Pertunjukkan Indonesian Folk Tales Sukses Jaring 2000 ‘Viewers’

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Indonesian Folk Tales-Putri Mandalika Series“, virtual event yang

Indonesia Folk Tales Series, pertunjukkan teater secara virtual .

telah sukses diselenggarakan secara daring dan ditonton oleh lebih dari 2000 viewers.

Virtual event ini mampu menjadi contoh dan pemicu bagi pelaku industri event pariwisata dan ekonomi kreatif lainnya untuk tetap berkarya dan produktif di tengah pandemi.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mendukung penyelenggaraan virtual event Indonesian Folk Tales, pertunjukkan seni teater yang disajikan secara daring bertemakan cerita rakyat Indonesia.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Detail Initiative pada Sabtu, 29 Agustus 2020 itu mengangkat kisah tentang Putri Mandalika, cerita rakyat dari Nusa Tenggara Barat (NTB).

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani, Senin (31/8/2020) mengatakan, “Indonesian Folk Tales” merupakan salah satu proposal virtual event terbaik di program “Virtual Events: Best Practices and Ideas 2020” .

Program ini  digelar Kemenparekraf/Baparekraf bersama dengan Australian Marketing Institute (AMI), sehingga berhak mendapat dukungan untuk menyelenggarakan virtual eventnya.

“Melalui sajian ini, penonton mampu mendapat suguhan hiburan sekaligus belajar nilai-nilai pedoman hidup bagi anak Indonesia sekaligus memahami budaya khas Indonesia melalui cerita daerah yang dikemas dengan teknologi kreatif,” kata Rizki Handayani.

Pertunjukan teater virtual ini juga didukung oleh Teater Keliling Indonesia, yaitu salah satu penggerak awal dunia teater di Indonesia yang sudah pengalaman lebih dari 40 tahun di Indonesia. Selain itu juga didukung oleh Visual Rangers yang merupakan perusahaan multimedia terkemuka di Indonesia.

Indonesian Folk Tales seri Mandalika juga menjadi pertunjukan teater yang menggunakan teknologi green screen di Indonesia dan sangat jarang digunakan di dunia teater.

Rizki Handayani menjelaskan, penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan menjadi contoh bagi pelaku industri event pariwisata dan ekonomi kreatif lainnya dalam menyelenggarakan virtual event, juga berkolaborasi dengan industri dan komunitas lainnya.

“Selain itu Indonesian Folk Tales juga bisa menjadi alat promosi pariwisata baru yang dapat dikembangkan menjadi sarana diplomasi budaya, baik secara nasional maupun internasional,” kata Rizki Handayani.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menyambut baik penyelenggaraan kegiatan ini.

Indonesian Folk Tales-Putri Mandalika Series” ujarnya, sebagai wujud semangat kreativitas dan inovasi untuk bangkit bersama membangun pariwisata dan ekonomi kreatif di tengah pandemi.

“Harapan, optimisme, dan rasa cinta tanah air harus semakin menguat meski Indonesia sedang dihadapkan dengan kesulitan karena pandemi,” kata Wishnutama.

Dia meyakini, Indonesia adalah bangsa besar yang mampu menghadapi segala macam tantangan bersama. Keterbatasan harus dijadikan momentum untuk kreatif dan berinovasi, bergotong royong menuju Indonesia Maju.

“Kekuatan bangsa Indonesia adalah persatuan dengan kekayaan alam dan budayanya yang tinggi. Pesan Presiden, kita harus menjadikan musibah pandemi ini sebagai momentum untuk sebuah lompatan besar, kebangkitan baru akan Indonesia yang produktif namun tetap aman COVID-19,” kata Wishnutama.

 

Menikmati Matahari Terbit dan Selfie di Bukit Panguk Kediwung Yogya

this formate

Menikmati matahari terbit dari atas bukit (Foto: @nangyul22)

YOGYAKARTA,bisniswisata.co.id: Di Yogyakarta ada sebuah tempat wisata yang sedang populer, namanya Bukit Panguk Kediwung. Foto-foto orang berpose saat menikmati matahari terbit banyak berseliweran di media sosial, terutama Instagram. 

Tempatnya menarik dan pemandangannya istimewa. Kebanyakan orang meng-upload foto diri dengan latar belakang gunung yang sesekali tertutup awan. 

Karena sangat instagramable, tempat ini kerap kebanjiran pengunjung terutama pada hari-hari libur. Tak jarang orang harus antri untuk sekadar selfie di spot-spot yang tersedia. 

Bukit Panguk Kediwung memang berada di dataran tinggi, jadi latar pegunungan hijau dan langit biru dapat ter-capture dengan baik saat selfie. Biasanya para pengunjung  mengejar matahari terbit di sana.

Seolah memahami kebutuhan para pelancong, pengelola wisata telah menyiapkan tempat berpijak yang menarik sehingga mereka seperti sedang berfoto di atas perahu, delman, jembatan kayu, kolam di atas bukit, dan masih banyak yang lainnya.

Bukit Panguk Kediwung sudah buka sejak pukul 04.00 dan tutup pada 16.00 sore. Senin mereka tidak buka, demikian seperti dilansir dari Instagram resminya. 

Tiket masuk juga cukup terjangkau, yaitu mulai dari Rp 5.000 saja per orang. Pengeluaran justru akan banyak dibelanjakan untuk membayar spot-spot tempat berswafoto. Menurut pengalaman  yang ditulis garasijogja.com, untuk foto di semua spot yang tersedia Anda bisa menghabiskan Rp200.000. Lumayan mahal ya.

Anda yang gemar wisata luar ruangan, Bukit Panguk Kediwung juga menyediakan area khusus untuk camping yang aman. Ada juga tempat untuk beristirahat, ngopi dan menikmati kuliner dengan harga terjangkau.

Bukit Panguk Kediwung memang baru buka kembali di bulan Agustus 2020 setelah sempat tutup karena pandemi virus Corona.

Oleh karena itu, pengunjung dan staf di area ini harus mengikuti protokol kesehatan yang ketat seperti menggunakan masker, mencuci tangan secara berkala, dan menjaga jarak dengan pengunjung lainnya.

Tidak sulit untuk menjangkau tempat ini. Dari Jogja ikuti saja arah ke Terminal Giwangan. Sampai lampu lalu lintas Giwangan, ambil arah ke selatan menuju Pasar Imogiri lalu ambil jalan ke kiri menuju makam raja imogiri. 

Sebelum makam ada pertigaan dimana ada papan pentunjuk arah ke Kebun Buah Mangunan. Ikuti saja arah tersebut. Sebelum kebun buah Anda sudah akan menemukan papan petunjuk ke arah Puncak Kediwung.

Karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari Yogya, Anda dapat berangkat selepas sholat subuh jika mengejar matahari terbit. Silakan datang untuk berwisata

Virtual Challenge Poco-poco di gelar, Negara Menaruh Harapan  Besar Bagi Kawula Muda

this formate

Dr. H. Sapta Nirwandar SE.  Ketua Federasi Olahraga  Budaya Indonesia (Foto: dok. pribadi)

JAKARTA,bisniswisata.co.id: Pandemi COVID-19 tidak menghalangi penyelenggara Senam Poco-Poco GWR New untuk menyelenggarakan virtual Challenge dari 27 Agustus hingga 11 Oktober 2020 mendatang, kata Sapta Nirwandar, Ketua Federasi Olahraga  Budaya Indonesia ( FOKBI), hari ini.

” Kegiatan masih berlangsung diikuti oleh peserta dari berbagai wilayah Indonesia. Tahun 2018 Indonesia mencatat dan memecahkan Rekor Dunia “The Largest Poco-poco Dance” Guinness World Records pada tanggal 5 Agustus 2018 dengan rekor  peserta mencapai 65.000 pesenam Poco-poco,”  kata Sapta Nirwandar.

Menurut dia kegiatan lomba secara virtual ini tidak lepas juga atas permintaan Pembina OASE Kabinet Indonesia Maju dan Menteri Pemuda dan Olahraga agar masyarakat tetap aktif bergerak dan berolahraga.

” Ibu negara Iriana Joko Widodo ingin masyarakat terus meningkatkan Imunitas dan Kebugaran tubuh menghadapi Pandemi dan melawan COVID 19,” tambahnya.

Federasi Olahraga Kreasi Budaya Indonesia ( FOKBI) bersama Kemenporapun kembali menyelenggarakan  acara “Poco-poco GWR New Normal” Virtual Challenge melalui Media sosial Instagram dan Facebook @pocopocogwr  pada tanggal 27 Agustus –11 Oktober 2020.

Menurut Sapta, berkembang pesatnya dan besarnya pengaruh globalisasi, baik terhadap peradaban maupun budaya suatu bangsa di dunia, ternyata juga berdampak terhadap masuknya seni budaya dari bangsa lain ke Indonesia.

Presiden Jokowi dan Iriana Joko Widodo berpartisipasi pada Guinness World Records Poco-poco 2018. ( Foto: Dok. FOKBI)

” Lambat laun secara pasti budaya asing mampu menggeser budaya asli bangsa Indonesia yang mengancam kelestariannya,” jelas Sapta sementara RI punya beragam budaya yang khas dan menjadi daya tarik wisata seperti Poco-poco yang bisa segera mendunia.

Bukan hal yang tidak mungkin, event yang dilakukan secara konsisten akan membuat lomba Poco-poco juga mendunia seperti olahraga Silat tradisional RI yang kini sudah berkembang dibanyak negara.

” Bagi kalangan milenial dan generasi gen Z yang lahir dijaman digital selain kami harapkan mereka berpartisipasi juga bisa menjadi duta Poco-poco dan memviralkan keseluruh dunia seperti mereka mempraktekkan tarian budaya asing Shuffle, Gang Nam Style dan tarian gaul dunia saat ini,” kata Sapta.

Membudayakan senam Poco-poco Nusantara sebagai warisan dan kekayaan budaya asli,  perlu diangkat, dilestarikan dan dikembangkan oleh generasi penerus sebagai jati diri Bangsa Indonesia bagi dunia.

Sebagai ajang promosi olahraga, budaya dan pariwisata Indonesia di kancah dunia dan berhasilnya Indonesia mencatat dan memecahkan rekor dunia maka dari 27 Agustus –11 Oktober 2020 dibagi beberapa kategori .

” Kategori Pelajar / Mahasiswa dari tanggal 27 Agustus – 2 September 2020,kategori Kementerian/Lembaga/BUMN/TNI/POLRI/Dispora mulai  6 September –  12 September 2020,” paparnya.

Sementara untuk tingkat umum usia 45 tahun kebawah mulai 16 September – 22 September 2020 dan kategori umum usia 46 tahun keatas pada 26 September – 2 Oktober 2020.

Ada juga hadiah bagi pengirim peserta terbanyak dari masing-masing kategori, dan peraih Like terbanyak dari peserta di Instagram & Facebook.

Pengumuman seluruh Pemenang diumumkan melalui IG & FB pada tanggal 11 Oktober 2020, ungkap Sapta.

“Salam Poco-poco, Indonesia bagi dunia,” tambahnya dengan bersemangat. Sebagai founding father dan penggagas beragam event internasional di tanah air ini mengaku menaruh harapan besar bagi kawula muda Indonesia.

Virtual Challenge Poco Poco ini diharapkan menggerakkan tradisi dan budaya Indonesia untuk dinikmati dan dipelajari oleh seluruh masyarakat dunia.

Malaysia Tetap Tertutup Bagi Wisman Hingga 31 Desember 2020

this formate

Para pedagang menggunakan masker berjualan di kaki lima Kula Lumpur. Malaysia masih tertutup bagi wisman.( Reuter/ KunbHye Teng) 

KUALA LUMPUR, bisniswisata.co.id: Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin mengatakan bahwa Malaysia tetap memberlakukan pembatasan pergerakan negara hingga 31 Desember 2020, menyusul akibat pandemi virus Corona belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.

Kluster baru COVID-19 yang mengkhawatirkan baru-baru ini ditemukan di beberapa negara bagian dan jumlah kasus juga membuatnya memperpanjang perintah kontrol gerakan pemulihan atau movement control order (MCO), 

 “Meski kami telah menangani krisis dengan baik maka untuk kepentingan semua orang, pemerintah telah memutuskan bahwa pemulihan MCO akan diperpanjang hingga 31 Desember 2020,” katanya.

Perpanjangan ini akan memungkinkan pemerintah menangani wabah dengan cepat di bawah Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Act 1988, katanya, sementara Malaysia akan terus mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah.

 Di bawah pemulihan MCO yang dimulai pada 10 Juni, sebagian besar bisnis telah diizinkan untuk dibuka kembali selama mereka mengikuti protokol seperti mencatat suhu pengunjung ke tempat mereka dan menerapkan jarak sosial.

Tapi klub malam dan pub tetap ditutup di bawah pemulihan MCO dan pihak berwenang mengatakan pasalnya sulit untuk memastikan protokol kesehatan seperti jarak sosial di gerai tersebut. Pembatasan pergerakan awalnya dijadwalkan berakhir pada hari ini, Senin 31 Agustus 2020.

Perbatasan Malaysia juga umumnya akan tetap ditutup, dengan mereka yang terbang ke Malaysia diwajibkan menjalani karantina wajib selama 14 hari untuk mencegah penyebaran kasus impor.

 “Wisatawan masih tidak diizinkan masuk ke negara ini untuk menghindari kasus impor,” kata Muhyiddin seperti dilansir dari situs The Straits Times.

Malaysia pertama kali memberlakukan pembatasan pergerakan pada 18 Maret dan memaksa sekolah dan bisnis yang tidak penting untuk ditutup.  Orang-orang diharuskan tinggal di rumah mereka kecuali untuk membeli makanan dan barang-barang penting, atau untuk mencari perawatan medis.

Aturan tinggal di rumah yang ketat membuahkan hasil ketika kasus harian mulai berkurang, yang menyebabkan pemerintah memulai pemulihan MCO mulai 10 Juni, secara bertahap membuka kembali banyak bisnis dan kegiatan massa seperti ibadah publik dan olahraga kontak.

Malaysia pada 1 Agustus lalu mewajibkan semua orang mengenakan masker di tempat umum yang ramai dan di transportasi umum, setelah pihak berwenang mengamati kepatuhan yang rendah terhadap jarak sosial ketika memasuki fase pemulihan pembatasan.

 “Karena masker menjadi barang kebutuhan sehari-hari, Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Urusan Konsumen sedang berdiskusi dengan produsen untuk menurunkan harga.  Jika berhasil, harganya akan lebih terjangkau dan bisa meringankan beban kita, ”kata PM Muhyiddin.

Malaysia pada hari Jumat 28 Agustus 2020 melaporkan 10 kasus Covid-19 baru, sehingga total infeksi menjadi 9.306.  Jumlah total kematian yang disebabkan oleh virus itu tetap di 125.

Kementerian Kesehatan telah mengusulkan untuk menaikkan denda sebesar 10 kali lipat menjadi RM10.000 (S $ 3.260), bagi mereka yang melanggar Undang-Undang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular 1988 (Undang-undang 342).

 “Saya mendukung rekomendasi Kementerian Kesehatan untuk menaikkan denda bagi mereka yang melakukan pelanggaran (berdasarkan UU), setidaknya dua atau tiga kali lipat dari jumlah sekarang.  Tapi ini perlu dikaji dulu sebelum UU diubah, ”kata Muhyiddin.

Usulan oleh kementerian itu datang hanya beberapa hari setelah Menteri Kabinet Mohd Khairuddin Aman Razali melanggar perintah karantina wajib setelah kembali dari Turki pada 7 Juli lalu.

Alih-alih dikarantina selama 14 hari seperti orang lain yang kembali dari luar negeri, dia terlihat di postingan media sosialnya tentang menghadiri acara dengan orang lain termasuk bertemu menteri lain.

Hal ini menimbulkan kemarahan publik karena warga Malaysia lainnya telah didenda dan bahkan dipenjara, karena melanggar karantina.

 

Lebih Baik dari Sustainable Travel, Inilah Regenerative Travel

this formate

Selandia Baru berupaya menyeimbangkan pariwisata dengan kesejahteraan sumber daya alam dan komunitasnya. Di atas, alpacas di Akaroa, Selandia Baru. ( Foto: Kai Schwoerer / Getty Imges) .

NEW YORK, bisniswisata.co.id: Dapatkah perjalanan kembali tumbuh pasca ditemukan vaksin dan menjadi lebih cerdas dan lebih ramah lingkungan daripada sebelum Maret 2020?  Beberapa di industri pariwisata bertaruh untuk itu.

Pariwisata, yang tumbuh lebih cepat dari produk domestik bruto global selama sembilan tahun terakhir, telah dihancurkan oleh pandemi.  Setelah menyumbang 10 persen pekerjaan di seluruh dunia, sektor ini siap untuk melepaskan 121 juta pekerjaan, dengan kerugian diproyeksikan minimal US$ 3,4 triliun, menurut data Badan Pariwisata Dunia (UNWTO).

Namun dalam masa jeda ini, beberapa perusahaan di industri pariwisata berencana untuk kembali melakukan travelling pasca-vaksin yang lebih baik daripada sebelum Maret 2020 – lebih ramah lingkungan, lebih cerdas, dan tidak terlalu ramai.  

Jika pariwisata berkelanjutan, yang bertujuan untuk mengimbangi dampak sosial dan lingkungan yang terkait dengan perjalanan, merupakan batas luar ekowisata yang aspiratif sebelum pandemi, maka batas baru adalah “perjalanan regeneratif,” atau meninggalkan tempat yang lebih baik daripada yang Anda temukan.

“Pariwisata berkelanjutan adalah standar yang rendah.  Meski pada akhirnya, itu tidak membuat tempat menjadi berantakan, “kata Jonathon Day dilansir dari The New York Times

Dia seorang profesor yang berfokus pada pariwisata berkelanjutan di Universitas Purdue. Menurut dia pariwisata regeneratif adalah membuat aktivitas yang lebih baik untuk generasi mendatang.

 Mendefinisikan regenerasi

Secara umum, keberlanjutan, seperti yang dipraktikkan saat ini, adalah tentang memperlambat degradasi, “kata Bill Reed, seorang arsitek dan kepala Regenesis Group.

Bill memimpin sebuah perusahaan desain yang berbasis di Massachusetts dan New Mexico yang telah mempraktikkan desain regeneratif, termasuk proyek pariwisata sejak 1995  

Dia menggambarkan upaya seperti efisiensi bahan bakar dan pengurangan penggunaan energi sebagai cara yang lebih lambat untuk mati. “Regenerasi adalah tentang memulihkan dan kemudian meregenerasi kemampuan untuk hidup dalam hubungan baru secara berkelanjutan,” tambahnya.

Dengan sebagian besar travelling ditangguhkan selama pandemi, perjalanan regeneratif tetap berada di gerbang awal.  Tapi dalam jeda, itu ada gosip baru.  

Enam organisasi nirlaba, termasuk Center for Responsible Travel dan Sustainable Travel International, telah bergabung bersama sebagai koalisi Future of Tourism, yang bertujuan untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Dua puluh dua grup perjalanan, termasuk operator tur seperti G Adventures, pemasar destinasi seperti Badan Pariwisata Slovenia, dan organisasi seperti Adventure Travel  Trade Association telah menandatangani 13 prinsip panduan koalisi, termasuk menuntut distribusi pendapatan yang adil dan pilih kualitas daripada kuantitas. 

Tourism New Zealand, organisasi pariwisata negara itu, berbicara tentang mengukur keberhasilannya tidak hanya dari segi ekonomi, tetapi juga terhadap kesejahteraan negara, dengan mempertimbangkan alam, kesehatan manusia, dan identitas komunitas. 

Para pemimpin perjalanan di Hawaii sedang membahas pemosisian ulang negara bagian sebagai tujuan wisata budaya dengan harapan dapat melibatkan kembali penduduk pulau, karena banyak di antaranya sudah muak dengan overtourism

Perjalanan regeneratif berakar pada pengembangan dan desain regeneratif, yang mencakup bangunan yang memenuhi U.S. Green Building Council’s Leadership in Energy dan  Environmental Design atau LEED. 

Konsep tersebut dapat diterapkan di banyak bidang, termasuk pertanian regeneratif, yang bertujuan untuk memulihkan tanah dan menyerap karbon.

“Pariwisata hanyalah permulaan dari proses bagaimana kita dapat menerapkan gagasan ekonomi melingkar ke dalam sistem,” katanya.

Regenerasi sedang beraksi

Memiliki pengalaman perjalanan yang benar-benar regeneratif mungkin merupakan sebuah unicorn, tetapi beberapa operator menunjukkan jalannya.

Regenesis mengerjakan pengembangan Playa Viva, sebuah resor kecil di selatan Zihuatanejo, Meksiko, di Pantai Pasifik, yang dibuka pada tahun 2009. 

Penilaian perusahaan atas properti seluas lebih dari 200 acre meliputi pantai, muara yang dipenuhi burung, dan  reruntuhan kuno serta masalah perburuan penyu dan sekolah yang buruk di desa.  

Akhirnya, kota kecil Juluchuca menjadi pintu gerbang ke properti dengan sistem pertanian organik yang menguntungkan properti dan penduduk setempat dan biaya 2 persen ditambahkan ke tarif  menginap yang diinvestasikan untuk dana pengembangan masyarakat.

Pariwisata regeneratif menangani dampak secara holistik, dari sudut pandang destinasi dan masyarakat serta lingkungan.  Intrepid Travel, perusahaan tour kelompok kecil .

Hingga pandemi telah menjalankan lebih dari 1.000 rencana perjalanan secara global dan telah netral karbon sejak 2010. Tahun ini mereka memperpanjang janjinya untuk menutupi 125 persen emisi karbonnya.

 “Ada anggapan bahwa kesuksesan bisnis berarti Anda harus melakukan kerusakan pada dunia,” kata James Thornton, kepala eksekutif Intrepid Travel, yang menjadi B Corporation.

Yaitu sebuah entitas yang didedikasikan untuk memberi manfaat kepada pekerja, pelanggan, komunitas dan lingkungan serta pemegang saham, pada tahun 2018. “Ketika normalitas baru kembali, hal itu seharusnya tidak mengorbankan keberlanjutan, jelas Thornton

Memperbaiki overtourism

Tersirat dalam banyak diskusi tentang pariwisata regeneratif adalah ancaman kembali ke overtourism, yang menyebabkan jumlah pengunjung yang berlebihan di tempat-tempat seperti Dubrovnik yang pada akhirnya harus membatasi jumlah kapal pesiar yang diizinkan berlabuh setiap hari di musim ramai.

Selama ini, kesuksesan pariwisata ditentukan dengan bertambahnya jumlah – jumlah pengunjung termasuk jumlah penumpang kapal pesiar, ”kata Gregory Miller, direktur eksekutif Center for Responsible Travel, sebuah kelompok nirlaba yang mengadvokasi perjalanan berkelanjutan.  “Bahkan sebelum pandemi, ada kebutuhan untuk menyeimbangkan kembali.”

Kondisi saat ini, misalnya, mungkin membawa Hawaii beberapa tahun sebelum angka pariwisatanya kembali seperti semula pada tahun 2019, ketika 10 juta pelancong mengunjungi pulau-pulau tersebut.

Jumlahnya meningkat dari 6,5 juta orang pada satu dekade sebelumnya sehingga mengakibatkan antrian panjang untuk mendaki obyek Diamond Head saat matahari terbit.  

Dalam survei tahun 2018 oleh Hawaiian Tourism Authority, dua pertiga responden setuju menyatakan bahwa Pulau ini dikelola untuk turis dengan mengorbankan penduduk setempat.

“Kami mendapat kutukan dari mereka karena sangat terkenal sebagai tujuan berjemur matahari sehingga orang mengabaikan aspek lain seperti budaya Hawaii, masa lalu kerajaan, atraksi geologi dan alam yang menarik.” kata Frank Haas, mantan wakil presiden Hawaiian Tourism Authority dan konsultan pariwisata independen.

Menurutnya itu akan membutuhkan manajemen yang lebih terkoordinasi – saat ini, berbagai otoritas federal, negara bagian dan lokal yang mengatur taman dan fasilitas seperti bandara – serta wirausahawan kreatif untuk memperluas pariwisata budaya dengan menarik wisatawan yang tertarik pada makanan, seni, sejarah atau musik.

Siapa yang definisikan pariwisata ‘lebih baik’ ?

 Menentukan apa yang membuat suatu tempat lebih baik dan siapa yang membuat keputusan itu membutuhkan keterlibatan masyarakat lokal, menurut pendukung pariwisata regeneratif.

VisitFlanders, organisasi pariwisata yang mewakili wilayah Belgia Utara, menggunakan masukan dari penduduk lokal untuk memikirkan kembali misinya, mengubah posisinya dari perjalanan yang berkembang demi ekonomi menjadi “ekonomi yang bermakna”, sesuai dengan rencana induknya. 

Hal Itu termasuk, di antara inisiatif lainnya, menghubungkan pengunjung dengan penduduk setempat yang memiliki minat yang sama terhadap hal-hal seperti sejarah atau makanan, dan menjadikan cerita sebagai pusat situs seperti medan perang Perang Dunia I.

 “Kami telah berhasil mengubah pemikiran dari tujuan utama mereka  tentang meningkatkan jumlah, untuk menciptakan destinasi yang berkembang, komunitas yang berkembang dan membuat mereka mengatakan jenis pariwisata yang mereka inginkan,” kata Anna Pollock,.

Dia pendiri Conscious Travel, perusahaan jasa pendidikan dan konsultasi yang mengabdikan diri untuk memposisikan perjalanan sebagai kekuatan untuk kebaikan, yang bekerja dengan VisitFlanders.

Perjalanan berkelanjutan, apalagi perjalanan regeneratif, masih harus mencari solusi untuk emisi karbon yang dihasilkan oleh perjalanan udara. Emisi karbon yang semakin tinggi menyebabkan kenaikan suhu bumi dan cuaca yang tidak menentu dan berakibat pada berubahnya kondisi iklim untuk menanam beberapa tanaman pangan di banyak tempat di dunia.

Sampai perekonomian pulih, kemungkinan hanya sedikit perjalanan internasional, lebih banyak perjalanan lokal, atau perjalanan yang lebih lambat seperti menggunakan mobil, kereta api, sepeda atau berjalan kaki.  Momen refleksi ini, kata para pendukung, adalah tempat kelahiran kembali.

“Ini tentang bagaimana memulihkan hubungan kita dengan kehidupan. Hal Itu adalah proses yang berkelanjutan.  Anak-anak kita akan membutuhkan itu diajarkan kepada mereka.  Regenerasi adalah siklus kelahiran kembali yang berkelanjutan.  Begitulah cara kita mempertahankan planet ini.  Anda tidak dapat memiliki planet yang berkelanjutan tanpa regenerasi, “kata Reed, sang arsiteknya.  

 

 

Perusahaan India Siapkan Bus Wisata dari Delhi ke London, Lintasi 18 Negara

this formate

Dari Deli ke London Naik bus (foto:  CNN)

NEW DELHI, bisniswisata.co.id: Perusahaan ekspedisi Adventures Overland berharap idenya membawa turis menjelajah dunia dengan bus akan menarik minat banyak orang.

Perusahaan yang berbasis di Gurgaon – kota kuno di India yang juga salah satu kota satelit Delhi – berencana membuka paket perjalanan wisata dengan bus dari New Delhi di India ke London, ibu kota Inggris. Bus akan melintasi 18 negara dan diperkirakan akan ditempuh dalam  70 hari.

Ide ini terinspirasi dari bus Hippie Trail yang pernah menjelajah dunia pada 1950an dan 60an. Dilansir dari CNN Travel, bus mewah yang telah dimodifikasi itu akan mampu mengangkut 20 penumpang.

Kelak, perjalanan selam dua bulan lebih itu akan melintasi Myanmar, negara berjulukan tanah seribu pagoda itu, lalu tembok raksasa Cina, hingga menjelajahi Moskow dan Praha.

Perjalanan perdana akan dimulai pada Mei 2021. Total ada lebih dari 20,000 km jarak yang harus ditempuh dalam perjalanan ini. Untuk bisa mengikuti perjalanan ini, penumpang wajib mengantungi visa di setiap negara yang dilalui. Jika tidak ingin repot, perusahaan juga menyediakan layanan pengurusan visa.

Adventures Overland didirikan dua pengusaha sekaligus penjelajah darat yang antusias Tushar Agarwal dan Sanjay Madan. Agarwal  bahkan pernah menjajal sendri  rute New Delhi – London lewat darat pada 2010. “Itu benar-benar perjalanan yang fantastis,” katanya.

Sejak mendirikan Adventures Overland, Agarwal dan Madan telah menyelenggarakan tiga kali ekspedisi dari India ke London.

Kala itu mereka mengorganisir sejumlah pelancong yang berminat ikut dalam konvoi. Rute perjalanan telah diatur dengan baik sehingga peserta konvoi tinggal mengikuti perjalanan melintasi Islandia yang bersalju dan menjelajah danau beku di Rusia.

Mereka telah memiliki pengalaman yang luar biasa. Tetapi kali ini Agarwal dan Madan ingin mencoba sesuatu yang sedikit berbeda.

Jika Anda tertarik mengikuti perjalanan ini maka siapkan dana sekitar Rp 297 juta per orang. Agarwal menjamin ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Syarat lainnya adalah calon penumpang harus memiliki jiwa penjelajah mengingat perjalanan panjang ini akan ditempuh dalam waktu yang cukup lama.

“Anda harus memiliki hasrat untuk menjelajah dunia. Dengan demikian Anda boleh ikut perjalanan ini,” ungkap Tushar Agarwal, pendiri perusahaan tersebut.

Ia menambahkan perjalanan ini telah dirancang seaman mungkin. Para pemandu lokal di negara-negara yang mereka lewati akan dilibatkan dalam proyek ini sebagai bagian dari pengamanan logistik perjalanan.

 

 

Menikmati Gedung Sate, ‘Centerpoint’ Pariwisata Bandung Bergaya Moor 

this formate

Rombongan Forwaparekraf depan Gedung Sate, Bandung. ( Foto-foto: Arum Suci Sekarwangi)

BANDUNG, bisniswisata.co.id: Umurnya seratus tahun lebih dua hari ketika Sabtu siang kami tiba saat umurnya mencapai 100 tahun lebih dua hari. Soalnya Landmark kota Bandung ini tepat pada tanggal 27 Juli 2020 lalu genap berusia 100 tahun atau seabad silam.

Rombongan Press Tour & Seminar Series: Cirebon, Kuningan & Bandung’  27-30 Agustus 2020 yang diinisiasi oleh Forum Wartawan Pariwisata & Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) 2020 langsung berpose ria dengan banner warna birunya.

Ya betul bangunan ini bernama Gedung Sate. Gedung yang memiliki ciri khas berupa ornamen yang berbentuk seperti tusuk sate yang terdapat pada menara sentralnya ini sudah sejak zaman dulu menjadi salah satu ikon bersejarah dan bangunan khas kota Bandung, yang dikenal secara nasional. 

Saat memasuki gedung, sudah diterapkan adaptasi kebiasaan dengab protokol kesehatan ketat sebagai bagian upaya mewujudkan pariwisata yang aman dan nyaman di provinsi Jawa Barat.

Sejak tahun 1980 Gedung Sate lebih dikenal sebagai kantor Gubernur karena digunakan sebagai pusat aktivitas dari pemerintahan Provinsi Jawa Barat yang sebelumnya terletak di Gedung Kerta Mukti di Jalan Braga Bandung. Jadi disilah tempat “Kang Emil” julukan akrab Ridwan Kamil, Gubernur Jabar berkantor sehari-hari.

Puncak Gedung Sate dihiasi oleh ornamen menyerupai tusuk sate dengan enam buah bulatan sebagai lambang dari biaya pembangunan pada waktu itu yang mencapai 6 juta Gulden.

Keseluruhan bangunan bergaya Reinassance Italia, sementara menara bergaya Asia sehingga mirip seperti Pagoda yang ada di Thailand dan atap pura Bali. Sementara bagian Fasad atau tampak depan gedung juga memiliki sejarah tersendiri.

Gedung dibangun dengan menggunakan sumbu poros utara-selatan yang juga diterapkan pada Gedung Pakuan, menghadap gunung Malabar di Selatan, sementara Gedung Sate dibangun menghadap gunung Tangkuban Perahu di Utara.

Pada 8 Desember 2017 pemerintah Provinsi Jawa Barat meresmikan Museum Gedung Sate yang memudahkan masyarakat untuk mengetahui sejarah berdirinya Gedung Sate tersebut. 

Letak museum ada di basement gedung, yang bisa dicapai melalui gerbang belakang. Museum seluas 500 meter persegi ini dibuka mulai pukul 09.30 – 16.00 setiap hari, kecuali hari Senin. Pengunjung yang ingin memasuki museum harus bersabar menunggu antrean karena kapasitas ruangan yang terbatas, yaitu hanya 35 orang.

Di dalam museum yang berkonsep digital ini terdapat sejarah kota Bandung sejak 1890, mencakup sejarah kota Bandung pasca kemerdekaan, sejarah kota Bandung zaman pra kolonial – kolonial, sejarah Gedung Sate sejak dibangun hingga sekarang.

Ada juga bioskop mini berkapasitas 35 orang yang memutar film pendek mengenai sejarah Gedung Sate, dan ruangan Augmented Reality yang membuat para pengunjung seolah – olah kembali berada di zaman lampau atau naik balon udara.

Didampingi Azis Zulfikar, Kepala Bidang Industri Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, rombongan berkeliling dan sempat menikmati view kota Bandung dari ketinggian.

Kini dengan hanya perlu membayar Rp5.000 wisatawan sudah bisa mempelajari lebih dekat sejarah pembangunan Gedung Sate di Museum Gedung Sate secara komprehensif dan dengan pendekatan digital.

Gedung dibangun dengan menggunakan sumbu poros utara-selatan.

“Pembangunan Gedung Sate ini awalnya direncanakan terdiri dari 17 bangunan berbeda namun hanya 3 bangunan yang mampu direalisasikan oleh Hindia Belanda pada saat itu,” kara Aziz pada rombongan Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf).

Menurut rencana kompleks Gedung Sate ini akan terus dikembangkan sebagai destinasi wisata yang ramah bagi pejalan kaki dengan pembangunan pedesterian hingga mencapai Monumen Juang agar semakin menarik perhatian wisatawan berkunjung, karena Gedung Sate sangat tepat menjadi centrepoint pariwisata Kota Bandung, paparnya.

Lorong waktu

Berkunjung ke gedung-gedung bersejarah seperti Gedung Sate ini memang pengunjung seolah memasuki lorong waktu, makanya museum kerap jadi prioritas sebelum berkeliling.

Tak salah kalau saya berkhayal juga bisa memakai kostum noni-noni Belanda untuk berfoto ria Instagramable di gedung ini. Soalnya ceritanya kembali ke masa pemerintahan Hindia Belanda.

Peletakan batu pertama pada sejarah Gedung Sate di masa Hindia Belanda yang dikenal dengan nama Gouvernements Bedrijven (GB) dilakukan oleh Johanna Caterina Coops, putri sulung Walikota Bandung yang bernama B. Coops serta Petronella Roelofsen sebagai wakil Gubernur Jenderal JP Graaf Van Limburg Stirum pada 27 Juli 1920.

Perencanaan gedung sate dilakukan oleh tim yang terdiri dari Ir. J. Gerber, arsitek kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. DeRoo dan Ir. G. Hendriks dan dari pihak Gemeente Van Bandoeng yang diketuai oleh Kolonel. Purn. VL. Slors. 

Gedung Sate dibangun selama 4 tahun tepatnya pembangunan selesai pada bulan September 1924, berupa bangunan induk, Kantor Pusat PTT (Pos, Telepon dan Telegraf) dan Gedung Perpustakaan. 

Gagasan untuk membangun Gedung Sate berawal dari penilaian pihak Belanda bahwa Batavia tidak lagi menjadi ibukota yang pantas karena berbagai perkembangan yang terjadi di sana. 

Gedung Sate dibangun untuk menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda, karena para petinggi menganggap bahwa iklim di Bandung sama dengan iklim  Perancis Selatan ketika sedang musim panas. 

Pembangunannya direncanakan melibatkan 2000 pekerja dimana 150 orang diantaranya adalah pemahat atau ahli pengukir batu nisan dan kayu berkebangsaan China yang berasal dari Kanton. Ada pula tukang batu, kuli dan peladen yang berasal dari pembangunan Gedong Sirap di Kampus ITB dan Gedong Papak di Balaikota Bandung.

Dalam proses pembangunannya, maestro arsitek Belanda Dr. Hendrik Petrus Berlage turut memberi saran agar Gerber memasukkan unsur tradisional Indonesia.

Tak heran hingga kini bagi penggemar arsitektur sering menjadi bahan kajian  karena memiliki gaya arsitektur unik yang berupa perpaduan arsitektur Indo Eropa. Jendela yang digunakan untuk gedung sate bertema Moor, yang berasal dari Spanyol. 

Berhubung jadwal kunjungan yang padat dan masih ada acara diskusi malam harinya di pelataran halaman Gedung Sate maka kegiatan mengeksplor terhenti karena baru mau check-in hotel. Dalam hati saya berucap ‘sampai berjumpa lagi’ atau tot ziens dalam bahasa Belanda.

 

Hermansyah: Jabar Bangun Kepercayaan Publik Hadapi Gelombang Kunjungan Wisatawan

this formate

Direktur Komunikasi Pemasaran Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif, Martini Mohamad Paham ( paling kanan) bersama nara sumber lainnya. ( Foto: Arum Suci Sekarwangi)

BANDUNG, bisniswisata.co.id : Provinsi Jawa Barat sudah harus mulai bersiap menghadapi gelombang wisatawan domestik setelah PSBB di beberapa kota mulai mengalami pelonggaran. Untuk itu membangun kepercatasn publik ( public trust ) sangat penting, kata Hermansyah, Kepala Biro Humas & Keprotokolan Provinsi Jawa Barat

” Hal yang menjadi prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Barat saat ini adalah membangun public trust terkait apa saja upaya yang telah dilakukan pemprov Jabar. Masyarakat perlu diperlihatkan,” tambahnya.

Berbicara pada seminar bertema ‘Pariwisata di Era Adaptasi Kebiasaan Baru’ di pelataran Gedung Sate, semalam, Hermansyah mengatakan pencapaian yang dilakukan misalnya kini Jawa Barat telah mampu membangun banyak fasilitas kesehatan, memperbanyak test Covid-19, produksi APD & produksi mesin ventilator.

Event ‘Press Tour & Seminar Series: Cirebon, Kuningan & Bandung’ yang diinisiasi oleh Forum Wartawan Pariwisata & Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) 2020 telah sampai pada malam puncaknya, semalam.

Hal itu diungkapkan Hermansyah terkait upaya yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menghadapi pandemi enam bulan terakhir ini. Gubernur Jabar Ridwan Kamil bahkan tidak gentar coba vaksin COVID.

Gubernur Jabar itu yang semula akan hadir dan menyambut kedatangan Forwaparekraf terpaksa batal karena uji vaksin yang dilakukan Jumat mengharuskannya lebih banyak istirahat.

“Jawa Barat telah mampu membangun banyak fasilitas kesehatan, memperbanyak test Covid-19, produksi APD & produksi mesin ventilator.” kata Hermansyah.

Selain Hermansyah, tampak hadir nara sumber lainnya yaitu Kepala Dinas Pariwisata & Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Dedi Taufik,  Direktur Wisata Alam, Budaya & Buatan Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif, Alexander Reyaan dan Direktur Komunikasi Pemasaran Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif, Martini Mohamad Paham. 

Keempat narasumber ini berdiskusi seru dengan dimoderatori oleh Harry Nugraha selaku Sekjen Dewan Industri Event Indonesia & founder Indonesia Professional Organizer Society.

“Setelah berbulan-bulan pandemi Covid-19, kini pariwisata Jawa Barat secara bertahap mulai dibangkitkan lagi, tentu dengan penerapan protokol kesehatan, kata Kadisparbud, Dedi Taufik.

Dia mengakui Jawa Barat sudah harus mulai bersiap menghadapi gelombang wisatawan domestik yang hadir ke Jawa Barat saat PSBB di beberapa kota mulai mengalami pelonggaran. Ditandai libur Idul Adha dan long week-end lalu.

“Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sudah mulai melakukan berbagai evaluasi terhadap destinasi wisata yang telah dibuka untuk wisatawan. Harus dipastikan setiap destinasi wisata tak hanya menerapkan protokol kesehatan saja, ” ungkap Dedi.

Akan tetapi juga wajib memiliki management Gugus Covid-19 yang dapat menjadi pengawas pelaksanaan protokol kesehatan yang tepat di destinasi wisata Jawa Barat, tambahnya.

Positioning Jawa Barat 

Sementara Martini Mohamad Paham selaku Direktur Komunikasi Pemasaran Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif pun turut menyampaikan pandangannya terkait fakta bahwa Jawa Barat yang seolah mendapatkan berkah dari pandemi Covid-19.

“Sekalipun pandemi Covid-19 ini telah sangat memukul berbagai sektor khususnya pariwisata, akan tetapi bisa saya bilang bahwa Jawa Barat ini positioning-nya sudah kuat sehingga tidak terlalu terdampak pandemi,” ungkapnya.

Dia yakin pariwisata Jawa Barat pasti mendapatkan berkah dengan posisi provinsi besar di dekatnya ( DKI Jakarta) yang masih menerapkan PSBB.

Sedangkan Alexander Reyaan, Direktur Wisata Alam, Budaya & Buatan Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif memberikan gambaran program yang sedang disiapkan Kemenparekraf untuk merangsang bangkitnya pariwisata Indonesia.

“Tepat pada bulan September mendatang, Kemenparekraf telah menyiapkan Program Pemulihan Perekonomian Nasional dan siap menggandeng sebanyak-banyaknya pihak untuk melakukan Familiarization Trip ke berbagai destinasi pariwisata pilihan,” jelas Alexander.

 

Masker dan Alam, Pameran Lintas Seni Bangkitkan Pariwisata Yogya

this formate

Gaum casual warna hitam karya desainer Lia Nystafa,  lambang ketidak bebasan saat  pandemic Covid-19. ( Foto: Satrio Purnomo).

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Bertajuk Masker dan Alam, pameran lintas karya dari karya para pelaku seni di Yogyakarta menjadi cara dan terobosan terbaik bangkitkan pariwisata, kata Singgih Raharjo SH MEd, Kepala Dinas Pariwisata DIY 

“Pameran bertema Masker dan Alam ini adalah cara dan terobosan yang baik untuk DIY.Kita semua wajib bangkit untuk mengatasi semua kendala di tengah pandemi global saat ini,” kata Singggih.

Didukung oleh Gaia Cosmos Hotel, beberapa kreator membuat kegiatan Pameran “Masker dan Alam” yang dilihat dari sudut seni lukis, patung, interior, Foto, Fahion maupun tulisan puisi.

Menurut dia, pandemi global COVID-19 bisa saja membuat seseorang tertegun, termenung atas musibah yang menghantam pariwisata Yogyakarta ini. Namun semua itu jangan sampai larut.

“Bahwa pameran ini adalah hasil dari meditasi dari para penggiat seni selama pandemi tentunya mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata Yogyakarta karena menyangkut ekonomi kreatif,” ujarnya.

Singgih berharap semua seniman dapat melalukan yang terbaik dalam karya seni untuk meningkatkan dan mengangkat pariwisata Yogyakarta. 

Sejak penerapan tatanan hidup baru atau  New Normal dimulai, beragam aktivitas dan kreativitas pun sudah mulai bergerak.

Singgih mengapresiasi cara untuk mengaitkan keberagaman dengan satu pemikiran yang sama dalam benang merah, ke prihatin an dan kepedulian dan menjalin hubungan harmonis dalam seni dan motivasi diri ini.

Kadispar DIY, Singgih Raharjo melihat pameran karya fashion dan interior.

“Para kreator seni di Jogja mencoba menawarkan sebuah Ide dari kondisi yang sederhana dari sebuah masker yang wajib dipakai,” tegas Singgih Raharjo SH.

Bertempat di Gaia Cosmos Hotel Sabtu (29/8/2020) para kreator seni Yogyakarta menawarkan ide dari kondisi yang sederhana, dari selembar masker dan sikap tentang alam semesta, termasuk kesedihan dan kebersamaan menghadapi pandemi Covid-19.

Terlibatnya para kreator seniman ternama membuat pameran yang dimulai dari tanggal 29 Agustus dan akan berakhir di 4 September 2020 ini dapat menghidupkan pelaku seni dan pariwisata Yogyakarta yang terdampak pandemi.

Seniman yang terlibat dalam pameran ini, yaitu Karya Fashion dari Lia Mustafa, Karya Patung dari Andre Suryaman dan Timbul Raharjo, Karya Lukis dari Isro Media Legal, Karya Interior Dari Deddy Effendi, Karya Foto dari Fausan Armando dan Pradita Dian serta Karya Puisi dari Reza Rusandi dan Vika Aditya.Andre Suryaman

Lia Mustafa tampilkan 14 outfit baju-baju casual dengan warna cream, hijau dan coklat. Ketidak bebasan saat dan pandemic Covid-19 digambarkan dengan warna hitam.

Oufit itu dipadukan dengan masker-masker dari simbol pohon atau tumbuhan akar daun dan ranting serta juga CroChet, masker rajutan.

Acara fashion juga menampilkan  paduan suara yang indah sehingga kegiatan ini saling berbagi dalam memberikan inspirasi, kompak, gesit dan tepat.

Closing Ceremony akan dilaksanakan tanggal 4 September 2020 ditutup dengan perayaan Fashion Show by Lin Grigo, Ang Hermana dan Fariz

 

Tren Baru Wisatawan Sekaligus Sukarelawan Untuk Dukung Pengembangan Pariwisata Indonesia

this formate

Rizky Handayani ( tengah)  bersama Cakra Khan dan Budi Doremi. ( Foto Kemenparekraf) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menilai voluntourism sebagai salah satu tren wisata baru yang potensial mendukung pengembangan destinasi wisata di Indonesia.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events), Rizki Handayani dalam seminar daring bertajuk New Normal Stage Jumat (28/8/2020), mengatakan ke depan tren pariwisata itu bukan sekadar jalan-jalan santai, tetapi pariwisata yang memberikan kontribusi atau manfaat kepada destinasi wisata yang dikunjungi oleh wisatawan.

“Jadi, sekarang trennya adalah anak-anak muda datang sebagai sukarelawan ( volunteer)  dalam rangka menciptakan rasa kepedulian terhadap alam dan budaya destinasi wisata Indonesia,” kata Rizky.

Jadi Voluntourism mengandung makna wisatawan yang bertanggungjawab, dengan melakukan kegiatan pariwisata sambil menjadi sukarelawan. Hal ini adalah salah satu bentuk kegiatan dalam mendukung pengembangan destinasi wisata, jelasnya.

Dia mencontohkan, di Sumba ada voluntourism yang membuat gerakan shoes for Sumba yang bertujuan untuk memberikan sepatu bagi masyarakat lokal Sumba.

Bentuk lain dari kegiatan voluntourism ialah dengan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak-anak di suatu destinasi, misalnya dengan mengajari mereka gerakan memungut sampah.

“Hal tersebut memperlihatkan bahwa ketika kita travelling atau jalan-jalan, kita juga bisa sambil menjaga lingkungan yang ada di sekitar destinasi wisata tersebut,” ujar Rizki.

Voluntourism juga dianggap sangat lekat dengan penerapan protokol kesehatan berbasis cleanliness, health, safety, and environmental sustainability (CHSE). Sehingga, dengan kegiatan itu dapat meningkatkan kembali kepercayaan wisatawan yang ingin berkunjung ke sebuah destinasi wisata.

“Selain itu, untuk mengembalikan kepercayaan publik dan menandakan bahwa Indonesia sangat peduli dengan kebersihan, kesehatan, dan keselamatan wisatawan, ”

Pemerintah melalui Kemenparekraf telah meluncurkan I DO CARE atau Indonesia Care yang merupakan sebuah kampanye yang di dalamnya terdapat panduan-panduan protokol kesehatan di berbagai sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Agar sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dapat kembali bangkit, kata Rizki.

Acara daring ini juga dihadiri dan dimeriahkan oleh dua musisi ternama Indonesia, yaitu Cakra Khan dan Budi Doremi. Musisi, Budi Doremi, mengatakan ketika travelling salah satu kegiatan yang ia suka adalah mengenal secara dekat dengan budaya masyarakat lokal.

“Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak suku dan bahasa, memunculkan ragam budaya yang berhasil menjadi daya tarik wisatawan. Sehingga, saya melihat bahwa wisata tidak hanya sekadar melihat landscape pemandangan alamnya saja,” kata Budi.

Menuryt dia, wisata itu adalah belajar pada manusianya. Yang dibangun dan yang dijaga tidak hanya alamnya, tetapi artefak yang paling berharga adalah manusia Indonesianya, tanbah Budi.