Gaet Wisatawan, Infrastruktur Tanjung Lesung Dikucur Rp 80,9 Miliar

this formate

TANJUNG LESUNG, bisniswisata.co.id: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat atau Kementerian PUPR mengucurkan Rp 80,9 milir untuk pengembangan infrastrukytur di Pantai Tanjung Lesung, Provinsi Banten. Pengembangan infrastruktur di salah satu kawasan strategis pariwisata nasional ini dilakukan guna menggaet wisatawan.

Direktorar Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ditugasi mengerjakan infrastruktur di pantai yang terletak kurang lebih 170 kilometer dari Kota Jakarta ini. Setelah sejumlah infrastruktur dasar seperti jalan akses selesai dibenahi, kini kementerian tengah menyelesaikan pembangunan berbagai titik destinasi wisata.

“Saat ini tengah dibangun pengaman Pantai Jongor, Caringin dan Kemuning di Kabupaten Pandeglang, dengan panjang sekitar 7.2 km yang ditargetkan selesai tahun 2019,” tulis Kementerian PUPR dalam keterangannya di Jakarta, Ahad (29/07/2018).

Ketiga pantai ini adalah serangkaian pantai yang berlokasi di sekitaran Tanjung Lesung, di pesisir barat Pulau Jawa. Selain itu, Kementerian PUPR bangun wisata berbasis pembangunan desa dan ekonomi kerakyatan, Kampung Wisata Cikadu. Dua keunggulan daerah akan dikembangkan yaitu batik Cikadu dan agrowisata salak purus. “Diharapkan bisa menjadi destinasi wisata baru di KSPN Tanjung Lesung.”

Sebelumnya, pembangunan Tanjung Lesung diprioritaskan pada infrastruktur dasar seperti jalan. Saat ini, Kementerian PUPR mengklaim waktu tempuh dari Jakarta menuju Tanjung Lesung hanya 2,5 sampai 3 jam dari yang semula lebih lama dari itu.

Kementerian juga terus melakukan pemeliharaan dan peningkatan jalan akses dari Citeureup, Pandeglang Banten menuju Tanjung Lesung sepanjang 6,1 km hingga pemeliharaan Jembatan Ciliman dan Citeureup.

Pembangunan Tanjung Lesung tak cukup hanya mengandalkan pemerintah melalui Kementerian PUPR. Oleh sebab itu, pemerintah dari awal tahun 2016 amat gencar menarik investor untuk berinvestasi di sana. Namun hingga September 2017 saja, realisasi investasi baru mencapai Rp 600 miliar dari target Rp 2 triliun.

Meski demikian komitmen investasi mulai menunjukkan angin segar pada tahun ini. Maret 2018, Jababeka Group berencana menambah komitmen investasi mereka di Tanjung Lesung dari semula Rp 5 triliun menjadi Rp 9 triliun. Lalu Investor asal Korea Selatan, DW juga menyatakan komitmen investasi Development Ltd senilai Rp 6,67 triliun. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Lontong Tuyuhan, Sisi Lain Kuliner Pecinan Lasem

this formate

LASEM JATENG, bisniswisata.co.id: Memburu kuliner lontong tuyuhan adalah keharusan bila sedang di Lasem, sebuah kota pecinan kuno di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah (Jateng). Opa Gandor, orang yang dituakan di kawasan Pecinan Lasem dengan rela mengantarkan lontong tuyuhan, sisi lain kuliner khas dari Lasem.

Ia langsung bergegas mengeluarkan sepeda motor matic tuanya saat saya bilang ingin menjajal lontong tuyuhan. “Saya antar saja. Warung lontong tuyuhan itu adanya di dekat kebun tebu. Enggak ada angkutan umum,” tutur Opa Gandor.

Sepanjang jalan menuju sentra penjaja lontong, ia memberi tahu lokasi-lokasi favorit wisatawan yang kami lalui. “Itu namanya Batik Pusaka Beruang. Pemilknya adalah pengusaha bernama Santoso Hartono alias Pak San,” kata Opa Gandor sambil menunjuk salah satu rumah.

Menurut Opa Gandor, Pak San adalah satu dari segelintir pebisnis batik yang bertahan di Lasem. Ia mengenang, pada era 1950-an, batik masih begitu berjaya di tanah kelahirannya itu. Kota Lasem begitu ramai pendatang saban hari. Orang dari mana pun, seperti Surabaya, Semarang, Kudus, Solo, berkunjung khusus untuk belanja batik.

Namun mereka harus gigit jari pada era Orde Baru. Usaha batik meredup. Motif pun dibatasi. Pola khas Lasem yang memiliki corak pecinan seperti barong, naga, tulisan Mandarin dan sejenisnya tak boleh terbit. “Kredit rakyat khusus untuk pengusaha keturunan Cina dipersulit. Saya ingat betul,” kata Opa Gandor.

Padahal, menurut Opa Gandor, keturunan Cina di Lasem adalah warga asli Nusantara. Peradaban Cina masuk Lasem sudah ratusan tahun dideteksi keberadaannya. Keturunannya pun sudah sampai garis kedelapan atau sembilan saat ini sejak Cina masuk ke Lasem sekitar 1300-an.

“Sekitar 7.000 orang Cina masuk Lasem waktu itu cowok semua dan menikah dengan perempuan pribumi. Mereka tinggal di sini karena kapalnya dibakar oleh kaptennya. Lalu menghasilkan keturunan,” ujar Opa Gandor.

Kisah masa lalu Lasem belum kelar juga padahal kami sudah berkendara 20 menit dari pusat kota. Sentra lontong tuyuhan itu mulai terlihat. Lokasinya di tengah kebun tebu. Ada lebih dari sepuluh penjual. Kata Opa Gandor, yang paling enak adalah kios kedua dan ketiga dari arah jalan pusat kota. Kami pun menuju kios kedua.

Saat itu adalah jam makan siang. Hampir semua warung penuh pengunjung. Mereka duduk di bangku panjang. Angin semilir dari perkebunan yang mengepung lokasi sentra lontong itu membuat hawa terasa adem.

Di depan kios tampak para pedagang sibuk mengiris lontong. Ada yang unik pada lontong tuyuhan. Bentuknya seperti kerucut berukuran besar. Mirip bakcang alias makanan khas Cina yang terbuat dari beras atau ketan.

Bentuk lontong ini mendapat pengaruh memasak dari Cina, menurut Opa Gandor. Lontong tuyuhan disandingkan dengan sayur kuning berisi potongan ayam kampung. Diberi nama tuyuhan sesuai dengan daerahnya, kata Opa Gandor. Desa tempat kami makan lontong ini adalah Desa Tuyuhan. Lontong tuyuhan yang saat ini sudah tersebar sampai Rembang.

Beberapa orang Tuyuhan pun berinisiatif membuka warung sederhana. Kini warung itu sudah berkembang lebih baik berbentuk permanen. “Karena bantuan pemerintah,” ukar Opa Gandor seperti dilansir laman Tempo, Ahad (29/07/2018).

Sepiring lontong tuyuhan ini dibanderol Rp 12 ribu. Para penjual biasanya membuka lapak antara pukul 10.00 hingga pukul 17.00. Sambil menyantap lontong tuyuhan, kisah Lasem masa lalu pun dilanjutkan. Kini lebih lengkap karena ditemani kuah beraroma kunyit yang khas. Cerita Lasem makin hidup di warung sederhana Tuyuhan. (TMP)

28 Juli – Agustus 2018, Festival Sangiang Api

this formate

BIMA, bisniswisata.co.id: Generasi Muda Desa Sangiang di Kecamatan Wera, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Dinas Pariwisata Bima dan pemerintah daerah setempat menggelar festival akbar bertajuk “Festival Sangiang Api”. Festival ini dihelat pada 28 Juli hingga Agustus 2018.

Festival Sangiang termasuk salah satu yang ditunggu-tunggu. Sebab, rangkaiannya diklaim meriah dan menarik mendatangkan wisatawan. Festival ini akan dihelat dengan enam rangkaian acara. Berikut ini di antaranya, yang dihimpun dari siaran pers Kementerian Pariwisata, Ahad (29/07/2018):

1. Lomba Sampan Layar Tradisional

Lomba sampan ini mengambil titik mula dari Pulau Sangiang, kemudian finis di Desa Sangiang. Lomba ini menempuh jarak sekitar 12 kilometer yang melewati ganasnya laut Flores. Pada 2017, lomba diikuti oleh 35 perahu. Pada 2018, peserta lomba perahu layar meningkat sebanyak 60. Peserta itu berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Bima.

2. Pameran Kerajinan Rakyat

Acara ini merupakan bazar yang akan diikuti oleh para perajin industri rumah tangga. Pameran bakal menampilkan berbagai macam produk industri.

3. Gebyar Kuliner Kalempe Sangiang
Kalempe merupakan makanan khas daerah Sangiang yang jarang ditemukan di daerah lain.

4. Jelajah Gunung Sangiang

Jelajah Gunung Sangiang bertujuan untuk memetakan potensi bencana sekaligus memetakan potensi wisata serta satwa dan keanekaragaman hayati lainnya.

5. Pertunjukan Seni Tradisional
Para pengunjung akan menyaksikan nyanyian mistis Sangiang (Sagele), ragam tarian daerah, teater, monolog sejarah (Mpama Mpemo), puisi, dan musik.

6. Nggalo Ruhu

Nggalo Ruhu atau berburu massal merupakan salah satu tradisi leluhur warga Sangiang di Bima, yang dipelihara secara turun-temurun hingga saat ini. Tradisi itu hanya dilakukan sekali dalam setahun dalam rangka menjamu kedatangan para petinggi. Pada saat berburu, mereka dipimpin oleh panglima yang sudah ditunjuk sebelumnya oleh tetua adat. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Lombok Gempa, Wisatawan Dilarang Mendaki Rinjani

this formate

MATARAM, bisniswisata.co.id: Gempa bumi berkekuatan 6,4 Skala Richter mengguncang kawasan wilayah Lombok, Bali dan sebagian wilayah Sumbawa, Ahad (29/7/2018) sekitar pukul 06.47 WITA. Gempa ini tidak berpotensi tsunami. Namun demikian, sedikitnya 10 orang meninggal dunia, termasuk seorang wisatawan asal Malaysia.

“Tercatat hingga pukul 09.00 WITA sudah 10 orang meninggal dunia, 40 orang luka dan puluhan rumah rusak. Diperkirakan dampak gempa akan bertambah mengingat pendataan masih berlangsung dan belum semua lokasi terdata,” papar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis yang diterima Bisniswisata.co.id, Ahad (29/07/2018).

Data sementara dari BPBD Provinsi NTB, lanjut dia, tercatat di Kabupaten Lombok Timur terdapat delapan orang meninggal dunia, 10 orang luka berat, 10 orang luka ringan dan puluhan rumah rusak.

Dari 8 korban meninggal terdapat 1 orang wisatawan Malaysia. Identitas korban meninggal dunia: Isma Wida (30 tahun) warga negara Malaysia, Ina Marah (60 tahun), Ina Rumenah (58 tahun) dan 5 orang meninggal dunia dalam pendataan identitas. Di Kabupaten Lombok Utara terdapat 2 orang meninggal dunia, dan 13 orang luka-luka dirawat di Puskesmas Senaru, dan tujuh orang di Puskesmas Bayan.

Berdasarkan laporan juga terdapat longsor cukup besar dari Gunung Rinjani di mana material longsoran mengarah ke utara pascagempa 6,4 SR. Saat ini jalur pendakian ke Gunung Rinjani ditutup dan aparat masih melakukan pemantauan terhadap dampak longsor yang ada. “Untuk sementara wisatawan dilarang mendaki Gunung Rijani,” paparnya.

Gempa susulan juga masih terus berlangsung dan hingga pukul 09.20 WIB, BMKG mencatat telah terjadi 66 kali gempa susulan. Gempa susulan ini dengan kekuatan yang lebih kecil dan tidak berpotensi tsunami. “Ini adalah hal yang alamiah, setelah terjadi gempa besar, diikuti gempa-gempa susulan lebih kecil dalam rangka mencari keseimbangan sistem lempeng atau sesar yang ada, ujarnya.

Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Nusa Tenggara Barat NTB), menutup sementara jalur pendakian Gunung Rinjani karena diduga terjadi longsor di atas pegunungan akibat gempa bumi 6,4 pada Skala Richter (SR), Minggu (29/7/2018). “Infomasi dari petugas ada terlihat debu dari arah Pelawangan, diduga akibat longsor di jalur pendakian Sangkareang,” kata Kepala BTNGR Sudiyono.

Seluruh pendaki yang sudah berada di atas pegunungan diminta untuk tidak bergerak karena masih terjadi beberapa kali gempa susulan. Hal itu berpotensi menimbulkan longsoran yang membahayakan keselamatan jiwa.

Dari informasi petugas BTNGR Resort Sembalun, kabupaten Lombok Timur, jumlah pendaki yang naik gunung sejak Jumat (27/7/2018) sebanyak 788 orang. Sedangkan yang terdata di Resort Senaru, kabupaten Lombok Utara, hanya 38 orang, termasuk pemandu wisata gunung. “Kami masih memantau perkembangan di dalam kawasan. Kami belum melakukan evakuasi sampai situasi stabil,” ujarnya.

Jalur pendakian akan dibuka kembali setelah situasi dirasa aman dan tidak membahayakan keselamatan jiwa wisatawan. Informasi yang diperoleh dari petugas BTNGR Resort Sembalun, gempa bumi juga merusak rumah penduduk dan bangunan kantor, termasuk kantor Pos Sembalun, dan Puskesmas Sembalun. Beberapa orang warga dilaporkan mengalami luka-luka. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Terminal 4 Bandara Soetta Butuh Rp 11 Triliun

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: PT Angkasa Pura II (Persero) rencana bangun kembali terminal penumpang baru di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang. Terminal 4 akan berlokasi di lahan Soewarna. Terminal 4 ini baru memasuki Detail Enginering Design (DED) pada 2019. Diperkirakan mulai tender proyek pada 2020.

“Kami perkirakan kisaran investasi, dengan kondisi kita akan mulai bangun dua tahun lagi ditambah kondisi dolar itu sangat menentukan sebagian bahan baku, tidak kurang kisaran Rp 11 triliun,” papar Direktur Utama PT AP II Muhammad Awaluddin di Jakarta. Ahad (29/07/2018).

Rencananya, Terminal 4 ini didesain untuk melayani penerbangan full service, bukan diperuntukkan untuk maskapai berbiaya murah (LCC). Dengan demikian Bandara Soetta akan memiliki dua terminal full service yaitu Terminal 3 dan Terminal 4.

Juga kapasitasnya lebih besar jika dibandingkan Terminal 3. Jika Terminal 3 mampu menampung 25 juta penumpang, Terminal 4 ini akan mampu menampung 30 juta penumpang per tahun. “Namun ini kita akan bangun dengan ukuran lahan yang sama dengan Terminal 3 namun kapasitas nanti bisa maksimalkan,” sambungnya.

Saat ini, AP II tengah membangun landasan pacu alias runway ketiga di Bandara Internasional Soekarno Hatta atau Soetta sebagai salah satu langkah antisipasi serta mengakomodasi meningkatnya jumlah penumpang.

Proyeksinya mencapai lebih dari 100 juta penumpang pada 2025. Proyeksi tersebut juga dibarengi perkiraan pertumbuhan jumlah pergerakan pesawat. Hal ini mengakibatkan perlunya sarana dan prasarana bandara, baik dari sisi udara maupun sisi darat, ditingkatkan.

Hingga saat ini dengan mengoperasikan duarunway, Bandara Soetta dapat melayani 80+1 pergerakan pesawat terbang per jam. Kehadiran runway ketiga dengan dimensi 3.000 x 60 m2 ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2019 untuk mendukung peningkatan pergerakan pesawat mencapai 120 pergerakan per jam.

Memiliki tiga runway tentunya akan memberikan manfaat secara langsung kepada Angkasa Pura II selaku operator Bandara Soekarno-Hatta. Sebagai bandara tersibuk di Indonesia, runway ketiga diyakini akan mampu menambah jumlah rute dan penerbangan, sehingga dapat lebih optimal dalam mendukung pertumbuhan perekonomian dan pariwisata Indonesia.

Pengembangan Bandara Soekarno-Hatta, khususnya runway ketiga, membutuhkan investasi sekitar Rp 2 triliun. Pembangunan runway juga membutuhkan luas lahan mencapai 216 hektare.

Dari kebutuhan lahan tersebut, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut telah memiliki tanah seluas 42,85 hektare, sehingga diperlukan pembebasan tanah seluas 173,19 hektare yang dibiayai dengan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 4 triliun. (LEO)

Sirkuit MotoGp Mandalika Telan Investasi 500 dolar AS

this formate

MANDALIKA, bisniswisata.co.id: Sirkuit MotoGP di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, direncanakan mulai dibangun tahun 2019. Sirkuit sepanjang 4,8 kilometer yang membentang tepi selatan Pulau Lombok, berdiri di lahan seluas 160 Hektare dengan menelan investasi sekitar 500 dolar AS.

Lahan seluas itu untuk sirkuit sendiri butuh 140 hektare sisanya sekitar 20 hektare untuk pembangunan hotel berskala internasional. “Tahun 2019 dibangun dan ditargetkan 2022 mulai beroperasi,” kata Direktur Kontruksi dan Operasi PT Pengembang Pariwisata Indonesia (Persero) atau PT Indonesia Tourism Development Corporation (PT ITDC) Ngurah Wirawan dalam keterangan resmi yang dilansir laman Antara, Ahad (29/07/2018).

Keunggulan sirkuit MotoGP ini, sambung dia, di tengah-tengah destinasi dan pertama di dunia memadukan antara sebuah kawasan destinasi pariwisata dengan arena sirkuit. “Saat ini perusahaan internasional berbasis di Perancis, Vinci Construction Grand Projects (VCGP) akan menandatangani Land Use & Development Agreement (LUDA) untuk membangun sirkuit MotoGP di Mandalika akhir Juli 2018,” ucapnya

Dilanjutkan, sirkuit yang dibangun ini merupakan jalan kawasan yang bisa dilalui sehari-hari, seperti layaknya sirkuit di Monaco, Singapura, dan Makau. “Bedanya kalau dengan Monaco, Singapura, dan Makau, di sana itu kotanya dulu baru bangun jalannya, di kita ini benar-benar baru semua, baik jalan dan kawasan,” jelasnya

Menurutnya, kelebihan dari jalur sirkuit yang dilalui tentu lebih menantang dan menawarkan pemandangan alam yang mungkin tidak bisa didapatkan di tempat lain. Meski demikian tetap harus sesuai standar sirkuit internasional. “Jadi semua mengacu sesuai standar internasional, seperti tikungannya dan kualitas jalannya, sehingga bisa untuk menyelenggarakan MotoGP,” ungkapnya.

Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi NTB Isnidar mengklaim pembebasan lahan sirkuit balap MotoGP di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok sudah tuntas. “Pembebasan lahan sudah tuntas, tidak ada masalah, itu kuncinya. Itu mulai dibangun setelah pembebasan tanah selesai,” tandasnya serius.

Sirkuit MotoGP Lombok berkonsep sirkuit jalan raya, seperti sirkuit balap di Monaco dan Singapura. Sirkuit dengan nilai investasi sebesar 500 dolar AS tersebut dibangun perusahaan konstruksi asal Perancis, Vinci Construction Grand Projects (VCGP).

Sementara pembangunan hotel resort skala internasional memiliki rancang bangunan bernuansa Californian style dan bertema perfilman. “Belum lama ini kita kedatangan CEO Paramount. Mereka bercerita hotel yang akan dibangun mengambil tema perfilman, ada berbau film. Arsitekturnya mengambil konsep modern, tetapi di dalamnya bernuansa California style,” ujar Kepala General Affair KEK Mandalika Lanang Bratasuta

Menurutnya, KEK Mandalika terletak di tepi pantai selatan Pulau Lombok. Selain dapat menikmati pemandangan laut luas, para pengunjung KEK Mandalika juga disuguhi pemandangan bukit. Sejumlah titik di KEK Mandalika cocok dijadikan lokasi pengambilan gambar film. “Ada pegunungan, perbukitan, dan pantai langsung. Pokoknya keren,” ujar Indira.

Pembangunan Paramount Lombok Resort & Residence dilakukan sejak dua bulan lalu. Menteri BUMN Rini Soemarno sendiri yang meletakkan batu pertama (ground breaking) tanda dimulainya pembangunan proyek tersebut pada 18 April 2018. Dibangun di atas lahan seluas 7,65 Ha, resort bernilai Rp 1,3 triliun tersebut bakal mengoperasikan lebih dari 400 kamar. (NDY)

Sop Ikan plus Sambel Terasi, Kuliner Nikmat di Sanur Bali

this formate

SANUR, bisniswisata.co.id: Bali tidak hanya terkenal dengan budaya, pantai dan pemandangan alamnya yang indah. Tapi juga dengan aneka ragam kulinernya. Salah satu tempat yang sering diburu oleh pecinta kuliner dan para wisatawan yang berkunjung ke Bali, adalah mencicipi masakan serba ikan di Warung Mak Beng.

Warung tersebut selain terkenal dengan menu sop ikan dan ikan gorengnya, juga dilengkapi dengan sambel. Tak salah kalau di plang warungnya tertulis Sambel Mak Beng. “Wuah sambelnya pedas. Tapi kuah ikannya segar,” ujar Lia dari Jakarta yang baru saja mendarat di Bali, Jumat, 27 Juli 2018.

Warung ini menyajikan menu dengan resep tradisional. Berupa paket sop ikan dan ikan goreng , ditambah sambel terasi. Tidak ada menu lainnya. Sop ikan dengan bumbu khas tradisional Bali ini, rasa kuahnya segar agak asam dan pedas. Di dalam sop ada potongan belimbing dan timun. Untuk ikan gorengnya digoreng kerang. Rasanya gurih.

Sore itu Warung Mak Beng cukup ramai. Di beberapa sudut ruangan yang ditata dengan meja kayu panjang dan kursi-kursi juga dari kayu, tampak penuh dengan pengunjung.

Warung ini terletak di Jl. Hang Tuah No. 45, Sanur, Bali. Cukup mudah dijangkau karena berada di dekat Pantai Sanur. Ada yang menarik di warung ini. Yaitu salah satu sisi dindingnya ditata foto-foto selebritas terkenal yang pernah mencicipi menu foto Ari Tulang, Anang, Butet Kertarajasa, dan lainnya. (rahmayulis@bisniswisata.co.id)

Gamelan Bali Warnai Konser Noah di Hard Rock Hotel

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Grup band Noah berhasil menghibur penonton yang hadir dalam acara bertajuk Hard Rock Hotel Bali Anniversary 20th Music Concert Sabtu (28/7/2018) malam. Ariel sang vokalis secara total membawakan 16 lagu atau menambah satu lagu dari song list yang dipersiapkan. Personel Noah sebelumnya menyiapkan 15 lagu, tetapi jika penonton masih mau, akan ditambah.

Konser Noah dimulai pukul 21.15 Wita. Diawali dengan pembentangan tirai putih transparan untuk menutupi bagian depan panggung diiringi suara musik gamelan Bali sebagai opening. Penonton histeris ketika Ariel keluar dari samping kiri panggung sambil membawakan lagu Sahabat dalam kondisi tirai masih tertutup. Mengenakan kaos putih dan jaket jeans berwarna biru.

Lagu kedua adalah Khayalan Tingkat Tinggi. Saat itu mulai dibuka tirainya. Teriakan penonton semakin keras setelah lagu Hidupku Untukmu Mati Tanpamu dan Cobalah Mengerti menghentak dengan irama yang lebih kencang.

Dalam konser ini Noah juga memperkenalkan single lagu baru dengan lirik bahasa Inggris yang berjudul My Situation. “Teman-teman, lagu tadi belum dikeluarin, tapi kok awalannya sudah tahu?” kata Ariel seperti diunduh laman Bisnis

Noah memang selama 3 tahun terakhir sedang menyusun album baru, tetapi mengalami kesulitan dalam membuat lirik. Untuk musiknya sendiri sudah hampir selesai, tinggal liriknya yang perlu waktu lama. “Kami 3 tahun bikin lagu sampai sekarang belum selesai. Masalahnya adalah kesulitan bikin lirik lagu,” ungkap Ariel.

Lagu keenam, Ariel memegang gitar akustik membawakan lagu Yang Terdalam disusul Tentang Kita. Lukman sang gitaris membantu Ariel dalam mengisi melodi. Lagu ke delapan Di Atas Normal, Ariel masih memegang gitar akustik.

Setelah 1 jam konser berlangsung, tiga penontong diajak naik ke panggung untuk diajak menyanyikan lagu Menghapus Jejakmu. Ariel dan personel melanjutkan lagu berikutnya yaitu Mungkin Nanti, Jalani Mimpi, Seperti Kemarin, Langit Mendengar, dan lagu terakhir Andaikan Kau Datang.

“15 song list sudah semuanya,” kata Ariel sambil menunjukkan kertas daftar lagu kepada penonton. Namun, penonton meminta meminta terus dilanjutkan. Akhirnya lagu Topeng menjadi penutup konser. (BNS)

Sasar Pasar Global, DHL Express Borong 14 Pesawat Boeing

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Memperkuat armada menjadi fokus DHL Express saat memperluas jaringannya dengan menyasar pasar internasional. DHL Express baru saja memesan 14 Boeing 777 Freighter, termasuk mencakup opsi dan hak pembelian untuk tujuh pesawat tambahan. Pengiriman empat pesawat pertama diharapkan akan selesai pada 2019.

“Akuisisi 14 pesawat Boeing ini merupakan penggantian bertahap armada antarbenua kami yang lebih tua. Sebagai jenis kapal kargo paling efisien dan paling andal dengan rentang jarak tempuh jauh yang terbaik, pesawat ini akan berkontribusi pada target pengurangan emisi kami dan memungkinkan kami untuk melayani lebih banyak lagi pasar dengan penerbangan non-stop,” ujar Ken Allen, CEO DHL Express dalam keterangannya, Jumat (27/07/2018).

Allen menambahkan, DHL merupakan pengguna awal dari jenis pesawat ini untuk industri logistik dan menerima pengiriman B777F ke-3 yang diproduksi oleh Boeing pada tahun 2009. “Dengan pengalaman yang luas mengoperasikan jenis kargo ini, telah terbukti lebih unggul dalam semua aspek operasi membuatnya menjadi pilihan yang logis,” paparnya.

Secara keseluruhan, 14 penggantian pesawat antarbenua ini berkapasitas netral, namun dengan memberikan nilai tambah seperti biaya operasional yang bijak, efisiensi dan manfaat keandalan yang signifikan.

Seperti dilansir laman Marketeers, sementara DHL Express di masa lalu menyewa pesawat untuk mengoperasikan jaringan globalnya di rute, pembelian pesawat angkut milik sepenuhnya akan meningkatkan posisi biaya divisi DHL Express di masa yang akan datang. Pada tahun 2018, pembayaran di muka telah masuk dalam Capex grup.

Memperluas penjualan e-commerce lintas batas akan tumbuh menjadi $ 4,48 triliun pada 2021, yang berarti pertumbuhan 19,2 persen per tahun. Investasi DHL di 777 Freighters adalah jawaban langsung terhadap meningkatnya permintaan akan kapasitas global express. Sebagai pesawat kargo bermesin ganda terbesar di dunia, Boeing 777 Freighters mampu terbang 4.900 mil laut (9.070 kilometer) dengan muatan kargo 102 ton.

Pesawat dengan teknologi terdepan ini akan mengurangi emisi CO2 hingga 18 persen dibandingkan dengan pesawat yang sebelumnya. Ini akan membantu kami berkontribusi secara berkesinambungan yang mana sejalan dengan target perlindungan iklim kami untuk mengurangi semua emisi terkait logistik hingga nol pada tahun 2050.

DHL Express mengoperasikan lebih dari 260 pesawat khusus dengan 17 maskapai mitra di lebih dari 600 penerbangan harian di 220 negara dan wilayah. (NDY)

Monumen Perjuangan Bangsal, Sepenggal Mengenang Pejuang Bali

this formate

BADUNG BALI, bisniswisata.co.id: Bagi mereka yang suka dengan wisata sejarah, tak ada salahnya mampir ke Monumen Perjuangan Bangsal, yang terletak di Jl. Raya Sempidi, Badung, Bali. Keberadaan monumen tersebut sebagai upaya untuk mengenang para tokoh pejuang di Bali Yang ikut andil dalam perang Kemerdekaan Republik Indonesia, terutama saat gerakan bawah tanah pada 16 Agustus 1945.

Prof. Dr. Wayan Windia, Sekretaris Pengurus Monumen Perjuangan Bangsal, menuturkan bangsal adalah sebutan bagi sebuah rumah yang terkenal dan sangat fundamental maknanya dalam revolusi dan perang kemerdekaan di Bali.

“Bangsal adalah sebuah gudang yang merupakan bagian dari rumah milik Bagus Made Wena,” ujar Wayan di sela-sela kunjungan Pengurusan Pusat Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) ke Bangsal tersebut, Kamis, 26 Juli 2018

Dalam buku yang ditulis Wayan Windia berjudul “Bangsal dalam kenangan revolusi dan perang kemerdekaan di Bali”, disebutkan bahwa gudang itu berukuran 6×8 m dan 6×10 m. Di dalam gudang itu Alm. Bagus Made Wena menyimpan barang dagangannya seperti kopra atau gabah. Dia seorang pedagang besar yang kaya pada saat itu.

“Di sekitar gudang itu dibangun sebuah lubang perlindungan yang sangat apik, dan sangat rahasia. Bila ada tanda-tanda musuh bergerak ke Bangsal, maka para pejuang langsung masuk ke lubang perlindungan. Musuh bisa diintai dari lantai dua atau loteng,” tutur Prof. Wayan.

Kini bangsal tersebut menjadi salah satu objek wisata dan sarana pemdidikan. Dibuka untuk masyarakat umum, pelajar dan wisatawan. Siapapun boleh masuk dan melihat monumen perjuangan tersebut yang dibuka dari pkl 10.00 sd 17.00 waktu setempat.

Apa yang dilakukan oleh Alm. Bagus Made Wena (Penglingsir Keluarga Besar Pasraman Puri Puncak Bangsal) dilanjutkan oleh anak dan cucunya. Kini bangsal tersebut diperluas. Dibuat bangunan khusus untuk ruang pertemuan, belajar dan memajang foto-foto pergerakan dan kegiatan saat ini, di kawasan Pasraman Puri Puncak.

Di areal tanah seluas sekitar satu hektare tersebut, berdiri beberapa bangunan. Diantaranya ruang pertemuan yang sering dipakai untuk tempat pelatihan pemuda dan kegiatan Menwa. Ada ruang tempat sembahyang, ada ruang istirahat dan dilengkapi dengan taman yang luas dan asri.

Satu bangunan menampilkan ribuan foto-foto perjuangan dengan tema ruangan “Sasaran Lensa Pendidikan Pendahuluan Bela Negara Ugracena.” Juga ada buku-buku tentang pers dan buku perjuangan.

“Diharapkan monumen dan bangsal ini bisa bermanfaat bagi generasi baru Indonesia, untuk membangun nusa dan bangsa,” ujar Bagus Ngurah Rai, SH, MM, salah seorang putra Bagus Made Wena, kini menjadi Ketua Pengurus bangsal dan menumen tersebut.

Bagus Ngurah Rai mengatakan pihaknya ingin menjadikan monumen dan bangsal jadi objek budaya dan perjuangan agar anak-anak tahu perjuangan kemerdekaan masa lalu.

Untuk itu, lanjutnya, setiap 16 Agustus dibuat peringatan perjuangan. “Kami ingin anak-anak belajar masa lalu tentang kemerdekaan. Dan bisa ikut membangun jiwa semangat 45,” ungkapnya. (rahmayulis@bisniswisata.co.id)