Dampak COVID-19: Siasat Pekerja Asing di Industri Perhotelan Bertahan Hidup

0
14

Sulitnya mencari pekerjaan baru di era pandemi COVID-19 (foto: Asahi Shimbun)

OSAKA, bisniswisata.co.id: Di sebuah supermarket, Guo Ding-xun terlihat menyortir kembali belanjaan yang telah ia pilih. Meski mengaku sudah ketat mengalokasikan anggaran belanja tak lebih dari 500 yen atau sekitar Rp 70.000 per hari, pria asal Taiwan ini tetap harus lebih berhemat jika tak ingin tabungannya habis sebelum ia kembali mendapatkan pekerjaan.

Guo, 25, mewakili potret sejumlah pekerja asing di Jepang yang bekerja di industri perhotelan, salah satu bisnis yang paling terdampak akibat pandemi COVID-19. Banyak hotel terpaksa merumahkan sejumlah staf termasuk para karyawan asing.

Saat ini Guo masih menganggur. Menuruntya sangat sulit mencari pekerjaan baru. Hidupnya kini mengandalkan uang tabungan yang mulai menipis. Jika keadaan terus berlanjut, maka tak ada pilihan lain kecuali kembali pulang ke Taiwan.

Industri perhotelan di Jepang sebenarnya tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya jumlah turis asing yang bertandang ke sana.

Pandemi COVID-19 telah menghancurkan sektor ini. Pendapatan berkurang seturut menyusutnya jumlah tamu asing yang menginap. Manajemen terpaksa merumahkan para stafnya termasuk pekerja asing seperti Guo.

Bekerja dan tinggal di Jepang adalah impiannya sejak SMA. Guo yang tergila-gila oleh anime dan drama Jepang, bertekad kelak akan hidup di negeri sakura itu.

Impiannya pun mewujud tiga tahun lalu saat ia tiba di Osaka untuk belajar bahasa Jepang dan mulai bekerja di sebuah hotel di kota Shizuoka. Sejak Januari 2019, ia telah diangkat sebagai karyawan tetap. 

Baru saja Guo merasa nyaman dan percaya diri dengan kemampuannya berbahasa Jepang dan senang melayani pelanggan yang datang, virus Corona menyerang Jepang. Banyak reservasi yang telah dibuat para turis asing terpaksa dibatalkan.

Sejak pertengahan Februari hingga kini, tak ada satu tamupun yang datang menginap di hotel. Gajinya sudah dipotong separo menjadi sekitar 100.000 yen, atau sekitar Rp. 13.700.000 per bulan.  

Kemudian pada Maret, hotel tempatnya bekerja telah meminta para karyawan untuk mengundurkan diri secara sukarela. Guo pun memutuskan untuk mulai mencari pekerjaan baru. Ia memanfaatkan koneksinya saat belajar bahasa di sekolah Bahasa Jepang di Osaka. 

Sayangnya menurut Guo tak banyak peluang pekerjaan yang tersedia di sektor perhotelan dan pariwisata. Sementara itu tabungannya pun kian menipis. Mungkin hanya cukup untuk hidup selama dua bulan ke depan.

“Mimpi yang ingin saya wujudkan di Jepang akan sirna. Usahaku akan berakhir sia-sia.” kata Guo seperti dilansir Asahi Shimbun.

Lain lagi pengalaman mahasiswa China, Zhang Jianyu, yang berusia 28 tahun. Ia telah mantap untuk bekerja di sebuah hotel di Prefektur Osaka begitu lulus dari sebuah perguruan tinggi di sana.

Ia mendapatkan kesenangan bekerja di dunia pariwisata dan melayani pelanggan. Zhang pernah bekerja paruh waktu di fasilitas penginanan saat masih mahasiswa.

Sayangnya pada akhir April lalu, beberapa saat saja sebelum mulai bekerja, Zhang diberitahu tidak ada lagi pekerjaa untuknya. Keputusan itu muncul karena bisnis perhotelan mengalami dampak luar biasa akibat pandemi COVID-19.

Zhang kini tengah mencari-cari pekerjaa baru meski menurutnya tak mudah mendapatkannya. Untuk hidup sehari-hari, ia masih memiliki sisa uang yang diberikan pemerintah sebagai subsidi plus gaji bulan pertama.

“Uang saya mungkin akan habis sebelum saya menemukan pekerjaan baru. Haruskah saya berhenti bekerja di hotel dan memilih jenis pekerjaan lain?” kata Zhang.  Dia bahkan kadang berpikir untuk kembali ke negaranya.

Menurut survei yang dilakukan Badan Pariwisata Jepang terhadap 21.700 fasilitas akomodasi di seluruh Jepang, tingkat hunian rata-rata menurun drastis

Dari 52,7 persen pada Februari menjadi hanya 16,3 persen di April. Hotel di kawasan perkotaan bahkan terdampak lebih parah. Tingkat hunian turun 70% dibanding tahun lalu.

Data kementerian tenaga kerja menunjukkan ada 1,66 juta orang asing, termasuk karyawan tidak tetap, yang bekerja di Jepang pada akhir Oktober 2019, atau naik dua kali lipat selama lima tahun sejak 2014. Di Prefektur Osaka, angka pekerja migran naik 2,6 kali dari 40.000 menjadi 105.000.

Pada Mei, tingkat hunian di industri penginapan rata-rata hanya tersisa 12,8%. Dari seluruh pekerja asing itu, 206.000 di antaranya bekerja di sektor akomodasi dan restoran yang paling terdampak karena pandemi COVID-19. 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.