Jakob Oetama: Kematian, Makna dan Bagaimana Menyikapinya

this formate

                                Ilustrasi: Monica Kumalasari

Oleh Nur Hidayat

Banyak kalangan merasa kehilangan ketika tokoh pers, pendiri Kompas Gramedia, humanis dan pemersatu Jakob Oetama, meninggal di Jakarta, 9 September, karena sakit pada usia 88 tahun. Ucapan turut berduka cita datang nyaris tanpa henti. Mendiang dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata, Jakarta, Kamis 10 September.

Seperti itulah gambaran saat seorang tokoh wafat. Jakob, yang membesarkan harian _Kompas_ hingga menjadi konglomerasi, meninggal di saat media cetak sudah melewati zaman keemasannya. Seakan-akan satu ironi. Namun, itulah realitas. Keniscayaan. Zaman keemasan selalu diikuti dengan periode kemunduran.

Nur Hidayat, Senior Journalist, pengamat & penikmat wisata

Kita sadar, kematian adalah gerbang menuju kehidupan baru di alam lain. Bagi umat Islam, mereka harus membawa bekal cukup menuju ke sana. Siap bertanggungjawab. Tetapi, sebagian orang lain yakin hidupnya berakhir saat kematian. Tidak ada akhirat. Tidak ada yang harus dipertanggungjawabkan.

Toh masih ada saja orang muslim yang “melupakannya”. Tidak mengingat pesan Imam Syafii, “Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu dan kematian di pelupuk matamu.” Mereka tidak termasuk manusia cerdas, yang selalu ingat mati dan menyiapkan diri sebaik-baiknya.

Nabi Muhammad SAW sudah berpesan agar kita selalu ingat mati. Mengingat kematian, mudah-mudahan, akan menimbulkan ketidaksenangan terhadap dunia.

Mendorong manusia untuk melakukan persiapan di kehidupan akhirat. Kelalaian terhadap maut akan mengarahkan manusia tenggelam dalam kehidupan dan kenikmatan duniawi.

Kematian, bagi tokoh sufi Jalaluddin Rumi, bukanlah satu perpisahan yang meninggalkan semua hal yang telah dimiliki. Baginya, kematian adalah pertemuan kembali dari segala kepunyaan yang sebelumnya tidak dimiliki.

Tahun 1273, saat Rumi menderita sakit yang sangat serius, dokter-dokter yang mengobati demamnya tak tahu apa penyebabnya. Mereka kehilangan harapan. Masyarakat Konya hanya berharap pada sebuah keajaiban.

Namun tidak bagi Rumi. Beliau sangat bahagia dan senang. Kebahagiaannya itu dilukiskan dalam satu puisi: “Mengetahui bahwa adalah Engkau yang mengambil kehidupan, kematian menjadi sangat manis. Selama aku bersama-Mu, kematian bahkan lebih manis dibandingkan dengan kehidupan itu sendiri.” tulisnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Kematian adalah hadiah yang sangat berharga bagi orang yang beriman.” (HR Muslim). Dengan kematian lah orang-orang beriman akan mendapatkan hasil dari buah iman dan amal ibadah yang dilakukannya selama di dunia.

Segala hasil keletihan yang ia rasakan selama di dunia dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya akan segera dipanen oleh mereka.

Sebaliknya, kematian sangat menakutkan bagi ahli maksiat. Mereka yang tidak bertobat. Terbayang pedihnya siksa kubur. Apalagi siksa neraka, yang di situ mereka kekal.

Penderitaan amat sangat berat, yang sulit kita bayangkan. Api neraka lebih panas 70 kali dibanding api di dunia. Belum lagi berbagai jenis siksaan lainnya.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Neraka dinyalakan selama seribu tahun hingga tampak merah. Lalu dinyalakan lagi selama seribu tahun sampai kelihatan putih. Kemudian dinyalakan selama seribu tahun sehingga terlihat hitam. Hingga sekarang neraka itu hitam dan gelap.” (HR Tirmidzi).

Di dalam neraka terdapat bukit api. Bukit ini bernama Ash Shu-uud. Rasulullah SAW bersabda, “Ash Shu-uud adalah sebuah bukit api. Orang kafir menaikinya selama tujuh puluh tahun, kemudian ia terjatuh dari atasnya. (Lalu naik lagi ke atas dan terjatuh lagi) demikian seterusnya.” (HR Tirmidzi).

Nabi Muhammad SAW dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad menjelaskan, “Seorang mukmin saat menjelang kematiannya, akan didatangi oleh malaikat sambil menyampaikan dan memperlihatkan kepadanya apa yang bakal dialaminya setelah kematian.

Ketika itu tidak ada yang lebih disenanginya, kecuali bertemu dengan Tuhan (mati). Berbeda halnya dengan orang kafir yang juga diperlihatkan kepadanya apa yang bakal dihadapinya. Dan, ketika itu tidak ada sesuatu yang lebih dibencinya daripada bertemu dengan Tuhan.”

Penulis adalah Senior Journalist, Pengamat Pariwisata dan traveler ke mancanegara

Peran Media Massa Penting Untuk Kawal & Bangkitkan Pariwisata Bali

this formate

Henky Manurung saat menyampaikan paparannya pada  forum bertajuk Mengawal Bangkitnya pariwisata Bali Berdasarkan Protokol Kesehatan Dalam Pemulihan Ekonomi Bali”  ( Foto: Kemenparekraf)

SANUR, Bali, bisniswisata.co.id: – Media Massa miliki peran penting untuk mengawal dan mendorong bangkitnya pariwisata Bali pascapandemi COVID-19, ungkap Hengky Manurung di Forum Komunikasi antar Media Bali Bangkit di Hotel Grand Inna Bali Beach Sanur, hari ini.

Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Krisis Kemenparekraf/Baparekraf ini  menjelaskan, Kemenparekraf tidak hanya berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga namun juga berkolaborasi dan bersinergi secara pentahelix dalam percepatan penanganan COVID-19.

“Kami juga merangkul media massa yang berperan penting dalam penyampaian informasi dan edukasi masyarakat dan calon wisatawan yang akan berkunjung ke Bali. Kepercayaan masyarakat dan calon wisatawan terhadap ‘the new’ pariwisata dan ekonomi kreatif Bali melalui berita yang valid,” ujarnya.

Hengky juga berharap, peran media dalam menyampaikan informasi kepada publik bahwa Bali sebagai representasi pariwisata Indonesia telah siap menyambut kembali kunjungan wisatawan dengan penerapan protokol kesehatan secara disiplin.

“Itu yang harus dikabarkan bersama-sama bahwa Bali siap menerapkan protokol kesehatan. Di sinilah peran media untuk dapat membentuk persepsi masyarakat dalam membangkitkan pariwisata Bali,” ujarnya.

Dalam forum bertajuk “Mengawal Bangkitnya pariwisata Bali Berdasarkan Protokol Kesehatan Dalam Pemulihan Ekonomi Bali” hadir sebagai narasumber Deputi VII Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto.

Hadir pula Ketua Forum Komunikasi antara Media Bali Bangkit I Nyoman Wirata, Kepala Dinas Pariwisata Provinisi Bali I Putu Astawa, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana Prof I Gde Pitana, serta media-media nasional dan lokal Bali.

Sementara itu, Deputi VII Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto yang juga juru bicara BIN mengatakan, pihaknya mengeluarkan rekomendasi untuk Bali Bangkit, yang pertama
adalah mengeratkan sinergi antara Kementrian dan Lembaga ( K/L ) dan stakeholder pariwisata nasional dalam rangka pemulihan sektor pariwisata yang aman berdasarkan protokol kesehatan.

“Pemprov Bali dan semua stakeholder terkait diharapkan merangkul elemen lainnya baik insan media maupun warganet untuk ikut mempromosikan pariwisata Bali yang aman berdasarkan protokol kesehatan guna menumbuhkan keyakinan publik.

Media hendaknya hindari berita hoaks, juga sangat penting melakukan kroscek. Lalu menata dan mengintensifkan pengawasan penerapan protokol kesehatan dengan didukung  law enforcement ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Provinisi Bali I Putu Astawa menambahkan, Pemprov Bali telah membuka pariwisata secara bertahap. Yang pertama untuk wisatawan lokal Bali pada Juli 2020, kemudian untuk wisatawan nusantara pada 31 Agustus 2020, setelahnya pembukaan untuk wisatawan mancanegara jika kondisi telah memungkinkan.

“Setelah dibuka akhir Agustus, wisnus yang datang ke Bali rata-rata diangka 2.500 sampai 5.000 wisatawan perhari dimana sebelumnya hanya 900. Sedangkan sebelum COVID-19 rata-rata sebanyak 16 ribu wisatawan perhari yang datang,” kata Putu Astawa.

Putu Astawa juga menjelaskan rencana Pemprov untuk membuka pintu bagi wisman akan diperhatikan dengan matang. “Untuk membuka pariwisata bagi wisman perlu kehati-hatian, lantaran citra Bali yang kuat di dunia internasional jangan sampai ada second wave dan mencoreng citra Bali sendiri,” ujarnya.

MMGY Global Bermitra Dengan Grup Advokasi untuk Mengisi Gap Riset Pelancong Kulit Hitam  

this formate

Penelitian terbaru akan mengungkap tentang cara melayani wisatawan kulit hitam yang lebih baik.       ( Foto: Prostock-studio / adobe.stock.com)

LOS ANGELES, AS, bisniswisata.co.id:  Bagaimana cara melayani wisatawan kulit hitam atau kerap disebut black travelers yang lebih baik. Hal itulah yang dilakukan perusahaan layanan pemasaran MMGY Global yang akan meluncurkan studi penelitian pelancong kulit hitam baru pada akhir Oktober mendatang.

Menurut rilisnya yang dibagikan kemarin, laporan  bertajuk The Black Traveler: Insights, Opportunities & Priorities akan menjadi hasil pertama dari seri riset pasar yang komprehensif. 

Semua hasil akhir nantinya akan menguntungkan tiga organisasi mitra, Black Travel Alliance (BTA), National Coalition of Black Meeting Professionals (NCBMP) dan National Association of Black Hotel Owners, Operators and Developers (NABHOOD), di antara kelompok nirlaba lainnya.

Mengapa riset ini penting ? dilansir dari Travel Age West, telah lama ada ketidakhadiran yang mencolok dari penelitian yang menyorot black travelers. Kenyataannya memang tidak menguntungkan tetapi tidak mengejutkan karena ada korelasinya dengan kurangnya representasi kalangan kulit hitam dalam industri perjalanan. 

Namun, inisiatif penelitian yang dipimpin oleh MMGY Global, bekerja sama dengan kelompok advokasi kulit hitam, mewakili perubahan yang sangat dibutuhkan untuk memahami kebutuhan, preferensi, dan perilaku komunitas ini.

Studi perdana pada bulan Oktober mengambil data dari dua survei baru: satu mengevaluasi black travelers berwisata  di seluruh dunia, dan yang lainnya menilai para profesional pertemuan kulit hitam NCBMP. 

Pertanyaan survei akan dikembangkan dengan masukan dari BTA, NCBMP dan NABHOOD, serta masukan dari komite pengarah yang terdiri dari pakar industri yang beragam. 

Menurut MMGY Global, studi ini juga akan menganalisis hasil dari Performa / Monitor Perjalanan Shifflet 2019 selain pengembangan ukuran akurat dari kekuatan ekonomi pelancong kulit hitam.

Dilengkapi dengan wawasan seperti itu, penasihat perjalanan dan pemasok harus dapat melayani pasar yang penting dan besar ini dengan lebih baik, serta bekerja sama untuk mendorong industri perjalanan yang lebih beragam dan inklusif.

Sponsor pendukung prakarsa ini termasuk Choice Hotels International, Tripadvisor, dan Kantor Pariwisata Virginia. Untuk menganalisis sentimen pelancong kulit hitam tentang perjalanan rekreasi, survei tersebut akan mencakup sampel acak dari 4.500 pelancong kulit hitam dari AS, Kanada, Prancis, Jerman, dan Inggris / Irlandia.

Apa yang responden katakan sangat penting bagi industri kami untuk lebih memahami kebutuhan, perilaku, dan kekhawatiran komunitas wisatawan yang kurang terwakili ini ,” kata Clayton Reid, CEO MMGY Global. 

Menurut dua saat perusahaan mulai mengevaluasi pendekatan mereka terhadap keragaman, ekuitas, dan inklusi secara internal, mereka juga perlu menciptakan produk, pengalaman, layanan, dan kampanye pemasaran yang terhubung dengan kebutuhan pasar yang beragam. 

Perusahaan, termasuk perusahaannya memiliki kewajiban moral untuk memastikan merek mereka mencerminkan komunitas yang dilayani. “Kami bangga dapat bermitra dengan sponsor dan kelompok advokasi kami untuk menghidupkan penelitian ini. ” kara Clayton Reid.

“Orang kulit hitam dengan berani bepergian keliling dunia, tapi sayangnya, ketika kita melihat industri perjalanan secara keseluruhan, kita tidak melihat diri kita sendiri – kita juga tidak melihat upaya dari perusahaan dan layanan yang kita dukung untuk membuat kita merasa disambut dan dihargai, kata Martinique Lewis, Presiden BTA. 

Inilah sebabnya mengapa Black Travel Alliance bermitra dengan MMGY untuk mengumpulkan data guna membantu memperbaiki kesalahan ini. Studi ini tidak hanya akan menyoroti preferensi perjalanan, sikap, perilaku, dan kebutuhan pelancong kulit hitam, tetapi juga akan menawarkan wawasan tentang ukuran dan nilai pasar penting ini di Amerika Utara dan Eropa. 

“Hal Ini akan membantu kami bergerak lebih dari sekadar membuat argumen emosional dan moral untuk menghadirkan kasus bisnis yang kuat mewakili orang kulit hitam yang lebih besar di semua area dan tingkat industri perjalanan.” kata Martinique Lewis.

Sejak didirikan, NCBMP telah membuat dampak yang signifikan dalam komunitas perhotelan dalam mengejar kesetaraan, relevansi, dan pemberdayaan, ungkap Jason Dunn, ketua National Coalition of Black Meeting Professionals (NCBMP).

Hal Ini akan membantu kita bergerak lebih dari sekadar membuat argumen emosional dan moral untuk menghadirkan kasus bisnis yang kuat untuk representasi orang kulit hitam yang lebih besar di semua area dan tingkat industri perjalanan, tambahnya.

“Melalui studi ini, kami akan dapat memperkuat dan memberdayakan suara kolektif para profesional pada kegiatan pertemuan-pertemuan kulit hitam  dengan memberikan analisis komprehensif tentang kontribusi kami pada industri MICE dan memberikan solusi untuk tantangan yang kami dan mereka rencanakan untuk dihadapi.” tambah Jason Dunn.

 

Survei: Orang-orang Ingin Pergi Liburan Usai Pandemi Berlalu

this formate

Wisata pantai di Maldives yang banyak dirindukan wisatawan (foto: skift)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kebanyakan orang menyatakan ingin kembali melancong usal pandemi COVID-19 berlalu. Sebuah survei terkini menunjukkan sebagian besar orang mengaku sudah membuat perencanaan untuk liburan. Mereka punya uang, tetapi baru akan memesan tiket saat keadaan membaik.

Amadeus, perusahaan perjalanan raksasa berbasis teknologi yang bermarkas di Madrid, pada Mei mengadakan jejak pendapat terkait rencana perjalanan lebih dari 8.500 pengguna aplikasi CheckMyTrip.  Hasil survei menunjukkan sebagian besar responden mengatakan sudah memiliki rencana untuk melancong antara Juli dan Desember. Perusahaan merilis hasil survei dalam laporan bertajuk: “Tujuan X: Ke Mana Selanjutnya”.

 “Saya sebenarnya cukup terkejut dan tergerak karena ternyata orang-orang ini lebih optimis terhadap prospek keuangan mereka. Mereka juga memiliki kepercayaan diri yang tinggi bahwa kelak akan kembali melakukan perjalanan,” kata Michelle Batten, kepala pemasaran global, divisi utama perjalanan ritel di Amadeus, seperti dilansir Skift.

Hasrat pelancong untuk kembali melakukan perjalanan sekaligus menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan finansial yang baik. Sekitar 55% hingga 58% responden di Eropa Utara dan Barat menyatakan memiliki anggaran yang sama [untuk melancong] dengan saat sebelum pandemi.

Potret serupa juga terlihat di Amerika Utara dan Selatan. Bahkan sekitar seperempat wisatawan di sana mengaku memiliki anggaran perjalanan yang lebih besar dibandingkan sebelum pandemi.

 “Mungkin orang-orang ini berkata, Well, saya bekerja di industri yang tidak terlalu terdampak. Dan [selama pandemi] saya tidak akan pergi nonton konser atau membeli pakaian. Jadi saya akan mengalihkan pengeluaran itu untuk perjalanan,’” kata Batten.

Kelompok usia yang menyatakan hendak mengeluarkan dana untuk perjalanan dengan anggaran paling besar adalah generasi baby boomer.

Kelompok ini juga merupakan kelompok usia yang paling mungkin mengatakan ‘tidak’ pada hampir semua pilihan perjalanan rekreasi tradisional. 

Di antara generasi baby boomer yang disurvei, 68% mengatakan mereka akan mempertimbangkan untuk memilih paket wisata khusus yang mereka atau agen perjalanan buatkan. Tetapi mereka biasanya akan menghindari pilihan all-inclusive resorts, paket wisata biasa, dan kapal pesiar. 

Hasil survei juga menunjukkan bahwa banyak wisatawan mengaku bingung dan prihatin dengan asuransi perjalanan. Mereka ragu apakah polis itu bermanfaat pada tahun-tahun mendatang.

Survei ini sekaligus menggambarkan bagaimana konsumen cenderung lebih bersikap hati-hati terhadap risiko, seperti menghindari perjalanan udara lintas benua.

Mereka sebaliknya lebih memilih mengalokasikan dananya untuk menyewa kendaraan dan memesan Airbnb. Namun mereka juga mengaku membutuhkan bantuan agen perjalanan

Terutama untuk membuat pilihan, merancang perjalanan, serta menavigasi risiko selama liburan di tengah pandemi yang sulit diprediksi.

Setelah krisis melanda, banyak pengamat bertanya-tanya apakah orang akan mencari pengalaman baru atau justru mencari kenyamanan di tempat-tempat wisata favorit lama saat berkesempatan untuk bepergian setelah terkurung di rumah. 

Survei Amadeus terhadap para pelancong di berbagai kelompok usia memberi jawaban sementara: 40 persen responden menyatakan akan mencari tujuan wisata yang tidak dikenal.

Dengan caratan kelompok baby boomer sedikit lebih berhati-hati daripada kaum milenial. Sebaliknya, sekitar sepertiga dari semua kelompok umur akan mencari tempat yang sudah mereka akrabi.

 

Menkes Thailand Usulkan Destinasi Phuket Buka Lagi, Tapi Warga Menolak

this formate

Kawasan Pantai Phuket, Thailand yang disukai wisman. ( Foto: ITC. Travel) 

BANGKOK, bisniswisata.co.id:  Menteri Kesehatan Thailand, Anutin Charnvirakul  mengatakan usulan untuk membuka kembali Phuket untuk wisatawan asing akan terus berjalan meskipun ada tentangan dari masyarakat setempat.

Dilansir dari ITC.Travel,  Anutin mengatakan usulan  “pariwisata terbatas” di pulau resor selatan itu  telah disetujui oleh pemerintah pusat meskipun PM Prayut Chan-o-cha yang akan memiliki keputusan akhir kapan turis asing dapat masuk.

Dia tidak menampik adanya pejabat pemerintah lainnya yang  menyatakan keprihatinan keamanan atas usulan pembukaan kembali destinasi wisata Phuket tersebut. Tapi Menkes Anutin mengatakan Pemerintah siap mendukung dan meringankan langkah-langkah pengamanan.

“Kalau Phuket dibuka lagi bagi wisman maka hal Ini akan memungkinkan pengusaha untuk menghasilkan pendapatan dan mempertahankan pekerjaan bagi karyawannya. Kami siap, tetapi semua pemangku kepentingan harus membantu kami juga,” kata Anutin.

 Di bawah proposal terbaru pemerintah untuk memulai kembali industri pariwisata yang menguntungkan, pengunjung dari negara-negara di mana tidak ada wabah selama setidaknya 30 hari akan diizinkan mengunjungi Phuket. 

Tetapi  mereka harus menghabiskan 14 hari di karantina terlebih dahulu sebelum mereka dapat berkeliaran di sekitar pulau. Anutin mengatakan wisatawan akan diizinkan menggunakan fasilitas resor selama masa karantina mereka.

 “Bukan berarti kami mengizinkan turis berkeliaran. Saat mereka masuk, kami akan menentukan area seperti kolam renang dan pantai tempat mereka bisa pergi.  Saya pikir tidak apa-apa karena kami sudah memiliki langkah-langkah penyaringan dan ini juga akan menghasilkan pendapatan bagi masyarakat lokal. ”

 Dia juga mengkritik mereka yang menentang rencana tersebut dan mengingatkan bahwa negara seharusnya tidak hidup di bawah ketakutan virus selamanya.

 “Orang-orang yang menyuarakan pendapat bertentangan apakah mereka benar-benar orang Phuket?”  Kami telah berkali-kali mengatakan bahwa kita  tidak boleh takut dengan COVID-19 sampai-sampai tidak ingin melakukan apa pun.  Saya mengonfirmasi bahwa Thailand siap melawan COVID-19.  Jika kita sudah siap, maka hadapi saja. “Kata Anutin. 

Tetapi presiden asosiasi pariwisata setempat mengatakan dia menentang proposal pemerintah karena dapat menyebabkan gelombang infeksi baru.

 ” Usulan itu tidak kedap udara. Mereka hanya mencari uang, tapi keselamatan orang Phuket lebih penting.” kata Sarayuth Mallum dari Asosiasi Turis Phuket. 

Sebaliknya, ia mengusulkan versinya sendiri dari “Model Phuket”, di mana hanya wisatawan, pelajar, dan investor yang akan tinggal lama dan diizinkan untuk tinggal di pulau itu daripada wisatawan biasa.

 “Kami harus mulai dengan kelompok pengunjung ini untuk menguji langkah-langkah penahanan kami. Kami harus mengakui bahwa kami menginginkan turis, tetapi kebanyakan orang di sini tidak yakin dengan tindakan pemerintah.” kata Sarayuth.

Beberapa warga sekitar juga tidak setuju dengan gagasan pembukaan kembali Phuket tersebut.  Seorang mengatakan dia tidak tahan risiko lockdown lagi.

 “Jika wabah kembali datang, semua yang kami lakukan akan berakhir,” kata seorang sopir bandara yang meminta untuk diidentifikasi hanya dengan nama depannya, Surin.

 “Kita tetap bisa hidup dari turis lokal, meski tidak seberapa dibanding turis asing.  Kami baru saja mulai pulih, kami tidak dapat melakukan lockdown (kuncian)  lagi. “

Direktur Otoritas Pariwisata Thailand Yuthasak Supasorn mengatakan kemarin dia khawatir Thailand akan mengalami risiko gelombang kedua pandemi jika pemerintah melanjutkan rencana tersebut.

 “Kami tidak mampu menerima gelombang kedua infeksi.Kami telah sejauh ini dalam upaya kami untuk membendung penyebaran virus.” katanya.

Rekor 100 hari Thailand tidak ada penularan lokal rusak pada hari Kamis, setelah seorang narapidana dilaporkan dinyatakan positif mengidap virus corona di dalam fasilitas karantina.

Meskipun tidak ada orang lain yang dinyatakan positif mengidap virus itu sejauh ini, pejabat pemerintah belum menyimpulkan bagaimana narapidana berusia 37 tahun itu tertular virus Corona.

Dalam pernyataan yang makah tidak membantu, pejabat kesehatan senior Kiattiphum Wongrachit mengatakan pria itu kemungkinan terinfeksi oleh seseorang yang baru-baru ini bepergian dari luar negeri, atau oleh seseorang yang tinggal di Thailand.

 “Tes terhadap orang-orang yang berhubungan dekat dengannya ternyata negatif,” kata Kiattiphum.

Pemerintah melaporkan bahwa tidak ada yang terinfeksi oleh pasien terbaru sejauh ini, sementara kasus infeksi kumulatif negara itu  hingga kemarin mencapai 3.446.

 

  

Malaysia Minta Warga Tidak Perlu Adu Kepalan Tangan untuk Tekan Penyebaran Tinggi Virus Corona

this formate

KUALA LUMPUR, bisniswisata.co.id: Pihak berwenang Malaysia pada mengingatkan masyarakat untuk menghindari kontak fisik, termasuk adu kepalan fangan ( fist bump) sebagai pengganti jabat tangan karena jumlah kasus virus corona baru di negara itu naik ke level tertinggi dalam tiga bulan.

Dilansir dari Channel News Asia, adu kepalan tangan , di mana dua orang secara singkat mengepalkan tangan mereka, telah menggantikan jabat tangan biasa yang populer saat orang-orang di seluruh dunia berusaha membatasi penyebaran pandemi.

Namun pejabat tinggi kesehatan Malaysia mengatakan segala bentuk kontak fisik menimbulkan risiko infeksi dan mengingatkan orang untuk menjaga jarak setidaknya satu meter.

“Inilah mengapa kami memberitahu masyarakat untuk tidak melakukan adu kepalan tangan itu lagi,” kata Direktur Jenderal Kesehatan Noor Hisham Abdullah kepada wartawan, kemarin.

Negara itu mencatat peningkatan tiga digit dalam infeksi baru untuk pertama kalinya sejak awal Juni, dengan 100 kasus  baru dilaporkan pada Selasa. Sejauh ini Malaysia telah melaporkan total 9.559 infeksi, termasuk 128 kematian

Malaysia menghindari tingkat wabah yang terlihat di negara tetangga seperti Filipina dan Indonesia, yang masing-masing memiliki 241.987 dan 200.035 kasus. Korban tewas di Indonesia sebanyak 8.230 jiwa merupakan yang tertinggi di kawasan.

 

Penerapan CHSE Jadi Kunci Sukses Pemulihan Pariwisata.

this formate

Membersihkan pantai salah satu bagian program CHSE yang dapat bangkitkan kembali pariwisata.      ( Foto:  Kemenparekraf )

 JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pelaksanaan protokol kesehatan berbasis CHSE menjadi kunci sukses pemulihan pariwisata nasional, kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, hari ini.

“Tanpa pelaksanaan protokol kesehatan yang baik dan disiplin tinggi maka tidak mudah bagi sektor pariwisata Indonesia untuk dapat rebound,  bangkit kembali,” kata Whisnutama.

Protokol kesehatan berbasis Clean, Health, Safety & Enviromental Sustainbility (CHSE) menjadi kuncinya dan pihaknya telah  menerbitkan buku panduan khusus terkait protokol kesehatan berbasis CHSE bagi para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di tanah air.

Untuk meningkatkan penerapan protokol kesehatan, Kemenparekraf telah mengusulkan ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu) agar Hibah Pariwisata ke daerah difokuskan untuk peningkatan kualitas pelaksanaan protokol kesehatan berbasis CHSE di destinasi pariwisata.

“Kemenparekraf sudah mengusulkan ke Kemenkeu agar Hibah Pariwisata sebesar Rp 3,3 triliun ke daerah difokuskan untuk program penerapan protokol CHSE di berbagai destinasi pariwisata,” katanya.

Presiden Joko Widodo sebelumnya mengingatkan bahwa pandemi COVID-19 akan membuka sebuah perubahan tentang tren pariwisata di dunia. Dimana isu health dan hygiene serta safety dan security akan menjadi pertimbangan utama bagi wisatawan.

“Presiden meminta sehabis pandemik ini harus melakukan inovasi, perbaikan-perbaikan sehingga bisa cepat beradaptasi dengan perubahan tren yang kemungkinan besar nanti akan terjadi di dunia pariwisata global,” ungkapnya.

Kedua, isu utamanya adalah keselamatan dan kesehatan, maka protokol tatanan normal baru di sektor pariwisata betul-betul harus menjawab isu utama tadi.

“Mulai dari protokol kesehatan yang ketat di sisi transportasinya, di sisi hotelnya, di sisi restorannya, dan juga di area-area wisata yang kita miliki,” kata Wishnutama.

Otoritas Dubai Gunakan Mesin “Artifical Intelligence” untuk Susun Rute Bus

this formate

Dubai gunakan AI untuk bantu menyusun rute bus (foto: Intellegent transport)

DUBAI, bisniswisata.co.id: Otoritas pengaturan lalu lintas dan transportasi di Dubai, RTA (Road and Transport Authority), mulai memanfaatkan robot kecerdasan buatan atau dikenal sebagai Artificial Intelligence (AI), saat menyusun kembali rute bus. 

Menurut pejabat di sana seperti dilansir Al Arabiya langkah terobosan ini merupakan bagian dari rencana RTA menerapkan teknologi yang dapat membantu mencari cara menghemat waktu dan tenaga, serta meningkatkan kenyamana bagi para pengggna transportasi umum.

Sekadar informasi, RTA Dubai dibentuk pada 2005 sebagai otoritas yang berwenang untuk melakukan perencanaan serta manajemen transportasi dan lalu lintas Kota Dubai. Keberadaannya dirasa perlu seiring dengan pesatnya kemajuan Kota Dubai, untuk menjamin kemudahan dan kelancaran perjalanan penduduk Dubai.

“Penggunaan AI seperti algoritma pembelajaran mesin, dalam membenahi rute bus umum bertujuan untuk merancang ulang 150 rute yang [digunakan] oleh 2.158 bus di seluruh Dubai,” kata Ahmed Mahboub, Direktur Eksekutif Layanan Cerdas, Sektor Layanan Dukungan Teknologi Korporat di RTA.

Selama masa uji coba, RTA bereksperiman terhadap 10 rute yang tidak memiliki data dari kartu pengguna transportasi. AI dikerahkan untuk mengetahui halte bus yang sibuk sepanjang hari, halte yang digunakan hanya pada jam sibuk, dan halte yang jarang digunakan. 

“Algoritme pada pembelajaran mesin digunakan untuk menganalisis data. Dengan demikian, departemen terkait dapat membangun sistem dan mengambil keputusan berdasarkan referensi yang akurat untuk menghapus pemberhentian tertentu atau mengusulkan layanan ekspres pada pemberhentian lain,” kata Ahmed Mahboub

Hal ini sekaligus untuk memastikan kebutuhan pelanggan selalu terpenuhi. Proses ini dapat membantu meningkatkan layanan vital ini, tambahnya dalam sebuah laporan yang dimuat Kantor Berita Emirates.

Fase uji coba yang berlangsung selama 30 hari ini membuahkan hasil positif, setidaknya dari sisi penghematan waktu. Menurut laporan RTA, rata-rata jalur bus menghemat waktu hingga 13,3%.

Saat ini bus-bus umum yang ada di seluruh Dubai melayani rute perjalanan hampir 153 juta kilometer per tahun. Teknologi AI dan machine learning (pembelajaran mesin) sangat membantu otoritas setempat mendapatkan solusi bagaimana menghemat bahan bakar dan mengurangi emisi karbon.

 

Akibat Berkurangnya Pelancong, Desain Bandara Dipaksa Untuk Ditinjau Ulang.

this formate

Setelah pandemi area komersial bandara tidak lagi bisnis yang menguntungkan. (Photo: Unsplash/L Filipe C Sousa)

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Sulit untuk mengatakan apakah Bandara Changi Singapura adalah kompleks hiburan atau bandara. Dengan bioskop tiga layar, taman kupu-kupu dalam ruangan, kolam renang di puncak gedung, dan tempat makan inventif, tempat ini menarik perhatian penduduk lokal maupun para pelancong (wisatawan).

Dilansir dari  Channel New Asia, ada lebih dari 400 toko, termasuk Apple dan Tiffany & Co, Bandara Changi akan menjadi mal terbesar keempat menurut jumlah penyewa jika berada di Amerika Serikat.

Fasilitas yang memikat itu  acap kali membuat area komersial bandara menjadi yang paling menguntungkan di dunia. Tetapi pandemi telah menghancurkan kalkulus komersial itu dan tidak ada yang yakin apa yang akan terjadi selanjutnya.

Bandara terkemuka untuk penjualan konsesi dan ritel di Amerika Serikat adalah Los Angeles International, dengan pendapatan US$ 3.036 (S $ 4.144) per kaki persegi. Kaki persegi adalah satuan luas yang digunakan dalam sistem imperial dan sistem pengukuran tradisional Amerika.

Menurut laporan 2018 dari Airport Experience News. Chicago O’Hare menempati posisi kedua dengan penjualan US$ 2.718 per kaki persegi. Sebagai perbandingan, peritel mal rata-rata sekitar US$ 325 per kaki persegi, menurut data 2017 dari CoStar.

Tapi itu semua hilang sekarang, kata Alan Gluck, konsultan penerbangan senior di ICF. “Umumnya penjualan di toilet,” kata Gluck. Misalnya, penjualan konsesi di Bandara Internasional San Francisco pada Mei turun 96 persen dari tahun sebelumnya. 

Penjualan konsesi bebas bea turun 100 persen, katanya, karena semua toko tutup. Pada Mei 2019, penjualan bebas bea mencapai US $ 11,5 juta.

Sampai lalu lintas penumpang kembali, kata Gluck, properti ritel bandara tidak akan menjadi pusat keuntungan, dan bahkan ketika kembali, mungkin pada kapasitas yang berkurang.

“Saya percaya bahwa kita perlu mempertimbangkan kembali heuristik yang ada kecuali kita berpikir bahwa perilaku pelanggan akan kembali ke apa yang sekarang kita anggap normal,” katanya, seraya menambahkan bahwa kegiatan seperti pemeriksaan kesehatan sering kali mengurangi ruang untuk kebutuhan lain.

Banyak konsesi cenderung membutuhkan lebih banyak ruang untuk jarak sosial, yang akan mengurangi jumlah unit ritel yang dapat ditawarkan bandara.

Bandara Changi, Singapura dengan fasilitas tempat rekreasi (Foto: Unsplash / Kenneth Koh)

Fasilitas yang pernah membuat bandara menonjol untuk mencari keuntungan adalah hal sama yang terbukti menantang. Misalnya, teater Changi masih ditutup bukan hanya untuk perlindungan patogen tetapi juga karena lalu lintas terlalu rendah untuk membenarkan biaya operasional.

“Kami akan mengukur operasi bandara kami berdasarkan volume penumpang yang kami layani,” kata Ivan Tan, wakil presiden senior untuk komunikasi pemasaran Changi Airport Group, yang mengoperasikan fasilitas tersebut.

Lalu lintas bandara telah turun hingga tinggal satu persen dari tahun lalu, yang menyisakan sedikit pasar untuk film atau makanan gourmet, kata Tan. Bandara menggunakan waktu ini untuk menutup Terminal 2 , mempercepat renovasi yang direncanakan.

Pandemi akan menyebabkan beberapa fasilitas diganti dengan yang baru. “Dampak jangka panjang COVID-19 pada fasilitas dan amenitas yang kami sediakan masih harus dilihat,” ujarnya.

Sejauh ini, pandemi belum menghentikan pembangunan terminal yang direncanakan atau sedang berlangsung di Amerika Serikat, meskipun beberapa operator bandara sedang mempertimbangkan kembali fasilitas perjalanan.

Kansas City International Airport sedang dalam rencana renovasi terminal senilai US$1,5 miliar untuk mengkonsolidasikan tiga terminalnya menjadi satu bangunan raksasa dengan 39 gerbang, termasuk air mancur dua lantai, area bermain anak-anak, dan konsesi yang diperbarui.

Ini bukan pertama kalinya bandara direnovasi selama gangguan industri maskapai penerbangan yang signifikan: Pada 11 September 2001, bandara berada di tengah perombakan besar-besaran. Perubahan harus dilakukan pada area penyaringan dengan cepat, dan kaca interior dan eksterior diperkuat.

“Jika begitu, proyeknya sedang berjalan. Penyesuaian sudah dilakukan, dan belum terlambat, “kata juru bicara bandara Joe McBride. “Kami masih dalam tahap awal proyek terminal ini; konstruksi sedang berlangsung, jadi kami berada dalam kondisi yang lebih baik daripada di era 9/11.  “

Proyek lain yang sedang berlangsung, termasuk di Bandara La Guardia di New York dan di pasar yang lebih kecil seperti Lafayette, Louisiana, sedang berjalan tetapi mengambil pendekatan menunggu dan melihat dalam penyesuaian.

Pembangunan terminal baru harus fokus pada ruang tidak hanya untuk virus Corona tetapi untuk penyakit pernapasan lainnya, kata Dr Anthony S. Fauci, direktur Institut Nasional Penyakit Alergi dan Penyakit Menular.

desain bandara perlu memiliki fleksibilitas ruangan ( Foto: (Photo: Unsplash/Grahame Jenkins)

“Sifat padat di bandara selalu membuat saya tidak nyaman, terutama di bandara yang kurang modern.Orang-orang benar-benar hidung-ke-hidung menunggu untuk naik pesawat.” kata Fauci.

Dia mengatakan terminal baru diperlukan untuk memberikan cukup ruang bagi orang untuk menyebar, menawarkan penyaringan udara partikulat efisiensi tinggi dan mendistribusikan masker gratis.

Dia juga ingin melihat lebih banyak pemeriksaan kesehatan di bandara untuk mencegah jenis penyebaran virus yang terlihat di Wuhan, Cina, dan Milan, Italia.

Pengujian tersebut dapat mencakup pemeriksaan suhu, pertanyaan, dan penelusuran kontak. Karena 40 persen kasus virus Corona tidak bergejala, tugas itu menantang tetapi tetap bermanfaat, tambahnya.

“Anda tidak bisa angkat tangan dan mengatakan itu tidak mungkin,” kata Fauci. Kunci untuk membuat bandara pasca pandemi layak secara komersial adalah membuat seragam pemeriksaan medis di mana-mana, kata Vik Krishnan, konsultan penerbangan di McKinsey & Co.

“Tidak ada maskapai penerbangan berbeda yang menggembar-gemborkan keselamatan mereka setelah 9/11,” katanya. Wisatawan akan lebih cenderung terbang lagi jika bandara mengadopsi standar keselamatan yang sama sekarang.

Di Kansas City, pejabat membuat penyesuaian seperlunya. Jika diperlukan lebih banyak ruang, desainnya memiliki fleksibilitas bawaan, sesuatu yang tidak dapat dilakukan bandara lama dengan mudah.

“Saat ini, kami belum mengubah arah atau memodifikasi desain terminal baru yang ada, tetapi kami sedang dalam tahap awal untuk mengeksplorasi cara meningkatkan keselamatan dan kesehatan wisatawan,” kata McBride.

Bangunan baru ini akan memberi bandara lebih banyak fleksibilitas dalam menangani pandemi ini atau yang akan datang, termasuk kemungkinan melakukan pemeriksaan kesehatan di luar, kata Laura Ettelman, mitra pengelola di Skidmore, Owings and Merrill, sebuah firma arsitektur dan desain di New York yang sedang mengawasi renovasi bandara.

Pandemi akan mempercepat pembangunan terminal di masa depan di bandara lain untuk memasukkan fleksibilitas, tambahnya.

“Bandara secara arsitektural sulit karena cepat usang, jadi semua bangunan yang kami kerjakan hari ini adalah tentang fleksibilitas dan lebih banyak fleksibilitas,” kata Ettelman.

Desainer bandara lainnya mengikuti cara yang sama. “Kami tidak mengurangi saat ini,” kata Curtis W. Fentress, seorang arsitek yang berbasis di Denver. 

Perusahaannya terlibat dalam mendesain ulang terminal internasional di Bandara Interkontinental George Bush di Houston, serta terminal di Nashville, Tennessee, dan Orlando , Florida. 

“Yang bisa kita semua lakukan adalah mengatur ruang dan membuat hal-hal sesederhana mungkin.” kata Curtis W. Fentress

Karena memindahkan banyak sekali orang melalui bandara, jadi dia memperkenalkan cahaya matahari untuk memimpin dan memandu orang melalui gedung dan meminta mereka menjadi sehat dan merasa sebersih dan seaman mungkin, katanya.

Tetapi perubahan yang lebih besar akan dibutuhkan, kata Henrik Rothe, dosen senior perencanaan bandara di Universitas Cranfield di Inggris yang telah merancang bandara di 45 negara. 

Gangguan terhadap bandara adalah yang paling kompleks, dan semua pemangku kepentingan harus bersatu untuk mengembalikannya, katanya.

Wabah SARS tahun 2002 adalah peringatan pandemi yang diabaikan oleh sebagian besar bandara, katanya. Dalam jangka panjang, bandara harus menilai ulang operasinya dan mungkin menjadi lebih berorientasi pada bisnis dan infrastruktur daripada fasilitas.

“Bandara harus menjadi pusat komersial multiguna, berkelanjutan dan tangguh terhadap peristiwa yang mengganggu,” kata Rothe.

Wisman Masuk ke Singapura Tetap Harus Uji COVID dan Jalani SHN

this formate

Merlion, ikon Singapura ( Foto: Guitar Photographer/ Shutterstock)

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Biasa berobat, medical check-up atau sekedar week-end ke Singapura ?. Terbang Jumat sore sepulang kantor adalah sebagian dari aktivitas wisatawan Indonesia di Singapura.

Nonton pertunjukkan kelas dunia, clubbing di Zouk, menikmati kehidupan malam di sepanjang jalan Boat Quay hingga jalan Mohammed Sultan yang terkenal dengan bar & pub nya jadi gaya hidup eksekutif muda terutama dari Jakarta dan kota besar seperti Surabaya saat ke negri jiran ini.

Namun enam bulan terakhir gaya hidup wisatawan Indonesia itu terhenti akibat pandemi global COVID-19. Buat yang sudah terbiasa terbang bolak-balik ke Singapura, sabar dulu dan berikut berbagai kebijakan yang patut diketahui;

Dilansir dari kayak.com, Singapura telah membatasi masuknya semua warga negara asing kecuali yang telah mendapat persetujuan sebelumnya dari pemerintah. Wisatawan dengan persetujuan dari negara berisiko rendah akan diberikan Stay Home Notice    ( SHN) selama 7 hari, atau tanpa SHN sejak 1 September lalu.

Pokoknya negri ini  telah membatasi masuk dan transit semua pengunjung jangka pendek yang bukan penduduk Singapura, Warga Negara Singapura dan Penduduk Tetap, atau Pemegang Pass Jangka Panjang (termasuk pemegang Work Pass, Student’s Pass, Dependant’s Pass, dan Long-Term Visit Pass  ). 

Wisatawan yang memasuki Singapura akan diuji COVID-19 dan juga harus mengisolasi diri selama 14 hari di fasilitas Stay-Home-Notice (SHN) khusus dengan biaya $ 2000;  pelancong bertanggung jawab untuk menanggung semua biaya ini.  

Selama masa karantina, wisatawan tidak akan diizinkan meninggalkan kamar, dan merokok mungkin tidak diperbolehkan di dalam fasilitas.  Sejak 11 Agustus lalu bahkan setiap orang yang berusia di atas 12 tahun yang berada di karantina rumah akan diwajibkan oleh undang-undang untuk memakai label elektronik selama masa karantina mereka.

Periode karantina 14 hari tidak dapat dikurangi, bahkan jika para pelancong ingin meninggalkan Singapura. Sedangkan wisatawan dengan persetujuan Air Travel Pass akan tetap tunduk pada COVID-19 test pada saat kedatangan

Mereka yang memasuki Singapura maupun yang telah tinggal di Brunei atau Selandia Baru dalam 14 hari terakhir berturut-turut sebelum masuk tidak diharuskan untuk memberikan Stay-Home Notice (SHN) tetapi akan tetap tunduk pada COVID-19 test pada saat kedatangan juga. 

Jika hasil tes negatif, mereka dapat melanjutkan aktivitasnya di Singapura. Durasi SHN akan dipersingkat dari 14 hari menjadi 7 hari untuk pelancong dengan persetujuan Air Travel Pass yang telah menghabiskan 14 hari berturut-turut sebelumnya di Australia (tidak termasuk Victoria), Tiongkok Daratan, Makau, Korea Selatan, Taiwan atau Vietnam dan akan  diizinkan untuk melayani SHN di tempat tinggal mereka, dan menjalani tes COVID-19 di akhir SHN mereka.

Tiket kunjungan jangka panjang dan izin prinsip izin kunjungan jangka panjang yang dikeluarkan oleh Immigration and Checkpoints Authority atau Otoritas Imigrasi dan Pemeriksaan ( ICA).

Juga diperlukan Surat Persetujuan Masuk (ALE) dari ICA.  Pemegang Student’s Pass dan pemegang Persetujuan Prinsip Student’s Pass juga membutuhkan ALE dari Kementerian Pendidikan (MOE).  

Untuk pemegang izin kerja baru dan lama hanya diizinkan masuk ke Singapura dengan persetujuan Kementerian Tenaga Kerja (MOM) sebelumnya.  Mereka diwajibkan untuk menunjukkan surat persetujuan MOM kepada staf maskapai saat check-in dan sebelum boarding.

Surat juga ditunjukkan kepada petugas ICA di pos pemeriksaan imigrasi setibanya di Singapura.  Pengunjung jangka pendek dengan ALE dari ICA, Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI), Kementerian Luar Negeri (MFA) atau MOH masih dapat masuk ke negara tersebut. 

Namun, mereka mungkin masih menjalani pemeriksaan kesehatan pada saat kedatangan.  Memiliki ALE tidak menjamin Visit Pass untuk memasuki Singapura.  Calon pengunjung jangka pendek yang ingin masuk ke Singapura harus mengajukan permohonan ‘SafeTravel Pass’ di https://safetravel.ica.gov.sg/.  

Pasangan atau anak-anak dari penduduk Singapura atau warga negara yang perlu mengunjungi Singapura karena keadaan luar biasa dapat mengajukan permohonan masuk melalui Kementerian Kesehatan.

Semua pelancong yang memasuki Singapura, termasuk warga negara Singapura, Penduduk Permanen, dan pemegang Long-Term Pass (LTP) harus menyerahkan pernyataan kesehatan melalui e-Service SG Arrival Card (SGAC), di https://eservices.ica.gov.sg  / sgarrivalcard, atau aplikasi seluler.  

Maskapai penerbangan diminta untuk memberi tahu penumpang pada saat check-in dan sebelum boarding, serta dalam penerbangan, untuk menyerahkan pernyataan kesehatan mereka melalui SGAC e-Service sebelum kedatangan mereka di Singapura. 

Kartu embarkasi / disembarkasi berbasis kertas telah dihentikan dan tidak lagi didistribusikan oleh maskapai penerbangan yang beroperasi di Singapura.