LONDON, bisniswisata.co.id: Saat Travel & Tourism memasuki puncak musim panas, World Travel & Tourism Council (WTTC) meluncurkan laporan baru yang menyerukan pendekatan yang lebih seimbang untuk mengelola pariwisata di destinasi populer.
Meskipun kepadatan penduduk sering dianggap sebagai masalah pariwisata, banyak tekanan nyata berasal dari masalah yang lebih dalam seperti kurangnya investasi dalam infrastruktur, perencanaan yang buruk, dan pengambilan keputusan yang terfragmentasi.
Tantangan ini memengaruhi penduduk dan pengunjung dan membutuhkan solusi terpadu. Travel & Tourism mendukung satu dari setiap 10 pekerjaan dan hampir 10% dari PDB global dan akan mendukung satu dari tiga pekerjaan baru selama dekade berikutnya.
Jika dikelola dengan baik, hal itu juga mendorong pertukaran budaya, pemahaman global, dan perlindungan lingkungan. Namun tanpa perencanaan yang cerdas, manfaat yang dibawanya bisa terancam.
Makalah WTTC, Mengelola Kepadatan Destinasi
Ajakan Bertindak, menjelaskan bahwa tidak ada perbaikan sederhana untuk masalah ini dan mendesak pemerintah, pemimpin lokal, dan bisnis untuk bekerja sama mendukung masyarakat dan pengunjung.
Pada tahun 2024, Travel & Tourism diharapkan dapat memberikan kontribusi hampir US$11 triliun bagi ekonomi global dan mendukung 357 juta pekerjaan.
Itu adalah keberhasilan yang besar tetapi itu juga berarti destinasi harus merencanakan untuk mengelola pertumbuhan secara bertanggung jawab.
Setiap tahun, pemerintah di seluruh dunia memperoleh lebih dari $3,3 triliun dari bisnis Travel & Tourism, setara dengan 9,6% dari pendapatan pajak global.
Badan pariwisata global mendesak pemerintah untuk menginvestasikan kembali jumlah ini dalam infrastruktur vital, dan solusi untuk mengurangi tekanan pada destinasi yang sudah sangat populer.
Laporan tersebut melihat beberapa akar penyebab kepadatan di sejumlah kecil destinasi yang semakin populer di seluruh Eropa dan menawarkan solusi dunia nyata yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Mulai dari menggunakan data dan alat perencanaan yang lebih baik, hingga melibatkan penduduk dalam pengambilan keputusan.
Rencana Aksi Praktis
Makalah ini menguraikan enam langkah sederhana yang dapat dilakukan destinasi untuk mengelola pariwisata dengan lebih baik:
1. Berorganisasi – Kumpulkan pemangku kepentingan yang tepat, melalui gugus tugas yang berdaya
2. Buat Rencana – Tetapkan visi bersama dan strategi destinasi
3. Kumpulkan Bukti – Kurangnya data memperburuk masalah di beberapa destinasi. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan diagnosis dan respons berbasis bukti terhadap tantangan unik yang dihadapi oleh setiap destinasi
4. Tetap Waspada – Pantau kondisi dan bertindaklah lebih awal
5. Berinvestasilah dengan Bijak – Berinvestasilah kembali dalam infrastruktur dan ketahanan, bersikaplah transparan tentang ke mana uang dibelanjakan
6. Berdayakan Warga – Pastikan warga memiliki hak bicara dan memahami manfaat Perjalanan & Pariwisata di komunitas mereka
Mengapa Ini Penting
Semakin banyak destinasi yang memberlakukan pajak pariwisata sebagai respons terhadap tekanan, tetapi WTTC memperingatkan bahwa langkah-langkah ini tidak selalu menyelesaikan masalah sebenarnya dan dapat membahayakan pekerjaan, pendapatan, dan layanan.
Laporan tersebut menemukan bahwa jika 11 kota besar Eropa membatasi jumlah pengunjung, hal itu dapat mengakibatkan kerugian PDB sebesar $245 miliar dan hampir 3 juta lapangan pekerjaan selama tiga tahun.
Laporan tersebut mencakup contoh destinasi yang mengambil langkah positif untuk memerangi beberapa penyebabnya:
• Konsorsium Turisme de Barcelona beroperasi di bawah model kemitraan publik-swasta, yang dipandu oleh prinsip-prinsip tujuan pembangunan berkelanjutan
* Strategi Travel to Tomorrow dari VisitFlanders, yang membingkai ulang pariwisata sebagai alat untuk mendukung tujuan masyarakat lokal seperti memastikan bahwa mendengarkan kebutuhan penduduk adalah prinsip utama dalam praktik mereka
• Kemitraan Dubrovnik dengan CLIA, mengurangi kemacetan melalui koordinasi pelayaran dan dialog masyarakat
• Islandia, yang menginvestasikan kembali retribusi pariwisata secara langsung ke perlindungan lingkungan
Julia Simpson, Presiden & CEO WTTC, mengatakan perjalanan & pariwisata membawa manfaat besar termasuk lapangan pekerjaan, investasi, dan pemahaman budaya yang lebih dalam. Namun, pertumbuhan perlu dikelola dengan hati-hati.
“Kami mendorong semua pembuat keputusan untuk berpikir ke depan, bekerja sama, dan berfokus pada manfaat jangka panjang bagi penduduk dan pengunjung. Ini bukan tentang menghentikan pariwisata, ini tentang membuatnya bermanfaat bagi semua orang.” ungkap Julia Simpson.
Badan pariwisata global percaya bahwa ini adalah momen kesempatan. Dengan langkah yang tepat, destinasi dapat melindungi apa yang membuatnya istimewa sekaligus memastikan bahwa pariwisata terus memberikan nilai bagi masyarakat dan ekonomi lokal.
Laporan tersebut memperjelas bahwa tidak ada solusi yang cocok untuk semua orang. Setiap destinasi berbeda, dan tindakan harus didasarkan pada realitas lokal.
Namun, dengan kerja sama dan perencanaan, Travel & Tourism dapat terus berkembang dengan cara yang melindungi apa yang membuat setiap tempat istimewa.
Makalah tersebut mendorong para pemimpin untuk berpikir melampaui perbaikan jangka pendek dan fokus pada menginvestasikan kembali pendapatan pariwisata ke dalam peningkatan infrastruktur penting, layanan lokal, dan kesejahteraan penduduk.










