Susi Air Buka Penerbangan Perintis, Berwisata ke Abdya Jadi Lebih Praktis

this formate

Salah satu obyek wisata di Kabupaten Aceh Barat Daya. ( foto: Wikipedia/Google).

BLANG PIDIE, Abdiya, bisniswisata.co.id: Kabupaten Aceh Barat Daya yang disingkat Abdya ini merupakan salah satu Kabupaten yang berdiri dari hasil pemekaran dari Aceh Selatan pada tahun 2002 silam. Kabupaten yang terdiri dari 9 Kecamatan ini memiliki sejuta daya tarik yang patut untuk diketahui, baik dari segi wisata maupun dari segi sejarah.

Dulu kalau mau berwisata ke Aceh Barat Daya (Abdya) dari Medan, tak ada pilihan selain lewat darat. Waktu tempuhnya bisa 10-14 jam berkendara mobil. Tapi sekarang, jauh lebih praktis, cuma satu jam dengan pesawat penerbangan perintis.

Maskapai penerbangan yang melayani penerbangan perintis itu adalah Susi Air jelang akhir Januari 2020 mengoperasikan rutenya dari Kuala Namu ke Kuala Batu.

Kuala Namu International Airport (KNIA) berada di Medan, Sumatera Utara (Sumut). Sedangkan Bandara Kuala Batu terletak di Desa Pulau Kayu/Geulima Jaya, Kecamatan Susoh, Kabupaten Abdya, Provinsi Aceh, berjarak sekitar 6 Km dari Blangpidie, Ibukota Abdya.

“Susi Air terbang perdana untuk tahun 2020 melayani rute Kuala Namu ke Kuala Batu pada 27 Januari lalu,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Abdya, Rahwadi AR ST seperti dikutip Serambinews.com. 

Susi Air bertolak dari Kuala Namu sekitar 10.30 WIB dan mendarat Kuala Batu sekitar pukul 11.30 WIB. Sewaktu berangkat, pesawat bermuatan 12 tempat duduk ini mengangkut tujuh penumpang, sebagian merupakan warga keturunan yang berdomisili di Blangpidie.

Ketika kembali ke Medan, pesawat itu membawa delapan penumpang warga Abdya. Penerbangan perintis yang disubsidi Pemerintah Pusat (Kementerian Perhubungan RI) melalui APBN 2020, sementara ini memang terbang seminggu sekali dari Kuala Namu setiap hari Senin, pukul 10.30 WIB menuju Kuala Batu (PP). Tarif tiket penerbangan Susi Air rute Medan-Blangpidie Rp 400.900 per seat. Sedangkan dari Blangpidie-Medan Rp 315.900 per orang.

Hasbullah, salah seorang warga Blangpidie menyambut positif kehadiran penerbangan perintis tersebut. “Semakin mudah akses, kemungkinan kedatangan wisatawan ke Abdya dari Medan semakin besar,” ujar Hasbullah yang juga seorang peneliti muda di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh. Kalau naik mobil dari Medan ke Blangpidie memang jauh lebih murah tapi waktu tempuhnya amat panjang.

Menurut Bullah, begitu panggilan akrabnya, banyak mobil travel dari Medan ke Blangpidie. “Biasanya mangkal di Jalan Laksana. Kalau gak salah ongkosnya antara Rp150 ribu – Rp 200 ribu per orang pakai mobil Innova,” terangnya.

Penumpangnya bisa diantar sampai tujuan misalnya hotel, resto, dan objek wisata yang ada di Blangpidie, termasuk sampai rumah.”Berangkatnya kalau minta dijemput di hotel juga bisa ,” kata Bullah yang rumah orangtuanya di Guhang, dekat Masjid Agung Abdya, Blangpidie. 

Daya Tarik Wisata

Objek wisata di daerah yang dijuluki Negeri Breuh Sigupai ini antara lain Pantai Jilbab, Pantai Bali, Pulau Gosong, dan Bendungan Irigasi Krueng Susoh di Kecamatan Susoh. 

Susoh memang menjadi menjadi rujukan wisata bahari karena terletak di pesisir pantai barat Aceh dan tidak memiliki wilayah pegunungan. Selain itu juga ada Pantai Kuala Kutang, Pemandian Krueng Baru, Pantai Ujong Ketapang, dan lain-lain.

Kuliner khasnya antara lain Mie Kocok. Pedagang Mie Kocok di Blangpidie cukup banyak, salah satunya di Warung Muslim yang berada di Jalan At-Taqwa No.14 yang sudah beroperasi sejak 1968.

Kata Bullah di kabupaten hasil pemekaran dari Aceh Selatan pada tahun 2002 silam ini juga ada objek wisata sejarah. Tinggalan sejarah yang ada di Abdya antara lain tangsi militer Belanda di Blangpidie yang sekarang jadi asrama Kodim.

Ada juga Makam Teungku Peukan yang gugur saat menyerang tangsi Blangpidie tahun 1926. “Ada situs Kuala Batu yang pernah diserang Amerika 6 Februari 1832. Selain dari Medan, biasanya wisatawan yang datang ke Abya banyak juga dari Banda Aceh ke Blangpidie lewat darat.

“Ada yang menyewa mobil travel, banyak juga yang naik Toyota Hiace Jumbo Rp 150 ribu per orang dengan waktu tempuh sekitar 7-8 jam,” ungkapnya.

Bullah berharap, kedepan bukan cuma pesawat Susi Air yang terbang dari Kuala Namu ke Kuala Batu tapi juga pesawat yang berkapasitas lebih besar seperti pesawat jenis fokker. 

Bukan cuma itu, rute penerbangan Bandara Kuala Batu – Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Blangbintang, Aceh Besar kalau bisa juga diaktifkan lagi.

Sebagai informasi, Bandara Kuala Batu punya prestasi tersendiri. Bandara ini satu-satunya yang bisa beroperasi untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan ke wilayah Barat-Selatan Aceh saat terjadi tsunami 2004 silam.

Ketika itu lebih dari 80 kali/hari penerbangan pesawat mondar mandir ke bandara ini, termasuk pesawat jenis senok milik Amerika Serikat yang menyalurkan bantuan kemanusian untuk korban tsunami. 

Saat ini panjang runway atau landasan pacu bandara ini sudah 1.800 meter, jadi pesawat jenis fokker pun sudah bisa landing di sini, dengan kata lain sudah mengimbangi Bandara Cut Nyak Dhien di Kabupaten Nagan Raya.

Sekarang tinggal bagaimana Pemkab Abdya memanfaatkan kehadiran penerbangan perintis ini dengan cara mengemas semua daya tariknya.

Tak ketinggalan membuat berbagai kegiatan wisata (culture, sport tourism, culinary, dll) lalu mempromosikannya lewat beragam media termasuk medsos agar wisatawan tertarik datang.

Kalau wisatawan terus berdatangan ke Abdya, otomatis rute penerbangan Medan-Blangpidie berumur panjang dan akan terus berkembang. (kembaratropis@yahoo.com, ig:@adjitropis).

 

Provinsi Aceh Berupaya Jaring Wisatawan Muslim dari Thailand  

this formate

Masjid Baiturahman, salah satu tujuan obyek wisata andalan untuk menjaring wisatawan Muslim ke tanah Rencong. ( foto: Google)

BANDA ACEH, bisniswisata.co.id: Aceh yang dijuluki sebagai Serambi Mekkah, Tanah Rencong atau disebut juga dengan Negeri Sultan Iskandar Muda berupaya menjaring wisatawan Muslim dari Thailand maupun dari negara tetangga lainnya.

Provinsi di Indonesia yang diberi status sebagai daerah istimewa dan juga diberi kewenangan otonomi khusus ini terletak di ujung utara pulau Sumatra dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia.

Guna menjaring wisatawan mancanegara (wisman) asal Thailand lebih banyak lagi ke Tanoh Rincong (Tanah Rencong), Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar)nya mengikuti Melayu Day di Kota Yala, Thailand.

“Event Melayu Day yang ke-7 ini berlangsung 3 hari pada 7-9 Februari 2020 di Yala, tepatnya di Chang Peuh Park (Lapangan Gajah Putih) dan mendapat respon positif dari pengunjung event tahunan itu,” kata Teuku Ahmad Dadek, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh, hari ini.

Yala merupakan provinsi yang terletak di bagian paling Selatan Thailand, yang berbatasan dengan Malaysia. Masyarakatnya dominan orang muslim Melayu. Event wisata budaya berbasis Melayu Islami ini sekaligus menjadi ajang promosi untuk menjaring wisatawan Muslim untuk pertama kalinya  

Teuku Ahmad Dadek SH menambahkan tujuan Pemprov Aceh mengikuti event ini untuk memperkenalkan kebudayaan dan kepariwisataan Aceh melalui penampilan seni tari tradisi budaya antara lain Tari Seudati Aceh dan promosi beragam destinasi wisata Aceh.

Mempromosikan Aceh di event ini dengan membawa tim seni Aceh juga sekaligus untuk memperkuat kerjasama ekonomi, pertukaran budaya (cultural exchange), dan promosi bersama (joint promotion) antara dua negara, Indonesia dan Thailand melalui semangat kerjasama IMT-GT, khususnya Pemprov Aceh dan Pemprov Yala. 

“Ikut event ini, lanjut Dadek yang menjadi koordinator tim delegasi Aceh, juga dalam rangka memperkuat positioning Aceh sebagai destinasi wisata halal dunia “World’s Best Halal Cultural Tourism Destination”, yang kaya dengan keunikan budaya dan pesona alam serta keramahan masyarakatnya,” kata Teuku Ahmad Dadek.

Kepala Disbudpar Aceh, Jamaluddin, SE, M.Si pada kesempatan yang sama menambahkan selain tim Tari Seudati dan beberapa tarian tradisi lainnya dari Sanggar Pomeurah Aceh Utara, pihaknya juga membawa pelaku industri pariwisata Aceh, antara lain Asoe Nanggroe Tour and Travel untuk mempromosikan destinasi-destinasi wisata andalan Aceh dalam bentuk brosur, leaflet, dan sejumlah paket wisata.

“Kami juga membawa barang-barang UKM dan cenderamata khas Aceh serta tentunya informasi ragam even wisata yang akan digelar di Aceh sepanjang tahun 2020,” ungkapnya.

Melayu Day di Kota Yala, Thailand juga dihadiri oleh beberapa negara lain seperti Malaysia dan Brunai Darussalam serta unsur UKM, termasuk Bawadi Coffee, dan juga beberapa provinsi lain dari Indonesia seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Jambi.

Kabid Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadhani, M.Bus menambahkan keikutsertaan  perdana Aceh di 7th Melayu Day @Yala ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisman asal Thailand ke Aceh tahun 2020 ini.

“Tahun 2018 jumlah wisman Thailand ke Aceh sekitar 300 orang. Tahun 2019 turun sekitar 10 persen. Tahun 2020 diharapkan meningkat, khususnya wisatawan Muslim dari Thailand Selatan,” harap Rahmadhani.

Berdasarkan catatan Disbudpar Aceh, selama ini ada tiga paket wisata yang paling diminati  wisman Thailand saat berkunjung ke Aceh. “Ketiga paket itu adalah paket wisata Tsunami, kuliner Aceh dan paket wisata pesona alam Sabang,” ungkap Rahmadhani.

Disbudpar Aceh juga mencatat kunjungan wisnus dan wisman ke Aceh tahun 2018 mencapai 2.498.249 terdiri atas 2.391.968 wisnus dan 106.281wisman, dengan lima negara pemasok wisman terbanyak ke Aceh dari Malaysia, Inggris, negara Eropa lainnya, China, dan AS.

Sementara kunjungan tahun 2019 mengalami peningkatan (5.55 persen), yaitu mencapai 2.636.916 terdiri atas 2.529.879 wisnus dan 107.037 wisman. Terbanyak masih dari Malaysia, Inggris, AS, Jerman, dan China.

“Tahun 2020 targetnya wisnus 3 juta dan wisman 150 ribu ke Aceh. Kami selalu optimis,” pungkas Rahmadhani seraya berharap lewat partisipasi Aceh di Melayu Day dapat menambah kunjungan wisman asal negara Gajah Putih itu ke Bumi Iskandar Muda Aceh tahun ini. (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis).

 

Awak Pesawat Penerbangan “Misi Kemanusiaan” Segera Mengudara

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: SEBANYAK 18 awak pesawat Batik Air, misi kemanusiaan ke Wuhan, Cina, telah selesai menjalani rangkaian protokol kesehatan (karantina dan observasi) di Natuna, Kepulauan Riau. Batik Air sudah menerima konfirmasi dari Kementerian Kesehatan menyatakan kondisi sehat dan laik terbang.

Penyambutan dilakukan oleh Edward Sirait, President Director of Lion Air Group; Capt. Achmad Luthfie, CEO Batik Air; Capt. Daniel Putut Kuncoro Adi, Managing Director of Lion Air Group; Capt. Zwingly Silalahi, Operation Director of Batik Air; Capt. Wamildan Tsani Panjaitan, Safety, Security and Quality Director of Batik Air; Yanto Supriyatno, Engineering Director of Batik Air, Perwakilan dari manajemen Lion Air Group yang lain serta perwakilan masing-masing departemen/ divisi lingkungan Lion Air Group.

Jumlah awak pesawat tersebut diberangkatkan dari Bandar Udara Raden Sadjad, Natuna (NTX) pukul 13.30 waktu setempat (Waktu Indonesia Barat/ WIB, GMT+ 07) dan tiba di Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta pada 15.30 waktu setempat (Waktu Indonesia Barat/ WIB, GMT+ 07). 18 kru diterbangkan menggunakan pesawat milik TNI Angkatan Udara.

“Kami  mengapresiasi kesiapan, peran aktif serta profesionalisme awak pesawat, petugas layanan darat (ground handling), termasuk dukungan penuh pengelola bandar udara, pengatur lalu lintas udara, mitra dan berbagai pihak yang terlibat, sehingga operasional penerbangan “misi kemanusiaan” berjalan lancer,” ungkap Danang Mandala Prihantoro Corporate Communications Strategic Lion Group

Ke 18 awak pesawat, tersebut bertugas sebagai pilot (person in command/ PIC); kopilot (first officer/ FO); awak kabin (flight attendant/ FA); petugas operasional keberangkatan (dispatcher, flight operation officer/ FOO) serta teknisi (engineer), yang terdiri:

Captain Destyo Usodo (PIC),  Captain Suyono Suwito (PIC), Hendra Tjin (FO), Taufan Widya (FO),  David Setiawan (SFA), Indah Nurfitri Djufri (FA), Tia Septiani (FA), Kikiet Teguh Septarianto (FA), Abdul Hakim Sungkar (FA), Fahmi Husen Ali Joubah (FA), Farrand Abdilla (FA), Hartini Efniati Hasibuan (FA), Ranti Oktaviana (FA), Ni Wayan Tangkas Chika Manik (FA), Anggi Dwi Saputro (FA), David Rismon (Dispatcher), Dimas Syamsurizal (Engineer) dan Jemi (Engineer)

Pelaksanaan penerbangan berpedoman kepada prinsip-prinsip dan standar operasional prosedur (SOP) kesehatan dalam memastikan pengamanan awak pesawat, tim medis, tamu atau penumpang dan lainnya

Operasional misi kemanusiaan Batik Air pada 1 Februari 2020 bernomor ID-8618 rute Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten (CGK) pukul 13.00 waktu setempat (Waktu Indonesia Barat, GMT+ 07) tujuan Bandar Udara Internasional Tianhe Wuhan yang terletak di Distrik Huangpi, 26 kilometer utara dari pusat kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat Tiongkok (WUH). Pesawat mendarat di Tianhe Wuhan pada 19.00 waktu setempat (Time in Wuhan, Hubei, China Standard Time, GMT+ 08).

Untuk penerbangan kembali pada 2 Februari 2020, pesawat telahmenerbangkan 18 awak pesawat dan 270 tamu (Warga Negara Indonesia) menggunakan Airbus 330-300CEO (18 kelas bisnis dan 374 kelas ekonomi).

 Penerbangan bernomor ID-8619 “misi kemanusiaan” rute Bandar Udara Internasional Tianhe Wuhan di Distrik Huangpi, Wuhan pada 04.30 waktu setempat (Time in Wuhan, Hubei, China Standard Time, GMT+ 08) dan tiba di Bandar Udara Internasional Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau (BTH) pukul 08.30 WIB (Waktu Indonesia Barat, GMT+ 07)

 Batik Air tetap mengedepankan faktor keamanan dan keselamatan penerbangan (safety first).  Dalam tindakan pencegahan virus dimaksud pada operasional penerbangan, Batik Air menerapkan rekomendasi dengan menyediakan dan melakukan penyemprotan cairan multiguna pembunuh kuman (disinfectant spray) sesuai prosedur yang berlaku serta menyediakan dan menggunakan masker dan alat pelindung diri (APD), sarung tangan (hand gloves) dan cairan/ gel pembersih tangan (hand sanitizer) guna antisipasi serta preventif.

Berburu Cacing Laut di Festival Bau Nyale 2020

this formate

Masyarakat berburu Nyale, cacing laut di bibir pantai Seger, Lombok. ( foto: Kemenparekraf).

LOMBOK TENGAH, bisniswisata.co.id: Fajar masih belum tampak saat ribuan pemburu telah bersiap di bibir Pantai Seger, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (15/2) dini hari. Mereka adalah masyarakat bersama wisatawan yang akan berburu Nyale, cacing warna-warni yang konon disebut sebagai perwujudan dari Putri Mandalika yang cantik nan anggun.

Inilah puncak dari rangkaian Festival Pesona Bau Nyale 2020 yang digelar sejak 8 Februari silam. Sebuah festival yang mengemas khazanah budaya di Lombok sebagai daya tarik wisatawan.

Sejak pukul 03.00 WITA wisatawan sudah berkumpul di Pantai Seger yang juga dikenal sebagai salah satu destinasi selancar terbaik di Lombok ini. Para pemburu Nyale datang dari berbagai kalangan dan usia. Mulai dari anak-anak hingga dewasa, laki-laki maupun perempuan. Tak ada batasan.

Tak mengindahkan dinginnya air laut, ribuan pemburu itu menceburkan diri ke pantai berkarang. Teriakan para pemburu beradu kencang dengan deburan ombak pantai Seger. Dengan lampu penerangan yang dipasang di kening atau senter di tangan, para pemburu dengan sigap mencari Nyale.

Jika dilihat dari atas bukit di samping Pantai Seger, pemandangannya berbeda lagi. Cahaya penerangan mereka saling singkap, berpadu dengan cahaya rembulan.

Proses menangkap Nyale sendiri dilakukan dengan menggunakan kayu berbentuk huruf ‘U’ yang diikat dengan jaring di belakangnya. Nyale yang bermunculan dari dalam karang itu kemudian diserok dengan jaring tersebut.

Dibutuhkan kesabaran agar tangkapan Nyale banyak. Mengingat cacing ini cukup lincah dan licin. “Saya dapat nyale lumayan banyak, ini akan saya konsumsi bersama keluarga, setahun sekali,” tutur Agus yang datang dari Kota Mataram sambil menunjukkan hasil tangkapannya yang berisi Nyale hampir setengah ember.

Namun, lanjut Agus, Nyale yang dia dapat kali ini tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.Wujud Nyale sendiri begitu unik, berwarna-warni. Nyale juga mengandung protein yang tinggi sehingga sangat layak untuk dikonsumsi. Tak heran jika setelah menangkap, ada warga yang langsung memakannya. Tapi ada juga yang dibawa pulang dan dimasak untuk dimakan bersama keluarga.

Biasanya masyarakat memasaknya dengan cara dipepes dengan bungkus daun pisang. Kegiatan berburu Nyale baru usai setelah matahari terbit. Nyale adalah cacing laut jelmaan dari Putri Mandalika.

Dahulu, menurut cerita rakyat, ada seorang putri cantik yang bernama Mandalika. Kabar kecantikan putri ini tersebar ke seluruh pelosok pulau, sehingga banyak pangeran yang jatuh cinta dan ingin menikahi sang putri.

Tak menginginkan terjadinya perang atau konflik karena diperebutkan oleh banyak pangeran, Mandalika memilih untuk terjun ke laut. Sebelum terjun ke Laut, ia sempat mengucapkan janji untuk mengunjungi rakyatnya dalam rupa/wujud Nyale.

Cacing laut tersebut hanya muncul satu tahun sekali dan dipercaya sebagai wujud kunjungan putri Mandalika untuk masyarakatnya. Dan dipercaya sebagai berkah hingga bagi masyarakat setempat juga berkhasiat menyembuhkan penyakit.

Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ari Juliano Gema saat mengikuti prosesi Bau Nyale mengatakan, Nyale menjadi budaya dan atraksi yang unik sehingga menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan untuk datang ke Nusa Tenggara Barat.

“Festival Bau Nyale jadi cara efektif mempromosikan keindahan atraksi dan budaya di NTB. Sehingga mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang serta membantu menggerakan perekonomian masyarakat lokal,” kata Ari Juliano.

 

Perketat “Health Surveillance Protocol” di Pelabuhan Laut Thailand

this formate

Bangkok, bisniswisata.co.id: OTORITAS  Pariwisata Thailand (Tourism Authority of Thailand /TAT) memastikan sistem pengawasan kesehatan Thailand untuk pengendalian penyakit khususnya pencegahan paparan Coronavirus — resmi disebut COVID-19, diberlakukan di semua pelabuhan laut baik di Teluk Thailand dan Laut Andaman.

Selain penerapan protokol pengawasan dan screening suhu tubuh bagi penumpang angkutan udara dan anggota kru di seluruh bandara Thailand, Departemen Pengendalian Penyakit, Departemen Kesehatan Thailand  telah memperluas penerapan protokol  kesehatan perjalanan terhadap penumpang dan awak kapal pesiar di lima pelabuhan laut Thailand (Bangkok, Laem Chabang, Chiang Saen, Phuket dan Ko Samui).

Di pelabuhan laut, fokus utama diberlakukan pada kapal pesiar yang bepergian dari daerah terkena COVID-19. Demikian pernyataan resmi pihak TAT yang diterima bisniswisata.co.id, hari ini.

Pihak karantina kesehatan pelabuhan mengharuskan manajemen kapal pesiar mengirimkan manifest penumpang, crew dan dokumen pendukung  kapal pesiar 24 jam sebelum kapal memasuki perairan Thailand. Dokumen yang diperlukan antara laian : Information of Conveyance Arriving; Maritime Information of Health; Maritime Declaration of Health; Last 10 Ports of Call; Questionnaire for Dangerous Communicable Diseases Screening; Crew List, list hasil screening suhu tubuh penumpang dan kru (setidaknya selama tujuh hari terakhir sebelum memasuki Thailand).

Devisi  Pengendalian Penyakit, DepKes Thailand akan mengevaluasi faktor risiko kesehatan berdasarkan dokumen yang diserahkan dan bekerja sama dengan lembaga pemerintah lainnya mengimplementasi protokol kesehatan perjalanan dengan disiplin ketat.

Bagi kapal pesiar yang tiba di Thailand dalam waktu 14 hari setelah berangkat dari daerah terkena dampak dan membawa pasien dengan status dalam pengawasan (Patients under Investigation /PUI) untuk COVID-19, kapal akan diminta untuk menempatkan PUI di tempat terpisah dan mengukur suhu mereka secara teratur.

Kapal diminta berlabuh di area yang ditentukan dan petugas kesehatan akan naik ke kapal untuk melakukan screening baik bagi penumpang mau pun kru. PUI akan dirujuk ke rumah sakit setempat sementara kapal mendapat perlakuan desinfeksi dan dikarantina. Jika hasil lab menunjukkan negatif untuk COVID-19 untuk PUI, dan kapal telah dikarantina selama lebih dari 14 hari (sejak tanggal PUI terakhir terdeteksi), karantina akan diangkat dan kapal diizinkan merapat di pelabuhan Thailand.

Protokol juga diberlakukan untuk kapal pesiar yang tiba di Thailand setelah 14 hari berangkat dari daerah terdampak dan telah menerima izin untuk turun di pelabuhan Thailand. Petugas kesehatan Thailand akan naik kapal untuk melakukan pemeriksaan suhu tubuh  semua penumpang dan anggota kru. Jika ada PUI terdeteksi, kapal akan ditempatkan di bawah sistem pengawasan ketat sesuai protokol, ditempatkan di area khusus dan dikarantina.  

Jika skrining kesehatan jelas, otoritas kesehatan Thailand akan terus memantau status kesehatan semua penumpang dan anggota kru dalam masa inkubasi COVID-19 selama 14 hari. Semua penumpang dan awak kapal pesiar akan menerima Kartu Awas Kesehatan (Health Beware Card) dan rekomendasi harian untuk mencegah penyebaran COVID-19. (redaksi@bisniswisata.co.id)

Virus Novel Corona, World Pangolin Day dan Valentine

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id,- PERNAH “bertemu” Pangolin? Binatang yang jika dikejutkan, langsung bergelung mempertahankan diri. Binatang yang tiba- tiba makin popular tersangkut sebaran virus Novelcorona. Binatang yang dicari- cari penggiat dan pengembang obat- obat tradisional di Cina. Binatang yang nilai ekonominya “tinggi”, wajar saja jika kemudian menjadi komoditi penyelundupan ke negara- negara tertentu.

Trenggiling atau trenggiling bersisik (sebutan di masyarakat Nusantara), menurut portal scien World Pangolin Day  adalah makhluk unik yang tubuhnya ditutupi lempengan sisik keras. Bersifat insektivora – makanan ekslusifnya adalah semut dan rayap, sebagian besar aktif di malam hari. Nama “trenggiling”, berasal dari kata Melayu “pengguling“, sesuatu yang menggulung. Ordo Pholidota  ciptaan Tuhan ini ada delapan spesies.  

Hari Sabtu ketiga bulan Kasih Sayang (Valentine), Februari dirayakan sebagai Hari Pangolin Dunia.  Dan tahun ini, hari istimewa jatuh pada tanggal 15 Februari 2020. Hari Pangolin Dunia adalah kesempatan bagi para penggemar Trenggiling untuk bersama-sama meningkatkan kesadaran tentang mamalia unik ini — dan keadaan buruk mereka –. Pasalnya, Trenggiling adalah salah satu mamalia yang paling banyak diperdagangkan dalam perdagangan ilegal satwa liar.

Pada Hari Pangolin/Trenggiling Dunia, masyarakat dunia dapat berpartisipasi aktif untuk menunjukkan kepeduliannya. Paling tidak ikut mengingatkan lingkungan, ada Trenggiling bagian ekosistem dunia yang perlu mendapat perhatian. Mahluk unik ini relatif tidak dikenal di luar Afrika dan Asia.
Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk membantu Trenggiling di Hari Pangolin Dunia yaituTweet menggunakan tagar #WorldPangolinDay.   Like halaman Facebook Hari Pangolin Dunia.   Buka blog tentang Trenggiling pada Hari Pangolin Dunia. Bagikan informasi Trenggiling di jaringan media sosial Anda. Membuat karya seni tentang Trenggiling – melukis, menggambar, memahat. Yang disekolah, bapak, ibu guru bias menyelipkan informasi tentang Trenggiling di sekolah.

Berilah dukungan pada LSM yang bekerja untuk melindungi Trenggiling. Menjadi tuan rumah atau mensponsori acara Hari Pangolin Dunia, jangan lupa posting foto di halaman Facebook Hari Pangolin Dunia. Bagi penghobi dan penikmat jajanan, boleh juga membuat kue, roti, pudding dalam bentuk Trenggiling, posting foto di halaman Hari Pangolin Dunia.
Kita juga bisa meminta  penegakan penuh hukum dan hukuman untuk penyelundupan Trenggiling dan satwa liar lainnya. Informasikan kepada pihak berwenang jika Anda melihat Trenggiling untuk dijual di pasar atau pada menu restoran, atau jika Anda tahu ada yang menangkap atau memelihara Trenggiling.

Jika Anda berjejaring dengan penggiat pengobatan tradisional, informasikan kepada mereka bahwa penggunaan bagian- bagian tubuh Trenggiling selain melanggar hukum/illegal juga tidak ada manfaatnya untuk kesehatan.

Di Dunia

Ada total delapan spesies Trenggiling di planet kita, dan semua populasi Trenggiling menurun, karena perdagangan daging ilegal, olahan daging Trenggiling menjadi kudapan lezat popular dan dicari di Cina dan Vietnam dan sisik digunakan dalam pengobatan Tiongkok tradisional, meski pun tidak ada bukti manfaat obatnya.
Empat spesies Trenggiling hidup di Asia yaitu  Pangolin India (juga disebut Pangolin Ekor Tebal/ Manis crassicaudata),  Phillipine Pangolin ( Manis culionensis), Sunda Pangolin (juga disebut Malayan Pangolin/ Manis javanica), Pangolin Cina (Manis pentadactyla).
Trenggiling yang hidup di Afrika antara lain White Bellied Tree Pangolin (juga disebut AThree-Cusped Pangolin, African White-Bellied Pangolin dan Tree Pangolin/ Phataginus tricuspis), Giant Ground Pangolin (Smutsia gigantea), Ground Pangolin (juga disebut Cape Pangolin dan Pangolin Temminck/ Smutsia temminckii), Black Bellied Tree Pangolin (juga disebut Pangolin Ekor Panjang dan Black-Bellied pangolin/Phataginus tetradactyla). Selamat Hari Trenggiling Dunia!

Pemda Bali dan Kementrian BUMN Genjot Proyek Benoa Maritime Tourism Hub Perkuat Pariwisata Bali

this formate

Menteri BUMN Erick Tohir berbincang serius dengan Menparekraf Whisnutama saat berada di pelabuhan Benoa. ( foto: Kemenparekraf)

BENOA, Bali, bisniswisata.co.id: Rapat Koordinasi Rencana Pengembangan Benoa Maritime Tourism Hub berlangsung di Hotel Inaya Putri Bali, dihadiri a.l oleh Gubernur BaliI Wayan Koster, Menteri BUMN Erick Tohir, Menparekraf Whisnutama dan jaharan direksi Pelindo, hari ini.

“Pemerintah mendorong segera terwujudnya Benoa Maritime Tourism Hub. Hal pertama yang dilakukan adalah penataan fasilitas pelabuhan sehingga wisatawan yang datang menggunakan jalur laut pun merasa nyaman,”  I Wayan Koster.

Pembangunan proyek Benoa Maritime Tourism Hub yang akan menghadirkan fasilitas dan infrastruktur terintegrasi di Pelabuhan Benoa diharapkan akan semakin memperkuat sektor pariwisata Bali secara keseluruhan.

“Kami menggandeng sejumlah pihak seperti Kemenparekraf, Kementerian BUMN, BKPM, Kementerian Agraria dan Tata Ruang serta Pelindo untuk membangun Benoa Maritime Tourism Hub,” kata Gubernur Bali itu.

Mengenai ketersediaan infrastruktur, I Wayan Koster menjelaskan bahwa pihaknya telah menggandeng sejumlah pihak untuk mendukung hal tersebut. Sebut saja ketersediaan fasilitas bandara, jalan tol, serta pelabuhan yang tersedia sehingga kegiatan perekonomian terutama pariwisata di Bali berjalan dengan lebih baik. 

“Khusus untuk infrastruktur yang terhubung dengan laut, selayaknya Bali memiliki fasilitas pelabuhan yang memungkinkan kapal besar seperti yacht dan cruise untuk bersandar. Hal ini akan terus didorong agar cepat terlaksana sehingga laju pengembangan pariwisata semakin cepat,” jelasnya.

Kondisi pariwisata Bali saat ini menghadapi berbagai tantangan maka untuk meminimalisasi dampak negatifnya, pengelolaan pariwisata Bali harus terus diperbaiki sehingga meningkat kualitasnya, salah satunya melalui pengelolaan infrastruktur sebagai pendukung utama. 

“Daya tarik pariwisata Bali sangat kuat. Saat ini, sumbangan pariwisata terhadap PDB Bali mencapai 55 persen. Selain itu, Bali juga menjadi salah satu pintu utama masuknya wisman ke Indonesia sebanyak 39 persen. Maka, kita perlu mendukungnya dengan ketersediaan infrastruktur yang terbilang mendesak,” tambah Wayan. 

Menanggapi kebutuhan tersebut, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bersama Kementerian BUMN dan Pelindo mendorong segera terwujudnya Benoa Maritime Tourism Hub. Hal pertama yang dilakukan adalah penataan fasilitas pelabuhan sehingga wisatawan yang datang menggunakan jalur laut pun merasa nyaman. 

“Kami bekerja sama dengan Pelindo dalam mengatur tata ruang yang ada di pelabuhan dengan memisahkan lokasi pelabuhan sesuai kebutuhan dan membaginya menjadi lokasi kapal pesiar, lokasi peti kemas, terminal curah cair, dan lain-lain. Selain itu, fasilitas pelabuhan juga terus diperbaiki sehingga meningkatkan keamanan dan kenyamanan wisatawan,” ujar Menteri BUMN, Erick Tohir. 

Dalam pengerjaan proyek tersebut, Kementerian BUMN dan Pelindo mengajak pihak profesional untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan pelabuhan dengan harapan pembangunannya tetap memperhitungkan keseimbangan alam. 

“Kami mendorong agar PKBL perusahaan yang bergerak di bawah Kementerian BUMN memberikan sumbangan terhadap lingkungan sebanyak 5 persen dan sumbangan terhadap pendidikan terhadap 30 persen,” ujar Erick. 

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio, menyatakan bahwa langkah yang ditempuh Pemda Bali dalam membentuk Tourism Hub sangat tepat. 

“Inilah saatnya kita meningkatkan daya tarik pariwisata di Bali melalui Benoa Maritime Tourism Hub. Selain itu, kita juga harus melakukan sejumlah strategi agar wisatawan yang datang menghabiskan waktu yang lebih lama,” ujar Whisnutana.

Lama tinggal wisarawan dapat meningkatkan pendapatan devisa melalui pariwisata. Sekarang ini, pariwisata didorong baik secara kuantitas jumlah kunjungan dan perjalanan, maupun secara kualitas berupa jumlah pengeluaran yang dilakukan setiap wisatawan yang berkunjung

Dia melanjutkan, pembangunan infrastuktur juga harus terus dilakukan di daerah yang memiliki potensi kedatangan wisatawan sehingga promosi yang dilakukan bisa berjalan optimal. Sebagai contoh, promosi pariwisata Thailand yang dilakukan melalui kuliner. Hal tersebut dinyatakan berhasil karena kuliner terbukti membawa pariwisata Thailand semakin populer di dunia. 

Mengenai pembangunan Benoa Maritime Tourism Hub, Menparekraf berharap keberadaannya juga mendorong sektor ekonomi kreatif semakin berkembang di Bali. 

Sementara itu Direktur Utama Pelindo III Doso Agung, menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya kepada sejumlah BUMN dan kementerian/lembaga yang turut mendukung rencana pengembangan kawasan Pelabuhan Benoa, melalui perjanjian kerja sama yang telah disepakati.

“Dari data, disebutkan bahwa rata-rata wisatawan yang datang menggunakan kapal pesiar hanya menghabiskan waktu 6-8 jam untuk bersandar dan melakukan aktivitas pariwisata. Dengan pembangunan Benoa Maritime Tourism Hub ini, diharapkan lama kunjungan wisatawan pun dapat meningkat,” kata Doso.

Selain pembangunan fasilitas kapal, Pelindo juga menggandeng sejumlah UKM unggulan untuk membuka toko di sekitar pelabuhan sehingga laju perekonomian pun semakin bertumbuh.

Doso melanjutkan, target pengerjaan Benoa Maritime Tourism Hub akan berlangsung selama beberapa tahun ke depan dan rencananya akan selesai pada 2023.

Sementara itu, Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan Djalil juga menyatakan bahwa pihaknya akan mendukung langkah yang dilakukan Pemda Bali untuk memajukan daerahnya terutama dalam hal pariwisata.

“Kami terbuka untuk bekerja sama mewujudkan pariwisata yang semakin berkembang terutama dalam hal pembangunan Benoa Maritim Tourism Hub,” kata Sofyan.

Pada kesempatan tersebut, Menteri BUMN, Erick Tohir ;  Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio ;  Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan Djalil ; Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia ; Staf khusus (stafsus) Menteri BUMN bidang Komunikasi Publik, Arya Sinulingga menyaksikan penandatanganan MoU.

MOU yang dilakukan salah satunya tentang penataan BUMN di lingkungan Benoa Exsisting antara Pertamina, Indonesia Power, Perikanan Nusantara, Perum Damri, PNM, WIKA yang dilakukan oleh Direktur Utama Pelindo III bersama Direktur Utama Pertamina, Indonesia Power, Perinus, Damri dan PNM. 

 

Tingalan Jumenengan Dalem HB X dikemas juga dengan Millenial Exhibition

this formate

Jumpa pers  Tingalan Jumenengan Dalem HB X dipimpin oleh para putri Sri Sultan Hamengku Buwono

JOKJAKARTA, bisniswisata.co.id: PERINGATAN 32 tahun Naik Takhta Sri Sultan Hamengku Buwono X  atau Tingalan Jumenengan Dalem akan dilaksanakan Keraton Yogyakarta dengan menggelar berbagai kegiatan selama bulan Maret 2020, ungkap GKR Bendoro, didampingi GKR Hayu, panitia pelaksana, hari ini.

Keraton Yogyakarta akan menggelar berbagai kegiatan antara lain Pameran Budaya, Simposium Internasional. Pertunjukan Seni Adiluhung, dan kegiatan adat seperti Ngebluk, Ngapem, Sugengan, dan Labuhan

Selain itu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan memamerkan koleksi busana-busana langka yang pernah dikenakan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, dan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, serta pejabat-pejabat keraton di masa lalu.

Busana atau pakaian yang dulu pernah digunakan raja, ratu serta pejabat keraton di masa lampau dan, koleksi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan dipamerkan untuk umum pada 8 Maret hingga 4 April 2020,” kata GKR Bendoro sebagai Ketua Pameran.

Pada Hari Selasa Wage, 7 Maret 1989 atau 29 Rejeb. Tahun Wawu 1921, KGPH Mangkubumi dinobatkan sebagai Raja ke-10 Keraton Kasultanan Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono X. Selanjutnya, setiap tanggal 29 Rejeb akan digelar peringatan ulang tahun penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono X atau Tingalan Jumenengan Dalem. 

Secara tradisional, Tingalan Jumenengan Dalem terdiri atas rangkaian beberapa kegiatan seperti Ngebluk, Ngapem, Sugengan, dan Labuhan. Dalam perhitungan Kalender Jawa, tahun ini Sri Sultan Hamengku Buwono X genap bertakhta selama 32 tahun pada tanggal 29 Rejeb Tahun Wawu 1953 atau bertepatan dengan 24 Maret 2020.

Tahun ini sangat istimewa karena akan menjadi siklus windu ke-4 peringatan Tingalan Jumenengan Dalem. Sehingga perhitungan hari dan tahun peringatan akan tepat terjadi pada Hari Selasa Wage pada Tahun Wawu. Peristiwa ini disebut juga dengan istilah Tumbuk Ageng.

Disamping kegiatan rutin yang bersifat tradisional, setiap tangggal 7 Maret juga digelar beberapa kegiatan peringatan penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono X berdasarkan perhitungan Kalender Masehi. 

Oleh karena itu, GKR Bendoro meyakini pameran busana ini akan banyak menyedot banyak pengunjung yang sekaligus ingin mempelajari produk kreatif di masa silam yang tak lekang oleh waktu.

“Dulu Keraton Yogya ini kan sebuah Negara. Yogya ini mempunyai pakaian-pakaian khusus, seperti pakaian hakim, petugas pajak. Dulu ada seragamnya sendiri yang sangat berbeda dengan yang ada sekarang,” jelas Wakil Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Nitya Budaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini, dalam jumpa pers di Sleman, 

Pihaknya menganggap pameran busana tersebut menarik karena pakaian itu merupakan simbol dari suatu pekerjaan di masa Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat masih menjadi sebuah Nagari.

Putri bungsu Sri Sultan HB X ini juga menambahkan, pameran ini akan dikemas dalam Millenial Exhabition sehingga menjadi daya tarik tersendiri para kaum milenial. Sekaligus, dapat meningkatkan pariwisata di Yogyakarta, di saat low seasons.

Menurutnya, pembukaan pameran pada 7 Maret 2020 malam, akan dibuka langsung oleh Sri Sultan HB X di Pagelaran Keraton. Kemudian pada penutupan pameran tersebut, rencananya juga akan dipentaskan tarian tradisional Keraton yang belum pernah dipentaskan sebelumnya.

Sementara GKR Hayu selaku Ketua Panitia Simposium memaparkan, selain pameran budaya, rangkaian peringatan Kenaikan Tahta Sultan HB X juga akan digelar Simposium Internasional melibatkan pembicara asing pula 

Penghageng Tepas Tandha Yekti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini menjelaskan, sebagaimana tahun sebelumnya, agenda simposium internasional bertema Sejarah, Filologi, dan Seni Pertunjukan yang dilaksanakan pada 9-10 Maret 2020 di Royal Ambarukmo Yogyakarta.

Dengan mengusung tema Busana dan Peradaban di Keraton Yogyakarta”, kegiatan Simposium Internasional ini dibuka oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan menampilkan Beksan Lawung Ringgit, persembahan KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta. 

Agenda Simposium Internasional ini akan menghadirkan pembicara tamu dari dalam dan luar negeri a.l Dick van der Meij, Leiden, The Netherlands, Jennifer Lindsay, The Australian National University, Australia,  Ilaria Meloni & Sietske Rijpkema: La Sapienza University of Rome dan Jiri Jakl: Heidelberg University, Germany

Berikut rincian jadwal kegiatan adat dalam peringatan Tingalan Jumenengan Dalem  yang terbuka untuk publik adalah pada 25 Maret 2020 yaitu upacara Hajad Dalem Labuhan Parangkusuma dan Labuhan Dlepih dan 26 Mare: Hajad Dalem Labuhan Merapi dan Labuhan Lawu.

Untuk menyemarakkan Tingalan Jumenengan Dalem yang berlangsung selama kurang lebih satu bulan, akan dipentaskan beberapa karya tari adiluhung dari Keraton Yogyakarta, diantaranya:

Beksan Trunajaya pada acara Mangayubagya Tingalan Jumenengan Dalem, Rabu (25/3) malam di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran  dan Wayang Wong Purwo pada penutupan pameran, Sabtu (4/4) malam di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran terbuka untuk umum.

Pemprov NTB Giat Promosikan MotoGp Mandalika 2021 di Festival Bau Nyale

this formate

Atraksi untuk mempromosikan perhelatan MotoGP  2021 di tengah perhelatan Bau Nyale. ( foto: Kemenparekraf)

PRAYA, Lombok Tengah, bisniswisata.co.id: Guna mempromosikan perhelatan MotoGP yang akan berlangsung di Sirkuit Mandalika tahun 2021, Festival Pesona Bau Nyale 2020 sedikit berbeda karena ada perpindahan lokasi dari tahun sebelumnya di Pantai Seger,  kata Zulkieflimansyah,  Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), hari ini.

” Lokasi yang sekarang  berdekatan dengan pembangunan Sirkut MotoGP Mandalika, kini digelar di Pantai Tanjung Ann. Hal ini menjadi cara tersendiri bagi Indonesia untuk sekaligus mempromosikan perhelatan MotoGP 2021,” ujarnya.

“Saat ini kami sedang melakukan akselerasi pembangunan sirkuit di Mandalika. Semoga tahun depan, MotoGP 2021 bukan hanya single event tapi akan diselingi banyak kegiatan seperti ini,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ari Juliano Gema menjelaskan, event ini menjadi salah satu promosi yang baik untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara (wisman) ke NTB, terlebih pada 2021 akan digelar perhelatan internasional MotoGP di Sirkuit Mandalika.

“Festival Bau Nyale jadi cara efektif mempromosikan Indonesia khususnya NTB. Terlebih tahun depan akan ada event internasional yang sangat penting bagi Indonesia yaitu MotoGP,” katanya.

Ari juga menjelaskan, di tengah gejolak wabah virus corona yang sedang berlangsung, event seperti ini bisa menjadi pembuktian jika Indonesia aman untuk dikunjungi oleh wisman.

“Banyak wisatawan asing yang enggan berwisata karena dampak virus corona. Oleh sebab itu, mari sama-sama kita promosikan, kita sebarkan melalui sosial media, jika Indonesia itu aman. Sehingga bisa menggelorakan perekonomian dan pariwisata di Indonesia,” ujarnya.

Malam puncak Festival Pesona Bau Nyale 2020 berlangsung meriah. Banyak wisatawan yang datang memadati tempat acara di Pantai Tanjung Ann yang merupakan salah satu destinasi wisata terfavorit di Lombok Tengah.

Beragam kesenian budaya khas Suku Sasak Lombok juga ditampilkan. Dan yang paling dinanti adalah penampilan dari Setia Band yang digawangi Charly Van Houten. Penampilan mereka sukses mencairkan suasana dengan membawa sejumlah lagu hit mereka.

Sebelumnya, acara yang masuk 100 Calender of Event Nasional itu digelar dengan sejumlah event mulai dari Peresean, Mandalika Fashion Carnaval, kontes foto, hingga acara kuliner. Puncak Festival Bau Nyale dilakukan pada hari Sabtu (15/2/2020) dini hari disepanjang pantai Seger dan sampai saat ini telah menjadi tradisi tahunan masyarakat Lombok khususnya Suku Sasak.

Menyedihkan, “Cruise” Hanya Lewat Buang Sampah

this formate

BALI, bisniswisata.co.id: MENYEDIHKAN, 80 persen penumpang kapal pesiar tidak turun, hanya lewat buang sampah. Tidak ada value ekonominya, untuk Bali.Sementara,realita di pelabuhan Benoa, tata ruangnya tidak diproritaskan pada wisatawan. Pelabuhan ini didominasi fasilitas angkutan barang, peti kemas dan perikanan. Secara lingkungan sangat tidak sehat, demikian dipaparkan Menteri BUMN Erik Tohir dalam FGD Rencana Pengembangan Benoa Maritime Tourism Hub Kamis malam di Kuta.

FGD menghadirkan Gubernur Bali Wayan Koster, Menteri BUMN Erik Thohir, Ketua komisi VI  Faisol Riza, dan Doso Agung, Direktur Utama Pelindo III.

Lebih lanjut Erik Tohir mengingatkan semua pihak menata dan membangun Benoa seperti yang dicita- citakan pemerintah dan masyarakat Bali serta pemerintah pusat, tidak hanya menjadi tanggungjawab BUMN. Kementerian memastikan proyek strategis (pelabuhan Benoa) didasari strategi bisnis jelas dan feasibility jelas.

“ Kita tdak ingin proyek pengembangan kita jadi proyek mangkrak. Nilai proyek ini hamper 5 triliun rupiah”, tegasnya.

Pengembangan pelabuhan Benoa menjadi layak pelabuhan interchange cruise, dan memenuhi standar eco tourism di target selesai tahun 2023. Benoa, tidak hanya dilengkapi fasilitas UKM, juga dilengkapi areal tambat kapal pesiar ukuran besar dan yacht yang terpisah dengan kawasan angkutan barang dan penumpang umum.

“Kapal pesiar yang disasar berpenumpang 4000 s.d 6000 penumpang”, ungkap Doso Agung, Direktur Utama Pelindo III dalam FGD tersebut.   

Pada kesempatan tersebut Gubernur Bali W Koster kembali mengingatkan semua pihak bahwa Bali telah menyumbangkan devisa untuk Indonesia dari sisi pariwisata, 39 persen total wisman indonesia masuk melalui Bali. Namun timbal baliknya untuk Bali, belum sepadan. Titik lokasi wisata di Bali sudah dipetakan pemerintah pusat sejak dulu, tanpa kejelasan tindak lanjut

 “Jika dibiarkan akan menimbulkan masalah besar ke depan. Beban pariwisata tak diimbangi perbaikan infrastruktur hingga pelestarian lingkungannya” tegas Koster.

Lebih lanjut ditegaskan bahwa pembangunan Bali berdasarkan kepada visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, didalamnya ada prioritas perbaikan lingkungan.  Bali sedang membangun infrastruktur, yang sangat tertinggal, tidak sebanding dengan nama besar Bali sebagai destinasi wisata dunia.

Infrastruktur darat, laut, udara sedang “dikebut” untuk menipiskan ketimpangan utara-selatan. Koneksi akan dibangun lewat jalan lingkar Bali, shortcut, kereta api, LRT.  Pelabuhan Benoa, dirancang untuk menjadi pelabuhan terindah di dunia namun tetap ramah lingkungan dan menjaga ekosistem sekitarnya. Menghilangkan kesan kumuh dan ramah untuk ditambati kapal pesiar. Pengembangan terintegrasi dan konstektual pelabuhan Benoa tidak lepas dari kearifan lokal.

Bali yang diposisikan sebagai Jantung pariwisata Indonesia, juga akan mengalami  titik jenuh. Diperlukan upaya serius untuk tetap menjaga “jantung” tersebut tetap berdetak. Dan perihal pelabuhan Benoa sejak masa pemerintahan Presiden Gus Dur (alm) telah diwacanakan menjadi pelabuhan turn around wisman, mensinergikannya dengan eksitensi bandara Ngurah Rai. Hal maritim, Bali juga memiliki titik singgah kapal pesiar lain yaitu Celukan Bawang, Buleleng, selain Labuhan Amuk. Bali, termasuk 6 besar tujuan kapal pesiar di Asia. Diharapkan dengan Kabinet Indonesia Maju, Presiden Jokowi mampu mewujudkan mimpi tersebut.  Menurut Menteri BUMN, Bali dirancang jadi gerbang wisata maritim Indonesia. Pemerintah berkomitmen penuh untuk meningkatkan kunjungan wisata sebagai bagian Nawacita.