Pub Street kawasan favorit wisatawan asing
SIEM REAP, bisniswisata.co.id : Jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke provinsi Siem Reap di barat laut Kamboja—lokasi kompleks kuil Angkor yang terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO—menurun tajam.
Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya perjalanan serta reputasi negara tersebut sebagai pusat penipuan terorganisir yang membuat wisatawan mancanegara enggan datang seperti dilansir dari kyodonews.net
Situasi yang memburuk di Timur Tengah telah mengurangi ketersediaan penerba-ngan dan meningkatkan biaya perjalanan, sehingga hambat kedatangan wisatawan dari Eropa, yang merupakan pasar utama.
Penurunan ini memberikan pukulan telak bagi ekonomi lokal, mengingat pariwisata di kawasan situs kuno tersebut merupakan salah satu pilar utamanya.
Menurut otoritas provinsi, sekitar 388.000 orang mengunjungi kompleks kuil tersebut antara bulan Januari dan Juni tahun ini, turun 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Jumlah kedatangan dari pasar-pasar utama—termasuk Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Tiongkok—mengalami penurunan, sementara jumlah wisatawan dari Jepang merosot sebesar 33 persen.
Area lobi Bandara Internasional Siem Reap-Angkor tampak sangat sepi pada akhir bulan Juni. Bandara yang dibuka pada tahun 2023 sebagai bagian dari inisiatif Belt and Road Tiongkok ini dibangun untuk mengantisipasi lonjakan jumlah wisatawan.
Namun, bandara tersebut hanya melayani sedikit lebih dari belasan penerbangan internasional (pergi-pulang) setiap harinya, terutama rute ke negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia.
Arus penumpang masih jauh di bawah tingkat kunjungan pada tahun 2019—sebelum pandemi COVID-19—saat bandara lama kota tersebut masih beroperasi.
Kelesuan ini juga terlihat jelas di Pub Street, kawasan ramai yang biasanya menjadi favorit wisatawan asing; kini, keramaian yang biasanya tampak di sana tidak lagi terlihat.
Seorang karyawan di sebuah tempat terkenal—yang pernah sering dikunjungi aktris AS Angelina Jolie saat syuting film—mengatakan bahwa jumlah pelanggan turun sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Thim Sereyyuth, direktur pariwisata provinsi tersebut, mengatakan bahwa kenaikan harga tiket pesawat membuat posisi Siem Reap kalah bersaing dibanding Vietnam dan Thailand, yang menawarkan penerbangan langsung dari Eropa.
Dia menyatakan bahwa provinsi tersebut belum dapat memanfaatkan secara maksimal keberadaan bandara internasional yang sebenarnya mampu melayani penerbangan jarak jauh.
Penurunan ini terjadi di saat banyak pekerja sektor pariwisata masih berupaya bangkit dari dampak pandemi. “Sebelum pandemi, saya biasanya bekerja tiga hari dalam seminggu. Sekarang, bisa dapat satu hari saja sudah untung,” ujar seorang pemandu wisata berpengalaman berusia 39 tahun.
Dia kehilangan seluruh pekerjaannya sela-ma pandemi dan terpaksa tinggal bersama kerabat, namun kini kembali terpukul oleh penurunan jumlah pengunjung yang terjadi belakangan ini.
Manajer hotel Sok Piseth mengatakan dia telah melihat berbagai hotel memangkas jumlah staf hingga batas minimum dan mengurangi layanan seperti spa.
Industri pariwisata juga terdampak oleh laporan di berbagai negara mengenai sindikat penipuan kriminal yang beroperasi di Kamboja.
Korea Selatan sempat memberlakukan larangan perjalanan ke wilayah tertentu di Kamboja setelah muncul laporan pada bulan Oktober lalu bahwa seorang mahasiswa asal Korea Selatan disekap dan dipukuli hingga tewas oleh sebuah organisa-si kriminal.
Meskipun pembatasan tersebut kemudian dilonggarkan, jumlah pengunjung belum juga pulih. Musim puncak kunjungan wisata ke situs reruntuhan kuno tersebut berlang-sung dari musim gugur hingga musim dingin, saat Eropa memasuki bulan-bulan yang lebih dingin sementara Kamboja sedang menikmati musim kemarau.
Demi membangkitkan kembali industri ini, pemerintah Kamboja memberlakukan kebijakan bebas visa sementara bagi wisatawan asal Tiongkok pada bulan Juni. Para pelaku industri pariwisata berharap program tersebut nantinya dapat diperluas ke negara-negara lain.










