ART & CULTURE EVENT INTERNATIONAL REVIEW

Ketika Perayaan Kemerdekaan RI dan Cerita Sukses Jadi Penyemangat Hidup

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Bagi seorang Mohamad Wahid Supriyadi saat berada ribuan kilometer jauhnya dari Tanah Air, perayaan Kemerdekaan RI selalu menyimpan kenangan manis yang tak terlupakan dan kadang penuh kejutan dan semangat.

Saat masa bertugas di Melbourne, Australia dijalaninya sebagai Konjen, lalu menjadi Dubes RI di Uni Emirat Arab ( UAE) periode 2008-2011 dan Duta Besar RI untuk Federasi Rusia & Republik Belarus pada 2016–2020, maka kegiatan silaturahim dan strategi pendekatan budaya maupun personal menjadi ciri khasnya.

Wahid menyerahkan surat kepercayaan langsung kepada Presiden Vladimir Putin di Kremlin pada April 2016 dan kejutan saat mengawali tugasnya di Moskow adalah acara perkenalan termasuk dengan empat orang asal Indonesia yang mengikuti program MAHID (Mahasiswa Ikatan Dinas) pada tahun 1960-an

“ Salah satunya adalah pak Sartoyo asal Purwokerto yang langsung girang dan mempraktekkan bahasa daerahnya pakai “ngapak” setelah tahu saya kelahiran Kebumen,” ungkapnya.

MAHID adalah kebijakan beasiswa era Presiden Soekarno yang mengirim ribuan pelajar Indonesia ke luar negeri—khususnya ke negara-negara Blok Timur seperti Uni Soviet, Ceko, Jerman Timur, dan RRC—untuk menempuh pendidikan tinggi.

Program beasiswa yang digagas sekitar tahun 1960 itu untuk mempercepat pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang fokus pada bidang sains, teknik, hukum, dan hubungan internasional.

Namun dampak Peristiwa Politik 1965 dan perubahan kekuasaan ke Orde Baru membuat hubungan diplomatik dengan negara-negara penampung berubah. Banyak mahasiswa paspornya dicabut atau menolak pulang karena situasi politik yang tidak aman bagi mereka.

Akibatnya terputus dari keluarga selama puluhan tahun dan mereka tidak bisa menghubungi keluarga di Indonesia karena takut membahayakan keselamatan sanak saudara di tanah air dan menikah dengan wanita setempat.

“Pak Sartoyo ex MAHID yang saat itu membawa anaknya bernama Luberto Sartoyo bahagia sekali menyambut penugasan saya di Moscow dan berniat mencari keluarganya di Purwokerto,” jelasnya sambil menambahkan sejak saat itu Sartoyo dan putranya aktif mengikuti acara Kemerdekaan RI di Wisma Duta Moscow.

Silaturahim berjalan terus dengan Luberto Sartoyo yang pada 2021 untuk pertama kalinya berkunjung ke Indonesia dengan membawa abu jenazah orang tuanya untuk dikuburkan di tanah airnya. Meski Wahid sudah tidak bertugas di Rusia, dia sendiri mengantar Luberto mencari keluarga ayahnya sampai ke Purwokerto.

“Itulah mengapa saya bahagia banget Luberto bisa bertemu dengan keluarga ayahnya dari Purwokerto, Solo bahkan kami sempat diterima Bupati Banyumas karena sejak pertemuan pertama di tahun 2016 Luberto bergabung dengan KADIN RI di Moskow,” kata Wahid mengenang.

Luberto Sartoyo ( kiri) keturunan Rusia-RI

Pada tahun 2016, KBRI Moscow di bawah kepemimpinannya merayakan Hari Kemerdekaan RI ke-71 dengan cara yang sangat monumental, yaitu mengintegra-sikan upacara kemerdekaan dengan peluncuran Festival Indonesia pertama di Rusia.

Langkah ini diambil sebagai strategi diplomasi budaya dan ekonomi berskala besar untuk mendekatkan Indonesia ke masyarakat Rusia. Pada Festival Indonesia tahun-tahun berikutnya yang diisi dengan kompetisi menyanyi, muncul seorang anak perempuan usia 7 tahun menyanyikan lagu “Lagi Syantik” yang dinyanyikan Siti Badriah dan kerap dinyanyikan pula oleh Syahrini.

“ Anak Rusia itu belajar dari Youtube dan setelah itu dia dan ibunya berwisata ke Indonesia setiap tahun ke berbagai daerah dan jatuh cinta pada kecap asli Indonesia sehingga apapun makanannya ditambah kecap,” jelas Wahid.

Dimasa tugasnya di Moscow Perayaan Kemerdekaan dan Festival Indonesia bukan hanya mendapat tempat di hati pelajar, mahasiswa, pekerja migran, serta para diaspora Indonesia di Rusia tapi juga pemerintah setempat karena di awal pelaksanaannya hingga tahun kedua berlangsung di Hermitage Garden, Moskow.

Tapi pada 2018 (Festival Ketiga) pemerintah setempat memberikan lokasi baru ke Krasnaya Presnya Park yang lebih luas untuk menampung puncak kunjungan sebanyak 135.000 hingga 150.000 orang.

Tahun 2019 atau festival keempat, event ini menarik 117.669 pengunjung. Angka ini sedikit menurun dari tahun 2018 semata-mata karena faktor cuaca buruk dan hujan ekstrem di Moscow selama hari kedua pelaksanaan.

Festival ini berhasil menjadi salah satu ajang promosi seni budaya, perdagangan, investasi, dan pariwisata terbesar Indonesia di wilayah Eropa Timur. Bukan hanya bidang ekonomi, untuk keberagaman budaya Indonesia di tengah Kota Moscow para peserta Festival Indonesia juga  mengenakan pakaian daerah.

Lapangan taman dipenuhi oleh puluhan booth yang memamerkan produk lokal, kopi nusantara, kerajinan daerah, demo memasak masakan Indonesia, hingga promosi destinasi wisata unggulan tanah air.

Tak heran M.Wahid Supriyadi meraih penghargaan dari MURI (Museum Rekor-Dunia) atas prestasinya secara konsisten menyelenggarakan Festival Indonesia yang terbukti tingkatkan kunjungan wisatawan Rusia ke Indonesia hingga nyaris 100%. Tahun 2020, pandemi Covid-19 otomatis membatalkan event tahunannya itu di akhir masa penugasannya di Rusia.

Media-media Rusia memberikan tanggapan yang sangat positif, antusias, dan masif saat meliput perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-71 dan Festival Indonesia pertama di Moscow pada Agustus 2016 hingga empat kali penyelenggaraan berturut-turut.

Acara tersebut dinilai sukses mendatangkan atmosfer eksotis Nusantara yang hangat ke tengah Kota Moscow. Beberapa sorotan utama dari pemberitaan dan tanggapan media lokal Rusia seperti TASS, Rossiya 24, TV Tsentr, dan Komsomolskaya Pravda semua positif.

Kesibukannya sebagai Dubes juga tidak mengurangi dedikasinya untuk mengajar di berbagai universitas di Rusia hingga mendapat gelar Profesor Kehormatan (Honorary Professor) dalam bidang Hubungan Internasional dari Tomsk State University (TSU).

Medal of Muslims of Russia “For Services” juga diterimanya dari Dewan Mufti Rusia pada tahun 2020 atas kontribusinya dalam mempererat hubungan kebudayaan dan keagamaan antara kedua negara.

Penghargaan juga diberikan atas keaktifan Wahid dalam berbagai kegiatan Dewan Mufti Rusia dan Religious Board of Muslim of the Russian Federation yang ditujukan untuk mempererat perdamaian dan keharmonisan di masyarakat Rusia.

Melihat antusiasme wisatawan dan netizen luar negri yang datang ke Indonesia tahun ini , Wahid yakin selain keseruan ikut lomba, kuliner juga menjadi sasaran mereka.

“ Saya ingat sekaligus terharu karena event 17 an dan Festival Indonesia menjadi pelepas rindu pada masakan Indonesia bagi para mahasiswa dan diaspora Indonesia dan juga bagi orang lokal Rusia sendiri,” ujarnya

Favoritnya Sate ayam, sate kambing, bakso, nasi goreng, mie goreng, rendang, orek-orek tempe, tumpeng, martabak telur dan manis kadang ada menu gule.

“ Bagi mahasiswa RI di Rusia, tidak peduli musti menempuh jarak yang jauh sampai 11 jam untuk mencapai Moscow asal rindu masakan tanah air terobati karena di Rusia umumnya masakannya kalau di Indonesia rasanya plain atau anyep,”

Bagi orang Rusia sendiri, ujarnya, bakso menjadi menu favorit mereka dengan kaldunya yang hangat dan sangat cocok dengan cuaca dingin di Rusia. Setiap kali ada event KBRI, booth bakso cepat habis meski sudah stok banyak.

Saat perayaan 17 Agustus di luar negeri maupun penyelenggaraan Festival Indonesia, diaspora aktif menjadi panitia, pembawa acara, penerjemah booth, pengisi panggung hiburan dan tugas lain sebagai relawan.

“Mereka kompak merawat rasa nasionalisme, mengobati kerinduan kampung halaman, serta perkenalkan budaya Nusantara ke kancah global,” ungkap M Wahid Supritadi.

Diplomasi budaya lewat joget nusantara seperti Poco-Poco dan Maumere, diplomasi gastronomi bahkan diplomasi kopi yang kerap dilakukan Wisma Duta RI dimanapun berada untuk mengajak warga asing merasakan beragam pengalaman lewat pancaindra.

“Keberhasilan event seperti 17an dan festival lainnya maka hasilnya  terasa menjadi penyemangat hidup untuk terus berkarya,” katanya menutup obrolan. Pria lulusan Universitas Gajah Mada jurusan bahasa Inggris ini rupanya diujung telpon tengah menghadiri pertemuan persiapan Kebumen Travel Mart 2026.

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)