JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio tengah menyusun dan menyiapkan tata cara atau prosedur khusus untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan wisatawan yang datang ke tanah air.
“Kita harus menjaga keselamatan dan kenyamanan kepada siapapun yang berkunjung ke Indonesia. Untuk itu kami sedang menyusun prosedur khusus keamanan dan keselamatan di mana salah satu tujuannya selain meningkatkan rasa aman dan nyaman juga bisa meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan sebanyak 20-30 persen,” kata Wishnutama.
Berbicara saat menghadiri Forum Group Discussion dengan tema Sistem Keselamatan dan Keamanan Terpadu, Wishnutama menjelaskan saat ini status Indonesia dalam _travel advisory_ negara-negara tetangga yang lebih sering digambarkan dalam kondisi kuning (hati-hati untuk dikunjungi) dan bukan hijau (aman untuk dikunjungi).
“Prosedur keamanan dan keselamatan ini salah satu upaya untuk mengubah dan memberi perhatian lebih kepada wisatawan yang akan berkunjung ke Indonesia,” katanya.
Presiden Joko Widodo, kata Menparekraf Wishnutama, beberapa waktu lalu secara khusus datang ke Labuan Bajo yang menjadi salah satu destinasi super prioritas untuk melihat langsung dan mengintruksikan kepada TNI, POLRI, BNPB, BASARNAS, dan kementerian lain untuk membentuk organisasi terpadu di destinasi wisata.
“Hal itu untuk menunjukkan kehadiran kita secara fisik di destinasi wisata. Bila di destinasi wisata itu terlihat tim patroli hadir secara wujud, tentu membuat perasaan wisatawan itu semakin aman dan nyaman,” katanya.
Staf Ahli Bidang Keamanan Kemenparekraf Adi Deriyan pada kesempatan yang sama berharap prosedur khusus keamanan dan keselamatan ini merupakan rintisan awal bagi Indonesia untuk memiliki tata cara atau prosedur keamanan dan kenyamanan. Dengan begitu maka wisatawan tidak ragu untuk merencanakan kunjungannya ke Indonesia.
“Pada 24 April 2020 kita akan melakukan skenario _planing_. Sebuah kegiatan dari apa yang sudah kita buat dan kerjakan, akan diwujudkan dan diimplementasikan dalam skenario _planing_ yang akan dilakukan dalam tiga tahap di Labuan Bajo,” katanya.
Ketiga tahap itu mengatur bagaimana mengatasi wisatawan yang mengalamai kecelakaan individu seperti sakit jantung dan lainnya saat berada di destinasi wisata. Lalu menangai kasus kapal terbalik hingga bencana alam termasuk misalnya gempa bumi.
“Semoga ini bisa dikembangkan terus-menerus, sehingga bisa menjadi prosedur khusus keamanan dan keselamatan versi Indonesia. Yang nanti akan kita sebarkan dan informasikan ke masyarakat agar semuanya mengetahui hal tersebut termasuk informasi pengaduannya,” katanya.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: DIAKUI
atau tidak berwisata menurut Menteri Pariwisata dan Kebudayaan era Presiden
GusDur (alm) dan Presiden Megawati I Gede Ardika, adalah kebutuhan hidup
manusia. Melalui kegiatan berwisata, setiap insan memperkaya, menyegarkan
jasmani, rohaninya.
Dan kehandalan industri “plesiran” ini dalam menghadapi krisis ekonomi telah teruji, pasalnya kepariwisataan dapat dijadikan alat pemantik perekonomian dunia. Pihak UNWTO (badan kepariwisataan dunia) dalam release terbaru yang diterima bisniswisata.co.id menegaskan
COVID-19: UNWTO Calls on Tourism to be Part of Recovery Plans
Tourism faces up to the COVID-19 challenge
and public health is paramount due to the fundamental people-to-people nature
of the sector.
A cross-cutting economic activity unlike
any other, and an integral part of the Sustainable Development agenda, tourism
will play a key role in future recovery efforts.
UNWTO calls on governments, international
organizations and donor agencies to include tourism as a priority in recovery
plans and actions.
The World Health Organization continues to advise against the application of travel or trade restrictions to countries experiencing COVID-19 outbreaks. (selengkapnya)
Dalam memanfaatkan kepariwisataan sebagai alat pemantik kebangkitan ekonomi, pemerintah Indonesia pun memandang perlu meninjau kembali Surat Keputusan Bersama Tiga menteri — Menteri Agama (Menag), Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), dan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB)– tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2020. Sebagai upaya antisipasi melemahnya pertumbuhan ekonomi.
“Berdasarkan
arahan Presiden, disampaikan bahwa Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
telah melakukan kajian yang menyatakan libur panjang dapat berpengaruh terhadap
peningkatan PDB (Produk Domestik Bruto),” jelas Menko PMK Muhadjir Effendy
dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) Tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama
di Kantor Kemenko PMK, Senin, (9/3).
“Untuk
itu perlu upaya memaksimalkan wisatawan dalam negeri, mengingat jumlah
wisatawan mancanegara menurun drastis. Kondisi serupa juga pernah terjadi
ketika peristiwa bom Bali. Kita perlu antisipasi dan upayakan yang
terbaik,” jelas Menko PMK.
Penetapan
hari libur dan cuti yang tepat akan memberikan dampak positif terhadap
peningkatan perekonomian nasional di aspek pariwisata, juga dalam rangka
silaturahmi, saling mengenal antar masyarakat Indonesia. Pasalnya aksi- aksi
intoleransi yang terjadi disejumlah wilayah sangat menganggu citra kenyamanan
Indonesia di pasar wisata dunia.
Menurut Menko PMK, penambahan cuti bersama setelah hari raya juga dimaksudkan agar memudahkan dalam pengaturan arus balik mudik hari raya.Semula, hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2020 yaitu sebanyak 20 hari, dengan rincian Hari Libur Nasional sebanyak 16 hari dan cuti bersama sebanyak 4 hari.
Penambahan
4 hari tersebut adalah 28 dan 29 Mei sebagai cuti bersama Hari Raya Idul Fitri,
21 Agustus sebagai cuti bersama dalam Tahun Baru Islam, dan 30 Oktober sebagai
cuti bersama peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Atas
kondisi di atas, pemerintah juga akan menciptakan demand agar stimulan dapat dimanfaatkan secara optimal. Penambahan
cuti bersama merupakan upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan
pertumbuhan ekonomi, Pemerintah telah memberikan stimulan hingga Rp.10 Triliun
untuk mengantisipasi lesunya perekonomian.
Pemerintah
memberikan insentif penerbangan untuk 10 destinasi wisata yang diberlakukan
pada bulan Maret sampai bulan Mei 2020 sebagai pendongkrak minat wisata
masyarakat. Sepuluh (10) titik tersebut yaitu Batam, Denpasar, Yogyakarta,
Labuhan Bajo, Lombok, Malang, Manado, Silangit, Tanjung Pinang dan Tanjung
Pandan. Yuk, silaturahmi ke kampung wisata!
KUTA, Bali, bisniswisata.co.id; PERMINTAAN pasar local Bali mau pun wisatawan meningkat signifikan, mendorong manajemen Dermaster Indonesia membuka cabang di kawasan wisata Kuta. Klinik memberikan layanan estetika bagi wanita mau pun pria yang ingin tampil lebih menarik dan percaya diri. Tidak menutup kemungkinan kita akan buka cabang lagi di kota-kota besar lainnya. Demikian disampaikan Herry Setiawan selaku Direktor of Brand Marketing Communication Dermaster Indonesia, menjawab bisniswisata.co.id pada pembukaan cabang Dermaster Indonesia ke- 13 di Kuta.
Lebih jauh dijelaskan, Dermaster Indonesia hadir sebagai contouring beauty clinic di Indonesia. Memasuki tahun ke-7 ini telah memiliki 12 klinik yang tersebar di Indonesia antara lain; Jakarta (7 lokasi), Manado, Makasar, Jayapura, Surabaya dan Banjarmasin.
Klinik menyediakan perawatan dari mulai skin care treatment dan countouring
(pembentukan bagian tubuh) termasuk wajah seperti aptos thread lift, algeness filler, picoderma laser, hydra facial, attiva
lift, dermaline mesotherapy , PRP, derma
GF, infusion whitening, hollywood peel dan masih banyak treatment lainnya,”
dijelaskan dr. Andy Wijaya selaku head
doctor Cabang Bali.
Untuk meningkatkan bisnis perawatan diri ini, Dermaster
berinovasi dan berkembang dengan menambah jangkauan layanannya. Diimbangi peningkatkan mutu dan
kualitas pelayanan, melakukan pengembangan atau inovasi perawatan (treatment) dengan teknologi terbaru dan
menghadirkan produk-produk kecantikan yang bervariatif dan berkualitas yang
didukung oleh teknologi terkini yang sudah terbukti aman.
“Produk
dengan standar internasional, dan telah mendapatkan penghargaan sebagai “Best Tightening
Tread Award 2016 – 2019” (APTOS), “Anti Aging Trophy 2018” (ALGENESS), papar
Andy lebih jauh.
Di tahun
2019 Dermaster Klinik Indonesia telah meraih 6 penghargaan, hasil survei Asosiasi Badan
Riset terpercaya seperti SurveiOne, SuccessResearch, dan Tran n Co, antara lain
Editor’s Choice Award 2019
OMNI Marketing Communication of the years dari Marketeers, Perawatan Filler
Berbahan Agar- Agar Pertama di Indonesia 2019
dari Info Brand, Top
Woman Business Award 2019-2020 for Dermaster Chairwoman dari Award Center, Highly Recommended Skincare Product
2019-2020 dari Award Center, Rising
Star Aesthentic and Anti Aging Doctor 2019 dari Cosmobeauty 2019, Highest Contribution to the Medical
Aesthetic field in Indonesia for APTOS Thead Lifting 2019 dari PT. Lautan Luas
Abadi, kemudian awal tahun 2020 Dermaster mendapatkan awarding Top Digital PR dari
Info Brand.
“Harapan
Dermaster Bali dapat menjadi one stop
solution yang tepat untuk masyakarat lokal mau pun turis di Bali dalam
memenuhi kebutuhan perawatan kulit dan dapat bertumbuh mengikuti perkembangan teknologi di
bidang kesehatan kulit maupun estetik, “ ungkap dr. Andy Wijaya
menutup pembicaraan.
BALI, bisniswisata.co.id: MEREKA berwisata di Bali selama 3 hari, sandar dipelabuhan Benoa, Jumat 6 Maret dengan total penumpang 344 pax. Perusahaan mengerahkan 20 guide dan puluhan kendaraan, papar Manajer Pacto Bali, Freddy Rompas yang mengaku sempat khawatir, ijin sandar kapal pesiar Albatros dari Australia, dibatalkan.
Pasalnya dalam waktu bersamaan kapal pesiar Viking Sun ditolak bersandar di pelabuhan Semarang dan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan alasan pengendalian penyebaran COVID-19. Bahkan tanggal 6 Maret Pemkot Denpasar dan Gubernur Bali mengeluarkan kesepakatan menolak kapal berpenumpang 1300 orang tersebut sandar di Benoa.
Akhirnya Sabtu petang kapal
pesiar yang di tolak di Semarang dan Surabaya, buang jangkar di pelabuhan
Benoa. “Land tour nya kami yang handel, “ jawab Ketut Sediya Yasa dari Destination Asia singkat ditengah
kesibukannya.
Sumber bisniswisata.co.id dari GIPI Bali dan Asita Bali menjelaskan, SOP
WHO diterapkan dalam menerima kunjungan kapal pesiar Viking Sun. Selain petugas
dari karantina pelabuhan juga melibatkan team kesehatan dari RS Bali Mandara.
Tergantung Kemauan Otoritas
Hal kunjungan
kapal pesiar, juga menjadi perhatian Ketua Asosiasi Travel Agent In- Bound
Indonesia yang juga Ketua DPD Asita DKI Jakarta, Hasyana.
“Ini
sangat tergantung kemauan otoritas berwenang untuk memeriksa semua turis yang datang,
mengingat rasio kecilnya risiko penularan
Covid-19. Kalau nggak mau repot ya tolak,” ujarnya dengan nada gemas.
Pasalnya, penolakan kunjungan kapal pesiar yang sudah menjadikan satu destinasi sebagai bagian rangkaian perjalanan mereka, bukan tanpa sanksi. Menolak sandar tanpa alasan jelas, Indonesia dapat dikenakan sanksi oleh Cruise Lines International Association (CLIA).
“Di ban CLIA, susah untuk masuk kembali ke
peta perjalanan kapal pesiar dunia,” tegas salah seorang operator kapal pesiar
Indonesia, anggota DPD Asita Bali.
Dalam
pertemuan Walikota Denpasar Rai Mantra
dan Gubernur Bali, Wayan Koster di rumah jabatan Gubernur Bali, Jaya Sabha
Denpasar disepakati untuk menunda kedatangan kapal pesiar Viking Sun dan
kesepakatan untuk tidak memberikan ijin sandar di pelabuhan Benoa juga diberlakukan
bagi kapal pesiar lainnya yang pernah singgah di negara terjangkit COVID-19.
Meski pun langkah antisipasi di Pelabuhan Benoa juga telah dilakukan sesuai SOP
serta pemeriksaan oleh petugas KKP (kantor Kesehatan Pelabuhan) sesuai dengan
prosedur dan kesiapan sarana serta alat yang ada kepada seluruh awak kapal dan
penumpang.
“Untuk antisipasi selanjutnya kita sepakat
melakukan penundaan sementara kunjungan wisatawan melalui jalur laut ,” ujar
Gubernur Bali.
Gubernur
Wayan Koster mengharapkan OPD terkait provinsi Bali melakukan pengawasan dan
pengamanan di tempat- tempat yang menjadi kunjungan wisatawan serta SOP yang
ada di pelabuhan Benoa harus dijalankan dengan baik.
Task
Force Cruise
Dalam Rakor Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, khusus Satuan Tugas Penanganan Kunjungan Kapal Pesiar (Task Force Cruise) diselenggarakan dalam rangka membahas dampak wabah virus COVID-19 terhadap kunjungan cruise. Menetapkan beberapa hal penting antara lain:
Terkait kunjungan cruise dan antisipasi wabah Virus Corona (COVID-19), setiap daerah dianjurkan untuk mengikuti prosedur sesuai anjuran World Health Organization (WHO). Untuk kapal yang akan berlabuh yaitu kapal pesiar dari dan yang pernah singgah di pelabuhan Cina, mainland Cina tidak diperbolehkan masuk ke pelabuhan di Indonesia. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah Indonesia melarang masuk ke Indonesia pelaku perjalanan yang dalam 14 hari pernah ke Cina dan mainland Cina.
Kapal yang berlayar dari negara terjangkit COVID-19 dilakukan pemeriksaan kapal di zona karantina(2 mil dari pelabuhan) dengan melampirkan voyage memori 10 pelabuhan terakhir dan wajib menaikkan isyarat karantina. Petugas Karantina Kesehatan memeriksa apakah ada penumpang yang pernah singgah di Cina dalam 14 hari sebelum masuk ke Indonesia melalui pemeriksaan paspor.
Sesuai arahan dalam rapat terbatas
tingkat Menteri bahwa tidak ada pembatasan/ larangan terhadap kapal yang akan
masuk ke Indonesia namun harus dilakukan pemeriksaan kesehatan sesuai SOP yang
telah ditentukan berdasarkan edaran dari WHO dan International Maritime
Organization (IMO). Perlu adanya advokasi kepada Pimpinan Daerah melalui Kantor
Kesehatan Pelabuhan (KKP) di daerah, terkait prosedur penanganan kunjungan
kapal pesiar ke Indonesia. Perlu adanya kejelasan mengenai pembiayaan masa
inkubasi selama 14 hari.
Ditjen Bea dan Cukai sejak
akhir Januari 2020 sudah menyebarkan edaran ke kantor-kantor BC untuk mengikuti
kebijakandan arahan dari KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) setempat terkait
perijinan kedatangan kapal ke Indonesia.
Penumpang Viking Sun sedang tur ke salah satu pura
Tercatat cruise
call tahun 2019 mencapai ±900 calls dengan 1,5 juta penumpang,
diprediksi akan terjadi penurunan penumpang sekitar 7,4% sampai bulan Maret
2020. Sejauh ini sudah ada 5 kapal pesiar (atau lebih dari 5000 penumpang) yang
membatalkan kunjungan ke Indonesia. Hal ini akan sangat berdampak terhadap
perekonomian daerah mau pun Nasional, maka diperlukan ketegasan dan upaya dari pemerintah.
Cruise yang berasal dari pelabuhan-pelabuhan
dunia selain Cina diharapkan tetap dapat masuk ke Indonesia, namun dengan
melalui pemeriksaan kesehatan yang ditingkatkan.
Bis Transjakarta, transportasi publik yang digemari pula untuk berwisata. ( foto: Wikipedia)
JAKARTA. bisniswisita.co.id: Pengguna transportasi publik di Jakarta sambut baik kebijakan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) yang meningkatkan kebersihan bus dan halte demi pencegahan penyebaran infeksi virus corona (Covid-19).
” Sehari-hari saya pengguna Transjakarta juga jurusan Blok M -Cileduk jadi tindakan preventif hingga penanganan pencucian dan pembersihan interior bus menggunakan disinfektan memberikan rasa aman dan nyaman, kata Dewi Stalini Kusharyadi.
Eksekutif yang bekerja di perusahaan industri kimia berlokasi di Cikarang, Jabar ini kerap harus mondar-mandir ke pabrik di Cikarang atau menghadiri meeting-meeting di Ciputra World Centre, Jakarta.
Transportasi publik seperti busway yang dikelola Tranjakarta dan MRT yang memiliki jalur khusus menjadi pilihannya untuk mengatasi kemacetan di ibukota ketimbang memakai mobil pribadi yang bisa memakan waktu berjam-jam untuk bisa tiba ditujuan.
Nenek dari tiga cucu ini mengaku kerap membawa cucu untuk menggunakan busway ke tempat wisata seperti Kota Tua, Jakarta, Museum Nasional, Perpustakaan Nasional atau sekedar naik bis wisata bertingkat dari seputaran HI, Jln H. Juanda, Gambir dan lainnya.
Dewi Stalini Kusharyadi ( kiri) saat memanfaatkan transportasi publik di Paris, Perancis untuk berwisata bersama cucu. ( foto: dok. pribadi)
Oleh karena itu ketika awal pekan lalu Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas Transjakarta, Nadia Diposanjoyo menjelaskan ke publik upaya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) terkait penanganan virus Corona, Dewi Stalini mengaku sangat gembira.
Transjakarta telah melakukan sosialisasi pencegahan dan penanganan covid-19 ini kepada mitra operator bus, petugas lapangan, dan seluruh karyawan kantor pusat dan depo sejak awal Februari 2020.
Pada saat pencucian bus di depo, pihak Transjakarta mencuci bus dengan disinfektan khusus pada saat sebelum dan sesudah bus beroperasi, sedangkan di Halte alat tap on date juga akan selalu dibersihkan dengan disinfektan secara berkala.
Selain itu, manajemen juga memastikan para petugas khusus Transjakarta untuk selalu membersihkan handgrip atau pegangan bus sebelum berangkat dari depo. Pegangan dibersihkan pada saat penurunan pelanggan di halte-halte akhir Transjakarta. Selain juga menyiagakan petugas dan berkordinasi dengan tim penanganan Covid 19 Dinas Kesehatan Pemprov DKI.
Transjakarta juga memperluas penyediaan handsanitizer untuk pelanggan di 80 halte Transjakarta. Petugas halte yang dibekali sarung tangan dan masker serta lebih mengaktifkan edukasi dan sosialisasi pencegahan virus kepada pelanggan melalui sosial media dan passenger informationsystem yang ada pada seluruh halte.
Nadia Diposanjoyo mengatakan pihaknya juga menyiapkan alat deteksi suhu tubuh untuk memastikan pelaksanaan tindakan yang diperlukan apabila ada yang terdeteksi, tambahnya.
Di luar dari pada itu, dia menghimbau pelanggan mulai memperkuat ketahanan tubuh masing-masing bisa dimulai dengan asupan bergizi dan vitamin, membasuh tangan dengan alat pembersih steril dan menjaga agar tangan tidak serta merta berinteraksi dengan mulut, hidung dan mata tanpa dibersihkan terlebih dahulu.
“Perseroan juga sudah berkordinasi dengan instansi terkait seperti dinas kesehatan dan rumah sakit rujukan untuk melakukan kordinasi tindakan-tindakan yang dilakukan. Dengan ini, manajemen Transjakarta berharap masyarakat bisa tetap menikmati layanan Transjakarta dengan nyaman. Selanjutnya, kami mengimbau kepada pelanggan untuk tetap menjaga ketahanan tubuh agar tidak mudah terpapar,” tutup Nadia.
Dewi Stalini mengatakan berkat kepedulian banyak pihak termasuk pengelola transportasi publik maka rasa nyaman bepergian juga makin terasa. Apalagi di kantor, ujarnya, terutama para ibu juga sudah membuat minuman kesehatan dari mpon-mpon ( rempah) Indonesia untuk ketahanan tubuh.
Beredar di WA Chat bahwa penangkal virus Corona justru dari bahan rempah Indonesia seperti kunyit, sereh, kayu manis, jahe merah dan lainnya sehingga banyak rumah tangga kini membuat minuman ini untuk semua anggota keluarganya,” ujar Dewi Stalini.
Sayangnya di pasar dan super market modern bahan rempah ini harganya tiba-tiba melonjak tinggi karena dibutuhkan orang banyak sejak RI resmi berdampak virus Corona dan aksi penimbunan oleh oknum pedagang.
” Ditambah lagi belum terdengar operasi pasar untuk stabilkan harga maka ibu rumah tangga harus mengeluarkan biaya ekstra tinggi,” kata Dewi Stalini.
Pihaknya berharap pemerintah terutama Kementrian Perdagangan, para wakil rakyat segera turun lapangan agar tercipta iklim usaha yang kondusif dan semua pihak tidak memanfaatkan wabah birus Corona COVID-19 untuk kepentingan pribadi.
Erita Lubeek tetap berwisata ke New Zealand bersama suaminya, Marco Lubeek. ( foto: dok. pribadi)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Diaspora Indonesia asal Swedia, Nina Mussolini-Hansson mengatakan edukasi tentang wabah virus Corona Covid-19 dan pencegahannya secara regular melalui media massa harus terus digencarkan agar masyarakat tenang dan menjaga kesehatan dirinya dengan baik.
” Saya baru saja pulang ke Jakarta dari Malmo Swedia 3 Maret 2020 lalu untuk menjenguk ibu. Selama perjalanan saya lihat sih secara umum para traveler biasa saja sikapnya dalam perjalanan entah untuk perjalanan bisnis atau wisata,” kata Nina yang langsung makan sate kaki lima setelah mendarat di bandara Soetta yang sepi.
Di bandara internasional di Eropa tidak banyak yang pakai masker. Kalaupun ada kebanyakan yang pakai masker justru penumpang berwajah Asia terutama negara asal virus Corona yaitu dari Cina. Para penumpang bule biasa-biasa saja. tambah Nina.
Dia mengingatkan saat ini di dunia Barat menghargai keterbukaan dalam hal wabah global ini. Oleh karena itu pemerintah memastikan edukasi virus Corona ini juga dilakukan di seluruh instansi pemerintah pusat, provinsi, kota/kabupaten, kecamatan, sekolah, dan universitas di seluruh Indonesia baik negeri maupun swasta.
” Dalam penerbangan kami juga ada orang Indonesia duduk di sebelah persis dan terlihat jelas kekhawatirannya. Sejak masuk ke dalam pesawat sibuk sendiri bahkan enggan menyapa. Begitu masuk,TV di pesawat, earphone, meja di kursi buru-buru dia bersihkan dengan tissue basah,” kata Nina Mussolini.
Oleh karena itu pemerintah harus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai virus Corona Covid-19, penularannya sebenarnya bagaimana. Jelaskan pula dari mulai definisi, gejala, dan pemeriksaan yang dapat dilakukan sehingga masyarakat secara sukarela memeriksakan diri.
“Pemerintah Indonesia harus memberikan informasi terkini kepada masyarakat tentang situasi Covid-19 secara regular dengan lebih transparan serta memberikan klarifikasi terhadap hoax yang tersebar untuk meredam keresahan masyarakat,” tambah Nina.
Menurut dia, Pemerintah juga harus memberikan penjelasan yang jujur ke dunia luar & ke masyarakat di dalam negri tentang perkembangan dua pasien yang diduga terkena virus Corona dan informasi cara penanganannya sehingga kembali mendapat kepercayaan dari dunia luar.
“Lebih baik masyarakat maupun wisatawan dalam dan luar negri mendapatkan info yang sebenar-benarnya dan sejelas-jelasnya. Wisatawan jaman sekarang sudah melek informasi jadi percuma menutupi. Jika ternyata Pemerintah RI tidak jujur, justru akan menggerogoti integritas Pemerintah itu sendiri di mata dunia ” ungkapnya.
Nina Mussolini bersama suami, Hanssons menyantap sate kaki lima begitu tiba di Jakarta. ( foto: dok. Pribadi)
Nina yang juga PR & Circle Leader Swedish-Indonesia Bagus Organization/ Svensk-Indonesiska Bagusföreningen di Malmö, Swedia yang kerap mempromosikan seni dan budaya Indonesia berharap pariwisata Indonesia terus tumbuh dengan kekuatan di dalam negri.
Hal ini menyangkut melemahnya kunjungan wisman ke Indonesia saat ini dimana orang enggan berwisata, maka baik pemerintah maupun swasta saatnya fokus pada pergerakan wisatawan nusantara dengan kegiatan MICE ke berbagai daerah
” Kondisi saat ini juga kesempatan bagi pemerintah maupun industri pariwisata untuk membenahi infrastruktur & fasilitas wisata kita dimana-mana sehingga kita lebih siap menerima wisatawan dengan fasilitas dan suasana yang lebih fresh ketika badai Corona mereda “kata Nina Mussolini.
Banyak belajar
Menjadi wisatawan di saat wabah virus Corona muncul tidak menyurutkan Erita dan Marko Lubeek yang berangkat ke Selandia baru dari Amsterdam tempat tinggal mereka saat ini. Banyak belajar dari ketakutan masyarakat global akan virus malah membuahkan bonus bagaimana memotivasi diri.
“Ada rasa cemas sih. Tapi perjalanan ini sudah di atur beberapa bulan sebelumnya. Jadi berusaha jaga stamina, dalam keadaan hygienis dengan sering cuci tangan atau pakai cairan anti bacteria serta tidak lepas wudhu saja. Trip kami berdua kali ini malah menjadi perjalanan motivasi yang tinggi” ungkap Erita, pemilik Restoran Salero Minang di Denhaaq.
Bersama suaminya, selama seminggu berwisata di Selandia Baru atau New Zealand ( NZ) menginap di rumah keluarga DR Reza Abdul Jabbar dan Silvia Pamudji. Menyaksikan dari dekat peternakan sapi mereka di lahan 900 ha di Mokutua, New Zealand.
Sosok kedua orang yang dijumpai di NZ ini telah memberikan motivasi tinggi bagi Erita yang sama-sama menjadi diaspora Indonesia untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan dan selalu berprestasi dimanapun kita berada.
Dalam perjalanan dari Belanda ke New Zealand transit dua kali di bandara Soetta, Jakarta dan di Sydney. ” Selama transit dalam penerbangan internasional terlihat sikap waspada para traveler, saling melihat orang di dekatnya dan tidak saling bermomunikasi,” ungkap Erita.
Agak memprihatinkan juga berwisata dengan kondisi waspada dan orang enggan berinteraksi. Namun sebagai Muslimah yang yakin bahwa kematian sudah ditentukan Allah SWT, Erita tenang saja berwisata di NZ serta mengunjungi obyek-obyek wisata yang ada bahkan melanjutkan perjalanannya ke Sumatra.
Saat kembali ke Jakarta dia juga tetap mengunjungi pasar-pasar tradisional seperti Pasar Mayestik, Kebayoran Baru maupun Pasar Tanah Abang. Suaminya Marco Lubeek juga dengan senang hati melanjutkan perjalanan ke Jambi, dimana ayahanda Erita yang asal Sumatra Barat kini menetap.
Kalau hubungannya orang enggan berwisata karena takut virus Corona, maka pemerintah indonesia harus lebih terbuka memberikan informasi ke mancanegara. Kita harus ada bukti bahwa masalah ini benar-benar telah ditangani dengan serius dan cepat, usulnya.
Wisatawan Belanda suka ke Spanyol, karena ada hubungan historis dengan Indonesia dan kita punya kecantikan alam pemerintah tetap perlu mempromosikan pariwisata Indonesia dan lebih giat jaring wisatawan Belanda ke Indonesia , kata Erita.
“Kita harus tetap semangat bekerja dengan jujur, menjaga aset pariwisata kita dengan baik terutama kecantikan alam untuk anak cucu masa akan datang. Jangan hanya memperelok untuk sesaat saja,” pesan Erita Lubeek.
Keindahan Pink Beach, di kawassn eisata Komodo ( foto: Komodo dragon/Google)
BANJARMASIN, bisniswisata.co.id: Kalangan milenial bisa menjadi pejuang, menyelamatkan pariwisata Indonesia dari mewabahnya virus Corona yang mengglobal dengan menggalakkan kunjungan wisata ke berbagai daerah, kata Mohammad Bezqoni, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia ( HPI) Kota Banjarmasin, hari ini.
“Kalangan milenial kan punya lifestyle berwisata dan membagi foto-foto berwisata ke media sosial sehingga netizen di seluruh dunia bisa melihat foto-foto unggahannya yang berwisata di Indonesia,” katanya.
Berinisiatif untuk menggerakkan wisatawan nusantara ke berbagai daerah pihaknya menawarkan paket-paket wisata petualangan ke Pulau Komodo dan Nusa Penida selama 5 hari 4 malam berangkat dari Banjarmasin.
” Menggandeng Ikuttour .com, kami mengajak warga Banjarmasin terutama kalangan milenial untuk berwisata mengunjungi Pulau Padar, Pulau Kelor, Pink Beach, Pulau Rinca dan Pulau Kalong, di Komodo” jelasnya.
Salah satu tujuan wisata yang bisa kita pilih di kawasan Wisata Komodo adalah Pink Beach. Sesuai namanya, pantai disini memiliki warna merah muda. Pink Beach Komodo Island masuk kawasan Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur. Selain itu, pantai ini juga termasuk salah satu dari 7 pantai di dunia yang memiliki pasir berwarna merah muda.
Pantai-pantai lainnya adalah di Bahama, Bermuda, Filipina, Italia, Kepulauan Karibia dan Yunani. ” Pink Beach jadi unggulan dan tentunya kita tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk menyaksikan keindahan pantai berpasir merah muda karena ada Pink Beach Komodo Island di Indonesia.
Tampilannya persis sama seperti pantai-pantai merah muda di negara-negara lain tersebut. Taman Nasional Komodo yang menjadi lokasi Pink Beach Komodo Island sekaligus digunakan sebagai tempat perlindungan hewan melata terbesar di dunia tersebut yang ada di Indonesia saja.
” Jadi kita bisa lihat binatang langka, Komodo dan belajar mengapa Taman Nasional Komodo telah dinobatkan sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia yang baru,”
Sementara untuk kunjungan ke Nusa Penida, Bali peserta dapat menikmati Kelingking Beach, Angel Billabong dan Broken Beach. Untuk Angel Billabong Nusa Penida adalah muara akhir dari sebuah sungai sebelum air sungai tersebut sampai ke lautan lepas.
Fenomena alam yang mempesona di Angel Billabong yang membuat wisatawan mancanegara srlalu darang kembali ke tempat ini setiap kali ke Bali karena menampilkan cerukan-cerukan kolam alami yang sangat indah dan memukau.
Bahkan keindahan dan kecantikan Angel Billabong Nusa Penida tidak akanjumpai di tempat manapun karena berciri khas sangat artistik dengan batuan karang berwarna hijau kekuningan. Kian nampak indah dengan kejernihan air yang mengalir di sini.
Kapal untuk menjelajah Pink Beach, Labuan Bajo dan obyek wisata lainnya di Nusa Penida
“Jadi dalam satu trip kunjungannya kedua tujuan wisata termashur itu, Pink Beach dan Angel Billabong, tambahnya.
Flight dari Banjarmasin, termasuk bagasi 15 kg, hotel bintang 4 twin share untuk keberangkatan 18 April 2020 seharga Rp 12.200.000/ orang sebelum Ramadhan dan keberangkatan 11Juni 2020 seharga Rp 13.800.000/ orang, ujar pria yang akrab disapa Bebez ini.
Untuk tiap keberangkatan maksimal 15 orang saja supaya dalam perjalanan peserta bisa saling mengenal peserta lainnya dengan baik dan menikmati perjalanan dengan menyewa kapal.
” Saatnya kita kembali menggalakkan kunjungan ke obyek-obyek wisata di dalam negri dengan Jelajahi Negrimu, Cintai Negrimu karena dijaman digital ini kalangan mileniallah yang bisa menjadi pejuang, menyelamatkan pariwisata Indonesia dari mewabahnya virus Corona yang mengglobal,” kata Bebez.
JEDDAH, bisniswisata.co.id: “Ketika Cinta Bertasbih” atau KCB menutup rangkaian Festival Film Asia ke-13 (the 13th Asian Film Festival/AFF-13) yang digelar Asosiasi Konsul Jenderal Asia (Asian Consuls General Club/ACGC) di Jeddah. Penutupan AFF-13 dihadiri para Kepala Perwakilan ACGC, perwakilan negara sahabat, mitra KJRI Jeddah dari kalangan pengusaha dan instansi pemerintah setempat, warga Saudi dan asing yang tergabung dalam peserta Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), serta awak media.
Sebanyak enam film dari negara anggota telah diseleksi oleh ACGC untuk ditayangkan dalam gelaran AFF-13 yang berlangsung selama sebulan, yaitu film India, Filipina, Indonesia, Korea, Malaysia, dan Pakistan.
Ditonton sekitar tiga ratus tamu undangan, film yang diangkat dari salah satu novel terlaris karya Habiburrahman El-Shirazy dan mengambil setting di Cairo Mesir dan Indonesia ini, berhasil menyihir tamu yang memadati Balai Nusantara (Balnus) Kompleks Wisma Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah.
Mengawali rangkaian acara, malam penutupan AFF-13 menyuguhkan Tari Gamyong, tarian klasik yang berasal dari Jawa Tengah, dan Tari Merak yang dibawakan kelompok tari dari Sekolah Indonesia Jeddah.
Menurut
Konjen RI Jeddah, Eko Hartono, festival ini merupakan media untuk mengenalkan
kekayaan budaya dari Negara-negara Asia yang beraneka ragam.
“Banyak
cara untuk mengenalkan keanekaragaman kita, salah satunya adalah film yang
berbicara bahasa universal. Yang lebih penting, film membuat kehidupan di
sekitar kita relevan dengan masa lampau, kini dan masa depan,” ucap Konjen
Eko.
Dalam
kesempatan tersebut, Konjen mengapresiasi Kerajaan Arab Saudi yang telah
membuka gerbang untuk mengekplorasi kekayaan budaya Asia dan memberikan ruang
bagi warganya dan warga asing yang tinggal di negaranya untuk mengenal
nilai-nilai budaya Asia.
Senada
dengan Konjen Eko, Konjen Filipina yang sekaligus Koordinator AFF-13, Ed
Badajos, menegaskan bahwah film merupakan sarana untuk memahami budaya-budaya
bangsa lain.
“Melalui
film yang telah saya tonton beberapa hari terakhir, terus terang saya merasa
senang karena saya berkesempatan banyak mengenal budaya dari bangsa-bangsa
Asia,” ucapnya saat menyampaikan sambutan penutupan AFF-13.
Oleh
sebab itu, Konjen Ed Badajos mengapresiasi KJRI Jeddah yang bersedia menjadi
tuan rumah penutupan AFF-13.
Asian Film Festival merupakan salah satu program tahunan yang diselenggarakan oleh ACGC yang beranggotakan 13 negara. Tujuannya adalah untuk mempromosikan pemahaman Warga Saudi dan asing yang menetap di Arab Saudi terhadap budaya Bangsa-bangsa Asia yang beraneka ragam.
Anggota
ACGC terdiri dari Bangladesh, Brunei, Cina, India, Indonesia, Jepang, Malaysia,
Pakistan, Filipina, Korea Selatan, Singapura, Sri Lanka, and Thailand. *
BALI, bisniswisata.co.id: SUDAH lebih dari satu dekade saya mengenal Nicolaus F Kuswanto. Pada sekitar tahun 2008, pria yang akrab dipanggil Nico ini meminta saya untuk menjadi kurator dalam pameran seni rupa yang dipersiapkannya. Sejak itu hubungan baik kami berlanjut. Saya hampir selalu terlibat, sebagai kurator atau penulis, dalam puluhan pameran seni rupa yang terlahir dari tangan dingin Nico, di Bali mau pun Jakarta.
Dunia seni rupa di Bali tentu tidak asing lagi dengan sosok Nico. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ia mengawali kiprahnya di medan seni rupa dengan menjadi pengelola galeri. Sekurang-kurangnya ada dua galeri yang saya ingat pernah mempekerjakan Nico pada dasawarsa pertama abad ke-21: Hanna Art Space dan Tangkas Gallery. Keduanya di Ubud, Bali.
Nico aktif membikin
program pameran, menjalin kemitraan dengan seniman hingga memasarkan karya di
galeri yang dikelolanya. Galeri yang pernah dipegang Nico tergolong kecil, tapi
mampu mencuri perhatian masyarakat seni rupa di Bali berkat tawaran aktivitasnya
yang bermutu dan berkesinambungan.
Sewaktu bekerja di
Hanna Art Space Ubud, contohnya, Nico hampir setiap bulan mengadakan pameran
seni rupa. Yang ditampilkan tidak saja karya perupa muda, tetapi juga perupa senior
ternama. Tidak saja perupa dari Bali, tetapi juga perupa dari luar pulau. Tidak
saja perupa Indonesia, tetapi juga perupa mancanegara. Lokasi galeri yang
kurang strategis, berada di kompleks pom bensin, tidak menyurutkan semangat
Nico untuk sering-sering mengundang seniman berpameran dan menjamu pecinta seni.
Nico juga berusaha
meluaskan jangkauan galeri. Beberapa pameran tidak diselenggarakannya di
galeri, melainkan di tempat lain. Misalnya, di hotel atau pusat kesenian. Tidak
hanya di Bali, tetapi juga di Jakarta.
Sejak masih menjadi
manajer galeri milik orang lain — bertahun-tahun silam, Nico telah
menunjukkan passion yang kuat terhadap seni rupa. Ia menjalankan galeri,
tapi yang dilakukannya sebenarnya lebih dari itu. Ia juga berperan menjadi partner,
kadang-kadang bahkan patron atau manajer, bagi perupa. Ia pun tak segan menjadi
agen atau konsultan bagi kolektor.
Ditenagai oleh api
kecintaan terhadap seni rupa dan kecakapan membangun relasi dengan perupa dan
kolektor, Nico terus berkontribusi di dunia seni rupa, bahkan setelah tidak
lagi bekerja sebagai manajer galeri. Beberapa tahun yang lalu, ia mendirikan
Zen Nagrisco Utama, perusahaan yang bergerak di bidang pengiriman barang (Zen
Express) dan pembingkaian lukisan (Zen Agung Frame). Melalui dua divisi bisnis
Zen ini, Nico melanjutkan kiprahnya di dunia seni rupa.
Jembatan Karya dan Kolektor
Zen Nagrisco Utama ternyata tidak menyokong seni rupa dengan jasa pengiriman karya seni dan penyediaan bingkai lukisan saja. Di bawah bendera Zen, Nico aktif mengorganisasi pameran di berbagai tempat di Bali dan Jakarta. Ia bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menyelenggarakan pameran seni rupa di galeri, hotel, sekolah dan ruang-ruang lain.
Seraya memfasilitasi
hubungan antara berbagai pihak dan kepentingan di medan sosial seni rupa, Nico
berusaha membuka ruang kemungkinan baru untuk mempromosikan karya seni rupa.
Inilah yang dilakukannya sejak dulu. Ia senantiasa mencari jalan untuk lebih
mendekatkan karya seni ke pecinta seni. Disadari atau tidak, Nico selalu
membikin jembatan yang menghubungkan karya dengan kolektor, kolektor dengan
seniman, seniman dengan masyarakat. Sebuah jembatan yang memungkinkan roda
kreatif terus berputar di dunia seni rupa.
Setelah lebih dari
satu dasawarsa bergerak di dunia seni rupa, Nico mempersembahkan ruangnya
sendiri untuk seni rupa: Galeri Zen1. Kita tentu bisa menduga kenapa dinamakan
Zen1.
Kata “Zen1”
bisa dibaca “Seni”. Unsur “Zen” tentu mengacu pada payung
bisnis Zen Nagrisco Utama. Angka 1 melambangkan cita-cita untuk menjadi galeri
nomor 1. “Menjadi yang terbaik, luhur, dengan
harapan kami tampil dengan kemaksimalan. To be best of the best,”
kata Nico.
Saya ingin menambahkan
tafsir lain pada nama Zen1. Kata “Zen1” juga bisa dibaca
“Zeni”. Dalam ketentaraan, pasukan zeni adalah kesatuan pendukung yang
menyelenggarakan rekayasa taktis dan teknis di medan tempur. Kata
“zeni” berasal dari kata Belanda “genie” yang
artinya banyak akal. Salah satu tugas korps zeni adalah membangun jembatan.
Bagi saya, kata “Zen1” juga menunjuk ke Nico sebagai sang zeni yang
inovatif dan selalu membikin jembatan antara pencipta dan pecinta seni.
Terus terang, saya
salut kepada Nico. Butuh tekad, keberanian dan komitmen besar untuk mendirikan
galeri seni rupa pada hari-hari ini. Kenapa?
Bukan rahasia lagi, iklim
pasar seni rupa di Indonesia beberapa tahun belakangan ini dilanda kemarau
berkepanjangan. Sering terdengar keluhan tentang sulitnya menjual karya seni
rupa. Kelesuan pasar seni rupa di Indonesia jelas akan menjadi tantangan yang
tidak ringan bagi galeri baru. Eksistensi sebuah galeri seni rupa tentu tidak
bisa bertumpu pada idealisme semata. Galeri harus memiliki fungsi komersial,
selain mengemban fungsi kultural.
Seretnya perputaran
roda bisnis seni rupa di Indonesia tentu menyulitkan galeri untuk menjalankan
fungsi komersialnya. Itulah sebabnya, saya kira, banyak galeri memilih gulung
tikar, atau setidaknya sangat mengurangi kegiatannya. Di Bali, misalnya, galeri
yang rajin menggelar pameran terkurasi saat ini dapat dihitung dengan jari. Galeri-galeri
itu pun umumnya berada di hotel berbintang, dengan target pasar utama turis
asing yang menginap di hotel tersebut.
Berkurangnya fungsi
komersial galeri saat ini tidak saja disebabkan oleh situasi pasar seni rupa
yang sedang paceklik. Ada faktor lain yang tidak kalah besar pengaruhnya: media
sosial.
Dulu, galeri sangat
diuntungkan secara komersial oleh perannya sebagai hampir satu-satunya
perantara antara produsen dan konsumen benda seni. Bahkan ada anekdot, galeri
zaman dahulu sampai merahasiakan kliennya agar tidak diketahui oleh seniman.
Tujuannya tentu supaya seniman tetap bergantung pada galeri dalam urusan
jual-beli karya.
Kini situasi sudah
jauh berubah. Media sosial memampukan seniman untuk menjangkau calon pembeli secara
langsung, tanpa perantaraan galeri. Seniman bisa “memasarkan” karya
dengan mengunggahnya di facebook atau
instagram, misalnya. Kolektor yang
ingin membeli karya seniman tertentu juga bisa dengan mudah mencari kontak si
seniman di media sosial, menghubunginya, lalu datang ke studionya.
Mudahnya akses antara
seniman dan pembutuh benda seni pada era medsos ini sering dikeluhkan pemilik
galeri. Ada galeri yang merasa percuma saja membikin program pameran. Galeri
sudah repot-repot dan mahal-mahal menyelenggarakan pameran seni rupa, tapi
begitu tiba di urusan jual-beli karya, kolektor mencari si seniman dan
bertransaksi dengannya secara personal (umumnya sesudah pameran berakhir).
Bagaimana dengan peran
galeri di luar sisi komersial? Saat ini fungsi kultural galeri sebagai lembaga
yang berkontribusi memajukan perkembangan seni rupa juga telah diadopsi oleh
banyak lembaga lain. Belakangan, semakin tampak kecenderungan seniman untuk
berpameran di ruang-ruang yang bukan galeri konvensional.
Untuk sekadar
ilustrasi, data unggahan di akun Instagram senidibali menunjukkan, dari
puluhan pameran seni rupa di Bali pada Januari-Februari tahun ini, hanya dua
atau tiga pameran yang diselenggarakan di galeri biasa. Selebihnya berlangsung
di restoran, hotel, art shop, museum, pusat kebudayaan, kantor, sekolah,
markas komunitas, creative hub, co-working space atau ruang
alternatif lain yang tidak atau kurang memperhatikan aspek komersial seni rupa.
Mungkin perkembangan ini dipicu oleh semakin sedikitnya galeri seni rupa yang bersedia
menggelar pameran di Bali.
Saya yakin Nico
menyadari semua tantangan itu. Ia pasti punya strategi untuk menghadapinya.
Atau mungkin ia malah melihat peluang. Semakin sedikit galeri, berarti semakin
sedikit pesaing. Mungkin kelesuan pasar seni rupa hanya berlaku di lapisan tertentu.
Mungkin ada celah pasar atau lapisan kolektor baru yang menunggu digarap.
Yang jelas, perupa
profesional harus menjual karya. Dan mereka pasti butuh sosok pebisnis dan
komunikator ulung seperti Nico.
Lihat
nyala api, Dan kepulan asap, Pejamkan mata, Hentakkan kaki, Taab, taab, tab, Jadilah
rumah !, Yang kecil di bumi, Dibesarkan di langit, Harum dupa dan lingkaran
arak, Biarkan Tu Ti Kong mabuk, Soja Kui, Soja Kui, soja Kui, Salam takzim
anak-cucu, Tangan kasih menembus, langit
dan waktu, Yang dulu tangis kini tawa, Fajar menyingsing, Jilatan api dan ombak,
Di kaki-kaki karang, Bila usai, Bukalah mata, Takjub akan kasih hormat, tetesan
darah, Soja Kui, Soja Kui, Soja Kui, Yang kecil di bumi, Dibesarkan di langit. * Cu Kong Tik
DENPASAR,
bisniswisata.co.id:
LIRIK puisi Cu Kong Tik yang ditembangkan Tan Lioe Ie, mengundang penikmat music
dan sastra makin mendekat memenuhi halaman rumah musik Antida Sound Garden
petang itu. Menggelar perpaduan musik dan puisi ditengah kepanikan masyarakat
hal virus Corona COVID-19 dan virus babi, bukan tanpa makna.
Sinergi yang mendukung
kesepahaman, kesetaraan, kebersamaan, saling menghargai posisi masing- masing
yang hanya bisa tumbuh dalam kesadaran mengendalikan egoisme.
“Sinergi mengandaikan “persenyawaan”
antara kedua genre seni untuk lebih berdaya “gedor” untuk mencapai
tujuan di atas. Dalam sinergi puisi maupun musik bukan sub-ordinat satu atas
yang lain. Tapi ibarat proses kimia menjadi satu kesatuan yang utuh dan saling
menguatkan,” ungkap Tan Lioe Ie, pentolan Bali Puisi Musik.
Group band yang menamakan diri Bali Puisi Musik ini memang piawai melakukan sinergi puisi dengan musik. Berharap puisi yang hanya dinikmati kalangan terbatas dan tertentu (sastrawan, pecinta sastra, pengamat sastra) dapat menjangkau segmen masyarakat yang lebih luas. Lebih merakyat dan kekinian dan mampu mengasah “kepekaan” batin semua kalangan.
Dari segi tema puisi yang dibawakan Bali Puisi Musik, beragam : Ada renungan tentang perjalanan hidup manusia, ada tentang “kerinduan” pada “kekasih” yang dapat ditafsirkan bersifat horisontal dan vertical. Sebagaimana sifat puisi yang ambigu, ada kritik sosial, ada kepedulian terhadap lingkungan, ada persaudaraan dalam perbedaan dalam satu kemanusiaan, ada tentang pentingnya kasih sayang. Hal ini bisa disimak pada puisi Malam di Pantai Candidasa, Siapakah Kau, Exorcism, Malam Cahaya Lampion, Alam Kanak-Kanak, Co Kong Tik. Semua puisi yang disebutkan ini adalah karya Tan Lioe Ie, penyair yang sekaligus vokalis Bali Puisi Musik. Aaransemen musiknya karya Yande Subawa (giataris) dan dibawakan bersama Made “Dek Ong” Swandayana (keyboardist), Putu Indrawan (Bassist) Nyoman “Kabe” Gariyasa (drummer).
Tampil memukau di halaman
Antida Sound Garden dengan membawakan lima buah lagu — sebelumnya diisi enam
lagu oleh Tan Lioe Ie dan beberapa puisi dengan menggunakan teknik akustik.
“Bali Puisi Musik
membawakan dua komposisi baru yaitu ‘Blues Untuk Boni’ karya WS. Rendra, dan
juga ‘Tuhan Butuh Malaikat Baru’ Karya saya sendiri. Puisi ini saya tuliskan
mengingat manusia di bumi ini mulai kehilangan ruh kebajikannya. Ego
berdasarkan premodialisme semakin mencuat, potensi konflik meninggi. Dan itu
tidak elok, sehingga dibutuhkan lebih banyak lagi manusia yang lebih berhati
malaikat,” papar Tan Lioe Ie.
Tampilan Bali Puisi Musik di
panggung Antida Sound Garden, juga menghadirkan Ayu Winastri — seorang
penulis cerpen dan Mira MM. Astra, seorang penyair yang telah merilis sebuah
buku antologi puisi tunggalnya, berjudul Pinara Pitu.
Gelar musik puisi ini
memang tak seriuh gelar music yang biasa mengisi panggung Antida Sound Garden.
Senyap yang khusyuk penikmat musik menata
hati yang panik berhadapan dengan situasi negeri dibalut apik MC pecinta sastra
Moch Satrio Welang. MC yang sempat
menggagas buku Antologi Puisi bersama yang berjudul “Keranda Emas”.