Agoda: Surakarta Destinasi Termurah untuk Liburan Akhir Tahun

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Platform perjalanan digital Agoda merilis daftar destinasi liburan paling terjangkau untuk akhir tahun 2024 mendatang.  Bagi para wisatawan yang mencari akomodasi budget-friendly untuk liburan Natal dan Tahun Baru, banyak pilihan destinasi di Asia yang dapat dipertimbangkan, salah satunya Surakarta yang menjadi destinasi paling terjangkau di Indonesia dengan tarif kamar rata-rata IDR 747 ribu per malam.

Hat Yai di Thailand berada di urutan teratas sebagai destinasi paling terjangkau di Asia dengan tarif kamar rata-rata IDR 731 ribu per malam, menjadikannya pilihan utama bagi wisatawan yang ingin berhemat di akhir Desember.

Surakarta, Indonesia, dan Varanasi, India, menyusul di peringkat selanjutnya dengan tarif kamar masing-masing IDR 747 ribu dan IDR 779 ribu per malam. Destinasi-destinasi ini menawarkan perpaduan pengalaman budaya dan keindahan alam, cocok untuk merayakan liburan.

Gede Gunawan, Senior Country Director di Agoda Indonesia mengatakan musim liburan menghadirkan kegembiraan, momen berharga bersama teman dan keluarga, serta semangat berpetualang. Namun, ini juga merupakan waktu dimana pengeluaran bisa cepat membengkak, sehingga anggaran menjadi pertimbangan penting bagi para wisatawan.

“Di Agoda, kami bangga menawarkan harga yang menarik, memastikan dengan tarif terjangkau untuk penerbangan, akomodasi, dan pengalaman, masih akan ada anggaran untuk hadiah Natal.” ungkapnya.

Untuk menyusun peringkat destinasi termurah, Agoda menganalisis tarif kamar di sepuluh kota terpopuler dari sembilan negara yang diteliti. Mengingat peringkat ini didasarkan pada tarif rata-rata, para deal hunters kemungkinan dapat menemukan tarif yang lebih rendah di destinasi-destinasi ini dan lokasi lainnya melalui Agoda.

Sembilan destinasi yang masuk di daftar ini adalah:

1. Hat Yai, Thailand (Tarif Kamar Rata-Rata: IDR 731 ribu)

Baik saat musim liburan atau tidak, Hat Yai kembali menduduki peringkat pertama dalam Destinasi Termurah Agoda. Kota di bagian Selatan Thailand ini terkenal dengan pasar-pasar dan street food-nya yang lezat.

Selama musim liburan, Hat Yai semakin hidup dengan dekorasi meriah dan perayaan lokal. Kim Yong Market yang menawarkan hadiah-hadiah unik dan suasana semarak, menjadi tempat sempurna untuk belanja akhir tahun.

2. Surakarta, Indonesia (Tarif Kamar Rata-Rata: IDR 747 ribu)

Dikenal juga sebagai Solo, Surakarta menawarkan pengalaman budaya yang kaya dengan seni dan kerajinan tradisional Jawa. Kota ini menyuguhkan pesona Keraton Surakarta dan Pasar Gede yang populer.

Selama musim liburan, pengunjung dapat menikmati pertunjukan tradisional Jawa yang mempesona, mencicipi hidangan lokal seperti Nasi Liwet, Timlo Solo, dan Dawet. Surakarta adalah destinasi ideal untuk merayakan akhir tahun dengan nuansa budaya yang unik.

3. Varanasi, India (Tarif Kamar Rata-Rata: IDR 779 ribu)

Sebagai salah satu kota tertua di dunia, Varanasi menawarkan perjalanan spiritual dan budaya yang mendalam. Sungai Gangga, dengan ghats (anak tangga ke arah tepi sungai) ikoniknya, memberikan suasana damai untuk refleksi dan perayaan.

Menjelang akhir tahun, kota ini dihiasi dengan lampu-lampu dan acara meriah, memadukan spiritualitas dengan perayaan akhir tahun secara unik.

4. Dalat, Vietnam (Tarif Kamar Rata-Rata: IDR 986 ribu)

Dalat kembali menjadi destinasi wisata paling ramah anggaran di Vietnam. Menjelang Natal dan Malam Tahun Baru, Dalat berubah menjadi surga meriah, dengan lampu berkelap-kelip dan perayaan yang penuh keceriaan.

Menciptakan latar yang mempesona untuk kenangan liburan tak terlupakan. Udara pegunungan yang lebih sejuk pada bulan Desember, juga sangat ideal untuk suasana akhir tahun yang berkesan.

5. Miri, Malaysia (Tarif Kamar Rata-Rata: IDR satu juta)

Dikenal karena keindahan alamnya, Miri mungkin bukan destinasi utama yang terlintas untuk liburan Natal. Namun, kota di bagian utara pantai Sarawak Pulau Kalimantan ini memiliki keragaman budaya yang menawarkan pengalaman liburan santai.

Setelah menjelajahi Gua Niah atau menikmati waktu santai di pantai, pengunjung bisa menikmati dekorasi Natal yang menghiasi Miri Times Square.

6. Subic, Filipina (Tarif Kamar Rata-Rata: IDR 1,4 juta)

Subic, dengan pantainya yang disinari matahari dan penuh semangat petualangan, merupakan surga tropis untuk liburan. Natal merupakan perayaan yang panjang di Filipina, dan Subic menjadi hidup dengan berbagai atraksi ramah keluarga serta pasar lokal yang meriah.

Hal ini menciptakan suasana penuh kebahagiaan untuk perayaan Natal dan Tahun Baru di tepi laut.

7. Taitung, Taiwan (Tarif kamar rata-rata: IDR 1,6 juta)

Bagi wisatawan yang mencari liburan akhir tahun dengan anggaran terjangkau atau ingin menjauhi hiruk-pikuk kota besar, Taitung adalah pilihan yang tepat. Terkenal dengan keindahan alamnya yang menakjubkan dan warisan budaya yang kaya, Taitung terletak di ujung timur Taiwan dan menjadi tempat pertama untuk menyaksikan matahari terbit.

Menjadikannya kota destinasi favorit untuk perayaan Tahun Baru. Beberapa tahun terakhir, Taitung semakin populer sebagai destinasi wisata akhir tahun, dengan berbagai festival musik besar yang dimulai pada bulan November, menarik banyak wisatawan dari berbagai penjuru.

8. Nagoya, Jepang (Tarif kamar rata-rata: IDR 1,7 juta)

Nagoya, kota yang kaya akan sejarah dan atraksi modern, menawarkan pengalaman liburan yang unik. Pengunjung dapat menjelajahi Istana Nagoya dan Distrik Sakae yang ramai sambil menikmati kuliner Nagoya yang populer dan lezat, seperti Hitsumabushi (belut panggang) dan Miso Katsu (babi dengan bumbu miso).

Cahaya musim dingin dan pasar-pasar yang meriah di kota ini menciptakan suasana magis, yang sempurna untuk merayakan Natal dan Malam Tahun Baru.

9. Yeosu-si, Korea Selatan (Tarif kamar rata-rata: IDR dua juta)

Yeosu, kota pesisir yang dikenal dengan pemandangan indah dan budaya maritim, menawarkan liburan yang tenang. Pengunjung dapat menjelajahi alam di Pulau Odongdo atau mengagumi pemandangan kota dari Kereta Gantung Maritim Yeosu.

Kota ini merupakan destinasi ideal untuk musim liburan, dengan pengalaman memukau seperti taman hiburan La Terrace Winter Village, yang menawarkan suasana Natal yang magis.

Makan Sehat, Bisa Murah dan Mudah, Kok!

this formate

(Foto: Pixabay)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Saat ini terdapat berbagai jenis diet yang populer dan banyak dicoba. Ada diet yang mengatur waktu makan, ada yang berbasis sayuran dan buah tanpa konsumsi daging, ada yang membatasi asupan lemak, dan ada yang fleksibel mengatur komposisi nutrisi. Lalu, yang mana diet terbaik untuk kita?

Khoirul Anwar SGz, Msi, Ketua Yayasan Makanan dan Minuman Indonesia (YAMMI), mengungkapkan bahwa pemahaman soal diet perlu diluruskan terlebih dahulu.

“Orang berpikir bahwa diet berarti mengurangi berat badan. Padahal, sebenarnya diet berarti mengatur pola makan. Secara ilmiah, pola makan yang baik itu yang menerapkan gizi seimbang, seperti yang diusung SELARAS.”

Belum lama ini Eathink merilis panduan makan sehat dan berkelanjutan yang disebut SELARAS (Seimbang, Lokal, Alami, Beragam, dan Sadar). “Seimbang dalam hal komposisi zat gizi, menggunakan bahan pangan lokal, meminimalkan zat kimia dalam bahan pangan, mengedepankan keragaman bahan pangan dalam satu piring, dan menerapkan mindful eating,” kata Jaqualine Wijaya, CEO dan Co-founder Eathink.

Tak perlu dibuat rumit, pola makan sehat dan juga ramah lingkungan bisa diadopsi dengan mudah tanpa harus mengeluarkan banyak uang.

Orang muda peduli kesehatan

Apa yang ada di benak Anda, ketika mendengar istilah makan sehat? Mungkin berbagai pantangan dan keharusan bermain-main dalam kita.

Dalam pikiran orang muda, makanan sehat sering kali dipersepsikan dengan sayur, dan sayur itu tidak enak, dan mereka tidak suka sayur. Begitulah yang dibaca Jaqualine dalam sebuah jurnal. Hal ini memperlihatkan bahwa persepsi soal makan sehat belum tentu sama pada setiap orang.

Di sisi lain Eathink pernah melakukan survei terhadap orang muda tentang gaya hidup berkelanjutan. Misalnya, tentang pilihan makanan yang lebih sehat.

“Jika ditelusuri, masalahnya lebih pada sistem. Ketika akan memulai kebiasaan sehat yang baru, ada pengaruh dari banyak faktor, misalnya preferensi, lingkungan, dan sistem. Contohnya, di rumah ada orang yang punya pengaruh lebih besar. Orang tua, misalnya, hobi makan gorengan.”

Sementara itu, dari riset soal pilihan makanan yang dikutip oleh Khoirul, kesadaran Gen Z terhadap kesehatan terbilang tinggi. Mereka lebih memilih makanan yang sehat dan ramah lingkungan.

“Tapi, dalam eksekusinya tidak selalu terjadi. Secara sikap mereka memilih makanan yang punya dampak positif terhadap lingkungan. Beberapa sudah melakukannya, beberapa lainnya belum,” kata Khoirul.

Hal yang menjadi concern Khoirul, ketika orang sudah memilih healthy food, tapi konsumsinya tidak optimal, ujungnya malah membuang-buang zat gizi. “Misalnya, porsi protein di piringnya sudah sesuai dengan kebutuhan, tapi hanya dikonsumsi setengah saja, hingga akhirnya menjadi food waste. Hal ini perlu dicegah agar tidak sampai terjadi. Zat gizi yang sudah tersedia malah terbuang sia-sia,” kata Khoirul.

Tak harus puasa makanan viral

Berkat media sosial, suatu jenis makanan atau minuman baru gampang sekali jadi viral. Karena tampilannya menggoda dan antreannya panjang, tidak aneh kalau kita jadi ingin ikut membeli.

Anda termasuk gemar berburu makanan atau minuman yang sedang viral? Ternyata, kesadaran akan makan sehat bukan berarti tidak boleh menjajal makanan viral, lho.

“Keinginan untuk mencoba makanan baru tidak masalah, kok. Dengan begitu, kita jadi tahu dan tidak penasaran. Positifnya, setelah mencoba, kita jadi tidak menyalahkan makanan apa pun. Kita cenderung menyalahkan, karena tidak tahu. Tapi, ada negatifnya juga, kalau mencobanya terlalu banyak dan jadi kebablasan,” kata Khoirul, yang juga merupakan dosen Program Studi Gizi, Fakultas Teknologi Pangan dan Kesehatan, Universitas Sahid Jakarta.

Ia justru menyarankan agar kita menyusun jadwal khusus untuk mencicip makanan baru, misalnya satu atau dua kali dalam satu minggu. Tujuannya untuk sekadar mengetahui.

Jika sudah melihat dan mencicipi, kita bisa mengidentifikasi plus dan minus dari makanan tersebut, sehingga kemudian bisa memutuskan apakah makanan tersebut baik bagi tubuh.

Jaqualine menyebutkan tidak ada makanan yang benar-benar salah, kecuali dikonsumsi berlebihan. Karena itu, kita perlu kembali ke konsep Seimbang dalam panduan SELARAS.” Artinya, kalau siang tadi sudah mengonsumsi makanan viral sarat gula, sore hari sebaiknya tidak lagi ngemil makanan yang bergula juga.

Sejalan dengan Jaqualine, Khoirul menjelaskan, aspek Seimbang itu memang sangat penting, sehingga menjadi acuan pertama. “Tidak ada ada satu jenis makanan pun yang bisa memenuhi semua kebutuhan gizi kita.”

Pilih makanan dari sekitar kita

Karena kita banyak membaca rekomendasi bahan makanan dari sumber informasi luar negeri, maka pangan bergizi tinggi yang kita ketahui antara lain salmon dan whole grain.

“Padahal, whole grain tidak menjadi produk utama di Indonesia. Kita juga bukan penghasil utama ikan salmon. tapi kita kaya akan banyak jenis ikan di Indonesia selain salmon,” kata Khoirul.

Ia menjelaskan, ketika berbicara soal kacang-kacangan, orang akan berpikir tentang almond. Sementara itu, kacang hijau yang harganya murah mempunyai nilai gizi yang tinggi.

“Hanya saja, orang memilih almond karena lebih bergengsi. Bahan pangan pengganti yang setara itu banyak. Masalahnya, ketika orang tidak terpapar terhadap bahan tersebut, maka dia tidak tahu bahwa makanan itu ada.”

Seto Nurseto, finalis Masterchef Indonesia dan Dosen Antropologi Universitas Padjadjaran, menjelaskan, makan merupakan bentuk adaptasi manusia untuk bertahan hidup, yang berpengaruh terhadap kebiasaan makan di setiap daerah di Indonesia.

Dia mencontohkan, konsumsi ayam pada masyarakat di kepulauan akan lebih sedikit daripada konsumsi hasil laut. Dan, setiap daerah akan mengembangkan makanan dari komoditas lokal mereka.

“Tradisi dan kepercayaan juga memengaruhi apa yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh suatu kelompok masyarakat. Misalnya, satu daerah melarang konsumsi sidat, karena mereka beranggapan bahwa sidat merupakan kerabat jauh mereka.

Ada juga yang menganggap sidat adalah hewan keramat yang hidup di mata air, sehingga harus dijaga dengan baik. Padahal, sidat mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi,” kata Seto, yang secara khusus mengajar bidang kajian makanan dan kebudayaan.

Bicara soal pangan lokal, Khoirul menerangkan, kelokalan itu bisa berdasarkan komoditas setempat. Sebutlah, daerah Bogor punya kacang bogor. Hal tersebut menjadi nilai positif, karena masyarakat Bogor memanfaatkan potensi pangan di daerahnya.

“Kelokalan juga terkait budaya, yaitu dalam bentuk makanan khas. Inilah yang biasanya dimaksimalkan oleh setiap daerah.”

Processed food tak selalu salah

Seto menyebutkan, setiap kelompok masyarakat mempunyai cara sendiri dalam mengolah makanan sesuai pengetahuan dan teknologi yang mereka miliki.

Dalam konteks budaya, itulah proses terbaik di daerah tersebut. Contohnya, dari sumber daya yang berlimpah, masyarakatnya akan membuat olahan untuk menambah usia penyimpanan makanan.

“Misalnya, olahan fermentasi mandai di Banjarmasin. Mandai terbuat dari kulit cempedak yang difermentasi untuk menambah umur simpan. Mereka juga mempunyai suplai ikan air tawar yang melimpah, sehingga mengembangkan olahan fermentasi iwak makasam,” kata Seto, mencontohkan.

Khoirul menambahkan, masyarakat Indonesia memiliki beragam budaya makan dengan berbagai proses pemasakan makanan.

“Proses pengolahan makanan memang bisa menurunkan zat gizi, walaupun sebenarnya kita dapat menambahkan zat gizi yang hilang. Bicara soal proses fermentasi, kandungan gizi dalam makanan yang difermentasi masih bagus. Namun, ketika makanan fermentasi itu diolah lagi dengan cara digoreng, kandungan gizinya jadi berbeda. Walaupun, bahan pangannya sama.”

Ia menegaskan, processed food tidak selalu salah. Karena, memproses makanan sebenarnya merupakan bagian dari kebutuhan kita untuk memperpanjang daya simpan suatu makanan.

“Yang menjadi masalah adalah kita terpapar oleh beragam processed food dengan berbagai karakter berbeda. Kita harus punya awareness yang tinggi dalam memilah makanan yang aman dan bergizi.”

Banyak orang berpendapat bahwa makanan sebaiknya dimasak sendiri. Namun, Khoirul melihat, pada kenyataannya tidak semua orang punya waktu yang cukup untuk memasak.

Soalnya, memasak itu bukan hanya urusan memproses bahan makanan saja. Proses memasak dimulai dari belanja, menyimpan bahan, mempersiapkan bahan, memasak, hingga menyimpan makanan yang berlebih.

Coba tanam sendiri

Pada 2022 International Food Information Council (IFIC) mengadakan survei Makanan dan Kesehatan terhadap Gen Z. Survei itu mengungkap, lima puluh persen Gen Z mengatakan bahwa pilihan makanan dan minuman mereka memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap lingkungan.

Salah satu yang dikenal punya dampak baik terhadap lingkungan adalah bahan pangan organik, yang praktik pertaniannya tidak merusak lingkungan. Produk yang diklaim organik mempunyai sertifikasi dan label tersendiri. Inilah yang membuat harga suatu bahan pangan jadi melonjak. Solusinya apa?

“Kalau ingin bahan pangan yang sehat dan murah, tanam sendiri saja. Sistem yang sedang hangat dibicarakan adalah agroekologi, yang meniru sistem agroforestry.”

Di dalam satu kawasan hutan terdapat berbagai jenis tanaman. Dengan sendirinya ekosistem di situ akan terbangun. Contohnya, hewan apa yang seharusnya bermunculan serta tumbuhan yang ditanam untuk mencegah hama, sehingga tidak perlu menggunakan pestisida yang mengganggu ekosistem, kata Jaqualine.

Secara sederhana, prinsip bercocok tanam ini juga bisa dipraktikkan di rumah. Seandainya Anda memiliki kebun kecil di rumah, tanamlah dengan berbagai jenis tanaman. Konsep agroekologi ini tak memerlukan halaman yang luas.

“Hanya saja, ada sejumlah prinsip yang perlu diterapkan. Salah satunya tidak memakai pupuk kimia yang berpotensi merusak tanah dan menurunkan produksi hasil kebun.”

Salah satu tujuan agroekologi adalah menjaga biodiversitas. “Saat ini sebagian orang Indonesia cenderung mengonsumsi satu jenis pangan pokok, meskipun kita memiliki keberagaman sumber pangan lokal lain, khususnya konsumsi beras sebesar 13-46 kali lebih banyak dibandingkan jenis lain. Kita perlu menerapkan keragaman dalam piring kita agar biodiversitas terjaga,” kata Jaqualine.

Menyinggung perusahaannya,dia menjelaskan bahwa Eathink adalah Sebuah platform dari Foodsustainesia untuk membantu generasi milenial memilih produk makanan dan menanamkan kesadaran tentang pentingnya keberlanjutan pangan.

What’s Wrong Halal Tourism di Bali ?

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Masih ingat kunjungan rombongan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud ke Indonesia tahun 2017 yang memilih Bali sebagai destinasi liburannya di sela melawat ke Indonesia dan sejumlah negara ?.

Dari waktu yang dijadwakan semula yakni 4 sampai 9 Maret 2017, raja yang saat itu berusia 81 tahun menambah liburannya di Bali hingga 12 Maret. Rombongan yang berjumlah 1.500 orang menginap di beberapa hotel yang berada di kawasan International Tourism Development Center (ITDC) Nusa Dua, Bali.

Raja Salman menginap di St.Regis Bali Resort, yang memiliki kamar tipe suite dan vila, dengan tarif per malam mulai US$570 – US$2.200 atau sekitar Rp7 juta – Rp29 juta. Rombongan yang bertolak ke Bali rinciannya, 1.000 orang terdiri dari putra mahkota, 24 pangeran, dan 10 menteri, 300 orang tim advance plus koki khusus dari Arab untuk menyajikan masakan halal.

Raja Salman menyewa lima hotel mewah, transportasi mobil mewah dan bus sebanyak 360 unit.Total pengeluaran keluarga Kerajaan Arab Saudi untuk transportasi selama sembilan hari di Bali sedikitnya mencapai Rp 8 miliar. Asosiasi Tour dan Travel Agent memperkirakan pengeluaran Raja Salman selama berlibur di Bali mencapai sekitar Rp 250 miliar.

Biaya liburan keluarga kerajaan Arab Saudi ini di Bali tembus angka fantastis dan keluarga besar Muslim dengan ribuan rombongannya ini menikmati wisata halal di Bali yang kini di dunia internasional disebut halal tourism. Obyek-obyek wisata yang dikunjungi rombongan Raja Salman a.l Pantai Geger sebagai salah satu destinasi wisata selama berada di Bali.

Pantai yang terletak tepat di belakang Hotel St Regis tempat Raja menginap itu menawarkan keindahan pasir putihnya.
Berkunjung ke Ubud juga menjadi pilihan. Rupanya panorama sawah di Ubud menjadi daya tarik bagi rombongan Raja Salman.

Mereka terlihat mengunjungi Ceking Terrace, Monkey Forest dan Kayu Galery. Kawasan Ceking Terrace pernah menjadi lokasi syuting film Hollywood,’Eat Pray Love’ karena dikenal dengan pemandangan persawahan terasiring di bukit.

Masjid Agung Ibnu Batutah dipilih oleh rombongan Raja Salman untuk menunaikan salat Jumat. Masjid Agung Ibnu Batutah berlokasi di Puja Mandala, suatu kawasan wisata di Nusa Dua yang disebut sebagai ‘Rumah 5 Ibadah’.

Untuk belanja oleh-oleh, Bali Collection yang terletak di Indonesia Tourism Development Center (ITDC), Nusa Dua, Bali Collection menjadi tempat belanja yang dipilih oleh rombongan Raja Salman.

Kebanyakan dari rombongan Raja datang ke Bali Collection untuk berbelanja suvenir. Ada pula dari rombongan yang bersantai sore hari di deretan kafe dan restoran.

Setelah membaca uraian di atas, apakah kegiatan wisata rombongan Raja Salman bukan wisata halal karena mengedepankan makanan halal dan tidak melupakan ibadah Jumatnya ? Apakah pilihan berlibur ke Bali bagi rombongan Raja Arab Saudi itu untuk meng- ISLAM- kan masyarakat di destinasi ?

Pertanyaan ini menjadi sangat penting ketika saya membaca dari media di Bali berbahasa Inggris yaitu thebalisun.com dan balinews.live edisi 4 November lalu yang menurunkan berita berjudul “Leaders Scraps Plans For New Halal Tourism Campaign in Bali,” 

Isinya soal pernyataan Wamen Pariwisata yang baru, Ni Luh Puspa bahwa Rencana Kampanye Pariwisata Halal di Bali sudah dibatalkannya. Inisiatif pengembangan pariwisata akan dilaksanakan sesuai dengan budaya dan warisan budaya Bali.

Menurut dia, Karena Bali merupakan provinsi dengan mayoritas penduduk beragama Hindu Bali, banyak pemimpin pariwisata dan masyarakat setempat merasa bahwa penerapan sertifikasi halal wajib bagi pelaku usaha pariwisata di seluruh provinsi tersebut tidak tepat dan tidak sejalan dengan budaya Bali.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan di Instagram yang dilansir dari kedua media itu, Puspa menjelaskan, “Sudah seharusnya kearifan lokal dan kekayaan budaya Bali harus dijaga bersama-sama agar menjadi daya tarik bagi wisatawan.”

Sampai di sini sudah cukup jelas bahwa pemahaman mengenai halal tourism yang kini menjadi trend dunia belum dipahami oleh berbagai level masyarakat Bali khususnya bahkan oleh seorang Wakil Menteri Pariwisata RI dari Pulau Dewata itu.

Padahal memakai label halal tourism tidak akan ada transformasi pada destinasinya, tetapi pelancong atau turisnya diberikan pelayanan tambahan atau di sebut Extended Services.

Mantan Wapres KH Ma’ruf Amin kerap mengingatkan bahwa bicara wisata halal, yang dihalalkan bukanlah destinasi atau tempat tujuan wisatanya, melainkan pelayanannya. Termasuk di dalamnya hotel, restoran, spa dan paket wisatanyapun tidak bertentangan dengan syariah Islam.

Apa yang menjadi syariat Islam juga harus dihormati karena umat Islam tidak boleh meninggalkan ibadah lima waktunya meski sedang berwisata dan harus mengonsumsi makanan halal. Jadi What’s wrong dengan halal tourism di Bali ?

Kalau label halal tourism sudah diterima Bali sejak dulu dan mampu melayani wisatawan sekelas Raja Salman, maka rombongan itu tidak akan membawa sejumlah koki tersendiri dari negara asalnya untuk menjamin proses makanan halal yang sudah menjadi ketentuan agamanya bagi rombongan besar itu.

Kunjungan turis Muslim Timur Tengah yang juga ke Bali bersamaan dengan kunjungan Raja Salman adalah salah satu dampak positif yang luput dari pengamatan pemerintah dan industri pariwisata setempat gegara gagal paham soal halal tourism.

Itulah sebabnya ketika Wamen Pariwisata Ni Luh Puspa mengeluarkan pernyataan bahwa semua pihak agar “Membangun Bali menjadi rumah bersama yang berkelanjutan dan inklusif bagi semua golongan, “ maka pernyataannya itu menjadi bentuk egoisme karena minta dihargai tapi faktanya tidak bisa menghargai.

Seperti diketahui halal tourism kini menjadi salah satu ekositem industri halal dunia pasca COVID-19 yang trennya terus meroket mulai dari halal tourism, keuangan syariah, makanan dan minuman, farmasi, modest fashion, media rekreasi hingga kosmetika.

Tim Kemenpar sudah bertandang ke
Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) pimpinan Babe Haikal dengan pembahasan kolaborasi dalam penguatan sertifikasi halal bagi pelaku usaha di Indonesia, baik untuk UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) maupun perusahaan besar sebagai produsen, guna memastikan bahwa produk yang dihasilkan memiliki sertifikasi halal.

Babe atau Haikal Hassan menyampaikan bahwa merujuk UU 33/2014 Pasal 4 tegas menyatakan seluruh produk yang masuk, beredar dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal, dengan batasan dan ketentuan yang jelas.

Namun, dia juga mengingatkan bahwa pelaku usaha yang menghasilkan produk dari bahan tidak halal atau non halal tentu dikecualikan dari mengajukan sertifikat halal.

Hal itu merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 Tahun 2024 Pasal 2 Ayat 2 menyatakan bahwa produk yang berasal dari bahan yang diharamkan dikecualikan dari kewajiban bersertifikat halal.

Tapi wajib diberikan keterangan tidak halal, seperti pada Ayat 3 Pasal tersebut.”Yang enggak halal bagaimana? Lihat Pasal 2 Ayat 2 bahwa produk yang dikategorikan tidak halal, dikecualikan. Dalam pasal 2 Ayat 3, produk yang tidak bisa disertifikat halal ya wajib diberi keterangan tidak halal. Sesimpel itu,” jelas Babe Haikal.

Sayangnya Ni Luh Puspa berdalih bahwa pembatalan kampanye wisata halal di Bali termasuk penerapan sertifikasi halal wajib bagi pelaku usaha pariwisata di seluruh provinsi tersebut tidak tepat dan tidak sejalan dengan budaya Bali.

Pernyataannya ini mengundang pertanyaan saya apakah Bali bukan bagian dari NKRI sehingga program pemerintah mengenai sertifikasi halal termasuk untuk sektor halal tourism bisa dibatalkan kampanye atau sosialisasinya demi mengakomodasi gagal paham soal halal tourism di semua lini ?. Ayo bantu jawab pertanyaan terakhir ini.

Warisan Istanbul Bertemu dengan Modernitas di Hotel Casa Foscolo yang Baru

this formate

ISTANBUL, bisniswisata.co.id : Terletak di tengah kawasan paling bersejarah kedua di Istanbul , Hotel Casa Foscolo yang baru berdiri sebagai bukti warisan abadi dari kekayaan warisan kota ini.

Dengan berbagai fasilitas modern yang ditambahkan dengan cermat dan renovasi yang sangat sesuai dengan sejarah, bangunan berusia 124 tahun ini kini menjadi rumah bagi hotel mewah yang intim, tempat seni kontemporer, sastra, dan sejarah berpadu.

Dilansir dari traveldailynews.com¸ rerletak di jantung Beyoğlu, juga dikenal sebagai Pera, distrik tertua kedua di Istanbul, Casa Foscolo Hotel yang baru dibuka ini kaya akan sejarah namun pada saat yang sama dibanjiri dengan kenyamanan modernitas.

Bangunan ini pertama kali dibangun antara tahun 1890 dan 1900 sebagai apartemen-hotel perintis untuk Foscolo Mango & Co. Ltd. , sebuah bisnis maritim yang didirikan di Istanbul oleh keluarga Foscolo dari Venesia.

Pada tahun 1930-an, keluarga Holstein Jerman mengambil alih, mengubah lantai dasar menjadi tujuan kuliner dan lantai atas menjadi pusat komersial.

Saat ini, bangunan bersejarah yang dipugar dan direnovasi dengan cermat ini memberikan kehidupan baru, menawarkan penduduk lokal dan pengunjung tempat untuk merasakan budaya kontemporer Pera melalui lensa sejarah.

Dengan renovasi arsitektur dan desain interior yang diawasi oleh Emre Kuzlu, hotel ini memadukan fitur asli bangunan dengan fasilitas kontemporer.

Di balik fasad neoklasik yang telah dipugar dengan campuran batu bata dan travertine, terdapat langit-langit tinggi asli, dinding batu, tangga spiral di tengah, jendela, dan detail khusus periode lainnya, seperti motif oriental buatan tangan di lobi dan di langit-langit di beberapa kamar.

Selama proses renovasi, prioritas juga diberikan untuk melestarikan dan menggunakan kembali bahan bangunan yang ada, termasuk marmer dan kayu.

Pintu kayu asli bangunan dan tangga marmer serta lantai, misalnya, telah digunakan kembali dan diintegrasikan di pintu masuk hotel, melestarikan keanggunannya yang abadi.

Bata antik juga telah dibersihkan dengan hati-hati untuk meningkatkan estetika lobi dan menciptakan suasana yang mengundang.

Melengkapi integritas historis ini adalah warna-warna hangat dan pastel serta bahan-bahan alami yang dipilih dengan saksama, termasuk marmer baru, mosaik ubin, dan keramik dekoratif, dengan lapisan kayu dan laminasi yang memberikan sentuhan visual dan fungsional lebih lanjut pada permukaan bersejarah.

Di seluruh hotel dan 18 kamar tamunya, seni kontemporer memainkan peran utama dalam menghubungkan sejarah dengan masa kini. Lukisan karya seniman lokal dan patung buatan tangan dapat ditemukan di kamar standar dan suite, menambahkan sentuhan kreatif pada skema warna netral yang menenangkan.

Sesuai dengan tujuan awal bangunan, sebagian besar kamar memiliki ruang keluarga, dapur kecil, dan kamar tidur, dan dilengkapi dengan furnitur yang hampir seluruhnya dibuat khusus dengan bahan-bahan yang bersumber secara lokal.

Bagian luar gedung hotel dan interior kamar

Semburat warna di dapur kecil melengkapi karya seni, dan nuansa kontemporer ini menyebar ke kamar mandi, dengan rona alami dan lebih terang, perabotan keramik, dan dinding hijau dan putih bertekstur.

Di lantai B1, tamu dan penduduk setempat dapat berbaur, bersantai, dan bekerja sama di area makan dan pameran seni yang semarak, Perpustakaan Minoa yang tenteram, serta ruang kerja bersama yang dinamis dan ruang pameran tambahan.

Pagi hari di lantai B1 dimulai dengan sarapan à la carte yang menyajikan produk lokal dan internasional yang segar. Sepanjang hari, menu menawarkan contoh masakan Mediterania, hidangan penutup yang lezat, berbagai minuman beralkohol dan non-alkohol, dan kopi.

Bagi mereka yang mencari suasana yang lebih tenang, Perpustakaan Minoa menyediakan sudut bersantai yang intim, cocok untuk menikmati rehat kopi yang damai.

Di perpustakaan, berbagai buku juga tersedia untuk dibeli atau dipinjam selama menginap. Di lantai bawah, ruang kerja bersama khusus juga menyelenggarakan pameran bergilir dengan seniman lokal dan internasional.

Dari lantai bawah hingga lantai atas kamar tamu, Casa Foscolo Hotel lebih dari sekadar tempat untuk tidur: Ini adalah tempat untuk merayakan seni dan budaya, untuk mendorong interaksi dan pertukaran budaya antara pengunjung dan penduduk setempat.
Lokasi.

Casa Foscolo Hotel terletak hanya beberapa langkah dari Istiklal Avenue yang hanya bisa dilalui pejalan kaki, Menara Galata yang ikonis, dan kereta kabel Tünel di jantung Beyoğlu, atau Pera, distrik tertua kedua di Istanbul.

Hotel ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari pusat seni dan budaya seperti Istanbul Modern, Salt Galata, Yayasan Kebudayaan dan Seni Istanbul, Pusat Kebudayaan Atatürk, Borusan Sanat, dan Museum Pera.

Dicirikan oleh perpaduan unik antara sejarah dan modernitas, dengan pengaruh dari komunitas Yunani, Armenia, dan Yahudi yang terlihat jelas dalam arsitektur, kuliner, dan lembaga budayanya, lingkungan ini merupakan lokasi yang ideal untuk menjelajahi warisan budaya kota yang kaya.

Daerah terdekat seperti Karaköy, Taksim, dan Sultanahmet menawarkan perpaduan antara sejarah, atraksi modern, dan kehidupan malam yang semarak.

Selama 30 tahun, Design Hotels telah menjadi yang terdepan dalam pergerakan di bidang perjalanan dengan menyusun portofolio pilihan yang terdiri dari 300+ hotel yang dimiliki dan dioperasikan secara independen di lebih dari 60 negara.

Dari pusat budaya di kota-kota yang serba cepat hingga tempat pelarian kecil yang terpencil, setiap hotel mencerminkan visi pemiliknya yang pertama – atau “Asli” – yang memiliki hasrat untuk keramahtamahan sejati, keaslian budaya, desain yang menggugah pikiran, dan arsitektur.

Lebih dari sekadar kumpulan hotel, Design Hotels menghadirkan hotel-hotel anggota yang berpikiran maju, keahlian industri perjalanan yang mendalam – dari peramalan tren dan konsultasi kreatif, hingga PR, pemasaran, dan representasi penjualan global.

Design Hotels berkantor pusat di Berlin, dengan cabang di London, Los Angeles, New York, dan Singapura. Pada tahun 2019, perusahaan ini bermitra dengan Marriott Bonvoy , memperluas jangkauan hotel anggotanya dan menawarkan akses komunitasnya ke program loyalitas terkemuka di industri ini.

AQUA-DMI Berangkatkan Umroh 20 Marbot Masjid dari 6 Provinsi ke Tanah Suci

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sebanyak 20 orang marbot masjid dari 6 Provinsi di Indonesia terpilih diberangkatkan umroh secara gratis pada periode keberangkatan 17-25 November 2025. Program umroh gratis ini merupakan CSR PT Tirta Investama (AQUA) bekerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Global Islamic Development dengan memilih penyelenggara perjalanan ibadah umrohnya yaitu Karshinta Tours.

Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan secara gratis sebagai apresiasi atas pengabdian dan bentuk dukungan terhadap pemberdayaan umat terutama Khadimatul Masjid (Marbot) yang terpilih, untuk menunaikan ibadah umrah yang selama ini telah menjaga dan merawat masjid-masjid di tanah air.

Marbot masjid dari 6 Provinsi yang terpilih yaitu berasal dari Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatera Utara.

“Program Umrah bagi Khadimatul Masjid ini adalah bagian awal dari komitmen jangka panjang AQUA bersama DMI untuk memberikan dampak positif bagi umat Islam di Indonesia. Ini bukan hanya tentang ibadah umrah, tetapi juga tentang memperbesar kebaikan yang dapat mengalir ke seluruh masyarakat,” kata Arif Mujahidin, Corporate Communications Director AQUA.

Dalam semangat ini, kita mengingat salah satu perintah penting dalam Islam, yaitu Wata’awanu alal birri wattaqwa, yang berarti, Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. Kami berharap para peserta yang terpilih mendapatkan pengalaman berharga pada kesempatan perjalanan spiritual ini, dan semakin bersemangat dalam menjalankan tugas dan baktinya setelah kembali ke tanah air nantinya, tambah Arif Mujahidin.

“Kami dari DMI mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada AQUA. Ini adalah langkah mulia yang sangat berarti, sehingga para khadimatul masjid dapat merasakan kesempatan luar biasa untuk melaksanakan ibadah umrah,” ungkap Dr. H. Rahmat Hidayat, SE., MT, selaku Sekretaris Jenderal DMI.

Dia berharap umroh gratis bagi marbot masjid dari AQUA ini menjadi langkah awal yang membawa berkah bagi semua pihak. Semoga AQUA selalu diberikan kelancaran sekaligus keberkahan dalam setiap langkahnya, tambahnya

Pimpinan Karshinta Tours, pelaksana perjalanan Umroh Khadimatul Mesjid Aqua DMI, yaitu Shintaratih Cindy Hastuti menyampaikan bahwa tiket, visa, akomodasi dan transportasi telah siap dan terkonfirmasi, hal ini sebagai salah satu bentuk tanggungjawab Karshinta Tours dalam memfasilitasi para tamu Allah.

Shintaratih Cindy Hastuti, pimpinan Karshinta Tours

“Kami sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih atas kepercayaan seluruh pihak terkait yg mempercayakan pelaksanaan perjalanan program Umroh Khadimatul Masjid ini pada kami,” katanya.

Menurut Shinta, pihaknya terus berusaha istiqamah dengan pengalaman selama lebih dari 20 tahun, tetap selalu berusaha meningkatkan kualitas layanan mengikuti perkembangan segala kondisi terkait dari waktu ke waktu.

Meski ibadah umrah memiliki makna yang sangat penting bagi umat muslim, tetapi kesempatan untuk menunaikannya belum tentu bisa didapatkan oleh setiap orang. Khadimatul masjid memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kelancaran dan keberlangsung ibadah umat muslim di masjid lingkungan sekitar.

Namun kebanyakan khadimatul masjid melakukan tugas dan baktinya tanpa pamrih. Sehingga kesempatan untuk melaksanakan ibadah umrah, belum bisa menjadi prioritas mereka, mengingat tingginya biaya hidup dan kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi.

Abdul Alim Rohmatulloh, perwakilan khadimatul masjid dari Kabupaten Cianjur menyampaikan, “Alhamdulillah wa syukurillah, saya merasa sangat bahagia dan bersyukur bisa berkesempatan mengunjungi tanah suci, sebuah kesempatan yang hadir berkat kolaborasi antara AQUA dan Dewan Masjid Indonesia,”

Selama 17 tahun bekerja sebagai khodimatul masjid, saya tidak hanya melayani masjid, tetapi juga ikut berkontribusi dalam kegiatan harian, menjadi penceramah, serta mengajar Al-Quran kepada masyarakat sekitar.

“Kolaborasi antara AQUA dan DMI ini sangat bermanfaat, karena membuka peluang bagi lebih banyak khadimatul masjid untuk merasakan pengalaman yang luar biasa, yaitu pergi ke tanah suci. Semoga kedepannya lebih banyak lagi yang mendapat kesempatan serupa.”

Selain dengan DMI, AQUA juga telah bekerja sama dengan berbagai organisasi muslim di Indonesia seperti PBNU, LPBI NU, LP Ma’arif NU, RMI NU, Serikat Ekonomi Pesantren, PP Muhammadiyah, serta Pesantren dan Masjid dari berbagai wilayah di Indonesia.

Forum Pemasaran Destinasi PATA Soroti Phetchaburi Destinasi MICE Global

this formate

                     Kota tua di Phetchaburi

BANGKOK, bisniswisata.co.id: Forum Pemasaran Destinasi PATA 2024 (PDMF 2024), memposisikan provinsi Phetchaburi, Thailand sebagai tujuan destinasi konferensi internasional yang ideal.

Antara lain dengan menyoroti penunjukannya sebagai Kota Kreatif Gastronomi UNESCO, dan mendorong kolaborasi yang lebih erat antara provinsi tersebut, pemangku kepentingan lokal, dan organisasi pariwisata besar.

Acara yang diselenggarakan pada 12-14 November di Dusit Thani Hua Hin di Provinsi Phetchaburi, diselenggarakan oleh Pacific Asia Travel Association (PATA) bermitra dengan Provinsi Phetchaburi, TCEB, dan Designated Areas for Sustainable Tourism Administration (DASTA), dengan dukungan dari Tourism Authority of Thailand (TAT).

Dilansir dari traveldailynews.asia, pencapaian ini sejalan dengan tujuan Biro Konvensi dan Pameran Thailand (TCEB) untuk mempromosikan kota-kota sekunder dan tersier sebagai destinasi MICE.

Event dengan tema “Authentic Prosperous Journeys: Nurturing Culture, Culinary Delights, and Community Wisdom,” PDMF 2024 mengeksplorasi dampak pariwisata di luar pertumbuhan ekonomi.

Forum ini menyoroti pariwisata berbasis masyarakat (CBT) dan mengkaji dampak positifnya terhadap masyarakat lokal, penciptaan lapangan kerja, pelestarian budaya, dan kolaborasi antara otoritas nasional dan provinsi untuk mempromosikan pariwisata.

“Tema forum tahun ini menangkap esensi dari pariwisata yang bermakna,” kata Ketua PATA Peter Semone dalam pidato sambutannya, selama upacara pembukaan acara.

“Pariwisata saat ini harus melampaui pertumbuhan ekonomi semata untuk merangkul aspek lingkungan dan sosial budaya pariwisata, menciptakan efek riak positif di masyarakat yang menjadi tuan rumah kita,”.

Nilai pariwisata tidak hanya terletak pada pendapatan yang dihasilkannya, tetapi juga pada kekuatannya untuk menciptakan lapangan kerja, melindungi budaya, mendukung pelestarian lingkungan, dan menumbuhkan ekonomi bersama yang mengangkat semua anggota masyarakat.

Semone juga menyampaikan penghargaannya yang tulus kepada semua mitra, memuji kontribusi mereka yang tak ternilai bagi keberhasilan acara tersebut.

Wanpen Mungsri, Wakil Gubernur, Penjabat Gubernur Provinsi Phetchaburi mengatakan dengan tema Perjalanan Kemakmuran yang Otentik: Memelihara Budaya, Kenikmatan Kuliner, dan Kearifan Masyarakat.

Forum Pemasaran Destinasi PATA berfokus pada destinasi yang memiliki potensi untuk memamerkan warisan budaya yang unik, kekuatan kuliner lokal, dan kearifan lokal yang digerakkan oleh masyarakat.

Kekuatan yang dapat menciptakan pengalaman perjalanan yang bermakna bagi para peserta, menumbuhkan kemakmuran yang berkelanjutan, dan mendorong pertumbuhan pariwisata sambil melestarikan sumber daya alam dan aset budaya tradisional.

Hal ini sejalan dengan tren pariwisata global yang memprioritaskan keterlibatan masyarakat, pertumbuhan berkelanjutan, dan praktik ramah lingkungan, serta mengatasi perubahan iklim.

Hal yang terpenting, Thailand dan kawasan Asia Pasifik akan berupaya keras menuju pertumbuhan yang stabil, makmur, dan berkelanjutan, tanpa meninggalkan siapa pun.”

Untuk Forum PATA ini, kami bangga mempersembahkan kepada Anda Provinsi Phetchaburi, permata Teluk Thailand yang menawarkan perpaduan yang apik antara seni-kerajinan-budaya-alam dan gastronomi,” kata Chiruit Isarangkun Na Ayuthaya, Presiden TCEB.

Kekayaan alam dan kekayaan budaya yang disebutkan telah menarik TCEB untuk bekerja sama dengan kota ini selama beberapa tahun terakhir dengan tujuan menjadikan Phetchaburi destinasi yang mampu menyelenggarakan MICE,

Hal yang mampu mengubah penawaran bernilai tinggi tersebut menjadi nilai jual unik yang kompetitif dari destinasi MICE. Dengan semua dukungan Anda, Phetchaburi dan Thailand akan membantu meningkatkan nilai MICE untuk kepentingan seluruh industri kami dan, yang lebih penting, membawa masyarakat lokal ke dalam rantai nilai kami, kata Chiruit.

Siripakorn Cheawsamoot, Deputi Gubernur untuk Pemasaran Internasional Eropa Amerika Timur Tengah dan Afrika, TAT, mengatakan forum ini memiliki makna khusus, karena mempertemukan beberapa pemikir paling cemerlang dan pendukung paling bersemangat dalam pemasaran destinasi.

“Kami di sini bukan hanya untuk membahas tren pariwisata; kami di sini untuk mendefinisikannya. Percakapan dan wawasan kami selama beberapa hari mendatang akan meletakkan dasar untuk memelihara warisan budaya, tradisi kuliner, dan ikatan komunitas yang kuat—elemen yang membuat setiap destinasi tidak hanya unik tetapi juga tangguh.”

Gp. Capt Athikun Kongmee, Direktur Jenderal, DASTA, mengatakan DASTA menempatkan pentingnya pengembangan pariwisata yang menghasilkan pendapatan bagi penduduk setempat, meningkatkan kesempatan kerja, dan meningkatkan keberlanjutan mata pencaharian penduduk setempat.

Tantangan pembangunan pariwisata berkelanjutan termasuk memastikan bahwa pendapatan yang diperoleh dari pariwisata didistribusikan kepada semua pemangku kepentingan dan berkontribusi pada kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.

DASTA bangga menjadi salah satu tuan rumah PDMF 2024 dalam menyelenggarakan tour teknis untuk pengalaman destinasi autentik di Provinsi Phetchaburi, yang mana penggabungan DASTA dengan Provinsi dan semua sektor terkait telah mendorong Provinsi Phetchaburi menjadi kota anggota Jaringan Kota Kreatif UNESCO (UCCN) – Kota Gastronomi pada tahun 2021.”

Pada tanggal 13 November, para delegasi mengikuti salah satu dari tiga rute tour berbeda yang diatur oleh DASTA dan mitranya, yang memamerkan pariwisata berbasis masyarakat Phetchaburi.

Sorotan dari tour tersebut meliputi pengalaman langsung dalam memasak hidangan lokal, pembuatan garam musiman, pembuatan wayang kulit tradisional Thailand, dan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah yang ikonik.

Para delegasi didorong untuk memposting tentang pengalaman mereka di media sosial sebagai bagian dari “Phetchaburi in Focus: Kontes Media Sosial,” dengan pemenang diumumkan selama konferensi.

Pada hari berikutnya, para peserta berpartisipasi dalam sesi konferensi yang dipimpin oleh para profesional pariwisata, pemimpin masyarakat, dan spesialis dari berbagai bidang, termasuk pemasaran digital, biologi laut, seni kuliner, dan energi terbarukan.

Mewakili sektor publik adalah organisasi seperti Kementerian Pariwisata Kamboja, Institut Pangan Nasional (NFI), Dewan Pariwisata Nepal, Otoritas Pengunjung Palau, Dewan Pariwisata Sabah, Dewan Pariwisata Sarawak, dan Otoritas Pengembangan Pariwisata Sri Lanka.

Perwakilan dari sektor swasta termasuk e-Tourism Frontiers, Intrepid Travel, OAG, dan Thailand.org, untuk menyebutkan beberapa di antaranya.
Topik yang dibahas meliputi “Keberlanjutan Berbasis Komunitas: misalnya

Membangun Masa Depan Melalui Pembangunan yang Bertanggung Jawab”; “Komunitas vs Pariwisata”; “Merangkul Warisan Budaya: Perjalanan Melalui Musik dan Tradisi”; “Makanan Kaki Lima: Menyeimbangkan Tradisi dan Kebersihan”; dan “Mengapa Warisan Penting untuk MICE”.

Sorotan utama forum tersebut adalah serangkaian presentasi oleh Arnon Wongchiang, Instruktur, Manajemen Hotel dan Penginapan, Fakultas Ilmu Manajemen, Universitas Silpakorn, yang memamerkan tiga cita rasa Phetchaburi.

Dalam setiap sesi, para delegasi mempelajari asal-usul garam Phetchaburi, gula aren, dan jeruk nipis; proses produksinya, dan beragam manfaatnya selain dari segi rasa.

Untuk lebih memperkaya pengalaman, beberapa delegasi diundang untuk mencicipi Margarita yang dibuat dengan bahan-bahan lokal Phetchaburi ini.

Acara ini dihadiri oleh lebih dari 370 delegasi dari 26 destinasi di seluruh Asia Pasifik dan sekitarnya, termasuk Australia; Bangladesh; Bhutan; Kamboja; Tiongkok; Taipei; Gibraltar; Hong Kong (SAR); India; india; Jepang; Republik Demokratik Rakyat Laos; Makau, Tiongkok; Malaysia; Nepal; Selandia Baru; Oman; Palau; Filipina; Singapura; Afrika Selatan; Spanyol; Sri Lanka; Inggris Raya; dan Amerika Serikat.

Mode Halal Indonesia Berkembang Secara Global

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Industri Mode Halal Indonesia tengah mempersiapkan diri untuk pengakuan global melalui Roadshow Mode Halal Global Indonesia (IGHF). Dengan misi untuk menggabungkan warisan budaya, teknologi inovatif, dan kepatuhan halal yang ketat.

Dilansir dari halaltimes.com, inisiatif ini menyoroti potensi Indonesia untuk memimpin industri halal global, yang diperkirakan akan melampaui US$2 triliun pada tahun 2026. Program ambisius ini memamerkan tradisi tekstil Indonesia yang kaya dan standar halal yang canggih di beberapa platform paling bergengsi di dunia.

Roadshow IGHF, yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), menggabungkan upaya dari para pelaku utama dalam mode, pemerintah, dan organisasi swasta. Tujuannya adalah untuk memposisikan fesyen halal Indonesia sebagai pemimpin global, memanfaatkan diplomasi budaya dan strategi ekonomi untuk meningkatkan kehadiran internasionalnya.

Misi Terpadu

Roadshow IGHF merupakan upaya kolaboratif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan:

*BPJPH: Mengawasi sertifikasi dan regulasi halal Indonesia.

*KainHalal: Pelopor tekstil bersertifikat halal, dipimpin oleh Fitriani Kuroda.

*Poppy Dharsono: Presiden Indonesia Fashion Week dan Ketua Ikatan Desainer Indonesia, dengan pengalaman lebih dari tiga dekade dalam mempromosikan fesyen Indonesia.

“Roadshow ini lebih dari sekadar pameran. Ini adalah gerakan untuk memadukan kekayaan budaya Indonesia dengan kepemimpinannya dalam standar halal, menciptakan identitas global yang unik untuk fesyen kita,” kata Aqil, perwakilan inisiatif IGHF.

Roadshow IGHF

Roadshow IGHF mengunjungi lima negara, yang dipilih secara strategis untuk memaksimalkan dampaknya. Setiap destinasi menawarkan kesempatan untuk menampilkan mode unik Indonesia dan menjalin hubungan dengan pembeli internasional, influencer, dan pembuat kebijakan.

1. Islamic Fashion Festival (IFF), Malaysia

Tanggal: 5–6 Agustus 2024

Sebagai pemimpin dalam ekonomi halal global, Malaysia menyediakan audiens yang reseptif untuk mode halal Indonesia. IFF berfungsi sebagai platform yang ideal untuk memulai roadshow, memamerkan tekstil tradisional Indonesia ke pasar regional yang menghargai.

2. House of iKons Fashion Week, London

Tanggal: 13–14 September 2024

Diadakan di Leonardo Royal Hotel yang bergengsi, acara ini menempatkan Indonesia di peta mode Eropa. Desainer Indonesia tidak hanya akan berpartisipasi dalam peragaan busana tetapi juga menyelenggarakan pameran untuk terlibat langsung dengan pembeli Eropa.

3. Milan City Fashion Week, Italia

Tanggal: 18–19 September 2024

Milan, pusat mode mewah global, menawarkan peluang berharga untuk terhubung dengan merek-merek kelas atas dan memperluas pasar untuk pakaian bersertifikat halal. Acara ini akan diadakan di Chiostry yang bersejarah di Barnaba.

4. Paris Fashion Week, Prancis

Tanggal: 27–28 September 2024

Dipentaskan di Hotel Westin Vendôme yang ikonis, rangkaian acara ini memperkuat ambisi Indonesia untuk memengaruhi pasar mode kelas atas. Paris, yang dikenal sebagai ibu kota mode global, memberikan paparan yang tak tertandingi bagi para desainer Indonesia.

5. World Halal Expo, Istanbul, Turki

Tanggal: November 2024

Acara penutup menekankan kepemimpinan Indonesia yang lebih luas dalam industri halal. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi halal di Turki, World Halal Expo menyediakan wadah untuk membahas tren global dan membangun kehadiran Indonesia di pasar yang dinamis ini.

Koleksi Novia Sukijo Official

Industri Mode Indonesia

Sistem sertifikasi halal Indonesia, yang diatur dalam Undang-Undang Jaminan Produk Halal (UU No. 33 Tahun 2014), merupakan landasan industri mode halal. Peraturan wajib ini memastikan bahwa:

*Semua bahan dan proses produksi mematuhi prinsip-prinsip halal.

*Produk dapat dilacak di seluruh rantai pasokan, dari bahan mentah hingga barang jadi.

*Produk bersertifikat memenuhi harapan etika dan agama konsumen Muslim.

“Sertifikasi halal wajib Indonesia bukan hanya tentang kepatuhan—ini adalah tanda kualitas dan keaslian yang membedakan produk kami di pasar global,” jelas Aqil.

Ekosistem halal Indonesia adalah model integrasi, yang menyatukan badan regulasi, perusahaan swasta, dan lembaga penelitian untuk mendorong inovasi dan kepatuhan. Komponen utama ekosistem ini meliputi:

1.BPJPH: Mengawasi proses sertifikasi halal, memastikan konsistensi dan transparansi.

2.Lembaga Pemeriksa Halal (LPH): Melakukan pemeriksaan dan memverifikasi kepatuhan.

3.LPPOM MUI: Menawarkan pengujian laboratorium tingkat lanjut untuk berbagai produk bersertifikat halal.

Ekosistem kolaboratif ini mendukung visi Indonesia untuk menjadi produsen produk halal terbesar di dunia. “Pendekatan komprehensif kami memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin dalam produksi dan inovasi halal,” kata Aqil.

Komitmen Indonesia terhadap kepatuhan halal diperkuat oleh fasilitas pengujian mutakhir di Laboratorium Halal LPPOM MUI, yang terakreditasi oleh ISO/IEC 17025:2017. Fasilitas ini menyediakan pengujian komprehensif untuk berbagai bahan, memastikan bahwa semua produk memenuhi standar halal.

 

Pengujian Inovatif

*Pengujian Molekuler: Analisis DNA menggunakan teknik PCR untuk mendeteksi kontaminan non-halal dalam tekstil dan kulit.

*Pengujian Mikroskopis: Pemeriksaan kulit dan serat di bawah mikroskop untuk memverifikasi asal dan keaslian bahan.

*Kemampuan laboratorium ini tidak hanya terbatas pada tekstil, tetapi juga mencakup:

*Barang dari Kulit: Tas, ikat pinggang, sepatu, dan dompet.

*Makanan dan Kosmetik: Memastikan kepatuhan terhadap berbagai kategori produk.

*Sertifikasi Vegan: Menguji produk untuk klaim vegan di samping sertifikasi halal.

Standar pengujian yang ketat ini memastikan bahwa mode halal Indonesia memenuhi harapan internasional, meningkatkan kepercayaan konsumen dan daya saing pasar.

Roadshow IGHF merayakan warisan budaya Indonesia dengan memadukan tekstil tradisional ke dalam mode modern. Bahan-bahan ikonik seperti batik, songket, dan kain tenun tangan menjadi pusat koleksi, yang mencerminkan keahlian dan seni selama berabad-abad.

“Tekstil Indonesia lebih dari sekadar kain—tekstil adalah narasi budaya dan sejarah kita,” kata Aqil. “Dengan memadukan tradisi ini dengan desain inovatif, kami menciptakan identitas unik untuk mode Indonesia.”

Ekspansi global mode halal Indonesia memiliki implikasi yang luas bagi ekonomi dan masyarakat bangsa.
Roadshow IGHF diharapkan dapat meningkatkan ekspor dan menarik investasi asing, memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi halal global senilai US$2 triliun.

Inisiatif ini mendukung ribuan perajin, desainer, dan produsen di seluruh Indonesia, menyediakan mata pencaharian yang berkelanjutan dan mempromosikan industri lokal. Banyak perajin tekstil Indonesia adalah perempuan, menjadikan sektor fesyen halal sebagai pendorong utama kesetaraan dan pemberdayaan gender.

Tantangan

Meskipun Roadshow IGHF merupakan tonggak penting, tantangan tetap ada:

*Penetrasi Pasar: Bersaing di pasar mapan seperti Eropa memerlukan pemasaran dan kemitraan yang strategis.

*Penyelarasan Regulasi: Memastikan konsistensi dalam standar sertifikasi halal di berbagai negara sangat penting untuk perdagangan yang lancar.

*Keberlanjutan: Menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan tanggung jawab lingkungan sangat penting, khususnya dalam produksi tekstil.

Dengan mengatasi tantangan ini, Indonesia dapat memaksimalkan manfaat dari ekspansi globalnya.
Teknologi merevolusi industri mode halal Indonesia, memungkinkan transparansi dan efisiensi yang lebih besar. Kemajuan utama meliputi:

*Ketertelusuran Berbasis Blockchain: Memastikan bahwa semua tahap produksi mematuhi standar halal.

*Manajemen Rantai Pasokan Digital: Merampingkan proses dan meningkatkan efisiensi operasional.

Inovasi ini tidak hanya meningkatkan kepatuhan tetapi juga meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk bersertifikat halal.

Presiden RI sebelumnya, Joko Widodo telah menetapkan visi yang berani untuk Indonesia: menjadi produsen produk halal terbesar dan pusat mode global. Roadshow IGHF merupakan langkah kunci untuk mewujudkan visi ini, dengan menggabungkan diplomasi budaya, strategi ekonomi, dan inovasi teknologi.

Aqil merangkum misinya: “Melalui kolaborasi dan kreativitas, Indonesia siap memimpin ekonomi halal global, dan menjadi contoh bagi dunia.”

Roadshow Indonesia Global Halal Fashion (IGHF) bukan sekadar rangkaian acara—ini adalah gerakan yang menempatkan mode halal Indonesia sebagai pemimpin global. Dengan memamerkan warisan budaya, inovasi, dan kepatuhan terhadap standar halal, inisiatif ini menyoroti potensi Indonesia untuk memengaruhi industri mode global.

Roadshow IGHF yang diselenggarakan di Malaysia, Eropa, dan Turki menjadi bukti komitmen Indonesia terhadap keunggulan. Dengan fokus pada keberlanjutan, inklusivitas, dan pertumbuhan ekonomi, mode halal Indonesia siap meninggalkan dampak yang langgeng di panggung global.

Meningkatnya Popularitas Thobe di Kalangan Pria Muda Muslim di Inggris

this formate

LONDON, bisniswisata.co.id: Dalam beberapa tahun terakhir, jalanan Inggris telah menyaksikan tren mode yang menarik: pria muda Muslim dengan percaya diri mengenakan thobe sebagai bagian dari pakaian sehari-hari mereka.

Secara tradisional dikaitkan dengan praktik keagamaan dan kunjungan ke masjid, thobe, pakaian sepanjang mata kaki yang populer di negara-negara mayoritas Muslim, telah berubah menjadi simbol keimanan, kebanggaan budaya, dan gaya kontemporer.

Pergeseran ini lebih dari sekadar tren busana—ini adalah gerakan budaya yang mencerminkan identitas yang terus berkembang dari kaum muda Muslim Inggris yang memadukan tradisi dengan modernitas dengan cara yang bermakna seperti diilansir dari Aamer Yacub/ The Halal Times.

Thobe sebagai Jembatan Budaya

Bagi banyak pemuda Muslim di Inggris, thobe tidak hanya sekadar pakaian. Thobe adalah jembatan kuat yang menghubungkan akar Islam mereka dengan pendidikan Inggris mereka.

Menghadapi kompleksitas warisan ganda sering kali menghadirkan tantangan, khususnya bagi generasi kedua dan ketiga Muslim, yang mungkin merasa tertarik di antara dua dunia.

Thobe memungkinkan mereka mengekspresikan kebanggaan mereka pada kedua identitas, yang mencerminkan kemampuan unik mereka untuk merangkul tradisi sambil hidup dalam masyarakat modern dan multikultural.

Studi menyoroti dinamika ini. Sebuah survei tahun 2023 oleh Sensus Muslim menemukan bahwa 78% pemuda Muslim Inggris mengidentifikasi budaya mereka sebagai perpaduan pengaruh Islam dan Inggris.

Bagi banyak orang, mengenakan thobe adalah cara nyata untuk ekspresikan identitas campuran ini. Thobe melambangkan iman dan kebanggaan budaya mereka sekaligus menandakan kepercayaan diri mereka dalam memiliki narasi unik mereka.

Generasi kedua dan ketiga Muslim Inggris memimpin gerakan ini. Tidak seperti orang tua mereka, yang sering kali mengecilkan identitas budaya mereka untuk berintegrasi ke dalam masyarakat Inggris, kaum muda Muslim merangkul warisan Islam mereka dengan bangga dan tanpa rasa bersalah. Thobe telah menjadi elemen kunci dari kepercayaan budaya yang baru ditemukan ini.

Pada intinya, popularitas thobe berakar kuat pada keimanan. Bagi kaum muda Muslim, mengenakan pakaian ini sering kali dipandang sebagai tindakan pengabdian, yang mewujudkan prinsip-prinsip Islam tentang kesederhanaan, kerendahan hati, dan rasa hormat.

Nilai-nilai ini sangat beresonansi dengan generasi yang berhubungan kembali dengan keimanan mereka dan menemukan cara untuk mengintegrasikannya ke dalam kehidupan mereka di masyarakat Barat.

Selama perayaan keagamaan seperti Ramadan dan Idul Fitri, makna thobe menjadi lebih jelas. Di kota-kota seperti London, Birmingham, dan Manchester, pemandangan kaum muda mengenakan thobe yang elegan dan dirancang khusus selama perayaan ini menjadi semakin umum. Momen-momen ini menyoroti bagaimana thobe berfungsi sebagai penanda agama dan budaya.

Para tokoh dan cendekiawan Islam telah memainkan peran kunci dalam mendorong tren ini. Melalui platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube, mereka membahas pentingnya mempertahankan tradisi Islam sambil beradaptasi dengan konteks modern. Wawasan mereka menginspirasi kaum muda Muslim untuk mengenakan thobe sebagai ekspresi autentik keimanan mereka dalam kehidupan publik.

Mode Berpadu dengan Fungsionalitas

Salah satu alasan semakin populernya thobe adalah evolusinya menjadi pakaian modern dan serbaguna. Sementara thobe tradisional sering kali polos dan seragam dalam desain, versi masa kini memenuhi selera kontemporer, memadukan tradisi dengan mode mutakhir.

Thobes modern dirancang dengan mempertimbangkan kepraktisan. Ukuran yang lebih ramping, kain yang menyerap keringat, dan fitur fungsional seperti kantong tersembunyi membuatnya cocok untuk dikenakan sehari-hari.

Sementara itu, sulaman yang rumit, warna-warna berani, dan bahan berkualitas tinggi menarik minat pria muda yang mencari pakaian yang mencerminkan gaya dan isi.

Inggris telah menjadi pusat inovasi ini. Merek seperti Aab Collection dan East Essence memimpin dengan thobe yang melayani audiens muda. Desain ini berkisar dari gaya minimalis dan monokromatik hingga pola dan tekstur menarik yang menambahkan sentuhan modern pada estetika tradisional.

Peritel kelas atas juga mengikuti tren ini. Perusahaan seperti ASOS dan Zara memasukkan elemen yang terinspirasi dari thobe ke dalam koleksi mereka, menandakan pengaruh pakaian tersebut yang semakin besar pada mode arus utama.

Adaptasi ini mencerminkan daya tarik mode sopan yang meluas dan semakin dikenalnya elemen budaya Islam di kancah mode global.

Media sosial telah berperan penting dalam kebangkitan thobe di kalangan Muslim muda Inggris. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube dipenuhi dengan konten yang memamerkan cara menata thobe untuk berbagai kesempatan.

Para influencer dan penggemar mode memberikan kiat untuk memadukan thobe dengan sepatu kets, jaket, atau bahkan aksesori kontemporer seperti jam tangan dan kacamata hitam.

Tagar seperti #ThobeStyle dan #MuslimFashion telah mengumpulkan jutaan tampilan, menciptakan komunitas daring yang dinamis di seputar pakaian tersebut.

Para influencer seperti Kareem Ali dan Aisha Styles berbagi tampilan yang terinspirasi dari thobe, mendorong pengikut mereka untuk mengeksplorasi keserbagunaan pakaian tersebut.

Visibilitas ini telah meluas melampaui komunitas Muslim, dengan non-Muslim mengungkapkan kekaguman atas signifikansi estetika dan budaya pakaian tersebut.

Meskipun thobe tetap menjadi item pakaian yang sangat simbolis bagi umat Muslim, kehadirannya dalam perbincangan mode yang lebih luas menyoroti daya tarik universalnya.

Membangun Komunitas

Selain ekspresi individu, thobe menumbuhkan rasa kebersamaan dan rasa memiliki di antara pemuda Muslim. Di lingkungan dengan populasi Muslim yang signifikan, seperti London Timur, Sparkbrook di Birmingham, dan Rusholme di Manchester, thobe merupakan simbol visual dari nilai-nilai bersama dan kebanggaan budaya.

Festival komunitas dan acara keagamaan memperkuat rasa memiliki ini. Acara-acara seperti Eid in the Square di London dan Festival Ramadan di Birmingham menampilkan keragaman dan kekayaan budaya Islam, dengan para peserta yang sering mengenakan thobe. Pertemuan-pertemuan ini merayakan persatuan, dengan thobe berfungsi sebagai lambang budaya pemersatu.

Di kota-kota kecil dan daerah pedesaan, di mana populasi Muslim mungkin kurang terlihat, mengenakan thobe sering kali menjadi cara untuk terhubung dengan iman dan budaya seseorang. Hal ini menjadi pernyataan kebanggaan dan solidaritas, bahkan di lingkungan di mana representasi budaya terbatas.

Meningkatnya visibilitas thobe di Inggris juga berperan dalam menantang stereotip dan mempromosikan inklusivitas. Meskipun busana Islami secara historis disalahpahami atau distigmatisasi di beberapa kalangan, adopsi thobe oleh kaum muda Muslim dengan percaya diri tengah membentuk kembali persepsi.

Sebuah laporan tahun 2022 oleh British Muslim Council menemukan bahwa 63% responden meyakini sikap publik terhadap busana Islami telah membaik selama dekade terakhir.

Kemajuan ini dapat dikaitkan dengan normalisasi pakaian seperti thobe dalam kehidupan sehari-hari, serta upaya tokoh masyarakat dan influencer yang dengan bangga mengenakannya.

Kampanye seperti #ProudlyMuslim telah memajukan tujuan ini, mendorong individu untuk berbagi cerita dan menyoroti signifikansi budaya dan agama dari thobe. Inisiatif ini menumbuhkan pemahaman dan penerimaan, menciptakan lingkungan yang lebih inklusif untuk semua.

Daya Tarik Global Thobe

Munculnya thobe di Inggris bertepatan dengan maraknya mode busana muslim di dunia. Menurut Laporan Keadaan Ekonomi Islam Global 2023, industri mode busana muslim bernilai lebih dari US$400 miliar dan diproyeksikan akan terus tumbuh dalam beberapa tahun mendatang. Tren ini telah mengangkat pakaian seperti thobe ke tingkat internasional.

Inggris telah memposisikan diri sebagai pemimpin dalam inovasi mode busana muslim. Desainer dan merek Inggris semakin dikenal karena kemampuan mereka memadukan tradisi dengan estetika modern. Thobe kini tidak hanya dipandang sebagai bagian penting budaya, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi tren mode global.

Pembeli internasional sering kali beralih ke merek-merek yang berbasis di Inggris untuk mendapatkan desain thobe yang unik, yang semakin memperkuat reputasi negara tersebut sebagai pusat mode Islam. Permintaan ini menggarisbawahi keserbagunaan pakaian tersebut dan daya tarik yang lebih luas dari prinsip-prinsip mode busana muslim.

Kekuatan pendorong lain di balik popularitas thobe adalah semakin besarnya penekanan pada keberlanjutan dan produksi yang etis.

Konsumen yang lebih muda, khususnya Gen Z, semakin tertarik pada merek yang mengutamakan tanggung jawab lingkungan dan sosial. Produsen thobe telah menanggapi permintaan ini dengan mengadopsi praktik ramah lingkungan.

Banyak thobe kini dibuat dari bahan yang berkelanjutan seperti katun organik, bambu, dan linen. Kain-kain ini tidak hanya mengurangi dampak lingkungan tetapi juga sejalan dengan prinsip-prinsip Islam tentang pengelolaan dan kesopanan.

Proses produksi yang etis, termasuk praktik ketenagakerjaan yang adil, semakin meningkatkan daya tarik pakaian ini.Merek-merek yang berbasis di Inggris seperti Al-Haram dan Modesty Wear memimpin dalam produksi thobe yang berkelanjutan. Dengan menawarkan pakaian berkualitas tinggi yang dibuat secara etis, mereka memenuhi harapan generasi yang peduli.

Masa Depan Thobe di Inggris

Masa depan thobe di Inggris cerah. Karena kaum muda Muslim terus menggunakan pakaian ini, pengaruhnya kemungkinan akan meluas ke luar komunitas Islam.

Integrasi desain yang terinspirasi thobe ke dalam mode arus utama menunjukkan bahwa pakaian tersebut dapat menjadi ikon budaya, yang mencerminkan kekayaan warisan Islam sekaligus menarik bagi khalayak global.

Peran Inggris sebagai pusat inovasi mode sopan semakin memperkuat lintasan ini. Desainer Inggris memiliki kesempatan untuk menetapkan tren global, menciptakan thobe yang memenuhi kepekaan tradisional dan modern. Karena keberlanjutan dan mode etis menjadi lebih menonjol, merek-merek Inggris berada pada posisi yang tepat untuk memimpin gerakan ini.

Munculnya thobe di kalangan pria muda Muslim di Inggris lebih dari sekadar pernyataan mode—ini adalah perayaan identitas, iman, dan ketahanan. Dengan mengenakan thobe, kaum muda Muslim menegaskan tempat mereka dalam masyarakat multikultural, menantang stereotip, dan merangkul warisan mereka dengan bangga.

Bagi orang-orang ini, thobe bukan sekadar pakaian. Ini adalah jembatan antara dunia, penanda komunitas, dan pernyataan berani tentang individualitas. Seiring tren ini terus berkembang, ini berfungsi sebagai pengingat akan kekuatan yang ditemukan dalam keberagaman dan keindahan ekspresi diri.

Pergeseran budaya ini memperkaya tatanan sosial Inggris, membuka jalan bagi pemahaman yang lebih besar, inklusivitas, dan perayaan kemanusiaan bersama.

UEA Gerbang Strategis Bagi Merek Halal Malaysia

this formate

Zahid pada hari Senin lalu meresmikan Mihas@Dubai yang menampilkan 215 perusahaan Malaysia, yang diselenggarakan bersamaan dengan Pameran Produk Organik dan Alami Timur Tengah. ( Foto: BERNAMA)

DUBAI, bisniswisata.co.id: Uni Emirat Arab (UEA) harus dijadikan gerbang bagi perluasan produk halal Malaysia ke kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) serta negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk.

Dilansir dari nst.com.my, Wakil Perdana Menteri Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi mengatakan ia telah berdiskusi mengenai masalah tersebut karena ia melihat potensi besar bagi produk lokal untuk mendunia.

“Saya melihat ada permintaan untuk produk kami dan pada saat yang sama, penting bagi kami untuk melebarkan sayap lebih jauh dari pasar domestik.

“Yang lebih penting, kami tidak hanya memamerkan produk halal tetapi kami ingin menarik pembeli potensial,” katanya saat mengakhiri kunjungan kerja perdananya selama tujuh hari ke UEA.”

Zahid meresmikan Mihas@Dubai yang menampilkan 215 perusahaan Malaysia, yang diadakan bersamaan dengan Pameran Produk Organik dan Alami Timur Tengah. Mihas, yang merupakan singkatan dari Malaysia International Halal Showcase, memulai debut globalnya di Dubai setelah 20 tahun.

Dengan kunjungan Zahid, hubungan bilateral antara Malaysia dan UEA semakin kuat, dengan kedua negara berkomitmen untuk menjalin kemitraan strategis yang saling menguntungkan.

Dia mengatakan kunjungannya ke berbagai perusahaan dan organisasi UEA telah memberikan wawasan tentang bidang-bidang seperti komunikasi satelit dan kecerdasan buatan.

Zahid mengatakan ia belajar tentang penggunaan frekuensi satelit pita-L dan kecerdasan buatan yang dapat membantu dalam memprediksi dan mengelola risiko bencana; serta keterlibatan awal dalam pendidikan dan pelatihan teknis dan kejuruan.

Pada tahun 2026, Malaysia ingin dipromosikan sebagai tujuan wisata dan bulan madu. Di Mihas@Dubai, Zahid menyaksikan tiga pertukaran nota kesepahaman senilai RM16,2 juta.

MoU tersebut dilakukan antara inisiatif Gate to Global milik Majlis Amanah Raya dan Hijrah Nature Herbs Sdn Bhd (RM12,336 juta), Agym Nutrition Sdn Bhd (RM3 juta) dan ANH Smart Venture Sdn Bhd. (RM673.208).

Zahid mengatakan hal ini membuktikan bahwa ada potensi besar untuk pertumbuhan ekonomi dan kerja sama internasional dalam industri halal terutama dalam memberdayakan kewirausahaan pedesaan.

Kerja Sama Ekonomi, Pilar Utama Hubungan Vietnam-Malaysia

this formate

Prof. Dr Awang Azman Awang Pawi dari Universitas Malaya yang berbasis di Kuala Lumpur. (Foto: VNA)

KUALA LUMPUR, bisniswisata.co.id: Prof. Dr Awang Azman Awang Pawi dari Universitas Malaya yang berbasis di Kuala Lumpur menggambarkan kerja sama ekonomi sebagai pilar utama hubungan antara Vietnam dan Malaysia.

Dilansir dari id.vietnamplus.vn, menurut profesor tersebut, Vietnam merupakan salah satu negara anggota ASEAN yang telah lama menjalin hubungan dengan Malaysia, yang ditingkatkan menjadi kemitraan strategis pada tahun 2015.

Perdagangan bilateral telah mengalami pertumbuhan yang signifikan, mencapai hampir US$10 miliar dalam delapan bulan pertama tahun 2024, kenaikan sebesar 15,2% dari tahun ke tahun, yang menunjukkan komitmen kedua negara untuk memperkuat hubungan ekonomi dan memperluas portofolio investasi perdagangan mereka.

Salah satu bidang yang sangat ingin mereka ajak kerja sama adalah teknologi tinggi dan inovasi digital, katanya, seraya menambahkan bahwa seiring Malaysia memulai perjalanannya untuk menjadi pusat ekonomi digital, kota Putrajaya memandang Vietnam sebagai mitra yang berharga untuk berbagi teknologi dan keahlian.

Kemajuan pesat Vietnam dalam teknologi dan digitalisasi menjadikannya mitra ideal bagi Malaysia di sektor ini, di mana keduanya akan memperoleh manfaat dari transfer teknologi dan usaha patungan, lanjut profesor tersebut.

Awang mencatat keyakinannya bahwa ikatan investasi juga akan semakin berkembang di masa mendatang karena keahlian Malaysia dalam pengembangan infrastruktur, sertifikasi industri Halal, dan energi terbarukan menghadirkan peluang signifikan bagi bisnis Vietnam untuk berkolaborasi dengan mitra Malaysia.

Ia menyoroti minat Vietnam untuk memperluas industri Halal-nya, dengan Malaysia menawarkan keahliannya, yang dapat membuka jalan bagi perusahaan – perusahaan Vietnam untuk memasuki pasar Halal global yang bernilai triliunan dolar AS, sekaligus meningkatkan kerja sama ekonomi antara kedua negara.

Mengenai pariwisata, bidang kerja sama penting lainnya, profesor tersebut mengatakan Malaysia telah muncul sebagai sumber wisatawan ASEAN terbesar kedua ke Vietnam, dengan lebih dari 360.000 pengunjung Malaysia ke Vietnam dalam sembilan bulan pertama tahun ini.

Awang berpendapat bahwa selain kerja sama ekonomi dan strategis, pertukaran antarmasyarakat tetap menjadi komponen utama hubungan bilateral, dengan menambahkan diplomasi antarmasyarakat membantu menumbuhkan niat baik dan rasa saling menghormati kedua negara.

Pada tahun 2025 ketika Malaysia menjadi Ketua ASEAN, akan ada peluang besar bagi kedua negara untuk meningkatkan hubungan. Mereka akan fokus pada isu-isu utama seperti inovasi digital, inklusivitas, dan keberlanjutan.

Visi Perdana Menteri Anwar Ibrahim untuk ASEAN menekankan persatuan, kemakmuran bersama, dan ketahanan regional. Kemitraan Malaysia dengan Vietnam, khususnya dalam mengatasi tantangan bersama, seperti ketahanan pangan dan ketahanan energi, akan sangat penting untuk mencapai tujuan ini.

Kedua negara siap memainkan peran utama dalam membentuk masa depan ASEAN, memastikan kawasan tersebut tetap menjadi benteng perdamaian, stabilitas, dan pertumbuhan ekonomi.

Profesor juga menyimpulkan bahwa di bawah kepemimpinan PM Ibrahim, hubungan bilateral telah mencapai tingkat baru, yang ditandai oleh hubungan ekonomi yang kuat, kerja sama strategis, dan komitmen bersama untuk mengatasi tantangan regional.