MADRID, Spanyol, bisniswisata.co.id: Kepulauan Canary telah dikukuhkan sebagai anggota terbaru dari Jaringan Internasional Observatorium Pariwisata Berkelanjutan (INSTO) yang sedang berkembang.
INSTO mengawasi pengembangan pariwisata yang bertanggung jawab di seluruh dunia. Pengumuman itu datang saatorganisasi yang dibentuk sebagai , sebuah inisiatif dari Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) mengadakan pertemuan tahunannya, mempertemukan para pemangku kepentingan utama dari sektor publik dan swasta.
Sejak didirikan pada tahun 2004, jaringan INSTO terus berkembang baik dalam ukuran maupun pengaruh. Sekarang, saat para anggotanya membantu memandu pemulihan pariwisata dari dampak pandemi COVID-19, mereka bertemu secara virtual untuk kedua kalinya sejak dimulainya krisis saat ini.
Pertemuan tahunan tersebut memberikan platform bagi lebih dari 100 pakar internasional untuk dialog terbuka tentang arah masa depan pariwisata dan tentang tujuan dukungan yang diperlukan untuk mempertahankan upaya mereka menempatkan keberlanjutan di jantung pertumbuhan di masa depan.
Anggota baru
Tourism Observatory of the Canary Islands, salah satu tujuan paling populer di Eropa, akan bergabung dengan 30 anggota INSTO lainnya dalam memantau dan mengukur pariwisata dan memberikan data yang jelas dan obyektif untuk memandu pengambilan keputusan berbasis bukti.
Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili berkata: “UNWTO dengan hangat menyambut Kepulauan Canary ke dalam jaringan INSTO kami. Ini menunjukkan komitmen kuat Kepulauan ini terhadap pariwisata sebagai kekuatan untuk keberlanjutan dan pembangunan.
Hal Ini akan memfasilitasi generasi bukti yang lebih banyak dan lebih baik tentang dampak ekonomi, lingkungan dan sosial yang ditimbulkan oleh pariwisata di Kepulauan Canary, tambahnya.
Ms. Teresa Berástegui Guigou, Wakil Menteri Pariwisata untuk Kepulauan Canary, menambahkan: “Penggabungan Kepulauan Canary ke dalam Jaringan Internasional UNWTO untuk INSTO terjadi pada saat yang penting dan menentukan untuk sektor pariwisata global.
Mengingat krisis kesehatan dan semakin pentingnya bekerja pada keberlanjutan destinasi, dan pada generasi pengetahuan pariwisata untuk pengambilan keputusan, ujar Wamenpar.
Serangkaian masalah mendesak dibahas selama pertemuan tahunan INSTO, dengan masukan dari sektor publik dan swasta dan dari masyarakat sipil, termasuk akademisi.
Masalah khusus yang ditangani termasuk mengukur kebutuhan destinasi, indikator kesehatan masyarakat yang muncul, dan berbagai produk pariwisata untuk mengurangi dampak sosial dan ekonomi dari krisis saat ini.
Pertemuan tersebut juga berfokus pada isu-isu yang sedang berlangsung bagi anggota INSTO, termasuk mengukur kepuasan wisatawan dan penduduk destinasi wisata.
Selain itu juga menilai dan meningkatkan tata kelola, dan mengidentifikasi bagaimana aksi nasional dan lokal yang digabungkan membuka jalan bagi respons, ketahanan, dan pemulihan yang berkelanjutan.
Wisatawan super kaya dapat perlakuan khusus (foto: CNN)
FIJI, bisniswisata.co.id: Di tengah pandemi COVID-19 yang masih menghantui, banyak pelancong mencari cara yang aman untuk plesiran. Hingga saat ini, sejumlah negara masih memberlakukan aturan lockdown. Salah satunya adalah negara Kepulauan Fiji.
Otoritas setempat mengumumkan bahwa perbatasannya ditutup hingga setidaknya Maret 2021. Untuk sementara, pesawat komersial tidak dapat mendarat di sana.
Tetapi bagi pelancong berkantong tebal, aturan itu dapat disiasati. Mereka dapat mengajukan ‘personal travel bubble’ khusus untuk dapat mengunjungi resort mewah di sana dengan lebih leluasa.
Sekadar info, travel bubble adalah kondisi dimana dua atau lebih negara yang dinyatakan berhasil mengontrol virus Corona sepakat untuk menciptakan sebuah gelembung atau koridor perjalanan.
Gelembung ini memudahkan penduduk yang tinggal di dalamnya melakukan perjalanan secara bebas, dan menghindari kewajiban karantina mandiri.
Sebuah kemitraan antara Laucala Private Island Resort dengan Fiji Airways – maskapai penerbangan nasional negara itu – menawarkan paket wisata khusus. Turis yang berkunjung ke Fiji dalam rombongan ini akan mendapat sejumlah kemudahan.
Hingga 20 tamu dalam satu rombongan sekaligus bisa datang dengan memanfaatkan fasilitas ini. Jet-jet pribadi Fiji Airways siap menerbangkan para turis langsung dari Los Angeles ke Nadi, bandara dan pusat transit utama di negara dengan lebih dari 300 pulau ini.
Dari Nadi mereka akan ditransfer ke Laucala yang merupakan resort pulau pribadi. Di sana para turis dapat bebas menikmati pemandangan laut biru dan pasir putih yang menakjubkan, praktis hanya untuk mereka sendiri.
Aturannya saat ini, para pelancong yang diizinkan masuk Fiji harus menjalani karantina wajib selama 14 hari. Tetapi dengan mempertimbangkan lokasi Laucala yang terpencil, Departemen Kesehatan telah mengeluarkan izin program tanpa karantina bagi pelancong yang tiba di Laucala.
Meski demikian para turis yang terbang dari luar negeri ke Laucala tetap harus menunjukkan tiga hasil negatif tes COVID-19, yakni seminggu sebelum bepergian, 72 jam sebelum naik pesawat, dan satu hasil tes saat tiba di Fiji.
Selain urusan transportasi dan hotel yang serba berkelas, pelancong dengan paket khusus ini dapat memanfaatkan Private Suite di Bandara Internasional Los Angeles.
Itu adalah lounge bandara pribadi yang mewah yang biasa digunakan para anggota keluarga kerajaan dan selebritis sebelum meninggalkan LA. Setibanya di Nadi, para tamu akan dijamu di lounge pribadi milik Fiji Airways.
Bagaimana dengan biayanya? Tentu tidak murah. Anda perlu menyiapkan dana US$ 490.000 atau sekitar Rp 7,1 miliar. Harga itu sudah termasuk biaya pesawat jet pribadi, akomodasi selama 7 hari, biaya aktivitas selama di pulau, makan dan minum, serta transfer bandara untuk maksimal 20 orang.
Paket ini hanya ada di Los Angeles. Jika Anda tidak tinggal di LA, berarti Anda harus mengurus sendiri seluruh keperluan untuk mencapai Fiji.
Dengan harga super mahal, tawaran ini tentu bukan didesain untuk kebanyakan turis. Tetapi ini bukanlah satu-sataunya program yang diinisasi pemerintah untuk menggairahkan sektor pariwisata yang berkontribusi 40% terhadap produk nasional bruto.
Sudah menjadi rahasia umum, Perdana Menteri Fiji Josaia “Frank” Voreqe Bainimarama memang amat berhasrat menarik minat wisatawan super kaya untuk datang ke negara yang memiliki lebih dari 300 pulau itu.
Pemerintah sebelumnya juga menawarkan ‘jalur biru’ bagi para pelancong yang datang dengan kapal pesiar pribadi.
Mereka bisa menjalani karantina di atas kapal sebelum datang mendarat dan menjelajah negara kepulauan dengan banyak hotel mewah itu.
BALI, bisniswisata.co.id: Sumbangandevisa dari sektor pariwisata meningkat dari 12,2 miliar dolar AS pada 2015, menjadi 13,6 miliar dolar AS di 2016, dan naik lagi menjadi 15 miliar dolar AS pada 2017. Pada 2018 ditargetkan meraup devisa 17 miliar dolar AS, pada 2019 dibidik menyumbang devisa nomor 1 mengalahkan sektor lain dengan proyeksi nilai sebesar 20 miliar dolar AS.
Realisasi tahun 2019 menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio mencapai Rp 280 triliun dengan posisi kontribusi pada PDB nasional sebesar 5,5 %. Meningkat dari capaian 2018 yaitu Rp 270 triliun yang berkontribusi 4,5 % terhadap PDB.
“Hampir 40% adalah kontribusi industri di Bali,” jelas Ketua DPD ASITA Bali periode 2016-2020 Ketut Ardana disela persiapan Musda ASITA Bali yang direncanakan 16 Desember mendatang.
Untuk tahun 2020, lanjutnya kepada bisniswisata.co.id, Bali tidak mampu berkontribusi devisa, justru memerlukan suntikan dana segar agar mampu memulai industri plesir yang berdamai dengan pandemi COVID-19.
Seperti diketahui, data tahun 2020, dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total kunjungan wisman periode Januari-Agustus 2020 hanya 3,41 juta, atau anjlok 68,17% dibandingkan periode yang sama tahun 2019. Indonesia diperkirakan akan kehilangan devisa lebih dari Rp 213 triliun karena penurunan jumlah wisatawan mancanegara. Kondisi ini juga berimbas besar pada pelaku industri pariwisata.
Angin segar untuk segera bangkit muncul saat dikeluarkannya Surat Menteri Keuangan RI Nomor: S-244/MK.7/2020 tanggal 12 Oktober 2020, perihal : Penetapan Pemberian Hibah Pariwisata Tahun Anggaran 2020, melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dilansir pada tanggal 13 Oktober 2020 melalui simakrama on-line bahwasanya Pemerintah menyiapkan dan segera menyalurkan dana hibah pariwisata sebesar Rp 3,3 Triliun bagi pelaku usaha pariwisata dan pemerintah daerah untuk dapat bertahan di tengah pandemi. Guna membantu pemerintah daerah serta industri hotel dan restoran yang saat ini sedang mengalami gangguan finansial. Serta recovery penurunan pendapatan asli daerah (PAD) akibat pandemi COVID-19.
Dipertanyakan
Merespon Surat Menteri Keuangan RI Nomor: S-244/MK.7/2020 tanggal 12 Oktober 2020 tersebut, DPD ASITA Bali mempertanyakan eksistensi 11 sektor diluar hotel dan restoran bagi negara.
“Industri pariwisata itu melibatkan paling sedikit 13 sektor bisnis, ASITA dan anggota adalah salah satu importir tanpa kontainer yang mendatangkan wisman dan wisnus ke Bali,” kata Ketut Ardana.
Menurut Undang-Undang Pariwisata no 10 tahun 2009, industri pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata. Pada industri ini paling tidak ada 13 sektor terlibat didalamnya antra lain: agen perjalanan wisata, sanggar seni, penyelenggaraan MICE ( Meeting, Incentive, Convention Exhibition), penyediaan akomodasi wisata, penyediaan makanan dan minuman dilokasi wisata, jasa informasi pariwisata, pengelolaan tempat wisata, jasa konsultan pariwisata, usaha jasa pramuwisata/pemandu wisata, wisata tirta/air, jasa transportasi pariwisata, industri kerajinan dan pusat penjualan oleh-oleh.
UU jelas menyebutkan keberadaan agen perjalanan wisata yang secara resmi bernama ASITA, tercatat DPD ASITA Bali beranggotakan 422 perusahaan sebanyak 14 BPW menggarap pasar ASEAN, 118 BPW mengelola pasar domestik, 34 BPW menangani pasar Australia, 102 BPW menlayani pasar China, 52 BPW melayani pasar Jepang. Pasar Eropa Barat dikelola 58 BPW, tujuh BPW untuk pasar Middle East, 38 BPW melayani pasar India dan pasar Amerika dikelola 29 BPW
Jika didekade 80- 90, wisatawan yang berkunjung ke Bali menggunakan jasa biro perjalanan wisata anggota ASITA Bali. Dekade 10 tahun terakhir, anggota DPD ASITA Bali hanya mampu mengelola kurang lebih 40 persen dari total wisatawan manca negara dan domestik yang berkunjung ke Bali. Prosentase lainnya berbagi dengan pihak jasa sales and marketing on line, pengelola open trips mau pun hotel.
DPD ASITA Bali sangat mengapresiasi upaya pemerintah, juga mengingatkan bahwa sektor ekonomi dalam industri pariwista tidak hanya hotel dan restoran, ada 11 sektor lain yang secara asosiasi berada dibawah naungan Bali Tourism Board. Khusus biro perjalanan wisata/BPW di Bali, domiman focus usaha anggota di bidang inbound tourism .
Hampir 46 tahun terakhir melakukan kegiatan promosi diseluruh event baik dalam maupun luar negeri sesuai pasar yang dilayani masing- masing perusahaan. Sebagai asosiasi perjalanan wisata, ASITA juga menyelenggarakan, menyusun dan menjual paket wisata dalam negeri kepada tour operator di dalam dan luar negeri atas dasar permintaan mitra kerja di pasar- pasar wisatawan.
Lebih jauh dipaparkan Ketua DPD ASITA Bali, bahwa ASITA dan anggota juga telah menyelenggarakan event besar pasar wisata yang mendatangkan seller dan buyer dari kantong- kantong wisatawan 10 besar untuk Bali bernama Bali and Beyond Travel Fair. Untuk tahun 2020, acara ditunda dengan alasan pandemi sebagai kebijakan melindungi pasar mau pun Bali sebagai destinasi.
Dalam pergerakan industri pariwisata, anggota ASITA juga berkontribusi pajak langsung mau pun tidak langsung. Baik pajak badan usaha, PPn, PPH, pajak tidak langsung yang dibayarkan melalui akomodasi dan restorant yang digunakan oleh “tamu” FIT, atau grup dari anggota ASITA.
DPD ASITA Bali hanya mengingatkan kembali, amanat Undang- undang kepariwisataanNo 10 tahun 2009pasal 31: bahwa setiap perseorangan, organisasi pariwisata, lembaga pemerintah, serta badan usaha yang berprestasi luar biasa atau berjasa besar dalam partisipasinya meningkatkan pembangunan, kepeloporan, dan pengabdian di bidang kepariwisataan yang dapat dibuktikan dengan fakta yang konkret diberi penghargaan.
Penghargaan sebagaimana dimaksud diberikan oleh Pemerintah atau lembaga lain yang terpercaya . Dapat berbentuk pemberian piagam, uang, atau bentuk penghargaan lain yang bermanfaat. Penyusunan regulasi dan pemberian insentif untuk mendorong perkembangan industri kecil dan menengah dan usaha pariwisata skala usaha mikro, kecil dan menengah yang dikembangkan masyarakat lokal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; Mendorong pemberian insentif dan kemudahan bagi pengembangan industri kecil dan menengah dan Usaha Pariwisata skala usaha mikro, kecil dan menengah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan mendorong pelindungan terhadap kelangsungan industri kecil dan menengah dan Usaha Pariwisata skala usaha mikro, kecil dan menengah di sekitar destinasi pariwisata.
DPD ASITA Bali, berharap hibah juga diberikan sesuai dengan amanat UU No 10 tahun 2009 pasal 31 tersebut, dan seluruh sektor ekonomi dalam industri pariwisata dapat segera bangkit dengan adanya dukungan ini dan sekaligus penerapan protokol kesehatan berbasis clean, healty, safety, environment (CHSE).
Reporter bisniswisata.co.id, Arum Suci Sekarwangi mendapat undangan Famtrip ke Kabupaten Garut, Jawa Barat dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Ekraf dari 28 – 30 Oktober 2020 bertepatan dengan libur bersama yang ditetapkan pemerintah berkaitan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Berikut laporan ke enam
GARUT, bisniswisata.co.id: Wisata desa menjadi acuan dan tema pada Hari Pariwisata Dunia 27 September 2020 lalu yaitu Tourism and RuralDevelopment, yakni untuk membantu komunitas pedesaan membangun potensi pariwisata yang ada.
Bagi banyak komunitas pedesaan, pariwisata adalah jalur kehidupan sejati. Ini memberikan lapangan kerja dan peluang di luar kota besar, terutama bagi perempuan dan pemuda.
Pariwisata juga membantu masyarakat pedesaan mempertahankan warisan alam dan budayanya. Harapan pemulihan kini disandarkan pada pariwisata domestik. Saat banyak pintu imigrasi masih ditutup, aktivitas wisata dalam negeri akan digenjot untuk memutar roda perekonomian.
Desa wisata kini menjadi pilihan berwisata di masa pandemi COVID-19 dan berbicara soal wisata di Jawa Barat rasanya memang tidak pernah ada habisnya, banyak sekali obyek wisata yang dimiliki oleh Jawa barat salah satunya terletak di Desa Ciburial.
Asal mula desa wisata yang terletak di Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut ini dinamakan Ciburial adalah karena di kawasan ini terdapat beberapa mata air. “Ci” yang berarti air dan “Burial” yang memiliki makna keluar dari tanah. Jadi maknanya adalah mata air ini tidak pernah kering bahkan di musim kemarau. Air nya juga sangat jernih.
Desa wisata ini menawarkan pengalaman hidup di pedesaan untuk para pengunjung ( Live in). Berbagai macam aktifitas yang menarik dapat dinikmati diantaranya berkebun sawi, Merawat domba Garut di Villa Domba, memancing ikan hingga outbound.
Suasana khas pedesaan bisa menjadi barang mahal bagi masyarakat perkotaan. Itulah yang dipikirkan oleh Oban Subana, Kepala Desa setempat pada 2010 lalu.
Boleh dibilang pemikirannya yang visionerlah akhirnya dirintis lahirnya desa wisata ini. Sebelumnya desa punya usaha simpan pinjam, tapi tidak bisa jalan, makanya mencari usaha lain hingga akhirnya muncul ide desa wisata.
“Oban Subana sebagai Kepala Desa Sukalaksana Kecamatan Samarang membuat konsep dasarnya memang menjual suasana asli khas pedesaan di sini,” jelas Hadian Hendracahya, Manajer Desa Wisata Ciburial saat menyambut kedatangan rombongan.
Meski telah muncul ide membangun desa wisata, namun menurut Hadian saat itu konsep yang akan dijual belum jelas. Akhirnya kepala desa membawa Hadian dan beberapa orang pemuda melihat sumber mata air Ciburial yang sebelumnya selalu dijadikan sajian atau paket wisata oleh salah satu hotel ternama yang ada di Desa tetangganya.
“Pak Kepala Desa memulai dengan membangun satu saung penginapan di samping sumber mata air Ciburial dan mulai pembenahan lahan,” katanya.
Setelah itu pembangunan sarana dan prasarana pun terus dilakukan pihak desa. Hingga, saat ini telah berdiri beberapa bangunan lain mulai dari kantor hingga ruang rapat.
Kini suasana desa wisata mulai terasa begitu pengunjung memasuki gerbang Desa Sukalaksana. Jalan desa tampak bersih dengan pemukiman warga yang teratur rapih, dan area pesawahan di kiri jalan.
Begitu masuk ke parkiran desa wisata ini, bau khas dari lahan pertanian terasa kental. Puluhan anak-anak dan remaja menyambut dan menarikan pertunjukan Barudak Lembur, menampilkan berbagai permainan tradisional jaman dulu.
Selain penginapan, kantor dan ruang pertemuan, di atas lahan desa wisata juga ada lahan-lahan pertanian dan lapangan bermain. Lahan pertanian ini menjadi salah satu paket wisata yang bisa dinikmati pengunjung, berupa paket wisata edukasi.
“Pengunjung bisa belajar menanam sawi, mengolah sawah, memandikan dan mencukur domba Garut sampai memancing ikan dan ngagogo (nangkap ikan di kolam),” kata Hadian.
Kunjungan tamu melibatkan banyak warga untuk menarikan permainanntradisional, membatik motif Farutan, pembuatan kopi dan budi daya domba Garut.
Selain itu, ada juga paket wisata keterampilan dari mulai belajar silat, gamelan, membatik, membuat kerajinan dari bahan akar wangi, hingga membuat sabun dari bahan akarwangi.
Makanya, biasanya pengunjung desa wisata ini rata-rata lama tinggal selama tiga hari dua malam dan rimbongan anak sekolah bisa sampai satu minggu tinggal di desa, mengisi homestay yang ada.
Batik Garutan
Apa aktivitas yang bisa dilakukan oleh pengunjung di desa wisata ini terutama yang mengikuti program LiveIn ? tentunya mendalami batik tulis Garutan yang diproduksi di Desa Ciburial ini sehari-hari.
Motif yang dibuat terinspirasi dari alam yg ada di desa tersebut. Seperti motif Bulu Ayam, Cupat Manggu, Bilik, Bambu dan juga Caisim. Kisaran harganya sendiri dihargai 150.000 per meternya.
Domba Garut
Domba Garut diternakan dan diperlakukan sebagai hewan yang istimewa. Terlihat dari kandang yang ada dengan sebutan Villa Domba Desa Ciburial.
Domba-dimba ini layaknya atlit juga sering mengikuti kompetisi seperti, Adu Domba dan modeling. Domba domba disini juga memiliki bentuk bentuk tanduk yang bagus dan juga bulu yang sangat bersih.
Aneh tapi nyata tapi jika ada pengunjung mereka bisa langsung berpose bak model. Tidak heran jika harga Domba Garut yg sering mengikuti kompetisi ini bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Teh Dengan Cita Rasa Kopi
Selain Kopi Akar wangi, Desa Ciburial juga memproduksi minuman yg cukup unik, namanya Teh Kewer. Minuman ini memiliki aroma yang sama dengan kopi. Teh kewer sendiri berasal dari tanaman kewer yang tumbuh liar di sekitaran Desa Ciburial.
Tanaman bernama latin Senna Septemtrionalis ini memiliki banyak khasiat untuk kesehatan, seperti mengobati sakit pinggang, melancarkan buang air kecil dan juga meringankan gejala penyakit ginjal, bahkan hingga meringankan gejala penyakit stroke.
Desa Wisata Saung Ciburial saat ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BumDes) Desa Sukalaksana. Selain mengurus desa wisata, BumDes ini juga memiliki dua unit usaha lain yaitu penyediaan air bersih bagi warga dan perdagangan umum.
Hebatkan?..Nah siapa mau berwisata sekaligus jadi penggerak desa wisata ? gerakan yang kini menjadi trend dunia karena pengunjung yang datang bukan hanya menjadi penikmat tetapi juga berkontribusi ilmu pengetahuan maupun proyek-proyek untuk kemaslahatan ummat.
Reporter bisniswisata.co.id, ArumSuci Sekarwangi mendapat undangan Famtrip ke Kabupaten Garut, Jawa Barat dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Ekraf dari 28 – 30 Oktober 2020 bertepatan dengan libur bersama yang ditetapkan pemerintah berkaitan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Berikut laporan ke lima.
GARUT, bisniswisata.co.id: Puas menikmati sarapan di tempat makan yang sudah melegenda di Garut, saatnya melancong ke tempat wisata yang hits yaitu Kamojang Ecopark, wisata ala drama Korea, WinterSonata karena di tempat ketinggian ini dipenuhi pohon pinus seperti lokasi shooting film itu.
Destinasi wisata yang terbilang baru ini berada di perbatasan antara Kabupaten Garut dan Kabupaten Bandung. Lokasinya berada di pegunungan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Kamojang.
Lantaran berada di ketinggian, sudah barang tentu udara cukup dingin. Dalam waktu tertentu kabut turun menyelimuti destinasi wisata yang dibuka untuk umum pada dua tahun lalu itu.
Counter tiket berupa kontainer dan Kamojang Ecopark yang berada di ketinggian dengan udara sejuk ini menawarkan ragam spot selfieInstagrammable yang menjadi kebutuhan baru wisatawan di era digital ini.
Setibanya disana rombongan Famtrip Kemenparekraf disambut dengan pertunjukan kesenian Raja Dogar, salah satu pertunjukkan seni khas Garut yang telah pentas di Istana Negara dalam acara Kemilau Nusantara dan bahkan sudah pentas hingga luar negeri.
Pak Entis selaku pendiri kesenian Raja Dogar mengatakan saat ini seni pertunjukkan yang didirikan pada 18 Desember 2005 ini sudah sampai ke 6 ggenerasi.Pertunjukannya mirip barongsai hanya bentuknya dimba Garut. Tiap ‘domba’ berisi dua orang pemain juga.
Puas dengan pertunjukkan Raja Dogar, kami langsung berburu foto di beberapa spot selfie yang ada disana. Terdapat beberapa spot foto yang instagramable di Kamojang Ecopark sehingga tak heran banyak sekali kaum milenial datang kesini baik dari dalam maupun luar kota untuk berswafoto.
Pemandangan alam yang disuguhkan di tempat wisata yang baru dibuka di awal tahun 2018 ini juga sangat cantik. Sayang untuk beberapa spot sudah perlu perbaikan karena kurang perawatan ditambah lagi tantangan cuaca dan udara terbuka sehingga ada kerusakan kecil yang harus diwaspadai oleh pengelola maupun pengunjung.
Untuk masuk ke tempat wisata ini pengunjung perlu mengeluarkan biaya sebesar Rp 15.000 per orang. Di beberapa spot foto favorit, pengelola sudah menyediakan fotografer yang siap memotret dengan angle yg ciamik, pengelola menarik biaya Rp 5000 per foto.
Sebut saja misalnya gardu pandang seperti jembatan dengan pemandangan lembah hijau berkabut. Ada pula sepeda gantung, exstrem swing dan ayunan di pinggir tebing, lalu ada penyewaan ATV, Flying Fox dan berbagai fasilitas lainnya.
Di Kamojang Ecopark juga terdapat replika balon udara raksasa yang bisa kita naiki. Warna jingga balon udara menambah cantik foto kita di tengah hijaunya suasana hutan pinus.
Nah daya tarik utama dari tempat ini adalah area hutan pinus yang tertata rapi. Banyak wisatawan yang menyebutnya mirip seperti dengan salah satu scene drama korea yang terkenal: Winter Sonata
Kamojang Ecopark juga memiliki taman bunga matahari yang tak kalah sedap di pandang mata. Hamparan bunga berwarna kuning itu sudah barang tentu menambah foto yang kita ambil di sini semakin menarik.
Di Kamojang Ecopark ada beberapa fasilitas unggulan lainnya seperti rumah makan yang nuansanya seperti rumah pohon terbuat dari kayu. Ada pula semacam amphitheater. Untuk kenangan lainnya silahkan berfoto ala putri Jepang karena pengunjung bisa juga menyewa kimono untuk sekadar mengabadikannya dan diunggah ke media sosial.
Atraksi Pertunjukan Raja Dogar di Ecopark Kamojang ( Foto-foto: Arum Suci Sekarwangi)
Charlie Chaplin
Charlie Chaplin adalah seorang seniman legendaris dunia. Tak hanya dikenal sebagai komedian, ia juga seorang aktor, sutradara, penulis cerita dan penata musik. Siapa sangka pria yang pernah meraih penghargaan Academy Award atau Oscar ini pernah berkunjung ke Garut, Indonesia bahkan sampai dua kali dalam waktu cukup lama.
Pria asal Inggris ini berjaya di era film bisu di awal era 1900-an ini pertama datang pada 1927. Lalu pada 1932, ia datang lagi Garut bersama kakaknya Sydney Chaplin.
Dalam film dokumentasi kunjungannya terlihat, setiba di Stasiun Cibatu, Chaplin disambut antusias warga, termasuk santri dan pelajar. Komedian yang dikenal dengan potongan kumis ala Adolf Hitler ini membalas sambutan itu dengan hangat seperti dilansir dari akun Instagram @album sejarah
Chaplin menjuluki Garut sebagai Swiss van Java. Saat itu para pemilik perkebunan di tanah Priangan memang kerap berwisata ke Garut dengan naik kereta api lalu dijemput lebih dari selusin sedan taksi dan limousine tua milik hotel parkir di pelataran stasiun untuk menjemput tamu-tamu penting yang akan bertamasya dan liburan di Garut.
Selain Garut, Chaplin mengunjungi Situ Cangkuang dan kemudian ke Candi Borobudur, Jawa Tengah. Lalu, ia berkunjung ke Bali pada 4 April -17 April 1932 bersama Sydney.
Aneh juga jika selama ini Pemkab Garut tidak pernah memasarkan dengan baik potensi wisata alam dan sejarahnya yang sudah dikunjungi tokoh dunia.
Apalagi adanya pandemi Covid-19 yang melanda, berdampak krisis pada segala sektor kehidupan, salah satu yang paling terdampak krisis akibat pandemi adalah sektor pariwisata.
Oleh karena itu segala upaya dilakukan oleh pemerintah untuk memulihkannya, salah satunya dengan membuka kembali beberapa destinasi wisata unggulan, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.
Beragam macam destinasi wisata mulai dari gunung hingga pantai dimiliki oleh Garut. Garut memiliki potensi yang besar untuk mendapat kunjungan wisatawan dengan jumlah yang tinggi apalagi akses tol dari ibukota hanya 4 jam.
Beruntung dikunjungan kali ini ada Koordinator Pemasaran Pariwisata Regional I Area Kemenparekraf /Baparekraf, Taufik Nurhidayat. Dia menuturkan, Kamojang Ecopark merupakan destinasi unggulan yang cocok untuk semua kalangan, baik anak-anak muda maupun keluarga.
“Tren baru destinasi wisata di tengah digitalisasi adalah spot selfieInstagrammable. Di Kamojang Ecopark ini ada banyak fasilitas spot selfie yang cocok untuk semua kalangan,” kata Taufik yang menggelar Famtrip ini.
Bimtek untuk Pemkab Garut
Famtrip ini diselenggarakan setelah sebelumnyaKemenparekraf/Bapare- kraf menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Teknis Kemitraan Strategi Promosi Pariwisata di Era Adaptasi Kebiasaan Baru di Garut. Bimtek itu dimaksudkan untuk kembali menggairahkan sektor pariwisata di Kabupaten Garut yang terdampak imbas pandemi COVID-19.
Taufik Hidayat, Koor Pemasaran Pariwisata Reguonal 1, Area 1 Kemenpar dan Ferdiansyah ( kanan), anggota Komisi X DPR-RI.
Menurutnya, sebagai obyek wisata unggulan, Kamojang Ecopark sudah barang tentu menjadi pilihan destinasi wisatawan untuk menghabiskan waktu berlibur. Namun, pandemi Covid-19 mengubah pola kunjungan wisatawan dalam menentukan destinasi wisata.
Sebelum melakukan perjalanan wisata, wisatawan akan menggali informasi apakah destinasi yang akan dituju memenuhi standar protokol kesehatan COVID-19. Mereka memperhatikan aspek kebersihan, kesehatan, keamanan dan keberlangsungan lingkungan hidup.
“Melalui Bimtek itu kami memberikan pedoman kepada pelaku wisata agar destinasi mereka tak hanya menarik dari segi fasilitas pendukung saja, tetapi juga memenuhi standar protokol kesehatan yang konsisten dan disiplin diterapkan,” ungkap Taufik.
Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah menambahkan, salah satu kekuatan sektor pariwisata di Garut adalah alam, dalam hal ini hutan lindung. Hampir 80 persen destinasi di Garut adalah berbasis alam.
Kekuatan itu menurutnya mesti terus dikolaborasikan agar dapat dipromosikan secara proporsional. Tujuan akhirnya tak lain yakni datangnya wisatawan yang berimbas pada bergeliatnya perkonomian masyarakat.
“Pariwisata ini adalah sektor yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Nah, sebelum kita melakukan promosi, harus ditentukan dulu target pasarnya, pola promosinya. Kita berterimakasih kepada Kemenparekraf yang sudah bekerja keras membangkitkan kembali pariwisata di Garut ini,” ungkapnya.
Ferdiansyah berharap Kemenparekraf terus mengawal strategi pemasaran Kabupaten Garut. “Mudah-mudahan ke depannya harus dibuat lebih matang dan nanti di tahun 2024 menjadi titik take-off pariwisata di Kabupaten Garut,” harap dia.
Dia berharap bisa menggeser aktivitas wisatawan untuk memilih wisata alam dan budaya, keseimbangan dan keheningan, dan Garut memiliki segalanya untuk tujuan wisata tersebut.
“Famtrip ini akan menjadi pengalaman bagi para operator travel, travel agent dan rekan-rekan media. Informasi yang akan diterima di sembilan destinasi selama Famtrip di Garut akan membantu promosi atau sosialisasi mengenai kepariwisataan Kabupaten Garut” jelas Ferdiansyah.
“Harapan saya Business to Business (B2B)
bisa segera dilakukan untuk menjual Garut sehingga pangsa pasarnya meluas hingga Jakarta selain Bandung yang kini mulai masuk ke Garut,” paparnya.
Dengan mulainya B2B, kata Ferdiansyah, maka ada kesempatan menata kesiapan destinasi dan pendukung destinasi, travel agent mudah mengemas paket tour, lalu ditata berdasarkan segmentasi pasar, berdasar latar belakang konsumen, minat dan keinginannya.
Sementara untuk menjual Garut kepada wisatawan, inovasi sangat diperlukan. ”Kami mempersiapkan cukup lama, hingga 10 tahun dengan amenitas dan atraksinya, juga aksesibilitasnya,” paparnya.
Tantangan bagi pengembangan wisata di Garut adalah masalah Sumber Daya Manusia (SDM). Atraksi yang gampang dijual, kemasannya yang perlu ditata sesuai Sapta Pesona, diantaranya melahirkan kenangan indah bagi wisatawan.
Gede Gunawan, Country Director Agoda Indonesia saat daring, hari ini. ( Foto: Kemenparekraf)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Program Agoda GoLocal Tonight dan Hygiene Plus sebagai upaya untuk mendukung kebangkitan sektor pariwisata di Indonesia yang terdampak oleh pandemi COVID-19,” kata Gede Gunawan, Country Director Agoda Indonesia.
Dia menjelaskan kedua program ini merupakan bentuk dukungan Agoda terhadap Pemerintah Indonesia untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata di Tanah Air.
“Selain itu, Gunawan menambahkan, khusus untuk program Hygiene Plus, hotel, dan penginapan yang bermitra dengan Agoda akan menerima sertifikasi Hygiene Plus dari Agoda sebagai penanda bahwa hotel dan penginapan tersebut menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan disiplin,” tambahnya.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf, Nia Niscaya, dalam keterangannya, Jumat (30/10/2020), mengungkapkan pandemi COVID-19 berdampak besar terhadap sektor pariwisata di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hal ini memicu terjadinya perubahan tren pariwisata dari wisata murah menjadi wisata aman.
“Wisatawan cenderung lebih mencari destinasi yang aman, dalam artian sudah menerapkan protokol kesehatan. Selain itu, saat ini wisatawan juga mengutamakan fleksibilitas di sektor transportasi dan akomodasi,” kata Nia.
Nia menjelaskan, pihaknya mendukung program Agoda GoLocal Tonight yang merupakan program diskon tambahan hingga 30 persen bagi wisatawan yang melakukan reservasi hotel di kota tempat tinggalnya pada hari yang sama.
Sementara, Hygiene Plus adalah program penerapan protokol kesehatan yang ketat di hotel atau penginapan yang bermitra dengan Agoda yang sesuai dengan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) yang telah disusun oleh Kemenparekraf/Baparekraf.
“Kemenparekraf mendukung program GoLocal Tonight dan Hygiene plus karena kedua program ini dapat membantu industri akomodasi beradaptasi dengan kebutuhan wisatawan di masa adaptasi kebiasaan baru, serta membantu agar para wisatawan dapat berwisata dengan aman dan fleksibel,” ungkap Nia.
Nia mengingatkan masyarakat agar selalu disiplin menerapkan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, mengenakan masker, dan menjaga jarak, terutama di destinasi-destinasi wisata.
“Jadi wisatawan juga wajib memastikan destinasi yang dituju sudah menerapkan protokol kesehatan dengan baik dan disiplin,” katanya.
Gede Gunawan juga menambahkan bahwa hotel dapat mengakses dan ikut serta dalam program HygienePlus tanpa dipungut biaya. “Pengelola hotel dan penginapan cukup menerapkan protokol kesehatan secara ketat yang nantinya akan dimonitor oleh tim kami. Jika dinilai memenuhi syarat, maka kami akan memberikan badge Hygiene Plus bagi hotel dan penginapan tersebut,” ujarnya.
H. Endang, generasi kedua soto legendaris Garut, H. Achri yang sudah buka sejak 77 tahun lalu. ( Foto: Arum Suci Sekarwangi).
Reporter bisniswisata.co.id, ArumSuci Sekarwangi mendapat undangan Famtrip ke Kabupaten Garut, Jawa Barat dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Ekraf dari 28 – 30 Oktober 2020 bertepatan dengan libur bersama yang ditetapkan pemerintah berkaitan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Berikut laporannya ke empat.
GARUT, bisniswisata.co.id: Salah satu keunggulan dari Kabuparen Garut adalah wisata kulinernya. Untuk itu nama Soto Haji Achri sudah dikenal masyarakat Garut dan juga wisatawan karena dimasak di atas tungku berbahan bakar kayu.
Oleh karena itu hari kedua di Garut, pagi-pagi rombongan Famtrip Forwaparekraf sudah duduk berjajar rapi di bangku panjang untuk mencicipi Soto Haji Achri yang legendaris.
Mengapa dibilang legendaris karena sudah eksis sebelum bangsa Indonesia merdeka dari para penjajah. Didirikan sejak tahun 1943 dan saat ini dipegang oleh generasi ke dua yaitu anak nomor dua dari H. Achri yaitu H. Endang.
Uniknya untuk mencicipi kuliner andalan ini perlu blusukan dulu karena tempatnya bukan di tepi jalan yang straregis, tapi justru menyelinap di antara keramaian Pasar Baru Garut, tepatnya di Jalan Mandalagiri, Gang Hardjo.
Di mulut gang sempit selebar 2,5 meter itu, warung soto Haji Achri memakan hampir dua pertiga lebar gang sehingga hanya menyisakan 1 meter untuk akses warga keluar masuk.
Kami duduk di meja persis disamping H. Endang meracik soto disetiap mangkuk, didampingi istrinya yang membantu. Terdapat dua menu yaitu , soto daging ayam dan daging sapi. Sebuah talenan kayu berbentuk bulat tebal menjadi alat bantunya memotong-motong daging.
Haji Endang bekerja cekatan dalam diam, lalu potongan daging ditatanya dalam piring bukan mangkok. Nampaknya beliau memang tidak pelit dalam penyajian sehingga piring dipenuhi dengan daging baru ditambahkan kuah.
Untuk daging sapi sendiri yang banyak digunakannya kebanyakan daging sapi bagian kepala. Dalam satu hari bisa menghabiskan sekitar 25-30kg daging sapi dan juga 4-5 kg kelapa untuk santannya.
Seru juga menyantap soto di gang senggol, maksudnya menyantap soto di antara hilir mudik warga yang keluar masuk gang. “Kami sudah jualan sejak tahun 1943. Ya di gang ini aslinya. Haji Achri itu ayah saya. Sekarang warung soto ini saya teruskan setelah bapak wafat,” kata Haji Endang.
Pagi itu rombongan kami semua berseragam kaos kuning. Warung itu penuh oleh anggota Forwapar saja. Dua buah meja panjang seukuran tiga meter diapit oleh masing-masing dua bangku panjang bisa menampung 20 orang dewasa. Warung ini setiap hari selalu ramai pengunjung.
” Saya tetap menggunakan bahan dan cara memasak seperti awal soto ini dijual 77 tahun lalu, sehingga rasa tetap terjaga,” kata H Endang.
Dalam satu hari dia bisa menghabiskan kira kira 300 porsi soto. Saat ini sudah terdapat 6 cabang, dua cabang ada di garut dan empat lainnya di Bandung. Jam buka dari pukul 06.00 sampai jam 12.00 untuk di pusat tempat rombongan kani makan.
Dandang hitam berisi soto habis jam 10.00- 11.00 WIB saja.
Jadi bila datang untuk makan siang belum tentu ada karena sajian ini paling favorit buat sarapan. Kalau beruntung juga bisa untuk brunch. Istilah brunch merupakan singkatan dari breakfast (sarapan) dan lunch (makan siang) soalnya antara jam 10.00-11.00 pagi sudah habis stock soto legendaris ini. Hebat kan……
Rombongan kami makan di pusat yang ada di tengah pasar Mandala Giri, tidak jauh dari stasiun Garut dan harga satu porsi seharga Rp 22.000 untuk ayam dan Rp 28.000 untuk soto sapi.
Saat sebelum makan maupun setelah makan, ada saja anggota rombongan yang mengintip dapur belakang tempat dandang hitam tinggi besar memasak kuah soto yang lezat. Haji Endang masih memasak menggunakan tungku kayu untuk menjaga rasa.
Setiap hari, Endang dan istrinya Hj Wanti dibantu dua karyawannya selalu setia melayani para pelanggan. Kesetiaan adalah kunci dari bisnis keluarga ini. Melayani sendiri pelanggan dengan sepenuh hati. Endang tetap menjaga kualitas rasa dan tidak mengubah proses memasaknya.
“Memasaknya memakai tungku dengan kayu bakar. Tak pakai kompor gas karena rasanya bisa beda,” jelasnya. Endang bercerita banyak pelanggan sotonya berasal dari luar kota, seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, termasuk sejumlah pejabat.
“Pelanggannya mulai dari zaman ayah saya dulu berjualan. Ada yang dulu masih kecil pernah diajak orangtuanya ke sini, sekarang gantian mengajak keluarga. Mantan Menteri Suryadarma Ali waktu jadi Menteri Koperasi juga pernah ke sini,” kata Endang.
Semangkuk soto Haji Achri adalah paduan kuah soto bersantan dengan bumbu dan rempah pilihan. Sementara isiannya adalah daging sapi wtau ayam debgan taburan daun seledri, bawang goreng dan kacang kedelai goreng.
“Akan lebih nikmat jika dimakan nasi putih hangat dan kerupuk kulit kerbau. Rasanya dari dulu sampai sekarang tidak berubah.Disajikan dengan perasan jeruk nipis, sambal, dan kacang kedelai goreng. ” kata salah seorang pria yang sedang mengantri untuk makan.
Risih juga menyadari banyak pelanggan yang menunggu rombongan wartawan ini keluar dari warung soto itu. Namun mungkin mereka juga sudah biasa menunggu untuk menikmati soto Haji Achri.
Berdesakan di gang sempit bagi mereka adalah harga yang setimpal demi menikmati semangkuk soto legenda Garut itu. Ada teman yang sarapan dobel baik di hotel maupun di soto Achri berjalan dengan perut kekenyangan. Pokoknya tidak ada sesal menyantap soto itu…..
Sepi pengunjung bandara bersejarah ini tutup selamanya (foto: DW)
BERLIN, bisniswisata.co.id: Dampak pandemi COVID-19 sungguh luar biasa. Setelah berbulan-bulan sepi pengunjung akibat aturan lockdown yang diberlakukan di Eropa, bandara tersibuk dan bersejarah di ibu kota Jerman ini terpaksa tutup untuk selamanya.
Dibangun hanya dalam tempo tiga bulan pada 1948, Bandara Tegel di Berlin ini terpaksa ditutup bulan depan. Penumpang akan dialihkan ke bandara internasional baru, berlokasi di sisi lain kota, yang dijadwalkan akan diresmikan pada Sabtu (31/10).
Pandemi virus corona telah mempercepat pengoperasion bandara yang hampir satu dekade terlambat dari jadwal, seperti dilansir Reuters.
Penutupan Bandara Tegel diambil sebagai langkah untuk menghemat uang ditengah larangan bepergian yang diberlakukan di Eropa.
Kebijakan lockdown diambil sebagai upaya meredam penyebaran virus corona. Sedangkan keputusan penutupan telah dikeluarkan sejak 26 Mei lalu.
Pemerintah federal, negara bagian Berlin dan Brandenburg menyetujui keputusan itu dalam pertemuan yang digelar lewat video conference dengan para pemegang saham.
Menurut sejarahnya, Bandara Tegel dibangun saat Berlin Barat diblokir Uni Soviet. Josepth Stalin, pemimpin Soviet saat itu, ingin membuat kota berpenduduk sekitar 2 juta orang ini kelaparan. Berlin Barat merupakan daerah kantong yang terisolasi dari Jerman Barat.
Cara satu-satunya agar dapat keluar dari keadaan itu adalah dengan membangun bandara yang memungkinkan pesawat bantuan mendarat.
Oleh sebab itu pasukan Perancis yang menguasai sudut Berlin itu segera membangun landasan pacu yang kala itu masih dipenuhi bom perang. Dalam waktu singkat, bandara Tegel pun segera berdiri.
Bandara baru ini membantu meringankan kesibukan yang luar biasa di Bandara Tempelhof, juga ada di Berlin Barat, dimana pesawat-pesawat Inggris dan Amerika Serikat mendarat hambir terus menerus memberi makan penduduk kota untuk melalui musim dingin di tahun 1948-1949.
Baru pada tahun 1970-an bandara, yang namanya diambil dari perintis penerbangan abad ke-19 Otto Lilienthal, menjadi bandara komersial utama Berlin.
Bandara yang memiliki terminal heksagonal ultra modern ini memungkinkan penumpang menjangkau pesawat hanya dalam hitungan menit, begitu keluar dari mobil.
Bandara ini juga menjadi favorit para pecinta pesawat yang dapat menikmati lalu lalang pesawat dari jarak dekat lewat teras pengamatan.
Baru-baru ini fasilitas pengamatan telah dibuka kembali dengan aturan jarak sosial yang ketat. Setidaknya pengunjung masih dapat menikmati hari-hari terakhir bandara yang segera tutup permanen itu.
Bandara Tegel pernah direncanakan akan pindah sejak beberapa tahun silam saat bandara baru yang lebih besar, Bandara Berlin Brandenburg (BER) dijadwalkan dibuka pada 2011.
Kala itu Tegel masih merupakan bandara tersibuk di Berlin. Sedikitnya 24 juta orang terbang melalui Bandara Tegel pada 2019, menjadikannya bandara tersibuk keempat di Jerman.
Akan tetapi BER belum rampung setelah terjadi penundaan berulang kali disebabkan berbagai masalah mulai dari kesalahan desain sampai korupsi.
Pemerintah Berlin berencana memanfaatkan lahan bekas Bandara Tegel untuk kawasan penelitian dan industri. Mereka juga berjanji menyediakan kawawasan hijauh yang sangat luas di sana.
Aspirasi perjalanan dari generasi muda, terutama generasi milenial berkembang jauh. ( Foto: Unsplash.com/ Ikhsan Sugiarto)
INGGRIS, bisniswisata.co.id: Lewatlah sudah hari-hari ketika para pelancong Muslim memiliki pilihan terbatas untuk liburan atau bepergian ke luar negeri hanya untuk mengunjungi rumah leluhur mereka, Umroh atau ibadah Haji ke Mekkah.
Aspirasi perjalanan dari generasi muda, terutama generasi milenial berkembang jauh dan luas sebagian karena pendekatan petualangan mereka yang semakin meningkat terhadap kehidupan.
Dilansir dari globalhalaltourism.org, terungkap bahwasaat ini, para milenial terhubung melalui berbagai cara digital untuk meneliti atau berbagi pengalaman membeli produk, layanan, perjalanan petualangan dan kesukarelaan, dll. Penggunaan media sosial menambah minat mereka untuk berpetualang, ingin melihat dunia.
Meluangkan waktu dari bekerja, dengan pendapatan yang sangat diperlukan, untuk berkembang dan bepergian ke tujuan yang lebih global atau ke mancanegara.
Perjalanan halal, sektor yang tumbuh paling cepat dalam industri travel & tourism berdampak pada ekonomi dunia. Pengeluaran pasar Muslim untuk perjalanan diperkirakan tumbuh dari US$142 miliar dolar pada 2014 menjadi US$ 233 miliar pada 2020.
Mirip dengan pasar perjalanan lainnya, istilah Pariwisata Halal tidak membawa konotasi religius, hanya menciptakan kebutuhan untuk memahami perilaku dan persyaratan segmen tertentu yang dilayani.
Pariwisata Halal melayani wisatawan Muslim, dengan mematuhi prinsip-prinsip Islam yang merupakan kelompok agama yang tumbuh paling cepat di abad ini dan diharapkan meningkat sebesar 73% dari 1,6 Miliar pada tahun 2010 menjadi 2,76 Miliar pada tahun 2050.
Laporan Thomson Reuters tentang laporan ekonomi Islam global pada tahun 2016 memperkirakan Pasar Muslim menghabiskan perjalanan keluar menjadi US$142 Miliar Dolar pada 2014 (11% dari pengeluaran global) ini tidak termasuk Haji dan Umrah. Sektor ini berpotensi meningkat menjadi US$233 Miliar Dolar (13% dari Pengeluaran Global) pada tahun 2020.
Wisata Halal diciptakan untuk memberikan semua pilihan orang, baik wisatawan Muslim maupun Non-Muslim dalam hal perjalanan yang ramah keluarga. Halal sebagai gaya hidup untuk semua, prinsip-prinsip yang diwujudkan seperti penatagunaan bumi, standar sanitasi yang tinggi, mengejar kehidupan yang sederhana dan banyak lagi kebajikan dan prinsip penting lainnya.
Industri Wisata Halal menawarkan tempat shalat, pilihan makanan halal, fasilitas ramah Muslim seperti kolam renang terpisah dan spa untuk wanita.
Sektor perjalanan dan pariwisata konvensional telah mendapatkan kesadaran akan potensi bisnis pengeluaran muslim.
Sektor bisnis seperti maskapai penerbangan, hotel, restoran, bank dll memberikan pelayanan yang lebih luas bagi kaum Muslimin yang tidak membahayakan bisnis mereka. Sebaliknya menerima respon positif dan peningkatan pendapatan yang mengejutkan.
Sertifikasi Pariwisata Halal – Mengidentifikasi Potensi Pertumbuhan Pasa
Global Halal Tourism Organisation Ltd sedang dalam perjalanan besar untuk mendidik, mengembangkan dan mengidentifikasi industri Pariwisata Halal, berkembang menjadi organisasi global yang membantu tujuan, bisnis perjalanan, investor dan pelancong, untuk memahami keberadaan katering untuk pelancong muslim global, misalnya.
Organisasi ini juga membantu pelancong muslim untuk membuat pilihan yang lebih terdidik dari peringkat layanan, produk, dan tujuan halal yang terakreditasi dan bersertifikat di seluruh dunia.
Tujuannya negara-negara non-Muslim yang telah menyadari bahwa wisatawan muslim adalah pendorong besar bagi perekonomian mereka. Negara-negara seperti Jepang dan Filipina telah bergabung dalam kompetisi untuk meningkatkan kesadaran akan Pariwisata Destinasi Ramah Halal dan bersaing dengan destinasi peringkat teratas seperti Malaysia, UEA, Turki, Indonesia, Qatar, dll.
Dari sisi produk & layanan, organisasi yang menjadi otoritas otentik untuk sertifikasi Halal ini menetapkan tolok ukur, mendorong destinasi untuk mengidentifikasi potensi bisnis pasar dan bersaing secara sehat di antara mereka sendiri dalam memberikan layanan dan produk terbaik dengan mematuhi prinsip-prinsip Islam.
Peringkat, Akreditasi, Sertifikasi: Layanan Organisasi Pariwisata Halal Global Ltd digunakan oleh setiap tingkatan industri pariwisata, dari badan pemerintah dan agen pariwisata hingga penyedia layanan perhotelan, untuk melayani kebutuhan wisatawan Muslim dengan lebih baik.
Global Halal Tourism Organisation Ltd sebagai organisasi ilmiah dan penelitian berstandar internasional yang mampu mengeluarkan sertifikat kualitas produk dan standarisasi produk seperti standar 17065, 19933 dan 17020 untuk 22 sub-kategori layanan pariwisata yang berbeda di seluruh dunia.
Wisatawan Muslimah berfoto bersama di tepi pantai. Potensi besar wisata halal setelah pandemi perlu fokus digarap bersama (Foto: okezone)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Industri pariwisata termasuk sektor paling terdampak pandemi COVID-19. Demikian pun pariwisata ramah muslim.
Saat ini masih banyak negara memberlakukan aturan lockdown demi mencegah penyebaran virus yang bergerak secara eksponensial itu. Perbatasan masih ditutup dan banyak negara melarang warganya bepergian ke tempat-tempat yang dianggap belum aman.
Pemerintah Indonesia juga tengah memberlakukan aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) karena di sini pun pandemi belum mereda.
Hal ini tentu berdampak pada anjloknya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada periode Januari s/d Juli jumlah turis asing yang datang ke Indonesia turun 89,12%, menjadi hanya 159,76 ribu orang dibandingkan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu.
Ketua Umum Pekumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI), Riyanto Sofyan dalam keterangan tertulisnya mengatakan pelaku wisata ramah muslim di Indonesia juga turut merasakan dampak krisis hebat akibat pandemi Covid-19.
“Selain pendapatan yang berkurang, sebagian usaha perjalanan wisata, penginapan ramah muslim, hingga restoran dan destinasi wisata harus tutup operasional dalam jangka waktu lama,” katanya.
Di tengah situasi sulit seperti ini, komunikasi intens sesama pelaku bisnis perlu dibangun. Itulah yang mendorong perhimpunan pelaku bisnis pariwisata halal menyelenggarakan serangkaian acara virtual. Tujuannya untuk saling menguatkan dan sharing.
Salah satunya lewat konferensi internasional yang bertajuk “Strategic Innovation for Sustainable Muslim Friendly Tourism” yang akan diselenggarakan pada akhir Oktober.
“Pelaksanaan konferensi internasional yang kedua ini merupakan komitmen PPHI dalam menebarkan semangat optimisme bagi para pelaku pariwisata, khususnya pariwisata ramah muslim di Indonesia,” ungkap Riyanto.
Konferensi tahun ini akan hadir beberapa pembicara dari dalam dan luar negeri, yaitu Reem Elshafaki (Senior Associate Dinarstandard – USA), Ufuk Secgin (Chief Marketing Officer HalalBooking.com, Inggris), Mikhail Melvin Goh (Chief Operating Officer Have Halal Will Travel – Singapur), dan Riyanto Sofyan (Chairman PPHI & Chairman SofyanCorp – Indonesia).
Sebelum acara puncak tersebut, sejumlah pertemuan virtual juga telah digelar. Selain untuk menjaga dan menjalin silaturhami, acara itu juga dimaksudkan untuk menyebar optimisme, dan saling berbagi pengalaman.
Khusus mengenai International Halal Tourism Summit (IHTS), penitia mengatakan pelaksanaan konferensi ini sekaligus ingin mengembalikan semangat kebangkitan industri pariwisata halal di Indonesia.
“Kami berharap pelaku usaha bisa mendapat banyak insight bisnis dan strategi terkait pengembangan usaha di bidang industri pariwisata halal di Indonesia,” jelas Ketua pelaksana IHTS 2020 Noveri Maulana.