Survei: 37 Persen Responden Tak Setuju Liburan Bareng Keluarga Saat COVID-19

0
14

Kumpul keluarga dapat dilakukan jika bisa disiplin menerapkan aturan jarak sosial (foto: travel daily news)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Hasil survei Stannah Innitiatives di Amerika Serikat (AS) mengenai penerapapan aturan jarak sosial termasuk kumpul-kumpul keluarga, menunjukkan sebagian menyatakan menolak liburan bersama keluarga di tengah Pandemi COVID-19. 

Survei yang dilakukan terhadap 1.000 responden ini antara lain bertujuan untuk mencari tahu persepsi masyarakat terhadap aturan jarak sosial dan bagaimana mereka menerapkannya.

Salah satu aspek yang ditelaah dalam survei ini adalah persepsi masyarakat tentang liburan bersama keluarga di era pandemi. Ternyata, kebanyakan responden menyatakan masih tetap mempertimbangkan meluangkan waktu untuk liburan, seperti dilansir traveldaily news.

Ada 31% responden yang menyebut telah membahasa rencana tersebut, sementara 37% lainnya memutuskan tidak akan melakukan pertemuan keluarga secara langsung.

Pandemi COVID-19 telah mengubah perilaku orang. Kini, masyarakat dituntut untuk beradaptasi dengan keadaan normal baru. Virus yang penularannya bergerak secara eksponensial ini harus diputus dengan cara antara lain menerapkan aturan jarak sosial. 

Untuk itu diperlukan tindakan kolektif dalam masyarakat. Pakar kesehatan mendesak agar semua warga AS mengambil bagian dalam tindakan menjaga jarak sosial.

Sayangnya, tingkat disiplin warga dalam menerapkan aturan ini berbeda-beda. Itu antara lain yang menyebabkan virus corona masih tak mau pergi.

Kasus baru bermunculan di sejumlah negara sehingga menimbulkan banyak ketidakpastian. Perselisihan antar teman atau sesama anggota keluarga yang berbeda persepsi tentang bagaimana menyikapi keadaan pun muncul di berbagai ruang termasuk media sosial.

Stannah telah mensurvei sekitar 1.000 orang tentang bagaimana mereka menerapkan aturan jarak sosial dan melihat bagaimana orang lain melakukannya.

Temuan survei mengungkapkan ada kekhawatiran yang luas di kalangan masyarakat karena sebagian orang tidak disiplin.

Sebagian bahkan masih berdebat perlu tidaknya aturan tersebut, serta munculnya ketidakpastian di balik rekomendasi para ahli ini. Berikut ini sejumlah pointers hasil survei Stannah:

  • 37 persen responden mengatakan tidak akan kumpul dengan keluarga saat liburan. Mereka khawatir tertular virus corona
  • 40 persen responden mengaku merasa lebih nyaman jika semua anggota keluarga memakai masker saat kumpul-kumpul di waktu liburan
  • Ada 42 persen responden dari kalangan kaum milenial atau dikenal sebagai Generasi Y, yakni mereka yang lahir pada awal 19801 hingga awal 2000-an, yang mengatakan lebih menginginkan seluruh anggota keluarga memakai masker saat mereka berkumpul. Sementara 41 persen lainnya menyatakan akan menjalani tes sebelum kumpul-kumpul saat liburan. 
  • Sementara itu 30 persen responden dari generasi baby boomers, yakni mereka yang lahir pasca Perang Dunia II (antara 1946-1964), mengaku merasa lebih nyaman jika pertemuan keluarga dilakukan secara virtual
  • 32 persen responden mengatakan mendapat tekanan dari keluarga saat hendak bersosialisasi atau bepergian; tekanan terbanyak datang dari orang tua (62%) dan anak-anak (52%)
  • Satu dari empat responden mengatakan mereka merasa tidak nyaman untuk libur bareng keluarga tahun ini
  • 29 persen responden bahkan mengatakan belum mempertimbangkan sama sekali rencana liburan tahun ini

Secara umum survei ini mencerminkan ada polarisasi sikap terhadap aturan jarak sosial. Sesungguhnya para ahli telah meyakini bahwa penyebaran virus corona dapat diatasi dengan melakukan tiga hal sederhana, yakni menjaga jarak sosial, memakai masker, dan rajin mencuci tangan.

Banyak negara yang ketat menerapkan aturan tersebut terbukti mampu melandaikan jumlah kasus baru yang terinfeksi virus yang menyerang saluran pernafasan ini. 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.