Pemasaran & PR Perlu Menyatu Untuk Raih Kepercayaan Wisatawan di Era New Normal.

this formate

Keindahan alam Indonesia  bisa menarik kunjungan  jika wisatawan sebagai konsumen mempunyai trust and confidence. ( Foto: Kemenparekraf).

Oleh : Wuryastuti Sunario

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Enam bulan lalu, di bulan Maret 2020, Badan Kesehatan Dunia. WHO, mengumumkan bahwa dunia telah terinfeksi pandemi virus covid-19, dan sekaligus mendesak agar semua negara segera menutup perbatasan dengan lockdown agar pandemi tidak semakin menjalar dan meluas. 

Masyarakat di seluruh duniapun dilarang beraktivitas di luar rumah,  bekerja dan belajar dari rumah.  Maka dalam sekejap saja pergerakan manusia dan kegiatan ekonomi jadi mati suri. Dari mobil, pesawat hingga bermacam kendaraan dan keramaian duniapun berhenti.

Sejak saat itu sampai sekarang, lebih 213 negara dunia tepapar virus COVID-19, lebih 24juta pasien terinfeksi dan lebih 840 ribu orang lebih imeninggal dunia. Sedangkan, sampai saat ini masih belum juga tersedia vaksin yang terbukti mampu meredam penularan pandemi global ini.  

Pada bulan Juli, 4 bulan sesudah lockdown, sebagian besar negara menyatakan bahwa sudah tidak mungkin lagi negara ditutup terus, karena ekonomi perlu bergerak kembali demi pendapatan keluarga sementara sejumlah negara telah terpuruk kedalaman resesi.

Maka tidak ada jalan lain lagi yang terbuka terkecuali bangsa-bangsa dan negara  dengan  sangat hati-hati mulai memanaskan kembali sektor ekonomi ditengah pandemi yang masih merajalela. 

Masa transisi ini dikenal dengan istilah  “the New Normal”, yaitu dimana dunia mulai membuka ruangan bagi kegiatan manusia, namun dengan syarat  tetap mentaati peraturan protokol kesehatan, yaitu: pakai masker, jaga jarak, dan sering cuci tangan supaya tidak tertular dan menularkan penyakit mengerikan ini pada banyak orang. 

Akan tetapi ternyata bahwa untuk mengembalikan dan menggerakkan kembali roda ekonomi tidaklah semudah yang tadinya dibayangkan. 

Meski pengusaha siap segera berproduksi, akan tetapi terbukti bahwa adalah justru sebagian besar masyarakat  pembeli yang takut keluar rumah, karena khawatir akan tertular. 

Sedangkan  untuk berwisata, merekapun masih harus menjalani rapid test atau swab test, bahkan harus menjalani lagi isolasi atau karantina, hal mana selain menggerogoti waktu libur, juga memakan banyak biaya.  

Oleh para ahli Komunikasi dan Pemasaran, situasi demikian dinyatakan bahwa pasar pembeli atau konsumen belum mempunyai kepercayaan – Trust and Confidence 

Mereka masih takut akan apa yang mungkin bisa dialaminya karena belum ada  kepastian keamanan. Dan karena  konsumen juga belum memiliki kepercayaan, maka ujungnya-ujungnya  mereka juga tidak mungkin membuat transaksi pembelian ataupun pergi berwisata, sehingga ekonomipun susah berkembang.  

Jadi,  bagaimanakah produsen bisa memberi kepercayaan dan keyakinan pada konsumen dalam situasi dan kondisi yang masih serba berobah begini?   Mau tidak mau masalah ini menjadi tugas utama bagi para penanggung jawab bidang Pemasaran  (Marketing) dan Public Relations/Hubungan Masyarakat

Termasuk pelaku dan pimpinan Kementerian Parekraf yang sudah lama merencanakan pembangunan Pariwisata  yang berkelanjutan.    

Pemasaran dan PR harus merajut

David Meerman Scott, penulis terkenal mengenai Pemasaran dan Komunikasi Publik (PR) telah menerbitkan buku panduan baru dengan judul: The New Rules of Marketing & PR. 

Dalam buku ini Meerman Scott  merombak total semua peraturan Marketing dan PR yang dianggap kuno, karena menurutnya, dunia digital yang dewasa ini mendominasi dunia telah merobah seluruh sistem komunikasi antara produsen dan konsumen.  

Ini sebab teknologi internet telah memberi kemampuan kepada setiap konsumen untuk mendapatkan informasi sendiri yang bisa diterima dari segala penjuru dunia secara langsung dan cepat. 

Jadi apabila usaha Pemasaran dan PR hendak berhasil, maka kedua disiplin (bagian) yang merupakan fungsi setiap perusahaan maupun instansi/organisasi,  tidak mungkin lagi bekerja sendiri-sendiri secara terpisah seperti sediakala.

Keduanya sekarang harus menyatu apabila perusahaan atau organisasi bersangkutan mengharap menggapai Kepercayaan (Trust and confidence) dari konsumen. 

 Internet dan digitalisasi yang dimulai pada akhir abad ke-20 telah menghasilkan revolusi komunikasi kedua setelah yang pertama waktu ditemukannya mesin cetak di abad ke-15, kata Scott. Hal ini terjadi karena saat ini dunia Internetlah yang mendominasi secara global.

Dimana kita semua, tanpa terkecuali, mendapatkan pengetahuan dan informasi terkini mengenai hal apa saja yang ingin dicari. Soalnya peraturan-peraturan berkomunikasi yang tadinya berlaku di ilmu Pemasaran dan Hubungan Masyarakat jadi kedaluwarsa akibat cara lama sudah tidak akan mampu lagi mencapai sasaran yang diinginkan. 

Dulu peran Pemasaran (Marketing) terfokus  kepada Branding dan Periklanan saja yang diarahkan kepada publik lewat komunikasi satu arah, yakni pesan dari pihak produsen ke konsumen. 

Mengapa sampai saat ini kedudukan Pemasaran masih terpisah dari PR ? adalah karena keduanya dianggap disiplin yang  berbeda, yang mengharuskan adanya strategi dan tujuan yang berbeda pula.

Lagipula fungsi PR dianggap lebih tertuju kepada hubungan dengan media massa saja, dengan tugas terutama untuk memberitakan mengenai prestasi apa yang dicapai oleh pimpinan perusahaan atau instansi dan organisasi bersangkutan, dan yang biasanya diberi dalam bentuk press release saja, kata Meerman Scott.

Maka dengan berkembangnya teknologi digital dan semakin banyaknya  masyarakat dunia menggunakan Internet maka fungsi Pemasaran dan Public Relations telah berobah.  Mengapa demikian?

Lewat komunikasi Internet, konsumen atau pasar (market) mengharapkan peran lebih dari fungsi Pemasaran, yaitu lebih dari hanya membuat iklan.  Demikian juga orang mengharapkan jauh lebih dari fungsi PR dari sekedar menerbitkan berita press release belaka.  

Oleh karena teknologi Internet inilah, masyarakat dewasa ini mengharapkan  bahwa berita dan informasi,  selain mampu membawa suara organisasi induknya , juga mampu berkomunikasi langsung dengan konsumen lewat komunikasi dua arah, yang transparan, tulus dan akurat.Tidak saja disajikan lewat pihak ketiga yaitu wartawan media massa. 

Publik sekarang ternyata juga jenuh dengan iklan-iklan yang mengganggu dan memotong program, dan kurang peduli pada harapan konsumen. Maka, lewat teknologi digital, masyarakat  konsumen (dan wisatawan) dewasa ini mendesak agar mereka turut diikutsertakan.  

Mereka minta berpartisipasi dan turut menentukan dalam pembahasan produk dan service.  Dan, karena dunia digital ini tersambung setiap saat, mereka juga mengharapkan bahwa komunikasi tersebut terbuka 24 jam sehari. 

Jadi yang diinginkan konsumen zaman Now adalah informasi dan data content yang mampu disajikan pada saat yang tepat dan up-to-date,  pada saat diperlukan pemirsa,  yaitu dengan cara pemberitaan secara rasional maupun menarik  hati, dengan mengemukakan kepedulian  yang tulus terhadap kepentingan konsumen dan harapan pasar.   

Maka sejalan dengan revolusi komunikasi ini dan terutama dalam menghadapi krisis pandemi Covid-19,  bidang Pemasaran Pariwisata baik di perusahaan, destinasi, industri pariwisata dan pada pemegang pimpinan Kepariwisataan,  yakni Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, diharapkan tidak saja mampu berkomunikasi lewat media massa dan iklan.

Tetapi juga dengan masyarakat dan dunia pariwisata sekarang mengharapkan bahwa perusahaan dan instansi berwenang dapat  berkomunikasi langsung dengan wisatawan secara interaktif, misalnya lewat suatu Call Center, atau website dan media sosial.

 Maka barulah Pemasaran bersama PR Pariwisata yang menyatu dan bekerja sinkron dan bersambung demikian akan dianggap memenuhi harapan mereka, yaitu menarik hati dan memberi kepercayaan  kepada wisatawan. Merekapun akan mau , berani  dan dengan senang hati kembali berwisata di Indonesia

Menarik Kepercayaan Wisatawan 

Kita fahami bahwa masalah utama yang dihadapi Indonesia dalam proses Recovery Kepariwisataan di era New Normal ini adalah kurangnya  trust and confidence dari pihak pasar dan wisatawan.

Calon wisatawan masih khawatir apakah mereka akan aman dari penularan COVID-19 di Indonesia, dan siapkah setiap mata rantai perjalanan pariwisata ke Destinasi dambaan mereka sampai mereka kembali pulang kerumahnya? 

Maka pertanyaan selanjutnya menjadi: Bagaimanakah kita bisa mengembalikan dan membangun kembali  Kepercayaan (trust and confidence) wisatawan tersebut? 

Harus diingat bahwa Kepariwisataan merupakan kegiatan menyangkut pergerakan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Dan dari satu negara ke negara lain. 

Pariwisata juga merupakan  industri yang  tidak terlepas dari pergaulan manusia dengan manusia secara rasional maupun secaraf emosional.  Melalui Pariwisata terjadi kontak budaya, pertemuan adat dan kebiasaan perorangan dan antar-bangsa. 

Maka faktor lepercayaan, apalagi dalam komunikasi mengenai COVID-19 yang melanda seluruh dunia ini,  sangatlah diperlukan Komunikasi dua arah yang terus menerus dan terkini.

Menurut Wikipedia terdapat 2 macam Trust, yaitu yang micro dan yang macro.  Yang micro adalah kepercayaan seorang terhadap orang lain, yang di dunia Pariwisata terjadi antara wisatawan dengan tour operator dan guide

Sedangkan kepercayaan macro adalah kepercayaan manusia pada instansi, penguasa, pemimpin dan anggota kelompok, atau keluarga, kawan dan komunitas.  Jelaslah bahwa dalam menghadapi pandemi COVID- 19 ini diperlukan kedua-duanya.

Selain si wisatawan bertumpu pada sifat dan karakter pribadi orang yang harus dipercayai selama perjalanannya, wisatawan juga akan menilai kemampuan orang atau instansi atau bahkan negara bersangkutan.

Apakah yang dijanjikan memang bisa diandalkan, ataukah hanya merupakan janji kosong belaka?   Akan tetapi dalam keadaan dinamis seperti yang dialami selama krisis pandemi ini.

Yaitu dimana peraturan masih sering perlu berobah mendadak serta berbeda satu daerah dengan daerah lain, maka mau tidak mau wisatawan juga harus percaya kepada otoritas, termasuk  pada pernyataan para ahli maupun penguasa.  

Maka, selain mendengarkan tour operator dan keluarga atau kawan yang dipercayainya, wisatawan juga akan browsing perihal situasi kesehatan di situs WHO dan aplikasi dari instansi resmi Kesehatan di destinasi bersangkutan. 

Kalau ternyata informasi keduanya tidak sinkron atau bahkan bentrokan, maka confidence-nya juga akan hilang, yang berujung  pada si wisatawan batal berwisata ke destinasi yang diharapkan.     

Disini peran Promosi saja ternyata tidak akan mempan.  Karena yang diharapkan oleh wisatawan adalah bahwa otoritas, dalam hal ini selain Otorita Kesehatan , juga Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatiflah yang menyuarakan melalui Crisis Communication Center

Harus mampu memberi  kepastian data dan informasi secara transparan dan terpercaya mengenai apa yang bisa dijanjikan dan apa yang tidak mungkin dipastikan, ditinjau dari segi kepentingan Wisatawan.   

Pemerintah lewat Kementerian Parekraf dan Pemerintah Daerah maupun industri pariwisata memang sudah dan sedang giat mensosialisasikan Strategi, Rencana dan pelaksanaan serta membagikan buku panduan protokol  mengenai apa saja yang perlu ditaati di setiap destinasi  dalam New Normal, yang disingkat CHSE, yakni menjaga Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability. 

Maskapai Penerbangan dibawah IATA juga sudah menerbitkan panduan rinci mengenai penanganan penumpang sebelum, selama penerbangan, dan waktu pendaratan pesawat.   

Akan tetapi terbukti bahwa,  sebagaimanapun giatnya Pemasaran  dilakukan di TV dan medsos serta media masa, tetapi konsumen toh masih belum tertarik berwisata karena mereka masih saja merasa was-was, takut dan kurang percaya akan janji-janji tersebut.      

Maka mau tidak mau, apabila Indonesia berharap untuk meraih wisatawan domestik maupun internasional,  tidak ada jalan lain kecuali menarik hati dan kepercayaan segmen-segmen pasar yang menjadi sasaran pemasaran, melalui peran Public Relations dengan berkomunikasi langsung dengan Konsumen secara terbuka dan interaktif, untuk memberi penjelasan dan menenangkan kekhawatiran calon pembeli.  

Untuk itu dianjurkan agar Kemenparkraf bisa membuka semacam Call Center atau Website interaktif (dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing) , lebih banyak berkomunikasi di media sosial, dan  menangani pertanyaan dan keluhan konsumen secara langsung . 

Dengan demikian bidang Pemasaran bersama Hubungan Publik akan  dirasakan oleh publik memang menyatu dengan satu suara memenuhi harapan publik pariwisata.

Mampu memberi ketenangan hati dan kepastian kepada wisatawan domestik maupun luar negeri.  Sebab apa yang dinyatakan bersama memang bisa dipercaya. Semoga.

Penulis adalah : Pengamat pariwisata dan mantan CEO Badan Promosi Pariwisata Indonesia ( BPPI)

 

 

Perempuan asal California ini Hidup dengan Seribu Kucing

this formate

Rumah penampungan kucing tanpa kandang (foto: twitter)

CALIFORNIA, bisniswisata.co.id:  Lynea Lattazio tinggal di Fresno, California, Amerika Serikat. Dia bukan perempuan biasa. Obsesinya terhadap kucing boleh dianggap tidak normal. Jika diminta memilih, dia mengaku lebih baik mempunyai 800 lagi kucing ketimbang seorang laki-laki pengganti suaminya.

“Saya tidak gila, tetapi yang saya lakukan memang tidak normal,” katanya.

Di lahan seluas 5 hektar ini, Lynea merawat sekitar 800 kucing dewasa dan 300 anak kucing. Rumah berhalaman luas yang kini digunakan sebagai rumah kucing itu merupakan bagian dari harta gono-gini saat bercerai dengan suaminya yang jutawan. 

Dia menamai rumahnya Cat House on The Kings, yang disebutnya sebagai tempat penampungan kucing tanpa kandang. Untuk merawat kucing-kucingnya, dia dibantu 45 staf.

Lynea mulai memelihara kucing sejak 1981. Kini, di Cat House ada lebih dari 1.000 kucing. Dia menamai semua kucingnya, meskipun dia tidak hafal nama mereka satu per satu.

“Waktu jumlah mereka masih 350, saya masih hafal. Sekarang tidak lagi,” katanya.

Meski biaya perawatan kucing-kucing tersebut mendapat bantuan dari masyarakat, tak jarang dia harus mengupayakan sendiri pembiayaan utama kucing-kucingnya.

“Saya harus menjual cincin kawin berlian dan mobil Mercedez untuk mencukupi kebutuhan mereka yang terus melambung,” ujarnya.

Rin Hindryati

 

 

Jakarta Jadi Tuan Rumah Hari Pers Nasional 2021 

this formate

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bersama Ketua Umum PWI Pusat Atal S. Depari dan pengurus PWI Pusat, serta  PWI DKI Jakarta. (Foto: PWI Pusat)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bersedia menjadi tuan rumah Hari Pers Nasional 2021. Bahkan dia menyediakan tempat pelaksanaan HPN di Ancol.
Kepastian HPN 2021 di Jakarta itu terjawab setelah pertemuan Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI Pusat) di bawah pimpinan Ketua Umum PWI Pusat Atal Sembiring Depari, yang juga Penanggung Jawab HPN dan Sekretaris Jenderal PWI Pusat Mirza Zuhaldi, serta Panitia usai bertemu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hari ini.
“Pak Gubernur Anies Baswedan, kepala daerah yang sangat peduli terhadap perkembangan dunia pers. Tanpa pikir panjang, langsung menyetujui Jakarta menjadi tuan rumah HPN 2021. Bahkan Gubernur langsung mengusulkan Ancol sebagai lokasi HPN 2021,”  ucap Ketua Umum PWI Pusat Atal S. Depari usai rapat bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balaikota, Rabu(2/9).
Anies sendiri menyambut baik atas kepercayaan PWI kepada Pemerintah DKI Jakarta menjadi tuan rumah. Meski demikian gelaran HPN nanti akan disesuaikan dengan kondisi Pandemi Covid-19, dan akan menyesuaikan dengan protokol kesehatan.
“Semoga saat pelaksanaan HPN 9 Februari nanti Pandemi sudah berlalu, sehingga HPN ini juga menjadi salah satu acara yang luar biasa. Akibat pandemi, Jakarta saat ini sangat minim kegiatan yang besar,” tambah Gubernur.
Pemprov akan mendukung penuh acara ini. “Saya mengusulkan Ancol sebagai lokasi Puncak Acara HPN 2021. Selain fasilitasnya sangat memadai, Ancol juga sangat memenuhi syarat dengan acara besar sesuai standar Protokol kesehatan. Hal ini juga menunjukan Kota Jakarta identik dengan Kota Istimewa di pesisir Pantai,” ungkapnya.
Sementara itu Auri Jaya yang kembali di percayakan sebagai Ketua Panitia HPN 2021 Menyambut baik bersedianya DKI sebagai tuan rumah HPN 2021. Bahkan dua skenario gelaran HPN yang disiapkan nantinya seperti Pertemuan secara langsung dan secara Virtual akan di-detailkan, sehingga gelaran tersebut dapat berjalan semarak dan berbobot seperti Hari Pers sebelumnya.
“Secepatnya kami akan melakukan rapat Panitia. Selanjutnya berkoordinasi dengan Tim Pemprov DKI untuk mempersiapkan acara ini secara baik,” kata Auri yang juga sukses sebagai Ketua Panitia HPN 9 Februari 2020 lalu.
Selain Ketua Umum Atal S. Depari dan Auri Jaya Ketua Panitia HPN pertemuan yang berlangsung di Balai Agung Balai Kota ini, dihadiri Sekjen PWI Pusat Mirza Zuhaldi.
Hadir pula Wasekjen Marthen Selamet Susanto dan Prof. Suprapto, Dar Edy Yoga Wakil Bendahara Umum PWI Pusat, dan Humas PWI Pusat Mercys Charles Loho. Juga Ketua PWI Jaya Sayid Iskandarsyah, Sekertaris Kesit Budi Handoyo, dan Wakil Ketua Tubagus Adi.

 

IATA Serukan Penghapusan Kebijakan “Use-it-or-lose-it”

this formate

Kebijakan ‘use-it-or-lose-it’ (pakai atau hapus) beratkan maskapai penerbangan (foto: Asian Aviation)

JENEWA, bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional ( IATA) mendesak Uni Eropa untuk membatalkan kebijakan ‘use-it-or-lose-it’ (pakai atau hapus) karena dianggap memberatkan maskapai penerbangan.

Sejak kebijakan ini diberlakukan, banyak maskapai terpaksa terbang dengan minim penumpang demi mempertahankan rute. Karena menurut aturan jika rute penerbangan ke tujuan Eropa tak diterbangi, maka maskapai pemilik rute bisa kehilangan izinnya.

Di bawah aturan Uni Eropa itu, maskapai penerbangan yang beroperasi dari luar Eropa harus terus menjalankan 80 persen dari slot yang dialokasikan. Atau berisiko kehilangan rute tersebut, dan dilalihkan kepada para pesaing.

Masalahnya banyak maskapai tak sanggup menerbangkan pesawat dalam keadaan kosong. Apalagi permintaan pasar saat ini tengah menurun. Kebijakan ini telah menyebabkan beberapa operator menerbangkan pesawat kosong menuju dan dari negara-negara Eropa dengan biaya besar.

 “Dalam situasi seperti saat ini dimana ketidakpastian sangat tinggi, maskapai penerbangan memerlukan aturan yang fleksibel. Sebaiknya sanksi tidak diberlakukan hanya karena tidak mampu memanfaatkan slot yang telah dialokasikan,” demikian seperti ditulis dalam rilis yang diterima bisniswisata.co.id, Rabu (2/09/2020).

Seruan ini merupakan satu dari dua permintaan IATA kepada pemerintah terkait langkah pemulihan industri penerbangan. Organisasi yang berbasis di Jenewa, Swiss ini juga mendesak negara-negara untuk fokus pada pemberian bantuan keuangan.

Banyak maskapai saat ini menghadapi kesulitan finansial. Industri ini  merugi hingga 84,3 miliar dollar AS; pendapatan terpangkas 50% sementara biaya untuk pesawat dan tenaga kerja tetap tinggi. 

Bantuan keuangan dari pemerintah menjadi sangat berarti. Tetapi masalahnya, itu pun akan segera habis. Tambahan bantuan diperlukan untuk menyangga keadaan kritis dan seharusnya itu tidak menjadi beban hutang baru yang sudah membengkak. 

Konektivitas Global

IATA juga menyerukan perlunya kerja sama internasional untuk membangun konektivitas global lewat  dibukanya kembali perbatasan.

Seruan ini merupakan cermin rasa frustrasi industri penerbangan terhadap hilangnya permintaan yang antara lain disebabkan karena sejumlah kebijakan, termasuk: penutupan perbatasan, pembatasan perjalanan, dan pemberlakukan aturan karantina.

 Terbukti selama puncak musim panas permintaan perjalanan hanya naik sedikit dibandingkan dengan periode Mei-Juni. Data menunjukkan empat dari lima pelancong memilih untuk tinggal di rumah. Angka yang mengecewakan.

“Melindungi warga negara harus menjadi prioritas utama setiap pemerintah. Tetapi banyak negara menganggap bahwa satu-satunya jalan keluar untuk memerangi pandemi global adalah dengan menutup perbatasan. 

Sudah tiba saatnya bagi pemerintah untuk bekerjasama menerapkan langkah-langkah yang memungkinkan ekonomi dan kehidupan sosial dimulai sambil terus mengendalikan penyebaran virus,” kata Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA dalam rilis.

IATA secara khusus meminta perhatian pemerintah di seluruh dunia untuk memahami dampak serius yang dihadapi industri penerbangan serta konsekuensi bagi warga negaranya. 

Untuk itu IATA mendesak pemerintah untuk fokus memberi perhatian pada masalah-masalah utama, termasuk pembukaan kembali perbatasan, melanjutkan program bantuan, dan mengupayakan kepemimpinan global.  

Membuka Kembali Perbatasan

Sebagian besar dunia masih menutup diri. Sebenarnya sudah ada protokol global terkait kesehatan yang disusun pemerintah bersama-sama dengan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) dan didukung Badan Kesehatan Dunia (WHO).

 Itu seharusnya cukup menjadi panduan untuk dimulainya kembali perjalanan global, karena sudah mencakup semua aspek kesehatan dan langkah-langkah sanitasi untuk menjamin keselamatan pelancong dan mengurangi risiko infeksi.

 “Sebagian besar maskapai penerbangan telah dilarang terbang selama setengah tahun. Sementara hingga kini, situasi belum juga membaik. Bahkan di sejumlah kasus, keadaan bergerak ke arah yang salah,” kata de Juniac.

Dia melanjutkan, IATA melihat ada beberapa negara sudah tak lagi menutup perbatasan tapi kemudian menerapkan kebijakan karantina bagi penumpang pesawat udara. 

Langkah ini terbukti bukan hanya gagal memulihkan perjalanan tapi juga gagal menciptakan pekerjaan. Lebih parah lagi, ada negara yang mengeluarkan aturan permit baru tapi minim pemberitahuan kepada wisatawan atau setidaknya berkoordinasi dengan mitra dagang mereka. Ketidakpastian inilah yang telah menghancurkan permintaan.

“ Sepuluh persen ekonomi global ditopang oleh industri perjalanan dan pariwisata; pemerintah perlu berbuat lebih baik untuk memulainya kembali,” kata de Juniac.

Kebijakan travel bubble

Selain itu, IATA juga mengusulkan agar negara-negara menerapkan kebijakan travel bubble atau sering disebut travel bridge di wilayahnya. 

 Dalam travel bubble, negara-negara sepakat untuk membuka perbatasan mereka satu sama lain, tetapi menutup semua perbatasan untuk negara lain. Jadi, orang yang ada dalam travel bubble itu dapat bergerak bebas, tetapi di luar (bubble) tidak bisa masuk.

IATA beranggapan travel bubble dapat mengurangi risiko dan dapat memprediksi seberapa luas pengujian COVID-19 dilaksanakan. 

“Tidak ada pemerintah yang ingin mengimpor COVID-19. Demikian pula, tidak ada pemerintah yang ingin menyaksikan kesulitan ekonomi terus berlangsung serta pengangguran massal terjadi,”ujar de Juniac.

Untuk berhasil melewati krisis ini, dibutuhkan manajemen risiko yang cermat serta langkah-langkah yang efektif. Jika pemerintah fokus pada upaya pemulihan kembali dengan aman, maka industri penerbangan siap mengikuti. 

Manajemen risiko adalah disiplin yang telah dikembangan dengan baik yang diandalkan maskapai penerbangan agar dapat menjami perjalanan yang aman dan terjamin, tambahnya.

 

Tujuh Tips Aman Berwisata di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru

this formate

Wisata outdoor lebih aman dibandingkan destinasi dalam ruangan (Ilustrasi: LA Times)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sejak kasus COVID-19 pertama ditemukan di Indonesia Maret lalu, Pemerintah segera memberlakukan aturan PSBB (Pembatasan sosial Berskala Besar) untuk mencegah penyebaran virus yang bergerak secara eksponensial tersebut.

Kini, keadaan belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Di Bogor dan Depok, jumlah kasus bahkan meningkat. Aturan pembatasan sosial kembali diperketat.

Namun setelah berbulan-bulan di rumah saja, wajar jika Anda ingin berwisata untuk sekadar melepas penat. Kalau pun hal itu hendak dilakukan, Anda perlu memperhatikan sejumlah kebiasaan baru.

Di tengah masa pandemi virus corona, melancong ke tempat terbuka atau outdoor lebih disarankan karena berisiko lebih kecil terhada penularan. Berikut ini tips aman yang dapat dilakukan, seperti dilansir dari siaran resmi Pegipegi.

  1. Selalu bawa hand sanitizer

Cuci tangan secara berkala penting untuk menjaga kebersihan. Banyak kuman hingga virus menempel di tangan. Apalagi kita kerap menyentuh wajah dengan tangan. Penelitian menunjukkan dalam sejam rata-rata orang menyentuh wajah hingga 23 kali.

Jika mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir tidak memungkinkan, maka hand sanitizer dapat digunakan menjadi pengganti sabun.

  1. Selalu gunakan masker kain

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat merekomendasi untuk menggunakan masker kain jika ingin bepergian ke tempat umum.

Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus dari orang tanpa gejala (OTG). Namun, menggunakan masker bukan berarti aman untuk berdekatan dengan orang lain. Tetap laksanakan protokol menjaga jarak yang baik dan benar.

  1. Pilih kursi di dekat jendela pesawat

Jika memungkinkan, saat bepergian dengan pesawat, pilihlah tempat duduk yang dekat dengan jendela. Sebuah penelitian dari Emory University menemukan bahwa selama musim flu tempat teraman untuk duduk di pesawat adalah dekat jendela. Mengapa? Karena orang yang duduk di kursi dekat jendela memiliki lebih sedikit kontak dengan orang yang berpotensi sakit.

  1. Bawa peralatan makan sendiri

Saat bepergian, bawalah sendiri peralatan makan dan minum seperti sendok, garpu, dan tumbler. Dengan cara itu, penularan virus dapat dicegah.

  1. Check-in secara online

Boarding pass adalah salah satu benda yang sering berpindah tangan dan disentuh untuk diperiksa. Solusi untuk mengurangi sentuhan di masa pengecekan adalah lewat boarding pass online. Bila memungkinkan, check in secara mandiri lewat daring untuk mengurangi kontak fisik.

  1. Bawa termometer digital sendiri

Pengecekan suhu tubuh di area publik sudah menjadi sesuatu yang normal saat ini. Sebaiknya Anda membawa sendiri termometer digital yang ukurannya lebih kecil untuk mengecek suhu tubuh secara reguler di destinasi yang dituju.

  1. Pilih destinasi luar ruangan ketimbang dalam ruangan

Penyebaran virus lebih rentan terjadi di tempat tertutup dan padat. Hal ini membuat destinasi luar ruangan seperti taman, pantai, gunung, dan sejenisnya menjadi lebih populer. Destinasi outdoor cenderung lebih aman karena protokol menjaga jarak dapat otomatis diterapkan.

 

 

Mengapa Aparthotel di Era COVID-19 Tingkat Huniannya lebih Bagus ketimbang Hotel ?  

this formate

Sebuah Aparthotel di Cape Town, Afrika Selatan ( Foto: Travel Daily News)

CAPE TOWN, Afsel, bisniswisata.co.id: Aparthotel atau di Indonesia dikenal sebagai Serviced apartment adalah apartemen yang telah memiliki perabotan lengkap, disewakan dalam jangka waktu pendek ataupun panjang dengan layanan dan fasilitas layaknya hotel seperti room service, house keeping, ruang laundry, dapur, WiFi, dan sejenisnya.

Bagaimana nasibnya bisnis Aparthotel ini ? Dilansir Travel Daily News, penelitian yang dilakukan oleh STR, sebuah perusahaan analisis dan AirDNA, penyedia global data dan analitik persewaan liburan ini patut disimak.

Penyewaan akomodasi jangka pendek mendekati tingkat hunian sebelum terjadi pandemi global COVID-19.  Menurut sebuah studi yang mencakup 15 pasar perkotaan dan 12 regional di seluruh dunia oleh kedua perusahaan di atas menunjukkan pertumbuhan yang positif.

Revenue per Available Room atau pendapatan per jumlah kamar tersedia (RevPAR) turun hanya 4,5% dari waktu yang sama tahun laludi sektor aparthotels.

Ini untuk kategori akomodasi jangka pendek, yang mencakup apartemen dengan dua kamar tidur atau lebih. Sedangkan untuk kategori hotel, yang mencakup studio dan apartemen satu kamar tidur, RevPAR turun lebih banyak, yaitu 64,8% dari tahun lalu.

“Kami tidak pernah menerima banyak pertanyaan dari pengembang properti dan investor swasta yang ingin mengetahui bagaimana mereka dapat melengkapi kembali properti hunian yang tidak terjual untuk menjalankan aparthotel, seperti yang kami dapatkan sekarang,” kata Rael Phillips, salah satu pemilik dan direktur Totalstay.  

Operator aparthotel yang berbasis di Cape Town yang mencapai 89,13% hunian bulan lalu untuk Latitude Aparthotel di Seapoint, adalah rangkaian apartemen dan vila dengan satu, dua dan tiga kamar tidur di Seapoint, Camps Bay dan Cape Town CBD.

Klien terbesarnya adalah Berman Brothers, Elemental, Mason Developments, dan 12Cape.  Ini menggabungkan praktik terbaik dari hotel-hotel top, dengan fleksibilitas dan kebebasan DIY Travel.

Pada bulan-bulan menjelang pandem global COVID-19, industri akomodasi telah mencapai tingkat kesuksesan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan tingkat hunian hotel global tahunan melebihi 66% selama rekor 58 bulan berturut-turut.

Sedangkan tingkat hunian musim puncak sewa jangka pendek di Amerika Serikat ( AS) tumbuh sebesar 2,3%  setiap tahun, mencapai rekor tertinggi 58,6% pada 2019 dari 52,6% pada 2015. 

Namun, menurut penelitian, pemberlakuan lockdown perjalanan global menghantam hotel dengan keras, terutama karena anjloknya permintaan dari klien bisnis dan perjalanan grup.

Sebagai perbandingan, industri persewaan jangka pendek baru saja menyelesaikan setengah dekade dari pertumbuhan pendapatan total hampir 300% sebelum pandemi, didorong oleh wisatawan yang mencari pengalaman yang lebih terjangkau dan unik.

Meskipun pertumbuhan sedikit menurun pada tahun 2019, industri tetap kuat.  Dan meskipun indikator kinerja anjlok selama peraturan lockdown global akibat COVID-19, penurunan dibandingkan dengan hotel tidak terlalu parah.

 “Aparthotel telah menunjukkan pertumbuhan selama satu dekade karena mereka menawarkan nilai uang yang jauh lebih banyak daripada akomodasi hotel konvensional,” kata Rael Phillips.

Pertumbuhan yang stabil ini, bersama dengan faktor-faktor khas dari produk aparthotel seperti ruang keluarga yang lebih besar, lebih banyak fasilitas dan lokasi yang lebih baik.

Sekarang jarak sosial ( social distancing)  ditingkatkan dan sanitasi, yang mungkin menunjukkan mengapa pengembang properti dan investor melihat bagaimana pasar aparthotel akan menawarkan lebih berkelanjutan  laba atas pembelanjaan mereka.

Mason Developments, pengembang blok apartemen mewah kelas atas yang berbasis di Cape Town termasuk Bradwell Row, The Bradwell dan The Belair di Vredehoek, dan The Glengariff di Seapoint, mengontrak Totalstay untuk menggunakan kembali stok yang tersedia guna memanfaatkan tren ini tahun lalu.  

Menurut Alistair Capon, Direktur Komersial di Mason Developments, apa yang membuat Totalstay menjadi mitra yang tepat untuk proyek ini adalah akses dan visibilitas ke dalam sistem manajemen properti Totalstay.

“Ini memungkinkan kami melihat pemesanan dan mengantisipasi pengembalian sewa secara nyata dengan waktu – persyaratan utama untuk pengembang mana pun, ” kata Alistsir Capon.

Penawaran aparthotel Mason Developments diluncurkan pada Natal 2019 dan awal tahun baru, dan Capon mengatakan bahwa penjualan awal dan angka pendapatan mereka berada di jalur yang benar, tetapi COVID-19 jelas berdampak negatif pada jumlah dan target.  

NEURO, mitra Totalstay yang menghubungkan sistem manajemen propertinya ke layanan berbasis cloud lainnya, termasuk pelaporan manajemen internal dan eksternal, telah memungkinkan klien seperti Mason Developments untuk beradaptasi dan membuat keputusan cepat tentang jalannya aset aparthotel mereka, berdasarkan  tentang kecerdasan bisnis dan wawasan data, serta manajemen pendapatan.  

Dengan cara ini, Totalstay telah berhasil beradaptasi, kata Capon, dengan “menerima persewaan flexi jangka menengah dengan keuntungan yang sedikit lebih rendah, dibandingkan dengan mencoba untuk mendorong keuntungan tinggi yang dihasilkan oleh masa inap jangka pendek atau cuma satu – dua malam”  

Dengan pasar yang sekompetitif itu, satu-satunya cara untuk produk aparthotel Mason Development maka yang  membedakan dirinya adalah pada harga dan nilai uang yang dirasakan – faktor kunci untuk industri dan produk aparthotel.

Capon percaya bahwa dengan produk unggulan dan harga bersaing, Mason Developments pada waktunya akan menarik pemesanan yang mereka cari dan hubungan pasar perjalanan bisnis yang mereka butuhkan.

Rael Phillips, Direktur Totalstay setuju dan menunjukkan bahwa infrastruktur manajemen aparthotel terpusat, terbukti dan berpengalaman sehingga benar-benar membuat perbedaan antara seberapa sukses seorang investor properti dapat memberikan penghargaan dan apa hasil akhirnya.  

“Saat memilih operator, investor tidak boleh mengabaikan aspek-aspek penting seperti infrastruktur yang solid dan dikelola dengan baik yang menyediakan akses ke pengetahuan dan sumber daya terbaik,” ujarnya.

Dia mengakui kemampuan mereka untuk mempekerjakan, melatih dan mempertahankan staf yang sangat baik;  dukungan dari operator aparthotel yang mapan dan bereputasi serta model penetapan harga yang fleksibel, tambahnya.

Demikian pula, tingkat kesabaran dan beberapa pengambilan risiko yang diperhitungkan diperlukan untuk memanfaatkan pasar aparthotel.  

“Dampak material pandemi sangat berkaitan dengan uang tebusan dan sen yang kini tersedia bagi para pelancong. Orang-orang menginginkan nilai lebih untuk uang mereka, serta fasilitas yang lebih aman.”kata Rael Phillips.

Seperti yang ditunjukkan oleh studi STR dan AirDNA, persewaan jangka pendek menawarkan fasilitas layanan lengkap yang memungkinkan masa inap jangka panjang dan menjadi lebih populer karena keluarga mencari tempat untuk beristirahat.  Hasilnya, rata-rata lama tinggal meningkat 58% selama krisis.

 

Six Senses Bergabung dengan Inisiatif Pariwisata Global untuk Bebas Plastik pada 2022

this formate

Salah satu jaringan hotel Six Senses di Indonesia yaitu di Uluwatu, Bali. ( Foto: Six Senses)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Jaringan hotel Six Senses Hotels Resorts Spas, salah satunya di Uluwatu, Bali, mengumumkan bahwa mereka telah menjadi salah satu penandatangan pertama Global Tourism Plastics Initiative, yang dipimpin oleh Program Lingkungan PBB dan Organisasi Pariwisata Dunia ( UNWTO) PBB, bekerja sama dengan Ellen MacArthur Foundation.

 “Industri perjalanan tumbuh dengan kecepatan tinggi di planet yang memiliki sumber daya alam terbatas.  Itu berarti semua pemimpin perhotelan memiliki tanggung jawab untuk berdiri dan bertanggung jawab untuk membuat perbedaan yang berkelanjutan dan mencapai hasil yang terukur,”kata Neil Jacobs  , CEO dari Six Sense Hotels Resorts Spas.

Etos kesehatan dan kebugaran kami adalah membuat tamu kami merasa lebih baik di dalam dan di luar, jadi masuk akal jika kebijakan sosial dan lingkungan kami membuat mereka merasa nyaman dengan pilihan liburan mereka dan dampaknya terhadap ekosistem di sekitar mereka juga,  tambah Neil Jacobs.

Global Tourism Plastics Initiative menyatukan lebih dari 450 bisnis, pemerintah, dan organisasi lain di belakang visi dan target bersama untuk mengatasi limbah plastik dan polusi di sumbernya.

Untuk mewujudkan visi tersebut, perusahaan pengelola destinasi pariwisata berkomitmen untuk menghilangkan barang-barang plastik yang tidak mereka butuhkan;  berinovasi sehingga semua plastik yang mereka butuhkan dirancang untuk digunakan kembali dengan aman, didaur ulang, atau dibuat kompos.

Menurut Neil Jacobs, tanggung jawab lingkungan dan sosial adalah inti dari Six sens ( Enam Indra) .  Hidup bersama dengan sumber daya alam yang terbatas dan ekosistem yang rapuh, keberlanjutan bukanlah pilihan, itu satu-satunya pilihan.  

Hal itu menuntut melakukan apa yang benar daripada apa yang mudah. Di Six Senses, ini berarti melampaui larangan menggunakan plastik sekali pakai dan limbah yang tidak perlu, serta komitmen bebas dari semua plastik pada tahun 2022. 

Strategi ini didasarkan pada penilaian siklus hidup plastik dan memahami dampak produk ini terhadap lingkungan. ekstraksi bahan bakar fosil hingga pembuangan. 

Ini adalah pendekatan yang berfokus pada pemasok di hulu, mencari solusi inovatif, dan mempromosikan gaya hidup bebas plastik dengan memberikan alternatif yang lebih berkelanjutan.

Bergabung dengan Global Tourism Plastics Initiative adalah langkah lain ke arah ini untuk mengatasi akar penyebab polusi plastik.  Ini memungkinkan bisnis dan pemerintah untuk mengambil tindakan bersama dan memimpin dengan memberi contoh.

Sebagai penandatangan Global Tourism Plastics Initiative, Six Senses semakin meningkatkan komitmennya untuk menghilangkan, berinovasi, dan mengedarkan penggunaan plastiknya pada tahun 2025, meskipun jaringan usaha ini  sedang menuju ke upaya bebas plastik pada tahun 2022. 

Ini mungkin merupakan target yang berani;  namun, karena efek perubahan iklim dan polusi plastik menjadi semakin mengerikan di seluruh duniituSix Sense sebagai tuan rumah maupun tamu- tamunya akan mendukung dan bahkan menuntut tindakan untuk itu.

 Six Senses berkomitmen untuk:

Menghilangkan semua plastik dari operasinya pada tahun 2022, dengan prioritas pada plastik sekali pakai dan lebih dari itu untuk menghilangkan 100 persen sumber plastik murni.

Komitmen Zero Waste sebagai tujuan umum untuk semua resor Six Senses.Melanjutkan kebijakan tidak boleh menggunakan shampo sekali pakai, botol air dan sedotan plastik.

 Saat menandatangani inisiatif Global Tourism Plastics, Six Senses berjanji untuk:

* Menghilangkan sisa kemasan plastik yang tidak perlu dari kamar dan kamar mandi kami pada tahun 2022.

* Memperkenalkan solusi yang lebih dapat digunakan kembali di dapur untuk menggantikan kemasan plastik yang tidak perlu (cling film dan kemasan plastik produk segar) pada tahun 2022.

* Memperkenalkan solusi yang dapat digunakan kembali di area layanan ( toko di lingkungan hotel)  untuk menggantikan kemasan sekali pakai pada tahun 2022.

* Mengumpulkan kemasan kompos alami dan bahan lainnya jika sesuai.

Bekerja dengan pemasok untuk menghindari pengemasan plastik, mencari produk alternatif bebas plastik, dan mengatur program pengambilan kembali pengemasan jika memungkinkan.

* Bekerja dengan hotel dan mitra industri lain untuk berbagi praktik terbaik, rekomendasi pemasok, dan informasi lain untuk membantu industri menjauh dari plastik.

* Memilah semua bahan limbah, mendaur ulang atau membuat kompos jika memungkinkan di lokasi, mengirim ke daur ulang di luar lokasi jika tersedia – semua dengan tujuan membuang sampah ke TPA.

Dengan mengambil tindakan serius secara terkoordinasi dan tegas terhadap pencemaran plastik, sektor pariwisata dapat membantu melestarikan dan melindungi tempat dan satwa liar yang menjadi destinasi menarik untuk dikunjungi.

 

Upaya Gairahkan Pariwisata Yogyakarta, Desainer Gelar FoS

this formate

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Fashion on The Street (FoS) 2020 digelar untuk mengembalikan geliat pariwisata, Pemerintah Kota Yogyakarta mendukung kegiaran ini  melalui Dinas Pariwisata Kota Yogya.

” Masuknya era kenormalan baru ini kreatifitas juga tetap harus berjalan dan tidak boleh terhenti. Sudah berbulan-bulan masa pandemi menerpa masyarakat membuat semua sektor kehidupan tergoyahkan, terutama sektor pariwisata,” kata Lia Mustafa, penggagas FoS, hari ini.

Penggagas FoS, Lia Mustafa mengungkapkan pandemi global inilah yang menginspirasi dalam melahirkan karya “new normal fashion on the street 2020”, dimana manusia dapat beraktivitas dengan protokol kesehatan yang telah diatur, jelasnya saat temu media di Silol cafe.

Pagelaran busana kali ini mengusung tema warna khusus seperti hitam, putih, dan kuning.”Masuknya musim panas dan dampak covid-19 menjadi inspirasi, 3 warna tegas tersebut sebagai pengait seluruh karya designer-designer muda kali ini” katanya.

Ia menjelaskan jika penyelenggaraan Fos pada tahun ini agak sedikit berbeda, yang biasanya acara tersebut di gelar secara langsung/live di Prawirotaman, namun kali ini digelar di pedestrian Kotabaru.

 “Untuk menghindari kerumumanan warga, kami tetap menggelar acara ini namun dengan membatasi penonton,  masyarakat yang ingin melihat acara tersebut bisa melalui YouTube maupun dari akun instagram milik Dinas Pariwisata Kota Yogya juga,” jelasnya.

Menurutnya dalam setiap bencana yang terjadi, kita tetap bisa mengambil hikmahnya karena adanya bencana membuat manusia melihat alangkah besarnya kekuasaan Tuhan dan betapa indahnya kasih sayang sesama.

“Dan dari bencana, kita belajar kepedulian, kita belajar mengasihi, kita belajar mengantisipasi,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif dan Atraksi Dinas Pariwisata Kota Yogya, Edi Sugiarto menjelaskan jika Dinas Pariwisata akan terus berupaya untuk membangkitkan sektor Pariwisata di Kota Yogyakarta.

Untuk itu, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pariwisata Kota Yogya mendukung kegiatan Fashion on the Street (fos) 2020.

Penggagas FoS, Lia Mustafa mengungkapkan jika masuknya era kenormalan baru ini kreatifitas juga tetap harus berjalan dan tidak boleh terhenti.

“Fenomena inilah yang menginspirasi dalam melahirkan karya “new normal fashion on the street 2020”, dimana manusia dapat beraktivitas dengan protokol kesehatan yang telah diatur,”jelasnya saat temu media di Silol cafe, hari ini  (31/8/2020).

Pagelaran busana kali ini mengusung tema warna khusus seperti hitam, putih, dan kuning. “Masuknya musim panas dan dampak covid-19 menjadi inspirasi, 3 warna tegas tersebut sebagai pengait seluruh karya designer-designer muda kali ini” katanya.

Ia menjelaskan jika penyelenggaraan Fos pada tahun ini agak sedikit berbeda, yang biasanya acara tersebut di gelar secara langsung/live di Prawirotaman, namun kali ini digelar di pedestrian Kotabaru.

 “Untuk menghindari kerumunan warga, kami tetap menggelar acara ini namun dengan membatasi penonton, untuk masyarakat yang ingin melihat acara tersebut bisa melalui Youtube maupun dari akun instagram milik Dinas Pariwisata Kota Yogya,” jelasnya.

Saat ini industri kreatif yang mampu bertahan adalah produk Fashion dan para desainer muda yang bergabung kali ini adalah Ayu Ghia, dari Jakarta dan Palembang, Liant/Belagak Nian,  Lily-Makasar, Agung Istri Saridewi/Gung Is Bali,  Yuliana Fitri,  Faris, Yogya, Tofa – Ngawi, Rony Billiardo,Hermina, Aini serta Lanny Amborowati, Yogya.

Mereka tergabung sebagai anak didik Klamb dengan pendampingan Lia Mustafa danl sepakat membuat project The New Normal Fashion On the Street.  Videographer dan Photographer dikerjakan oleh Efar Production dibawah Fauzan Armando, dengan MUA Helen Fransika

Fashion on The Street dilaksanakan secara mandiri ini biasanya dilaksanakan di Prawirotaman, kali ini tidak dilaksanakan secara langsung di lokasi tapi dipindahkan di Kotabaru tepat di depan Silol Cafe dan Kantor Dinas Pariwisata Kota Jogja yang juga turut mensupport kegiatan.

Pengambilan gambar The New Normal Fashion On the Street Kotabaru, adalah tempat yang strategis dengan keramaian dan mempunyai nilai keindahan dan sejarah tersendiri di kota Yogyakarta.

 

Mensyukuri Sewindu Undang Undang Keistimewaan Yogyakarta Lewat Pameran Lintas Seni

this formate

Sultan HB X saat keliling dan menyapa para seniman yang berpartisipasi pasa pameran. ( Foto: Satrio Purnomo)

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Mensyukuri lahirnya Undang Undang Keistimewaan  ( UUK ) Yogyakarta sekaligus refleksi implementasinya yang semakin berdampak positif diwujudkan melalui pameran lintas seni di Grhatama Pustaka, Jl Raya Janti Bantul.

Kegiatan yang melibatkan 80 seniman dan dibuka oleh Sultan HB X didampingi GKR Mangkubumi. Peringatan ini merupakan ajang berpikir reflektif, introspeksi-kritis yang sifatnya aktif,  terus-menerus dan teliti.

Dengan demikian, kara Sultan, bisa menemukan ide-ide inovatif yang menghasilkan kesimpulan transformatif yang memiliki perspektif peradaban ke masa depan. 

“Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan segenap rakyat DIY yang gradasinya semakin meningkat secara berkelanjutan,” ungkapnya

Pencaoaian ini  merupakan hasil dari perjuangan rakyat dan semua eleman bersatu padu. Elemen Kraton, kaprajan (pemda), kampus, kampung dan komunitas saling bersinergi. 

Gubernur DIY Sultan HB X mengatakan, Keistimewaan DIY ditegaskan dalam UUK yang diatur dalam UU No.13 Tahun 2012. Hal ini memberi landasan hukum yang jelas dalam mengatur kewenangan dan merumuskan tujuan Keistimewaan DIY. 

“Sekarang setelah 8 tahun (sewindu), kita pun perlu mencermati bersama. UUK ini perlu disyukuri dan juga direfleksi agar implementasinya semakin berdampak positif,” jelas Sultan HB X.

Pameran ini berlangsung dari 31 Agustus hingga 30 September. Karya dari sejumlah komunitas unjuk gigi. Ada komunitas Sakato, Ikaiso, IPI, Sanggar Bambu, Dewata.

 Publik pun bisa menikmati karya dari sejumlah maestro. Seperti Yusman, Djoko Pekik, Nasirun, Godod Sutedjo, Amboro Liring, Bambang Heras, Budi Barnabas, Edi Sunarso dan seniman yang lain.

Nampak hadir dalam sesi pembukaan pameran: Gusti Putri (istri Wagub DIY), Kapolda DIY Irjen Asep Suhendar, Bupati Bantul Suharsono, Wawali Yogya Heroe Poerwadi, Danrem 072 Pamungkas Brigjen Ibnu Bintang, Dandim 0729 Bantul Letkol Didi Carsidi dan sejumlah pejabat forkompimda.

Tazbir selaku ketua panitia mengaku, proses persiapan pameran ini sangat mepet. Namun pihaknya optimis acara bisa berjalan lancar dan sukses, serta disambut positif oleh khalayak luas. 

“Visi yang kami usung adalah Yogya Istimewa dalam berkarakter, bersinergi, berkarya serta berdampak bagi Indonesia dan dunia. Tujuan digelarnya pameran ini jelas dalam peringatan sewindu UUK DIY,” jelasnya.

 Ada juga peluncuran sejumlah karya buku, lagu, gendhing, tarj. Lalu ada edukasi, seminar dan promosi wisata DIY. ” Kami berharap para seniman terus produktif menghasilkan karya. Walaupun situasi sedang sulit, namun ide dan kreatifitas tidak boleh surut,” kata Tazbir di sela acara.

Sementara itu pematung handal, Yusman yang didapuk menjadi koordinator pameran mengutarakan sifat dari acara ini gotong-royong sukarela. Pihak Pemda DIY mendukung dengan memberikan fasilitas gedung pameran.

 “Terkait dana penyelenggaraan, kami semua seniman patungan. Kami tidak menggunakan Danais (dana keistimewaan) dengan alasan agar Danais bisa dioptimalkan untuk penanganan COVID-19. 

Selain pameran patung, lukis, instalasi, fotografi ada juga diskusi seni, bedah buku, sarasehan Yogya Semesta, peluncuran buku, tari, gendhing dan film. Semoga pameran ini memberikan khasanah seni bagi publik secara luas,” pungkas Yusman optimis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Labuan Bajo Terbuka Bagi Wisatawan Domestik & Mancanegara di Awali Registrasi Online

this formate

Bandara Labuan Bajo, pintu masuk Taman Nasional Komodo. ( Foto: Agung Arifin/ Google)

LABUAN BAJO, bisniswisata.co.id: Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo, dua tujuan wisata populer di Nusa Tenggara Timur, telah menyambut wisatawan asing dan domestik di bawah protokol kesehatan yang ketat sejak fase kedua pembukaan kembali pada 15 Agustus 2020 lalu.

Mereka yang tertarik menjelajahi kedua obyek wisata tersebut diharuskan mengikuti langkah-langkah yang tertera di bawah ini untuk memastikan keamanan dan kenyamanan selama berkunjung.

 Registrasi online

Sebelum mengunjungi Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo, pengunjung diharuskan melakukan registrasi online dengan menyerahkan nama, KTP atau nomor paspor, surat keterangan kesehatan dan perusahaan asuransi.

Mereka juga harus menentukan lokasi mana yang ingin mereka kunjungi bersama dengan moda transportasi.

Pengunjung Taman Nasional Komodo harus bepergian menggunakan operator perjalanan khusus yang terdaftar di situs web 

Dokumen

 Selain registrasi online, wisatawan harus membawa dokumen penting untuk dapat masuk ke Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo.  Dokumen tersebut adalah tes Covid-19 polymerase chain reaction (PCR) negatif atau hasil tes cepat dan kartu identitas.

 Protokol kesehatan

Selama berkunjung, pengunjung harus memakai masker wajah, melakukan tindakan menjaga jarak fisik, membawa hand sanitizer dan mencuci tangan secara teratur.

 Kapasitas terbatas

 Dilansir dari kompas.com, lokasi berikut telah dibuka kembali pada tahap kedua resor Loh Buaya, resor Loh Liang dan resor Padar Selatan sebagai situs daratan;  dan Batu Bolong, Karang Makassar, Mauwan dan Siaba Besar sebagai tempat wisata bahari.

Setiap situs daratan membatasi jumlah pengunjung harian.  Misalnya, resor Loh Buaya dibuka untuk 75 orang, resor Loh Liang hanya dapat menampung 250 orang dan resor Padar Selatan hanya akan mengizinkan 60 pengunjung per hari.

Lokasi wisata bahari juga telah membatasi jumlah perahu untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19.  Batu Bolong hanya terbuka untuk delapan perahu, Karang Makassar untuk 32 perahu dan Mauwan serta Siaba Besar mengizinkan 20 perahu per hari.