DESTINASI INTERNATIONAL LIFESTYLE NEWS

Laporan SGIE 2024/25: Inovasi dan Konektivitas Regional Dorong Pariwisata Ramah Muslim

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Industri perjalanan di negara-negara OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) terus berkembang, didorong oleh penawaran pariwisata, peningkatan konektivitas, dan transformasi digital.

Pengeluaran konsumen Muslim untuk perjalanan keluar negeri melonjak sebesar 43,2%, mencapai US$217 miliar pada tahun 2023, dengan proyeksi mencapai US$384 miliar pada tahun 2028 dengan CAGR sebesar 12,1%, menurut Laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2024/25 yang peluncurannya globalnya berlangsung di Jakarta, Selasa.

Dilansir dari Salaamgateway.com,  Studi ini mengidentifikasi 17 transaksi, baik merger dan akuisisi, ekuitas swasta, maupun pendanaan modal ventura, selama tahun 2023/24. Transaksi meningkat 30,77% dibandingkan 13 transaksi tahun sebelumnya.

Upaya standardisasi dalam pariwisata halal terus berkembang, meskipun tantangan terkait berbagai standar masih ada. Sementara itu, destinasi pascakonflik seperti Suriah, Bangladesh, dan Bosnia diperkirakan akan kembali menarik minat wisatawan.

Inovasi menjadi keharusan

Inovasi berbasis AI membantu membentuk kembali industri ini, dengan maskapai penerbangan, dewan pariwisata, dan penyedia layanan perhotelan menggabungkan teknologi untuk layanan yang disesuaikan, pengalaman perjalanan yang lancar, dan kesiapan operasional yang ditingkatkan.

Platform digital dan pasar B2B juga mencatat lonjakan penggunaan, sementara solusi pembayaran digital meningkatkan aksesibilitas finansial dalam perjalanan.

Nusuk Wallet dari Arab Saudi, inisiatif pembayaran mata uang kripto dari Thailand, dan Identity Wallet dari Uni Eropa untuk transaksi perjalanan yang aman adalah contoh utama bagaimana kemudahan finansial membuka jalan bagi aksesibilitas yang lebih besar.

Sementara itu, sektor pelayaran halal berkembang dengan penawaran dari AROYA Cruises, Resorts World Cruises, dan pelayaran bersertifikat halal pertama di Antartika.

Ke depannya, teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan akan meningkatkan pengalaman wisatawan melalui penetapan harga yang dinamis, rencana perjalanan yang dipersonalisasi, dan optimalisasi layanan.

Pendekatan top-down memperkuat sektor
Pemerintah memperkuat pariwisata ramah Muslim melalui kemitraan lintas batas, kampanye pemasaran nasional, dan pembangunan infrastruktur. Berbagai bisnis pun mengikutinya.

Perjalanan multi-destinasi juga semakin diminati, dengan kampanye pariwisata bersama. Misalnya, visa turis GCC terpadu diharapkan dapat meningkatkan konektivitas regional. Negara-negara GCC juga meningkatkan investasi di pasar negara berkembang, seperti Indonesia, Filipina, dan Pakistan.

Pariwisata medis terus menarik investasi, dengan fasilitas kesehatan baru dan platform digital yang mendukung layanan pasien lintas batas.

Keberlanjutan juga menjadi fokus yang lebih besar, dengan UEA menerapkan undang-undang baru yang mewajibkan bisnis perjalanan untuk melaporkan emisi karbon mereka, yang sejalan dengan tujuan iklim global.

Tambang emas

Kebangkitan perhotelan Muslim sebagai merek yang berbeda menghadirkan peluang bagi hotel dan operator pariwisata untuk menawarkan pengalaman yang mendalam secara budaya dan selaras dengan agama, menurut laporan SGIE.

Investor dapat mengeksplorasi pasar negara berkembang dan perhotelan pasar menengah, sementara pemerintah dapat memfasilitasi perjalanan multi-tujuan dan meningkatkan standarisasi pariwisata halal.

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)