Mengenang Ajip Rosidi (31 Januari 1938-29 Juli 2020). Bagian : 6

0
14

Oleh P. Hasudungan Sirait

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sastrawan sekaligus budayawan Ajip Rosidi meninggal dunia di usia 83 tahun. Ia meninggal setelah menjalani operasi di RSUD Tidar Kota Magelang. Ajip Rosidi sempat dirawat tiga hari setelah terjatuh di rumah. Berikut serial tulisan untuk mengenang sosok teladan ini;

PROFESOR-SASTRAWAN TERHORMAT YANG SMA PUN TAK TAMAT

Tahun 1955 istimewa betul bagi Ajip Rosidi. Tidak hanya karena dia yang masih siswa kelas 2 Taman Madya (SMA) menikah waktu itu. Tapi juga karena kemudian, tak lama berselang, ia menjadi nakhoda majalah yang didirikannya, ‘Prosa’. 

Pengalamannya sejak 1953 sebagai pemimpin redaksi ‘Suluh Siswa’ ia manfaatkan dalam menjalankan terbitan sastra yang dijual untuk umum ini.

Lantas, masih di tahun 1955, kepengarangan dia mendapat garis bawah tebal. ‘Tahun-tahun Kematian’, kumpulan 5 cerpen yang kemungkinan ia tulis saat dirinya masih 13 tahun, diterbitkan Gunung Agung. 

HB Jassin, redaktur perusahaan penerbit tersebut yang meloloskannya. Kendati telah banyak menulis di koran dan majalah terkemuka, bagi dia kelahiran kitab perdananya yang diawasi tokoh yang kelak bersebutan ‘paus sastra’ tentulah sebuah pengakuan penting.

Ternyata umur ‘Prosa’ pendek saja. Ajip yang masih 17 tahun berpaling ke Balai Pustaka. Sejak November 1955 ia bekerja di sana. Menjadi pegawai rupanya tak membuat dirinya jenak. 

Baru seumur jagung, penulis yang juga menghasilkan karya dalam bahasa Sunda ini sudah tak kerasan. Hingga Februari 1956 saja ia di sana.

Hidup sepenuhnya sebagai pengarang, itulah keputusan dia. Agar bisa menafkahi keluarga, ia lantas menulis sebanyak-banyak. Kalau semula cerita pendek dan puisi yang dihasilkannya, sekarang ia merambah esei dan kritik.

Begitupun, penghasilannya kecil saja. Salah satu penyebabnya adalah banyak juga karyanya yang ditolak media massa. Bukan mutu yang kurang semata masalahnya tapi juga daya tampung surat kabar dan koran yang kecil. 

Jumlah media di zaman itu masih sedikit dan yang membuka ruang untuk karya sastra segelintir saja. ‘Mimbar’, ‘Siasat’, ‘Indonesia’, dan ‘Zenith’ yang acap memuat buah pena dia.

Di paruh pertama 1950-an itu perekonomian kita baru saja menggeliat sehingga daya beli masyarakat rendah untuk apa saja. Membeli lepas suratkabar atau majalah pun merupakan sebuah kemewahan di masa itu; apalagi berlangganan. 

Perlu kita ingat bahwa kendati proklamasinya pada 17 Agustus 1945, Indonesia ‘de facto’ baru merdeka setelah penyerahan kedaulatan, tahun 1949.

Di tahun 1956 kembali ia mendapat penawar hati. Balai Pustaka menerbitkan karya prosanya lagi yakni ‘Di Tengah Keluarga’. Menurut taksiran HB Jassin, Ajip masih 17 tahun saat menulis karya bernuansa otobiografi ini.

Dalam buku ini, kata HB Jassin, Ajip memaparkan silsilah keluarga sendiri. Si anak Jatiwangi masih kecil sewaktu papi dan maminya cerai. Maminya kawin 3 kali lagi dan papinya 2 kali lagi.

Satu saja saudara kandung Ajip yaitu adiknya [Ayatrohaedi]. Keduanya sempat ikut sang ayah yang merupakan guru sekolah rakyat (SD). Mereka hidup dengan para saudara tiri dan ibu baru yang bukan pengasih. Nestapa panjanglah yang mereka rasakan sebagai imbas perpisahan mami-papi.

Dua kumpulan puisi Ajip Rosidi juga menjadi buku di tahun 1956. ‘Pesta’ diterbitkan oleh Pembangunan. Sedangkan ‘Ketemu di Jalan’ oleh Djembatan. Ketemu di Jalan merupakan karya dia bersama sahabatnya sesama anak Taman Madya (SMA) di Taman Siswa: Sobron Aidit dan SM Ardan. 

Tiga remaja yang dekat dengan Seniman Senen ini berkoloborasi dengan meniru tiga senior berdarah Minang—Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin—yang melahirkan buku puisi ‘Tiga Menguak Takdir ‘ pada 1950.

Lumayan tinggi sudah pun pencapaiannya sebagai pengarang, jenuh juga Ajip menjalani kehidupan di Ibukota yang sumpek-semrawut. Ingin mereguk kembali indahnya kehidupan desa di masa kanak-kanak.

Pada Maret 1956 ia pulang untuk menetap di Jatiwangi, Majalengka. Ternyata baru 5 bulan ia sudah tak jenak di sana.
Sesungguhnya, selama 5 tahun ia tinggalkan Jatiwangi praktis sedikit saja berubah; seperti desa lainnya, gerakannya masih saja melata.

Hal  yang banyak berubah adalah diri Ajip. Ia bukan lagi anak berumur 12 tahun seperti waktu meneruskan sekolah ke Jakarta. Ia telah menjadi lelaki dewasa. Selain berstatus suami sejak tahun sebelumnya (1955), wawasan dan berpergaulan dia sudah luas. Pula, dirinya telah ternama sebagai penulis.

Seperti yang selalu terjadi pada mereka yang telah jauh (tak hanya secara geografis) rantaunya, terasing sudah dia dari tanah kelahiran. Raganya saja yang pulang; jiwanya tidak. 

Ia laksana anak lama ditunggu (dan baru tiba hari itu dari Eropa) yang dilukiskan penyair Sitor Situmorang dalam sajak ‘Si Anak Hilang’ yang terbit pada 1955:
………
Anak diam mengenang lupa
Dingin Eropa musim kotanya

Ibu diam berhenti berkata
Tiada sesal hanya gembira

Malam tiba ibu tertidur
Bapa lama sudah mendengkur
Di pantai pasir berdesir gelombang
Tahu si anak tiada pulang

Berbahaya

Kembali lagi Ajip ke Jakarta. Begitupun, hingga sekian lama berselang ia tetap terombang-ambing di antara Jatiwangi dan Jakarta yang disebutnya tempat kelahiran yang pertama dan kedua. Di sajak ‘Dua Kota’ yang ditulisnya tahun 1958 itu ia gambarkan.

‘DUA KOTA’
Suatu kota dalam bayangan bulan, cintaku
Nyanyian masa kanak yang telah jauh
Iringan suling mengombaki sepi abadi
Merayap pelan mengetuk jendela setiap hati
Yang terbuka bagi petualangan jiwa

Suatu kota mandi sinar matahari
Impian jauh harapan jauh
Derak kendaraan tanpa istirah
Yang terbuka bagi desah manusia
Menghela beban besi

Karyanya, baik puisi maupun prosa, untuk seterusnya banyak yang diilhami kedua tempat. Hidup dari mengarang. Keputusan sejak meninggalkan kedudukan sebagai pegawai di Balai Pustaka, ia jalani dengan teguh. 

Jika tak menulis, yang ia lakukan adalah membantu penerbitan dalam urusan kepenulisan. Dari segi keuangan, jalan ini berat baginya. Jangankan dia. Pramoedya Ananta Toer yang namanya sudah jauh menjulang pun, saat itu masih saja kelimpungan dalam soal duit.

Pada 1958 kumpulan cerpen Ajip, ‘Perjalan Pengantin’, disuguhkan ke publik oleh Pembangunan. Lebih mengemuka lagi kedudukan dia sebagai penulis prosa.

Di tahun 1959 terbit lagi 2 buku karyanya yakni ‘Cerita Pendek Indonesia: Sebuah Tinjauan’ (Djembatan) dan ‘Tjari Muatan’. Yang pertama ini, seperti yang disiratkan oleh judulnya merupakan sekumpulan hasil ulasan. 

Kitab ini memerlihatkan bahwa Ajip bukan hanya penulis yang bernas tapi juga pembaca yang banyak melahap karya serta yang rajin pula mencerna-menelaah isinya Kelak, hingga setelah sepuh pun ia tetap rajin membuat ulasan dan timbangan (resensi).

Dihiasi coretan Oesman Effendi— seperti halnya ‘Sajak Sajak Anak Matahari’ yang terbit 20 tahun kemudian—‘Tjari Muatan’, memuat juga puisi-puisi awal Ajip. Di sana termaktub puisi panjang berjudul ‘Jante Arkidam’

Kisah ihwal jagoan yang merajai dunia kegelapan. Si perkasa yang selalu mampu membuktikan ucapannya, “Tubuh kalian batang pisang. Tajam tanganku lelancip pedang.”

Thema serupa digarap juga oleh Sitor Situmorang dalam ‘Matinya Juara Judi’ (1955), Mansur Samin (‘Sibaganding Sirajagoda’), dan WS Rendra (‘Balada Terbunuhnya Atmo Karpo’). Pula, jauh hari kelak, oleh Iwan Fals tapi dalam lagu tentang bromocorah: ‘Sugali’.

Kumpulan puisi ‘Surat Cinta Enday Rasidin’ yang terbit pada 1960 semakin memerlihatkan produktivitasnya sebagai penulis.

Dalam tempo kurang dari 5 tahun sudah 8 buku karangan dia yang terbit. Terkait dengan pencapaian ini, HB Jassin pun membuat sebuat tulisan berjudul ‘Ajip Rosidi Tunas Harapan’. Dalam artikel yang dibuat di awal 1960-an ini ia antara lain mengatakan:

“….Orang mengikuti perkembangannya yang pesat itu setengah-setengah dengan perasaan kagum, tapi juga dengan kuatir dan curiga melihat nilai hasil-hasilnya. Dan apabila orang menerima juga kehadirannya, maka senantiasa dengan harapan semoga hasilnya yang berikut akan lebih memenuhi pengharapan-pengharapan sebelumnya (HB Jassin, 1985).

Dalam tulisan itu HB Jassin menyoroti pelbagai kelemahan prosa dan puisi Ajip dalam 5 tahun tersebut. Kalaupun ada kemajuan, menurut dia, itu hanya dalam puisi. Sebuah jeweran yang memerahkan kuping Ajip, tentunya. Tapi, berdasarkah kekhawatiran HB Jassin? Waktu akan menjawab. ( bersambung)

Penulis adalah : Senior Journalist, Mentor Writer Camp, Pemateri dalam workshop Bahasa dan Tulisan Jurnalistik, penulis biografi dan aktif di Aliansi Jurnalis Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.