Kemenparekraf Pastikan Insentif Bagi Pelaku Parekraf Tepat Sasaran

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus menindaklanjuti dan mengawal berbagai insentif untuk para pelaku di sektor pariwisata ekonomi kreatif agar tetap berjalan dengan baik dan tepat sasaran sebagai upaya menekan dampak wabah COVID-19.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio dalam pernyataannya, di Jakarta, hari ini, menjelaskan Kemenparekraf telah mengirimkan surat kepada Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian BUMN untuk menindaklanjuti kebijakan insentif dari pemerintah kepada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf).

“Kami terus mengawal, agar para pelaku parekraf bisa menerima insentif. Sehingga dapat meringankan beban dan biaya operasional para pelaku usaha sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, arahnya kemudian dapat mengurangi kemungkinan PHK karyawan di sektor tersebut,” ujarnya.

Insentif tersebut berupa pajak hingga kebijakan sektor keuangan oleh Industri Keuangan Bank (IKB) dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) bagi para debitur industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Kemudian ada juga, relaksasi kebijakan pemerintah daerah untuk wajib pajak di sektor pariwisata, relaksasi tarif listrik, dan penghapusan iuran BPJS Tenaga Kerja hingga 3 bulan setelah masa tanggap darurat dicabut.

“Termasuk insentif ekonomi. Saat ini, surat-surat tersebut sedang terus kami tindaklanjuti dan kami kawal,” kata Menparekraf Wishnutama.

Tidak hanya itu, kehadiran Kemenparekraf juga dirasakan oleh industri perhotelan dan transportasi. Kemenparekraf menggandeng pelaku usaha hotel dan transportasi untuk menyediakan layanannya demi membantu para tenaga kesehatan yang saat ini sedang berjuang di garda terdepan menghadapi COVID-19.

Wishnutama mengajak para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif untuk saling membantu, dalam menghadapi kondisi yang tidak mudah ini. Khusus untuk para pelaku sektor ekonomi kreatif, seperti televisi, film, rumah produksi, konten kreator, radio, animasi, desain grafis, artis, seniman, juga berbagai komunitas dan jejaring kreatif di berbagai daerah, agar aktif terlibat dalam membantu pemerintah menyosialisasikan edukasi hidup sehat kepada masyarakat dalam menghadapi COVID-19.

“Presiden menekankan bahwa pemerintah menaruh perhatian yang sangat besar pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai salah satu _leading sector_ perekonomian nasional, namun untuk menangani dampak COVID-19 ini diperlukan kerja sama dari berbagai pihak,” ujar Wishnutama.

Thai Lion Air Evakuasi 111 Warga Thailand

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id; PESAWAT Thai Lion Air Boeing 737-800NG, registrasi HS-LUH dengan nomor penerbangan SL-117 lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Selasa 7 April 2020 pada 14.10 WIB dan mendarat pada 17.20 waktu Indochina di Bandara Hat Yai, Distrik Khlong Hoi Khong, Songkhla, penghubung utama di Thailand bagian selatan. Pesawat yang mengangkut 111 warga Thailand tersebut meninggalkan Hat Yai pukul 19.10 dan mendarat di Don Mueang pada 20.20 waktu setempat.

Penerbangan tersebut menurut pihak Lion Air Group, beroperasi melayani misi kemanusiaan dan evakuasi (evacuation and humanitarian assistance) kepulanganwarga negara Thailand dari Indonesia, dampak dari wabah COVID-19).

Sebelum keberangkatan– rute Bangkok Don Mueang – Jakarta – Hat Yai – Don Mueang –, awak pesawat terdiri dari dua awak kokpit dan empat awak kabin menjalani pemeriksaan kesehatan serta diberikan penambahan vitamin daya tahan tubuh. Semua dinyatakan sehat (negatif COVID-19) dan laik untuk terbang (fit for flight).

Thai Lion Air menjalankan penerbangan tersebut sesuai standar operasional prosedur (SOP) berdasarkan aturan, yang tetap mengutamakan faktor keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan. Pelaksanaan penerbangan berpedoman kepada prinsip-prinsip dan standar operasional prosedur kesehatan dalam memastikan pengamanan kru yang bertugas dan penumpang.

Dalam tindakan pencegahan virus dimaksud pada operasional penerbangan, menerapkan rekomendasi dan melakukan penyemprotan cairan multiguna pembunuh kuman (disinfectant spray) sesuai prosedur yang berlaku serta menyediakan dan menggunakan masker dan alat pelindung diri (APD), sarung tangan (hand gloves) dan cairan/ gel pembersih tangan (hand sanitizer) guna antisipasi serta preventif.

Menurut SOP, selanjutnya pesawat yang digunakan Boeing 737-800NG, registrasi HS-LUH, sebelum keberangkatan dan setelah selesai melaksanakan penerbangan kemanusiaan dilakukan proses pembersihan, sterilisasi, penyemprotan, penggantian saringan udara kabin dan perawatan berkala selama beberapa hari.

Chairman of the Board Thai Lion Air, Capt. Darsito Hendro Seputro, menyatakan Thai Lion Air mendukung program kemanusiaan membawa warga Thailand yang berada di Indonesia. Thai Lion Air menerbangkan 111 penumpang dalam keadaan sehat.  Semua awak pesawat yang bertugas dalam penerbangan kemanusiaan akan mengikuti protokol kesehatan termasuk karantina sebagaimana yang sudah ditentukan dalam tindakan atau penanganan COVID-19. *

Kementrian Siapkan Langkah Strategis Bagi Pelaku Parekraf

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menparekraf Whisnutama tegaskan setelah hotel dan transportasi, giliran bantuan diprioritaskan bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di tanah air, termasuk menjalankan sejumlah  langkah strategis lainnya untuk mengatasi dampak COVID-19.

Berbicara  saat melakukan diskusi virtual dengan Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf), dia menjelaskan telah menyiapkan tiga tahapan untuk merespon dampak COVID-19 yaitu tanggap darurat, pemulihan (recovery), dan normalisasi.

“Di tahap tanggap darurat ini kami memberikan support kepada tenaga kesehatan untuk menyiapkan akomodasi, makanan, hingga transportasi. Karena tenaga kesehatan saat ini menjadi garda terdepan dalam penanganan kasus COVID-19 agar tidak meluas,” kata Wishnutama hari ini.

Pihaknya membutuhkan support yang luar biasa juga dari berbagai pihak mengingat sektor ini paling awal merasakan dampak wabah terkait yang ditandai dengan penurunan jumlah wisatawan dan pembatalan berbagai pagelaran seni. Kondisi ini membuat para seniman dan pekerja wisata banyak kehilangan mata pencaharian, katanya.

Wishnutama juga menjelaskan, pada tahap kedua yaitu pemulihan, pihaknya akan melakukan identifikasi dan berkoordinasi dengan Kementrian dan Lembaga lain untuk mengindentifikasi dampak secara detail akibat wabah COVID-19. Selanjutnya memberi dukungan kepada para pelaku parekraf dari sisi ketenagakerjaan, utilitas, keringanan retribusi, relaksasi pinjaman, pemanfaatan kartu pra kerja, hingga pelatihan online untuk SDM.

Terakhir, lanjut Menparekraf adalah tahap normalisasi yakni melakukan promosi kembali baik di dalam maupun luar negeri, hingga menyiapkan insentif untuk industri pariwisata sekaligus pelaku ekonomi kreatif.

Kemenparekraf juga akan kembali menyusun keterlibatan dalam agenda-agenda internasional dan kalender event nasional untuk menunjang kegiatan wisata. Selanjutnya, kembali membenahi destinasi khususnya dari sisi keamanan dan keselamatan, sumber daya manusia, serta daya tarik setiap destinasi.

“Dan yang harus kita pelajari nantinya adalah bagaimana psikologis para traveler yang berbeda-beda. Ada yang trauma dengan wabah COVID-19 ini. Ada juga pandangan traveler karena terlalu lama di rumah sudah ingin cepat-cepat keluar untuk berwisata. Kita ingin psikologi dan pandangan traveler yang seperti ini yang berkembang,” katanya.

Pada langkah awal pasca-pemulihan nantinya, Wishnutama menekankan pentingnya untuk lebih dahulu memobilisasi wisatawan nusantara (wisnus). Pergerakan wisnus akan menggerakan kembali perekonomian rakyat.

“Sudah tentu untuk tahap awal kita menggerakkan wisnus terlebih dahulu. Saya harap juga teman-teman wartawan, bersama-sama kita optimistis dan membantu menumbuhkan sikap positif hingga pandemi ini usai. Tentunya agar sektor pariwisata dan ekonomi kreatif ini kembali normal dalam waktu yang lebih cepat,” katanya.

Pusat Krisis

Kemenparekraf juga saat ini telah membuka jalur pengaduan dan pelaporan melalui call center dan website untuk melaporkan kondisi di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dan membentuk Pusat Krisis Terintegrasi. Semua itu untuk mengumpulkan masukan, data, keluhan, dan sebagainya sebagai dasar pertimbangan pengambilan kebijakan dalam upaya penanganan di situasi tanggap darurat saat ini.

“Pusat Krisis Terintegrasi akan melakukan pendataan informasi industri pariwisata dan ekonomi kreatif yang terdampak COVID-19 di seluruh daerah. Kemudian, bersama Pemda akan menerapkan rencana mitigasi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dalam menghadapi pandemi COVID-19,” katanya

Selain itu juga membuka forum daring untuk menjaring masukan dari para pelaku dan stakeholder pariwisata sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan dan langkah lanjutan.

Dalam diskusi virtual dengan Forwaparekraf tersebut, hadir pula sebagai narasumber Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani dan Ketua Umum Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Nunung Rusmiati.

Hariyadi Sukamdani menjelaskan, dari data yang masuk ke PHRI saat ini terdapat 1.266 hotel yang terpaksa tutup di 31 provinsi. Meski belum ada data spesifik mengenai jumlah karyawan yang terdampak penutupan hotel, ia memperkirakan sebanyak lebih dari 150 ribu karyawan yang berstatus cuti di luar tanggungan perusahaan.

“Kami terkendala di pendataan, pihak restoran masih banyak yang belum masuk. Data pekerja yang menuhi standar untuk mendapat bantuan hingga saat ini baru berkisar 74.101. Data tersebut kami prediksi bisa melebihi dari data karyawan yang masuk saat ini,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Nunung Rusmiati menjelaskan sejauh ini, pihaknya terus memonitor semua travel agen anggotanya yang berjumlah sekitar 7.000 di 34 provinsi. Dan terus berkoordinasi dengan seluruh DPD ASITA seluruh Indonesia untuk memantau perkembangan dampak dari wabah COVID-19 ini.

“Jadi mulai sekarang sudah ada yang mengurangi gaji karyawan sebanyak 25 persen. Bahkan travel sudah mengatakan, kalau keadaan seperti ini terus bisa sampai 50 persen. Alhamdulillah ada beberapa travel yang tidak mengurangi karyawan atau tidak melakukan PHK,” katanya.

Whisnutama: Kordinasi Jalan Terus Untuk Minimalkan Dampak Covid-19 Pada Pekerja di Sektor Parekraf

this formate

Roda ekonomi dimana sektor pariwisata paling awal terdampak wabah pandemi global Covid-19.( foto:Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisara.co.id:  Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan setiap hari berkoordinasi secara rutin dengan asosiasi pariwisata, Kementrian dan Lembaga lainnya menanggulangi dampak wabah virus corona di sektor pariwisata. 

” Tiap hari kami berkordinasi dengan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), industri lainnya, Kementrian dan Lembaga serta dengan para wakil rakyat di DPR-RI ” ujarnya, kemarin.

Berbicara pada diskusi virtual bersama 33 wartawan Forparekraf, Ketua PHRI, Haryadi Sukamdani  dan Ketua Asita, Nunung Rusmiati, Whisnutama menjelaskan bahwa Rapat Kerja dengan Komisi X DPR RI, Senin lalu membahas pengajuan realokasi anggaran Kemenparekraf.

“Awalnya relokasi anggaran Kemenparekraf Rp 500 miliar lalu keluar Kepres seluruh kementerian dan lembaga terkena penghematan sehingga secara total terkumpul dana Kemenparekraf mencapai  Rp1,07 triliun untuk mendukung penanganan covid,” kata Menparekraf diamini oleh Giri Adyani, Sesmenparekraf.

instansi yang dipimpinnya telah membentuk tim krisis kepariwisataan yang bertugas menanggulangi dampak wabah virus Corona dan satgas inilah yang mengumpulkan data dari yang terdampak, tambahnya.

Wishnutama mengakui agak kesulitan dalam meng-collect data.Oleh karena itu, dia meminta agar tim dapat kroscek kembali, sehingga tidak ada tumpang tindih data untuk diteruskan ke  Kementerian atau Lembaga terkait penanggulangan dampak.

Haryadi menjelaskan kendala di lapangan misalnya, saat ini, data dari PHRI menunjukkan, sebanyak 1.266 hotel di 31 provinsi tutup. Namun, diakui dalam laporan PHRI, pihaknya masih alami kendala dalam pengumpulannya karena hotel memodifikasi format standar, sehingga mempersulit penggabungan data. Selain itu, banyak kolom tidak diisi lengkap. 

“Adapun akibat dari data tidak sesuai format standard, dalam laporan PHRI disebutkan, sebanyak 24 hotel tidak bisa diproses dalam survei 25-29 Maret 2020 lalu. Kalangan restoran juga belum lengkap melaporkan sehingga bisa berdampak pada individu yang tidak masuk ke skema bantuan,” kata Haryadi.

Menurut Menparekraf, dia juga aktif  hadir bersama rapat kerja dengan Menteri terkait atau lembaga lainnya bersama organisasi profesi yang ada untuk menyampaikan kondisi saat ini.

“Pada rapat-rapat kordinasi antar Kementrian dan Lembaga usulan dari PHRI dan ASITA dalam hal kewajiban seperti pajak, ketenagakerjaan, utilitas, dan perbankan dalam tahap on-progress, dan didiskusikan dengan menteri atau lembaga terkait,”

Hariyadi Sukamdani berharap pemerintah segera melakukan penanggulangan seperti pemberian bantuan langsung tunai atau program Kartu Pra Kerja bagi pegawai hotel yang terdampak.

“Namun bantuan tersebut sebaiknya, secara keseluruhan diberikan tunai kepada pekerja, yaitu Rp 600.000 tunai dan Rp 1 juta yang tadinya untuk pelatihan,” 

Sejauh ini, PHRI telah berkomunikasi dengan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah terkait program Kartu Pra Kerja ini. Namun, menurut Ida, desain program Kartu Pra Kerja memang dibentuk dengan mekanisme pelatihan.

“Ini kita perlu diskusi lagi, saya minta selanjutnya akan berdiskusi lagi dengan teman-teman Kemenaker karena bantuan tersebut saat ini dibutuhkan oleh para pegawai hotel. Sementara itu, jika bantuan dalam bentuk pelatihan, uang akan lari dan masuk ke Balai Latihan Kerja dan para trainer,”

Hal lain yang masih harus dibahas adalah saat ini pemerintah masih mewajibkan pembayaran Tunjangan Hari Raya ( THR) , sementara 1226 hotel di 31 Provinsi sudah tutup karena kehilangan tamu dan merumahkan karyawan. Meski demikian hingga saat ini tidak akan ada PHK karena akan mempersulit perusahaan dalam membayar uang pesangon.

Ketua ASITA, Rusmiati pada kesempatan itu juga menjelaskan kondisi biro perjalanan wisata yang sekarat dan pemerintah diharapkan memberikan kredit lunak guna menjaga cash flow  agar bisa bertahan dengan tetap bisa membayar gaji pegawai serta operasional perusahaan dan THR.

Dari hasil survey yang di lakukan pada 17-21 Maret 2020 lalu disimpulkan bahwa 55,7% yang dari 7000 anggota ASITA mengalami hingga 100% penurunan penjualan atau sudah tidak ada lagi transaksi, sementara itu 35,7% mengalami penurunan sebanyak 75%. Dia juga meminta agar pemerintah memberikan keringanan pajak, biaya listrik, BPJS, dan retribusi lainnya. 

“Kami terus berkoordinasi dengan seluruh DPD ASITA seluruh Indonesia untuk memantau perkembangan dampak dari wabah Covid-19 ini,” kata Rusmiati

Hariyadi menambahkan pihaknya juga sudah meminta agar dana Jaminan Hari Tua ( JHT) bisa dicairkan saat ini.Selama ini, pencairannya dengan dua syarat, pegawai terkena Putusan Hubungan Kerja (PHK) dan atau meninggal dunia. Syarat lainnya para pegawai yang dapat mencairkan JHT tersebut adalah mereka yang telah bekerja selama 10 tahun.

“Opsi Ini yang kita mohonkan kepada pemerintah melalui Menko Perekonomian agar  dalam situasi ini, boleh dong dicairkan karena itu juga tabungannya pekerja. Ini untuk mereka bertahan hidup di kondisi buruk seperti sekarang,” jelasnya.

Menjawab pertanyaan pers, Whisnutama menegaskan pihaknya akan terus berkordinasi dengan  industri maupun asosiasi lainnya dan pasti ada langkah konkrit untuk meminomalisir dampak pandemi global Covid ini di sektor Parekraf.

“Kemenparekraf tidak mungkin berjalan sendiri melainkan harus bersama stakeholder jadi setelah membantu hotel dan usaga transoortasi kini kita menyiapkan bantuan pekerja sektor Parekraf dan pelatihan yang diberikan oleh BPJS Ketenagakerjaan,” 

 

Yuk Ciptakan Rasa Bahagia Meski Berwisata Virtual Lewat Indonesia.Travel 360º Images.

this formate

Keindahan Candi Prambanan di malam hari ( foto: Kemenparekraf).

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Tagar #WhenWeTravelAgain ramai dan menjadi populer di Twitter belakangan ini karena banyak negara menerapkan kebijakan agar masyarakatnya tidak bepergian atau traveling dan hanya melakukan aktivitas di rumah, sementara keinginan untuk berwisata di kalangan masyarakat tetap besar.

Sejak virus corona Covid-19 hadir di muka bumi ini, aktivitas berwisata sementara waktu memang mati suri. Padahal sedikitnya ada 7 Alasan mengapa berwisata membuat seseorang menjadi bahagia secara pribadi dan profesional. Hormon bahagia itulah yang saat ini sangat dibutuhkan dalam tubuh kita.

Agaknya memahami situasi ini, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf ) menyebarkan sejumlah link pada masyarakat untuk tetap bisa menjelajah keindahan negri kita dari rumah. Bagi yang rajin browsing, boleh juga kunjungi situsnya dan menikmati Indonesia.Travel 360º Images.

Coba liat yuk disini; 

1.Indonesia.Travel 360º Images https://www.indonesia.travel/id/en/image-360

2.Indonesia.Travel 360º Videos https://www.indonesia.travel/id/en/video-360

3.Google Art and Culture Indonesia https://artsandculture.google.com/project/wonders-of-indonesia

4.Indonesia.Travel YouTube Channel https://www.youtube.com/user/TheIndonesiaTravel

5.360indonesia Photo https://360indonesia.id/category/photo-360/

6.360indonesia Video https://360indonesia.id/category/video-360/ 

Online Museum:

1.Museum Nasional https://www.museumnasional.or.id/en/virtual-tour

2.Museum Bank Indonesia http://idvr360.com/vr360/museum/mbi/mbi.html

3.Museum Tsunami Aceh https://360indonesia.id/museum-tsunami-aceh-2/

4.Museum Kepresidenan Balai Kirti https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/muspres/

5.Museum Sumpah Pemuda http://museumsumpahpemuda.kemdikbud.go.id/

6.Museum Perumusan Naskah Proklamasi https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/mpnp/

7.Galeri Nasional https://galeri-nasional.or.id/

Bahagia menjadi syarat utama mereka yang positif terpapar virus Corona Covid-19, begitu juga yang  baru tahap suspect ( diduga kuat) , Orang Dalam Pemantauan ( ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus ini. Begitu pula bagi masyarakat yang hingga kini masih sehat walafiat.

Hadir dan ciptakan kebahagian dalam diri, jangan membiarkan rasa cemas dan takut. Meski kenyataannya hingga Senin (6/4/2020) pukul 12.00 WIB, diketahui secara total ada 2.491 kasus Covid-19 di Indonesia dan jumlah ini bertambah 218 kasus dalam 24 jam terakhir.

Nah, Penelitian telah membuktikan bahwa satu jalan menuju kebahagiaan adalah berwisata. Pada 2016, Konferensi Happiness 360 bekerja sama dengan Organisasi Pariwisata Dunia PBB ( UNWTO) menetapkan bahwa orang-orang yang paling bahagia di dunia lebih banyak berwisata.  

Kebahagiaan, yang didefinisikan sebagai kesejahteraan subjektif, adalah masalah yang sangat besar di sebagian besar lingkaran masyarakat. Padahal jawabannya sederhana karena semakin bahagia,  semakin sehat Anda. Begitu juga semakin sehat maka semakin kreatif dan produktif Anda jadinya.

Filsuf dan profesor A.C. Grayling merasa bahwa berwisata adalah kunci untuk memperluas pikiran dan jiwa. Dikutip dari traveltriangle.com, dia percaya kita mendidik diri kita sendiri dengan bepergian dan mengekspos diri kita pada ide-ide dan orang-orang baru.  

Berikut 7 alasan lain mengapa bepergian membuat Anda bahagia:

1.Traveling merangsang otak karena ketika kita bepergian mendapat pengalaman baru yang menjadi kunci untuk membangun jalur saraf baru di otak. Hasilnya menjadi lebih kreatif dan menerima ide-ide baru.  Inilah sebabnya mengapa perjalanan wisata membuat Anda bahagia.

2. Meningkatkan Hubungan. Orang yang paling bahagia adalah orang yang memiliki koneksi terkuat dengan orang lain, baik itu keluarga, teman atau masyarakat umum.  Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan hubungan ini adalah dengan bepergian bersama dan mengalami hal-hal baru bersama.

Stefan Klein, penulis The Science of Happiness, percaya bahwa kesenangan menemukan hal-hal baru dan kegembiraan yang datang dengan bertemu orang-orang baru atau sensasi dari wisata kuliner, makan makanan baru semua datang bersama-sama untuk menciptakan perasaan bahagia di setiap pelancong.

3.Membangun Koneksi. Perjalanan membuat kita bahagia, inilah alasannya.  Melalui perjalanan, Anda bisa bertemu orang-orang baru, orang-orang yang sebelumnya tidak akan pernah Anda temui.  Anda bisa menjalin hubungan baru dan mulai berkontribusi terhadap kebahagiaan Anda secara keseluruhan dalam hidup.

4.Pengalaman Lebih Berharga Daripada Benda. Penelitian telah menunjukkan bahwa kita lebih menghargai pengalaman kita daripada harta benda apa pun yang kita miliki.  Menghabiskan uang untuk pengalaman baru lebih penting daripada membeli sesuatu yang baru karena pengalaman itu tetap bersama Anda selamanya dan dibawa ke manapun Anda pergi. 

5.Memori yang baik-baik. Bukan hal yang aneh untuk mendengar kisah perjalanan orang dan membayangkan mereka memiliki pengalaman yang luar biasa. Suka dan duka berwisata mungkin ada, tapi saat berbagi cerita dengan orang lain kita cenderung meminimalkan bagian duka.

Anda mungkin jatuh sakit di perjalanan, tetapi bagian itu tidak diingat dalam beberapa tahun.  Sebaliknya, kenangan itu akan digantikan oleh bagian terbaik dari perjalanan. Inilah sebabnya bepergian membuat seseorang lebih bahagia.

6.Pengalaman perjalanan membuat cerita yang baik untuk dikenang. Semua kisah perjalanan adalah peluang besar untuk berbagi pengalaman  dengan orang lain dan berkat pengalaman berwisata bersama membangun koneksi yang lebih kuat.

7.Sulit membandingkan pengalaman perjalanan. Suka membandingkan diri dengan orang lain adalah penyebab utama ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan di zaman sekarang ini.  Oleh karena itu sulit untuk membandingkan pengalaman perjalanan ke Karibia dan perjalanan ke Asia, misalnya. Soalnya keduanya adalah pengalaman yang penting dan membuat Anda bahagia.

Nah bagaimana ?  yuk wisata virtual dulu dan ciptakan dulu rasa bahagia. Yakinlah Tagar #WhenWeTravelAgain bisa diwujudkan dan rencanakan saja setelah virus Corona hilang mau berwisata kemana.

 

COVID- 19 vs Revolusi Industri Gen 4.0 Pariwisata

this formate

BALI, bisniswisata.co.id:  Seiring  mendunianya wabah COVID-19 dalam hitungan hari, topik paling panas di seantero jagad adalah Stay Home You Safe Lifes. Jargon berupa tagar atau hashtag termasuk #DiRumahAja milik Indonesia dan #TravelTomorrow milik UNWTO, bertebaran.

Ada lagi jargon yang lain?

Ada, dan sedang viral di dunia adalah #WhenWeTravelAgain.

Editor perjalanan di Irish Independent bernama Pol O Conghaile @poloconghaile yang memulai tagar tersebut  di Twitter. Tagar ini mendapatkan banyak reaksi sebab menandakan kebebasan dan memberikan gambaran masa depan

Saya — mestinya semua kolega– sebagai pekerja pariwisata dan perhotelan mempunyai pertanyaan selanjutnya seperti:

Apakah dampak COVID-19 bagi Indonesia?

Kira-kira pola traveling pasca pandemi seperti apa ya?

Untuk ini, saya memikirkannya dari sudut pandang optimis #ExcitedForTomorrow. Saya menaruh harapan untuk esok hari, membuat cita-cita baru, yaitu new skills – menguasai beberapa keahlian baru selama masa karantina mandiri #DiRumahAja.

Di luar kesadaran kita, momentum wabah COVID-19 ini membuat kita semua mengerjakan banyak hal secara digital. Kita,  mulai dari pelajar yang harus belajar di rumah dan sebagian tutorialnya dengan cara tele-conference. Kemudian, pekerja dengan status WFH – Work From Home, pertemuan hariannya secara live tele-conference menggunakan tool Zoom dari masing-masing gadget.

Lebih jauh lagi, golongan menengah ke bawah, jadi belajar untuk berbisnis di lingkungannya. Sementara ojol dan beragam fasilitas digital makin menunjang banyak orang untuk belajar bisnis. Disini termasuk kita-kita yang pada belajar berbelanja konsumsi makanan melalui online. Situasi ini bisa terjadi karena dipaksa oleh keadaan harus tinggal di rumah plus jaga jarak aman.

Saya meyakini, pasca COVID-19, Indonesia akan aman, maju dan malah lebih  sehat.

Bisnis menyebar ke daerah, bisnis menengah ke bawah tumbuh, dan swadesi meningkat. Inilah yang saya sebut  konsep percepatan “digitalisasi revolusi industri gen 4.0 menggunakan momentum wabah COVID-19”.

Transaksi menggunakan uang fisik kertas dan koin akan jauh berkurang, karena sudah tersedia virtual payment gateway. Pembayaran instan tunai yang menguntungkan penjual karena cash flow tetap berjalan, dan memberi manfaat juga kepada pembeli karena tidak perlu menyimpan uang kembalian yang dicurigai mengandung banyak virus karena telah dipegang banyak tangan dalam peredarannya.

Mari kita lanjutkan fokus ke  pola traveling dan tuntutan traveler pasca COVID-19. Sudah pasti tuntutan traveler nomer satu terhadap suatu destinasi adalah sehat, aman dan nyaman. Ya urutan nomer satu menjadi “sehat” menggantikan yang sebelumnya “aman”.

Dengan mengusung pengetahuan tentang COVID-19 ini — melarang kita untuk menyentuh permukaan-permukaan barang, dan harus rajin cuci tangan — maka jalan keluarnya adalah “personalized all services” dan salah satunya adalah go digital.

Beragam teknologi untuk pelayanan sudah dipikirkan, dikembangkan dan tersedia saat ini. Untuk customer service dengan menghargai dan menjaga health concious customer, maka layanan harus dilakukan dalam jarak aman.

Jadi,  banyak barang cetakan yang berupa directory, informasi, promosi, menu restoran, menu room-service dan delivery service dan banyak lagi harus digitalkan. Kemudian materi digital tersebut bisa diakses langsung oleh customer dari handphone masing-masing. Inilah solusi gen 4.0 yag murah berfaedah dan memberikan kenyamanan kepada customer karena tidak perlu menyentuh barang yang sudah dipegang banyak orang. Kebiasaan sesuai generasi nya yang tadinya kita sebut hubbing, selfish karena tidak berinteraksi dengan orang lain, sekarang menjadi “sah”.

Untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 yang masih tergolong baru ini, diperlukan persiapan dan pelatihan khusus yang mendukung. Kita sudah mulai dibiasakan beribadah yang menampilkan pimpinan umat atau imam agama di rumah masing-masing dengan live-streaming. Kemudian ber-olah raga ala klub kebugaran pun dipandu dengan live streaming. Diantara banyak perusahaan yang terpuruk, saat ini bisnis penyedia jaringan internet yang meraup penghasilan paling tinggi sesuai kebutuhan masyarakat dunia.

Pernah merasakan kalau kita kehabisan pulsa? Pasti kitak tidak mau kejadian tersebut terulang lagi.

Saat ini, Indonesia sudah mulai menggarap revolusi industri 4.0, terlihat dari banyaknya perusahaan yang telah menerapkan sistem jaringan internet untuk memudahkan akses-akses informasi internal, pengawasan karyawan, sampai pembukuan. Pastilah perusahaan semacam itu, kita sebut dengan istilah smart company. Kita sudah terbiasa dengan smart phone dengan segala fiturnya bukan?

Di balik kemudahan standar era kekinian yang kita rasakan di era komunikasi ini,  dalam revolusi industri 4.0, ada 9 teknologi yang menjadi pilar utama untuk mengembangkan sebuah industri biasa, menuju industri yang siap digital.

Saya percaya banyak diantra kita yang telah mendengar sampai paham bahkan telah bekerja sama dengan piranti robotic ini.  Diantaranya adalah:

1. Internet of Things (IoT)

2. Big Data

3. Argumented Reality (AR)

4. Cyber Security

5. Artifical Intelegence

6. Addictive Manufacturing

7. Simulation

8. System Integeration

9. Cloud Computing

Nah, pasca pandemic COVID-19, perilaku dan kebiasaan orang seluruh dunia akan berubah menjadi new normal.  Salah satunya adalah kita sendiri dan jangan ragu lagi untuk bekerja sama dengan robot. Robot bukan untuk menggantikan manusia apalagi customer service di industri pariwisata, tetapi cara kerja robot dengan memori buatannya mempermudah banyak pekerjaan manusia terutama perkerjaan yang sama dilakukan berulang.

Jadi tunggu apalagi mari #ExcitedForTomorrow, bersiap #WhenWeTravelAgain sambil menguasai #NewSkills pada saat wabah yang harus kita waspadai dan jalani telah berlalu. *Jeffrey Wibisono V.

ICPI Minta Stakesholder Peka Cari Solusi Pariwisata Pasca Covid-19 

this formate

Wisman menikmati keindahan alam Indonesia sekaligus mencari serenity atau ketenangan diri (foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Prof.Azril Azahari Ph.D, meminta seluruh stakesholder pariwisata kompak cari solusi pengembangan pariwisata Indonesia pasca pandemi global Covid 19.

“Mewabahnya pandemi Covid-19 membawa dampak krisis global keseluruh dunia termasuk industri pariwisata. Untuk itu jangan sampai salah menerapkan kebijakan. Aksi preventif adalah terbaik dari kuratif atau menyembuhkan,” ujarnya hari ini melalui WhatsApp.

Menurut dia, kebijakan awal saat pandemi ini terjadi pada Febuari lalu dengan mengeluarkan kebijakan insentif Pemerintah tanggal 25 Februari 2020 (hotel & tiket pesawat) justru membuka peluang meningkatnya berwisata  baik bagi wisatawan nusantara ( wisnus) maupun wisman mancanegara ( (Wisman).

“Kebijakan ini adalah bentuk ketidakpekaan atas pandemi Covid-19 dunia, karena hanya mengejar target jumlah (kuantitas) pergerakan wisatawan dalam negri ( wisnus) dan kunjungan wisman,” kata Azril Azahari.

Mengapa Pemerintah dianggap tidak peka karena masih berorientasi pada target kuantitatif & ekonomi, dan ini bukanlah tindakan preventif atas pandemi Covid-19, karena malah membuka celah “imported cases”.

Dia juga menyayangkan sejak awal Maret 2020 hanya beberapa pemerintah daerah yang menutup sebagian destinasi pariwisata. Tindakan yang bisa dianggap setengah hati karena tidak dilakukan dari awal Februari untuk semua penutupan obyek-obyek wisata dan seluruh event di destinasi wisata Indonesia

Kondisi saat ini seharusnya membuat stakesholder terutama pemerintah harus sadar bahwa paradigma pariwisata dunia telah bergeser dari paradigma lama yaitu 3 S=Sun, Sand, Sea menuju paradigma Baru yaitu 3 S=Serenity, Spirituaity, Sustainability,” ungkapnya.

Pariwisata menguasai alam (nature) guna menikmati keindahan fisik alam (tangible) dan pariwisata selaras dengan alam guna mencari kedamaian batin (spirituality & intangible) guna menikmati kesenangan (enjoy) serta mencari ketenangan diri (serenity).

” Pariwisata masal hanya sesaat dan targetnya pada kuantitas. Kondisi sekarang dengan adanya pandemi global tidak bisa mengejar jumlah. Sebaliknya harus berorientasi pada pariwisata berbasis kualitas yang berkelanjutan (sustainability),” 

Langkah Penyelamatan

Untuk itu, jara Azril, sedikitnya ada 7 langkah penyelamatan yang harus dilakukan yaitu : 1.Lakukan disinfektan seluruh destinasi pariwisata, (termasuk  akomodasi & lojing seperti hotel dll), sehingga mampu menimbulkan kepercayaan lagi bahwa seluruh destinasi dan akomodasi pariwisata di Indonesia sudah terbebaskan dari sumber Covid-19 dan aman.

” Langkah ke dua yang harus diberikan insentif adalah para pelaku usaha pariwisata yang sudah terbebankan sangat berat, seperti  relaksasi pajak PPh 25, relaksasi kredit (angsuran dan bunga), stimulus utilitas seperti listrik,”

Saat ini yang dibantu oleh Kemenparekraf justru usaha besar yang masih memiliki daya sensitivitas sampai 3 bulan, sementara usaha menengah sekitar 1-2 bulan, namun yang sangat berdampak adalah UMKM Pariwisata yang harus diprioritaskan mendapatkan bantuan.

Itulah sebabnya langkah penyelamatan ke 3 adalah memberikan bantuan kepada UMKM Pariwisata seperti Bantuan Langsung Tunai ( BLT), terutama bagi usaha yang memiliki pendapatan harian.

Langkah ke 4 berikan bantuan kepada karyawan dengan memberikan, seperti: Stimulus pajak PPH 21, BLT, Bantuan Sosial, Bantuan Pangan dan Stimulus BPJS yang selama ini oleh perusahaan. 

Point 5 yang harus dilakukan adalah segera perbaiki dan fokus pada kelemahan Daya Saing Pariwisata kita selama ini (WEF, 2015, 2017, 2019) yaitu: Healthy & Hygiene, Safety & Security, Environmental Sustainability dan Tourist Service Infrastructure.

Azril juga mengingatkan pemerintah untuk meningkatkan daya tarik pariwisata dan saatnya mengevaluasi kembali penentuan 10 KEK dan 5 Destinasi Super Prioritas, dengan berfokus pada daya tarik bagi pengunjung sebagai langkah ke enam yang diusulkannya.

“Daya tarik itu keunikan (Uniqueness)keotentikan (Authenticity) masing-masing destinasi sesuai dengan kearifan lokal dan juga Attraction artinya adalah daya tarik bukan atraksi. Daya tarik dan atraksi itu berbeda,” jelasnya.

Solusi terakhir atau ke tujuh adalah menyatukan persepsi bahwa ada pergeseran target yang tidak lagi pada jumlah kunjungan wisman tapi pada kontribusi sektor pariwusata terhadap Produk Domestik Bruto ( PDB) negara.

” Kita harus punya Big Data, riilnya tenaga Kerja yang bisa diserap oleh  sektor pariwisata itu berapa ?. Kita juga harus benahi data  investasi pada sektor pariwisata berapa,” kata ketua Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia ini.

Segera benahi sektor pariwisata bersama BPS sehingga menjadi sektor mandiri yang tersendiri. Jadi tidak bergabung dengan sektor lain seperti yang berlaku selama ini sehingga sektor penghasil devisa ini bisa dikelola secara berkelanjutan, kata Azril

 

COVID-19, Jan Praba & Lukisan Kopi 

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.idWabah Covid-19 yang melanda dunia, dan anjuran para ulama serta umara untuk kita tetetap tinggal di rumah untuk waktu yang sudah ditentukan, nyatanya memang berdampak luas. 

Pelajar tak bisa pergi ke sekolah, pegawai tak bisa bisa ke kantor, tempat-tempat wisata ditutup, dan banyak rencana kerja yang sudah disiapkan matang terpaksa gagal dilaksanakan atau ditunda pengelenggaraannya. 

Dampak ini juga dirasakan oleh Jan Praba, seorang perupa di Jakarta dan Ketua Komunitas Pelukis Kopi Indonesia atau Coffee Painter Indonesia (CPI) yang juga mantan President Persatuan Kartunis Indonesia.

“Kami, 30 orang perupa yang tergabung dalam Komunitas, berencana menggelar pameran bertajuk ‘Coffee in CultureHeritage #2’ di Museum Seni Rupa dan Keramik di kawasan wisata Kota Tua Jakarta, dan sedianya diresmikan pada tanggal 21 Maret 2020,” ungkap Jan Praba yang juga aktivis Sanggar Lukis Garajas.

Tapi seperti kita ketahui, wabah Covid-19 melanda termasuk di sekujur wilayah Indonesia. Dan kita semua sepakat dengan anjuran para ulama/agamawan serta umara atau pemerintah untuk #saveStayHome, tinggal di rumah sambil terus bekerja.

Hal ini sebagai usaha memutus rantai penyebaran virus corona yang bisa menyerang siapa saja, tak peduli pejabat dan selebriti ataupun seniman yang tak punya gaji tetap. Maka, pameran pun gagal digelar. “Persisnya, kami tunda, menunggu hari baik untuk digelar lagi,” ucap Jan Praba, optimistis.

Sebagaimana yang pertama, pameran ‘Coffee in CultureHeritage #2’ digagas untuk mencatat serta mendokumentasikan peninggalan sejarah dan budaya yang ada dan berkembang di Indonesia. Untuk itu, Jan sudah menyiapkan dua buah lukisan dengan obyek sosok wayang Bima, satu dari lima persaudaraan Pandawa. 

Sebuah lukisan berukuran 75 x 120 Cm bertajuk Bersih – Tegas – Berani, sebuah lagi berukuran 75 x 150 Cm bertajuk “Two Version of Bima”. Yang menarik, sebagaimana juga karya lain yang kelak dipamerkan, kedua lukisan karya Jan  dilukis menggunakan media kopi. 

Pesona ampas minuman

Indonesia merupakan negara penghasil produk biji kopi terbesar keempat setelah Brazil, Vietman dan Kolombia. Dimana-mana orang suka ngopi. Bubuk kopi mudah didapat, bahkan di kampung-kampung di pinggir hutan dan gunung. 

Banyak pedagang asongan menawarkan kopi hangat di tempat-tempat keramaian ataupun taman kota, harganya segelas tak sampai Rp 5000. “Setelah kita teguk habis, ampasnya di dasar gelas bisa kita gunakan untuk melukis di atas kanvas,” ungkap Jan sederhana.

Melukis dengan menggunakan air dari ampas kopi bukan hal baru. Di luar negeri ataupun dalam negeri, sejak lama seniman melakukannya. “Tapi sebagai komunitas, saya kira…Coffee Painter Indonesia ( CPI) hadir sebagai yang pertama,” ungkap Jan Praba.

Dideklarasikan pada 1 Oktober 2018 bertepatan dengan International Coffee Day, Coffee Painter Indonesia sedikitnya telah menggelar tiga kali pameran di Jakarta, yakni pameran bertajuk Ekspresi Nuansa Kopi di Smesta Gallery pada November 2018, Coffee in CulturalHeritage di Museum Seni Rupa & Keramik pada 9 Februari 2019, dan Coffee in Hero di Museum Basoeki Abdullah pada bukan November 2019. 

Di luar itu, CPI juga bergiat di berbagai kegiatan. Kerap diminta untuk demo dan berekspresi di berbagai perayaan dan acara wisata, termasuk kegiatan ‘mengajar’ secara gratis kepada masyarakat, keluarga dan anak-anak ihwal bagaimana memanfaatkan bekas minuman kopi yang sudah habis diteguk ayah atau ibu, dan menjadikannya zat pewarna pengganti cat air atau watercolor berwarna sephia. 

Sama dengan cara melukis konvensional, yang menggunakan cat atau pinsil,  kapur warna serta potongan arang, melukis dengan media kopi amat mudah di lakukan. Tingal menyiapkan lembar media datar seperti kertas kwarto ataupun folio, atau kanvas bila sudah mulai mahir.

Kemudian bentuklah suatu gambar yang kita inginkan dengan menggunakan pewarna dari cairan kopi, bisa yang pekat ataupun agak encer dan encer sekali, tergantung nuansa gambar yang kita inginkan. 

Ujung kuas, atau batang lidi yang sudah dipenuhi cairan itu lantas disapu di atas kanvas yang ada. hingga muncul gambar yang kita inginkan. “Kami siap bila diminta untuk berbagi pengetahuan,” kata Jan. 

Karya berharga

Saat ini aktivitas melukis memang cenderung kita fahami sebagai kegiatan menggambar sesuatu di atas kertas atau kanvas, dengan pensil pewarna, tinta atau produk zat pewarna yang kita kenal sebagai cat. Padahal kita tahu, sejarah seni lukis lahir jauh sebelum masyarakat budaya menghasilkan tinta, pensil ataupun cat. 

Pada lempeng batu-baru atau dinding goa misalnya, para akreolog menemukan gambar-gambar hasil tangan-tangan manusia purba, yang mencoret atau menoreh gambar-gambar khas dari bahan lumpur ataupun cairan warna alamiah yang didapat di permukaan bumi di dekat situ.

Pada perkembangannya, kita juga tahu, orang lantas menggambar atau mendokumentasikan sesuatu bentuk di alam dengan menorehkan batu runcing atau arang kayu yang hitam legam, sampai kemudian ditemukan budaya sabak (batu tulis), kertas, pena bulu angsa, tinta, pensil warna-warni, lembar kain kanvas, dan juga ragam cat modern.

Namun ada hal yang tidak berobah, yakni seni menggambar atau melukis selalu menggunakan alat untuk melukis (pensil, pena, kuas atau tongkat lukis), media datar (juga cembung atau cekung) sebagai tempat untuk menggambar, serta cairan tertentu untuk menghadirkan gambar sesuai imaji dan fantasi artistik si pembuat gambar.

“Sekarang ini, siapapun yang ingin melukis, bisa dengan mudah membeli dan mendapatkan alat-alat lukis. Tapi tidak demikian dengan masyarakat di desa apalagi yang berkampung nun jauh di pinggir hutan dan gunung,” 

Cat khusus untuk melukis masih merupakan sesuatu yang susah didapat, disamping harganya yang relatif mahal. Pada situasi seperti ini maka kopi bisa menjadi alternatif baru untuk melukis.

Namun begitu Jan menegaskan bahwa penggunaan bubuk biji kopi sebagai dasar pewarna, tidak dimaksud untuk menggantikan fungsi cat. “Ada atau tidak ada gerakan melukis dengan kopi, cat atapun tinta akan tetap dicari dan digunakan orang untuk menggambar atau melukis,” katanya.

Sama dengan cara melukis menggunakan cat air, butuh teknik dan ketelatenan tersendiri untuk mahir memulas atau menutulkan warna pada kertas atau kanvas yang digunakan. Tapi semua itu bisa dipelajari. Lupakan dulu soal bakat, yang penting punya minat. 

Jika tak punya minat, mengerjakan apapun tak kan pernah berhasil. “Tak ada batasan umur. Anak-anak ataupun orang tua, asal bisa pegang kuas atau pensil, silakan menggambar dengan ampas kopi sekalipun,” lanjutnya sederhana.

Ngomong-ngomong berapa harga lukisan kopi dengan obyek Bima di atas? Jan Tak menjawab. Tapi beberapa bulan lalu, dalam sebuah ajang wisata di Jakarta, sebuah lukisan kopi karya Jan Praba bertema Semar, dijinjing pulang seorang kolektor ke negeri asalnya, setelah ‘menukar’nya dengan kocek Rp 20juta. 

 

Masyarakat Antusias Ikuti Gerakan Masker Kain

this formate

Mbak Angela Tanoesoedibjo, Wakil Menparekraf ( kedua dari kanan) membiasakan diri dengan memakai masker kain cegah penyebaran virus Covid 19.( foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id:Masyarakat di berbagai wilayah di tanah air antusias dan merespon positif Gerakan Masker Kain yang diinisiasi untuk tujuan menekan penyebaran COVID-19 di Indonesia.

Juru Bicara Satgas COVID-19 Kementerian Pariwisara dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Ari Juliano Gema dalam pernyataanya di Jakarta, hari ini, mengatakan, masyarakat merespons positif gerakan masker kain.

“Respons tersebut terlihat dari banyaknya masyarakat yang mengunggah foto menggunakan masker kain di laman sosial media mereka,” kata Ari.

Senada disampaikan Plt. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf Josua Puji Mulia Simanjuntak yang mengapresiasi antusiasme masyarakat melalui laman media sosial terkait gerakan tersebut.

“Banyak yang merespons. Semua lapisan masyarakat dan para pelaku ekonomi kreatif juga merespons positif dan men-tag ke akun instagram @kemenparekraf dan akun Menparekraf @wishnutama,” kata Josua Puji Mulia Simanjuntak

Josua menjelaskan, penggunaan masker kain dianggap cukup memadai bagi mereka yang sehat. Maka dengan semakin banyaknya masyarakat menggunakan masker kain, ketersediaan masker medis akan cenderung mudah didapatkan oleh mereka yang lebih membutuhkan termasuk tenaga medis, pasien ODP, PDP, dan positif COVID-19.

“Masker yang terbuat dari kain ini telah diteliti cukup untuk meminimalisasi kontak langsung dengan debu, virus, dan droplets di luar rumah jika memang tidak dapat melakukan Work From Home dan harus berinteraksi dengan banyak orang,” katanya.

Josua juga mengatakan, pemerintah dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini mendorong semua orang memakai masker saat keluar rumah. Hal tersebut lantaran efek positif memakai masker dalam mencegah penyebaran virus Corona.

“Masyarakat terus diimbau, untuk tetap jaga kesehatan dengan menggunakan masker. Kami tentu melihat keadaan penggunaan masker, baik buatan sendiri maupun masker kain, di tingkat masyarakat dapat membantu mencegah penyebaran COVID-19” ujarnya.

Sebelumnya, Kemenparekraf juga mengajak para pelaku ekonomi kreatif khususnya desainer lokal untuk berpartisipasi dalam Gerakan Masker Kain.Gerakan ini bertekad bisa memproduksi 100.000 masker kain yang akan dibagikan kepada masyarakat untuk menekan penyebaran COVID-19 di Indonesia.

Gerakan tersebut diperuntukkan bagi para pelaku atau desainer lokal subsektor fesyen di Indonesia, diinisiasi dan dimotori oleh Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf.

Pentingnya Mengelola Work from Home Dengan Baik

this formate

Work from Home juga perlu dikelola waktu dan manajemennya dengan baik. (foto: hashmicro.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Apakah Anda mengelola tim yang bekerja dari rumah di berbagai zona waktu?  Dalam konteks peristiwa terkini di bawah tekanan wabah pandemi global Covid-19,  semua anggota tim menghadapi situasi yang sama, tapi keadaan setiap orang berbeda.  

Agar kebijakan Work from Home (WfH) berjalan lancar, Robert Kostecki, Group Manager for the Six Senses host-run Mission Wellness initiative dari jaringan hotel Six Sense Hotels Resorts Spa memberikan 6 tips agar Anda bisa memimpin jarak jauh dengan sepenuh hati dan punya perhatian besar pasa tim.

Sebagai manajer tim yang hebat, Anda mungkin telah memahami semua ini, tetapi mengapa tidak menandai sebagai  pengingat bagaimana memimpin dengan perhatian dan empati yang lebih serta berlatih untuk mengasihani diri sendiri juga ?. 

Meski berjauhan dan bekerja di tempat masing-masing kelola semangat tim Anda dengan rasa empati yang tulus. Berempati adalah sifat penting bagi pemimpin manapun, baik di kantor fisik maupun pojok kerja anggota tim. Para pemimpin perlu menyadari bahwa pojok kerja mereka itu membutuhkan lebih banyak empati karena kurangnya kedekatan fisik.

Misalnya, hanya karena salah satu anggota tim  tidak menjawab telepon Anda pada dering pertama, tidak berarti mereka tidak bekerja.  Komunikasi elektronik seringkali lebih ambigu daripada komunikasi tatap muka karena begitu banyak cara kita berkomunikasi terjadi dengan bahasa tubuh dan mata kita.  

Hal Ini dapat menyebabkan para pemimpin salah menafsirkan komunikasi digital seperti email dan WhatsApp.  Pemimpin yang mengenali hal ini dan mempraktikkan empati dan kesabaran, malah melompat ke kesimpulan lain tentang nada atau niat seseorang membantu menumbuhkan lingkungan kepercayaan, keterbukaan, dan peningkatan kinerja.

Komunikasi teratur

WfH  dapat membuat anggota tim merasa terputus dari pimpinan, kolega, dan dari apa yang terjadi di perusahaan.  Para pemimpin tim jarak jauh perlu mengatasi hal ini dengan komunikasi teratur, menjaga agar kolega terlibat, terhubung dan mendapat informasi yang mengarah pada kualitas kerja dan peningkatan produktivitas yang lebih baik. 

Cari peluang untuk membuat banyak titik kontak sepanjang minggu dengan cara yang bekerja untuk semua orang. Buat juga persyaratan sehingga harapan menjadi jelas. Gunanya untuk menghindari kesalahpahaman dan asumsi.  Ini hal yang umum bahkan dalam tim hebat dapat diperkuat ketika orang bekerja dari jarak jauh. 

Bersikap hati-hati akan membuat persyaratan dan harapan Anda jelas, dan dorong tim untuk merangkum pemahaman mereka, mengajukan pertanyaan atau mencari kejelasan.  

Setelah setuju dan jadwalkan check-in reguler untuk bertukar pikiran baru, meninjau kemajuan (atau mengubah arah atau prioritas) dan memastikan pekerja jarak jauh selalu up-to-speed pada setiap keputusan atau tindakan yang mungkin berdampak pada pekerjaan mereka.  

Intinya membangun dialog yang berkelanjutan akan mencegah kesalahan besar di kemudian hari. Tapi  juga harus mendorong tim untuk mengomunikasikan kebutuhan atau pertanyaan mereka sehingga mereka dapat tetap pada tugas dan memenuhi komitmen mereka.

 Bersikap  fleksibel

Meskipun mungkin terdengar kontra-intuitif, kerja jarak jauh mengarah pada peningkatan produktivitas jika rekan kerja didukung untuk menemukan ritme dan rutinitas yang sesuai untuk mereka.  

Beberapa orang bekerja paling baik dengan bangun pagi.  Lainnya merasa efektif bekerja antara jam 19.00 hingga 23.00 malam dan polanya mungkin bukan pola Anda.  Biarkan tim Anda memaksimalkan jadwal mereka sendiri di sekitar pekerjaan dan percaya mereka untuk melakukannya.

Soalnya  jika Anda terus-menerus khawatir tentang apakah anggota tim menjadi produktif, ada masalah kepercayaan yang lebih besar yang perlu diatasi dalam diri Anda sendiri.

Salah satu masalah terbesar yang dihadapi tim jarak jauh adalah kurangnya kepercayaan.  Jika Anda ingin membangun tim berkinerja tinggi berdasarkan rasa saling percaya dan saling menghormati, pilihannya terserah Anda apakah mau menjadi panutan ?.

Hal yang perlu dipertimbangkan bisakah tim Anda mengandalkan Anda untuk terbuka dan transparan? Apakah umpan balik Anda menunjukkan rasa hormat kepada orang lain?

Apakah Anda menunjukkan etos kerja yang mirip dengan apa yang Anda minta dari tim Anda? Jika tim Anda tidak merasa percayai pada bos sendiri dan Anda tidak memperhatikan kepentingan terbaik mereka, motivasi, komitmen maka produktivitas mereka akan menukik.

Para pemimpin memainkan peran penting dalam memastikan tim mereka memiliki keseimbangan kehidupan kerja dan jangan merasa mereka harus siap sepanjang waktu.  Dorong kolega Anda untuk mengatur jam kerja yang sesuai dengan istirahat dan dipatuhi.

Luangkan waktu untuk memeriksa bagaimana perasaan tim Anda dan juga bagaimana kemajuan pekerjaan mereka, dan cari tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan saat bekerja dari rumah. Semua itu harys dilakukan dengan penuh perhatian dan empati. Mudah bukan ?.