Mengenang Ajip Rosidi (31 Januari 1938-29 Juli 2020). Bagian : 5

0
16

Oleh P. Hasudungan Sirait

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sastrawan sekaligus budayawan Ajip Rosidi meninggal dunia di usia 83 tahun. Ia meninggal setelah menjalani operasi di RSUD Tidar Kota Magelang. Ajip Rosidi sempat dirawat tiga hari setelah terjatuh di rumah. Berikut serial tulisan untuk mengenang sosok teladan ini;

AJIP, PENGARANG REMAJA YANG MEMANG AJAIB

Masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Rakjat (kini: SD) dia tatkala tulisannya muncul di ruang anak-anak suratkabar ‘Indonesia Raya’. 

Itu di tahun 1950. Untuk seterusnya hingga saat bersekolah di SMP Majalengka pun ia masih menulis di di koran yang dipimpin Mochtar Lubis itu meski tanpa hohorarium. Alhasil, nama Rossidhy dikenal tak hanya oleh orang sekampung atau sesekolah.

Tanpa ia nyana, suatu waktu dirinya tersandung. Ia menerima kiriman surat dari pembaca ‘Indonesia Raya’.

Isinya? Orang itu menganggap Rossidhy yang tiada lain dari Aji Rosidi telah melecehkan pimpinan kelompok mereka. Sebab itu ia akan datang untuk membuat perhitungan. Seketika langsung gentar si anak SMP.

Sepulang bertamasya ke Cigugur, Kuningan, kakak Ayatrohaedi (penulis yang kemudian menjadi antropolog) itu memang membuat perkisahan ihwal peninggalan Madrais, pemimpin kelompok kebatinan yang sudah dilarang. 

Dalam artikel di ‘Indonesia Raya’ dia mengatakan Madrais begitu dipuja sehingga keringatnya pun diminum. Bagian inilah yang menuai perkara. (Ajip Rosidi, 1980-1981).

Lama Ajip terteror akibat isi surat si pembaca. Akibatnya, tak berani lagi dia mempublikasikan karya. Hingga setahun berselang, saat ia pindah ke Ibukota, rasa takutnya belum kunjung hilang. 

Apalagi karena orang itu mengatakan dalam suratnya ia bekerja di CBZ (Rumah Sakit Citpo Mangunkusumo—RSCM sekarang).

Pada pertengahan 1951 Ajip pindah ke Jakarta. Nenek yang mengasuh dirinya sekian lama, ia tinggalkan di Jatiwangi. 

Di Ibukota ia menumpang di tempat indekos pamannya. Sudah 3 tahun sang paman berada di tanah Betawi, bekerja sebagai pengajar selain sambil belajar.

Sungguh seperti langit dan bumi, Jakarta yang dibayangkan Ajip dengan yang ditemuinya. Rumah yang dilihatnya kebanyakan berupa gubuk berlantai tanah dan beratap ilalang. Hanya 2-3 yang beratap genteng.

“Padahal rumah orang yang paling melarat di Jatiwangi, bahkan kandang kerbau nenek masih menggunakan kenteng [genteng],” tulis dia dalam pengantar kumpulan sajak ‘Tjari Muatan’ yang ditulisnya pada 24 Februari 1958. (bahasanya sudah kumutakhirkan)

Di sebuah rumah petak ia bermukim dengan paman selama beberapa tahun. Lokasinya di sebuah gang becek di Jl. Rasamulja, Galur, Tanahtinggi. Bagian terbaik dari kediaman itu ditempati si empunya. 

Sisanya dihuni pelbagai macam manusia: opas, tukang beca, tukang es, tukang rokok, kondektur trem, dan mereka yang pekerjannya tak jelas.

Penghuni rumah yang hanya berukuran sekitar 10×7 meter persegi tidak kurang dari 57 orang.

“Kalau kebetulan salah seorang penghuni mendapat tamu dari udik, maka jumlah itu menjadi naik. Dalam sebuah tempat tidur besi ukuran 3 saja mesti tidur bersama dua orang lainnya. Kamar yang berukuran 3 x 2 ½ meter dihuni oleh lima orang,” lanjut dia.

Semula ia merasa sebal-mual di sana. Tak hanya karena kesesakan dan kesemrawutan yang tak terpermanai, tapi juga akibat got mampat di belakang rumah yang rajin mengirimkan bau busuk. 

Tapi, sebagaimana ghalibnya manusia, ia lekas beradaptasi. Ya, ala bisa karena biasa. Segala keserbabrengsekan yang tak pernah disaksikannya di Jatiwangi akhirnya ia terima sebagai kenyataan yang mesti dihadapi. Toh tak ada pilihan lain.

Hidup sehari-hari di tengah tukang beca, pelacur, pengasong, pengemis, gelandangan, dan kaum jelata lain yang geliatnya sekadar menyambung hidup sehari lagi, pada sisi lain ternyata telah mengayakan batin dan imajinasi dia.

Sejak berdiam di Jakarta, ia kembali menulis puisi dan cerita pendek. Kehidupan kaum miskin kota di sekitar dia menjadi tambang ide baginya. 

Salah satu hasilnya adalah ‘Lagu Jakarta’, bagian dari kumpulan puisi ‘Tjari Muatan’ (terbit tahun 1959). Puisi ini sungguh pas memerangkap atmosfir lingkungan kaum jelata. Aku suka.

Lagu Jakarta

Tiada nyanyi seduka Jakarta
menempel pada bibir kering
menggigil oleh malaria
menyumpahi hari pengap-pesing

semua telah hilang asli
dibedaki lumpur ciliwung
semua telah hilang arti
diwarnai langit lembayung

tinggal pergulatan dalam kerja
karena darah harus mengalir
dan kehendak beribu rupa
dalam hidup kota berjuta

Setelah setahun absen akibat terteror oleh surat seorang pembaca, di kota yang lama bersebutan Batavia ia kembali mengirim karya ke media massa. 

Tapi ‘Indonesia Raya’ masih saja ia hindari. Nama yang dipakainya pun bukan Rossidhy melainkan Ajip Rosidi.

Pada 1952, saat ia masih 14 tahun, karyanya sudah muncul di ‘Mimbar Indonesia’, ‘Siasat’ (di ruang Gelanggang), dan ‘Indonesia’. Ketiga majalah terkemuka yang terbit sejak tahun 1940-an menyuguhkan karya penulis terkemuka.

Deretan penulisnya termasuk Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Idrus, Achdiat Kartamihardja, Asrul Sani, dan Mochtar Lubis. Pengasuh media ini tentu para sastrawan terkemuka. Armijn Pane, HB Jassin, Asrul Sani, dan Rivai Apin di antaranya.

Karya dia memang kuat. Puisi berjudul ‘Cikiniraya’ (dipersembahkan kepada sjarozie), umpamanya, yang muncul di buku ‘Ketemu di Jalan’. Ditulis bersama Sobron Aidit dan SM Ardan saat mereka masih anak sekolah, kitab ini terbit tahun 1956.

Cikiniraya

Pedagang kembang menembang sumbang
dilarikan karet becak ke ujung malam
lampu-lampu jalan bersinar terang
lari bayangan
dan malam makin lengang
teng tiga dan diri sesepi orang mati

pedagang kembang mengebas ranjang
tembang riang mau pulang
sama sisa malam

malam memanjang rel kereta
bangku stasion dingin bergulat sakit dada
jalan makin rata
bening terbayang

Puisi yang ditulisnya tentang sepasang remaja pun memikat meski sederhana. ‘Jaka dan Gadis’ judulnya, merupakan bagian dari buku puisinya yang juga terbit tahun 1956, ‘Pesta’.

Jaka dan Gadis

jaka menunggu di pintu
gadis cuma lalu

jaka selalu rindu
dan gadis bukannya tak tahu

jaka hitung jerajak
sang gadis enggan diajak

jaka melupakan hayal-hayal begini
gadis pura-pura merindukan mati

jaka kini berhati pilu
pada gadis yang tak mau tahu

Percaya diri

Bersahaja. Begitu keluarga Ajip Rosidi, baik dari pihak ayah maupun ibu. Ayahnya sebenarnya guru sekolah rakyat. Seperti seorang adiknya, pengajar itu terkadang menulis di media setempat. 

Begitupun, penghasilannya begitu kecil sehingga ia sempat ‘nyambi’ menjadi pembuat oncom. Bisnis mikronya semula berprospek. Tapi pengekor kemudian muncul laksana cendawan di musim penghujan sehingga ia berhenti dan kembali hidup dari gaji guru.

Setelah menjadi warga Jakarta, Ajip baru menyadari bahwa keugaharian warga Jatiwangi merupakan sebuah kelimpahan. Kelak ia akan kian merindukan tanah kelahiran dan hingga lima tahun kemudian angannya mengidar di antara dua kota: Jakarta dan Jatiwangi di Majalengka.

Begitupun, Jakarta yang merupakan kampung raksasa lekas menyibak lebar tirai wawasan dirinya sehingga seketika terbukalah pelbagai kemungkinan yang tak pernah ia bayangkan. 

Lantas, cintanya pada tanah Betawi tumbuh dan memekar. Di sajak ‘Kepada Jakarta’ yang ditulisnya tahun 1955, itu ia nyatakan.

Kepada Jakarta

Kukutuk kau dalam debu keringat kota
Karena di balik keharuan paling dalam
Mengintip malaria

Kucinta kau kala senja
Mentari mengubur sinar menyirat bukit-bukit atap
Menari di kening-kening rumah, membelai perut sungai.

Lalu lintas bergegas, kelip lampu beca
Semua makin pudar, semua jadi samar
Lahir kembali dalam kecerlangan malam
Mengambang mobil-mobil hitam di aspal hitam

Kucinta kau dalam ketelanjangan malam
Penuh warna dalam keriahan gemilang
Sibuk dalam kelengangan arah
Menjauhi sudut jiwa paling sepi
Menyaruk-nyaruk jalan menyusur kali
Bercermin di permukaan air kemilau
Bulan rendah seolah terjangkau

Kucinta kau kala dinihari
Redam batuk memecah sunyi
Dan nyanyian tukang beca
Mengadukan nasib pada langit
Dan bintang yang tak mau ngerti

Kucinta Jakarta
Karena kau kota kelahiran kedua

Lekas ia mampu memikat Ibukota, setidaknya di lapangan persastraan. Lihatlah: masih anak kelas 2 SMP dia saat namanya diperbincangkan orang, termasuk para seniman dan budayawan. Dengan pamor yang langsung menanjak seperti itu wajarlah kalau rasa percaya dirinya kemudian meninggi.

Misbach Yusa Biran masih mengingat sosok dan pembawaan Ajip saat anak Jatiwangi itu pertama kali dikenalnya. Waktu itu tahun 1952, di kantor redaksi ‘Suluh Siswa’, milik sekolah Taman Siswa, keduanya bersua.

“…Kepalanya botak, bercelana pendek longgar, bicara seenaknya. Usianya jauh di bawah saya tapi sajak-sajaknya sudah dimuat di majalah-majalah sastra bergengsi. 

Ajip anak luar biasa. Dia pernah mampir ke tempat kos saya di Kali Baru timur. Waktu itu kakinya naik seenaknya ke tempat tidur. Waktu kecil dia urakan dan orang memaafkan saja,” tulis Misbach (2008).

Ajip yang pencapaiannya sebagai pengarang terbilang ajaib kemudian menjadi dekat dengan kelompok sastra yang mengasuh ‘Suluh Siswa’.

Terutama Sobron Aidit, SM Ardan, Sukanto SA, dan Misbach. Ia rajin menjambangi sekolah mereka, Taman Siswa, yang letaknya berdekatan dengan Stasiun Kemayoran.

Meski para senior itu dua kelas di atasnya, ia memanggil nama saja; bukan ‘kakak’ seperti dalam tradisi Taman Siswa. 

Hal yang semula menggusarkan Misbach yang kelak akan termashyur sebagai penulis, sutradara, dosen, penusi skenario, dan arsivaris film serta beristrikan bintang film Nani Wijaya.

Setamat dari SMP, Ajip pindah ke Taman Siswa agar kian rapat dengan kelompok sastra ‘Suluh Siswa’.

Dipimpin oleh tokoh pendidikan terkenal, Mohammad Said, sekolah di Jl. Garuda 25 merupakan republiken sejati. 

Alhasil, ruang depan mereka sering dipakai pelukis-pejuang Nashar, Zaini, Amang Rahman, dan yang lain untuk memamerkan karyanya.

Para seniman belia ini terkadang menumpang tidur pula dan bisa bergeletakan di mana saja. Yang sempat tinggal menetap adalah keluarga Affandi. 

Anak semata wayang pasangan Affandi-Maryati, Kartika, seangkatan dengan Misbach Yusa Biran dkk. di Taman Madya (SMA).

Saat Ajib masuk Taman Madya bagian Budaya, Sobron Aidit dan yang lain sudah kelas 3. Begitupun, di tahun 1953 itu justru dialah yang terpilih sebagai Pemimpin Redaksi ‘Suluh Siswa’. 

Posisi ini didudukinya hingga tahun 1955. Ia tak sampai menuntaskan sekolahnya sebab telah bekerja dan menikah di tahun itu juga. Istrinya adalah Fatimah Wirjadibrata.

Berumah tangga saat masih bersekolah dan masih sangat sebelia pula sebagai suami, merupakan keajaiban lain dari Ajip di mata kawan-kawannya sesama anak Taman Madya. Memang dia lain dari yang lain. (Bersambung)

Penulis adalah : Senior Journalist, Mentor Writer Camp, Pemateri dalam workshop Bahasa dan Tulisan Jurnalistik, penulis biografi dan aktif di Aliansi Jurnalis Indonesia.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.