DAERAH LIFESTYLE NEWS

Mengenal Tradisi Lebaran Pada Beberapa daerah di Indonesia

Tradisi hadrat di Kaimana, Papua adalah kegiatan silaturahmi Halalbihalal masyarakat tanpa sekat

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sebagai negara yang memiliki pluralisme budaya yang sangat banyak, Terdapat keunikan masing-masing daerah untuk memeriahkan Idul Fitri, berikut adalah beberapa tradisi unik lebaran di Indonesia yang kami rangkum dari berbagai daerah di Indonesia:

Tradisi Meugang, Aceh

Tradisi Meugang diperkirakan telah ada sejak Tahun 1907 saat Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh Sultan Iskandar yang masih diselenggarakan sampai saat ini.

Meugang adalah tradisi memasak daging sehari sebelum Ramadhan, sebelum Idul Fitri, dan sebelum Idul Adha. Praktis, tradisi ini dilakukan tiga kali dalam setahun oleh masyarakat Aceh.

Meriam Karbit, Pontianak, Kalimantan

Di Kalimantan terdapat sebuah tradisi yang disebut dengan Meriam Karbit. Meriam Karbit adalah tradisi untuk menembakan meriam kosong yang terbuat dari kayu yang didalamnya diisi dengan bahan bakar karbit dalam menyambut datangnya Idul Fitri di Kota Pontianak.

Agar menarik perhatian masyarakat yang melihat, kayu yang memiliki panjang sekitar empat hingga tujuh meter dengan diameter mencapai 50 centimeter tersebut juga dicat warna warni dan ada juga yang dibungkus dengan kain berbagai motif.

Meriam yang siap digunakan kemudian diisi sekitar tiga hingga lima ons karbit dan kemudian dinyalakan dengan disulut oleh obor. Tradisi Meriam Karbit sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Kerasnya suara yang dihasilkan meriam karbit tersebut tak jarang mengundang rasa penasaran para wisatawan untuk menyaksikan dan mendengar langsung bunyi permainan tradisional ini.

Bagi masyarakat maupun wisatawan yang penasaran menyulut obor ke Meriam Karbit atau dalam bahasa lokal disebut Nyucul Meriam.

Ma’burasa, Makassar, Sulawesi

Di Kalimantan terdapat sebuah tradisi menjelang lebaran yang disebut dengan Ma’burasa, Ma’burasa merupakan tradisi suku Bugis-Makassar yang berarti membuat burasa, sebuah kuliner tradisional Bugis – Makassar.

Burasa terbuat dari beras yang dicampur santan dan diberi sedikit garam, lalu dibungkus dengan daun pisang yang diikat dengan unik, setelah itu direbus untuk waktuu yang cukup lama.

Burasa merupakan ciri khas Bugis- Makassar sebagaimana ketupat ketika Idul Fitri yang telah menjadi tradisi dan menjadi kebiasaan masyarakat Bugis-Makassar secara turun temurun.

Ngantereun, Bandung, Jawa Barat

Di tanah Sunda juga ada tradisi yang dikenal dengan mana Nganteuran yang dilakukan menjelang Lebaran. Ini merupakan sebuah tradisi dimana Nganteuran yang artinya mengantarkan makanan seperti ketupat, opor, dan semur daging ke tetangga terdekat.

Dalam tradisi Ngantereun terdapat semacam peraturan tidak tertulis, meski sebenarnya tidak berharap, jika seseorang mengirim makanan ke tetangga atau seseorang pasti dibalas dengan makanan pula. Alhasil wadah rantang yang digunakan untuk nganteuran tadi, pulangnya akan terisi penuh makanan lagi.

Tradisi Ngejot, Bali

Di Bali ada sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat disebut dengan Ngejot, tradisi ini dilakukan antara umat Hindu dan Muslim yang telah dilaksanakan secara turun-temurun yang membuat tradisi ini memiliki daya tarik sendiri dimana umat Muslim dan Hindu melaksanakannya karena menunjukkan kerukunan masyarakat dalam beragama.

Ngejot dalam bahasa Bali berarti “memberi”. Sesuai namanya, dalam tradisi ini umat muslim akan mengunjungi tetangga dan memberikan makanan.

Ngejot mulai dilakukan ketika bulan Ramadhan tiba hingga Hari Raya Idul Fitri. Menariknya, mereka tidak hanya berbagi ke tetangga muslim saja. Tradisi Ngejot tidak memandang agama apa yang dipeluk baik pemberi atau penerimanya.

Oleh karenanya, makanan yang diberikan biasanya berupa hidangan yang tidak mengandung sapi ataupun buah-buahan.

Tradisi hadrat di Kaimana, Papua

Tradisi hadrat adalah kegiatan silaturahmi Halalbihalal masyarakat tanpa sekat di Papua dilakukan warga kota Kaimana di hari kedua setelah lebaran.

Masyarakat berjalan dalam sebuah rombongan sambil memainkan alat musik khas Indonesia Timur itu, yakni tifa. Menariknya, melalui tradisi ini masyarakat Kaimana kerap disebut sebagai masyarakat tanpa sekat.

Tradisi hadrat tidak hanya diikuti oleh umat muslim, namun silaturahmi juga diikuti oleh umat Kristiani.

Evan Maulana