Mengenang Ajip Rosidi (31 Januari 1938-29 Juli 2020). Bagian : 6

this formate

Oleh P. Hasudungan Sirait

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sastrawan sekaligus budayawan Ajip Rosidi meninggal dunia di usia 83 tahun. Ia meninggal setelah menjalani operasi di RSUD Tidar Kota Magelang. Ajip Rosidi sempat dirawat tiga hari setelah terjatuh di rumah. Berikut serial tulisan untuk mengenang sosok teladan ini;

PROFESOR-SASTRAWAN TERHORMAT YANG SMA PUN TAK TAMAT

Tahun 1955 istimewa betul bagi Ajip Rosidi. Tidak hanya karena dia yang masih siswa kelas 2 Taman Madya (SMA) menikah waktu itu. Tapi juga karena kemudian, tak lama berselang, ia menjadi nakhoda majalah yang didirikannya, ‘Prosa’. 

Pengalamannya sejak 1953 sebagai pemimpin redaksi ‘Suluh Siswa’ ia manfaatkan dalam menjalankan terbitan sastra yang dijual untuk umum ini.

Lantas, masih di tahun 1955, kepengarangan dia mendapat garis bawah tebal. ‘Tahun-tahun Kematian’, kumpulan 5 cerpen yang kemungkinan ia tulis saat dirinya masih 13 tahun, diterbitkan Gunung Agung. 

HB Jassin, redaktur perusahaan penerbit tersebut yang meloloskannya. Kendati telah banyak menulis di koran dan majalah terkemuka, bagi dia kelahiran kitab perdananya yang diawasi tokoh yang kelak bersebutan ‘paus sastra’ tentulah sebuah pengakuan penting.

Ternyata umur ‘Prosa’ pendek saja. Ajip yang masih 17 tahun berpaling ke Balai Pustaka. Sejak November 1955 ia bekerja di sana. Menjadi pegawai rupanya tak membuat dirinya jenak. 

Baru seumur jagung, penulis yang juga menghasilkan karya dalam bahasa Sunda ini sudah tak kerasan. Hingga Februari 1956 saja ia di sana.

Hidup sepenuhnya sebagai pengarang, itulah keputusan dia. Agar bisa menafkahi keluarga, ia lantas menulis sebanyak-banyak. Kalau semula cerita pendek dan puisi yang dihasilkannya, sekarang ia merambah esei dan kritik.

Begitupun, penghasilannya kecil saja. Salah satu penyebabnya adalah banyak juga karyanya yang ditolak media massa. Bukan mutu yang kurang semata masalahnya tapi juga daya tampung surat kabar dan koran yang kecil. 

Jumlah media di zaman itu masih sedikit dan yang membuka ruang untuk karya sastra segelintir saja. ‘Mimbar’, ‘Siasat’, ‘Indonesia’, dan ‘Zenith’ yang acap memuat buah pena dia.

Di paruh pertama 1950-an itu perekonomian kita baru saja menggeliat sehingga daya beli masyarakat rendah untuk apa saja. Membeli lepas suratkabar atau majalah pun merupakan sebuah kemewahan di masa itu; apalagi berlangganan. 

Perlu kita ingat bahwa kendati proklamasinya pada 17 Agustus 1945, Indonesia ‘de facto’ baru merdeka setelah penyerahan kedaulatan, tahun 1949.

Di tahun 1956 kembali ia mendapat penawar hati. Balai Pustaka menerbitkan karya prosanya lagi yakni ‘Di Tengah Keluarga’. Menurut taksiran HB Jassin, Ajip masih 17 tahun saat menulis karya bernuansa otobiografi ini.

Dalam buku ini, kata HB Jassin, Ajip memaparkan silsilah keluarga sendiri. Si anak Jatiwangi masih kecil sewaktu papi dan maminya cerai. Maminya kawin 3 kali lagi dan papinya 2 kali lagi.

Satu saja saudara kandung Ajip yaitu adiknya [Ayatrohaedi]. Keduanya sempat ikut sang ayah yang merupakan guru sekolah rakyat (SD). Mereka hidup dengan para saudara tiri dan ibu baru yang bukan pengasih. Nestapa panjanglah yang mereka rasakan sebagai imbas perpisahan mami-papi.

Dua kumpulan puisi Ajip Rosidi juga menjadi buku di tahun 1956. ‘Pesta’ diterbitkan oleh Pembangunan. Sedangkan ‘Ketemu di Jalan’ oleh Djembatan. Ketemu di Jalan merupakan karya dia bersama sahabatnya sesama anak Taman Madya (SMA) di Taman Siswa: Sobron Aidit dan SM Ardan. 

Tiga remaja yang dekat dengan Seniman Senen ini berkoloborasi dengan meniru tiga senior berdarah Minang—Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin—yang melahirkan buku puisi ‘Tiga Menguak Takdir ‘ pada 1950.

Lumayan tinggi sudah pun pencapaiannya sebagai pengarang, jenuh juga Ajip menjalani kehidupan di Ibukota yang sumpek-semrawut. Ingin mereguk kembali indahnya kehidupan desa di masa kanak-kanak.

Pada Maret 1956 ia pulang untuk menetap di Jatiwangi, Majalengka. Ternyata baru 5 bulan ia sudah tak jenak di sana.
Sesungguhnya, selama 5 tahun ia tinggalkan Jatiwangi praktis sedikit saja berubah; seperti desa lainnya, gerakannya masih saja melata.

Hal  yang banyak berubah adalah diri Ajip. Ia bukan lagi anak berumur 12 tahun seperti waktu meneruskan sekolah ke Jakarta. Ia telah menjadi lelaki dewasa. Selain berstatus suami sejak tahun sebelumnya (1955), wawasan dan berpergaulan dia sudah luas. Pula, dirinya telah ternama sebagai penulis.

Seperti yang selalu terjadi pada mereka yang telah jauh (tak hanya secara geografis) rantaunya, terasing sudah dia dari tanah kelahiran. Raganya saja yang pulang; jiwanya tidak. 

Ia laksana anak lama ditunggu (dan baru tiba hari itu dari Eropa) yang dilukiskan penyair Sitor Situmorang dalam sajak ‘Si Anak Hilang’ yang terbit pada 1955:
………
Anak diam mengenang lupa
Dingin Eropa musim kotanya

Ibu diam berhenti berkata
Tiada sesal hanya gembira

Malam tiba ibu tertidur
Bapa lama sudah mendengkur
Di pantai pasir berdesir gelombang
Tahu si anak tiada pulang

Berbahaya

Kembali lagi Ajip ke Jakarta. Begitupun, hingga sekian lama berselang ia tetap terombang-ambing di antara Jatiwangi dan Jakarta yang disebutnya tempat kelahiran yang pertama dan kedua. Di sajak ‘Dua Kota’ yang ditulisnya tahun 1958 itu ia gambarkan.

‘DUA KOTA’
Suatu kota dalam bayangan bulan, cintaku
Nyanyian masa kanak yang telah jauh
Iringan suling mengombaki sepi abadi
Merayap pelan mengetuk jendela setiap hati
Yang terbuka bagi petualangan jiwa

Suatu kota mandi sinar matahari
Impian jauh harapan jauh
Derak kendaraan tanpa istirah
Yang terbuka bagi desah manusia
Menghela beban besi

Karyanya, baik puisi maupun prosa, untuk seterusnya banyak yang diilhami kedua tempat. Hidup dari mengarang. Keputusan sejak meninggalkan kedudukan sebagai pegawai di Balai Pustaka, ia jalani dengan teguh. 

Jika tak menulis, yang ia lakukan adalah membantu penerbitan dalam urusan kepenulisan. Dari segi keuangan, jalan ini berat baginya. Jangankan dia. Pramoedya Ananta Toer yang namanya sudah jauh menjulang pun, saat itu masih saja kelimpungan dalam soal duit.

Pada 1958 kumpulan cerpen Ajip, ‘Perjalan Pengantin’, disuguhkan ke publik oleh Pembangunan. Lebih mengemuka lagi kedudukan dia sebagai penulis prosa.

Di tahun 1959 terbit lagi 2 buku karyanya yakni ‘Cerita Pendek Indonesia: Sebuah Tinjauan’ (Djembatan) dan ‘Tjari Muatan’. Yang pertama ini, seperti yang disiratkan oleh judulnya merupakan sekumpulan hasil ulasan. 

Kitab ini memerlihatkan bahwa Ajip bukan hanya penulis yang bernas tapi juga pembaca yang banyak melahap karya serta yang rajin pula mencerna-menelaah isinya Kelak, hingga setelah sepuh pun ia tetap rajin membuat ulasan dan timbangan (resensi).

Dihiasi coretan Oesman Effendi— seperti halnya ‘Sajak Sajak Anak Matahari’ yang terbit 20 tahun kemudian—‘Tjari Muatan’, memuat juga puisi-puisi awal Ajip. Di sana termaktub puisi panjang berjudul ‘Jante Arkidam’

Kisah ihwal jagoan yang merajai dunia kegelapan. Si perkasa yang selalu mampu membuktikan ucapannya, “Tubuh kalian batang pisang. Tajam tanganku lelancip pedang.”

Thema serupa digarap juga oleh Sitor Situmorang dalam ‘Matinya Juara Judi’ (1955), Mansur Samin (‘Sibaganding Sirajagoda’), dan WS Rendra (‘Balada Terbunuhnya Atmo Karpo’). Pula, jauh hari kelak, oleh Iwan Fals tapi dalam lagu tentang bromocorah: ‘Sugali’.

Kumpulan puisi ‘Surat Cinta Enday Rasidin’ yang terbit pada 1960 semakin memerlihatkan produktivitasnya sebagai penulis.

Dalam tempo kurang dari 5 tahun sudah 8 buku karangan dia yang terbit. Terkait dengan pencapaian ini, HB Jassin pun membuat sebuat tulisan berjudul ‘Ajip Rosidi Tunas Harapan’. Dalam artikel yang dibuat di awal 1960-an ini ia antara lain mengatakan:

“….Orang mengikuti perkembangannya yang pesat itu setengah-setengah dengan perasaan kagum, tapi juga dengan kuatir dan curiga melihat nilai hasil-hasilnya. Dan apabila orang menerima juga kehadirannya, maka senantiasa dengan harapan semoga hasilnya yang berikut akan lebih memenuhi pengharapan-pengharapan sebelumnya (HB Jassin, 1985).

Dalam tulisan itu HB Jassin menyoroti pelbagai kelemahan prosa dan puisi Ajip dalam 5 tahun tersebut. Kalaupun ada kemajuan, menurut dia, itu hanya dalam puisi. Sebuah jeweran yang memerahkan kuping Ajip, tentunya. Tapi, berdasarkah kekhawatiran HB Jassin? Waktu akan menjawab. ( bersambung)

Penulis adalah : Senior Journalist, Mentor Writer Camp, Pemateri dalam workshop Bahasa dan Tulisan Jurnalistik, penulis biografi dan aktif di Aliansi Jurnalis Indonesia.

Menikmati Beningnya Danau Labuan Cermin di Kaltim

this formate

Danau bening yang menakjubkan sekaligus instagramble (foto: labuancermin blogspot)

JAKARTA, bisniswisata.co.di: Perusahaan teknologi penyedia layanan perjalanan, gaya hidup, dan jasa keuangan berbasis digital, Traveloka, gemar membagi tayangan visual tempat-tempat wisata di berbagai tempat di Nusantara.

Video garapan Traveloka kerap di-share pada sejumlah platform media sosial, termasuk Facebook. Baru-baru ini, saya menemukan sebuah video pendek memprofilkan keindahan alam Danau Labuan Cermin di Kalimantan Timur (Kaltim).

Video yang menarik, menurut saya. Melihat tayangan itu rasa takjub pun muncul: ternyata ada ya danau dengan air sejernih itu. Saking beningnya, seolah kita tengah menyaksikan orang berperahu di atas kaca. Ranting-ranting yang ada di dasar danaupun terlihat sangat jelas. Bahkan penyu dan satwa air lain terlihat benderang dari atas perahu. 

Satu lagi fakta unik dari Danau Labuan Cermin. Ternyata, danau tersebut memiliki dua rasa: tawar dan asin. Pada bagian permukaan danau, airnya tawar; sedangkan saat kita menyelam ke dasar danau, airnya mulai terasa asin. Inilah mengapa danau tersebut juga terkenal dengan julukan Danau Dua Rasa.

Seorang teman yang tinggal di Samarinda, ibu kota Kaltim mengaku belum pernah ke sana. “Jauh Mbak. At least 8 hours dari Samarinda,” ujarnya seperti disampaikannya via WhatsApp kepada penulis.

Untuk menjangkau lokasi tersebut memang butuh effort. Bila dari luar Kaltim, Anda perlu naik pesawat menuju ke Tanjung Redep, ibu kota Kabupaten Berau. 

Dari sana perjalanan masih harus dilanjutkan lewat darat dengan jarak tempuh sekitar 4-5 jam menuju Kecamatan Biduk-Biduk. Ada sejumlah mobil travel  di bandara yang siap mengantar Anda ke sana.

Setibanya di Kecamatan Biduk-Biduk Anda akan segera disuguhi pemandangan pantai panjang yang indah menuju ke Desa Labuan Kelambu tempat dimana Danau Labuan Cermin berada. 

Papan besar bertulis ‘Selamat Datang di Kawasan Wisata Bahari Labuan Cermin Danau Dua Rasa’ menandai Anda telah tiba di desa tujuan.

Untuk menjangkau danau, Anda perlu menyewa perahu. Dekat plang ‘selamat datang’ tadi, ada jembatan kayu tempat Anda bisa mendapatkan perahu sewaan untuk menyeberang menuju Danau Labuan Cermin. 

Di sekitar jembatan kayu juga ada tempat menyewakan alat-alat berenang, seperti pelampung, snorkle, kaki katak, dsb. Tetapi seperti dilansir dari labuancermin blogspot: “Tips untuk menghemat biaya, sebaiknya Anda membawa sendiri perlengkapan tersebut, jadi tidak perlu menyewa lagi.”

Alat-alat renang perlu Anda bawa karena itu akan bermanfaat saat melakukan aktivitas seru di danau, seperti berenang, snorkeling, dan naik perahu.

Silakan pertimbangkan untuk berwisata ke alam terbuka seperti Danau Labuan Cermin. Penelitian membuktikan wisata jenis open air relatif lebih aman dilakukan di zaman pandemi COVID-19.

 

Wisata Kapal “Hantu”, Pelayaran Melongok Kapal Pesiar Kosong.

this formate

Carnival Cruise Line’s Carnival Valor tengah bersandar. (Foto:  via Charles Pluta / Flickr)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi global membuat perusahaan kapal pesiar terpaksa memarkir kapalnya karena berhenti beroperasi senentara waktu untuk mencegah penyebaran virus Corona. Namun kreativitas juga selalu ada, yuk simak.

Ini adalah bagian yang sama keren, aneh, meski menyedihkan pada saat bersamaan sehingga tercipta sebuah tawaran yang unik, melihat kapal-kapal pesiar parkir.

Saat Ini adalah masa yang sulit bagi perusahaan kapal pesiar dan penggemar kapal pesiar.  Sebagian besar, kapal telah berlabuh selama berbulan-bulan karena pandemi virus corona, meskipun beberapa jalur seperti MSC Cruises telah meluncurkan rencana perjalanan ke luar negeri.

Namun kini para pecinta kapal pesiar yang sangat ingin kembali naik kapal setidaknya bisa mendekati salah satunya, tulis Travel Pulse

Dalam tulisan yang menyenangkan ditulis oleh blog The Points Guy, sebuah perusahaan feri yang berbasis di Southampton, Inggris telah memulai “tour kapal hantu”. 

Dengan biaya tambahan, Mudeford Ferry akan membawa Anda dalam perjalanan dua setengah jam yang akan membawa Anda dalam jarak sekitar 160 kaki dari semua kapal pesiar kosong yang berlabuh di lepas pantai selama penutupan kapal pesiar.

Di antara kapal yang telah berlabuh di dekat Christchurch adalah Queen Mary 2 Cunard Line, Queen Elizabeth dan Queen Victoria;  dan P&O Cruises ‘Britannia, Aurora, Arcadia dan Ventura.  Pada minggu ini, ada juga tiga kapal Marella Cruises dan bahkan kapal Carnival Cruise Line, Carnival Valor.

The Valor biasanya berlayar keluar dari New Orleans, tetapi itu adalah salah satu kapal yang telah dikirim Karnaval dalam perjalanan panjang ke seluruh dunia untuk memulangkan kru ke negara asal mereka.

Tak jauh dari Christchurch, di Bournemouth, Inggris, kapal Royal Caribbean Anthem of the Seas dan Allure of the Seas juga berlabuh.

Wisata kapal hantu memang cuma istilah karena hanya sedikit orang yang bekerja di atas kapal untuk memelihara kebersihan kapal dengan benar.Namun kegiatan selama 2,5 jam membuat peserta tour akan paham tak mudah mengurys armada kapal tanpa income.

 

 

 

Dalam Lima Minggu ke Depan, Sekitar 70.000 Pekerja Maskapai di AS Terancam 

this formate

Anggota tim armada American Airlines memuat bagasi ke dalam pesawat.  (Foto:  American Airlines)

NEW JERSEY, AS, bisniswisata.co.id: Para pekerja sejumlah maskapai penerbangan di Amerika Serikat bisa jadi mengakani kegelisahan menghadapi awal Oktober mendatang. Apa yang terjadi di AS bisa terjadi di negara lain termasuk Indonesia.

Sayangnya, tanggal tersebut telah dilingkari di kalender seperti acara bahagia – ulang tahun, hari jadi, liburan, pernikahan.  Tapi 1 Oktober bukan sebagai momen yang membahagiakan.  Tidak sedikit pun karena saat itu menentukan apakah pekerja kehilangan pekerjaannya.

Pada hari itulah maskapai penerbangan AS – setuju arau tidak setuju  harus memecat atau merumahkan karyawan sebagai bagian dari ketentuan penerimaan hibah dan pinjaman dari CARES Act pada bulan Maret.

Dilansir dari Travel Pulse, ketentuannya dapat mulai memberhentikan pekerja dan mungkin saja 70.000 pekerjaan berisiko pada tanggal tersebut. Volume penumpang masih turun 71 persen dibandingkan tahun lalu, dan para ahli memperkirakan tidak mungkin mereka akan kembali ke tingkat pra-pandemi hingga 2024, menurut Yahoo News.

Itulah mengapa hampir setiap aspek industri maskapai penerbangan sangat berupaya melobi Kongres untuk mengeluarkan stimulus kedua yang akan mencakup hibah perlindungan gaji bagi operator dan belum ada kesepakatan yang dicapai.

“Kami berharap permintaan akan terus berubah-ubah dan pemulihan tidak akan linier sempurna karena keinginan pelanggan untuk bepergian berkembang tergantung wilayah dibuka kembali untuk bisnis. Karena tingkat infeks virus Coronai juga terus berubah seiring waktu,”  kata Joanna Geraghty, Presiden dan COO JetBlue

Selama beberapa bulan terakhir, maskapai penerbangan telah berusaha menghindari PHK dengan menerapkan berbagai langkah pemotongan biaya, termasuk pemisahan sukarela. 

Hampir 20 persen karyawan Delta Air Lines – lebih dari 17.000 pekerja – telah menerima tawaran pensiun dini  dan “ribuan lainnya” telah setuju untuk mengambil cuti sukarela yang tidak dibayar.

“Sebuah langkah yang sulit tetapi perlu menuju transformasi Delta menjadi maskapai yang lebih kecil, lebih gesit yang akan berada pada posisi yang lebih baik untuk menanggung krisis dan pulih dengan cepat,” kata CEO Delta Ed Bastian.

Hal itu adalah penggunaan terbaik dari uang publik karena membuat maskapai tetap utuh dalam  layanan penting selama pandemi ini,” kata Sara Nelson, pramugari dan presiden Asosiasi Pramugari-CWA, AFL-CIO, 

 

Nostalgia Gedung Kejaksaan Agung RI Kebayoran Baru  

this formate

Tahun 1967 Gedung Kejaksaan Agung sempat jadi landmark Kebayoran Baru. ( Foto: Tempo.co)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sabtu selepas Magrib, 22 Agustus 2020, sebuah stasiun televisi swasta nasional memberitakan, Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) terbakar. 

Kobaran api dengan cepat menghanguskan isi gedung tu berbentuk kotak segi empat panjang di Jalan Sultan Hasanuddin No.1, RT.11/RW.7, Kelurahan Kramat Pela, Kecamatan. Kebayoran Baru, Jakarta.

Peristiwa yang mengejutkan publik itu segera melontarkan ingatan saya ke tahun 1967, ketika saya bersama teman-teman sebaya kerap memanjat naik ke batang bagian teratas sebuah pokok pohon karet (Havea braziliensis) hanya untuk bisa melihat komplek yang terletak persis di sebelah Gedung Kejagung. 

Main di kebon memang favorit,  saya dan teman -teman yang suka ngebolang saat itu. Kebun karet itu terletak di Pondok Pinang, sekitar 7 KM di sebelah barat laut Gedung Kejagung.

Kebun karet tempat kami biasa bermain, juga banyak ditumbuhi pohon liar, antara lain jenis pohon bunga bangkai (Amarpophalus sp.) yang umum dikenal sebagai pohon suweg ataupun iles-iles. 

Kami biasa mencari pohon ini untuk diambil umbinya. Ada abang-abang yang biasa datang dan membeli umbi suweg dan iles-iles. Konon umbi itu akan diekspor ke Jepang, untuk diolah jadi tepung konyaku.

Dalam surat-surat resmi dan pembicaraan sehari-hari, kawasan yang kini ditulis dan disebut KebayOran Lama, masih ditulis dan disebut orang sebagai KebayUran Lama. Demikian pula KebayOran Baru, masih biasa ditulis dan disebut KebayUran Baru. Asal katanya memang dari toponimi pohon batur bukan pohon bayor

Pondok Pinang di zaman itu masih merupakan kampung pung…! Warganya masih kerap dilecehkan sebagai orang udik (wong ndeso, dalam istilah Jawa) oleh warga Jakarta lainnya di bagian utara dan beken disebut orang kota

Bagian Pondok Pinang yang kini jadi kawasan super modern bernama Pondok Indah belum lahir. Bahkan kawasan Bintaro Jaya masih merupakan wilayah resmi Tangerang, Jawa Barat. 

Bicara soal uang, suatu kali kami terlibat obrolan bahwa Indonesia sudah sejak lama punya percetakan uang sendiri. Uang itu dicetak di Perkeba (Percetakan Kebayoran), yang resminya bernama Peruri alias Percetakan Uang Republik Indonesia. 

“Perkeba atau Peruri terletak perempatan lampu merah CSW, Kebayoran Baru, persis di seberang Gedung Kejagung,” ungkap saya. 

Mendengar saya menyebut Gedung Kejagung, mendadak seorang teman yang belum pernah lihat gedung Peruri langsung nyeletuk, “Kalo begitu, sekarang kita panjat pohon karet, nyoook…! Kita lihat pabrik duit di samping Gedong Kejagung Yus…!” katanya. 

Kami pilih pohon karet besar dan paling tinggi di jajaran paling luar batas lor (utara) kebon. Dari bebatang di pucuk pohon karet itu, terbuka pandangan ke arah timur laut.

Pemandangannya , amparan sawah di wetan Pondok Pinang, ujung Jalan Haji Nawi (rumah pemusik Koes Bersaudara), pancang antene tinggi di komplek RRI Jalan Radio Dalam, rumah-rumah bagus di kawasan Kramat Pela, dan… gedung bangunan segiempat panjang…

“Itu Gedung Kejagung. Berarti komplek perumahan dan banguan agak gede di seberangnya itu Perkeba atau Peruri, ya…?” kata teman saya, gembira. 

Saya cuma mengangguk, bengong dan takjub, bahwa dari pucuk pohon karet di kampung saya, Pondok Pinang bisa melihat Gedung Kejagung terlihat jelas, dan saat itu layak disebut landmark Kota Kebayoran Baru.

Bukan yang tertinggi

Gedung Kejagung bukan gedung tertinggi di Kebayoran Baru. Saat itu ada gedung (flat pertama di Indonesia) yang lebih tinggi, yakni asrama atau mess mahasiswa kepolisian PTIK di Jl. Tirtayasa No 6 RT 009 / 04 Kelurahan. Melawai. 

Tapi posisinya yang menonjol di kawasan yang relatif masih kosong, serupa ‘kotak besar’ berlantai 6, pantas menjadikannya untuk disebut sebagai landmark Kota Kebayoran Baru.

Dari ketinggian cabang pohon karet tempat saya berdiri memantau saat itu, kawasan sekitar Gedung Kejakgung memang masih melompong. Komplek Gedung ASEAN Secretariat masih berupa lahan kosong.

Disini dulu  tempat parkir traktor dan alat-alat berat milik CSW (Centrale Stichting Wederopbouw) perusahaan Belanda yang jadi pelaksana pembangunan kota satelit Kebayoran Baru. 

Gedung Bundar yang jadi ciri khas Gedung Kejagung belum ada. Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (GRJS) dibangun pada 25 Juni 1969 dan diresmikan tanggal 16 April 1970. 

SMA Negeri 70 Jakarta (gabungan SMAN IX Jakarta dan SMAN XI Jakarta) juga masih merupakan sekolah filial dari SMA Negeri 6 Jakarta yang masih menempati ujung Jl Bulungan yang kini jadi lokasi GRJS. SMAN 6 Jakarta belum di Jl Mahakam.

Kantor Listrik Kebayoran di Perempatan CSW juga masih berupa deret rumah tinggal isntansi PLN, dan Kolam Renang Bulungan/GRJS serta bangunan lain di seberang utara Gedung Kejagung masih berupa lapangan sepakbola. Alhasil, dengan areal sekitar yang relatif masih kosong, Gedung Kejagung Memang jadi tampak menonjol.

Nasib gedung Kejaksaan Agung kini ketika dilalap api. ( Foto: Republika)

Cagar budaya

Gedung Kejagung pantas disebut sebagai cagar budaya, karena ia merupakan bagian dari ikon-ikon kota satelit Kebayoran Baru, wilayah pemukiman baru yang dirancang setelah kemerdekaan Indonesia, seperti juga daerah Pejompongan.

Kebutuhan pemukiman cukup mendesak karena Jakarta memerlukan banyak fasilitas publik sebagai pusat pemerintahan Indonesia.

Kebayoran Baru dirancang oleh H Moh. Soesilo pada tahun 1948. Soesilo adalah murid Thomas Karsten, arsitek Hindia Belanda yang ikut merancang Bandung, Malang, dan Bogor di masa kolonial. 

Konsep yang digunakan adalah “kota taman”, yang banyak dipakai para pengembangan properti modern. Dalam konsep ini, ruang terbuka hijau sebagai ruang milik publik mendapat perhatian khusus. 

Berlokasi di daerah dekat Setasiun Kebayoran di sisi timur Kali Grogol, peletakan batu pertama pada 8 Maret 1949 dan selesai pada tahun 1955, pembangunan Kebayoran Baru dilaksanakan perusahaan Belanda bernama Centrale Stichting Wederopbouw ( CSW). 

Perusahaan ini berdiri pada Agustus 1948 yang berkantor di areal yang kini dengan megah tegak berdiri komplek Gedung ASEAN Secretariat. 

Sebagai sarana pendukung untuk menghubungkan Kota Jakarta (lama) dengan Kebayoran Baru, dibangun Jl Sudirman dari daerah Dukuh Atas melintasi kawasan Setiabudi, Semanggi dan Senayan. 

Sebagai kota satelit, Kebayoran Baru juga dilenggapi berbagai sarana pendukung sebuah kota, antara lain dengan membangun gedung baru untuk Kejaksaan Agung Republik Indonesia di seberang Kantor CSW.

Peletakan batu pertama pembangunan Gedung Kejagung dilakukan oleh Jaksa Agung R Goenawan, 10 November 1961 dan diresmikan oleh Jaksa Agung Mayjen Soegih Arto pada 22 Juli 1968.

Sebagai penghormatan, patung R, Soeprapto diletakkan di depan halaman gedung utama Kejaksaan Agung. Patung ini diresmikan Soegih Arto setahun kemudian, yakni pada 22 Juli 1969.

R Soeprapto adalah priyayi keturunan Jawa yang dikenal sebagai Bapak Kejaksaan RI karena jasa-jasanya bagi Korps Adhyaksa. Jika kita menelusuri jalan setapak di depan gedung utama Kejaksaan Agung, maka kita akan menemukan patung R Soeprapto tegak kokoh dikelilingi taman.

Sebelum di Jl Hasanuddin, Kejaksaan Agung berkantor di bangunan tua peninggalan Belanda di Jalan Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat, dan masih satu atap dengan Mahkamah Agung (MA). 

Kejagung memisahkan diri sejak disahkannya UU No.15 Tahun 1961 tentang Ketentuan Pokok Kejaksaan, di masa Jaksa Agung R Goenawan, Menteri Jaksa Agung keenam periode 1959 – 1962.

Pada tahun 1968, gedung di Lapangan Banteng Timur sudah tidak lagi difungsikan sebagai kantor Kejaksaan Agung. Departemen Kejaksaan di bawah pimpinan Menteri Jaksa Agung Soegih Arto telah berpindah kantor ke Jalan Sultan Hasanuddin No.1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan yang dibangun di atas tanah pemerintah.

Nanun gedung itu kini kondisinya menyedihkan. Gedung Kejagung yang pernah saya ‘intai’ ketika kecil di tahun 1967, dari ketinggian ujung batang pohon karet di Pondok Pinang, sekitar 7 atau 8 Km di barat laut, nyatanya kini hangus dibakar api. Ah….! 

 

Komisi X: Pemerintah Fokus Pada Destinasi Pariwisata Bali

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menjaga keberlanjutan industri pariwisata, pemerintah dihimbau agar fokus, membuka satu destinasi pariwisata nasional, yaitu Bali. Dengan memperketat pelaksanaan protokol kesehatan dan standar kelayakan kunjung yang disepakati.

Demikian ditegaskan Anggota Komisi X DPR RI, Rano Karno dalam rapat dengar pendapat umum dengan pelaku wisata secara virtual, Senin (24/8/2020).

 “Ujung tombak pariwisata Indonesia tersentral di Bali. Mungkin saat ini kita beri saran kepada Pemerintah terutama Kementerian Pariwisata agar fokus saja membuka sekaligus menjaga Bali menjadi destinasi prioritas untuk masa pandemi ini,” tutur Rano.

Rapat yang dipimpin Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta menghadirkan Indonesia Wellness Master Association (IWMA) dan Indonesia Inbound Tour Operators Association (IINTOA).

Pada kesempatan tersebut IINTOA yang diwakili Nicolaus Lumanauw, Ricky Setiawanto, GIA Bramantyo dan Adelina Hutagalung memamaparkan kondisi industri pariwisata Indonesia. Menurut IINTOA, industri memerlukan kepastian pemerintah untuk membuka salah satu pintu masuk wisatawan mancanegara ke Indonesia. Sangat berharap rencana 11 September membuka gerbang Bali dapat dilakukan. Diakui atau tidak Bali masih menjadi andalan utama pencitraan kepariwisataan Indonesia di pasar dunia.

Bagi anggota IINTOA yang lebih dari 440 perusahaan, mengubah pasar dari importir wisman ke pasar wisatawan domestic, tidak semudah membalik tangan. Karakter dan prilaku pasar berbeda dan memerlukan waktu serta modal untuk memulai usaha baru tersebut.

Perwakilan Indonesia Wellness Master Association (IWMA) dan Indonesia Inbound Tour Operators Association (IINTOA), dalam dengar pendengan dengan Komisi X DPR RI.

IINTOA, saat ini sedang menggalang petisi mengugah Presiden untuk mengkaji ulang pembatasan kunjungan ke Indonesia, kebijakan visa bagi pasar- pasar potensial. Pasalnya, kinerja “importir tanpa container” (yang mendatangkan wisatawan mancanegara ke Indonesia), memiliki multi flyer efek pada sektor ikutan kepariwisataan.

IINTOA memahami stimulan yang telah digelontorkan pemerintah, namun anggota IINTOA memerlukan “pinjaman” modal untuk menjaga eksistensi perusahaan dan SDM di dalamnya.

“Kami hanya perlu pinjaman dengan bunga ringan, dan angsuran diberikan tenggang waktu pembayaran setahun kemudian baru dimulai. Bukan hibah,” tegas Ricky Setiawanto dengan nada tersendat.

Tak kurang IINTOA memberikan data pendukung yang diperlukan pihak DPR RI dari analisis ekonomi sampai dengan contoh- contoh kebijakan dari negara- negara terdampak pandemic COVID-19.

Beberapa negara terdampak COVID-19 yang sudah menerima wisatawan asing

Memulai Dari Bali

Setelah mendapat paparan kondisi bisnis dan ancaman sosial akibat dampak ikutan runtuhnya perekonomian jika industri kepariwisataan tidak segera dapat dibuka bagi wisatawan asing. Anggota Komisi X mengakui, kesulitan mengambil keputusan di masa pandemi. Tetapi, dengan membuka satu destinasi saja, lebih mudah mengantisipasi pelanggaran atau ketidakdisiplinan pelaksanaan protokol kesehatan baik oleh pelaku industri mau pun wisatawan.

Untuk merencanakan pembukaan Bali sebagai satu-satunya destinasi sementara yang dibuka bagi wisatawan asing, dipandang perlu menghadirkan Gubernur Bali dan Menteri Dalam Negeri. Pendapat dan pandangan penguasa wilayah menjadi acuan jalan keluar terbaik, terutama kepastian untuk membuka pintu masuk wisatawan mancanegara ke Indonesia.

“Dalam waktu dekat kita fokus saja untuk Bali, agar bisa dimulai destinasi ini dan mudah-mudahan tanggal 11 September bisa dimulai,” harapnya.

Singapura Longgarkan Perbatasan Masuk ke Negara Itu

this formate

Suasana Changi Airport, Singapura tahun lalu dimana wisatawan transit dapat menikmati berbagai fasilitas yang ada. Singapura sejak pekan lalu longgarkan perbatasan.  ( Foto: HAS)

SINGAPURA, bisniswisata.co.id:  Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyambut baik pengumuman Singapura tentang pelonggaran langkah-langkah perbatasan untuk masuk ke negara itu.

 “COVID-19 telah memberikan pukulan besar bagi industri penerbangan dan jalan menuju pemulihan akan lama dan lambat.  Perkiraan terbaru kami menunjukkan bahwa permintaan perjalanan tidak akan kembali ke level 2019 hingga 2024, setahun lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya,” kata Conrad Clifford, Wakil Presiden Regional IATA untuk Asia-Pasifik.

Kunci pemulihannya adalah pembukaan perbatasan dan pencabutan pembatasan perjalanan serta tindakan seperti karantina.  Pengumuman dari Pemerintah Singapura ini positif dan merupakan langkah ke arah yang benar. 

Pihaknya berharap dapat bekerja sama dengan pemerintah agar industri penerbangan Singapura dapat memulai kembali dengan aman sambil memitigasi kemungkinan penularan COVID-19.  

“Kami mendesak negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara jni juga  mencari cara untuk melanjutkan perjalanan internasional dengan aman, termasuk melalui penerapan travel bubble (gelembung perjalanan, ” kata Conrad Clifford.

Menurut dia, dampak COVID-19 yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia dan industri penerbangan berada pada posisi memberikan dukungan kehidupan.  

Langkah-langkah keuangan tambahan diumumkan oleh Wakil Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Singaoura, Heng Swee Keat awal pekan lalu dan  merupakan bantuan besar dan sangat dihargai oleh industri penerbangan.

Pernyataan Menteri Transportasi Ong Ye Kung baru-baru ini meyakinkan dan memberikan udara segar karena pemerintah dengan jelas mengakui kontribusi strategis penerbangan terhadap ekonomi Singapura.  

Memiliki industri penerbangan yang layak akan sangat penting untuk pemulihan ekonomi dengan memastikan konektivitas yang efektif dengan seluruh dunia untuk pergerakan orang dan barang, ” kata Clifford.

Industri penerbangan global saat ini diperkirakan mengalami kerugian US $ 84,3 miliar pada tahun 2020. Maskapai Asia-Pasifik akan mencatat kerugian absolut terbesar sebesar US $ 29,0 miliar.  Jumlah penumpang global diperkirakan turun 55% dibandingkan tahun 2019.

 

 

 

 

IATA: Wisatawan Hadapi Risiko Hukuman Jika Tolak Pakai Masker

this formate

Penumpang pesawat penerbangan wajib mengenakan masker wajah. ( Foto: IATA)

MONTREAL, Kanada, bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengimbau semua pelancong untuk mengenakan masker wajah selama perjalanan demi keselamatan semua penumpang dan awak selama COVID-19.

Mengenakan masker adalah rekomendasi utama dari panduan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) untuk operasi yang aman selama pandemi, sebagaimana yang dikembangkan bersama dengan Organisasi Kesehatan Dunia dan pemerintah.

 IATA menekankan perlunya penumpang untuk mematuhi rekomendasi tersebut menyusul laporan terbaru tentang para pelancong yang menolak untuk mengenakan penutup wajah selama penerbangan.

Meskipun hal ini terbatas pada sejumlah kecil individu, beberapa insiden di dalam pesawat telah menjadi kekerasan, yang mengakibatkan pengalihan  yang mahal dan sangat tidak nyaman untuk menurunkan penumpang.

 “Ini adalah seruan untuk menggunakan  akal sehat dan mengambil tanggung jawab.  Sebagian besar pelancong memahami pentingnya masker untuk diri mereka sendiri maupun untuk sesama penumpang, ” kata Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA.

Maskapai penerbangan menghargai upaya kolektif ini.  Tetapi minoritas kecil menciptakan masalah.  Keselamatan adalah inti dari penerbangan, dan kepatuhan terhadap instruksi keselamatan awak adalah hukum. 

Kegagalan mematuhi dapat membahayakan keselamatan penerbangan, mengganggu pengalaman perjalanan penumpang lain, dan memengaruhi lingkungan kerja kru, ” tambah Alexandre de Juniac.

Kewajiban di bawah Kondisi Penerbangan

Tiket pesawat adalah kontrak di mana penumpang menyetujui syarat dan Ketentuan Pengangkutan maskapai.  Kondisi tersebut dapat mencakup hak maskapai untuk menolak penumpang yang perilakunya mengganggu penerbangan, melanggar peraturan pemerintah, atau menyebabkan penumpang lain merasa tidak aman.  

Maskapai juga menekankan perlunya mengenakan penutup wajah selama proses pemesanan, saat check-in, di gerbang, dan di saat sudah mendengarkan pengumuman di pesawat.

Kegagalan untuk mematuhi berarti bahwa penumpang menghadapi risiko diturunkan dari penerbangan mereka, terkena pembatasan pengangkutan di masa mendatang, atau hukuman berdasarkan undang-undang nasional.

Pentingnya masker

Penutup Wajah adalah bagian dari tindakan pelapisan. Menurut tes di University of Edinburgh, penutup wajah, jika dikenakan dengan benar, dapat mengurangi penyebaran potensi tetesan COVID-19 dari mulut hingga 90%.

 “Penelitian yang telah kami lihat hingga saat ini, dan penyelidikan kami sendiri dengan maskapai penerbangan dunia, memberi tahu kami bahwa risiko tertular COVID-19 dalam penerbangan tetap sangat rendah, ” kata  Dr David Powell, Penasihat Medis IATA.

Tampaknya ada sejumlah faktor yang mendukungnya.  Laju aliran udara kabin yang tinggi dari atas ke bawah, penyaringan udara yang konstan melalui filter HEPA yang canggih, fakta bahwa semua kursi menghadap ke arah yang sama dan tentu pakai masker dan sanitasi pesawat semuanya berperan, tegasnya.

 “Ini bukan hanya tentang melindungi diri sendiri.  Ini tentang melindungi semua orang dalam penerbangan, “katanya.

 IATA (Asosiasi Transportasi Udara Internasional) mewakili sekitar 290 maskapai yang terdiri dari 82% lalu lintas udara global. Seluruh maskapai akan mengikuti aturan ini sehingga memakai masker adalah kewajiban.

 

 

 

Kemenparekraf – BPPT Kaji Penerapan Teknologi di Sektor Parekraf

this formate

Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo dengan Kepala BPPT Hammam Riza usai MOU. ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisara.co.id:  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dalam pengkajian dan penerapan teknologi untuk mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Penandatanganan nota kesepahaman bersama (MoU) antara dua pihak dilakukan bersamaan dengan acara puncak perayaan HUT ke-42 BPPT yang mengambil tema “Membangun Ekosistem Inovasi Teknologi untuk Indonesia Maju” di Auditorium Gedung BJ Habibie, Jakarta, Senin (24/8/2020).

Penandatanganan dilakukan secara simbolis oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Angela Tanoesoedibjo dengan Kepala BPPT Hammam Riza.

Pada kesempatan itu, hadir pula Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang P.S Brodjonegoro, Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat Jenderal TNI Andika Perkasa, Presiden Komisaris PT Tempo Scan Pacific Tbk Handojo S. Muljadi, serta Kepala BNPB/Ketua Satgas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo yang hadir secara virtual.

Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo menjelaskan, nota kesepahaman ini sangat penting untuk memajukan sektor parekraf dalam menghadapi tantangan ke depan.

Terlebih dimasa pandemi ini, ketika teknologi sangat diperlukan untuk mempermudah komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak.

Sementara itu, dalam sambutannya Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan pihaknya akan terus menggaungkan transformasi teknologi dan transformasi digital.

“BPPT siap mewujudkan lompatan besar inovasi, mendukung cita-cita Indonesia Maju menuju negara berbasis inovasi,” ujar Hammam.

Hammam Riza juga mengatakan, untuk menghadirkan inovasi dan layanan teknologi terbaik demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, memang membutuhkan kolaborasi semua pemangku kepentingan dalam sebuah ekosistem inovasi.

Ekosistem inovasi pentahelix mengusung pola kerja sama antarpemerintah, industri/bisnis, akademisi, hingga dukungan komunitas maupun media massa.

“Semua unsur tersebut merupakan pemangku kepentingan penyelenggara Iptek dalam menghasilkan produk inovatif buatan Indonesia,” katanya.

 

WTTC Luncurkan Travel Demand Recovery Dashboard

this formate

WTTC melayani anggota dan anggota dengan Toko data satu atap ( Foto: Travel Daily)

LONDON, Inggris, bisniswisata.co.id: :World Travel & Tourism Council (WTTC) meluncurkan dasbor data yang  mendalam,  menyoroti pemulihan permintaan perjalanan di seluruh penerbangan dan hotel, serta mengungkapkan niat pelancong yang berubah melalui pencarian perjalanan online.

Toko data satu atap atau Interactive COVID-19 Travel Demand Recovery Dashboard dikembangkan oleh WTTC, yang mewakili sektor swasta Perjalanan & Pariwisata global, dengan dukungan dari McKinsey & Company.

 Alat unik ini memberi pengguna akses mudah ke data perjalanan kualitatif dan kuantitatif di tingkat global dan regional untuk 33 negara besar di seluruh dunia, dengan mengungkapkan permintaan perjalanan sejak awal tahun dan diperbarui setiap dua minggu.

Data perjalanan kualitatif dan kuantitatif di tingkat global dan regional untuk 33 negara besar di seluruh dunia. ( Foto: WTTC)

 Dasbor menawarkan cara yang berguna untuk menavigasi melalui beragam data saat permintaan perjalanan di seluruh dunia berubah, sebagai tanggapan atas pembukaan kembali perbatasan negara secara bertahap seiring dengan diberlakukannya pembatasan perjalanan di seluruh dunia.

Layanan ini gratis untuk semua Anggota WTTC dan non-anggota, Dasbor menyajikan dua tampilan berbeda berdasarkan tren dan penelusuran Google, dan pemesanan melalui mitra penelitian WTTC dalam proyek tersebut.

Ahli global dalam intelijen bisnis, tren pariwisata dan perjalanan, ForwardKeys, menyediakan data penerbangan, sementara benchmarking data premium, analitik, dan penyedia wawasan pasar untuk sektor perhotelan global, STR, membagikan tingkat hunian hotel.

  “Kami telah membuat dasbor unik yang menampilkan data kualitatif dan kuantitatif untuk memberikan wawasan yang sangat penting untuk membantu sektor travel & tourism  restart,  memulai  dan memetakan kembali jalan menuju pemulihannya, kata Gloria Guevara, Presiden & CEO WTTC dalam rilisnya.

 “Dasbor kami akan memungkinkan pembuat keputusan untuk melacak dampak kebijakan publik dengan memantau fluktuasi positif dan negatif dari pemesanan penerbangan dan hotel serta pencarian perjalanan online, serta kepercayaan konsumen.

Data sangat penting bagi bisnis, pemerintah, dan organisasi lain untuk membuat pilihan berdasarkan informasi dan mendorong kebijakan yang akan menghidupkan kembali sektor yang telah menderita secara tidak proporsional akibat pandemi global, tambahnya.

 “Dengan satu dari empat pekerjaan baru yang dihasilkan oleh sektor travel & tourism dalam lima tahun terakhir, semakin penting dari sebelumnya bahwa akses mudah ke data di tingkat regional dan global membantu menginformasikan pilihan yang tepat pada waktu yang tepat.”

Dasbor data baru yang diluncurkan pekan lalu menawarkan wawasan melalui dua cara dan yang pertama adalah melalui Google Trends, di mana semua data yang bersumber telah diatur ke dalam segmen liburan atau perjalanan yang mudah dipahami, petualangan, budaya, perkotaan, keluarga, matahari & pantai, dan layanan perjalanan.

 Setiap segmentasi telah dirancang menggunakan sekumpulan 20 kata kunci, yang mencakup aktivitas, situs, dan tujuan populer.  Segmen tersebut memberikan wawasan di tingkat kawasan dan untuk negara-negara utama, seperti Inggris, AS, Prancis, dan Brasil.

 Yang kedua datang melalui wawasan regional melalui pembaruan dua bulanan tentang pergerakan dan pemesanan, dengan informasi penerbangan dari mitra penelitian WTTC ForwardKeys, menunjukkan hunian hotel dan tarif kamar harian rata-rata dari STR dan Indeks Mobilitas Google, yang menunjukkan aktivitas rekreasi lokal.

Selain itu, Global Rescue yang jadi pelopor dalam medis, keamanan, risiko perjalanan, dan manajemen krisis, memberikan data yang menunjukkan seberapa ‘terbuka’ setiap negara atau pasar utama, dalam konteks pembatasan perjalanan yang diberlakukan untuk memerangi virus corona.

 WTTC telah dan terus memainkan peran utama dalam mendorong travel & tourism menghasilkan kebijakan yang  memungkinkan sektor ini pulih lebih cepat dari ketrrpurukan akibat pandemi.

 Menurut Laporan Dampak Ekonomi 2020 WTTC, selama 2019, travel & tourism (Perjalanan & Pariwisata)  bertanggung jawab atas satu dari 10 pekerjaan (total 330 juta), memberikan kontribusi 10,3% terhadap PDB global dan menghasilkan satu dari empat dari semua pekerjaan baru.