ART & CULTURE

Kusdono Rastika, Tak Sekedar Mewarisi Jiwa Pejuang Sang Maestro Lukisan Kaca Cirebon 

Lukisan berjudul Rama Tambak ukuran 122 cm × 73

CIREBON, bisniswisata.co.id: Di Hari Kemerdekaan RI ke 75, warga Cirebon khususnya kalangan seniman tentunya masih ingat dengan kiprah alm Rastika, pelukis kaca legendaris yang memperjuangkan lukisan kaca untuk tetap eksis.

Lukisan kaca adalah karya seni yang hampir punah. Rastika, lelaki yang lahir di Desa Gegesik Kulon pada 1942 saat mulai menjadi pelukis kaca menjadi seniman termuda karena mau menggeluti seni lukis kaca ini yang  selain sudah langka juga senimannya rata-rata usianya sudah lanjut usia.

Sementara Rastika mulai menggambar kaca pada 1960-an dan salah satu kekhasannya adalah mega mendung yang mengisi kekosongan di bagian lukisan di garap dengan detail, teliti, dan rapi mengepung gambar wayang yang dibentuk dari kaligrafi Arab berisi ayat suci Al-Quran, seperti Macan Ali dan Serabad.

Selama 17 tahun berkarya, di saat usianya berumur 35 tahun pameran pertamanya digelar di Galeri Soemardja ITB pada 1977 yang menjadi debut pertamanya sejak  mulai menggambar kaca

Rastika beruntung dalam pameran itu berjumpa dengan Joop Ave, Kepala Rumah Tangga Istana Kepresidenan yang memesan sejumlah karya sesuai permintaan Joop hingga Rastika pulang-pergi Jakarta-Cirebon dan kerap tinggal di Istana Merdeka selama berminggu-minggu untuk melakukan tugasnya.

Joop juga mengupayakan sebuah pameran tunggal Rastika di Jakarta Fair dan meminta Rastika membuat mural lukisan kaca Citra Indonesia, yang menggambarkan peta Indonesia yang diapit naga dan burung garuda. 

Karyanya masih terpampang di Museum Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta dan menjadi mural  lukisan kaca terbesar di Indonesia.

Kiprahnya ini langsung memotivasi para pelukis angkatan tua dan mereka mulai giat kembali dan yang muda mencoba serius menjadi pelukis kaca. Apalagi secara ekonomi, tingkat kehidupan Rastika mulai naik. 

Hidup layak, mampu menyekolahkan putra-putranya hanya dari lukisan kaca. Dia juga membangun studio berbentuk rumah joglo, yang diberi nama Sanggar Seni Sungging Plabangkara.

Kusdono Rastika, pelukis kaca Cirebon ( foto: Dok Kusdono Rastika)

Sembilan hari setelah Kemerdekaan RI, pada 26 Agustus 2014 pelukis kaca legendaris itu telah dipanggil Tuhan Yang Maha Esa. Sebelumnya kesehatannya memang menurun akibat penyakit jantung menahun.

Untunglah, Rastika jauh-jauh hari sudah mempersiapkan Kusdono,  salah satu putranya yang lumpuh dan harus bergantung pada bantuan kursi roda untuk mencintai lukisan kaca seperti ayahnya.

Sejak dini Rastika berupaya mewariskan seluruh kepandaiannya kepada Kusdono. Anak ke empat  dari lima bersaudara ini sejak berumur 14 tahun sudah dipercaya mewarnai sketsa Rastika dan kemampuan itu kian meningkat. 

Karya-karya Kusdono hampir tak bisa dibedakan dari karya ayahnya. Bahkan, pada Juni 2013, sejumlah karya Kusdono dan Rastika sempat dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta, setahun sebelum wafatnya sang maestro.

Menyandang nama besar sang ayah, Kusdono Rastika, kelahiran Cirebon, 2 Oktober 1981 tak merasa risih karena dia sendiri tidak merasa terpaksa untuk belajar melukis tapi semuanya melakui proses berlatih yang panjang.

Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar yang baru diselesaikannya usia 14 tahun, Kusdono sudah hobby menggambar. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh kuat ayahnya yang berprofesi sebagai pelukis kaca ternama.

Seperti kebanyakan anak-anak seusianya, dia melukis menggunakan kertas gambar biasa. Begitu menginjak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama ( SMP), ayahnya serius mengajari Kusdono melukis di atas kaca. 

Pastinya sang ayah memang berharap ilmu yang diberikannya kelak akan berguna bagi masa depan anaknya. Kini terbukti, Kardono yang tinggal di Vila Gegesik Blok F no 3 & 4 , Desa Gegesik Kidul, Kecamatan Gegesik, Cirebon ini dapat mengandalkan hidupnya dari melukis kaca.

Berkat ketekunannya berlatih dan bimbingan sang ayah akhirnya kemampuan melukis Kusdono sudah bisa menyamai keindahan karya-karya Rastika. Kini melukis sudah menjadi profesinya dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya.

Meski kerumitan dalam proses kelahiran lukisan kaca melebihi lukisan kanvas, dia tetap fokus pada hobby yang sudah menjadi mata pencahariannya. Bahkan mendapat penghargaan pula dari Kementrian BUMN di era Menteri BUMN, Rini Sumarno.

“Lukisan kaca itu prosesnya cukup rumit, ketika ada kesalahan di atas media lukis seperti kanvas maka kesalahan itu cukup ditumpang dengan cat lain. Lain halnya dengan media kaca yang harus mengerik cat lama lebih dulu sebelum menambahkan cat baru,” jelasnya.

Bidadari Minturaga ukuran 122 cm & 73 cm

Ibarat pepatah; ” Air cucuran atap jatuh ke pelimbahan juga ”  yang artinya  “Pada umumnya sifat seorang anak mengikuti teladan orangtuanya ” maka dalam hal ini Kusdono mewarisi kompetensi yang sama dengan sang ayah.

Bukan itu saja, semangat juangnya juga mewarisi semangat sang ayah agar lukisan kaca tetap eksis dan memperkaya sektor pariwisata Cirebon. Sebagian lukisan kaca yang dibuat Kusdono bermotifkan dunia pewayangan dan kaligrafi. Banyak kisah-kisah pewayangan yang menjadi inspirasinya.

Karakter dan sifat wayang menggambarkan watak manusia di dunia ini. Jadi, karakter-karakter tersebut bisa menjadi contoh baik dan buruknya sifat manusia, sehingga kita jangan sampai meniru sifat buruknya, tambahnya.

Hidup dengan falsafah wayang dan kental dengan seni gamelan yang juga ditekuninya sebagai penabuh gamelan membuat darah seni yang mengalir di tubuhnya terus memotivasinya untuk berkarya meski di saat pandemi global COVID-19 ini profesi dan usahanya sangat terpukul.

Sebelum terjadi pandemipun dia sudah merasa penjualan hasil karya para seniman masih susah. “Pemerintah dari instasi terkait seperti Bekraf agar menaruh perhatian terhadap kondisi ini. Kalau perlu langsung mengunjungi para seniman, sehingga tahu keluhan kami,” ujarnya.

Menurut Kusdono, perkembangan seni rupa di Indonesia saat ini sangat pesat. Namun untuk membeli karya seniman, jangan melalui perantara, sehingga keuntungan bisa langsung dirasakan pelukisnya bukan calo atau perantaranya. 

Mengandalkan mata pencaharian dari lukisan kaca, Kusdono masih menaruh harapan yang besar untuk mengikuti kata hati dan hobby. Apalagi keluarganya sangat mendukung aktivitasnya melukis. 

Berkat profesi yang ditekuninya, dia mampu menghidupi istri dan anak-anak tercintanya. Suami dari Nurcahyani ini dalam mendidik anak memilih untuk membebaskan untuk menekuni bidang yang disukai sang anak.

Dia menganjurkan kepada setiap anak yang memiliki bakat tertentu agar selalu mau mengasahnya karena suatu saat berguna bagi masa depan mereka.

“Kalau punya bakat terpendam asah  terus dengan berkarya. Seperti belajar naik sepeda, sesekali jatuh nikmati saja karena jika sudah “menguasai” ilmunya kita akan terus bergairah untuk meraih kesuksesan,” papar Kusdono.

Dia mengaku tak sekedar mewarisi bakat sang ayah, tetapi melestarikan kekayaan seni dan budaya Indonesia adalah yang utama. Selama ada generasi muda yang mau menjadi pelukis kaca maka produk seni yang identik dengan kota Cirebon juga tidak punah.

Pelukis yang rajin berpameran sejak 2004 hingga 2017 ini menilai jika generasi Z yang lahir di jaman digital mau mempelajari lukisan kaca maka seni ini belum akan punah. Mereka akan menjadi pejuang masa depan dalam melestarikan seni lukis kaca Cirebon.

 

 

                     

 

Hilda Ansariah Sabri

Hilda Ansariah Sabri, Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers. Saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat ( 2018-2023)