WTTC Desak Para Pemimpin G-7 Dorong Pemulihan Ekonomi yang Sangat Dibutuhkan

this formate

LONDON, bisniswisata.co.id: World Travel & Tourism Council ( WTTC) mendesak pemerintah Inggris untuk menyelamatkan sektor Perjalanan & Pariwisata yang sedang berjuang dan memulihkan jutaan pekerjaan yang sudah terkena dampak.

Lebih dari 100 perusahaan perjalanan besar dunia dan pemimpin bisnis global, dari maskapai penerbangan besar, bandara, hotel, operator tour dan perusahaan perjalanan, telah mendukung langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Para pemimpin industri menandatangani dan mengirim surat kepada Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan sembilan Kepala Negara dari kelompok negara G7 untuk menunjukkan kepemimpinan yang kuat dan kolaborasi internasional. Kelompok negara G7 adalah Jerman, Kanada, Prancis, Italia, Jepang, Inggris, AS

Surat tersebut meminta inisiatif  Inggris memimpin selama masa kritis ini dan surat juga dikirim ke Keir Starmer, ketua baru Partai Buruh Inggris serta para pemimpin oposisi internasional lainnya, menyoroti sifat non-partisan dari krisis tersebut.

 WTTC, yang mewakili sektor swasta Perjalanan & Pariwisata global, mengatakan para pemimpin politik dari negara-negara besar ini harus melangkah maju untuk menyelamatkan ekonomi global, dan mendukung pemulihan ratusan juta pekerjaan yang sudah terkena dampak.

Jika para pemimpin global gagal untuk bersatu, WTTC mengantisipasi kebangkrutan yang tidak dapat diperbaiki pada sektor travel & tourism. Selain itu, karena pembatasan perjalanan yang melumpuhkan tetap diberlakukan, jumlah pekerjaan yang hilang di seluruh dunia akan terus meningkat.

Menurut Laporan Dampak Ekonomi 2020 WTTC, selama tahun lalu ( 2019) , sektor travel & tourism bertanggung jawab atas satu dari 10 pekerjaan (total 330 juta), memberikan kontribusi 10,3% terhadap PDB global dan menghasilkan satu dari empat dari semua pekerjaan baru.

Selain itu, ini adalah salah satu sektor yang paling beragam, mempekerjakan orang dari semua latar belakang sosial ekonomi tanpa memandang usia, jenis kelamin atau etnis, dan mencakup 53% perempuan dan 30% kaum muda yang bekerja di seluruh sektor.

Meskipun travel & tourism sangat penting bagi ekonomi lokal dan global, WTTC sangat prihatin karena tidak ada upaya yang jelas atau terkoordinasi secara internasional untuk melindungi sektor yang makin terpuruk ini.

“Saat sektor travel & tourism dalam tekanan yang memuncak, dan ekonomi global berjuang untuk bertahan, kami harus bertanya – siapa yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan kami dari krisis ini,” kata Gloria Guevara, Presiden & CEO WTTC.

Siapa yang akan memimpin  dunia untuk menyelamatkan pekerjaan dan mengamankan masa depan jutaan orang secara global ? sambil menambahkan pihaknya telah mencapai tahap genting di mana tindakan kritis sangat dibutuhkan.  

Meskipun dia mengakui bahwa setiap negara harus melindungi warganya sendiri dan prioritasnya sampai saat ini adalah masalah domestik, namun langkah apa pun yang diambil secara diam-diam hanya akan memperburuk keadaan jutaan orang biasa.

 “Kita perlu melampaui politik dan menyelamatkan jutaan mata pencaharian, yang telah terkena dampak COVID-19, di depan dan di tengah,” ujar Gloria Guevara.

Semua jenis pekerjaan terkait pariwisata mulai dari awak kabin hingga staf hotel, agen perjalanan,  pusat pelayanan hingga pengurus rumah tangga, resepsionis hingga pengemudi, manajer hotel hingga koki, dan banyak lagi pahlawan tanpa tanda jasa yang bergantung pada sektor Perjalanan & Pariwisata  ( travel & tourism) yang berkembang pesat.

 “Suara orang biasa harus didengar, dan kami menyerukan kepada mereka untuk memberi tahu para pemimpin dunia, dengan tegas, bahwa waktu untuk bertindak sekarang,” tegasnya.

Hal ini bukan solusi biner atau pilihan antara kesehatan di satu sisi, dan pekerjaan, ekonomi, dan perjalanan di sisi lain.  “Kita dapat membuat kemajuan yang kuat di semua bidang ini jika kita mengikuti nasihat ahli dari sains dan belajar dari masa lalu serta pengalaman positif orang lain,” ujarnya.

WTTC dan penandatangan surat lainnya, yang dikirim ke para pemimpin dunia, berkomitmen untuk bekerja sama membantu menyelesaikan krisis terburuk saat ini  dan mengembalikan jutaan pekerjaan yang terkena dampak.  Namun, sektor swasta tidak dapat melakukannya sendiri.

 “Sejarah mengajarkan kita jalan pemulihan bisa panjang dan menyakitkan, atau lebih pendek dan tidak terlalu merusak.  Selama krisis keuangan 2008, kepemimpinan global yang kuat, dan kolaborasi publik-swasta, memungkinkan kami pulih dalam jangka waktu yang lebih singkat,”

Pihaknya tidak dapat melihat kolaborasi yang sama di antara para pemimpin saat ini.  Oleh karena itu pemerintah harus memulihkan kepercayaan diri untuk bepergian dan membuat orang-orang kembali bekerja untuk membangun kembali ekonomi global.

 “Sangat penting bahwa para pemimpin negara-negara ini berkumpul dan memprioritaskan penyelamatan dunia dari krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, dengan bertindak secara efektif dan terkoordinasi untuk mengembalikan lebih dari 120 juta pekerjaan dan mata pencaharian yang terdampak.

 Di antara mereka yang mendukung seruan WTTC adalah para pemimpin bisnis maskapai besar, seperti British Airways, Emirates, Etihad, Jet2, WestJet, dan Virgin Atlantic.

Para pemimpin bisnis dari grup hotel internasional teratas, seperti Accor, Best Western, Hilton, Hyatt, InterContinental, Mandarin Oriental, Marriott, Meliá Hotels, dan Radisson juga mendukung inisiatif ini.

Dukungan juga datang dari operator tour dan perusahaan perjalanan besar, seperti Abercrombie & Kent, American Express, Carlson Wagonlit, Expedia, Travelport, TUI, dan Uber.

Dalam surat ini, WTTC telah mengidentifikasi empat langkah yang membutuhkan kerangka kerja internasional dan kepemimpinan bersama untuk memerangi virus corona:

  1. Mengenakan masker: Ini harus diwajibkan pada semua moda transportasi selama wisatawan melakukan perjalanan serta saat mengunjungi tempat dimana pun dan di lokasi di mana ada pergerakan terbatas yang mengakibatkan kontak pribadi yang dekat dan jarak fisik yang diperlukan tidak dapat dipertahankan  Menurut bukti medis, tindakan mengenakan masker seperti itu dapat mengurangi risiko penyebaran hingga 92%.

2.Pengujian dan pelacakan kontak: Kami membutuhkan pemerintah untuk berinvestasi dan menyetujui pengujian ekstensif, cepat, dan andal, idealnya dengan hasil yang tersedia secepat 90 menit, dan dengan biaya rendah, sebelum keberangkatan dan / atau setelah kedatangan (bergejala dan  calon wisatawan tanpa gejala).

Didukung oleh alat pelacakan kontak yang efektif dan disepakati.Penerapan satu atau beberapa tes, dengan tes kedua setelah lima hari, akan membantu mengisolasi orang yang terinfeksi.

  1. Karantina untuk tes positif saja: Karantina untuk pelancong yang sehat, hanya akan berfungsi merusak ekonomi karena seharusnya tidak diperlukan jika pengujian dilakukan sebelum keberangkatan dan / atau pada saat kedatangan, dan tindakan penahanan yang efektif dilakukan lima hari kemudian.

Ini dapat menggantikan karantina terselubung dengan cara yang lebih bertarget dan efektif secara signifikan mengurangi dampak negatif pada pekerjaan dan ekonomi.

  1. Memperkuat protokol global dan menstandarkan langkah-langkah: Penerapan protokol kesehatan dan keselamatan global akan membantu membangun kembali kepercayaan wisatawan dan memastikan pendekatan pengalaman perjalanan yang konsisten.

Selain terkoordinasi dan selaras maka secara signifikan juga mengurangi risiko infeksi. Pihaknya juga mendukung Konsep Koridor Kesehatan Masyarakat yang mengedepankan perjalanan dari awal hingga akhir yang bersih dan aman.

Penelitian WTTC telah menunjukkan bahwa perjalanan kembali yang sederhana dapat memiliki manfaat ekonomi yang besar dan membawa kembali ribuan pekerjaan yang sangat dibutuhkan.

Kegiatan ini  memberikan dorongan penting untuk sektor travel & tourism yang sedang berjuang dan menghasilkan PDB yang sangat dibutuhkan untuk ekonomi yang tertinggal setelah dilanda pandemi.

WTTC telah menjadi yang terdepan dalam memimpin sektor swasta dalam upaya untuk membangun kembali kepercayaan konsumen global dan mendorong kembalinya Safe Travels.

Protokol Perjalanan Aman WTTC dikembangkan untuk bisnis di seluruh sektor travel & tourism global yang menyediakan berbagai tindakan komprehensif, dengan aturan kesehatan dan kebersihan yang ketat untuk memungkinkan mereka dibuka kembali untuk bisnis.

Bali Fokus pada Kelestarian Lingkungan Untuk Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan

this formate

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/ Baparekraf, Rizki Handayani. ( Foro : Kemenparekraf).

BALI, bisniswisata.co.id: Pulau Bali sebagai destinasi wisata favorit menyatakan akan fokus pada kelestarian lingkungan sebagai langkah untuk mewujudkan _sustainable tourism_ atau pariwisata berkelanjutan.

Pariwisata berkelanjutan merupakan salah satu aspek terpenting bagi pengembangan pariwisata di era kenormalan baru dan dapat menjadi investasi serta solusi dalam menyambut era adaptasi kebiasaan baru sekaligus upaya merevitalisasi bumi.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/ Baparekraf, Rizki Handayani, dalam seminar daring bertajuk “Bincang-bincang Revitalisasi Bumi”, Rabu (12/8/2020), mengatakan pandemi menyadarkan bahwa kebersihan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan menjadi hal yang sangat penting dalam semua aspek pembangunan, termasuk pariwisata.

“Pola wisatawan akan berubah. Wisatawan akan mencari destinasi wisata yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman. Untuk menciptakan rasa aman dan nyaman bisa dimulai dari lingkungan kita sendiri,” kata Rizki Handayani.

Rizki Handayani menambahkan merebranding pariwisata yang dimulai dari kelestarian lingkungan menjadi dasar dari pengembangan pariwisata berkelanjutan. “Mari kita refocusing dalam mempromosikan Bali sebagai destinasi yang benar-benar melestarikan lingkungan, terutama dalam aspek hygiene,” ujar Rizki Handayani.

Sebelumnya Kemenparekraf/ Baparekraf telah menyusun protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability) yang harus diterapkan dengan benar dan disiplin sesuai dengan standar operasional prosedur yang berlaku, khususnya bagi para pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Tim Ahli Gubernur Bidang Pariwisata, Cipto Aji Gunawan, memaparkan bahwa Pemprov Bali telah memiliki dua Peraturan Gubernur yang terkait dengan pelestarian lingkungan, yaitu mengenai sampah.

Dimana salah satunya ada pembatasan atau pelarangan penggunaan plastik sekali pakai. Sebagai upaya untuk mendorong Bali menjadi sebuah destinasi wisata yang lebih berkualitas.

“Peraturan terkait dengan sampah ini menjadi bagian dari protokol kesehatan. Saat ini sedang berjalan proses sertifikasi dari berbagai industri termasuk industri wisata bahari, dan di dalamnya itu ada protokol mengenai sampah,”kata Cipto Aji.

Jadi tidak hanya dengan penerapan peraturan saja tetapi implementasinya berupa protokol yang sekarang harus dipatuhi oleh semua pelaku usaha pariwisata untuk menerapkan tatanan adaptasi baru yang lebih berkualitas khususnya terkait dengan lingkungan ini, ungkapnya

Dari data Bank Dunia menunjukkan pesisir Indonesia menyumbang sebanyak 3,22 juta ton sampah ke lautan, termasuk sampah plastik. Akan tetapi, Indonesia sudah menyiapkan rencana aksi nasional yang diharapkan dapat terwujud atau tercapai pada 2025 yaitu akan mengurangi jumlah sampah di lautan hingga 70 persen.

Founder & Executive Director of Divers Clean Action, Swietenia Puspa Lestari menjelaskan melihat kondisi pandemi saat ini, ternyata memunculkan paradigma-paradigma baru yang justru membuat penggunaan plastik sekali pakai itu sesuatu yang normal dan bahkan lebih higienis.

“Namun, ketika berkunjung ke titik-titik pantai wisata, kita justru banyak menemukan plastik sekali pakai yang bukan hanya didapatkan dari sampah kiriman tapi akibat dari perubahan paradigma tadi,” ujar Swietenia.

Swietenia juga mengatakan seluruh masyarakat dan Pemerintah harus bekerja sama untuk memberikan pemahaman kepada seluruh pelaku usaha pariwisata, bahwa sebenarnya yang bisa didaur ulang itu justru lebih baik dan lebih sehat.

“Kami prihatin melihat pelaku usaha pariwisata yang belum _aware_ dalam menerapkan protokol kesehatan. Ketika tidak ada tamu, tidak menjaga kebersihan dan tidak menerapkan SOP kesehatan dengan benar,” kata Swetenia.

Jika kita ingin membuka destinasi wisata kembali, pelaku usaha pariwisata harus benar-benar memperhatikan kesehatan dan kebersihan, ini juga akan berbuah manis bagi pelaku usaha pariwisata itu sendiri, tambahnya.

Dengan menerapkan SOP yang berlaku untuk mengurangi sampah, maka akan menciptakan kepercayaan dan keyakinan bagi wisatawan dalam memilih destinasi wisata.

Senada disampaikan Puteri Indonesia Lingkungan 2019, Jolene Marie, yang mengharapkan kerja sama dari berbagai pihak untuk melestarikan lingkungan.

“Saya berharap, ketika kita menyuarakan kelestarian lingkungan, maka akan semakin banyak sektor yang terlibat dan semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk memperhatikan sustainability dan juga eco-tourism kedepan. Hal ini lah yang akan dicari wisatawan di masa mendatang,” kata Joelene.

 

Dubes dan Mantan Dubes RI Gelar Solidaritas Indonesia Untuk Lebanon 15 Agustus 2020

this formate

Dubes RI di Lebanon,Hajriyanto Thohari, mantan Ketua PP Muhammadiyah dan LAZISMU peduli Lebanon dan inginkan RI terlibat langsung menjaga perdamaian dunia

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Ledakan di Beirut, Lebanon minggu lalu (4 Agustus 2020) telah mengagetkan seluruh rakyat di dunia. Otoritas yang berwenang mengungkap bahwa pemicu ledakan dahsyat yang menewaskan 135 orang dan melukai 3.700 warga itu.

Sampai sekarang belum diketahui apakah terdapat unsur kesengajaan dan inilah yang dikhawatirkan akan memicu konflik lanjutan antar sekte dan kekuatan politik di dalam dan diluar negeri Lebanon.

Bagaimana reaksi masyarakat Indonesia mendengar itu? Tidak tinggal diam. Beberapa tokoh masyarakat Indonesia, pimpinan lembaga kebudayaan dan kemasyarakatan dari berbagai tempat Indonesia bermaksud memberikan pesan kepada rakyat Lebanon.

Indonesia bermaksud mengadakan acara ”Pray for Lebanon”, Sabtu 15 Agustus 2020 jam 14.00 WIB. Dubes Indonesia untuk Lebanon, Hajriyanto Thohari bersama-sama para mantan Dubes RI untuk Lebanon ingin membuat gerakan solidaritas.

Bersama mantan Dubes Lebanon lainnya, Bagas Hapsoro, Dimas Samodra Rum dan H. Chozin Chimaidy bermaksud mewujudkan solidaritas untuk meringankan penderitaan. Keempat duta besar yang memahami seluk beluk masyarakat dan kebudayaan Lebanon mengadakan kegiatan virtual ”Pray for Lebanon”.

”Tidak terperikan berapa korban manusia serta kerugian yang diderita Lebanon”, kata Dubes Hajriyanto Thohari yang telah menjalankan tugas sejak 2019. Beirut. Selanjutnya juga ditambahkan oleh Dubes Hajriyanto bahwa yang paling traumatis adalah rakyat dan bangsa Lebanon.

”Rakyat Lebanon tidak boleh sedih berkepanjangan, apalagi saling curiga dan berujung kepada konflik baru”, kata Ir. Katrini Kubontubuh, Dewan Pimpinan/Direktur Eksekutif Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI).

Ide bersama KBRI Beirut, para mantan Dubes, BPPI juga didukung oleh organisasi kemasyarakatan yang dekat dengan Lebanon didukung antara lain oleh Eka Budianta penyair, penulis dan editor karya pujangga Lebanon.

Tidak kurang tokoh pelestari pusaka dari Yogyakarta, Dr. Laretna Adishakti dan Trias Kuncahyono pengamat internasional Timur Tengah. Diperoleh keterangan bahwa beberapa anggota Kontingen Garuda Indonesia yang bertugas di Lebanon juga akan diikutsertakan untuk ikut acara ”Pray for Lebanon” tersebut.

Kegiatan ”Pray for Lebanon” antara lain berupa pembacaan puisi (citation) karya Kahlil Gibran, disambung dengan permainan harpa dari Miranti Serad. Ananda Sukarlan juga akan mempersembahkan lagu ”Song for Lebanon”. A dan ditutup dengan persembahan musik ”Song for Lebanon” dan virtual choir dari lebih 150 orang.

Mereka akan menyanyikan lagu ”Ibu Pertiwi” karya Charles Crozat Converse tahun 1868. Laretna Adishakti atau akrab dipanggil Sita menjelaskan bahwa penyanyi tidak saja orang Indonesia, warga negara Lebanon juga sangat berminat untuk ikut.

Bagaimana tanggapan orang-orang Lebanon sendiri? Ketua Perhimpunan Persahabatan Lebanon-Indonesia, Victor Zmeter menyatakan apresiasinya terhadap spontanitas yang ditunjukkan masyarakat Indonesia. ”Kami sangat menghargai perhatian kawan-kawan kami di Indonesia”, kata mantan Dubes Lebanon untuk Indonesia ini.

Tidak saja Victor, tetapi Rania Abi Nader penyanyi dari Baabda Lebanon mengatakan bahwa Indonesia adalah bangsa yang mencintai perdamaian. ”Indonesia telah mendengarkan kami”, kata Rania.

 

Pandemi COVID-19 Pemercepat Transformasi Digital

this formate

Perilaku orang bepergian berubah akibat pandemi COVID-19 (ilustrasi: foreign policy)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi COVID-19 telah mengubah hampir segala aspek di bisnis perjalanan dan perhotelan. Ia bahkan dianggap sebagai katalisator perubahan besar-besaran. 

Di era pandemi, orang lebih mementingkan kesehatan, keselamatan, dan jaminan keamanan saat memutuskan untuk bepergian. Sejak virus Corona menyebar ke seluruh dunia, perilaku konsumen telah bergeser menyesuaikan keadaan.

Perusahaan travel and hospitality dituntut untuk lebih memberi perhatian pada bagaimana merespons perubahan perilaku tersebut.

Hanya dalam hitungan beberapa bulan saja, industri perjalanan dan perhotelan seolah terbenam. Dampak pandemi COVID-19 terhadap sektor ini memang luar biasa. Berbulan-bulan orang memilih tinggal di rumah.

Negara pun memberlakukan aturan lockdown untuk mencegah penyebaran virus yang bergerak secara eksponensial ini. Maskapai penerbangan banyak yang bangkrut karena harus menghentikan operasinya. 

Perlahan tapi pasti, industri ini mulai pulih walaupun masih belum merata. Di beberapa negara sudah terlihat ada tren orang berani untuk bepergian.

Ada harapan dan keinginan kuat untuk kembali ke kehidupan normal. Meskipun selama belum ada vaksin, hidup tidak akan betul-betul kembali normal seperti sebelum ada pandemi.

Perilaku normal baru pun muncul, menyesuaikan keadaan. Perilaku inilah yang kelak akan menentukan seperti apa industri perjalanan dan perhotelan di masa depan.

Hanya perusahaan travel maupun perhotelan yang mau memberi perhatian khusus pada perubahan ini dan mengadaptasi diri dengan baik yang akan keluar sebagai pemenang dan berkembang.

Skift baru-baru ini berbincang intens dengan Sooho Choi, eksekutif di perusahaan transformasi bisnis digital Publicis Sapient.

Dia meyakini bahwa pemulihan jangka panjang membutuhkan perubahan mindset ke arah transformasi digital dan struktur organisasi yang ramping.

Menurut Choi konsumen kini lebih memmerhatikan aspek kesehatan dan keselamatan saat memutuskan untuk bepergian. Oleh sebab itu penting bagi perusahaan travel maupun perhotelan untuk dapat mengkomunikasikan kepada konsumen bahwa langkah pengamanan selama pandemi COVID-19 telah dilaksanakan sesuai SOP. 

“Tetapi yang yang lebih penting dari itu adalah bagaimana Anda menjaga konsistensi dan memastikan semua prosedur dijalankan.”   

Perlu diingat, hingga saat ini pelanggan masih ragu untuk mulai melakukan perjalanan lagi. Oleh sebab itu mereka membutuhkan semacam jaminan ekstra yang lebih besar dari sekadar pesan yang disampaikan  divisi marketing. 

Contohnya, seperti yang terjadi baru-baru ini: sebuah maskapai penerbangan besar harus putar balik begitu mengetahui ada penumpang yang menolak memakai masker.

Inilah tindakan otentik sekaligus ekstrim yang diharapkan pelanggan sehingga mereka merasa aman untuk melakukan perjalanan.

Publicis Sapient belum lama ini merilis hasil survei global bertajuk ‘the Ditigal Life Index.’ Hasilnya menunjukkan 92% partisipan mengatakan kesehatan dan keamanan sebagai faktor utama saat memilih maskapai penerbangan.

Dengan mementingkan keamanan, tentu Anda tidak akan bisa membuat semua orang bahagia, tetapi menurut Choi konsistensi dan keaslian menjadi awal yang baik untuk menerapkan keadaan normal baru.

Riset Publicis Sapient juga menemukan bahwa 78% responden mengatakan lebih memilih hotel yang memanfaatkan teknologi contactless dan menerapkan kebijakan minim interaksi.

Ini jelas bertolak belakang dengan keadaan di masa lalu dimana kebanyakan wisatawan akan memberi nilai tinggi kepada hotel yang memuaskan pelanggan ketika mereka berinteraksi dengan para staf. 

Kini, itu tidak berlaku lagi. Yang mereka pentingkan justru sebisanya meminimalisir interaksi sosial. Tetapi minim kontak bukan berarti buruknya interaksi. Teknologi memungkinkan terjadinya interaksi meski tidak ada kontak fisik. 

Para analis berpendapat COVID-19 telah menjadi semacam katalisator perubahan besar di industri perjalanan dan perhotelan menuju transformasi digital. Itu sebabnya penting bagi perusahaan untuk berinvestasi dalam teknologi.

Hanya mereka yang mampu bernavigasi dengan gesit, fokus pada pelanggan, dan memanfaatkan data serta solusi digital dalam pengambilan keputusan yang akan jadi pemenang di era serba digital ini.

 

Ribuan Pekerja Kapal Pesiar Masih Terdampar di Laut

this formate

Cruise ship rail. (Photo oleh Eric Bowman)

WASHINGTON DC, bisniswisata.co.id:  Operasional kapal pesiar menjelajah lautan telah terhenti sejak virus COVID-19 menjadi pandemi global Febuari lalu. Sejak saat itu sebagian besar jalur menangguhkan operasi hingga 1 November 2020.

Ketika industri kapal pesiar terhenti maka yang paling terpukul mungkin adalah para pekerjanya. Sekitar 12.000 awak kapal ( crew) masih tetap berada di kapal pesiar di perairan AS.

Dilansir dari travelpulse, ribuan crew itu di antaranya telah terdampar sejak Maret dan banyak di antaranya belum menginjakkan kaki di darat selama berbulan-bulan.

 Akash Dookhun, seorang anggota crew Celebrity Cruises dari Mauritius, belum menginjakkan kaki di tanah kering sejak dia melakukan panggilan pelabuhan di Selandia Baru pada awal Maret.  Dan dia tidak tahu kapan dia akan berdiri di atas tanah yang kokoh lagi.

 “Semakin banyak waktu berlalu dan semakin (membuat stres),” katanya kepada USA TODAY.Hingga Selasa, hampir lima bulan setelah pandemi virus korona menutup industri pelayaran, lebih dari 12.000 anggota awak tetap berada di kapal di perairan AS, menurut Penjaga Pantai AS, jumlah itu sudah turun dari lebih dari 70.000 orang di bulan Mei, kata surat kabar itu.

The Coast Guard melacak 57 kapal pesiar yang ditambatkan, di jangkar, atau sedang berjalan di sekitar pelabuhan AS, atau dengan potensi untuk tiba di pelabuhan AS, dengan sekitar 12.084 awak kapal,” Brittany Panetta, seorang letnan komandan dan juru bicara  US Coast Guard, memberi tahu USA TODAY.

 Penjaga Pantai mengatakan jumlah itu termasuk sekitar 209 orang Amerika yang tersebar di antara 37 kapal.  Tetapi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS mengatakan pada Rabu bahwa badan tersebut mengetahui dari 53 anggota awak AS di 22 kapal pesiar di perairan AS.

Kapal pesiar selalu membutuhkan setidaknya “pengawakan minimum” untuk pemeliharaan dan untuk mempertahankan operasi dasar di atas kapal bahkan saat berada di pelabuhan.

Tapi Cruise Lines International Association (CLIA) tidak setuju dengan angka 12.000 itu. “Perkiraan terbaik kami tentang jumlah pelaut di kapal pesiar yang masih menunggu repatriasi adalah sekitar 5.000, berdasarkan survei terhadap anggota jalur pelayaran utama kami,” Bari Golin-Blaugrund, direktur senior komunikasi strategis untuk CLIA, mengatakan kepada USA TODAY.

Masalahnya adalah beberapa pekerja tidak bisa begitu saja ‘diturunkan’ di pelabuhan asal mereka, dan mereka mengalami kesulitan untuk dipulangkan dengan perjalanan maskapai  karena berbagai pembatasan perjalanan pemerintah.

 “Perasaan ditinggalkan dan diabaikan oleh negara kami sendiri sangat keras bagi kami,” kata Dookhun.

Tidak dapat dipungkiri, industri kapal pesiar punya andil yang besar dalam menggerakkan sektor pariwisata dunia. Apalagi kini penumpang menikmati perjalanan dengan kapal pesiar untuk mendapatkan foto-foto Instagramable.

Tahun lalu industri ini melayani 24 juta penumpang yang dioperasikan lebih dari 50 perusahaan kapal pesiar dunia dibawah Cruise Lines International Association (CLIA). Berwisata dengan kapal pesiar sebelum terjadinya pandemi global COVID-19 sangatlah menyenangkan dan ada banyak pilihan berlayar di laut atau sungai.

Sayangnya, akibat COVID-19 maka pengoperasian kapal pesiar terus tertunda seiring dengan perkembangan pandemi global ini yang  akan berdampak merugikan pada ekonomi global semakin panjang

Industri pelayaran menghasilkan lebih dari $ 150 miliar per tahun dalam aktivitas ekonomi global dan mendukung lebih dari 1,17 juta pekerjaan di seluruh dunia.  Kapal pesiar menyentuh hampir setiap sektor, mulai dari transportasi dan pertanian, hingga perhotelan dan pariwisata, manufaktur, dan sektor terkait lainnya.

 

 

Pertimbangan Sebelum Melakukan Perjalanan di Saat COVID-19.

this formate

NEW JERSEY, AS. bisniswisata.co.id: Banyak negara berupaya mendorong warganya untuk melakukan wisata domestik untuk menggerakan perekonomian daerah.

Tawaran paket wisata dengan harga murah, diskon besar-besaran bahkan subsidi dari negara untuk melakukan perjalanan dilakukan oleh pemerintah Thailand dan Jepang.

Dilansir dari travelpulse.com, New Jersey, AS, meski banyak tawaran menggiurkan, tetap lakukan pertimbangan sebelum melakukan perjalanan di Saat COVID-19. 

Meskipun ada banyak langkah yang dapat diambil wisatawan untuk melindungi diri mereka sendiri dan orang lain dari COVID-19.

Tindakan tetap di rumah ketika merasa sakit, mengenakan masker wajah di tempat umum, menjaga jarak, rajin mencuci tangan  secara teratur,  Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat memperingatkan bahwa meninggalkan rumah untuk bepergian meningkatkan peluang Anda tertular dan menyebarkan virus.  

Namun, karena lebih banyak tujuan yang membuka kembali perbatasan mereka dan perjalanan mendapatkan momentum, terutama di dalam negeri, ada beberapa pertanyaan penting yang telah diuraikan CDC agar dapat dipertimbangkan oleh para pelancong sebelum melakukan perjalanan di saat virus corona.

Bagaimana Situasi di Destinasi Anda?

Sebelum Anda bepergian, penting bagi untuk memantau tingkat penyebaran COVID-19 di tempat tujuan.  “Semakin banyak kasus di tempat tujuan Anda, semakin besar kemungkinan Anda terinfeksi selama perjalanan dan menyebarkan virus ke orang lain ketika Anda kembali,” CDC menyatakan. 

Pelacak Data COVID CDC adalah alat hebat yang digunakan untuk melacak hal-hal seperti total kasus, kasus dalam tujuh hari terakhir dan kasus per 100.000, di antara data berwawasan lainnya.

Adakah Batasan atau Persyaratan Perjalanan di Destinasi Anda?

Banyak tujuan, termasuk beberapa tempat populer di seluruh negeri, telah menerapkan perintah karantina wajib bagi pengunjung yang berpotensi menggagalkan rencana liburan Anda jika Anda tidak siap.  

Dalam beberapa kasus, pelancong dapat melewati karantina 14 hari dengan bukti hasil tes COVID-19 negatif yang diambil dalam beberapa hari perjalanan.  Di sisi lain, Anda mungkin hanya diminta mengisi formulir pernyataan perjalanan atau tidak melakukan apa pun.

Pastikan untuk membaca tentang batasan atau persyaratan yang diberlakukan di tujuan Anda sebelum melakukan perjalanan sehingga Anda tahu apa yang diharapkan pada saat kedatangan.

Bagaimana Kemungkinan Anda Menjadi Sakit Parah Karena COVID-19?

Orang dewasa yang lebih tua dan mereka yang memiliki kondisi medis yang mendasarinya berisiko lebih tinggi menjadi sakit parah setelah tertular COVID-19.  Jika Anda termasuk dalam kelompok ini, Anda akan ingin mempertimbangkan kembali perjalanan untuk waktu yang dianggap berisiko dirawat di rumah sakit atau bahkan kematian, CDC dan otoritas kesehatan terkemuka lainnya menyarankan.

Apakah Anda Tinggal Dengan Seseorang yang Mungkin Menjadi Sakit Serius?

Jika Anda tertular virus corona selama perjalanan, ada risiko Anda bisa membawanya pulang dan berpotensi menginfeksi anggota keluarga Anda yang lain.  

Banyak negara bagian menyarankan pengunjung bahkan memerintahlan penduduk ke karantina setidaknya selama 14 hari setelah kedatangan untuk mengurangi kemungkinan penularan di komunitas mereka jika mereka memiliki virus tetapi tidak menunjukkan gejala ( OTG)

Belakangan Orang tanpa gejala ( OTG) ini juga memiliki riwayat kontak erat, baik kontak fisik, berada dalam ruangan atau berkunjung dengan radius 1 meter, dengan pasien COVID-19.

 

Paket Bahan Lauk Siap Saji Disalurkan ke Pelaku Parekraf Terdampak COVID-19 di Jabar

this formate

BANDUNG, bisniswisata.co.id:  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyalurkan bantuan berupa paket BaLaSa (Bahan Lauk Siap Saji) kepada pekerja serta pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) terdampak COVID-19 di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat (Jabar).

Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Fadjar Hutomo, S.T., MMT., CFP, menjelaskan pandemi COVID-19 berdampak besar pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Oleh karena itu, Kemenparekraf menginisiasi program sosial bertajuk BaLaSa.

“BaLaSa merupakan program sosial bagi pelaku parekraf yang diinisiasi bersama Komisi X DPR RI dan diwujudkan dengan pemberian bantuan Bahan Pokok dan lauk Siap Saji,” ujar Fadjar Hutomo, hari ini.

Fadjar menambahkan, bantuan BaLaSa ini bertujuan sebagai perlindungan sosial bagi para tenaga kerja maupun pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Dia juga berharap bantuan ini bisa berguna bagi para pengelola maupun pekerja pariwisata dan ekonomi kreatif khususnya di destinasi wisata Kabupaten Bandung.

Sebanyak 2820 paket bantuan didistribusikan selama dua hari pada 7-8 Agustus 2020 lalu, di Hotel Bumi Makmur Indah Lembang dan Blok Kaum Batujajar.

Setiap penerima bantuan mendapatkan paket BaLaSa yang berisi 5 kilogram beras, 2 liter minyak goreng, 1 kilogram gula pasir, 155 gram gula pasir putih, 100 gram abon ayam, dan 5 bungkus mie instan.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf Macan Effendi yang mengapresiasi program BaLaSa. Dede juga mengimbau agar program tersebut tepat sasaran sehingga dapat diterima oleh orang yang benar-benar membutuhkan.

“Proses penyiapan program BaLaSa ini harus mendapat persetujuan dari Gugus Tugas, agar tidak salah sasaran dalam penyaluran bantuannya,” ujar Dede.

Hadir pada kesemparan itu pula Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan
(mewakili Bupati Bandung Barat), Maman Sulaeman; Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat, Sri Dustirawati; serta Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Dedi Taufik.

 

Dampak COVID-19: Siasat Pekerja Asing di Industri Perhotelan Bertahan Hidup

this formate

Sulitnya mencari pekerjaan baru di era pandemi COVID-19 (foto: Asahi Shimbun)

OSAKA, bisniswisata.co.id: Di sebuah supermarket, Guo Ding-xun terlihat menyortir kembali belanjaan yang telah ia pilih. Meski mengaku sudah ketat mengalokasikan anggaran belanja tak lebih dari 500 yen atau sekitar Rp 70.000 per hari, pria asal Taiwan ini tetap harus lebih berhemat jika tak ingin tabungannya habis sebelum ia kembali mendapatkan pekerjaan.

Guo, 25, mewakili potret sejumlah pekerja asing di Jepang yang bekerja di industri perhotelan, salah satu bisnis yang paling terdampak akibat pandemi COVID-19. Banyak hotel terpaksa merumahkan sejumlah staf termasuk para karyawan asing.

Saat ini Guo masih menganggur. Menuruntya sangat sulit mencari pekerjaan baru. Hidupnya kini mengandalkan uang tabungan yang mulai menipis. Jika keadaan terus berlanjut, maka tak ada pilihan lain kecuali kembali pulang ke Taiwan.

Industri perhotelan di Jepang sebenarnya tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya jumlah turis asing yang bertandang ke sana.

Pandemi COVID-19 telah menghancurkan sektor ini. Pendapatan berkurang seturut menyusutnya jumlah tamu asing yang menginap. Manajemen terpaksa merumahkan para stafnya termasuk pekerja asing seperti Guo.

Bekerja dan tinggal di Jepang adalah impiannya sejak SMA. Guo yang tergila-gila oleh anime dan drama Jepang, bertekad kelak akan hidup di negeri sakura itu.

Impiannya pun mewujud tiga tahun lalu saat ia tiba di Osaka untuk belajar bahasa Jepang dan mulai bekerja di sebuah hotel di kota Shizuoka. Sejak Januari 2019, ia telah diangkat sebagai karyawan tetap. 

Baru saja Guo merasa nyaman dan percaya diri dengan kemampuannya berbahasa Jepang dan senang melayani pelanggan yang datang, virus Corona menyerang Jepang. Banyak reservasi yang telah dibuat para turis asing terpaksa dibatalkan.

Sejak pertengahan Februari hingga kini, tak ada satu tamupun yang datang menginap di hotel. Gajinya sudah dipotong separo menjadi sekitar 100.000 yen, atau sekitar Rp. 13.700.000 per bulan.  

Kemudian pada Maret, hotel tempatnya bekerja telah meminta para karyawan untuk mengundurkan diri secara sukarela. Guo pun memutuskan untuk mulai mencari pekerjaan baru. Ia memanfaatkan koneksinya saat belajar bahasa di sekolah Bahasa Jepang di Osaka. 

Sayangnya menurut Guo tak banyak peluang pekerjaan yang tersedia di sektor perhotelan dan pariwisata. Sementara itu tabungannya pun kian menipis. Mungkin hanya cukup untuk hidup selama dua bulan ke depan.

“Mimpi yang ingin saya wujudkan di Jepang akan sirna. Usahaku akan berakhir sia-sia.” kata Guo seperti dilansir Asahi Shimbun.

Lain lagi pengalaman mahasiswa China, Zhang Jianyu, yang berusia 28 tahun. Ia telah mantap untuk bekerja di sebuah hotel di Prefektur Osaka begitu lulus dari sebuah perguruan tinggi di sana.

Ia mendapatkan kesenangan bekerja di dunia pariwisata dan melayani pelanggan. Zhang pernah bekerja paruh waktu di fasilitas penginanan saat masih mahasiswa.

Sayangnya pada akhir April lalu, beberapa saat saja sebelum mulai bekerja, Zhang diberitahu tidak ada lagi pekerjaa untuknya. Keputusan itu muncul karena bisnis perhotelan mengalami dampak luar biasa akibat pandemi COVID-19.

Zhang kini tengah mencari-cari pekerjaa baru meski menurutnya tak mudah mendapatkannya. Untuk hidup sehari-hari, ia masih memiliki sisa uang yang diberikan pemerintah sebagai subsidi plus gaji bulan pertama.

“Uang saya mungkin akan habis sebelum saya menemukan pekerjaan baru. Haruskah saya berhenti bekerja di hotel dan memilih jenis pekerjaan lain?” kata Zhang.  Dia bahkan kadang berpikir untuk kembali ke negaranya.

Menurut survei yang dilakukan Badan Pariwisata Jepang terhadap 21.700 fasilitas akomodasi di seluruh Jepang, tingkat hunian rata-rata menurun drastis

Dari 52,7 persen pada Februari menjadi hanya 16,3 persen di April. Hotel di kawasan perkotaan bahkan terdampak lebih parah. Tingkat hunian turun 70% dibanding tahun lalu.

Data kementerian tenaga kerja menunjukkan ada 1,66 juta orang asing, termasuk karyawan tidak tetap, yang bekerja di Jepang pada akhir Oktober 2019, atau naik dua kali lipat selama lima tahun sejak 2014. Di Prefektur Osaka, angka pekerja migran naik 2,6 kali dari 40.000 menjadi 105.000.

Pada Mei, tingkat hunian di industri penginapan rata-rata hanya tersisa 12,8%. Dari seluruh pekerja asing itu, 206.000 di antaranya bekerja di sektor akomodasi dan restoran yang paling terdampak karena pandemi COVID-19. 

 

 

Taman Pintar Science Corner Lengkapi Fasilitas Yogyakarta International Airport (YIA)

this formate

Pojok Science Corner Taman Pintar, Bandara YAI ( Foto: Taman Pintar Yogyakarta)

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Dibukanya kembali akses transportasi memungkinkan masyarakat untuk saling berkunjung dengan tetap mematuhi protokol kesehatan di tengah pandemi. Bandara, terminal, dan stasiun kereta api mulai ramai penumpang.

Taman Pintar bekerjasama dengan PT Angkasa Pura 1-Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) yang berlokasi di Kulonprogo memberikan layanan edukasi kepada para tamu bandara melalui Science Corner Taman Pintar.

Science Corner Taman Pintar merupakan sebuah pojok sains yang menyajikan beragam alat peraga interaktif dan e-library untuk mengisi waktu tunggu pesawat dengan aktivitas yang mengedukasi.

Science Corner diresmikan oleh Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, pada Senin, 10 Agustus 2020 dengan dihadiri Wakil Bupati Kulonprogo, Fajar Gegana, kata Afia Rosdiana, Kepala Bidang Pengelolaan Taman Pintar, Yogyakarta, hari ini.

Secara umum terdapat 4 zona yaitu Zona Penyambutan, Zona Baca, Zona Bermain dan Zona Sains. Zona Penyambutan terdiri dari alat peraga Magic Floor, LCD TV yang berisi info tentang Taman Pintar, spot foto, dan QR scan.

Zona Baca terdiri dari 4 unit komputer dengan e-library (berisi e-book, Ensiklopedi Taman Pintar (Ensiklotepi), Video, Film Pengetahuan, dan masih banyak lagi), buku bacaan fisik, sarana meja kursi untuk membaca.

Zona Bermain terdiri dari bermacam alat permainan motorik kasar untuk anak usia dibawah 8 tahun. Zona Sains terdiri dari alat peraga Harpa Tanpa Dawai, Uji Konsentrasi, dan Cincin Loncat lengkap dengan informasi keilmuannya. 

Masyarakat dapat mengakses layanan ini secara gratis di YIA. Taman Pintar dan PT Angkasa Pura 1 berharap layanan ini mampu memberikan edukasi secara tepat kepada masyarakat selama menunggu jadwal pesawat dan memberikan kesan Yogyakarta sebagai kota pendidikan yang mencerdaskan dan menyenangkan.

Bandar Udara Internasional Yogyakarta atau dikenal dengan nama Yogyakarta International Airport ( YAI)  terletak di distrik Temon Kabupaten Kulon Progo, yang melayani Daerah Istimewa Yogyakarta yang dioperasikan oleh Angkasa Pura I.

Keberadaannya menggantikan Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta yang mulai beroperasi pada 6 Mei 2019 dengan kedatangan pertama, penerbangan Citilink dari Bandara Internasional Halim Perdanakusuma Jakarta.

Bandara mulai beroperasi penuh pada 29 Maret 2020 dengan semua penerbangan terjadwal kecuali turboprop dan penerbangan non-komersial lainnya) dipindahkan dari bandara lama.

 

Labuan Bajo Perkuat Kualitas Layanan Jelang Asean Summit dan KTT G20

this formate

Labuan Bajo, Flores dipersiapkan sebagai destinasi dengan pelayanan premium. ( Foto: Kemenparekraf).

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Labuan Bajo di NTT terus berbenah menuju kesiapan diri sebagai tuan rumah Asean Summit dan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 yang akan digelar pada 2023.

Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo Flores, Shana Fatina, dalam keterangannya mengatakan, ada sejumlah pembangunan dan peningkatan pelayanan yang dilakukan untuk menjadikan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata premium.

Salah satunya, kesiapan Bandara Komodo menerima kedatangan penerbangan Internasional. Shana menuturkan sebenarnya Bandara Komodo sudah bisa menerima penerbangan internasional pada akhir 2020. Namun, akibat pandemi COVID-19, hal tersebut ditunda hingga 2021.

“Targetnya Februari 2021 Airport Komodo akan dikelola bersama Airport Changi dan Cardig untuk melayani penerbangan internasional, ditargetkan tahun depan akan dilakukan perpanjangan runway dan apron ” kata Shana, hari ini.

Untuk tahun ini yang dikerjakan Kemenhub perpanjangan runway 250 meter dan pemotongan bukit Telumpang sehingga pesawat bisa terbang dengan nyaman, ujarnya sambil mereview hasil kegiatan “Bincang Media: Membangun 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas Yang Berkualitas” yang digelar pada 7 Agustus 2020 lalu.

Selain itu, dia mengatakan, pihaknya juga mendorong peningkatan sumber daya manusia pelaku pariwisata di wilayah koordinasi BOP Labuan Bajo agar penyediaan fasilitas premium, juga dilayani sumber daya manusia yang juga premium.

“Kami juga mendorong pariwisata berkualitas yang menjaring kunjungan wisatawan dengan tingkat pengeluaran yang tinggi, setidaknya  US$1.500  per kunjungan per orang. Jadi saat ini kami selain mendorong penyediaan fasilitas premium, kami juga berupaya agar sumber daya manusia yang mengelola juga premium,” ucap Shana.

Shana Fatina, Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata ( BOP) Labuan Bajo

Shana mengatakan, meskipun ingin menyasar wisatawan dengan daya beli tinggi, namun pihaknya tetap akan mengokomodir para backpacker. Ia menuturkan pihaknya juga mempersiapkan sejumlah fasilitas dan atraksi wisata yang nantinya dapat dijangkau oleh para backpacker.

“Karena memang banyak sekali potensi pariwisata yang ada di Flores yang selama ini dirintis oleh mereka (backpacker). Jadi kami akan siapkan kantong-kantongnya,” katanya

Dengan demikian seluruh wisatawan dari berbagai kalangan bisa menikmati wisata berkualitas premium di Flores dan juga memberikan nilai tambah karena interaksi dengan masyarakat dan kearifan lokal sambil menikmati kekayaan alam di Flores, ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Edwin Darmasetiawan, menuturkan ITDC bekerja sama dengan BOP Labuan Bajo Flores serta kementerian dan instansi terkait membenahi kawasan Tana Mori yang ada di Labuan Bajo untuk dijadikan sebagai destinasi wisata kelas premium.

Pembangunan ini, sebut Edwin, merupakan upaya ITDC dan BOP Labuan Bajo Flores untuk menjadikan Labuan Bajo yang sudah ditentukan sebagai salah satu dari 5 Destinasi Super Prioritas yang ada di Indonesia menjadi destinasi wisata premium yang menarik wisatawan mancanegara dengan daya beli tinggi.

Masterplan Tana Mori sudah kami selesaikan jadi ini sudah sangat siap untuk dibangun. Tana Mori juga akan dibangun dengan konsep-konsep yang sesuai dengan nilai-nilai Travel & Tourism Competitiveness Index (TTCI), jadi ketika proses pembangunan dimulai itu akan sangat memperhatikan infrastruktur hygiene sesuai dengan nilai TCCI,” papar Edwin.

Tak hanya itu, Edwin juga menyebutkan pihaknya tengah membangun dua unit hotel bintang lima dan satu unit hotel bintang empat untuk menampung para tamu KTT G-20 dan Asean Summit nanti.

“Jadi hotel ini nantinya diharapkan dapat menampung tamu-tamu dari acara tersebut dan ke depannya dapat dimanfaatkan untuk tempat menginap wisatawan,” ujar Edwin.