DESTINASI EVENT INTERNATIONAL LIFESTYLE

Hallo Menteri Giveaway, Bersiaplah Jual Paket Wisata 17 an

keseruan aneka Lomba rayakan Kemerdekaan RI ke 81 di Bali ( Foto: youtube)

JAKARTA,bisniswisata.co.id: Fenomena berbaurnya ribuan turis asing dalam perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI merupakan contoh nyata dari manifestasi collective effervescence skala internasional.

Ketika para wisatawan mancanegara (wisman) ikut memakai baju merah-putih, menonton upacara bendera di Lapangan Renon Bali, hingga ikut pawai budaya di berbagai komunitas, seketika batasan budaya dan kewarganegaraan melebur dan endingnya mereka makin mendapatkan pengalaman sosial maupun spiritual.

Apalagi setelah itu di lapangan Renon yang sama ketika pagi melihat upacara bendera lalu siangnya heboh mengikuti lomba makan kerupuk , balap karung dan berbagai permainan rakyat lainnya hingga panjat pinang maka perasaannya tiba-tiba melekat secara alami dengan warga dunia serta masyarakat lokal setempat.

Terhubung dengan sesama, diliputi rasa ingin tahu yang besar bukan hanya terjadi di Bali sebagai pintu gerbang utama pariwisata Indonesia. Tetapi juga dirayakan oleh daerah wisata lain seperti Lombok, Jogja, Jakarta bahkan seluruh Indonesia hingga 100 an negara di dunia yang digerakkan oleh Kedubes RI dan Diaspora Indonesia di luar negeri.

Collective effervescence adalah sebuah istilah sosiologi yang diciptakan oleh Émile Durkheim. Konsep ini merujuk pada keadaan ketika orang-orang berkumpul bersama dalam suatu kegiatan atau ritual yang sama, lalu merasakan gelora energi emosional, semangat, dan kesadaran kolektif yang kuat sehingga lebur menjadi satu kesatuan.

Individu untuk sementara melupakan ego atau identitas pribadinya dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar. Muncul energi bersama seperti rasa antusiasme, kekompakan, dan solidaritas yang intens di antara para peserta lomba dan penonton.

Mengapa collective effervescence ini bisa terjadi pada turis asing ?,  selain warna bendera merah-putih, atribut dekorasi, dan riuh musik perjuangan juga menyatukan emosi semua orang di area tersebut.

Mereka semua melakukan aktivitas fisik yang sinkron mulai dari ritual khidmat seperti berdiri memberi hormat saat upacara bendera Merah-Putih, atau keterlibatan fisik yang intens seperti bersorak saat lomba tarik tambang, dimana semua pengalaman ini memicu pelepasan emosi kolektif yang menular (emotional contagion).

Jauh hari sebelum hari ‘ H’ media sosial sudah ramai membahas ribuan wisatawan asing sudah tiba di Indonesia diantaranya para Influencer, Tik Toker, vlogger yang datang memang mencari pengalaman otentik untuk dibagikan dalam konten-kontennya.

Wisatawan dunia saat ini memilih wisata berbasis pengalaman yang disebut sebagai experiential tourism (pariwisata pengalaman) atau immersion tourism. Konsep ini mengajak wisatawan untuk terlibat secara aktif dan mendalam dalam kegiatan lokal, budaya, atau keseharian masyarakat setempat, alih-alih hanya melihat-lihat objek wisata.

Pasca pandemi global COVID-19, Halal Tourism dan Experiential tourism ini muncul dan banyak menolong berbagai negara untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Bahkan negara-negara Non OKI     ( organisasi Kerjasama Islam) yang menjual paket wisata Muslim Friendly pariwisatanya kini sudah pulih di atas level saat COVID.

Rasanya pencerahan yang saya dapat tepat di hari Kemerdekaan RI ini menjadi begitu mudah memahami keterkaitan collective effervescence skala internasional, experiential tourism, Halal Tourism dan kepedulian atas penerapan sustainable Tourism di semua sektor pariwisata begitu menjanjikan bagi Indonesia.

Apalagi kalau bukan daya tarik unik acara 17 an. Tidak banyak negara di dunia yang merayakan hari kemerdekaannya dengan pesta rakyat yang begitu masif, merata di setiap sudut gang di seluruh negri.

Thailand, India, Spanyol juga banyak punya festival yang digelar agar wisman merasakan wisata pengalaman.(experiential tourism) tapi mereka tidak semua punya perayaan 17 an yang berbeda dan sekocak di Indonesia.

Perayaan Kemerdekaan RI (17 Agustus) memiliki semua modal utama untuk dikemas menjadi paket wisata premium karena menawarkan interaksi langsung, keterlibatan emosional, dan fenomena yang tidak bisa ditemukan di negara lain .

Tulisan ini saya akhiri dengan mimpi Kemenpar RI dengan julukan dari Netizen sebagai Menteri Giveaway , kalangan industri dan para stakesholder lainnya mulai tahun depan punya keyakinan seperti saya bahwa Halal Tourism dan Paket Wisata 17 an sangat menjual.

Media sosial tahun 2024 pernah dihebohkan dengan julukan “Menteri Giveaway” yang disematkan kepada Menkominfo Budi Arie. Sekarang julukan itu jatuh pada Menpar Widiyanti Putri Wardhana

Tidak saya spill semua di sini ya… Yuk kolaborasi, berbagi tugas siapa melakukan apa untuk pariwisata modern saat ini.

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)