Jawab Permintaan Pasar, Buka Cabang ke- 13 di Bali

this formate

KUTA, Bali, bisniswisata.co.id; PERMINTAAN pasar local Bali mau pun wisatawan meningkat signifikan, mendorong manajemen Dermaster Indonesia membuka cabang di kawasan wisata Kuta. Klinik memberikan layanan estetika bagi wanita mau pun pria yang ingin tampil lebih menarik dan percaya diri. Tidak menutup kemungkinan kita akan buka cabang lagi di kota-kota besar lainnya. Demikian disampaikan Herry Setiawan selaku Direktor of Brand Marketing Communication Dermaster Indonesia, menjawab bisniswisata.co.id pada pembukaan cabang Dermaster Indonesia ke- 13 di Kuta.

Lebih jauh dijelaskan, Dermaster Indonesia hadir sebagai contouring beauty clinic di Indonesia. Memasuki tahun ke-7 ini telah memiliki 12 klinik yang tersebar di Indonesia antara lain; Jakarta (7 lokasi), Manado, Makasar, Jayapura, Surabaya dan Banjarmasin.

Klinik  menyediakan perawatan dari mulai skin care treatment  dan countouring (pembentukan bagian tubuh) termasuk wajah seperti aptos thread lift, algeness filler, picoderma laser, hydra facial, attiva lift, dermaline mesotherapy , PRP,  derma GF, infusion whitening, hollywood peel dan masih banyak treatment lainnya,” dijelaskan dr. Andy Wijaya selaku head doctor Cabang Bali.

Untuk meningkatkan bisnis perawatan diri ini, Dermaster berinovasi dan berkembang dengan menambah jangkauan layanannya. Diimbangi peningkatkan mutu dan kualitas pelayanan, melakukan pengembangan atau inovasi perawatan (treatment) dengan teknologi terbaru dan menghadirkan produk-produk kecantikan yang bervariatif dan berkualitas yang didukung oleh teknologi terkini yang sudah terbukti aman.

“Produk dengan standar internasional, dan telah mendapatkan penghargaan sebagai “Best Tightening Tread Award 2016 – 2019” (APTOS), “Anti Aging Trophy 2018” (ALGENESS), papar Andy lebih jauh.

Di tahun 2019 Dermaster Klinik Indonesia telah meraih 6 penghargaan,  hasil survei Asosiasi Badan Riset terpercaya seperti SurveiOne, SuccessResearch, dan Tran n Co, antara lain Editor’s Choice Award 2019 OMNI Marketing Communication of the years dari Marketeers, Perawatan Filler Berbahan Agar- Agar Pertama di Indonesia 2019  dari Info Brand, Top Woman Business Award 2019-2020 for Dermaster Chairwoman dari Award Center, Highly Recommended Skincare Product 2019-2020 dari Award Center, Rising Star Aesthentic and Anti Aging Doctor 2019 dari Cosmobeauty 2019, Highest Contribution to the Medical Aesthetic field in Indonesia for APTOS Thead Lifting 2019 dari PT. Lautan Luas Abadi, kemudian awal tahun 2020 Dermaster mendapatkan awarding  Top Digital PR dari Info Brand.

 “Harapan Dermaster Bali dapat menjadi one stop solution yang tepat untuk masyakarat lokal mau pun turis di Bali dalam memenuhi kebutuhan perawatan kulit dan dapat bertumbuh mengikuti perkembangan teknologi di bidang kesehatan kulit maupun estetik, “ ungkap dr. Andy Wijaya menutup pembicaraan.

Albatros Sandar, Viking Sun pun Labuh Jangkar di Benoa

this formate

BALI, bisniswisata.co.id: MEREKA berwisata di Bali selama 3 hari, sandar dipelabuhan Benoa, Jumat 6 Maret dengan  total penumpang 344 pax. Perusahaan mengerahkan 20 guide dan puluhan kendaraan, papar Manajer Pacto Bali, Freddy Rompas yang mengaku sempat khawatir, ijin sandar kapal pesiar Albatros dari Australia, dibatalkan.

Pasalnya dalam waktu bersamaan kapal pesiar Viking Sun ditolak bersandar di pelabuhan Semarang dan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan alasan pengendalian penyebaran COVID-19. Bahkan tanggal 6 Maret Pemkot Denpasar dan Gubernur Bali mengeluarkan kesepakatan menolak kapal berpenumpang 1300 orang tersebut sandar di Benoa.

Akhirnya Sabtu petang kapal pesiar yang di tolak di Semarang dan Surabaya, buang jangkar di pelabuhan Benoa. “Land tour nya kami yang handel, “ jawab Ketut Sediya Yasa  dari Destination Asia singkat ditengah kesibukannya.

Mendengarkan penjelasan guide menjelaskan objek kunjungan

Sumber bisniswisata.co.id dari GIPI Bali dan Asita Bali menjelaskan, SOP WHO diterapkan dalam menerima kunjungan kapal pesiar Viking Sun. Selain petugas dari karantina pelabuhan juga melibatkan team kesehatan dari RS Bali Mandara.

Tergantung Kemauan Otoritas

Hal kunjungan kapal pesiar, juga menjadi perhatian Ketua Asosiasi Travel Agent In- Bound Indonesia yang juga Ketua DPD Asita DKI Jakarta, Hasyana.

“Ini sangat tergantung kemauan otoritas berwenang untuk memeriksa semua turis yang datang, mengingat rasio kecilnya risiko penularan  Covid-19. Kalau nggak mau repot ya tolak,” ujarnya dengan nada gemas.

Pasalnya, penolakan kunjungan kapal pesiar yang sudah menjadikan satu destinasi sebagai bagian rangkaian perjalanan mereka, bukan tanpa sanksi. Menolak sandar tanpa alasan jelas, Indonesia dapat dikenakan sanksi oleh Cruise Lines International Association (CLIA).

“Di ban CLIA, susah untuk masuk kembali ke peta perjalanan kapal pesiar dunia,” tegas salah seorang operator kapal pesiar Indonesia, anggota DPD Asita Bali.

Dalam pertemuan  Walikota Denpasar Rai Mantra dan Gubernur Bali, Wayan Koster di rumah jabatan Gubernur Bali, Jaya Sabha Denpasar disepakati untuk menunda kedatangan kapal pesiar Viking Sun dan kesepakatan untuk tidak memberikan ijin sandar di pelabuhan Benoa juga diberlakukan bagi kapal pesiar lainnya yang pernah singgah di negara terjangkit COVID-19. Meski pun langkah antisipasi di Pelabuhan Benoa juga telah dilakukan sesuai SOP serta pemeriksaan oleh petugas KKP (kantor Kesehatan Pelabuhan) sesuai dengan prosedur dan kesiapan sarana serta alat yang ada kepada seluruh awak kapal dan penumpang.

 “Untuk antisipasi selanjutnya kita sepakat melakukan penundaan sementara kunjungan wisatawan melalui jalur laut ,” ujar Gubernur Bali.

Gubernur Wayan Koster mengharapkan OPD terkait provinsi Bali melakukan pengawasan dan pengamanan di tempat- tempat yang menjadi kunjungan wisatawan serta SOP yang ada di pelabuhan Benoa harus dijalankan dengan baik.

Task Force Cruise

Dalam Rakor Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, khusus  Satuan Tugas Penanganan Kunjungan Kapal Pesiar (Task Force Cruise) diselenggarakan dalam rangka membahas dampak wabah virus COVID-19 terhadap kunjungan cruise. Menetapkan beberapa hal penting antara lain:

Terkait kunjungan cruise dan antisipasi  wabah Virus Corona (COVID-19), setiap daerah dianjurkan untuk mengikuti prosedur sesuai anjuran World Health Organization (WHO). Untuk kapal yang akan berlabuh yaitu kapal pesiar dari dan yang pernah singgah di pelabuhan Cina,  mainland Cina tidak diperbolehkan masuk ke pelabuhan di Indonesia. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah Indonesia melarang masuk ke Indonesia pelaku perjalanan yang dalam 14 hari pernah ke Cina dan mainland Cina.

Kapal yang berlayar dari negara terjangkit COVID-19 dilakukan pemeriksaan kapal di zona karantina(2 mil dari pelabuhan) dengan melampirkan voyage memori 10 pelabuhan terakhir dan wajib menaikkan isyarat karantina. Petugas Karantina Kesehatan memeriksa apakah ada penumpang yang pernah singgah di Cina dalam 14 hari sebelum masuk ke Indonesia melalui pemeriksaan paspor.

Sesuai arahan dalam rapat terbatas tingkat Menteri bahwa tidak ada pembatasan/ larangan terhadap kapal yang akan masuk ke Indonesia namun harus dilakukan pemeriksaan kesehatan sesuai SOP yang telah ditentukan berdasarkan edaran dari WHO dan International Maritime Organization (IMO). Perlu adanya advokasi kepada Pimpinan Daerah melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di daerah, terkait prosedur penanganan kunjungan kapal pesiar ke Indonesia. Perlu adanya kejelasan mengenai pembiayaan masa inkubasi selama 14 hari.

Ditjen Bea dan Cukai sejak akhir Januari 2020 sudah menyebarkan edaran ke kantor-kantor BC untuk mengikuti kebijakandan arahan dari KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) setempat terkait perijinan kedatangan kapal ke Indonesia.

Penumpang Viking Sun sedang tur ke salah satu pura

Tercatat  cruise call tahun 2019 mencapai  ±900 calls dengan 1,5 juta penumpang, diprediksi akan terjadi penurunan penumpang sekitar 7,4% sampai bulan Maret 2020. Sejauh ini sudah ada 5 kapal pesiar (atau lebih dari 5000 penumpang) yang membatalkan kunjungan ke Indonesia. Hal ini akan sangat berdampak terhadap perekonomian daerah mau pun Nasional, maka diperlukan ketegasan dan upaya dari pemerintah.  Cruise yang berasal dari pelabuhan-pelabuhan dunia selain Cina diharapkan tetap dapat masuk ke Indonesia, namun dengan melalui pemeriksaan kesehatan yang ditingkatkan.

Anggota Masyarakat Apresiasi Peningkatan Kebersihan Transportasi Publik

this formate

Bis Transjakarta, transportasi publik yang digemari pula untuk berwisata. ( foto: Wikipedia)

JAKARTA. bisniswisita.co.id: Pengguna transportasi publik di Jakarta sambut baik kebijakan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) yang meningkatkan  kebersihan bus dan halte demi pencegahan penyebaran infeksi virus corona (Covid-19).

” Sehari-hari saya pengguna Transjakarta juga jurusan Blok M -Cileduk jadi tindakan preventif hingga penanganan pencucian dan pembersihan interior bus menggunakan disinfektan memberikan rasa aman dan nyaman, kata Dewi Stalini Kusharyadi.

Eksekutif yang bekerja di perusahaan industri kimia berlokasi di Cikarang, Jabar ini kerap harus mondar-mandir ke pabrik di Cikarang atau menghadiri meeting-meeting di Ciputra World Centre, Jakarta.

Transportasi publik seperti busway  yang dikelola Tranjakarta dan MRT yang memiliki jalur khusus menjadi pilihannya untuk mengatasi kemacetan di ibukota ketimbang memakai mobil pribadi yang bisa memakan waktu berjam-jam untuk bisa tiba ditujuan.

Nenek dari tiga cucu ini mengaku kerap membawa cucu untuk menggunakan busway ke tempat wisata seperti Kota Tua, Jakarta, Museum Nasional, Perpustakaan Nasional atau sekedar naik bis wisata bertingkat dari seputaran HI, Jln H. Juanda, Gambir dan lainnya.

Dewi Stalini Kusharyadi ( kiri) saat memanfaatkan transportasi publik di Paris, Perancis untuk berwisata bersama cucu. ( foto: dok. pribadi)

Oleh karena itu ketika awal pekan lalu Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas Transjakarta, Nadia Diposanjoyo menjelaskan ke publik upaya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) terkait penanganan virus Corona, Dewi Stalini mengaku sangat gembira.

Transjakarta telah melakukan sosialisasi pencegahan dan penanganan covid-19 ini kepada mitra operator bus, petugas lapangan, dan seluruh karyawan kantor pusat dan depo sejak awal Februari 2020.

Pada saat pencucian bus di depo, pihak Transjakarta mencuci bus dengan disinfektan khusus pada saat sebelum dan sesudah bus beroperasi, sedangkan di Halte alat tap on date juga akan selalu dibersihkan dengan disinfektan secara berkala.

Selain itu, manajemen juga memastikan para petugas khusus Transjakarta untuk selalu membersihkan handgrip atau pegangan bus sebelum berangkat dari depo. Pegangan dibersihkan pada saat penurunan pelanggan di halte-halte akhir Transjakarta. Selain juga  menyiagakan petugas dan berkordinasi dengan tim penanganan Covid 19 Dinas Kesehatan Pemprov DKI. 

Transjakarta juga memperluas penyediaan hand sanitizer untuk pelanggan di 80 halte Transjakarta. Petugas halte yang dibekali sarung tangan dan masker serta lebih mengaktifkan edukasi dan sosialisasi pencegahan virus kepada pelanggan melalui sosial media dan passenger information system yang ada pada seluruh halte.

Nadia Diposanjoyo mengatakan pihaknya juga menyiapkan alat deteksi suhu tubuh untuk memastikan pelaksanaan tindakan yang diperlukan apabila ada yang terdeteksi, tambahnya.

Di luar dari pada itu, dia menghimbau pelanggan mulai memperkuat ketahanan tubuh masing-masing bisa dimulai dengan asupan bergizi dan vitamin, membasuh tangan dengan alat pembersih steril dan menjaga agar tangan tidak serta merta berinteraksi dengan mulut, hidung dan mata tanpa dibersihkan terlebih dahulu.

“Perseroan juga sudah berkordinasi dengan instansi terkait seperti dinas kesehatan dan rumah sakit rujukan untuk melakukan kordinasi tindakan-tindakan yang dilakukan. Dengan ini, manajemen Transjakarta berharap masyarakat bisa tetap menikmati layanan Transjakarta dengan nyaman. Selanjutnya, kami mengimbau kepada pelanggan untuk tetap menjaga ketahanan tubuh agar tidak mudah terpapar,” tutup Nadia.

Dewi Stalini mengatakan berkat kepedulian banyak pihak termasuk pengelola transportasi publik maka rasa nyaman bepergian juga makin terasa. Apalagi di kantor, ujarnya, terutama para ibu juga sudah membuat minuman kesehatan dari mpon-mpon ( rempah) Indonesia untuk ketahanan tubuh.

Beredar di WA Chat bahwa penangkal virus Corona justru dari bahan rempah Indonesia seperti kunyit, sereh, kayu manis, jahe merah dan lainnya sehingga banyak rumah tangga kini membuat minuman ini untuk semua anggota keluarganya,” ujar Dewi Stalini.

Sayangnya di pasar dan super market modern bahan rempah ini harganya tiba-tiba melonjak tinggi karena dibutuhkan orang banyak sejak RI resmi berdampak virus Corona dan aksi penimbunan oleh oknum pedagang.

” Ditambah lagi belum terdengar operasi pasar untuk stabilkan harga maka ibu rumah tangga harus mengeluarkan biaya ekstra tinggi,” kata Dewi Stalini.

Pihaknya berharap pemerintah terutama Kementrian Perdagangan, para wakil rakyat segera turun lapangan agar tercipta iklim usaha yang kondusif dan semua pihak tidak memanfaatkan wabah birus Corona COVID-19 untuk kepentingan pribadi.

 

Up date Informasi dan Tetap Berwisata Meski Ada Virus Corona

this formate

Erita Lubeek tetap berwisata ke New Zealand bersama suaminya, Marco Lubeek. ( foto: dok. pribadi) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Diaspora Indonesia asal Swedia, Nina Mussolini-Hansson mengatakan edukasi tentang wabah virus Corona Covid-19 dan pencegahannya secara regular melalui media massa harus terus digencarkan agar masyarakat tenang dan menjaga kesehatan dirinya dengan baik.

” Saya baru saja pulang ke Jakarta dari Malmo Swedia 3 Maret 2020 lalu untuk menjenguk ibu. Selama perjalanan saya lihat sih secara umum para traveler biasa saja sikapnya dalam perjalanan entah untuk perjalanan bisnis atau wisata,” kata Nina yang langsung makan sate kaki lima setelah mendarat di bandara Soetta yang sepi.

Di bandara internasional di Eropa tidak banyak yang pakai masker. Kalaupun ada kebanyakan yang pakai masker justru penumpang berwajah Asia terutama negara asal virus Corona yaitu dari Cina.  Para penumpang bule biasa-biasa saja. tambah Nina.

Dia mengingatkan saat ini di dunia Barat menghargai keterbukaan dalam hal wabah global ini. Oleh karena itu pemerintah memastikan edukasi virus Corona ini juga dilakukan di seluruh instansi pemerintah pusat, provinsi, kota/kabupaten, kecamatan, sekolah, dan universitas di seluruh Indonesia baik negeri maupun swasta.

” Dalam penerbangan kami  juga ada orang Indonesia duduk di sebelah persis dan terlihat jelas kekhawatirannya. Sejak masuk ke dalam pesawat sibuk sendiri bahkan enggan menyapa. Begitu masuk,TV di pesawat, earphone, meja di kursi buru-buru dia bersihkan dengan tissue basah,” kata Nina Mussolini.

Oleh karena itu pemerintah harus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai virus Corona Covid-19,  penularannya sebenarnya bagaimana. Jelaskan pula dari mulai definisi, gejala, dan pemeriksaan yang dapat dilakukan sehingga masyarakat secara sukarela memeriksakan diri.

“Pemerintah Indonesia harus memberikan informasi terkini kepada masyarakat tentang situasi Covid-19 secara regular dengan lebih transparan serta memberikan klarifikasi terhadap hoax yang tersebar untuk meredam keresahan masyarakat,” tambah Nina.

Menurut dia, Pemerintah juga harus memberikan  penjelasan yang jujur ke dunia luar & ke masyarakat di dalam negri tentang perkembangan dua pasien yang diduga terkena virus Corona dan informasi cara penanganannya sehingga kembali mendapat kepercayaan dari dunia luar.

“Lebih baik masyarakat maupun wisatawan dalam dan luar negri mendapatkan info yang sebenar-benarnya dan sejelas-jelasnya. Wisatawan jaman sekarang sudah melek informasi jadi percuma menutupi. Jika ternyata Pemerintah RI tidak jujur, justru akan menggerogoti integritas Pemerintah itu sendiri di mata dunia ” ungkapnya.

Nina Mussolini bersama suami, Hanssons menyantap sate kaki lima begitu tiba di Jakarta. ( foto: dok. Pribadi)

Nina yang juga PR & Circle Leader Swedish-Indonesia Bagus Organization/ Svensk-Indonesiska Bagusföreningen di Malmö, Swedia yang kerap mempromosikan seni dan budaya Indonesia berharap pariwisata Indonesia terus tumbuh dengan kekuatan di dalam negri.

Hal ini menyangkut melemahnya kunjungan wisman ke Indonesia saat ini dimana orang enggan berwisata, maka baik pemerintah maupun swasta saatnya fokus pada pergerakan wisatawan nusantara dengan kegiatan MICE ke berbagai daerah

” Kondisi saat ini juga kesempatan bagi pemerintah maupun industri pariwisata untuk  membenahi infrastruktur & fasilitas wisata kita dimana-mana sehingga kita lebih siap menerima wisatawan dengan fasilitas dan suasana yang lebih fresh  ketika badai Corona mereda “kata Nina Mussolini.

Banyak belajar

Menjadi wisatawan di saat wabah virus Corona muncul tidak menyurutkan Erita dan Marko Lubeek yang berangkat ke Selandia baru dari Amsterdam tempat tinggal mereka saat ini. Banyak belajar dari ketakutan masyarakat global akan virus malah membuahkan bonus  bagaimana memotivasi diri.

“Ada rasa cemas sih. Tapi perjalanan ini sudah di atur beberapa bulan sebelumnya. Jadi berusaha jaga stamina,  dalam keadaan hygienis dengan sering cuci tangan atau pakai cairan anti bacteria serta tidak lepas wudhu saja. Trip kami berdua kali ini malah  menjadi perjalanan motivasi yang tinggi” ungkap Erita, pemilik Restoran Salero Minang di Denhaaq.

Bersama suaminya, selama seminggu berwisata di Selandia Baru atau New Zealand ( NZ) menginap di rumah keluarga DR Reza Abdul Jabbar dan Silvia Pamudji. Menyaksikan dari dekat peternakan sapi mereka di lahan 900 ha di Mokutua, New Zealand.

Sosok kedua orang yang dijumpai di NZ ini telah memberikan motivasi tinggi bagi Erita yang sama-sama menjadi diaspora Indonesia untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan dan selalu berprestasi dimanapun kita berada.

Dalam perjalanan dari Belanda ke New Zealand  transit dua kali di bandara Soetta, Jakarta dan di Sydney. ” Selama transit dalam penerbangan internasional terlihat sikap waspada para traveler, saling melihat orang di dekatnya dan tidak saling bermomunikasi,” ungkap Erita.

Agak memprihatinkan juga berwisata dengan kondisi waspada dan orang enggan berinteraksi. Namun sebagai Muslimah yang yakin bahwa  kematian sudah ditentukan Allah SWT,  Erita tenang saja berwisata di NZ serta mengunjungi obyek-obyek wisata yang ada bahkan melanjutkan perjalanannya ke Sumatra.

Saat kembali ke Jakarta dia juga tetap mengunjungi pasar-pasar tradisional seperti Pasar Mayestik, Kebayoran Baru maupun Pasar Tanah Abang. Suaminya Marco Lubeek juga dengan senang hati melanjutkan perjalanan ke Jambi, dimana ayahanda Erita yang asal Sumatra Barat kini menetap.

Kalau hubungannya orang enggan berwisata karena takut virus Corona, maka pemerintah indonesia harus lebih terbuka memberikan informasi ke mancanegara. Kita harus ada bukti bahwa masalah ini benar-benar telah ditangani dengan serius dan cepat, usulnya.

Wisatawan Belanda suka ke Spanyol, karena ada hubungan historis dengan Indonesia dan kita punya kecantikan alam pemerintah tetap perlu mempromosikan pariwisata Indonesia dan lebih giat  jaring wisatawan Belanda ke Indonesia , kata Erita.

“Kita harus tetap semangat bekerja dengan jujur, menjaga aset pariwisata kita dengan baik terutama kecantikan alam untuk anak cucu masa akan datang. Jangan hanya memperelok untuk sesaat saja,” pesan Erita Lubeek.

 

Yuk Ajak Milenial ke Komodo dan Nusa Penida dengan Harga Terjangkau

this formate

Keindahan Pink Beach, di kawassn eisata Komodo ( foto: Komodo dragon/Google)

BANJARMASIN, bisniswisata.co.id: Kalangan milenial  bisa menjadi pejuang, menyelamatkan pariwisata Indonesia dari mewabahnya virus Corona yang mengglobal dengan menggalakkan kunjungan wisata ke berbagai daerah, kata Mohammad Bezqoni, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia ( HPI) Kota Banjarmasin, hari ini.

“Kalangan milenial kan punya lifestyle berwisata dan membagi foto-foto berwisata ke media sosial sehingga netizen di seluruh dunia bisa melihat foto-foto unggahannya yang berwisata di Indonesia,” katanya.

Berinisiatif untuk menggerakkan wisatawan nusantara ke berbagai daerah pihaknya menawarkan paket-paket wisata petualangan ke Pulau Komodo dan Nusa Penida selama 5 hari 4 malam berangkat dari Banjarmasin.

” Menggandeng Ikuttour .com, kami mengajak warga Banjarmasin terutama kalangan milenial untuk berwisata   mengunjungi Pulau Padar, Pulau Kelor, Pink Beach, Pulau Rinca dan Pulau Kalong, di Komodo” jelasnya.

Salah satu tujuan wisata yang bisa kita pilih di kawasan Wisata Komodo adalah Pink Beach. Sesuai namanya, pantai disini memiliki warna merah muda. Pink Beach Komodo Island masuk kawasan Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur. Selain itu, pantai ini juga termasuk salah satu dari 7 pantai di dunia yang memiliki pasir berwarna merah muda.

Pantai-pantai lainnya adalah di Bahama, Bermuda, Filipina, Italia, Kepulauan Karibia dan Yunani. ” Pink Beach jadi unggulan dan tentunya kita tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk menyaksikan keindahan pantai berpasir merah muda karena ada Pink Beach Komodo Island di Indonesia. 

Tampilannya persis sama seperti pantai-pantai merah muda di negara-negara lain tersebut. Taman Nasional Komodo yang menjadi lokasi Pink Beach Komodo Island sekaligus digunakan sebagai tempat perlindungan hewan melata terbesar di dunia tersebut yang ada di Indonesia saja. 

” Jadi kita bisa lihat binatang langka, Komodo dan belajar mengapa Taman Nasional Komodo telah dinobatkan sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia yang baru,”

Sementara untuk kunjungan ke Nusa Penida, Bali peserta dapat menikmati Kelingking Beach, Angel Billabong dan Broken Beach. Untuk Angel Billabong Nusa Penida adalah muara akhir dari sebuah sungai sebelum air sungai tersebut sampai ke lautan lepas. 

Fenomena alam yang mempesona di Angel Billabong yang  membuat wisatawan mancanegara srlalu darang kembali ke tempat ini setiap kali ke Bali karena menampilkan cerukan-cerukan kolam alami yang sangat indah dan memukau.

Bahkan keindahan dan kecantikan Angel Billabong Nusa Penida tidak akanjumpai di tempat manapun karena berciri khas sangat artistik dengan batuan karang berwarna hijau kekuningan. Kian nampak indah dengan kejernihan air yang mengalir di sini.

Kapal untuk menjelajah Pink Beach, Labuan Bajo dan obyek wisata lainnya di Nusa Penida

“Jadi dalam satu trip kunjungannya kedua tujuan wisata termashur itu, Pink Beach dan Angel Billabong, tambahnya.

Flight dari Banjarmasin, termasuk bagasi 15 kg, hotel bintang 4 twin share untuk keberangkatan 18 April 2020 seharga Rp 12.200.000/ orang sebelum Ramadhan dan keberangkatan 11Juni 2020 seharga Rp 13.800.000/ orang, ujar pria yang akrab disapa Bebez ini.

Untuk tiap keberangkatan maksimal 15 orang saja supaya dalam perjalanan peserta bisa saling mengenal peserta lainnya dengan baik dan menikmati perjalanan dengan menyewa kapal.

” Saatnya kita kembali menggalakkan kunjungan ke obyek-obyek wisata di dalam negri dengan Jelajahi Negrimu, Cintai Negrimu karena dijaman digital ini kalangan mileniallah yang bisa menjadi pejuang, menyelamatkan pariwisata Indonesia dari mewabahnya virus Corona yang mengglobal,” kata Bebez.

 

Ketika Cinta Bertasbih, Akhiri FFA ke-13

this formate

JEDDAH, bisniswisata.co.id: “Ketika Cinta Bertasbih” atau KCB menutup rangkaian Festival Film Asia ke-13 (the 13th Asian Film Festival/AFF-13) yang digelar Asosiasi Konsul Jenderal Asia (Asian Consuls General Club/ACGC) di Jeddah. Penutupan AFF-13 dihadiri para Kepala Perwakilan ACGC, perwakilan negara sahabat, mitra KJRI Jeddah dari kalangan pengusaha dan instansi pemerintah setempat, warga  Saudi dan asing yang tergabung dalam peserta Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), serta awak media.

Sebanyak enam film dari negara anggota telah diseleksi oleh ACGC untuk ditayangkan dalam gelaran AFF-13 yang berlangsung selama sebulan, yaitu film India, Filipina, Indonesia, Korea, Malaysia, dan Pakistan.

Ditonton sekitar tiga ratus tamu undangan, film yang diangkat dari salah satu  novel terlaris  karya  Habiburrahman El-Shirazy dan  mengambil setting di Cairo Mesir dan Indonesia ini, berhasil menyihir tamu yang memadati Balai Nusantara (Balnus) Kompleks Wisma Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah.

Mengawali rangkaian acara, malam penutupan AFF-13 menyuguhkan Tari Gamyong,  tarian klasik yang berasal dari Jawa Tengah, dan Tari Merak yang dibawakan kelompok tari dari Sekolah Indonesia Jeddah.

Menurut Konjen RI Jeddah, Eko Hartono, festival ini merupakan media untuk mengenalkan kekayaan budaya dari Negara-negara Asia yang beraneka ragam.

“Banyak cara untuk mengenalkan keanekaragaman kita, salah satunya adalah film yang berbicara bahasa universal. Yang lebih penting, film membuat kehidupan di sekitar kita relevan dengan masa lampau, kini dan masa depan,” ucap Konjen Eko.

Dalam kesempatan tersebut, Konjen mengapresiasi Kerajaan Arab Saudi yang telah membuka gerbang untuk mengekplorasi kekayaan budaya Asia dan memberikan ruang bagi warganya dan warga asing yang tinggal di negaranya untuk mengenal nilai-nilai budaya Asia.

Senada dengan Konjen Eko, Konjen Filipina yang sekaligus Koordinator AFF-13, Ed Badajos, menegaskan bahwah film merupakan sarana untuk memahami budaya-budaya bangsa lain.

“Melalui film yang telah saya tonton beberapa hari terakhir, terus terang saya merasa senang karena saya berkesempatan banyak mengenal budaya dari bangsa-bangsa Asia,” ucapnya saat menyampaikan sambutan penutupan AFF-13.

Oleh sebab itu, Konjen Ed Badajos mengapresiasi KJRI Jeddah yang bersedia menjadi tuan rumah penutupan AFF-13.

Asian Film Festival merupakan salah satu program tahunan yang diselenggarakan oleh ACGC yang beranggotakan 13 negara. Tujuannya adalah untuk mempromosikan pemahaman Warga Saudi dan asing yang menetap di Arab Saudi terhadap budaya Bangsa-bangsa Asia yang beraneka ragam.

Anggota ACGC terdiri dari Bangladesh, Brunei, Cina, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Pakistan, Filipina, Korea Selatan, Singapura, Sri Lanka, and Thailand. *

ZEN1: GALERI SENI DARI SANG ZENI

this formate
Arif Bagus Prasetyo

BALI, bisniswisata.co.id: SUDAH lebih dari satu dekade saya mengenal Nicolaus F Kuswanto. Pada sekitar tahun 2008, pria yang akrab dipanggil Nico ini meminta saya untuk menjadi kurator dalam pameran seni rupa yang dipersiapkannya. Sejak itu hubungan baik kami berlanjut. Saya hampir selalu terlibat, sebagai kurator atau penulis, dalam puluhan pameran seni rupa yang terlahir dari tangan dingin Nico, di Bali mau pun Jakarta.

Dunia seni rupa di Bali tentu tidak asing lagi dengan sosok Nico. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ia mengawali kiprahnya di medan seni rupa dengan menjadi pengelola galeri. Sekurang-kurangnya ada dua galeri yang saya ingat pernah mempekerjakan Nico pada dasawarsa pertama abad ke-21: Hanna Art Space dan Tangkas Gallery. Keduanya di Ubud, Bali.

Nico aktif membikin program pameran, menjalin kemitraan dengan seniman hingga memasarkan karya di galeri yang dikelolanya. Galeri yang pernah dipegang Nico tergolong kecil, tapi mampu mencuri perhatian masyarakat seni rupa di Bali berkat tawaran aktivitasnya yang bermutu dan berkesinambungan.

Sewaktu bekerja di Hanna Art Space Ubud, contohnya, Nico hampir setiap bulan mengadakan pameran seni rupa. Yang ditampilkan tidak saja karya perupa muda, tetapi juga perupa senior ternama. Tidak saja perupa dari Bali, tetapi juga perupa dari luar pulau. Tidak saja perupa Indonesia, tetapi juga perupa mancanegara. Lokasi galeri yang kurang strategis, berada di kompleks pom bensin, tidak menyurutkan semangat Nico untuk sering-sering mengundang seniman berpameran dan menjamu pecinta seni.

Nico juga berusaha meluaskan jangkauan galeri. Beberapa pameran tidak diselenggarakannya di galeri, melainkan di tempat lain. Misalnya, di hotel atau pusat kesenian. Tidak hanya di Bali, tetapi juga di Jakarta.

Sejak masih menjadi manajer galeri milik orang lain — bertahun-tahun silam, Nico telah menunjukkan passion yang kuat terhadap seni rupa. Ia menjalankan galeri, tapi yang dilakukannya sebenarnya lebih dari itu. Ia juga berperan menjadi partner, kadang-kadang bahkan patron atau manajer, bagi perupa. Ia pun tak segan menjadi agen atau konsultan bagi kolektor.

Ditenagai oleh api kecintaan terhadap seni rupa dan kecakapan membangun relasi dengan perupa dan kolektor, Nico terus berkontribusi di dunia seni rupa, bahkan setelah tidak lagi bekerja sebagai manajer galeri. Beberapa tahun yang lalu, ia mendirikan Zen Nagrisco Utama, perusahaan yang bergerak di bidang pengiriman barang (Zen Express) dan pembingkaian lukisan (Zen Agung Frame). Melalui dua divisi bisnis Zen ini, Nico melanjutkan kiprahnya di dunia seni rupa.

Jembatan Karya dan Kolektor

Zen Nagrisco Utama ternyata tidak menyokong seni rupa dengan jasa pengiriman karya seni dan penyediaan bingkai lukisan saja. Di bawah bendera Zen, Nico aktif mengorganisasi pameran di berbagai tempat di Bali dan Jakarta. Ia bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menyelenggarakan pameran seni rupa di galeri, hotel, sekolah dan ruang-ruang lain.     

Seraya memfasilitasi hubungan antara berbagai pihak dan kepentingan di medan sosial seni rupa, Nico berusaha membuka ruang kemungkinan baru untuk mempromosikan karya seni rupa. Inilah yang dilakukannya sejak dulu. Ia senantiasa mencari jalan untuk lebih mendekatkan karya seni ke pecinta seni. Disadari atau tidak, Nico selalu membikin jembatan yang menghubungkan karya dengan kolektor, kolektor dengan seniman, seniman dengan masyarakat. Sebuah jembatan yang memungkinkan roda kreatif terus berputar di dunia seni rupa.

Setelah lebih dari satu dasawarsa bergerak di dunia seni rupa, Nico mempersembahkan ruangnya sendiri untuk seni rupa: Galeri Zen1. Kita tentu bisa menduga kenapa dinamakan Zen1.

Kata “Zen1” bisa dibaca “Seni”. Unsur “Zen” tentu mengacu pada payung bisnis Zen Nagrisco Utama. Angka 1 melambangkan cita-cita untuk menjadi galeri nomor 1. “Menjadi yang terbaik, luhur, dengan harapan kami tampil dengan kemaksimalan. To be best of the best,” kata Nico.

Saya ingin menambahkan tafsir lain pada nama Zen1. Kata “Zen1” juga bisa dibaca “Zeni”. Dalam ketentaraan, pasukan zeni adalah kesatuan pendukung yang menyelenggarakan rekayasa taktis dan teknis di medan tempur. Kata “zeni” berasal dari kata Belanda “genie” yang artinya banyak akal. Salah satu tugas korps zeni adalah membangun jembatan. Bagi saya, kata “Zen1” juga menunjuk ke Nico sebagai sang zeni yang inovatif dan selalu membikin jembatan antara pencipta dan pecinta seni.           

Terus terang, saya salut kepada Nico. Butuh tekad, keberanian dan komitmen besar untuk mendirikan galeri seni rupa pada hari-hari ini. Kenapa?

Bukan rahasia lagi, iklim pasar seni rupa di Indonesia beberapa tahun belakangan ini dilanda kemarau berkepanjangan. Sering terdengar keluhan tentang sulitnya menjual karya seni rupa. Kelesuan pasar seni rupa di Indonesia jelas akan menjadi tantangan yang tidak ringan bagi galeri baru. Eksistensi sebuah galeri seni rupa tentu tidak bisa bertumpu pada idealisme semata. Galeri harus memiliki fungsi komersial, selain mengemban fungsi kultural.

Seretnya perputaran roda bisnis seni rupa di Indonesia tentu menyulitkan galeri untuk menjalankan fungsi komersialnya. Itulah sebabnya, saya kira, banyak galeri memilih gulung tikar, atau setidaknya sangat mengurangi kegiatannya. Di Bali, misalnya, galeri yang rajin menggelar pameran terkurasi saat ini dapat dihitung dengan jari. Galeri-galeri itu pun umumnya berada di hotel berbintang, dengan target pasar utama turis asing yang menginap di hotel tersebut.

Berkurangnya fungsi komersial galeri saat ini tidak saja disebabkan oleh situasi pasar seni rupa yang sedang paceklik. Ada faktor lain yang tidak kalah besar pengaruhnya: media sosial.

Dulu, galeri sangat diuntungkan secara komersial oleh perannya sebagai hampir satu-satunya perantara antara produsen dan konsumen benda seni. Bahkan ada anekdot, galeri zaman dahulu sampai merahasiakan kliennya agar tidak diketahui oleh seniman. Tujuannya tentu supaya seniman tetap bergantung pada galeri dalam urusan jual-beli karya.

Kini situasi sudah jauh berubah. Media sosial memampukan seniman untuk menjangkau calon pembeli secara langsung, tanpa perantaraan galeri. Seniman bisa “memasarkan” karya dengan mengunggahnya di facebook atau instagram, misalnya. Kolektor yang ingin membeli karya seniman tertentu juga bisa dengan mudah mencari kontak si seniman di media sosial, menghubunginya, lalu datang ke studionya.

Mudahnya akses antara seniman dan pembutuh benda seni pada era medsos ini sering dikeluhkan pemilik galeri. Ada galeri yang merasa percuma saja membikin program pameran. Galeri sudah repot-repot dan mahal-mahal menyelenggarakan pameran seni rupa, tapi begitu tiba di urusan jual-beli karya, kolektor mencari si seniman dan bertransaksi dengannya secara personal (umumnya sesudah pameran berakhir).    

Bagaimana dengan peran galeri di luar sisi komersial? Saat ini fungsi kultural galeri sebagai lembaga yang berkontribusi memajukan perkembangan seni rupa juga telah diadopsi oleh banyak lembaga lain. Belakangan, semakin tampak kecenderungan seniman untuk berpameran di ruang-ruang yang bukan galeri konvensional.

Untuk sekadar ilustrasi, data unggahan di akun Instagram senidibali menunjukkan, dari puluhan pameran seni rupa di Bali pada Januari-Februari tahun ini, hanya dua atau tiga pameran yang diselenggarakan di galeri biasa. Selebihnya berlangsung di restoran, hotel, art shop, museum, pusat kebudayaan, kantor, sekolah, markas komunitas, creative hub, co-working space atau ruang alternatif lain yang tidak atau kurang memperhatikan aspek komersial seni rupa. Mungkin perkembangan ini dipicu oleh semakin sedikitnya galeri seni rupa yang bersedia menggelar pameran di Bali.

Saya yakin Nico menyadari semua tantangan itu. Ia pasti punya strategi untuk menghadapinya. Atau mungkin ia malah melihat peluang. Semakin sedikit galeri, berarti semakin sedikit pesaing. Mungkin kelesuan pasar seni rupa hanya berlaku di lapisan tertentu. Mungkin ada celah pasar atau lapisan kolektor baru yang menunggu digarap.

Yang jelas, perupa profesional harus menjual karya. Dan mereka pasti butuh sosok pebisnis dan komunikator ulung seperti Nico.

Selamat datang, Zen1. Cheers!

Nyanyian Puisi dari Halaman Antida Sound Garden

this formate

Lihat nyala api, Dan kepulan asap, Pejamkan mata, Hentakkan kaki, Taab, taab, tab, Jadilah rumah !, Yang kecil di bumi, Dibesarkan di langit, Harum dupa dan lingkaran arak, Biarkan Tu Ti Kong mabuk, Soja Kui, Soja Kui, soja Kui, Salam takzim anak-cucu, Tangan kasih menembus,  langit dan waktu, Yang dulu tangis kini tawa, Fajar menyingsing, Jilatan api dan ombak, Di kaki-kaki karang, Bila usai, Bukalah mata, Takjub akan kasih hormat, tetesan darah, Soja Kui, Soja Kui, Soja Kui, Yang kecil di bumi, Dibesarkan di langit. * Cu Kong Tik

DENPASAR, bisniswisata.co.id: LIRIK puisi Cu Kong Tik yang ditembangkan Tan Lioe Ie, mengundang penikmat music dan sastra makin mendekat memenuhi halaman rumah musik Antida Sound Garden petang itu. Menggelar perpaduan musik dan puisi ditengah kepanikan masyarakat hal virus Corona COVID-19 dan virus babi, bukan tanpa makna.

Sinergi yang mendukung kesepahaman, kesetaraan, kebersamaan, saling menghargai posisi masing- masing yang hanya bisa tumbuh dalam kesadaran mengendalikan egoisme.

 “Sinergi mengandaikan “persenyawaan” antara kedua genre seni untuk lebih berdaya “gedor” untuk mencapai tujuan di atas. Dalam sinergi puisi maupun musik bukan sub-ordinat satu atas yang lain. Tapi ibarat proses kimia menjadi satu kesatuan yang utuh dan saling menguatkan,” ungkap Tan Lioe Ie, pentolan Bali Puisi Musik.

Group band yang menamakan diri Bali Puisi Musik ini memang piawai melakukan sinergi puisi dengan musik. Berharap puisi yang hanya dinikmati kalangan terbatas dan tertentu (sastrawan, pecinta sastra, pengamat sastra) dapat menjangkau segmen masyarakat yang lebih luas. Lebih merakyat dan kekinian dan mampu mengasah “kepekaan” batin semua kalangan.

Dari segi tema puisi yang dibawakan Bali Puisi Musik, beragam : Ada renungan tentang perjalanan hidup manusia, ada tentang “kerinduan” pada “kekasih” yang dapat ditafsirkan bersifat horisontal dan vertical. Sebagaimana sifat puisi yang ambigu, ada kritik sosial, ada kepedulian terhadap lingkungan, ada persaudaraan dalam perbedaan dalam satu kemanusiaan, ada tentang pentingnya kasih sayang. Hal ini bisa disimak pada puisi Malam di Pantai Candidasa, Siapakah Kau, Exorcism, Malam Cahaya Lampion, Alam Kanak-Kanak, Co Kong Tik. Semua puisi yang disebutkan ini adalah karya Tan Lioe Ie, penyair yang sekaligus vokalis Bali Puisi Musik. Aaransemen musiknya karya Yande Subawa (giataris) dan dibawakan bersama Made “Dek Ong” Swandayana (keyboardist), Putu Indrawan (Bassist) Nyoman “Kabe” Gariyasa (drummer).

Tampil memukau di halaman Antida Sound Garden dengan membawakan lima buah lagu — sebelumnya diisi enam lagu oleh Tan Lioe Ie dan beberapa puisi dengan menggunakan teknik akustik.

“Bali Puisi Musik membawakan dua komposisi baru yaitu ‘Blues Untuk Boni’ karya WS. Rendra, dan juga ‘Tuhan Butuh Malaikat Baru’ Karya saya sendiri. Puisi ini saya tuliskan mengingat manusia di bumi ini mulai kehilangan ruh kebajikannya. Ego berdasarkan premodialisme semakin mencuat, potensi konflik meninggi. Dan itu tidak elok, sehingga dibutuhkan lebih banyak lagi manusia yang lebih berhati malaikat,” papar Tan Lioe Ie.

Tampilan Bali Puisi Musik di panggung Antida Sound Garden, juga menghadirkan Ayu Winastri — seorang penulis cerpen dan Mira MM. Astra, seorang penyair yang telah merilis sebuah buku antologi puisi tunggalnya, berjudul Pinara Pitu.

Gelar musik puisi ini memang tak seriuh gelar music yang biasa mengisi panggung Antida Sound Garden. Senyap yang khusyuk  penikmat musik menata hati yang panik berhadapan dengan situasi negeri dibalut apik MC pecinta sastra  Moch Satrio Welang. MC yang sempat menggagas buku Antologi Puisi bersama yang berjudul “Keranda Emas”.

Penumpang Viking Sun, Turis Asal Inggris dan Australia Akan Berwisata di Surabaya

this formate

SURABAYA, bisniswisata.co.id: Saat sebagian besar negara di dunia menghindari kedatangan orang asing, ada kabar sebaliknya yang berasal dari Jawa Timur, bahwa pada 6 Maret 2020 mendatang, Kota Surabaya  akan kedatangan sekitar 1300 warga negara asing yang singgah melalui pelabuhan Tanjung Perak. 

Para turis asing ini datang dengan Kapal Pesiar yang bernama Viking Sun. Kapal pesiar ini mengangkut turis asing yang kebanyakan berkewarganegaraan Inggris dan Australia.

Mengingat Indonesia termasuk negara yang sudah memiliki kasus terjangkit Convid 19 maka kedatangan kapal pesiar pun diantisipasi Pemerintah Kota Surabaya dengan melakukan koordinasi antara Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan Kementerian Kesehatan yang akan melakukan pemeriksaan saat penumpang turun di Pelabuhan Tanjung Perak.

“Semua fasilitas kesehatan dan peralatannya telah disiapkan secara baik. Peralatan kesehatan ini juga telah disiagakan di pelabukan untuk menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi,” kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Pemerintah Kota Surabaya pun telah membentuk Satgas Kesehatan dan telah menyiapkan fasilitas yang memadai di seluruh Rumah Sakit, baik milik swasta maupun milik Pemerintah Kota.  

Kedatangan kapal pesiar ini menjadi hal yang membuat orang jadi ketar ketir karena kapal pesiar Diamond Pricess dan World Dream sebelumnya telah mengumumkan banyak awak maupun penumpang kedua kapal itu telah positif terjangkit Convid 19 yang hingga kini belum ada obatnya.

Mengenai kedatangan Kapal Pesiar Viking Sun ini, Humas Pelindo III menyatakan tidak ada pembatalan. Semua masih berjalan sesuai dengan rencana. Sebelum ke Surabaya, Kapal Pesiar ini terlebih dahulu ke Pulau Komodo dan Kota Semarang. 

Muhammad Budi Hidayat Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya menegaskan, akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap 1.300 penumpang dan kru Kapal Viking Sun yang akan sandar di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada Jumat, 6 Maret mendatang.

“Kami lakukan screening suhu, kapalnya, dan barang barangnya. Pada saat kedatangan kami menggunakan speed boot ke Karang Jamuang lalu naik dengan tangga,” katanya dilansir dari suarasurabaya.net

Budi mengatakan, pihaknya akan menerjunkan personel lebih banyak untuk mengecek suhu tubuh penumpang menggunakan Thermal Meter Gun. Meskipun, di Labuan Bajo dan Semarang, kapal ini sudah diperiksa.

Kami tetap periksa satu persatu. Kapal ini dari Labuan Bajo, Semarang, sehingga sistem pengawasannya sama. Kami tetap memeriksa lagi,” katanya.

Budi mengimbau masyarakat tidak perlu panik, karena pemerintah telah bekerja sesuai SOP Internasional. “Enggak usah panik, enggak usah resah, tapi tetap waspada. Kami berikan edukasi jaga kesehatan,” katanya.

Budi mengatakan, alasan Pemerintah Indonesia tidak melarang masuknya wisatawan kapal cruse ini karena memang secara aturan tidak boleh melarang warga negara lain masuk Indonesia, meskipun di tengah situasi merebaknya virus Corona.

“Sesuai Undang-Undang kita (Indonesia) tidak boleh mencegah masuknya warga negara lain tanpa alasan yang jelas. Makanya kami cek dulu baru bisa sandar. Kita awasi kita lihat tanda-tandanya. Kami tempatkan lebih banyak personel,” katanya.

Sekadar diketahui, Kapal Viking Sun berbendera Norwegia itu mengangkut 1.300 orang, baik penumpang maupun awak kapal. Rata-rata penumpang dari Australia dan London.

 

Aktifkan Crisis Center Untuk Akselarasi Kinerja Pariwisata Hadapi Wabah Corona

this formate

Crisis Center dibutuhkan untuk meyakinkan wisman tetap berkunjung ke Indonesia. ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pemerintah memberikan insentif untuk akselerasi kinerja pariwisata di tengah wabah Corona agar kunjungan wisman ke Indonesia terus mengalir di samping mendorong pergerakan wisatawan nusantara ke berbagai daerah.

Menanggapi kebijakan itu, pengamat pariwisata Soelaiman Wiriaatmadja mengatakan kebijakan ini tentu akan mendapatkan sambutan yang baik dari industri, tapi dari sisi pelaku perjalanan tentu ini tidak mudah karena menurunnya propensity to travel atau kecendrungan untuk berwisata dari warga dunia.

“Saat ini bukan karena turunnya daya beli tetapi lebih pada “takut”untuk bepergian. Ingat pada waktu kejadian SARS ada pernyataan “if you fly you die,”  ujarnya.

Oleh karena  itu yang dibutuhkan adalah segera menghidupkan crisis center untuk meyakinkan para wisatawan bahwa mereka aman melakukan perjalanan. Semoga kebijakan ini berhasil, desak Soelaiman.

Crisis Center akan terus memperbaharui informasi mengenai kondisi terkini pariwisata di tanah air kepada para pelaku ( industri) wisata maupun masyarakat dunia sehingga mereka merasa aman dan nyaman untuk tetap berwisata ke Indonesia.

Menurut Soelaiman, prioritas insentif yang diberikan pemerintah justru pada menghidupkan crisis center karena penggunaan influencer dampaknya tidak instant dan butuh waktu dan kerja keras. Sementara Kementrian Pariwisata sudah berpengalaman mengaktifkan  crisis center sejak ada kasus Bom Bali I dan II, SARS dan berbagai bencana lainnya.

Tak dipungkiri jika saat ini imbas wabah virus corona telah membuat lesu pariwisata di dunia. Bukan hanya di Asia, pariwisata di Eropa juga turut lesu akibat wisatawan yang menunda bepergian. 

Di Indonesia, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah mengumunkan  untuk memberikan insentif untuk wisatawan mancanegara. Pemerintah memberikan alokasi tambahan sebesar Rp298,5 miliar. Terdiri dari Insentif Airlines dan Travel Agent, Insentif dalam skema Joint Promotion, kegiatan promosi pariwisata  serta familiarization trip (famtrip) dan influencer

Sementara untuk wisatawan domestik, pemerintah memberikan diskon 30 persen penerbangan ke 10 tujuan wisata. 30 persen itu untuk kuota 25 persen seats di setiap penerbangan ke 10 tujuan wisata. 

“Dan ini berlaku selama tiga bulan yaitu Maret, April, dan Mei 2020. Program ini apabila dirasakan manfaatnya dapat dilanjutkan,” kata Airlangga Hartanto. 

Menparekraf Wishnutama mengatakan, insentif yang diberikan untuk pasar mancanegara akan diarahkan ke pasar-pasar wisatawan mancanegara yang memiliki average spending per arrival (ASPA) tinggi. 

“Insentif akan memberikan dampak untuk mengakselerasi atau menarik wisatawan sebesar 736 ribu orang dari negara-negara fokus pasar dengan ASPA tinggi. Dari jumlah kunjungan tersebut diperkirakan bisa menghasilkan devisa sebesar Rp 13 triliun,” kata Wishnutama. 

Menurut Febiola, Travel Consultant Antavaya, tiket perjalanan dan paket tur ke semua tujuan di Eropa banyak yang dibatalkan. Di pihaknya,  pembatalan perjalanan yang lebih dominan ada pada destinasi wisata Asia.

Bukan hanya penyedia jasa tour dan travel yang merugi akibat turun drastisnya turis, Endang Suherman GM Glamping Lake Side di Bandung mengungkapkan penurunan pengunjung di objek wisata Glamping Lake Side. 

Biasanya, rata-rata setiap bulan sekitar 6.000 wisatawan asal Tiongkok mengunjungi objek wisata yang terkenal dengan restoran kapal pinisi tersebut. Saat ini kunjungan wisatawan dari negeri tirai bambu berkurang 50 persen.

Demikian pula yang terjadi di lokasi wisata Pantai Timang, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus Jogjakarta. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara rata-rata per hari biasanya mencapai 600 hingga 700 orang, namun sejak ramai kasus virus Corona, jumlah kunjungan terjun bebas hingga 50 persen.