ZEN1: GALERI SENI DARI SANG ZENI

0
18
Arif Bagus Prasetyo

BALI, bisniswisata.co.id: SUDAH lebih dari satu dekade saya mengenal Nicolaus F Kuswanto. Pada sekitar tahun 2008, pria yang akrab dipanggil Nico ini meminta saya untuk menjadi kurator dalam pameran seni rupa yang dipersiapkannya. Sejak itu hubungan baik kami berlanjut. Saya hampir selalu terlibat, sebagai kurator atau penulis, dalam puluhan pameran seni rupa yang terlahir dari tangan dingin Nico, di Bali mau pun Jakarta.

Dunia seni rupa di Bali tentu tidak asing lagi dengan sosok Nico. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ia mengawali kiprahnya di medan seni rupa dengan menjadi pengelola galeri. Sekurang-kurangnya ada dua galeri yang saya ingat pernah mempekerjakan Nico pada dasawarsa pertama abad ke-21: Hanna Art Space dan Tangkas Gallery. Keduanya di Ubud, Bali.

Nico aktif membikin program pameran, menjalin kemitraan dengan seniman hingga memasarkan karya di galeri yang dikelolanya. Galeri yang pernah dipegang Nico tergolong kecil, tapi mampu mencuri perhatian masyarakat seni rupa di Bali berkat tawaran aktivitasnya yang bermutu dan berkesinambungan.

Sewaktu bekerja di Hanna Art Space Ubud, contohnya, Nico hampir setiap bulan mengadakan pameran seni rupa. Yang ditampilkan tidak saja karya perupa muda, tetapi juga perupa senior ternama. Tidak saja perupa dari Bali, tetapi juga perupa dari luar pulau. Tidak saja perupa Indonesia, tetapi juga perupa mancanegara. Lokasi galeri yang kurang strategis, berada di kompleks pom bensin, tidak menyurutkan semangat Nico untuk sering-sering mengundang seniman berpameran dan menjamu pecinta seni.

Nico juga berusaha meluaskan jangkauan galeri. Beberapa pameran tidak diselenggarakannya di galeri, melainkan di tempat lain. Misalnya, di hotel atau pusat kesenian. Tidak hanya di Bali, tetapi juga di Jakarta.

Sejak masih menjadi manajer galeri milik orang lain — bertahun-tahun silam, Nico telah menunjukkan passion yang kuat terhadap seni rupa. Ia menjalankan galeri, tapi yang dilakukannya sebenarnya lebih dari itu. Ia juga berperan menjadi partner, kadang-kadang bahkan patron atau manajer, bagi perupa. Ia pun tak segan menjadi agen atau konsultan bagi kolektor.

Ditenagai oleh api kecintaan terhadap seni rupa dan kecakapan membangun relasi dengan perupa dan kolektor, Nico terus berkontribusi di dunia seni rupa, bahkan setelah tidak lagi bekerja sebagai manajer galeri. Beberapa tahun yang lalu, ia mendirikan Zen Nagrisco Utama, perusahaan yang bergerak di bidang pengiriman barang (Zen Express) dan pembingkaian lukisan (Zen Agung Frame). Melalui dua divisi bisnis Zen ini, Nico melanjutkan kiprahnya di dunia seni rupa.

Jembatan Karya dan Kolektor

Zen Nagrisco Utama ternyata tidak menyokong seni rupa dengan jasa pengiriman karya seni dan penyediaan bingkai lukisan saja. Di bawah bendera Zen, Nico aktif mengorganisasi pameran di berbagai tempat di Bali dan Jakarta. Ia bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menyelenggarakan pameran seni rupa di galeri, hotel, sekolah dan ruang-ruang lain.     

Seraya memfasilitasi hubungan antara berbagai pihak dan kepentingan di medan sosial seni rupa, Nico berusaha membuka ruang kemungkinan baru untuk mempromosikan karya seni rupa. Inilah yang dilakukannya sejak dulu. Ia senantiasa mencari jalan untuk lebih mendekatkan karya seni ke pecinta seni. Disadari atau tidak, Nico selalu membikin jembatan yang menghubungkan karya dengan kolektor, kolektor dengan seniman, seniman dengan masyarakat. Sebuah jembatan yang memungkinkan roda kreatif terus berputar di dunia seni rupa.

Setelah lebih dari satu dasawarsa bergerak di dunia seni rupa, Nico mempersembahkan ruangnya sendiri untuk seni rupa: Galeri Zen1. Kita tentu bisa menduga kenapa dinamakan Zen1.

Kata “Zen1” bisa dibaca “Seni”. Unsur “Zen” tentu mengacu pada payung bisnis Zen Nagrisco Utama. Angka 1 melambangkan cita-cita untuk menjadi galeri nomor 1. “Menjadi yang terbaik, luhur, dengan harapan kami tampil dengan kemaksimalan. To be best of the best,” kata Nico.

Saya ingin menambahkan tafsir lain pada nama Zen1. Kata “Zen1” juga bisa dibaca “Zeni”. Dalam ketentaraan, pasukan zeni adalah kesatuan pendukung yang menyelenggarakan rekayasa taktis dan teknis di medan tempur. Kata “zeni” berasal dari kata Belanda “genie” yang artinya banyak akal. Salah satu tugas korps zeni adalah membangun jembatan. Bagi saya, kata “Zen1” juga menunjuk ke Nico sebagai sang zeni yang inovatif dan selalu membikin jembatan antara pencipta dan pecinta seni.           

Terus terang, saya salut kepada Nico. Butuh tekad, keberanian dan komitmen besar untuk mendirikan galeri seni rupa pada hari-hari ini. Kenapa?

Bukan rahasia lagi, iklim pasar seni rupa di Indonesia beberapa tahun belakangan ini dilanda kemarau berkepanjangan. Sering terdengar keluhan tentang sulitnya menjual karya seni rupa. Kelesuan pasar seni rupa di Indonesia jelas akan menjadi tantangan yang tidak ringan bagi galeri baru. Eksistensi sebuah galeri seni rupa tentu tidak bisa bertumpu pada idealisme semata. Galeri harus memiliki fungsi komersial, selain mengemban fungsi kultural.

Seretnya perputaran roda bisnis seni rupa di Indonesia tentu menyulitkan galeri untuk menjalankan fungsi komersialnya. Itulah sebabnya, saya kira, banyak galeri memilih gulung tikar, atau setidaknya sangat mengurangi kegiatannya. Di Bali, misalnya, galeri yang rajin menggelar pameran terkurasi saat ini dapat dihitung dengan jari. Galeri-galeri itu pun umumnya berada di hotel berbintang, dengan target pasar utama turis asing yang menginap di hotel tersebut.

Berkurangnya fungsi komersial galeri saat ini tidak saja disebabkan oleh situasi pasar seni rupa yang sedang paceklik. Ada faktor lain yang tidak kalah besar pengaruhnya: media sosial.

Dulu, galeri sangat diuntungkan secara komersial oleh perannya sebagai hampir satu-satunya perantara antara produsen dan konsumen benda seni. Bahkan ada anekdot, galeri zaman dahulu sampai merahasiakan kliennya agar tidak diketahui oleh seniman. Tujuannya tentu supaya seniman tetap bergantung pada galeri dalam urusan jual-beli karya.

Kini situasi sudah jauh berubah. Media sosial memampukan seniman untuk menjangkau calon pembeli secara langsung, tanpa perantaraan galeri. Seniman bisa “memasarkan” karya dengan mengunggahnya di facebook atau instagram, misalnya. Kolektor yang ingin membeli karya seniman tertentu juga bisa dengan mudah mencari kontak si seniman di media sosial, menghubunginya, lalu datang ke studionya.

Mudahnya akses antara seniman dan pembutuh benda seni pada era medsos ini sering dikeluhkan pemilik galeri. Ada galeri yang merasa percuma saja membikin program pameran. Galeri sudah repot-repot dan mahal-mahal menyelenggarakan pameran seni rupa, tapi begitu tiba di urusan jual-beli karya, kolektor mencari si seniman dan bertransaksi dengannya secara personal (umumnya sesudah pameran berakhir).    

Bagaimana dengan peran galeri di luar sisi komersial? Saat ini fungsi kultural galeri sebagai lembaga yang berkontribusi memajukan perkembangan seni rupa juga telah diadopsi oleh banyak lembaga lain. Belakangan, semakin tampak kecenderungan seniman untuk berpameran di ruang-ruang yang bukan galeri konvensional.

Untuk sekadar ilustrasi, data unggahan di akun Instagram senidibali menunjukkan, dari puluhan pameran seni rupa di Bali pada Januari-Februari tahun ini, hanya dua atau tiga pameran yang diselenggarakan di galeri biasa. Selebihnya berlangsung di restoran, hotel, art shop, museum, pusat kebudayaan, kantor, sekolah, markas komunitas, creative hub, co-working space atau ruang alternatif lain yang tidak atau kurang memperhatikan aspek komersial seni rupa. Mungkin perkembangan ini dipicu oleh semakin sedikitnya galeri seni rupa yang bersedia menggelar pameran di Bali.

Saya yakin Nico menyadari semua tantangan itu. Ia pasti punya strategi untuk menghadapinya. Atau mungkin ia malah melihat peluang. Semakin sedikit galeri, berarti semakin sedikit pesaing. Mungkin kelesuan pasar seni rupa hanya berlaku di lapisan tertentu. Mungkin ada celah pasar atau lapisan kolektor baru yang menunggu digarap.

Yang jelas, perupa profesional harus menjual karya. Dan mereka pasti butuh sosok pebisnis dan komunikator ulung seperti Nico.

Selamat datang, Zen1. Cheers!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.