Mengenang Ajip Rosidi (31 Januari 1938-29 Juli 2020)  Bagian : 4

this formate

Oleh P. Hasudungan Sirait

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sastrawan sekaligus budayawan Ajip Rosidi meninggal dunia di usia 83 tahun. Ia meninggal setelah menjalani operasi di RSUD Tidar Kota Magelang. Ajip Rosidi sempat dirawat tiga hari setelah terjatuh di rumah. Berikut serial tulisan untuk mengenang sosok teladan ini;

LEWAT PUSTAKA JAYA, MENYUGUHKAN BUKU-BUKU SASTRA HEBAT

Kali pertama Ajip Rosidi mengenal Gubernur Ali Sadikin sebagai pribadi adalah sewaktu ia dan Ramadhan Karta Hadimadja diajak Ilen Surianegara menemui kepala daerah itu pada 1968 untuk mengajukan ide menerbitkan sebuah majalah kebudayaan. Ternyata keduanya lekas akrab dan seterusnya lekat.

Selain sesama Sunda dan kemistrinya cocok, mereka dipertautkan oleh pekerjaaan. Sebagai Redaktur ‘Budaja Djaja’ dan anggota Dewan Kesenian Djakarta yang dilantik pada 19 Juni 1968, Ajip Rosidi tentu harus berinteraksi dengan Bang Ali yang merupakan penopang dana kedua lembaga.

Begitulah: sebagai anggota komite sastra DKJ, di tahun 1971 Ajip Rosidi mencurahkan isi hati ke Bang Ali. Keadaan dunia perbukuan yang kian payah di negeri kita, ia gambarkan. Kitab sastra dan buku anak termasuk yang krisis. 

Harga buku terbilang mahal sementara minat baca masyarakat rendah. Pajak yang tinggi merupakan salah satu komponen yang membuat kitab tak murah [sampai hari ini pun sesungguhnya keadaan masih begitu].

Bang Ali tergugah. Ia menyatakan buku merupakan peluas wawasan dan pencerdas pikiran masyarakat. Sebab itu tak seharusnya dipajaki laksana barang-barang mewah.

Mayjen KKO itu menimpali dengan bersemangat tatkala teman bercakapnya mengutarakan maksud sesungguhnya: mendirikan sebuah penerbitan untuk menghasilan kitab-kitab bermutu mantap terutama karya sastra dan bacaan anak. Ia menyatakan dirinya bersedia membantu pendanaan.

Selalu selaras ucapan dan perbuatan. Begitulah Bang Ali. Ciputra langsung ditugasinya untuk mewujudkan impian lama Ajip Rosidi. Mantan Menteri Perhubungan Laut itu menginstruksikan agar pola perikatan dengan majalah ‘Tempo’ saja yang digunakan. Maksudnya?

Kelahiran Majakah ‘Tempo’

Di tahun 1970 Goenawan Mohamad, Fikri Jufri, dan Christanto Wibisono keluar dari ‘Harian Kami’ yang dipimpin teman mereka: Nono Anwar Makarim (putranya kini menjadi Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim). Ingin memiliki terbitan macam majalah ‘TIME’ atau ‘Newsweek’, mereka.

Setelah didekati lewat menantunya, Burhanuddin Mohammad Diah (BM Diah) bersedia memodali mereka. Edisi perdana ‘Ekspres’ pun muncul pada 26 Mei 1970. Pesahamnya adalah BM Diah (60%) dan Goenawan Mohamad dkk. alias Ekspres Group (40%).

Baru 6 bulan media yang membawa kebaruan-kesegaran itu mengada tatkala kemelut terjadi. Sang investor yang merupakan pemilik koran ‘Merdeka’ serta pernah menjadi menteri penerangan dan duta besar, bahkan akhirnya memecat Goenawan Mohammad, Fikri Jufri, Christanto Wibisono. Pasalnya?

Tak lama sebelumnya, berlangsung kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat di Palembang. Kelompok yang sangat berkuasa saat itu, Operasi Khusus (Opsus) yang dipimpin Letjen Ali Moertopo, menghendaki BM Diah yang memimpin organisasi kaum pewarta tersebut. Ternyata yang terpilih Rosihan Anwar.

Tak sudi menerima kenyataan, sejumlah peserta yang bekerja untuk media massa milik tentara berkongres lagi di hotel yang sama. BM Diah yang terpilih di sana.

Seusai kongres Palembang, PWI terbelah. Kepengurusannya ganda (ceritanya tentu saja lain dari kisah kemunculan PWI Reformasi, sempalan yang didirikan dan awalnya dioperasikan sendiri oleh wartawan senior yang juga penyair, Budiman S. Hartojo, dari kantor majalah ‘D&R’, di Jl. Iskandarsyah, Blok M, tak lama sesudah rezim Orde Baru tumbang.

BM Diah tak sudi rujuk dengan Rosihan Anwar. Prihatin melihat keadaan, Goenawan Mohamad pun menyatakan sikap lewat sebuah tulisan yang dimuat koran ‘Sinar Harapan’ (diasuh Aristides Katoppo dkk.) dan beberapa media lain.

Berang akibat tulisan itu, BM Diah akhirnya memberhentikan tiga dedengkot Ekspres. Solider terhadap korban, beberapa awak terbitan itu mengundurkan diri.

Goenawan Mohammad, Fikri Jufri, dan Christanto Wibisono yang kemudian dikenal sebagai ‘Trio Ekspres’ kembali mencari pemodal. Hasrat mereka untuk menghadirkan media semacam ‘TIME’ atau ‘Newsweek’ kian membara karena ‘toh’ eksperimen mereka di ‘Ekspres’ sudah lumayan hasilnya.

Lewat mantan fotografer koran ‘Kompas’, Lukman Setiawan, tiga sekawan berkesempatan mengutarakan isi hati dan pikiran ke Ciputra. Bos PT Pembangunan Jaya (perusahaan yang kala itu sekitar 70% sahamnya dimiliki Pemda DKI) tertarik mendengar tuturan teman bicaranya terlebih karena gaya sajian ‘Ekspres’ memang disukainya.

Ciputra lantas melapor ke Gubernur DKI Ali Sadikin. Suami-Nani Sadikin yang sangat visioner tersebut juga terpikat. Tentu saja ia sudah mengetahui setidaknya reputasi Goenawan Mohammad, penyair-eseis yang dilantiknya sebagai salah satu anggota Dewan Kesenian Djakarta, pada 1968.

Bang Ali menugasi Ciputra untuk menjalin perikatan dengan Trio Ekspres. Ia memberi arahan agar Yayayasan Jaya Raya yang menjadi wahananya. Yayasan Jaya Raya adalah sayap pengabdian sosial (CSR) konsorsium yang dipimpin Pembangunan Jaya. 

Unsurnya adalah anak usaha dan mitra korporasi pelopor bisnis properti di negeri kita tersebut, termasuk beberapa BUMD DKI dan Metropolitan Group yang dimiliki Ciputra. Mengurusi sepakbola dan bulutangkis merupakan fokusnya. Klub Jaya Raya, misalnya, sampai sekarang masih rutin menyumbang pemain untuk tim bulutangkis nasional Indonesia.

Majalah ‘Tempo’ terbit untuk kali pertama pada 6 Maret 1971. Goenawan Mohamad Pemimpin Redaksi-nya dan Fikri Jufri Wakil-nya. Nama, perwajahan, dan gaya suguhannya adalah ‘TIME’ yang di-Indonesia-kan [hal ini sempat disoal ‘TIME’].

Tak lama berselang, pada 2 Juni 1971, penerbit Pustaka Jaya lahir. Direkturnya adalah Ajip Rosidi. Redakturnya (sampai tahun 1973) adalah Aoh Karta Hadimadja. Kakak Ramadhan KH (lain ibu) ini—juga ayahanda kawanku yang merupakan wartawan ‘The Jakarta Post’, Ati Nurbaiti—adalah sastrawan yang sebelumnya (1959-1970) menjadi penyiar di ‘BBC’ London Seksi Indonesia. Ia berpulang pada 17 Maret 1973.

Dengan modal pinjaman Rp 20 juta dari Jaya Raya, PT Dunia Pustaka Jaya yang menggunakan ‘Pustaka Jaya’ sebagai nama penerbitnya, langsung menggebrak. Buku anak dan kitab sastra bermutu diterbitkannya secara berkala. 

Di luar itu ada juga jenis lain seperti biografi (S. Soedjojono, Affandi, dan yang lain yang ditulis Ajip Rosidi, misalnya), disertasi (sejarahwan Kartono Kartodirdjo, antara lain), dan telaah (karya Robert Van Niel dan Abdurrachman Surjomihardjo, umpamanya.)

Sangat bersemangat Pustaka Jaya melakoni bisnisnya. Seperti kata Bang Ali jauh hari kemudian, di masa kepemimpinan Ajip Rosidi (1971-1981) perusahaan ini terus membesar dan telah melunasi pinjamannya ke Yayasan Jaya Raya. (Ramadhan KH, 1992)

Prosa dan Puisi

Buku sastra terbitan Pustaka Jaya cukup banyak yang kukoleksi, terutama dari era 10 tahun pertama (lihat gambar). Ada yang terjemahan dan ada pula karya sastrawan Indonesia. Serba terpilih, itu unsur kesamaanya. Cita rasa sastra direktur dan redaktur penerbit ini senantiasa mengemuka.

William Shakespeare, Ernest Hemingway, John Steinbeck, Nikolai Gogol, Leo Tolstoy, Fyodor Dostoyevski, Alexander Solzhenitsin, Alexander Dumas, Yasuari Kawabata, Yukio Mishima. Jose Rizal, Jean Paul Sartre, Arthur Koestler, Federico Garcia Lorca, Rabindranath Tagore, Andre Gide, Stanilavski, antara lain yang mereka hadirkan di zaman itu.

Di luar yang kupunya itu masih ada IJ Slauerhoff, Rob Nieuwenhuys Ivan S Turgenev, Francois Mauriac, Emile Zola, Moliere, Strindberg, Anton Tjechov, Ryunosuke Akutagawa, Khalil Gibran, Fariduddin Attar, dan sebagainya.

Penerjemahnya andalan Pustaka Jaya? Bukan sembarang orang. Asrul Sani, Trisno Sumardjo, Gayus Siagian, Toto Sudarto Bachtiar, Ramadhan KH, Ali Audah, Ayatrohaedi, dan Sapardi Djoko Damono (penyair terkemuka ini baru saja meninggal).

Termasuk. Di antara semuanya, Asrul Sani-lah yang paling banyak mengalihbahasakan. Memang, sewaktu Dewan Kesenian Jakarta menghadirkan Bank Naskah, dialah yang paling antusias menyahutinya lewat terjemahan.

Dari bahasa Inggris-lah karya itu dialihbahasakan. Kalaupun ada dari bahasa lain, itu sedikit saja. Salah satunya adalah ‘Romansa Kaum Gitana’ yang diterjemahkan Ramadhan KH dari bahasa aslinya: Spanyol. Ayah ‘drummer’ Gilang Ramadhan itu belajar bahasa Spanyol di negeri matador pada 1952-1953.

Lewat Pustaka Jaya, arus sastra dunia mengalir deras ke Indonesia untuk pertama kalinya. Dalam hal ini, menurut pengamatanku, penerbit yang satu ini belum ada tandingan di negeri kita. 

Belakangan, penerbit seperti Gramedia Pustaka Utama dan Yayasan Obor juga menghadirkan karya sastrawan dunia dan dalam negeri. Tapi mereka tak semasif Pustaka Jaya di masa Ajip.

Karya dalam negeri yang disuguhkan Pustaka Jaya serba istimewa. Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Aoh K. Hadimadja, Asrul Sani, WS Rendra, Subagio Sastrowardojo, Wing Kardjo, Umar Kayam, Dick Hartoko, Putu Wijaya, Arifin C. Noer, NH Dini, Kuntowijoyo, Abdul Hadi WM, Arief Budiman, Misbach Yusa Biran, Sori Siregar, dan Fuad Hassan, umpamanya, yang menulis.

Selain prosa (roman dan cerpen) serta puisi, terbitan itu ada yang berupa kajian. ‘Chairil Anwar: Sebuah Perjumpaan’, skripsi Arief Budiman di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, misalnya.

Di samping yang kukoleksi masih ada Anak Agung Pandji Tisna, Idrus, JE Tatengkeng, Utuy Tatang Sontani, Mochtar Lubis, Harijadi S, Hartowardojo, Ali Audah, Satyagraha Hoerip, Rayani Sri Widodo, Kirjomuljo, Toha Mochtar, dan yang lain.

Kalau Balai Pustaka berjasa menghadirkan karya sastrawan dari Masa Kebangkitan (1920-1945), maka Pustaka Jaya dari Masa Perkembangan (1945—sekarang). Periodisasi ini kupinjam dari tulisan Ajip Rosidi di buku ‘Masalah Angkatan dan Periodisasi Sedjarah Sastra Indonesia’ (Pustaka Jaya—1970).

Karya Ajip Rosidi pun cukup banyak yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, termasuk ihwal dunia Sunda. Di antara semuanya yang paling lama kuburu adalah ‘Laut Biru Langit Biru’. 

Antologi karya sejumlah penulis Indonesia yang dihasilkan pada era 1966-1976 ini bertebal 691 halaman. Selain menghimpun, Ajip juga memasukkan karya sendiri di sana.

Terbit pada 1977, kitab bersampul tebal yang gambarnya dibuat pelukis Zaini kulihat pertama kali di sebuah perpustakaan kampus besar yang hampir selalu didekap sepi, saat aku masih kuliah di Bandung.

 ‘Koong’ (fragmen penulis eksistensialis Iwan Simatupang), ‘Sibaganding Sirajagoda’ (puisi panjang Mansur Samin), dan ‘Bawuk’ (cerpen Umar Kayam) yang termaktub di sana yang membuatku terpincut di awal 1980-an itu.

Pula untaian puisi dari Rendra (‘Blues untuk Bonnie’, ‘Bersatulah pelacur-pelacur kota Jakarta’, ‘Nyanyian angsa’, ‘Khotbah’, ‘Mengolah teratai’, dan ‘Seonggok jagun di kamar’), Wing Kardjo, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Goenawan Mohamad, dan Abdul Hadi WM.

Di samping yang dikumpulkan HB Jassin dan A. Teeuw, kukira waktu itu antologi inilah yang terbaik tentang karya sastrawan kita. Ingin sekali aku memilikinya. Tapi apa daya: sebagai mahasiswa perantau yang weselnya pas-pasan, uang ekstra aku tak punya.

Setelah bertahun-tahun memburu, bunga rampai ini akhirnya kutemukan juga. Waktu itu aku sudah menjadi wartawan koran ‘Bisnis Indonesia’. Bukan di tukang loak yang hampir saban hari kujambangi di Kwitang atau Pasar Senen sebab tak jauh dari kantor kami yang di Jl. Kramat V. 

Bukan pula di Palasari, Cikapundung (Bandung) atau Shopping (Yogyakarta) yang sesekali kulongok. Tapi di kios buku milik penyair-dramawan Jose Rizal Manua di kiri Graha Bhakti Budaya, TIM.

Seluruh kitab pajangan di sana sebenarnya sudah berkali-kali kuperiksa dalam kesempatan yang berbeda dan hasilnya nihil. Begitupun, berspekulasi juga aku pada satu ketika. Kutanyakan yang kucari.

“Ada, tapi koleksi saya. Sekarang ada di rumah,” begitu jawab Jose Rizal.

Kubujuk dia agar sudi melepaskannya ke diriku.

Pada lain hari dia akhirnya mau tapi dengan harga yang terbilang mahal di paruh pertama 1990-an itu: Rp. 70.000. Kondisinya masih bagus karena diplastiki. Sebagai perbandingan, ‘Leksikon Kesustraan Indonesia Modern’ yang disusun Pamusuk Eneste (Penerbit Djambatan, 1990) harganya masih Rp 6.000 di Gramedia, Matraman, di masa itu. Jadi, 11 kali lipat lebih.

Dengan jantung yang masih berdegup akibat tak percaya pada yang di depan mata, kucoba menawar. Ternyata harga tak bisa kurang sebab selain langka, buku itu koleksi pribadi. Kulunasi saat itu juga.

‘Laut Biru Langit Biru’ cetakan pertama Pustaka Jaya, seperti halnya, ‘Tjari Muatan—Empat Kumpulan Sadjak’ (Dinas Penerbitan Balai Pustaka Djakarta—1959) merupakan karya Ajip Rosidi yang bermakna khusus bagiku sampai detik ini. Tak pernah menyesal aku membelinya meski mahal.

Pustaka Jaya yang didirikan dan dipimpin Ajip Rosisi sepanjang 10 tahun adalah tonggak maha penting perbukuan Indonesia terutama yang berjenis sastra dan bacaan kanak-kanak. Di ‘zaman now’ yang serba digital pun, kesejarahan berikut nilai penting korporasi ini tidak bisa dikecilkan.

Ajip Rosidi memang aset Indonesia yang sangat istimewa. Tak hanya sebagai penulis dan penyemai sastra Nusantara ia hebat tapi juga sebagai penerbit dan pegiat buku. 

Dalam ke-‘multi-tasking’-an ini sungguh tiada duanya dia dalam sepanjang sejarah Indonesia, negara yang tengah berulang tahun ke-75. (Bersambung)

Penulis adalah : Senior Journalist, Mentor Writer Camp, Pemateri dalam workshop Bahasa dan Tulisan Jurnalistik, penulis biografi dan aktif di Aliansi Jurnalis Indonesia.

 

Berkunjung ke Pemandian Umum Berusia 100 Tahun di Jepang  

this formate

Pemandian umum berusia 100 tahun ada di kota Maizura, Venesia-nya Jepang (foto: Asahi Shimbun)

MAIZURA, Kyoto,  bisniswisata.co.id: Bagi orang Jepang, mandi bukan sekadar membersihkan tubuh. Di sana, mandi menjadi sebuah ritual. Novelis Nh. Dini dalam karyanya bertajuk Namaku Hiroko menggambarkan dengan apik bagaimana perempuan-perempuan Jepang rutin ke tempat pemandian air panas untuk umum atau dikenal dengan sento, untuk membersihkan diri sekaligus bersosialisasi.

Di sento biasanya tersedia bak mandi air hangat yang dapat dipakai beramai-ramai. Bak mandi ini disebut ofuro. Sento selalu dibagi menjadi dua berdasarkan jenis kelamin, khusus perempuan dan khusus laki-laki.

Di Kota Maizuru, Prefektur Kyoto, ada sebuah sento yang usianya sudah mencapai 100 tahun dan akan segera ditetapkan sebagai warisan budaya. Sento itu bernama Hinodeyu. Ia terletak di distrik Yoshihara yang telah lama dikenal sebagai kota nelayan, yakni sejak era Edo (1603-1867).

Distrik yang lokasinya persis berhadapan dengan Teluk Maizuru ini juga dikenal sebagai Venesia-nya Jepang karena ia mengingatkan kita dengan kota di atas air di Italia itu.

Spanduk kain bergaris merah putih di atas atap pelana sento berkibar sebagai penanda. Saat memasuki sento pelanggan harus merunduk melewati noren, tirai kain khas Jepang yang dipasang pada setiap pintu masuk gedung. 

Di balik noren, Ichiro Takahashi, 71, dengan ramah menyambut pelanggan dengan ucapan okino atau terima kasih yang diucapkan dalam dialek lokal yang kental. Ia duduk di belakang counter penerima tamu yang terletak di antara sento untuk pria dan perempuan.

Pelanggan dewasa dikenakan tarif sebesar 450 yen atau sekitar Rp 63.000. Sementara itu di ruang ganti, ada kursi pijat kuno yang telah terpasang sejak 60 tahun lalu, tetapi masih berfungsi baik. Cukup dengan 10 yen, Anda sudah dapat memanfaatkan fasilitas ini.

Di sento ini tidak ada penjual kopi susu, tetapi Anda dapat menikmati suasana retro, sebutan untuk mode yang populer di era 70an sampai 90an.

Takahashi mengatakan kamar mandi di sento awalnya dibangun dengan batu, tetapi kemudian diganti ubin saat renovasi pada sekitar 70 tahun lalu, seperti dilansir Asahi Shimbun. Saat mandi di sento, pelanggan akan merasakan air panas yang lembut yang mengalir ke bak mandi.

Itu dipercaya dapat mengurangi segala penat dan ketegangan yang ada pada tubuh. Sambil berendam, pengunjung sento pun dapat menikmati cahaya matahari senja yang masuk, kata Takahashi  

Sumber air sento ini berasal dari dasar sungai yang turun dari Gunung Gorogatake yang menghadap ke Teluk Maizuru. “Pelanggan kerap mengatakan airnya lembut dan itu membuat mereka merasa rileks,” kata Takahashi.

Bangunan sento ini berdiri pada 1917. Tiga tahun kemudian, tepatnya Oktober 1920, kakek Takahashi membuka pemandian umum ini.

Kini, ibu Takahashi, Tsuya, yang telah berusia 96, menjabat sebagai manajer. Takahashi sendiri mulai membantu menjalankan sento setelah ia pensiun sebagai manajer di sebuah sekolah dasar pada 11 tahun lalu. 

 “Hinodeyu dulu ramai oleh nelayan. Mereka biasa bicara dengan suara keras sehingga orang mengira mereka sedang bertengkar. Para nelayan itu penuh energi.” kata Takahashi mengenang hari-hari itu. “

Dewan Kebudayaan pada 17 Juli lalu merekomendasi agar sento ini dijadikan sebagai salah satu cagar budaya. Selain usianya yang sudah 100 tahun, sento ini juga unik karena lokasinya menyatu dengan lanskap sekitar. Jika disetujui maka ia akan menyusul sento Wakanoyu yang pada 2018 lalu telah dijadikan aset budaya kota Maizuru. Sento ini dibuka pada 1903. 

Kedua sento ini menjadi favorit wisatawan saat berkunjung ke Maizuru yang memang pernah dikenal sebagai kota sento. Pada 1960an ada kurang lebih 20 sento di sana tetapi seiring waktu hanya dua sento ini yang masih tersisa.

 

Kusdono Rastika, Tak Sekedar Mewarisi Jiwa Pejuang Sang Maestro Lukisan Kaca Cirebon 

this formate

Lukisan berjudul Rama Tambak ukuran 122 cm × 73

CIREBON, bisniswisata.co.id: Di Hari Kemerdekaan RI ke 75, warga Cirebon khususnya kalangan seniman tentunya masih ingat dengan kiprah alm Rastika, pelukis kaca legendaris yang memperjuangkan lukisan kaca untuk tetap eksis.

Lukisan kaca adalah karya seni yang hampir punah. Rastika, lelaki yang lahir di Desa Gegesik Kulon pada 1942 saat mulai menjadi pelukis kaca menjadi seniman termuda karena mau menggeluti seni lukis kaca ini yang  selain sudah langka juga senimannya rata-rata usianya sudah lanjut usia.

Sementara Rastika mulai menggambar kaca pada 1960-an dan salah satu kekhasannya adalah mega mendung yang mengisi kekosongan di bagian lukisan di garap dengan detail, teliti, dan rapi mengepung gambar wayang yang dibentuk dari kaligrafi Arab berisi ayat suci Al-Quran, seperti Macan Ali dan Serabad.

Selama 17 tahun berkarya, di saat usianya berumur 35 tahun pameran pertamanya digelar di Galeri Soemardja ITB pada 1977 yang menjadi debut pertamanya sejak  mulai menggambar kaca

Rastika beruntung dalam pameran itu berjumpa dengan Joop Ave, Kepala Rumah Tangga Istana Kepresidenan yang memesan sejumlah karya sesuai permintaan Joop hingga Rastika pulang-pergi Jakarta-Cirebon dan kerap tinggal di Istana Merdeka selama berminggu-minggu untuk melakukan tugasnya.

Joop juga mengupayakan sebuah pameran tunggal Rastika di Jakarta Fair dan meminta Rastika membuat mural lukisan kaca Citra Indonesia, yang menggambarkan peta Indonesia yang diapit naga dan burung garuda. 

Karyanya masih terpampang di Museum Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta dan menjadi mural  lukisan kaca terbesar di Indonesia.

Kiprahnya ini langsung memotivasi para pelukis angkatan tua dan mereka mulai giat kembali dan yang muda mencoba serius menjadi pelukis kaca. Apalagi secara ekonomi, tingkat kehidupan Rastika mulai naik. 

Hidup layak, mampu menyekolahkan putra-putranya hanya dari lukisan kaca. Dia juga membangun studio berbentuk rumah joglo, yang diberi nama Sanggar Seni Sungging Plabangkara.

Kusdono Rastika, pelukis kaca Cirebon ( foto: Dok Kusdono Rastika)

Sembilan hari setelah Kemerdekaan RI, pada 26 Agustus 2014 pelukis kaca legendaris itu telah dipanggil Tuhan Yang Maha Esa. Sebelumnya kesehatannya memang menurun akibat penyakit jantung menahun.

Untunglah, Rastika jauh-jauh hari sudah mempersiapkan Kusdono,  salah satu putranya yang lumpuh dan harus bergantung pada bantuan kursi roda untuk mencintai lukisan kaca seperti ayahnya.

Sejak dini Rastika berupaya mewariskan seluruh kepandaiannya kepada Kusdono. Anak ke empat  dari lima bersaudara ini sejak berumur 14 tahun sudah dipercaya mewarnai sketsa Rastika dan kemampuan itu kian meningkat. 

Karya-karya Kusdono hampir tak bisa dibedakan dari karya ayahnya. Bahkan, pada Juni 2013, sejumlah karya Kusdono dan Rastika sempat dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta, setahun sebelum wafatnya sang maestro.

Menyandang nama besar sang ayah, Kusdono Rastika, kelahiran Cirebon, 2 Oktober 1981 tak merasa risih karena dia sendiri tidak merasa terpaksa untuk belajar melukis tapi semuanya melakui proses berlatih yang panjang.

Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar yang baru diselesaikannya usia 14 tahun, Kusdono sudah hobby menggambar. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh kuat ayahnya yang berprofesi sebagai pelukis kaca ternama.

Seperti kebanyakan anak-anak seusianya, dia melukis menggunakan kertas gambar biasa. Begitu menginjak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama ( SMP), ayahnya serius mengajari Kusdono melukis di atas kaca. 

Pastinya sang ayah memang berharap ilmu yang diberikannya kelak akan berguna bagi masa depan anaknya. Kini terbukti, Kardono yang tinggal di Vila Gegesik Blok F no 3 & 4 , Desa Gegesik Kidul, Kecamatan Gegesik, Cirebon ini dapat mengandalkan hidupnya dari melukis kaca.

Berkat ketekunannya berlatih dan bimbingan sang ayah akhirnya kemampuan melukis Kusdono sudah bisa menyamai keindahan karya-karya Rastika. Kini melukis sudah menjadi profesinya dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya.

Meski kerumitan dalam proses kelahiran lukisan kaca melebihi lukisan kanvas, dia tetap fokus pada hobby yang sudah menjadi mata pencahariannya. Bahkan mendapat penghargaan pula dari Kementrian BUMN di era Menteri BUMN, Rini Sumarno.

“Lukisan kaca itu prosesnya cukup rumit, ketika ada kesalahan di atas media lukis seperti kanvas maka kesalahan itu cukup ditumpang dengan cat lain. Lain halnya dengan media kaca yang harus mengerik cat lama lebih dulu sebelum menambahkan cat baru,” jelasnya.

Bidadari Minturaga ukuran 122 cm & 73 cm

Ibarat pepatah; ” Air cucuran atap jatuh ke pelimbahan juga ”  yang artinya  “Pada umumnya sifat seorang anak mengikuti teladan orangtuanya ” maka dalam hal ini Kusdono mewarisi kompetensi yang sama dengan sang ayah.

Bukan itu saja, semangat juangnya juga mewarisi semangat sang ayah agar lukisan kaca tetap eksis dan memperkaya sektor pariwisata Cirebon. Sebagian lukisan kaca yang dibuat Kusdono bermotifkan dunia pewayangan dan kaligrafi. Banyak kisah-kisah pewayangan yang menjadi inspirasinya.

Karakter dan sifat wayang menggambarkan watak manusia di dunia ini. Jadi, karakter-karakter tersebut bisa menjadi contoh baik dan buruknya sifat manusia, sehingga kita jangan sampai meniru sifat buruknya, tambahnya.

Hidup dengan falsafah wayang dan kental dengan seni gamelan yang juga ditekuninya sebagai penabuh gamelan membuat darah seni yang mengalir di tubuhnya terus memotivasinya untuk berkarya meski di saat pandemi global COVID-19 ini profesi dan usahanya sangat terpukul.

Sebelum terjadi pandemipun dia sudah merasa penjualan hasil karya para seniman masih susah. “Pemerintah dari instasi terkait seperti Bekraf agar menaruh perhatian terhadap kondisi ini. Kalau perlu langsung mengunjungi para seniman, sehingga tahu keluhan kami,” ujarnya.

Menurut Kusdono, perkembangan seni rupa di Indonesia saat ini sangat pesat. Namun untuk membeli karya seniman, jangan melalui perantara, sehingga keuntungan bisa langsung dirasakan pelukisnya bukan calo atau perantaranya. 

Mengandalkan mata pencaharian dari lukisan kaca, Kusdono masih menaruh harapan yang besar untuk mengikuti kata hati dan hobby. Apalagi keluarganya sangat mendukung aktivitasnya melukis. 

Berkat profesi yang ditekuninya, dia mampu menghidupi istri dan anak-anak tercintanya. Suami dari Nurcahyani ini dalam mendidik anak memilih untuk membebaskan untuk menekuni bidang yang disukai sang anak.

Dia menganjurkan kepada setiap anak yang memiliki bakat tertentu agar selalu mau mengasahnya karena suatu saat berguna bagi masa depan mereka.

“Kalau punya bakat terpendam asah  terus dengan berkarya. Seperti belajar naik sepeda, sesekali jatuh nikmati saja karena jika sudah “menguasai” ilmunya kita akan terus bergairah untuk meraih kesuksesan,” papar Kusdono.

Dia mengaku tak sekedar mewarisi bakat sang ayah, tetapi melestarikan kekayaan seni dan budaya Indonesia adalah yang utama. Selama ada generasi muda yang mau menjadi pelukis kaca maka produk seni yang identik dengan kota Cirebon juga tidak punah.

Pelukis yang rajin berpameran sejak 2004 hingga 2017 ini menilai jika generasi Z yang lahir di jaman digital mau mempelajari lukisan kaca maka seni ini belum akan punah. Mereka akan menjadi pejuang masa depan dalam melestarikan seni lukis kaca Cirebon.

 

 

                     

 

Mengenang Upacara 17 Agustusan di Emperan Kaki Lima Kota Mekkah

this formate

Mekkah, Arab Saudi – bisniswisata.co.id: Lagu Indonesia Raya stanza 1 karya W.R. Soepratman itu berkumandang dari bibir-bibir yang bergetar, memendam isak. Tak ada iringan musik orkestra ataupun ensambel.

                              Indonesia Raya

  • Indonesia tanah airku
  • Tanah tumpah darahku
  • Disanalah aku berdiri
  • Jadi pandu ibuku
  • Indonesia kebangsaanku
  • Bangsa dan Tanah Airku
  • Marilah kita berseru
  • Indonesia bersatu
  • Hiduplah tanahku
  • Hiduplah negriku
  • Bangsaku Rakyatku semuanya
  • Bangunlah jiwanya
  • Bangunlah badannya
  • Untuk Indonesia Raya
  • Indonesia Raya
  • Merdeka Merdeka
  • Tanahku negriku yang kucinta
  • Indonesia Raya
  • Merdeka Merdeka
  • Hiduplah Indonesia Raya
  • Indonesia Raya
  • Merdeka Merdeka
  • Tanahku negriku yang kucinta
  • Indonesia Raya
  • Merdeka Merdeka
  • Hiduplah Indonesia Raya

Dinyanyikan sekitar 300 orang yang berdiri rapi dalam barisan, yang terpanggil merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Hikmat, syahdu dan penuh rasa haru yang menyesak kalbu, walau tak sehelai Merah Putih pun dikerek naik dan berkibar di pucuk tiang

Berjejer rapih meskipun tidak ada bendera merah putih.

Upacara Bendera sederhana dan digelar dengan amat darurat ini berlangsung pada tanggal 17 Agustus 2017, dimulai tepat pukul 10: 17 waktu Arab Saudi di kakilima ruas jalan Kota Mekah. 

Kami, pelakunya adalah jamaah Indonesia yang hadir dalam rangka ibadah tahun 1438 Hijriyah, yang menginap di Maktab 70 Indonesia di kawasan Syisha, sekitar 5 Km di sebelah tenggara Ka’bah, Masjidil Haram. 

Saya dan istri tercinta, Resti juga ada dalam barisan yang terbentuk dari berbagai rombongan jamaah haji regular Indonesia. Ada kafilah/rombongan dari Medan, Tasikmalaya, Depok, Bekasi, Kedoya – Jakarta Barat, Bima dan Lombok, Makassar, juga jamaah asal Fak Fak – Papua Barat. Menyatu di maktab itu.

Tetap Merah Putih walau tanpa bendera

Saya dan kafilah/rombongan haji mandiri KUA Pamulang, Tangerang Selatan, terbang dari Bandara Soekarno-Hatta tanggal 29 Juli 2017. Sebagai haji tamattu, yang mendahulukan umrah sebelum tiba waktu berhaji, disinggahkan lebih dulu ke Madinah.

Tinggal selama 9 hari, antara lain untuk memberi kesempatan kepada jamaah melaksanakan sunnah Arba’in, shalat wajib tak putus dalam rentang 40 waktu. 

Dari Madinah Al-Munawarrah, kami diantar bus ke Mekah untuk Umrah dan ibadah lain sembari menunggu tiba waktu Wukuf di Arafah serta melaksanakan wajib haji, rukun haji serta ibadah lainnya di Musdalifah dan Mina di hari Nhar (10 Dzulhijah) dan sepanjang hari-hari Tasyriq. 

Saat-saat di Mekah itu, kami akan melalui hari amat bersejarah bagi bangsa Indonesia, yakni tanggal 17 Agustus.“Tujuhbelasagustusan” atau “17Agustusan”, begitu Anak Betawi menyebut acara atau upacara, baik yang resmi ataupun tak resmi, berkait Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta (atas nama bangsa Indonesia) pada Jum’at pukul 10: 17 pagi, 17 Agusrtus 1945, di sebuah rumah milik warga/pengusaha asal Arab (yang berani ambil risiko), di Jl Pegangsaan Timur No.56 Jakarta.

Tiap tahun bangsa Indonesia memperingati hari bersejarah itu Selalu ada upacara menaikkan ( kerek)  bendera Merah Putih naik ke angkasa di tiap tanggal 17 Agustus pagi. Tak cuma di halaman Istana Merdeka – Jakarta dengan Presiden RI selaku pemimpin upacara.

Peringatan juga dilakukan di berbagai persada Nusantara, bahkan dimanapun orang Indonesia berkumpul. Minimal untuk merenung dan berkontemplasi pada detik-detik pukul 10: 17 pagi.

Selain di halaman Istana Merdeka Jakarta atau di lapangan bola di kampung, dimana Anda pernah ikut melaksanakan 17Agustusan? Saya pernah ikut melaksanakannya di atas geladak KRI Teluk Banten yang tengah berlayar di perairan barat Sumatera. Pernah juga di KBRI di Paris – Perancis, ditonton banteng dan merak di hutan Ujung Kulon – Banten. Di Merauke, juga di Ranu Kumbolo di pucuk Semeru, Jawa Timur

Yang pasti, dimanapun upacara 17Agustusan digelar, “Dada selalu diliputi rasa haru, khususnya saat lirik lagu Indonesia Raya dikumandangkan dan akan selalu ada hal menarik untuk dikisahkan ulang,” ungkap seorang sahabat,

Begitu pula saat saya berada  di Mekah Al-Mukarromah ini bersama para sedulur jamaah Indonesia yang menginap di kawasan Syisha sepakat menggelar 17Agustusan di kaki lima depan hotel.

Betapapun acara dadakan, dan idenya tercetus spontan cuma selang 2 hari sebelum penyelenggaraan, tapi setidaknya ada tiga hal yang umumnya jadi pokok upacara 17Agustusan, yakni: pengibaran bendera Sang Saka MerahPutih, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, serta pembacaan Teks Proklamasi sebagaimana dikumandangkan Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia pada tahun 1945,

Untuk hal kedua dan ketiga, kami siap melaksanakan. Softcopy teks Proklamasi dari naskah aslinya, sudah kami peroleh berkat ‘mbah’ Google, dan seorang jamaah (guru sebuah SMP di Tasikmalaya, Jawa Barat) siap membacanya dengan lantang.

Untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya, sorang jemaah wanita siap tampil sebagai dirigen. Tapi siapa punya bendera Merah Putih untuk dikibarkan?

Tak seorang pun dari kami membawanya dari tanah air. Rombongan lain sehotel, atau yang sama menginap di jalan itu, juga sama saja. Tak ada yang kepikiran menyelipkannya di koper sebagai bagian dari bawaan naik haji. 

Satu-satunya bendera MerahPutih adalah milik PPIH, yang harus terus berkibar di pucuk tiang kantor Maktab 70 Indonesia, berdampingan bareng bendera Arab Saudi. 

Kami sepakat, ada atau tidak ada bendera Merah Putih, upacara harus tetap terlaksana. Namun kesan Merah Putih harus semaksimal mungkin dihadirkan. 

Pakaian hari-hari jamaah, gamis ataupun abaya yang umumnya berwarna putih, amat menguntungkan dan direncanakan dikenakan seluruh peserta upacara. Juga T-Shirt ataupun pakaian lain yang bernuansa merah, dianjurkan dikenakan agar menjangkau kesan Merah Putih. 

Pita botol Zam-Zam

Di samping hotel tempat saya menginap ada Toko Indonesia dengan plank berdasar cat ‘bendera’ Merah Putih. Atribut lain yang mengesankan Merah Putih, atau bertuliskan Indonesia diminta dikenakan peserta, juga rompi petugas di berbagai lini yang dipunggungnya tertulis kata: Indonesia. 

Usai acara 17 Agustusan menjadi ajang silaturahim diantara para jemaah haji. ( foto-foto: Heryus Saputra Samhudi)

Pokoknya pada acara 17 Agustusan itu sedapat mungkin kita akan apapun yang mengindikasikan Merah Putih dan Indonesia.

Mendadak saya ingat bahwa saat hendak berangkat berhaji, setiap jamaah Indonesia juga dibekali Kementerian Agama RI dengan sebuah botol berbahan plastik putih untuk wadah air Zam-Zam, untuk diminum atau disemprotkan (dengan alat katup semprot di ujung leher botol) ke tubuh saat berjalan di luar ruang. 

Sebagai informasi, saat itu suhu udara di Madinah bisa mencapai 45* Celcius di siang hari, dan 39* Celsius di malam hari, Untuk mudah dibawa kemana-mana, botol minum sekaligus alat sprayer air Zam-Zam itu dilengkapi pita panjang dengan carrabiner dikedua ujungnya, yang mudah dikaitkan maupun dilepas.

Berfungsi sebagai tali hingga botol mudah dicangkongkan di bahu atau ditenteng. Pita Merah Putih itu saya lepas dari botol, dan saya jadikan ikat kepala yang sengaja saya kenakan saat general-reharshal. 

Saya ttfak tahu, berapa orang melihat saya mengenakan ‘ikat kepala’ itu saat kami latihan upacara pada tanggal 16 Agustus 2017. Yang pasti esok paginya, saat upacara 17 Agustusan digelar banyak juga yang memakainya.

Pita Merah Putih dengan carabiner bergantung di kedua ujungnya itu juga menjadi aksesoris yang mengikat kepala banyak peserta upacara. Bergoyang-goyang dalam haru menyesak dada, saat berkumandang lagu Indonesia Raya.

Berbaris diemperan kaki lima kota Makkah, mengenang jasa para pahlawan bangsa menjadi kenangan yang tak terluoa seumur hidup.

Apalagi dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, sejarah mencatat jutaan umat Muslim dan organisasi Islam di tanah air berkontribusi besar merebut kembali kemerdekaan yang hakiki lewat perjuangan berat agar  menjadi bangsa yang bermartabat

Jumlahnya bukan satu dua orang yang sudah disematkan dengan gelar pahlawan nasional tapi jutaan umat Muslim di tanah air yang berkontribusi besar bagi Kemerdekaan RI. Alfatifah untukmu para pejuang……..

 

Banyuwangi Rebound, Kesiapan Buka Seluruh Destinasi di Kabupaten Itu September 2020

this formate

Obyek wisata baru di Kab. Banyuwangi yang jadi spot foto Instagramable. ( Foto: Kemenparekraf)

BANYUWANGI, bisniswisata.co.id: Banyuwangi Rebound” adalah langkah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang menargetkan pembukaan seluruh destinasi pada September 2020 seiring program recovery sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang dijalankan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan ekonomi kreatif mendukung upaya pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, lewat kegiatan “Banyuwangi Rebound” tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi M. Yanuar Bramuda dalam sosialisasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environment Sustainability) mengatakan, pandemi COVID-19 mengubah strategi pengembangan pariwisata Banyuwangi.

Berbicara dalam kegiatan “Banyuwangi Rebound” yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pihaknya sudah memiliki timeline kegiatan.

Saat ini pemerintah daerah memberlakukan dengan ketat protokol kesehatan berbasis CHSE serta jaga jarak, pembatasan pengunjung serta sertifikasi bagi pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif yang telah memenuhi unsur-unsur tersebut di masa adaptasi kebiasaan baru.

Timeline New Normal tourism 2020 di Banyuwangi, tiga bulan pertama pada Mei hingga Juli 2020 kami sudah fokus pada recovery. September sudah ada target pembukaan semua destinasi dan pembukaan penerbangan Bali-Banyuwangi dengan pesawat ATR Citilink 72 seat yang akan diisi oleh 50 persen dari kapasitas penerbangan,” kata Bramuda.

Pandemi COVID-19 dikatakannya memberikan dampak yang besar terhadap sektor parekraf di Banyuwangi. Terjadi penurunan konsumen sekitar 73,8 persen, penurunan omzet sebesar 74,1 persen dan mengakibatkan usaha yang tutup sebesar 17,3 persen.

Karenanya Pemkab Banyuwangi seiring dengan penanganan kesehatan, saat ini juga fokus mempersiapkan sektor parekraf di era adaptasi kebiasaan baru dengan baik.

Pariwisata ke depan dikatakannya tidak sekadar menyajikan leisure tapi juga konsep wisata yang aman, sehat, bersih seperti protokol kesehatan berbasis CHSE dari Kemenparekraf.

Menurut hasil survei, kata Bramuda, Banyuwangi menjadi salah satu destinasi yang paling banyak diminati untuk dikunjungi setelah pandemi bersama dengan Lombok dan Labuan Bajo. Selama Juli 2020, Bramuda menyebut jumlah wisatawan ke Banyuwangi dalam jangka satu pekan sudah mencapai 8.000 pengunjung.

Pelasanaan program BISA dukung program Rebound Banyuwangi di wakili Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Kemenparekraf/Baparekraf Oni Yulfian.

“Kepada para pengelola pariwisata, kami tekankan, jualan kita tak lagi sekadar harga murah dan suguhan wisata indah. Namun, harus memenuhi protokol kesehatan dan keamanan,” kata Bramuda.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf, Hari Santosa Sungkari, mengatakan, dalam penyesuaian kegiatan wisata di masa adaptasi kebiasaan baru perlu kedisiplinan dan ketegasan.

Saat ini pemerintah fokus menggarap segmen wisatawan domestik hingga akhir tahun dan membuka destinasi wisata bagi wisatawan mancanegara pascapandemi COVID-19.

“Kita harus berfikir positif bahwa vaksin COVID-19 segera ditemukan. Saya berharap Kemenparekraf sebagai best practice dalam membantu membuka destinasi pariwisata dalam era adaptasi kebiasaan baru,” kata Hari Santosa.

Sementara Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Kemenparekraf/Baparekraf Oni Yulfian mengatakan, kegiatan rebound pada destinasi wisata Banyuwangi menjadi salah satu upaya yang dilakukan Kemenparekraf/Baparekraf untuk membangkitkan kembali potensi pariwisata di Banyuwangi yakni membangun destinasi yang menerapkan protokol CHSE.

Lingkup kegiatan ini meliputi penguatan program sapta pesona, revitalisasi amenitas dengan pengadaan barang pendukung CHSE dan alat penunjang keamanan. Serta bimbingan teknis soal 3A (atraksi, amenitas dan aksesibilitas) di setiap destinasi wisata di Banyuwangi.

“Kemenparekraf sangat mengapresiasi upaya Pemkab Banyuwangi dalam membangkitkan pariwisata dan ekonomi kreatif, yaitu dengan menerbitkan sertifikat kepada usaha pariwisata dan ekonomi kreatif yang telah mengikuti protokol kesehatan,” ujarnya.

Selain sosialisasi, dalam kegiatan yang berlangsung pada 12-13 Agustus 2020, juga digelar aksi BISA (Bersih, Indah, Sehat, Aman) di destinasi Grand Watu Dodol yang melibatkan lebih dari 50 pekerja parekraf dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Kemenparekraf/Baparekraf juga mendedikasikan peralatan dan perlengkapan pendukung seperti tempat cuci tangan, tempat sampah, toilet portable, masker, face shield, sarung tangan, baju APD, alat semprot, tenda. Ada pula tandu lipat serta _signage_ (papan imbauan untuk mematuhi protokol pencegahan penularan COVID-19).

 

Menikmati Quiche & Pastri Perancis Persembahan Tiga Sekawan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Keterbatasan di berbagai bidang akibat pandemi global COVID-19, ternyata justru mendorong kreativitas tiga sekawan untuk menyikapi wabah penyakit sebagai suatu peluang bisnis di saat orang harus mengerjakan segala sesuatu dari rumah.

Adalah Carla Quiko, Pheaby Tjandra dan Vilma Kiswoyo yang akhirnya sepakat untuk memperkenalkan Quiche Lorraine atau pai Perancis yang masih jarang dijual dan belum begitu dikenal masyarakat ketimbang pizza yang bisa ditemui di banyak kota besar di Indonesia.

Awal mulanya karena lebih banyak waktu luang dimasa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dimana anak sekolah, para pekerja dan profesi  lainnya harus beraktivitas di rumah untuk menyetop penyebaran virus Corona.

“Banyak keluarga yang jadi menyempatkan bikin kue sendiri karena punya banyak waktu di rumah,” kata Carla Quiko.

Pilihan beragam dengan buah-buahan seperti apel dan jeruk

Vilma Kiswoyo mengeluarkan simpanan resep kue-kue andalannya yang dinikmati keluarga dan kerabatnya seperti Carla sehingga akhirnya tercetus mengisi eaktu luang dengan menjual pada masyarakat dengan sistem pesanan.

Ternyata sambutan keluarga dan teman bagus sehingga akhirnya berkembang menjadi peluang bisnis yang dimulai justru di tengah masa keprihatinan akibat pandemi global.

” Bu Vilma latar belakangnya guru Bahasa Inggris yang dulu sering berkumpul dengan teman-teman dari mancanegara dan saling bertukar resep khas masing-masing,” ungkap Carla.

Vilma suka mempraktekan membuat pastri untuk keluarga dan teman-teman dan Quiche atau Pai Perancis ini masih jarang dan belum begitu dikenal oleh masyarakat. 

Quiche adalah kue tar Perancis yang terdiri dari kulit pastry yang diisi dengan custard gurih yang digunakan sebagai bahan dasar dan diisi dengan potongan keju, daging, seafood atau sayuran bayam, misalnya.

Varian yang paling terkenal adalah Quiche Lorraine yang bisa disajikan panas atau dingin. Bagian dalam Quiche itu adalah masakan yang terbuat dari krim dan kuning telur dan sering digunakan sebagai hidangan penutup. Tart Ini populer di seluruh dunia.

Irisan Quiche vegetarian yang menggiurkan

Wikipedia mencatat kue ini pertama kali dikenal pada 1605 di Lorrain patois, Perancis dan makin dikenal pada 1805 hingga di negara luar Perancis. Pada 1925 penggunaan nama bahasa Inggris pertama tetap dipakai Quiche Lorraine 

Jadi hidangan Perancis yang menggunakan telur dan krim ini telah dipraktikkan dalam masakan Inggris  dan masakan Italia setidaknya sejak abad ke-13. 

Resep untuk telur dan krim yang dipanggang dalam kue mengandung daging, ikan, buah maupun sayuran ini bahkan sudah disebut  di buku masak abad ke-15, seperti Italian Libro de arte coquinaria. 

Di Perancis sendiri ada banyak varian Quiche dan dapat diberi nama secara deskriptif seperti Quiche au fromage (Quiche dengan keju) dan Quiche aux champignons (Quiche dengan jamur) atau secara konvensional, misalnya  florentine (bayam).

Carla bahkan tidak mencatat kapan tanggal produksi pertama melayani pesanan karena order mengalir begitu saja. “Kami jual dengan harga terjangkau mulai dari Rp 125.000-Rp 175.000 untuk satu loyang quiche berukuran 20 cm,” kata Carla sambil menambahkan harga belum termasuk ongkos kirim yang ditanggung oleh pemesan.

Saat ini pihaknya  mempunyai 9 jenis rasa untuk Quiche dan 2 rasa untuk Pie. Quiche Beef dan Apple pie yang paling banyak diminati. Produksi harian masih memenuhi dari pesanan yang diterima.

Pilihannya adalah Vegetarian, Cheese, Beef, Chicken, Lemon Meringue, Apple Pie, Chocolate Rum, Chocolate Meringue, Salmon, Tuna & Beef spinach

Pemasaran melalui media sosial untuk open PO dan para pelanggan. Saat ini belum melayani Cafe-cafe lokal secara khusus meski tawaran untuk memasok Quiche sudah ada.

“Di luar negeri jenis makanan ini lebih banyak disediakan oleh Cafe untuk melengkapi minum teh dan kopi. Bisa dihidangkan panas maupun dingin,”

Baik Carla yang bertugas di bagian pemasaran,  Pheaby Tjandra  yang mengurusi bahan baku dan admin serta Vilma yang mengurusi produksi sepakat untuk membuat packaging yang cantik. Tiap kemasan di dalamnya sudah dilengkapi dengan pisau plastik dan saus sambal.

Kemasan membuat Quiche ini pantas menjadi hadiah-hadiah bagi yang berulang tahun maupun memiliki moment khusus lainnya. Nah berminat ? tapi sabar ya kalau order hari ini maka baru bisa dinikmati 2 hari kemudian. Wah sukses ya tiga sekawan….

Mengenang Ajip Rosidi (31 Januari 1938-29 Juli 2020) Bagian : 3

this formate

Oleh P. Hasudungan Sirait

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sastrawan sekaligus budayawan Ajip Rosidi meninggal dunia di usia 83 tahun. Ia meninggal setelah menjalani operasi di RSUD Tidar Kota Magelang. Ajip Rosidi sempat dirawat tiga hari setelah terjatuh di rumah. Berikut serial tulisan untuk mengenang sosok teladan ini;

JEJAK ISTIMEWA KWARTET SUNDA DALAM KELAHIRAN DKJ, TIM, DAN IKJ

Warung makan-minum darurat yang di belakang bioskop Grand, Senen, akhirnya disingkirkan. Sebabnya? Berada di kawasan proyek pelebaran jalan. Rencana pembangunan yang sudah menjadi wacana  sejak permulaan 1960-an  akhirnya menyata. 

Putu tjirebon, kedai kopi Si Tojip, warung Tjau An,  ‘restoran’ [padang]  Ismail Merapi, lapak buku bekas Utjup, dan yang lain sudah tiada. Acara ‘ngumpul ‘  saban malam di sana yang diisi dengan debat, diskusi, berbual-bual, curhat, dan sebagainya dengan sendirinya  berakhir. 

Seniman Senen yang saat itu sudah harum namanya akhirnya buyar karena rencana untuk mencari tempat pengganti   tak kunjung mewujud. 

Ajip Rosidi, Ramadhan Kartahadimadja, dan llen Surianegara menceritakan hal  itu untuk menjawab pertanyaan Gubernur DKI Mayjen KKO (kelak saat masih memimpin DKI ia berpromosi menjadi Letjen) Ali Sadikin.  

Bang Ali menyimak dengan saksama. Dia lantas berkata  bahwa keberadaan kelompok macam  Seniman Senen itu perlu bagi  Jakarta yang sedang membangun. 

Kalau hanya perdagangan, industri, jasa, dan yang lain  yang serba berdimensi bisnis yang menggeliat,  itu tidak sehat. Dunia kesenian mesti  dihidupkan kembali sebab warga kota butuh karya-karya kreatif penyejuk jiwa-pengaya rohani.  

Perbincangan kwartet Sunda ini berlanjut. Muncul kemudian gagasan untuk menghimpun kembali para seniman Jakarta. Gubernur berusul agar dibentuk saja wadah kalau memang itu disetujui. 

Dirinya akan memfasilitasi dengan menyiapkan dana. Begitupun, ia menggarisbawahi lagi, dirinya tak bakal mencampuri urusan internal mereka nanti (Ramadhan KH dalam ‘Bang Ali—Demi Jakarta 1966-1977’, Pustaka Sinar Harapan—1992, ‘Gita Jaya’—1977, dan ‘25 Tahun Pusat Kesenian Jakarta—Taman Ismail Marzuki’,  Yayasan Kesenian Jakarta, 1994).

Pastilah ketiga teman bicaranya menyahuti dengan sangat antusias. Mereka berjanji akan lekas menghubungi kawan-kawannya sesama seniman 

Dewan Kesenian Djakarta

Sesuai waktu yang disepakati, pada 9 Mei 1968 para seniman berdatangan ke kediaman resmi Gubernur DKI di Jl. Taman Suropati, Jakarta. Jumlah mereka rupanya jauh lebih banyak dari perkiraan tuan rumah.

 Dalam pertemuan itu insan-insan kreatif tersebut memilih sendiri sebuah formatur. Para senior unsurnya yakni  Rudy Pirngadi (Brigjen), D. Djajakusuma, Usmar Ismail, Asrul Sani, Mochtar Lubis, Gajus Siagian, dan Zulharmans Said. 

Tugas mereka adalah memilih calon anggota Badan Pembina Kebudayaan (BPK), lembaga yang akan menjadi mitra Pemda DKI dalam mengurusi kesenian di Ibukota. 

Tepat seperti yang telah dijadwalkan, pada 24 Mei 1968, kaum seniman itu berhimpun lagi di rumah dinas gubernur. Hari itu Formatur melaporkan ke  Bang Ali  calon anggota BPK yang sudah dipilih. Jumlahnya 19 orang.  

Sang tuan rumah setuju saja. Ia konsisten dengan ucapannya terdahulu:  tak akan mengintervensi urusan para seniman.  Jadi, otomatis Trisno Sumardjo, Binsar Sitompul,  HB Jassin, Darsjaf Rachman, Ajip Rosidi, Misbach Yusa Biran, Wahyu Sihombing.

Selain itu juga termasuk Teguh Karya, Pramana Padmodarmojo,  Goenawan Mohammad, Arief Budiman, Taufik Ismail, Sardono,  Zaini, S. Brata (Bernard Izjerddraat, seorang Belanda pro-Indonesia yang merupakan ahli musik rakyat), Rudy Laban, Irawati [kemudian menjadi Iravati] Sudyarso, Adidharmo, dan Setyati Sulaeman  resmi menjadi anggota BPK.

Formatur mengakhiri tugasnya setelah menyatakan terserah  BPK saja apakah akan menambah atau mengurangi anggotanya, mengubah atau memertahankan nama lembaga, serta menentukan siapa yang akan memanejerinya.  

Seminggu berselang, BPK  melangsungkan rapat untuk kali pertama. Tempatnya di Balai Budaya (milik Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional—BMKN),  Jl. Gereja Theresia, Jakarta.  

Keputusannya?  Mereka menambah 6 anggota yakni D. Djajakusuma, Oesman  Effendi, Asrul Sani, Mohammad Amir Sutarga, Sjuman Djaja, dan DA Paransi.  Dengan demikian seluruhnya menjadi 25 orang. Masa kerjanya 3 tahun dan maksimal 2 periode saja boleh dipilih. 

Mereka memercayai Trisno Sumardjo, pengarang senior yang juga pelukis dan penerjemah, sebagai Ketua. Keputusan lainnya adalah mengganti nama Badan Pembina Kebudayaan menjadi Dewan Kesenian Djakarta (DKD, kelak menjadi Dewan Kesenian Jakarta [DKJ] seiring pergantian ejaan di negeri kita. 

Ajip Rosidi masuk DKD sementara Ilen Surianegara dan Ramadhan KH tidak. Tapi kedua yang terakhir ini berposisi penting di ‘Budaja Djaja’  yang diterbitkan lembaga tersebut. Ilen menjadi penanggung jawab, sedangkan Ramadhan  KH redaktur bersama Ajip Rosidi dan Harijadi S Hartowardojo. 

Hingga edisi 7 Tahun I-nya (itu saja yang kukoleksi) yang termaktub di daftar anggota redaksi Budaja Djaja sebagai  pembantu adalah Ramadhan KH, Mohammad Amir Sutarga, Arief Budiman, Asrul Sani, Gajus Siagian, Goenawan Mohammad, Mochtar Kusumaatmadja, Nono Anwar Makarim, Oesman Effendi, Taufiq Ismail, Toto Sudarto Bachtiar, Trisno Sumardjo, Zulharmans, Wing Kardjo, dan Ajatrohaedi.

Laporan tentang proses pembentukan Dewan Kesenian Djakarta muncul  di rubrik Kronik ‘Budaja Djaja’  edisi perdana. Seperti yang sudah kukisahkan di penggal pertama, Ali Sadikin yang membantu pembiayaannya  sehingga majalah kebudayaan ini bisa terbit hingga tahun 1979. 

Taman Ismail Marzuki

Gubernur Ali Sadikin melantik 25 anggota DKD pada 19 Juni 1968. Beritanya muncul di ‘Budaja Djaja’,  Nomor 5 Tahun I  (terbit  Agustus 1968) . Persisnya di ‘Surat Sebaran Dewan Kesenian Djakarta’ yang dikeluarkan pada 24 Agustus 1968. Berpanjang  3 halaman, di sana antara lain disebut bahwa lembaga itu yang nanti mengurus kompleks kesenian yang sedang dibangun. Diharapkan proyek itu klar pada 28 Oktober 1968 dan peresmiannya bakal  diramaikan dengan pesta seni sebulan penuh.    

Ide membangun sebuah pusat kesenian di Jakarta mengemuka  tatkala Bang Ali menanyakan ke Ilen, Ramadhan, dan Ajip bagaimana nasib Seniman Senen. Entah sesudahnya atau sebelumnya, orang nomor satu di DKI tersebut pernah juga menyinggungnya saat bertandang ke Balai Budaya. 

Setelah DKD terbentuk, Bang Ali pun mempercakapkan kembali  gagasan tersebut dengan mereka. Ia menyatakan Pemda DKI akan membantu secara finansial pembangunan Pusat Kesenian Djakarta (PKD). 

Para seniman menyambut dengan girang termasuk waktu sang tuan rumah  menawarkan sebuah lokasi. Letaknya di Cikini Raya 73 di sebelah Proyek Planetarium. Semula di sanalah pelukis tersohor Raden Saleh  (1811-1880) berumah. Tempat itu kemudian berubah menjadi kebun binatang. Setelah satwa penghuninya dialihkan ke Ragunan, persil yang cukup lapang itu menjadi lowong. 

Bang Ali mengusulkan agar lokasi Pusat Kesenian Djakarta disatukan saja dengan Planetarium. Dengan begitu akan lebih luas nanti. Wahana tempat orang belajar benda-benda langit  itu dibangun tahun 1966 tapi kemudian mangkrak lama akibat pergantian rezim.  Tawaran ini ibarat pucuk dicita ulam pun tiba bagi DKD. 

Pemda DKI menyiapkan Rp 90 juta untuk biaya pembangunan tahap pertama Pusat Kesenian Djakarta. Prinsipnya saat itu, mengutamakan gedung-gedung pertunjukan saja dulu dan  bangunan masih serba semi permanen. 

Pada 10 November 1968 Gubernur Ali Sadikin meresmikan Pusat Kesenian Djakarta—Ismail Marzuki (PKD-TIM). Penambahan nama komponis utama kelahiran tanah Betawi  ini adalah usul kaum seniman. 

Pesta Kesenian digelar 10 hari (bukan sebulan penuh) untuk merayakan kelahiran TIM. Teater Populer-nya Teguh Karya, Orkes Simfoni Djakarta (dipimpin Adidharma), dan tarian Batak antara lain yang menjadi suguhan dalam  perhelatan yang  saban hari sangat meriah. 

Seniman pastilah bakal kelabakan kalau ditugasi memanejeri TIM. Sebab itu Ketua  Dewan Kesenian Djakarta, Trisno Sumardjo  meminta ke Bang Ali agar diberi orang yang tepat.  

Gubernur lantas menugasi Suri Handono. Eksekutif PT Pembangunan Djaja inilah yang menjadi ‘General Manager’   TIM hingga beberapa tahun kemudian. Dengan demikian para seniman yang berkegiatan di sana tinggal berkreasi saja tanpa harus dipusingkan oleh urusan perawatan gedung, pengaturan jadwal acara, uang masuk dan keluar, adminstrasi, dan yang lain. 

Akademi  Jakarta dan IKJ

Dewan Kesenian Djakarta yang telah berubah nama menjadi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membutuhkan arahan dan nasihat dari para seniman-budayawan senior. Aspirasi ini mereka sampaikan ke Bang Ali. Seperti biasa, lekas bertindak sang kepala daerah. 

Pada 24 Agustus 1970 Gubernur Ali Sadikin meresmikan Akademi Jakarta yang unsurnya  pilihan para  seniman-budayawan. Diketuai sastrawan-filsuf terkemuka Sutan Takdir Alisjahbana, anggotanya Mochtar Lubis (wartawan-sastrawan), Mohammad Said (pendidik-tokoh Taman Siswa),  Rusli (pelukis), Asrul Sani (penyair-eseis-sutradara)

Ada Popo Iskandar (pelukis), Affandi (pelukis), Soedjatmoko (pemikir), HB Jassin (kritikus sastra), dan D.Djajakusuma (sutradara). Keanggotaan mereka seumur hidup. Tugasnya termasuk memilih anggota DKJ berikutnya.  

Dalam sebuah kesempatan, pengurus DKJ kembali menyampaikan keinginannya kepada Bang Ali. Kesenimanan itu perlu dipupuk sejak dini. Agar profesional nanti orangnya perlu dididik khusus. Jadi, perguruan tinggi seni seperti yang di Bandung (ITB) dan Yogyakarta (ASRI) perlu juga ada di Ibukota. Demikian kata mereka. 

Masih di tahun 1970,  Bang Ali meresmikan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Akademi ini memiliki jurusan tari, teater, musik, sinematografi, dan seni rupa. Kampusnya di satu lokasi di belakangan Graha Bhakti Budaya, TIM. 

Pada 1981 LPKJ naik  status dari akademi menjadi institut. Namanya pun berubah menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).  Logonya yang berupa pohon hayat diciptakan oleh  perupa Gregorius Sidharta. Orang DKJ banyak yang mengajar di IKJ. 

Sejumlah murid mereka kemudian menjadi pemuka dalam dunia kesenian kita. Slamet Rahardjo, Deddy Mizwar, Ray Sahetapi, Slamet Abdul Sjukur, Franki Raden, Merusya Nainggolan, Tony Prabowo, Garin Nugroho, Riri Reza, Mira Lesmana, dan Hanung Bramantyo, termasuk  Iwan Fals pun pernah menjadi mahasiswa di sana tapi tak tamat. 

WS RENDRA ditangkap

Ketua Dewan Kesenian Djakarta yang pertama, Trisno Sumardjo,  ternyata berpulang pada hari Kartini (21 April) 1969. Oesman Effendi penggantinya.  Orang Minang, dia pelukis yang membuat CITRA: logo yang dipakai TIM sampai hari ini. 

Sejak 1973 hingga 1981  Ajip Rosidi yang memimpin Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Ramadhan KH menjadi Sekretaris di lembaga itu. Saat itu senior mereka yang sama-sama merintis ‘Budaja Djaja’, Ilen Surianegara, sudah kembali menjadi diplomat. 

Sempat di Deplu Jakarta, berturut-turut ia kemudian menjadi Dubes di Tunisia, Wakil Gubernur Lemhanas, dan Dubes di Aljazair (merangkap beberapa negara Afrika).  Kemitraan Bang Ali dengan DKJ semasa kepemimpinan Ajip Rosidi itu tentulah intens.  

Sepanjang masa kegubernurannya,  Ali Sadikin sangat giat memajukan Jakarta. Banyak betul hajat orang banyak yang diurusinya. Dia membangun jalan raya, jembatan, gelanggang remaja, fasilitas ibadah, Puskesmas, sekolah, jalan-jalan kampung

Selain itu menghadirkan Pusat Perfilman Usmar Ismail berikut Sinematek Indonesia,  dan menyantuni Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), umpamanya. 

Menghidupkan dunia kesenian di Ibukota pun konsisten dilakukannya. Dana ia usahakan untuk itu. Lihatlah:  dalam kurun 1968-1976 Pemda DKI  mengucurkan tak kurang dari Rp 2,5 miliar untuk menghadirkan dan menghidupi TIM dan IKJ. Angka yang sangat besar untuk ukuran masa itu. 

Di samping itu, Bang Ali-lah  yang memfasilitasi serta mendanai sehingga Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin bisa mengada di TIM.  Tak hanya paus sastra HB Jassin yang dia bantu. Affandi dan istri, Ny. Maryati, juga dibelikannya tiket pesawat saat hendak naik haji. 

Basuki Abdullah ditampungnya berbulan-bulan di rumahnya sewaktu baru pindah dari Bangkok. Kelak, pada 5 November 1993, pelukis istana-Thailand ini tewas dibantai kawanan perampok yang melibatkan tukang kebunnya sendiri di kediamannya di Pondok Labu, Jakarta.  

Tanpa sepengetahuannya, Slamet Rahardjo pun pernah dibayari Bang Ali saat berobat berbulan-bulan di rumah sakit. (Ramdahan KH—1992).

Lantas dari mana sumber dana Bang Ali untuk membiayai kegiatannya yang seabreg itu? Seperti kata dia: dari orang-orang kaya yang ‘diperas’. 

Anggaran dari pemerintah pusat kecil saja waktu itu untuk DKI (apalagi untuk provinsi lain).  Sementara yang harus diurusi mantan Menteri Perhubungan Laut  itu seluruh warga Jakarta, mulai dari yang baru lahir sampai yang sudah meninggal. 

Agar Pemda punya sumber pendapatan,  ia lantas melegalkan pusat-pusat perjudian dan lokalisasi. Sebuah langkah yang sangat kontroversial, tentunya. Laksana kafilah saja dia: terus berlalu meski anjing tak henti-hentinya menggonggong. 

Seperti yang dikisahkan Ajip Rosidi dalam sebuah tulisan, sejak awal Bang Ali dan DKD/DKJ  memiliki sebuah perjanjian tak tertulis. Isinya? Bila ada masalah maka lembaga para seniman itu akan memberi tahu Gubernur. Dengan demikian maka ia akan bisa memikirkan jalan keluarnya. 

Suatu waktu, WS Rendra dan kelompoknya, Bengkel Tetaer, dicekal Kodam Diponegoro saat hendak tampil di Jakarta. Ketua DKJ Ajip Rosidi didampingi 2 pengurus (Ramadhan KH dan Iravati M. Sudiarso) pun melapor ke Bang Ali. 

Langsung bertindak sang Gubernur dan Kepala Staf Kodam Diponegoro diteleponnya saat itu juga. Alhasil, penyair-dramawan Si Burung Merak dan rombongannya dibolehkan meninggalkan basisnya: Yogyakarta. Seperti biasa, publik Jakarta menyambut hangat penampilan mereka. 

Pada 1 Mei 1978, saat aksi mahasiswa marak di Tanah Air menolak konsep NKK/BKK Menteri Pendidikan Daoed Joesoef, WS  Rendra tampil baca puisi di TIM. Ternyata ia ditangkap dan ditahan aparat  keamanan. 

Ajip Rosidi dan pengurus DKJ lainnya melaporkan masalah itu ke Gubernur. Ternyata jawaban orang nomor satu di DKI sangat lain: “Apa jasa Rendra dalam revolusi?” 

WS Rendra tetap meringkuk di sel tahanan di Jakarta. Megapa bisa demikian? Ya, karena kepala daerah bukan Ali Sadikin lagi melainkan Tjokropranolo, Letjen bersebutan ‘Bang Nolly’. 

Begitulah sekelumit kisah ihwal jejak kwartet Sunda—Ali Sadikin, Ilen Surianegara, Ramadhan Kartahadimadja, dan Ajip Rosidi—dalam pemajuan kesenian-kebudayaan di kampung raksasa yang juga metropolitan bernama Jakarta. Sungguh kompak-rampak dan istimewa, mereka. Beda dari orang-orang zaman sekarang. (Bersambung)

Penulis adalah : Senior Journalist, Mentor Writer Camp, Pemateri dalam workshop Bahasa dan Tulisan Jurnalistik, penulis biografi dan aktif di Aliansi Jurnalis Indonesia.

Cara Aljazair Memuliakan Para Pejuang Kemerdekaannya

this formate

ALGER, Alzajair, bisniswisata.co.id:  Peringatan hari kemerdekaan, termasuk Hari Kemerdekaan RI besok, 17 Agustus 2020  yang ke 75 tahun mengundang kenangan pada para pejuang. Banyaklah kegiatan yang dilakukan untuk menyambut hari besar kita ini. 

Penjual bendera dan pernak-perniknya meramaikan jalanan, umbul-umbul, bendera besar, rangkaian bendera kecil, spanduk dipasang orang, gapura didirikan.  Ketua RT membagikan surat edaran, menghimbau warga untuk menghiasi lingkungan.  Merah putih berkibar… para pahlawan dikenang…Banyak cara  dilakukan dalam memaknai kemerdekaan.

Kenangan tentang pahlawan pun meluncur… membawa saya ke kunjungan ke negara di belahan dunia lain: Aljazair.  Terkenang akan kejutan pertama saat tiba di Alger, ibukota Aljazair –  pemandangan kota yang masih sangat dipengaruhi oleh arsitektur Prancis.

Bangunan-bangunan dengan banyak lengkungan pada fasadnya banyak terlihat.  Apartemen rendah berwarna putih dengan jendela-jendela dan pintu berwarna biru. Ada Rue Didouche Mourad yang mirip dengan Rue Charles de Gaule di Paris, dalam bentuk yang lebih sederhana.  Bahkan rumah-rumah ala kolonial dengan taman-taman kota di bagian elite kota sangat mirip dengan suasana kota kecil di Eropa.

Banyak pula  monumen yang mengabadikan Emir Abdelkader di berbagai kota, baik berupa patung, relief, masjid maupun monumen kenangan. Plaza Abdelkader, dengan patungnya di atas kuda, menjadi salah satu spot wisata utama di Alger

Emir Abdelkader atau Abdelkader El Djezairi, adalah pemuka agama dan militer Aljazair yang memimpin perjuangan melawan invasi kolonial Prancis pada pertengahan abad 19. Tak heran tokoh pejuang kemerdekaan Aljazair ini

Abdelkader lahir di dekat kota Mascara pada 1808.  Sebagaimana para siswa di masa itu, ia mendapatkan pendidikan tradisional di bidang teologi, jurisprudensi dan tata bahasa.  Menurut riwayat ia sudah bisa membaca dan menulis pada usia 5 tahun dan menjadi hafiz pada usia 14 tahun. 

Setahun kemudian dia pindah ke Oran untuk melanjutkan pendidikan. Ia seorang orator ulung dan biasa menghibur teman-temannya dengan puisi dan kritik-kritik relijius.  

Abdelkader berhasil menyatukan berbagai suku di Aljazair dan selama bertahun-tahun memimpin mereka melawan tentara paling canggih di Eropa.  Dia adalah seorang terpelajar dan sufi, tetapi menghormati lawannya yang Kristen.

Tindakannya melindungi umat Kristiani pada peristiwa konflik berdarah di Damaskus tahun 1860 mendapat pujian dan penghargaan dari berbagai belahan dunia. 

Maqam Echahid, salah satu landmark yang paling dikenal di kota Alger.

Maqam Echahid

Di Alger, saya pun mengunjungi salah satu landmark yang paling dikenal di kota  yaitu Maqam Echahid , tugu peringatan bagi para martir yang gugur saat berjuang untuk kemerdekaan negaranya. Monumen dibangun oleh sebuah perusahaan Kanada.

Monumen dibangun berdasarkan model yang dibuat oleh Fine Art Institute of Algier, pada awal tahun 1980 dan dibuka pada tahun 1982 bertepatan dengan 20 tahun kemerdekaan Aljazair.  Terdiri dari tiga bentuk daun palem besar terbuat dari beton yang menjulang setinggi 92 m ke langit.

Deretan para pahlawan yang berjasa bagi kemerdekaan Alzajair

Di bawah setiap daun palem berdiri patung tentara yang mewakili setiap tahap dari perjuangan rakyat Aljazair memerdekakan diri dari kolonialisme.    Monumen yang berdiri di atas bukit membentuk simbol dari tiga bidang yang membesarkan Aljazair.

Tiga bidang itu adalah pertanian, budaya dan industri  yang mudah terlihat dari segala penjuru kota. Plaza luas di kakinya menawarkan keteduhan dan pemandangan indah ke seluruh kota.

 Di bawah Maqam Echahid terletak Museum El-Mudjahid.   Museum dibangun dengan misi untuk mengumpulkan, melestarikan dan menampilkan objek dan kenangan dari perjuangan rakyat Aljazair melawan kolonialisme.

Dimulai dengan kisah invasi Perancis tahun 1830, namun berfokus pada perjuangan mulia dari pemberontakan di Setif, Constantine dan Guelma pada tahun 1944 dan perjuangan menjelang Hari Kemerdekaan, Juli 1962. Sebagian besar display berfokus pada perjuangan Emir Abdelkader. 

Walaupun semua petunjuk dibuat dalam bahasa Arab namun pengunjung rasanya mudah “membaca” museum ini.  Museum yang terasa baru, bersih dan komprehensif ini isinya mengagumkan dan betul-betul membuat iri. 

Bayangkan, sebuah museum besar khusus untuk memuliakan pahlawan bangsa!  Ide awal pembuatan museum datang dari Presiden Houari Boumediene dan selesai di masa pemerintahan penggantinya, Presiden Chadli Benjedid. 

Ada ribuan objek perjuangan dipajang dalam ruangan yang luas dan terawat rapi: mulai pedang dari zaman Ottoman, pistol Abdelkader, meriam hingga laporan tentang eksekusi ‘teroris’.  Termasuk di dalamnya ribuan dokumen – arsip, dokumen perang dan barang-barang pribadi.

Hal yang mengagumkan, ada juga berbagai model tas kurir, botol minum serta cangkir kaleng yang dipakai saat peperangan. Benda-benda bersejarah itu dari setiap jenisnya bukan cuma ada satu-dua, tetapi bisa banyak sekali!  Berbagai jenis pedang dan senjata api, berbagai pelindung kepala, bermacam simbol pasukan, dari berbagai masa.

Ada banyak benda-benda pribadi milik Emir Abdelkader termasuk foto dirinya yang dilukis oleh Ange Tissier di tahun 1853. Museum juga dipenuhi oleh foto para pejuang, lukisan-lukisan besar dan mural yang mengggambarkan epik perjuangan –  mengingatkan saya akan lukisan-lukisan propaganda di Cina. 

Lukisan wajah para pejuang besar ditempatkan di bagian awal, seperti “Kelompok 22”.  Dan, tentu saja termasuk informasi tentang tokoh penting dalam perjuangan melawan kolonialisme Prancis: Djamila Bouhired. Nama perempuan nasioinalis yang pemberani ini sering disebut-sebut Presiden Soekarno dalam pidato-pidatonya tentang perlawanan terhadap kolonialisme.

Walaupun museum tutup jam 4 sore, kami sempat mencapai lantai bawah dimana terdapat semacam kubah untuk tempat berdoa, seluruh ruangan yang senyap ini terbuat dari granit berkualitas tinggi berwarna gelap, dengan cahaya redup dan tembok bertuliskan ayat-ayat Al-Quran.  Sunyi dan meditatif.   Ruangan berbau harum ketika kami melewatinya…

Plaza Abd-el-Kadeer dan foto bersama Ameena dengan keluarganya.

Sejarah mencatat, setelah kemerdekaan di tahun 1962, sekitar 900.000 orang Eropa-Aljazair melarikan diri ke Prancis dalam waktu beberapa bulan saja, khawatir menjadi sasaran balas dendam pasukan FLN (Front Pembebasan Nasional).

Sebagian Muslim Aljazair yang pernah bekerja untuk Prancis dilucuti dan ditinggal karena ada perjanjian antara penguasa Aljazair dan Prancis bahwa mereka tidak akan dihukum. 

Namun para Harki, penduduk asli Aljazair yang bekerja membantu militer Prancis, dipandang sebagai pengkhianat dan banyak yang dibunuh oleh FLN atau oleh kelompok-kelompok tertentu.  Sekitar 90.000 orang berhasil pindah ke Prancis.  Mereka menjadi cikal-bakal dari komunitas Aljazair-Prancis dewasa ini.  

Menjelang akhit tour museum kami bertemu dengan satu keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan 2 anak gadisnya.  Mulanya mereka bertanya dalam bahasa Inggris, “Chinese?”.  Bukan, kata kami, “Indonesian, Moslem”.  Begitu mendengar kata “Indonesia” wajah mereka langsung sumringah penuh senyum,.

Mereka dengan hangat  menyalami saya bahkan sang ibu merengkuh dan memeluki saya berkali-kali.  “Kami senang orang Indonesia, saya bertemu mereka saat berhaji, sangat tertib” ujar Ameena, si ibu, sambil mengacungkan jempolnya. 

Kedua anaknya, Fatima dan Nabila, ternyata adalah dua mahasiswa jurusan bahasa Inggris. Pantas bahasa Inggris mereka bagus, karena kebanyakan orang yang kami jumpai hanya berbahasa Prancis dan Arab.  Keluarga ini berasal dari  Tizi Ouzou, propinsi yang terkenal akan wanita-wanita cantiknya.

Saat berpisah, Ameena sibuk merogoh-rogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu, “Untuk Anda,” katanya, “Sebagai kenang-kenangan dari Aljazair.”  Dan kenangan itu terus terbawa sampai ke Indonesia… Au Revoir Ameena, ujar saya mengucapkan salam perpisahan……

 

                                                                                                                        

 

‘Pemulihan Ekonomi Pariwisata Secara Umum Jadi Fokus di 2021’

this formate

Kemenparekraf akan fokus pada 3 A ke lima destinasi wisata super prioritas agar keindahan alam Indonesia dapat dinikmati wisatawan. ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Pemulihan ekonomi di sektor pariwisata akibat pandemi COVID-19 secara umum jadi program besar pemerintah di tahun 2021 dengan juga memperhatikan perkembangan aspek 3A (atraksi, aksesibilitas, dan amenitas) di destinasi, khususnya di 5 Destinasi Super Prioritas (DSP).

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan tahun depan pembangunan pariwisata diarahkan untuk mendorong pemulihan ekonomi secara umum.

“Program ke depan akan difokuskan pada pemulihan pariwisata terutama mengembangkan 5 destinasi prioritas yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang terutama aspek 3A, atraksi, aksesibilitas, dan amenitas, ” kata Wishnutama.

Selain itu, ia juga menekankan peningkatan pada 2P yaitu promosi dan partisipasi pelaku usaha swasta. Di sisi lain akan dilakukan pendekatan storynomics tourism yang mengedepankan narasi, konten kreatif, living culture dan kekuatan budaya.

Begitupa pemanfaatan skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU. Skema ini terutama dalam membangun pusat-pusat hiburan, seperti theme park yang akan menyerap banyak wisatawan.

Menurut dia, pengembangan pariwisata tidak sekadar membangun infrastruktur atau membuat event. Ada hal penting juga yaitu meningkatkan interpretasi terhadap suatu tempat atau destinasi pariwisata.

Storynomics tourism, misalnya, yang merupakan sebuah formula pendekatan pariwisata yang mengedepankan narasi, konten kreatif, dan kehidupan budaya, serta menggunakan kekuatan budaya sebagai DNA destinasi,” kata Wishnutama.

Mengemas keindahan pariwisata Indonesia dalam satu cerita itu menjadi hal yang penting dalam rencana pengembangan sektor pariwisata khususnya di 5 destinasi pariwisata super prioritas (Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo dan Likupang) pada tahun 2021.

Melalui sejumlah strategi ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai cerita-cerita menarik di balik destinasi wisata super prioritas tersebut.

Presiden Joko Widodo dalam Pidato Pengantar Nota Keuangan di Gedung MPR/DPR pada 14 Agustus 2020 mengatakan, pembangunan pariwisata di tahun 2021 diarahkan untuk mendorong pemulihan ekonomi.

 

 

Menparekraf Lantik Pejabat Fungsional di Lingkungan Kemenparekraf/Baparekraf

this formate

Pelantikan pejabat Kemenparekraf/Bekraf dilakukan secara langsung maupun daring, kemarin malam. ( Foto: Kemenparekraf).

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio melakukan pengalihan jabatan 372 pejabat struktural ke jabatan fungsional di lingkungan Kemenparekraf/Baparekraf dalam acara pelantikan yang digelar pada Jumat (14/8/2020) malam.

Wishnutama Kusubandio didampingi Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo dalam acara pelantikan yang digelar di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona kantor Kemenparekraf/Baparekraf itu.

“Pelantikan para pejabat merupakan wujud dari penerapan lima poin visi Presiden Joko Widodo yang salah satu diantaranya yaitu penyederhanaan birokrasi dari empat level menjadi dua level agar lebih dinamis, lincah, dan profesional ” kara Whisnutama.

Menyederhanakan birokrasi dengan menyetarakan jabatan administrasi ke jabatan fungsional diharapkan mempermudah para ASN (Aparat Sipil Negara) dalam melaksanakan tugas dan fungsi sesuai dengan keahlian dan keterampilannya,” tambahnya.

Pada kesempatan itu, Menparekraf melantik tiga Pejabat Pimpinan Tinggi Madya, lima Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, serta empat Kepala Divisi pada Badan Pelaksana Otorita.

Tiga Pejabat Pimpinan Tinggi Madya tersebut adalah Wisnu Bawa Tarunajaya sebagai Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, Muhammad Neil El Himam sebagai Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif, serta Henky Hotma Parlindungan Manurung sebagai Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis.

Sementara Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama adalah Hanifah sebagai Direktur Akses Pembiayaan, Imam Santosa sebagai Direktur Pemasaran Pariwisata Regional III, Erwita Dianti sebagai Direktur Industri Kreatif Fesyen, Desain dan Kuliner.

Mohammad Amin juga dilantik sebagai Direktur Industri Kreatif Musik, Seni Pertunjukan dan Penerbitan serta Kamal Rimosan sebagai Inspektur II.

Pelantikan kali ini menggunakan dua sistem yaitu hadir secara langsung dan secara jarak jauh atau dalam jaringan (daring) untuk penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Dalam program penyederhanaan birokrasi sebagai implementasi dari quick win reformasi birokrasi nasional yang diamanatkan oleh Presiden RI ini, Kemenparekraf/Baparekraf menghapus 91,6% jabatan Administrasi Eselon III dan IV dan mengalihkannya menjadi jabatan fungsional ahli.

Para pejabat administrasi yang terdiri dari administrator (Eselon III) dan pengawas (Eselon IV) di lingkungan Kemenparekraf/Baparekraf tersebut dialihkan menjadi 14 jabatan fungsional ahli,

Mereka menjadi analis anggaran, analis kebijakan, analis SDM Aparatur, assessor SDM, analis pengelola Keuangan, arsiparis, perancang UU, pengelola pengadaan barang jasa, peneliti, perencana, pranata komputer, pranata humas, statistisi, dan widyaiswara.

Di masa transisi ini, para pejabat fungsional hasil penyetaraan tersebut diberi tugas tambahan sebagai koordinator dan subkoordinator yang memiliki tugas dan fungsi koordinasi dan pengelolaan kegiatan (manajerial) sesuai bidang tugasnya.

Wishnutama mengatakan situasi pandemi seperti sekarang ini menuntut semua pihak untuk lebih kreatif dan inovatif juga amanah dan akuntabel.

Presiden Joko Widodo telah membentuk Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), sebagai upaya untuk mengintegrasikan dua area kebijakan, yaitu kebijakan kesehatan dan kebijakan perekonomian.

Berbagai kebijakan pemerintah telah dilakukan antara lain pemberian bantuan sosial berupa tunai dan sembako, pelaksanaan program Bantuan Insentif Pemerintah.

Yaitu a.l pemberian relaksasi pajak dan kewajiban perbankan/nonperbankan bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif. Juga penyediaan fasilitas pinjaman tambahan modal kerja usaha/pinjaman talangan melalui Bank-Bank Himbara, dan lainnya.

Banyak upaya juga dilakukan oleh Kemenparekraf guna mendorong kembali perjalanan wisatawan nusantara. Antara lain dengan meninjau destinasi yang dirasa sudah aman sesuai rekomendasi gugus tugas, baik di pusat maupun daerah,.

dengan tetap menjalankan protokol Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE) atau protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan badan kesehatan dunia.

“Kemenparekraf juga meluncurkan Kampanye InDOnesia CARE yang merupakan komitmen bersama bangsa Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia peduli untuk menyediakan aspek kebersihan, higienitas, dan pelayanan tanpa kontak langsung demi keselamatan bersama,” ujarnya.

Sementara, di sektor ekonomi kreatif, Kemenparekraf menginisiasi gerakan Bangga Buatan Indonesia (BBI) bersama seluruh K/L dan sudah mengimplementasikannya ke dalam program Beli Kreatif Lokal (BKL).

Gerakan Nasional BBI ini salah satunya bertujuan untuk mempercepat perputaran siklus ekonomi lokal, memperbaiki daya beli masyarakat, dan mendorong kebangkitan ekonomi pascapandemi.

“Tanggung jawab sebagai pejabat pegawai pemerintah sangat besar untuk membantu masyarakat bangkit dari dampak pandemi COVID-19. Kita semua harus berupaya extra ordinary agar dapat memberi dampak yang luar biasa. Untuk mendapatkan hasil yang luar biasa tidak akan bisa dicapai dengan cara-cara yang biasa saja,” kata Menparekraf.