Mana yang Utama, Kesehatan VS Ekonomi ?

this formate

Obyek wisata Lumina di Grand Maerakaca, Semarang terapkan protokol kesehatan demi keamanan pengunjung. ( Foto: HAS) 

UPAYA  memulihkan aktivitas pariwisata digaungkan oleh semua asosiasi industri pariwisata dunia dan di tanah air. Maklum pandemi COVID-19 telah menjatuhkan perekonomian banyak negara. Bahkan beberapa negara telah masuk ke jurang resesi.

Menurut data Trading Economics. sedikitnya 50 negara termasuk negara-negara maju seperti Amerika Serikat yang telah resmi menyatakan resesi. Untuk AS hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonominya selama kuartal II nya tertekan dalam.

Tak heran organisasi dunia seperti Badan Pariwisata Dunia di bawah PBB (UNWTO), World Travel & Tourism Council ( WTTC), International Air Transport Association ( IATA) dan Airports Council International (ACI) sejak awal pandemi sudah gencar mengeluarkan berbagai rekomendasi, pernyataan sikap, seruan, himbauan dan rangkaian kampanye.

Pariwisata adalah penggerak utama ekonomi dunia, terhitung 7% dari perdagangan internasional.  Secara global, pariwisata menghasilkan secara langsung atau tidak langsung satu dari setiap sepuluh pekerjaan.  

Krisis COVID-19 telah hancurkan ekonomi pariwisata, dengan efek yang belum pernah terjadi sebelumnya pada pekerjaan dan bisnis.  Pariwisata adalah salah satu sektor pertama yang sangat terpengaruh oleh langkah-langkah penahanan COVID-19.

Pembatasan perjalanan yang sedang berlangsung dan resesi global yang membayangi masih ditambah  risiko menjadi salah satu sektor yang terakhir pulih. Kini 100 juta pekerjaan di sektor ini terancam kehilangan pekerjaan.

Hidup di era New Normal, ternyata adalah hidup berdampingan dengan COVID-19 yang belum ada vaksinnya dan diwarnai perdebatan seru antara mana yang diutamakan lebih dulu ?. Kesehatan atau ekonomikah ?. Seperti halnya ayam dan telur, mana yang lebih dulu utamanya ?

Industri pariwisata termasuk industri penerbangan di dalamnya giat mengkampanyekan safe travel. Di tanah air, Indonesia National Air Carriers Association (INACA) sejak awal Agustus lalu juga sudah mengkampanyekan program safe travel  ini.

Inti dari seruan-seruan dan kampanye juga terkait dengan menyelamatkan industri penerbangan nasional dinegara masing-masing dengan suntikan dana tanpa harus berhutang, maupun permintaan IATA agar biaya rapid test misalnya, ditanggung oleh pemerintah bukan konsumen calon pengguna angkutan udara.

Endorse pada selebgram untuk mengajak masyarakat melakukan perjalanan aman dan nyaman dengan moda transportasi udara juga gencar dilakukan oleh instansi pemerintah seperti Kementrian Perhubungan, Kemenparekraf/ Bekraf dan lainnya.

Meski belum ada pernyataan resmi atau hasil survey mana yang lebih ampuh menanamkan rasa aman perjalanan,  peranan pers nasionalkah ? atau para influencer berbayaran selangit itu ?.

Rasa jelous memang harus dikesampingkan dulu karena yang jelas perlu tindakan kuat dan terkoordinasi untuk menyelamatkan jutaan mata pencaharian baik di Indonesia maupun seluruh dunia akibat pandemi global ini.

Dengan prediksi penurunan 60-80% dalam pariwisata internasional tahun 2020, dan penurunan ekspor antara US$910 miliar dan US$ 1,2 triliun. Selain dampak langsung ini, ekonomi pariwisata bukan hanya  terkait dengan transportasi udara, darat maupun laut.

Pariwisata banyak terkait sektor lain termasuk konstruksi, agro-pangan, jasa distribusi dan lainnya  yang kesemuanya memperburuk besarnya guncangan.  COVID-19 telah mengungkapkan pentingnya ekonomi makro pariwisata di sebagian besar negara OECD dan G20.

Hal itu terungkap pada pertemuan para Menteri Pariwisata G20 tanggal 7 Oktober lalu yang menyerukan tindakan kuat dan mendesak di tiga bidang untuk menopang jutaan mata pencaharian.

Pertama, kerja sama multilateral yang diperkuat dan dukungan yang kuat sangat penting untuk mengaktifkan kembali perjalanan.

Kedua, pemerintah harus mendekati pemulihan pariwisata dengan cara yang lebih terintegrasi – melibatkan semua tingkat pemerintahan, sektor swasta dan masyarakat sipil dalam rencana yang praktis dan dapat ditindaklanjuti untuk hidupkan kembali sektor pariwisata.

Ketiga, kita perlu membentuk kembali pariwisata yang bertanggung jawab dan inklusi.  Sektor pariwisata, dapat memiliki pengaruh lingkungan dan sosial yang penting, baik melalui emisi gas rumah kaca, dengan mempengaruhi lingkungan alam dan budaya yang rapuh atau mempengaruhi  masyarakat yang jadi tuan rumah ?.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo, kemarin di Bali  menekankan pentingnya berbagai upaya atau program sinergi untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Menurut data UNWTO, sejak Januari hingga Juni 2020 pariwisata dunia kehilangan 440 juta turis. “Indonesia diperkirakan kehilangan devisa sebesar  US$14,5-15,8 miliar  karena adanya penurunan kunjungan wisman karena sektor ini  sangat andalkan pergerakan manusia,” kata Angela.

Pihaknya telah mengeluarkan berbagai kebijakan dan bantuan untuk membantu para pelaku pariwisata yang terdampak oleh pandemi ini dan dari segi ketahanan industri pariwisata, fokusnya saat ini adalah untuk peningkatan kualitas dari destinasi dan persiapan industri dalam adaptasi kenormalan baru serta pascapandemi COVID-19.

Selain itu, Kemenparejraf juga telah mengalokasikan lebih dari 119 miliar untuk sertifikasi Clean Health Safety Environement ( CHSE) secara gratis dengan lembaga independen, yang ditujukan untuk meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap sektor pariwisata.

Sementara, untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata Tanah Air, Angela menuturkan pihaknya akan memberdayakan wisatawan nusantara melalui program diskon pariwisata yang rencananya akan diluncurkan pada 2021 atau setelah vaksin COVID-19 rampung.

“Diskon pariwisata ini gunanya untuk mendorong paket wisata domestik. Karena di masa pandemi ini, selain faktor kepercayaan masyarakat atas kebersihan destinasi wisata, daya beli masyarakat juga tengah menurun di masa pandemi ini,” ucap Angela.

Kebijakan ini in line dengan Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Widodo Muktiyo yang menyatakan sektor pariwisata bisa kembali bergeliat dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya untuk mengurangi jumlah pengangguran.

Untuk itu, wilayah destinasi pariwisata wajib menerapkan Protokol kesehatan (Prokes) sebagai standar baru dalam prosedur pelayanan kepada wisatawan agar dapat terhindar dari infeksi virus COVID-19 yang masih mewabah.

“Mengedepankan Prokes dalam setiap prosedur pelayanan kepada wisatawan yang tidak boleh ditawar oleh siapapun,” ujarnya.

Pernyataan Widodo Muktiyo beralasan karena saat sata melakukan perjalanan ke tiga provinsi dan satu Kabupaten sejak 21 September hingga 13 Oktober 2020 lalu, pengalaman berada di obyek-obyek wisata terutama setelah makan atau foto-foto banyak pengunjung obyek wisata yang lupa memakai maskernya lagi.

Masker dan aturan jaga jarak terutama untuk rombongan keluarga harus disiplin ditegakkan agar obyek wisata tidak menjadi kluster baru COVID-19. Cukuplah warung soto di Solo menjadi kluster baru virus ini dengan jumlah tracing yang mengejutkan gara-gara satu pengunjung.

Perlu ekstra pengawasan bagi pengelola obyek wisata untuk mengingatkan pengunjung untuk melaksanakan protokol kesehatan itu. Kalau perlu lewat pengumuman menggunakan pengeras suara dengan santun sehingga pengunjung juga tidak terganggu. 

UNWTO &  Expedia Group Sepakat Berbagi Data dan Panduan untuk Pemulihan Pariwisata

this formate

MADRID, Spanyol, bisniswisata.co.id: Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) bekerja sama dengan Grup Expedia (Expedia Group) untuk memperkuat hubungan antara sektor publik dan swasta serta mendorong pemulihan pariwisata dari dampak pandemi COVID-19.

Kedua pihak menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) yang akan membuat mereka bekerja sama dalam berbagai topik, dengan tujuan bersama untuk mendorong pemulihan dan membuat sektor ini lebih tangguh dan berkelanjutan.

Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili bertemu dengan perwakilan dari Grup Expedia di Brussel, di balik pembicaraan yang sukses dengan para pemimpin Lembaga Eropa. Menyoroti komitmen UNWTO untuk memperkuat hubungan dengan sektor swasta, kemitraan yang ditingkatkan ini akan membuat Badan Khusus PBB ini bekerja lebih erat dengan Grup Expedia.

Tindakan bersama fokus pada intelijen dan inovasi pasar. UNWTO dan Expedia juga akan bekerja sama untuk mempromosikan kewirausahaan dan pendidikan profesional, dan di bidang perlindungan konsumen.

Sejak awal krisis ini, UNWTO telah menjadi pendukung kuat kerjasama erat antara sektor publik dan swasta. “Sejak awal krisis ini, UNWTO telah menjadi pendukung kuat kerjasama erat antara sektor publik dan swasta. Kemitraan yang ditingkatkan ini akan membantu meningkatkan pengetahuan kami tentang tren pariwisata global, kata Sekretaris Jenderal Zurab Pololikashvili dalam rilisnya.

Kerjasama, ujarnya, memungkinkan untuk menanggapi tantangan baru dan memandu pemulihan pariwisata. Ini juga akan membantu untuk menempatkan inovasi dan keberlanjutan di jantung pemulihan ini dan memastikan pariwisata muncul lebih kuat dari sebelumnya, tambah Zurab Pololikashvili.

Kemitraan antara UNWTO dan Expedia Group akan memungkinkan kedua belah pihak berbagi data tentang tren dan perkembangan pariwisata, baik di skala global maupun lokal.

Hal Ini akan membantu menginformasikan pengambilan keputusan, menghasilkan kebijakan berbasis data yang bertujuan untuk pemulihan pariwisata berkelanjutan dan pembangunan di masa depan.

IATA Sambut Laporan Transkom AS atas Rendahnya Resiko COVID-19 dalam Penerbangan

this formate

JENEWA, bisniswisata.co.id: – Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyambut baik laporan hasil pengujian oleh Komando Transportasi Amerika Serikat (Transkom AS) yang mengkonfirmasi rendahnya risiko terpapar COVID-19 di dalam pesawat.

Pengujian yang dilakukan Transcom AS, yang dilakukan pada bulan Agustus, menemukan bahwa “risiko paparan keseluruhan patogen aerosol, seperti virus Corona, sangatlah rendah” pada jenis pesawat seperti maskapai yang biasanya digunakan untuk memindahkan personel Departemen Pertahanan (DOD) dan keluarganya.

Transcom AS menyatakan. Lebih dari 300 aerosol dilepaskan, simulasi pemaparan penumpang yang terinfeksi COVID-19, dilakukan selama delapan hari menggunakan Pesawat Amerika Boeing 767-300 dan pesawat lorong ganda 777-200.

“Minggu lalu, IATA melaporkan bahwa sejak awal 2020 terdapat 44 kasus COVID-19 telah dilaporkan dan penularannya diduga akibat dari perjalanan dengan menggunakan pesawat, dari 1.2 miliar perjalanan pesawat pada tahun 2020.

Riset Transcom AS membuktikan lebih lanjut bahwa risiko terinfeksi dalam pesawat tampaknya sangatlah rendah, dan pastinya lebih rendah dibandingkan lingkungan dalam ruangan lainnya” ucap Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA dalam rilisnya kepada bisniswisata.co.id.

Pengujian yang dilakukan Transcom AS menunjukkan bahwa aerosol “dengan cepatnya diturunkan dengan tingginya pertukaran udara” dari kabin pesawat pada umumnya. Partikel aerosol tetap dapat dideteksi pada kurun waktu rata-rata kurang dari enam menit.

Kedua model pesawat diuji menghilangkan partikulat 15 kali lebih cepat daripada sistem ventilasi rumah pada umumnya dan 5-6 kali lebih cepat daripada spesifik desain yang direkomendasikan untuk ruang operasi dan isolasi pasien di rumah sakit modern.

Pengujian yang dilakukan dalam kerjasama Boeing dengan United Airlines, Serta Badan Proyek Penelitian Lanjutan Pertahanan (DARPA), Zeteo Tech, S3i dan Institut Penelitian Strategi Universitas Nasional Nebraska.

 

Wisatawan Penyandang Disabilitas Hadapi Tantangan Baru di Tengah Pandemi

this formate

Kaum Difabel Hadapi Tantangan Baru (foto: smarter travel)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Bagi kebanyakan orang, pandemi COVID-19 telah memaksa mereka untuk menunda dulu rencana bepergian. Ternyata, keadaan ini lebih parah dialami para wisatawan penyandang disabilitas.

“COVID-19 memaksa kami untuk menyetop 100 persen tur bagi individu penyandang disabilitas,” kata Don Douglas, pemilik Able Trek Tours, perusahaan tur berbasis di Wisconsin, AS.

Perusahaannya mengkhususkan diri pada perjalanan yang dapat diakses kaum disabilitas. “Banyak tujuan dan atraksi ( seperti acara olahraga, festival, dan konser) yang tutup,” imbuhnya seperti dilansir Skift.

Douglas tidak sendirian. Dia bukanlah satu-satunya pelaku dalam bisnis ini yang dilumpuhkan akibat pandemi virus corona.

Josh Grisdale, pendiri Accessible Japan, sebuah komunitas online yang menyediakan dukungan bagi wisatawan penyandang disabilitas, mengeluhkan hal serupa.

Menurutnya dampak pandemi  terbesar bagi orang-orang yang membutuhkan bantuan saat bepergian adalah larangan untuk membawa asisten pergi bersama.

“Beberapa agency yang menyediakan jasa pendamping sama sekali tidak menginginkan kami [kaum disabilitas] keluar. Mereka menganggap itu hanya akan berpotensi memaparkan virus corona ke pengasuh yang akan menjadi pembawa virus lalu kemudian menularkan ke pelanggan lain termasuk kepada mereka yang menyandang disabilitas lebih parah,” imbuhnya.

Seperti menurut Grisdale, pandemi telah memperberat tantangan yang dihadapi para wisatawan penyandang cacat. 

“Aturan jarak sosial adalah sesuatu yang tidak mungkin diterapkan kepada mereka. Perhatian khusus bagi mereka juga muskil dilakukan tanpa kontak yang intens antara staf dan pelancong,” kata Douglas.

Jelas, keadaan ini sungguh tak menguntungkan bagi para pelancong penyandang disabilitas. Apalagi seperti dalam kasus Douglas, sebagian besar kliennya memiliki sejumlah penyakit bawaan sehingga rentan terpapar virus corona.

Wajar jika banyak wisatawan penyandang disabilitas menyatakan khawatir terkait COVID-19. Apalagi sebuah survei yang dilakukan pengusaha Josh Wintersgill terhadap 330 penyandang disabilitas mengamini hal itu.

Menurut survei itu ada lebih dari sepertiga responden menyatakan tidak akan melakukan perjalanan dengan pesawat sampai vaksin COVID-19 tersedia. Mereka juga khawatir banyak orang tak disiplin mengikuti aturan jarak sosial, baik saat di bandara maupun dalam kabin pesawat. 

Bahkan di beberapa kasus, masa depan perjalanan bagi penyandang disabilitias terlihat kurang cerah. Menurut Candy Harrington, editor blog Emerging Solutions yang fokus pada wisata bagi penyandang disabilitas, ada sejumlah perusahaan travel kecil yang khusus membantu mengatur perjalanan bagi wisatawan penyandang disabilitas tak lagi dapat bertahan selama masa pandemi.

John Sage, CEO sekaligus pendiri Accessible Travel Solutions [satu-satunya perusahaan travel bagi penyandang disabilitias yang tergabung dalam Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia] mengatakan kematian perusahaan travel bagi penyandang disabilitias berarti memengaruhi ketersediaan van khusus disabilitas dan perencana perjalanan.

Tetapi Srin Madipalli, co-founder Accomable [penginapan startup bagi kaum disabilitas], yakin pelaku bisnis yang dapat mengikuti tren dan berpikiran maju, akan mampu melewati tantangan dalam dua tahun ke depan. 

Madipalli yang juga mantan kepala divisi AirBnB khusus bagi penyandang disabilitas mengatakan kesuksesan akan ditentukan oleh,” bagaimana mereka menjalankan bisnis, kesiapan sumber daya dan seberapa kuat mengencangkan ikat pinggang.”

Yang pasti, hasrat untuk melancong tak akan pernah mati, jadi semua tergantung pada “bagaimana kita mengubah model bisnis mengikuti tren kekinian,” misalnya.

Bagaimana pelaku bisnis dapat menyesuaikan kembali model bisnis dengan memfasilitasi perjalanan ke tempat-tempat yang tak terlalu berisiko. Kuncinya adalah adaptasi pada keadaan normal baru.

 

 

Food Startup Indonesia (FSI) MMXX, 3 Pemenang Dapat Akses Pembiayaan

this formate

Menparekraf Whisnutama ( tengah),  saat melihat Demoday ajang Food starup Indonesia. ( Foto: Kemenparekraf).

NUSA DUA, Bali, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengumumkan tiga pelaku usaha terbaik di ajang Food Startup Indonesia (FSI) MMXX yang berhak mendapatkan fasilitasi akses pembiayaan guna pengembangan bisnis.

Ketiga pelaku usaha tersebut sebelumnya melakukan presentasi dalam kegiatan pitching di depan panelis serta calon investor dalam kegiatan puncak Demoday FSI MMXX yang berlangsung di Sofitel, Nusa Dua, Bali.

Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf/Baparekraf, Fadjar Hutomo, dalam acara puncak Demoday FSI MMXX, Kamis (15/10/2020), mengatakan, Demoday yang berlangsung selama tiga hari pada pada 12 hingga 15 Oktober menghadirkan 100 finalis FSI MMXX.

Seluruh finalis mendapatkan pendampingan mulai dari direct mentoring, business coaching dan pemasaran. “Pendampingan dilakukan sejumlah expertise yang dulunya juga merupakan pelaku usaha. Antara lain Sano Superfood (Eka Seafood Indonesia), Donny Wangke (Sano Superfood), dan Nilamsari (Sari Kreasi Boga),” kata Fadjar Hutomo.

Dari 100 finalis tersebut, dipilih 25 finalis yang berhak melakukan presentasi dalam kegiatan pitching di depan panelis yang memiliki kompetensi di industri kuliner.

“Peserta terpilih ini terdiri dari 17 _food manufacture dan delapan food service yang berasal sembilan provinsi. Perwakilan terbanyak berasal dari Jawa Barat sebanyak delapan peserta, DKI Jakarta lima peserta, dan Jawa Timur lima peserta,” kata Fadjar Hutomo.

Dari sesi pitching tersebut kemudian terpilih tiga pelaku usaha terbaik yaitu peringkat pertama KATO DEHYDRATED FOODS (Malang, Jawa Timur), kedua PROSPERO REALCHO (Kabupaten Tangerang, Banten), dan ketiga EGGY TELUR ASIN PEDAS (Sumedang, Jawa Barat).

Penilaian yang dilakukan berdasarkan kesiapan produk, keamanan, inovasi, kesiapan pasar, risiko investasi, partnership dan strategi investasi.

“Kehadiran investor dalam Demoday menunjukkan dukungan terhadap pelaku usaha sektor kuliner sangat besar. Dengan terbukanya peluang permodalan ini, pemerintah berharap ekosistem sektor kuliner tetap optimis dalam situasi pandemi,” ungkap Fadjar Hutomo.

Selain suntikan dana dari investor, masing-masing peserta terbaik mendapat green card mengikuti program Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) 2021.

Tidak hanya bagi 25 peserta terpilih, FSI MMXX membuka kesempatan yang besar bagi seluruh finalis untuk memperoleh kesempatan akses permodalan dan pemasaran melalui jejaring yang terjalin selama acara Demoday.

Beberapa investor yang hadir dalam Demoday FSI MMXX berasal dari kategori Fintech, Fintech ECF, dan Venture Capital. Direktur Akses Pembiayaan Kemenparekraf/Baparekraf, Hanifah Makarim, mengungkapkan pada aspek jenis pendanaan yang dibutuhkan, panitia FSI MMXX mengidentifikasi ke dalam lima sumber yaitu bank, equity,  fintech profit sharing, dan lembaga pinjaman lainnya.

Sumber pendanaan dari bank dan _equity_ paling diminati oleh masing-masing perusahaan baik _food manufacture_ dan _food service_.

“Berbagai jenis pendanaan yang diajukan tersebut tentu saja harus disertai oleh profesionalisme dan akuntabilitas pelaku usaha sektor kuliner yang mengikuti FSI. Proses seleksi yang panjang dan kompetitif ini dimaksudkan agar akses permodalan dan pemasaran tepat sasaran,” kata Hanifah Makarim.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengapresiasi penyelenggaraan Food Startup Indonesia (FSI) MMXX sebagai upaya meningkatkan kapasitas pelaku ekonomi kreatif subsektor kuliner, khususnya dalam mendapatkan akses pembiayaan guna pengembangan bisnis.

Wishnutama yang turut hadir dalam kegiatan Demoday FSI MMXX di Bali, mengatakan, fasilitasi ini menjadi kesempatan besar bagi pelaku usaha ekonomi kreatif subsektor kuliner untuk mengembangkan bisnis hingga mendapat akses pembiayaan.

Saat meninjau pelaksanaan Demoday Menparekraf Wishnutama melihat langsung produk-produk kuliner yang dihasilkan para finalis peserta Food Startup Indonesia MMXX. Ragam kreasi produk kuliner yang dihadirkan menjadi bukti betapa besarnya potensi ekonomi kreatif tanah air.

“Kami berharap finalis dan investor sama-sama dapat menjalin kerja sama agar pelaku usaha kita dapat terus tumbuh di tengah pandemi COVID-19,” ujar Wishnutama.

Kegiatan Demo Day FSI tahun ini dilakukan secara hybrid, gabungan antara _offline_ dan _online_. Seluruh kegiatan yang dilakukan secara fisik mengacu pada standar protokol kesehatan pemerintah kepada setiap peserta yang berlangsung di Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort.

 

Let’s Go! Tetaplah Bergerak Agar Tak Tenggelam

this formate

KITA semua sudah paham, semua kesusahan dalam masa pandemi COVID-19 ini disebabkan oleh terbatasi ruang gerak secara global. Masyarakat, baik pengusaha mau pun pekerja hanya dalam posisi bertahan hidup selama dua triwulan berturut-turut. Untuk pemulihan ekonomi kuncinya hanya ada di pandemi.

Aksi pemerintah melakukan percepatan dengan membuka akses lintas-batas domestik masih terhambat dengan peningkatan area-area yang secara paparan  angka menunjukkan peningkatan resiko tertular dari sang virus tipe super-spreader ini. Pemerintah telah menawarkan dan melakukan aksi solusi berjenjang.

Kalau kita amati, masa pandemi di Indonesia bisa menjadi lebih lama lagi, karena faktor ketaatan masyarakatnya.

Mengapa bisa tidak taat?

Pasalnya penduduk kehilangan penghasilan dan harus tetap bergerak —terutama yang bergantung pada penghasilan harian—. “Tetaplah bergerak supaya kau tidak tenggelam.” Begitu kata salah satu kata bijak. Maka tidak ada pilihan, interaksi jual-beli harus tetap berlangsung, bahkan naik tajam di area mikro — UMKM–.

Selanjutnya, kita yang mengikuti berita dan menelisik data-data yang disampaikan oleh para juru bicara pemerintah dan otoritas terkait, sekarang sudah bisa mengambil kesimpulan.– Ini bisa menjadi suatu kelegaan karena parameternya tersedia–.

Secara umum bisa dikatakan pemerintahan NKRI dalam menanggulangi pandemi COVID-19 saat ini fokus pada ketersediaan vaksin. Penanggulangan berdasarkan adanya vaksin, “bukan” terhadap pandeminya, walau pun pemerintah daerah berkoordinasi dengan pemerintah pusat melakukan PSBB – lockdown locally – termasuk pembuatan peraturan dan payung hukumnya.

Yang menarik dari sini adalah informasi “jadwal” ketersediaan vaksin. Sehingga kemudian bisa kita perhitungkan dan tentukan periode pandemi COVID-19 di Indonesia akan masuk dalam fase under-control tertanggulangi. Kemudian diikuti pergerakan pemulihan ekonomi dan kontrakasi sektor industri pariwisata yang bisa bergerak lebih awal.

Terkonfirmasi Presiden Joko Widodo atau Jokowi telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2020 tentang vaksin COVID-19. Aturan tersebut mengatur pengadaan dan pelaksanaan vaksin virus corona — rencananya dimulai pada akhir tahun 2020–. Impor vaksin COVID-19 tiba di Indonesia bulan depan (November 2020). Vaksin virus corona yang didatangkan dari luar negeri tersebut tahap pertama akan diberikan untuk tenaga medis atau garda depan.

 Selain vaksin impor, Indonesia tengah mengembangkan vaksin di dalam negeri. Vaksin tersebut saat ini masih dalam tahap III uji klinik yang kemudian akan diproduksi secara massal oleh Biofarma. Keputusan relevan dari hasil uji klinis masih harus kita tunggu sampai bulan Desember mendatang. Kita semua tentu berharap  vaksin produksi dalam negeri dinyatakan berhasil. Dengan begitu, vaksin bisa diproduksi secara massal pada Januari 2021. Masyarakat dengan risiko tinggi kemungkinan mendapatkan vaksin pada awal tahun depan, triwulan pertama memasuki tahun baru.

Baru-baru ini dari hasil berbincang bersama Direktur Riset CORE Indonesia, Piter A. Redjalam pada  webinar iDEATE, saya mendapatkan insight tentang dampak pandemi bagi perekonomian bangsa. Pak Piter pada penutupan presentasinya menyuntikkan semangat akan adanya kontraksi di sektor industri pariwisata Bali, bahkan mampu menyampaikan periodenya.

CORE adalah kependekan dari Center of Reform on Economics atau terjemahannya Pusat Pemulihan Ekonomi Nasional. Sedangkan acara webinar berbayar diprakarsai oleh KHAS Studio dengan moderator Elprisdat Zen yang juga adalah Managing Director studio tersebut.

Berita baiknya, tinggal satu langkah lebar lagi untuk masuk ke momentum “pemulihan ekonomi nasional”. Tentunya termasuk industri pariwisata dimana Bali sebagai fokus utama untuk percepatan.

Status under control adalah triwulan pertama 2021 karena sudah ada vaksin untuk garda depan.

Lalu masuk triwulan kedua mulai April 2021, kita  sudah masuk masa pemulihan/recovery dengan  vaksin  buatan Indonesia sendiri mulai dipakai.

Selanjutnya pada triwulan ketiga pada Juli  2021, bisa dipastikan  lalu lintas pariwisata sudah meningkat dengan perhitungan pemulihan ekonomi telah berjalan dan masyarakat mulai berpenghasilan baik.

Sehingga pada triwulan keempat mulai bulan Oktober 2021 akan ada lonjakan minat berwisata yang utuh. Permintaan sudah bisa dikatakan menuju normal karena euforia para pelaku wisata untuk melakukan perjalanan.

Apa rekomendasi kita terhadap pemerintah dalam konsep pentahelix pariwisata untuk memasuki triwulan per triwulan?

Ini adalah momentum. Jangan sampai dilewatkan.

Saat pandemi berakhir pemerintah hendaknya siap dengan program-program pemulihan ekonomi. Salah satu untuk mendukung pariwisata adalah memberikan berbagai diskon tiket pesawat dan saran transformasi lainnya yang diluncurkan lebih awal,— early-bird.

Jadi, apakah pekerjaan rumah  kita dalam dua triwulan ini, agar tepat waktu masuk ke masa recovery yang secara logis realistis kita perhitungkan di atas kertas?

  1. Fokus pada penanggulangan wabah dengan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.
  2. Pemerintah turut andil untuk memberikan jaring pengaman sosial dan meningkatkan ketahanan masyarakat terdampak
  3. Pemerintah memberikan bantuan untuk meningkatkan ketahanan dunia usaha.

Bagaimana pemikiran Anda?

 

 

Oasis Terbesar & Terindah di Dunia Ada di Arab Saudi

this formate

Al-Ahsa, oasis terbesar di dunia (foto: al-arabiyya)

ARAB SAUDI, bisniswisata.co.id: Oasis atau daerah subur terpencil di tengah gurun terbesar di dunia ada di Provinsi Timur Arab Saudi. Oasis Al-Ahsa, demikian ia berjulukan, baru saja memasuki Rekor Dunia Guinness sebagai oasis mandiri terbesar di dunia.

Di tengah daratan Arab Saudi yang sebagian besar adalah gurun pasir, wilayah ini menjadi yang terhijau. Keberadaannya sangatlah penting sejak dahulu kala.

Oasis ini terbentang di area seluas lebih dari 85,4 kilometer persegi, mencakup lebih dari 2,5 juta pohon palem yang memakan akuifer besar malalui 280 mata air.

Selain jutaan pohon palem, di sini juga ada lahan pertanian seluas 10.000 hektar yang ditanami beragam jenis kurma, sayuran, buah-buahan dan padi.

Diketahui pula terdapat 150 mata air panas, dingin dan hangat yang mengalir alami, mengairi wilayah Al-Ahsa yang berada di tengah gurun ini.

Lokasinya termasuk mudah dijangkau, berjarak sekitar 60 km dari Teluk Arab. Sedangkan dari Riyadh jaraknya sekitar 360 km dan dari Damman 250 km. 

Oasis Al-Ahsa telah memainkan peran peting bahkan sebelum adanya Islam. Memiliki sumber air yang berlimpah, Al-Ahsa menjadi daratan pertama di Arab Saudi yang dihuni manusia alias berpenduduk. 

Penelitian menunjukkan peradaban penduduk yang menghuni oasis ini dulunya berfokus pada pertanian. Terbukti dari ditemukannya sistem irigasi dan kanal yang canggih yang membawa air ke lahan pertanian.

Adanya saluran yang kuat membantu pergerakan perdagangan dan karavan yang masuk ke Arab Saudi. Bukti arkeologis lain menunjukkan bahwa manusia pertama di Al-Ahsa berasal dari milenium kelima SM.

Itulah juga yang menjadikan Al-Ahsa sebagai salah satu pemukiman tertua di Semenanjung Arab. Oasis ini juga terbukti memiliki hubungan kuat dengan peradaban kuno di Levant, Mesir dan Mesopotamia.

Tahun lalu, Oasis Al-Ahsa masuk ke dalam Warisan Dunia UNESCO sebagai daratan budaya yang berkembang, bersama sejumlah situs lainnya seperti, Al-Hijr di Al-Ula, lingkungan Al-Turaif di Ad Diriyah yang bersejarah, Jeddah yang bersejarah, dan situs seni batu di Jubbah dan Shuaimis di Hail.

Hingga kini Al-Ahsa tetap menawan terutama bagi iwisatawan. Ia menjadi destinasi wisata yang kaya akan sejarah dan tradisi masa lalu.

Jika dulu dikenal sebagai pintu gerbang ke Semenanjung Arab bagi para pedagang, kini perannya bertambah sebagai destinasi wisata yang siap menyambut wisatawan yang hendak ke Arab Saudi.

IITCF Terus Kampanyekan Wisata Halal pada Para Vendor

this formate

Priyadi Abadi, Ketua IITCF di depan Grande Mosque de Paris. ( Foto: dok pribadi

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Muslim menjadi segmen konsumen yang pertumbuhannya sangat cepat di dunia. Oleh karena itu kini Muslim traveller sudah punya banyak pilihan fasilitas yang mengakomodasi kebutuhan mereka, mulai dari menu makanan di restoran, fasilitas tempat ibadah dan destinasi wisata yang Muslim Friendly. 

“Halal sekarang sudah menjadi trend di beberapa negara non Muslim. Oleh karena itu IITCF terus meyakinkan para vendor dan negara non-Muslim bahwa halal tourism pasarnya besar,” kata Priyadi Abadi, Ketua  Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF), hari ini.

Negara non Muslim seperti Jepang, Korea, Thailand, Taiwan sudah lama mendeklarasikan sebagai tujuan wisata ramah Muslim atau Muslim Friendly, tambahnya.

Priyadi mengatakan pihaknya lebih dari 10 tahun lalu sudah menggarap paket wisata halal karena kebutuhan Muslim bukan hanya ibadah Umroh dan Haji. Oleh karena itu IITCF banyak mengedukasi travel agent untuk menyusun paket wisata halal,

” Muslim suka bepergian ketempat-tempat populer seperti Menara Eiffel. Namun mereka juga punya kebutuhan untuk melaksanakan ibadah ditengah kegiatan wisatanya, juga harus menyantap makanan halal, ” kata Priyadi

Bicara halal bukan bicara persoalan SARA tapi tambahan pelayanan ( extended service) yang diberikan pada peserta tour yang beragama Islam. Dalam undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen , seorang Muslim traveller juga harus dilindungi kewajibannya untuk shalat, mendapat jaminan makanan halal dan sebagainya.

“Itu sebabnya umat Islam punya hak untuk menjalankan atau mendapatkan kebaikan dari sesuatu yang halal sebagai upaya memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani saat travelling pula” katanya.  

Data GMTI (Global Muslim Travel Index) 2019 menunjukkan bahwa hingga tahun 2030, jumlah wisatawan Muslim  diproyeksikan akan menembus angka 230 juta di seluruh dunia. 

Meski pastinya ada dampak dari pandemi COVID-19, diyakininya hanya bersifat sementara saja Muslim Traveller menunda perjalanannya.

Menurut Direktur Utama Adinda Azzahra Travel & Tour ini, pihaknya tidak surut langkah dalam mengemas paket wisata halal sehingga dalam tour ke Paris misalnya, banyak travel agent dari Indonesia membuat  rencana perjalanan misalnya dari Menara Eiffel dilanjutkan ke Sacre-Coeur.

Basilika Hati Kudus atau Basilique du Sacré-Coeur adalah salah satu landmark Paris yang agung, berdiri tinggi di atas kota di Butte Montmartre kubah-kubahnya berkilau dengan detail dekoratif yang menyerupai hiasan. Sedikitnya ada 300 anak tangga untuk masuk ke dalam bangunan gereja gaya Romawi dan Bizantium ini.

Keindahan Grande Mosque de Paris yang banyak dikunjungi wisatawan Halal Tour dari Indonesia.

Bagi Azzahra Tour yang dipimpinnya, paket wisata halalnya, pilihannya bukan ke gereja itu tapi menyambangi Grand Mosque de Paris atau Mesjid Raya Paris yang terinspirasi dari Masjid Al-Hambra di Spanyol.

” Generasi milenial keturunan Yahudi di Perancis  harus tahu bahwa saat Perang Dunia ke I, banyak lekuhur mereka, orang Yahudi diburu pasukan Jerman dan mereka selamat karena berlindung dan memang dilindungi oleh saudara Muslimnya di Mesjid Raya Paris ini,” kata Priyadi.

Masjid ini didirikan setelah berakhirnya Perang Dunia I sebagai tanda terima kasih Prancis kepada komunitas Muslim di sana yang ikut melawan pasukan Jerman.

Dalam sebuah pertempuran yang berlangsung di daerah perbukitan utara Kota Verdun-sur-Meuse di wilayah bagian utara-timur Prancis pada 1916 sekitar 100 ribu tentara Muslim tewas, ungkap Priyadi Abadi.

Lebih dari sekadar tempat sholat, Masjid Agung Paris juga memiliki hammam, ruang teh, dan restoran. Pengunjung akan dapat memperoleh suvenir  dengan tersedianya toko suvenir serta fasilitas lainnya.

Bangunannya juga indah dan jika menilik lebih jauh setiap detail bangunannya, sarat dengan gaya arsitektur Al-Hambra yang banyak mengadopsi arsitektur bangsa Moor.

Untuk mempertegas gaya Moor, Pemerintah Prancis memerintahkan sejumlah seniman asal Afrika Utara untuk mendesain Grande Mosque de Paris. Komunitas Muslim yang bermukim di Kota Paris pada masa itu merupakan para imigran asal Afrika Utara.

Masjid dengan gaya Spanyol-Maroko itu memiliki menara setinggi 33 meter. Dari atas menara inilah, suara azan berkumandang memanggil orang-orang untuk menunaikan shalat lima waktu. Suaranya membahana di keempat penjuru langit Prancis. 

Menara yang berbentuk segi empat dan dilapisi keramik hijau toska ini mengadopsi kaidah Mazhab Maliki. Pada keramik-keramik tersebut, dapat dilihat kerumitan tatanan dinding yang berwarna abu-abu.

Di dalam bangunan menara, terdapat sebuah tangga menuju bagian puncak menara. Dari kejauhan, bentuk menara ini mirip dengan menara Masjid Hassan II di Casablanca, Maroko.

Oleh karena itu pihaknya selalu mengajak peserta tour untuk beribadah di Mesjid Raya Paris ini dan sejenak menyelami sejarahnya sehingga peserta juga mendapat wawasan luas mengenai perkembangan Islam di Eropa Barat itu.

Di sinilah setiap tahun diumumkan tanggal mulai Ramadhan di Prancis oleh karena itu menjadi tempat beribadah yang penting bagi Muslim Perancis yang jumlahnya terus bertambah seperti halnya di Inggris.

Dalam meyakinkan para vendor sebagai mitra kerjanya, IITCF juga melakukan kunjungan ke beberapa kedutaan terkait program kampanye IITCF tentang wisata halal di Eropa dan Asia.

Bahkan IITCF menebar perangkat sholat di masjid-masjid di Eropa, sebagai bentuk kepedulian dalam menyiapkan fasilitas umat Islam dalam shalat.

” Alhamdulilah IITCF terus berkampanye agar wisatawan Muslim mendapatkan layanan yang minimal Muslim friendly dan menjaga ibadah-ibadahnya tepat waktu,” katanya.

 

 

Kelompok Tani Porang Makmur Sejahtera ( PMS), Akan Wujudkan Desa Wisata Porang Banjar Baru

this formate

Ketua Departemen Pariwisata Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Hilda Ansariah Sabri, melongok desa-desa wisata di kota Banjarmasin dan Banjar Baru sesuai program kerja pengembangan desa wisata organisasi profesi itu. Berikut laporan perjalanannya bagian ke lima ( terakhir).

BANJAR BARU, bisniswisata.co.id: Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani  Porang Makmur Sejahtera (PMS) tengah menanam bibit porang di tanah kavling milik PT Mah Sajajar Djaya sekitar 3 km dari bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin.

Menggarap lahan tanah kavling saja sudah membuat saya penasaran karena lahan yang sedang ditanami bibit itu seluas 2 ha. Tahap kedua di sampingnya ada 6 ha, tahap ke tiga tersedia 17 ha dan tahap keempat ada 117 ha.

Siapa sangka tanaman porang jadi naik daun ? Porang atau dikenal juga dengan nama iles-kiles adalah tanaman umbi-umbian dari spesies Amorphophallus muelleri.

Manfaat porang ini banyak digunakan untuk bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air, selain juga untuk pembuatan lem dan “jelly” yang beberapa tahun terakhir kerap diekspor ke negeri Jepang.

Umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung. Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air,  biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental.

Porang bahkan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang, demikian dilansir laman resmi Kementerian Pertanian.

Tak heran budidaya tanaman porang sangat populer pada sektor pertanian Indonesia dikarenakan tingginya permintaan ekspor atas tumbuhan ini.

Pasar ekspor porang sendiri meliputi Jepang, Taiwan, Korea, China serta beberapa negara Eropa. Oleh karenanya pemerintah melalui Kementerian Pertanian berencana untuk meningkatkan produksi pengolahan porang yang ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Membina Kelompok Tani PMS

Adalah Harun Broto Abd Rahman, tenaga ahli dari perusahaan pengembang properti yang kini membina kelompok tani Porang Makmur Sejahtera (PMS). 

Tidak tanggung-tanggung, para petani penggarap lahan ini terjamin dalam beberapa tahun kedepan statusnya bukan lagi sebagai petani penggarap tapi menjadi pemilik lahan pertanian porang.

” Soalnya sebagai petani penggarap lahan milik PT Mah Sajajar Djaya kami membimbing para petani yang menggarap lahan kavling ini dengan bagian 30% dari hasil panen. Hak pemilik lahan 50% dan sisanya adalah bagian perusahaan terdiri dari Koperasi Mahligai, tim marketing dan operasional perusahaan,” ungkap Harun.

Pihaknya membina kelompok tani Porang Makmur Sejahtera ( PMS) dengan konsep Agriqultural Maintain System ( AMS) yang merupakan konsep syariah dibawah Koperasi Mahligai. Sudah bukan rahasia lagi, permasalahan krusial yang biasa dialami oleh petani Indonesia adalah dipermainkan oleh tengkulak. 

“Ketika panen raya tiba, banyak petani di Indonesia yang menjual hasil panen pada pengepul atau tengkulak. Karena menjual secara individu dan hampir sebagian besar memiliki jenis atau komoditas yang sama mengakibatkan tengkulak bertindak semena-mena. Mereka dengan sengaja membeli dengan harga murah,” kata Harun

Petani Indonesia yang kebanyakan kurang mengetahui kabar pasar dengan mudahnya masuk dalam permainan tengkulak. Dari kejadian ini petani mendapatkan harga jual yang relatif rendah dan banyak kasus diantara mereka mengalami kerugian karena biaya produksi yang tidak sebanding dengan hasil panen. 

Koperasi adalah jalan yang tepat untuk para petani agar bisa meningkatkan harga jual hasil panennya. Jika petani-petani membentuk satu kelompok dengan beranggotakan minimal 20 orang lalu menjual hasil panen mereka secara kolektif pastinya akan terkumpul dalam jumlah yang sangat besar.

Bersama Ketua HPI Kalsel Bebez yang mendampingi kunjungan ke Cindai Halus, tempat budidaya porang di Banjar Baru.

Nah disinilah para petani bisa bertindak sebagai price maker dan tingkat harga yang mereka dapatkan dapat lebih tinggi. Poktan PMS bisa menjual lebih efektif yaitu dengan memotong rantai pemasaran,” jelas Harun.

Pasalnya, para petani yang telah bergabung dalam suatu koperasi tidak harus menjual ke pengepul atau tengkulak, tetapi mereka langsung menjual ke pedagang besar. Nah disitulah harga yang mereka dapatkan jauh lebih tinggi dibanding dengan dijual ke tengkulak.

Lokasi tanam di wilayah Cindai Alus Kabupaten Banjar ini terdapat dua lokasi, yakni Pondok Mekar Sari, serta Pondok Indah Sari. Dari 10 grup lokasi itu, tanah di kawasan Kilometer 17 merupakan yang pertama atau terlama, tepatnya sejak 2001 saat usaha masih dimiliki perseorangan.

Kini, owner PT. MAH Sajajar Group, Ali Hasni yang bergerak di bidang penjualan tanah kavling telah menjual tak kurang pada 13.000 orang nasabah perusahaan yang mulai berbadan hukum sejak 2008. 

Tanah kavling merupakan beberapa bidang tanah dalam satu kawasan yang sengaja dilakukan pemecahan sertifikatnya, baik oleh perorangan maupun badan usaha yang sah seperti Mah Sajajar Grup, berasal dari sertifikat induk hasil penggabungan maupun satu sertifikat induk biasa.

Sebenarnya tak ada perbedaan membeli tanah kavling dalam satu kawasan dengan membeli tanah kavling biasa bidang per-bidang milik penduduk pada umumnya. Persyaratan dan ketentuan jual belinya sama, ungkap Harun.

Asal melibatkan subyek hukum (penjual dan pembali) yang sah, objek tanahnya pun sah untuk diperjualbelikan, dan menggunakan mekanisme jual beli yang sesuai dengan ketentuan perundangan, maka transaksi jual beli tanah tersebut sah.

Seiring dengan naik daunnya tanaman porang sebagai komoditi ekspor, kini oleh induk perusahaan PT Mah Sajajar Grup,  para pemilik kavling ditawarkan untuk memanfaatkan lahan kavling tidur untuk budidaya porang.

” Responsnya bagus karena para pemilik kavling bisa searching di internet semua informasi mengenai potensi porang. Kami juga menjual kavling-kavling baru plus budidaya porang dan gratis perawatan untuk tanah seluas 200 M seharga Rp 50 juta dalam bulan promosi karena harga normalnya adalah Rp 60 juta,” kata Harun.

Lewat konsep Agricultural Maintain System  ( AMS) secara Syariah, ke depannya para petani yang biasanya menjadi obyek alias jadi sapi perah, akan menjadi subyek yaitu pemilik usaha dan sekaligus pemilik tanah. 

” Oleh karena itu Mah Sajajar Group yang selama ini bergerak di bidang pendidikan, property, Wisata (tour and travel) maupun dibidang budidaya porang ini juga akan mendorong para petani mengelola agrowisata di lahan Cindai Alus ( Pondok Mekar Sari)  dan membentuk Kelompok Sadar Wisata guna membangun desa wisata Porang,” jelas Harun.

Porang ukuran 3 kg, 1 kg dan 0,5 kg

Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis) PMS

Mendengar penjelasan Harun dari A-Z membuat saya optimistis tahun depan Poktan Porang Makmur Sejahtera ( PMS) sudah bisa membentuk Pokdarwis dan mengembangkan agrowisata Porang.

Apalagi porang yang ditanam musim penghujan di awal bulan 11 dan 12 ini sudah bisa menghasilkan dalam 6 bulan ke depan sehingga kunjungan ke lokasi tanah kavling dan melihat semangat para petani menanam bibit yang akan merubah nasib mereka membuat saya optimistis desa wisata Porang akan terwujud.

Kalau desa wisata Umbul Ponggok di Klaten, Jateng bisa menghasilkan Rp 10,3 miliar/ tahun. Bukan tidak mungkin Poktan PMS di Banjarbaru, Banjarmasin ini kelak juga bisa menjadi desa binaan PWI Pusat dan berkontribusi bagi PAD Pemko Banjarbaru yang menghasilkan miliaran rupiah dari aktivitas wisatawan yang singgah.

Maklum dalam pengembangan desa-desa wisata binaan PWI pusat diharapkan jarak tempuh dari dan ke bandara atau ke ibukota Kabupaten ataupun Provinsi berkisar satu jam saja dan bisa menjadi tempat tujuan untuk wisata kuliner, beli souvenir dan melakukan aktivitas unik sebelum kembali ke kota atau negara asal.

Kawasan Cindai Halus berpeluang dikembangkan sebagai kampung wisata edukasi porang. Apalagi lokasinya hanya sekitar 2,5 – 3 km sebelum Bandara Syamsudin Noor, bahkan menara kontrol pesawat bisa terlihat.

Petani setempat selain bisa mengedukasi masyarakat untuk budidaya Porang dan tanaman tumpang sari lainnya juga bisa memperkenalkan kuliner dari bahan baku porang.

Untuk kuliner kekinian dan menjadi makanan sehat adalah Shirataki dan Konyaku dari Jepang. Tak heran negeri Sakura itu menyerap banyak hasil porang dari Indonesia untuk menjadi bahan baku makanan sehat.

Lewat pelatihan para petani juga akan mahir membuat Shirataki dan Konyaku itu. Di Jepang itu, ada 5 jenis Konnyaku. Namanya adalah Ita Konnyaku, Tsuki Konnyaku, Tama Konnyaku, Ito Konnyaku, dan juga Nejiri-ito Konnyaku. 

Ita Konnyaku adalah jenis yang paling sering ditemui di pasar-pasar yang ada di Jepang. Bentuknya balok, jadi bisa dipotong sendiri sesuai selera. Tsuki Konnyaku adalah  Konnyaku yang bentuknya seperti mi, tapi tebal dan pendek-pendek. 

Biasanya, Tsuki Konnyaku ini lebih sering digunakan untuk masakan-masakan yang ditumis atau digoreng. Kalau Tama Konnyaku bentuknya bulat dan biasanya digunakan untuk masakan-masakan berkuah, seperti sup dan udon. 

Nah, kalau yang biasanya dikenal sebagai Shirataki adalah Ito Konnyaku,  bentuknya memang seperti mi, dan di Jepang biasanya juga dipakai di masakan-masakan berkuah. Sedangkan Nejiri-ito Konnyaku adalah Shirataki yang dipuntir, sehingga lebih mudah digigit.

Sesuai namanya, penampilan mi Shirataki memang tipis, bening dan memiliki tekstur lembut yang unik. Shirataki merupakan komponen utama dari Sukiyaki, yaitu masakan Jepang yang berkuah dengan daging (biasanya sapi) yang diiris tipis dan berbagai macam sayuran. 

Kalau nanti para ibu petani yang tergabung dalam Pokdarwis bisa mengolah masakan kekinian berbahan Shirataki dan Konnyaku dari porang ini maka penghasilannya akan luar biasa. 

PT Mah Sajajar Group, PT Angkasa Pura I, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI), Beragam perusahaan tambang dan perusagaan besar lainnya di Banjar Group perlu memiliki kepedulian yang sama untuk membina pokdarwis ini.

Dengan demikian pokdarwis dan agrowisata porang bisa menjadi identitas baru mengangkat citra daerah ini kedunia internasional.

Bukan tidak mungkin Banjar Baru dan provinsi Kalsel ke depan justru ramai dikunjungi oleh investor dari dalam dan luar negri. Namun yang jelas Pokdarwis adalah basis pengembangan pariwisata berbasis dari masyarakat untuk masyarakat. Siapkah ?

 

ACI dan IATA Menyerukan Dukungan Mendesak di Seluruh Industri untuk Mendukung Pemulihan

this formate

JENEWA, bisniswisata.co.id:  Airports Council International (ACI) dan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) gencar menyerukan bagi pemerintah untuk membuka kembali perbatasan dengan aman dan membangun kembali konektivitas global.

Langkah ini untuk mencegah keruntuhan sistemik  industri penerbangan dengan memberikan dukungan finansial pada maskapai penerbangan nasionalnya yang tidak menghasilkan hutang baru ungkap IATA dalam rilisnya pada bisniswisata.

Tindakan  ganda tersebut akan melindungi negara dari impor kasus COVID-19, mencegah krisis ketenagakerjaan di sektor perjalanan dan pariwisata, dan memastikan bahwa struktur penerbangan yang penting tetap layak dan mampu mendukung manfaat ekonomi dan sosial yang menjadi sandaran dunia.

Air Transport Action Group (ATAG) memperkirakan 46 juta pekerjaan berisiko karena hilangnya konektivitas akibat krisis COVID-19.  Sebagian besar dari jumlah ini  atau 41,2 juta pekerjaan berada di sektor travel & tourism yang bergantung pada bisnis penerbangan. 

Sisanya atau sekitar 4,8 juta pekerjaan tersebar di pekerjaan langsung di penerbangan, termasuk bandara dan maskapai penerbangan. Kelangsungan hidup sektor penerbangan untuk mendukung pekerjaan sedang ditantang oleh kejatuhan bisnis yang parah dan berkepanjangan

ACI memperkirakan industri bandara akan mengalami penurunan pendapatan -60%, mencapai angka yang belum pernah terjadi sebelumnya  menvapai US$ 104,5 miliar. IATA memperkirakan pendapatan maskapai penerbangan akan turun setidaknya 50% US$ 419 miliar dibandingkan US$ 838 miliar pada 2019. 

Membuka kembali perbatasan dengan aman tanpa karantina dengan menggunakan pendekatan terkoordinasi untuk pengujian akan meningkatkan perekonomian secara keseluruhan dan menjadi jalur pendapatan bagi maskapai penerbangan dan bandara.  

ACI dan IATA telah meminta Satuan Tugas Pemulihan Penerbangan Dewan ICAO untuk memberikan pendekatan yang disepakati dan diakui secara internasional untuk pengujian yang dapat diadopsi di tingkat nasional.

Pemerintah juga didesak untuk mengatasi dampak yang menghancurkan dari penutupan perbatasan dan pembatasan perjalanan yang diberlakukan pemerintah lainnya.

Caranya  dengan mendukung kelangsungan penerbangan melalui bantuan keuangan langsung yang melindungi pekerjaan dan operasinal yang tidak meningkatkan tingkat hutang dan meminimalkan default pada hutang dan kerugian kredit.

 “Pandemi COVID-19 tetap merupakan krisis eksistensial dan bandara, maskapai penerbangan serta mitra komersial mereka membutuhkan bantuan keuangan langsung dan cepat untuk melindungi operasi dan pekerjaan penting,” kata Direktur Jenderal ACI, Luis Felipe de Oliveira. 

Namun bantuan semacam itu hanyalah satu bagian dari teka-teki saat industri dimulai kembali dan bersiap untuk mempertahankan operasi berkelanjutan yang berfokus pada kesehatan dan kesejahteraan para pelancong, staf, dan masyarakat.  

ACI dan IATA desak pemerintah untuk hapuskan persyaratan karantina, desak untuk memperkenalkan pengujian penumpang secara luas dan terkoordinasi untuk memungkinkan penghapusan persyaratan karantina.  Tanpa tindakan ini, tidak berlebihan jika industri ini menghadapi keruntuhan. 

Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA, mengatakan: “Kami membutuhkan tindakan cepat.  Sebagian besar jaringan udara global telah rusak parah selama lebih dari setengah tahun.  Kehilangan pekerjaan — di dalam dan di luar industri — meningkat dengan setiap hari perbatasan ditutup.  

Hilangnya setiap pekerjaan,pemulihan dan dampaknya pada ekonomi yang lebih luas menjadi lebih sulit.  Momentum sedang dibangun untuk mendukung pengujian untuk membuka kembali perbatasan.  

“Ini adalah prioritas operasional utama dan  untuk memastikan bahwa kami memiliki sektor penerbangan yang layak di akhir krisis ini, bantuan finansial putaran kedua tidak dapat dihindari. “

Sesuai dengan Peraturan Kesehatan Internasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ACI dan IATA bersatu dalam keyakinan bahwa biaya yang terkait dengan tindakan kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk mengurangi penyebaran penyakit menular, termasuk pengenalan pendekatan terkoordinasi untuk pengujian, harus ditanggung  oleh pemerintah nasional.

Himbauan biaya ditanggung pemerintah belum terjadi di Indonesia dan banyak negara lain. Syarat terbang menggunakan hasil rapid test maupun PCR masih menjadi tanggungan konsumen. 

Airports Council International (ACI), asosiasi perdagangan bandara dunia, didirikan pada tahun 1991 dengan tujuan membina kerja sama di antara bandara anggotanya dan mitra lainnya dalam penerbangan dunia.

Mitranya termasuk Organisasi Penerbangan Sipil Internasional, Asosiasi Transportasi Udara Internasional dan  Organisasi Pelayanan Navigasi Udara Sipil.  

Dalam mewakili kepentingan terbaik bandara selama fase utama pengembangan kebijakan, ACI memberikan kontribusi signifikan untuk memastikan sistem transportasi udara global yang aman dan terjamin.

Pelayanan ACI berpusat pada kepentingan pelanggan, dan berkelanjutan secara lingkungan. Per Januari 2020, ACI melayani 668 anggota, mengoperasikan 1979 bandara di 176 negara.