‘Potensi Wisata Birdwatching di Tambrauw Papua Barat Agar di Tingkatkan’

this formate

 

‘Potensi Wisata “Birdwatching” di Tambrauw Papua Barat Agar di Tingkatkan’

TAMBRAU, Papua Barat, bisniswisata.co.id Potensi destinasi wisata “birdwatching” di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat, yang selama ini banyak diminati wisatawan segera ditingkatkan. Jeberadaan burung cenderawasih yang bisa ditemui dengan mudah di Tambrauw ini.menjadi keunggulan dari Papua Barat,  kata Rizki Handayani

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf ini  menjelaskan bahwa Tambrauw memiliki keunggulan flora dan fauna yang potensial untuk dikembangkan serta diperkenalkan pada publik.

“Kita tahu Papua punya keunggulan flora dan fauna, seperti cenderawasih yang bisa ditemui dengan mudah di Tambrauw ini. Kita lihat Tambrauw sebagai potensi di Papua Barat, bersama Raja Ampat dan Sorong,” ujar Rizki Handayani.

Itylah sebabnya pihaknyapun menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pola Perjalanan Birdwatching di Sorong, Papua Barat, Rabu (18/08/2020). Rizki kemudian mengimbau agar masyarakat menjaga status Tambrauw sebagai daerah konservasi.

Hal ini akan sangat mendukung nilai jual destinasi dalam industri pariwisata. Selain itu, justru ketika status konservasi hilang dari Tambrauw, maka Tambrauw akan dinilai sama seperti tidak memilik keunikan atau sesuatu yang dapat ditonjolkan.

“Status sebagai daerah konservasi jangan sampai hilang dari Tambrauw, karena inilah yang menjadi keunggulan dan nilai jualnya. Kami akan coba kolaborasi dengan kementerian dan lembaga lain untuk menjaga dan memaksimalkan serta mengembangkan konservasi di Tambrauw,” kata Rizki.

Sementara itu Bupati Tambraw, Gabriel Asem, berharap Tambrauw yang dikenal sebagai destinasi pariwisata burung khususnya jenis cendrawasih ini, dapat menjadi pintu masuk untuk pengembangan ikon destinasi wisata alam lainnya.

“Hutan adat bila mempunyai nilai ekonomi tinggi, maka akan membantu masyarakat. Termasuk untuk mendukung kegiatan seperti birdwatching. Kami juga sudah membahas dalam sidang adat. Jadi bila tempat ini dikunjungi wisatawan, baik dalam maupun luar negeri, tidak akan ada masalah,” ujar Gabriel.

Gabriel juga meminta pemerintah daerah dan masyarakat agar turut menjaga dan melestarikan lingkungan. Sebab, hal ini merupakan salah satu langkah yang tepat untuk menjaga flora dan fauna yang ada di hutan terjaga dengan baik.

“Dengan kita menjaga lingkungan secara baik otomatis isi dalam hutan itu terjaga dengan baik termasuk fauna dan flora di dalamnya. Pasti terjaga dengan baik,” pungkas Gabriel.

Kegiatan FGD dilaksanakan pada 18-21 Agustus 2020, yang diikuti oleh Pemerintah Daerah, pelaku pariwisata, akademisi, komunitas, media, dengan total 100 orang.

 

 

Mengenang Ajip Rosidi (31 Januari 1938-29 Juli 2020). Bagian : 5

this formate

Oleh P. Hasudungan Sirait

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sastrawan sekaligus budayawan Ajip Rosidi meninggal dunia di usia 83 tahun. Ia meninggal setelah menjalani operasi di RSUD Tidar Kota Magelang. Ajip Rosidi sempat dirawat tiga hari setelah terjatuh di rumah. Berikut serial tulisan untuk mengenang sosok teladan ini;

AJIP, PENGARANG REMAJA YANG MEMANG AJAIB

Masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Rakjat (kini: SD) dia tatkala tulisannya muncul di ruang anak-anak suratkabar ‘Indonesia Raya’. 

Itu di tahun 1950. Untuk seterusnya hingga saat bersekolah di SMP Majalengka pun ia masih menulis di di koran yang dipimpin Mochtar Lubis itu meski tanpa hohorarium. Alhasil, nama Rossidhy dikenal tak hanya oleh orang sekampung atau sesekolah.

Tanpa ia nyana, suatu waktu dirinya tersandung. Ia menerima kiriman surat dari pembaca ‘Indonesia Raya’.

Isinya? Orang itu menganggap Rossidhy yang tiada lain dari Aji Rosidi telah melecehkan pimpinan kelompok mereka. Sebab itu ia akan datang untuk membuat perhitungan. Seketika langsung gentar si anak SMP.

Sepulang bertamasya ke Cigugur, Kuningan, kakak Ayatrohaedi (penulis yang kemudian menjadi antropolog) itu memang membuat perkisahan ihwal peninggalan Madrais, pemimpin kelompok kebatinan yang sudah dilarang. 

Dalam artikel di ‘Indonesia Raya’ dia mengatakan Madrais begitu dipuja sehingga keringatnya pun diminum. Bagian inilah yang menuai perkara. (Ajip Rosidi, 1980-1981).

Lama Ajip terteror akibat isi surat si pembaca. Akibatnya, tak berani lagi dia mempublikasikan karya. Hingga setahun berselang, saat ia pindah ke Ibukota, rasa takutnya belum kunjung hilang. 

Apalagi karena orang itu mengatakan dalam suratnya ia bekerja di CBZ (Rumah Sakit Citpo Mangunkusumo—RSCM sekarang).

Pada pertengahan 1951 Ajip pindah ke Jakarta. Nenek yang mengasuh dirinya sekian lama, ia tinggalkan di Jatiwangi. 

Di Ibukota ia menumpang di tempat indekos pamannya. Sudah 3 tahun sang paman berada di tanah Betawi, bekerja sebagai pengajar selain sambil belajar.

Sungguh seperti langit dan bumi, Jakarta yang dibayangkan Ajip dengan yang ditemuinya. Rumah yang dilihatnya kebanyakan berupa gubuk berlantai tanah dan beratap ilalang. Hanya 2-3 yang beratap genteng.

“Padahal rumah orang yang paling melarat di Jatiwangi, bahkan kandang kerbau nenek masih menggunakan kenteng [genteng],” tulis dia dalam pengantar kumpulan sajak ‘Tjari Muatan’ yang ditulisnya pada 24 Februari 1958. (bahasanya sudah kumutakhirkan)

Di sebuah rumah petak ia bermukim dengan paman selama beberapa tahun. Lokasinya di sebuah gang becek di Jl. Rasamulja, Galur, Tanahtinggi. Bagian terbaik dari kediaman itu ditempati si empunya. 

Sisanya dihuni pelbagai macam manusia: opas, tukang beca, tukang es, tukang rokok, kondektur trem, dan mereka yang pekerjannya tak jelas.

Penghuni rumah yang hanya berukuran sekitar 10×7 meter persegi tidak kurang dari 57 orang.

“Kalau kebetulan salah seorang penghuni mendapat tamu dari udik, maka jumlah itu menjadi naik. Dalam sebuah tempat tidur besi ukuran 3 saja mesti tidur bersama dua orang lainnya. Kamar yang berukuran 3 x 2 ½ meter dihuni oleh lima orang,” lanjut dia.

Semula ia merasa sebal-mual di sana. Tak hanya karena kesesakan dan kesemrawutan yang tak terpermanai, tapi juga akibat got mampat di belakang rumah yang rajin mengirimkan bau busuk. 

Tapi, sebagaimana ghalibnya manusia, ia lekas beradaptasi. Ya, ala bisa karena biasa. Segala keserbabrengsekan yang tak pernah disaksikannya di Jatiwangi akhirnya ia terima sebagai kenyataan yang mesti dihadapi. Toh tak ada pilihan lain.

Hidup sehari-hari di tengah tukang beca, pelacur, pengasong, pengemis, gelandangan, dan kaum jelata lain yang geliatnya sekadar menyambung hidup sehari lagi, pada sisi lain ternyata telah mengayakan batin dan imajinasi dia.

Sejak berdiam di Jakarta, ia kembali menulis puisi dan cerita pendek. Kehidupan kaum miskin kota di sekitar dia menjadi tambang ide baginya. 

Salah satu hasilnya adalah ‘Lagu Jakarta’, bagian dari kumpulan puisi ‘Tjari Muatan’ (terbit tahun 1959). Puisi ini sungguh pas memerangkap atmosfir lingkungan kaum jelata. Aku suka.

Lagu Jakarta

Tiada nyanyi seduka Jakarta
menempel pada bibir kering
menggigil oleh malaria
menyumpahi hari pengap-pesing

semua telah hilang asli
dibedaki lumpur ciliwung
semua telah hilang arti
diwarnai langit lembayung

tinggal pergulatan dalam kerja
karena darah harus mengalir
dan kehendak beribu rupa
dalam hidup kota berjuta

Setelah setahun absen akibat terteror oleh surat seorang pembaca, di kota yang lama bersebutan Batavia ia kembali mengirim karya ke media massa. 

Tapi ‘Indonesia Raya’ masih saja ia hindari. Nama yang dipakainya pun bukan Rossidhy melainkan Ajip Rosidi.

Pada 1952, saat ia masih 14 tahun, karyanya sudah muncul di ‘Mimbar Indonesia’, ‘Siasat’ (di ruang Gelanggang), dan ‘Indonesia’. Ketiga majalah terkemuka yang terbit sejak tahun 1940-an menyuguhkan karya penulis terkemuka.

Deretan penulisnya termasuk Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Idrus, Achdiat Kartamihardja, Asrul Sani, dan Mochtar Lubis. Pengasuh media ini tentu para sastrawan terkemuka. Armijn Pane, HB Jassin, Asrul Sani, dan Rivai Apin di antaranya.

Karya dia memang kuat. Puisi berjudul ‘Cikiniraya’ (dipersembahkan kepada sjarozie), umpamanya, yang muncul di buku ‘Ketemu di Jalan’. Ditulis bersama Sobron Aidit dan SM Ardan saat mereka masih anak sekolah, kitab ini terbit tahun 1956.

Cikiniraya

Pedagang kembang menembang sumbang
dilarikan karet becak ke ujung malam
lampu-lampu jalan bersinar terang
lari bayangan
dan malam makin lengang
teng tiga dan diri sesepi orang mati

pedagang kembang mengebas ranjang
tembang riang mau pulang
sama sisa malam

malam memanjang rel kereta
bangku stasion dingin bergulat sakit dada
jalan makin rata
bening terbayang

Puisi yang ditulisnya tentang sepasang remaja pun memikat meski sederhana. ‘Jaka dan Gadis’ judulnya, merupakan bagian dari buku puisinya yang juga terbit tahun 1956, ‘Pesta’.

Jaka dan Gadis

jaka menunggu di pintu
gadis cuma lalu

jaka selalu rindu
dan gadis bukannya tak tahu

jaka hitung jerajak
sang gadis enggan diajak

jaka melupakan hayal-hayal begini
gadis pura-pura merindukan mati

jaka kini berhati pilu
pada gadis yang tak mau tahu

Percaya diri

Bersahaja. Begitu keluarga Ajip Rosidi, baik dari pihak ayah maupun ibu. Ayahnya sebenarnya guru sekolah rakyat. Seperti seorang adiknya, pengajar itu terkadang menulis di media setempat. 

Begitupun, penghasilannya begitu kecil sehingga ia sempat ‘nyambi’ menjadi pembuat oncom. Bisnis mikronya semula berprospek. Tapi pengekor kemudian muncul laksana cendawan di musim penghujan sehingga ia berhenti dan kembali hidup dari gaji guru.

Setelah menjadi warga Jakarta, Ajip baru menyadari bahwa keugaharian warga Jatiwangi merupakan sebuah kelimpahan. Kelak ia akan kian merindukan tanah kelahiran dan hingga lima tahun kemudian angannya mengidar di antara dua kota: Jakarta dan Jatiwangi di Majalengka.

Begitupun, Jakarta yang merupakan kampung raksasa lekas menyibak lebar tirai wawasan dirinya sehingga seketika terbukalah pelbagai kemungkinan yang tak pernah ia bayangkan. 

Lantas, cintanya pada tanah Betawi tumbuh dan memekar. Di sajak ‘Kepada Jakarta’ yang ditulisnya tahun 1955, itu ia nyatakan.

Kepada Jakarta

Kukutuk kau dalam debu keringat kota
Karena di balik keharuan paling dalam
Mengintip malaria

Kucinta kau kala senja
Mentari mengubur sinar menyirat bukit-bukit atap
Menari di kening-kening rumah, membelai perut sungai.

Lalu lintas bergegas, kelip lampu beca
Semua makin pudar, semua jadi samar
Lahir kembali dalam kecerlangan malam
Mengambang mobil-mobil hitam di aspal hitam

Kucinta kau dalam ketelanjangan malam
Penuh warna dalam keriahan gemilang
Sibuk dalam kelengangan arah
Menjauhi sudut jiwa paling sepi
Menyaruk-nyaruk jalan menyusur kali
Bercermin di permukaan air kemilau
Bulan rendah seolah terjangkau

Kucinta kau kala dinihari
Redam batuk memecah sunyi
Dan nyanyian tukang beca
Mengadukan nasib pada langit
Dan bintang yang tak mau ngerti

Kucinta Jakarta
Karena kau kota kelahiran kedua

Lekas ia mampu memikat Ibukota, setidaknya di lapangan persastraan. Lihatlah: masih anak kelas 2 SMP dia saat namanya diperbincangkan orang, termasuk para seniman dan budayawan. Dengan pamor yang langsung menanjak seperti itu wajarlah kalau rasa percaya dirinya kemudian meninggi.

Misbach Yusa Biran masih mengingat sosok dan pembawaan Ajip saat anak Jatiwangi itu pertama kali dikenalnya. Waktu itu tahun 1952, di kantor redaksi ‘Suluh Siswa’, milik sekolah Taman Siswa, keduanya bersua.

“…Kepalanya botak, bercelana pendek longgar, bicara seenaknya. Usianya jauh di bawah saya tapi sajak-sajaknya sudah dimuat di majalah-majalah sastra bergengsi. 

Ajip anak luar biasa. Dia pernah mampir ke tempat kos saya di Kali Baru timur. Waktu itu kakinya naik seenaknya ke tempat tidur. Waktu kecil dia urakan dan orang memaafkan saja,” tulis Misbach (2008).

Ajip yang pencapaiannya sebagai pengarang terbilang ajaib kemudian menjadi dekat dengan kelompok sastra yang mengasuh ‘Suluh Siswa’.

Terutama Sobron Aidit, SM Ardan, Sukanto SA, dan Misbach. Ia rajin menjambangi sekolah mereka, Taman Siswa, yang letaknya berdekatan dengan Stasiun Kemayoran.

Meski para senior itu dua kelas di atasnya, ia memanggil nama saja; bukan ‘kakak’ seperti dalam tradisi Taman Siswa. 

Hal yang semula menggusarkan Misbach yang kelak akan termashyur sebagai penulis, sutradara, dosen, penusi skenario, dan arsivaris film serta beristrikan bintang film Nani Wijaya.

Setamat dari SMP, Ajip pindah ke Taman Siswa agar kian rapat dengan kelompok sastra ‘Suluh Siswa’.

Dipimpin oleh tokoh pendidikan terkenal, Mohammad Said, sekolah di Jl. Garuda 25 merupakan republiken sejati. 

Alhasil, ruang depan mereka sering dipakai pelukis-pejuang Nashar, Zaini, Amang Rahman, dan yang lain untuk memamerkan karyanya.

Para seniman belia ini terkadang menumpang tidur pula dan bisa bergeletakan di mana saja. Yang sempat tinggal menetap adalah keluarga Affandi. 

Anak semata wayang pasangan Affandi-Maryati, Kartika, seangkatan dengan Misbach Yusa Biran dkk. di Taman Madya (SMA).

Saat Ajib masuk Taman Madya bagian Budaya, Sobron Aidit dan yang lain sudah kelas 3. Begitupun, di tahun 1953 itu justru dialah yang terpilih sebagai Pemimpin Redaksi ‘Suluh Siswa’. 

Posisi ini didudukinya hingga tahun 1955. Ia tak sampai menuntaskan sekolahnya sebab telah bekerja dan menikah di tahun itu juga. Istrinya adalah Fatimah Wirjadibrata.

Berumah tangga saat masih bersekolah dan masih sangat sebelia pula sebagai suami, merupakan keajaiban lain dari Ajip di mata kawan-kawannya sesama anak Taman Madya. Memang dia lain dari yang lain. (Bersambung)

Penulis adalah : Senior Journalist, Mentor Writer Camp, Pemateri dalam workshop Bahasa dan Tulisan Jurnalistik, penulis biografi dan aktif di Aliansi Jurnalis Indonesia.

 

Asosiasi Tour Operator Spesialis Inggris ( Aito) Minta Pemerintah Selamatkan Sektor Pariwisata

this formate

Asosiasi Operator Tour Spesialis Inggris ( Aito) Minta Pemerintah Selamatkan Sektor Pariwisata

LONDON, bisniswisata.co.id:  The Specislist Travel Association ( AITO) Inggris telah menulis surat  kepada pemerintah Inggrus  untuk memberikan dukungan khusus untuk menyelamatkan sektor pariwisara dan  “ratusan ribu” pekerjaan.

 Surat terbuka asosiasi kepada kanselir Rishi Sunak menyerukan perpanjangan enam bulan untuk skema cuti bagi industri perjalanan, sektor pariwisata yang menurut Aito kurang dipahami oleh pemerintah.

 Aito menegaskan, permintaan perpanjangan cuti adalah persyaratan “minimum”. Mereka juga meminta pemerintah untuk menawarkan “insentif” bagi debitur obligasi untuk menyediakan dana yang dibutuhkan perusahaan agar dapat memberikan “perlindungan finansial yang diwajibkan oleh undang-undang agar kami dapat terus berbisnis”.

 Dilansir dari travelweekly.co.uk, surat itu berbunyi: “Ini adalah badai yang sangat mengerikan dari kurangnya pemahaman pemerintah tentang industri perjalanan dan Aito telah melapor ke lima departemen pemerintah. Yaitu Department for Transport (DfT ), Departemen Luar Negri ( FCO), Departemen  Bisnis, Energi, dan Strategi Industri (BEIS).

Departemen Digital, Budaya, Media dan Olahraga ( DCMS) dan (Civil Aviation Authority (CAA) akibat kurangnya  konsultasi pemerintah dengan para ahli dalam industri pariwisatanya.

Surat atas nama 120 operator spesialis Aito dan 100 agensi menambahkan: “Ada ketidaksesuaian yang signifikan antara nasihat perjalanan FCO (yang tidak memiliki dukungan hukum dan  hanya panduan) yang melarang perjalanan yang diatur oleh operator tur ke berbagai tujuan, sementara  DfT memungkinkan maskapai penerbangan untuk terus terbang.

 “Ini perlu segera diselesaikan melalui hubungan Menteri Keuangan dengan DfT;  Tidak masuk akal untuk memiliki aturan yang berbeda untuk sektor industri perjalanan yang saling terkait,” bunyi pernyataan lainnya.

 “Sekarang, dengan tenggat waktu perpanjangan obligasi September CAA Atol dan Abta semakin dekat, dan industri wisata bekerja dengan arus kas yang hampir nol sejak Maret 2020,”

Masa enam bulan yang sangat lama, selain pengembalian dana dalam jumlah besar sehubungan dengan pemesanan yang dibuat jauh sebelumnya untuk musim panas.

Tepatnya secara efektif adalah tiga musim dingin berturut-turut; dan industri ini , sayangnya, kehilangan uang di bulan-bulan musim dingin. Belum lagi tantangan serius lainnya menanti sektor perjalanan.

 “Bagaimana bisa hidup jika tanpa arus kas masuk sedangkan arus kas keluar yang signifikan. Kita seharusnya dapat memperoleh perlindungan finansial yang diwajibkan oleh hukum untuk memungkinkan untuk  melanjutkan bisnis dan terus memberikan paket liburan yang dilindungi untuk dinikmati klien kita?  ”

 “Jika pemerintah tidak bertindak sekarang, maka di musim dingin kita akan melihat gelombang pemutusan hubungan kerja.  Kami mengalami enam bulan tanpa pendapatan dan kami mengalami tiga pukulan yang sangat berat musim panas ini dengan tiga pasar utama kami – Prancis, Spanyol, dan Portugal – berada di bawah tindakan karantina,” kata Noel Josephides, Direktur Aito,

Mendekati akhir periode cuti pada bulan Oktober, dan akan ada pekerjaan yang hilang sebagai akibatnya jika pemerintah tidak bertindak cepat, tegasnya.

 Anggota Parlemen Konservatif Henry Smith, ketua kelompok Penerbangan Masa Depan, mengatakan industri akan menderita “tiga musim dingin” jika pemerintah tidak campur tangan.

 

Qatar Airways Konfirmasi Sudah Bayar 96 % Refund Tiket Akibat Covid-19

this formate

Pramugari Qatar siap sambut penumpang di dalam pesawat sesuai protokol kesehatan. ( Foto: Qatar Airways)

DOHA, Qatar, bisniswisata.co.id: Qatar Airways telah membayar hampir £ 1 miliar sebagai pengembalian dana kepada  600.000 an penumpang sejak Maret, ungkap maskapai tersebut mengkonfirmasi.

Pengembalian dana untuk penumpang yang terkena dampak pandemi COVID-19 berjumlah total US $ 1,2 miliar (sekitar £ 910 juta), kata maskapai Teluk itu dan dilaporkan bahwa 96% telah dibayar dan semua pengembalian uang sedang diproses dalam waktu kurang dari 30 hari.

Kebijakan pemesanan fleksibelnya juga memungkinkan penumpang untuk memesan ulang ke penerbangan lain dalam dua tahun dan mengubah tujuan mereka (dalam 5.000 mil) atau tanggal perjalanan gratis, mengambil voucher perjalanan masa depan senilai 110% dari tarif, atau menukar tiket mereka dengan mil udara  .

Dilansir dari travelweekly.co.uk, maskapai tersebut mengatakan 36% penumpangnya memilih salah satu dari opsi ini daripada pengembalian uang.

Group Chief Executive Qatar Airways, Akbar Al Baker, mengatakan: “Akibat dampak COVID-19 pada perjalanan global, penumpang harus mengubah rencana mereka dalam waktu singkat dan sulit bagi mereka untuk membuat rencana ke depan dengan pasti,” ujarnya.

Oleh karena itu, mereka inginkan dan pantas dapatkan adalah fleksibilitas dan keandalan, dan di Qatar Airways kami berharap mereka menemukan maskapai penerbangan yang dapat mereka percayai, tambahnya.

 “Jumlah yang telah kami bayarkan sebagai pengembalian dana tidak diragukan lagi telah berdampak pada laba kami, tetapi itu adalah tugas kami untuk melakukan hal yang benar oleh pelanggan dan mitra dagang kami dan sebagai maskapai penerbangan kami cukup kuat untuk mengurangi dampak ini.” tegas Akbar Al Baker

Qatar Airways mengatakan permintaan pengembalian dana mencapai 10.000 per hari pada puncak krisis dan pihaknya menggunakan sistem distribusi global sistem GDS untuk membayar pengembalian uang kepada agen perjalanan.

Armadanya kembali beroperasi ke 80 tujuan pada akhir Juni, dan telah menerapkan sejumlah protokol kesehatan dan keselamatan di dalam pesawat untuk memerangi penyebaran COVID-19.

 

Tips Perjalanan di Tengah Pandemi COVID-19

this formate

Perjalanan internasional selama pandemi global coronavirus selalu pakai masker dan jaga jarak (photo via MariuszBlach/iStock/Getty Images Plus)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Saat menghadapi kalender merah, libur nasional seperti libur akhir pekan yang disambung dengan libur memperingati Hari Kemerdekaan HUT RI ke 75, kemarin, waspadalah karena Anda masih hidup bersama pandemi Coronavirus.

Nah jika ada libur panjang lagi dan kecendrungan ingin jalan-jalan maka pertimbangkan resiko  bahaya berlibur saat pandemi dan risiko melekat yang datang ketika Anda memanfaatkan waktu untuk  melakukan perjalanan selalu ada.

Dilansir dari Travelpulse  yang mewawancarai Dr. Kristina Angelo di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention, disingkat CDC), Amerika Serikat yang tertinggi tingkat kematian COVID-19 di dunia. Topik kali ini adalah untuk mengetahui jenis perjalanan yang aman.

Badan di Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat yang berbasis di DeKalb County, Georgia ini mengungkapkan bahwa masyarakat seharusnya  memiliki panduan tentang bagaimana mereka memilih perjalanan untuk melindungi diri mereka sendiri.

“Kami mengatakan semua jenis perjalanan meningkatkan risiko Anda mendapatkan atau menyebarkan COVID-19,” kata Angelo. 

Rekomendasinya adalah tinggal di rumah. Anda bisa mendapatkan COVID-19 selama melakukan perjalanan. Masalahnya juga orang-orang bisa merasa sehat saja dan tidak memiliki gejala namun tetap menyebarkan virus penyakit itu.

Apalagi setiap moda transportasi menjadi cara agar Anda dapat menyebarkan penyakit ini, terutama jika Anda dan teman perjalanan Anda tidak tinggal di rumah tangga yang sama karena anak-anak adalah populasi rentan, tambahnya.

Berikut adalah wawancara  lengkap  Travelplulse.    ( TP) dengan Dr. Kristina Angelo ( KA):

TP: Apakah ada jenis perjalanan yang lebih aman daripada yang lain? 

KA: Kami tidak benar-benar membedakan antara jenis perjalanan, tapi kami membuat serangkaian pertanyaan di situs kami yang menjalin orang melalui proses jika sebuah perjalanan harus dimulai. 

Pertanyaan pertama adalah ‘Covid-19 menyebar kemana Anda akan pergi. Jelas lebih banyak kasus di tempat tujuan Anda semakin Anda ingin terinfeksi dan menyebarkannya kepada orang lain. 

Apakah Anda tinggal  atau bepergian dengan seseorang yang berada dalam kelompok berisiko tinggi? Jelas Anda tidak ingin orang rentan itu ditempatkan dalam situasi yang tidak menguntungkan atau Anda dalam kelompok berisiko tinggi. 

Kami telah melihat banyak negara bagian di AS yang memiliki persyaratan dan pembatasan sekarang untuk orang-orang yang masuk seperti pakai  masker dan beberapa negara membutuhkan karantina jadi kami merekomendasikan pengecekan. 

TP: Bila Anda pergi dan bepergian, apa cara terbaik untuk melindungi diri Anda?

KA: Pakai masker, jagalah hidung dan mulut Anda tertutup dalamsarea publik, hindari kontak dekat dan tetap jaga jarak enam kaki, yang saya ukur dengan dua panjang lengan. Penting untuk mencuci tangan, menggunakan sanitizer tangan, menjauhlah  dari orang-orang yang bisa sakit, dan jangan menyentuh matamu, hidung atau mulut. 

TP: Seberapa jauh dari pengujian cepat dan apakah Anda melihat bahwa hal itu  akan membantu? Menurut Anda, apakah rapid test itu akan meringankan dan orang-orang bisa melakukan perjalanan lebih banyak? 

KA: Ada tes baru tapi sulit bagi saya untuk mengatakan bagaimana hal itu akan berdampak pada perjalanan karena kita tidak tahu saat ini bagaimana sensitifnya tes itu maksudnya seberapa efektifnya nya mendeteksi infeksi. Kami akan membuat rekomendasi kami setelah tes tersedia dan kami memiliki informasi keampuhannya.

TP: Apa tindakan pencegahan keamanan yang harus dilakukan di hotel atau villa -villa untuk  liburan? 

KA: Saat Anda masuk ke properti, pastikan Anda benar-benar memberi isolasi permukaan diri Anda. Anda juga harus memastikan bahwa Anda tahu peraturan daerah. Misalnya, apakah Anda harus memakai masker saat Anda meninggalkan ruangan? 

Jadilah sebaga tamu yang kontak tanpa kontak. Beberapa hotel menawarkan kunci kamar mobile, pembayaran tnon tunsi dan sebagainya. Banyak hotel telah menghapus tatap muka, menggunakan fasilitas hotel tanpa sentuh dan lainnya.

TP: Bagaimana dengan fasilitas resor? Apakah kolam renang dan bak air panas aman? Bagaimana dengan prasmanan atau pijat outdoor?

KA: Saya akan menghindari situasi di mana Anda akan bersentuhan dengan orang lain atau orang bisa berkumpul. Berkenaan dengan kolam renang, CDC memang memiliki pedoman spesifik. Secara umum, masalahnya adalah akumulasi kongregat orang sehingga pada dasarnya Anda ingin memastikan bahwa Anda mempertahankan jarak Anda. 

Pastikan Anda menghabiskan waktu sebanyak mungkin di luar. Jika, misalnya, Anda menghadiri pernikahan dan penerimaan ada di dalam, mungkin keluar ruangan jafi solusinya.

TP: Seberapa aman perjalanan udara? 

KA: Banyak maskapai penerbangan memiliki kebijakan yang sangat beragam. Ada beberapa yang mengisi kursi tengah dan beberapa yang tidak. Sebaiknya periksa kebijakan tersebut sebelum naik pesawat. 

TP: Apakah penerbangan jarak jauh lebih aman daripada jangka panjang? 

KA: Mengingat risiko perjalanan udara yang melekat, semakin sedikit waktu yang dibuang orang di ruang tertutup jelas lebih baik daripada jangka waktu yang lebih lama. 

TP: Apa yang akan menjadi jumlah PPE yang disarankan untuk perjalanan pesawat? 

KA: Kami merekomendasikan agar semua orang memakai masker. Itu tidak perlu menjadi masker N95, yang merupakan jenis yang menyaring 95 persen dari semua partikel, hanya perlu menjadi masker yang mencegah sekresi. 

Sebaiknya bawa tisu basah anti bakteri di pesawat terbang dan pastikan Anda menghapus semua permukaan segera dan membawa Sanitizer Tangan. Jauhkan jarak dari orang lain juga penting dan itu termasuk naik pesawat dan memelihara enam kaki jarak sosial. 

TP: Seberapa aman tour sehari- sehari ? 

KA: Satu hal yang akan saya hadapi dalam keadaan itu adalah bahwa Anda memiliki panduan atau seseorang yang sedang ikut serta dengan Anda masih ada kemungkinan untuk bersentuhan dengan orang-orang yang tidak di kelompok Anda.

Sehingga semua hal yang saya sebutkan sebelumnya masih akan tahan tentang penggunaan masker, rajin mencuci tangan, memastikan permukaan Anda bersih. 

Jadi benar-benar kalau akan bersentuhan dengan orang lain jjelas kurang baik dalam situasi ini meskin sulit untuk menghindarinya. Ada banyak situasi di mana Anda berpikir bahwa Anda diisolasi, tapi sebenarnya Anda tidak. 

TP: Apakah ada jalan yang aman? 

KA: Jika Anda  melakukan travel bubble Anda tidak sepenuhnya terisolasi. Tapi selalu ada kemungkinan untuk berhubungan dengan orang lain dan harus berurusan dengan dampaknya pula.

Travel bubble merupakan pembukaan terbatas suatu negara bagi beberapa negara lain yang masing-masing memiliki kasus virus corona yang rendah atau terkontrol. Jadi jika melakukan travel bubble resikonya juga banyak kontak langsung dalam perjalanan.

 

Radesa Wisata: Objek Wisata Baru di Semarang yang Instagramable

this formate

Menara Eiffel di Radesa Wisata, Semarang (foto: tribun)

SEMARANG, bisniswisata.co.id: Tak perlu jauh ke Paris untuk menikmati Menara Eiffel nan indah. Anda cukup datang ke Radesa wisata yang berada di Desa Tuntang, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Di sana ada replika Menara Eiffel yang tak kalah cantik, meski terbuat dari bambu setinggi sekitar 38 meter dan lebar 12,5 meter. ‘Menara Eiffel’ ini berdiri di atas Danau Rawa Pening.

Destinasi wisata ini terbilang baru. Soft-launcing-nya baru digelar pada 19 Juli lalu. Meski demikian popularitasnya lekas melesat. Pemandangan Danau Rawa Pening lengkap dengan replika Menara Eiffel cepat menarik minat wisatawan untuk datang.

Apalagi pemandangan di sana sangat instagramable, jadi sayang untuk dilewatkan. Tiket masuknya pun sangat terjangkau, yakni Rp 15.000 saja per orang. Sedangkan jam operasionalnya dimulai pukul 08.00 – 17.00 WIB.

Selain replika Menara Eiffel yang menjadi ikon di sana, Radesa Wisata juga mempunyai beberapa wahana bermain, seperti Bebek Raksasa, Perahu Mesin dan Duck Boat. Tersedia juga tempat makan dan beristirahat untuk menemani Anda bersantai di sana.

Lokasinya cukup strategis karena tak terlalu jauh dari jalan utama Solo-Semarang non tol. Tak sulit bagi pengunjung untuk menemukannya. Kalau dari Kota Salatiga, jarak tempuhnya hanya sekitar 9 kilometer dengan waktu tempuh kurang-lebih 20 menit.

Caranya, cukup susuri jalan utama menuju Semarang sekitar 8,5 kilometer atau sampai Warung Matuk atau Ayam Goreng Bu Toha. Selanjutnya, ada jalan masuk ke arah kiri. Cukup ikuti jalan itu sekitar 400 meter. Perjalanan pun akan sampai di area parkir Radesa Wisata.

Berikut ini sejumlah aktivitas yang bisa dilakukan pengunjung di sana:

  1. Berswafoto dengan latar belakang replika Menara Eiffel. Jika berfoto selfie di sana ada latar belakang Danau Rawa Pening dan barisan pegunungan, mulai dari Gunung Merbabu hingga Telomoyo. Jadi unik sekali.
  2. Pengunjung juga bisa naik perahu dengan kapasitas 4-5 orang untuk keliling menjelajah Danau Rawa Pening. Tarifnya Rp 15.000 per orang.
  3.  Ada juga bebek raksasa yang mengapung di air. Pengunjung bisa bermain dan berfoto di atasnya dengan tarif Rp 10.000. Bebeknya bisa juga ditarik perahu jadi pengunjung seperti naik banana boat. Untuk itu tarifnya Rp 25.000.
  4. Bersantap sambil menikmati pemandangan Radesa Wisata. Banyak warung makan di dekat replika Menara Eiffel.

Radesa wisata ini berkonsep wisata alam. Jadi cocok untuk dikunjungi saat pandemi COVID-19. Menurut ahli, destinasi wisata alam memiliki risiko penularan yang rendah dibanding dengan yang lain.

 

 

 

Mengendarai Ombak, Hidup Berdampingan seperti Rabuk dengan Api

this formate

INDONESIA, sedang harap-harap cemas dalam mengantisipasi diumumkannya berita resmi mengenai COVID-19. Harapan segenap masyarakat adalah Bali khususnya, segera berada dalam status under-control.

Pemerintah secara resmi telah membuka kembali pariwisata Bali untuk wisatawan domestik pada Kamis 30/7/2020, setelah sebulan uji coba dengan turis semeton (penduduk Bali saja) , meski pun pandemi COVID-19 masih dalam status awas. Tetapi, kita rasanya sudah waktunya siap untuk hidup berdampingan bersama COVID-19 dengan mematuhi prosedur tetapnya.

Menggunakan peribahasa seperti rabuk dengan api, —kita beradaptasi dengan tatanan dunia baru— adalah memasuki dan menjalani keadaan yang mudah dipertemukan walau pun mengandung bahaya.

Kita tidak bisa menghentikan ombak, tetapi kita bisa belajar mengendarainya. Ini kutipan dari salah satu kata-kata bijak favorit saya

Pandemi COVID-19 ini seperti katalis yang membawa kita masuk ke zona tidak nyaman, dan meng-ombang-ambingkan emosi. Namun, pada saat yang sama memberikan paksaan motivasi untuk bisa menerima kecepatan perubahan hidup dan flexible. 

Kita nikmati saja apa yang dapat kita rasakan, sembari menumbuhkan kesadaran ke saat-saat, menunggangi gelombang “naik” dan “turun ” , “baik” dan “buruk ” , “lemah” dan “kuat,” sampai kita tidak mampu berkata-kata. Sebab begitu banyak pengalaman yang tidak bisa lagi kita jelaskan seutuhnya.

Di minggu-minggu terakhir ini,— bagi kita yang mengikuti siaran berita— bisa kita pantau ada kegundahan terutama di masyarakat pariwisata.

Ini perihal penundaan untuk membuka Bali bagi wisatawan mancanegara. Di dalam berita, Bali akan membuka pulaunya untuk akses internasional pada akhir tahun 2020, yang awalnya pada 11 September 2020. 

Latar belakang keputusan penundaan tersebut adalah dari laporan data meningkatnya kasus positif COVID-19 di Bali dan Indonesia — terutama dari transmisi lokal–. Selain itu, dari hasil monitoring, beberapa negara lain – setelah membuka border nya — mengalami gelombang kedua kasus COVID-19,  menyebabkan lockdown dilakukan kembali. 

Sehingga, Indonesia harus memasang kode merah, dengan pemikiran untuk sementara jangan mengharapkan wisatawan mancanegara, terutama dari negara-negara yang masih terinfeksi. Di saat sama beredar petisi yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia, yang meminta untuk membuka perbatasan sesuai jadwal semula.

Berita hangat lainnya adalah tentang uji vaksin COVID-19 —telah sampai pada fase ke-3. Project Integration Management Research and Development, PT. Bio Farma akan memproduksi COVID-19 vaksin bermerek Sinovac buatan China mulai Februari 2021. Produksi vaksin ini sangat tergantung pada hasil analisis uji klinis terhadap sukarelawan pada fase ke-3. 

Apabila hasilnya seperti yang kita semua harapkan, maka kita dapat menggunakan  vaksin COVID-19 dari Sinovac pada kuartal pertama 2021. PT Bio Farma akan memproduksi vaksin tersebut dibagi dalam beberapa tahap , tidak sekaligus.

Jadi, mari kita menjadi bagian aktif pengalaman itu sendiri. Yakin pada kekuatan di dalam diri masing-masing untuk selalu mengupayakan yang terbaik untuk kepentingan banyak orang.

 

Sepotong Negeri Seribu Satu Malam di Gurun Telaga Biru Bintan Kepri

this formate

Paduan Gundukan dan gurun pasir, telaga biru dan laut lepas di Desa Busung, Tanjung Uban, Bintan. ( Foto: Kemenparekraf).

BINTAN, Kepulauan Riau, bisniswisata.co.id:  Merasakan sensasi petualangan ala dongeng Aladin dan Putri Jasmine di negeri seribu satu malam kini tak perlu jauh-jauh. Cobalah sesekali mampir ke Kepulauan Riau.

Jangan kaget, di salah satu sudut provinsi ini tersembunyi sepotong negeri seribu satu malam yang belum banyak terungkap keindahannya.

Maka tak heran, sensasi gurun pasir yang selama ini hanya bisa didapatkan jika berkunjung ke Timur Tengah, nyatanya petualangan serupa bisa didapatkan di Gurun Pasir Telaga Biru yang terletak di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Tepatnya di Desa Busung, Kecamatan Tanjung Uban.

Untuk mencapai lokasi ini, perjalanan yang harus menempuh sejauh 57 kilometer dari Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah di kota Tanjungpinang dengan waktu sekitar 1 jam.

Sementara, dari Pelabuhan Tanjung Uban, pengunjung cukup menempuh perjalanan darat sejauh 17 kilometer atau selama 20 menit saja.

Dalam perjalanan, pengunjung akan disuguhkan pemandangan yang didominasi hutan-hutan dataran rendah, kebun karet, dan rawa-rawa. Sesekali terlihat 1-2 rumah penduduk dengan jarak yang berjauhan.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup berkelok kita akan tiba di lokasi Gurun Pasir Telaga Biru. Pengunjung akan disambut dengan hamparan pasir putih yang cukup luas. Gundukan pasir yang membentuk gunung pasir tersebut semakin memperkuat kesan padang pasir di destinasi ini.

Selain pemandangan hamparan pasir putih, di lokasi ini juga terdapat sejumlah telaga yang terisi air berwarna biru. Pemandangan bak oase di padang pasir ini tentu saja sangat memanjakan mata wisatawan yang datang berkunjung ke lokasi ini.

Pemandangan ini tentu saja menjadi objek foto yang unik dan menarik bagi para wisatawan yang datang berkunjung.

Menurut salah seorang pedagang di sekitar Gurun Pasir Telaga Biru, Nurhanisah, gurun pasir ini sebenarnya sudah ada sejak 20 tahun yang lalu. Dulunya, gurun pasir ini adalah lokasi pertambangan pasir.

“Dulu di sini menjadi lokasi penambangan pasir, tapi baru jadi objek wisata sekitar tahun 2017, baru tiga tahun yang lalu,” kata Nurhanisah.

Wanita yang sudah beberapa tahun berdagang di Gurun Pasir Telaga Biru ini menceritakan penataan lokasi destinasi wisata ini awalnya dilakukan secara swadaya oleh warga Desa Busung.

“Jadi fasilitas-fasilitas seperti toilet, warung-warung, dan jembatan-jembatan kayu yang sudah ada itu dibuat masyarakat setempat sejak awal pembukaan lokasi ini,” katanya.

Nurhanisah juga menceritakan situasi Gurun Pasir Telaga Biru sebelum terjadinya pandemi COVID-19. Menurut wanita yang berjualan makanan dan minuman itu, biasanya setiap hari ada sekitar 100 wisatawan, baik lokal maupun mancanegara yang datang berkunjung.

Angka ini bahkan bisa meningkat hingga dua kali lipat ketika akhir pekan ataupun hari libur nasional.Akan tetapi, sejak pandemi COVID-19 melanda, angka tersebut menurun drastis.

“Sekarang ini paling 10-20 orang, Sabtu-Minggu paling banyak. Itu pun hanya (wisatawan) lokal, karena wisatawan asing sudah tidak ada,” tutur Nurhanisah.

Lewat program “Kepulauan Riau Rebound” , Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berupaya membangkitkan kembali potensi wisata  ini dan obyek lainnya di Kepulauan Riau.

Sumbangan alat-alat kebersihan serta sarana yang dibutuhkan untuk membenahi dan meningkatkan kebersihan destinasi wisata, terutama di Gurun Pasir Telaga Biru juga diserahkan.

Alat dan sarana tersebut di antaranya alat pendukung kebersihan, kesehatan, dan keamanan, fasilitas kebersihan seperti wastafel dan tempat sampah, thermogun, P3K dan disinfektan, papan signage sapta pesona, dan papan protokol kesehatan.

Tidak hanya itu, dalam acara “Kepulauan Riau Rebound” yang dilaksanakan 6 Agustus 2020 lalu,  Kemenparekraf/Baparekraf beserta masyarakat Desa Busung juga bergotong royong membersihkan sampah dan tumbuhan liar di sekitar lokasi Gurun Pasir Telaga Biru.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf, Hari Santosa Sungkari, mengatakan kebersihan menjadi bagian penting dalam mempromosikan suatu destinasi wisata di era adaptasi kebiasaan baru. “Kebiasaan baru berarti kita selalu bersih dan higienis,” kata Hari.

Dia mengajak masyarakat untuk selalu menaati protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability), mengingatkan warga untuk rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan destinasi wisata dan warung yang ada di sekitar lokasi, serta mengenakan masker.

“Mari kita dengan sangat serius menjalankan protokol ini sebagai kebiasaan baru. Agar nanti dengan penerapan protokol ini ada kabar baik sehingga wisatawan akan kembali datang ke sini,” ujar Hari.

Acara ini ternyata menumbuhkan harapan yang sangat besar bagi warga sekitar Desa Busung, terutama Nurhanisah. Ia berharap dengan adanya program ini bisa meningkatkan angka kedatangan wisatawan di tempat ia mencari nafkah.

“Kami berharap dengan adanya kegiatan ini pengunjung dan warga sekitar jadi semakin sadar akan pentingnya menjaga protokol kesehatan dan semoga di era adaptasi kebiasaan baru nanti akan semakin ramai wisatawan yang datang berkunjung kembali,” ungkap Nurhanisah.

 

Menparekraf: Maknai Kemerdekaan dengan Penuh Kreativitas dan Inovasi

this formate

Menparekraf Whisnutama dan Wakil Menparekraf Angela Tanoesoedibjo mengikuti upacara penurunan be dera secara virtual. ( Foto: Kemenparekraf) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan meski dirayakan dengan cara berbeda akibat pandemi. Namun hal itu tidak mengurangi rasa cinta tanah air.

“Peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia disikapi dengan semangat kreativitas dan inovasi untuk bangkit bersama membangun pariwisata dan ekonomi kreatif,”  kata Wishnutama Kusubandio

Menurut dia, harapan, optimisme, dan rasa cinta tanah air harus semakin menguat meski Indonesia sedang dihadapkan dengan kesulitan. Bangsa besar yang mampu menghadapi segala macam tantangan bersama. 

“Kekuatan bangsa Indonesia adalah persatuan dengan kekayaan alam dan budayanya yang tinggi. Pesan Presiden, kita harus menjadikan musibah pandemi ini sebagai momentum untuk sebuah lompatan besar, kebangkitan baru akan Indonesia yang produktif namun tetap aman COVID-19,” kata Wishnutama. 

Upacara Secara Virtual 

Menparekraf/ Kepala Bekraf Wishnutama Kusubandio bersama wakilnya, Angela Tanoesoedibjo mengikuti upacara peringatan detik-detik Proklamasi dan penurunan bendera Sang Merah Putih secara virtual dari Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kantor Kemenparekraf.

Upacara juga diikuti bersama para pejabat madya di lingkungan Kemenparekraf/Baparekraf dengan mengenakan pakaian adat,  mengikuti upacara dengan khidmat dengan protokol kesehatan yang ketat. 

Menparekraf mengenakan pakaian beskap khas Betawi sementara Wamenparekraf mengenakan kebaya lengkap dengan kain tenun. 

Pejabat lain juga mengenakan pakaian khas daerah. Diantaranya Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani yang mengenakan pakaian khas Suku Dayak

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf, Hari Santosa Sungkari mengenakan pakaian adat khas Nias.

Presiden Joko Widodo sendiri pada pagi tadi mengenakan kain motif berantai Nunkolo. Kain ini merupakan pakaian adat khas Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dengan mengenakan pakaian adat ini, Presiden Joko Widodo hendak mengajak masyarakat untuk mencintai produk-produk Indonesia yang dikenal kaya akan seni kriya, tenun, serta kebudayaan nusantara. 

Penuh Hiburan

Sebelum upacara penaikan bendera dan upacara penurunan bendera, masyarakat disuguhi acara khusus yang menampilkan seni dan budaya dari berbagai musisi dan penyanyi tanah air.

Wishnutama mengatakan, hal tersebut merupakan upaya pemerintah untuk tetap optimal dalam memeriahkan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia dan membangkitkan semangat melawan pandemi.

Di rangkaian acara tersebut tampil beberapa musisi tanah air, diantaranya Raisa, Nowela, Tiara Andini, Lyodra, Slank, RAN, juga Naura. 

Serta tak ketinggalan suguhan dari Eko Supriyanto dan Eko Dance Company, Gita Bahana Nusantara, Marching Band Gita Handayani, serta tarian dan musik tradisional dari berbagai daerah tanah air. 

Raisa sebagai salah satu penampil mengatakan saat ini adalah waktunya untuk meningkatkan nasionalisme dan cinta tanah air dan gotong royong untuk menjalankan protokol kesehatan dengan baik. 

“Kalau bukan kita yang mencintai negara kita sendiri, siapa lagi. Ayo kita bergotong-royong menjalankan protokol kesehatan supaya ini (COVID-19) cepat berakhir,” ujar Raisa. 

Segala kesulitan ini kita lewati bersama-sama, tetap berkarya jangan sampai keterbatasan ini bikin kita patah semangat. Dirgahayu Indonesia, tambahnya

75 Tahun Indonesia dari Pesisir sampai Geopark Batur

this formate

BALI, bisniswisata.co.id: Pandemi COVID-19, tidak menyurutkan minat pegiat wisata laut dan lingkungan melaksanakan peringatan 75 Tahun Indonesia di bawah air.

Tetap kreatif, bersemangat dan menerapkan standar kesehatan baru tatanan beraktivitas di pesisir serta membatasi peserta yang terlibat aktif di lapangan.

“Yang turun menaikkan bendera di kedalaman hanya 15 diver dan 5 orang tenaga organik di darat. Sayangnya belum bisa live dari bawah air, ungkap Komang Astika dari Biorock Pemuteran, ujung Barat wilayah Bali Utara.

Aktivitas di pesisir teluk Pemuteran nyaris lenggang, hotel dan restoran belum beroperasi normal. Masyarakat Pemuteran yang pada setiap peringatan Hari Kemerdekaan memenuhi bibir pantai, tahun ini hanya dapat menyaksikan upacara pembukaan di darat melalui streaming You Tube, dan face book live dari beberapa staf dive operator setempat.

Pelaksana upacara peringatan 75 Tahun Kemerdekaan Indonesia adalah team gabungan Tri Datu pengaman desa yang terdiri dari pecalang, Linmas dan Banser desa Pemuteran. Meski visibility kurang baik akibat hempasan ombak bulan Agustus yang membuat airlaut keruh, acara berjalan hikmat.

Sementara diperbatasan kabupaten Buleleng – Karangasem di desa Tulamben,— cikal mula tempat aksi menaikkan bendera di bawah air Kelompok Jurnalis Laut pada tahun 2001— upacara dilaksanakan Organisasi Pemandu Selam Tulamben (OPST).  

Upacara bendera di bawah air tetap mengambil  tempat di Liberty WreackShip Tulamben, di ikuti h 45 peserta, dari kalangan guide local dan beberapa wisatawan asing yang masih tertahan di Bali yang ikut bergabung.

Peringatan 75 Tahun Kemerdekaan Indonesia bertepatan dengan lima tahun OPST dilanjutkan dengan membentangkan bendera sepanjang 75 meter di bawah air.

75 Ekor Tukik

 

Dari pesisir paling popular di Bali – pantai KutaRotary Club Bali Kuta melepas liarkan 75 ekor tukik sebagai bagian program peduli lingkungan bulan Agustus.

Selain melepas liarkan tukik bertepatan dengan perinagatan 75 Tahun Indonesia, Rotary Club Bali Kuta telah menyerahkan bantuan peralatan sekolah bagi anak- anak Sekolah Dasar di wilayah Karangasem dan bantuanfasilitas pelatihan bagi anak- anak down syndrome di Denpasar.

Melampaui Keterbatasan

Di puncak gunung Batur @puspadi

Spirit kemerdekaan dan semaraknya acara- acara peringatan 17 Agustus, tidak hanya dinikmati kalangan yang beruntung. Meski dalam keprihatinan pandemic COVID-19, semangat kemerdekaan juga menggelora dikalangan penyandang disabelitas.

Jika beberapa tahun terakhir para penyelam disabelitas mengikuti upacara di bawah air. Tahun 2020, mereka menyelenggarakan upacara bendera di Gunung Batur, bagian geopark Batur, Bangli.

Sebanyak 17 staff Puspadi Bali, 8 orang Penyandang disabilitas didampingi  45 orang keluarga Puspadi Bali dan FTAP Unwar Denpasar, mendaki gunung Batur.

“Kami bisa mengibarkan bendera di puncak gunung, teman-teman disabilitas telah melampaui keterbatasannya,” papar Latra kepada bisniswisata.co.id dari puncak gunung Batur.