JEDDAH, bisniswisata.co.id: Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) mengukuhkan kerajinan tenun suku kuno Al Sadu dari Arab Saudi dan Kuwait sebagai warisan budaya tak benda UNESCO.
Keputusan ini diumumkan pada Rabu (16/12) dalam pertemuan tahunan komite yang berlangsung secara jarak jauh karena masih pandemi COVID-19.
Menteri Kebudayaan Arab Saudi Pangeran Badr Bin Abdullah seperti dinukil Saudi Gazette menyatakan kegembiraannya atas keputusan tersebut. Ia juga berterimakasih kepada Raja Salman, sang penjaga dua masjid suci, dan Putra Mahkota Muhammad Bin Salman atas peran pentingnya menjadikan tenun tradisional Arab Saudi Al Sadu masuk dalam daftar UNESCO, bersama dengan Kuwait.
Sang menteri juga memuji upaya keras komunitas budaya yang ikut mengotentikasi warisan budaya Saudi dan mendaftarkannya sebagai warisan dunia.
Pangeran Badr menggambarkan seni tenun Al Sadu sebagai warisan budaya asli masyarakat kuno di Jazirah Arab. Itu pula alasan Kerajaan Arab Saudi menjadikannya sebagai logo resmi KTT G20 yang baru saja rampung digelar.
“Dimasukkannya tenun Al Sadu ke dalam daftar warisan budaya tak benda UNESCO merupakan langkah penting; menggiring orang untuk kembali memerhatikan seni yang mengakar dalam pada rakyat kami,” imbuh Pangeran Badr.
Ia menambahkan pada tahun-tahun mendatang akan ada lagi tambahan warisan budaya tak benda yang bakal muncul.
Sementara itu UNESCO dalam pernyataannya menjelaskan bahwa tenun tradisional Al Sadu merujuk pada kain tenun konvensional yang dibuat para perampuan Badui atau Badawi atau Bedouin, suku pengembara yang ada di Jazirah Arab.
Dalam bahasa Arab, Al Sadu artinya menenun dengan tangan bergaya horizontal. Hasil tenunannya lebih mirip bordir tradisional yang biasanya terlihat pada kain untuk tenda atau majlis lantai bantal, karpet, dan tikar.
Tenunan Al Sadu dikenal sangat rapat dan tahan lama. Bahan yang digunakan pun berasal dari serat alami. Benang wol dari bulu kambing dan unta akan dipintal untuk kemudian diwarnai dengan menggunakan ekstrak tumbuhan lokal seperti henna atau saffron.
Adapun warna yang menonjol pada pola tenunan tradisional Al Sadu adalah hitam, putih, coklat, krem dan merah, dengan corak khas berupa pita sempit berdesain geometris.
Sedangkan corak yang ada pada tenunan perempuan Badui ini mencerminkan lingkungan gurun dalam bentuk sederhana dan orisinal. Desain gemoteris yang cantik mengikuti ritme pengulangan yang sepadan.
Para penenun senang menonjolkan warna-warna cerah sepeti merah dan jingga untuk menghidupkan suasana.
“Keindahan hasil tenunan amat bergantung pada kualitas pemintalan serta keahlian penenun. Semakin halus benangnya maka akan semakin jelas dan indah struktur dan pola desainnya,” tulis UNESCO.
Dalam sebuah referensi disebutkan bahwa pola yang ada pada tenunan Al Sadu mencerminkan gaya hidup suku tradisional, lingkungan gurun, dan ekspresi diri kreatif para penenunnya.
Al Sadu juga sering digambarkan sebagai warisan budaya yang amat kaya yang diwariskan oleh orang-orang nomaden Arab. Tenunan Al Sadu mencerminkan ekspresi naluriah pembuatnya tentang keindahan alam.
Pola dan simbol geometris dan figuratif yang ada pada tenunan Al Sadu juga menggambarkan gaya hidup suku tradisional, lingkungan gurun, ekspresi diri para penenunnya.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: UNESCO Tetapkan Pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda
Paris, 17 Desember 2020: Pantun telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda tanggal 17 Desember 2020, pada sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage yang diadakan secara daring.
Nominasi Pantun yang diajukan secara bersama oleh Indonesia dan Malaysia ini menjadi tradisi budaya Indonesia ke-11 yang diakui oleh UNESCO, setelah sebelumnya Pencak Silat diinskripsi sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tanggal 12 Desember 2019.
Komite Intangible Cultural Heritage UNESCO menilai Pantun memiliki arti penting bagi masyarakat bukan hanya sebagai alat komunikasi sosial namun juga kaya akan nilai-nilai yang mejadi panduan moral. Pesan yang disampaikan melalui Pantun umumnya menekankan keseimbangan dan harmoni hubungan antar manusia.
Bagi Indonesia, keberhasilan penetapan Pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda tidak lepas dari keterlibatan aktif berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat dan pemerintah daerah, maupun berbagai komunitas terkait Pantun seperti Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).
Begitu pula kontribusi Lembaga Adat Melayu, Komunitas Joget Dangdung Morro, Komunitas Joget Dangdung Sungai Enam, Komunitas Gazal Pulau Penyengat, Sanggar Teater Warisan Mak Yong Kampung Kijang Keke, Universitas Maritim Raja Ali Haji, serta sejumlah individu dan pemantun Indonesia, termasuk dua orang maestro Pantun Indonesia, yaitu H. M. Ali Achmad dan O. K. Nizami Jamil.
Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, Prof. Surya Rosa Putra dalam pernyataannya menyampaikan bahwa sebagai nominasi Indonesia pertama yang diajukan bersama dengan negara lain, inskripsi Pantun memiliki arti penting bagi Indonesia dan Malaysia, yang merefleksikan kedekatan dua negara serumpun yang berbagi identitas, budaya, dan tradisi.
Bagi masyarakat Melayu, Pantun memiliki peran penting sebagai instrumen komunikasi sosial dan bimbingan moral yang menekankan keseimbangan, harmoni, dan fleksibilitas hubungan dan interaksi antarmanusia dalam syairnya.
Kamis ini tidak hanya sebagai identitas masyarakat, Pantun juga telah menjadi media pendukung dalam pemberdayaan ekonomi kreatif.
Ke depan, Indonesia dan Malaysia berkomitmen untuk terus melakukan berbagai upaya untuk memastikan pelindungan Pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda melalui pelibatan aktif komunitas lokal di kedua negara. Pantun juga dilestaikan dengan diajarkan secara formal di sekolah dan melalui kegiatan kesenian.
Kamis ini tidak hanya sebagai identitas masyarakat, Pantun juga telah menjadi media pendukung dalam pemberdayaan ekonomi kreatif, demikian diungkap Darmawati Pranata Humas Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
BALI, bisniswisata.co.id: Hingga saat ini, pengelola bandara Ngurah Rai sudah menerima kurang lebih total 434 pengajuan extra flight, yang diperkirakan akan mengangkut sebanyak 55 ribu penumpang. Rinciannya, 124-flight dari Air Asia, dan 310 flight Citilink.
“Cukup banyak. Di Posko Nataru tahun lalu, ada 367 pengajuan. Di tahun ini berarti naik 18%,” papar General Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali, Herry A.Y. Sikado, usai peresmian operasional posko Nataru 2020.
Diperkirakan, puncak kedatangan penumpang akan terjadi pada hari Jum’at, 25 Desember, atau pada Hari Raya Natal, dengan perkiraan jumlah kedatangan penumpang sebanyak 11.726 jiwa. Sedangkan untuk perkiraan puncak keberangkatan penumpang (arus balik) pada hari Selasa, 29 Desember, diperkirakan sebanyak 12.922 penumpang akan keluar dari Pulau Bali.
Selama 24 hari pelaksanaan posko monitoring, diperkirakan sebanyak kurang lebih 350 ribu penumpang pesawat udara akan terlayani oleh Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali, dengan rincian sebanyak 177.606 penumpang datang dan 171.778 penumpang berangkat.
Mengantisipasi lonjakan lalu lintas udaratersebut, jelas Herry Sikado lebih lanjut Manajemen PT Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali menyiagakan Posko Monitoring Nataru. Per Kamis (17/12), posko monitoring resmi dioperasikan untuk mengawal pergerakan penumpang dan pesawat udara selama periode libur akhir tahun ini. Beroperasi selama 24 hari, yaitu dari tanggal 18 Desember 2020, atau satu pekan sebelum Hari Raya Natal 2020, hingga tanggal 10 Januari 2021.
Dalam operasional posko monitoring tersebut, PT Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola pintu gerbang udara Bali telah menyiagakan sebanyak total 1.677 personel untuk memastikan kelancaran, keamanan, dan kenyamanan pengguna jasa bandar udara selama periode libur akhir tahun ini.
Selain menyiagakan personel, kapasitas terminal bandar udara pun turut ditingkatkan untuk mengantisipasi lonjakan jumlah penumpang.
“Selama situasi pandemi, kapasitas terminal yang kami fungsikan adalah sebesar 50% dari kapasitas optimal terminal. Selama operasional posko ini, kapasitas kami tingkatkan. Terutama untuk terminal domestik, dari sebelumnya yang difungsikan untuk melayani 18 penerbangan setiap jamnya, kini menjadi 26 penerbangan per jam. 14 penerbangan kedatangan, dan 12 keberangkatan,” ujar Herry.
Peningkatan kapasitas terminal ini ditujukan pula untuk melayani penerbangan ekstra (extra flight) yang diajukan oleh maskapai penerbangan.
“Dibandingkan dengan realisasi jumlah penumpang yang terlayani pada pelaksanaan Posko Nataru tahun lalu, perkiraan jumlah penumpang di Posko Nataru tahun ini masih cukup jauh selisihnya. Tahun lalu total 1,7 juta penumpang terlayani selama pelaksanaan posko, tahun ini diproyeksikan hanya sekitar 350 ribu. Turun 80%,” ujar Herry.
Kesehatan dan Keselamatan
Hal pro- kontra SE Gubernur Bali No 2021 Tahun 2020 yang antara lain mewajibkan pelaku perjalanan memasuki Pulau Dewata dengan transportasi udara untuk menunjukkan surat keterangan (Suket) hasil negatif uji SWAB berbasis PCR dan pelaku perjalanan memakai kendaraan pribadi melalui transportasi darat dan laut wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif uji Rapid Test Antigen paling lama 2 x 24 jam sebelum keberangkatan.
Gubernur Koster, mengakui keputusan tersebut cukup ‘mengagetkan’ bagi berbagai pihak. Arahan pemerintah pusat, tes SWAB (untuk masuk Bali, red) dan tidak bisa ditawar. “Tidak ada argumentasi, tentu kita harus ikut (arahan pemerintah pusat,red),” jelasnya.
Prinsipnya jika ingin berwisata harus mengedepankan kesehatan. Bukan hanya untuk diri sendiri, juga orang disekelilingnya. Hal ini terkait dengan standar etika berwisata kepariwisataan global dan standar etika wisatawan bertanggungjawab dari UNWTO.
Provinsi Bali, jelas Gubernur, secara angka dan statistik sudah jauh keluar dari provinsi lain yang diprioritaskan untuk penanganan COVID-19. Namun Bali tetap dapat prioritas khusus mengingat image-nya sebagai kawasan destinasi wisata dunia.
Pengetatan dalam aturan ini, tegas Gubernur Bali menjadi bagian persiapan untuk dibukanya pintu kedatangan wisatawan internasional. Meski pun hingga saat ini belum ada satu negara pun yang membuka pintu penerbangannya.
“Tapi kita ada proses untuk persiapan. Berwisata dan berkesehatan adalah dua hal yang dua hal yang tidak bisa dibandingkan apple to apple. Namun ada jalan tengah yakni penerapan protokol kesehatan yang ketat,” ujarnya.
BALI, bisniswisata.co.id: Menghadapi libur perayaan Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 ditengah pandemi COVID-19, pemerintah melakukan pengetatan pelaksanaan protokol kesehatan bagi pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN) sesuai standar safe travel yang berlaku.
Untuk berlibur ke Bali, PPDN pengguna jasa angkutan udara wajib melakukan SWAB berbasis PCR, H-2 sebelum keberangkatan, selain memenuhi peraturan yang telah diberlakukan. Sementara yang melakukan perjalan menggunakan angkutan darat dan laut, wajib Rapid Test Antigen.
Pengetatan aturan tersebut termaktub dalam Surat Gubernur Bali No. 2021 Tahun 2020,— dikeluarkan Selasa, 15 Desember 2020– sebagai upaya memutus rantai penyebaran virus corona dan menekan kemungkinan terjadinya second wave (gelombang ke dua) atau gelombang ke tiga meledaknya kasus reaktif COVID-19 ini, mendapat tantangan dari banyak kalangan. Bahkan Ketua BPP PHRI Hariyadi Sukamdani dalam acara virtual acara penandatangan kerjasama airlines dengan PHRI, melaporkan telah terjadi pembatalan tiket penerbangan dan pemesanan kamar hotel di Bali yang mencapai angka ratusan ribu pax, jika dirupiahkan mencapai Rp 350 milyar lebih.
Pro- kontrak pelaksanaan SE Gubernur Bali No. 2021 Tahun 2020, mendorong pihak pemerintah dan Satgas COVID-19 melakukan penyesuaian pelaksanaan pengetatan protokol kesehatan bagi PPDN yang hendak berlibur ke Bali. Khususnya bagi PPDN pengguna jasa angkutan udara dengan kewajiban SWAB berbasis PCR H-2 sebelum keberangkatan. Dalam rapat koordinasi virtual yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, hari ini (Kamis, 17/12) ditetapkan untuk melakukan penyesuaian dengan kondisi lapangan.
Penyesuaian berupa perberlakuan SE Gubernur Bali no 2021 tahun 2020 dari tanggal 18 Desember 2020 menjadi 19 Desember 2020. Test SWAB berbasis PCR bagi pengguna transportasi udara yang sebelumnya minimal H-2 sebelum keberangkatan menjadi H-7 sebelum keberangkatan.
Pengecualian diberlakukan bagi PPDN kalangan anak- anak usia di bawah 12 tahun bebas SWAB PCR dan test rapid antigen.
Bebas SWAB/PCR bagi crew pesawat termasuk FOO onboard atau EOB –dapat menyesuaikan dengan SOP masing masing airlines–, danpenumpang transit. Bagi penumpangdari daerah yang tidak memiliki fasilitas kesehatan test PCR, setibanya di bandara Ngurah Rai harus melakukan test rapid antigen secara mandiri (biaya dibebankan ke penumpang). Rakor virtual juga menetapkan tariff test PCR kisaran Rp. 800 ribu – Rp 900 ribu, rapid test antigen maximum Rp. 250 ribu.
Bebas SWAB/PCR juga berlaku bagi penumpang pesawat divert (pengalihan tujuan) yang ditunda keberangkatannya. Mereka dapat menggunakan fasilitas test rapid antigen. Fasilitas bebas SWAB/PCR diberlaku bagi ASN, POLRI, TNI yang mendapat tugas mendadak.
Pengisian e-HAC diwajibkan sebelum penumpang tiba di bandara Ngurah Rai, agar tidak terjadi antrian di area kedatangan bandara. Dan tidak diperkenankan menggunakan form kesehatan manual.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Musim libur akhir tahun segera tiba. Sayangnya, pandemi COVID-19 yang telah berlangsung hampir sembilan bulan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sebagian orang memutuskan untuk tinggal di rumah demi keamanan. Beberapa memilih kegiatan berlibur dekat rumah atau staycation.
Jika pun Anda tetap ingin berlibur untuk sekadar menghilangkan penat setelah lama ‘terjebak’ di rumah, ada baiknya menyimak saran pengusaha travel agent TX Travel, Anton Thedy, terkait destinasi atau tempat wisata yang cocok di masa pandemi.
Pertama, ia menyarankan agar masyarakat dari Jakarta memilih menggunakan kendaraan pribadi ke tempat-tempat dengan jarak dekat.
“Kalau dari Jakarta kebanyakan sudah mulai yang namanya road trip. Menyetir sendiri sekitar 5-6 jam dalam sehari,” kata Anton dalam diskusi virtual bertajuk “Menerapkan Protokol Kesehatan Menjelang Liburan Akhir Tahun” Selasa (15/12/2020).
Banyak pakar memercayai bahwa bepergian dengan kendaraan pribadi merupakan cara paling aman untuk berwisata di masa pandemi. Ini bukan tanpa alasan.
Jika Anda bepergian dengan menggunakan moda transportasi umum, kemungkinan untuk bersama banyak orang dalam satu tempat menjadi keniscayaan. Banyaknya orang dalam satu tempat dapat menimbulkan kerumunan dan berpotensi menyebarkan virus.
Saran kedua, masyarakat bisa pergi ke tempat-tempat atau obyek wisata yang luas dan memiliki ruang terbuka, sehingga menyebabkan sirkulasi udara terjaga. Sebagai contoh, Anton menyebut pantai dan gunung dapat menjadi pilihannya.
Tempat-tempat ini dinilai cocok untuk pilihan liburan di masa pandemi karena tempatnya yang luas yang berpotensi tidak menimbulkan kerumunan.
Selain ke gunung dan pantai, Anton juga menyarankan masyarakat bisa mengisi liburan dengan pergi ke museum.
Banyak museum kini kembali buka dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat, termasuk membatasi jumlah pengunjung. Sehingga dapat dipastikan kerumunan tak akan terjadi saat Anda berkunjung ke museum. Jadi tak perlu khawatir untuk mengunjungi museum.
“… saat ini banyak keluhan dari museum mendadak sepi. Walaupun sudah terapkan protokol kesehatan. Menurut saya, tidak perlu takut, cuma ya kita hindari kalau ada kerumunan. Biasanya kalau di ruangan itu tidak ada kerumunan ya cukup aman,” kata Thedy.
Apabila masih takut untuk ke museum, Anton memiliki cara lain yang dapat dilakukan masyarakat atau wisatawan.
Ia mengatakan, masyarakat bisa pergi ke museum pada waktu awal buka operasionalnya.
“Buka pukul 09.00, ya kita datang 08.30. Coba menjadi yang pertama datang ke tempat itu. Dan cepat-cepat lagi keluar,” ucap dia.
BANGKOK, bisniswisata.co.id: The Pacific Asia Travel Association (PATA) dengan bangga mengumumkan kemitraan organisasi baru dengan Hotel Resilient, badan sertifikasi dan tolak ukur ilmiah untuk manajemen risiko krisis dan adaptasi perubahan iklim dari hotel dan resor berdasarkan pengakuan internasional dan standar yang didukung industri.
“Pariwisata adalah salah satu sektor yang terkena dampak paling parah dengan banyak organisasi sebelumnya menekankan upaya mereka pada tanggap bencana daripada mengurangi risiko. Pandemi COVID-19 telah menyoroti perlunya industri kita lebih siap menghadapi semua jenis bencana, termasuk pandemi alam, buatan manusia, dan masa depan, ”kata Dr. Mario Hardy, CEO, PATA.
Menurut dia, kemitraan dengan Hotel Resilient menawarkan solusi untuk membangun industri perjalanan dan pariwisata yang lebih tangguh, bertanggung jawab, berkelanjutan, dan lebih kuat, dan saya berharap dapat bekerja sama dengan mereka untuk mencapai tujuan ini.
Dari 2013 hingga 2017, Inisiatif Global tentang Manajemen Risiko Bencana, sebuah inisiatif oleh Pemerintah Jerman di bawah tanggung jawab Kementerian Federal untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ), bekerja sama dengan Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNDRR) dan PATA, yang dikembangkan melalui konsultasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan sektor swasta, Standar Manajemen Risiko Multi-bahaya untuk hotel di bawah Inisiatif Tangguh Hotel.
Hotel Resilient Initiative bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang risiko iklim dan bencana di sektor pariwisata, meningkatkan kapasitas manajemen risiko yang komprehensif dan memperkuat ketahanan di hotel dan di tempat tujuan wisata.
Inisiatif ini pada akhirnya mengarah pada pembentukan Hotel Resilient, yang menyediakan analisis risiko global, platform digital, dan alat pragmatis bagi industri perhotelan menuju perencanaan, desain, dan operasi tahan bencana dan iklim.
Mereka mendukung hotel mulai dari desain sistem manajemen bencana hingga penerapan protokol, fasilitasi pelatihan, dan penyelesaian audit menuju sertifikasi yang berhasil.
Tujuan organisasi ini adalah untuk memungkinkan semua hotel berkembang dalam menghadapi bencana alam dan perubahan iklim. Dengan demikian, mereka tidak hanya meningkatkan keamanan tamu dan kelangsungan bisnis tetapi juga berkontribusi pada ketahanan destinasi, komunitas lokal, dan ekonomi nasional yang mengandalkan pariwisata.
Hotel Resilient menyediakan hotel dan resor dengan standar internasional yang diakui industri untuk meningkatkan ketahanan dalam layanan akomodasi. Standar Ketahanan Hotel adalah upaya terkoordinasi pertama oleh regulator pariwisata, operator hotel, industri asuransi, dan ilmuwan terkemuka untuk mengembangkan manajemen risiko bencana multi-bahaya dan standar adaptasi perubahan iklim yang dirancang khusus untuk hotel dan resor.
Standar internasional didukung oleh analitik risiko yang kuat dan platform manajemen audit, serta modul e-learning yang mencakup semua area standar. Standar Ketahanan Hotel mengambil strategi pengurangan risiko bencana dan adaptasi iklim yang telah terbukti dan menyesuaikannya dengan kebutuhan industri hotel. Mereka menguraikan dengan tepat apa yang dibutuhkan hotel untuk menjadi tahan bencana dan iklim.
Perangkat lunak Hotel Resilient melengkapi hotel dengan alat yang diperlukan untuk menerapkan standar, mengidentifikasi potensi sumber risiko dan mengelola tindakan untuk melindungi kehidupan, mengurangi waktu henti, dan meminimalkan kerugian bisnis.
Alat pelatihan Hotel Resilient membangun kapasitas staf hotel untuk mempersiapkan, menanggapi, dan memulihkan diri dari peristiwa krisis. Program pelatihan dan pembinaan mereka menempatkan staf hotel di kursi pengemudi untuk menerapkan strategi yang tangguh. Alat mereka diselaraskan dengan sertifikasi opsional, yang didasarkan pada Standar Ketahanan Hotel.
Dr. Bijan Khazai, CEO, Hotel Resilient, mengatakan, untuk mengembangkan ketahanan, hotel dan resor harus mengalihkan fokus mereka dari sekadar bereaksi terhadap krisis, menjadi secara proaktif mengidentifikasi, menganalisis, dan menilai risiko sambil merumuskan strategi bisnis mereka.
Mengetahui bagaimana melakukannya dan dari mana memulainya seringkali merupakan tantangan terbesar. Kami melihat diri kami sebagai mitra yang tak kenal lelah dalam mendukung hotel menjadi lebih tangguh dalam menghadapi bencana dengan alat yang tepat yang disesuaikan dengan operasional hotel.
Bahkan sebelum pandemi COVID-19, Hotel Resilient menyoroti wabah penyakit sebagai salah satu dari banyak bahaya yang berpotensi memengaruhi hotel. Setelah pandemi, Dr. Trevor Girard, Direktur Standar dan Akreditasi di Hotel Resilient dan tim spesialis risikonya telah mengevaluasi bukti ilmiah, pedoman internasional, dan praktik terbaik industri untuk menetapkan standar baru yang mencakup semua aspek hotel COVID-19 strategi pencegahan dan respons.
Hotel Resilient telah bekerja sama dengan pemerintah dan asosiasi hotel di berbagai negara seperti Thailand, Ekuador, Palestina, Sri Lanka dan Maladewa, mendukung pengembangan protokol keselamatan dan kebersihan COVID-19 serta program pelatihan untuk layanan akomodasi.
Skema sertifikasi Hotel Resilient COVID-READY sejalan dengan standar global Hotel Resilient yang diakui secara internasional mengenai manajemen risiko bencana.
Ini melampaui kebersihan dan keselamatan, menangani perubahan sistemik dan prosedural untuk meminimalkan risiko dan menangani berbagai aspek manajemen krisis, seperti perencanaan respons, kelangsungan bisnis, dan komunikasi krisis terkait COVID-19.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Hotel Resilient, kunjungi https://hotelresilient.org atau kunjungi ruang pameran mereka selama PATA Beyond: Travel Recovery Solutions dari 8-11 Februari 2021.
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang PATA Beyond, kunjungi www.PATA.org/pata-beyond-2021.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Bagi pecinta kuliner pedas mampu menggugah selera maka, apalagi itu berkaitan dengan mie yang selalu menjadi primadona sampai sekarang. Namun siapa sangka, ternyata banyak orang yang terkadang tak tahan dengan tingkat kepedasan makanan tertentu.
“Banyak orang menyukai makan-makanan, sebab rasa pedas sangat menggugah selera. Karena makanan pedas bisa membuat sensasi enak di mulut. Makanan pedas bisa membuat nafsu makan seseorang lebih besar daripada biasanya. Bahkan sebagian besar orang, bisa menambah porsi makanan jika menggunakan lauk atau sambal yang pedas,” kata Condro Sujalmo, Product Manager GAGA 100 Extra Pedas.
Kenapa banyak orang ketagihan dengan rasa pedas pada makanan? Berdasarkan The British Medical Journal disebutkan bahwa makanan pedas memperbaiki mood, sensasi pedas dapat meningkat hormon yang membuat perasaan senang, bahkan makanan pedas dapat meringankan beban penat atau stress. Hal ini bisa kita rasakan setelah makan pedas kita merasa lebih bersemangat dan berenergi.
Masih menurut journal tersebut, bahwa rasa pedas juga bermanfaat untuk menurunkan berat badan karena senyawa dalam cabe yaitu capsaicin membantu tubuh membakar lebih banyak kalori, meredakan gejala flu karena capsaicin membantu mengeluarkan keringat serta memperlancar pernafasan.
Nah, bagi pecinta kuliner pedas bila menginginkan makanan pedas yang praktis dan enak kini telah hadir menu makanan pedas yang menggugah selera yaitu GAGA 100 Extra Pedas.
Mie instan ini memiliki varian pedas yang tekstur mienya kenyal terbuat dari tepung terigu berkualitas dengan kandungan bahannya tetap terjaga dengan baik. Sensasi pedas yang ditawarkan dari produk terbaru ini memiliki perbedaan rasa.
Condro Sujalmo juga menambahkan, bahwa ada tiga varian pedas yang dimiliki GAGA 100 Extra Pedas yang sudah ada. Pertama mie goreng Jalapeno dan Extra Pedas kuah Jalapeno, dengan tingkat kepedasan di level 5. Sensasi pedasnya cabai Jalapeno yang berasal dari Mexico, merupakan cabai terpedas didunia.
Kedua, Extra Pedas goreng lada hitam yang memiliki tingkat kepedasan di level 3, yang memiliki kepedasan lada hitam yang berasal dari rempahan lada hitam berkualitas terbaik.
Ketiga, Extra Pedas Kuah Soto yang memiliki tingkat kepedasan di level 2. Rasa pedas kuah soto berasal dari cabai hijau yang berkualitas. Ketiga varian terbaru Extra Pedas ini, cukup praktis dimasak hanya membutuhkan waktu 3 menit saja.
“Untuk terbaru ini, PT. Jakarana Tama, juga meluncurkan varian baru EXTRA Pedas Goreng Chipotle dengan tingkat kepedasan di level 3. Sensasi pedasnya cabai Chipotle yang berasal dari Mexico. Sudah diketahui bahwa cabai terpedas didunia berasal dari Mexico,” terangnya.
“Produk varian baru tersebut diluncurkan melalui marketplace GAGA Official Store Tokopedia, Shopee, Blibli, Bukalapak, Lazada, Ralali pada bulan November dan akan di distribusikan oleh PT. Sinar Mas Distribution pada awal tahun secara nasional.,”jelas Eka Dian Setyowati, E-Commerce and Digital Marketing menambahkan.
NEVADA, AS, bisniswisata.co.id: Acara hybrid memerlukan perencana acara untuk berpikir seperti produser TV langsung, mereka perlu menciptakan pengalaman yang akan menarik bagi peserta secara langsung serta penonton virtual.
Seperti yang akan dikatakan oleh sinematografer mana pun kepada Anda, latarnya – ritual bertelur penyu, peran pantai Florida dalam perjuangan hak-hak sipil – misalnya dapat membuat atau menghancurkan sebuah adegan.
Dilansir dari Eventmanagerblog.com, banyak dari pengaturan ini tidak hanya indah tetapi juga dilengkapi dengan sejarah menarik yang menggarisbawahi tema dan tujuan acara.
Seringkali tempat dan tujuan dengan latar belakang yang menarik bukanlah pusat konvensi mutakhir di kota-kota paling kosmopolitan tetapi lokasi yang lebih kecil yang mungkin agak terpencil.
Sehingga jadi acara campuran yang menawarkan peluang baru untuk mendongeng, maka tujuan dan tempat yang lebih kecil dapat memperkuat narasi dengan dua cara:
Menambahkan konteks sejarah atau sastra.
Meningkatkan keintiman dengan pembicara tamu, memberikan peserta secara langsung dan peserta jarak jauh perspektif merasa ‘dekat dan pribadi’.
Faktanya, ruang yang lebih padat dapat mempermudah pengelolaan kualitas produksi tingkat TV sekaligus menghasilkan koneksi dengan kepribadian yang menggerakkan konten acara.
Dalam artikel ini, kami menyoroti tiga cara agar destinasi yang tepat dapat membantu acara tatap muka yang lebih kecil menghasilkan dampak yang besar.
Gunakan Konteks Historis untuk Memperkuat Tema Acara
Memilih tempat dengan sejarah yang kaya dapat menambah fokus tematik acara dan memberikan dimensi dunia nyata pada konsep utama. Acara dengan tema keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI), misalnya, dapat memperoleh manfaat dari lokasi yang perjuangan dan pencapaiannya didokumentasikan di Jalur Hak Sipil AS.
Idealnya, konteks historis destinasi harus memberikan kesempatan untuk memberi penghormatan pada pencapaian komunitas sambil juga mengakui perjuangannya.
Misalnya, Pulau Amelia di pantai timur laut Florida adalah situs di mana sekelompok pengusaha Kulit Hitam membeli 200 hektar lebih garis pantai Atlantik pada pertengahan 1930-an – di tengah segregasi rasial Jim Crow – dan menciptakan surga tepi pantai tempat komunitas Kulit Hitam bisa berkumpul tanpa takut diskriminasi.
Abraham Lincoln (A.L.) Lewis, jutawan kulit hitam pertama Florida dan penggerak utama di balik inisiatif, menyebut oasis ini Pantai Amerika. The Negro Motorist Green Book, selama 30 tahun menjadi panduan tepercaya bagi para pelancong kulit hitam, termasuk di antara tujuan amannya di bagian garis pantai Florida ini.
Pada tahun 2001, Pantai Amerika bergabung dengan Daftar Tempat Bersejarah Nasional, dan sekarang memiliki museum sendiri – yang saat ini ditutup karena pandemi tetapi tetap menjadi tempat potensial setelah dibuka kembali.
Perencana acara yang menyelenggarakan pertemuan DEI di area ini dapat memasukkan anekdot sejarah ke dalam program acara dan presentasi streaming langsung. Lebih lanjut, perencana dapat menarik inspirasi musik dari artis legendaris yang sering mengunjungi wilayah tersebut selama masa kejayaannya – Cab Calloway, Duke Ellington, Louis Armstrong, Ray Charles, dan James Brown.
“American Beach adalah bagian dari sejarah kami; sebagai komunitas, dan sebagai tujuan pariwisata. Ketika perencana sedang mempertimbangkan tempat untuk memesan, sejarah unik itu adalah poin penting. Kami juga dapat menangkap dan membagikannya di aplikasi AR kami. ” kata Gil Langley, presiden dan CEO, Biro Pengunjung dan Konvensi Pulau Amelia
Bagaimana Tekhnologi Dapat meningkatkan pengalaman ?
Solusi digital inovatif dapat menghidupkan sejarah dengan lapisan keterlibatan tambahan untuk peserta secara langsung dan peserta jarak jauh.
Pulau Amelia telah mengembangkan aplikasi augmented reality (AR) gratis yang memungkinkan pengguna menjelajahi atraksinya dengan lebih detail. Aplikasi ini dapat meningkatkan kesempatan belajar bagi peserta secara langsung dan juga melibatkan peserta virtual dengan menambahkan elemen interaktivitas ke pengalaman jarak jauh mereka.
Pengguna dapat mengakses video selang waktu 360 derajat, serta animasi 3D yang mengungkapkan materi penjelasan.“Fitur augmented reality dari aplikasi kami telah menjadi tambahan yang luar biasa untuk apa yang dapat kami tawarkan kepada peserta rapat dan konferensi,”.
Selama waktu henti, mereka dapat menjelajahi dan mempelajari tujuan kami dengan kecepatan dan jadwal mereka sendiri, tanpa menimbulkan biaya apa pun; hanya unduhan aplikasi sederhana. Nilai tambah bagi perencana pertemuan telah diterima dengan baik, tambah Gil Langley,
Aktivasi aplikasi dipicu secara langsung di lokasi tertentu di sekitar Pulau Amelia atau melalui gambar di Panduan Pengunjung Pulau Amelia.
Panduan ini dapat dikirimkan sebelum acara ke peserta virtual atau dikirim kepada mereka sebagai tautan pdf. Video 360 derajat, khususnya, dapat memberikan kesan ‘berada di sana’ kepada pengguna jarak jauh dengan memungkinkan mereka untuk berputar di sekitar adegan yang bergerak dengan perangkat di genggaman mereka.
Juga, dua resor yang bertetangga dengan Pantai Amerika, Ritz-Carlton Pulau Amelia dan Resor Pulau Omni Amelia, menawarkan layanan teknis yang mendukung pertemuan gabungan.
Kombinasi streaming langsung dan sumber daya AR dapat menciptakan peluang baru untuk integrasi. Jeda di antara sesi dapat ditingkatkan dengan gambar yang memicu beberapa animasi 3D aplikasi atau video 360 derajat.
Menyelenggarakan acara di tujuan seperti Pulau Amelia, dapat membantu mendasarkan beberapa pelajaran sejarah yang paling penting, yang dapat diserap oleh peserta dalam pengalaman langsung.
Sementara peserta jarak jauh mungkin kehilangan manfaat dari koneksi yang nyata ke lingkungan fisik, teknologi seperti aplikasi AR dapat memberikan jalan untuk pengalaman yang lebih interaktif dan aktif dengan sentuhan.
Menarik Dari Warisan Sastra Amerika yang Kaya untuk Mewujudkan Destinasi
Banyak destinasi memiliki hubungan dengan legenda sastra – baik dengan cerita itu sendiri maupun dengan orang-orang yang menghidupinya dan menulisnya. Baik lokasi berfungsi sebagai latar atau tempat kelahiran novel terkenal, ini dapat membantu peserta untuk merasa terhubung dengan cerita favorit mereka.
Lokasi dengan koneksi ke sastra klasik secara otomatis cocok dengan narasi acara yang menarik, dan tempat yang lebih kecil sering kali memiliki karakter paling banyak – yang pada gilirannya membuatnya cocok untuk ‘adaptasi’ di layar dalam bentuk acara campuran.
Di Distrik Bersejarah Key West Florida Keys, Ernest Hemingway Home & Museum adalah contoh utama bagaimana tempat dapat menambahkan daya tarik sejarah dan sastra ke suatu acara.
Tempat tersebut melestarikan arsitektur asli vila kolonial Spanyol tempat tinggal Ernest Hemingway dan menulis beberapa karyanya yang paling terkenal di tahun 1930-an – Kematian di Sore dan To Have and Have Not di antaranya.
Rumah itu dikelilingi oleh taman seluas hektar yang terawat dengan beberapa ruang terbuka yang dirancang untuk tempat duduk di luar ruangan; lahan biasanya dapat menampung hingga 100 orang.
Selain memikirkan dampak visual dan kapasitas maksimum suatu ruang, penting juga untuk memilih tema sastra yang memiliki daya tarik luas. Popularitas novel Hemingway yang berkelanjutan dapat membangkitkan rasa warisan budaya bersama di antara penonton di seluruh AS, dan bahkan dunia.
Idealnya, lokasi tersebut tidak hanya menjadi rumah bagi satu tokoh terkenal, tetapi seluruh komunitas kreatif. Terinspirasi oleh hidupnya di pedesaan Cross Creek, Marjorie Kinnan Rawlings melahirkan karya klasik Amerika The Yearling, yang mendapatkan pengakuan dunia dan taman negara bagian yang menyandang namanya.
Wilayah Key West dapat mengklaim daftar panjang raksasa sastra, termasuk penyair Elizabeth Bishop (yang bekas rumahnya saat ini sedang dipulihkan oleh Seminar Sastra Key West), penulis naskah Tennessee Williams (yang memiliki museum khusus di dekat rumah Hemingway) , dan novelis Truman Capote.
Selain itu, butik Pier House Resort & Spa tempat Williams dan Capote secara teratur melakukan musim dingin masih beroperasi hingga hari ini.
Memilih destinasi dengan banyak komunitas sastra akan memberi perencana acara dan kesempatan untuk menciptakan rasa kesinambungan antara perspektif yang beragam – tempat bertingkat yang terletak di dekat secara harfiah akan membantu menghubungkan titik-titik. Kadang-kadang disebut sebagai “Mekahnya budaya kreatif”.
Key West terus menikmati kancah seni yang berkembang, dengan beberapa penulis pemenang penghargaan Pulitzer dan cendekiawan sastra terkenal yang masih menyebut daerah itu sebagai rumah.
Terakhir, jika lokasi dan tema juga dapat menyisakan ruang untuk rekreasi dan imajinasi, peserta akan memiliki kesempatan untuk bersantai sebentar sambil tetap terlibat dengan konten acara.
Salah satu tempat untuk melakukan kegiatan hibrid di Florida, AS. ( Foto: VISIT FLORIDA,Peter W. Cross)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Tahun 2020 merupakan tahun yang berat di industri perjalanan, dengan pandemi global yang membatasi begitu banyak rencana liburan dan memiliki efek yang menghancurkan pada sektor secara keseluruhan.
Namun, dengan waktu yang lebih cerah di cakrawala, sekarang adalah waktu yang tepat untuk memikirkan tentang cara terbaik memasarkan kepada para pelancong yang haus akan pengembaraan pada tahun 2021 dan seterusnya.
Dilansir dari Traveldailynews.com, meskipun pemasaran digital sekarang mengambil begitu banyak fokus dalam hal menarik pelanggan baru dan pelanggan tetap. Hal itu bukan alasan untuk menyerah pada metode periklanan fisik yang lebih tradisional. Mengapa? Mari lihat.
Apa yang ditunjukkan oleh studi tersebut
Sebuah studi baru-baru ini oleh PostNord, Ipsos dan Neurons Inc berusaha untuk menyelidiki bagaimana otak bekerja saat melihat materi pemasaran yang berbeda, baik secara digital maupun fisik.
Hasilnya menjadi bacaan yang menarik dan dapat menginformasikan upaya pemasaran Anda saat Anda ingin menyambut wisatawan di tahun 2021.
Ditemukan bahwa iklan cetak fisik lebih mudah untuk difokuskan, yang berarti bahwa pesan yang lebih panjang dan lebih rinci dapat disampaikan kepada pembaca, sementara iklan digital menghasilkan “lebih banyak beban kognitif, yang mengarah pada hubungan emosional yang lebih lemah dengan merek”.
Tentu saja, kombinasi keduanya akan selalu menjadi pilihan terbaik. Menarik perhatian dengan iklan digital, dan kemudian memberikan informasi lebih lanjut dan pesan utama dengan poster fisik dan baliho tampaknya menjadi formula yang dapat membawa kesuksesan.
Apa yang tersedia
Bergantung pada strategi Anda, ada sejumlah besar produk cetak yang dapat Anda gunakan untuk keuntungan Anda.
Iklan berskala besar seperti spanduk, poster, dan papan reklame sangat bagus untuk menarik perhatian, sementara selebaran, kartu pos, dan kartu nama dapat menawarkan informasi penting yang dibutuhkan pelanggan Anda saat memesan liburan 2021.
Apa yang bisa Anda lakukan
Kita dapat melihat bahwa ada keuntungan yang jelas untuk menambahkan materi pemasaran cetak fisik ke portofolio, bahkan di era yang sangat digital ini.
Tapi bagaimana cara melakukannya?
Pemosisian: Jika Anda akan memasukkan produk yang lebih besar ke dalam kampanye pemasaran, pikirkan baik-baik di mana produk akan ditempatkan. Pikirkan tentang area di sekitar toko fisik Anda, perhatikan baik-baik langkah kaki yang lewat – apakah itu terdiri dari basis pelanggan Anda? Jika tidak, cari di mana mereka dan posisikan iklan Anda sesuai.
Menarik: Apa pesan utama yang ingin Anda sampaikan? Apakah untuk mendorong kunjungan fisik, hit online, atau interaksi sosial? Sesuaikan pesan Anda dengan tujuan ini dan pikirkan tentang bagaimana menyanyikannya dengan setajam mungkin. Orang yang lewat papan reklame mungkin hanya memiliki beberapa detik untuk terlibat dengan materi promosi Anda, sementara mereka yang mengambil selebaran lebih cenderung berhenti dan menyerap informasi secara penuh.
Loyalitas:Baik itu penawaran promosi atau jenis skema penghargaan lainnya, loyalitas merek menjadi lebih penting dari sebelumnya.
Memberikan pengalaman hebat dengan layanan kelas atas akan membuat orang-orang kembali kepada Anda berkali-kali untuk liburan mereka.
Jika Anda bangkit kembali pada tahun 2021 setelah tahun yang sulit untuk industri perjalanan, semoga tips ini akan membantu Anda mengamankan basis pelanggan yang terlibat dan setia untuk memandu Anda kembali ke iklim yang lebih bahagia.
SIDOARJO, bisniswisata.co.id: Ditengah pandemic COVID-19, Lion Air meluncurkan layanan terbaru Premium Service pada penerbangan jarak jauh (long haul) dengan memfasilitasi para tamu (jamaah umroh) sebagai jamaah pertama dengan terbang nyaman menggunakan pesawat berbadan lebar (wide body) Airbus 330-300CEO.
Ditawarkan layanan mencakup bagasi, makanan di dalam pesawat (inflight meals) pada kelas bisnis dan ekonomi, hiburan selama perjalanan (inflight entertainment), musik religi, audio video pada setiap kursi. Untuk kenyamanan tamu dari masing-masing kota asal, telah mempersiapkan awak kabin guna membantu kemudahan komunikasi dengan penggunaan Bahasa pelanggan
Pengoperasian Airbus 330-300CEO dinilai tepat, menjadi bagian pendukung model bisnis dan mencerminkan kesungguhan dalam memperluas jaringan dengan tata letak kursi lorong ganda (double aisle) terdiri dari 18 kelas bisnis dan 374 kelas ekonomi. Lion Air dapat meningkatkan jaringan bisnis penerbangan berkonsep premium services airlines termasuk memperkuat jaringan di segmen jarak jauh.
Layanan baru Premium Service khusus mengakomodir penerbangan berkualitas menuju Saudi Arabia. Pelaksanaan umroh menawarkan program 10 (sepuluh) hari, sebagai bentuk kesungguhan Lion Air guna memenuhi kebutuhan perjalanan ibadah bagi setiap jamaah yang berasal dari Jawa Timur dan sekitar. Lion Air memproyeksikan, permintaan untuk pasar umroh meningkat. Demikian diungkapkan Operation Director of Lion Air, Capt. I Putu Wijaya, didampingi Presiden Direktur Dream Group, Muhammad Umar Bakadam saat penebangan perdana 15 Desember lalu.
Pesawat bernomor JT-3100 mengudara tepat waktu (on time) pukul 15.41 Waktu Indonesia Barat (WIB, GMT+ 7). Layanan ini tanpa henti (non-stop) dan dijadwalkan tiba di Bandar Udara Internasional King Abdulaziz pada 23.10 waktu setempat (Medina Saudi Arabia, GMT+ 3).
Lion dinilai telah memenuhi dan mengimplementasikan ketentuan operasional berdasarkan masing-masing negara serta aturan internasional. Dan memenuhi semua kualifikasi atau persyaratan audit keselamatan dan keamanan dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dan otoritas penerbangan sipil Arab Saudi atau General Authority of Civil Aviation (GACA).
Layanan umroh Lion Air menargetkan tingkat kinerja ketepatan waktu (on time performance/ OTP) rata-rata 92%. Upaya tersebut sejalan memberikan layanan istimewa kepada jamaah umroh sebagai tamu berdasarkan sistem terstruktur dan komprehensif antara perawatan pesawat, operasional di bandar udara serta keputusan cepat dan tepat.
Dalam operasional setiap penerbangan, Lion Air selalu patuh dan menerapkan budaya keselamatan (safety culture). Keseriusan inilah yang menegaskan Lion Air mengutamakan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan (safety first).