Pesona New Normal Museum Lawang Sewu

this formate

Layanan Foto Booth pakaian Jawa, Belanda dan Jepang warnai program Long Week-end di Nuseum Lawang Sewu. ( Foto: PT KAI Pariwisata) 

SEMARANG, bisniswisata.co.id: Sejak di buka kembali tempat wisata Museum Lawang Sewu rangkaian kegiatan terus ditingkatkan untuk memberikan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan para pengunjung setia Museum Lawang Sewu di saat masa Adaptasi Kebiasaan Baru.

Selain menampilkan layanan Foto Booth berkostum Belanda,Jawa Kuno dan Jepang serta menyelenggarakan promo dalam rangka memeriahkan HUT ke-75 RI.Kali ini Museum Wisata Lawang Sewu menghadirkan “Pesona New Normal LawangSewu”

Totok Suryono,Direktur Utama PT KA Pariwisata menyampaikan kegiatan ini diselenggarakan di masa Long weekend yang berlangsung dari tanggal 22-24 Agustus 2020. Kegiatan acara ini di diikuti secara gratis.

Di area acara para pengunjung bisa menikmati music jazz yang akan menampilkan Harry Toledo Faeturing Keys Project, dapat mencicipi makanan khas Semarang, melihat-lihat cenderamata, sekaligus ikutan lomba foto kostum bergaya Belanda, Jawa Kuno dan Jepang.

Kegiatan acara tersebut tetap menerapkan protokol kesehatan dan Para pengunjung wajib mematuhi 3M yaitu Mencuci tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak

Di lokasi Museum Wisata Lawang Sewu  juga disediakan fasilitas untuk para pengunjung seperti tempat cuci tangan, hand sanitizer, thermo gun,  jaga jarak,serta penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sesuai protokol kesehatan yang dianjurkan oleh Pemerintah.

“Fasilitas higenitas Kami siapkan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengunjung saat  berwisata dan mengikuti acara ,” Jelas Totok Suryono tanpa menjelaskan berapa target pengunjung yang diharapkannya pada long week-end ini.

 

IHLC: Pertumbuhan Sektor Makanan Halal di Tengah Pandemi Global Terus Naik

this formate

Produk-produk  Halal Food skala industri dari  Alwatania. Poultry, Saudi Arabia . ( Foto: alwatania.sa)

JAKARTA, bisniswisata.co.id; Himbauan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) agar masyarakat dunia lebih banyak mengonsumsi makanan sehat, menghindari konsumsi alkohol karena melemahkan sistem kekebalan tubuh telah berdampak pada permintaan halal food, kata Sapta Nirwandar, ketua Indonesia Halal Lifestyle Center ( IHLC), hari ini.

Pedoman WHO, menunjukkan optimisme tentang pertumbuhan sektor makanan halal di tengah pandemi global COVID karena berdampak positif pada permintaan makanan  halal.

Dimulai dari akhir Desember 2019 hingga Februari 2020, Kota Wuhan, Tiongkok dihantui oleh wabah pandemi virus corona yang menyerang warganya dan diyakini sebagai asal mula virus yang telah menyebar ke seluruh dunia.

Disebut jadi asal mula virus Corona, pemerintah China kini melarang atas perdagangan dan konsumsi hewan liar. Dampaknya langsung maupun tak langsung makanan halal semakin populer saat orang beralih untuk kenyamanan selama masa ketidakpastian.

Apalagi data dunia, kemarin (20/8) jumlah yang terpapar penyakit ini mencapai  22,5 juta kasus COVID-19 dengan 15,2 Juta pasien sembuh. Kekhawatiran atas risiko COVID-19 telah berkontribusi pada peningkatan kesadaran masyarakat dunia tentang pentingnya mengonsumsi makanan halal dan higienis. 

Demand halal food yang meningkat  mencerminkan halalan thoyyiban mengikuti prinsip-prinsip Islam.  Ini secara tidak langsung mempromosikan makanan halal, ”kata Sapta Nirwandar.

Menurut dia, konsumen semakin sadar bahwa makanan non-halal dan makanan yang tidak diolah secara higienis berpotensi besar menyebabkan penyakit seperti yang kita lihat saat ini.

Dia mengutip temuan McKinsey & Company yang menunjukkan adanya pergeseran perilaku konsumen yang lebih memilih makanan yang sehat dan bersumber secara lokal lebih banyak sekarang daripada sebelum pandemi. Perusahaan konsultan tersebut menyatakan dalam laporan April 2020 berjudul Reimagining food retail in Asia after COVID-19.

“Hal ini akan sangat bagus prospeknya bagi industri halal di tanah air maupun di seluruh dunia. Karena kita tidak bicara ‘hanya’ halal food tapi industri halal secara keseluruhan dimana bagi Muslim mulai dia bangun tidur dan sikat gigi, semua kebutuhannya sehari-hari harus mengandung bahan-bahan halal,” tambahnya.

Laporan ekonomi halal global dan domestik menunjukkan bahwa industri tersebut telah berkembang selama bertahun-tahun. Sedikitnya 1,8 miliar konsumen Muslim dunia menghabiskan sekitar US $ 2,2 triliun pada 2018 di berbagai sektor ekonomi halal, yang menunjukkan pertumbuhan 5,2 persen tahun-ke-tahun. 

” Ekonomi halal secara keseluruhan diproyeksikan bernilai $ 3,2 triliun pada tahun 2024, berdasarkan laporan Status Ekonomi Islam Global 2019 yang diproduksi oleh DinarStandard, sebuah firma konsultan dan penelitian.

“Konsumen Muslim Indonesia menghabiskan sekitar $ 218,8 miliar di seluruh sektor inti ekonomi halal pada tahun 2017 dan bahwa angkanya diperkirakan mencapai $ 330,5 miliar pada tahun 2025,” 

Untuk sektor makanan dan minuman akan  melihat pertumbuhan nilai terbesar karena pengeluaran di sektor ini diperkirakan mencapai $ 247,8 miliar pada tahun 2025, naik dari rekor US $ 170,2 miliar pada tahun 2017, ujarnya sambil menambahkan bahwa semua itu adalah proyeksi pra-COVID-19.

Sapta juga menceritakan tren melonjaknya permintaan halal food  tidak hanya terlihat di Indonesia karena Komite Pemantau Halal Inggris (HMC), sebuah badan sertifikasi halal, melaporkan peningkatan yang signifikan dalam permintaan daging halal karena wabah tersebut.

” Orang yang tadinya beli daging 1 kg setiap minggu, mereka sekarang meminta hingga 10 kali lebih banyak dalam kunjungan yang sama di awal-awal pandemi di akhir Maret. Kini pastinya data akan berubah naik lagi karena sudah 5,5 bulan wabah ini berjangkit merata dan tidak ada negara di dunia yang tidak terpapar virus,”

Seperti dilansir DinarStandard, Indonesia menempati urutan pertama dengan pengeluaran terbesar untuk makanan halal, sebesar US$ 173 miliar pada tahun 2018, jauh lebih banyak daripada Turki yang berada di urutan kedua dengan US $ 135 miliar.

Sapta mengatakan laporan tersebut juga menunjukkan bahwa bahan-bahan halal, pakan halal, teknologi makanan halal dan makanan dan makanan ringan berbahan dasar daging termasuk di antara “sektor panas untuk pertumbuhan” pada tahun 2020, menekankan bahwa ada peluang bisnis prospektif untuk dimanfaatkan di seluruh ruang makanan halal. 

Dengan wabah baru-baru ini, orang ingin meningkatkan kekebalan mereka melalui pola makan yang sehat. “Ini mencerminkan halalan thoyyiban yang mengikuti prinsip-prinsip Islam dan secara tidak langsung mempromosikan makanan halal, ”kata Sapta Nirwandar. 

 

Kenangan di Almeroz, Hotel Halal  Andalan Bagi Solo Traveler Muslimah di Bangkok.

this formate

Hotel Almeroz tampak menonjol dengan  kubah keemasan yang menjadi ciri arsitektur khas Middle East. ( Foto-foto: HAS)

BANGKOK, bisniswisata.co.id: Pukul 7.00 pagi saya sudah berada di kolam renang,  di lantai 16 Al Meroz,  hotel halal pertama dan terkemuka di Bangkok. Subhanallah indahnya pemandangan dari atas atap hotel bintang empat ini.

Hanya ada dua kolam yaitu satu kolam dewasa sepanjang 25 meter dan satu kolam kecil untuk anak-anak. Batas antara kolam dan atap hotel dibatasi dengan pagar bening bak kaca sehingga tembus pandang melihat bangunan kota Bangkok di bawahnya.

Sambil senam  di pinggiran kolam, tampak  jembatan layang di sekeliling hotel serasa berada di sekitar Jl Dr Satrio, Mall Ambassador, di Jakarta. Hotel ini berada di 4 Ramkhamhaeng 5 Alley, Khwaeng Suan Luang, Khet Suan Luang, Krung Thep Maha Nakhon 10250.

Untuk mencapai kolam renang ini begitu keluar lift kita akan menemukan ruangan lounge yang ditata apik dan agaknya di desain sebagai tempat menerima tamu karena belok kanan akan menemukan kolam renang di atap. Sedangkan belok kiri adalah area restaurant Bustan yang bisa menampung 200 orang beratap langit.

Bustan merupakan salah satu andalan untuk acara-acara kantor atau acara keluarga dimana meja-meja akan dipasang untuk santap malam dengan lilin dan lampu yang romantis.

Dari kolam renang ini saya bisa melihat bangunan dengan atap berbentuk bunga dari bangunan Yayasan Pusat Islam Thailand yang menawarkan layanan keagamaan dan bimbingan kepada komunitas Muslim di sini.

Pada kunjungan ini Sanya Saengboon, yang menjabat sebagai Managing Director dan General Manager hotel. Dia bercerita tanah yang menjadi lokasi Yayasan Pusat Islam di Bangkok tersebut berasal dari tanah wakaf milik  Ahmad Rifai, orangtua dari pemilik hotel Al Meroz, Rausak Mulsap, President & CEO.

Rupanya untuk tamu wanita memang bisa memakai kolan renang di pagi hari, sedangkan pria baru bisa menggunakan pada siang hari. Area kolam renangnya tidak luas cuma sekitar 30 x 30 meter saja dan pagi ity saya satu-satunya tamu yang memanfaatkan fasilitas ini.

Setelah melakukan pemanasan dengan senam  selasa 10 menit, saya beristirahat sejenak sambil memperhatikan hiasan dinding bergaya Timur Tengah dan kursi-kursi malas dari anyaman plastik berwarna hitam di pinggir kolam.

Menghabiskan waktu satu setengah jam di kolam, saya memang betah berlama-lama apalagi  serasa di kolam pribadi karena tidak ada tamu yang lain. Saya memang futin renang 1000 meter di kolam renang dekat rumah yaitu di Citos, Jakarta Selatan dari Senin-Jumat. 

Usai mandi dan berdandan, saya langsung turun ke restoran Diwan di lobby untuk makan pagi. Tak sengaja pintu lift terbuka di lantai tiga yang menjadi tempat meeting. Banyak tamu wanita yang mengenakan baju panjang dan hijab.

Sementara tamu prianya juga berpakaian muslim plus songkok putih di kepala. Saya langsung keluar dari lift untuk melihat aktivitas Meeting Incentive Conference & Exhibition ( MICE)  yang dipusatkan di lantai tiga ini.

Muslim di Thailand bukanlah penduduk mayoritas seperti halnya di Indonesia. Namun rupanya Thailand tergolong negara Friendly Muslim, berbagai pelayanan untuk kaum Muslim bisa kita dapatkan.

Semua ruangan rapat tampak terisi oleh beragam acara sejumlah organisasi Muslim dan kegiatan perusahaan di Bangkok ini. Sore nanti acara penandatanganan kerjasama Thai Lion Air dan One World halal hub dari Indonesia dan industri lainnya juga akan dilaksanakan di lantai tiga hotel  Al Meroz.

Menuruni tangga dari lantai tiga ke lobby,  saya langsung masuk Diwan Restaurant dimana makan pagi bagi seluruh tamu hotel di sediakan dengan sistem buffet. Wow banyak sekali pilihan makanan yang ada sehingga bisa tergoda untuk mencicipi semua hidangan.

Rausak Mulsap, President & CEO hotel Almeroz dan beragam fasilitas hotel ( Foto: HAS)

Leading halal hotel

Menatap  Al Meroz Hotel berdiri megah di kejauhan membuat saya  terpesona. Diantara belantara gedung-gedung  kota Bangkok ,  bangunan itu tampak menonjol dengan  kubah keemasan yang menjadi ciri arsitektur khas Middle East.

Berada di dalam hotel dengan konsep halal ini juga menarik. Begitu tamu masuk ke dalam hotel,  door man dengan ramah menyambut. Melihat hijab yang saya pakai diapun langsung mengucapkan “Assalamualaikum” dan dijawab Mualaikum salam oleh  door man sambil menundukkan kepala maupun  pandangan matanya  serta meletakkan tangan di dada.

Nuansa Timur Tengah dan Islami langsung terasa. Untuk sejenak desain interiornya membuat saya asyik membidikan kamera handphone ke berbagai sudut. Pilihan furniture terutama kursi-kursi yang tinggi membuat kita merasa di istana.

Berbagai pernak-pernik pelengkap interior seperti vas bunga dan guci-guci melengkapi kecantikan tata ruang lobbyi. Gorden ungu menjuntai indah membingkai jendela kaca setinggi dinding.

Tassel berwarna emas mengikat pinggang gorden, sungguh perpaduan aksesoris yang serasi. Aura ruangan ini seolah membawaku ke bangunan-bangunan megah di Mekkkah dan Madinah. Ada lagi sofa-sofa beludru berwarna biru yang eye catching sekali.

Selagi menikmati interior lobby, beruntung saya bertemu dengan Rausak Mulsap, President & CEO hotel ini. Di dampingi Sanya Saengboon, Managing Director dan General Manager hotel kami asyik mengobrol di Lobby.

Rausak bercerita nama Al Meroz dalam bahasa Arab adalah warisan dari ayah karena tanah lokasi hotel berdiri memang pemberian ayahnya, Ahmad Rifai,  seorang pengusaha dan tokoh agama di Bangkok.

“Hotel buka Oktober 2015 namun selama lebih dari dua puluh tahun kami memang sudah membuka restoran Sofia di samping hotel,” ungkapnya.

Sofia juga halal restoran pertama di Bangkok dan banyak dikunjungi wisatawan Indonesia, Malaysia, China Muslim serta pengunjung umum lainnya. Kini restoran Sofia menampung 400 tamu dan kerap dipakai kedutaan dari negara-negara Islam untuk berbagai aktivitas mereka.

Makan makanan halal bagi umat Islam bukan perkara sepele. Dengan kata lain, sangat penting bagi muslim untuk menjaga dirinya dari makanan yang haram. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al Quran :

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik dari apa yang terdapat di bumi “ (QS.Al-Baqarah:168)

Muslimah Solo Travelet

“Jujur saja, kehadiran hotel ini juga berkat dorongan tamu Sofia restoran agar di Bangkok ada halal hotel sehingga terwujud yang saya impikan hotel halal yang menerapkan syariah Islam,” ungkap Rausak.

Al Meroz Hotel memiliki 242 kamar yang luas dan nyaman, mulai dari Superior, Deluxe , Family room serta Suites, Semua kamar dilengkapi tanda arah kiblat ke Mekkah serta sajadah dan  Al Qur an.

Untuk tamu wanita yang bepergian sendiri ( solo traveler ), pihak hotel  menawarkan satu lantai  eksklusif untuk mereka dengan staf wanita yang melayani kamar-kamar. Tak heran dengan perhatian khusus itu tingkat hunian hotel ini mencapai 92%.

Tamu banyak datang dari Malaysia, Indonesia, Timur Tengah, Eropah di samping dari kawasan Thailand sendiri. Kehadiran  Al Meroz hotel  ibarat oase di tengah padang pasir tandus, terutama bagi muslim. Hotel ini menawarkan konsep yang selaras dengan gaya hidup muslim.

Tamu hotel tak perlu ragu menyantap makanan dari resto-resto yang terdapat di hotel ini seperti resto Diwan, Barakat, Papyruz ataupun makanan yang dipesan lewat layanan room service 24 jam. Semua makanan dan minumannya bersertifikat halal.

Petugas hotel telah dibekali pengetahuan tentang prinsip dan  gaya hidup muslim, bahkan sebagian petugas hotel adalah muslim. 

Kamar-kamar di hotel ini seperti hotel lainnya terdapat beberapa pilihan mulai dari superior room, deluxe room hingga suites. 

Nah enaknya, di setiap kamar tersedia sajadah, jadwal waktu shalat, Al Quran, lengkap dengan petunjuk arah kiblat. menurut saya  Al Meroz hotel bukan tempat nyaman dan tentram bagi solo traveler tapi juga bagi pebisnis, keluarga muslim maupun non muslim dan komunitas  yang berniat jalan-jalan di Bangkok.

Sudah terbayang serunya kembali ke Bangkok dan menginap di hotel ini lagi bersama komunitas pengajian yang rutin yang saya ikuti. Tak sabar juga berfoto-ria di segala sudut lobby hotel ini……

 

Simak, Cara Jepang Memanjakan Wisatawan Muslim

this formate

Fasilitas beribadah umat Islam banyak tersedia di Jepang mulai dari bandara hingga restoran ( Foto: The National)

TOKYO, bisniswisata.co.id: Dalam sepuluh tahun terakhir Pemerintah Jepang, negara dengan mayoritas penduduk (80%) beragama Budha atau Shinto, gencar menggarap destinasi wisata yang ramah untuk turis muslim.

Istilahnya Friendly Muslim karena mereka berharap dapat mengambil keuntungan dari segmen pasar global yang tengah booming tersebut. 

Pemerintah Jepang menyasar wisatawan muslim dari Timur Tengah dan negara-negara mayoritas berpenduduk Islam di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia.

Mereka menyadari betapa penting dan berharganya kehadiran wisatawan Muslim yang jumlahnya diperkirakan bakal mencapai 200 juta dari seluruh dunia pada 2022.

Segala kemudahan ditawarkan termasuk pencabutan beragam pembatasan untuk mendapatkan visa kunjungan bagi wisatawan dari negara-negara berpenduduk mayoritas Islam.

Jepang telah mengeluarkan kebijakan bebas visa bagi warga negara Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Wajar, karena 65% wisatawan muslim datang dari negara-negara di Asia Tenggara tersebut.

Perlahan tapi pasti, Jepang mulai mendapatkan simpati. Keinginan pemerintah membuka diri bagi wisatawan muslim pun direspons baik para pelaku di sektor pendukung, seperti restoran.

Setiap tahun, situs Halal Gourment Japan rutin mengeluarkan peringkat top 10 restoran halal dan ramah muslim paling populer. Tujuannya tak lain untuk memudahkan wisatawan muslim mendapatkan informasi tempat makan yang ramah muslim.

 “Kini, ada semacam gerakan membuka restoran yang menyajikan makanan halal di Jepang,” kata Shusaku Hinoki dari Freeplus, perusahaan pariwisata swasta Jepang, seperti dilansir the National.

Selain turis dari negara-negara Timur Tengah, Jepang juga mencatat peningkatan jumlah wisatawan yang datang dari negara-negara Islam di Asia.

Wisatawan dari Indonesia, misalnya naik dari 63.617 pada 2009 menjadi 136.797 di 2013. Tren yang sama juga terjadi di kalangan turis dari Malaysia yang meningkat dua kali lipat dari 89.509 menjadi 176.521 pada 2014.

Jumlah wisatawan Muslim ke Jepang terus meningkat dari tahun ke tahun, terutama sejak negara berjulukan Negeri Matahari Terbit itu meluncurkan kampanye turisme halal.

Pada 2016, ada 24 juta turis asing yang datang ke Jepang, hampir 1 jutanya (sekitar 700 ribuan) merupakan wisatawan Muslim. Destinasi paling populer di kalangan mereka adalah Tokyo, Osaka, dan Hokkaido.

Ketersediaan fasilitas dan layanan halal terus bertambah seturut naiknya jumlah wisatwan muslim ke Jepang. Lihat saja angka Muslim Friendly Travel Index yang dikeluarkan perusahaan pemeringkat CrescentRating.

Indeks untuk Jepang naik dari 3,9 (angka tertinggi 10) di 2013 menjadi 4,5 pada tahun berikutnya. Di 2019, Jepang bahkan masuk ke peringkat top 3 negara ramah muslim terbaik diluar negara-negara OIC (Organisation of Islamic Cooperation).

Pemerintah Jepang terus meningkatkan layanan bagi wisatawan Muslim. Baru-baru ini sebuah perusahaan catering bagi maskapai penerbangan menggelontorkan dana sekitar US$ 530.000 untuk meningkatkan fasilitasnya di Bandara Internasional Narita dengan menyediakan makanan bersertifikat halal dalam pesawat.

Ada juga aplikasi Halalminds milik orang Indonesia yang telah diluncurkan untuk membantu wisatawan muslim mencari tempat-tempat yang menjual produk halal. Selain itu, mulai tumbuh biro-biro perjalanan yang menawarkan paket yang didesain khusus bagi pelancong muslim.

Salah satunya adalah Miyako International Tourist Company yang berbasis di kota Hiranoku, Osaka. Perusahaan ini telah menawarkan paket perjalanan halal tours sejak 2012.

“Dengan bantuan staf muslim yang sudah terlatih, kami mengkhususkan diri menjadi tuan rumah bagi para wisatawan muslim dengan membantu mereka merencanakan perjalanan dan mengatur kegiatan wisata selama di Jepang,” demikian seperti ditulis dalam situs mereka.

“Kami mengerti apa yang menjadi keprihatinan para pelancong Muslim, yakni ketersediaan tempat makan halal, fasilitas beribadah, dan seluruh aspek lain terkait keyakinan agama Islam.

Selain itu, Anda dapat menikmati kunjungan ke masjid-masjid di Jepang dan melihat-lihat kehidupan Islam di Jepang.”

Belum lama ini Ihram.co melaporkan bahwa kota Himeji juga sedang gencar mengikuti jejak Tokyo, Osaka, Hokkaido, dan daerah-daerah lainnya di Jepang untuk menggaet turis Muslim. 

“Kami sangat serius mengundang turis Muslim dari seluruh dunia berkunjung ke Jepang, termasuk dari Indonesia,” kata pengusaha travel Jepang, Takeo Uchiyama sambil menambahkan Jepang memiliki banyak objek wisata menarik, baik dari sisi sejarah, kekinian, maupun keindahannya.

Pemerintah Jepang melihat belakangan ini turis Muslim begitu antusias melancong ke luar negeri. Jepang ingin ‘menangkap’ mereka. Isu halal pun menjadi perhatian penting.

 

Sejumlah Rintangan Hadang Rencana Bali Buka Diri Untuk Turis Asing

this formate

Doa bersama digelar jelang pembukaan kembali Bali untuk turis (foto: skift)

BALI, bisniswisata.co.id: Pemerintah Provinsi Bali mengumumkan akan kembali membuka diri bagi wisatawan asing bulan depan, tepatnya 11 September 2020.

Mereka kini tengah mempersiapkan diri untuk menerima tamu-tamu manca negara yang biasanya membanjiri tempat-tempat wisata seperti pantai, pura, persawahan, dan studio yoga. 

Kedatangan para pelancong asing ini diharapkan dapat kembali menggairahkan sektor perhotelan yang telah berbulan-bulan mati suri. Sekaligus juga, hal ini dapat membuka peluang bagi para pekerja di sektor ini untuk kembali bekerja.

Sejak pandemi COVID-19 melanda dunia, tak ada lagi turis yang datang ke Pulau Dewata ini. Banyak pelaku usaha di sektor pariwisata dan perhotalan terpaksa merumahkan sebagian besar karyawannya karena tak ada pemasukan lagi. Keadaan ini telah berlangsung berbulan-bulan, sejak Februari.

Sejumlah postingan teman-teman yang baru-baru ini berkunjung ke Bali mengamini keadaan pulau yang juga dikenal sebagai pulau seribu pura itu. Umumnya mereka mendapati obyek wisata yang sepi pengunjung; banyak toko suvenir, pakaian maupun rumah makan yang tutup.

Wakil gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, yang juga mantan ketua asosiasi hotel dan restoran  ( PHRI) di Bali, mengatakan kepada CNN Travel bahwa pembukaan kembali Bali bagi kedatangan turis asing sangat penting terutama untuk perekonomian pulau itu.

 “Pandemi COVID-19 merupakan bencana paling dahsyat bagi pariwisata Bali. Ini jauh lebih buruk daripada bom Bali, baik yang pertama maupun yang kedua, bahkan lebih buruk dari semua bencana letusan Gunung Agung yang digabungkan.” ujarnya.

Menurut catatan zwagub Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati yang akrab disapa Cok Ace,  tamu hotel turun lebih dari 99% di bulan Juli, dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. Pendapatan daerah pun berkurang sekitar Rp 9,7 triliun setiap bulan.

Puluhan ribu pekerja lokal kehilangan mata pencaharian dan banyak pekerja informal yang tak lagi dapat mengais rezeki sehingga banyak yang putus asa. 

Beberapa penduduk asli Bali terpaksa kembali menekuni mata pencaharian tradisional mereka seperti berkebun, menggarap sawah, atau menjadi nelayan, sebagai upaya untuk bertahan hidup.

Sementara para pendatang yang berasal dari luar Bali, praktis tak punya banyak pilihan selain menunggu keadaan membaik.

Isu kesehatan yang belum tuntas

Tanggal 11 September yang juga dikenang sebagai tragegi 9/11 saat terjadi penyerangan teroris di World Trade Center, New York, AS, pada 2001, tinggal beberapa minggu saja. Namun sejumlah isu kesehatan yang belum tuntas dapat menghambat minat wisatawan asing untuk datang. 

Barangkali hanya sedikit saja pelancong yang mau ke Bali dan bersedia melakukan karantina selama dua minggu, baik saat baru tiba maupun ketika hendak meninggalkan Bali, untuk sebuah liburan singkat. Apalagi, sebagain besar asuransi perjalanan dan medis telah mengatakan tidak akan menanggung biaya pengobatan jika para turis ini bepergian ke tempat-tempat yang tidak direkomendasi pemerintah asal negara.

Satu fakta lagi: saat ini warga negara Australia – yang secara tradisi menempati porsi terbesar jumlah turis asing yang datang ke Bali – menghadapi aturan ketat negaranya terkait perjalanan ke luar negeri. Mereka hanya diizinkan meninggalkan Australia jika untuk keperluan mendesak dan itu tidak termasuk perjalanan untuk liburan.

Apalagi, masih ada keraguan di kalangan masyarakat internasional tentang kemampuan Indonesia menangani pandemi COVID-19.

Data per 18 Agustus menunjukkan ada sekitar 2.000 kasus baru per hari secara nasional. Masalahnya banyak kalangan meragukan akurasi data tersebut: apakah angka ini merefleksi jumlah kasus dan kematian yang sesungguhnya?

Kemungkinan besar, tidak. Misalnya, data korban meninggal yang diduga terserang virus corona tetapi hasil tesnya belum keluar, mereka tidak dicatatkan sebagai korban COVID-19.

“Saya pikir kita bisa yakin bahwa jumlahnya terlalu kecil,” kata Panji Hadisoemarto, seorang ahli epidemiologi di Universitas Padjadjaran Indonesia.

“Kami tidak menguji cukup banyak orang dan kami tahu pasti bahwa banyak kasus tanpa gejala atau kasus dengan gejala yang sangat ringan, mungkin tidak terdeteksi.”

Saat ini Bali cukup berhasil melandaikan kasus Corona. Angkanya kini tinggal kurang dari 50 kasus baru per hari, untuk populasi sekitar empat juta orang.

Pemerintah lokal dianggap cukup efektif melakukan pelacakan kontak hingga ke tingkat desa dan penyediaan kapasitas ruang isolasi di rumah-rumah sakit rujukan COVID-19.

Begitupun, dampak pembukaan kembali Bali untuk wisatawan lokal pada 31 Juli lalu, belum begitu terlihat signifikan.

“Berdasarkan pengalaman selama ini, pembukaan destinasi wisata berisiko meningkatkan kembali jumlah kasus corona,” kata Hadisoemarto.

Menurut dia selalu ada risiko wisatawan akan membawa COVID-19 ke Bali dan menjadi sumber penularan baru di Bali. “Saya tidak heran jika kelak di Bali akan terjadi peningkatan lagi.” tambahnya

Namun Cok Ace berpendapat bahwa banyak tujuan wisata di Bali berkonsep open air, sehingga aturan jarak sosial lebih mudah diterapkan. Apalagi lokasi vila-vila pribadi umumnya terbuka jadi mendukung pengurangan transmisi virus yang bergerak eksponensial itu.  

Tetapi sejauh ini, upaya untuk membangun koridor perjalanan dengan negara lain seperti Australia, Korea Selatan, dan Cina masih belum banyak membuahkan hasil. Utamanya, karena pendekatan mereka menangani pandemi COVID-19 sangat berbeda.

 

Bisnis UKM Indonesia di Tanah Suci Mekkah

this formate

JEDDAH, bisniswisata.co.id: Dalam semangat peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan Indonesia, KJRI Jeddah mengimplementasikan tagline Indonesia Maju, dengan upaya meningkatkan nilai ekspor Indonesia ke Saudi melalui pemberdayaan berbagai UKM di daerah, untuk sektor pangan dan mebel.

Menggandeng KADIN Mekkah, tim Ekonomi dan Perdagangan KJRI Jeddah bekerjasama dengan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Eskpor Indonesia (BPPEI) Kemendag RI menghadirkan lima UKM di bidang pangan dan lima UKM di bidang mebel, bertemu para importir Saudi melalui skema virtual B2B Meeting.

Sejalan dengan narasi yang disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam pidatonya pada saat Sidang Tahunan MPR RI pada 14 Agustus 2020. Salah satu faktor penopang kemajuan ekonomi nasional adalah melalui pemberdayaan UKM. Pelibatan UKM untuk meningkatkan ekspor di tengah kemunduran ekonomi di Saudi, diharapkan dapat turut menguatkan ekonomi daerah di Indonesia.

Menurut Konjen Eko Hartono, Saudi memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap impor makanan — 80 persen—, pemerintahnya berkepentingan untuk menjaga rantai pasok makanan ke dalam negeri. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki peluang, mengisi kebutuhan Arab Saudi.

Sementara disektor properti, Saudi membutuhkan pasokan mebel berkualitas. Pengrajin mebel di Indonesia diharapkan dapat mengisi peluang-peluang tersebut dengan harga yang bersaing. Pasar mebel Saudi, selama ini diisi produk negara-negara Barat dengan harga relatif tinggi.

 Pada acara B2B virtual,  UKM di Indonesia – telah dikurasi pihak BPPEI– , memperkenalkan keunggulan produk masing-masing. Para pengusaha/importir Saudi akan menindaklanjuti transaksi dengan calon mitra UKM pilihan mereka masing-masing.

Jemaah Umroh

Target potensial pasar di Saudi termasuk para jemaah umroh dan haji asal Indonesia. Produk makanan asal Indonesia berpotensi terserap oleh pasar ini, mengingat preferensi kuliner jemaah Indonesia masih berkiblat ke cita rasa nusantara. Sementara produk-produk mebel Indonesia dapat memenuhi hotel-hotel tempat mereka tinggal selama beribadah di tanah suci.

Di tengah menurunnya perekonomian dunia, para Diplomat Indonesia dituntut mencari berbagai peluang bisnis global untuk menjaga kekokohan pilar ekonomi nasional. Para UKM yang mewakili perekonomian rakyat, menjadi salah satu prioritas KJRI Jeddah dalam mengemban misi diplomasi ekonomi.

Salah satu capaian diplomasi ekonomi KJRI Jeddah adalah penandatanganan MoU antara BPOM RI dan Saudi Food and Drugs Authority (SFDA), pada tanggal 13 Agustus 2020 lalu. MoU tersebut diharapkan dapat mempermudah proses ekpor produk-produk makanan dan obat-obatan ke Saudi.

Jika memungkinkan, KJRI Jeddah mengundang para UKM Indonesia untuk berpartisipasi pada Jeddah Trade Expo 2020 di bulan Desember mendatang. Pada bulan Februari 2021, KJRI akan kembali menyelenggarakan Indonesian Hajj Expo, sebuah pameran tahunan untuk mempromosikan beragam produk Indonesia, mulai dari makanan, pakaian, hingga layanan perbankan dan asuransi. 

Saat ini, Indonesia masih bisa berbangga karena nilai perdagangan non-migas bilateral dengan Saudi masih tercatat surplus. Industri pangan Indonesia masih memilki kemampuan produksi yang baik, sehingga kekuatan ekspor dapat terjaga.

ATR 72 Mendarat di Buntu Kunik, Lancarkan Piknik ke Toraja

this formate

TANA TORAJA, bisniswisata.co.id: Waktu menunjukkan pukul 11.07 WITA, Kamis 20 Agustus 2020, saat roda pesawat ATR 72-600 registrasi PK-WJO menjejak landasan bandara Buntu Kunik Toraja, Kec. Mengkendek, Kab. Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Pesawat ATR ini mendarat mulus setelah menjalani pemeriksaan lazimnya pesawat yang baru mendarat dan dipersiapkan untuk tinggal landas menuju bandara Sultan Hasanuddin, Maros, Ujung Pandang.

Dengan tetap menerapkan standar tatanan keamanan penerbangan baru, pesawat proving flight (uji coba) yang dioperasikan Wings Air tersebut membawa empat kru (awak kokpit dan awak kabin); flight operation officer (FOO), teknisi dan pihak terkait, lepas landas pukul 12.50 WITA.

Proving flight menurut pihak Wings Air — surel yang diterima bisniswisata.co.id— bagian langkah strategis perusahaan dalam upaya melakukan pengkajian pasar dan potensi layanan penerbangan berjadwal atau rute evaluasi.

Selain itu, Wings Air menguji kemampuan (kapabilitas) pengoperasian pesawat ATR 72 di bandara Buntu Kunik, Toraja yang menjadi salah satu pintu masuk ke Kabupaten Tana Toraja.

Dalam waktu dekat Wings Air akan memulai melayani penerbangan reguler penumpang berjadwal pada rute Makassar – Toraja pergi pulang (PP). Dengan ketersediaan jadwal penerbangan dari dan ke Tana Toraja, Wings Air optimis dapat memberikan pilihan perjalanan dengan waktu relatif singkat, efektif dan terjangkau.

Terutama bagi penumpang yang berasal dari Makale, Bittuang, Bonggakaradeng, Kurra, Makale Selatan, Makale Utara, Malimbong Balepe, Mappak, Masanda, Rano, Rantetayo, Rembon, Simbuang, Sangalla dan daerah lain di sekitar.

Layanan Wings Air tidak hanya memperlancar pergerakan masyarakat dan kebutuhan logistik, juga diharapkan meningkatkan arus kunjungan wisatawan piknik ke Tana Toraja.

Kualitas Udara di Kabin Terjaga

Upaya memperluas jaringan layanan, juga diimbangi peningkatan kualitas kemanan, kenyamanan dan keselatan yang ditawarkan Wings Air. Termasuk memaksimalkan berbagai langkah guna pencegahan penyebaran COVID-19 antara lain mengatur proses masuk dan keluar penumpang dari pesawat udara secara berurutan guna meminimalkan kepadatan.

Pada pesawat ATR, naik dan turun dari pintu bagian belakang. Hal ini akan meminimalsir interaksi bertatapan langsung (face to-face) antara penumpang. Area dapur (galley) yang terletak di bagian belakang juga meminimalkan interaksi tatap muka antara penumpang dan awak kabin.

Untuk menjaga kesehatan dan keselamatan penerbangan, Wings Air juga telah meningkatkan fase sterilisasi seluruh armada. Proses pembersihan pesawat dilakukan oleh tim teknisi dan aircraft interior exterior cleaning (AIEC), meliputi aircraft interior cleaning (membersihkan bagian dalam pesawat) dan aircraft exterior cleaning (membersihkan bagian luar pesawat).

Kualitas udara segar (fresh air) dipasok dengan tingkat pembaruan volume udara kabin yang tinggi, sehingga siklus udara terjamin bersih. Aliran udara dari atas (langit-langit kabin) bergerak satu arah ke bawah (lantai).

Hal ini yang meminimalkan pergerakan udara ke depan dan arah belakang pada kabin (blown transversally and vertically). Udara akan tersedot ke area lantai melalui panel (floor panel level) sesuai proses pada katup aliran tekanan udara (pressurization outflow valves operation).

Volume udara kurang lebih 95 meter kubik di kabin akan selalu diperbaharui dalam waktu 5 sampai dengan 7 menit dengan mengandalkan 2 buah mekanisme ECS packs operative, 2 buah recirculation dan extraction system menggunakan environment control system (ECS)) yang menjamin udara dalam kabin tetap segar.

Muliaman: Perlu 4 Jurus Untuk Pulihkan Pariwisata Indonesia

this formate

Prof Muliaman Dharmansyah Hadad  PhD, Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein ( kiri) bersama penulis, tahun lalu saat berkunjung ke KBRI Bern, Swiss. 

BERN. Swiss, bisniswisata.co.id: Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang terpukul akibat pandemi global yang sedang dihadapi, Oleh karena itu memang memerlukan respon kebijakan pemerintah yang pas dan komprehensif untuk mengangkat kembali sektor pariwisata.

Hal itu diungkapkan Prof Muliaman Dharmansyah Hadad  PhD, Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein, menanggapi telah dicabutnya lockdown dan pembatasan perjalanan di beberapa negara semasa pandemi global COVID-19 saat ini.

Menurut Muliaman, sedikitnya ada  empat hal yang perlu diperhatikan untuk memulihkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia dimana Pemprov Bali, misalnya,  berencana membuka pariwisata untuk wisman pada 11 September 2020 mendatang.

” Hal yang perlu diperhatikan pertama adalah kepercayaan (trust). Perlu dibangun kepercayaan masyarakat akan keamanan berwisata,” katanya hari ini melalui WA chat.

Berbagai pihak terkait mulai dari transportasi, akomodasi dan objek wisata harus mengikuti pedoman atau protokol kesehatan yg ditetapkan oleh pemerintah, sehinga tidak ada keraguan untuk berwisata kembali, tambahnya 

Unsur kedua, Empathy, yakni membangun kembali hubungan emosional masyarakat dengan tempat-tempat wisata melalui berbagai kampanye keindahan obyek wisata via berbagai media sosial. 

“Yang ketiga, Awarnesse , yakni mengajak masyarakat untuk kembali merencanakan liburan dalam negeri dan keempat terkait  Performance, yakni memberikan penawaran paket wisata yg terjangkau melalui paket terpadu tiket angkutan, hotel, paket wisata ( jalan2 ) serta voucher,”

Muliaman memberikan contoh misalnya, PT KAI Pariwisata, anak perusahsan PT KAI gencarkan menjual paket wisata dengan angkutan kereta api yg digabung dengan berbagai fasilitas lain termasuk akomodasi dengan harga terjangkau. 

Kegiatan pariwisata memiliki dampak berganda yang luas dalam menggerakkan perekonomian daerah tujuan wisata. Satu orang wisatawan yang datang berkunjung membutuhkan transportasi, akomodasi, makan, minum, belanja kebutuhan sehari-hari, masuk obyek beli souvenir dan kebutuhan lainnya.

“Itulah sebabnya harus dirancang paket-paket untuk mendukung perekomian daerah dan kelangsungan pariwisata di kota-kota  kabupaten,” kata Muliaman.

Intinya perjalanan wisata memiliki linkage yang panjang dan akan sangat efektif membantu ekonomi daerah. Menghidupkan beragam sektor terkait, menyerap jutaan tenaga kerja, Usaka Mikro, Kecil, Menengah ( UMKM).

“Oleh karena itu perlu pengelolaan yang profesional  dan keterlibatan pemda-pemda diseluruh tanah air untuk menggerakan wisata domestik, ” kata Dubes yang mantan Ketua Otoritas Jasa Keuangan Indonesia (OJK) selama periode Juli 2012 – Juli 2017.

Dari pemikirannya itu mungkin perlu dipikirkan semacam paket Hop-On, Hop-Off ( HoHo) untuk PT Kereta Api Wisata sehingga dengan membeli 1 tiket pass Jakarta- Jogya, misalnya, penumpang bisa singgah berwisata di Cirebon menikmati berbagai obyek wisata dan kuliner lalu melanjutkan perjalanan ke Jogja.

Paket Hoho biasanya adalah bus bertingkat di kota-kota di Eropa, Amerika, Australia dan diberbagai kota besar lainnya di Asia termasuk di sejumlah provinsi di Indonesia dimana wisatawan dapat turun-naik bus tersebut untuk mengunjungi rute-rute yang berhenti di obyek-obyek wisata populer.

Mengemas paket-paket wisata bersubsidi yang terjangkau dan bersinergi antara pemerintah dan industri pariwisata kini dilakukan oleh Pemerintah Jepang dan Thailand melibatkan online travel agent, akomodasi, airlines dan banyak industri lainnya yang juga bisa diterapkan di Indonesia.

 

 

Aplikasi iWareBatik Karya Mahasiswa Indonesia di Luncurkan di Swiss

this formate

BERN, Swiss, bisniswisata.co.id: Memperingati HUT RI ke-75, Kedubes RI di Bern, Swiss mencatat sejarah mendampingi peluncuran aplikasi  iWareBatik, yaitu “Saya Sadar Batik” yang dibuat oleh mahasiswa Indonesia di Università della Svizzera Italiana (USI), Lugano, Swiss bekerja sama dengan UNESCO

“Dalam proses pengembangan aplikasi ini, Puspita Ayu Permatasari selaku Koordinator Riset Teknologi Komunikasi iWareBatik dan tim USI juga melakukan konsultasi intensif dengan KBRI,” kata Duta Besar RI untuk Bern, Muliaman D. Hadad

Mahasiswa Indonesia di Università della Svizzera Italiana (USI), Lugano, Swiss bekerja sama dengan UNESCO meluncurkan aplikasi iWareBatik untuk dokumentasi digital Batik sebagai warisan budaya takbenda.  

Digitalisasi batik ini berfungsi untuk membantu para pemangku kepentingan baik dari Indonesia maupun dunia internasional untuk mengidentifikasi ragam tekstil batik, nilai filosofis dibalik motif batik, tempat asalnya, dan informasi terkait produsen batik di daerah (desa / desa batik), galeri batik, dll.)

Ide mendigitalkan batik bisa sejalan dengan semakin banyaknya wisatawan yang akan datang ke Indonesia untuk membeli dan menggunakan batik. Oleh karena itu materi tentang pariwisata Indonesia sudah masuk dalam aplikasi, ungkap Prof Muliaman Dharmansyah Hadad ​PhD, Duta Besar untuk Swiss dan Liechtenstein.

Aplikasi iWareBatik sekaligus mempromosikan destinasi obyek wisata termasuk sentra batik di Indonesia.

Pengembangan teknologi digital iWareBatik bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pariwisata berkelanjutan dan pelestarian properti warisan UNESCO (World Heritage Sites / Intangible Cultural Heritage) di Indonesia.  

Program teknologi digital ini diwujudkan melalui kerjasama beasiswa LPDP Indonesia, Asosiasi Sahabat Budaya, Laboratorium Teknologi eLab USI, Ketua USI UNESCO bidang Teknologi Komunikasi Informasi (TIK).

” iWareBatik diluncurkan dalam bentuk situs web iwarebatik.org dan aplikasi smartphone.  Tepat pada 17 Agustus 2020, aplikasi iWareBatik sudah bisa diunduh di masing-masing ponsel (tersedia di Android dan iOS),” ujarnya.

Melalui proyek ini, Pusoita & tim  dapat mengidentifikasi berbagai motif batik dari seluruh provinsi di nusantara beserta artinya.  Lebih dari seratus motif batik telah berhasil dirangkum dalam aplikasi, dan masih akan diperkaya kembali.

Aplikasi ini juga dilengkapi dengan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang memungkinkan pengguna untuk mengetahui motif batik dengan mengambil foto dari kain batik yang sedang digunakan. 

Hingga saat ini aplikasi ini dapat mengidentifikasi beberapa motif batik yaitu merak, kawung, ampiek, parang, dan akan dikembangkan lebih lanjut kedepannya.

Tidak hanya memanjakan visual ratusan motif batik Indonesia, aplikasi ini juga menjelaskan secara detail proses pembuatan batik.  Mulai dari tahapan menggambar pola, pewarnaan, teknik melukis, hingga mengeringkan kain batik dijelaskan dalam aplikasi ini.

Puspita Ayu Permatasari selaku Koordinator Riset Teknologi Komunikasi iWareBatik untuk Batik Indonesia nengatakan melalui aplikasi ini pihaknya berharap masyarakat tidak hanya mengenakan batik (pakai) tetapi juga memahami (mewaspadai) makna batik yang digunakan.

Puspita saat ini sedang menekuni Teknologi Komunikasi Informasi (TIK) untuk Warisan Budaya Takbenda dan  Pariwisata sebagai fokus studi doktoralnya di USI.

Fitur peta interaktif juga tersedia pada aplikasi ini, sehingga masyarakat dapat mengetahui motif-motif batik khas dari masing-masing provinsi di Indonesia.

 “Harapannya orang-orang yang berkunjung ke Indonesia misalnya ke Kalimantan Selatan, atau Maluku, atau provinsi manapun. Bisa mengetahui motif batik khas daerah tersebut, sebelum memutuskan membeli batik apa yang akan dijadikan oleh-oleh,” ujar Puspita.

Proyek ini juga mendapat dukungan penuh dari Ketua UNESCO USI, Prof Lorenzo Cantoni, yang menyatakan bahwa proyek ini sejalan dengan visi, misi dan nilai-nilai yang dianut oleh UNESCO.

Yaitu penggunaan teknologi yang bijak untuk cagar budaya.  Dalam hal ini dokumentasi batik digital dapat lebih menjangkau generasi muda dan mewariskan nilai-nilai leluhur yang terkandung dalam motif batik tersebut.

 

RI Ajak Pelaku Kreatif ASEAN Rumuskan Strategi Jelang Tahun Internasional Ekraf 2021

this formate

RI Ajak Pelaku Kreatif ASEAN Rumuskan Strategi Jelang Tahun Internasional Ekraf 2021

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Indonesia melalui Kemenparekraf/Baparekraf mengajak para pelaku ekonomi kreatif di kawasan ASEAN untuk
bersama-sama mengidentifikasi situasi, merumuskan strategi dan langkah yang diperlukan menjelang tahun internasional ekonomi kreatif untuk pembangunan berkelanjutan 2021 di era adaptasi kebiasaan baru.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk kepentingan itu menggelar Webinar Creative Economy in Southeast Asia bertajuk “Welcoming The Internasional Year of Creative Economy for Sustainable Development, 2021” Episode II: Virus- Resilient Subsectors Insight, untuk industri game dan konten kreatif, pada 18 Agustus 2020.

Direktur Hubungan Antarlembaga Kemenparekraf/Baparekraf, K. Candra Negara, dalam Webinar Creative Economy in Southeast Asia, Rabu (19/8/2020) mengatakan, para pelaku industri game dan konten kreatif di ASEAN diharapkan merumuskan strategi dan langkah bersama menjelang tahun internasional ekonomi kreatif pada 2021 di tengah era adaptasi kebiasaan baru.

“Berbagi informasi dari semua pemangku kepentingan di kawasan Southeast Asia sangat perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran, ” kata Candra Negara.

Selain itu juga memperkuat kerja sama, dan memperluas jaringan. Pelaku industri game dan konten kreatif harus mempersiapkan diri untuk situasi normal baru, ungkapnya.

Candra Negara menambahkan selama beberapa tahun terakhir, Indonesia sangat aktif dalam upaya peningkatan ekonomi kreatif di tingkat internasional.

Sejauh ini ada dua pencapaian historis Indonesia dalam memajukan ekonomi kreatif. Pertama, Indonesia mengadakan konferensi dunia 2018 tentang ekonomi kreatif, yang diadopsi dari agenda Bali dalam pembangunan ekonomi.

Kedua, sebagai implementasi dari agenda Bali, Indonesia menginisiasi resolusi persatuan bangsa pada tahun internasional ekonomi kreatif untuk pembangunan berkelanjutan tahun 2021.

“Kita harus yakin, bahwa ekonomi kreatif adalah kunci pembangunan ekonomi dan bisa tumbuh lebih cepat dalam kerja sama internasional,” ujar Candra Negara.

Direktur Industri Kreatif Film, TV, dan Animasi Kemenparekraf/Baparekraf Syaifullah menjelaskan bahwa bisnis kreatif yang melibatkan kontak fisik secara langsung saat ini terkena dampak pandemi yang lebih besar. Proses produksi para pelaku usaha kreatif harus menyesuaikan diri dengan situasi adaptasi kebiasaan baru saat ini.

“Akibat pandemi, animasi, game, dan film, trafiknya cenderung naik. Karena, selama masa PSBB masyarakat banyak yang menonton dan bermain game di rumah. Namun, proses produksi yang melibatkan 100 orang lebih, terpaksa berhenti karena tidak bisa berproduksi lagi,” kata Syaifullah.

Syaifullah mengatakan tantangan yang dihadapi oleh pelaku industri game dan konten kreatif ialah harus siap menyesuaikan ritme kerja yang sangat berbeda dari sebelumnya. Mulai dari sumber daya manusia hingga budget dalam proses produksinya, harus dilakukan secara digital.

Oleh karena itu, Kemenparekraf terus mengupayakan untuk memberikan bantuan kepada pekerja kreatif dengan memberikan stimulus dan fasilitas pendukung lain agar bisa menunjang transformasi digital sehingga pelaku tetap bisa berproduktif dengan segala keterbatasan yang ada.

Webinar seri kedua ini menghadirkan beberapa narasumber yang menyampaikan informasi strategis antara lain Ketua Asosiasi Game Indonesia Cipto Adiguno, President Game Developers Association of The Philippines Alvin Juban, serta Vice President Digital Creative Content Division Malaysia Digital Economy Corporation (MDEC) Hasnul Hadi Samsudin.

Ketua Asosiasi Game Indonesia Cipto Adiguno mengatakan, saat ini industri game dan konten kreatif didorong untuk membangun model bisnis baru melalui platform digital dalam menghadapi era normal baru.

“Transformasi digital inilah yang dinilai akan menjadi tantangan bisnis bagi dunia game dan konten kreatif di era normal baru,” kata Cipto.

Cipto juga mengatakan permintaan produksi game saat ini sangat rendah dan seluruh biaya produksi yang semula sudah di susun terhambat dan turun dikarenakan pandemi. Selain itu, permintaan game berbasis interaksi fisik menurun drastis karena kebijakan PSBB dan physical distancing.

“Dalam proses pemulihan di sektor kreatif, para pelaku industri kreatif harus mengubah model bisnis baru melalui platform digital. Mengubah paradigma yang tadinya saving money menjadi investing ‘ujar Cipto.

Hal ini dilakukan, agar pelaku usaha di industri ini saling bekerja sama dalam menciptakan produk game untuk jangka panjang. Sehingga, ketika situasi sudah pulih kembali, kita bisa memproduksi game secara cepat dan tepat, tambahnya.

Sementara itu, President Game Developers Association of The Philippines Alvin Juban mengatakan tujuan utama industri game di Filipina saat ini adalah pengembangan original IP (Intellectual Property).

“Karena pembatalan atau penundaan event industri game secara global. Pihak kami tidak bisa menghasilkan IP dalam jumlah yang besar,” kata Alvin.

Saat ini, Filipina sedang dalam proses memperbaiki dan menyesuaikan materi pemasaran terkait IP ke dalam format online atau melalui platform digital.

“Ini bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan, butuh proses panjang. Namun, pihak kami tidak memiliki pilihan, selain terus mengembangkan produk di bidang digital sebagai upaya pemulihan sektor ekonomi kreatif di Filipina,” ujar Alvin.

Vice President Digital Creative Content Division Malaysia Digital Economy Corporation_ (MDEC) Hasnul Hadi Samsudin, mengatakan masalah utama yang dihadapi konten kreator digital saat ini adalah mengatur keuangan (cashflow). Masalah operasional seperti ini disebabkan karena ketidakpastian perekonomian dan alur kerja yang tidak beraturan akibat pandemi.

Untuk itu Hasnul Hadi mengatakan solusi yang tepat untuk memulihkan sektor ekonomi kreatif adalah dengan melakukan kolaborasi antar para investor dengan pelaku industri game dan konten kreatif dalam mengembangkan dan menciptakan produk game berkualitas.