Pasca Gempa, TPK Hotel di Mataram Suram

this formate

MATARAM, bisniswisata.co.id: Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang maupun nonbintang di Mataram pascagempa bumi kondisinya sangat suram atau mengalami penurunan secara signifikan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram Isya Ansori menyebutkan, untuk hotel berbintang TPK pascagempa bumi sebesar 28,18 persen dari angka sebelumnya di bulan Juli 46,56 persen, sedangkan hotel nonbintang dari 28,20 persen turun menjadi 16,48 persen.

“Jumlah hotel di Kota Mataram tercatat sebanyak 137 hotel, 28 diantaranya merupakan hotel berbintang, sisanya 109 hotel nonbintang yang sebelumnya perkembangannya cukup pesat,” kata Isya saat ekspose data dalam rangka Hari Statistik Nasional (HSN) 2018 yang bermotokan “dengan data tingkatkan prestasi bangsa”.

Dilanjutkan, gempa bumi yang melanda Lombok ternyata sangat berpengaruh luar biasa terhadap TPK hotel di Mataram, sebab tamu-tamu yang datang berasal dari luar. Karenanya, kondisi ini akan berdampak juga pada pertumbuhan ekonomi di Kota Mataram, serta dampak lainnya terutama pajak daerah.

“Tetapi kita harapkan, kondisi itu hanya terjadi di bulan Agustus dan September dan selanjutnya bisa pulih kembali. Data terbaru September baru akan dirilis pada 1 November,” katanya seperti dilansir laman Antara, Kamis (11/10/2018).

Menurutnya, jika diperhatikan per jenis hotel berbintang paling terdampak terhadap gempa signifikan adalah hotel bintang lima dan empat dari 67,06 persen menjadi 16,34 persen, sedangkan hotel bintang 1-3 tidak terlalu terdampak gempa. “Semoga Oktober, November dan Desember terjadi lonjakan TPK agar bisa mengurangi dampak gempa sehingga total satu tahun tidak hanya terdampak,” lontarnya.

Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Mataram HM Syakirin Hukmi sebelumnya kepada Antara menyebutkan, penerimaan pajak hotel bulan September 2018, merosot drastis dari target yang direncanakan. “Penerimaan pajak hotel yang kami dapatkan untuk bulan September ini hanya sekitar Rp200 juta, dari jumlah biasa di atas Rp2 miliar,” ujarnya.

Menurutnya, turunnya penerimaan pajak hotel bulan ini dipicu karena tingkat hunian hotel bulan Agustus berada di bawah 10 persen, yang disebabkan adanya bencana gempa bumi.

Atas hal itu, pihaknya dapat memaklumi kondisi hotel yang sepi tamu selain itu pihak hotel juga masih melakukan perbaikan terhadap bangunan hotel yang terdampak sehingga ada juga hotel yang melapor tidak beroperasional pascagempa bumi. “Harapan kami, kondisi ini bisa membaik di dalam waktu satu hingga dua bulan ke depan, agar penerimaan pajak hotel dapat kembali normal,” katanya.

Syakirin mengatakan, dengan kondisi tersebut pihaknya juga telah mengajukan penyesuaian target pajak hotel tahun ini dari Rp27 miliar menjadi Rp23 miliar atau turun Rp4 miliar. “Usulan penyesuaian target pajak hotel itu, sekarang masih dalam proses pembahasan. Realisasi pajak hotel saat ini mencapai sekitar 65 persen,” ujarnya. (EP)

Gempa Jatim Terasa di Bali, Pihak Hotel Sempat Evakuasi

this formate

NUSA DUA, bisniswisata.co.id: Gempa tektonik berkekuatan 6,3 SR terjadi di sekitar wilayah laut Bali, sekitar 55 km dari Situbondo, Jawa Timur, pada pukul 01.57 WIB, Kamis (11/10) dinihari. Getaran gempa itu paling kuat terasa di Kabupaten Sumenep dan Situbondo, Jawa Timur. Meski begitu, intensitas gempa dirasakan hingga Bali sampai Lombok.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan getaran gempa itu tak menimbulkan kepanikan di kawasan Ngurah Rai, Kabupaten Badung, Bali. Meskipun begitu, imbauan sempat diberikan pihak-pihak hotel kepada para tamu untuk melakukan evakuasi keluar dari bangunan.

Salah satu yang terpantau adalah di Hotel Hilton Garden Inn dan sekitarnya di Jalan Ngurah Rai. “Sudah kasih pengumuman. Kepada semua tamu bahwa ada gempa sekarang diimbau turun,” ujar Kriszaldi salah satu karyawan di hotel di Denpasar, Kamis (11/10/2018).

Walaupun telah ada pengumuman imbauan keluar bangunan, dari puluhan tamu yang menginap di sana hanya sedikit yang terlihat keluar. Menurut Kriszaldi, sejumlah tamu yang keluar dari bangunan pun tak memperlihatkan kepanikan berlebihan. “Mereka turun tapi tidak yang kaget atau panik berlebihan karena kan hanya beberapa menit saja,” tutur Kriszaldi.

Tak berselang lama pasca gempa, pihak hotel pun memastikan dulu keamanan di sana sebelum menginstruksikan tamu untuk kembali ke kamar masing-masing. Kriszaldi pun menyebut gempa bumi pagi dini hari tadi tak menyebabkan kerusakan sedikitpun pada bangunan hotel tempatnya bekerja.

Seperti dilansir CNNIndonesia.com, seluruh tamu pada pagi ini tetap sarapan dengan santai dan tidak ada perubahan operasional atau pengamanan di hotel. Selain itu, tak ada kerusakan pada dinding hotel akibat gempa tersebut.

Salah satu tamu tak keluar saat gempa terjadi, Fia, mengaku ia baru tahu adanya gerakan lempeng bumi itu saat bangun tidur pada pagi tadi. Ia pun kaget saat mengetahui informasi tersebut. “Tidak terasa, karena saya sudah tidur jam satu pagi (WITA),” ujar Fia.

Meski kaget, Fia mengaku tak khawatir kondisi di Bali. Pasalnya, ia sadar saat ini Indonesia memang rawan gempa. Dan, ia pun memastikan akan tetap melanjutkan kegiatannya di Bali. “Saya tidak berniat pulang, karena masih ada tugas di sini,” katanya.

Senada, tamu lainnya, Tri juga sudah tertidur ketika gempa bumi terjadi pada dini hari tersebut. Perempuan yang juga sedang bertugas di Bali ini mengaku sudah tertidur pulas sebelum pukul 11.00 WITA. “Kaget. Pas bangun-bangun tahu kalau ada gempa, sempat panik tapi yakin akan baik-baik saja,” kata Tri.

Delegasi IMF-Bank Dunia Tak Waswas

Sementara Para delegasi pertemuan tahunan negara-negara anggota Dana Moneter Internasional (Annual Meeting Interntional Monetary Fund-World Bank/AM IMF-WB) 2018 di Nusa Dua, Bali tampak tidak khawatir dengan guncangan gempa Jatim berkekuatan 6,3 SR yang terasa hingga Pulau Dewata pada Kamis (11/10) dini hari.

Chris (45), delegasi dari Kanada mengaku tidak merasa ada guncangan gempa pada dini hari tadi karena telah pulas tertidur. Dia pun baru mendengarkan informasi gempa yang episentrumnya 55 km dari Situbondo itu saat mulai beraktivitas pagi tadi. “Saya tak merasakan, tapi saya mendengar dari sesama rekan delegasi telah terjadi gempa. Saya rasa ini tidak perlu dikhawatirkan karena pusat gempa bukan di sini,” ujarnya.

Sekalipun ada gempa susulan dan berada di Bali, Chris mengaku tetap tidak khawatir. Pasalnya, ia mendengar Indonesia memang negara yang mudah diguncang gempa dan percaya pada upaya mitigasi serta penanggulangan gempa di Indonesia. “Saya sudah dengar beberapa waktu lalu terjadi gempa di Indonesia, bahkan gempa dan saya dengar. Semua pihak menganggap Indonesia bisa mengatasinya. IMF dan World Bank juga mengatakan demikian,” kata dia.

Serupa Chris, Ana Yaroslav (38) yang merupakan delegasi dari Rusia mengaku tak merasakan getaran gempa pula semalam. Dan, serupa Chris, Ana pun menyatakan tidak khawatir. “Sebelum ke Bali, saya sudah tahu dan merasa semua tetap akan baik-baik saja walau sudah terjadi gempa dan masih akan terjadi gempa,” ucapnya.

Sekalipun akan terjadi gempa susulan, ia menilai panitia acara perlu segera mengomunikasikan langkah-langkah yang harus dilakukan para tamu dan delegasi dari negara-negara lain untuk proses evakuasi. “Saya rasa tidak khawatir bila harus dilakukan evakuasi dan lainnya,” kata dia.

Ketua Pelaksana Harian AM IMF-WB 2018 Susiwijono mengatakan panitia nasional akan segera memberikan keterangan resmi mengenai gempa Jatim pada pukul 11.00 Waktu Indonesia bagian Tengah (Wita) di Nusa Dua, Bali. Pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia itu sendiri rangkaian acaranya digelar di Nusa Dua, Bali, kurun waktu 8-14 Oktober 2018.

Berdasarkan rilis dari BMKG, gempa 6,3 SR yang terjadi dini hari tadi terjadi di laut pada kedalaman 12 km, dengan jarak 55 km di arah timur laut Kota Situbondo, Jatim.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal yang diperkirakan akibat aktivitas patahan di zona back arc thrust. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi di wilayah Laut Bali ini, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan sesar naik,” demikian keterangan BMKG.

Berdasarkan analisis peta gempa dirasakan, intensitas gempa dirasakan III-IV MMI di Denpasar, III MMI di Karangkates, III MMI di Gianyar, III MMI di Lombok Barat, III MMI di Mataram, III MMI di Pandaan. (EP)

Paspor Jepang Kini Paling Sakti di Dunia

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Jepang mengambil alih posisi Singapura sebagai paspor sakti di dunia. Demikian klaim tahun 2018 dari Henley Passport Index, Henley & Partners melalui siaran pers tertanggal 9 Oktober 2018.

Setelah mendapatkan akses bebas visa ke Myanmar awal bulan ini, Jepang kini bisa menikmati akses bebas visa / visa-on-arrival ke 190 tujuan. Jumlah tersebut mengalahkan kekuatan Singapura yang hanya memiliki 189 tujuan, dan membuat negara itu berada di posisi kedua dalam indeks kekuatan paspor.

“Keduanya bersaing ketat sejak mereka berdua naik ke tempat pertama pada bulan Februari,” kata pernyataan tertulis yang dikutip dari Channel News Asia, Kamis (11/10/2018).

Pada kuartal ini, Jerman jatuh dari peringkat kedua sebelumnya, berbagi tempat ketiga dengan Korea Selatan dan Prancis. Sementara Denmark, Finlandia, Italia, Swedia dan Spanyol semuanya masuk di urutan keempat, dengan 187 tujuan akses bebas visa. Dan, Amerika Serikat dan Kerajaan Inggris meluncur turun dari tempat keempat ke posisi kelima.

“Dengan kegiatan visa keluar yang stagnan dibandingkan dengan rivalnya yang berkinerja tinggi seperti Jepang, Singapura dan Korea Selatan, tampaknya semakin tidak mungkin bahwa AS dan Inggris akan mendapatkan kembali posisi nomor satu yang diraih bersama pada tahun 2015,” kata siaran pers tersebut.

Dalam indeks kekuatan paspor tersebut, Irak dan Afghanistan berada di posisi paling bawah, dengan hanya 30 tujuan yang dapat diakses oleh warganya.

The Henley Passport Index menghitung peringkat kekuatan semua paspor di dunia menurut jumlah negara bebas visa yang dapat dimasuki pemegangnya. “Ini selalu diperbarui, ketika ada perubahan kebijakan visa mulai berlaku,” imbuh pihak Henley and Partners.

Peringkat ini didasarkan pada data dari Asosiasi Transportasi Udara Internasional dan penelitian internal. Oktober tahun 2017, perusahaan penasihat keuangan global Arton Capital menyebut Singapura sebagai paspor paling kuat di dunia.

Dari sekian banyak paspor di dunia, paspor The Sovereign Military Order of Malta dikenal sebagai paspor paling langka di dunia. Hanya tiga buah yang pernah dikeluarkan yaitu untuk grand master, wakil grand master, dan kanselir.

Paspor tersebut dikeluarkan pada Abad Pertengahan saat pemerintahannya masih bernama the Sovereign Military Hospitaller Order of Saint John of Jerusalem of Rhodes and of Malta.

Lebih lengkapnya, menurut Business Insider, paspor tersebut berasal dari Crusader Knights Hospitaller pada tahun 1099. Pemerintahan tersebut kehilangan pulau Malta pada tahun 1800, dan sejak saat itu, mengeluarkan perangko, mata uang, dan paspornya sendiri. Dan sejak saat itu, paspor The Sovereign Military Order of Malta tak pernah lagi diterbitkan. (EP)

Komunitas Lingkungan & Nadine Chandrawinata Bersihkan Pulau Bunaken

this formate

MANADO, bisniswisata.co.id: Komunitas Pegiat Lingkungan bersama kawula muda Manada tergabung dalam Seasoldier serta artis Ibukota yang peduli lingkungan, Nadine Chandrawinata menjalakan aksi nyata pelestarian lingkungan. Aksi itu dengan melakukan bersih-bersih Pulau Bunaken Manado Sulawesu Utara (Sulut).

Langkah untuk menjaga lingkungan di tempat wisata ini, dikerjakan pada pagi hari sambil menanti dan menikmati sinar matahari pagi. Selain itu, aksi bersih-bersih Palau wisata yang mendunia ini untuk mengampanyekan pelestarian lingkungan di Pulau Bunaken.

“Saya mencoba menyatukan satu hati dan pikiran, untuk kemudian melakukan aksi bersama melestarikan lingkungan,” ujar Nadine di depan puluhan anak muda dari berbagai komunitas yang bergabung di Seasoldiers, akhir pekan lalu di Pulau Bunaken, Manado, Sulawesi Utara.

Nadine menyatakan apresiasi kepada kawula muda yang sudah memilih bergabung bersama Seasoldier untuk aksi nyata pelestarian lingkungan. “Itu pilihan kalian. Kita berkumpul untuk mengubah pola hidup masyarakat, untuk melestarikan lingkungan,” ungkap Nadine didampingi Rio Puasa dan Anggreyni Putri Bukasiang dari Seasoldier Sulawesi Utara.

Usai berdialog dengan komunitas pegiat lingkungan, Nadine mengambil kantong plastik berwarna merah dan turun ke tepi pantai. Sambil memungut berbagai jenis sampah di pesisir Pantai Bunaken, wanita blasteran Jerman ini membiarkan kulitnya yang putih terbakar mentari pagi.

“Dari sampah yang terkumpul ini, ternyata banyak dari pelaku usaha. Untuk itu, perlu kesadaran semua pihak menjaga Bunaken tetap bersih dan memesona,” Nadine menandaskan. (EP)

Disayangkan Masih Ada yang Skeptis Terhadap Pariwisata Indonesia

this formate

BANDUNG, bisniswisata.co.id: Tenaga Ahli Menteri Bidang Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Prof. I Gde Pitana menyayangkan masih ada sikap skeptis terhadap pariwisata Indonesia. Mereka beranggapan tidak ada gunanya promosi pariwisata secara besar-besaran karena destinasi wisata Indonesia belum siap menerima wisatawan mancanegara (Wisman).

“Saya heran dengan sikap skeptis seperti ini. Padahal kemajuan pariwisata Indonesia sangat luar biasa, seluruh daerah berlomba-lomba majukan pariwisatanya karena tahu dampak positifnya terhadap kesejahteraan masyarakat, peningkatan pendapatan daerah hingga mengurangi pengangguran,” papar Pitana saat keynote speech seminar Road to ITO (Indonesia Tourism Outlook) 2019 bertema “Diregulasi di Era Cyber Tourism”, di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung, Rabu (10/10/2018).

Dijelaskan, tahun 1920 orang Amerika Serikat pertama kali yang mengunjungi Bali. Apakah saat itu Bali siap menerima kunjungan turis asing, ternyata tidak karena mayoritas warga Bali belum bisa berbahasa Inggris. Meski demikian kehadiran tamu asing datang tetap direspon oleh masyarakat Bali dan melakukan pembenahan agar lebih bagus menerima orang asing.

Tahun 1950, lanjut dia, giliran wisatawan Eropa mengunjungi Bali. Masyarakat Bali pun belum siap menerima karena tidak ada hotel di Bali saat itu. “Cuma ada rumah kecil milik Orang Perancis yang dipakai untuk menginap. Jadi Bali saat itu belum siap, toilet pun tak ada. Meski demikian masyarakat lokal tetap merespon dan berusaha memberikan pelayanan terbaik,” lontarnya.

Dilanjutkan, tahun 1970 hipes Australia datang ke Bali karena tertarik dengan ombak Pantai Bali yang dianggap bagus. Turis Australia pun main surfing. “Apakah Bali siap dengan wisata surfing, tidak namun masyarakat merespon dan mempelajari surfing serta kebutuhan apa yang diminta wisatawan,” jelasnya.

Kemudian tahun 1980, wisatawan Jepang datang ke Pulau dewata. Di Bali tidak ada restoran Jepang hingga toilet kering tidak tersedia. Saat itu Bali tidak siap menerima turis Jepang, namun kehadiran orang Jepang tetap direson dan dipelajari apa saja keinginannya.

“tahun 1990, orang Taiwan datang Bali tak ada orang Bali yang bisa bahasa mandarin. Juga tahun 2000, turis China menyerbu Bali. Siapkah orang Bali ternyata tidak ada yang berbahasa China. Jadi intinya pariwisata tidak harus siap dulu baru menerima wisatawan. Namun merespon kedatangan asing sudah bagus sambil mempelajari apa yang diinginkan serta membenahi destinasi,” paparnya.

Guru Besar Universitas Udayana Bali memprediksi prospek pariwisata Indonesia tahun 2019 sangat cerah bahkan bagus, mengingat travel propensity di negara-negara sumber Wisman sangat prospektif, sebagaimana pula angka proyeksi pertumbuhan wisatawan dunia menurut UNWTO tumbuh positif.

10 tahun lalu, UNWTO pariwisata pasti mengalami kemajuan di tahun 50 kenaikan mencapai 20 juta namun di tahun 2020 mencapai 1,6 miliar. Di mana pertumbuhan selalu naik dan mencapai 3,2 persen dan pertumbuhan di 2017 yakni 6,2 persen. Dan sejak tahun 2015, pertumbuhan di negara berkembang termasuk Indonesia mengungguli negara maju termasuk Eropa sekaligus, pertumbuhan wisman ke negara berkembang dua kali lebih cepat dibandingkan negara maju.

Perilaku negara pesaing di wilayah Asean akan menciptakan persaingan makin keras dalam merebut pasar pariwisata jadi tantangan terbesar bagi Indonesia. “Saya sangat yakin dengan angka proyeksi UNWTO memprediksi pertumbuhan pariwisata dunia pada 2010-2030 berkisar 3,3% setiap tahun, kenyataannya belakangan ini tumbuh di atas 6% atau double digit. Untuk kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia mendapatkan sebagian besar kunjungan wisman dunia,” katanya.

Dilanjutkan, prospek cerah pariwisata 2019 yang diperlihatkan dengan travel propensity di masing-masing negara sumber pasar utama pariwisata Indonesia itu karena dipengaruhi situasi makro dan mikro terkait dengan pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara serta intermediary di antaranya terkait dengan harga.

Dicontohkan pasar India dengan jumlah penduduk 1,3 miliar, memiliki outbound (orang berwisata ke luar negeri) sebanyak 13,2 juta. China dengan total penduduk 1,5 miliar angka outbound-nya sebesar 117 juta. Kedua negara ini masing-masing mempunyai pertumbuhan ekonomi tahun lalu sebesar 6,8% dan 6,7%.

“Negara anggota ASEAN yang diapit India dan China merupakan pasar pariwisata terbesar ini diperebutkan negara di ASEAN, termasuk Indonesia. Ini menjadi tantangan terbesar bagaimana memperebutkan pasar tersebut,” kata I Gde Pitana, seraya mengatakan persaingan sangat ketat terutama dalam merebut wisatawan milinial dengan strategi promosi digital yang bergerak cepat.

Lima Kondisi Menjadi Perhatian

Pitana juga memberikan frame work yang bisa dijadikan untuk meneropong pariwisata pada tahun 2019, dengan melihat bagaimana source di sumber-sumber wisman, transitory dan destination. “Bagaimana source masing-masing pasar, termasuk travel propensity dikaitkan pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara,” jelasnya,

Juga kesiapan destinasi pariwisata di dalam negeri. “Ini menjadi PR bagi media yang tergabung dalam Forwapar untuk menggali data termasuk dari nara sumber pembicara asing yang akan dihadirkan dalam seminar internasional ITO 2019 tersebut,” kata Pitana.

Menurutnya, ada lima hal harus jadi perhatian untuk merespon pariwisata 2019 yakni; kondisi pasar khususnya pasar utama (pertumbuhan ekonomi); kesiapan destinasi, kondisi sosial-ekonomi-politik Indonesia serta isu dan persepsi tentang t terorisme dan perilaku negara pesaing. “Dari lima hal yang menjadi perhatian tersebut, yang menjadi tantangan besar adalah perilaku negara pesaing,” .

Pitana menggambarkan banyak negara berusaha menjadikan Indonesia sebagai pasar utama mereka seperti Selandia Baru yang memberikan insentive bagi pelaku bisnis pariwisata di sana bila berhasil menarik wisman dari negeri kita. Juga Jepang menjadikan wisata halal untuk merebut pasar di sini,sedang Vietnam membuat ‘Bali Baru’ sebagai destinasi unggulan mereka dalam upaya memenangkan persaingan di kawasaan pasar ASEAN khususnya dengan Indonesia.

Bagaimana Indonesia ke depannya, Pitana melihat dari kesiapan destinasi. Tahun 2019, ada pilpres dan pileg dan diprediksi berlangsung aman mengingat dari masa ke masa, pemilihan presiden berjalan aman dan terkendali.

Selain kondisi sosial politik di Indonesia, sambung dia, ada isu terorisme. Padahal terorisme bukan hanya di Indonesia melainkan terjadi pula di Perancis, Amerika, Jerman, dan banyak di negara lainnya.

Juga dari sisi bencana alam menguncang Lombok, Palu dan Dongala. “Bencana alam adalah hal yang biasa di mana saja, Jepang misal kerap di landa gempa. Karena itu jangan dibuat berlebihan,” sarannya.

Menurut, melihat kondisi itu maka kondisi pasar pariwisata di Indonesia semakin bertambah bagus, Indonesia sudah siap dan dianggap negara paling aman. “Destinasi tidak selamanya harus siap dahulu namun benahi secara perlahan untuk siap menerima wisatawan,” kata Pitana

Seminar sehari yang diprakasi Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) dihadiri sekitar 150 peserta menghadirkan nara sumber dari kalangan industri pariwisata, pemerintah, dan akademisi yang tampil dalam dua sesi pembahasan. Sesi pertama menampilkan Dewi Kanyiasari, Kadisbudpar Kota Bandung dan Sekretaris Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata I Kemenpar Edy Wardoyo dimoderatori Guntur Sakti, Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar. (END)

Kunjungan Wisman Dongkrak Produk IKM Sulut

this formate

MENADO, bisniswisata.co.id: Wisata Meetings, incentives, conferences and exhibitions (MICE) dan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Sulawesi Utara (Sulut) mendongkrak produk industri kecil menengah (IKM) mengalami grafik kenaikan signifikan.

“Meningkatnya permintaan pasar produk lokal, mendorong IKM untuk meningkatkan kapasitas produksi,” kata Kepala Bidang Fasilitasi Pengembangan IKM Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut Alwy Pontoh di Manado.

Dilanjutkan, faktor yang terkait terjadi permintaan pasar produk lokal dipengaruhi oleh banyaknya kegiatan nasional dan internasional yakni MICE dilaksanakan di Manado. Juga, banyaknya kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara. “Juga saat ini permintaan produk lokal di marketplace dan online lainnya cukup tinggi,” kata Alwy seperti dilansir Antara, Rabu (10/10/2018).

Memang, sambung dia, guna menjawab permintaan pasar khususnya produk lokal salah satunya adalah IKM didorong untuk meningkatkan kapasitas produksi. Dan untuk membantu peningkatan kapasitas produksi pelaku usaha IKM pangan dan souvenir, adanya sinergitas program dan kegiatan antara stakeholder terkait untuk membantu IKM dalam pengikatan kapasitas produksinya. Antara lain menambah modal usaha, bantuan mesin peralatan, dan pengemasan produk yang premium.

Ansye Lucas, owner IKM Brilliant di Manado mengakui banyaknya permintaan kapasitas produksi dari Toko Oleh-oleh di Manado, Pasar Online dan Toko2 Retail seperti Fresh Mart, Transmart, Hypermart dll, menurutnya ada ekstra budget dalam memenuhi permintaan tersebut.

Senada juga dikatakan Andre Palit owner MIENS Souvenir salah satu toko oleh-oleh di Manado mengakui saat ini banyaknya permintaan pasar produk pangan dan souvenir di tokonya.

Sehingga Andre mengharapkan para supplier untuk meningkatkan kapasitas produksi. “Dengan adanya permintaan pasar produk lokal secara otomatis akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya. (EP)

Era Cyber Tourism, Pariwisata Indonesia Harus Gerak Cepat

this formate

BANDUNG, bisniswisata.co.id: Pariwisata Indonesia di era cyber tourism semakin berat. Target kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) tahun 2018 sebesar 17 juta turis dan melonjak menjadi 20 juta wisman di tahun 2019, merupakan tantangan terberat untuk mewujudkannya.

“Memang era cyber dan milinel ini, pariwisata Indonesia tidak bisa lagi bergerak lambat namun harus cepat. Jika tidak pariwisata Indonesia akan mundur lagi,” papar Sesdep Pengembangan Pemasaran 1 Kemenpar Edy Wardoyo saat membuka Workshop bertajuk Road to Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2019 – Prospek dan Tantangan Pariwisata 2019 bertema “Deregulasi di Era Cyber Tourism”, yang digelar Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) di Sekolah Tinggi Pariwisata NHI Bandung, Rabu (10/10/2018).

Meski tantangan pariwisata Indonesia tidak ringan, tambah dia, jika semua stakeholder pariwisata bergandengan tangan untuk membawa peran dalam menggali serta membuat pariwisata lebih maju dan akhirnya dapat meningkat devisa negara.

Dilanjutkan, tantangan lainnya sekarang ini negara di kawasan ASEAN berlomba-lomba meningkatkan kunjungan wisatawan asing. Terbukti i Vietnam terus gencar dan berusaha menyalip Indonesia dalam menggaet wisman. “Vietnam beranu membuka deregulasi pariwisata sehingga akan menjadi saingan berat Indonesia nantinya jika kita tak mengantisipasinya,” sambungnya.

Selain itu pariwisata Asian mulai berlomba-lomba untuk menarik wisatawan India dan China, yang merupakan negara berkembang dan perekonomiannya meningkat sangat bagus sehingga berdampak banyak warga India dan China pergi keluar negeri untuk berwisata.

“Sehingga ada keinginan untuk negara Asian berebutan untuk menarik wisatawan kedua negara itu. Ini jelas tidak ringan bagi Indonesia, sehingga perlu saling bahu membahu untuk menarik wisatawan India dan China,” lontar Edy.

Edy Wardoyo juga mengemukakan era globalisasi, pariwisata jangan dianggap sudah tak perlu dijaga. Mengingat, kasus beberapa negara yang mereka alami telah “menghancurkan” pariwisata. Dicontohkan, India dengan jumlah penduduk yang besar, anggaran dana juga besar serta memiliki sumber destinasi wisata sangat beragam sehingga aktif melakukan promosi wisata.

“Namun punya masalah mendasar, yang tak diantisiaspi oleh pemerintah maupun masyarakat Indonesia. Seperti kasus perkosaan yang menimpa turis asing. Ini sangat fatal karena sering terjadi, namun tidak pernah direspon oleh pemerintah. Sehingga wisatawan asing terutama wanita khawatir berwisata ke India. Juga masalah kebersihan di Indonesia menjadi sorotan,” jelasnya.

Selain itu Maldives, mengalami perkembangan politik dalam ngeri yang berpengaruh terhadap pariwisata Maladewa. Juga Malaysia mengalami problem politik yang menuju era reformasi. Indonesia kini juga mengalami bencana gunung erupsi, gempa bumi dan Tsunami. Ini tantangan kita dan sangat berpengaruh terhadap target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman),” ungkapnya.

Memang, sambung dia, kunjungan wisman ke Indonesia mengalami lompatan luar biasa yang belum pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Namun keberhasilan ini jangan puas diri karena era globalisasi membikin tantangan semakin berat. Dan yang paling penting bagaimana mendorong masyarakat manfaatkan pariwisata menjadi lebih bagus, sehingga perlu partispasi masyarakat.

“Paritisiapasi masyarakat, seperti mendirikan resto dengan menjaga kualitas dan kebersihan. Juga bagi tour guide agar menjaga image yang baik dan melayani wisatawan dengan bagus. bahkan masysrakat harus menjaga kelanggangan prestasi pariwisata yang dicapai selama ini, kita tak ingin prestasi yang dicapai dua tahun lagi mengelami penurunan. (EP)

Selandia Baru Hadirkan Sensasi Wisata Mistis, Tertarik?

this formate

AUCKLAND, bisniswisata.co.id: Halloween sebentar lagi digelar. Tidak sedikit orang yang menantikan kedatangan perayaan tahunan tiap 31 Oktober, dengan suasana suka cita, menghibur sekaligus mencekam. Kebanyakan dari mereka merayakannya dengan mengenakan kostum menakutkan hingga menonton film horor beramai-ramai.

Apabila Anda tengah menikmati liburan di Selandia Baru pada Oktober tahun ini, bahkan ingin mencoba merasakan sensasi mistis Selandia baru dalam suasana Halloween, tidak ada salahnya mengunjungi sejumlah lokasi wisata berhantu di Negara buah kiwi ini.

Di mana sajakah tempat wisata yang menawarkan suasana mencekam yang membuat bulu kuduk berdiri di Selandia Baru, nih ada tiga lokasi yang direkomendasikan Tourism New Zealand, Rabu (10/10/2018), antara lain:

#. The Opera House Wellington

Bangunan indah yang selesai dibangun pada 1914 ini memiliki banyak fitur yang spektakuler, termasuk lengkungan proscenium, interior bangunan yang penuh dengan ukiran cantik, dan langit-langit berkubah. Namun bagi Anda yang berburu cerita seram, maka bersiaplah untuk melihat hantu Albert Liddy, arsitek yang menembak dirinya sendiri di teater pada 1913. Banyak yang mengatakan bahwa arwahnya masih berkeliaran di teater, sehingga jika “beruntung”, Anda mungkin bisa “berjumpa” dengannya.

Tips perjalanan: Di ibu kota Selandia Baru ini memiliki berbagai sisi menarik untuk dijelajahi, mulai dari koleksi dan pameran di Museum New Zealand Te Papa Tongarewa hingga pemandangan menakjubkan dari puncak Gunung Victoria, yang bisa diakses dengan berjalan kaki atau naik bus. Wellington juga merupakan pusat industri film di negeri yang dipimpin Perdana Menteri Jacinda Ardern ini, sehingga jangan lupa mengikuti tur “Wellywood” untuk mengunjungi berbagai lokasi syuting dan mampir ke Weta Workshop, studio desain yang mutakhir dan telah memproduksi berbagai film blockbuster seperti Blade Runner 2049. Di sebelah barat kota Wellington terdapat Zealandia, hutan lindung yang menjadi rumah untuk sekitar 40 spesies burung asli Selandia Baru, termasuk burung tui dan Kiwi.

#. Napier Prison

Napier Prison adalah penjara tertua di Selandia Baru yang dibangun pada 1862 dan digunakan hingga 1993. Kini Napier Prison telah dilestarikan keberadaannya dan menyediakan berbagai tur yang dirancang untuk menakuti para pengunjung dengan cerita empat hantu tahanan yang digantung. Selain itu, ada juga yang mengatakan telah mendengar langkah kaki dan pintu yang terbuka dan tertutup sendiri di penjara yang juga merupakan unit kejiwaan ini.

Tips perjalanan: Hawke’s Bay merupakan salah satu daerah penghasil wine terbaik di Selandia Baru dengan berbagai pantai yang indah. Ketika berada di Napier, kunjungi Bluff Hill untuk menikmati pemandangan yang menakjubkan, serta Centennial Gardens untuk menikmati Marine Parade dengan berjalan kaki atau bersepeda. The National Aquarium of New Zealand juga sangat populer di semua kalangan usia.

#. Rumah Sakit Kingseat

Rumah sakit jiwa paling terkenal di New Zealand Kingseat dibuka pada 1932 dan ditutup pada 1999. Banyak yang mengatakan bahwa Kingseat merupakan rumah sakit jiwa yang sangat menyeramkan di Selandia Baru, di situ banyak staf dan pasien rumah sakit yang meninggal. Tidak heran apabila timbul pembicaraan bahwa terdapat fenomena gaib di Kingseat, seperti penampakan hantu yang dikenal sebagai “The Grey Nurse”. Kini Kingseat merupakan lokasi untuk Spookers Haunted Attraction, sebuah acara hiburan di mana pengunjung dapat menelusuri bangunan dan pekarangan yang akan mengejutkan mereka.

Tips perjalanan: Dari mengunjungi salah satu pulau indah di Hauraki Gulf hingga mendaki gunung berapi yang tidak aktif, Auckland menawarkan pengalaman yang tak terlupakan. Coba lakukan bungy jumping di Sky Tower dengan pemandangan kota yang spektakuler, nikmati wisata perahu dengan dasar kaca di Pulau Goat, serta makan, minum, dan belanja sepuasnya di kota Auckland. (EP)

Wisata Tukad Bindu Diapresiasi CEO World Bank

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Wisata Tukad atau sungai Bindu semakin dikenal, semakin ngetren malah semakin mendunia. Buktinya Chief Executive Officer World Bank (CEO Bank Dunia), Kristalina Georgieva tertarik mengunjungi keberadaan Sungai Bindu di Kota Denpasar sebagai destinasi wisata baru yang berbasis partisipasi masyarakat.

“Saya mengapresiasi keberadaan Sungai Bindu yang ditata menjadi objek wisata baru,” kata Kristalina disela mengunjungi Sungai Bindu serangkaian pelaksanaan pertemuan tahunan IMF-WB di Denpasar, Selasa (9/10/2018).

Pemerintah Kota Denpasar, sambung dia, telah sukses mentransformasi Sungai Bindu sebagai objek wisata yang edukatif. “Ini sesuatu yang sangat luar biasa, karena komunitas ini mampu membuat lokasi yang bisa dikunjungi oleh banyak orang, ketika saya melihat sekeliling menyakinkan bahwa lokasi ini sangat luar biasa,” ujarnya.

Kristalina sangat bangga dan selalu mendukung serta sangat yakin bahwa antusiasme masyarakat juga sangat berperan, dan terus berkontribusi positif untuk lingkungannya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar, Dezire Mulyani mengatakan sangat senang Sungai Bindu dapat jadi pilihan kunjungan CEO World Bank dan delegasi lainnya. Pemkot Denpasar sebagai daerah penyangga siap menyukseskan pelaksanaan “Annual Meeting World Bank dan IMF tahun 2018.

Hal tersebut diwujudkan dengan memaksimalkan beragam persiapan di lokasi yang menjadi tujuan para delegasi di Kota Denpasar, salah satunya adalah Tukad Bindu. “Ini menjadi implementasi Community based yang menjadi komitmen Wali Kota Rai Dharmawijaya Mantra dan Wakil IGN Jaya Negara,” ucapnya seperti dilansir laman Antara, Rabu (10/10/2018).

Dilanjutkan, bantuan dari Bank Dunia melalui program PNPM Mandiri tentunya juga memiliki kontribusi besar untuk menyukseskan pengembangan Sungai (Tukad) Bindu. “Terima kasih atas apresiasi dan dukungan positif untuk membangun Kota Denpasar, khususnya Tukad Bindu yang terus akan dikembangkan ke depannya,” ujarnya.

Pengelola sekaligus Penggagas Obyek Wisata Tukad Bindu, I Gusti Ari Rai Temaja mengatakan kunjungan pihak World Bank sangat menjadi motivasi untuk ke depan lokasi wisata sungai ini. “Masyarakat di sini merasa sangat diperhatikan apalagi yang berkunjung adalah CEO Bank Dunia, sehingga hal itu sangat berdampak luar biasa memotivasi masyarakat kami terus bergerak dan mengembangkan potensi desa,” katanya.

Tukad Bindu ini menjadi salah satu destinasi wisata sungai yang dilengkapi aneka permainan anak-anak. Lokasi Tukad Bindu tepatnya ada di Kesiman, Denpasar Timur, Bali. Kawasan ini terbilang kawasan berbasis komunitas.

Tak hanya permainan anak, di lokasi itu ada juga pemberdayaan ibu-ibu setempat dengan komunitas sayuran organiknya, juga beragam warung yang yang dikelola warga setempat dan menyediakan aneka jajanan. Sayangnya daerah ini dikenal masyarakat sebagai tempat angker dan digunakan sebagai pembuangan sampah.

“Awalnya sih kumpulan anak-anak muda, berawal dari kepedulian mereka, caranya warisan yang sudah ada di sini kita fungsikan biar ke depan nggak menua ada tempat bermain dan berkunjung, kita pengin berbuat dan melestarikan. Tadinya kotor sekali, pembuangan kotoran manusia, kotor, tempat pembuangan sampah,” kata Ketua Yayasan Tukad Bindu Ida Bagus Made Ary Manik.

Diakui, tak mudah mengubah mindset masyarakat kala itu untuk lebih menjaga alam dan lingkungannya. Apalagi daerah tersebut tadinya dikelilingi ilalang dan semak belukar. Gagasan awal tahun 2010, dari kepedulian digandeng Lurah, kliyan adat. Pertama yang dibenahi bendungan. “Modal awal benahi kawasan ini, Kita pinjem uang di koperasi Rp 150 juta sekarang masih sisa Rp 25 juta,” ucapnya.

Pertama dibersihkan bantaran, gulma-gulma, pohon-pohon yang semrawut, juga ada tumpukan bahan bangunan. “Di sini tadinya nggak bisa jalan karena penuh sampah dan timbunan sampah, itu yang kita bersihkan. Pertama yang kita edukasi bukan bergerak untuk membersihkan sampah, tapi mindset masyarakat bantu membersihkan sungai. Itu yang 1,5 tahun untuk masyarakat agar peduli,” sambungnya. (EP)

EXPLORE! eps.6: Menghabiskan Akhir Pekan Dengan ‘Sushi Hunting’

this formate

EXPLORE! by bisniswisata.co.id
eps.6: Menghabiskan Akhir Pekan Dengan ‘Sushi Hunting’

Sebagai makanan khas Jepang, sushi kini telah mendunia dan menjadi makanan favorit anak muda karena bentuknya yang unik dan selalu berkembang berkat para Chef yang tak henti berinovasi menggabungkan sushi dengan panganan lain yang lebih modern dan familiar di lidah orang Indonesia.

Bersama Myura Blessya Vevanya, Finalist Gadis Sampul 2018 yang juga penggemar berat sushi. Kami berkeliling kota Jakarta dan sekitarnya untuk mencicipi berbagai macam sushi dari restaurant mahal hingga kios kecil yang berada di pinggir jalan.

Genki Sushi, Pondok Indah Mall menjadi tujuan pertama kami. Restauran sushi asli Jepang yang sudah beroperasi sejak tahun 1990 ini terkenal dengan cara memesan sushi yang bisa dibilang canggih dan ‘tidak lazim’. Sushi dipesan menggunakan komputer tablet dan diantar menggunakan kereta mini semacam ‘monorail’.

Explorasi kami berlanjut ke sebuah kedai ‘Sushi Cite’ yang dinamai dari nama jalan tempat kedai tersebut terletak, di pinggir jalan Cilandak Tengah. Sang juru masak mengaku pernah bekerja di beberapa hotel dan restauran namun memutuskan untuk membuka kedai sushi sendiri. Sebuah keputusan yang baik karena sushi yang disuguhkan tak kalah dengan restauran berbintang.

Hari semakin gelap, kami mengunjungi ‘Warung Jepang Shinaro’ yang berada di daerah Bintaro Jaya. Bukan hanya sushi, restauran ini menyajikan berbagai macam makanan khas Jepang dengan design interior yang ‘jepang banget’.

Keesokan harinya, kami melanjutkan perjalanan ke BSD City untuk mencicipi beberapa sushi di kios ‘Tako N’Sushi Box’ yang berada di Mal Teras Kota dan menutup episode kali ini dengan mengunjungi ‘Pokke Sushi Cinere’. Restauran sushi yang menurut kami terbaik dari segi rasa, harga, dan varian menu yang di tawarkan.