PAGEBLUK dengan nama awal 2019-nCoV dan sekarang disebut Coronavirus Disease 2019 dipendekkan menjadi COVID-19. Secara historis kitamulai dengan Kota Wuhan dan belasan kota lainnya di Provinsi Hubei telah dikarantina sejak 23 Januari 2020 lalu. Kemudian karantina seluruh provinsi Hubei di negara Cina daratan yang berpopulasi hampir 60 juta. Popularitas kota Wuhan dalam sekejap mampu menggiring berbagai reaksi terhadap penanggulan wabah ini. Kemudian membuat dunia jungkir-balik dalam hitungan hari.
Berbagai
negara salah satunya Indonesia mulai 5 Februari 2020 melakukan pelarangan
pengunjung masuk dari Tiongkok. Selanjutnya diikuti pembatalan beberapa penerbangan
internasional. Pastinya sebagian besar digerakkan secara komersial, karena
rendahnya jumlah penumpang (load factor).
Selanjutnya, beruntun dalam beberapa minggu terakhir ini kita mendapat
pengumuman penundaan sampai ke pembatalan berbagai acara acara olahraga, misi
dagang, kongregasi religius, dan ziarah
keagamaan di luar negeri.
Pada
11 Maret 2020 WHO
– World Health Organization akhirnya mendeklarasikan pandemi global
secara resmi disampaikan oleh Direktur Jendralnya Dr. Tedros Adhanom
Ghebreyesus . Momentum yang tepat? WHO mendesak
negara-negara diseluruh dunia untuk menunjukkan solidaritas dan menghindari celaan/stigmatisasi.
Organisasi Palang Merah dunia-pun turun tangan untuk mengajarkan kita di
seluruh dunia cara mencuci tangan yang benar. Buat saya ini hal yang ironis di
era semua industri saling kejar-kejaran meng-aplikasi-kan AI – Artificial Intellegence memberdayakan
robot sebagai rekan kerja.
Menjelang
tengah malam 13 Maret 2020, Amerika
Serikat menutup semua perbatasannya, memblokade, menghentikan semua perjalanan
masuk dari Eropa selama 30 hari untuk
memerangi ‘virus asing’, (tetapi tidak dari Inggris). Italia sepenuhnya
disegel, India telah membatalkan hampir semua visa masuk (termasuk untuk orang India yang
berkewarganegaraan asing) dan menutup perbatasan Myanmar. Thailand telah membatalkan visa kedatangan pada 18
negara dengan persyaratan karantina sendiri untuk beberapa warga negara.Thailand
membutuhkan asuransi sebesar US $ 100.000 dari beberapa warga negara.
Ketika
COVID-19 merebak di luar kendali di
provinsi Hubei. Cina mengambil tindakan
karantina, melakukan intervensi militer, dan mengeluarkan instruksi larangan
bepergian.
Pertanyaannya
sekarang, untuk
Indonesia dan Bali sebagai
pintu masuk pariwisata internasional khususnya. Bagaimana cara menangkal masuk dan
menyetop penyebaran COVID-19 yang kita sebut superspreaderini?
Yang
saya mengerti, sosialisasi dan pemahaman perihal superspreader tidak merata. Tidak sampai ke masyarakat.
Baik,
sekarang apa sebenarnya superspreader
ini?
Begini
yang seharusnya kita ketahui, pahami dan lakukan kemudian. “Setiap Orang Bisa Cegah
Penularan Lebih Lanjut”.
DanIndonesia “harus belajar” dari pola
penyebaran COVID-19 di negara-negara lain yang “bermula dari satu orang saja”.
Superspreader adalah sebutan bagi orang yang
menyebabkan orang lain sakit dengan jumlah yang jauh lebih banyak dari biasanya
(Stein, 2011). Data menyebutkan bahwa orang yang sakit COVID-19 dapat
menyebabkan 2-3 orang lain sakit (WHO, 2020). Namun, seorang superspreader COVID-19 dapat menularkan
10 orang sampai puluhan kali lipat dibanding orang biasa.
Mohon
ijin, saya mengambil contoh kasus ITALIA
Pasien #1 (pertama) di wilayah
Lombardia
Pasien
pertama di wilayah Lombardia ini bertemu
dengan temannya yang baru pulang dari Tiongkok pada tanggal 21 Januari.
Pada
tanggal 14 Februari, pasien ini mulai sakit dan pergi ke dokter umum.
Pada
tanggal 16 Februari, kondisinya memburuk dan ia pergi ke rumah sakit (RS).
Namun tidak ada perlakuan khusus bagi pasien ini, ia dirawat layaknya pasien
biasa. Baru beberapa hari kemudian ia terkonfirmasi positif COVID-19.
Namun
sebenarnya saat itu sudah terlambat.
Karena
pasien ini tidak diisolasi sejak awal, pasien-pasien dan staf di RS tempat ia
dirawat juga terinfeksi. Pasien ini juga dilaporkan memiliki kehidupan sosial
yang aktif dan berinteraksi dengan banyak orang sebelum dirawat di RS.
Akhirnya,
puluhan orang sakit karena kontak dengannya, yang kemudian menularkan ke
orang-orang lainnya selama berminggu-minggu. Sampai sekarang, wabah di Italia
masih belum terkendali, dan sudah menyebar ke seluruh Eropa. Pasien pertama di Lombardia
terkonfirmasi tanggal 21 Februari. Perhatikan bagaimana jumlahnya melonjak
tajam sesudah itu.
Efek domino Italia di Eropa:
Bagaimana
wabah di Italia diikuti oleh wabah di berbagai negara di Eropa beberapa hari
sesudahnya.
Kasus superspreader di Italia terjadi karena
kegagalan sistem kesehatan dalam melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap
kemungkinan masuknya COVID-19 dan ketidaktahuan pasien #1 di Lombardia bahwa
kontak dengan orang yang pernah melakukan perjalanan dari Tiongkok merupakan
faktor risiko seseorang untuk terkena COVID-19.
Lalu untuk Indonesia!
Bagaimana
cara penanganan kita terhadap Covid-19 ini telah disorot dunia.
Dapatkah
kita membangun kembali kepercayaan dunia terhadap industri pariwisata yang kita
unggulkan dengan menyebut pariwisata
budaya?
Apakah
social media influencer dan blogger mampu merubah cara pandang traveler dunia terhadap Indonesia dan
Bali pada khususnya?
Dan
bagaimana penduduk lokat, hotel, maskapai penerbangan dan sarana transportasi
di Indonesia yang dinilai lamban merespon tantangan ini?
Sehingga
kalau saya menggunakan Pitutur Jawa
bisa saya ambil dari Serat Kalatidha
karya Raden Ngabehi Ronggowarsito yang mengatakan Ewuh Aya Ing Pambudi yang bahasa Indonesia-nya “serba ribet dalam bertindak”. Informasi yang tidak tepat,
cerita tentang COVID-19 yang menjadi bahan olok-olok-an dan berpikiran bahwa
COVID-19 ini didramatisir. Bahkan individu-individu yang secara terang-terangan
seolah memproklamirkan dirinya “COVID-19, please
challenge me!”.
Namun
demikian, mari kita simak pula kutipan pesan moral dari wolak-walik-e jaman pada bait yang lain, seperti yang tertulis
sebagai berikut ini :
Ikhtiyar iku
yekti
Pamilihing reh
rahayu
Sinambi budidaya
Kanthi awas lawan
eling
Kanthi kaesthi
antuka parmaning”
Berikhtiar itu
Wajib
untuk memilih
jalan yang baik
Sembari berusaha
Juga Harus
berhati-hati dan waspada
Agar mendapat
rahmat-Nya
Satu
pesan ajaran yang sangat baik bagi kita. Bahwa untuk menuju dan mendapatkan
jalan atau tujuan yang baik kita wajib untuk berusaha. Bukan hanya dalam
lamunan. Sebaliknya pula, segala apa yang kita usahakan juga selayaknya
ditujukan untuk tujuan yang baik, dibarengi dengan kewaspadaan dalam
menjalaninya. Sehingga segala apa yang kita upayakan dan kerjakan senantiasa
mendapat rahmat dan keberkahan dari Yang Maha Kuasa.
Saya
rasa dan saya pikir ini juga salah satu inti dari ajaran tentang makna hidup
dalam kita menyikapi COVID-19 ini.
Introfeksi Diri
Kontemplasi
saya untuk mengambil hikmah dari perlambatan bisnis dan matapencaharian kali
ini adalah menjadi sadar diri. Kita diajak untuk duduk diam, berpikir dan
instrospeksi.
Ada
ajakan untuk kembali ke keluarga, diam di rumah, berinteraksi dilingkungan
kecil dan saling menjaga. Saatnya sinkronisasi
dan harmonisasi.
Untuk
pekerja di perusahaan-perusahaan maju, diminta WFH – Work From Home. Disini pemberdayaan kecanggihan peralatan
elektronik dan digital dimaksimumkan. Sehingga untuk pertemuan perusahaan cukup
dengan sarana video-call.
Bagaimana
dengan transaksi perdagangan domestik? Pastinya virtual mobile payment sangat membantu untuk membatasibersentuhan
dengan mata uang fisik yang bisa kita curigai sebagai vector dan carrier COVID-19.
Hari ini, mari kita tunggu keputusan pemerintah Indonesia selanjutnya. Pada dasarnya masyarakat diminta untuk tetap tenang.
Tetapi
“Kita harus jujur dan berani seperti Duterte, Presiden Philipina yang mengakui
bahwa Rumah Sakit di negaranya belum
siap menampung korban yang melonjak. Sehingga
ia mengambil langkah pencegahan yang maksimal,” kata Ketua Umum Partai Bulan
Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra di akun Twitternya, Kamis (12/3).
Manila
dikabarkan akan dinyatakan sebagai kota tertutup atau lockdown oleh Presiden Filipina, Duterte untuk menyelamatkan warganya
dari ancaman virus corona baru atau Covid-19. Karena fasilitas RS di Manila
tidak siap menampung lonjakan penderita Covid-19.
Siapkah
kita melakukan langkah darurat untuk mencegah penularan lantaran setiap hari
pasien positif corona terus bertambah? Mari kita monitor dari
https://www.worldometers.info/coronavirus/#countries
Apakah
kita harus menunggu sampai kita “tidak”
mampu lagi melakukan penanggulangan?”
Saya
hanya selalu memohon dan berdoa yang terbaik. Semoga pagebluk pandemi COVID-19 ini segera berlalu. Presiden Amerika
Serikat, Donald
Trump pernah berucap, bahwa bulan April 2020, COVID-19 akan berakhir dengan
sendirinya. *Jeffrey
Wibisono V.