Malioboro Street Style, Icon Baru Destinasi Wisata Jogjakarta

0
31

JOGJAKARTA, bisniswisata.co.id: Kawasan jalan Malioboro sebagai tempat pertemuan kreatif, seni-budaya, ekspresi keseharian lintas-etnis maupun sebagai ruang ekonomi memiliki dinamika tersendiri yang kini melahirkan event baru yaitu Malioboro Street Style.

“Ini adalah gaya busana ―khas jalanan yang menjadi penanda dinamika gaya hidup anak muda, cara berbusana yang akrab, persilangan pilihan selera, dan letupan ekspresi kawula muda,” kata Ninik, Founder Jogja Fashion Forum.

Memeriahkan helatan Selasa Wagen, sekitar 50 generasi milenial berlenggak-lenggok bak model profesional di Pedestrian Malioboro tepatnya di depan Batik Adiningrat  semalam.

Ninik yang juga pemilik N Workshop Gallery ini mengatakan kegiatan Selasa Wagen setiap 35 hari sekali yang sudah lima kali terselenggara kini hadir perdana dengan acara fashion street.

“Animo generasi milenial terhadap fashion street ternyata tinggi. Banyak yang antusias mengikuti acara Malioboro Street Style ini sehingga kedepan akan kami helat setiap Selasa Wagen,” kata Ninik.

Upaya ini juga untuk menstimulus anak muda lebih kreatif, percaya diri, positif dan tentunya bergerak tumbuh menciptakan sebuah karya. Pihaknya menggandeng sejumlah sekolah model dan beberapa kampus sehingga optimistis kegiatan ini terus berlanjut.

Malioboro adalah denyut magnet Jogyakarta sehingga ada interaksi kreatif, seni-budaya, ruang ekonomi, membuat lini fashion juga terus tumbuh.Acara ini, ujarnya akan menjadi salah satu kekuatan nyata memperkuat Jogjakarta  mampu menjaring lebih banyak kunjungan wisatawan dari dalam dan luar negri.

“Di era kolaboratif untuk Indonesia dengan bonus demografi terbaik dunia di tahun-tahun mendatang, acara ini mengasah berbagai talenta anak milenial untuk berkarya,” kata Ninik.

Dia optimistis bisa membuka jejaring kerja kreatif anak muda lintas-disiplin dan antar-kampus/sekolah sehingga Malioboro dengan anak mudanya, memang tidak  ada matinya!. Berkumpulnya mereka yang berjiwa muda di jantung Jogyakarta, diharapkan membawa kegairahan dan kesegaran aktivitas masyarakat.

“Kami merangkul generasi muda yang antusias dengan sektor fashion, terkhusus wastra tradisional berupa Batik. Batik adalah aset tradisi budaya kita. Ada filosofi luhur di setiap goresan kain batik,” ungkap Ninik.

Sebagai generasi milenial, ujarnya, sudah sepatutnya kita melestarikan dan bangga memakai batik. Apalagi oleh Unesco batik sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda.

Momentum Sumpah Pemuda kemarin, lanjut Ninik juga dijadikan semangat untuk peduli dengan limbah busana mengingat semakin hari produksi busana semakin tinggi dan berdampak  pada sampah yang menumpuk.

“Lewat  rintisan ‘busana lestari’ (eco fashion) kami ingin melakukan pendekatan upcycle dan mengurangi limbah produksi busana. Karena potongan bahan bisa bermanfaat untuk busana kembali maupun aksesoris seperti kalung berbalut potongan batik,” tuturnya.

Dengan demikian Hari Sumpah yang baru lalu  juga menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap persoalan membludaknya limbah produksi busana yang telah menjadi isu global dengan pendekatan upcycle sebagai rintisan busana lestari (sustainable fashion/eco fashion) di masa depan.

Para model keluar dari toko dan berpose di Jl Malioboro depan Batik Adiningrat

Acara ini didukung oleh Batik Adiningrat, N Workshop Gallery, Sellie Coffee dan Humble Leather. Para pemodel yang mayoritas anak muda berasal dari beberapa lini. Seperti UGM, UKDW, ISI, siswa SMK Tata Busana, serta Vembria Modeling School. 

Menyinggung keberadaan Jogja Fashion Forum, Ninik mengatakan komunitas yang didirikannya ini mewadahi para ‘fashion enthusiasts’ beragam usia dengan berbagai latar belakang disiplin keilmuan dan profesi, namun dalam perhatian, pemikiran dan minat pengembangan yang sama mengenai dunia fesyen.

Berdiri pada tahun 2016, kegiatan JFF menitikberatkan pada pengembangan pemikiran kreatif dunia tata-busana dengan segenap dinamikanya, pengayaan konten ketata-busanaan, penelitian populer, sekaligus konservasi busana tradisi. 

Jogja Fashion Forum juga melakukan beberapa aktifitasnya bekerjasama dengan lembaga lain seperti MGMP Jurusan Tata Busana SMK di wilayah DI Yogyakarta, Jogja Art of Fashion Foundation, akademisi Pertekstilan, Kriya dan Desain Produk, dan kelompok kreatif lain di Yogyakarta.

Acara setiap Selasa Wage sendiri adalah  Malioboro tertutup untuk kendaraan bermotor dan Padagang Kaki Lima (PKL). Malioboro menjadi nyaman dan bersahabat dengan pejalan kaki. Namun kebijakan ini juga dikritisi oleh para aktivis. 

Organisasi Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Yogyakarta menilai agenda Selasa Wagen perlu diikuti dengan kebijakan penataan lingkungan yang mendukung.

“Agenda Selasa Wagen seharusnya tidak hanya bebas kendaraan dan PKL tapi juga membebaskan Malioboro dari sampah yang berserakan pada hari itu,” ujar Koordinator Forpi Kota Yogyakarta, FX Harry Cahya.

Dari hasil pemantauan Forpi Kota Yogyakarta, agenda 35 harian yang sudah terlaksana kelima kalinya itu, masih terlihat sampah yang tidak pada tempatnya. Misalnya sampah berserakan di fasilitas umum dan sekitar tempat sampah. 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.