Ruang kerja GM The Phonix Hotel Yogyakarta yang merupakan ruang kerja Presiden RI pertama, Ir.Soekarno. ( Foto: Dok. Hotel)
Direktorat Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional I Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Parekraf mengundang bisniswisata. co.id untuk menghadiri Rapat Kordinasi Desa Wisata Super Prioritas Borobudur di Hotel The Phoenix Hotel Yogyakarta – MGallery Collection. Berikut tulisan ke delapan
YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id:Jelang Senin sore lalu, rombongan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf) dari Jakarta tiba di The Phonix Hotel Yogyakarta di kawasan jl.Jendral Sudirman.
Agnes Andrike, Assistant Director of Sales hotel menyambut dengan menyiapkan welcome drink dan kue bakpia khas Yogyakarta yang bertekstur lembut dan langsung disantap oleh anggota rombongan.
” Kue Bakpia home made dan bisa dipesan sehari sebelumnya jika mau untuk oleh-oleh,” kata Agnes Andrike sambil menjelaskan pada kepala rombongan mengenai kesiapan ballroom yang akan digunakan untuk Rapat Kordinasi Desa Wisata Super Prioritas Borobudur keesokan harinya.
Saat menyodorkan kartu namanya tertulis MGallery Hotel Collection yang membuat saya penasaran maksud dari tulisan itu. Agnes menjelaskan pada 2018 lalu bangunan utama hotel telah berusia 100 tahun dan banyak menyimpan memorabilia Presiden Pertama RI yaitu Ir Soekarno yang pernah berkantor di gedung utama hotel.
” MGallery Hotel Collection itulah yang kami tonjolkan sebagai salah satu daya tarik utama diantara puluhan hotel lainnya di Yogya,” kata Agnes sambil menambahkan usia hotel dari jaringan Accor itu sendiri belum berusia seabad.
Menyadari banyaknya koleksi benda-benda di hotel dan kontribusi bangunan dari The Phoenix Hotel Yogyakarta terutama pada saat perpindahan ibukota Republik Indonesia pada tahun 1946-1949 maka keindahan interior, koleksi barang seni dan fungsi hotel itulah yang kini difokuskan Agnes & tim untuk membangkitan kegiatan MICE di hotelnya.
Pada masa itu, presiden RI ke-1 sempat tinggal dan berkantor di gedung kuno ini. Ruangan yang pernah dipakai sebagai kantor Presiden Soekarno berada di lantai 2, dan untuk menuju ke sana harus melewati tangga putar besi yang antik.
Ruangan kantor ini memiliki sebuah balkon yang konon bisa digunakan Soekarno jika dalam kondisi darurat hendak meminta bantuan dari kraton Yogyakarta. Kini General Manager hotel itu berkantor di ruangan tempat Presiden Soekarno bekerja dulu.
Bangunan utama berusia satu abad padukan modernisasi dan tradisional. ( Foto-foto Arum Suci Sekarwangi)
Saat pandemi ini, keunggulan lain dari The Phonix Hotel adalah karena setiap kamar sirkulasi udaranya dari Air conditioner ( AC) yang masing-masing terpisah bukan sistem sentral.
“Kamar-kamar dari bangunan baru membentuk huruf U dan semua menghadap kolam renang. Jika tidak menggunakan AC bisa buka lebar-lebar jendela dan menikmati keindahan kolam renang,” kata Agnes.
Hotel ini hanya berjarak beberapa langkah saja dari ikon kota Yogya, yaitu monumen Tugu peninggalan jaman kolonial Belanda setelah tugu sebelumnya runtuh akibat gempa yang terjadi waktu itu.
Tugu yang terletak di perempatan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Margo Utomo ini, mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut Selatan, Kraton Jogja dan gunung Merapi.
Banyaknya benda kenangan bisa menjadi sarana edukasi bagi rombongan keluarga maupun komunitas untuk kembali ke masa satu abad yang lalu dengan keramahan Agnes dan staff lainnya dari hotel ini yang diyakini semakin membuat tamu betah menginap.
Sejarah singkat
Nah bersiaplah menyusuri lorong ‘waktu’ terutama pada bangunan asli hotel ini yang ada di bagian depan, yaitu mulai dari halaman, lobby hingga koridor dekat Cendrawasih Meeting Room.
Tersebutlah kisah pada tahun 1918 bangunan ini adalah rumah tinggal seorang saudagar dari Semarang bernama Kwik Djoen Eng. Terkena dampak resesi ekonomi di tahun 1930, dia kemudian menjual rumahnya pada Liem Djoen Hwat, yang kemudian meyewakannya pada seorang pengusaha Belanda, D. N. E Franckle. Oleh penyewanya rumah ini dijadikan hotel dengan nama Splendid Hotel.
Sekitar 12 tahun kemudian, saat pendudukan Jepang di Indonesia hotel ini dikuasai oleh Jepang dan berganti nama menjadi Yamato Hotel. Di tahun 1945 saat Jepang meninggalkan Indonesia, hotel ini dikembalikan kepada pemiliknya, Liem Djoen Hwat.
Setelah Indonesia merdeka, karena situasi genting di Jakarta maka pada tahun 1946-1949 ibukota negara dipindah ke Yogyakarta. Pada masa ini bangunan hotel difungsikan sebagai kediaman resmi Konsulat China.
Di tahun 1951 bangunan ini disewa oleh Direktorat Perhotelan Negara dan Pariwisata dan dijadikan hotel bernama Hotel Merdeka. Cukup lama Hotel Merdeka ini beroperasi hingga pada tahun 1988 hingga akhirnya Sulaeman, cucu Liem Djoen Hwat, mengambil alih dan memutuskan untuk mengelola sendiri hotel ini.
Ditangan ahli waris, proses renovasi bangunan ini mulai dilakukan dan selesai di tahun 1993. Kapasitas hotel menjadi 66 kamar karena ada penambahan bangunan baru. Pada 18 Maret 1993 hotel ini resmi beroperasi di bawah manajemen keluarga Sulaeman dengan nama Phoenix Heritage Hotel.
Berkat konsistensinya mempertahankan arsitektur bangunan kuno, pada 1996 bangunan asli hotel ini dideklarasikan sebagai bangunan cagar budaya. Hotel ini juga menjadi contoh terbaik The 19th Century Indische Architecture, berkat perpaduan gaya Eropa yang artistik dengan elemen Cina dan Jawa.
Ketiga unsur tersebut berpadu menggabungkan modernitas dan nilai-nilai tradisional. Nuansanya seperti sedang berada di rumah sendiri karena sejak awal memang merupakan kediaman pribadi pemiliknya.
Pada tahun 2003 Phoenix Heritage Hotel berpindah kepemilikan ke tangan Imelda Sundoro Hosea, seorang pengusaha asal kota Solo. Ia berkomitmen untuk terus menjaganya sebagai bangunan warisan budaya.
Menggandeng jaringan hotel internasional, AccorHotel, Imelda mewujudkan visinya menjadikan hotel ini sebagai hotel bintang lima. Kemudian renovasi besar-besaran pun dilakukan untuk menyesuaikan standar internasional dari pihak AccorHotel.
Sempat selama satu tahun berhenti beroperasi karena renovasi maka pada 2004 hotel ini dibuka kembali dan menggunakan nama Grand Mercure Yogyakarta dengan kapasitas 144 kamar dan merupakan hotel butik bintang 5.
Rebranding dilakukan pada tahun 2009 dengan mengganti nama hotel kembali ke nama pemberian keluarga Liem Djoen Hwat. Kata ‘Phoenix’ yang memiliki arti ‘keabadian’, kembali digunakan. Grand Mercure Yogyakarta berganti nama menjadi The Phoenix Hotel Yogyakarta, a Member of MGallery Collection.
Di tahun 2016 pihak manajemen AccorHotel mengubah nama MGallery Collection menjadi MGallery by Sofitel hingga sekarang. Fasilitas yang ada a.l ruang spa, fitness, kolam renang dilengkapi dengan kursi-kursi untuk berjemur. Di selasar dan teras-teras hotel ini banyak sekali spot antik berisi barang-barang kuno.
Mata seolah dimanjakan dengan keindahan mulai dari gagang pintu yang antik hingga ukiran, lukisan, karya seni patung keramik maupun patung penari Bali dari uang logam kuno. Di sudut lainnya ada guci setinggi manusia, piring-piring China dan barang antik lainnya dalam museum.
Benda-benda antik dari Nusantara maupun dari China tersebar di berbagai sudut ruangan. ( Foto: Arum Suci Sekarwangi)
Banyaknya koleksi benda-benda antik juga karena hasil buruan pemilik hotel saat traveling ke berbagai penjuru dunia. Hotel ini memiliki kamar sebanyak 143 buah, 8 ruang pertemuan, 1 ballroom, kolam renang, spa, ruang fitnes, butik, dan cake shop.
Motif batik bergambar burung Phoenix yang menjadi hiasan dinding ini sudah dipatenkan menjadi motif milik The Phoenix Hotel Yogyakarta yang ada di setiap kamar.
Di halaman antara gedung belakang dan depan, ada sebatang pohon Tanjung yang tinggi. Rupanya pohon tersebut ditanam oleh presiden RI ke-1 pada tahun 1951. Pohon tersebut dipertahankan dan dipelihara karena merupakan bagian dari sejarah hotel ini.
Hal yang paling menarik buat saya adalah jejak publikasi jaman baheula. Ada sebuah pigura berisi koran terbitan 1918. Wow coba bayangkan, kertasnya saja sudah seabad umurnya.
Di teras belakang yang difungsikan sebagai restoran, perpaduan tiga budaya terasa kental sekali. Arsitektur bangunan bergaya Eropa berpadu dengan desain dan motif keramik China dan furnitur ukiran khas Jawa.
Di gedung bagian depan ini ada sebuah ruangan yang berisi banyak barang-barang antik bersejarah. Ruangan ini juga berfungsi sebagai bagian dari lobby hotel dimana saat kami datang juga jadi tempat pameran lukisan bagian dari Festival Kebudayaan Yogyakarta bertajuk Mulanira2.
Saat duduk-duduk di sini kita bisa menikmati koleksi barang antik yang dipajang. Meja kursi yang digunakan untuk duduk di ruangan ini pun merupakan barang antik yang usianya cukup tua.
Sebelum beranjak menuju kamar di lantai dua, saya menikmati sejenak nuansa tradisional di dalam ruangan sambil berzikir agar jangan hanyut pada suasana hening ‘ Ngelangut”.
‘Ngelangut’ bisa digambarkan sebagai keadaan terhanyut dalam suasana yang membuat saya merasakan keheningan dan kilas balik pada kehidupan bersama almarhum kedua mertua maupun almarhum suami asal Yogya yang kental dengan kehidupan ala keraton dan rumah lama mereka yang kini semua tinggal kenangan.
Keluar dari lorong ‘waktu’ saya memilih naik tangga menuju kamar sebelum lift dan mendapatkan roommate baru saja menyelesaikan sholat Asharnya.
Berbekal kunci kamar saya pamit untuk ke makam Gambiran, sekitar 5 km dari hotel untuk berdoa langsung ditengah makam orang-orang terkasih. Bismillah Tawakkaltu’ Ala Allah, Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah sekaligus doa untuk tugas empat hari ke depan.
LONDON, bisniswisata.co.id: Malaysia mendapat pengakuan di International Medical Travel Journal (IMTJ) Medical Travel Awards 2020 dengan memenangkan penghargaan Health and MedicalTourism: Destination of the Year, yang diserahkan dalam upacara virtual dari London semalam.
Sebelumnya, Malaysia Healthcare telah memenangkan penghargaan tersebut tiga kali berturut-turut dari tahun 2015 hingga 2017, yang mengukuhkan posisi Malaysia sebagai tujuan global untuk perawatan kesehatan (World Healthcare Marvel ).
Sementara di tahun 2020, Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC) juga untuk ke empat kalinya meraih penghargaan Cluster of the Year. Penghargaan diberikan atas soliditas kemitraan publik-swasta yang telah menjadi bagian integral perkembangan Malaysia Healthcare selama beberapa tahun terakhir, dan mencerminkan komitmen memberikan layanan perawatan kesehatan berkesinambungan di tengah pandemi COVID-19.
Pada IMTJ Medical Travel Awards 2020, beberapa institusi perawatan kesehatan swasta terkemuka Malaysia juga meraih kemenangan bergengsi yaitu :
* Thompson Hospital Kota Damansara, meraih penghargaan Best Quality Initiative
* Sunway Fertility Centre – International Fertility Clinic of the Year
* Prince Court Medical Centre – International Hospital of the Year
* Sunway Eye Centre – International Eye Clinic of the Year
Menurut CEO MHTC, Sherene Azli dua penghargaan yang diraih, memotivasi manajemen MHTC untuk menjaga kualitas layanan kesehatan yang diberikan. Malaysia ditahun 2019 menerima kunjungan wisatawan untuk perawatan kesehatan mencapai 1,3 juta wisatawan.
Khusus dalam menghadapi pandemic COVID-19, Malaysia Healthcare secara proaktif menyusun rencana pemulihan industri wisata kesehatan dengan menyoroti kemampuan dan kekuatan negara sebagai penyedia layanan kesehatan berkualitas kelas dunia.
Para penari dari Sanggar Tari Chakil Square Art Community, Yogya, menghibur peserta Rakor Desa Wisata. ( Foto: @adjitropis)
Direktorat Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional I Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Parekraf mengundang bisniswisata. co.id untuk menghadiri Rapat Kordinasi Desa Wisata Super Prioritas Borobudur di Hotel The Phoenix Hotel Yogyakarta – MGallery Collection. Berikut tulisan ke tujuh
YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Komitmen Kemenparrkraf untuk memberdayakan pelaku ekonomi kreatif di masa pandemi dibuktikan dengan melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan.
Mendorong para pelaku terus berkarya dengan melibatkan mereka dalam kegiatan webinar hingga kegiatan Meeting, Incentive, Conference & Exhibition ( MICE) kerap dilakukan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenparekraf untuk memberdayakan kalangan seniman.
Seperti yang dilakukan pada Rapat Kordinasi Pengembangan Desa Wisata Destinasi Super Prioritas ( DSP) Borobudur dilanjutkan sosialisasi program Cleanliness, Healthy, Safety & Environment Sustainability (CHSE) di Yogya dan Magelang serta Visitor Management dari 22-26 September 2020.
Sebuah tarian tradisi kreasi baru yang dibawakan empat penari wanita yang muda dan cantik dari Sanggar Tari Chakil Square Art Community, Yogya mengawali kegiatan Rakor.
“Selama pandemi Covid-19, panggilan untuk pementasan tari sangat berkurang. Banyak event yang cancel, otomatis kita terkena dampaknya langsung,” kata Bramantyo Fendy, Sekretaris Sanggar Tari Chakil Squad Art Community. Belakangan ini kegiatan kepariwisataan yang melibatkan Ekraf sudah mulai menggeliat lagi.
Pihaknya sudah beberapa kali tampil antara lain 2 kali mengisi opening webinar Kemenparekraf. Selain itu juga tampil merayakan sewindu keistimewaan DIY dan minggu lalu ditunjuk Bank Indonesia DIY untuk mengikuti Fesyar secara daring, terang Bramantyo seraya berharap agar setiap event yang diadakan Kemenparekraf selalu melibatkan seniman.
Kali ini dia bersama empat penari yaitu Tutu Wisti, Agatha Ratu, Tiara, dan Cindy membawakan Tari Merak ciptaan Tejo Sulistyo pada pembukaan rakor yang berdurasi sekitar 7 menit.
Salah satu ragam tarian kreasi baru ini mengekspresikan kehidupan burung merak yang diangkat ke pentas oleh Tejo Sulistyo,” ungkap Bramantyo disela-sela acara rakor.
Tarian tersebut, lanjut Bramantyo bisa dibawakan penari perempuan secara tunggal, kelompok kecil maupun kelompok besar atau kolosal.
“Sanggar kami pernah membawakan tarian itu secara kolosal sebanyak 50 penari perempuan di sebuah acara di Klaten,” terangnya.
Selain untuk pembukaan acara formal seperti rapat, rakor, gathering, dan lainnya, Tari Merak ini juga biasa ditampilkan untuk acara pernikahan dan lainnya.
Kesenian Kubro Siswo dari para penari tingkat Sekolah Dasar. ( Foto: HAS) been
Di hari berikutnya Kesenian tradisional Kubro Siswo juga menyemarakkan acara penyerahan dukungan barang CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety & Environmental Sustainability) di Taman Buah, Desa Wisata Karangrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Selasa (23/9/2020).
Bantuan alat kebersihan dan kesehatan ini diberikan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) lewat Deputi Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur kepada empat desa wisata di Destinasi Super Prioritas (DSP) Borobudur.
Dr. Ir. Hari Sungkari, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf menjelaskan pihaknya sengaja meminta kesenian tradisional Kubro Siswo yang ditampilkan dibawakan oleh para pelajar SD.
“Tujuan untuk melestarikan dan memperkenal-kannya ke masyarakat luas serta sekaligus mengangkat kearifan lokal yang ada di desa wisata ini,” kata Hari Sungkari.
Menurut dia, setiap desa wisata semestinya memang harus mengangkat kearifan lokal dan kesenian tradisionalnya yang dibungkus dengan kemasan kekinian agar kaum milenial mau melihat dan mendengarkan.
Itulah ekonomi kreatif atau Ekraf karena pariwisata era sekarang digabungkan dengan Ekraf. Mengingat kondisi saat ini masih pandemi Covid-19 dan harus menerapkan protokol kesehatan, maka pertunjukan seni baik musik, tari dan lainnya bisa dilakukan secara virtual, tambahnya.
“Jangan karena belum ada atau masih sedikit wisatawan yang datang terus tidak ada pertunjukan seni yang bermuatan lokal. Sebagai solusinya bisa dengan pertunjukan virtual atau secara daring supaya desa wisata di DSP Borobudur ini bisa tetap eksis dan terpromosikan aktivitasnya di medsos dan lainnya,” jelas Hari.
Para penari dari siswa-siswi SD setempat kelas 2 hingga 4. Mereka tampil di awal acara mengenakan kaos dan celana pendek seperti pakaian bola namun dengan rompi yang meriah. Gerakan mereka cukup enerjik seperti gerakan yang menggambarkan suasana perang.
Tarian mereka diiringi musik tradisional seperti suling, jedhor, kendang dan bende. Sepanjang atraksi diiringi beberapa lagu yang dinyanyikan dua pria dewasa. Kedua penyanyinya kadang membunyikan peluit untuk memberikan aba-aba pergantian gerakan tarian.
Kubro Siswo merupakan kependekan dari Kesenian Ubahing Badan Lan Rogo yang memiliki arti “kesenian mengenai gerak badan dan jiwa”. Kesenian Kubro Siswo yang mirip kuda lumping ini berkembang di daerah Magelang dan Yogyakarta.
Pada awalnya kesenian tradisional ini menggam-barkan penyebaran Islam di Pulau Jawa. Lagu-lagu pengiring tarian Kubro Siswo umumnya berisikan ajakan untuk melakukan ibadah salat lima waktu, sedekah, dan ajakan kebaikan lainnya.
Biasanya tarian ini dipentaskan oleh para penari lelaki yang terdiri atas 15-20 orang di acara-acara penting seperti peringatan hari kemerdekaan Indonesia, pesta pernikahan, khitanan, dan pembukaan acara peresmian sebagai hiburan.
Menggali potensi kopi lokal sekaligus acara penguatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) kepada warga kawasan Mataram, NTB. ( Foto: Kemenparekraf)
LOMBOK, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berupaya menggali potensi kopi lokal di destinasi wisata Mataram, Nusa Tenggara Barat, sebagai upaya memperkuat pengembangan pariwisata.
Untuk itu, Kemenparekraf/Baparekraf salah satunya menggelar acara penguatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) kepada warga kawasan Mataram, NTB, dan sekitarnya, terutama bagi para pecinta kopi dan pengusaha kopi di daerah tersebut.
Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi Kemenparekraf/ Baparekraf, Ari Juliano Gema, Sabtu (26/9/2020), menjelaskan bahwa NTB memiliki kekayaan alam berupa kopi, yang memiliki ciri khas berbeda baik dari segi rasa maupun aroma.
“Ini menjadi salah satu kekayaan alam NTB dan sangat potensial untuk dipasarkan di market internasional,” kata Ari.
Maka, masyarakat NTB pun dituntut untuk memahami dengan baik dalam memproduksi kopi agar dapat mendorong industri kopi yang berdaya saing. Dengan begitu industri ekonomi kreatif di Indonesia secara menyeluruh dapat berkembang.
Pelaku usaha kopi diharapkan memiliki improvisasi baik dalam pembuatan dan penyajiannya, karena bisa jadi nanti NTB bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata kopi.
“Kami mengajak lebih banyak masyarakat terjun ke usaha kopi misalnya menjadi barista. Seorang barista itu adalah seniman atau artis, karena di tangannya hanya sebuah biji, menjadi minuman dengan rasa dan kreasi yang berbeda-beda,” ujar Ari.
Masyarakat NTB juga didorong untuk tak hanya paham dalam memproduksi kopi, tapi juga memiliki pengetahuan mengenai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terutama terkait Indikasi Geografis juga merupakan hal yang penting.
“Diharapkan masyarakat dapat memupuk rasa bangga bahwa Indikasi Geografis yang dimiliki secara komunal ini adalah sesuatu yang berharga dan dapat dikomersialisasi,” jelas Ari.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat, H. Lalu Mohammad Faozal, menjelaskan selama ini tanaman kopi tumbuh subur di tanah NTB.
Meski demikian, masih diperlukan pemahaman bagi para pelaku wisata yang memiliki usaha kedai kopi maupun produsen kopi untuk memahami HKI, terutama indikasi geografis dari produknya.
“Kopi di NTB cukup banyak ragamnya, namun butuh kerja sama untuk mempersiapkan industri dari hulunya, kami butuh sumber daya manusia yang siap dan paham dengan kopi di daerah kami,” ujar Lalu.
Acara penguatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Mataram, NTB ini, diikuti oleh 30 peserta yang memiliki minat khusus di bidang kopi, di antaranya berasal dari Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Tengah, dan Kabupaten Lombok Timur.
Kapal pesiar kembali berlayar dengan protokol kesehatan yang ketat (foto: travel news digeset)
WASHINGTON DC, bisniswisata.co.id: Kapal pesiar bersiap-siap untuk kembali berlayar. Asosiasi Kapal Pesiar Internasional (CLIA) telah mengeluarkan protokol kesehatan yang harus dipatuhi para pelaku industri ini.
Protokol kesehatan khusus ini wajib diterapkan dengan ketat sejak dari keberangkatan, di atas kapal, hingga pelabuhan tujuan. Aturan ini berlaku baik untuk kru maupun para tamu, demikian dilansir dari keterangan pers CLIA yang diterima bisniswisa.co.id.
Sebagai informasi, bisnis wisata kapal pesiar termasuk sektor yang paling terpukul karena pandemi COVID-19. Dalam beberapa kasus, kapal pesiar bahkan dianggap sebagai klaster penyebaran virus corona.
Padahal selama 2019, ada 30 juta turis yang berlayar dengan kapal pesiar. Angka ini pun rontok saat virus corona mulai mewabah pada awal 2020.
Kini, sejumlah kapal pesiar berencana untuk segera kembali berlayar. CLIA mendukung rencana itu terutama untuk pelayaran di wilayah Karibia, Meksiko, dan Amerika Tengah
Lalu bagaimana kapal pesiar menerapkan protokol kesehatan? Berikut ini sejumlah elemen inti yang wajib dipatuhi:
Testing. Pengujian COVID-19 [untuk memastikan bebas virus corona 100%] bagi seluruh penumpang dan crew sebelum embarkasi
Memakai masker. Seluruh penumpang dan crew wajib memakai masker saat di atas kapal dan selama berlayar terutama jika tidak dapat menjaga jarak sosial
Berjarak. Jaga jarak sosial baik di terimanal, saat di kapal, berada di pulau pribadi, dan selama berlayar.
Ventilasi. Ventilas udara perlu dikelola dengan baik guna meningkatkan sirkulasi udara segara ke dalam kapal. Jika memungkinkan gunakan filter atau teknologi lain untuk mengurangi risiko.
Kemampuan medis: kapal-kapal pesiar yang hendak berlayar wajib melengkapi diri dengan kemampuan serta fasilitas medis yang handal termasuk kapasitas kabin khusus untuk isolasi dan tindakan operasional lain. Menyiapkan fasilitas karantina di pelabuhan, layanan medis dan sarana transportasi.
Wisata pantai: hanya dilakukan dengan seizin operator kapal pesiar yang telah memperhatikan protokol kesehatan. Aturan ini wajib dipatuhi semua penumpang. Mereka yang menolak atau melanggar peraturan akan ditolak naik kembali ke kapal pesiar.
Klasifikasi hotel berdasarkan bintang (foto: shutterstock)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Saat kita merencanaka untuk bepergian, memilih hotel menjadi salah satu daftar penting yang harus dilakukan. Menyortir hotel berdasarkan klasifikasi bintang membantu kita menemukan akomodasi yang pas sesuai budget, kebutuhan, maupun selera.
Secara umum berlaku prinsip: semakin tinggi klasifikasi bintang yang tersemat pada hotel, semakin mewah dan lengkap fasilitas yang ditawarkan.
“Penilaian penggolongan kelas Hotel Bintang dan penetapan Hotel Non Bintang dilakukan setelah seluruh Persyaratan Dasar dapat terpenuhi,” kata Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, dalam siaran resmi Pegipegi.
Hotel yang belum mencapai nilai minimal yang ditentukan untuk golongan kelas hotelnya, harus memperbaiki atau memenuhi kekurangannya paling lambat dalam waktu enam bulan.
Apabila dalam jangka waktu tersebut hotel tidak melaksanakan perbaikan, maka hotel itu akan digolongkan ke dalam kelas bintang yang lebih rendah, ujar Hariyadi.
Pelaksanaan penilaian sertifikasi usaha hotel dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Usaha (LSU) Bidang Pariwisata yang berkedudukan di wilayah Indonesia.
Lalu, apa bedanya hotel bintang empat dan bintang lima? Seperti apa fasilitas yang harus ada di hotel berbintang? Mari kenali fasilitas hotel berdasarkan klasifikasi bintang di bawah ini.
Hotel Non Bintang
Hotel ini biasanya disewakan dengan harga yang relatif murah. Fasilitas yang dimiliki juga standard. Biasanya, hotel ini disebut juga dengan hotel budget. Kriteria hotel non bintang, antara lain punya kamar sederhana dan kamar mandi biasanya terletak di luar.
Hotel Bintang Satu
Hotel bintang satu biasanya dikelola langsung oleh si pemilik dan ukurannya relatif kecil. Namun, hotel ini berlokasi strategis, di tempat ramai, dan memiliki akses ke transportasi umum. Tentu saja harganya jauh lebih murah. Kriterianya, antara lain punya kamar tipe standard dengan jumlah kamar minimal 15, kamar mandi di dalam dan luas kamar minimal 20 meter persegi.
Hotel Bintang Dua
Akses menuju hotel bintang dua biasanya bisa dicapai dengan mudah. Hotel bintang dua berlokasi di lingkungan yang aman, bersih, dan bebas polusi. Gedungnya juga terawat dan rapi. Kriterianya adalah punya kamar standard minimal 20 dengan luas minimal 22 meter persegi, punya kamar suite minimal satu kamar seluas minimal 44 meter persegi, kamar mandi di dalam, tersedia TV dan telepon di setiap kamar.
Di hotel ini, pintu kamar harus dilengkapi pengaman. Kamarnya dilengkapi AC dan jendela. Hotel bintang dua juga harus punya lobi, sarana olahraga, rekreasi dan bar. Fasilitas penerangannya 150 lux.
Hotel Bintang Tiga
Dari hotel bintang tiga, Anda lebih punya akses mudah untuk menjelajah tempat wisata, pusat belanja, dan pusat bisnis. Lokasinya juga dekat tol, jadi bukan hanya cocok untuk wisatawan, tapi juga untuk pebisnis. Para karyawannya juga terlihat rapi, profesional, dan siap melayani tamu dengan ramah.
Kriterianya adalah punya lobi berdesain apik, punya kamar standard minimal 30 dengan luas minimal 24 meter persegi, punya kamar suite minimal dua dengan luas minimal 48 meter persegi.
Kamar mandi di dalam, punya toilet sendiri. Selain sarana rekreasi dan olahraga, harus ada restoran yang menyediakan makanan pagi, siang dan malam. Hotel bintang tiga juga punya valet parking.
Hotel Bintang Empat
Hotel ini memiliki bangunan yang luas dan cukup besar, dekat dengan tempat wisata, tempat belanja, dan pusat hiburan. Kriteria hotel bintang empat adalah punya kamar tipe standard minimal 50, kamar suite minimal tiga yang luas minimalnya sama dengan hotel bintang empat.
Tamu juga bisa menikmati kamar mandi malam dengan fasilitas air panas atau dingin. Lobi di hotel bintang empat minimal seluas 100 meter persegi.
Hotel Bintang Lima
Hotel bintang lima hotel termewah dengan pelayanan multibahasa. Karena sangat mementingkan tamu, maka setiap tamu yang datang akan disambut dengan ramah oleh staf.
Setiap tamu yang akan menginap juga diberikan welcome drink, bahkan diberikan daftar anggur yang bisa dipilih saat masuk ke kamar hotel.
Hotel bintang lima harus punya kamar tipe standard minimal 100 (luas minimal 26 meter persegi), minimal empat kamar suite (luas setidaknya 52 meter persegi), kamar mandi dalam dengan air panas atau dingin.
Tempat tidur dan perabotan dalam kamar harus berkualitas tinggi dan ada fasilitas restoran selama 24 jam serta makanannya pun bisa diantar ke kamar. Hotel bintang lima pun menyediakan pusat kebugaran dan valet parking.
ENDE, NTT, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) berkolaborasi dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menggelar bimbingan teknis peningkatan kapasitas SDM Desa Wisata Pemo di Kabupaten Ende, NTT.
Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Kemenparekraf/Baparekraf Wawan Gunawan menjelaskan, pemerintah ingin agar Desa Wisata Pemo dapat mempersiapkan SDM sebagai salah satu faktor utama kesiapan menjadi desa wisata.
Apalagi masing-masing desa memiliki potensi keindahan alam dan budaya sehingga bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke Ende.
“Kami berkolaborasi dengan Kemendes PDTT untuk mengembangkan desa wisata dan masyarakatnya. Masing-masing desa memiliki daya tarik dan potensi wisata alam yang mengagumkan,” ujarnya.
Koordinator Area I Direktorat Pengembangan Destinasi Regional II Kemenparekraf, Eddy Susilo, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa untuk mensukseskan Desa Pemo sebagai desa wisata, masyarakat harus sepenuh hati serta saling bekerjasama guna dapat mensejahterakan Desa Pemo melalui Pariwisata.
“Kegiatan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas SDM Desa Wisata Pemo di Destinasi Super Prioritas Labuan Bajo ini memang tidak dilaksanakan dalam waktu yang lama, namun kami berharap kegiatan kali ini dapat memotivasi masyarakat agar dapat memperoleh hidup yang sejahtera melalui pariwisata,” ungkap Eddy Susilo.
Kegiatan berlangsung di Visitor Center Taman Nasional Kelimutu, Ende, NTT, Kamis (24/9/2020), dengan menghadirkan beberapa narasumber diantaranya, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Moni, Fransiskus Rodja, Kepala Sub Direktorat Pariwisata Kemendes PDTT, Enny Indarti.
Hadir pula Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Ende, Albert Yani, penggiat pariwisata Desa Wisata Pentingsari, Doto Yogantoro serta Penggiat Ekonomi Kreatif Ende, Valentinus Reku.
Eddy Susilo mengatakan masyarakat harus memiliki kesepahaman, pemikiran, serta kebersamaan dalam membangun pariwisata di Desa Pemo. Pihaknya ingin memotivasi masyarakat sebagai pelaku wisata.
Sebab nantinya masyarakat akan menjadi salah satu faktor penting dari desa wisata, maka masyarakat harus siap. Selain itu menerapkan protokol kesehatan di desa wisata menjadi hal yang penting di era kenormalan baru,” ujarnya.
Kepala Desa Pemo, Xaverius Pemo, menyampaikan rasa terima kasih atas terlaksananya kegiatan ini di desanya. Ia juga berharap dukungan lain dari pemerintah untuk dapat menunjang faktor pendukung perkembangan desa.
“Kami juga berharap dapat terus bekerjasama dengan pemerintah baik di kabupaten, provinsi serta pusat dalam mengembangkan desa kami, karena sebelumnya kami sudah berhasil melaksanakan kerjasama dengan Balai Taman Nasional Kelimutu untuk menciptakan atraksi penunjang Kelimutu, diantaranya Taman Edelweiss dan Taman Stroberi,” kata dia.
Sebelumnya kegiatan bimbingan teknis peningkatan SDM juga digelar di Desa Nduaria dan Desa Woloara. Sama seperti kegiatan yang berlangsung di Desa Nduaria dan Desa Woloara pada 22 dan 23 September 2020 juga dilaksanakan kegiatan bersih-bersih sebagai aksi nyata dalam mempersiapkan Desa Pemo sebagai desa wisata.
Dalam kegiatan itu Kemenparekraf/Baparekraf juga mendedikasikan perlengkapan penerapan protokol CHSE _(Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability)_ berupa seperangkat alat kebersihan, signage (papan) sapta pesona serta wastafel yang diharapkan dapat menjadi penunjang Desa Pemo sebagai desa wisata.
Suasana ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta, Jakarta yang masuk peringkat bandara teraman di Asean. ( Foto: HAS)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sementara asosiasi perjalanan telah mendesak pemerintah untuk membangun kembali konektivitas global dan membuka kembali perbatasan, mereka memahami bahwa keselamatan mengatur tempat parkir pesawat dan orang-orang hanya bersedia untuk keluar jika pemangku kepentingan memprioritaskan kesehatan para pelancong.
Dilansir dari Seasia, masalah keamanan muncul sejak orang keluar dari rumah mereka, persepsi ruang publik tertutup telah berubah secara drastis dan bandara tidak terkecuali. Bandara memainkan peran penting dalam memudahkan penumpang memasuki kondisi normal baru.
Bandara adalah garis pertahanan pertama dalam memastikan perjalanan yang aman dan tidak menimbulkan kecemasan.
Menyusul pengumuman maskapai teraman, Safe Travel Barometer kini telah merilis Skor Safe Travel untuk bandara di seluruh dunia. Skor ini adalah inisiatif pemeringkatan industri pertama, berdasarkan Tidak jauh dari Changi adalah Bandara Frankfurt, Bandara Internasional Shuangliu Chengdu, dan Bandara Internasional Indira Gandhi Delhi.
Masing-masing terikat pada Skor Perjalanan Aman 4,6 dari 5. Bandara Internasional Abu Dhabi UEA dan Bandara Internasional Dubai terikat pada skor 4,5. Bandara Internasional Kempegowda Bengaluru juga berhasil masuk 10 besar dunia. Audit independen terhadap lebih dari 200 bandara dan 20 langkah kesehatan dan keselamatan wisatawan yang diumumkan oleh bandara.
Dengan skor 4,7 dari 5, Bandara Changi di Singapura telah dinilai sebagai yang teraman di lebih dari 200 bandara yang dievaluasi oleh Safe Travel Barometer. Skor Perjalanan Aman merupakan indikator kesiapan industri perjalanan sebagai bagian dari New Normal (‘normal baru’).
Tidak jauh dari Changi adalah Bandara Frankfurt, Bandara Internasional Shuangliu Chengdu, dan Bandara Internasional Indira Gandhi Delhi, masing-masing terikat pada Skor Perjalanan Aman 4,6 dari 5. Bandara Internasional Abu Dhabi UEA dan Bandara Internasional Dubai terikat pada 4,5 masing-masing. Bandara Internasional Kempegowda Bengaluru juga berhasil masuk 10 besar dunia.
Di Asia Tenggara, Bandara Chiang Mai berada persis di belakang Bandara Changi dengan 4,2 titik, diikuti oleh KLIA (Kualu Lumpur), Bandara Soekarno-Hatta (Jakarta), dan I Gusti Ngurah Rai (Bali).
Virendra Jain, Co-Founder dan CEO, Safe Travel, menyatakan, “Semalam, ratusan bandara di seluruh dunia harus meningkatkan proses operasional mereka; meneliti, mengevaluasi, dan menerapkan berbagai inisiatif untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan para pelancong dan kru, sekaligus meminimalkan kemungkinan penularan COVID19.
Penunggang unta di Kuil Agung Kerajaan Nabatean di Petra, Yordania, pada 4 Maret 2020. ( Foto: Shutterstock)
AMMAN, bisniswisata.co.id: Sebagian besar sektor pariwisata menderita selama krisis COVID-19 dengan pendapatan turun 63,7 persen selama tujuh bulan pertama tahun 2020, menurut data dari Bank Sentral Yordania (CBJ).
Dilansir Salaam gateway dari Jordan Times, data CBJ menunjukkan bahwa pendapatan pariwisata mencapai JD 819 juta pada periode yang sama, sementara pengeluaran orang Yordania menurun 67 persen, mencapai JD 205 juta.
Seorang perwakilan sektor mengatakan kepada The JordanTimes pada Rabu lalu bahwa tampaknya “tidak ada visi yang jelas tentang kemana sektor ini akan pergi atau solusi untuk menyelamatkannya”.
“Pariwisata Jordania membutuhkan likuiditas, setidaknya untuk mendukung pekerja sektor. Sekitar JD165 juta akan cukup untuk mendukung 55.000 pekerja di sektor tersebut selama enam bulan dengan pendapatan JD500 per bulan,” kata Ketua Asosiasi Pemandu Pariwisata Yordania (JTGA), kata Raed Abdelhaq melalui telepon.
Abdelhaq mengatakan pendapatan sektor pariwisata tahun lalu mencapai lebih dari JD4 miliar. “Pemerintah telah menjelaskan bahwa tidak ada dana tunai sejak awal krisis; sektor tersebut menunjukkan ketahanan selama beberapa bulan, tetapi tidak akan dapat bertahan lebih lama pada tingkat ini,” katanya.
Pemilik perusahaan dan agen pariwisata, pemandu dan pemilik toko suvenir antara lain hanya fokus mengurangi kerugian mereka dan tidak mencari untung saat ini, tambahnya.
Presiden JTGA mengatakan bahwa dari 1.200 pemandu, hampir 200 orang dapat memperoleh manfaat dari pinjaman yang diberikan kepada sektor yang paling terpukul ini.
“Pariwisata tidak akan kembali seperti semula dalam waktu dekat, bahkan di musim semi mendatang akan buruk, dan kami tidak bekerja pula selama musim gugur. Kami mencoba memiliki harapan untuk membuat kami terus maju tetapi pemerintah perlu campur tangan untuk mengembalikan likuiditas ke dalam perekonomian, “kata Abdelhaq.
Nidal Bani Issa, ketua komite pariwisata inbound di Jordan Society of Tourism and Travel Agents (JSTA), mengatakan bahwa dampak pa demi pada agen pariwisata, agen haji dan umrah serta kantor tiket, sudah jelas sejak awal krisis. Sementara bandara dibuka untuk mereka yang kembali ke Yordania bukan turis.
Bani Issa mengatakan bahwa masih ada kendala teknis dan hambatan yang dihadapi para pelancong, terutama karena pelancong non-Yordania yang datang ke Kerajaan memerlukan berbagai persetujuan sebelum dan setelah kedatangan.
“Kami melakukan pertemuan dengan bidang manajemen krisis dan kementerian pariwisata maupun transportasi untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi industri wisata, dan mawisatayang timbul karena belum ada wisatawan yang masuk,” katanya.
Di beberapa daerah di Mesir dan Turki, Anda hanya diminta untuk mengikuti tes sekali pada saat kedatangan dan kemudian dapat memasuki negara tersebut, dan inilah yang kami coba lakukan, alih-alih mengharuskan pengunjung untuk test 72 jam sebelum keberangkatan dan sekali lagi saat tiba.
Kenaikan jumlah kasus di Yordania dan perubahan situasi epidemiologi juga mempengaruhi proses tersebut, tambahnya. Sebuah komite dari asosiasi sedang menghubungi Kementerian Luar Negeri untuk menempatkan Yordania pada “daftar hijau” negara lain, menurut ketua komite.
Perusahaan dan travel agent sepenuhnya ditutup, dan outbond tourism tidak beroperasi, kata Bani-Issa. Hal ini mencatat bahwa sektor yang mempekerjakan sekitar 9.000 pekerja ini semuanya saat ini menganggur.
Selain itu, ada ratusan orang yang datang ke Yordania, tetapi persetujuan yang diperlukan untuk orang non-Yordania telah menciptakan hambatan yang mencegah banyak orang menerima kode QR mereka untuk memungkinkan naik pesawat.
Akibatnya banyak pembatalan tiket mereka dan menyebabkan kerugian lebih lanjut pada tiket. “Situasinya sangat menyedihkan, sekitar 600 kantor kami ditutup, dan orang-orang kami yang cakap pindah ke sektor yang berbeda mencoba untuk bekerja di tempat lain daripada hanya menerima 50 persen dari gaji mereka, yang berarti kami harus membangun kembali seluruh sektor kalau suatu saat sudah kembali bekerja, “ujarnya.
Ekonom Husam Ayesh mengatakan bahwa sektor pariwisata khususnya membutuhkan pergerakan bebas dan “tidak ada batasan”, itulah sebabnya sektor ini paling menderita.
Dia mencatat bahwa jika Januari dan Februari dikecualikan dari perhitungan CBJ, dampaknya mungkin lebih tinggi dari penurunan 63,7 persen.
Di banyak negara, pendapatan pariwisata turun 100 persen karena aktivitas dihentikan sepenuhnya, tetapi tahun lalu pendapatan Kerajaan dari sektor tersebut melebihi JD4 miliar, dan diperkirakan akan meningkat tahun ini sebesar 7 hingga 10 persen, tetapi virus corona meredam harapan.
“Pemerintah, dalam menghadapi dampak pandemi, mungkin dapat berhenti menghitung pendapatan dari sektor tersebut dan mengatur ulang perannya dalam ekonomi dan anggaran,” kata ekonom itu, mencatat bahwa ini terjadi di setiap negara di sekitar dunia.
Ayesh mengatakan angka-angka tersebut menunjukkan mengapa investor sekarang lebih enggan untuk berinvestasi di sektor dan bisnis terkait restoran, hotel, maskapai penerbangan, dan lain-lain.
“Saat ini, tidak ada visi yang jelas di cakrawala untuk menyelamatkan sektor tersebut, yang membutuhkan langkah-langkah baru untuk beradaptasi dengan krisis virus dan, setidaknya, memungkinkan pergerakan pariwisata yang minimal,” katanya.
DUBAI, bisniswisata.co.id; Industri keuangan Islam global akan menunjukkan pertumbuhan satu digit rendah hingga menengah pada 2020-2021 setelah 11,4% pada 2019, kata S&P Global Ratings dalam prospek 2021 yang dirilis pada 22 September.
“Perlambatan signifikan ekonomi keuangan Islam inti pada tahun 2020, karena langkah-langkah yang diterapkan oleh berbagai pemerintah untuk mengatasi pandemi COVID-19, dan pemulihan ringan yang diharapkan pada tahun 2021, jelaskan harapan kami,” kata lembaga pemeringkat kredit tersebut.
Dilansir dari Salaam Gateway, diperkirakan aset keuangan Islam global, yang mencakup perbankan, sukuk, takaful, dan dana, adalah $ 2,4 triliun pada 2019.
PERBANKAN ISLAM
S&P mengharapkan perbankan Islam, yang merupakan komponen terbesar dalam industri global, untuk menunjukkan “pada total aset terbaik yang stabil atau pertumbuhan satu digit yang rendah” setelah peningkatan 6,6% pada tahun 2019.
“Pandemi COVID-19 akan menghentikan pertumbuhan di bank syariah dan konvensional GCC pada tahun 2020 karena mereka fokus pada menjaga kualitas aset daripada ekspansi bisnis,” kata laporan S&P.
Bank yang mematuhi hukum syariah cenderung melihat efek yang lebih besar pada indikator kualitas aset karena mereka biasanya memiliki proporsi eksposur yang lebih tinggi ke realestat dan tidak dapat membebankan biaya keterlambatan pembayaran, tambahnya. Badan ini juga memperkirakan pertumbuhan pinjaman akan melambat secara signifikan.
SUKUK
Menjelaskan prospek sukuk, yang merupakan komponen terbesar kedua dari aset keuangan syariah global, agensi mengatakan tidak melihat negara-negara inti keuangan Islam umenggunakan instrumen tersebut sebagai sumber pendanaan utama meskipun kebutuhan pembiayaan mereka lebih tinggi di tengah penurunan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi.
“Kami memproyeksikan volume penerbitan akan mencapai $100 miliar pada 2020 dibandingkan dengan $162 miliar pada 2019 – ketika Turki, yang mengembalikan penerbit GCC, Malaysia, dan Indonesia mendukung pasar,” kata S&P.
Korporasi juga tidak akan mendukung kenaikan sukuk tahun ini karena mereka menahan kas, memotong belanja modal dan beralih ke pembiayaan bank.
Lembaga pemeringkat mengatakan industri mungkin melihat tingkat default yang jauh lebih tinggi di antara penerbit sukuk, terutama mereka yang memiliki kualitas kredit rendah atau rencana bisnis yang bergantung pada ekonomi pendukung dan kondisi pasar.
TAKAFUL, DANA
S&P melihat sektor takaful berkembang pada tingkat menengah hingga satu digit, dan industri dana mungkin melihat beberapa efek negatif dari volatilitas pasar.
SILVER LINING
Namun, tidak semua malapetaka dan kesuraman dan S&P melihat pandemi sebagai peluang “untuk pertumbuhan yang lebih terintegrasi dan multifaset dengan standardisasi yang lebih tinggi, fokus yang lebih kuat pada peran sosial industri, dan penggunaan fintech yang lebih besar”.
Instrumen keuangan sosial Islam qardhsan, sukuk sosial, wakaf, dan zakat dapat membantu negara-negara Islam inti, bank, dan perusahaan menavigasi tantangan saat ini, kata S&P.
“Instrumen-instrumen ini, bersama dengan sukuk hijau – yang mengambil kursi belakang tahun ini – dan lapisan tambahan tata kelola bank dan instrumen syariah yang tunduk pada dapat membantu menempatkan industri ini lebih menonjol di radar investor ESG,” kata peringkat tersebut. agen.
FINTECH
S&P memilih beberapa masalah utama yang dikatakan menunjukkan bahwa “masih ada ruang untuk perbaikan” dalam fintech.
“Misalnya, karena kurangnya inklusi keuangan dan solusi digital khusus, pengiriman uang pekerja tertunda di beberapa negara karena tempat pertukaran dan transfer uang ditutup.
“Penataan dan penerbitan sukuk juga tertunda karena kurangnya fintech, meskipun telah dibuat platform baru di mana proses penerbitannya dilaporkan cukup efisien,” kata perusahaan tersebut, mengacu pada Wethaq yang diluncurkan tahun lalu di UEA dan diterima. izin percobaan fintech pada Juni tahun ini dari otoritas Saudi.