Diskusi panel SGIE Report 2024/25, bersama Sapta Nirwandar. Ketua IHLC, Reem El Shafaki dari Dinar Standard, Amer Bukvic dari Islamic Development Bank Institute (IsDBI) dan Vivi Yulaswati, Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Bappenas.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Indonesia mempertahankan posisi di peringkat ke-3 dalam Indikator Ekonomi Islam Global atau The State of Global Islamic Economy (SGIE) Report 2024/2025 dengan potensi pertumbuhan terbesar di sektor makanan halal dan fesyen muslim. Sedangkan belanja konsumen Muslim dunia mencapai US$ 2,4 triliun pada 2023, tumbuh 5,5% YoY.
Berbicara pada peluncuran global SGIE 2024/2025 sekaligus memperingati satu dekade pertama eksistensi Indonesia Halal Lifestyle Center ( IHLC) di ballroom Bappenas, Reem El Shafaki dari DinarStandard mengatakan Indonesia menempati peringkat ke-3 secara keseluruhan dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI).
Indonesia memimpin di sektor fesyen Muslim (#1), serta kuat di wisata ramah Muslim (#2), dan farmasi serta kosmetik halal (#2). Disamping menjadi negara dengan total investasi terbesar, terdapat 40 transaksi senilai US$ 1,6 miliar
Nilai total ekonomi Islam global mencapai US$ 7,3 triliun pada 2023, terdiri dari belanja konsumen Muslim (US$ 2,4 triliun) dan aset keuangan syariah (US$ 4,9 triliun).
Wisata ramah Muslim mencatat pertumbuhan tercepat secara global, diproyeksikan naik dari US$ 216,9 miliar (2023) menjadi US$ 384,1 miliar pada 2028.
Belanja makanan halal global diperkirakan mencapai US$ 1,9 triliun pada 2028. Impor produk halal oleh negara-negara OKI diproyeksikan meningkat hingga US$ 608,4 miliar pada 2028.
Total investasi ke perusahaan yang relevan dengan ekonomi Islam mencapai US$ 5,8 miliar dari 225 transaksi; sektor Media & Rekreasi mencatat jumlah transaksi terbanyak, sedangkan sektor keuangan syariah menyerap nilai investasi terbesar.
Nilai total ekonomi Islam global mencapai US$ 7,3 triliun pada 2023, terdiri dari belanja konsumen Muslim (US$ 2,4 triliun) dan aset keuangan syariah (US$ 4,9 triliun).
Serangan Israel ke Gaza menunjukkan analisis media sosial menemukan bahwa 15,6% konsumen secara eksplisit dorong merek alternatif yang mendukung nilai kemanusian (etis) , dengan sentimen positif tertinggi pada sektor makanan & minuman.
Reem juga mengungkapkan bahwa wisata ramah Muslim mencatat pertumbuhan tercepat secara global, diproyeksikan naik dari US$ 216,9 miliar (2023) menjadi US$ 384,1 miliar pada 2028.
Temuan lainnya adalah lebih dari 30 sinyal peluang diidentifikasi, termasuk sertifikasi halal berbasis AI, super-app BPJPH, sukuk digital, hingga konsumerisme berbasis nilai dan inovasi farmasi berkelanjutan.
DinarStandard hari ini secara resmi meluncurkan State of the Global Islamic Economy Report (SGIE) 2024/25 dalam sebuah forum strategis di Jakarta. Acara ini dihadiri oleh Wakil Presiden RI ke-13 Prof. Dr. (H.C.) K.H. Ma’ruf Amin.
Hadir pula Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy sebagai tuan rumah, Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Menteri Investasi dan Hilirisasi Bapak Rosan Perkasa Roeslani, serta Gubernur Bank Indonesia Bapak Perry Warjiyo serta ahli keuangan Islam, Amer Bukvic dari Islamic Development Bank Institute (IsDBI) sebagai thought leadership dari Kuala Lumpur.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian PPN/Bappenas bersama Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC). SGIE yang kini memasuki edisi ke-11 merupakan laporan tahunan dari DinarStandard yang menjadi rujukan utama dalam mengukur kinerja ekonomi Islam global.
Laporan ini mencakup tujuh sektor utama: makanan halal, farmasi, kosmetik, fesyen Muslim, wisata ramah Muslim, media & rekreasi, serta keuangan syariah. Analisis mencakup dimensi pertumbuhan, daya saing ekspor, inovasi, dan dampak sosial-ekonomi dari sektor-sektor tersebut.
Dalam pemeringkatan Global Islamic Economy Indicator (GIEI), Malaysia mempertahankan posisi pertama selama 11 tahun berturut-turut, didukung oleh ekosistem kebijakan dan infrastruktur halal yang terintegrasi.
Arab Saudi menempati posisi kedua, dan Indonesia mengamankan peringkat ketiga—mencerminkan konsistensi reformasi kebijakan, digitalisasi sistem sertifikasi halal, serta daya saing sektor wirausaha lokal.
Indonesia menunjukkan performa unggul di beberapa sektor strategis: peringkat pertama secara global dalam fesyen Muslim, serta peringkat kedua untuk wisata ramah Muslim dan sektor farmasi & kosmetik halal. Ekosistem ini tumbuh berkat sinergi antara kebijakan nasional, kemajuan teknologi, dan kontribusi aktif pelaku industri.
Sejumlah perusahaan nasional seperti Zoya, Modinity Group, Paragon, dan Biofarma tercatat sebagai beberapa penggerak utama di sektor-sektor tersebut.
Di sisi investasi, laporan mencatat total investasi global ke perusahaan terkait ekonomi Islam sebesar US$ 5,8 miliar dari 225 transaksi selama periode 2023/24.
Sektor Media & Rekreasi mencatat jumlah transaksi terbanyak (87 transaksi), menunjukkan tingginya permintaan terhadap konten digital yang relevan secara budaya dan nilai.
Sektor keuangan syariah menarik nilai investasi tertinggi, yakni US$ 1,98 miliar dari 59 transaksi. Indonesia menjadi destinasi investasi terbesar berdasarkan nilai transaksi, dengan US$ 1,6 miliar dari 40 transaksi, diikuti oleh Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.
SGIE 2024/25 juga memetakan lebih dari 30 sinyal peluang masa depan, termasuk sertifikasi halal berbasis blockchain, platform DeFi Islam, layanan wisata berbasis AI, model social commerce untuk fesyen muslim, hingga gerakan aktivisme konsumen Muslim yang mendukung tumbuhnya merek halal lokal yang mendukung kemanusiaan.
Sementara itu, total impor produk halal negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) tercatat sebesar US$ 407,8 miliar pada 2023, dengan 72% berasal dari produk makanan. Angka ini diproyeksikan meningkat menjadi US$ 608,4 miliar pada 2028, tumbuh dengan CAGR sebesar 8,3%.
Sapta Nirwandar, Ketua IHLC, menambahkan bahwa transformasi Indonesia dari posisi ke-10 satu dekade lalu ke posisi ke-3 dunia saat ini merupakan bukti nyata bahwa kebijakan, inovasi digital, dan kekuatan ekonomi kreatif dapat menjadikan Indonesia sebagai pusat gravitasi baru ekonomi halal dunia.
SGIE menjadi referensi strategis dalam perjalanan menuju Indonesia sebagai hub internasional untuk fesyen modest, wisata halal, dan keuangan etis, tambah Sapta Nirwandar.
Wakil Presiden RI ke-13 Prof. Dr. (H.C.) K.H. Ma’ruf Amin mengaku sejak awal mengikuti kelahiran Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) tidak lepas dari kiprah Sapta Nirwandar dalam berbagai forum nasional dan internasional untuk memajukan industri halal di tanah air.
Laporan SGIE 2024/25 disusun oleh DinarStandard bekerja sama dengan SalaamGateway.com sebagai mitra media global, Islamic Development Bank Institute (IsDBI) sebagai thought leadership partner, IFANCA sebagai strategic partner, dan Duopharma sebagai supporting partner.
DinarStandard™ adalah firma riset dan strategi yang berfokus pada ekonomi halal dan etis, inovasi sektor publik, dan dampak sosial. Sejak 2008, DinarStandard telah menjadi mitra strategis lebih dari 30 pemerintah, lembaga investasi, dan pemimpin industri di 12 negara.










