NEWS

Webinar Coffee Tourism Bahas Sinergi Semua Pihak Terkait di Tanah Air

Oleh: Hari Soebroto

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Asosiasi Kopi Seluruh Indonesia (ASKI) bekerjasama dengan organisasi Human Initiative telah menyelenggarakan Webinar ”Perjalanan Wisata Kopi Indonesia”. Diawali dengan  mendengarkan sambutan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno. Setelah itu diteruskan dengan pembahasan oleh wakil pemerintah, pelaku dan pebisnis wisata dan penggiat kopi. 

”Melalui momentum ini saya mengajak seluruh pelaku industri kopi Indonesia baik para petani maupun penggiat kopi ntuk berkolaborasi bersama memajukan industri kopi nasional”, sambut Sandiaga Uno.

Menparekraf meyskini bahwa upaya ini dipastikan dapat menembus pasar ekspor kopi yang cukup kompetitif. “Sebagai produser kopi terbesar nomor 4 di dunia kualitas kopi Indonesia tidak perlu diragukan lagi, mengingat telah banyak sekali kopi Nusantara yang mendunia,” ungkapnya.

Kopi Indonesia yang sudah mendunia a.l Arabika Gayo Sumatera, Kopi Arabika Kintamani Bali, Kopi Arabika Java Ijen Raung, Kopi Arabika Toraja, Kopi Liberika Rangsang Meranti Riau, Kopi Arabika Flores Bajawa dan Kopi Robusta Temanggung. 

Sandiaga Uno mengharapkan agar melalui kegiatan Webinar ini para pemangku kepentingan Indonesia terus berinovasi di tengah-tengah pandemi dan terus menciptakan nilai tambah melalui penguatan teknologi, sustainability dan traceability.

”Kita perlu bergerak bersama dan terus menebar kemampuan kita agar pariwisata dan ekonomi kreatif dapat memenangkan perang melawan Covid-19. Together ASKI and us, we can do it”, ujar Sandiaga Uno.   

Ketua Umum ASKI, Ketut Putrayasa menyambut baik kehadiran para pakar wisata dan kopi dalam Webinar ini. Disampaikan bahwa Webinar ini merupakan serial ke-2 dari Talkshow yang disiarkan secara langsung dan ditonton juga oleh para penggiat kopi Indonesia dari luar negeri.

Secara lugas Ketut Putrayasa menyatakan bahwa tujuan Webinar adalah untuk memperkenalkan Wisata Kopi serta industri kopi tanah air kepada masyarakat luas dan juga mancanegara.

Dianjurkan juga bahwa dalam dialog inter-aktifinya para pakar dan praktisi pemerintah dapat membagikan pengalaman internasionalnya mengenai perkembangan wisata di luar negeri dan kemungkinan penerapannya di Indonesia, baik pada penelitian tanaman kopi hingga proses pasca panen. 

Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno daat membuka webinar Coffee Tourism. ( Foto: Kenenparekraf)

Tidak boleh kalah menghadapi pandemi

Dalam diskusi yang dipandu Juwita Rachel, sesi pertama menampilkan upaya Indonesia menghadapi ekspor kopi dan mengenalkan produk kopi ke mancanegara. Dubes Bagas Hapsoro, mantan Kepala Perwakilan RI untuk Swedia (periode 2016-Juli 2020) menyatakan perlunya pemahaman tentang selera orang asing terhadap kopi Indonesia. 

”Meningkat dan alhamdulillah orang luar negri semakin banyak yang mencicipi kopi Indonesia. Mereka malah penasaran ingin melihat Indonesia”, ujar Bagas. Ini tidak lepas dari peranan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan Perwakilan RI di luar negeri.

Namun demikian Indonesia juga menyampaikan informasi seluas-luasnya tentang kondisi daerah yang belum sepenuhnya pulih dari pandemi. ”Seluruh dunia terkena dampak, dan tidak ada  satupun negara yang imun terhadap COVID -19”, kata mantan Dubes RI ini. 

DIsebutkan bahwa sejak tahun lalu sampai sekarang Kemlu dan Perwakilan RI terus melakukan promosi tentang kopi spesialti dan mencari pasar yang tepat (niche market) di wilayah Amerika Utara, Eropa, Asia dan Afrika.

Mengambil contoh Jerman, negara yang berjumlah 82 juta jiwa itu sebagian besar adalah penggemar kopi. Letak strategis Jerman sebagai penghubung ke semua negara Eropa Utara dan kekuatan ekonomi negara itu juga patut dipertimbangkan Indonesia.

Adanya pandemi, ternyata di Eropa terjadi peningkatan konsumsi meminum kopi di rumah sebesar 75%. Beberapa Dubes di kawasan Asia, termasuk RRT juga menyatakan perlunya ekspor kopi yang berkualitas dan berkesinambungan. 

Bagas mengutip nasehat seorang pakar kopi AS,  Mane Alves menyatakan bahwa pendidikan dan pemasyarakatan kopi bagi semua masyarakat Indonesia sangat penting. Setelah itu para pengusaha kopi perlu didorong untuk mengikuti lomba/kompetisi internasional.

Para roasters AS dan Eropa juga disarankan untuk lebih sering diundang guna mendatangi Indonesia. Pakar tersebut menyatakan bahwa kunjungan langsung tersebut diperlukan untuk melihat keaslian dan mutu kopi, serta berdialog langsung dengan petani. ”Nah dari situlah wisata kopi mempunyai alasan kuat untuk dikembangkan”, kata Bagas. 

Pembicara lainnya, Rizki Handayani, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf, juga memaparkan tentang prioritas kebijakan pariwisata kopi ke wilayah di Indonesia.

Disampaikan bahwa acara Webinar ini sejalan dengan program Kemenparekraf/Baparekraf untuk memulihkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia.

“Terdapat pesan dari tema acara ini untuk mendukung pemerintah dalam upaya memulihkan sektor pariwisata akibat pandemi COVID-19 dengan meramaikan kembali destinasi wisata di Indonesia,” kata Rizki.

Konsep utuh Agro wisata dan Coffee Tourism

Para pembicara lainnya, Tio Handoko dari Banaran, Panca Sarungu dari Masata dan Yugian Leonardi menyampaikan apresiasinya atas langkah-langkah pemerintah yang selalu mengajak semua stakeholders (pemangku kepentingan) untuk memecahkan problem wisata dan kopi.

Mereka sepakat bahwa wisata agro dan coffee tourism tidak boleh dilepaskan. Hal yang konkrit dan mudah dilakukan adalah adanya acara coffee walk, adventures dan tantangan untuk lintas alam. 

Bagas Hapsoro menyatakan bahwa sejalan dengan kebijakan nasional tentang kopi, maka diplomasi kopi Indonesia di tahun 2021 akan terus semakin digencarkan dan akan dibagi dalam berbagai bentuk kegiatan.

Antara lain kegiatan seperti temu bisnis, pembuatan katalog rasa, undangan kepada dubes-dubes asing di Jakarta, kunjungan ke sentra-sentra produsen kopi agar mereka bisa melihat bagaimana kopi tersebut diproduksi.

”Para dubes asing dapat melihat sendiri bahwa menanam kopi secara sustainable dan dapat bisa bertemu dengan petani langsung terkait aspek kesejahteraannya”, kata Bagas. 

Diakhir talkshow para peserta dan pembahas sepaham bahwa membahas kopi dan wisata tidak hanya semata-mata dari aspek ekonomi. Kopi menurut pemahaman para pembahas juga mencakup nilai budaya seperti upacara dan tata cara membuat kopi tubruk.

Dari sisi sosial juga mencakup pemberdayaan manusia, mengingat kegiatan produksi kopi juga melibatkan 96,8% dari masyarakat perkebunan.  

 

Dwi Yani

Representatif Bali- Nusra Jln G Talang I, No 31B, Buana Indah Padangsambian, Denpasar, Bali Tlp. +628100426003/WA +628123948305 *Omnia tempus habent.*