Optimisme Kopi Indonesia Menerjang Pasar Nordik

this formate

Bagas Hapsoro, moderator dalam pertemuan tersebut ( Foto: Fajar/ Kedubes Swedia)

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Kopi Indonesia adalah salah satu yang terbaik di dunia. Meskipun terdapat kopi jenis Geisha Panama, Blue Mountain, dan sebagainya. Tetapi Indonesia lebih kaya,” kata Syafrudin, Ketua Coffee Speciality Association of Indonesia (SCAI)

Berbicara dalam pertemuan virtual yang diselenggarakan Kemlu RI, Selasa sore (29/9), Syafrudin mengatakan banyak daerah yang memproduksi dengan ciri khasnya masing-masing dan kopi banyak disukai wisarawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh para penggiat kopi, wakil pemerintah, asosiasi, barista, dan pengamat kopi baik dari Indonesia dan Swedia, terlihat antusiasme untuk bekerjasama dan saling memberikan info ketika potensi speciality coffee itu besar. Bertindak selaku moderator dalam pertemuan tersebut adalah Dubes RI untuk Swedia dan Latvia 2016-2020, Bagas Hapsoro.

Mengawali pertemuan, mantan Dubes RI di Azerbaijan, Prayono Atiyanto, menyatakan bahwa fokus kepada specialty coffee harus menjadi prioritas. ”Saya perlu menekankan bahwa kita menitik beratkan kepada hasil yang spesifik. Bahan yang sudah ada kita garap secara maksimal dan konsisten”, ujar Prayono. ”

Menurut dia, sahabat kopi Indonesia harus menggarap hal ini dengan serius, karena mampu menciptakan value-added yang sangat besar dengan kapasitas produksi yang tidak besar, tambahnya dalam rilis yang bisniswisata.co.id terima dari Kedubes RI di Swedia, hari ini.

Sependapat dengan Prayono, Ketua SCAI, A. Syafrudin menyampaikan bahwa sebagai bahan public outreach kepada masyarakat, khususnya millenial, specialty coffee adalah kopi yang mempunyai kualitas tinggi, baik rasa maupun aroma dengan standar ukur cupping test dan tentunya diproses dengan ketentuan khusus.

Menurut Syafrudin kopi ini adalah kopi yang dinilai oleh Q-Grader tersertifikasi yang mampu memenuhi kriteria kelas specialty mengacu pada Specialty Coffee Association (SCA), dari segi kualitas fisik dan kualitas rasa.

“Terdapat tiga kelas dalam kualitas fisik, yaitu Specialty Grade, Premium Grade, dan Exchange Grade. Untuk kualitas rasa, kopi dapat dibilang specialty jika mendapatkan nilai di atas 80 melalui proses cupping” ujar Syafrudin.

Ditambahkan oleh Wakil Ketua SCAI, Daroe Handoyo, bahwa seyogyanya pengusaha kopi Indonesia tidak saja menekankan pada produksi tetapi juga ”narasi” kopi.

Sejarah dan kisah dibalik kopi perlu menjadi highlight. Istilah yang dipakai anak muda kiranya dapat mendongkrak popularitas kopi. Misalnya ”Do Good for the people”.

Ini dimaksudkan bahwa minum kopi adalah untuk menaikkan kesejahteraan petani. Juga istilah “Do Good for the Earth”, tentunya adalah harus memperhatikan kelestarian alam.

Bertindak sebagai pembicara terakhir adalah Budhaman Sutedja, seorang barista, cup taster dan green bean sourcer yang memulai bisnis kopinya di Swedia sejak tahun 2003. Disampaikan bahwa orang Swedia dan orang Nordik lainnya minum kopi spesialiti karena kualitas dan transparansinya.

Selalu terdapat kejelasan yang mengatakan dari mana kopi itu berasal. Hal yang selalu menjadi kesulitan bagi kopi Indonesia adalah pasokannya. ”Kita kadang-kadang bingung tidak ada keajegan mengenai supply”, keluh Budhaman.

Saran Budhaman berikutnya adalah perlunya himbauan kepada para diaspora. Untuk memperluas branding kopi Indonesia secara mancanegara, peran serta retailer café Indonesia sangat penting. Sebab, di tangan merekalah brand dan kualitas kopi Indonesia semakin dikenal oleh masyarakat global.

Hadir pula dalam pertemuan tersebut adalah para dubes designate untuk Nordik, khususnya Dubes RI untuk Swedia, Denmark, dan Finlandia yang menyatakan komitmennya untuk meningkatkan kerjasama untuk merebut pasar kopi spesialiti di Nordik.

Dubes RI untuk Swedia (designate), Kamapradipta Isnomo menyampaikan bahwa Swedia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat konsumsi kopi tertinggi di dunia. Berdasarkan data International Coffee Organization (ICO) tahun 2017, Swedia menempati peringkat ke-6 tertinggi dengan tingkat konsumsi rata-rata sebesar 8,2 kg per kapita.

Kelima negara tertinggi adalah Finlandia (12 kg), Norwegia (9,9 kg), Islandia (9 kg), Denmark (8,7 kg), dan Belanda (8,4 kg). “Indonesia adalah salah satu penghasil dan pengekspor kopi terbesar di dunia, terdapat peluang untuk menggarap pasar Swedia dalam rangka peningkatan nilai ekspor dan promosi beragam kopi Indonesia kepada masyarakat Swedia” ujar Kamapradipta.

Dubes RI untuk Denmark (designate), Dewi S. Wahab sependapat dengan Kamapradipta seraya menambahkan bahwa keamanan makanan merupakan salah satu persyaratan tambahan yang penting bagi produk kopi yang akan memasuki pasar Uni Eropa, termasuk pencegahan terhadap kontaminasi.

“Dalam hal persyaratan khusus, skema sertifikasi semakin mengikuti tren menuju ethical consumption. Meskipun demikian, kualitas kopi yang tinggi tetap merupakan penentu paling penting dalam pasar kopi specialty” ujar Dewi.

Sejalan dengan keduanya, Dubes RI untuk Finlandia (designate), Ratu Silvy Gayatri menyatakan bahwa kita patut bangga dengan kopi Indonesia yang telah mendunia. Banyak orang di luar negeri yang bisa menikmati kopi Indonesia, bahkan mampu merubah budaya minum teh di RRC.

“Hanya yang perlu menjadi perhatian adalah pasar Eropa. Kita perlu hati-hati dengan isu moral seperti, perlindungan lingkungan, anti penyiksaan terhadap binatang, dan upah petani yang perlu penyesuaian. Untuk itu, Indonesia perlu memonitor regulasi Komisi Eropa” ujar Silvy.

Kebijakan baru Komisi Eropa yang akan diberlakukan 13 November 2020 perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah, kalangan asosiasi dan koperasi tani. Pendek kata, menurut Silvy, Komisi Eropa bersepakat untuk menurunkan batas kandungan residu dari yang mulanya 0,05 mg/kg produk menjadi 0,01 mg/kg.

Perubahan ini dilakukan menyusul temuan soal dampak kesehatan yang ditimbulkan residu tersebut terhadap kemungkinan kerusakan genetika dan saraf pada tubuh konsumen.

Mengenai kopi unggulan Indonesia, Kamapradipta optimis bahwa ekspor kopi Indonesia masih memungkinkan untuk ditingkatkan dengan mempertimbangkan konsumsi kopi masyarakat Indonesia rata-rata 1,2 kg per kapita/tahun atau 300 ribu ton/tahun.

Selain itu, beberapa jenis kopi Indonesia cukup populer di dunia, seperti Kopi Gayo (Aceh), Kopi Preanger (Jabar), Kopi Kintamani (Bali), Kopi Toraja (Sulawesi) hingga Kopi Bejawa (Flores).

Dari berbagai survei konsumen, kopi Indonesia dinilai memiliki rasa tersendiri, di mana iklim tropis membuat produk kopi yang dihasilkan memiliki tingkat keasaman serta aroma yang pas.

Roadmap Pengembangan Desa Wisata di DSP Borobudur  

this formate

Direktorat Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional I Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Parekraf mengundang bisniswisata. co.id untuk menghadiri Rapat Kordinasi Desa Wisata Super Prioritas Borobudur di Hotel The Phoenix Hotel Yogyakarta – MGallery Collection. Berikut tulisan ke sepuluh

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Pengembangan desa wisata saat ini menjadi prioritas dalam RPJMN 2020-2024 sebagai pendukung pencapaian percepatan pengembangan Destinasi Super Prioritas (DSP) termasuk salah satu diantaranya adalah DSP Borobudur dan sekitarnya.

Untuk itu,  Ir Oni Yulfian MBTM, Direktur Pengembangan Destinasi Regional I, Kemenparekraf mengatakan desa wisata di kawasan Borobudur posisinya harus terus diperkuat dengan melakukan roadmap menggandeng  Pusat Perencanaan & Pengembangan Kepariwisataan ( P2Par) ITB

Pengembangan desa wisata di DSP Borobudur dalam tahun anggaran 2020 ini meliputi 12 Desa Wisata yang termasuk dalam dua provinsi yaitu Jawa Tengah terdiri dari 2 (dua) kabupaten yaitu Kab. Magelang dan Kab Purworejo dan DI. Yogyakarta mencakup 6 kabupaten.

Untuk kabupaten Magelang ada 3 (tiga) desa wisata yang menjadi prioritas pengembangan, yaitu Desa Wisata Karanganyar, Desa Wisata Karangrejo, dan Desa Borobudur sedangkan untuk Kab. Purworejo hanya 1 (satu) desa yaitu Desa Kaligono. 

Desa Wisata yang termasuk Prov. DI. Yogyakarta mencakup 4 (empat) Kabupaten yaitu Kab. Kulonprogo, Kab. Gunung Kidul, Kab. Sleman dan Kab. Bantul. Kab. Kulon Progo ada 4 (empat) desa yang menjadi prioritas pengembangan.

Desa-desa itu adalah  Desa Glagah, Desa Segajih, Desa Tinalah dan Desa Jatimulyo. Untuk Kab. Gunung Kidul 1 (satu) desa yaitu Desa Bleberan Sri Getuk. Kab. Sleman 2 (dua) desa wisata yaitu Desa Pulesari dan Desa Garongan. Sedangkan untuk Kab. Bantul 1 (satu) desa wisata yaitu Desa Mangunan. 

“Kami sedang dalam proses menyusun roadmap pengembangan desa wisata di Destinasi Super Prioritas (DSP) Borobudur dan sekitarnya dengan memetakan dan membuat profil terkait 12 Desa Wisata Prioritas tersebut,” kata Oni Yulfian.

Roadmap ini dibuat sebagai pedoman pengembangan desa wisata lima tahun kedepan dan sebagai pedoman operasional dalam melaksanakan kebijakan dan strategi pembangunan desa wisata dalam Ripparnas, RPJMN dan Rencana Terpadu Kawasan.

Sasaran dari pembentukan roadmap pengembangan desa wisata ini diharapkan dapat menggambarkan :

*Profil dari masing-masing desa yang mencakup kebijakan pengembangan desa wisata baik di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/ kota.

*Karakteristik dan tingkat perkembangan desa.

*Potensi dan tantangan pengembangan

* Strategi dan indikasi program kegiatan pengembangan desa wisata di DSP Borobudur

“Jadi tujuan pengembangan desa wisata di DSP Borobudur adalah sebagai pendorong peningkatan kapasitas masyarakat dan kualitas produk pariwisata berbasis masyarakat dalam mendorong peningkatan perekonomian desa,” kata Oni Yulfian.

      Peneliti P2PAR Institut Tekhnologi Bandung ( ITB) Yani Adriani.

Yani Adriani dari P2PAR mengatakan survei desa wisata diselenggarakan 23-26 September 2020 bersamaan dengan Rakor Desa Wisata dan sosialisasi Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability ( CHSE)  dengan mengumpulkan data sekunder, wawancara maupun pengamatan di lapangan. 

“Kami survei terlebih dahulu di tiga desa di Kab. Magelang dan satu di Purworejo, esoknya 24 September empat desa di Kulonprogo, lanjut ke dua desa di Kab. Sleman, satu di Bantul dan satu desa wisata di Gunung Kidul,” kata Yani Adriani.

Yani menambahkan bahwa pengembangan desa wisata adalah berbasis pada masyarakat sehingga aktivitas dan programnya adalah pariwisata yang dimiliki dan dikelola oleh masyarakat.

Dikordinasikan di tingkat komunitas yang berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dengan mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat, melindungi nilai-nilai sosial budaya, serta warisan alam dan budaya.

” Jadi prinsipnya adalah melibatkan dan memberdayakan masyarakat untuk menjamin kepemilikan dan pengelolaan yang transparan ” ungkapnya.

Selain itu juga menjalin kemitraan dengan para pemangku kepentingan, mendapatkan reputasi yang diakui pemerintah, meningkatkan kesejahteraan dan martabat, pembagian manfaat yang adil dan transparan serta meningkatkan keterkaitan antara ekonomi lokal dan regional.

Sasaran lainnya menjunjung tinggi budaya dan tradisi lokal, berkontribusi terhadap konservasi sumber daya alam, meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung dengan memperkuat interaksi berkualitas antara tuan rumah dan tamu dan memiliki kemandirian finansial.

Profil setiap desa wisata ditelaah mulai dari 3 A yaitu akses, amenitas dan atraksi. Setelah itu potensi unggulannya apa, daya tarik dan program yang selama ini sudah dilakukan apa saja, fasilitas penunjangnya apa saja.

” Setiap pelayanan yang diberikan kepada wisatawan itu ada panduannya. Misalnya dalam hal tata kelola yang efektif dan transparan saja ada sedikitnya 7 indikator yang harus dipenuhi,” kata Yani.

Mengenai kelembagaan sedikitnya ada dua indikator, kegiatan konservasi untuk memperbaiki lingkungan ada 7 indikator, interaksi tamu dan masyarakat lokal ada 8 indikator dan keberlanjutan produk pariwisata berbasis masyarakat  parameternya ada 5 indikator yang harus dipenuhi.

“Pengelola desa wisata sedikitnya harus memenuhi 23 kriteria dan 171 indikator agar pelayannya berstandar internasional minimal standar yang berlaku di negara-negara ASEAN ” jelas Yani.

Pembangunan desa secara terpadu untuk mendorong transformasi  sosial, budaya dan ekonomi jadi strateginya adalah meningkatkan daya saing destinasi dan industri pariwisatanya di dukung penguatan rantai pasok dan ekosistem kepariwisataan, jelasnya.

Nantinya, kata Yani Adriani, 12 desa wisata DSP Borobudur ini punya identitas kuat, berdaya saing tinggi dan berstandar internasional sehingga berkontribusi positif bagi desa disekitarnya.

“Untuk mewujudkannya tergantung kesiapan masyarakat setempat, kesiapan produk, dukungan desa dan daerahnya,” ujarnya menutup uraiannya.

Wisata Alam Jadi Andalan Desa Kaligono Dukung DSP Borobudur

this formate

Taman Sidandang, salah satu daya tarik Desa wisata Kaligono, Purworejo. ( Foto-foto: Sarwoko)

Direktorat Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional I Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Parekraf mengundang bisniswisata. co.id untuk menghadiri Rapat Kordinasi Desa Wisata Super Prioritas Borobudur dan sosialisasi CHSE di Desa Wisata .Berikut tulisan ke sembilan

MUNGKID, Kab. Magelang, bisniswisata.co.id: Sosialisasi program Cleanliness, Healthy, Safety & Environment Sustainability (CHSE) Kemenparekraf di Kabupaten Magelang mendapat sambutan warga Desa Wisata Karangrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (23/9/2020) lalu. 

Diantara kepala desa yang menerima bantuan peralatan kebersihan dan kesehatan adalah Suroto, Kepala Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jateng.Dia nampak paling antusias menerima bantuan

Untuk mendorong wisatawan memiliki kepercayaan tinggi dan mau mengunjungi desa-desa wisata di Destinasi Super Prioritas ( DSP) Borobudur, Kemenparekraf memiliki pilot project pengembangan 50 desa wisata di 5 Destinasi Super Prioritas.  

Pengembangan desa wisata di DSP Borobudur dalam tahun anggaran 2020 ini meliputi 12 Desa Wisata  (termasuk Kaligono)  dalam dua provinsi yaitu Jawa Tengah dan DI. Yogyakarta yang mencakup 6 kabupaten.

“Saya antusias sekali dengan program CHSE karena masyarakat desa kami sudah mendapatkan manfaat setelah desa kami menjadi desa wisata. Sekarang dengan terjadi pandemi global kami kehilangan tamu, namun warga masih bisa hidup dari hasil tani,” ujarnya di sela-sela kegiatan.

Suroto mengaku kawal desa Kaligono menjadi desa wisata karena sejak tahun 2007 sudah menjadi kepala desa dan sekarang masuk ke periode yang ketiga kalinya dimana satu periode masa baktinya selama enam tahun. Praktis 17 tahun terakhir dia memimpin 1400 KK atau 4000 warga yang rata-rata adalah petani duren lokal.

 ” Sejak menjadi desa wisata, warga senang karena bisa menjual hasil pertanian dan menentukan harga sendiri. Warga bahkan setiap tahun menggelar Festival Durian dengan harga mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 100.000/ buah” ungkapnya.

Sebelum menjadi desa wisata, warga harus menjual hasil tani keluar daerah, tapi sekarang pembeli datang sendiri terutama saat panen buah durian itu. Selain bisa hidup lebih sejahtera, pariwisata mengentaskan kemiskinan dan menambah peningkatan ekonomi.

Apalagi potensi wisata alamnya yang indah membuat wisatawan betah sehingga warga desa kini menyediakan homestay dengan tarif rata-rata Rp 70.000/ per orang, per malam sudah termasuk sarapan pagi nasi goreng.

“Wisatawan domestik yang paling banyak justru dari Yogya yang ingin menikmati wisata alam. Nanun saat ada festival durian atau grebeg durian alias lomba makan durian peserta datang dari Jakarta, Semarang dan kota-kota yang lain. Bahkan ada yang dari Sumatera,” imbuh Agung Mulyanto, pengurus Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis) Kaligono.

Suroto yang hadir bersama pengurus Pokdarwis lainnya seperti Agung Mulyanto, Sarwoko dan Kelik mengatakan desa wisatanya juga kerap disebut Dewi Kano. Dewi sendiri singkatan desa wisata sedangkan kano adalah salah satu aktivitas yang dapat dilakukan untuk menyusuri Kali Gesing dengan perahu kano selain program Live In. 

Festival duren, grebeg duren adalah kegiatan penunjang untuk mendukung keberadaan obyek-obyek wisata yang dikelola Pokdarwis di Dusun Jeketro dan Kedungrante yakni Curug Siklotok dan Taman Sidandang, Curug Silangit yang ramai dikunjungi wisatawan maupun wisata religi ke makam Mbah Bei.

Desa Wisata Kaligono (Dewi Kano) adalah salah satu desa wisata di sebelah barat pegunungan Menoreh yang juga menyimpan potensi pertanian lainnya seperti sentra buah manggis dan kambing peranakan etawa (PE). 

                                  Suroto, Kepala Desa Kaligono

Pergeseran struktur ekonomi dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa selama 10 tahun terakhir mempengaruhi PDRB kabupaten. Kecamatan Kaligesing ditetapkan sebagai kawasan pengembangan agropolitan sesuai dengan RTRW Kabupaten dan isu strategis yang berkembang merupakan sebuah peluang untuk mengembangkan agrowisata.

Agung Mulyanto mengaku proses menjadi desa wisata memang tidak gampang dan dari 10 pemuda perintis Pokdarwis, tinggal beberapa orang yang aktif seperti Sarwoko & Kelik karena selain kerja ibadah tanpa gaji, juga harus memiliki keyakinan dan kecintaan yang tinggi dengan dunia pariwisata.

“Harus ada pendampingan yang konsisten dari Pemprov maupun Pemerintah Pusat sehingga desa wisata bisa naik kelas. Pembinaan juga harus terus naik kelas, ibaratnya kalau sudah 10 tahun dibina materinya jangan kelas PAUD terus jadi ilmu kami bisa bertambah,” kata Agung.

Pelan tapi pasti, didukung kepala desa dan warga yang mulai sadar wisata,  akhirnya melihat aliran sungai di Dusun Kedungrante yang tak pernah kering oleh  warga dimanfaatkan potensi wisata air di desanya dengan perahu kano dan aktivitas air lainnya.

Keberadaan kedung cantik dengan aliran air bertingkat amat memikat. Orang yang melewati kawasan itu pasti akan melirik dan tertarik merasakan segarnya air pegunungan asli.

Ternyata mimpi memiliki objek wisata itu tidak mudah. Warga masih harus membabat kebun yang dikelola untuk dijadikan fasilitas pendukung seperti jalan, gardu istirahat dan sebagainya..

Tidak patah semangat dan setengah hati dalam melangkah, warga juga bekerjasama membuat lapangan terbuka dan jembatan wisata berikut ikon objek wisata yang selanjutnya dinamakan Taman Sidandang.

 “Kami tidak mau jauh dari nama yang sudah ada di sini. Bentuk dandang juga kita buat untuk semakin mengenalkan keberadaan kami,” katanya.

Tidak sampai setengah tahun, warga berani mendeklarasikan kemunculan Taman Wisata Sidandang sebagai salah satu objek tujuan wisata di Purworejo. Peresmian dilakukan Juni 2014 sekitar dua tahun setelah Desa Wisata Kaligono terbentuk di tahun 2012.

Wisata alam menjadi andalan Desa Wisata Kaligono

Di era pandemi global saat ini, obyek wisata alam dan terbuka banyak menjadi pilihan dan di Kaligono ini ada Curug Siklothok, air terjun yang memiliki medan alami dengan batu-batu kerikil serta dikelililingi deretan pepohonan hijau dengan lanskap perbukitan.

Menyimpan keindahan alam yang masih sangat asri dengan kesegaran air yang mengalir dari tiga mata air yang bertemu menjadi satu berasal dari mata air gunung Irengan, mata air gunung Jepati dan mata air Katerban.

Selain Curug Siklothok,  di sekitar tempat tersebut terdapat pula Curug Silangit yang cukup tinggi hingga dinamakan “Silangit.”. Obyek-obyek ini memang paling disukai netizen karena menjadi spot foto yang Instagramable pula. 

Daya tarik wisata alam lainnya adalah Gunung Condong, pesona keindahan alam bak permadani hijau di Bumi Kaligesing. Dari ketinggian gunung yang juga disebut Bukit Wukir Kencana ini terlihat wilayah Purworejo.

Apabila mendaki gunung Condong pada pagi hari atau sore hari, laut selatan pun dapat terlihat. Pemandangan indah ketika matahari terbit dan terbenam juga dapat dinikmati dari atas gunung Condong

“Satu lagi daya tarik lainnya adalah makam Mbah Ngabei. Anak milenial mungkin tidak suka dengan wisata ke makam namun sejarahnya sungguh menarik karena dikenal juga dengan nama Mbah Banten,  tokoh agama yang berasal dari Banten, ” jelas Kades Suroto.

Diperkirakan Mbah Ngabei hidup pada zaman Pangeran Diponegoro sekitar abad ke 17. Jika dirunut dari silsilah yang ada maka nama mbah yang aslinya adalah Ngabei Sayid Syarifuddin merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati, tambahnya.

Meski Kades Suroto, Sarwoko dan kawan-kawan hanya bercerita dan mengajak wisata virtual melalui foto-foto indah di handphone dan tayangan YouTube, alhasil Desa Kaligono memang memikat dengan segala aktivitas. Yuk jangan ragu berkunjung dengan mengikuti protokol kesehatan.

” Saya tunggu kedatangannya, nikmati langsung alam pedesaan kami,” kata Suroto yang wanti-wanti agar saya cepat berkunjung karena masa baktinya sebagai Kepala Desa berakhir tahun depan. 

Suroto yang sudah pernah berjumpa saya saat mengikuti lomba desa wisata tingkat nasional  di Bali beberapa tahun lalu rupanya ingin menjadi tuan rumah yang baik karena 10 tahun terakhir saya memang menjadi juri desa wisata. Oke bos…

 

Berkemah ala Indian di Glamping Forest Garden Batu Layang

this formate

Tenda-tenda putih berbentuk kerucut ala Indian (foto: tripcanvas)

BOGOR, bisniswisata.co.id: Di era pandemi COVID-19, Wisata alam menjadi preferensi banyak pelancong. Para ahli pun sepakat wisata luar ruangan (outdoor) relatif lebih aman dibandingkan dengan segala aktivitas di dalam ruangan.

Salah satu kegiatan wisata yang disarankan adalah berkemah. Jika dulu berkemah terdengar merepotkan karena paling tidak Anda harus menyiapkan tenda yang cocok dengan kebutuhan.

Kini, kerepotan itu telah diambil alih para pengelola tempat-tempat wisata yang menawarkan konsep glamping alias glamorous camping. Semakin banyak objek wisata lokal yang menawarkan sensasi liburan ala glamping.

Salah satunya ada di Bogor, namanya Forest Garden Batu Layang. Dari Jakarta, jaraknya hanya dua jam berkendaraan. Lokasi persisnya ada di Megamendung, Cisarua.

Mengusung konsep ala apache camp, pengelola tempat wisata ini membangun tenda-tenda yang didominasi warna putih dan berbentuk kerucut. Tipenya pun beragam. Anda tinggal memilih sesuai budget yang ada.

Dilansir dari situs Airbnb yang menjadi partner mereka, tarif menginap di sini dipatok sebesar US$122 atau sekitar Rp 1,8 juta per malam. Harga tersebut sudah termasuk sewa tenda dengan 1 tempat tidur berkapasitas 2 orang.

Fasilitas lain yang diperoleh adalah  1 kamar mandi, sarapan untuk 2 orang, dapur, kolam renang, parkir, pemanas ruangan, handuk, seprai, sabun, tisu toilet, sampo , air panas, coffee maker, kulkas, dan juga perlatan p3K.

Sebenarnya ada juga tenda tipe royal suite yang dapat menampung 1 keluarga. Untuk tarifnya, Anda dapat langsung menghubugi mereka. Sedangkan pilihan lain yang lebih ekonomis adalah tipe nature camp dengan harga Rp 350 ribu /orang/hari dengan 3 kali makan.

Menurut sejumlah testimoni yang diunggah di media sosial, lokasi berkemah Forest Garden Batu Layang ini cocok untuk melepas penat karena udaranya masih bersih dan segar. Itu karena ia dikelilingi hutan lindung. 

Seorang pengunjung mengatakan dirnya masih dapat mendengar suara alam dan gemericik sungai mengalir. Itu diakuinya membantu mengistirahatkan pikiran.

Apalagi makanan serta snack yang disiapkan pengelola seolah tak pernah kekurangan. Pengunjung pun diizinkan membawa stok makanan sendiri sesuai kebutuhan dan selera. Pada malam hari akan ada api unggun dan jajanan larut malam.

Sementara itu di kitaran camping ground, pengunjung juga dapat menikmati suasana hutan yang alami, aliran Sungai Cimandala yang jernih, bahkan air terjun Curug Kembar.

Masyarakat setempat pun sudah mulai kreatif dengan menawarkan beragam aktivitas luar ruang seperti rafting Ciliwung, fun offroad, paintball, outbond dan lainnya.

 

 

Kampanye WTTC Soroti Manfaat Sosial dari Travel & Tourism

this formate

LONDON, bisniswisata.co.id: Kampanye media sosial besar diluncurkan kemarin bertepatan dengan Hari Pariwisata Dunia untuk meningkatkan kesadaran akan manfaat sosial yang luas dari perjalanan oleh World Travel & Tourism Council (WTTC).

Inisiatif baru ini meminta para pelancong untuk memikirkan tentang dampak sosial positif yang ditimbulkan perjalanan terhadap orang, tempat, dan komunitas yang bergantung pada sektor travel & tourism (perjalanan & pariwisata ) untuk mata pencaharian mereka.

Ini juga mendorong orang-orang di seluruh dunia untuk berbagi cerita tentang bagaimana pariwisata telah membuat perbedaan dan mengubah hidup mereka, ungkap siaran pers WTTC.

Garis besar kampanye ‘Travel the world. Make a difference ‘, terinspirasi oleh manfaat sosial ekonomi dan budaya yang lebih positif dan dapat dihasilkan oleh setiap perjalanan.

Video yang dibuat khusus untuk membagikan pesan akan online di seluruh platform media sosial, menanyakan wisatawan tentang perjalanan mereka sendiri, yang berdampak besar pada kehidupan mereka dan untuk membagikan cerita mereka menggunakan tagar #togetherintravel dan #aworldofdifference.

Itu terjadi setelah upaya WTTC untuk secara bertanggung jawab menghidupkan kembali keinginan berkelana para pelancong melalui kampanye itu yang sukses awal tahun ini, terlepas dari banyak tantangan global yang ditimbulkan oleh pandemi COVID-19.

“Perjalanan memberi kami kenangan yang bertahan seumur hidup dan pengalaman paling menakjubkan untuk dibagikan. Tapi ini baru setengah dari cerita,” kata Gloria Guevara, Presiden & CEO WTTC.

“Travel & tourism memiliki manfaat yang sangat positif bagi dunia, jauh melampaui kesenangan langsung yang dibawanya bagi mereka yang mampu menjelajahi dan menemukan orang, tempat, dan pengalaman menakjubkan bagi diri mereka sendiri,” ungkapnya.

“Seperti yang ditunjukkan oleh kampanye terbaru kami, dampak sosial dari travel & tourism dapat mengubah kehidupan semua orang yang bergantung pada sektor ini, ”

Pariwisata terbukti mengentaskan kemiskinan, mengurangi ketidaksetaraan, melindungi satwa liar,  melestarikan budaya dan komunitas di seluruh dunia. Ini memainkan peran penting dalam mencapai tujuan pembangunan yang lebih luas.

“Kami ingin meningkatkan kesadaran di antara wisatawan tentang manfaat ekstra yang luar biasa dari perjalanan, sehingga mereka lebih sadar bahwa tindakan dan pengeluaran mereka lebih dari yang mereka pikirkan.

Serta seberapa positif dampak yang dapat ditimbulkan setiap perjalanan. Meskipun kami memahami sepenuhnya bahwa banyak orang yang rentan tidak dapat melakukan perjalanan saat ini, yang lain dapat dan akan segera setelah mereka dapat melakukannya, kata Gloria.

“Dengan tekanan besar yang dihadapi oleh sektor ini secara global karena pembatasan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, sekarang lebih penting dari sebelumnya untuk mengingatkan semua orang, bagaimana bepergian dapat membuat perbedaan – dan untuk – Dunia.”

Kampanye ‘Together in Travel’ WTTC yang sangat sukses diluncurkan pada bulan April tahun ini, sama seperti negara-negara yang telah memberlakukan pembatasan perjalanan global yang meluas. Ratusan ribu orang di seluruh dunia berbagi cerita mereka, yang menghasilkan lebih dari 80 juta tayangan.

Sejak merebaknya pandemi virus Corona, WTTC telah memimpin kampanye untuk berjuang menyelamatkan dan melindungi sektor travel & tourism.

Memerangi kebijakan yang akan mengakibatkan hilangnya 197 juta pekerjaan, jika ada hambatan untuk perjalanan global, seperti tabir nasihat anti-perjalanan dan karantina dan tindakan lsin yang tetap dilakukan.

Menurut penelitian terbaru WTTC, Perjalanan & Pariwisata berkontribusi pada 10,3% dari PDB Global, secara langsung bertanggung jawab untuk menghasilkan satu dari sepuluh pekerjaan dunia dan selama delapan tahun berturut-turut, telah melampaui pertumbuhan ekonomi global.

Perjalanan & Pariwisata adalah salah satu sektor terbesar di dunia, di mana sekitar 80 persen dari semua bisnis adalah usaha kecil dan menengah (UKM). Sebagai pendorong yang kuat untuk pembangunan sosial ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Sektor ini memainkan peran penting dalam mendorong kemakmuran, memberdayakan perempuan, pemuda dan kelompok masyarakat lainnya.

Travel & tourism juga salah satu sektor yang paling beragam, mempekerjakan orang dari semua latar belakang sosial ekonomi tanpa memandang usia, jenis kelamin atau etnis, dan mencakup 53% perempuan dan 30% pemuda.

Penelitian WTTC menunjukkan bahwa di seluruh kelompok negara G20, wanita menempati hampir setengah dari semua pekerjaan di sektor ini dan proporsi yang tinggi dari pekerjaan untuk kaum muda.

Pencapaian Ini tertinggi di Kanada, AS, dan Inggris di mana kaum muda menyumbang hampir sepertiga (30%) dari pekerjaan di sektor ini.

Pendapatan yang dihasilkan oleh Travel & Tourism membantu meningkatkan pendidikan, perumahan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Ia juga membantu membayar proyek infrastruktur penting, seperti jalan raya, rel kereta api dan udara, serta layanan yang meningkatkan kualitas hidup penduduk.

Bergabunglah dan bagikan kisah Anda menggunakan hashtag #togetherintravel dan #aworldofdifference

Travel the world. Make a diifference‘ diluncurkan pada Hari Pariwisata Dunia (27 Sept), dan videonya tersedia di semua saluran media sosial termasuk saluran YouTube WTTC.

Fasilitas Hotel Isolasi untuk OTG Covid-19 Mulai Digunakan

this formate

Menparekraf Whisnutama mengecek langsung kesiapan kamar isolasi hotel bagi OTG. ( Foto: Kemenparekraf) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Fasilitas hotel isolasi untuk pasien terkonfirmasi  atau orang tanpa gejala ( OTG) dan tenaga kesehatan yang disediakan Kemenparekraf/Baparekraf melalui program Reaktivasi Industri Perhotelan mulai digunakan dalam upaya menekan penyebaran COVID-19.

“Bersama Kementerian Kesehatan dengan intensif Kemenparekraf mempersiapkan lokasi isolasi bagi pasien kasus konfirmasi tanpa gejala, agar tidak melakukan isolasi mandiri guna menghindari penularan di lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar,” ungkap Menparekraf Whisnutama Kusubandio, hari ini.

Program ini juga menyiapkan dukungan penyediaan jasa akomodasi bagi tenaga kesehatan. Seiring dengan proses yang terus berjalan, mulai 26 September 2020 program ini  sudah dimulai di Hotel Ibis Styles Mangga Dua Square dan U Stay Hotel Mangga Besar, tambahnya.

Dalam program tersebut, Kemenparekraf/Baparekraf memastikan industri hotel telah siap menjalankan protokol kesehatan serta Protokol Desinfeksi pada area properti hotel sesuai dengan KMK No. HK.01.07/MENKES/413/2020

Yaitu tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 & KMK Nomor HK.01.07/MENKES/382/2020 tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum Dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019.

Tim kesehatan dari Kementerian Kesehatan dan Tim Pengamanan dari TNI juga sudah bersiap menjaga 24 jam di hotel-hotel terkait.

“Sampai dengan 28 September 2020, jumlah pasien yang telah berada di Hotel Ibis Styles Mangga Dua Square sebanyak 119 orang sedangkan di U Stay Hotel Mangga Besar sebanyak 94 orang,” kata Wishnutama.

Untuk pelaksanaan program ini, Kemenparekraf menyiapkan anggaran sebesar Rp100 miliar hingga Desember 2020 sebagai dukungan layanan akomodasi berupa kamar dan makan tiga kali sehari.

Kasubdit Kekarantinaan Kesehatan, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, dr. Benget Saragih, menjelaskan Kementerian Kesehatan telah memberikan rekomendasi hotel-hotel yang lolos verifikasi dan memenuhi persyaratan. Hotel-hotel tersebut tersebar di wilayah DKI Jakarta.

Tim dari Ditjen P2P Kemenkes telah melakukan verifikasi terhadap hotel-hotel yang akan dijadikan tempat isolasi bagi kasus konfirmasi COVID-19 tanpa gejala maupun gejala ringan sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku

“Dari daftar 30 hotel di wilayah DKI Jakarta yang sudah direkomendasikan oleh PHRI, ada 17 hotel yang sudah memenuhi syarat,” terang dr. Benget.

Adapun persyaratan itu a.l  adalah memiliki ruang penerimaan pasien untuk melakukan triage; ada tim yang sudah dilatih desinfeksi; tersedia mini hospital; memiliki alat pelindung yang standar bagi petugas hotel; makanan dan minuman diantar ke depan kamar pasien oleh petugas; serta tersedia jalur evakuasi jika ada pasien yang kondisinya memburuk.

Selain itu juga tersedia akomodasi bagi petugas kesehatan dan pengamanan; tersedia tempat penyimpanan sementara limbah medis dan infeksius sebelum diangkut ke tempat pengolahan khusus limbah medis.

Syarat lainnya  petugas hotel harus sehat, tidak memiliki penyakit penyerta, dan telah melakukan pemeriksaan PCR dengan hasil negatif COVID-19.

Sementara, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf Nia Niscaya, mengatakan, sambil terus melihat perkembangan yang ada di lapangan, kedepannya Kemenparekraf akan menambah lagi lokasi-lokasi akomodasi baru.

” Untuk masyarakat berstatus pasien terkonfirmasi tanpa gejala kami merujuk ke daftar 17 hotel yang sudah diverifikasi Kemenkes. Untuk pasien OTG dapat menghubungi hotline terlebih dahulu yang telah disediakan di masing-masing hotel,” kata Nia Niscaya.

Pasien OTG harus membawa surat rekomendasi dari Puskesmas atau dokter instansi atau dokter keluarga, dan hasil PCR/SWAB test yang menyatakan positif COVID-19 serta persyaratan scan Data Diri (KTP/SIM).

“Setelah disetujui, pasien dapat menjalankan isolasi sesuai ketentuan yang ditetapkan,” kata Nia Niscaya.

Untuk Ibis Style Mangga Dua Square yang berlokasi di Jakarta Utara bisa menghubungi hotline 021-29578900 dan untuk U Stay Hotel Mangga Besar yang berlokasi di Jakarta Pusat dapat menghubungi hotline 021-6000500.

Presiden Joko Widodo sebelumnya mengatakan akan terus menambah tempat isolasi bagi pasien COVID-19 tanpa gejala ataupun yang bergejala ringan dalam rangka pengendalian COVID-19.

“Pemerintah menyiapkan pusat-pusat karantina untuk pasien dengan gejala ringan agar tidak melakukan isolasi mandiri di rumah, ini juga penting, yang berpotensi menularkan kepada keluarga,” kata Presiden Joko Widodo.

 

PWI: Tema Hari Pariwisata Dunia Sesuai Visi Presiden RI di RPJMN 2020-2024

this formate

Ketua PWI Pusat Atal Depari & istri, Indah Kirana di Desa Alalak, berjarak sekitar 15 menit perjalanan darat dari Kota Banjarmasin. ( Foto: Dok. PWI)

JAKARTA, bisniswisata.co.id : Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia ( PWI), Atal S Depari meminta kalangan Pentahelix untuk fokus pada pengembangan desa wisata sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)  2020-2024.

“Fokus pada pengembangan desa wisata adalah penjabaran dari visi, misi dan program Presiden Joko Widodo yang penyusunannya berpedoman pada RPJPN 2020-2024,” ujarnya, hari ini

Intinya memuat strategi pembangunan Nasional, kebijakan umum, program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan,  tambahnya.

Untuk itu pentahelix yang terdiri dari unsur pemerintah, masyarakat atau komunitas, akademisi, pengusaha, dan media bersatu membangun kebersamaan dalam pembangunan pariwisata di tanah air, jelas Atal.

Hari Pariwisata Dunia yang jatuh setiap 27 September tahun ini juga memberikan perhatian pada desa wisata dengan tema Tourism and Rural Development.

” Visi pengembangan pariwisata dari Bapak Presiden RI sudah in line dengan visi  Badan Pariwisata Dunia (UNWTO), di bawah PBB. Oleh karena itu  mari membantu pariwisata pedesaan untuk ketahanan ekonomi rakyat,” kata Atal.

Kolaborasi yang baik dalam pengembangan  desa wisata akan meningkatkan  dampak positif pada penduduk lokal sesuai harapan Presiden Jokowi untuk menggerakan ekonomi pedesaan, tambahnya.

Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat, Hilda Ansariah Sabri mengatakan di Indonesia sedikitnya ada 1700 desa wisata dimana 50% masih terpusat di Jawa dan Bali. Namun dengan adanya 10 Destinasi Prioritas maka penyebaran desa wisata akan merata.

10 destinasi yang ditargetkan jadi ‘Bali Baru ‘ itu dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)  2020-2024 akan dikuatkan dengan desa-desa wisata sekitarnya,” kata Hilda.

Ke 10 destinasi wisata itu adalah  Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Kelayang di Kepulauan Bangka Belitung, Tanjung Lesung di Banten, Kepulauan Seribu di Jakarta, Borobudur di Jawa Tengah, Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, dan Morotai di Maluku Utara.

Pariwisata membantu masyarakat pedesaan mempertahankan warisan alam dan budaya mereka yang unik, mendukung proyek konservasi, termasuk melindungi spesies yang terancam punah, tradisi atau rasa yang hilang.

Oleh karena itu peranan Pentahelix terutama swasta untuk mengembangkan desa-desa wisata dimana usaha mereka berada sebagai bagian dari Corporate Social Responsibility ( CSR) sangat dibutuhkan.

” Departemen Pariwisata PWI Pusat periode 2018-2023 dalam program kerja memang fokus pada pengembangan desa-desa wisata dan menggandeng para stakeholder serta Ketua PWI di daerah menjadi motor penggerak perekonomian desa,” ungkapnya.

.

Survei: 37 Persen Responden Tak Setuju Liburan Bareng Keluarga Saat COVID-19

this formate

Kumpul keluarga dapat dilakukan jika bisa disiplin menerapkan aturan jarak sosial (foto: travel daily news)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Hasil survei Stannah Innitiatives di Amerika Serikat (AS) mengenai penerapapan aturan jarak sosial termasuk kumpul-kumpul keluarga, menunjukkan sebagian menyatakan menolak liburan bersama keluarga di tengah Pandemi COVID-19. 

Survei yang dilakukan terhadap 1.000 responden ini antara lain bertujuan untuk mencari tahu persepsi masyarakat terhadap aturan jarak sosial dan bagaimana mereka menerapkannya.

Salah satu aspek yang ditelaah dalam survei ini adalah persepsi masyarakat tentang liburan bersama keluarga di era pandemi. Ternyata, kebanyakan responden menyatakan masih tetap mempertimbangkan meluangkan waktu untuk liburan, seperti dilansir traveldaily news.

Ada 31% responden yang menyebut telah membahasa rencana tersebut, sementara 37% lainnya memutuskan tidak akan melakukan pertemuan keluarga secara langsung.

Pandemi COVID-19 telah mengubah perilaku orang. Kini, masyarakat dituntut untuk beradaptasi dengan keadaan normal baru. Virus yang penularannya bergerak secara eksponensial ini harus diputus dengan cara antara lain menerapkan aturan jarak sosial. 

Untuk itu diperlukan tindakan kolektif dalam masyarakat. Pakar kesehatan mendesak agar semua warga AS mengambil bagian dalam tindakan menjaga jarak sosial.

Sayangnya, tingkat disiplin warga dalam menerapkan aturan ini berbeda-beda. Itu antara lain yang menyebabkan virus corona masih tak mau pergi.

Kasus baru bermunculan di sejumlah negara sehingga menimbulkan banyak ketidakpastian. Perselisihan antar teman atau sesama anggota keluarga yang berbeda persepsi tentang bagaimana menyikapi keadaan pun muncul di berbagai ruang termasuk media sosial.

Stannah telah mensurvei sekitar 1.000 orang tentang bagaimana mereka menerapkan aturan jarak sosial dan melihat bagaimana orang lain melakukannya.

Temuan survei mengungkapkan ada kekhawatiran yang luas di kalangan masyarakat karena sebagian orang tidak disiplin.

Sebagian bahkan masih berdebat perlu tidaknya aturan tersebut, serta munculnya ketidakpastian di balik rekomendasi para ahli ini. Berikut ini sejumlah pointers hasil survei Stannah:

  • 37 persen responden mengatakan tidak akan kumpul dengan keluarga saat liburan. Mereka khawatir tertular virus corona
  • 40 persen responden mengaku merasa lebih nyaman jika semua anggota keluarga memakai masker saat kumpul-kumpul di waktu liburan
  • Ada 42 persen responden dari kalangan kaum milenial atau dikenal sebagai Generasi Y, yakni mereka yang lahir pada awal 19801 hingga awal 2000-an, yang mengatakan lebih menginginkan seluruh anggota keluarga memakai masker saat mereka berkumpul. Sementara 41 persen lainnya menyatakan akan menjalani tes sebelum kumpul-kumpul saat liburan. 
  • Sementara itu 30 persen responden dari generasi baby boomers, yakni mereka yang lahir pasca Perang Dunia II (antara 1946-1964), mengaku merasa lebih nyaman jika pertemuan keluarga dilakukan secara virtual
  • 32 persen responden mengatakan mendapat tekanan dari keluarga saat hendak bersosialisasi atau bepergian; tekanan terbanyak datang dari orang tua (62%) dan anak-anak (52%)
  • Satu dari empat responden mengatakan mereka merasa tidak nyaman untuk libur bareng keluarga tahun ini
  • 29 persen responden bahkan mengatakan belum mempertimbangkan sama sekali rencana liburan tahun ini

Secara umum survei ini mencerminkan ada polarisasi sikap terhadap aturan jarak sosial. Sesungguhnya para ahli telah meyakini bahwa penyebaran virus corona dapat diatasi dengan melakukan tiga hal sederhana, yakni menjaga jarak sosial, memakai masker, dan rajin mencuci tangan.

Banyak negara yang ketat menerapkan aturan tersebut terbukti mampu melandaikan jumlah kasus baru yang terinfeksi virus yang menyerang saluran pernafasan ini. 

 

Hari Pariwisata Dunia 2020 ,Tourism and Rural Development

this formate

 

 

 

SPANYOL, bisniswisata.co.id: Sekjen Badan Pariwisata Dunia ( UNWTO), Zurab Pololikashvili memberikan pesan khusus memperingati Hari Pariwisara Dunia tiap 27 September. Berikut pesannya kepada semua negara anggota. Berikut pesannya ;

Selama 40 tahun terakhir, Hari Pariwisata Dunia telah menyoroti kekuatan pariwisata untuk menyentuh hampir setiap bagian dari masyarakat kita.  Saat ini, pesan ini lebih penting dari sebelumnya.

Tema Hari Pariwisata Dunia 2020 – Pariwisata dan Pembangunan Pedesaan – sangat relevan saat kita menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pariwisata telah terbukti menjadi penyambung hidup bagi banyak komunitas pedesaan.  Namun, kekuatan sebenarnya masih harus dikerahkan sepenuhnya. 

Sektor ini tidak hanya menjadi sumber utama lapangan kerja, terutama bagi perempuan dan pemuda.  Ini juga memberikan peluang untuk kohesi teritorial dan inklusi sosio-ekonomi untuk wilayah yang paling rentan.

Pariwisata membantu masyarakat pedesaan mempertahankan warisan alam dan budaya mereka yang unik, mendukung proyek konservasi, termasuk melindungi spesies yang terancam punah, tradisi atau rasa yang hilang.

Pandemi COVID-19 telah membuat dunia terhenti.  Sektor kita termasuk yang paling terpukul dengan jutaan pekerjaan berisiko.

Saat kita bekerja sama untuk memulai kembali pariwisata, kita harus memenuhi tanggung jawab kita untuk memastikan bahwa manfaat pariwisata dibagikan oleh semua.

 Krisis ini merupakan kesempatan untuk memikirkan kembali sektor pariwisata dan kontribusinya bagi manusia dan planet;  sebuah kesempatan untuk membangun kembali dengan lebih baik menuju pariwisata yang lebih berkelanjutan, inklusif dan tangguh.

 Menempatkan pembangunan pedesaan di jantung kebijakan pariwisata melalui pendidikan, investasi, inovasi dan teknologi dapat mengubah mata pencaharian jutaan orang, melestarikan lingkungan dan budaya kita.

Sebagai sektor lintas sektor utama, pariwisata berkontribusi secara langsung atau tidak langsung pada semua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

 Memanfaatkan pariwisata sebagai pendorong pembangunan pedesaan akan membuat komunitas global tetap pada jalurnya untuk mencapai Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan, rencana ambisius kita untuk manusia dan planet.

Saat kita menandai 75 tahun Perserikatan Bangsa-Bangsa, inilah saatnya untuk benar-benar memenuhi potensi besar pariwisata.

Termasuk kemampuannya yang unik untuk mendorong pembangunan bagi masyarakat pedesaan, mendukung janji kita untuk tidak meninggalkan siapa pun.

Pesan Resmi Sekjen PBB Peringati Hari Pariwisata Dunia

this formate

SPANYOL, bisniswisata.co.id: Dalam 40 tahun sejak Hari Pariwisata Dunia pertama, banyak yang telah berubah.  Permintaan perjalanan melonjak.  Dunia telah terbuka, memungkinkan lebih banyak orang menjelajahi dunia dan budayanya yang berbeda dari sebelumnya.

Saat ini, pariwisata secara tegas ditetapkan dalam Agenda PBB 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan sebagai mesin untuk memajukan kemakmuran, melindungi planet kita dan meletakkan dasar untuk perdamaian dan pengertian di antara masyarakat.

Jutaan orang di seluruh dunia mengandalkan pariwisata untuk mendapatkan penghasilan, terutama wanita dan anak-anak muda.  Orang-orang telah menemukan pekerjaan yang layak dan kesempatan untuk hidup yang lebih baik berkat potensi unik pariwisata.

Pariwisata sangat menderita selama pandemi COVID-19.  Sekitar 120 juta pekerjaan terancam.  Dampaknya dapat menyebabkan hilangnya antara 1,5 dan 2,8 persen dari PDB global.  

Hal ini terutama akan mempengaruhi negara-negara yang paling rentan, termasuk negara-negara Pulau Kecil, dan banyak negara di Afrika, di mana pariwisata dapat mewakili antara 30 dan 80 persen ekspor.

Saat sektor pariwisata berusaha untuk pulih dari krisis yang parah ini, memulai kembali pariwisata dengan aman sangat penting, tidak terkecuali untuk pembangunan pedesaan yang menjadi fokus dari Hari Pariwisata Dunia tahun ini. 

“Kami memiliki peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengubah hubungan sektor pariwisata dengan manusia, alam, iklim, dan ekonomi.  Kita harus memastikan distribusi manfaat yang adil dan memajukan transisi menuju ekonomi pariwisata yang netral karbon dan tangguh,” kata Antonio Gueterres.

Selain memberikan peluang bagi banyak orang, pariwisata dapat memainkan peran penting dalam melestarikan budaya unik dan bersama kita serta melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem yang menopang kita.

 Di tahun yang paling menantang ini, mari kita fokus pada pentingnya pariwisata bagi orang-orang yang tinggal di daerah pedesaan, sehingga kami dapat memenuhi janji Tujuan Pembangunan Berkelanjutan untuk tidak meninggalkan siapa pun.