Pandemi global yang mengharuskan orang berdiam diri di rumah membuat akrivitas pariwisata lumpuh. ( foto: Unsplash.com/Sandie Clarke/@honeypoppet)
LONDON, Inggris, bisniswisata.co.id: World Travel & Tourism Council (WTTC) mengaku terkejut karena sektor travel & tourism menghadapi 100 juta kehilangan pekerjaan akibat pandemi coronavirus, menurut World Travel & Tourism Council (WTTC).
Semula WTTC memprediksi 75 juta orang yang bekerja disektor ini akan kehilangan pekerjaan tapi nyatanya dalam waktu singkat sudah menjadi 100 juta orang dan angka ini berdasarkan penelitian dari WTTC yang meningkat lebih dari 30% dalam empat minggu terakhir, menunjukkan krisis yang mempengaruhi sektor ini.
WTTC telah memperingatkan para Menteri Pariwisata G20 tentang tingkat krisis, karena mereka berkumpul dalam konferensi virtual sebelumnya. Dari 100,8 juta pekerjaan yang berisiko, hampir 75 juta di antaranya berada di negara-negara G20.
Analisis WTTC juga menunjukkan peningkatan tajam dalam kerugian ekonomi terhadap ekonomi dunia, hingga US $ 2,7 triliun dari PDB, dari US $ 2,1 triliun hanya sebulan yang lalu.
Dampak dari krisis COVID-19 telah menyebabkan lebih dari satu juta pekerjaan hilang setiap hari. Itulah sebabnya Gloria Guevara, Presiden & CEO WTTC, mengatakan: “Ini adalah perubahan yang mengejutkan dan sangat mengkhawatirkan dalam waktu yang singkat. Hanya dalam sebulan terakhir saja, penelitian kami menunjukkan peningkatan 25 juta dalam jumlah kehilangan pekerjaan di Travel & Pariwisata. Seluruh siklus pariwisata dihancurkan oleh pandemi.
Pihaknya telah memberitahukan hal ini pada para Menteri Pariwisata G20 tentang tingkat krisis dan memberi masukan tentang bagaimana pemerintah perlu bertindak cepat untuk mendukung dan melindungi industri pariwisata.
“Travel & Tourism adalah tulang punggung ekonomi global. Tanpa itu, ekonomi global akan berjuang untuk pulih dengan cara yang berarti dan ratusan juta orang akan menderita kerusakan finansial dan mental yang sangat besar di tahun-tahun mendatang. ”
Analisa WTTC, potensi total kehilangan pekerjaan/ orang dan kehilangan PDB dalam US$/ miliar sbb: Asia-63,4 juta orang, US$1.041, Europe13.0 juta, US$708.5, Africa-7,6 juta, US$-52.8, Americas-14.1 juta orang, US$-790.9, Amerika Utara 8.2 juta orang, US$ 680.7, Amerika Latin 4.7 juta orang, US$83.8, Kawasan Karibia 1.2 juta orang, US$ 26.4, Timur Tengah 2.6 juta, US$96.2 dan total seluruh dunia World mencapai 100.8 juta orang dan kerugian US$2.689.4 miliar (berdasarkan harga dan nilai tukar uang 2019)
Industri travel & tourism menyumbang 10,3% dari PDB Global, menciptakan satu dari empat lapangan pekerjaan baru di dunia dan selama sembilan tahun berturut-turut, telah melampaui pertumbuhan ekonomi global.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggencarkan rangkaian kampanye #BersamaJagaIndonesia sebagai upaya terus meningkatkan kesadaran dan kepedulian bersama menghadapi COVID-19.
“Kampanye-kampanye tersebut berada dalam payung besar #BersamaJagaIndonesia dengan melibatkan insan pariwisata dan ekonomi kreatif dengan memanfaatkan saluran komunikasi yang dimiliki Kemenparekraf juga melibatkan komunitas pariwisata dan ekonomi kreatif,” kata Wishnutama, Menteri Parekraf, hari ini.
Kampanye yang telah dirilis, kata Whisnutama. diantaranya untuk mengajak masyarakat menunda mudik yang menceritakan seorang anak yang tengah menghubungi ibunya lewat telepon. Sang anak menyampaikan betapa rindunya ia untuk pulang ke kampung halaman namun harus ditunda sementara guna mencegah penyebaran COVID-19. Kampanye ini mendapat respons positif dari masyarakat dan banyak komunitas pegiat pariwisata dan ekonomi kreatif.
Peran Kemenparekraf/Baparekraf saat ini selain menekan dampak COVID-19 terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, juga melibatkan insan pariwisata dan ekonomi kreatif dalam mengampanyekan peningkatan kesadaran dan kepedulian bersama menjaga Indonesia dari COVID-19.
“Begitu juga dengan kampanye #JagaRamadanKita. Kampanye dalam bentuk video berdurasi 1 menit 39 detik yang menceritakan percakapan antara bapak dengan anaknya lewat aplikasi pesan singkat.
Dalam percakapan itu sang anak menyampaikan kegiatannya saat ini yang aktif memproduksi masker kain untuk orang-orang di sekelilingnya. Video ini ditutup dengan sangat manis yang membuat tersentuh. Video ini juga sebagai bagian dari ucapan memasuki bulan suci Ramadhan.
Tidak hanya di own media, Kemenparekraf juga bekerja sama dengan pihak-pihak lain diantaranya dengan Asosiasi Televisi Nasional Indonesia (ATVNI) dan Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), untuk bersama-sama membantu langkah-langkah pemerintah dalam sosialisasi penanganan pandemi COVID-19.
Dalam kerja sama ini pihak televisi akan menyiarkan berbagai informasi layanan publik dengan materi konten yang turut disiapkan Kemenparekraf. Nantinya materi tersebut akan disiarkan secara berkala setiap harinya hingga wabah COVID-19 dinyatakan selesai oleh pemerintah pusat.
“Menayangkan sesuatu yang serentak dengan pesan yang sama sehingga masyarakat makin peduli untuk Bersama menekan penyebaran COVID-19. Iklan layanan publik dengan frekuensi yang tinggi dinilai mampu menjadi sosialisasi pesan yang efektif,” kata Wishnutama.
Wisatawan Gen Z suka wisata kuliner. adventure dan wisata budaya. ( Foto: Kemenparekraf)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Siapa yang tahun ini masih mau traveling jika pandemi global Covid-19 bisa teratasi oleh pemerintah Indonesia maupun negara-negara lain di dunia ? Survey menunjukkan wisatawan muda siap saja untuk berwisata.
Survey singkat dari diskusi daring yang diselenggarakan oleh MarkPlus Industry Roundtable Tourism and Hospitality Perspective, pekan lalu dan diikuti sedikitnya 620 peserta menunjukkan peserta survey 68% diikuti oleh kaum pria dan sisanya 32% adalah wanita.
Profesinya pekerja kantoran 61%, lain-lain 44%, freelancer 21%, profesional 17%, pemilik perusahaan 14%, pelajar 18% dan dari institusi organisasi 12%. Mereka yang mau traveling kelar wabah yang tertinggi adalah kelompok umur 18-24 tahun mewakili 44% responden dan usia 25-34 tahun yang tertinggi mencapai 73%.
Responden usia 18-24 tahun pilihnya jenis wisata kuliner, wisata petualangan dan wisata budaya. Sementara yang berusia 25-34 tahun justru yang pertama diinginkan adalah wisata petualangan ( adventure), baru kemudian pilihannya wisata kuliner dan budaya. Respondent dari kedua kategori itu di total 52% yang prioritasnya wisata kuliner.
Pertengahan tahun 2019 lalu Booking.commelakukan riset online yang dilakukan secara independen terhadap 21.807 sampel responden berusia 16 tahun atau lebih (25% berusia 16-24 tahun) di 29 pasar termasuk Indonesia.
Riset itu mengungkapkan bahwa Gen Z adalah generasi yang paling mungkin untuk menjadi sukarelawan saat bepergian (37%), mereka percaya hal ini dapat membuat perjalanan lebih otentik karena mereka bisa bertemu dengan penduduk setempat, serta merasa bisa membawa perbedaan (49 %).
Lebih dari setengah (52%) traveler Gen Z mengatakan bahwa mereka berencana untuk mengunjungi destinasi yang kurang dikenal daripada destinasi populer jika itu dapat mengurangi dampak buruk lingkungan.
Enam dari sepuluh traveler (63%) akan menggunakan alat transportasi yang lebih ramah lingkungan begitu mereka tiba di destinasi. Gen Z lebih sadar kondisi lingkungan dan sosial daripada generasi sebelumnya.
Mereka juga berencana untuk menjadi traveler yang punya kesadaran dan keinginan untuk ‘berkontribusi’, baik kepada komunitas yang mereka kunjungi, atau dengan membuat keputusan yang dirancang untuk membantu melindungi bumi.
Volun-tourism (Traveling sambil berkontribusi langsung) adalah bagian dari Gen Z yang bertekad untuk berkontribusi, menjadikannya generasi yang paling tertarik untuk menjadi sukarelawan sebagai bagian dari pengalaman perjalanan (37% vs 31% dari rata-rata global).
Setengah (52%) dari Gen Z yang belum pernah menjadi sukarelawan ingin melakukannya untuk perjalanan dimasa depan (57% wanita vs 48% pria), dan hampir setengah Gen Z menyatakan bahwa penting bagi mereka untuk memberi kontribusi ke komunitas lokal saat bepergian (44%).
Gen Z menyatakan bahwa mereka memperhatikan dampak dari keputusan mereka terhadap bumi, dengan lebih dari setengah (54%) menyatakan bahwa dampak lingkungan dari perjalanan mereka adalah faktor penting yang perlu dipertimbangkan saat bepergian. Lebih dari setengahnya (52%) akan mengunjungi destinasi yang kurang dikenal daripada destinasi populer jika itu dapat mengurangi dampak buruk bagi lingkungan.
Namun, hal yang mengejutkan dari Gen Z adalah mereka mendapat nilai yang lebih rendah daripada generasi lain ketika berhubungan dengan overtourism (wisata yang berlebihan). 63% Gen Z akan mempertimbangkan untuk tidak mengunjungi sebuah destinasi jika itu akan membawa ancaman kerusakan lingkungan.
Sedangkan Baby Boomer yang berusia 55 tahun ke atas ( 67%), Gen X yang berusia 40-54 tahun dan Millennial yang berusia 25-39 tahun ( 65%) berada di peringkat lebih tinggi ( keduanya 65%)
Staf KBRI Stockholm sedang melayani perpanjangan paspor WNI di kota Malmo, Swedia.
MALMO, Swedia, bisniswisata.co.id: KBRI Stockholm telah mengadakan pelayanan “jemput bola” kepada WNI di Kota Malmö, Swedia. Pelayanan dilakukan bagi WNI yang hendak memperpanjang paspornya dan mendapatkan info lain seputar kekonsuleran.
Dubes RI untuk Swedia merangkap Latvia, Bagas Hapsoro, dalam kesempatan terpisah menyatakan bahwa pelayanan ini penting, mengingat semakin terbatasnya pergerakan warga di tengah pandemi Covid-19 yang terus meningkat di Swedia. “Pelayanan KBRI hadir di tengah-tengah WNI berada memang sudah tugas KBRI” ujar Dubes Bagas.
Adapun tim konsuler KBRI terdiri dari Pelaksana Fungsi Protokol dan Konsuler, Ernest Hadinoto menyatakan bahwa awalnya pelayanan ini direncanakan pada awal bulan April 2020, namun terpaksa mundur karena KBRI berusaha mematuhi anjuran Pemerintah setempat untuk tidak melakukan perjalanan antar kota.
“Karena banyak WNI di berbagai kota di selatan Swedia yang membutuhkan perpanjangan izin tinggal dalam waktu dekat, jadi kami lakukan kegiatan ini” ujar Ernest yang dibantu satu orang staf. Ernest juga menambahkan bahwa proses kegiatan tersebut tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian dan saling menjaga kesehatan satu sama lain.
“Yang datang sesuai jadwal yang ditetapkan dan harus perorangan, tidak bergerombol, dan semua mematuhi anjuran untuk mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, dan saling menjaga jarak. Ini agar semua tetap sehat” tambah Ernest.
Total sebanyak 33 WNI yang datang untuk melakukan perpanjangan paspor. Mengingat pandemi Covid-19 dan anjuran Pemerintah Swedia untuk tidak melakukan perjalanan antar kota, mempersulit WNI yang kiranya akan melakukan perpanjangan paspor dan kegiatan kekonsuleran lainnya.. Namun demikian, jila keadaan memungkinkan, KBRI Stockholm akan kembali mengadakan pelayanan yang sama di beberapa wilayah di Swedia.
Pemandangan kota Antalya yang cantik dan jadi desatinasi wisata utama di Turki ( Foto: Itaka)
ISTANBUL, bisniswisata.co.id: Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki, Mehmet Nuri Ersoy meluncurkan inisiatif yang akan mulai berlaku ketika pandemi melambat untuk memastikan keamanan banyak lokasi wisata Turki.
Di kutip dari TRT World, Ersoy menggagas inisiatif baru untuk mengeluarkan sertifikasi yang menyatakan tempat wisata di negara itu bebas virus corona ketika pandemi yang sedang berlangsung ini sudah mereda ditahapan normalisasi. Pemerintah yakin kasus-kasus Covid-19 di negara itu awal Mei jumlahnya turun.
Ersoy mengatakan fase normalisasi di Turki dapat dimulai pada minggu kedua Mei. Dia meyakinkan turis dan warga bahwa pemerintah Turki mengamati situasi dengan cermat. Perwakilan industri wisata bahkan berharap melihat sektor pariwisata bergerak pada akhir bulan suci Ramadhan.
Turki adalah salah satu tujuan wisata paling populer di dunia dengan puluhan juta wisman mengunjungi setiap tahun untuk mengalami situs bersejarah sejak ribuan tahun dan pantai Aegean yang masih asli, di antara atraksi lainnya.
Nantinya sertifikasi obyek wisata itu menjadi standar internasional dalam menghadapi proses normalisasi di seluruh dunia. Sistem sertifikasi akan mencakup tiga pilar: transportasi, fasilitas, dan penumpang yang menggunakan dua pilar sebelumnya.
Di bawah program tersebut, Ersoy menekankan pentingnya mensterilkan kendaraan, hotel, bandara, restoran, agensi, museum, dan situs bersejarah. Staf industri pariwisata juga perlu mendapatkan sertifikat kekebalan dan pelatihan pandemi.
Di dalam fasilitas, seperti hotel dan pantai, perlu ada ruang yang memadai untuk memastikan jarak sosial yang tepat, personel keselamatan, dan sistem kontrol termal untuk mengamati suhu wisatawan dan staf.
Sertifikat imunitas juga akan diperlukan bagi pengunjung internasional, Ersoy menjelaskan.“Ini mungkin akan menjadi contoh bagi dunia yang telah kami kembangkan secara bertahap memlibatkan semua LSM dalam komisi, untuk menyelesaikan sistem sertifikasi ini dengan cepat pada minggu pertama bulan Mei, katanya.
Industri pariwisata Turki pada tahun 2019 menerima kunjungan wisman sebanyak 51,8 juta orang yang mengunjungi Turki dan jumlahnya ditargetkan pada tahun 2020 sebagai bagian dari program Visit 2023. Pemerintah di Ankara berharap dapat menarik 75 juta wisatawan pada tahun 2023.
Istanbul, ibukota budaya dan bersejarah Turki, dan Antalya menjadi destinasi wisata utama yang paling banyak dikunjungi. Kedua kota ini menampung hampir 30 juta wisatawan tahun lalu.
Pariwisata global menghadapi tahun yang berat karena pandemi COVID-19 dengan penurunan kunjungan wisnan diprediksi turun 20%-30%. Perjalanan internasional telah dilanda pembatalan penerbangan oleh negara-negara yang terdampak..
TERIAKAN para pelaku industri pariwisata yang paling terpuruk bisnisnya di seluruh dunia makin keras. Komite Krisis Pariwisata Global UNWTO malah meminta pemerintah terutama negara-negara anggotanya jangan cuma mengobral kata-kata, tapi langsung ambil langkah pengamanan dengan cepat untuk menyelamatkan pariwisata yang menjadi tulang punggung perekonomian dunia.
Rupanya bukan para pekerja pariwisata di Indonesia saja yang gemes tidak bisa mengakses pendaftaran kartu Pra Kerja dan bantuan tunai langsung yang belum juga turun. Organisasi Badan Pariwisata Dunia di bawah PBB itu agaknya heran masih banyak negara yang sebatas diskusi terus dan terpaku pada Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, sedangkan Gugus Tugas Penanganan Ekonomi terabaikan.
Padahal dampak ekonomi maupun dampak sosial yang mengancam seharusnya juga ditangani secara pararel. Di Indonesia kini juga sudah ada warga Serang. Banten yang meninggal karena kelaparan. Beruntunglah warga jiran seperi Singapura yang bisa mendapat bantuan negara mencapai Rp 6,7 juta/ orang untuk bertahan hidup di tengah wabah yang mengglobal.
Omdo alias omong doang ternyata bukan jadi isu di tingkat warga saja. Nun di maskas UNWTO di Madrid, Spanyol, Zurab Pololikashvili, Sekretaris Jenderal UNWTO mengatakan kepada para pemimpin dunia bahwa obral kata alias ngomong doang tidak bisa menyelamatkan jutaan pekerjaan yang hilang akibat virus corona ( Covid-19) ini.
“Kata-kata saja dan gerak tubuh yang baik tidak akan cukup melindungi potensi kehilangan jutaan pekerjaan dari orang-orang yang hidupnya tergantung pada sektor pariwisata. Kami meminta pariwisata sekarang diberi dukungan yang tepat agar bisa memimpin upaya pemulihan,”
Di lain kesempatan Zurab Pololikashvili mengingatkan pemerintah yang terdampak Covid-19 cepat bangkit ( action) karena memulai tindakan nyata adalah hal yang penting agar dapat menghadapi tantangan ini bersama.
Dalam pertemuan daring ketiga Komite Krisis UNWTO pekan lalu, dia mendesak negara anggota untuk meningkatkan tekanan pada para pemimpin dunia guna memikirkan kembali kebijakan pajak, ketenagakerjaan dan lainnya yang berkaitan dengan pariwisata agar bisnis bisa bertahan dan mendorong upaya pemulihan yang lebih luas.
UNWTO mencatat laporan pembatasan perjalanan mencapai 96% dari semua tujuan di seluruh dunia baik yang menerapkan pembatasan penuh atau sebagian sejak akhir Januari. Akibatnya disektor ekonomi menjadi sangat parah karena tidak ada lagi pergerakan orang maupun bisnis.
Pololikashvili juga menyerukan kepada pemerintah untuk mencabut pembatasan seperti itu segera setelah aman. Hal ini dilakukan agar masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi dan sosial yang dibawa oleh aktivitas pariwisata.
Minggu ini dua acara webinar Zoom yang saya ikuti menghadirkan tokoh dalam dan luar negri juga menyoroti kondisi para pelaku pariwisata yang sekarat karena pandemi global Covid-19. Malapetaka yang belum pernah terjadi dan melumpuhkan perekonomian global ini harus disikapi dengan cepat.
Wakil Menteri Pariwisata RI di era Presiden SBY, Sapta Nirwandar menjadi moderator bahas tema Facing the Impact of Covid 19 and a Glimmer of Hope for the Tourism Industry, Rabu, 22 April lalu jam 16.00-18.00 waktu Jakarta.
Nara sumbernya adalah Sandra Cavao, Chief of Tourism Market Intelligence and Competitiveness, UN-WTO. Selain itu juga ada Giri Adnyani, Sesmen Parekraf dan Reem El Shafaki , Senior Associate, DinarStandard berbasis di AS.
Masih ada Ekaterina Kamalova, Program Director of Tatarstan Investment Development Agency yang juga Secretary of International economic summit “Russia-Islamic world: KazanSummit” Organizing Committee dan bintang tamu mantan Sekjen United Nation World Tourism Organitation (UNWTO) Thalib Rifai.
Empat nara sumber lainnya dari dalam negri adalah Hariyadi Sukamdani, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI) Chairman of PHRI (Indonesian Hotel and Restaurant Association), Denon B. Prawiraatmadja, Ketua Indonesia National Air Carriers Association (INACA).
Ada pengusaha travel Budi Tirtawisata, CEO of Panorama Group Tourism and Hospitality serta IB. Agung Partha Adnyana Ketua Bali Tourism Board/ GIPI Bali yang juga berpartisipasi pada webinar ini.
Sudah bisa ditebak, cerita dari AS, Eropa, Asia Pacifik termasuk Indonesia prinsipnya semua fokus pada wabah Covid-19 dan mengikuti standar protokol kesehatan World Health Organization ( WHO). Padahal semua kebijakan yang diambil juga punya dampak ekonomi dan sosial yang besar.
” Saat wabah, memang negara yang harus pro-aktif karena rekomendasi-rekomendasi sudah tersedia bahkan langkah-langkah siapa melakukan apa sudah ada panduannya juga termasuk bagaimana harus melindungi usaha dan para pegawainya,” kata Sandra Cavao.
Dalam waktu singkat, Covid-19 telah membuat industri wisata mengalami kemunduran 5-7 tahun ke belakang, kunjungan wisatawan dunia anjlok 30% dan kehilangan penerimaan US$ 250-400 milyar, atau kalau dari penerimaan devisa pariwisata dunia sudah hilang sepertiga dari US$ 1,5 triliun penerimaan di saat normal.
Data WHO terakhir 26 April 2020 ada 213 negara yang terpapar pandemi Covid-19, kasus terkonfirmasi sebanyak 2.810.325 orang dan jumlah kematian mencapai 193.825 orang.
Di dunia ini memang pernah terjadi wabah Sars tahun 2003, krisis ekonomi dunia tahun 2009, tapi bukan seluruh dunia yang mengalaminya. Dari dua kasus itu serta pengalaman menunjukkan ternyata industri pariwisata yang memulihkan kembali perekonomian dunia dalam 10 bulan, kata Sandra Cavao.
Bisa dimaklumi jika tingkat negara hingga individu masih tergagap-gagap menghadapi situasi saat ini, namun negara memang harus pro-aktif untuk gerak cepat membuat jaring pengaman ekonomi bentuk Gugus Kendali Ekonomi misalnya. Maklum di situasi ini mafia bermain, sebaliknya keran impor kenceng sampai-sampai gula sempat hilang dari peredaran.
Tak heran, mantan Sekjen UNWTO, Thalib Rifai yang beberapa kali berkunjung ke Indonesia saat webinar mengingatkan selamatkan nyawa orang juga selamatkan perekonomian sehingga aktivitas bisnis bisa jalan.
Dia juga minta pemerintah dimanapun jangan kelamaan mikir, 10% penghasilan negara harusnya langsung disisihkan negara untuk program pemulihan dari wabah pandemi global Covid-19 ini. Masyarakat harus yakin dalam situasi ” perang” ini mereka akan tetap aman karena adanya keberpihakan negara pada nasib rakyatnya.
Benar juga nih mister Thalib yang cinta Indonesia dan cinta produk batik.Tapi sayangnya di Indonesia para wakil rakyat yang dipilih rakyat dan punya komisi-komisi dari komisi I hingga XI. Mereka malah sibuk mengumpulkan sumbangan untuk melawan Covid-19.
Tiap komisi mestinya memikirkan uang negara dari mana saja yang bisa dialihkan untuk mengamankan perut rakyat, ketahanan pangan terjaga, ekonomi bisa jalan terus dan tugas lainnya sesuai tugas dan wewenang yaitu menyerap, menghimpun, menampung dan menindaklanjuti aspirasi rakyat.
Di Indonesia, Haryadi Sukamdani, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI) menjelaskan bahwa sejak teridentifikasi virus di awal Maret maka data 6 April sudah 430.000 karyawan hotel di rumahkan, 157.000 karyawan restoran mengalami nasib sama, 180 obyek wisata di tutup dan 232 desa wisata di seluruh Indonesia juga tutup.
Belum lagi terhitung supir angkutan wisata, pegawai travel agent, guide, pedagang souvenir dan semua usaha yang berhubungan dengan aktivitas wisatawan domestik maupun mancanegara.
Hari berikutnya, saya berpartisipasi pada Webinar MarkPlus Industry Roundtable Tourism and Hospitality Perspective. Kali ini temanya Surviving The Covid-19 Preparing The Post, Tourism & Hospitality Industry Perspective yang diselenggarakan pada siang ini, Jumat, 24 April 2020 pada jam 13:30-15:30 WIB.
Pembicaranya selain Hermawan Kartajaya: Founder & Chairman MarkPlus Tourism, Ni Wayan Giri Adnyani: Sekretaris Kementerian Parekraf. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, M.Si.: Wakil Gubernur Bali dan Zainal Arifin, S.IP: Bupati Magelang.
Di sesi dua ada Didien Junaedy: Ketua Umum GIPI, Ida Bagus Okanentru Agung Partha A, Ketua BTB, Indah Juanita, Direktur Utama Badan Otorita Borobudur, Denon B. Prawiraatmadja: Ketua Umum INACA, Dr. Nunung Rusmiati M.Si.: Ketua Umum ASITA. Dr. Drs. A. J. Bambang Soetanto, MM.: Ketua Umum PUTRI dan Maulana Yusran: Sekretaris Jenderal PHRI
“Bali menggantungkan sekitar 60% pendapatannya pada sektor pariwisata. Jadi, tidak ada satu pun orang di sini yang tidak berkaitan dengan pariwisata,” ujar Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati.
Kegiatan pariwisata memiliki multiplier yang luas dan ketika bicara soal pertaninan, hasil pertanian di Bali banyak yang terserap ke bisnis pariwisata. Salah satunya dengan didistribusikan ke hotel-hotel. Namun, kini petani juga merana karena penjualan lebih dari 140 ribu kamar hotel di Bali pun mengalami penurunan.
Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, Ida Bagus Oka Mentru Agung Partha, menambahkan sektor pariwisata Bali berpotensi merugi hingga US$ 9 miliar atau setara Rp 139 triliun (kurs Rp 15.500).
” Potential loss 2020 kurang lebih US$ 9 miliar. Yang paling besar adalah wisata tirta karena kebanyakan wisatawan China, Australia melakukan aktivitas wisata tirta hampir setiap hari atau 9.000-10.000per tahun,” ungkapnya.
Agung menjelaskan, anjloknya angka kunjungan wisatawan terus terjadi hingga per 13 April lalu, sektor pariwisata Bali turun hingga minus 93,24 %.”April ini kita sudah mencapai ke titik yang rendah dari bulan-bulan sebelumnya,”ucapnya.
Nasib industri penerbangan juga menyedihkan dimana 80% turis datang ke Indonesia dengan penerbangan. Dalam tiga bulan terakhir maskapai nasional merugi hingga Rp 2,2 triliun baik dari penerbangan domestik dan internasional, kata Denon Prawiraatmadja, Ketua Umum INACA.
Indonesia National Air Carriers Association (INACA) yang dipimpinnya mengalami total kerugian US$ 812 juta dalam 3 bulan untuk market domestik dan US$ 749 juta atau 1,2 triliun untuk internasional,” ungkapnya.
Kini disetopnya penerbangan penumpang hingga Juni 2020 membuat para maskapai harus merogoh kocek dalam-dalam lagi untuk menanggung beban biaya parkir pesawat mereka di bandara-bandara.
Hermawan Kertajaya, Founder & Chairman MarkPlus, mengatakan faktanya sektor pariwisata adalah sektor paling terdampak pandemi dan memiliki imbas kepada sektor lain. “Sekarang semua sadar ketika pariwisata stop, ekonomi juga stop. Semua baru sadar bahwa pariwisata adalah tulang punggung ekonomi. COVID-19 ini menarik, karena pariwisata tak akan pernah sama lagi,” kata Hermawan.
Sama seperti membaca up date resmi virus corona dari pemerintah yang tiap hari berubah, begitu pula kabar dari kalangan asosiasi pariwisata dan industri pendukung lainnya, tidak akan pernah sama lagi.
Tiba-tiba jadi ingat Doris Day, penyanyi legendaris Amerika Serikat yang tutup usai karena penyakit pneumonia, mirip-mirip penyakit Covid-19 yang menyerang paru-paru disebabkan oleh virus. Lirik lagu Que Sera Sera yang dinyanyikannya itu yang jadi makin bermakna.
Que sera, sera, what will be, will be ?. Que sera, sera, Whatever will be, will be , Apapun yang kan terjadi, terjadilah.
The future’s not ours to see. Kita tak tahu yang kan terjadi di masa depan. Que sera, sera, What will be, will be, Apapun yang kan terjadi, terjadilah atau kita bisa juga jangan menyerah begitu tapi what must we do now to make a better tomorrow ?.
AJAKAN Mas Menteri Parekraf Wishnutama kepada para Kepala Dinas Pariwisata di daerah agar segera mempersiapkan diri untuk menghadapi lonjakan wisatawan pasca pandemi COVID-19 sepertinya bukan sekedar ajakan rutin, bisa jadi ajakan yang strategis.
Mengapa demikian?
Pertama, produk pariwisata itu akar rumputnya berada di kabupaten dan kota karena itu yang bertanggung jawab atas perencanaan, pengembangan dan pemasarannya adalah Dinas Pariwisata bersama para pemangku kepentingan lainnya.
Kedua, berbeda dengan produk berupa barang, produk pariwisata harus dipandang sebagai sebuah totalitas atau disebut juga total touristexperience yang terdiri dari berbagai komponen seperti Atraksi wisata, Aksesibilitas, dan Amenities (triple A) bahkan unsur manusia juga melekat di dalam produk pariwisata.
Karena itu, untuk mempersiapkannya menjadi sebuah destinasi yang Aman, Nyaman dan Menarik untuk dikunjungi khususnya pasca pandemi COVID-19 nanti, memerlukan kerjasama lintas sektoral dan koordinasi derajat tinggi serta perencanaan yang matang termasuk waktu maupun biayanya.
Selanjutnya, penting untuk memahami perubahan-perubahan yang akan terjadi di pasar pasca COVID-19 diantaranya adalah “pasar domestik” akan menjadi pangsa yang potensial termasuk pelaku perjalanan bisnis dan kelompok milenial utk dijadikan target pasar.
Karena itu, pasca meredanya wabah COVID-19 nanti banyak destinasi wisata yang akan menawarkan paket-paket wisata murah sehingga destinasinya akan terposisi sebagai budget friendlydestination, posisi ini merupakan salah satu karakter pilihan dari pangsa pasar domestik.
Selain itu, kesadaran wisatawan akan pentingnya kebersihan, higenitas dan sanitasi juga akan semakin meningkat dan berpengaruh besar terhadap tasteand preference wisatawan dalam memilih destinasi atau produk wisata tertentu.
Tak kalah pentingnya yaitu merencanakan product mix atau bauran produk agar dapat menghadirkan paket-paket wisata baru yang relevan dengan selera dan pilihan pasar saat itu, misalnya single market with a multi product mix atau several market with single product for each dan berbagai kombinasi lainnya sesuai dengan target pasar dan keberadaan produknya.
Akhirnya, faktor yang turut mewarnai produk pariwisata adalah manusianya (SDM). Sunber daya manusia ini tidak hanya harus profesional di bidangnya, tetapi juga dapat menjadi host community yang tourist friendly. Ini tentu perlu dipersiapkan lewat berbagai kegiatan DIKLAT baik yang bersifat formal maupun non-formal.
Nah, ternyata memang memerlukan persiapan yang matang, terlebih lagi kita masih menghadapi *KETIDAKPASTIAN* terkait dengan pandemi COVID-19 ini. Maka perlu sejak dini menyiapkan semacam proactive scenario planning agar dapat diimplementasikan sesuai dengan kondisi yang akan datang.
Mungkin itulah alasan mengapa Mas Menteri Parekraf menghimbau kawan-kawan kita di Dinas Pariwisata untuk mempersiapkan rencana lebih awal untuk menghadapi lonjakan wisatawan pasca COVID-19 nanti.
A man who does not think and plan long ahead will find trouble right at his door (Confucius).
*Penulis adalah Alumnus Hospitality&Tourism University of Wisconsin
Pasca COVID-19, tren wisata akan berubah karena wisman pilih destinasi yang peduli ke ersihan dan kesehatan. ( Foto: Kemenpadekraf )
JAKARTA, bisniswisata.co.id: PASCA COVID-19, Perubahan tren akan berdampak positif bagi sektor pariwisata. Oleh karena itu, Kemenparekraf terus mempersiapkan perubahan tren baru berwisata atau kini disebut New Normal. Pandemi yang melanda hampir 200 negara termasuk Indonesia telah membawa perubahan dunia termasuk di sektor pariwisata.
” Kami terus mempersiapkan perubahan tren baru berwisata usai pandemi COVID-19 ” kata Ni Wayan Giri Adnyani, Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif , hari ini.
Berbicara pada diskusi virtual dengan tema Industry Roundtable Tourism and Hospitality Industry Perspective, Giri akan menyiapkan destinasi sesuai dengan kondisi new normal yaitu yang mengedepankan prinsip sustainabletourism termasuk didalamnya soal kesehatan, dan keamanan.
Ni Wayan Giri Adnyani juga menjelaskan, pemerintah membagi tiga tahapan dalam penanganan COVID-19 yakni masa tanggap darurat, pemulihan, dan normalisasi. Pemerintah juga telah merealokasi anggaran dan menerapkan program khusus selama masa tanggap darurat COVID-19.
“Realokasi akan diarahkan untuk berbagai macam program yang sifatnya pendukungan masa tanggap darurat untuk membantu sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Di forum ini juga kami meminta untuk bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam menghadapi situasi saat ini,” kata Ni Wayan Giri Adnyani.
Pada kesempatan yang sama, berbicara pula sebagai narasumber Founder & Chairman MarkPlus, Inc, Hermawan Kartajaya, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, serta Ketua GIPI Bali Ida Bagus Okanentru Agung Partha.
Hemawan mengatakan, sektor pariwisata adalah sektor paling terdampak pandemi dan memiliki imbas kepada sektor lain. “Sekarang semua sadar ketika pariwisata stop, ekonomi juga stop. Semua baru sadar bahwa pariwisata adalah tulang punggung ekonomi. COVID-19 ini menarik, karena pariwisata tak akan pernah sama lagi,” kata Hermawan.
Ia juga menilai, walau diterpa COVID-19, Bali menjadi contoh bagus dalam mengkombinasikan “God, people, nature” dalam sektor pariwisata. Karena ia memprediksi bahwa setelah COVID-19 akan semakin banyak wisatawan yang menuntut pariwisata tidak hanya dari segi harga, tetapi juga keberlangsungan lingkungan di destinasi tujuan.
Mereka menginginkan destinasi berkualitas dengan alam dan keamanan lebih baik, sistem mitigasi, di mana bisa terjadi dengan menggabungkan ketiga unsur tersebut.Kalau bicara bertahan atau surviving itu sudah pasti. Sekarang tinggal bicara preparing atau mempersiapkan ketika wisatawan kembali setelah COVID-19.
Bali jadi contoh dan punya ketahanan. Nusa Tenggara Barat juga sekarang sedang preparing karena melihat potensi di masa depan. Seperti yang sudah saya katakan, daerah-daerah tersebut sadar bahwa pariwisata adalah penggerak ekonomi,” kata Hermawan.
Salah satu lounge bagi frequent flyer penerbangan Emirates yang mewah. ( foto: Emirates)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Jika anda termasuk orang yang sering bepergian dan menjadi anggota klub airlines frequent flyer, tentu muncul pertanyaan bagaimana nasib status Anda sebagai penumpang elit di saat pandemi COVID-19. Benar, bahwa banyak hal lain yang jauh lebih penting dari itu untuk dirisaukan.
Namun, para anggota klub frequent flier juga merupakan warga dunia yang saat ini terjebak di rumah selama berminggu-minggu. Mereka tentu bertanya-tanya. Dikutip CNN International, silahkan l ihat saja kolom komentar dan pesan yang banyak muncul di blog-blog maskapai penerbangan atau biro-biro perjalanan.
Salah satu syarat untuk mempertahankan status elit para anggota klub frequent flier adalah sesering mungkin melakukan perjalanan. Saat ini, hal tersebut mustahil dilakukan karena hampir seluruh penerbangan dibatalkan.
Negara di dunia mengeluarkan perintah untuk tinggal di rumah dan menutup perbatasan. Keadaan ini membuat orang sulit untuk melakukan perjalanan, apalagi mempertahankan status elit mereka hingga 2021.
Sebelum pandemi COVID-19, pernah ada gangguan perjalanan tetapi tak pernah se-dahsyat ini dampaknya, yakni ketika terjadi tragedi 11 September (9/11) 2001 dan wabah SARS pada 2003. Saat itu keadaan masih memungkinkan maskapai penerbangan memperpanjang status penumpang elit secara otomatis dan pelonggaran minimum kualifikasi.
Namun, keadaan saat ini berbeda dan belum pernah terjadi sebelumnya. Banyak maskapai secara serentak membatalkan penerbangan dengan begitu dramatis, sehingga rasanya perjalanan betul-betul dihentikan. Kenyataan itu bahkan sudah terjadi di sejumlah tempat.
Jika Anda bertanya-tanya apakah maskapai penerbangan dan hotel memperpanjang manfaat para pelanggan pemegang status elit, maka inilah yang terjadi. Apa yang bisa dilakukan maskapai terhadap status elit para frequent flier?
Pembatasan perjalanan terkait virus Corona sudah mulai terasa sejak akhir Januari. Hingga beberapa hari lalu, maskapai penerbangan Amerika Serikat (AS) masih mengambil sikap (ini dapat dimengerti) wait and see terkait bagaimana menentukan status elit para frequent fliers untuk periode 2020/21.
Meski ada beragam cara untuk mendapatkan poin (miles) tanpa harus terbang, cara terbaik yang bisa dilakukan saat ini adalah menunggu dan mendengar informasi lebih lanjut dari maskapai.
Pembatasan penerbangan nampaknya akan berlanjut hingga musim semi, saat biasanya banyak orang malakukan perjalanan. Untuk itu, maskapai penerbangan dapat mengambil salah satu langkah berikut:
Perpanjang status loyalitas hingga 12 bulan
Longgarkan ketentuan kualifikasi minimum tahunan
Tawarkan diskon poin status untuk menjaga loyalitas berkelanjutan
Maskapai penerbangan Asia mulai mengambil langkah untuk memberlakukan kembali status elit para frequent flier pada Februari mendatang. Misalnya, Cathay Pacific yang menawarkan bantuan bagi anggota Marco Polo Club; dan memperpanjang sejumlah keuntungan bagi mereka hingga enam bulan.
Dunia menyaksikan apa yang dilakukan sejumlah maskapai di kawasan Asia Pasifik seperti Cathay, karena merekalah yang pertama terdampak COVID-19. Cara maskapai ini merespons keadaan memberi ide bagi penerbang yang sering melakukan perjalanan, tentang apa yang mereka harapkan dari maskapai lain.
Pada pertengahan Maret, maskapai penerbangan Australia Qantas mengumumkan status frequent flier secara otomatis diperpanjang selama 12 bulan. Dalam minggu ini, pengumuman serupa disampaikan maskapai AS.
Ketua ASTINDO, Elly Hutabarat ( Kiri) bersama anggotanya ketika menyelenggarakan travel Fair, Febuari lalu. Kini banyak pengusaha travel agent terpaksa tutup dan merumahkan karyawan.( Foto : Dok. Astindo)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Asosiasi Travel Agent Indonesia ( ASTINDO) ungkapkan penurunan volume penjualan tiket penerbangan turun lebih dari 90% dalam kurun waktu hampir 3 bulan (26 Januari-17 April 2020) sehingga pengusaha travel agent terpaksa tutup.
” Setelah persoalan Refund Tiket yang tidak bisa diuangkan, PSBB di berbagai wilayah dan pemberhentian operasional penerbangan 24 April -Juni mendatang maka lengkaplah penderitaan industri travel agent,” ujar Pauline Suharno, hari ini.
Travel agent telah mengambil langkah untuk melakukan efisiensi biaya dengan merumahkan karyawan tanpa digaji (unpaid leave), memutuskan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan kontrak dan sektor informal sampai memotong gaji karyawan.
Pauline mejelaskan bahwa tidak sedikit tenaga kerja yang mengandalkan upah harian di sektor pariwisata, contoh pramuwisata, supir angkutan wisata, pekerja pendukung event dan lainnya.
“Pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan terkait keringanan pajak, namun tidak cukup untuk meringankan beban baik pengusaha maupun karyawan di travel agent” ujar Pauline.
Menurut dia, tenaga kerja yang sudah dirumahkan dianjurkan untuk mendaftar kartu prakerja, namun ternyata pendaftaran kartu prakerja tidak semudah membuka rekening di bank. Mulai dari tidak mendapatkan verifikasi email sampai kegagalan mengunggah swafoto, mengakibatkan kartu prakerja tidak berdampak maksimal untuk pekerja di sektor pariwisata.
“ASTINDO mengusulkan agar dana BPJS Ketenagakerjaan dapat dicairkan sebagian, untuk kemudian diperhitungkan di kemudian hari saat tertanggung sudah tidak bekerja lagi. Hal ini dilakukan guna mempertahankan daya beli masyarakat dan meringankan beban tenaga kerja terdampak” kata Pauline.
Beberapa hari lalu Pemerintah menganjurkan pengusaha untuk mencari dana talangan dari bank guna membayar THR karyawan, alangkah baiknya bila Pemerintah pun turut mengeluarkan peraturan agar bank dapat menghapus bunga pinjaman untuk pemakaian selama pandemic Covid19, seperti yang dilakukan negara tetangga.
Di Negara Singapura, jelasnya, Pemerintah memberikan pinjaman lunak kepada seluruh sektor pariwisata. Termasuk restrukturisasi pinjaman terhadap pihak bank / leasing. Oleh karena itu akan sangat membantu jika Pemerintah mengeluarkan aturan untuk penangguhan pembayaran cicilan bagi pengusaha sektor pariwisata selama pandemic Covid19” tambah Pauline.
“Yang terjadi sekarang ini perusahaan leasing malah memberikan perhitungan yang tidak masuk akal kepada pengusaha travel agent yang meminta penangguhan pembayaran cicilan kendaraan untuk 2 bulan ke depan,”
Dalam keadaan normal, denda keterlambatan pembayaran selama 2 bulan hanya Rp 750.000 / unit, sedangkan untuk mendapatkan libur bayar cicilan, anggota kami malah diharuskan membayar Rp 2.300.000 / unit.
ASTINDO pun mengharapkan Pemerintah Pusat dapat memberikan instruksi kepada Pemerintah Daerah dan instansi terkait untuk menghapus iuran BPJS, pajak reklame, pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan bermotor, biaya utilitas mengingat operasional kantor berhenti total dan tidak adanya pemasukan selama pandemic Covid19.