KULINER NEWS

Menyambut Kebangkitan Kopi Indonesia di Australia 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Webinar dengan topik Coffee Diplomacy of Indonesia and Australia: What’s Next telah digelar dengan sukses oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) bekerjasama dengan KJRI Melbourne.

Menggandeng Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) dan Kantor Komisioner Victoria, Australia pertemuan membahas diplomasi kopi, Rabu ( 3/3/ 2021) dan peranan kaum pebisnis dan milenial mendapat perhatian besar diakhir diskusi virtual tersebut.  

Direktur Asia Timur dan Pasifik (Astimpas) Kemlu Dr. Santo Darmosumarto menjelaskan bahwa beberapa peluang yang dapat dijajaki untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke Australia antara lain adalah memanfaatkan Comprehensive Economic Partnership Agreement antara Indonesia dan Australia (IA CEPA), dan perlunya diversifikasi rantai pasokan global akibat pandemi COVID-19.

Australia yang diwakili oleh Rebecca Hall, Commissioner dari Victoria untuk urusan Asia Tenggara menyatakan senada. Untuk itu kedua negara perlu lebih mempererat lagi kerjasamanya khususnya pada saat pandemi Covid-19 ini. Cara inovatif melalui teknologi termasuk pelayanan e-commerce akan memfasilitasi hubungan eksportir dan importir kopi di kedua negara tersebut. 

Dari berbagai terbitan dan diskusi dengan Ketua Asosiasi Kopi Spesilti Indonesia (ASKI) Mas Daryanto Warsito pangsa pasar kopi lokal dari Indonesia terbuka lebar di Australia.

Hal ini mengingat sebagian besar dari penduduk Australia yaitu 75% diantaranya atau sekitar 19 juta adalah peminum kopi, termasuk 39% merupakan penggemar espresso-based yang lebih banyak membelinya melalui kedai kopi dibandingkan supermarket. 

Sinyaleman diatas dikuatkan dengan semakin besarnya kopi Jabar memasuki Australia. Persis setahun lalu, Pebruari 2020 Gubernur Ridwan Kamil mempromosikan kopi Jabarano di beberapa kota di Australia.

Kemudian kopi Jabar meluncur lagi ke Australia bulan Oktober 2020. Dengan masuknya kopi yang diproduksi Java  Frinsa Estate diharapkan bisa membuka jaringan-jaringan baru agar kopi lokal dari Indonesia dapat terus mengembangkan eksistensinya di Australia.

Kebutuhan Negara Australia akan kopi sangat besar. Australia mengimpor kopi dari berbagai negara dengan rata-rata 96.000 ton per tahun. Harga kopi di kafe di Australia rata-rata AUD 4 (Rp 43.000) per cangkir dan penduduk Australia mengeluarkan sekitar AUD 3 miliar (Rp 32 triliun) per tahun untuk konsumsi kopi.

Dari kiri ke kanan atas: Anak Agung Mia Intentilia (Dosen Undiknas, Dr. Santo Martosudarmo (Dir Astimpas Kemlu), Rebecca Hall (Komisioner Victoria, Australia). Bawah: Mikael Jasin (Juara Nasional Barista), Daryanto Witarsa (ketua SCAI), Anand Mulani (CEO SEEDS).
                                           Dubes Bagas Hapsoro

Selain atas peran instansi terkait seperti Kemendag dan pemerintah daerah Jawa Barat dalam upaya melakukan pengembangan ekspor kopi, peran Perwakilan RI termasuk dan aktivitas diaspora juga turut andil dalam pengembangan kopi lokal asal Indonesia di Australia.

Mengutip pernyataan Konsul Jenderal RI di Sydney, Heru Subolo, bahwa keberhasilan kopi Indonesia masuk ke kampus Australia berkat kerja keras seorang pebisnis diaspora Indonesia, yaitu Benji Salim selaku pemilik kafe ”The Q on Harris” di Sydney. Hal ini diungkapkan Heru saat mengunjungi salah satu gerai Campos di Newtown, Sydney, seperti dikutip dari siaran pers Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sydney melalui situs Beritasatu.com, Jumat (5/2/2021).

Menurut Heru, Benji adalah mitra KJRI Sydney dalam diplomasi kopi ke pasar Australia. Dia menjual kopi single origin dari Indonesia, termasuk dari Java Frinsa Estate, Solok Radjo Sumatera Barat, Kerinci Radjo Sumatera Tengah, dan Toarco Toraja.

Konjen Heru mendorong agar semua diaspora turut membantu dalam diplomasi kopi Indonesia dengan mempromosikan kopi dalam negeri atau menjadi duta kopi Indonesia bagi keluarga, teman, dan rekan kerja. Dengan adanya kerjasama dan peran dari berbagai pihak, berharap pengembangan ekspor komoditas kopi ini terus mengalami peningkatan ke seluruh mancanegara. 

Saya garis bawahi pernyataan Direktur Astimpas Kemlu bahwa Indonesia dan Australia sangat memahami pentingnya kerjasama kemitraan bidang perdagangan: Hal ini menurut saya beralasan karena Indonesia telah menjadi pasar yang berkembang bagi eksportir barang dan jasa Australia. 

Begitu pula dengan adanya potensi pasar kopi spesialti Indonesia di Australia. Sementara itu ekspor kopi asal Indonesia di Australia sudah mulai meningkat. Bahkan biji kopi asli Indonesia dari berbagai daerah telah diolah dan dijual di banyak Cafe di kota-kota Australia.

Pandangan ini juga sejalan dengan cita-cita Mikael Jasin, seorang juara nasional Barista.  Mikael berpendapat perlunya kerjasama praktik kerja berkualitas di antara mereka yang terlibat dalam pemrosesan, distribusi, konsumsi, dan pendidikan kopi spesial. 

Sebagai Ketua Kompartemen Pendidikan Mikael Jasin menekankan arus informasi publik, pendidikan dan promosi kopi spesial untuk barista; pemanggang roti; pengecer kopi; operator bar kopi, kafe dan restoran; petani dan produsen; perantara, importir dan eksportir; pemasok peralatan kopi dan pendidik kopi. 

Anand Mulani dari SEEDS blockchain technology menjelaskan bahwa kedua negara harus terlibat dalam teknologi, keberlanjutan, dan keterlacakan. Keberlanjutan usaha kopi dilihat dari perhatian pelaku usaha terhadap aspek lingkungan produksi kopi yang dibuktikan dengan sertifikasi dan standarisasi. 

Bisnis harus memastikan bahwa produk kopi mereka mempunyai rekam jejak yang dapat ditelusuri melalui dukungan teknologi seperti QR Code atau blockchain.

Diplomasi kopi

Sementara itu Dosen Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), Anak Agung Mia Intentilia menyatakan bahwa dalam trend saat ini budaya kopi menjadi kian penting dengan melibatkan pendidikan, penelitian milenial, kemungkinan akan memainkan peran yang lebih besar dalam diplomasi publik Indonesia dengan Australia. 

Salah satu cara yang direkomendasikan Dosen Undiknas ini adalah melanjutkan program pertukaran mahasiswa antara Indonesia dan Australia. Selain itu juga mengadakan kegiatan riset gabungan antara para akademisi dan pemimpin koperasi kopi untuk lebih mengembangkan dan memperkuat hubungan bilateral.

Menanggapi proposal Undiknas ini, pihak Australia menyatakan ketertarikannya mengenai hal tersebut mengingat ada peluang besar diplomasi kopi bagi Indonesia dan Australia sebagai soft power, tidak hanya dari sisi ekonomi tetapi juga people-to-people relations.

Pertemuan yang berlangsung dengan santai dan rileks tersebut mendapat sambutan positif dari para yang hadir, antara lain dari Undiknas, Universitas Jember, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia. Dari kolom chats di diskusi virtual ini, banyak respon yang menginginkan agar kegiatan seperti ini lebih sering dilakukan di masa mendatang. 

Diakhir pertemuan diskusi virtual setidaknya tercapai beberapa kesepakatan. Pertama, untuk kedepannya hubungan dan kerjasama akan dilanjutkan dengan diskusi bisnis (link and match) antar kedua negara dengan tujuan untuk membuat kesepakatan mengenai ekspor-impor kopi antar pengusaha kopi Indonesia dan Australia. 

Kedua, Undiknas akan terus membahas detail proposalnya dengan Victorian Commissioner termasuk memulai adanya penelitian tentang diplomasi kopi. 

Penulis adalah :Mantan Dubes Swedia dan Latvia, Kementerian Luar Negeri. Email: bagas.hapsoro11@gmail.com

 

Dwi Yani

Representatif Bali- Nusra Jln G Talang I, No 31B, Buana Indah Padangsambian, Denpasar, Bali Tlp. +628100426003/WA +628123948305 *Omnia tempus habent.*