Larangan di Cabut, Warga AS Bisa Lakukan Perjalanan Internasional.

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Amerika Serikat merupakan salah satu pasar wisatawan Indonesia. Tahun 2019,  wisman dari Amerika Serikat yang berkunjung terutama ke Bali dan destinasi wisata lainnya total mencapai  457,8 ribu orang.

Selama pandemi global, Amerika masih menjadi negara dengan kasus tertinggi COVID-19. Namun meski demikian Departemen Luar Negeri AS tidak lagi menyarankan orang Amerika untuk menghindari perjalanan internasional selama pandemi COVID-19.

Dilansir dari travelpulse.com, Deplu AS sudah mencabut peringatan Level 4 (dilarang bepergian) Kamis lalu. Setelah empat setengah bulan sejak 19 Maret 2020 warga AS dilarang bepergian maka kini sudah ada 20 negara yang boleh dikunjungi warga AS, namun hanya satu di Asia Tenggara yaitu Kamboja.

Selebihnya daftar tersebut adalah Antigua & Barbuda, Aruba. Bahamas, Barbados, Bermuda, Croasia, Dominica, Republik Dominica, Mesir, French Polynesia, Jamaica, Maldive, Mexico, Rwanda, St Barts & Grenadines, Turki, Turks & Caicos di Portugal.

Dengan menghapuskan peringatan perjalanan itu, Departemen Luar Negeri memberikan rincian lebih lanjut kepada para pelancong tentang tujuan individu sehingga mereka dapat membuat keputusan yang lebih tepat sebelum bepergian ke luar negeri.

Dengan kondisi kesehatan dan keselamatan yang membaik di beberapa negara dan berpotensi memburuk di negara lain, Departemen kembali ke sistem sebelumnya.

Memberikan saran perjalanan khusus ke sejumlah negara dan memberikan informasi rinci agar dapat ditindaklanjuti kepada wisatawan untuk membuat keputusan perjalanan yang terinformasi.

Deplu juga akan memberikan informasi yang lebih rinci kepada warga AS tentang status saat ini di setiap negara “Kami terus menyarankan warga AS untuk berhati-hati saat bepergian ke luar negeri karena sifat pandemi yang tidak dapat diprediksi.” kata satu pejabat Deplu AS.

Pencabutan larangan perjalanan Tingkat 4 dari Deplu AS Departemen sangat penting karena penasihat tertinggi telah merekomendasikan warha terap di rumah.

Warga AS terap diminta untuk menghindari semua perjalanan ke luar negeri dan menyarankan semua orang Amerika di luar negeri untuk kembali ke rumah atau bersiap untuk tetap di tempat di masa mendatang.

Kebijakan ini darang karena sudah banya negara membuka lebih banyak perbatasan dibuka kembali dan layanan penerbangan dilanjutkan untuk perjalanan internasional.

Meskipun demikian, AS tetap menjadi salah satu negara yang paling terpukul di tengah pandemi COVID-19 oleh karenanya orang Amerika masih terbatas melakukan liburan musim panasnya.

PWI adakan Anugerah Jurnalistik Adinegoro jelang Hari Pers Nasional

this formate
“Ini terbuka bagi semua wartawan yang bekerja secara aktif pada satu perusahaan media massa cetak, televisi, radio, atau media siber,” kata Ketua Panitia Tetap Anugerah Jurnalistik Adinegoro Rita Sri Hastuti melalui keterangan pers yang diterima di Jakarta, Senin.

Rita yang juga Wakil Pemimpin Umum portal berita wisata www.bisniswisata.co.id  mengatakan Anugerah Jurnalistik Adinegoro tersebut diberikan kepada wartawan yang telah terseleksi melalui karya-karya jurnalistik yang sudah dimuat, ditayangkan atau disiarkan sepanjang 2020.

Ada enam kategori yang ditetapkan untuk Anugerah Jurnalistik Adinegoro itu, antara lain adalah indepth reporting atau liputan berkedalaman untuk media cetak (AA1), liputan berkedalaman untuk media siber (AA2), liputan berkedalaman untuk media televisi (AA3), liputan berkedalaman untuk media radio (AA4), foto berita untuk media cetak dan media siber (AA5) serta karikatur opini untuk media cetak dan media siber (AA6).

Adapun pemenang untuk setiap kategori dalam penganugerahan tersebut akan mendapatkan hadiah Rp50 juta, trofi, serta piagam penghargaan dari PWI atau Panitia HPN 2021.

Para peserta, kata Rita, akan dinilai berdasarkan karya-karya yang sudah dipublikasikan, ditayangkan, atau disiarkan pada media cetak, media siber, media televisi, atau media radio periode 1 Desember 2019 hingga 30 November 2020.

Ia menekankan bahwa karya indepth reporting atau liputan berkedalaman baik media cetak, media siber, media televisi, maupun media radio tidak boleh bersambung atau tidak berseri.

Sementara itu, untuk pengiriman karya-karya jurnalistik dalam proses seleksi, Rita menyampaikan beberapa persyaratan, antara lain bahwa setiap wartawan dari satu media dapat mengirimkan maksimal 5 karya per kategori, dan catatan lainnya adalah bahwa satu media boleh mengirimkan maksimal 15 karya dari setiap kategori.

Persyaratan berikutnya yang perlu dipatuhi dalam pengiriman adalah bahwa karya liputan berkedalaman pada media cetak, media siber, media televisi dan media radio wajib disertakan alamat tautan karya melalui Google Form atau formulir pendaftaran yang bisa diakses melalui alamat tautan, https://bit.ly/2PB4ugT.

Kemudian, karya foto dan karikatur di media cetak atau media siber wajib dikirimkan dalam bentuk soft file beserta caption atau keterangan yang diunggah pada Google Form atau formulir pendaftaran yang bisa diakses melalui tautan tersebut di atas.

Seluruh karya dari seluruh kategori wajib disertai sinopsis atau cerita singkat sebanyak 2-3 paragraf mengenai isi dan proses pembuatannya. Khusus untuk karya televisi dan radio perlu disebutkan pula jam tayang program bersama sinopsis.

Setiap peserta, kata Rita, wajib mengisi formulir dengan menyertakan salinan identitas diri berupa kartu karyawan dan surat pengantar dari redaksi.

Khusus untuk televisi, karya minimal harus dalam format minimal 720p (HD). Jika ukuran file lebih dari 100MB, maka karya tersebut wajib dikirimkan melalui layanan streaming video seperti Youtube, vidio.com atau lewat layanan penyimpanan data seperti gdrive, dropbox dan sejenisnya.

Caranya, kata dia, cukup hanya menuliskan atau menyertakan alamat tautan di bagian form daring yang sudah ditentukan. Ia juga meminta peserta untuk memastikan agar alamat tautannya bisa diakses oleh panitia dan dewan juri.

Untuk batas pengiriman, Rita mengatakan bahwa seluruh peserta sudah bisa mengirim karyanya mulai hari ini (10/8) hingga batas akhir pada 30 November 2020.

Dewan juri dalam Lomba Anugerah Jurnalistik Adinegoro tersebut terdiri atas tokoh pers, pengamat dan akademisi yang menguasai bidang jurnalistik sesuai kriteria penilaian dan bekerja secara profesional.

Sementara itu, informasi lebih lanjut tentang pendaftaran dapat menghubungi Pantap Anugerah Adinegoro 2020-2023 Katherina M Saukoly dengan nomor WhatsApp (WA) 0812-8699-3551, Widya dengan nomor WA 0812-1490-3421 atau 021-3453131 dan bisa juga melalui email dengan alamat anugerahjurnalistik.adinegoro@gmail.com.

Adapun untuk penjurian, kata dia, akan berlangsung pada Desember 2020 hingga Januari 2021. Dan menurut rencana, penyerahan Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2020 akan dilangsungkan di stasiun televisi TVRI menjelang acara puncak HPN.

Singapura Kerahkan Drone untuk Pantau Penerapan Jarak Sosial.

this formate

Singapura Gunakan Drone Pantau Jarak Sosial (foto: skift)

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Teknologi drone ternyata memberi banyak manfaat di era pandemi COVID-19. Meski kehadirannya kerap menjadi momok, terutama bagi dunia penerbangan, wahana terbang tanpa awak berbentuk mirip helikopter ini terbukti lebih memberi berkah ketimbang kutukan bagi industri perjalanan. 

Di Skotlandia, misalnya, drone telah diuji coba untuk menerbangkan peralatan dan sampel medis ke sekitar 90 pulau. 

Hal terkini yang  terjadi di Singapura, negara kepulauan terkecil di Asia Tenggara itu telah memanfaatkan drone untuk memantau penerapan kebijakan jarak sosial. Jadi, waspadalah! Orang-orang di Singapura yang berdiri terlalu dekat antara satu dengan yang lain akan terpantau dari atas oleh drone.

Polisi Singapura telah menguji coba pesawat tanpa awak yang dikembangkan oleh perusahaan asal Israel, Airobotics, untuk membantu mengawasi kebijakan jaga jarak sosial dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19.

Hal itu dikonfirmasi Badan Sains dan Teknologi Singapura, Home Team Science & Technology Agency (HTX), yang mengakui telah menguji coba drone tersebut dengan polisi.

Drone seberat 10 kg ini telah diprogram untuk melacak peristiwa anomali seperti adanya kerumunan warga. Data direkam untuk kemudian dikirim ke polisi. Senior insinyur HTX, Low Hsien Meng, mengatakan drone tersebut dapat menentukan lokasi dan memperbesar area yang mungkin tidak terlihat petugas saat berpatroli di dalam kendaraan.

“Khusus untuk COVID, apa yang kami lakukan adalah membantu mereka mempertahankan operasi normal. Pandemi menciptakan situasi yang mungkin menyulitkan polisi untuk bekerja secara normal,” kata CEO Airobotics, Ran Krauss kepada Reuters. Uji coba pemantauan jarak sosial masih berlangsung.

Airobotics, yang telah mengumpulkan pendanaan 120 juta dolar AS atau setara Rp 1,75 triliun dan perusahaan itu mengatakan telah menginvestasikan sekitar 100 juta dolar AS (sekitar Rp 1,4 triliun) untuk mengembangkan drone tersebut. Airobotics menyewakan drone itu ke HTX dan juga untuk keperluan bisnis serta industri di Israel dan Amerika Serikat.

Airobotics dan HTX telah memulai tahap berikutnya untuk mengeksplorasi kemampuan lebih lanjut, termasuk menggunakan drone untuk mengirimkan defibrillator jika diperlukan.

Singapura, yang terkenal dengan undang-undang yang ketat dan pengawasan yang luas, awalnya mendapat pujian global karena berhasil menahan penyebaran virus corona sebelum wabah tersebut menyebar di asrama pekerja migran yang membuat jumlah kasus di negara tersebut meningkat tajam.

Krauss mengatakan Airobotics sedang dalam pembicaraan dengan kota-kota lain dunia untuk mengoperasikan drone milik mereka.

Setelah Singapura mengerahkan Drone untuk Pantau Penerapan Jarak Sosial. Akankah ide Ini diikuti berbagai provinsi dan daerah tujuan wisata di Indonesia ?. 

 

Gerakan BISA Merambah Kawasan Curug Cinulang Jawa Barat

this formate

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf ( batik) menyemangati pelaku pariwisata di Curug Cinulang ( Foto: Kemenparekraf )

CICALENGKA, Jabar, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar gerakan bersih, indah, sehat, dan aman (BISA) di destinasi wisata Curug Cinulang, Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menyambut masa adaptasi kebiasaan baru.

Pada pembukaan gerakan BISA Curug Cinulang pada 7 Agustus 2020, Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kemenparekraf/Baparekraf, R. Kurleni Ukar mengatakan gerakan BISA dirancang Kemenparekraf/Baparekraf sebagai upaya mewujudkan nilai-nilai Sapta Pesona dengan menumbuhkan rasa gotong royong untuk menjaga kebersihan, keindahan, dan keamanan di destinasi.

Wisatawan akan memilih destinasi yang bersih, aman dan nyaman di masa adaptasi kebiasaan baru. “Melalui gerakan BISA, kita mendorong perbaikan indikator kesehatan dan kebersihan, serta keamanan dan keselamatan di lingkungan destinasi pariwisata untuk peningkatan peringkat Travel & Tourism Competitiveness Index (TTCI),” kata Kurleni.

Selain itu, ia menuturkan program ini juga dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dan sosialisasi bagi para pelaku pariwisata di Jawa Barat, terutama di sekitar Curug Cinulang agar mereka selalu menerapkan protokol kesehatan.

“Melalui gerakan ini, kami ingin mempersiapkan destinasi wisata untuk dapat beradaptasi dengan kebiasaan baru dan mengajak masyarakat untuk selalu menerapkan protokol kesehatan,” katanya.

Direktur Pengendalian Kebijakan Strategis Kemenparekraf/Baparekraf, Hassan Abud, mengungkapkan sampai saat ini Deputi Bidang Kebijakan Strategis telah memberdayakan tenaga kerja bidang parekraf yang terdampak COVID-19 dalam kegiatan semacam padat karya di 35 lokasi di Indonesia melalui Gerakan BISA.

‘Kebersihan dan jaminan kesehatan adalah faktor utama yang menjadi penilaian wisatawan pada masa adaptasi kebiasaan baru. Jadi, ekonomi harus terus berjalan dengan menerapkan protokol kesehatan sehingga dapat tetap produktif dan aman,” ucap Hassan.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf, menyampaikan, area-area pariwisata alam akan semakin menarik dan berkesan jika ada tantangan dan perjuangan untuk mencapainya.

“Untuk itu, kita harus bisa menjaga kearifan lokal, menjaga budaya dan mengungkapkan cerita menarik terkait daerah ini. Semoga pandemi ini segera berakhir agar sektor pariwisata dapat pulih seperti sediakala dan kita harus optimistis bisa melalui masa pandemi ini,” ujar Dede.

Adapun kegiatan dalam acara ini adalah pembuatan penampungan sampah sementara di kawasan wisata Curug Cinulang diadakan diskusi antara Kemenparekraf/Baparekraf, jajaran Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Bandung, beserta Komisi X DPR RI yang diwakili Dede Yusuf dengan pelaku pariwisata.

Kemenparekraf/Baparekraf juga menyerahkan bantuan secara simbolis berupa alat kebersihan dan bergotong royong membersihkan lokasi Curug Cinulang bersama masyarakat sekitar.

Acara ini mendapat respons positif dari perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Bandung, Yoharman Samsu. “Terimakasih atas dukungan Kemenparekraf dan Komisi X atas pelaksanaan Gerakan BISA di Curug Cinulang ini, semoga dengan gerakan BISA kita termotivasi untuk selalu menjaga kebersihan tempat ini,” ungkap Yoharman.

 

Aman dengan “Safe Travel”, Tenang Bersama “Cathay Care”

this formate

HONGKONG, bisniswisata.co.id: Pekan ini Cathay Pacific meluncurkan Cathay Care, dengan memperkenalkan beberapa langkah pencegahan yang disempurnakan pada setiap tahapan perjalanan –mulai dari check-in hingga dalam kabin selama perjalanan, sehingga penumpang dapat terbang dengan tenang.

“Di Cathay Pacific, berkomitmen untuk selalu memprioritaskan kesehatan dan keselamatan seluruh penumpang, awak kabin, dan staf kami. Kami mengerti kekhawatiran dan tututan keselamatan bagi semua pihak,” ucap Chris Bowden, Cathay Pacific Country Manager Indonesia.

Pihaknya memperkenalkan beberapa langkah pencegahan yang disempurnakan pada setiap tahapan perjalanan –mulai dari check-in hingga dalam kabin sehingga mereka dapat terbang dengan tenang.

Langkah-langkah yang diterapkan dari proses check-in dan masuk pesawat tanpa kontak. Pernyataan kesehatan pada saat check-in, kewajiban memakai penutup wajah selama penerbangan, dan aturan menginap yang ketat untuk awak kabin.

Cathay Pacific memprioritaskan penumpang di dalam pesawat dengan mewajibkan memakai penutup wajah selama penerbangan, memastikan suhu tubuh semua penumpang telah dicek, juga disinfektasi penutup kursi jika memungkinkan.

Cathay Pacific , mengatur ulang alur layanan dan sanitasi untuk meyakinkan bahwa penumpang terlindungi di udara, dengan sanitasi menyeluruh pada semua permukaan di lingkungan kabin.

Begitu pula dalam menyediakan layanan makan yang dimodifikasi dan dirancang untuk mengurangi kontak dengan awak kabin, serta menutup sementara layanan makanan ringan dan minuman yang sudah disediakan sebelumnya.

Semua pesawat juga dilengkapi dengan penyaring HEPA yang menghilangkan 99.999% kontaminasi udara. Selain itu, seluruh penyaring juga meresirkulasi udara setiap dua menit dengan performa yang setara dengan penyaring yang digunakan di kamar operasi rumah sakit dan ruang bersih di kawasan industri.

Mewajibkan, awak kabin Cathay Pacific mengikuti prosedur keselamatan untuk melindungi kesehatan seluruh penumpang di dalam pesawat dengan mengenakan masker, sarung tangan dan kacamata pelindung yang disediakan untuk semua awak kabin.

Selain itu juga menerapkan aturan menginap yang ketat termasuk tidak ada kontak dengan komunitas lokal dan pengawasan kesehatan.

Safe Travel Campaign

Sementara di rute domestik nusantara, Lion Group memulai kampanye kenyamanan dan keselamatan perjalanan (Safe Travel Campaign) pada penerbangan Kualanamu ke Soekarno-Hatta dengan nomor penerbangan Batik Air ID-6891, Minggu  (9/8).

Kampanye menurut Chief Executive Officer (CEO) Batik Air, Capt. Achmad Luthfie mengusung konsep #SafeTrip #SafeFlight #SafeHealth.  Safe Travel Campaign menjadi bagian tindakan preventif dan antisipasi utama mengenai masa waspada pandemi COVID-19.

Langkah tersebut merupakan rangkaian program rutin dalam menyampaikan berbagai informasi penting terhadap aspek keselamatan dan keamanan penerbangan, terutama berkaitan dengan sisi kesehatan serta kepentingan manusia (human interest) yang mencakup dari karyawan/ staf dan pengguna jasa penerbangan atau publik.

Semua awak pesawat yang aktif terbang sudah melakukan uji atau tes kesehatan dengan hasil negative .  Pemeriksaan kesehatan awak pesawat tetap dilakukan sebelum penerbangan (pre-flight health check).

Hal ini untuk menentukan kondisi sehat serta laik terbang (airworthy for flight). Semua pesawat sebelum terbang dilaksanakan penyemperotan desinfektan, dalam upaya memastikan sterilisasi dan kebersihan pesawat,

Peningkatan kegiatan kebersihan pesawat udara secara berkala dengan metode Aircraft Exterior and Interior Cleaning (AEIC), meliputi ruang kemudi (flight deck); dapur (galley); kamar kecil (lavatories), termasuk pintu, pegangan pintu, wastafel dan tempat sampah; alas makan dan pegangannya.

AEIC juga mencakup fasilitas hiburan (in-flight entertainment) termasuk remote control; pegangan pembuka rak bagasi kabin (luggage storage bin handle); overhead lighting, ventilasi udara dan call button.

Begitu pula halnya untuk sandaran kursi; penutup tempat duduk (seat covers); sabuk pengaman (seatbelts); sandaran kepala tempat duduk (seat headrests); karpet lantai; jendela dan penutup jendela; fasilitas penumpang lainnya; dan ruang kargo (cargo compartment).

Pesawat jet Airbus dan Boeing yang dioperasikan termasuk kategori generasi modern yang memiliki sistem penyaringan udara kabin yang dilengkapi High Efficiency Particulate Air (HEPA) filter.

Menjaga kebersihan dan sterilisasi juga berlaku untuk peralatan pendukung seperti kendaraan pendorong pesawat (pushback car), bus penghubung (neoplane), tangga masuk pesawat untuk penumpang dan kargo, kendaraan pengangkut barang dan kargo.

Mengoptimalkan pengaturan jarak aman antar penumpang (physical distancing) dalam kabin pesawat pada penerbangan, yang tetap memperhatikan aspek keselamatan penerbangan.

Mengurangi interaksi langsung (contactless) antara sesama awak pesawat, antara sesama teknisi, antara sesama FOO, antara sesama ground staff serta dengan  penumpang, jelas Capt. Achmad Luthfie.

Kedung Ombo, Saksi Bisu Mega Proyek dan Simbol Cinta.

this formate

Keindahan Waduk Kedung Ombo, PLTA dan irigasi untuk 70 ha sawah disekitarnya. ( Foto: Kemenpar)

BOYOLALI, bisniswisata.co.id:  Waduk Kedung Ombo (WKO) menjadi tujuan berikutnya setelah liputan gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Aman) di Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan atas undangan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf).

Jalan mulus beraspal menuju WKO yang berfungsi sebagai irigasi dan wanawisata ini kami lewati menggunakan kendaraan pribadi. Sebuah waduk yang merupakan bendungan raksasa di Jawa Tengah. Waduk ini memiliki luas 6.576 hektare dan berada di tiga wilayah, yakni Kabupaten Boyolali, Grobogan dan Sragen.

Entah karena hari kerja, WKO yang berada di wilayah Boyolali terletak di Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu ini terkesan sepi pengunjung padahal konon sangat potensial di bidang pariwisata. 

Pinggir Waduk Kedung Ombo berkesan kumuh dan aktivitas warga dengan perahu motor dan pemandangan keramba ikan di atas danau waduk.

Saat tiba di pinggiran waduk, mas Abri, wartawan senior yang satu rombongan berjalan lebih dulu, seperti mengenang peristiwa 35 tahun silam saat saya bahkan belum lahir. Pembangunan waduk raksasa yang berkembang jadi obyek wisata ini pada masanya memang cukup heboh.

Generasi milenial seperti saya cuma bisa browsing dan ternyata proyek ini menenggelamkan 37 Desa. Di balik keindahannya sebagai tempat wisata, pembangunan waduk itu di era Presiden Soeharto dan sebanyak 5.268 keluarga pada saat itu kehilangan tempat tinggal. 

Sedikitnya 600 warga merasa ganti rugi yang diterimanya sangat kecil. Mereka pun juga mendapat teror, intimidasi, dan kekerasan fisik akibat perlawanan terhadap proyek pembangunan waduk. Pada akhirnya, warga yang bertahan terpaksa tinggal di tengah-tengah genangan air.

Kasus Kedung Ombo adalah peristiwa penolakan penggusuran dan pemindahan lokasi permukiman oleh warga karena tanahnya akan dijadikan Waduk Kedung Ombo. Pada tahun 1985 pemerintah merencanakan untuk pembangkit tenaga listrik berkekuatan 22,5 megawatt dan dapat menampung air untuk kebutuhan 70 hektare sawah disekitarnya. 

Pembangunan Waduk Kedung Ombo ini dibiayai US$ 156 juta dari Bank Dunia, US$ 25,2 juta dari Bank Exim Jepang, dan APBN, dimulai tahun 1985 sampai dengan tahun 1989.

Saat kami datang, kawasan pinggir waduk terkesan kumuh dan kotor . Dua nelayan sedang berada di perahu motornya yang berwarna biru dan membuat saya bersemangat membidikkan lensa ke arah mereka. 

Sejauh mata memandang ke arah waduk terlihat jejeran perahu motor dan keramba. Rupanya selain sektor pariwisata, kawasan ini juga berkembang menjadi kawasan agrobisnis.

Di sana para warga mengembangkan usaha perikanan darat dengan metode keramba. Selain itu, di tepi waduk para warga mengembangkan usaha pertanian buah-buahan dan sayur mayur. 

Dari hasil perikanan di sana, para warga membuka bisnis pemancingan dan warung makan yang menjajakan olahan makanan berbahan dasar ikan seperti ikan bakar atau ikan goreng yang mengundang selera para wisatawan.

      Ikon LOVE setinggi 6 meter, lebar 4 meter yang menjadi spot foto

Di kawasan WKO inilah Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Telawa menyediakan wahana wisata hutan Kedung Cinta pada 2016 lalu. Ramai dikunjungi saat week-end untuk usai melepas penat setelah beraktifitas di hari kerja.

Hutan wisata Kedung Ombo ada sejak 1994, lokasinya di kawasan hutan petak 89 dan 90 C Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Karengan, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Karangwinong, KPH Telawa Jawa Tengah. 

Kawasan seluas 18,7 Ha Kedung Ombo kini hadir dengan simbol baru “hati raksasa” setinggi enam meter, lebar empat meter, berwarna merah menyala dengan latar belakang waduk. Gambar ini sangat menarik bagi penggemar fotografi dan instagramable.

Di taman Kedung Cinta ini sangatlah romantis dimana pengunjung bisa bersantai menyaksikan hamparan air dari ketinggian dengan panorama alam hijau yang menawan, udara sejuk pun akan mengusir rasa penat.

Bersama keluarga atau kekasih silahkan menikmati fasilitas warung makan apung, jetsky, speedboat, bebek air, naik kuda, dan playground atau sekedar naik perahu bersama penumpang lain. 

Tapi perahu ngetem dulu tunggu penumpang penuh baru bisa jalan. Nah cara ini yang mengurangi minat untuk keliling-keliling naik perahu. Selagi sudah di wanawisata, tidak afdol rasanya kalau tidak naik perahu mengelilingi waduk dengan tarif Rp 10 ribu per orang.

Untuk wisata di wilayah Kedung Cinta ini butuh stamina ya karena banyak mengandalkan jalan kaki. Dengan harga tiket masuk Rp 5 ribu pada hari Senin-Jumat atau Rp 7500 pada hari Sabtu/Minggu. 

Pengunjung bisa merasakan kuliner khas warung apung dengan menu ikan bakar maupun goreng. Di area parkir kendaraan, terdapat pedagang ikan khas WKO yang diasap dan bisa dijadikan oleh-oleh untuk dimasak di rumah, apalagi besok siangnya sudah kembali ke Jakarta. 

Sebelum melangkah pulang, jangan lupa membeli oleh-oleh karena saat pandemi begini setiap pengeluaran kita untuk masyarakat lokal akan sangat bermanfaat untuk keluarga tukang perahu, pemilik warung, penjual ikan asap dan lainnya.   

Waduk Kedung Ombo dengan ikon bentuk LOVE akhirnya memang jadi saksi bisu mega proyek pemerintah  dan simbol cinta bagi keluarga yang menjadi korban proyek karena menolak pindah maupun bagi kalangan milenial yang tengah merajut cinta, merencanakan masa depannya. Good bye My Love…

 

 

Wisata Edukasi , ‘The Sangiran Early Man Site’

this formate

SANGIRAN, Sragen, bisniswisata.co.id: Museum Manusia Purba Sangiran menjadi salah satu destinasi wisata yang memberikan pengetahuan sekaligus wisata bagi pengunjung. Namun pandemi COVID-19 membuat berbagai destinasi wisata terdampak, salah satunya museum ini yang ditutup sejak 15 Maret 2020 guna mencegah penyebarluasan virus.

Kemenparekraf menggelar Gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Aman) di Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan sebelum dibuka kembali untuk umum. Kemenparekraf memilih situs ini guna membiasakan masyarakat dan pengunjung museum beradaptasi dengan kebiasaan baru menuju masyarakat yang produktif dan aman di saat pandemi ini masih terus mengancam kehidupan kita.

Mengapa  situs Sangiran yang dipilih ? Tak aneh karena sejak 1996, Sangiran telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia Nomor 593 dengan nama The Sangiran Early Man Site.

Sebaran penemuan fosil hominid (manusia purba) tercatat cukup banyak di sini. Di sepanjang Sungai Bengawan Solo berikut anak sungainya, dari daerah Sangiran di Jawa Tengah hingga beberapa daerah di Jawa Timur, boleh dikata bagaikan tambang bagi penemuan fosil.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/ Barekraf) bersama Komisi X DPR/RI menggelar Gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Aman) di Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan. 

Direktur Manajemen Strategis Kemenparekraf/Bapareraf, Harwan Ekon Cahyo Wirasto mengatakan kegiatan ini sebagai upaya menyiapkan destinasi wisata serta para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif. 

Program atau Gerakan BISA merupakan kegiatan padat karya yang melibatkan pelaku pariwisata, ekonomi kreatif, hingga masyarakat yang terdampak COVID-19 dalam menunjang kualitas dan daya saing destinasi pariwisata Indonesia.

Gerakan BISA mengundang pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dibekali peralatan penunjang kebersihan, keindahan, kesehatan dan keamanan, untuk kemudian menerapkan protokol kesehatan di era adaptasi kebiasaan baru. 

Memenuhi undangan Kementrian Pariwisata untuk meliput kegiatan BISA, selama dua hari berturut-turut pada 3-4 Agustus 2020 lalu saya menyempatkan diri mengeksplor sebagian situs yang terdiri dari lima klaster ini.

Saking luasnya area Situs Sangiran, area tersebut dibagi menjadi lima klaster. Pertama adalah Klaster Krikilan yang berfungsi sebagai pusat kunjungan atau visitor center. Di tempat ini pengunjung bisa mendapat informasi secara lengkap tentang Situs Sangiran.

Disusul, Klaster Dayu, Klaster Bukuran, Klaster Ngebung, dan Museum Manyarejo. Situs ini buka pada Selasa hingga Minggu, dari pukul 08.00 sampai 16.00 WIB.

Menikmati wisata edukasi di situs manusia purba ini bagi anak milenial seperti saya memang harus berbekal pengetahuan dulu karena seperti pelajaran di tingkat sekolah dasar, di sini kita berhadapan dengan fosil-fosil, jadi browsing dulu sangat dianjurkan.

Soalnya kekayaan arkeologis yang ada di Situs Sangiran tidak hanya fosil, tetapi juga alat-alat batu hasil budaya manusia purba serta lapisan tanah purba yang dapat menunjukkan perubahan lingkungan alam sejak dua juta tahun lalu sampai sekarang tanpa terputus.

Situs Sangiran beserta semua kandungan arkeologis yang ada di dalamnya merupakan cagar budaya yang penting untuk dijaga dan dilestarikan dan daerah Ngandong, Sangiran, Sambungmacan, Trinil adalah contoh-contoh situs ditemukannya fosil hominid. 

Di antara situs-situs artefak purbakala di Indonesia, nama Sangiran barangkali paling sohor. Hal ini karena di sana bisa ditemukan jejak peninggalan Pleistosen yang paling lengkap dan utuh. Di sini para ahli paleoantropologi bisa dipastikan lebih mudah merangkai sebuah benang merah sejarah manusia purba secara berurutan.

Sangiran telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia Nomor 593 dengan nama The Sangiran Early Man Site.
sejak 1996.

Ahli paleoantropologi di dunia banyak yang melakukan penekituan di sini. Tak heran mereka tak ragu sedikitpun, menyimpulkan Pulau Jawa adalah salah satu tempat tinggal bagi spesies manusia yang paling awal di dunia. Konon, lebih dari satu juta tahun yang lampau, bisa dipastikan di pulau ini pernah hidup manusia purba.

Jadi jika hendak menelusuri jejak manusia purba yang hidup jutaan tahun lampau di nusantara, Situs Sangiran harus masuk dalam daftar kunjungan ke Sragen, yang istilahnya jaraknya cuma selemparan baru dari Solo, kota asal Presiden RI. Jokowi.

Di situs seluas 59,21 km persegi yang berlokasi di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah, inilah pemerintah melestarikan dan melindungi jejak manusia purba.

Situs ini dikelola Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, salah satu unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Meski hanya mengeksplor di satu klaster Krikilan tempat berlangsungnya acara BISA, saya jadi paham Sangiran sebagai lapangan riset ilmu paleoantropologi tampaknya masih jauh dari kata selesai. 

Dalam beberapa dekade terakhir, penelitian dari lapangan Indonesia kembali menggeliat dan menghasilkan beberapa penemuan yang mencengangkan.

Di antaranya ialah temuan fosil Homo floresiensis di Flores; penemuan fosil kulit kerang di Trinil, Jawa Timur, yang memperlihatkan daya kreativitas Homo erectus; dan paling menarik ialah penemuan lukisan gua di Maros, Sulawesi Selatan, sebagai satu jejak seni Homo sapiens tertua di dunia.

Nenek moyang leluhur orang Papua ialah kelompok migran pertama Homo sapiens yang keluar dari Afrika dan tiba di kawasan ini sejak 70 ribu tahun lalu. 

Sebelum kedatangan Homo sapiens ke Papua, kawasan ini telah dihuni oleh manusia purba Denisovan. Jejak ini terlihat pada DNA orang Papua kini, yang memiliki gen Denisovan berkisar 3 – 5 persen.

Riset Eijkman menyimpulkan, pusat keanekaragaman kuno bukan berada di Eropa atau di Asia utara yang beku, melainkan justru terjadi di kepulauan tropis yang hangat di Asia Tenggara

Pada 1920-an, sebuah tengkorak ditemukan di dekat Peking (sekarang Beijing), Tiongkok. Fosil hominid ini populer disebut “Manusia Peking”. Selain memperlihatkan banyak persamaan ciri dengan fosil Manusia Jawa, fosil ini usianya juga lebih tua. 

Tak kecuali juga temuan fosil hominid di Afrika Timur (Kenya, Etiopia, Tanzania), Afrika Utara (Aljazair dan Maroko), dan Afrika Selatan, pun memiliki banyak persamaan ciri dengan Manusia Jawa. 

Pada 1976 sebuah tengkorak Homo erectus lengkap ditemukan di Afrika Timur. Umurnya 1,5 juta tahun, satu juta tahun lebih tua dari yang ditemukan di Jawa dan Peking.

Nah bagaimana ? bangga nggak sama para lekuhur bangsa ini. Oh iya kalau berminat datang, maka seperti museum lainnya, Situs Sangiran tutup pada hari Senin untuk proses pembersihan dan perawatan koleksi.

 

 

 

  

 

Usulkan Kebijakan Pajak PMSE, Kemenparekraf Gelar Diskusi Daring Regulasi Ekonomi Digital

this formate

Ari Juliano Gema, Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. ( Foto: Kemenparekraf).

JAKARTA, bisniswisata.co.id;  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar diskusi daring Regulasi Ekonomi Digital mengenai kegiatan Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) di masa yang akan datang.

Diskusi ini diharapkan dapat menghimpun masukan dan membantu pemangku kebijakan dalam menetapkan regulasi yang tepat untuk mengatur dan mengelola perpajakan ekonomi digital dalam kegiatan Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) tersebut, kata Ari Juliano Gema, Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Berbicara saat membuka diskusi daring Regulasi Ekonomi Digital dengan tema “Bagaimana Kebijakan Perpajakan Mengantisipasi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik?”,  beberapa waktu lalu, dia mengatakan, diskusi daring untuk saling bertukar fikiran, menyampaikan berbagai macam gagasan dan masukan terkait perpajakan ekonomi digital.

“Hal ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai kebijakan pemerintah saat ini dan kebijakan yang mungkin akan diambil oleh pemerintah ke depan dalam mengatur kegiatan perdagangan melalui sistem elektronik, mengingat perkembangan ekonomi digital yang sangat pesat,” kata Ari Juliano.

Berdasarkan laporan Google, Temasek, dan Bain, nilai ekonomi digital di Asia Tenggara, khususnya transaksi e-commerce, pada 2019 mencapai 100 miliar dolar AS. Dari jumlah tersebut, sebesar 40% berasal dari Indonesia. “Bank Indonesia mencatat, di tahun 2019, jumlah transaksi e-commerce di Indonesia setiap bulannya mencapai Rp13 triliun,” ujar Ari Juliano.

Melihat besarnya nilai transaksi e-commerce tersebut, beberapa negara kemudian mempertimbangkan bahkan sudah menerapkan kebijakan perpajakan yang dapat menjangkau pelaku usaha yang secara fisik tidak berada di negara tersebut, tetapi telah melakukan PMSE (Perdagangan Melalui Sistem Elektronik) di negara tersebut.

“Salah satu isu perpajakan dalam PMSE lintas batas negara saat ini adalah bahwa barang tidak berwujud dan jasa dari luar negeri yang masuk melalui internet di suatu negara tidak dikenakan tarif impor, yang umumnya terdiri dari bea masuk, PPN, dan PPh,” jelas Ari Juliano. Hal ini tentu mengurangi kesempatan negara untuk memperoleh pendapatannya.

Ari Juliano mengatakan jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia sebesar 269,600,000 jiwa dan pengguna internet sebanyak 175,4 juta. Maka bisa dilihat bahwa Indonesia memiliki jumlah penduduk yang begitu banyak dan pengguna internet aktif yang sangat tinggi.

Hal Ini merupakan aset yang memiliki nilai ekonomi dan seharusnya memberikan kontribusi yang cukup tinggi kepada negara. Banyaknya jumlah pengguna internet di suatu negara umumnya berbanding lurus dengan banyaknya data pengguna platform yang dikelola penyelenggara PMSE.

Data pengguna dari berbagai negara pada kenyataannya merupakan aset yang dikuasai dan dikelola pemilik platform untuk memperoleh manfaat ekonomi dari investor dan pengembangan usahanya, tetapi belum tersentuh dalam perhitungan perpajakan.

“Untuk itu, Pemerintah Indonesia harus berani mengusulkan model perhitungan dan pemungutan PPh berbasis data pengguna tersebut untuk menjadi konsensus internasional demi kebijakan perpajakan yang adil,” kata Ari Juliano.

Apabila secara global telah dicapai konsensus mengenai satu tarif PPh yang akan dipungut satu kali untuk seluruh negara, maka hal itu dapat dikenakan kepada perusahaan pengelola platform PMSE yang tidak ada keberadaan fisiknya, tetapi signifikan keberadaannya secara ekonomi di suatu negara.

Hasil pungutan pajak tersebut nantinya dapat dibagi secara proporsional kepada masing-masing negara sesuai besarnya jumlah data pengguna dari masing-masing negara yang dikelola pemilik platform tersebut. Semakin besar jumlah data pengguna dari suatu negara, maka tentu akan semakin besar juga porsi pungutan pajak yang diterima negara tersebut.

“Usulan perhitungan PPh dengan berbasiskan data pengguna tersebut dapat menghindari pengenaan pajak berlipat-lipat kepada pemilik platform akibat akumulasi pengenaan PPh secara sepihak oleh masing-masing negara,” kara Ari Juliano.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu, mengatakan seluruh dunia sudah melihat bahwa tren ekonomi digital semakin kuat. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan pada _physical presence_ dalam konteks perpajakan dan konteks fiskal,” kata Febrio.

Febrio melanjutkan, Pemerintah saat ini masih mempelajari perpajakan ekonomi digital. Namun, mulai 1 Juli 2020, Pemerintah telah mengenakan PPN atas pemanfaatan barang kena pajak tidak berwujud dan jasa kena pajak dari luar dan dalam daerah pabean melalui PMSE.

“Selaras dengan PPN, langkah yang diambil oleh Pemerintah Indonesia untuk mengenakan PPh merupakan hal yang wajar dan telah dilakukan oleh negara-negara lain, seperti Israel, India, Inggris, Australia, Canada, Meksiko, Brazil, dan Turki,” kata Febrio.

UU Nomor 2/2020 menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengenakan PPh dan PTE atas penghasilan dari ekonomi digital dengan tidak lagi mendasarkan pada physical presence melainkan ketentuan kehadiran ekonomi signifikan. Namun demikian, untuk melaksanakan ketentuan ini masih diperlukan Peraturan Pelaksanaan yang mengatur kriteria SEP, tarif, dan DPP PTE.

Dalam pembahasan OECD (Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) saat ini mengerucut pada Unified Approach sebagai langkah pengenaan PPh atas transaksi digital. Dimana basis pemajakan baru berdasarkan adanya penjualan di negara pasar.

Selain itu Unfied Approach mengalokasikan laba dengan mendasarkan pada formula tertentu serta mencakup tidak hanya automated digital business (ADS) tetapi juga consumer facing business (CFB) yang memenuhi kriteria tertentu.

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Keuangan, akan terus menyempurnakan konsep aturan pelaksaanaan pengenaan PPh dan PTE atas transaksi digital.

Terus aktif dalam diskusi internasional dalam mencapai dan mendukung adanya konsensus global 2020, serta melakukan analisis mendalam atas potensi pajak ekonomi digital.

“Kita jangan membatasi pikiran kita hanya dengan persoalan pajak, tapi melihat bagaimana Pemerintah Indonesia ingin supaya industri digital Indonesia bisa memiliki keputusan hukum yang jelas Febrio.

Dengan demikian Pemerintah tidak gagap dalam menghadapi pertumbuhan ekonomi digital yang sangat pesat ini dan dapat menciptakan lingkungan ekonomi digital yang kondusif bagi pelaku usaha kreatif digital, baik pelaku usaha yang besar maupun UMKM ,” tambah Febrio.

 

Cerita Menarik di Balik Coklat Panas Kental Khas Filipina, Sikwate

this formate

Cokelat manis yang kental dan lembut itu bernama sikwate (foto: CNN Travel) 

PILIPINA, bisniswisata.co.id: Sebagian masyarakat Pilipina punya kebiasaan menghabiskan sore dengan menikmati segelas besar cokelat panas kental dan lembut, sikwate. Dalam khasanah kuliner Filipina, cokelat memiliki sejarah kaya dan panjang. 

Umumnya, cokelat disajikan sebagai minuman panas atau dikenal sebagai sikwate atau tsokolate de batirol. Teknik maupun ramuannya pun kini berkembang, menawarkan beragam cita rasa yang berkelas.

“Cokelat sudah  lama populer dalam khasanah kuliner kami,” kata Louise Mabulo, pendiri inisiatif pertanian berkelanjutan di Pilipina ‘The Cacao Project’ kepada CNN Travel.

“Tapi bagi orang Filipina, dunia cokelat yang pesat berkembang seolah baru kami masuki sekarang. Ada rasa bangga yang semakin bertumbuh terhadap komoditas ini.”

Sekadar flashback, tanaman cokelat telah menjadi komoditi penting di Filipina sejak era pemerintahan kolonial Spanyol yang berlangsung mulai 1565 hingga 1898.

Biji kakao tiba di Filipina berkat adanya perdagangan Galleon yang menempuh rute Acapulco di Meksiko dan Manila di Filipina. Kapal dagang inilah yang membawa biji kakao melintasi Samudara Pasifik untuk pertama kalinya.

Menurut cerita, orang Spanyol menanam pohon kakao pertama pada 1665, kemudian para biarawan Katolik-lah yang mulai memperkenalkan minuman cokelat panas ke Filipina.

Hampir seabad kemudian, petani lokal Filipina mulai menanam pohon kakao di halaman belakang rumah. Tak butuh waktu lama, tanaman tersebut kemudian cepat menyebar ke seluruh nusantara.

“Kami telah menanam kakao, khususnya bagi penduduk yang tinggal di wilayah saya di Camarines Sur (bagian dari Wilayah Bicol di sebelah tenggara Manila), sejak Spanyol mendarat dan membangun perdagangan Acapulco,” kata Mabulo, yang juga seorang koki profesional.

“Kami memiliki tanah yang sangat subur. Apalagi kelembapan udara di sini sangat tinggi sehingga ideal untuk menanam pohon kakao. Kakao juga tumbuh sangat baik di Batangas, Cebu dan Davao – mereka bahkan punya salah satu produsen coklat terbaik di negeri ini.”

Di beberapa belahan dunia lain, coklat kerap menjadi semacam simbol status – seperti halnya sutra dan rempah-rempah. Tapi, di Filipina, berbeda. Cokelat lebih mewakili sebuah skenario yang lebih demokratis.

Kebun-kebun cokelat pribadi tumbuh pesat di sana. Pemiliknya dapat memanen sendiri biji cokelat  untuk dijadikan tablea, yakni biji yang difermentasi, dikeringkan dan dipanggang untuk kemudian digiling menjadi pasta dan dibentuk menjadi balok-balok. Tablea bisa dikonsumsi sendiri atau dijual di pasar tradisional.

“Nenek saya punya pohon kakao sendiri di halaman belakang, dan saya tumbuh besar minum cokelat panas buatannya sendiri,” kenang Mabulo.

“Jika Anda bisa mencicipi rasa biji cokelat mentah, itu cara yang bagus untuk memahami mengapa rasa cokelat kami terasa seperti itu dan memahami bagaimana rasa itu tumbuh,” ujarnya..

Dengan begitu, kita juga dapat merasakan sebuah pengalaman – melihat biji mengering karena tertepa sinar matahari, mencium aroma saat memanggang. Sungguh ajaib. tambahnya.

Seperti halnya nenek Mabulo, banyak koki rumahan di Filipina mengembangkan sendiri resep cokelat pusaka, menyajikannya dengan nasi, pastries, atau dalam bentuk minuman cokelat panas.

Meski style-nya beraneka rupa antara satu daerah dengan daerah lain, tapi cara tradisional membuat sikwate, rata-rata serupa. Bahan dasarnya berupa coklat tablea, gula, krim dan susu.

Lalu seluruh bahan direbus dalam panci, dikocok dengan pengocok tradisional yang disebut batirol atau molinillo, maka jadilah minuman cokelat kental, kaya rasa dan berbuih.

Varian lain dibuat dengan cara melelehkan balok cokelat ke dalam air mendidih. Cara ini menghasilkan cita rasa cokelat yang lebih ringan dan berbusa. Bisa diminum saat panas atau dingin.

Coklat Filipina biasanya juga menawarkan rasa kacang, kayu manis, vanila, pala, bahkan selai kacang. Tapi itu bergantung pada lokasi dimana Anda berada, dan pada bulan-bulan apa Anda menyeruputnya. Setiap keluarga umumnya memiliki resep minuman cokelat yang sedikit berbeda.

 “Di daerah saya, kami banyak menanam cabai, jadi kami campuri (cokelat) dengan cabai dan santan,” tambah Mabulo.

 “Salah satu sebab mengapa rasa cokelat panas di tiap daerah sedikit berbeda, karena hal itu dipengaruhi faktor alam dan lingkungan di masing-masing daerah, termasuk jenis tanah, topografi, dan iklim.”

Aromanya pun jadi berbeda-beda. Meski tampak sangat mirip, tapi beberapa cokelat panas memiliki cita rasa yang lebih bersahaja, ada yang lebih terasa cokelatnya, bahkan ada yang lebih beraroma kopi. 

Cokelat panas Filipina dapat dinikmati tanpa camilan atau ditemani pelengkap lain yang lezat, seperti churros (snack manis), pan de sal tradisional (roti garam), kue beras, dan donat goreng.

Saat Natal, kata Mabulo, keluarganya kerap menikmati kue beras ungu yang disebut puto bumbong bersama dengan minuman cokelat panas dan ensaymada (roti keju yang lembut seperti brioche/roti perancis yang lembut).

 

 

Program yang Melibatkan Masyarakat Lokal Harus Terus Ditingkatkan.

this formate

Surfer menikmati gulungan ombak di pelosok, yaitu Krui, Kabupaten Pesisir Barat Lampung. ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sebagai daerah tujuan wisata dunia, Indonesia harus terus memasarkan destinasi wisatanya secara holistik sehingga program yang melibatkan masyarakat lokal memang harus digencarkan, kata Efin Soehada, pengamat pariwisata.

Efin yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang ekonomi – manajemen stratejik, ilmu administrasi, dan linguistik ini mengatakan gencarnya program BISA (Bersih, Indah, Sehat, Aman) dari Kemenparekraf agar dapat diimplementasikan pada masyarakat dengan baik.

“Pembukaan kembali bagi wisatawan mancanegara ke Indonesia harus ditandai dengan kesiapan semua stakeholder pariwisata karena ibaratnya menerima tamu maka kita harus bisa jadi tuan rumah yang baik,” kata Efin, hari ini.

Bagi kelompok masyarakat terutama di Pulau Jawa yang sudah mengenal Community- Based Tourism (CBT), ada kelompok sadar wisata dan sudah membentuk desa-desa wisata akan lebih mudah mengimplementasikan program BISA.

BISA sendiri merupakan implementasi dari Sapta Pesona. Jadi dalam sektor pariwisata sejak dulu sudah menerapkan Sapta Pesona yang terdiri dari tujuh unsur, yakni Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah- tamah dan Kenangan.

Menurut Efin Soehada, dalam kaitan ini para stakesholder di daerah yang sudah biasa menerima tamu asing harus memahami target pasar atau tamunya secara menyeluruh. Hal  yang utama adalah memahami karakteristik dan kebutuhan dari wisatawan domestik maupun mancanegaranya itu.

Jika paham target sasaran pasarnya yang ingin di jaring dan tamu yang datang terpenuhi kebutuhannya, maka mereka akan menjadi tamu ‘repeater‘. Pengalaman berwisatanya akan diceritakan dari mulut ke mulut pada keluarga dan komunitasnya.

Nah kalau pengalamannya positif kita untung, tapi kalau negatif dan terus menyebar, maka akan merugikan banyak pihak. Oleh karena, itu daya saing dan kualitas pelayanan harus terus ditingkatkan,” ungkapnya.

Efin Soehada

Wanita yang bersuamikan Agusman Effendi dari Lampung ini mencontohkan tempat surfing di Indonesia bukan cuma Bali. Krui di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung punya Pantai Tanjung Setia yang jadi incaran peselancar dunia.

“Pantai Tanjung Setia menawarkan ombak bergulung yang bisa tingginya 6 sampai 7 meter dan panjang sekitar 200 meter. Sejak tahun 1960 an sudah dikenal sebagai tujuan surfing. Waktu awal-awal masyarakat masih sulit menerima turis asing yang berpakaian ‘kurang pas’ saat akan surfing,”

Lambat laut dalam kunjungan yang intensif tahun 2019 lalu misalnya, para stakeholder pariwisata terbukti dapat mendukung keberadaan kawasan para tamu peselancar tersebut.

Demikian pula para pengusaha UMKM dapat menyelaraskan produknya sesuai kebutuhan para wisatawan. Sehingga akhirnya daerah tersebut punya event tahunan seperti Kejuaraan Krui Pro diikuti peselancar dunia.

Menurut Efin bagi stakesholder di daerah, apalagi di tengah pandemi global COVID-19, implementasi program BISA agar di terapkan secara mendasar mulai dari cara menyediakan makanan untuk para tamu harus cermat. Proses kuliner dimulai dari penyediaan bahan baku, cara memasak yang sehat, hingga penyajian.

“Para pengusaha kuliner yang tersebar di sana harus paham tata cara standar proses memasak cara sehat. Misalnya, ayam potong tidak bisa terlalu lama di udara terbuka, karena rawan bakteri sehingga harus cepat dimasak. Sang juru masak juga harus tahu kebersihan termasuk jangan biarkan sehelai rambutpun masuk dalam makanan,”

Hal-hal yang kelihatannya sepele, dari hal menyiapkan kuliner bagi wisman, belum dari akomodasi dan kebersihan lingkungan mulai dari ruang kamar tidur hingga kebersihan kawasan pantainya sendiri tidak bisa diabaikan begitu saja.

Efin mengakui kerja keras untuk menyosialisasikan pengetahuan standar di bidang kepariwisataan masih perlu dilakukan. Pengetahuan tersebut wajib menjadi pengetahuan stakeholders dari mulai kota-kota besar hingga tempat terpencil sekalipun. Program BISA terus menerus ditularkan dan para ahli praktis di bidang kepariwisataan perlu digandeng oleh Kemenparekraf.

“Beruntung bagi para pelaku pariwisata di P. Jawa yang lebih banyak mendapatkan ilmu BISA ataupun Sapta Pesona ketimbang mereka yang berada di daerah-daerah yang jauh dari P. Jawa,” ungkapnya.

Program yang sudah disosialisasikan ke masyarakat harus bisa diterjemahkan dengan detil standar prosedurnya karena hasilnya nanti untuk memperbaiki indikator ‘Health, Hygene dan Safety‘ di lingkungan destinasi pariwisata untuk dapat meningkatkan peringkat Travel & Tourism Competitiveness Index (TTCI)

Indonesia peringkatnya masih jauh tertinggal di urutan ke-102 dalam masalah Health and Hygene juga di peringkat ke-80  dalam kategori Safety and Security dari total 140 negara.

“Mari kita taat prosedur sehingga usaha juga bisa berkelanjutan sesuai dengan konsep sustainable tourism yang kembali digaungkan di seluruh dunia”

“Tentu saja agar anak, cucu, cicit, canggah kita masih bisa lihat keindahan alam, bisa lihat lahan sawah, masih bisa lihat ayam karena semua bisa terjaga kelangsungan hidupnya, tutup Efin Soehada.