Italia Bersiap Sambut Musim Panas

this formate

ROMA, bisniswisata.co.id: Menjelang musim panas, negara-negara mencari cara untuk menyelamatkan industri pariwisata setelah berbulan-bulan menderita. Bulan-bulan mendatang sangat penting terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada sektor ini – seperti Italia.

Dilansir dari Tourism-review.com, dalam konteks ini, tour operator di Semenanjung Apennine memiliki perasaan campur aduk sehubungan dengan musim yang akan datang. Perlu juga dicatat bahwa suasana hati sangat bervariasi di seluruh negeri dan sementara beberapa daerah optimis, yang lain agak lebih buruk.

EU Green Pass untuk Menghidupkan Kembali Pariwisata

Sedikit optimisme di beberapa daerah terutama terkait dengan inisiatif baru-baru ini yang diluncurkan oleh Uni Eropa, yang juga telah dikonfirmasi secara lebih rinci oleh Menteri Pariwisata negara itu, Massimo Garavaglia.

Dokumen khusus di tingkat Eropa ini akan memungkinkan liburan anti Covid sebanyak mungkin”. Garavaglia juga membenarkan bahwa niat para menteri pariwisata Eropa adalah untuk memulai apa yang disebut green pass sebelum musim panas.

Kartu ini memiliki banyak fungsi. Pertama, ini akan menunjukkan apakah seseorang divaksinasi COVID -19 atau tidak. Kedua, itu akan mengkonfirmasi apakah seseorang tertular virus di masa lalu dan ketiga, itu akan menunjukkan apakah seseorang telah dites negatif untuk COVID-19.

Tuscany dan Emilia-Romagna Optimis

Sementara itu, resor dan fasilitas pariwisata sedang mempersiapkan musim panas. Emilia-Romagna mengharapkan musim panas yang terjual habis tahun ini. Menurut anggota dewan pariwisata regional, “pada Juli dan Agustus, semuanya akan terjual habis baik di Riviera maupun di Apennines, terutama untuk turis domestik”.

Hal yang sama bisa dikatakan tentang Tuscany. Apalagi di Versilia, salah satu ibu kota wisata pantai Italia dan menjadi titik acuan kawasan tersebut. Optimisme tersebut terutama terkait dengan keberhasilan kampanye vaksinasi, tetapi juga dengan meningkatnya jumlah reservasi dalam beberapa minggu terakhir.

Roma dan Campania dalam Situasi Sulit

Di Lazio, harga telah meningkat hampir 40% untuk rumah liburan di lokasi paling populer di pantai Lazio. Hal yang sama juga berlaku untuk vila mewah yang sudah dipesan sebelum Paskah untuk musim panas. Tujuan terpopuler adalah yang berada di Lazio bagian bawah, seperti Terracina atau San Felice Circeo.

Sementara itu, situasi di Roma agak lebih rumit. Banyak fasilitas akomodasi tutup untuk Paskah karena tidak adanya reservasi dan wisatawan dan juga tidak pasti seperti apa situasinya di bulan-bulan mendatang.

Campania juga tampaknya berada dalam posisi yang lebih bermasalah mengingat musim panas. Menurut para ahli, situasinya sangat membingungkan, dan prakiraan cuaca tidak positif saat ini.

Ketidakpastian di Sardinia, Puglia dan Sisilia

Sementara itu, di Sardinia, industri pariwisata mengalami kemunduran dalam beberapa bulan antara April hingga Juni. Pemesanan pertama dapat dicatat mulai pertengahan Juni.

Menurut para ahli di wilayah tersebut, percepatan perencanaan yang drastis akan diperlukan untuk beberapa hari mendatang, jika tidak, bencana akan terjadi di Sardinia dan banyak perusahaan akan terpaksa melalui musim liburan yang sama seperti pada tahun 2020.

Di sisi lain, Puglia masih mengalami sedikit koneksi udara karena pembatasan yang diberlakukan yang memaksa maskapai penerbangan untuk secara drastis mengurangi jumlah penerbangan. 

Meskipun kawasan ini biasanya memiliki 18-19 juta kunjungan wisatawan per tahun, saat ini tampaknya mustahil untuk mencapai angka tersebut.

Pakar regional mengatakan bahwa ada minat di Salento, Valle d’Itria, dan Gargano, tetapi jumlah reservasi tidak memberikan kepastian industri. Situasinya bahkan terlihat lebih buruk dari tahun lalu, ketika sektor ini sebagian besar diselamatkan oleh pasar domestik.

Orang Sisilia juga menghadapi banyak ketidakpastian, dengan beberapa ahli di industri yang menggambarkan situasi tersebut sebagai “benar-benar diblokir”. 

Beberapa bahkan berbicara lebih jauh tentang keruntuhan “di luar imajinasi” terutama karena fakta bahwa Sisilia tidak dapat menawarkan jaminan internasional dibandingkan dengan wilayah lain.

Secara keseluruhan, hal yang disebutkan di atas sangat jelas menunjukkan bahwa wilayah Italia jauh dari seragam dalam hal prospek musim panas yang akan datang. 

Beberapa lebih optimis, sementara yang lain lebih terkendali atau pesimis. Namun yang pasti adalah bahwa banyak hal dapat berubah dengan sangat cepat berdasarkan banyak faktor, mulai dari kebijakan pemerintah dan daerah hingga keberhasilan kampanye vaksinasi.

 

Sri Andini:  BPI Terus Berjuang Untuk Pemanfaatan Secara Nasional

this formate

 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Baru saja diselenggarakan seminar yang membahas pemanfaatan limbah atau abu bakaran batu bara, yang populer dengan sebutan Fly Ash Bottom Ash ( FABA). Seminar yang dihelat pada Jumat, 9 April 2021 ini, dilangsungkan atas kerja sama Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), komunitas penggunanya seperti PT Bukit Pembangkit Innovative (BPI), dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Selama ini belum banyak yang mengetahui atau bahkan memahami FABA. Apa itu FABA, Fly Ash Bottom Ash? FABA merupakan limbah padat hasil pembakaran batu bara di pembangkit listrik tenaga uap, boiler, dan tungku industri untuk bahan baku konstruksi.

FABA semula masuk  sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun, atau B3. Namun, sejak Februari 2021 lalu, pemerintah menghapusnya dari golongan limbah B3. Presiden Joko Widodo sudah menanda tangani Peraturan Pemerintah ( PP) Nomor 22 Tahun 2021 yang mengeluarkan FABA dari golongan limbah beracun dalam kategori B3.

MKI dan BPI selama ini gigih memperjuangkan betapa FABA sangat bisa dimaanfaatkan untuk bahan baku konstruksi,  semen,  bahkan bisa untuk pertanian dan perkebunan. Ringkasnya, FABA bisa dimanfaatkan untuk industri berat, menengah dan ringan.

Seminar dengan pola virtual melalui zoom-meeting ini secara umum dimaksudkan sebagai sosialisasi dan pencerahan kepada masyarakat, dan secara khusus ditujukan kepada para  pelaku ekonomi.

Webinar yang diselenggarakan MKI, BPI dan PWI ini menjadi bagian dari Forum PWI Jaya Series, mengambil tema “Mengoptimalkan Pemanfaatan FABA untuk Pembangunan Ekonomi”.

Setelah sambutan dari Ketua Umum PWI Pusat Atal Sembiring Depari di Sekretariat PWI Pusat, webinar dibuka resmi oleh Ketua Umum Masyarakat Kelistrikan Indonesia (MKI) Wiluyo Kusdwiharto secara virtual.

“Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia mengapresiasi dukungan jajaran PWI atas legalitas yang didapat FABA sebagai limbah yang tidak beracun, sebagaimana sudah ditetapkan oleh pemerintah,” ucap Wiluyo Kusdwiharto, yang tak lupa menyapa jajaran pimpinan PWI Provinsi yang juga hadir secara daring.

Sri Andini, Komisaris Utama PT Bukit Pembangkit Innovative (BPI), menjadi satu-satunya pembicara yang hadir secara offline di PWI Pusat, antara lain bersama Ketua PWI Jaya Sayid Iskandarsyah dan Irmanto, wakil ketua bidang organisasi PWI Jaya yang juga ketua panitia kegiatan Forum PWI Jaya Series ini.

PT BPI sendiri adalah perusahaan penyedia listrik swasta, dan memiliki PLTU di Lahat, Sumatera Selatan. Sri Andini, 64 tahun, adalah inisiator sekaligus pendiri BPI ini.

Webinar yang juga disajikan secara live melalui facebook PWI DKI Jakarta ini menampilkan empat pembicara. Tiga pembicara lainnya di samping Sri Andini adalah Dr.Eng Januarti Jaya Ekaputri, ST, MT (Dosen ITS,  peneliti pemanfaatan FABA untuk infrastruktur),  Dr.Ir.Nani Hendiarti, M.Sc (Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Kemaritiman dan Investasi), dan Prof.Dr.Ir.H Fachrurrozie Sjarkowi, M.Sc (Akademisi, pengamat masalah lingkungan hidup). Diskusi menarik ini dipandu oleh Brigita Manohara, presenter TvOne, yang mampu menghidupkan suasana diskusi.

Regulasi & Sosialisasi

“Terima kasih kepada Bapak Joko Widodo yang telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 itu, yang memastikan FABA bukan lagi bagian dari limbah atau bahan beracun dan berbahaya, B3,” papar Sri Andini seusai webinar.

“Tentunya saya juga berterima kasih kepada pimpinan PWI, baik di pusat dan daerah, yang turut melakukan pencerahan dan menyososialisasikan pemanfaatan FABA ini. Terus terang saya senang menggandeng PWI. Pada berbagai kesempatan dan acara-acara pertemuan PWI  saya membahas permasalahan limbah B3, khususnya FABA yang tak lagi dikategorikan limbah B3,” papar Sri Andini.

Atas kegigihannya memperjuangkan FABA ke luar dari B3, Sri Andini dan Wiluyo Kusdwiharto dianugerahi “PWI Jaya Award”, penghargaan prestiseus untuk individu, figur atau tokoh dari berbagai latar belakang, yang dinilai memberi kontribusi besar dan berjasa di bidangnya masing-masing.

Anugerah “PWI Jaya Award” kepada keduanya diserahkan oleh Ketua PWI Jaya Sayid Iskandarsyah dan Ketua Panitia Tetap (pantap) “PWI Jaya Award” Cak Herry Sarsongko Ludiro.

Sri Andini menjelaskan, meski sudah ada PP Nomor 22 Tahun 2021, namun harus terus dilakukan sosialisasi bahwa FABA bukan limbah beracun.

“Regulasi itu harus terus disosialisasikan. Bahwa FABA tidak lagi masuk kategori B3. Sosialisasi ini dilakukan dengan berbagai cara, yaitu seminar-seminar dan penelitian. Hasilnya kemudian dipublikasikan agar masyarakat tahu,” ujar Sri Andini.

“Saya sebagai komisaris utama PT BPI melihat bahwa biaya penanganan FABA sangat besar sekali karena FABA dikategorikan sebagai limbah B3, bahan beracun dan berbahaya,” terang Sri Andini.

FABA di luar negeri

Ia menjelaskan, bertahun-tahun mencari informasi detail mengenai limbah batu bara hasil pembakaran PLTU ini, dan mendapatkan hasil bahwa di Cina, Jepang, AS, bahkan Singapura, tidak mengkategorikan FABA sebagai limbah B3.

“Saya meminta staf BPI  melakukan uji laboratorium pada berbagai lembaga penelitian. Kesimpulannya, FABA tidak mengandung zat-zat beracun seperti Mercury dan zat-zat beracun lainnya,” ujar Sri Andini.

Kesimpulan tersebut tentunya menjadi kabar baik bagi Sri Andini dan kalangan lain yang sudah memanfaatkan FABA. Pasalnya, Sri Andini masih mendapatkan info bahwa beberapa PLTU tidak bisa beroperasi karena FABA-nya melebihi jumlah yang diizinkan. Padahal, di sisi lain, rakyat sangat membutuhkan listrik.

“Saya senantiasa gelisah dan berpikir, alangkah akan mahal biaya pembangkitan listrik ini akibat pengelolaan limbah B3 yang sangat mahal. Hal ini akan menghambat rencana pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur bidang penyediaan energi,” terang komisaris utama PT BPI itu.

Berpikir untuk tujuan nasional, Sri Andini bertekad terus maju, melakukan sesuatu yang berarti tentang pemanfaatan limbah batu bara tersebut. Misalnya, bagaimana ia terus melakukan komunikasi dengan para ahli dan mantan direksi PLN untuk membuat aliansi limbah batu bara.

Aliansi ini menyuarakan kebenaran atau fakta bahwa FABA tidaklah beracun. Bahkan di Cina FABA digunakan untuk berbagai keperluan seperti batako atau bahan bangunan kualitas tinggi; pembuatan semen, gipsum, dan sebagai material utama dalam pembuatan jalan-jalan yang berkualitas tinggi. Juga berbagai produk lainnya.

“Saya sudah mengunjungi sejumlah tempat pemanfaatan FABA di Cina,” kata Sri Andini. Dia menjelaskan lebih jauh, betapa ia, misalnya, melakukan sesuatu untuk BPI sendiri agar bisa dilihat PLTU lainnya di Indonesia.

“BPI melakukan uji laboratorium tentang kandungan zat-zat yang ada pada FABA. Kami juga meminta bantuan Prof.Dr.Ir.Facrurrozie, M.Sc dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang untuk melihat pemanfaatan zat-zat tersebut,”

Di antaranya adalah sebagai bahan untuk penyubur tanaman atau pupuk, kemudian sebagai bahan untuk menurunkan kadar keasaman air, untuk bahan pengeras jalan, dan lain lagi,” Sri Andini menjabarkan.

Yang sudah direalisasikan, sambungnya, adalah pembuatan batako. “Mesin atau peralatan pembuatannya sudah dibeli, sekarang sedang diurus izinnya,” katanya.

Di samping itu, urai Sri Andini, FABA BPI sudah rutin digunakan dalam pembuatan Semen Baturaja walau jumlahnya masih sedikit. Saat ini FABA BPI juga sedang diteliti pakar dari ITB untuk dimanfaatkan untuk bahan penurunan air asam di tambang batu bara PT BA.

“Masih banyak rencana saya untuk mengoptimalkan pemanfaatan FABA secara nasional,” ujar Sri Andini berbinar-binar.

vaksinasi-pekerja-wisata

Wisata Aman, Turki Gencarkan Program Vaksinasi Pekerja Pariwisata

this formate

TURKI,bisniswisata.co.id: Tidak hanya di Indonesia, khususnya pemerintah Provinsi Bali yang kejar tayang pencapaian vaksinasi bagi pekerja pariwisata dan pekerja di industri ikutannya. Pencapaian target vaksinasi sebagai bagian upaya meyakinkan pasar dan membuka “border” kepariwisataan, juga dilakukan negara Turki.

Pemerintah Turki memulai program vaksinasi pekerja pariwisata, program kolaborasi  Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Kesehatan, dan Badan Promosi dan Pengembangan Pariwisata (TGA) Turki. Vaksinasi mencakup karyawan maskapai penerbangan, bandara, fasilitas akomodasi, agen perjalanan serta pemandu profesional. Vaksinasi seluruh pekerja pariwisata dijadualkan selesai sebelum awal musim panas 2021.

Dalam rilis tertulis yang diterima bisniswisata.co.id menyebutkan, pemerintah Turki menerapkan standar yang dipersyaratkan pada  Sertifikasi Pariwisata yang Aman (Safe Tourism Certification). Program vaksinasi bertujuan untuk menyambut pelancong internasional pada musim panas mendatang dan memastikan kesehatan, keselamatan karyawan pariwisata serta penduduk Turki.  Sejak peluncuran ‘Program Sertifikasi Pariwisata Aman’ pada Juni 2020, Turki telah mengikuti pedoman kesehatan dan keselamatan secara ketat dan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan keamanan kawasan. Sebelum pembukaan musim libur, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mulai bekerja memasukkan karyawan sektor pariwisata ke dalam program vaksinasi untuk memastikan bahwa layanan pariwisata di negara tersebut tetap terbuka sepanjang tahun.

Program vaksinasi pekerja pariwisata dimulai sejalan dengan prioritas dan dalam lingkup Safe Tourism Certification, bagian dari upaya berkelanjutan untuk memerangi COVID-19 dan semakin meningkatkan posisi sebagai salah satu tujuan teraman di dunia. Pemerintah Turki, berkomitmen tetap berinvestasi dalam  pelaksanaan program Safe Tourism Certification — salah satu contoh pertama dan tersukses di dunia–.  Turki  telah memperluas ruang lingkup praktik dan mewajibkan fasilitas akomodasi dengan 30 kamar atau lebih, menerapkan standar Safe Tourism Certification. Hingga saat ini lebih dari 8.000 fasilitas telah disertifikasi.

Pemerintah Turki menerapkan semua standar yang dipersyaratkan untuk memastikan negaranya tetap menjadi tujuan pariwisata yang sehat dan aman pada tahun 2021, serta menjadi salah satu pilihan teratas sebagai pilihan perjalanan yang aman bagi wisatawan internasional.*

Jelang Ramadhan, Plt Dirut PT Kereta Api Pariwisata Giatkan Silaturahim dan Kerjasama

this formate

BANDUNG, bisniswisata.co.id: Jelang Ramadhan, Plt Direktur Utama PT Kerera Api Pariwisata Hendy Helmy bersilaturahmi dengan Prof.H.M.Didi Turmudzi,M.Si, di Kantor Paguyuban Pasundan di Jalan Sumatra 41 Bandung,Jumat (9/4/2021).

Ketua Umum Pengurus Besar PB Paguyuban Pasundan, Prof.H.M.Didi Turmudzi,M.Si, didampingi Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan (YPT Pasundan) DR.H.Makbul Mansyhur, Ketua Bidang Ekonomi dan Bisnis Dr.Cece Suryana,S.H.,M.M beserta jajarannya.

“Selain silaturahim jelang Ramadhan kunjungan juga untuk membahas masalah pendidikan guna memberikan pelayanan yang berkualitas dalam bidang Pendidikan, sumber daya manusia serta pemasaran produk dan layanan PT Kereta Api Pariwisata serta pendukungnya,” kata Hendy Helmy didampingi General Manager Tour & Mice PT KAI.

Paguyuban Pasundan adalah organisasi budaya Sunda yang berdiri sejak tanggal 20 Juli 1913, sehingga menjadi salah satu organisasi tertua yang masih eksis sampai saat ini. 

Selama keberadaannya, organisasi ini telah bergerak dalam bidang pendidikan, sosial-budaya, politik, ekonomi, kepemudaan, dan pemberdayaan perempuan. 

Paguyuban ini berupaya untuk melestarikan budaya Sunda dengan melibatkan bukan hanya orang Sunda tetapi semua yang mempunyai kepedulian terhadap budaya Sunda.

Pada hari yang sama Plt Dirut PT Kereta Api Pariwisata Hendy Helmy juga menerima kunjungan kerja Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Dewi Kaniasari,S.Sos.,MA di Counter KAI Wisata Stasiun Bandung.

Hendy Helmy bersama Kadisbudpar Kota Bandung Dewi Kaniasari Ssos. MA

Kedatangannya  untuk survey dan menindak lanjuti penandatanganan kerjasama antara PT Kereta Api Pariwisata dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung yang telah diselenggarakan pada hari Kamis (01/04) lalu di Hotel Savoy Homann Bandung di bidang Pemasaran Budaya, Pariwisata, Ekonomi Kreatif Kota Bandung beserta produk dan layanan PT Kereta Api Pariwisata.

Hendy Helmy menyampaikan perjanjian kerjasama ini adalah sebagai landasan untuk melakukan sinergi, kolaborasi, koordinasi dan kemitraan yang menghasilkan kemanfaatan.

Terutama untuk memberikan pelayanan yang berkualitas dalam penyelenggaraan kegiatan budaya, Pariwisata, ekonomi kreatif dan transportasi kereta wisata serta pendukungnya dengan menjalin, memamfaatkan dan memaksimalkan potensi yang dimiliki untuk mendukung program Pemerintah di bidang Pariwisata.

Webinar Coffee Tourism Bahas Sinergi Semua Pihak Terkait di Tanah Air

this formate

Oleh: Hari Soebroto

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Asosiasi Kopi Seluruh Indonesia (ASKI) bekerjasama dengan organisasi Human Initiative telah menyelenggarakan Webinar ”Perjalanan Wisata Kopi Indonesia”. Diawali dengan  mendengarkan sambutan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno. Setelah itu diteruskan dengan pembahasan oleh wakil pemerintah, pelaku dan pebisnis wisata dan penggiat kopi. 

”Melalui momentum ini saya mengajak seluruh pelaku industri kopi Indonesia baik para petani maupun penggiat kopi ntuk berkolaborasi bersama memajukan industri kopi nasional”, sambut Sandiaga Uno.

Menparekraf meyskini bahwa upaya ini dipastikan dapat menembus pasar ekspor kopi yang cukup kompetitif. “Sebagai produser kopi terbesar nomor 4 di dunia kualitas kopi Indonesia tidak perlu diragukan lagi, mengingat telah banyak sekali kopi Nusantara yang mendunia,” ungkapnya.

Kopi Indonesia yang sudah mendunia a.l Arabika Gayo Sumatera, Kopi Arabika Kintamani Bali, Kopi Arabika Java Ijen Raung, Kopi Arabika Toraja, Kopi Liberika Rangsang Meranti Riau, Kopi Arabika Flores Bajawa dan Kopi Robusta Temanggung. 

Sandiaga Uno mengharapkan agar melalui kegiatan Webinar ini para pemangku kepentingan Indonesia terus berinovasi di tengah-tengah pandemi dan terus menciptakan nilai tambah melalui penguatan teknologi, sustainability dan traceability.

”Kita perlu bergerak bersama dan terus menebar kemampuan kita agar pariwisata dan ekonomi kreatif dapat memenangkan perang melawan Covid-19. Together ASKI and us, we can do it”, ujar Sandiaga Uno.   

Ketua Umum ASKI, Ketut Putrayasa menyambut baik kehadiran para pakar wisata dan kopi dalam Webinar ini. Disampaikan bahwa Webinar ini merupakan serial ke-2 dari Talkshow yang disiarkan secara langsung dan ditonton juga oleh para penggiat kopi Indonesia dari luar negeri.

Secara lugas Ketut Putrayasa menyatakan bahwa tujuan Webinar adalah untuk memperkenalkan Wisata Kopi serta industri kopi tanah air kepada masyarakat luas dan juga mancanegara.

Dianjurkan juga bahwa dalam dialog inter-aktifinya para pakar dan praktisi pemerintah dapat membagikan pengalaman internasionalnya mengenai perkembangan wisata di luar negeri dan kemungkinan penerapannya di Indonesia, baik pada penelitian tanaman kopi hingga proses pasca panen. 

Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno daat membuka webinar Coffee Tourism. ( Foto: Kenenparekraf)

Tidak boleh kalah menghadapi pandemi

Dalam diskusi yang dipandu Juwita Rachel, sesi pertama menampilkan upaya Indonesia menghadapi ekspor kopi dan mengenalkan produk kopi ke mancanegara. Dubes Bagas Hapsoro, mantan Kepala Perwakilan RI untuk Swedia (periode 2016-Juli 2020) menyatakan perlunya pemahaman tentang selera orang asing terhadap kopi Indonesia. 

”Meningkat dan alhamdulillah orang luar negri semakin banyak yang mencicipi kopi Indonesia. Mereka malah penasaran ingin melihat Indonesia”, ujar Bagas. Ini tidak lepas dari peranan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan Perwakilan RI di luar negeri.

Namun demikian Indonesia juga menyampaikan informasi seluas-luasnya tentang kondisi daerah yang belum sepenuhnya pulih dari pandemi. ”Seluruh dunia terkena dampak, dan tidak ada  satupun negara yang imun terhadap COVID -19”, kata mantan Dubes RI ini. 

DIsebutkan bahwa sejak tahun lalu sampai sekarang Kemlu dan Perwakilan RI terus melakukan promosi tentang kopi spesialti dan mencari pasar yang tepat (niche market) di wilayah Amerika Utara, Eropa, Asia dan Afrika.

Mengambil contoh Jerman, negara yang berjumlah 82 juta jiwa itu sebagian besar adalah penggemar kopi. Letak strategis Jerman sebagai penghubung ke semua negara Eropa Utara dan kekuatan ekonomi negara itu juga patut dipertimbangkan Indonesia.

Adanya pandemi, ternyata di Eropa terjadi peningkatan konsumsi meminum kopi di rumah sebesar 75%. Beberapa Dubes di kawasan Asia, termasuk RRT juga menyatakan perlunya ekspor kopi yang berkualitas dan berkesinambungan. 

Bagas mengutip nasehat seorang pakar kopi AS,  Mane Alves menyatakan bahwa pendidikan dan pemasyarakatan kopi bagi semua masyarakat Indonesia sangat penting. Setelah itu para pengusaha kopi perlu didorong untuk mengikuti lomba/kompetisi internasional.

Para roasters AS dan Eropa juga disarankan untuk lebih sering diundang guna mendatangi Indonesia. Pakar tersebut menyatakan bahwa kunjungan langsung tersebut diperlukan untuk melihat keaslian dan mutu kopi, serta berdialog langsung dengan petani. ”Nah dari situlah wisata kopi mempunyai alasan kuat untuk dikembangkan”, kata Bagas. 

Pembicara lainnya, Rizki Handayani, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf, juga memaparkan tentang prioritas kebijakan pariwisata kopi ke wilayah di Indonesia.

Disampaikan bahwa acara Webinar ini sejalan dengan program Kemenparekraf/Baparekraf untuk memulihkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia.

“Terdapat pesan dari tema acara ini untuk mendukung pemerintah dalam upaya memulihkan sektor pariwisata akibat pandemi COVID-19 dengan meramaikan kembali destinasi wisata di Indonesia,” kata Rizki.

Konsep utuh Agro wisata dan Coffee Tourism

Para pembicara lainnya, Tio Handoko dari Banaran, Panca Sarungu dari Masata dan Yugian Leonardi menyampaikan apresiasinya atas langkah-langkah pemerintah yang selalu mengajak semua stakeholders (pemangku kepentingan) untuk memecahkan problem wisata dan kopi.

Mereka sepakat bahwa wisata agro dan coffee tourism tidak boleh dilepaskan. Hal yang konkrit dan mudah dilakukan adalah adanya acara coffee walk, adventures dan tantangan untuk lintas alam. 

Bagas Hapsoro menyatakan bahwa sejalan dengan kebijakan nasional tentang kopi, maka diplomasi kopi Indonesia di tahun 2021 akan terus semakin digencarkan dan akan dibagi dalam berbagai bentuk kegiatan.

Antara lain kegiatan seperti temu bisnis, pembuatan katalog rasa, undangan kepada dubes-dubes asing di Jakarta, kunjungan ke sentra-sentra produsen kopi agar mereka bisa melihat bagaimana kopi tersebut diproduksi.

”Para dubes asing dapat melihat sendiri bahwa menanam kopi secara sustainable dan dapat bisa bertemu dengan petani langsung terkait aspek kesejahteraannya”, kata Bagas. 

Diakhir talkshow para peserta dan pembahas sepaham bahwa membahas kopi dan wisata tidak hanya semata-mata dari aspek ekonomi. Kopi menurut pemahaman para pembahas juga mencakup nilai budaya seperti upacara dan tata cara membuat kopi tubruk.

Dari sisi sosial juga mencakup pemberdayaan manusia, mengingat kegiatan produksi kopi juga melibatkan 96,8% dari masyarakat perkebunan.  

 

Indonesia Fashion Parade 2021Jadi Fashion Show Langsung & Pertama  Masa Pandemi.

this formate

TANGERANG, bisniswisata.co.id: Dimasa pandemi ini banyak hal yang terjadi dan dampak COVID-19 sangat terasa di semua bidang usaha dan bisnis termasuk para fashion designer Indonesia banyak yang terpuruk dengan keadaan karena orderan baju sangat minim.

Namun berbeda dengan Puluhan Designer yang tergabung dalam Fashion Show Indonesia Fashion Parade 2021. Semua Designer nya sangat optimis dan bersemangat untuk menghasilkan karya dimasa pandemi. 

Para Designer Kenamaan Indonesia diantaranya adalah Athan Siahaan, Ariesanthi, Sonny Muchlison, Eko Tjandra, Ucok M Sirait , Jumbriyono, Dewi Marda, Arlinawati, Lenny Hartono  dan puluhan designer lainnya.

Acara ini terselenggara secara langsung dan disiarkan secara Streaming di Channel YouTube. Pagelaran akbar ini Telah mengantongi ijin rekomendasi dari Satgas COVID  serta ijin rekomendasi  Kepolisian,” kata Athan Siahaan

Selaku Executive Director Indonesia Fashion Parade 2021, dia merasa lega kegiatan yang belum lama diselenggarakannya itu menjadi fashion show pertama di era pandemi ini yang bisa dilaksanakan secara langsung.

Protokol kesehatan yang sangat ketat diberlakukan di acara ini dengan proses screening misalnya, semua model dan penonton harus melakukan test swab terlebih dahulu. Pengukuran suhu secara berkala dan disinfektasi ruangan 4 jam sekali.

Semua pengunjung wajib pakai masker dan panitia menyediakan tempat cuci tangan maupun hand sanitizer. Pagelaran Fashion Show yang digelar secara langsung ini jadi role model untuk acara sejenisnya. Karena ini menjadi acara fashion show pertama di Indonesia yang digelar secara langsung dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. 

“Tujuan acara ini adalah untuk mengangkat kearifan lokal dengan visi misi untuk meningkatkan ekonomi kreatif ditengah pandemi dan temanya Cultural  Eternity

dengan harapan keabadian budaya Indonesia akan terdengar diseluruh dunia dan Indonesia memiliki banyak keaneka ragaman budaya,”  jelas Athan Siahaan.

Keunikan kain-kain tradisional  memiliki proses yang sangat panjang serta nilai seni yang tinggi dengan teknik beragam.  Dalam Pagelaran Indonesia Fashion Parade banyak menampilkan kain kain tradisional Indonesia seperti: ulos, songket, batik tulis, ecoprint, tenun ikat, benang bintik maupun lurik.

Keunikan Ulos karena dibuat dengan handmade, produksinya benar benar manual dari bahan bahan alami, pewarna alami. ” Namun seiring waktu saat ini banyak produk dengan benang sintetis dan mesin, jadi itu justru bisa membunuh kain ulos tradisional. Hal ini membuat saya lebih tertantang untuk mengangkat keunikan Ulos manual,” kata Athan.

Selain itu motif nya sangat unik dan beragam, karena dengan teknik manual itu benang benang disusun satu satu, motif dan corak menggambarkan harkat martabat masyarakat Batak, mulai dari jenis2 tumbuhan, satwa, dan khasanah alam dan budaya batak

Permintaan pasarnya selama ini baik lewat pameran maupun permintaan pasar langsung  di luar negeri seperti Rusia, Milan Italia, Jepang, Bangkok hingga India, tegas Athan.

Oleh karena itu kegiatan yang berlangsung selama tiga hari  dari 30 Maret hingga 1 April lalu di Tangsel perlu terus dijaga eksistensinya dan menjadi momentum kebangkitan pagelaran fashion lagi.

 

MUFFEST 2021 Bantu Pelaku Kreatif Pulihkan Bisnis

this formate

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi global menuntut para pelaku usaha fesyen muslim untuk dinamis beradaptasi dengan perubahan dan tetap bertahan di masa krisis. Kami mengupayakan MUFFEST tetap terselenggara untuk membantu pelaku feshion muslim, kata Ali Charisma selaku Nasional Chairman Indonesia Fashion Chamber.

Pergelaran Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2021 resmi dibuka Jum’at 9 April sampai 11 April 2021di Hartono Mall Jogja untuk membantu para pelaku kreatif memulihkan bisnisnya, memberikan kesempatan berkarya dan berpameran, serta mengajak pelaku dan konsumen untuk lebih memiliki tanggung jawab melalui konsep berkelanjutan atau sustainable, menggaungkan kembali gerakan cinta produk Indonesia

“Bukan berarti mengabaikan pandemi yang belum berakhir, dan kita respek terhadap peraturan Pemerintah, namun  berusaha bergerak untuk menjalankan roda ekosistem feshion Nasional,” kata Ali Charisma.

MUFFEST berkomitmen pelaku kreatif dan pelaku bisnis terkait, lebih terkoordinasi mewujudkan visi yang pada akhimya dapat ciptakan kesejahteraan masyarakat.

” Antusias para UKM fashion yang ada di Jogjakarta, Semarang, Solo, Kendari, dan sekitarnya, sangat kami apresiasi,” tambahnya.

Sebanyak lebih dari 50 desainer dan brand akan menampilkan koleksinya dalam kegiatan fashion show yang akan dilangsungkan mulai hari ini di adakan acara Fashion Show

Fashion show koleksi baju Muslim

Desainer yang tampil a.l Afif Syakur, Astuti Arindra, Dani Paraswati, Deden Siswanto, Dewi Roesdji, Hendri Budiman, Iffah M Dewi Lanny Amborowati, Lia Mustafa, Luffi Luvnic, Mia Ridwan, OHMM by BAI , Phillip Retty Selya,  Sofie R , Tuty Adib dan Wening Angga.

Bukan hanya acara fashion show namun juga diadakan Pameran MUFFEST 2021 Hartono Mall akan berlangsung dari tanggal 31 Maret – 11 April menempati area di Grand Atrium Hartono Mall, dengan menyertakan puluhan desainer dan brand, baik local maupun nasional. 

Selain Pameran dan Fashion Show kegiatan lainnya selama MUFFEST berlangsung, diantaranya Talkshow tentang recycle produk dari YKK, bincang kreatif para fashion desainer dan brand, dan kedatangan tamu Novakovich, Modest Fashion Australia Founder yang akan berbagi pengalaman tentang perkembangan modest fashion di  Australia lewat Aisha.

Kegiatan ini  mengajak para desainer dan brand untuk tidak membuat koleksi baru, melainkan dapat memanfaatkan koleksi yang telah dibuat sebelum atau selama pandemi, namun diberikan sentuhan baru sesuai perkembangan tren dan kebutuhan pasar terkini. 

“Lewat konsep ini diharapkan dapat menambah daya jual dan masa pakai suatu koleksi sehingga dapat kembali dipasarkan untuk keberlangsungan bisnis ” kata Ali Charisma.

Dia berterimakasih kepada semua pihak yang sudah mendukung terselenggaranya MUFFEST 2021 di Hartono Mall Yogyakarta. Bagi wisatawan yang pas berada di jogja juga bisa menikmati pameran MUFFEST,”tegas Ali.

dana-desa-bali-untuk-beberapa-sektor-pembangunan

Masyarakat Desa Tidak Jadi Penonton

this formate

 

NUSA DUA, bisniswisata.co.id:Pemulihan ekonomi melalui sektor pariwisata di Bali akan memiliki daya ungkit bagi pemulihan ekonomi warga desa di berbagai sektor, terutama pada pengembangan ekonomi kreatif dan sektor yang mengandalkan kearifan lokal. Desa-desa di Bali memiliki potensi besar untuk mengambil bagian dalam pemulihan ekonomi di Bali. Sebab, Bali sendiri merupakan provinsi yang tidak lagi memiliki desa sangat tertinggal dan desa tertinggal.

“ Pariwisata harus berbasis desa, agar desa tidak hanya jadi penonton. Dan kita tahu bahwa warga desa di Bali tidak sekadar menjadi penonton, tapi aktif dan produktif dari proses ekonomi yang terjadi,” tegas Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Wamendes PDTT), Budi Arie Setiadi saat menjadi pembicara dalam acara Bali Economic and Investmen Forum 2021 yang diselenggarakan DPW Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali.

Provinsi Bali memiliki 588 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang pada tahun 2019 berhasil meraih omzet hingga Rp274 Miliar. Wamendes, berharap, desa-desa di Bali yang memiliki ratusan BUMDes tersebut terlibat aktif dalam proses pemulihan ekonomi, khususnya di Provinsi Bali.

Di masa pandemi COVID-19 ini, pemulihan ekonomi desa-desa di Provinsi Bali dapat berkembang lebih cepat, sehingga menjadi penopang pemulihan ekonomi daerah. Meski demikian ia mengingatkan, bahwa aktivitas pemulihan ekonomi harus tetap mematuhi protokol kesehatan.

“Tetap lakukan protokol kesehatan yang ketat, dan disiplin dimana proses vaksinasi dan protokol kesehatan yang lebih adaptif,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pemulihan pariwisata di Bali adalah lokomotif berdaya ungkit bagi bergeraknya sektor – sektor lain seperti pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan –bahan makanan, kuliner– dan sektor ikutan lainnya yaitu industri kerajinan (cindera mata). Kemendes PDTT merekomendasikan, penerapan protokol kesehatan dari proses vaksinasi dan pemberlakuan protokol kesehatan yang lebih adaptif. Kesiapan transportasi khususnya penerbangan langsung dari beberapa negara ke Bali serta kesiapan layanan keimigrasian – lebih cepat dan mudah –, untuk pemulihan pariwisata di Bali.

Dalam proses pemulihan tersebut dan sejalan dengan target pembangunan yang telah ditetapkan pemerintah, Kementerian Desa memacu pelaksanaan program membangun dari desa beralat picu kepariwisataan. Kata Wamen Desa, Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi, program berorientasikan multiplier effect untuk membantu warga desa dan mengembangkan ekonomi lokal.

Peran yang dijalankan meliputi pembangunan homestay di kawasan pariwisata yang menyertakan dana desa di desa setempat, pengelolaan oleh Bumdes bekerja sama dengan masyarakat dengan sistem bagi hasil. Digitalisasi promosi dan pemasaran kultur maupun keindahan alam di desa-desa wisata. Serta mendorong pemasaran produk unggulan desa melalui BUMDes untuk masuk ke even-even penting, hotel, dan tempat wisata.

Meningkat Signifikan

Menurut Budi Arie, kegairahan desa membangun wisata terbaca dari peningkatan alokasi APBDes untuk pembangunan wisata dan jumlah desa yang mengalokasikan APBDesnya untuk usaha wisata. APBDES yang dialokasikan untuk desa wisata juga meningkat dari Rp 123 miliar pada 2017, menjadi Rp 229 miliar pada 2018, lalu berlipat Rp 552 miliar pada 2019. Jumlah desa yang mandiri membangun wisata semakin meningkat dari 612 pada 2017, menjadi 817 pada 2018, lalu melonjak menjadi 4.071 pada 2019.

Kemendesa PDTT, tegas Wamen tidak hanya “menggelontorkan dana desa”, tetapi juga mengawal pelaksanaan di lapangan. Masih terkait dengan program pengembangan Bumdes, Kemendesa PDTT melaksanakan pelatihan pengembangan usaha dan kewirausahaan sesuai kebutuhan dan pertumbuhan usaha masyarakat desa anggota Bumdes. Dukungan penyediaan sumber daya untuk mewujudkan industrialisasi komoditas desa. Menyelenggarakan forum komunikasi komunitas secara periodik dan berkesinambungan, penyelenggaraan temu usaha, seminar usaha, dan/atau kunjungan usaha, penyelenggaraan temu kemitraan antar sesama BUM Desa/BUM Desa bersama dengan pelaku usaha ekonomi lain.

Kemendesa PDTT juga memfasilitasi peningkatan akses permodalan, peningkatan akses kemitraan atau kerja sama usaha dan kerja sama non-usaha, peningkatan akses dan fasilitasi pengadaan sarana dan prasarana produksi dan pengolahan, bahan baku, bahan penolong, serta kemasan. Memfasilitasi Bumdes menjangkau sumber informasi dan pemanfaatan teknologi tepat guna, pemberdayaan dan peningkatan akses ke sumber informasi bisnis dan rantai pasok baik lokal, nasional maupun internasional.

Kementerian juga mendukung promosi produk termasuk penyediaan infrastruktur promosi,  dukungan pengembangan jaringan pemasaran dan distribusi, serta perluasan jangkauan

pemasaran, penyelenggaraan pelatihan dan penguatan kapasitas pemasaran produk melalui media digital dan  program atau kegiatan pengembangan sesuai kebutuhan, jelas Budi Arie.*

Spanyol Upayakan Travel Ramah Muslim untuk Tarik Lebih Banyak Turis Muslim

this formate

CORDOBA, bisniswisata.co.id: Spanyol ingin menarik dua kali lipat jumlah pengunjung Saudi yang menghabiskan waktunya sebagai bagian dari rencana pasca-pandemi, tetapi peningkatan Islamofobia baru-baru ini dapat mencoreng citra ramah Muslimnya.

Dilansir dari Salaamgateaway, sekitar 90.000 wisatawan Saudi mengunjungi Spanyol pada 2019, 21% lebih banyak dari tahun sebelumnya, kata Daniel Rosado, direktur Kantor Pariwisata Spanyol untuk Timur Tengah.

Rencananya adalah menggandakan jumlah ini setelah penerbangan internasional dilanjutkan di kerajaan mulai 17 Mei mendatang, seperti yang baru-baru ini diumumkan oleh otoritas Saudi.

“Jika semuanya berjalan sesuai rencana itu, kami akan berusaha melakukannya dalam periode 12 bulan,” Glenn Johnston, wakil presiden Timur Tengah dan Urusan Publik Global di AviaReps.

Perusahaan pemasaran pariwisata global ditunjuk oleh Spain Tourism pada Februari tahun ini sebagai perwakilan resminya di Arab Saudi. Keputusan untuk bermitra dengan AviaReps di Kerajaan mencerminkan pentingnya perjalanan Arab Saudi untuk negara Eropa.

Sebelum COVID-19, Saudi melakukan rata-rata 9,6 juta perjalanan liburan ke luar negeri setiap tahun, menghabiskan 80% dari anggaran hiburan mereka saat mereka pergi, atau sekitar US$ 5,6 miliar per tahun, menurut perkiraan Kementerian Investasi Arab Saudi.

Sebagian besar fokus AviaReps adalah mendidik profesional pariwisata keluar Arab Saudi tentang Spanyol sehingga mereka dapat mengembangkan rencana perjalanan liburan untuk klien mereka. 

Perusahaan juga akan mempromosikan Spanyol kepada konsumen dan menjangkau aliansi dan grup melalui pemasaran dan kemitraan digital.Tapi bisakah peningkatan Islamofobia baru-baru ini di Spanyol berpotensi menggagalkan upaya pemasaran?

Tanggapan Pariwisata Spanyol

Spanyol adalah negara kedua yang paling banyak dikunjungi di dunia setelah Prancis sebelum wabah virus Corona dengan menyambut 83,7 juta turis pada 2019, dan memecahkan rekor jumlah turis selama tujuh tahun berturut-turut.

Pandemi melumpuhkan kedatangan menjadi 19 juta pada tahun 2020, penurunan hampir 77%, menurut Institut Statistik Nasional. Untuk membatasi penyebaran COVID-19 lebih lanjut, Spanyol baru-baru ini memperkenalkan undang-undang yang mewajibkan masker wajah di semua ruang publik terlepas dari komitmen jaga jarak.

Negara tersebut juga telah memperpanjang pembatasan perjalanan dari negara-negara di luar Uni Eropa dan Zona Schengen dari 31 Maret hingga 30 April.

Tampaknya, wisatawan Muslim akan mengunjungi Spanyol terlepas dari kasus Islamofobia, tetapi seorang analis mengatakan lebih banyak akan dibutuhkan jika pihak berwenang ingin mencapai tujuan mereka untuk menggandakan pengunjung Saudi.

Ramah Muslim

Spanyol telah memperkuat ekosistem pariwisata ramah Muslimnya selama bertahun-tahun tetapi masih banyak yang harus dilakukan, menurut Dr. Ruiz-Bejarano.“Spanyol tidak terlalu berkembang dalam hal pariwisata ramah Muslim.

Dibutuhkan lebih banyak hotel dan restoran bersertifikat halal, karena makanan dan minuman adalah kebutuhan paling dasar dari wisatawan Muslim.” ujarnya.

Pariwisata Spanyol setidaknya telah mengkonsolidasikan situs web pariwisata halal khusus yang menyertakan daftar restoran ramah Muslim dan halal. Portal saat ini mencantumkan 26 restoran serupa di tujuh kota.

Di lapangan, Instituto Halal memiliki skema sertifikasi untuk pariwisata ramah Muslim dan profesional, mengembangkan ekosistem layanan dan bisnis pariwisata halal yang mencakup hotel, restoran, toko suvenir kecil, aktivitas, dan panduan.

Pandemi pada tahun 2020 merupakan kemunduran bagi sektor ini karena hanya dua perusahaan bersertifikat halal — Hotel Alanda di Marbella dan Hotel Costa del Sol di Torremolinos — tidak memperbarui sertifikat mereka, kata Dr. Ruiz-Bejarano. 

Tidak ada alasan untuk melakukannya, mengingat tidak ada turis internasional yang masuk. Situasinya serupa untuk Mandarin Oriental di Barcelona yang menawarkan layanan ramah Muslim dan menu halal, dan sebuah restoran di Córdoba.

Alanda Hotel, yang dimiliki oleh perusahaan bisnis Saudi, Fawaz Al Hokair, terletak di Golden Mile Marbella yang megah. Hotel ini menarik sejumlah besar tamu Saudi setiap musim panas sebelum pandemi.

“Turis Saudi mewakili sekitar 20% dari total jumlah tamu kami selama musim ramai. Selain itu, kenaikan tarif kamar rata-rata kami sebagian besar didorong oleh pasar Saudi karena mereka adalah salah satu tamu suite terbaik kami, ”kata Khaldoun Hayajneh, manajer umum Alanda Hotel Marbella.

Dia mengatakan banyak warga Timur Tengah memiliki rumah di Marbella, yang telah mendorong investor lokal dan asing untuk membuka hotel, restoran, dan supermarket yang ramah Muslim.

“Jelas, ada pasar pariwisata halal yang besar di Spanyol dan kami sedang berupaya untuk memanfaatkannya,” kata Hayajneh.

Pasar besar yang dia rujuk telah mundur oleh pandemi tetapi kabar baiknya adalah bahwa minat untuk melayani wisatawan Muslim tampaknya telah tumbuh, kata Dr. Ruiz-Bejarano.

“Kami telah melakukan lebih banyak seminar dan pelatihan [tentang perjalanan ramah Muslim] dibandingkan tahun-tahun sebelum pandemi. Jadi, semoga mereka segera siap menyambut turis muslim, ”ucapnya.

Spanyol akan dibuka kembali untuk turis internasional di musim panas dengan pembatasan, seperti tes PCR negatif wajib atau paspor vaksinasi, tambahnya.

Kebutuhan untuk tujuan berbeda

“Spanyol secara tradisional mempromosikan dirinya sebagai negara pantai dan matahari. Ini mungkin bukan daya tarik terbaik bagi wisatawan Muslim dan banyak hotel dan restoran tidak [dilengkapi untuk memenuhi] standar halal, ”kata Amina Zekri, CEO dan pendiri Best Halal Trip yang berbasis di Barcelona.

Meskipun beberapa resor di wilayah selatan Spanyol ramah Muslim — mengizinkan pakaian renang sederhana dan menyediakan makanan halal berdasarkan permintaan — tidak ada yang menawarkan kolam renang terpisah untuk pria dan wanita atau jam renang khusus wanita, poin yang dibagikan oleh para tamu di ulasan HalalBooking.

“Semua hotel dan resor, ketika mereka secara serius melihat pasar tertentu yang mereka inginkan untuk menarik pengunjung, hal pertama yang harus mereka lakukan adalah melihat kebutuhan mereka. Setelah perbatasan dibuka, saya tidak akan terkejut jika beberapa resor memiliki waktu berenang yang berbeda untuk pria dan wanita, “kata Johnston dari AviaReps.

Tapi ini bukan hanya tentang makanan dan hotel halal. Masih banyak lagi. Baik Zekri dan Dr. Ruiz-Bajarano menyerukan tujuan baru yang terkait dengan segmen berbeda dari perjalanan ramah Muslim, seperti kesehatan dan medis, wisata petualangan, olahraga, dan belanja.

Pejabat Instituto Halal juga bergabung dengan Fazal Bahardeen dalam menekankan warisan Islam Spanyol yang dalam dan kaya membentang dari abad ke-8 hingga abad ke-17. Dalam hal ini, Dr. Ruiz-Bejarano menyarankan otoritas nasional untuk fokus pada pendekatan seluruh negara untuk pariwisata ramah Muslim.

“Spanyol harus memiliki rencana nasional dan mulai mengidentifikasi serta memanfaatkan aset Islam lainnya di wilayahnya. Misalnya masjid tempat Ibn Arabi biasa sholat, ”ujarnya mengacu pada filsuf muslim abad ke-13 dan sufi ternama.

“Sedikit orang yang mengetahui informasi ini, tetapi Murcia, di mana Ibn Arabi lahir, bisa menjadi ziyarat paling penting untuk ditemukan kembali di Eropa,” kata Dr. Ruiz-Bejarano.

Ada juga keuntungan mengemas Spanyol dengan Portugal dan Maroko, keduanya merupakan bagian dari Andalusia, atau dengan Turki untuk paket Umrah Plus, tambahnya.

“Kami sekarang berpartisipasi dalam Proyek Eropa yang disebut “Pasar Halal “, yang dipimpin oleh Andalucía dan Portugal, yang berfokus pada penguatan pariwisata halal di wilayah ini.”

Pada akhirnya, jika pariwisata Spanyol ingin menarik lebih banyak pengunjung Muslim, seperti dari Arab Saudi, ia perlu mempromosikan destinasi tersebut dengan jaminan bahwa ada bisnis, baik besar atau kecil, yang siap melayani ini. pelanggan, kata Dr. Ruiz-Bejarano.

 

 

 

Sektor Fintech Islam Malaysia Alami ‘Pandemi’ yang Baik

this formate

KUALA LUMPUR, bisniswisata.co.id: Pandemi COVID-19 telah membantu digitalisasi keuangan Islam di Malaysia, mengguncang sektor yang lesu ini untuk akhirnya bergerak lebih cepat melalui kolaborasi antara lembaga dan spesialis teknologi keuangan.

Dilansir dari Salaamgateway.com, meskipun negara ini mengklaim sebagai pusat keuangan Islam, lembaga-lembaganya lambat dalam mengadopsi fintech seperti halnya keuangan konvensional yang telah melaju dalam dekade terakhir.

Bank, khususnya, berhati-hati dalam memberikan lebih banyak layanan digital kepada pelanggan mereka, tetapi pandemi telah memberi mereka peluang baru yang dirangkul oleh beberapa institusi.

“Mungkin benar bahwa pandemi telah memaksa lembaga untuk bertindak cepat selama setahun terakhir dengan membentuk kemitraan dengan fintech, daripada hanya mengandalkan pengembang mereka sendiri, yang biasanya mereka lakukan,” kata Dr. Moutaz Abojeib, seorang peneliti di Akademi Riset Syariah Internasional untuk Keuangan Islam (ISRA) di Kuala Lumpur.

“Ada semacam penundaan oleh bank syariah dalam menanggapi agenda digitalisasi. Seluruh pasar merasa seperti, ‘oke, keuangan Islam telah tertinggal’, ”katanya kepada Salaam Gateway.

Bekerjasama dengan fintech secara bertahap membawa lembaga keuangan Islam Malaysia lebih dekat dengan model Silicon Valley, di mana bank secara rutin meminta dukungan dari perusahaan rintisan, dengan keahlian mereka yang lebih halus dalam teknologi, untuk mengembangkan layanan baru.

Banyak bank konvensional besar sekarang memiliki setidaknya satu kemitraan dengan Fintech. Misalnya, dalam beberapa tahun terakhir, Bank of America mulai mengizinkan pelanggannya mengirim uang dalam hitungan detik melalui kolaborasi dengan jaringan pembayaran digital Zelle dan Barclays mengambil alih saham di Flux, perusahaan rintisan yang menerbitkan tanda terima digital.

Namun, bank syariah Malaysia memiliki lebih banyak naluri untuk beralih ke departemen TI mereka saat menyusun penawaran digital mereka, menggabungkan solusi yang mendorong beberapa batasan yang dikatakan Dr. Abojeib merupakan kekurangan institusional.

“Saya belum pernah mendengar tentang manajemen bank yang langsung berurusan langsung dengan pihak ketiga. Mereka akan selalu pergi ke departemen internal mereka dengan sebuah proyek,”

Mereka akan memulainya, mereka akan mempelajarinya, kemudian mereka akan mencoba melakukannya. Pada titik tertentu, mereka akan menyadari bahwa itu tidak benar-benar dapat dilakukan dalam jangka waktu mereka, tambah Dr. Abojeib

“Mereka nantinya akan mulai berkolaborasi dengan perusahaan fintech karena lebih efisien. Tetapi bank-bank ini akan selalu mencoba menangani teknologinya sendiri terlebih dahulu, yang selama ini mereka lakukan. Butuh waktu lama untuk mengguncang pola pikir ini, ”tambahnya.

Spesialis Fintech

Myles Bertrand setuju dengan Dr. Abojeib. Managing Director regional Mambu, platform cloud banking software-as-a-service yang telah mengukir pasar di antara fintech syariah selain klien konvensionalnya, mengatakan tantangan terbesar bagi lembaga keuangan Islam Malaysia dalam digitalisasi adalah budaya internal. dalam organisasi yang mereka butuhkan untuk melakukan semuanya sendiri melalui departemen TI mereka.

Baru-baru ini, budaya ini dengan cepat bergerak menuju teknologi outsourcing ke perusahaan seperti Mambu karena pandemi memaksa cabang-cabang untuk menutup pintu dan penguncian telah membatasi perbankan tatap muka, kata Bertrand yang berbasis di Singapura.

“Bank tidak dapat menanggapi virus Corona dengan cepat dalam hal apa yang perlu mereka lakukan untuk pelanggan mereka, dan mereka menyadari hal ini dengan melihat kecepatan kerja tim teknologi internal mereka,” katanya.

“Kami telah melihat perubahan yang sangat menarik dalam enam bulan terakhir dengan banyak organisasi benar-benar beralih dari proyek teknologi besar yang disesuaikan secara internal ke solusi yang jauh lebih berkode rendah, berbasis cloud, dan mudah diterapkan seperti milik kami karena itu memberi mereka kemampuan untuk bereaksi lebih cepat. ”

Mungkin indikasi profil tertinggi dari perubahan budaya di institusi adalah pengumuman pada bulan Maret bahwa Bank Islam Malaysia meletakkan dasar untuk platform perbankan digital sepenuhnya.

Bank membuka divisi digital baru, Center of Digital Experience (CDX), yang melibatkan Mambu untuk mengkonfigurasi produk perbankan yang sesuai dengan Syariah, menggunakan Experian, sebuah perusahaan layanan informasi, untuk memberikan solusi eKYC untuk digital onboarding dan sedang berkembang. model penilaian kredit alternatif dengan fintech lokal, Pod.

Menguraikan ringkasan CDX, kepala eksekutif Bank Islam, Mohd Muazzam Mohamed, mengatakan kolaborasi ini akan mendorong institusi lain untuk mengikutinya.

“Kami yakin ini akan menjadi preseden untuk mendorong lebih banyak kolaborasi fintech dengan lembaga keuangan dan pada akhirnya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi digital kita,” kata CEO bank Islam pertama di negara itu.

Pertumbuhan  Fintechs

Pandemi juga telah memberikan dorongan bagi penyedia fintech Malaysia yang menawarkan layanan mereka sendiri secara independen dari lembaga keuangan, dengan sejumlah pengumuman selama 12 bulan terakhir.

Beberapa di antaranya termasuk Ethis yang meluncurkan apa yang diklaimnya sebagai platform crowdfunding ekuitas pertama yang sepenuhnya sesuai dengan Syariah di Malaysia tahun lalu

Kantor filantropi Islam Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi yang baru-baru ini mengumumkan kemitraan dengan fintech lokal Tulus Digital untuk meningkatkan Pendanaan sosial Islam untuk pengungsi, dan Sedania As Salam Capital meluncurkan pasar keuangan Islam  bekerja sama dengan Mambu untuk mengembangkan platform Tawarruq-nya.

Malaysia memiliki catatan bagus dalam memelihara start-up fintech Islami dan menduduki puncak Indeks Fintech Islam Global DinarStandard-Elipses, yang memeringkat ekosistem di 64 negara.

Ekosistem negara juga dipertahankan oleh International Center for Education in Islamic Finance (INCEIF) yang berbasis di Kuala Lumpur yang menyatakan pada September lalu Malaysia berpotensi menjadi pemimpin dunia dalam fintech Islam karena warisan keuangan Islam dan dukungan yang diberikan oleh regulator.

Namun demikian, dengan 25 penyedia fintech Islami yang sekarang beroperasi di Malaysia, menurut laporan DinarStandard-Elipses, negara tersebut kalah dari Inggris (39), Uni Emirat Arab (31) dan Indonesia (31) dalam membina start-up di tahun terakhir. Diperkirakan pasar fintech Islam senilai  US$ 3 miliar berdasarkan volume transaksi juga dikerdilkan oleh Arab Saudi dan Iran, masing-masing sebesar  US$ 17,9 miliar dan US $ 9,2 miliar.

Sebuah ‘Pandemik yang baik untuk Fintech

Masih harus dilihat apakah peristiwa tahun lalu akan memengaruhi daya tarik Malaysia, terutama dengan kolaborasi baru antara lembaga dan perusahaan rintisan ini.

Negara ini telah mengalami “pandemi yang baik”, menurut kepala eksekutif Sedania, Nisa Ismail. “Saya minta maaf untuk mengatakan bahwa mungkin COVID-19 adalah berkah tersembunyi. Ini semua tentang proses yang mulus, dan otomatisasi adalah cara yang harus dilakukan, “katanya kepada Salaam Gateway.

“Pada tahun lalu orang telah mempelajari cara meninjau kontrak pintar, misalnya; mereka ingin melakukan aqad digital dan mencoba meminimalkan intervensi manusia sebanyak mungkin. Ada aliran besar pengumuman tahun ini.

Sekarang fintech telah dibangkitkan setelah satu tahun lockdown, tidak ada alasan untuk berharap fintech akan mereda begitu perbatasan dibuka dan batasan sosial dimasukkan ke dalam ingatan.

“Saya tidak berpikir ada hal baru yang ditambahkan ke dalam agenda tekfin Islam; bukan rencana baru saja diajukan, ”kata Dr. Abojeib.

Bank mungkin telah mengalami digitalisasi dalam agenda mereka selama empat atau lima tahun ke depan, tetapi sekarang mereka memahami perlombaan yang mereka jalani, mereka perlu meluncurkan semuanya dalam dua tahun.

“Mereka terlambat dan tidak menganggapnya mendesak. Tetapi ketika pandemi dimulai, seluruh situasi berubah dan orang-orang benar-benar online untuk semuanya. Saya rasa tidak ada yang akan memperlambat proses ini, terutama jika keluar dari kisah sukses, ”tambahnya.