress Terhadap COVID-19

this formate

Berbaring dalam peti, cara unik mengalihkan stres terhadap pandemi COVID-19 (foto: reuters)

TOKYO, bisniswisata.co.id: Takut menghadapi pandemi COVID-19? Tengoklah bagaimana sekelompok orang di Jepang menciptakan cara unik untuk mengalihkan pikiran orang dari ketakutan terhadap virus Corona.

Mereka membuat peti mati berjendela sepanjang 2 meter. Peti tersebut diletakkan dalam ruangan gelap yang dikelilingi ‘zombie’ yang memegang gergaji mesin. 

Para pecinta horor di Tokyo bisa masuk ke dalam peti lalu mendengarkan kisah horor, menonton penampilan para aktor, hingga merasakan sensasi dicolek dengan tangan palsu dan disemprot air, demikian seperti dilansir Reuters.

 Dengan cara itu, orang yang masuk ke dalam peti bisa sejenak menghilangkan ketakutannya terhadap virus Corona.

 “Pandemi ini sangat meresahkan, kami harap orang bisa merasa lega setelah berteriak-teriak,” kata Kenta Iwana, koordinator rumah produksi Kowagarasetai -pasukan menyeramkan- yang membuat acara berdurasi 15 menit itu.

Kowagarasetai memasang tarif 7,6 dollar AS (Rp 112.249) bagi orang-orang yang mau menjajal kegiatan inovatif ini. Bagi perusahaan, ide ini merupakan cara untuk bertahan di tengah pandemi.

Saat ini, Jepang mengalami peningkatan kasus Covid-19, dengan jumlah kasus baru terinfeksi virus corona 1.034, pada Jumat (21/8/2020). Perusahaan mengaku kesulitan mencari pekerjaan bagi para aktor yang biasanya tampil di tempat seperti taman bermain.

Bulan lalu, Kowagarasetai membuat rumah hantu “drive-in” sebagai cara menakut-nakuti orang di tengah ancaman virus. Sementara itu banyak konsumen juga mencari alternatif cara untuk melepaskan rasa stres akibat pandemi.

 “Banyak acara dibatalkan akibat pandemi, saya mencari cara untuk melepas stres,” kata Kazushiro Hashiguchi (36), setelah berbaring di peti mati. Sekarang saya merasa lebih santai” ungkapnya.

Pertunjukan ini diadakan di tempat istirahat yang biasa dipakai penumpang bis malam yang tiba di Tokyo.Koordinator pertunjukan Kenta Iwana berharap pemilik pusat perbelanjaan dan operator tempat pertunjukan dapat menyediakan tempat mereka untuk acara horor berikutnya.

 “Kami butuh sesuatu yang bisa dibawa-bawa, dan peti mati mudah dibawa. Yang kau butuhkan hanya menaruhnya di ruangan gelap. Ini bisnis bagus bagi kami dan memuaskan untuk konsumen.”

 

Buku Panduan CHSE Tingkatkan Penerapan di Hotel dan Restoran

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Penerapan protokol kesehatan CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability) yang ketat di hotel dan restoran dinilai dapat meningkatkan kepercayaan kembali wisatawan yang ingin berkunjung ke sebuah destinasi wisata.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menyosialisasikan pelaksanaan panduan penerapan protokol kesehatan CHSE untuk menciptakan kembali kepercayaan wisatawan.

Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi Kemenparekraf/Baparekraf Frans Teguh, Selasa (25/8/2020), mengatakan pihaknya menggelar Kegiatan Sosialisasi CHSE.

Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Keselamatan dan Kelestarian Lingkungan di Hotel Santika Premiere Dyandra Medan, Sumatera Utara untuk menjelaskan, pentingnya penerapan konsep CHSE dengan benar dan disiplin sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.

“Kesiapan destinasi dan para pelaku parekraf menjadi hal yang penting bagi destinasi dan pelaku parekraf untuk dapat kembali menerima kunjungan wisatawan, gaining confidence menjadi hal penting karena masyarakat seperti kehilangan confidence” ujarnya.

Frans juga mengatakan, SOP tersebut telah dituangkan dalam handbook yang disusun Kemenparekraf/Baparekraf dan merupakan turunan dari protokol kesehatan yang diterbitkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) 382/2020.

Adapun isi dari handbook ini, kata dia, meliputi unsur-unsur pencegahan, penelusuran, dan penanganan kasus COVID-19 di sektor parekraf.

“Saya kira ini menjadi sangat penting sehingga akhirnya nanti yang terkait dengan fasilitas bagaimana pengelola atau manajemen dalam rangka mempersiapkan itu, termasuk juga karyawannya. Dan tentu yang paling penting adalah kerja sama dengan pengunjung atau tamu,” ujarnya.

Saat kegiatan Sosialisasi Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan di Hotel Santika Premiere Dyandra turut hadir Wakil Direktur III Politeknik Pariwisata Medan Zumri Sulthony, Ketua PHRI Provinsi Sumatera Utara Deni S Wardhana.

Hadir pula Kasi Distribusi dan Informasi Pariwisata Dinas Budpar Sumatera Utara Laila Jamilah Lubis, Dosen STP Bandung Pudin Sapudin, Sub Koordinator Direktorat Kelembagaan Kemenparekraf DR Herbin Saragi, serta 100 pelaku hotel dan restoran di Medan dan sekitarnya.

Sementara itu, Direktur Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Reza Fahlevy mengatakan protokol kesehatan perlu diterapkan dan dipatuhi dengan baik dan benar guna meningkatkan kepercayaan dan daya tarik wisatawan agar tertarik datang ke destinasi wisata.

“Yang penting sekarang adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan publik. Kita harus menjaga kesehatan dan kebersihan agar COVID-19 segera tertangani dan sektor parekraf kembali bangkit,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua PHRI Sumut Deni S Wardhana menjelaskan, sejak COVID-19 pelaku hotel dan restoran mengalami keterpurukan, bahkan okupansi rata-rata menyentuh angka 1 digit.

Untuk itu penerapan protokol CHSE dengan adaptasi baru ini perlu dijadikan sebuah struktur program pelatihan sehingga orientasi pelayanan harus berdasarkan CHSE.

Namun penerapan itu harus beriringan dengan edukasi masyarakat atau wisatawan untuk sama-sama mematuhi protokol kesehatan yang sudah diterapkan.

“Protokol kesehatan ini bukan hanya untuk pengelola. Namun pengunjung hotel dan restoran harus bekerja sama melaksanakan dengan baik protokol kesehatan di fase kebiasaan baru,” ujarnya.

Herbin Saragi selaku penanggung jawab kegiatan sosialisasi dari Kemenparekraf/Baparekraf menambahkan, kegiatan ini bertujuan agar pelaku industri pariwisata terlebih saat ini pelaku usaha hotel dan restoran bisa menerapkan protokol kesehatan sebagai upaya preventif terhadap penyebaran COVID-19.

“Tujuannya adalah menekan pertumbuhan cluster baru COVID-19 di Medan dan Sumut secara umum. Selain itu meningkatkan kembali kepercayaan pelanggan terhadap industri pariwisata,” ujarnya.

Herbin yang mewakili Kemenparekraf sebagai salah satu narasumber dalam sosialisasi tersebut juga menjelaskan, dengan penerapan CHSE maka bisa menambah nilai jual dari hotel atau restoran itu sendiri.

“Kita harus pastikan wisatawan yang datang merasa aman dan nyaman saat berkunjung, sehingga bisa menjadi bahan promosi dan meningkatkan kenyamanan wisatawan. Dan yang paling penting ke depan akan menjadi prasyarat dalam verifikasi labeling Indonesia Care,” ujarnya.

Kemenparekraf sudah mengeluarkan handbook berupa panduan umum dan khusus. Untuk panduan umum meliputi manajemen atau tata kelola hotel dan restoran seperti memperhatikan informasi terkini.

Begitu pula imbauan dan instruksi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah terkait COVID-19 di wilayahnya, membuat Standar Operasional Prosedur (SOP), menyediakan dan memasang imbauan tertulis, serta menerapkan protokol kesehatan dasar bagi karyawan, tamu, dan pihak lain yang beraktivitas di hotel maupun restoran seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Sedangkan, panduan khusus meliputi tiga alur pelayanan hotel dan restoran mulai dari pintu masuk hingga ruang karyawan, yaitu panduan bagi pengusaha dan pengelola terhadap fasilitas yang harus disediakan, panduan bagi tamu, serta panduan bagi karyawan.

Pelaksanaan protokol kesehatan disebutnya sangat penting untuk dilakukan dengan baik. Karena hal ini merupakan salah satu bentuk upaya untuk mendorong pergerakan sektor parekraf, serta meningkatkan kepercayaan dan produktivitas masyarakat agar merasa aman dari COVID-19.

 

Mengenang Ajip Rosidi (31 Januari 1938-29 Juli 2020). Bagian : 6

this formate

Oleh P. Hasudungan Sirait

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sastrawan sekaligus budayawan Ajip Rosidi meninggal dunia di usia 83 tahun. Ia meninggal setelah menjalani operasi di RSUD Tidar Kota Magelang. Ajip Rosidi sempat dirawat tiga hari setelah terjatuh di rumah. Berikut serial tulisan untuk mengenang sosok teladan ini;

PROFESOR-SASTRAWAN TERHORMAT YANG SMA PUN TAK TAMAT

Tahun 1955 istimewa betul bagi Ajip Rosidi. Tidak hanya karena dia yang masih siswa kelas 2 Taman Madya (SMA) menikah waktu itu. Tapi juga karena kemudian, tak lama berselang, ia menjadi nakhoda majalah yang didirikannya, ‘Prosa’. 

Pengalamannya sejak 1953 sebagai pemimpin redaksi ‘Suluh Siswa’ ia manfaatkan dalam menjalankan terbitan sastra yang dijual untuk umum ini.

Lantas, masih di tahun 1955, kepengarangan dia mendapat garis bawah tebal. ‘Tahun-tahun Kematian’, kumpulan 5 cerpen yang kemungkinan ia tulis saat dirinya masih 13 tahun, diterbitkan Gunung Agung. 

HB Jassin, redaktur perusahaan penerbit tersebut yang meloloskannya. Kendati telah banyak menulis di koran dan majalah terkemuka, bagi dia kelahiran kitab perdananya yang diawasi tokoh yang kelak bersebutan ‘paus sastra’ tentulah sebuah pengakuan penting.

Ternyata umur ‘Prosa’ pendek saja. Ajip yang masih 17 tahun berpaling ke Balai Pustaka. Sejak November 1955 ia bekerja di sana. Menjadi pegawai rupanya tak membuat dirinya jenak. 

Baru seumur jagung, penulis yang juga menghasilkan karya dalam bahasa Sunda ini sudah tak kerasan. Hingga Februari 1956 saja ia di sana.

Hidup sepenuhnya sebagai pengarang, itulah keputusan dia. Agar bisa menafkahi keluarga, ia lantas menulis sebanyak-banyak. Kalau semula cerita pendek dan puisi yang dihasilkannya, sekarang ia merambah esei dan kritik.

Begitupun, penghasilannya kecil saja. Salah satu penyebabnya adalah banyak juga karyanya yang ditolak media massa. Bukan mutu yang kurang semata masalahnya tapi juga daya tampung surat kabar dan koran yang kecil. 

Jumlah media di zaman itu masih sedikit dan yang membuka ruang untuk karya sastra segelintir saja. ‘Mimbar’, ‘Siasat’, ‘Indonesia’, dan ‘Zenith’ yang acap memuat buah pena dia.

Di paruh pertama 1950-an itu perekonomian kita baru saja menggeliat sehingga daya beli masyarakat rendah untuk apa saja. Membeli lepas suratkabar atau majalah pun merupakan sebuah kemewahan di masa itu; apalagi berlangganan. 

Perlu kita ingat bahwa kendati proklamasinya pada 17 Agustus 1945, Indonesia ‘de facto’ baru merdeka setelah penyerahan kedaulatan, tahun 1949.

Di tahun 1956 kembali ia mendapat penawar hati. Balai Pustaka menerbitkan karya prosanya lagi yakni ‘Di Tengah Keluarga’. Menurut taksiran HB Jassin, Ajip masih 17 tahun saat menulis karya bernuansa otobiografi ini.

Dalam buku ini, kata HB Jassin, Ajip memaparkan silsilah keluarga sendiri. Si anak Jatiwangi masih kecil sewaktu papi dan maminya cerai. Maminya kawin 3 kali lagi dan papinya 2 kali lagi.

Satu saja saudara kandung Ajip yaitu adiknya [Ayatrohaedi]. Keduanya sempat ikut sang ayah yang merupakan guru sekolah rakyat (SD). Mereka hidup dengan para saudara tiri dan ibu baru yang bukan pengasih. Nestapa panjanglah yang mereka rasakan sebagai imbas perpisahan mami-papi.

Dua kumpulan puisi Ajip Rosidi juga menjadi buku di tahun 1956. ‘Pesta’ diterbitkan oleh Pembangunan. Sedangkan ‘Ketemu di Jalan’ oleh Djembatan. Ketemu di Jalan merupakan karya dia bersama sahabatnya sesama anak Taman Madya (SMA) di Taman Siswa: Sobron Aidit dan SM Ardan. 

Tiga remaja yang dekat dengan Seniman Senen ini berkoloborasi dengan meniru tiga senior berdarah Minang—Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin—yang melahirkan buku puisi ‘Tiga Menguak Takdir ‘ pada 1950.

Lumayan tinggi sudah pun pencapaiannya sebagai pengarang, jenuh juga Ajip menjalani kehidupan di Ibukota yang sumpek-semrawut. Ingin mereguk kembali indahnya kehidupan desa di masa kanak-kanak.

Pada Maret 1956 ia pulang untuk menetap di Jatiwangi, Majalengka. Ternyata baru 5 bulan ia sudah tak jenak di sana.
Sesungguhnya, selama 5 tahun ia tinggalkan Jatiwangi praktis sedikit saja berubah; seperti desa lainnya, gerakannya masih saja melata.

Hal  yang banyak berubah adalah diri Ajip. Ia bukan lagi anak berumur 12 tahun seperti waktu meneruskan sekolah ke Jakarta. Ia telah menjadi lelaki dewasa. Selain berstatus suami sejak tahun sebelumnya (1955), wawasan dan berpergaulan dia sudah luas. Pula, dirinya telah ternama sebagai penulis.

Seperti yang selalu terjadi pada mereka yang telah jauh (tak hanya secara geografis) rantaunya, terasing sudah dia dari tanah kelahiran. Raganya saja yang pulang; jiwanya tidak. 

Ia laksana anak lama ditunggu (dan baru tiba hari itu dari Eropa) yang dilukiskan penyair Sitor Situmorang dalam sajak ‘Si Anak Hilang’ yang terbit pada 1955:
………
Anak diam mengenang lupa
Dingin Eropa musim kotanya

Ibu diam berhenti berkata
Tiada sesal hanya gembira

Malam tiba ibu tertidur
Bapa lama sudah mendengkur
Di pantai pasir berdesir gelombang
Tahu si anak tiada pulang

Berbahaya

Kembali lagi Ajip ke Jakarta. Begitupun, hingga sekian lama berselang ia tetap terombang-ambing di antara Jatiwangi dan Jakarta yang disebutnya tempat kelahiran yang pertama dan kedua. Di sajak ‘Dua Kota’ yang ditulisnya tahun 1958 itu ia gambarkan.

‘DUA KOTA’
Suatu kota dalam bayangan bulan, cintaku
Nyanyian masa kanak yang telah jauh
Iringan suling mengombaki sepi abadi
Merayap pelan mengetuk jendela setiap hati
Yang terbuka bagi petualangan jiwa

Suatu kota mandi sinar matahari
Impian jauh harapan jauh
Derak kendaraan tanpa istirah
Yang terbuka bagi desah manusia
Menghela beban besi

Karyanya, baik puisi maupun prosa, untuk seterusnya banyak yang diilhami kedua tempat. Hidup dari mengarang. Keputusan sejak meninggalkan kedudukan sebagai pegawai di Balai Pustaka, ia jalani dengan teguh. 

Jika tak menulis, yang ia lakukan adalah membantu penerbitan dalam urusan kepenulisan. Dari segi keuangan, jalan ini berat baginya. Jangankan dia. Pramoedya Ananta Toer yang namanya sudah jauh menjulang pun, saat itu masih saja kelimpungan dalam soal duit.

Pada 1958 kumpulan cerpen Ajip, ‘Perjalan Pengantin’, disuguhkan ke publik oleh Pembangunan. Lebih mengemuka lagi kedudukan dia sebagai penulis prosa.

Di tahun 1959 terbit lagi 2 buku karyanya yakni ‘Cerita Pendek Indonesia: Sebuah Tinjauan’ (Djembatan) dan ‘Tjari Muatan’. Yang pertama ini, seperti yang disiratkan oleh judulnya merupakan sekumpulan hasil ulasan. 

Kitab ini memerlihatkan bahwa Ajip bukan hanya penulis yang bernas tapi juga pembaca yang banyak melahap karya serta yang rajin pula mencerna-menelaah isinya Kelak, hingga setelah sepuh pun ia tetap rajin membuat ulasan dan timbangan (resensi).

Dihiasi coretan Oesman Effendi— seperti halnya ‘Sajak Sajak Anak Matahari’ yang terbit 20 tahun kemudian—‘Tjari Muatan’, memuat juga puisi-puisi awal Ajip. Di sana termaktub puisi panjang berjudul ‘Jante Arkidam’

Kisah ihwal jagoan yang merajai dunia kegelapan. Si perkasa yang selalu mampu membuktikan ucapannya, “Tubuh kalian batang pisang. Tajam tanganku lelancip pedang.”

Thema serupa digarap juga oleh Sitor Situmorang dalam ‘Matinya Juara Judi’ (1955), Mansur Samin (‘Sibaganding Sirajagoda’), dan WS Rendra (‘Balada Terbunuhnya Atmo Karpo’). Pula, jauh hari kelak, oleh Iwan Fals tapi dalam lagu tentang bromocorah: ‘Sugali’.

Kumpulan puisi ‘Surat Cinta Enday Rasidin’ yang terbit pada 1960 semakin memerlihatkan produktivitasnya sebagai penulis.

Dalam tempo kurang dari 5 tahun sudah 8 buku karangan dia yang terbit. Terkait dengan pencapaian ini, HB Jassin pun membuat sebuat tulisan berjudul ‘Ajip Rosidi Tunas Harapan’. Dalam artikel yang dibuat di awal 1960-an ini ia antara lain mengatakan:

“….Orang mengikuti perkembangannya yang pesat itu setengah-setengah dengan perasaan kagum, tapi juga dengan kuatir dan curiga melihat nilai hasil-hasilnya. Dan apabila orang menerima juga kehadirannya, maka senantiasa dengan harapan semoga hasilnya yang berikut akan lebih memenuhi pengharapan-pengharapan sebelumnya (HB Jassin, 1985).

Dalam tulisan itu HB Jassin menyoroti pelbagai kelemahan prosa dan puisi Ajip dalam 5 tahun tersebut. Kalaupun ada kemajuan, menurut dia, itu hanya dalam puisi. Sebuah jeweran yang memerahkan kuping Ajip, tentunya. Tapi, berdasarkah kekhawatiran HB Jassin? Waktu akan menjawab. ( bersambung)

Penulis adalah : Senior Journalist, Mentor Writer Camp, Pemateri dalam workshop Bahasa dan Tulisan Jurnalistik, penulis biografi dan aktif di Aliansi Jurnalis Indonesia.

Menikmati Beningnya Danau Labuan Cermin di Kaltim

this formate

Danau bening yang menakjubkan sekaligus instagramble (foto: labuancermin blogspot)

JAKARTA, bisniswisata.co.di: Perusahaan teknologi penyedia layanan perjalanan, gaya hidup, dan jasa keuangan berbasis digital, Traveloka, gemar membagi tayangan visual tempat-tempat wisata di berbagai tempat di Nusantara.

Video garapan Traveloka kerap di-share pada sejumlah platform media sosial, termasuk Facebook. Baru-baru ini, saya menemukan sebuah video pendek memprofilkan keindahan alam Danau Labuan Cermin di Kalimantan Timur (Kaltim).

Video yang menarik, menurut saya. Melihat tayangan itu rasa takjub pun muncul: ternyata ada ya danau dengan air sejernih itu. Saking beningnya, seolah kita tengah menyaksikan orang berperahu di atas kaca. Ranting-ranting yang ada di dasar danaupun terlihat sangat jelas. Bahkan penyu dan satwa air lain terlihat benderang dari atas perahu. 

Satu lagi fakta unik dari Danau Labuan Cermin. Ternyata, danau tersebut memiliki dua rasa: tawar dan asin. Pada bagian permukaan danau, airnya tawar; sedangkan saat kita menyelam ke dasar danau, airnya mulai terasa asin. Inilah mengapa danau tersebut juga terkenal dengan julukan Danau Dua Rasa.

Seorang teman yang tinggal di Samarinda, ibu kota Kaltim mengaku belum pernah ke sana. “Jauh Mbak. At least 8 hours dari Samarinda,” ujarnya seperti disampaikannya via WhatsApp kepada penulis.

Untuk menjangkau lokasi tersebut memang butuh effort. Bila dari luar Kaltim, Anda perlu naik pesawat menuju ke Tanjung Redep, ibu kota Kabupaten Berau. 

Dari sana perjalanan masih harus dilanjutkan lewat darat dengan jarak tempuh sekitar 4-5 jam menuju Kecamatan Biduk-Biduk. Ada sejumlah mobil travel  di bandara yang siap mengantar Anda ke sana.

Setibanya di Kecamatan Biduk-Biduk Anda akan segera disuguhi pemandangan pantai panjang yang indah menuju ke Desa Labuan Kelambu tempat dimana Danau Labuan Cermin berada. 

Papan besar bertulis ‘Selamat Datang di Kawasan Wisata Bahari Labuan Cermin Danau Dua Rasa’ menandai Anda telah tiba di desa tujuan.

Untuk menjangkau danau, Anda perlu menyewa perahu. Dekat plang ‘selamat datang’ tadi, ada jembatan kayu tempat Anda bisa mendapatkan perahu sewaan untuk menyeberang menuju Danau Labuan Cermin. 

Di sekitar jembatan kayu juga ada tempat menyewakan alat-alat berenang, seperti pelampung, snorkle, kaki katak, dsb. Tetapi seperti dilansir dari labuancermin blogspot: “Tips untuk menghemat biaya, sebaiknya Anda membawa sendiri perlengkapan tersebut, jadi tidak perlu menyewa lagi.”

Alat-alat renang perlu Anda bawa karena itu akan bermanfaat saat melakukan aktivitas seru di danau, seperti berenang, snorkeling, dan naik perahu.

Silakan pertimbangkan untuk berwisata ke alam terbuka seperti Danau Labuan Cermin. Penelitian membuktikan wisata jenis open air relatif lebih aman dilakukan di zaman pandemi COVID-19.